ADBM2-139

<<kembali | lanjut>

KEDUA orang pengawal itu termangu-mangu. Namun Ki Tandabaya lah yang menggeram melihat sikap pengawal yang datang meloncati dinding itu. Seolah-olah pengawal itu tidak mengacuhkannya, meskipun ia melihat kawan-kawannya telah terluka.

“Aku bunuh kau,” Ki Tandabaya hampir berteriak.

Demikian kata-katanya terucapkan, maka ia pun segera meloncat menikam pengawal yang baru saja memasuki halaman itu lewat dinding batu.

Namun berbeda dengan para pengawal yang lain, pengawal yang baru itu sempat mengelak dengan tangkasnya. Dengan langkah yang pendek ia berkisar sambil memiringkan tubuhnya.

Ki Tandabaya tidak membiarkannya. Ia pun segera merubah gerak senjatanya. Tiba-tiba saja senjata itu telah menyerang mendatar. Demikian cepatnya, sehingga pengawal yang baru itu tidak sempat mengelak.

Tetapi pengawal itu sempat menangkis senjata Ki Tandabaya dengan senjatanya pula. Sehingga sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras.

Ternyata benturan itu telah mengejutkan Ki Tandabaya. Ia mengira bahwa senjata pengawal itu akan terlempar dari tangannya. Namun ternyata bahwa ia keliru. Senjata itu sama sekali tidak terlempar dari tangan pengawal itu. Tetapi benturan itu justru telah menggetarkan tangannya.

Ki Tandabaya benar benar telah terkejut karenanya, sehingga ia telah meloncat surut. Yang terjadi itu sama sekali diluar dugaannya. Bahwa seorang pengawal akan mampu mempertahankan senjatanya dalam benturan senjata dengan lambaran kekuatannya yang dihentakkannya.

Tetapi Ki Tandabaya tidak mendapat kesempatan untuk memperhatikan pengawal itu. Demikian Ki Tandabaya meloncat mengambil jarak, pengawal itulah yang telah menyerangnya dengan garangnya. Demikian cepat, sehingga Ki Tandabaya lah yang kemudian harus berloncatan menghindar.

Dalam kegelapan malam, Ki Tandabaya ternyata tidak sempat mengenali wajahnya. Ia hanya mengetahui menilik ujud dalam keseluruhan, bahwa lawannya itu adalah seorang pengawal. Namun oleh keheranan atas pengawal yang baru itu.

Sementara itu, di halaman itu telah terjadi pertempuran dibeberapa tempat. Pengikut-pengikut Ki Tandabaya ternyata telah menebar pula, dan berusaha memancing perhatian para pengawal. Dengan demikian maka hanya satu dua orang sajalah yang telah berusaha untuk menangkap langsung Ki Tandabaya. Namun merekalah yang ternyata telah terluka karena senjata orang yang memiliki kemampuan orang kebanyakan itu.

Dugul dan beberapa orang kawannya tengah bertempur dengan sengitnya. Ketika ia terdesak, tiba-tiba saja ia telah melemparkan kantong kulit di tangannya, yang telah dikendorkan talinya. Demikian kantong itu terlepas dari tangannya, maka beberapa ekor ular telah terpelanting keluar.

Lawan-lawannya terkejut. Mereka telah melonjak-lonjak menghindari ular-ular itu, karena mereka pun menyadari, patukan ular itu berarti kematian, seperti patukan ujung senjata dijantungnya.

Namun dengan demikian perhatian mereka terpecah. Kesempatan itulah yang telah dipergunakan oleh Dugul dan kawannya. Justru pada saat lawannya telah meloncat-loncat menghindari ular yang menggeliat hampir terinjak kakinya, maka senjata lawannya telah menyentuh tubuh mereka.

Beberapa orang pengawal telah terluka pada saat demikian. Tetapi masih ada juga pengawal yang dengan cepat menanggapi keadaan. Ia melihat beberapa orang kawannya terluka. Namun ia masih sempat mengungkit seekor ular bandotan dengan ujung pedangnya, sehingga ular itu terlempar tepat tersangkut ditubuh seorang pengikut Ki Tandabaya.

Orang itu demikian terkejut, sehingga ia telah terpekik keras-keras. Ia masih sempat mengibaskan ular itu. Namun malang baginya, karena ular itu sempat mematuk lengannya.

Kemarahan yang meluap telah membuatnya seolah-olah kehilangan akal. Dengan pedangnya ia telah menyerang ular itu. Sekali ayun, kepala ular itu telah terpenggal. Bahkan kemudian ayunan-ayunan berikutnya, telah memotong ular itu menjadi beberapa bagian. Namun demikian tangannya terayun pada kesempatan terakhir, tubuhnya mulai dipengaruhi racun ular yang sangat berbisa itu. Tubuhnya terasa menggigil dan urat-uratnya bagaikan mengejang.

“Gila, gila,” ia berteriak, “bunuh aku dengan pedang.”

Tetapi suaranya menggelepar dan hilang diudara malam yang dingin, tetapi terasa panas di halaman rumah Raden Sutawijaya itu.

Seorang kawan Dugul lah yang kemudian kejang terbaring ditanah. Sementara beberapa ekor ular yang lain telah menelusur hilang didalam kegelapan, setelah seekor yang lain sempat dibunuh pula dengan ujung tombak.

Ternyata bahwa ular-ular itu sempat mengganggu pertempuran itu sejenak. Namun kemudian, pertempuran itu telah berlangsung kembali dengan serunya. Dugul masih tetap bertahan. Untuk beberapa saat, ia bertempur sambil memperhitungkan kemungkinan waktu yang diperlukan oleh Ki Tandabaya untuk melarikan diri.

Pertempuran yang terjadi dihalamaan itu, ternyata telah berkembang dibeberapa tempat. Para pengikut Ki Tandabaya sengaja tidak berusaha untuk menyatukan diri. Dengan bertempur berpencaran, maka mereka telah menghisap seluruh perhatian para pengawal, sehingga kesempatan Ki Tandabaya untuk melarikan diri menjadi semakin banyak.

Dalam pada itu, ternyata Ki Tandabaya telah tersangkut dalam pertempuran melawan seorang pengawal yang agak lain dari kawan-kawannya. Pengawal yang seorang ini tidak dapat dengan mudah didorongnya dengan ujung senjata, atau didesaknya menepi, sementara ia melarikan diri.

Bahkan ternyata kemudian, telah terjadi pertempuran yang seru antara Ki Tandabaya dengan pengawal itu.

“Anak iblis,” geram Ki Tandabaya didalam hatinya, “pengawal ini mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya.”

Namun Ki Tandabaya tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Selagi kawan-kawannya masih bertempur, maka ia pun ingin dengan cepat meninggalkan halaman itu.

Karena itu, maka Ki Tandabaya itu pun segera mengerahkan kemampuannya. Ia harus dengan segera menyelesaikan pengawal itu sebelum kawan-kawannya akan berdatangan semakin banyak, apabila Dugul dan kawan-kawannya tidak mampu lagi bertahan.

Namun ternyata Ki Tandabaya justru terkejut. Sebelum ia dapat mengalahkan pengawal itu, ia telah mendengar satu isyarat nyaring. Ternyata Dugul telah keliru menghitung waktu. Agaknya Dugul menganggap, bahwa Ki Tandabaya telah dapat keluar dengan selamat.

Tetapi isyarat itu sudah terlanjur. Karena itu, maka dalam sekejap, para pengikut Ki Tandabaya itu pun berusaha untuk melarikan diri menurut cara mereka masing masing. Satu dua di antara mereka masih harus bertempur beberapa saat, sebelum mereka sempat meninggalkan arena. Bahkan ada satu dua di antara mereka yang justru sama sekali tidak berkesempatan untuk meninggalkan lawannya yang dengan garang melibat mereka dalam pertempuran yang sengit.

Namun, ternyata ada beberapa orang yang sempat juga meloncati pagar dan berlari meninggalkan panasnya api pertempuran dengan para pengawal. Bahkan Dugul sendiri pun ternyata justru sempat melarikan diri, meskipun ia ternyata telah terluka.

Tetapi di antara mereka, beberapa orang ternyata telah dipaksa untuk melemparkan senjata mereka dan menyerah sebagai tawanan.

Dalam pada itu, Ki Tandabaya mengumpat didalam hatinya. Ialah yang justru telah ditinggalkan untuk bertempur menghadapi para pengawal. Seperti yang diduganya, maka beberapa orang pengawal yang kehilangan lawannya itu pun telah tertarik oleh hiruk pikuknya pertempuran disatu sudut halaman itu. Dentang senjata telah memanggil mereka untuk mencari, dimana dan siapakah yang masih bertempur di halaman itu.

Ternyata bahwa mereka menemukan Ki Tandabaya yang bertempur dengan dahsyatnya melawan seorang pengawal.

Para pengawal itu pun menjadi heran, bahwa terjadi pertempuran yang demikian sengitnya. Mereka pun heran, bahwa ada di antara mereka yang memiliki ilmu yang demikian tinggi, sehingga mereka menjadi ragu-ragu.

Bahkan para pengawal itu pun saling bertanya di antara mereka, “Siapakah pengawal yang seorang itu?”

Pengawal yang sedang bertempur itu pun ternyata telah berkata kepada para pengawal yang kemudian mengerumuninya, “Jangan ganggu kami. Aku ingin menunjukkan kepada orang ini, bahwa pengawal dari Mataram akan mampu mengimbanginya pula.”

Sementara pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya, ternyata Ki Lurah Branjangan yang telah ikut pula bertempur dan justru berhasil menguasai dua orang pengikut Ki Tandabaya, telah dengan tergesa-gesa mendekatinya. Sejenak ia memperhatikan, siapakah yang sedang bertempur itu. Gelapnya malam, dan gerak yang cepat cekatan, membuatnya agak ragu-ragu menghadapi orang itu. Namun kemudian ternyata Ki Lurah Branjangan lebih cepat dapat mengenali ilmu orang itu dari pada bentuk wajahnya.

“Sipakah pengawal itu Ki Lurah?” bertanya seorang pengawal.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “ia orang baru. He, apakah kalian belum mengenalnya. Ia bertugas di Kesatrian sejak ia diangkat menjadi pengawal beberapa hari yang lalu.”

“Beberapa hari yang lalu?” seorang pengawal bertanya pula, “aku tidak mendengar bahwa baru saja ada pendadaran untuk menjadi seorang pengawal.”

“Pendadaran khusus,” desis Ki Lurah Branjangan.

Pengawal itu tidak bertanya lagi. Dengan tegang ia mengikuti pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit itu.

Betapa tangkas dan tinggi kemampuan Ki Tandabaya. Namun pengawal itu mampu mengimbanginya. Bahkan setiap kali masih terdengar pengawal itu tertawa sambil bergumam.

“Kau memang luar biasa Ki Sanak,” berkata pengawal itu, “karena itulah maka kau memberanikan diri, memasuki halaman ini sebagai seorang pencuri. Pencuri yang membawa pasukan segelar sepapan.”

“Persetan pengawal dungu,” bentak Ki Tandabaya, “kau tidak mau belajar dari kenyataan. Aku dapat membunuh siapa saja yang menghajangi aku.”

“Kau tidak dapat membunuh aku,” desis pengawal itu.

“Aku masih mempunyai belas kasihan,” geram Ki Tandabaya, “karena itu menyingkirlah, atau kau akan menjadi mayat.”

adbm-139-01“Aku adalah seorang pengawal. Aku berkewajiban menangkap setiap orang yang memasuki halaman ini dengan maksud buruk. Mencuri, merampok atau berbuat apa saja semacam itu. Karena itu, menyerahlah, agar aku dapat mengikatmu dan menyerahkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati IngNgalaga,” berkata pengawal itu.

“Anak iblis,” Ki Tandabaya yang marah itu hampir berteriak, “aku bunuh kau.”

“Kenapa kau hanya berteriak-teriak saja. Lakukanlah jika ada kemampuan padamu. Agaknya kau terlalu sulit untuk dapat menang melawan pengawal dari Mataram. Apalagi jika kau berhadapan dengan para pemimpinnya. Kau harus menyadari, bahwa disini hadir Ki Lurah Branjangan, sehingga jika ia melibatkan diri, maka kau tidak akan sempat mengeluh lagi.”

Wajah Ki Tandabaya menjadi tegang. Ia sadar, bahwa ia tentu tinggal seorang diri dilingkungan halaman rumah Raden Sutawijaya. Agaknya orang-orangnya telah salah memperhitung-kan waktu, sehingga mereka telah menghentikan perlawanan mereka. Mungkin ada yang sempat melarikan diri, tetapi mungkin ada pula yang tertangkap.

Namun Ki Tandabaya tidak ingin menyerah. Meskipun ia harus berhadapan dengan siapapun. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Apa peduliku dengan Ki Lurah Branjangan. Jika ia mempunyai keberanian, biarlah ia memasuki arena. Jangan sendiri, tetapi dengan pemimpin-pemimpin pengawal yang lain, termasuk Ki Juru Martani dan Senapati Ing Ngalaga sendiri.”

Tetapi pengawal itu tertawa. Sangat menyakitkan hati. Katanya, “Tidak usah orang lain. Kalahkan aku, pengawal Mataram dari tingkat terendah. Barangkali setingkat dengan jajar atau bahkan magang yang paling baru.”

Ki Tandabaya benar-benar tersinggung. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil memutar senjatanya. Kemudian satu langkah bergeser maju dengan senjata terjulur lurus kedepan.

Tetapi lawannya pun benar tangkas dan mampu bergerak cepat, sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Dalam pada itu kemarahan Ki Tandabaya telah sampai ke puncaknya. Dalam hentakan kekuatan dan kemampuannya, maka mulailah terasa, betapa tinggi ilmunya. Setiap sentuhan, senjata atau sentuhan apapun juga, rasa-rasanya telah dialiri panas yang menyengat tubuhnya, dengan demikian jika pengawal itu menangkis serangan senjata Ki Tandabaya, maka telapak tangannya yang menggenggam senjatanya sendiri itu rasa-rasanya menjadi panas.

Ketika mula-mula terasa oleh pengawal itu, ia terkejut. Hampir saja dengan gerak naluriah, senjata yang menyengat itu dikibaskannya. Namun ternyata kemudian bahwa hulur senjatanya sama sekali tidak panas seperti yang terasa.

“Jenis ilmu apa lagi ini,” geram Pengawal itu.

“Persetan,” geram Ki Tandabaya, “sebentar lagi seluruh tubuhmu akan hangus.”

“Panas semu itu tidak akan dapat membakar apapun juga. Tidak akan berpengaruh atas kulitku. Jika aku menyadari, bahwa panas itu tidak sebenarnya menjalari kulitku pada aliran sentuhan apapun, maka aku tidak perlu cemas. Rasa sakit dan panas itu dapat aku abaikan, sehingga dengan demikian, perasaan itu tidak akan berpengaruh apa-apa,” jawab pengawal itu.

Ki Tandabaya menggeram. Tetapi ia menyerang semakin garang. Lawannya masih merasa panas di telapak tangannya, jika senjatanya bersentuhan dengan senjata Ki Tandabaya. Tetapi seperti yang dikatakan, panas itu hanya ada didalam perasaannya. Sama sekali tidak akan berpengaruh atas kulitnya. Demikian sentuhan itu terlepas, maka itu pun telah lenyap pula tanpa meninggalkan bekas.

“Tentu berbeda dengan ilmu orang-orang Gunung Kendeng,” tiba-tiba saja pengawal itu berkata, “tangan orang-orang Gunung Kendeng benar-benar bagaikan membara. Sentuhan ilmunya dapat membakar kulit. Bukan sekedar semu seperti hentakan bumi orang-orang Pesisir Endut.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya yang marah sampai keubun-ubun.

Tetapi sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan untuk mengimbangi ilmu pengawal yang luar biasa itu. Semakin lama semakin jelas, bahwa Ki Tahdabaya telah benar-benar terdesak.

Akhirnya Ki Tandabaya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali berusaha dan mencoba untuk melarikan diri dari halaman itu.

Namun demikian ia meloncat surut, para pengawal yang lain, yang melihat gelagat itu, telah melingkarinya.

“Persetan,” geramnya, “jangan kau sangka bahwa kalian dapat menangkap aku. Aku akan bertempur sampai aku berhasil membunuh kalian semua, atau akulah yang akan mati.”

Pengawal itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja serangannya datang membadai. Senjatanya terayun deras sekali memutari tubuh lawannya. Bahkan dengan serta merta, pengawal itu telah melihat Ki Tandabaya dalam pertempuran pada jarak yang sangat dekat.

Ki Tandabaya menjadi bingung. Ternyata ilmunya tidak mempengaruhi lawannya. Meskipun pengawal itu merasa juga sentuhan panas, tetapi karena ia sadar, bahwa panas itu tidak akan berpengaruh atas wadagnya, maka ia tidak menghiraukannya lagi.

Karena itu, maka Ki Tandabaya benar-benar telah terdesak. Pada satu benturan senjata yang kuat, maka terasa tangan Ki Tandabaya lah yang bergetar, bukan tangan lawannya yang disengat oleh perasaan panas.

Ki Tandabaya berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Tetapi lawannya benar-benar menggetarkan jantungnya. Ia bertempur pada jarak gapai tangannya tanpa senjata. Demikian cepatnya, sehingga Ki Tandabaya kehilangan langkah ketika pengawal itu kemudian telah melibatnya dengan tangkapan tangan.

Ki Tandabaya mengerahkan ilmunya. Ia berharap bahwa meskipun lawannya menyadari, namun perasaan panas itu akan dapat mempengaruhinya.

Tetapi dengan nada dalam ia berkata, “Perasaanku telah membeku. Aku tidak dapat dipengaruhi oleh perasaan apapun juga. Panas, dingin atau apapun juga.”

Ternyata bahwa tangan pengawal itu bagaikan himpitan besi. Ternyata ia justru melepaskan senjatanya, sehingga keduanya pun kemudian telah bertempur dalam kemampuan tangkapan dan himpitan tangan.

Sambil mengumpat Ki Tandabaya yang tidak menyangka, bahwa lawannya akan bertempur dengan cara itu, benar-benar telah kehilangan akal. Apalagi ketika terasa pilinan yang kuat pada pergelangan tangannya telah membuat jari-jarinya bagaikan tidak berdaya untuk bertahan menggenggam senjata.

Namun Ki Tandabaya tidak menyerah. Ketika tangannya terpilin kebelakang, tiba-tiba saja ia menarik kakinya setengah langkah surut, justru menahan kaki lawannya. Dengan tubuhnya ia mendesak lawannya ke belakang dengan cepatnya, sehingga karena kakinya yang tertahan oleh kaki Ki Tandabaya, maka keduanya telah terjatuh di tanah.

Hentakkan itu ternyata telah berhasil mengurai tangkapan tangan lawannya, sehingga tangan Ki Tandabaya telah terlepas. Dengan tangkasnya Ki Tandabaya pun meloncat berdiri. Demikian ia berhasil berdiri diatas kedua kakinya, sementara lawannya pun baru saja bangkit pula, tiba-tiba saja Ki Tandabaya telah meluncur seperti anak panah. Tubuhnya bagaikan lurus sejajar dengan kakinya yang terjulur mematuk dada lawannya.

Tetapi lawannya cukup cerdas. Ia sempat memiringkan tubuhnya. Kemudian menangkap pergelangan kaki lawannya. Dengan satu hentakan ia berhasil, memilin kaki lawannya dan memutarnya, sehingga lawannya itu pun tidak sempat menginjakkan kakinya yang tertangkap itu diatas tanah. Bahkan demikian kakinya yang lain menyentuh-tanah, dan Ki Tandabaya itu bersiap menjatuhkan diri sambil bersiap menghantam lawannya dengan kakinya yang bebas untuk melepaskan kaki yang lain, ternyata lawannya bergerak lebih cepat. Diputarnya pergelangan kaki itu demikian kerasnya, sehingga seluruh tubuh Ki Tandabaya pun terputar. Dengan satu tekanan yang kuat pada punggungnya, maka Ki Tandabaya telah jatuh menelungkup. Demikian cepatnya yang terjadi, maka Ki Tandabaya tidak sempat menolong dirinya sendiri ketika kedua kakinya bagaikan terlipat, yang satu menindih yang lain, sementara tubuh lawannya telah menekan kaki itu sekuat-kuatnya.

Ki Tandabaya menggeram. Tetapi ia tidak berhasil berbuat sesuatu. Bahkan ia masih mencoba menghentakkan ilmunya untuk membakar tangan lawannya yang menyentuh tubuhnya, namun Pengawal itu sempat berkata sambil tertawa, “Sudah aku katakan. Perasaanku sudah membeku. Panas semumu tidak berarti apa-apa bagiku. Meskipun aku merasakan juga panasnya, tetapi karena kesadaranku mampu mengatasi cengengnya perasaanku, maka perasaan panas itu tidak berarti apa-apa bagiku, karena sama sekali tidak akan membawa akibat apa-apa.”

Ki Tandabaya mencoba memaksa tubuhnya bergerak. Tetapi tekanan pada kakinya terasa semakin menghimpit, sehingga semakin terasa betapa sakitnya.

“Gila, licik. Kau tidak bertempur dengan jantan, beradu dada untuk menentukan siapa yang akan mati,” geram Ki Tandabaya yang masih mencoba meronta tetapi tidak berhasil.

“Aku tidak ingin berperang tanding sampai salah seorang dari kita mati. Aku hanya menjalankan tugasku, sebagai seorang pengawal untuk menangkap seseorang yang memasuki halaman ini dengan cara yang tidak wajar dan untuk maksud-maksud yang sangat buruk,” jawab pengawal itu.

“Persetan. Lepaskan, dan kita akan bertempur dengan senjata,” Ki Tandabaya hampir berteriak.

“Jangan gila. Dengan susah payah aku menangkapmu, bagaimana mungkin aku melepaskanmu,” jawab pengawal itu.

Ki Tandabaya tidak berkata apapun lagi. Ia menyadari bahwa kata-katanya tidak akan berarti lagi bagi pengawal yang keras kepala itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terasa oleh Ki Tandabaya tangan pengawal itu menyusuri urat-urat kakinya diatas tumitnya. Betapa terkejutnya Ki Tandabaya yang sudah tidak berdaya itu. Sekali lagi ia menghentakkan kekuatan dan ilmunya. Namun sia-sia, tangan orang yang menyebut dirinya pengawal itu telah menekan jalur urat nadinya dan menelusurinya lambat-lambat.

Terasa kaki Ki Tandabaya itu semakin lama semakin lemah. Bahkan kemudian terasa kakinya itu sudah tidak berdaya lagi.

“Anak iblis,” ia berteriak.

Tetapi pengawal itu sama sekali tidak menghiraukannya. Perlahan-lahan dilepaskannya kaki Ki Tandabaya, sehingga akhirnya dilepaskannya sama sekali.

Namun demikian pengawal itu berdiri, Ki Tandabaya telah berguling. Dengan hentakan sisa kekuatannya ia bangkit. Kakinya masih saja tidak berdaya sama sekali. Namun dengan cepat tangannya menggapai urat-urat diatas tumitnya. Ia pun memiliki pengetahuan seperti pengawal itu, yang dapat melumpuhkan, tetapi juga memulihkan kembali kekuatan dengan tekanan-tekanan pada urat nadi.

Tetapi pengawal itu lebih tangkas. Demikian tangan Ki Tandabaya terjulur, maka ia pun dengan tangkasnya menangkap tangan itu. Satu tekanan dibawah ketiaknya, membuat tangan itu tidak berdaya sama sekali. Sementara tangannya yang lainpun kemudian rasa-rasanya telah dilumpuhkannya pula.

“Ki Sanak,” berkata pengawal itu, “aku tahu, kau tentu memiliki pengetahuan ini pula, karena pengetahuan ini memang bukan ilmu yang luar biasa. Banyak orang yang dapat melakukannya, termasuk kau. Tetapi agaknya aku lebih cepat melakukannya, sehingga dengan demikian, maka kaki dan tanganmu tidak akan berdaya lagi. Karena itu, maka biarlah aku serahkan kau kepada Ki Lurah Branjangan yang akan menahanmu, sambil menunggu Raden Sutawijaya kembali dari pesanggrahannya.”

“Gila, licik. Bunuh aku,” teriak Ki Tandabaya. Tetapi pengawal itu tidak menjawab. Katanya kemudian, “Biarlah Raden Sutawijaya yang mengadilimu. Kaupun tentu tahu, bahwa tekanan pada urat nadimu itu pada saatnya akan mengendor dengan sendirinya, dan kau akan terlepas karenanya.”

“Anak setan,” Ki Tandabaya masih berteriak.

Tetapi pengawal itu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berdiri. Kemudian ia menggapai senjatanya. Memasukkan kedalam sarungnya, kemudian, yang mengejutkan orang-orang yang mengitarinya, pengawal itu telah meloncat keatas dinding. Ketika ia siap meloncat turun keluar, ia masih sempat berkata, “Aku mempunyai tugas yang lain. Aku telah meninggalkan garduku. Mudah-mudahan aku tidak dianggap bersalah oleh peinimpin kelompok ku.”

Tidak seorang pun sempat menjawab. Orang itu pun segera menghilang dibalik dinding.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ialah yang harus mengurusi tawanan itu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Bawa tawanan ini masuk. Aku akan mengikatnya dengan janget yang tidak akan mungkin diputuskannya. Janget berangkap tiga. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia kehilangan kekuatannya.”

Ki Tandabaya benar-benar sudah tidak berdaya. Meskipun ia masih mampu berteriak dan membentak-bentak, tetapi kekuatannya telah jauh susut, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa, ketika para pengawal dari Mataram itu membawanya kesebuah ruang tertutup yang rapat. Bahkan sampai kerangka atapnyapun dibuat demikian kuat dan rapat.

Ki Tandabaya yang kemudian dibaringkan pada sebuah amben bambu masih saja mengumpat-umpat. Namun para pengawal dan Ki Lurah Branjangan seolah-olah tidak mendengarnya sama sekali. Bahkan ia pun kemudian ditinggalkannya seorang diri. Dari pembaringannya Ki Lurah mendengar selarak yang berat telah menahan pintu biliknya itu.

Sambil berbaring, Ki Tandabaya memperhatikan bilik itu. Rasa-rasanya mirip seperti bilik yang dapat dilihatnya dari atas atap ketika ia mencari Ki Lurah Pringgabaya.

“Ternyata ada beberapa bilik seperti ini di rumah ini,” katanya didalam hati.

Namun bagaimanapun juga, hatinya masih saja mengumpat-umpat. Justru ia sendiri telah tertangkap di Mataram dan dimasukkan kedalam sebuah bilik, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Mataram terhadap Ki Lurah Pringgabaya. Apalagi untuk beberapa saat ia masih harus berbaring diam karena tangan dan kakinya terasa seolah-olah lumpuh karenanya.

“Gila,” geramnya, “dan Branjangan telah mengancamku untuk mengikat tangan dan kakiku dengan janget rangkap ganda.”

Tetapi ternyata Ki Lurah Branjangan tidak datang untuk mengikat tangan dan kakinya. Meskipun dengan demikian Ki Tandabaya merasa bahwa orang-orang Mataram tentu menganggap bahwa bilik itu cukup kuat untuk menahannya, atau mungkin para pengawal yang dapat dipereaya telah ditugaskan diluar bilik itu.

Namun bagaimanapun juga, yang terjadi itu benar-benar telah memanaskan hatinya. Ia lebih senang dibunuh saja oleh para pengawal daripada ia harus berada didalam bilik tahanan.

“Raden Sutawijaya telah mempersilahkan beberapa orang pemimpin prajurit Pajang untuk datang melihat keadaan Ki Lurah Pringgabaya. Jika para pemimpin itu datang, agaknya orang-orang Mataram akan mempersilahkan mereka menemui aku juga,” geram Ki Tandabaya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali menunggu dengan jantung yang berdebaran, apa yang akan terjadi atasnya.

Meskipun demikian ia masih sempat menilai betapa seorang pengawal dari Mataram itu dapat mengalahkannya. Bahkan nampaknya dengan mudah. Pengawal itu tidak perlu menghentakkan segenap kemampuannya, bertempur dengan nafas yang memburu dan keringat yang seperti diperas. Tidak pula sampai susut kemampuannya sampai saat terakhir ia berhasil menangkapnya.

“Gila,” geramnya berulang kali. Namun ia tak dapat mengingkari kenyataan bahwa dirinya benar-benar terbaring lemah didalam sebuah bilik yang terbuat dari kayu yang tebal dan kuat. Tentu dijaga oleh para pengawal pilihan pula.

Terbersit didalam ingatannya, bagaimana dengan orang-orangnya. Bagaimana dengan Dugul dan kawan-kawannya.

“Agaknya sebagian dari mereka berhasil melarikan diri,” berkata Ki Tandabaya kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah pada saat itu, ditempat yang lain, beberapa orang pengikut Ki Tandabaya telah tertangkap pula. Tetapi sebagian dari mereka benar-benar telah sempat melarikan diri. Di antara mereka yang selamat adalah justru Dugul sendiri.

Dalam pada itu, dengan sekuat tenaganya Dugul tengah melarikan diri menjauhi rumah Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati Ing Ngalaga itu menuju ketempat yang menjadi tempat persembunyiannya selama ia berada di Mataram.

Demikian ia sampai kerumah itu, maka ia pun segera bersiap-siap meninggalkan Mataram. Dibenahinya kudanya dan dipersiapkannya bekal yang akan dibawanya, terutama senjata yang akan dapat dipergunakannya menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk. Beberapa buah pisau belati yang akan dapat dilontarkannya jika diperlukan.

Ketika ia sudah hampir siap, maka beberapa orang kawannyapun telah berdatangan. Mereka pun segera mempersiapkan diri pula untuk meninggalkan Mataram.

“Kita jangan pergi bersama-sama,” berkata Dugul, “tentu akan sangat menarik perhatian, justru pada saat seperti ini.”

“Jadi?” bertanya kawannya, “apakah kita harus keluar seorang demi seorang?”

Selagi mereka berbincang, maka seorang pengikut Ki Tandabaya yang dianggap sebagai orang yang paling berpengalaman, yang datang kemudian berkata, “Jangan bodoh. Pada saat seperti ini, para pengawal tentu sudah disebar. Semua pintu gerbang dan jalan keluar tentu sudah dijaga ketat. Pengawal Mataram mampu bergerak cepat.”

“Kita harus menghindarkan diri dari buruan para pengawal,” jawab Dugul.

“Tentu jangan sekarang,” sahut kawannya itu, “kita lebih baik bersembunyi disini. Tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi sebaiknya kita tidak berada diluar meskipun dikebun belakang.”

“Apakah sebaiknya kita menunggu sampai besok pagi?” bertanya yang lain.

“Itu lebih baik. Disiang hari, tidak banyak yang akan tertarik kepada seorang berkuda. Nah, besok, kita akan pergi, seorang demi seorang.”

Dugul termangu-mangu. Ia masih mencemaskan kemungkinan pasukan pengawal akan mencari mereka malam itu juga disetiap pintu rumah. Tetapi kawannya berkata, “Kita lebih aman tinggal di rumah ini daripada kita berada di jalan-jalan, karena para pengawal tentu akan berkeliaran.”

Dugul pun mengurungkan niatnya. Mereka memasukkan kuda mereka kembali kekandang dan yang lain disembunyikan dilongkangan, agar jumlah kuda yang terlalu banyak itu tidak akan menumbuhkan kecurigaan pula.

Ternyata pemilik rumah yang memang sudah menyerahkan tempat tinggalnya untuk kepentingan orang-orang Pajang itu pun tidak berkeberatan. Katanya, “Kita sudah melakukannya dengan sadar. Kita tidak perlu mencemaskan akibat yang dapat terjadi atas kita.”

Para pengikut Ki Tandabaya itu mengangguk-angguk. Mereka merasa bahwa pemilik rumah yang sejak sebelumnya sudah dikenal oleh Ki Tandabaya itu agaknya merasa ikut bertanggung jawab.

Namun demikian, salah seorang dari para pengikut Ki Tandabaya itu masih tetap gelisah. Katanya kemudian sambil berbisik kepada Dugul, “Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang tertangkap? Apakah mereka tidak akan menyebutkan tempat tinggal kita disini?”

Dugul masih juga bimbang. Namun pemilik rumah yang mendengar juga desis salah seorang pengikut Ki Tandabaya itu berkata, “Jika mereka merasa bertanggung jawab, maka mereka tidak tahan mengalami tekanan. Tetapi aku kira pemeriksaan itu tidak akan segera berlangsung malam ini. Yang akan dilakukan oleh orang-orang Mataram tentu menutup semua jalan keluar dan mengadakan pengawasan keliling dengan peronda-peronda khusus.”

Dugul mengangguk-angguk. Agaknya pendapat pemilik rumah itu pun dapat dibenarkannya. Karena orang itu adalah kawan Ki Tandabaya, atau orang yang memang sudah dikenalnya, maka agaknya ia akan membantu sejauh dapat dilakukannya.

Karena itu, maka para pengikut Ki Tandabaya itu pun mencoba untuk menenangkan dirinya didalam rumah itu.

Tetapi rasa-rasanya hati mereka tidak dapat tenang. Mereka bagaikan duduk diatas bara. Rasa-rasanya mereka telah dibayangi oleh para pengawal dari Mataram.

“Apakah kita dapat berada ditempat lain,” tiba-tiba saja Dugul bertanya kepada pemilik rumah itu.

“Dimana?” pemilik rumah itu justru bertanya.

“Mungkin kau dapat menunjukkan,” desis Dugul.

Pemilik rumah itu menggeleng sambil berdesis, “Aku tidak tahu, apakah ada tempat yang lebih baik bagi kalian. Tetapi diluar, kalian tentu akan menjadi lebih berbahaya. Para pengawal tentu sedang meronda sekeliling kota.”

Memang tidak ada yang aman bagi mereka. Jika mereka ingin keluar lingkungan Mataram, mereka tentu tidak akan dapat menembus penjagaan para pengawal yang kuat disetiap pintu dan jalan betapapun kecilnya. Agaknya perintah untuk menutup semua jalur jalan itu tentu sudah jatuh segera setelah peristiwa di rumah Raden Sutawijaya itu terjadi. Bahkan mungkin sebelumnya, karena agaknya kedatangan Ki Tandabaya dan para pengikutnya memang sudah diketahui sebelumnya.

Dalam kegelisahan, para pengikut Ki Tandabaya itu berkumpul dengan senjata di tangan mereka. Mereka merasa seolah-olah setiap saat rumah itu akan diserang oleh para pengawal yang mendapat petunjuk dari kawan-kawan mereka yang telah tertangkap.

Namun demikian, ada juga pengikut Ki Tandabaya itu yang sempat berbaring diamben bambu yang besar dan tidur mendekur, seolah-olah tidak menghiraukan apa saja yang akan terjadi atas mereka.

Ternyata malam itu mereka tidak diusik oleh keadaan. Mereka dapat beristirahat sampai fajar menyingsing, meskipun ada satu dua di antara mereka yang tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, disamping mereka yang memang mendapat giliran berjaga-jaga.

Ketika terdengar ayam berkokok menjelang pagi, rasa-rasanya hati mereka telah dibasahi oleh embun yang sejuk setelah semalaman dibakar oleh panasnya api kegelisahan.

Dugul yang termasuk salah seorang di antara mereka yang tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, meskipun ia tidak mendapat giliran untuk berjaga-jaga, adalah orang yang pertama-tama berbicara di antara mereka yang dicengkam oleh ketegangan, “Sebentar lagi matahari akan terbit. Kita akan meninggalkan rumah ini, seorang demi seorang. Kita akan memencar menuju kearah yang berbeda. Kita akan keluar dari kota lewat jalan yang tidak sama, agar kita sama sekali tidak menarik perhatian. Disiang hari, maka kita tentu bukan satu-satunya orang berkuda yang keluar dari pintu gerbang dan mungkin juga jalan-jalan sempit yang lain. Meskipun tentu masih ada pengawasan ketat, tetapi kalian harus mempergunakan akal.”

“Jika kita masih belum mungkin keluar?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Jika perlu kita akan keluar dengan berjalan kaki. Apa salahnya kita kembali ke Pajang sambil berjalan, tetapi menjamin keselamatan kita masing-masing, daripada berkuda tetapi dipintu gerbang kita ditunggu oleh para pengawal,” berkata Dugul.

Namun orang yang dianggap paling berpengalaman itu berkata, “Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Kita harus melihat keadaan. Dua orang di antara kita, jika perlu aku sendiri, akan melihat-lihat suasana. Baru kita mengambil keputusan, apakah kita akan keluar dari Mataram atau kita masih harus menunggu? Apakah kita akan berkuda atau berjalan kaki.”

“Sejenak lagi, matahari akan terbit. Kita akan bersiap-siap,” berkata Dugul kemudian.

Kawan-kawannya pun kemudian mengemasi diri. Mereka yang masih tidur dengan nyenyak, telah mereka bangunkan. Sementara pengikut Ki Tandabaya yang dianggap paling berpengalaman itu berkata, “Aku akan mandi. Siapa yang akan ikut bersamaku, cepat mengemasi diri. Dengan rapi kita akan turun ke jalan, sehingga kita tidak akan berbeda dengan orang-orang lain yang berada di jalan-jalan.”

Dugul lah yang menyahut, “Aku pergi bersamamu.”

Kedua orang itu pun kemudian pergi ke ruang belakang. Mereka akan keluar lewat pintu butulan untuk pergi ke pakiwan.

Namun mereka telah menjumpai keadaan yang sama sekali tidak mereka duga. Demikian mereka membuka pintu butulan, maka mereka telah dikejutkan oleh penglihatan mereka. Dengan serta merta mereka telah menutup pintu kembali. Ternyata di kebun, di ujung longkangan mereka melihat dua orang pengawal berjaga-jaga.

“Gila,” geram Dugul, “apa sebenarnya yang telah terjadi?”

Pengikut Ki Tandabaya yang paling berpengalaman itu berkata, “Kita dihadapkan satu keadaan yang paling gawat sekarang ini. Marilah kita lihat, apakah ada juga pengawal ditempat lain.”

Kedua orang itu pun kemudian melintas kebagian lain dari rumah itu. Mereka pun dengan hati-hati mendekati pintu butulan pula. Dengan sangat berhati-hati mereka mencoba mengintip lewat pintu yang dibukanya sedikit.

“Gila,” geram kawan Dugul, “kita sudah dikepung. Siapakah yang telah berkhianat ini?”

Dugul menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak ada yang berkhianat. Tetapi bukankah sudah wajar, bahwa kawan-kawan kita yang tertangkap itu akan mengatakan dimana kita bersembunyi? Tentu bukan hanya tempat ini saja yang dikepung. Persembunyian kawan-kawan kita yang satu lagi tentu sudah dikepung pula.”

“Tidak ada lagi yang disana. Semuanya berada disini,” jawab kawan Dugul. Lalu, “Ternyata akulah yang salah hitung. Jika semalam kita keluar, mungkin kita akan mengalami keadaan yang berbeda.”

“Sudahlah. Kita tidak usah saling menyalahkan. Jika kalian semalam mengikuti aku keluar dari rumah ini, mungkin semalam kita sudah tertangkap,” sahut Dugul, “sekarang, bagaimana kita akan menghadapi mereka.”

“Kita beritahu kawan-kawan,” berkata kawan Dugul itu, seseorang yang dianggap paling berpengalaman di antara para pengikut Ki Tandabaya yang tersisa.

“Mungkin kita tidak mempunyai cara lain, kecuali harus bertempur dengan sisa tenaga kami yang terakhir.”

Dugul tidak menjawab lagi. Keduanya pun kemudian meninggalkan pintu butulan yang sudah menjadi rapat kembali.

Kawan-kawan Dugul terkejut dan mendengar keterangan itu. Seorang di antara mereka berkata dengan gelisah. “Kenapa kita tidak pergi semalam saja? Kita terkurung sekarang.”

“Namun justru karena kita tidak pergi semalam, kita masih dapat beristirahat barang sejenak. Karena jika kita keluar semalam, kita tentu sudah mati juga pagi ini, maka umur kita sudah bertambah sepanjang akhir malam ini.” jawab Dugul.

Kawan-kawannya menarik nafas. Tetapi mereka pun segera mengemasi diri. Memang tidak ada jalan lain kecuali bertempur.

Orang yang dianggap paling berpengalaman itu pun segera membagi kawan-kawannya yang tersisa. Hanya beberapa orang saja yang tentu tidak akan banyak berarti bagi para pengawal Mataram. Namun mereka yang tinggal beberapa itu, tidak akan membiarkan tangan mereka diikat tanpa berbuat sesuatu.

Demikianlah, maka sisa para pengikut Ki Tandabaya itu pun telah bersiap sepenuhnya. Dugul yang berada di ruang depan menghadap kepringgitan itu pun berusaha untuk mengintip dari celah-celah dinding. Ternyata di halaman depan rumah itu pun terdapat beberapa orang pengawal yang sudah bersiaga.

“Gila,” geram Dugul, “dimana pemilik rumah ini.

Kawan-kawannya pun kemudian saling bertanya, “Dimana pemilik rumah ini, yang selama kita berada di rumah ini, bersikap sangat baik dan membantu segala keperluan kita sesuai dengan permintaan Ki Tandabaya.”

Tetapi orang-orang itu tidak melihatnya lagi di antara mereka. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang itu menjadi cemas. Mungkin pemilik rumah itu justru sudah tertangkap ketika ia berada diluar, atau di jalan dimuka rumahnya itu.

“Ia kawan baik Ki Tandabaya. Bahkan masih ada hubungan sanak-kadang,” berkata salah seorang dari mereka.

“Tetapi ia menyadari sepenuhnya, apa yang sedang dihadapinya.” sahut yang lain, “ia tidak akan ingkar, jika akibat yang paling buruk itu menimpanya. Nampaknya ia bukan sekedar orang yang menerima upah dari Ki Tandabaya, tetapi ia menyadari sepenuhnya arti dari perbuatannya.”

“Mungkin kesadarannya jauh lebih baik dari kita,” berkata Dugul, “setidak-tidaknya aku sendiri. Aku lebih mementingkan kepentinganku sendiri dalam hal ini.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Bahkan mereka pun seakan-akan harus melihat kepada diri sendiri, apakah yang telah mendorong mereka melakukan semuanya itu, mempertaruhkan dirinya dan bahkan segala-galanya.

Tetapi mereka tidak sempat merenung lebih lama lagi. Mereka pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

Namun agaknya para pengawal Mataram masih saja menunggu. Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu. Satu dua orang berjalan hilir mudik di halaman, sementara yang lain berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Dua atau tiga orang ditempat yang terpencar.

“Gila,” geram Dugul, “kenapa mereka tidak langsung menyerang dengan memasuki rumah ini?”

Kawannya yang berada disisinya pun menyahut, “Mereka memang orang-orang gila. Apakah keuntungan mereka dengan berdiri saja disana tanpa berbuat sesuatu? Mereka hanya membuang-buang waktu saja.”

“Ternyata mereka adalah pengecut yang paling licik,” Dugul menggeretakkan giginya.

Tetapi para pengawal itu masih tetap berada ditempatnya. Hanya satu dua saja yang masih tetap berjalan hilir mudik.

Akhirnya orang yang dianggap paling berpengalaman di antara sisa-sisa pengikut Ki Tandabaya itu tidak sabar lagi. Ketika cahaya matahari sudah mulai menembus lubang-lubang dinding bambu, maka ia pun berteriak di belakang pintu pringgitan, “He, orang-orang Mataram. Apa kerjamu disitu he?”

Suara itu telah menarik perhatian. Para pengawal itu pun kemudian beringsut dan menempatkan dirinya dalam kepungan yang lebih rapat. Salah seorang dari mereka berdiri di halaman menghadap ke pendapa. Sejenak ia memperhatikan keadaan. Namun kemudian pengawal itu berkata lantang, “Ki Sanak. Kami tahu Ki Sanak ada didalam. Karena itu, sebaiknya Ki Sanak keluar saja. Kita dapat berbicara dengan baik tanpa menarik senjata kita dari sarungnya.”

“Persetan,” jawab pengikut Ki Tandabaya itu, “senjataku sudah terlanjur telanjang. Kami akan membunuh setiap orang yang berani mengusik kami.”

Jawaban itu telah menggetarkan jantung setiap pengawal yang mendengarnya. Namun mereka masih tetap menahan diri. Pemimpin pengawal yang berdiri di halaman itu masih tetap berpegang kepada satu niat untuk menangkap mereka tanpa menitikkan darah.

Karena itu, maka pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak, Kami tentu berkeberatan untuk memasuki rumah itu, karena dengan demikian keadaan kalian akan lebih menguntungkan, sementara kami tidak mengetahui jumlah kalian seluruhnya, maka kami akan dapat mengambil jalan lain. Kami dapat menunggu sampai kalian menjadi jemu. Mungkin justru kelaparan atau kehausan. Tetapi jika kamilah yang tidak sabar lagi, maka kami akan dapat membakar saja rumah itu. Kalian akan terpaksa memilih, keluar dari rumah itu, atau mati hangus menjadi abu.”

“Licik, pengecut, tidak tahu malu,” geram Dugul, “kami yang kalian buru itu pun masih memiliki kejantanan. Kami akan bertempur sampai orang kami yang terakhir.

“Itulah yang akan kami hindari,” sahut pemimpin pengawal itu, “kenapa kita harus saling membunuh. Bukankah akhir dari perkelahian yang akan timbul itu sudah dapat kita perhitungkan?”

“Jangan sombong,” geram Dugul, “kalian akan mengorbankan orang terlalu banyak untuk kesombongan kalian.”

“Tetapi bukankah dengan demikian berarti bahwa kalian akan tumpas sampai orang terakhir?” bertanya pemimpin pengawal itu, “Sebaiknya tidak usah demikian. Kalian menyerah dan kalian akan kami bawa dengan baik menghadap Raden Sutawijaya yang hari ini sudah disusul ke pasanggrahannya.”

“Aku tidak peduli. Kami sudah siap untuk mati bersama sejumlah kawan-kawanmu. Bahkan mungkin semua pengawal yang ada disini sekarang,” jawab pengikut Tandabaya itu.

Pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Cobalah berpikir. Aku akan memberimu waktu barang sejenak.”

“Aku sudah berpikir dengan masak. Aku tidak perlu waktu lagi. Jika kalian akan bertindak atas kami, cepat, lakukanlah,” teriak pengikut Ki Tandabaya yang marah itu.

Tetapi pemimpin pengawal itu masih menyahut sareh, “Aku tidak tergesa-gesa. Aku akan menunggu sampai kalian sempat melakukannya.”

“Tidak. Tidak perlu,” pengikut Ki Tandabaya itu berteriak semakin keras, “sekarang lakukan.”

“Kenapa kalian justru memerintah kami?” pengawal itu bertanya, dan pertanyaan itu membuat pengikut Ki Tandabaya semakin marah, sehingga ia berteriak pula, “Gila. pengecut, licik.”

Tetapi pengawal itu justru tertawa. Katanya, “jangan mengumpat-umpat. Yang aku kehendaki, kalian keluar dari rumah itu. Kita dapat berbicara dengan baik, sehingga masalah yang kita hadapi ini akan dapat kita selesaikan dengan baik.”

Pengikut itu masih akan berteriak lagi. Tetapi ternyata Dugul masih sempat mencegahnya. Katanya, “Jangan terpancing. Kita harus tetap menguasai diri. Jika kita kehilangan nalar, maka itu akan sangat berbahaya bagi kita.”

Pengikut Ki Tandabaya yang dianggap paling berpengalaman itu memandang Dugul dengan tegang. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau benar Dugul. Orang-orang Mataram memang memancing kemarahanku.”

“Karena itu, biarlah mereka menunggu. Biarlah mereka yang menjadi jemu,” berkata Dugul pula, “jika mereka menyerbu masuk, maka kita akan mendapat kesempatan lebih baik pada benturan pertama, sehingga meskipun kita harus mati, tetapi jumlah lawan yang akan mati bersama kita tentu cukup banyak.”

Pengikut Ki Tandabaya yang dianggap paling berpengalaman itu mengangguk-angguk.

Tetapi para pengikut yang lain, yang berjaga-jaga dipintu-pintu yang lain dan dipintu butulan, menjadi tidak sabar. Karena itu, maka Dugul pun mendatangi mereka satu persatu dan menjelaskan masalahnya.

“Sampai kapan kita harus bersabar?” bertanya salah seorang pengikut itu.

“Sampai orang-orang Mataram kehabisan kesabaran,” jawab Dugul.

“Aku tidak dapat menahan diri lagi,” geram yang lain.

“Kematianmu akan sia-sia. Sebaiknya kalian menunggu di pintu. Kalian membunuh orang yang akan memasuki rumah ini sebelum kalian akan mati,” jawab Dugul.

Para pengikut Ki Tandabaya itu mencoba untuk menahan hati. Namun rupa rupanya waktu telah mencengkam mereka sehingga mereka menjadi hampir gila karenanya.

Sementara itu para pengawal dari Mataram itu masih saja berjalan hilir mudik di halaman. Beberapa orang yang lain, berdiri tegak mengawasi pintu-pintu yang tertutup. Sementara beberapa orang berada dipintu gerbang.

“Mereka tidak berbuat apa-apa,” geram salah seorang pengikut Ki Tandabaya.

“Aku tidak sabar. Aku akan menyerang mereka,” desis yang lain.

“Apakah kau akan membunuh diri?” bertanya Dugul.

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ketegangan benar-benar telah mencengkamnya.

Sementara itu, pengikut Ki Tandabaya yang paling berpengalaman itu masih bertanya, “Dimana pemilik rumah ini? Apakah ia sudah tertangkap ketika ia berada diluar rumah?”

Tidak seorang pun yang dapat menjawab. Namun pemilik rumah itu memang tidak ada di antara mereka, sementara di rumah itu memang tidak ada anggauta keluarganya yang lain, selama rumah itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian para pengikut Ki Tandabaya.

Ketegangan yang semakin memuncak telah mencengkam rumah itu. Rasa-rasanya udara didalam rumah itu menjadi semakin lama semakin panas. Sementara darah para pengikut Ki Tandabaya itu pun bagaikan telah mendidih.

Apalagi karena para pengawal Mataram itu nampaknya sama sekali tidak menghiraukan waktu.

Untuk beberapa saat lamanya, para pengikut Ki Tandabaya itu masih dapat menahan hati. Namun semakin lama darah mereka semakin memanasi jantung, sehingga akhirnya Dugul sendiri menjadi tidak sabar.

“Orang-orang Mataram memang gila,” geram Dugul. Dan tiba-tiba saja ia telah berteriak, “He, orang orang Mataram. Kenapa kalian begitu pengecut dan penakut? Kenapa kalian tidak berani memasuki rumah ini jika kalian ingin menangkap kami.”

Tetapi jawaban orang-orang Mataram itu benar-benar menyakitkan hati. Pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Kami tidak tergesa-gesa. Bahkan mungkin hari ini Raden Sutawijaya masih belum dapat kembali karena ia sedang sibuk dengan kuda barunya. Mungkin sehari dua hari lagi ia baru pulang. Nah, pada saat itu, baru kami merasa tergesa-gesa.”

“Gila. Itu adalah sikap yang gila,” teriak seorang pengikut Ki Tandabaya.

“Mungkin. Mungkin sekali kami sudah gila. Tetapi sebenarnyalah kami menunggu kalian sempat berpikir bening, sehingga kalian akan menyerah tanpa setetes darah pun yang akan menitik dibumi Mataram.”

“Persetan” geram Dugul, “sampai tengah hari. Jika kalian tidak bertindak, maka kami akan keluar dari rumah ini dan membunuh siapa saja yang kami jumpai. Bukan hanya kalian para pengawal, tetapi juga orang-orang yang tinggal di sekitar rumah ini.”

“Orang-orang yang berputus asa memang dapat berbuat apa saja,” jawab pemimpin pengawal itu, “kadang-kadang yang tidak terduga-duga sama sekali. Tetapi bukankah kalian tidak sedang berputus asa? Aku kira kalian masih tetap menyadari keadaan kalian sepenuhnya.”

“Anak setan,” seorang pengikut yang lain berteriak. Rasa-rasanya dadanya bagaikan retak oleh kemarahan yang menghentak-hentak.

Kesabaran para pengikut Ki Tandabaya itu sudah tidak tertahankan lagi. Meskipun demikian mereka masih menunggu sampai tengah hari atas permintaan Dugul.

“Kitalah yang kehilangan waktu,” geram kawannya, “jika kami semakin banyak pengawal yang datang, maka kesempatan akan tertutup sama sekali.”

Tetap mereka masih tetap menunggu. Dugul masih mencoba untuk membakar hati para pengawal dan memancingnya memasuki rumah itu. Namun usahanya sama sekali tidak berhasil. Bahkan satu dua orang pengawal justru sempat duduk di regol dan di sudut halaman depan, pintu-pintu butulan.

Namun akhirnya sampai juga kebatas waktu yang ditentukan oleh Dugul, setelah sebelumnya mereka sempat makan apa saja yang terdapat di rumah itu, untuk mengisi perut mereka yang mulai terasa lapar. Dengan demikian, maka rasa-rasanya mereka telah mendapatkan kekuatan baru untuk melawan para pengawal yang mereka anggap licik dan tidak jantan itu.”

Karena itu, ketika matahari kemudian sudah memanjat sampai kepuncak langit, maka orang-orang didalam rumah itu sudah tidak sabar lagi. Bahkan orang yang dianggap paling berpengalaman dari sisa para pengikut Ki Tandabaya itu pun kemudian berkata, “Kitalah yang akan mengambil langkah. Kita tidak mau diombang-ambingkan oleh perasaan gelisah. Mereka dengan sengaja ingin melumpuhkan kemauan kita menghadapi perlawanan mereka.”

“Baiklah,” berkata Dugul, “kita akan mulai.”

Orang-orang yang berada didalam rumah itu pun segera mempersiapkan diri. Ketika mereka sampai kepada perhitungan untuk menyerang, maka mereka tidak lagi memencar lewat pintu butulan dan pintu pringgitan. Tetapi mereka memperhitungkan kemungkinan yang paling lemah dari kepungan orang-orang Mataram itu.

“Kita akan keluar lewat butulan disamping dapur. Mereka nampaknya tidak terlalu banyak menghiraukan butulan itu. Jika kita sempat dengan tiba-tiba menyerang mereka, maka masih ada kemungkinan dari kita, meskipun mungkin tidak seluruhnya, keluar dari halaman rumah ini. Mungkin kita harus berlari-larian menyusup jalan-jalan yang belum kita kuasai. Mungkin para pengawal akan memukul isyarat kentongan dan orang-orang padukuhan akan mengejar kita seperti mengejar tupai,” berkata pengikut Ki Tandabaya yang berpengalaman itu.

Dugul menjadi ragu-ragu. Desisnya, “Memang lebih mudah malam hari. Dan aku sudah menyia-nyiakan waktu yang lebih baik itu. Jika saja semalam aku berpikir untuk keluar tanpa seekor kuda.”

“Sudahlah,” potong pengikut Ki Tandabaya itu, “kita akan menyerang mereka dan menghadapi setiap kemungkinan yang akan dapat terjadi atas kita. Mungkin kita akan dicincang oleh orang-orang padukuhan. Namun dengan senjata di tangan, kita akan mendapat kawan dari antara mereka untuk mengarungi batas dengan maut.”

Akhirnya, para pengikut itu telah mengambil satu sikap. Mereka pun segera bersiap justru disatu pintu.

Dugul yang berada dipaling depan berdiri tegak dengan pedang di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang selarak pintu butulan itu. Kemudian dengan suara parau ia mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Demikian mulutnya berhenti, maka selarak itu pun telah terlempar sehingga pintupun segera terbuka. Dengan serta merta, maka para pengikut Ki Tandabaya itu pun segera berloncatan turun lewat pintu butulan itu.

Dalam pada itu, ternyata hanya ada dua orang pengawal yang mengawasi pintu butulan itu. Namun demikian pintu itu terbuka, dan beberapa orang berloncatan, terdengar salah seorang dari kedua pengawal itu bersuit nyaring.

Alangkah marahnya para pengikut Ki Tandabaya itu. Demikian mereka mencapai kedua orang itu, maka beberapa orang pengawal telah berlari-larian mendekati kedua orang kawannya itu.

Karena itulah, maka usaha mereka untuk langsung melarikan diri meloncati dinding kebun itu pun tidak dapat mereka lakukan. Ternyata tidak jauh dari kedua orang itu, terdapat beberapa orang pengawal yang lain.

Dalam sekejap kemudian, maka terjadilah pertempuran yang keras dan kasar. Para pengikut Ki Tandabaya yang marah itu sama sekali tidak berusaha mengekang diri lagi. Mereka tidak sempat lagi memikirkan, apa yang sebaiknya mereka lakukan menghadapi masalah yang gawat bagi keselamatan mereka itu.

Untuk beberapa saat, beberapa orang pengawal yang lain masih tetap berada ditempatnya. Mereka harus berhati-hati, apabila masih ada beberapa orang yang berada didalam.

Namun dalam pada itu, karena pertempuran sudah mulai menyala, maka pemimpin pengawal yang berada di halaman depan, segera membawa beberapa orang pengawal yang lain untuk memasuki rumah itu.

Dengan hati-hati mereka mendekati pintu pringgitan. Kemudian dengan keras mereka memaksa membuka pintu itu. Ternyata selarak pintu yang sengaja dipasang oleh para pengikut Ki Tandabaya sebelum mereka meninggalkan tempat itu, telah dapat dipatahkan. Dengan serta merta, pemimpin pengawal itu pun segera meloncat masuk dengan pedang terjulur kedepan, diikuti oleh tiga orang pengawal.

Namun mereka tidak menemukan seseorang. Karena itu. maka mereka pun segera melihat seluruh ruangan yang ada didalam rumah itu, yang ternyata telah menjadi kosong.

Dengan demikian, maka mereka pun segera berlari-larian keluar lewat pintu butulan, menyusul para pengikut Ki Tandabaya yang telah lebih dahulu meninggalkan rumah itu.

Sementara itu, para pengikut Ki Tandabaya itu masih bertempur di halaman belakang. Ternyata bahwa semakin lama, para pengawal yang datang mengepung mereka menjadi semakin banyak. Apalagi ketika pemimpin pengawal itu memberitahukan, bahwa rumah itu telah kosong.

“Tetapi jangan lengah,” berkata pemimpin pengawal itu, “sebagian dari kalian harus tetap mengamati keadaan.”

Meskipun beberapa orang berada di sekitar rumah itu, tetapi ternyata jumlah para pengawal yang mengepung para pengikut Ki Tandabaya itu sudah terlalu banyak, sehingga para pengikut Ki Tandabaya itu seolah-olah sudah tidak mempunyai ruang gerak lagi. Namun demikian mereka masih tetap bertempur seperti orang kehilangan ingatan. Dugul mengamuk seperti orang kerasukan iblis. Sementara kawannya yang lainpun seakan-akan tidak lagi menyadari, apa yang telah terjadi. Perasaan putus asa telah membuat mereka kehilangan akal.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang berada di pinggir arena itu pun kemudian berteriak, “Sebenarnya kalian tidak perlu berbuat seperti itu.”

“Persetan,” geram Dugul, “hanya ada dua pilihan. Membunuh atau tidak dibunuh.”

“Masih ada pilihan ketiga,” jawab pemimpin pengawal, “menyerah. Kenapa kalian tidak memikirkan kemungkinan itu. Tentu itu akan lebih baik daripada mati.”

“Kalianlah yang akan mati.” teriak salah seorang pengikul Ki Tandabaya.

“Meskipun kalian sudah berputus asa, tetapi cobalah masih melihat kenyataan yang kalian hadapi. Dan apakah keuntungan kalian jika kalian memilih mati.”

“Itu lebih baik,” teriak Dugul, “kalian tidak akan dapat memeras keterangan apapun atas kami.”

Tetapi pemimpin pengawal itu tertawa. Katanya, “Kau jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Buat apa orang orang Mataram memeras keteranganmu? Dan apakah yang kau ketahui tentang perkembangan keadaan terakhir, khususnya hubungan antara Mataram dan Pajang?”

“Persetan,” teriak Dugul.

“Agaknya kau belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Dugul tidak menjawab. Tetapi ia mengamuk semakin dahsyat. Senjatanya berputaran dengan cepatnya. Namun tidak lagi mengarah kesasaran yang memadai dengan pengarahan ilmunya.

Untuk sesaat pertempuran masih berlangsung. Beberapa orang pengawal mengepung para pengikut Ki Tandabaya. Senjata yang berdentangan telah menaburkan bunga api di udara.

adbm-139-03Namun kemudian terdengar keluhan tertahan. Para pengikut Ki Tandabaya mulai tersentuh oleh senjata para pengawal. Ketika seorang di antara mereka tersobek lengannya, maka ia pun mengumpat-umpat dengan kasarnya.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal itu berkata selanjutnya, “Dengarlah. Kalian tidak usah merasa diri kalian orang-orang besar yang kami butuhkan. Jika kami menangkap kalian, bukan karena kami memerlukan keterangan kalian. Kalian kami tangkap karena kalian telah melanggar tatanan hidup dan ketenteraman di Mataram. Jika kami memerlukan keterangan tentang kalian, kelompok dan orang-orang lain yang berada didalam satu lingkungan dengan kalian, maka di Mataram hari ini ada Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya. Mereka tentu lebih banyak mengetahui daripada kalian, orang-orang yang tidak berarti sama sekali, tetapi yang merasa diri terlalu besar dan penting, sehingga rela mengorbankan nyawa kalian.”

Kata-kata pemimpin pengawal itu ternyata telah menyentuh hati para pengikut Ki Tandabaya itu. Apalagi ketika terdengar seorang di antara mereka berdesis menahan pedih, ketika senjata seorang pengawal menggores dadanya.

“Kami sengaja memakai senjata yang tidak akan menimbulkan bahaya yang gawat bagi nyawa kalian, jika kalian hanya sekedar tergores,” berkata pemimpin pengawal itu, “Lihatlah. Darahmu mengalir. Itu pertanda bahwa luka itu tidak apa-apa. Tetapi jika kulit dan dagingmu menganga, tetapi tidak sedikit darah pun yang keluar, maka itu pertanda bahwa goresan senjata itu akan meminta kematian.”

“Persetan,” teriak Dugul.

“Perhatikan kata-kataku dan cobalah menilai dengan nalar bening,” berkata pemimpin pengawal.

“Aku akan membunuh kalian,” teriak Dugul, “aku tidak peduli apa yang telah terjadi. Tetapi kami hanya mempunyai dua pilihan. Membunuh atau dibunuh. Kami tidak akan memberikan pilihan lain dari keduanya.”

Pemimpin pengawal itu menegang. Nampaknya para pengikut Ki Tandabaya itu sudah sulit untuk diajak berbicara. Namun ia masih ingin mencoba sekali lagi, katanya, “Ki Sanak. Sekali lagi aku peringatkan. Kalian sama sekali tidak berarti apa-apa bagi kami. Seandainya kami terpaksa menangkap kalian matipun kami tidak akan kehilangan sumber keterangan, karena Ki Tandabaya dan Ki Lurah Pringgabaya masih ada pada tangan kami. Jika kami memperingatkan kalian, semata-mata karena kami tidak ingin membunuh. Kami ingin menyelesaikan persoalan ini dengan tanpa melepaskan nyawa sama sekali. Apakah itu nyawa kawan kami, apakah lawan kami. Karena itu, jangan merasa diri kalian lebih besar dari Ki Tandabaya sendiri, seolah-olah kami ingin menangkap kalian, karena kalian mengetahui segala masalah yang berkembang di Pajang. Sebenarnyalah kami mengetahui, bahwa kalian adalah pengikut Ki Tandabaya yang tidak tahu menahu, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh orang itu, kecuali karena kalian adalah orang-orang yang dihidupinya dengan anak isteri kalian.”

Sekali lagi hati para pengikut Ki Tandabaya itu tersentuh. Sekali lagi mereka dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa mereka memang bukan orang-orang penting. Karena itu, apakah sudah sewajarnya jika mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka tanpa tahu ujung dan pangkal dari persoalan itu seutuhnya?

Untuk beberapa saat tidak ada yang menjawab. Meskipun pertempuran itu masih berjalan terus, tetapi para pengikut Ki Tandabaya sebagian hanyalah berusaha untuk melindungi diri.

Pemimpin pengawal dari Mataram yang berpandangan tajam itu melihat keragu-raguan dimata beberapa orang pengikut Ki Tandabaya. Karena itu, maka ia pun kemudian memberikan perintah agar para pengawal memberikan kesempatan orang-orang itu berpikir.

Beberapa orang pengawal yang sedang bertempur itu pun berloncatan surut. Ternyata para pengikut Ki Tandabaya itu tidak mengejar mereka dengan serangan-serangan. Tetapi mereka pun telah berdiri termangu-mangu meskipun senjata mereka masih merunduk.

“Pikirkan,” berkata pemimpin pengawal, “lihatlah sebaik-baiknya. Ada berapa pengawal disini yang mengepung kalian. Kawan kalian telah terluka. Apalagi? Jika kita harus bertempur terus, maka kalian sudah dapat membayangkan akhir dari pertempuran ini. Kalian akan kami tumpas habis,” pengawal itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi apakah itu niat kami datang kemari? Membunuh tanpa menghiraukan apapun juga? Tidak Ki Sanak. Kami bukan pembunuh-pembunuh yang ganas. Selama kalian masih sempat mendengarkan peringatan-peringatanku.”

Keragu-raguan semakin mencengkam hati para pengikut Ki Tandabaya. Apalagi ketika mereka melihat, bahwa para pengawal itu benar-benar mentaati perintah pemimpinnya. Mereka berdiri mengitari para pengikut Ki Tandabaya itu dengan senjata masih di tangan. Sementara itu, seperti yang dikatakan oleh pemimpin pengawal itu, bahwa jumlah para pengawal itu jauh lebih banyak dari jumlah para pengikut Ki Tandabaya itu.

Akhirnya orang yang paling disegani di antara para pengikut Ki Tandabaya itu berkata, “Kami menyerah.”

Hal itu memang sudah diduga oleh pemimpin pengawal Mataram itu. Ia pun semakin yakin ketika ia melihat, bahwa di antara para pengikut Ki Tandabaya itu nampaknya tidak seorang pun yang menolak pernyataan itu.

Namun perhatian utama dari pemimpin pengawal itu diarahkannya kepada Dugul. Ialah orang yang dianggap paling keras menentang tawaran para pengawal Mataram untuk menyerah.

Tetapi Dugul tidak dapat berbuat sendiri. Apalagi ternyata bahwa menurut pengawal itu, Ki Tandabaya sendiripun telah tertangkap.

Pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Letakkan senjata kalian.”

Terbersit keragu-raguan pula dihati para pengikut Ki Tandabaya itu. Namun kemudian mereka tidak dapat berbuat lain. Mereka pun kemudian melemparkan senjata-senjata mereka ketanah.

Demikianlah para pengawal itu telah berhasil menyelesaikan tugas mereka, dengan tidak jatuh korban.

Meskipun di antara para pengikut Ki Tandabaya ada yang terluka, dan bahkan ada iuga pengawal yang tergores senjata, namun luka-luka itu tidak akan berbahaya bagi nyawa mereka.

Pemimpin pengawal itu pun kemudian memerintahkan para pengikut Ki Tandabaya itu berkumpul. Mereka mendapat beberapa penjelasan, apa yang harus mereka lakukan

“Kami terpaksa mengikat tangan kalian, hanya selama di perjalanan,” berkata pemimpin pengawal itu.

Para pengikut Ki Tandabaya menggeram. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Karena itulah, maka seorang demi seorang dari mereka telah diikat tangannya, meskipun didepan tubuh mereka sehingga mereka masih dapat mengendalikan kuda mereka dengan baik.

“Kita akan menghadap Ki Lurah Branjangan,” berkata pemimpin pengawal itu, “aku tidak tahu pasti, apakah Raden Sutawijaya sudah kembali. Agaknya Ki Lurah sudah memerintahkan dua orang penghubung untuk memberitahukan apa yang telah terjadi di Mataram. Mungkin sekarang, Raden Sutawijaya itu sudah berada di rumahnya. Tetapi mungkin pula belum.”

Tanpa dapat membantah lagi, maka para tawanan itu pun kemudian dibawa kerumah Raden Sutawijaya. Ketika mereka memasuki regol, maka pemimpin pengawal itu sempat bertanya kepada penjaga di regol, “Apakah Raden Sutawijaya sudah kembali?”

Pengawal itu menggeleng sambil menjawab, “Belum.”

“Kenapa,” bertanya pemimpin pengawal itu.

“Aku tidak tahu,” jawab pengawal itu.

“Tetapi bagaimana dengan kedua penghubung itu?” bertanya pemimpin pengawal itu pula.

“Mereka sudah kembali. Mereka telah menghadap Ki Lurah Branjangan.”

Pemimpin pengawal itu tidak bertanya lagi. Ia pun kemudian membawa tawanannya memasuki halaman samping dan menyerahkan mereka kepada seorang pembantunya.

Pemimpin pengawal itu sendiri kemudian mencari kedua penghubung yang telah menyusul Raden Sutawijaya atas perintah Ki Juru Martani. Namun yang ditemukannya di serambi adalah Ki Lurah Branjangan.

“Ki Lurah,” bertanya pemimpin pengawal itu, “bagaimana dengan Raden Sutawijaya?”

Ki Lurah Branjangan menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Raden Sutawijaya masih ingin bermain-main dengan kuda barunya. Besok mungkin ia baru kembali.”

“Apakah Raden Sutawijaya tidak menganggap penting peristiwa yang terjadi semalam?” bertanya, pengawal itu pula.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Peristiwa itu sudah terjadi. Ternyata para pengawal dapat mengatasi kesulitan itu dan bahkan menangkap beberapa orang di antara mereka yang telah membuat kekacauan di halaman ini. Karena itu, maka bagi Raden Sutawijaya tidak akan ada gunanya lagi tergesa-gesa. Apakah Raden Sutawijaya kembali sekarang atau besok, akibatnya akan sama saja.”

Pemimpin pengawal itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata peristiwa yang menggemparkan itu sama sekali tidak mengejutkan Raden Sutawijaya. Mungkin ia sudah cukup pereaya kepada para pengawal, kepada Ki Lurah Branjangan dan kepada Ki Juru. Namun nampaknya Ki Juru sendiri tidak banyak mencampuri persoalan masuknya beberapa orang kehalaman rumah itu.

Tetapi pemimpin pengawal itu tidak bertanya lebih lanjut. Sedikit banyak ia mengerti sifat Raden Sutawijaya. Ia mengerti ketajaman penggraitanya, sehingga jika terjadi sesuatu yang berbahaya, maka tanpa ada orang yang menyusulnya, ia tentu sudah berada di Mataram.

Dalam pada itu, maka para pengikut Ki Tandabaya itu pun segera dimasukkan kedalam satu ruang tertutup yang dijaga kuat. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi atas Ki Tandabaya. Meskipun mereka mendengar para pengawal mengatakan sesuatu tentang Ki Tandabaya, namun kepastian tentang dirinya tetap merupakan teka-teki.

Dalam pada itu, Ki Tandabaya sendiri yang berada didalam sebuah bilik yang tertutup pula masih saja selalu mengumpat-umpat. Ia sadar, bahwa pada suatu saat, tangan dan kakinya itu akan pulih dengan sendirinya. Tetapi itu memerlukan waktu yang cukup panjang. Mungkin sampai menjelang senja, ia masih harus berbaring diam.

Namun karena kemarahan yang mendorong Ki Tandabaya untuk berbuat sesuatu, maka agaknya kaki dan tangannya itu dapat pulih lebih cepat dari yang diduganya. Ketika matahari mulai condong, maka Ki Tandabaya sudah mulai dapat menggerakkan anggauta badannya. Sedikit demi sedikit. Namun karena kemauannya yang keras, ia pun akhirnya dapat bangkit dan duduk di pembaringannya.

“Gila,” geramnya, “orang Mataram memang gila.”

Namun suaranya yang membentur dinding kayu yang rapat itu bergaung tanpa arti. Tidak ada seorang pun yang akan menanggapinya, betapapun ia mengumpat-umpat. Bahkan seandainya ia berteriak-teriak pun tidak akan ada yang mempedulikannya.

Ki Tandabaya menegang ketika ia mendengar selarak pintu berderak diluar. Rasa-rasanya ia ingin meloncat dan menerkam siapapun yang membuka pintu itu. Ia dapat melarikan diri, meskipun seandainya sebatang anak panah akan mengejarnya dan menembus punggungnya. Kematian merupakan penyelesaian yang paling baik baginya dalam keadaan yang demikian.

Sekali sekali ia mengumpat, Ki Lurah Pringgabaya. “Jika orang itu tidak tertangkap, dan jika saja isterinya yang tidak sah itu bukan seorang perempuan yang cantik, mungkin ia tidak akan begitu cepat terdorong kedalam neraka yang sempit itu.”

Tetapi tenaga Ki Tandabaya tidak memungkinkan. Ia baru dapat bangkit dan duduk dipembaringannya. Ia belum dapat beringsut terlalu jauh dan apalagi berdiri tegak.

Sejenak kemudian, maka pintu yang tebal dan berat itu pun terbuka. Jantungnya bagaikan retak ketika ia melihat Ki Lurah Pringgabaya berdiri tegak dimuka pintu sambil memegang sebatang anak panah dalam ukuran kecil.

Karena tubuh Ki Tandabaya yang masih belum pulih sama sekali itu masih belum dapat menghentak-hentak, melepaskan gejolak perasaannya, maka hanya sorot matanya sajalah yang memancarkan betapa panas isi dadanya.

“Selamat datang Ki Tandabaya,” tiba-tiba saja Ki Pringgabaya telah menyapanya.

Ki Tandabaya menggeretakkan giginya. Katanya, “Apakah aku melihat Ki Lurah Pringgabaya atau sekedar bayangan hantunya yang ngelambrang tanpa sandaran?”

Ki Pringgabaya tersenyum. Katanya, “Jangan marah. Aku telah berada ditempat ini lebih dahulu. Sejak aku datang ketempat ini, aku sudah minta agar aku dibunuh saja. Atau beri kesempatan aku sekali lagi berperang tanding melawan Senapati Ing Ngalaga. Tetapi permintaanku itu tidak pernah dikabulkan. Dengan berbagai cara aku sudah berusaha agar aku dibunuh saja. Melarikan diri, melawan para penjaga dan bahkan aku pernah menyerang Senapati Ing Ngalaga ketika ia menengokku di bilikku untuk memberitahukan kepadaku, bahwa ia telah mengundang beberapa orang perwira Pajang. Bukankah perbuatan itu sudah keterlaluan? Namun sampai sekarang aku tetap hidup meskipun aku benar-benar ingin mati.”

“Kenapa kau tidak lari sekarang ini?” bertanya Ki Tandabaya.

“He, apakah kau tidak melihat, bahwa di sekitar tempat ini terdapat beberapa orang pengawal?” sahut Ki Lurah Pringgabaya.

“Bukankah kau tidak takut mati?” bertanya Ki  Tandabaya pula.

Tetapi Ki Pringgabaya tertawa. Katanya, “Aku memang ingin mati. Tetapi itu sudah lewat. Sejak aku menemukan anak panah ini, maka keinginanku itu justru lenyap seperti embun dihapus oleh panasnya matahari.”

Jantung Ki Tandabaya menggelepar. Rasa-rasanya isi dadanya telah terguncang oleh jawaban Ki Pringgabaya itu. Namun justru untuk sesaat Ki Tandabaya bagaikan terbungkam tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun juga.

Pada saat-saat Ki Tandabaya tegak mematung dengan wajah tegang, Ki Lurah Pringgabaya justru tersenyum. Katanya, “Kau tidak usah terkejut mendengar jawabanku. Kau tentu mengerti maksudku.”

“Tidak,” tiba-tiba saja Ki Tandabaya menggeram. “Aku tidak mengerti. Apakah yang sebenarnya kau maksudkan?”

Ki Lurah Pringgabaya itu masih saja tersenyum. Katanya, “Jangan berpura-pura. Kau tentu mengenal anak panah ini.”

“Darimana itu kau dapat?” Ki Tandabaya lah yang kemudian bertanya.

“Aku dapat anak panah ini dari bilik sebelah,” Ki Pringgabaya berhenti sejenak, lalu, “maksudku, aku telah dibawa oleh para pengawal Mataram untuk memasuki bilik sebelah. Dan aku menemukan anak panah ini.”

“Kau tahu, darimanakah asal anak panah itu?” bertanya Ki Tandabaya

“Tentu. Para pengawal itu telah memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi semalam. Memang aneh, bahwa seorang abdi Kepatihan Pajang telah datang ke Mataram, sekedar untuk melepaskan anak panah dengan sasaran seonggok jerami. Apa maksudmu?” bertanya Ki Pringgabaya. Bahkan dilanjutkannya, “Selebihnya kau telah mempertaruhkan badan dan nyawamu untuk permainan yang aneh itu.”

“Jangan melingkar-lingkar,” potong Ki Tandabaya yang masih tetap duduk dipembaringan. Betapapun darahnya menggelegak, namun ia masih dipengaruhi oleh sentuhan tangan pengawal di sudut halaman itu. Namun yang lambat laun mulai terasa semakin longgar.

“Aku berkata lurus,” jawab Ki Pringgabaya.

“Katakan, bahwa pengawal-pengawal itu sudah memberitahukan kepadamu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kau datang untuk menuduhku sesuai dengan keterangan para pengawal itu, bahwa aku telah berusaha untuk membunuhmu,” geram Ki Tandabaya.

“O,” Ki Lurah Pringgabaya terkejut, “apakah memang demikian? Apakah kau datang dengan mengemban perintah untuk membunuhku?”

“Kau sudah gila,” geram Ki Tandabaya, “marilah kita berbicara wajar, tanpa sikap pura-pura. Kau tentu sudah tahu bahwa aku datang dengan membawa perintah membunuhmu. Dan aku sudah mencoba melaksanakannya. Tetapi aku gagal. Dan bahwa kau sudah mengetahui ternyata bahwa kau membawa anak panah itu kepadaku dan kaupun telah mengatakan bahwa justru karena itu, maka keinginanmu untuk mati itu telah lewat.”

Ki Pringgabaya tertawa. Katanya, “Tepat. Kau menangkap sikapku dengan tepat.”

“Lalu apa maksudmu? Kau mendendam?” bertanya Ki Tandabaya.

Sejenak Ki Pringgabaya termangu-mangu. Ia pun kemudian berpaling, memandang para pengawal yang mengawasinya dari kejauhan. Namun nampaknya mereka sudah siap bertindak, apabila Ki Pringgabaya melakukan sesuatu yang mencurigakan.

“Ki Tandabaya,” berkata Ki Pringgabaya kemudian, “aku memang mendendam, karena aku tahu kenapa kau dengan sungguh-sungguh dan penuh gairah melakukan tugas yang dibebankan kepadamu.”

Wajah Ki Tandabaya menjadi merah. Tetapi karena tubuhnya yang masih lemah, maka ia masih tetap berada ditempatnya.

“Menurut pikiranmu?” bertanya Ki Tandabaya dengan suara berat.

Ki Pringgabaya tertawa tertahan. Katanya, “Kita sekarang bersama-sama berada ditempat ini. Orang lainlah yang akan menemukan perempuan yang tentu menjadi kesepian.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya.

“Kau tidak usah marah-marah. Keadaanmu tidak menguntungkan. Jika kau memaksa diri berbuat sesuatu, maka kau akan terjatuh dan mengalami kesulitan untuk bangkit dan kembali duduk dipembaringanmu.”

“Kekuatanku sudah pulih,” geram Ki Tandabaya.

“Jangan kelabui dirimu sendiri,” sahut Ki Lurah Pringgajaya.

“Sekarang kau mau apa?” bertanya Ki Tandabaya, “kau akan membunuhku dengan anak panah itu?”

“Ki Tandabaya. Kedudukanmu sekarang sama seperti kedudukanku. Kau atau aku atau kita bersama-sama, akan dapat menjadi sumber keterangan yang berbahaya bagi kawan-kawan kita di Pajang. Jika karena hal itu, maka pemimpin-pemimpin kita menentukan, bahwa aku harus mati, maka aku kira hal itu akan berlaku juga bagimu.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya.

Ki Lurah Pringgabaya tertawa. Katanya, “Bukankah yang kau ketahui dan apa yang aku ketahui tidak akan bertaut banyak? Karena itu, maka akibat dari nasib kita yang buruk ini pun tidak akan jauh berbeda.”

“Kau akan membunuh aku lebih dahulu?” bertanya Ki Tandabaya.

“Alangkah mudahnya membunuhmu sekarang,” berkata Ki Lurah Pringgabaya, “aku akan dapat tanpa kesulitan apapun menghunjamkan anak panah yang mungkin beracun ini ketubuhmu yang masih belum mempunyai kekuatan itu sama sekali.”

“Licik. Pengecut,” geram Ki Tandabaya.

Ki Pringgabaya masih tertawa. Katanya, “Kenapa hcik? Bukankah yang kau lakukan itu pun licik sekali jika kau berhasil? Untunglah bahwa kau telah gagal.”

“Aku sudah cukup kuat untuk melawanmu,” geram Ki Tandabaya.

“O, jangan mengelabui diri sendiri,” Ki Lurah Pringgabaya justru tertawa semakin keras.

“Baiklah,” berkata Ki Tandabaya, “jika kau tidak berani menunggu kekuatanku pulih kembali, karena kau sudah mengetahui tingkat ilmuku yang jauh melampaui tingkat ilmumu, bunuhlah aku sekarang. Itu akan sangat baik bagiku.”

Ki Lurah Pringgabaya merenung sejenak. Kerut merut dikeningnya nampak menjadi dalam oleh keresahan didalam hatinya. Namun akhirnya ia berkata, “Manakah yang lebih baik menurutmu. Apakah aku harus membunuhmu sekarang atau tidak.”

“Kau memang seorang pengecut yang cengeng. Lakukan jika kau memang ingin melakukannya. Mengapa kau menjadi ragu-ragu, padahal membunuh adalah pekerjaanmu?” bertanya Ki Tandabaya.

Ki Lurah Pringgabaya lah yang kemudian menjadi tegang. Dipandanginya Ki Tandabaya dengan tajamnya. Orang itu masih tetap lemah meskipun Ki Pringgabaya-pun mengerti, bahwa sebentar lagi Ki Tandabaya akan terlepas dari akibat sentuhan tangan pada urat-uratnya. Perlahan-lahan kekuatan Ki Tandabaya akan pulih kembali sehingga akhirnya ia akan menemukan dirinya sewajarnya.

Tetapi Ki Lurah Pringgabaya masih tetap berdiri. Bahkan kemudian sekali lagi ia berpaling. Ia melihat beberapa orang pengawal telah memandanginya pula. Agaknya waktu yang disediakannya untuk menjumpai kawannya itu sudah hampir habis.

“Ki Tandabaya,” berkata Ki Lurah Pringgabaya, “ternyata kau sudah terjerat oleh kesombonganmu. Kau menganggap bahwa Mataram ini tidak mempunyai kekuatan sama sekali, sehingga kau memberanikan diri memasuki halaman rumah ini untuk membunuhku. Aku tahu apa yang bakal terjadi, ketika aku dipindahkan dari bilikku itu. Meskipun demikian, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang pengawal nampaknya dengan sengaja memberitahukan kepadaku, bahwa malam itu akan datang seseorang untuk membunuhku, sehingga karena itu aku harus dipindahkannya.”

“Untuk apa kau katakan semuanya itu?” bertanya Ki Tandabaya.

“Dengarlah kelanjutannya,” jawab Ki Lurah yang masih tetap berdiri dipintu, “hari ini aku mendapati anak panah ini didalam bilikku. Aku tahu apa yang terjadi dengan pasti setelah aku melihat bagaimana anak panah ini masih menancap ditempatnya dan lubang-lubang pada atap bilik itu.”

“Cepat katakan, bahwa kau mendendam dan akan membunuhku sekarang dengan anak panah itu meskipun tanpa busurnya, justru karena aku tidak dapat melawan,” Ki Tandabaya hampir berteriak.

Tetapi Ki Tandabaya terkejut ketika ia mendengar jawaban. “Tidak. Aku tidak akan melakukannya sekarang, meskipun aku telah digelitik oleh satu keinginan untuk melakukannya.”

“Kenapa? Kau sudah menjadi cengeng? Licik atau pengecut? Atau kau justru menjadi terlalu sombong dan merasa dirimu seorang pengampun?” geram Ki Tandabaya.

Ki Pringgabaya menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku bukan pengampun. Aku adalah pendendam yang akan melepaskan dendamku setiap ada kesempatan. Aku juga seorang pembunuh yang tidak mengenal ampun dan belas kasihan. Karena itu maka aku memang akan membuat perhitungan denganmu. Tetapi tidak sekarang. Justru pada saat kita mengalami nasib serupa.”

“Kesombonganmu memang tidak dapat dimaafkan. Jika kau tidak mau melakukan sekarang dan menunggu kekuatanku pulih kembali, maka aku akan benar-benar membunuhmu,” Ki Tandabaya hampir membentak.

“Terserahlah apa yang akan kau katakan. Namun jika pada suatu saat kau membunuhku, maka itu berarti bahwa kau akan menanggungkan sendiri tekanan-tekanan orang Mataram untuk mengetahui segala sesuatu mengenai lingkungan kita di Pajang,” jawab Ki Lurah Pringgabaya.

“Gila. Kau memang orang gila. Apakah sebenarnya maksudmu dengan segala macam ceritera, ancaman dan sifat kegila-gilaanmu ini?” bertanya Ki Tandabaya yang sedang marah itu.

“Sabarlah,” berkata Ki Lurah Pringgabaya, “aku sendiri memang bukan orang yang dapat selalu bersabar. Tetapi dengarlah. Aku datang dengan alat yang dapat aku pergunakan untuk membunuhmu. Tetapi dengan demikian, seperti yang aku katakan, jika salah seorang dari kita mati, maka beban itu akan diletakkan seluruhnya diatas pundak salah seorang dari kita yang masih hidup. Lebih dari itu, sebenarnyalah orang Mataram memang menghendaki aku datang untuk membunuhmu. Tetapi sudah barang tentu bahwa dengan demikian, jika aku melakukannya, aku sudah berbuat satu kebodohan yang tidak dapat dimaafkan.”

Ki Tandabaya menegang sejenak. Lalu, “Kenapa?”

“Kecuali untuk membagi beban, kita harus membuktikan kepada orang-orang Mataram, bahwa kita bukan serigala yang akan saling menggigit pada saat-saat kita kelaparan.”

Sejenak Ki Tandabaya termangu-mangu. Ia mulai mengerti maksud Ki Lurah Pringgabaya sebenarnya. Meskipun ia pun sadar bahwa hal itu hanya akan bersilat sementara. Ki Tandabaya pun tahu pasti, bahwa Ki Lurah Pringgabaya adalah seorang yang tidak mudah melupakan peristiwa yang menyangkut dirinya, apalagi menyakiti hatinya. Ia pun bukan orang yang harus berpikir dua tiga kali jika ia sudah bertekad untuk membunuh.

Meskipun demikian, ia pun mengerti, bahwa dihadapan orang-orang Mataram Ki Lurah Pringgabaya tidak bersedia untuk diperlakukan sebagai cengkerik aduan yang harus berkelahi di antara mereka untuk memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Karena itu, maka Ki Tandabaya pun berkata, “Aku mengerti maksudmu. Tetapi apakah kau berkata dengan jujur?”

“Ya. Aku berkata dengan jujur. Aku pun telah berkata dengan jujur pula, bahwa pada suatu saat aku akan membuat perhitungan denganmu, karena aku sadar, bahwa kemampuanmu tidak lebih baik dari kemampuanku. Setidak-tidaknya jika kita terlibat dalam perang tanding yang jujur, kesempatanmu dan kesempatanku akan sama,” jawab Ki Lurah Pringgabaya.

“Baik. Aku terima sikapmu sekarang. Tetapi jangan kau anggap bahwa aku minta belas kasihanmu sekarang ini,” geram Ki Tandabaya.

Ki Lurah tertawa. Katanya, “Terima kasih. Jika demikian, aku akan pergi. Mungkin kita pada suatu saat harus bersama-sama mencari jalan untuk keluar, meskipun di Pajang kita akan berkelahi sampai salah seorang dari kita mati, karena tidak mungkin seorang perempuan harus menerima kita berdua bersama-sama.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya, “sebaiknya kau menutup mulutmu. Jika persoalanmu sudah selesai, sebaiknya kau pergi. Ternyata keadaanku sudah berangsur baik. Sebentar lagi kekuatanku akan pulih kembali.”

“Tentu tidak segera sehingga kita dapat bersama-sama melawan para pengawal,” desis Ki Lurah Pringgabaya.

Ki Tandabaya mengerutkan keningnya. Ia mengerti maksud Ki Lurah Pringgabaya, apakah ia mampu berbuat sesuatu dalam waktu dekat untuk melepaskan diri bersama Ki Lurah Pringgabaya atau untuk mati bersama-sama. Namun ia pun sadar, bahwa sebenarnya Ki Lurah Pringgabaya telah mendendamnya dan justru karena itu, ia segan mati sebelum ia sempat melepaskan dendamnya itu.

Karena itu, maka Ki Tandabayapun kemudian menjawab, “Pergilah. Aku tidak akan dapat memulihkan kekuatan dan kemampuanku segera. Aku memerlukan waktu, meskipun seandainya kau mencoba memulihkan urat syarafmu yang telah disentuh oleh pengawal gila itu.”

Ki Pringgabaya pun telah mendengar apa yang telah terjadi dengan Ki Tandabaya. Ia pun merasa heran, bahwa ada seorang pengawal Mataram yang memiliki kemampuan sedemikian tinggi sehingga ia dapat memperlakukan Ki Tandabaya sesuka hatinya. Karena Ki Lurah itu pun mengerti, bahwa Ki Tandabaya bukan seorang yang tidak memiliki bekal cukup. Ia berani memasuki halaman itu, tentu sudah memperhitungkan setiap kemungkinan. Sebenarnya perhitungan itu tepat sekali, karena pada saat-saat itu Raden Sutawijaya tidak sedang berada di Mataram. Namun ternyata usaha Ki Tandabaya itu pun gagal.

“Tentu bukan Ki Juru pula yang melakukannya,” berkata Ki Pringgabaya didalam hatinya. Ki Juru sudah terlalu tua ditilik dari sikap, umur dan suara pengawal yang menangkap Ki Tandabaya itu menurut pendengarannya dari para pengawal yang mungkin dengan sengaja telah berceritera kepadanya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Pringgabaya pun melangkah surut. Namun ia masih sempat berkata, “Aku akan menyimpan kenang-kenangan ini untuk sepanjang umurku. Anak panah ini bukan saja melambangkan tugas yang harus kau emban, tetapi juga melambangkan pengkhianatanmu atas kawan sendiri.”

“Kau tidak akan terlalu lama menyimpan anak panah itu,” jawab Ki Tandabaya, “karena kau akar cepat mati. Demikian tenaga dan kemampuanku pulih, maka aku akan mencari kesempatan untuk membunuh mu, meskipun aku masih berada dibawah pengawasan orang-orang Mataram.”

Ki Pringgabaya tertawa. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Dalam pada itu, demikian Ki Pringgabaya mundur beberapa langkah menjauhi pintu bilik Ki Tandabaya, beberapa pengawalpun segera mendekatinya. Seorang di antara mereka segera menutup pintu yang tebal itu, dan menyelaraknya dari luar.

“Sudah cukup?” bertanya seorang perwira pengawal.

Ki Pringgabaya tertawa. Katanya, “Aku tidak dapat melakukannya.”

“Apa?” bertanya perwira itu.

“Membunuhnya,” jawab Ki Lurah Pringgabaya.

“He,” wajah perwira pengawal itu menjadi tegang, “apakah kau akan membunuhnya?”

“Bukankah itu yang kau maksud? Bukankah kau memberi kesempatan kepadaku melihat keadaan Tandabaya dan memberikan anak panah ini agar aku membunuhnya?” bertanya Ki Lurah Pringgabaya.

Wajah perwira itu menegang. Katanya dengan nada datar, “Terima kasih bahwa hal itu tidak kau lakukan.”

Ki Lurah Pringgabaya lah yang terkejut. Ia mengharap bahwa perwira itu menjadi kecewa dan mengumpatinya bahwa ia tidak membunuh Ki Tandabaya. Tetapi agaknya perwira itu justru bersukur bahwa hal itu tidak dilakukannya.

Selagi Ki Lurah Pringgabaya termangu-mangu, perwira itu berkata, “Ternyata aku salah hitung. Jika aku mengijinkan kau bertemu dengan Ki Tandabaya itu, karena aku mempunyai maksud yang lain.”

“Bukan kau mengijinkan aku menemuinya. Aku sama sekali tidak berniat. Tetapi kaulah yang mendorong aku untuk datang kepadanya dan menunjukkan anak panah ini selagi keadaan Ki Tandabaya masih belum pulih kembali. Bukankah dengan demikian kau bermaksud aku membunuhnya,” bertanya Ki Lurah Pringgabaya.

Tetapi perwira itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin kau bertemu dan saling menyadari bahwa kalian berdua tidak akan ada gunanya lagi untuk saling melindungi. Kalian telah berhadapan sebagai dua orang yang akan saling membunuh, sehingga dengan demikian kalian harus menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi kalian menyimpan rahasia di antara kalian masing-masing, dan saling menutupi.”

Ki Lurah Pringgabaya lah yang kemudian menggeram. Sekilas ia berpaling. Ketika terlihat olehnya wajah perwira itu menegang, maka ia pun kembali memandang lurus kedepan. Namun dalam pada itu ia melihat beberapa orang prajurit yang mengiringkan-nya telah bersiap dengan senjata telanjang.

Dalam pada itu, perwira itu pun kemudian berkata, “Jika hal itu benar-benar terjadi, maka kematian Ki Tandabaya akan berarti keadaan yang gawat bagiku. Raden sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga tentu akan marah.”

Ki Lurah Pringgabaya tidak menjawab.

“Karena itu, cobalah pikirkan sebaik-baiknya,” berkata perwira itu, “apakah menurut pertimbanganmu, kau masih akan saking melindungi Sementara kalian masing-masing telah siap untuk saling membunuh?”

Ki Lurah Pringgabaya sama sekali tidak menjawab. Namun dalam pada itu, keduanya telah berada dimuka bilik Ki Pringgabaya.

“Silahkan masuk Ki Lurah,” berkata perwira itu, “sebaiknya anak panah itu kau letakkan saja. Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat merugikan dirimu sendiri.”

Ki Pringgabaya tidak membantah. Dilemparkannya anak panah itu ketanah, karena anak panah itu tidak akan berarti banyak baginya. Kemudian dengan kepala tunduk ia memasuki biliknya kembali.

Sejenak kemudian terdengar pintu berderit. Demikian pintu yang berat dan tebal itu tertutup rapat, maka pintu itu pun segera diselarak pula.

Kembali Ki Pringgabaya termenung. Ia telah salah mengartikan maksud pengawal itu, yang kemudian bahkan mendesaknya untuk tidak saling melindungi dengan Ki Tandabaya.

Untuk beberapa saat ia merenung. Apakah ia akan dapat memenuhi desakan pengawal itu, sehingga itu akan berarti bahwa ia harus mengatakan apa saja tentang diri Ki Tandabaya dan sebaliknya Ki Tandabaya pun tentu akan mengatakan segala sesuatu yang diketahui tentang dirinya.

Namun tiba-tiba Ki Lurah Pringgabaya menggeram. Katanya, “Aku masih mempunyai keyakinan, bahwa Ki Tandabaya tidak akan mengatakan apa-apa. Meskipun pada saatnya aku dan Ki Tandabaya akan saling membunuh, tetapi tentu karena sebab lain. Bukan karena kami harus saling membunuh akibat tugas kami masing-masing. Jika Ki Tandabaya akan membunuhku pendorong utamanya tentu perempuan itu, meskipun mungkin orang-orang tertentu memang memerintahkan demikian.”

Dengan demikian, maka Ki Lurah Pringgabaya akan tetap pada sikapnya. Ia tidak akan mengatakan apa-apa. Ia akan diam apapun yang harus dialami. Ia sudah bertekad untuk tetap pada sikapnya itu, karena apa yang dialaminya itu adalah akibat yang wajar dari tugas yang sudah disanggupinya.

Dibagian lain dari rumah itu, didalam bilik yang lebih besar, beberapa orang pengikut Ki Tandabaya duduk tepekur. Satu dua di antara mereka sempat mengumpat-umpat. Namun Dugul sendiri duduk di sudut bersandar dinding.

“Gila,” kawannya menggeram. “Ternyata Dugul itu sempat tidur.”

“Tidak ada masalah baginya,” geram seorang kawannya, “ia sudah terlalu biasa mengalami hal seperti ini. Berpuluh tahun ia menjadi seorang pencuri yang disegani. Bahkan ada yang menganggap bahwa Dugul mampu melenyapkan diri dengan aji Panglimunan. Ada pula yang menganggap orang itu memiliki aji Welut Putih sehingga tidak akan mungkin dapat tertangkap.”

“Tetapi sekarang ia tertangkap,” sahut yang lain.

“Ia berada ditempat yang tabu bagi kekuatan ilmunya sehingga ilmunya tidak dapat dipergunakannya,” jawab kawannya.

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Ada seseorang yang mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi ia justru mengumpat sendiri.

Dalam pada itu, salah seorang dari mereka tiba tiba saja berdesis, “Dimanakah kira-kira pemilik rumah itu?”

“Mungkin ia juga sudah ditangkap,” sahut yang lain.

“Orang itu tentu mendapat perlakuan yang khusus, ia akan mengalami hukuman yang tentu lebih berat dari kita, karena ia sudah berkhianat.”

Kawan-kawannya tidak memberikan tanggapan. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing.

Namun sementara itu, Ki Tandabaya mencoba memperhitungkan keadaannya sebelum ia melakukan tugas itu. Tiba-tiba saja ia teringat kepada saudara seperguruan Ki Lurah Pringgajaya, yang merubah namanya menjadi Partasanjaya.

“Apakah orang itu telah berkhianat,” tiba-tiba saja Ki Tandabaya menggeram.

Sekilas terbayang sikap Ki Partasanjaya yang semula bernama Ki Pringgajaya, yang telah berhasil menyelamatkan dirinya dari sorotan mata keprajuritan Untara karena berita kematiannya.

“Apakah Ki Partasanjaya itu telah berkhianat,” pertanyaan itu timbul di hati Ki Tandabaya berkali-kali.

Namun demikian ia meragukannya. Bagaimanapun juga, maka kepentingan mereka dalam satu kesatuan sikap akan lebih berharga dari kepentingan mereka secara pribadi.

Tetapi tiba-tiba saja Ki Tandabaya itu memejamkan matanya, seolah-olah ia tidak mau melihat, peristiwa tentang dirinya. Bahwa ia justru telah memanfaatkan tugasnya untuk kepentingan pribadinya.

“Persetan,” geram Ki Tandabaya, “itu tugasku. Membunuhnya. Tugas itu semula akan diserahkan kepada Ki Pringgajaya yang bernama Partasanjaya itu. Tetapi adalah salahnya jika ia menolak.”

Meskipun demikian, kecurigaan dihati Ki Tandabaya itu tidak dapat dilupakannya. Selain Ki Lurah Pringgabaya yang harus dibunuhnya itu adalah adik seperguruan Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Ki Partasanjaya, juga karena Ki Partasanjaya itu nampaknya tertarik juga kepada perempuan yang ditinggalkan oleh Ki Pringgabaya itu.

Selagi orang-orang yang tertawan itu sedang merenungi keadaannya, maka dipasangggrahannya Raden Sutawijaya sibuk memandikan kudanya. Kudanya yang baru itu nampaknya sangat menyenangkan, sehingga ia sendiri membawa kuda itu kesebuah belik dan memandikannya, dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Raden Sutawijaya terkejut ketika ia melihat dua orang berkuda menyusulnya. Bukan saja dari pesanggrahan, tetapi agaknya dari Mataram.

“Ki Lurah Branjangan,” desis Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan segera meloncat turun ketika ia sudah mendekati belik itu. Sambil memandangi kuda itu ia bergumam, “Bagus sekali Raden. Tetapi kenapa Raden memandikannya sendiri.”

“Aku senang sekali dengan kuda itu,” jawab Raden Sutawijaya sambil mengelus bulu suri kudanya, “agaknya kuda ini akan dapat menjadi kuda yang cakap.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian mendekati Raden Sutawijaya. Ia pun mengamati kuda itu dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kuda yang bagus sekali.” Namun kemudian ia pun bertanya, “langit mulai buram. Apakah Raden tidak akan kembali ke Mataram.”

“Sudah aku katakan kepada utusan itu, aku akan pulang besok,” jawab Raden Sutawijaya.

“Ada beberapa orang tersimpan di Mataram. Selain Ki Pringgabaya dan Ki Tandabaya, maka pengikut-pengikutnya pun telah kami tangkap.”

“Ya. Aku tahu. Aku sudah mendapat laporannya. Tetapi sudah aku katakan, aku akan kembali besok. Kau sajalah bermalam disini. Sebentar lagi hujan turun,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu Raden Sutawijaya berkata, “Jangan gelisah. Paman Juru ada di rumah.”

“Aku memang tidak gelisah, Raden. Sebagaimana ternyata bahwa Ki Tandabaya itu pun dapat tertangkap dengan mudah,” sahut Ki Lurah, “tetapi perkembangan masalahnya akan cepat menjalar sampai ke Pajang.”

Raden sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil bertanya, “Bagaimana dengan Ki Tandabaya?”

“Aku mengenal Raden seperti aku mengenal diriku sendiri,” berkata Ki Lurah Branjangan, “karena itu, aku segera dapat mengenal siapa yang telah menangkap Ki Tandabaya.”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “bukankah dengan demikian aku tidak perlu tergesa-gesa kembali ke Mataram?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang tertangkap kemudian adalah seorang pengawal Kepatihan Pajang. Bukankah dengan demikian Pajang akan menjadi sangat tertarik dengan peristiwa yang berturut-turut itu. Jika semula Raden Sutawijaya mengundang beberapa orang perwira Pajang untuk bertemu dengan Ki Pringgabaya namun yang sampai sekarang belum seorang pun yang datang, maka dengan tertangkapnya Ki Tandabaya, maka mungkin sekali mereka akan segera merubah sikap.”

“Tetapi tentu tidak sekarang atau malam nanti,” jawab Raden Sutawijaya, “karena itu, beristirahatlah. Besok kita akan bersama-sama kembali ke Mataram.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksa. Karena itu, ia justru bermalam di pasanggrahan itu bersama seorang pengawal. Di esok harinya mereka akan kembali ke Mataram.

Tetapi malam itu Ki Lurah merasa gelisah. Di Mataram ada dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun di Mataram ada Ki Juru Martani, namun yang digelisahkannya adalah justru jika orang-orang Pajang mengambil tindakan sepihak untuk mengambil kedua orang yang mereka dianggap penting itu.

Namun Ki Lurah Branjangan itu terkejut ketika lamat-lamat ia mendengar derap kaki kuda. Sudah agak jauh. Tidak menuju ke pasanggrahan itu, namun justru menjadi semakin jauh. Hanya karena ketajaman pendengarannya sajalah maka ia dapat mendengarnya.

Ki Lurah yang berbaring itu pun kemudian bangkit dan duduk di bibir pembaringannya. Kawannya masih tidur dengan nyenyaknya. Sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Lurah Branjangan itu berkata didalam hatinya, “Tentu Raden Sutawijaya sedang menuju ke Mataram. Luar biasa. Menurut pendengaranku, derap itu hanyalah derap kaki seekor kuda. Agaknya ia pergi seorang diri seperti ketika ia menangkap Ki Tandabaya itu.”

Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang aneh dihati Ki Lurah Branjangan. Dari Ki Juru ia mendapat perintah untuk mengatur bilik yang semula dipergunakan oleh Ki Lurah Pringgabaya untuk menjebak Ki Tandabaya.

“Bagaimana munggkin Ki Juru itu dapat mengerti, apa yang akan terjadi?” desis Ki Lurah Branjangan, “begitu rapatnya sumber keterangan itu, sehingga aku sendiri tidak mengerti, petugas sandi yang manakah yang telah berhasil memberitahukan kemungkinan datangnya Ki Tandabaya itu.”

Dalam kegelisahan itu, hampir semalam suntuk Ki Lurah Branjangan tidak dapat tidur. Namun menjelang pagi, diluar sadarnya, ia telah terlena beberapa saat. Justru pada saat-saat ia ingin mendengar derap kaki kuda yang lamat-lamat itu datang mendekat.

Ki Lurah Branjangan terkejut ketika ia mendengar desir langkah diluar biliknya. Tergagap ia bangun. Kemudian bangkit perlahan-lahan. Desir itu masih terdengar. Karena itu, maka perlahan-lahan ia membuka selarak pintu. Demikian ia membuka pintu dengan hati-hati terdengar suara diluar, “Kau sempat tidur Ki Lurah.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun melangkah keluar sambil berkata, “Selamat pagi Raden.”

Raden sutawijaya tersenyum, katanya, “Nampaknya kau sempat tidur nyenyak.”

“Ya, ya Raden. Semalam suntuk aku tidur nyenyak,” jawab Ki Lurah, “dan sepagi ini Raden sudah berada di serambi gandok.”

“Menjadi kebiasaanku. Setiap pagi aku berjalan-jalan didini hari. Kadang-kadang mengelilingi halaman pesanggrahan ini. Tetapi kadang-kadang aku berjalan keluar mengelilingi padukuhan ini,” jawab Raden Sutawijaya.

“Dan pagi ini Raden mengelilingi daerah yang lebih luas?” bertanya Ki Lurah.

Tetapi Raden Sutawijaya menggeleng. Jawabnya, “Kebetulan aku hanya berjalan-jalan di halaman saja.”

“Tanpa seorang pun yang mengawani Raden?” desis Ki Lurah.

Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Aku jarang dikawani oleh siapapun. Dan agaknya aku masih mempunyai cukup keberanian untuk berjalan jalan seorang diri di dini hari. Biasanya hantu-hantu hanya turun di tengah malam. Jika langit sudah membayang warna fajar, hantu-hantu menjadi ketakutan dan kembali ke alamatnya.”

“Ah, Raden.” desis Ki Lurah sambil tertawa, “mungkin Raden benar.” Ki Lurah berhenti sejenak, lalu, “tetapi bukankah hari ini Raden akan kembali ke Mataram?”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “kita akan kembali.”

“Pagi, siang atau saat-saat lain?” bertanya Ki Lurah pula.

“Pagi-pagi. sebelum udara menjadi panas,” jawab Raden Sutawijaya.

“Jika demikian, baiklah aku berkemas Raden,” berkata Ki Lurah.

“Silahkan mandi Ki Lurah. Aku sudah mandi. Air sumur itu terasa hangat dan segar di dini hari,” berkata Raden Sutawijaya sambil melangkah, “aku akan berjalan-jalan lagi sampai matahari terbit. Kemudian kita akan segera berangkat.”

Ki Lurah Branjangan hanya dapat mengangguk saja. Dipandanginya saja Raden Sutawijaya yang kemudian turun di halaman dan berjalan-jalan dalam keremangan fajar menuju ke regol dan hilang ke balik pintu regol turun kejalan.”

“Luar biasa,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian kepada diri sendiri. Namun ia pun kemudian masuk kembali kedalam biliknya di gandok. Dibangunkannya kawannya yang tidur dengan nyenyaknya.

Sambil menggeliat kawannya bertanya, “Apakah sudah pagi?”

“Kau tidur sejak matahari terbenam sampai matahari terbit. Bangunlah. Kita akan kembali ke Mataram pagi-pagi. Berkemaslah,” berkata Ki Lurah.

Kawannya masih menguap. Ketika ia memandang keluar, maka dilihatnya keremangan fajar yang kemerah-merahan. Sambil bangkit dari pembaringannya ia berkata, “Aku tidur nyenyak sekali. Udara disini demikian segarnya, tidak terlalu panas seperti di Mataram. Rasa-rasanya aku betah tidur lima hari lima malam.”

“Tetapi kita akan segera kembali,” berkata Ki Lurah, “baru saja Raden Sutawijaya datang kemari dan bertanya, apakah kita sudah siap.”

“He?” pengawal itu terkejut, “apakah kau berkata sebenarnya bahwa Raden Sutawijaya baru saja datang kemari?”

“Ya,” jawab Ki Lurah, “kenapa?”

“Dan aku masih tidur mendekur?” bertanya pengawal itu lagi.

“Ya,” jawab Ki Lurah.

“Ah. Ki Lurah tidak mau memberitahukan kepadaku atau membangunkan aku,” desis pengawal itu.

“Untuk apa?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Tentu tidak baik jika Raden Sutawijaya itu masih melihat aku tertidur nyenyak disaat ia bertanya apakah kita sudah siap,” desis pengawal itu.

“Karena itu, kita harus segera bersiap. Jika kau hanya berbicara saja, maka jika sekali lagi Raden Sutawijaya datang dan bertanya kepada kita, maka kita-pun masih belum siap pula,” bertanya Ki Lurah itu pula.

“O. baik. Baiklah.” pengawal itu tergagap. “Aku akan pergi ke pakiwan.”

“Aku juga belum mandi,” desis Ki Lurah Branjangan.

Keduanya pun kemudian pergi ke belakang. Mereka pun segera mandi dan membenahi dirinya.

Ketika matahari terbit, maka seorang pengawal pasanggrahan itu datang memanggil Ki Lurah Branjangan dan pengawal yang datang bersamanya untuk pergi ke pringgitan. Sebelum mereka meninggalkan pasanggrahan itu, maka mereka pun sempat dijamu makan pagi lebih dahulu.

Demikian segalanya sudah siap, maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Marilah. Aku sudah selesai. Meskipun aku masih belum puas dengan kuda yang baru itu, namun beberapa hari lagi aku akan kemari lagi. Jika aku terlalu lama agaknya memang kurang baik karena mungkin setiap saat utusan dari Pajang itu akan datang.”

“Ya,” desis Ki Lurah, “apalagi atas undangan Raden sendiri.”

Raden Sutawijaya pun kemudian meninggalkan pesanggrahan itu. Ternyata Raden Sutawijaya hanya diikuti oleh seorang pengawalnya, sehingga karena itu, maka perjalanan itu hanya terdiri dari ampat orang saja.

Di sepanjang jalan, Raden Sutawijaya banyak sekali berbicara tentang kuda. Ia hampir tidak pernah menyebut-nyebut tentang Mataram, tentang Ki Tandabaya yang baru saja tertangkap dan tentang undangannya atas orang-orang Mataram.

Karena itulah, maka Ki Lurah pun lebih banyak menanggapi saja setiap pembicaraan Raden Sutawijaya tentang kuda.

Namun akhirnya Raden Sutawijaya bertanya, “Ki Lurah. Apakah kau tidak begitu senang dengan kuda?”

“Aku termasuk penggemar kuda pula Raden,” jawab Ki Lurah Branjangan terbata-bata, “tetapi aku hanya sekedar penggemar. Aku kurang mengerti tentang beberapa hal yang harus dikenal pada seekor kuda.”

“Nampaknya memang demikian,” desis Raden Sutawijaya, “cobalah mengerti serba sedikit tentang katuranggan. Kau akan segera tertarik.”

“Mungkin pada suatu saat aku akan mencobanya,” jawab Ki Lurah pula.

Raden Sutawijaya tertawa. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan lagi.

Keempat orang itu pun segera berada di tengah-tengah bulak panjang. Mereka berpacu cukup kencang, sehingga ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka debu pun mulai nampak terlontar dari kaki-kaki kuda yang sedang berpacu itu.

Ki Lurah Branjangan tiba-tiba saja bagaikan orang terbangun dari mimpi ketika ia mendengar Raden Sutawijaya bertanya, “Kau sudah melihat keadaan Ki Tandabaya?”

Tergagap Ki Lurah berkata, “Sudah Raden. Tetapi hanya sekilas. Kemarin Ki Tandabaya nampaknya masih belum tenang sama sekali ketika aku pergi. Oleh pengawal yang menangkapnya, ia telah dibuat lumpuh. Untuk membunuh diri pun ia tidak akan mampu lagi.”

“Orang-orang seperti Ki Tandabaya dan Ki Lurah Pringgabaya tidak akan membunuh diri,” desis Raden Sutawijaya, “tetapi bukankah perlahan-lahan keadaan Ki Tandabaya akan pulih kembali?”

“Ya. Berangsur-angsur, ia sudah menjadi semakin baik. Tetapi agaknya ia pun menjadi semakin gelisah,” sahut Ki Lurah Branjangan.

Raden sutawijaya mengangguk-angguk, sementara Ki Lurah berkata, “Nampaknya ia ingin benar mengetahui, pengawal yang manakah yang telah menangkapnya.”

Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Apakah ia bertanya kepadamu?”

“Tidak. Secara langsung ia tidak bertanya,” jawab Ki Lurah Branjangan. Kemudian, “namun setiap kali tersirat keinginannya untuk bertemu dengan pengawal yang memiliki kelebihan tanpa dapat dilawannya itu.”

Raden Sutawijaya masih tertawa. Ia tidak memberikan tanggapan apapun. Sementara Ki Lurah berkata, “Nampaknya ada pengenalan orang-orang Mataram atas apa yang akan terjadi diluar batas-batas pengetahuanku.”

“Ah,” desis Raden Sutawijaya, “itu hanya kebetulan. Agaknya seseorang telah langsung berhubungan dengan Ki Juru Martani. sementara Ki Juru kadang-kadang lebih senang mengambil sikap langsung tanpa menghiraukan hubungan yang ada di antara para pemimpin Mataram. Demikian juga agaknya tentang Ki Tandabaya itu. Jika kita sudah berada di Mataram, kaupun akan segera mengetahui, siapakah yang sebenarnya orang yang telah berjasa itu.”

Ki Lurah Branjangan hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun agaknya seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, bahwa ia akan dapat mengetahui sumber keterangan itu, apabila ia sudah bera da di Mataram.

adbm-139-05Namun dalam pada itu, hampir berbisik ia bertanya kepada Raden Sutawijaya, “Raden, kenapa harus berahasia saat-saat Raden menangkap Ki Tandabaya?”

Raden Sutawijaya tertawa pula. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku kira ada baiknya aku berbuat demikian. Juga sekedar memberi peringatan kepada para pengawal, bahwa sebenarnya mereka masih perlu meningkatkan kewaspadaan mereka.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam ia mengerti maksud Raden Sutawijaya. Agaknya dengan demikian, maka para pengawal akan bercermin tentang kemampuan mereka sendiri.

Ki Lurah Branjangan tidak bertanya lagi. Untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya saling berdiam diri saja. Sementara di belakang mereka, dua orang pengawal yang lain sedang asyik berbicara di antara mereka sendiri.

Demikianlah perjalanan itu pun dilakukan tidak terlalu tergesa-gesa. Kuda-kuda itu berlari tidak terlalu cepat. Bahkan kadang-kadang Raden Sutawijaya memperlambat derap kudanya untuk mengamat-amati sawah yang hijau subur terdampar sampai kecakrawala, diseling oleh padukuhan-padukuhan yang bagaikan pulau-pulau yang mencuat dari permukaan laut, yang bergelombang lembut oleh angin yang tidak terlalu kencang.

Jika Raden Sutawijaya kemudian berbincang dengan Ki Lurah Branjangan di sepanjang jalan, maka yang mereka bicarakan adalah sawah yang subur dan batang-batang padi yang mulai bunting. Beberapa orang petani mulai menyiapkan orang-orangan di sawah mereka untuk menakut-nakuti burung yang akan dapat mengganggu tanaman padi mereka yang mulai berbuah.

Dalam pada itu, akhirnya menjelang tengah hari, maka mereka pun memasuki regol halaman rumah Raden Sutawijaya. Sambil mengerutkan keningnya Raden Sutawijaya melihat kesiagaan yang tinggi di halaman rumah itu. Di regol ia melihat dua orang pengawal dengan senjata siap di tangan. Sementara di serambi gandok kanan ia melihat beberapa orang pengawal yang duduk diamben yang besar. Dua orang yang lain berada di serambi gandok kiri. Sedang di halaman samping dua orang pengawal berjalan hilir mudik.

Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Lihatlah, bukankah mereka benar-benar sudah siap?”

“Ya Raden,” jawab Ki Lurah, “mereka mengerti, apa yang harus mereka lakukan.”

“Ya,” sahut Raden Sutawijaya, “dan mereka pun mengerti, bahwa mereka harus menyiapkan sekian banyak orang karena mereka merasa diri mereka terlalu kecil dibanding dengan Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya.”

“Raden,” Ki Lurah Branjangan terkejut.

“Jangan ingkar tentang diri sendiri,” berkata Raden Sutawijaya, “bahwa sebenarnyalah di Pajang terhimpun kekuatan yang besar sekali. Jika mereka memadukan kekuatan itu, maka Pajang akan menjadi sekuat Kerajaan-kerajaan sebelumnya. Tetapi seperti yang kau lihat sekarang. Pajang tinggallah bayang-bayang yang semakin pudar.”

Ki Lurah tidak menjawab. Ketika ia memandang wajah Raden Sutawijaya, maka ia melihat betapa pahit kenyataan yang dihadapinya. Bahkan katanya kemudian, “Dan sebentar lagi, malam akan turun. Langit diatas Pajang akan menjadi hitam. Jika kita tidak menyediakan obor secukupnya, kita pun akan kegelapan.”

Ki Lurah Branjangan terbungkam. Namun hatinya menjadi berdebar-debar. Nampaknya Raden Sutawijaya telah mengambil sikap didalam hatinya, meskipun belum dinyatakannya dengan terbuka.

Dalam pada itu, seorang pengawal telah mendekatinya untuk menerima kudanya. Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun segera meloncat turun diikuti oleh Ki Lurah Branjangan serta kedua pengawal yang mengiringinya dari Pasanggrahan.

Ketika Raden Sutawijaya melihat Ki Juru berdiri dipintu pringgitan yang kemudian terbuka, maka ia pun berkata, “Marilah. Naiklah ke pendapa. Kita menemui paman Juru.”

“Marilah Raden,” sahut Ki Lurah Branjangan.

“Paman Juru mengetahui segala-galanya tentang Mataram, tentang orang-orang yang tertawan dan tentang Pajang,” desis Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti Raden Sutawijaya naik ke pendapa.

Ketika kemudian mereka duduk di pendapa, dan setelah Ki Juru bertanya tentang keselamatan mereka di perjalanan, maka Raden Sutawijaya pun bertanya, “Bagaimana dengan Ki Majasranti?”

“Ia tidak mempunyai keberatan apa-apa. Ia berada di serambi dalam. Bahkan ia pun bersedia untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah tertangkap itu,” jawab Ki Juru.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Biarlah ia tetap merupakan teka-teki bagi para pengikut Ki Tandabaya. Sampai saat terakhir mereka tidak mengerti, bahwa pemilik rumah yang mereka pergunakan itulah yang telah memberikan beberapa kesaksian tentang diri mereka.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Untuk sementara ia akan berada di rumah ini.”

“Biarlah ia berada disini,” jawab Raden Sutawijaya yang kemudian berpaling kepada Ki Lurah Branjangan, “Ki Lurah. Orang itulah yang perlu kau ketahui.”

“Dalam hubungannya dengan Ki Tandabaya?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Ya. Ia sahabat baik Ki Tandabaya. Tetapi Ki Tandabaya salah menilai tentang dirinya. Dikiranya Ki Majasranti masih tetap sahabatnya,” desis Ki Juru Martani.

“Ia masih tetap sahabatnya, paman. Tetapi tidak tentang hubungan antara Pajang dan Mataram. Maksudku, Pajang yang telah dipengaruhi oleh sikap yang menurut pendapatku, sangat keliru itu,” berkata Raden Sutawijaya kemudian.

Ki Juru Martani pun mengangguk-angguk. Bahkan kemudian katanya, “Ya. Begitulah kira-kira. Ki Majasranti tidak sesuai dengan jalan pikiran Ki Tandabaya.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Ia mengerti tentang apa yang telah terjadi. Agaknya Ki Tandabaya telah terjebak oleh sikap sahabatnya sendiri yang berpura-pura membantunya. Namun yang kemudian justru ia bersikap sebaliknya, karena ia yakin akan kebenaran sikap Raden Sutawijaya.

Karena itulah, agaknya Mataram mengetahui dengan pasti, apa yang akan terjadi, sehingga Mataram sempat memindahkan Ki Lurah Pringgabaya dari biliknya dan menjebak Ki Tandabaya. Namun demikian ternyata seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, bahwa para pengawal di Mataram merasa kecil berhadapan dengan Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Jika Raden Sutawijaya sendiri tidak urun ke medan malam itu, agaknya Ki Tandabaya akan berhasil melarikan diri meskipun para pengawal dari Mataram sudah siap mengepungnya.

Hal itulah yang kemudian sangat mempengaruhi perasaan Ki Lurah Branjangan. Agaknya hal itu pula yang telah menggelisahkan Raden Sutawijaya. Ki Lurah Branjangan tahu, bahwa ada beberapa orang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi Senapati-senapati terpilih di Mataram. Tetapi persiapan akan memerlukan waktu. Sedang kemelut antara Pajang dan Mataram nampaknya sudah menjadi semakin panas.

Dalam pada itu maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Paman, apakah menurut pertimbangan paman, orang-orang Pajang yang aku undang itu akan datang?”

“Jika undangan itu disampaikan kepada Kangjeng Sultan, mungkin Kangjeng Sultan akan mengutus beberapa orang untuk datang. Tetapi jika tidak, mungkin orang-orang Pajang itu justru akan mengambil sikap lain.” berkata Ki Juru.

Aku harap orang-orang Pajang itu akan datang. Aku masih mengharap waktu sedikit untuk mempersiapkan diri, apabila beberapa orang Pajang itu benar-benar kehilangan akal.” Raden Sutawijaya terdiam sejenak, “aku masih berharap. bahwa Kiai Gringsing dapat mengerti, apa yang sedang kita hadapi sekarang.”

“Aku kira ia dapat mengerti, ngger.” jawab Ki Juru. “aku kira ia dapat membedakan sikap Kangjeng Sultan dan orang-orang yang telah terbius oleh suatu mimpi yang berbahaya tentang kejayaan masa lampau itu, yang akan mereka trapkan menurut citra mereka.”

“Tetapi masih ada masalah yang tentu akan membuat Kiai Gringsing harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang rumit,” berkata Raden Sutawijaya, “muridnya yang seorang, yang nampaknya memiliki beberapa kelebihan dalam hal mematangkan ilmunya dari muridnya yang lain, adalah adik Untara. Sedangkan kita semuanya mengetahui, siapakah Untara dan bagaimanakah sikapnya, ia adalah seorang prajurit. Dan ia merasa, bahwa ia seorang prajurit Pajang dibawah pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa hal itu tentu akan menjadi masalah bagi Kiai Gringsing. Namun bagaimanapun juga. Kiai Gringsing adalah orang yang penting. Apalagi muridnya yang seorang, anak Ki Demang Sangkal Putung, akan dapat menjadi kekuatan yang berarti dengan para pengawal Kademangannya. Sangkal Putung yang terletak digaris antara Pajang dan Mataram, akan mempunyai peran penting, jika benar-benar timbul persoalan yang apalagi apabila orang-orang Pajang berhasil menghasut Kangjeng Sultan di Pajang yang sudah semakin sering digumuli oleh penyakitnya itu.

Tetapi setiap kali Ki Juru Martani juga menyesali sikap Raden Sutawijaya yang keras hati itu. Jika sejak semula Raden Sutawijaya tidak mengeraskan sikapnya, tidak mau menghadap ke paseban di Pajang, mungkin persoalannya akan berbeda.

Namun semuanya sudah terlanjur. Apa yang sekarang terjadi itu sudah terjadi. Jarak antara Pajang dan Mataram menjadi semakin jauh. Didorong oleh sikap beberapa orang yang tamak, yang melihat masa depan dari sudut pandangan mereka dan kepentingan mereka sendiri.

Meskipun demikian, agaknya Mataram tidak akan dapat berpaling dari Kiai Gringsing dan kedua muridnya. Sementara itu, Raden Sutawijaya pun memandang ke seberang Kali Progo. Apakah Tanah Perdikan Menoreh juga memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu seperti Sangkal Putung sekarang dibawah kesigapan tangan Swandaru.

“Ki Gede Menoreh sendiri adalah orang yang pilih tanding,” berkata Raden Sutawijaya didalam hatinya, “namun dalam kesendiriannya. Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin mundur.”

Tetapi Raden Sutawijaya tidak mengatakan apa-apa. Nampaknya ia masih ingin membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu, apa yang akan dibicarakan dengan Ki Juru Martani.

Dalam pada itu, justru tiba-tiba saja Raden Sutawijaya berkata, “Aku ingin bertemu dengan Ki Tandabaya. Apakah ia mengenali pengawal yang telah menangkapnya.”

“Silahkan ngger,” sahut Ki Juru.

“Marilah Ki Lurah. Ikutlah aku,” ajak Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjanganpun kemudian mengikuti Raden Sutawijaya turun dari pendapa. Dengan berlari-lari kecil Ki Lurah Branjangan memanggil pimpinan pengawal yang bertugas dan mengajaknya untuk mengikuti Raden Sutawijaya ke bilik tempat Ki Tandabaya ditahan.

Raden Sutawijaya berdiri beberapa langkah di depan bilik itu, ketika seorang pengawal menarik selaraknya. Demikian pintu itu terbuka, maka Ki Tandabaya telah meloncat keluar sambil berkata nyaring, “Bunuh aku, atau biarkan aku pergi.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Ki Tandabaya yang tenaganya telah pulih kembali itu.

Namun, demikian Ki Tandabaya melihat anak muda yang berdiri dihadapannya, tiba-tiba saja ia melangkah surut. Kepalanya menunduk tanpa mengatakan sesuatu.

“Selamat bertemu Ki Tandabaya,” sapa Raden Sutawijaya.

Ki Tandabaya masih menunduk. Tetapi sapa itu membuat jantung Ki Tandabaya bergejolak semakin keras. Untuk sesaat ia justru terdiam. Namun kemudian ia menyahut tersendat-sendat, “Selamat Raden.”

“Baru sekarang aku dapat menengok Ki Tandabaya,” berkata Raden Sutawijaya, “kemarin aku telah disusul sampai dua kali di pesanggrahan. Namun, karena persoalannya sudah dapat di tangani oleh para pengawal, maka baru hari ini aku kembali.”

Wajah Ki Tandabaya menjadi semakin tegang. Sekilas ia mengangkat mukanya memandang Raden Sutawijaya sekilas. Namun ia pun kembali menundukkan kepalanya. Bagaimanapun juga, ia merasa terhina oleh kata-kata Raden Sutawijaya, seolah-olah persoalan yang timbul karena kehadirannya itu sama sekali tidak penting.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya berkata selanjutnya, “Sebenarnya aku masih ingin mengajari kudaku yang baru itu untuk bermain lebih baik lagi. Tetapi karena beberapa orang mendesak, maka aku perlukan kembali barang satu dua hari.”

Ki Tandabaya menggigit bibirnya. Rasa-rasanya jantungnya memang akan meledak. Namun ia masih tetap sadar, dengan siapa ia berhadapan.

“Ki Tandabaya,” berkata Raden Sutawijaya, “tentu tidak hari ini, karena aku baru saja kembali. Mungkin besok aku akan menggundang Ki Tandabaya untuk berbincang barang sebentar. Mungkin masalahnya penting, tetapi mungkin pula tidak.”

Akhirnya Ki Tandabaya tidak dapat menahan hatinya lagi. Maka katanya, “Kenapa Raden harus berputar-putar. Katakan apa yang Raden kehendaki. Mungkin satu pengakuan dari mulutku tentang rencanaku membunuh Ki Lurah Pringgabaya, atau pengakuan-pengakuan yang lain?”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Kau mengerti maksudku. Ya, demikianlah kira-kira apa yang ingin aku dapatkan darimu.”

“Sia-sia saja Raden. Aku tidak akan mengatakan sesuatu,” jawab Ki Tandabaya tegas.

“Luar biasa,” sahut Raden Sutawijaya, “kalian memang orang-orang yang sudah ditempa untuk menjadi seorang pejuang yang tiada taranya. Kalian sudah berbuat apa saja untuk kepentingan keyakinan kalian atas citra negeri ini dimasa datang.”

“Jangan menganggap kami kanak-kanak yang bangga dengan pujian,” jawab Ki Tandabaya.

“Tidak. Tidak Ki Tandabaya,” jawab Raden Sutawijaya, “aku tidak sekedar memuji. Tetapi sebenarnyalah demikian. Ki Lurah Pringgabaya pun tidak mau mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri dan tentang tugas yang diembannya. Aku pun yakin, bahwa kau pun akan berbuat demikian, sehingga aku akan sia-sia berharap untuk mendengar pengakuan dari mulutmu.”

“Jika demikian, buat apa kami harus berada disini? Kenapa kami tidak dibunuh saja semuanya.” tantang Ki Tandabaya.

“Itulah yang mengagumkan,” jawab Raden Sutawijaya, “kalian sama sekali tidak takut mati. Karena itu, tentu kami tidak akan mempunyai kesempatan untuk mendengar meskipun hanya sepatah kata pengakuan dari kalian.”

“Benar,” Ki Tandabaya menegaskan, “karena itu, Raden dapat mengambil sikap dengan tegas terhadap kami semuanya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang harus demikian. Aku harus memperhitungkan segala kemungkinan dengan nalar yang waras. Sebenarnya aku ingin mendengar pengakuan kalian. Kau atau Ki Lurah Pringgabaya atau kedua-duanya. Tetapi jika kalian tidak ingin mengaku, maka agaknya memang lebih baik untuk mengambil langkah tertentu.”

Jawaban itu tiba-tiba membuat wajah Ki Tandabaya menjadi semakin tegang. Dengan lantang ia berkata, “Apa maksud Raden sebenarnya?”

Raden Sutawijaya justru menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Bukankah aku hanya menirukan kata-katamu? Aku dapat mengambil sikap tegas karena kami tidak akan mendapat kesempatan sama sekali untuk mendengarkan pengakuan kalian.”

“Sikap apa yang akan Raden ambil?” bertanya Ki Tandabaya.

“Itulah yang belum aku pikirkan. Tetapi sudah barang tentu kami akan mengambil langkah-langkah untuk berbuat sesuatu. Sudah barang tentu kami tidak akan menyimpan kalian terlalu lama disini karena kalian tidak akan bermanfaat apa-apa bagi kami,” sahut Raden Sutawijaya.

“Ya, lalu apakah yang akan Raden perbuat atas kami? Membunuh kami?” bertanya Ki Tandabaya.

“Bukankah kalian tidak akan berkeberatan?” bertanya Raden Sutawijaya pula.

“Tentu tidak. Lakukanlah jika itu bagi Raden adalah jalan yang paling baik,” geram Ki Tandabaya.

“Tentu bukan yang paling baik. Kami masih mempunyai cara yang lebih baik lagi,” jawab Raden Sutawijaya sambil tertawa.

“Cara apa? Raden akan menyiksa kami? Itu pun tidak akan ada gunanya,” geram Ki Tandabaya.

“Tentu, Aku mengerti, bahwa menyiksa kalian tidak akan ada gunanya. Jika kalian memang tidak berniat untuk berbicara, maka apapun yang akan kami lakukan tentu tidak akan ada gunanya.” jawab Raden Sutawijaya.

“Ya. lalu apa yang akan Raden lakukan?” Tiba-tiba saja Ki Tandabaya yang menegang itu berteriak.

“Kenapa kau berteriak?” bertanya Raden Sutawijaya, “dengan demikian kau telah menarik perhatian orang banyak. Lihatlah. Semua orang telah menengok kepadamu.”

“Aku tidak peduli,” geram Ki Tandabaya, “aku ingin tahu apa yang akan Raden lakukan jika Raden ingin membunuh kami.”

Raden Sutawijaya tertawa. Namun justru karena itu, maka rasa-rasanya jantung Ki Tandabaya itu benar benar akan meledak. Dengan garangnya ia membentak, “Kenapa kau tertawa he? Apa yang perlu kau tertawakan?”

“Kenapa kau menjadi marah-marah Ki Tandabaya,” jawab Raden Sutawijaya, “tenanglah. Aku belum berniat untuk berbincang panjang lebar dengan kau dan kawan-kawanmu. Beristirahatlah sebaik-baiknya.”

Wajah Ki Tandabaya yang tegang menjadi semakin tegang. Rasa-rasanya ingin ia meloncat menerkam. Tetapi setiap kali ia sadar, bahwa yang berdiri dihadapannya itu adalah Raden Sutawijaya maka niatnya itu pun diurungkannya.

Meskipun demikian ia masih menggeram, “Raden sudah mulai dengan cara yang paling tidak menyenangkan. Aku tahu. Raden ingin membuat aku gelisah.”

“Tidak. Bukan maksudku Ki Tandabaya,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi apaboleh buat. Jika kau mendesak, mungkin aku dapat mengatakan salah satu cara yang dapat aku tempuh. Tetapi seperti yang aku katakan, aku belum memikirkannya masak-masak. Jika aku menyebut salah satu cara itu, baru satu kemungkinan dari kemungkinan-kemungkinan yang lain.”

Sorot mata Ki Tandabaya bagaikan menyala. Dengan nada bergetar ia berkata, “Sebut apa saja.”

“Yang paling mungkin aku lakukan, jika kalian memang sudah tidak ingin mengaku sama sekali, adalah menyerahkan kalian kepada para pemimpin di Pajang,” berkata Raden Sutawijaya.

Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Untuk beberapa saat Ki Tandabaya jadi bingung. Apakah ia senang atau justru terhina mendengarnya. Adalah tidak masuk akal jika Raden Sutawijaya akan begitu saja menyerahkannya kepada para pemimpin Pajang. Namun demikian ia masih harus bertanya, siapakah pemimpin Pajang itu.

Raden Sutawijaya melihat gejolak perasaan Ki Tandabaya pada tatapan matanya. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah kau mempunyai pikiran lain?”

Tiba-tiba saja terdengar Ki Tandabaya itu menggeram. Katanya, “Raden memang termasuk orang yang paling sombong yang pernah aku kenal. Apakah artinya niat Raden menyerahkan kami kepada orang-orang Pajang. Apakah Raden ingin mempermainkan perasaanku agar timbul harapan-harapan kosong sehingga pada saatnya aku terbanting pada satu kekecewaan yang luar biasa, sehingga Raden akan sempat mempergunakan saat-saat yang demikian untuk meremas keterangan dari mulutku?”

“Kau memang terlalu berprasangka,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi itu adalah sifat yang paling umum dari seseorang yang merasa bersalah. Namun, dengan demikian adalah pertanda masih ada sepercik kebijaksanaan didalam hatiku.”

“Aku tidak mengerti,” geram Ki Tandabaya.

“Kau heran, atau barangkali berprasangka jika aku akan menyerahkanmu kepada para pemimpin di Pajang,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi bukankah hal itu wajar? Kau adalah abdi di Kepatihan Pajang, sedangkan Ki Lurah Pringgabaya adalah seorang prajurit Pajang. Bukankah wajar jika kami menyerahkan kalian kepada para pemimpin kalian? Tetapi kau tidak dapat mengerti, justru karena kau menyadari diri berontak, bahwa kau yang sudah bersalah itu tidak mendapat hukuman, meskipun hal itu ditrapkan kepada dirimu sendiri.”

“Cukup cukup,” sekali lagi Ki Tandabaya berteriak.

Sementara Raden Sutawijaya berdesis, “Kau menarik perhatian para pengawal.”

Ki Tandabaya menggeretakkan giginya. Namun ia benar-benar melihat beberapa orang di sekitarnya telah berpaling lagi kepadanya.

“Sudahlah Ki Tandabaya,” berkata Raden Sutawijaya, “Kau agaknya masih belum tenang. Beristirahatlah. Dan jangan berangan-angan terlalu jauh, sehingga akan dapat berakibat buruk pada perasaan dan badanmu.”

Ki Tandabaya sama sekali tidak menjawab.

“Sudahlah. Sudah aku katakan bahwa aku masih belum ingin berbicara tentang persoalan kita,” berkata Raden Sutawijaya, “mungkin besok atau lusa. Baru kemudian, setelah kau benar-benar tidak ingin berbicara, aku akan mengambil satu sikap. Di antaranya seperti yang sudah aku katakan tadi. Menyerahkan kau kepada orang-orang Pajang, karena kehadiranmu disini tidak akan ada gunanya lagi.”

“Raden akan menyesali kesombongan Raden itu,” geram Ki Tandabaya.

“Mungkin. Kau dan Ki Lurah Pringgabaya adalah orang-orang yang pilih tanding. Yang melampaui tataran kemampuan orang-orang yang berada dalam kedudukan yang sama dengan kalian. Seperti juga Ki Pringgajaya yang terbunuh itu. Dan sudah barang tentu, hal itu bukan karena kebetulan saja,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Tandabaya tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian melangkah surut. Kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah memasuki biliknya.

Seorang pengawal yang kemudian datang mendekat, menunggu perintah Raden Sutawijaya. Baru ketika Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya, maka pengawal itu menutup pintu yang berat dan menyelaraknya dan luar.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, ia sadar, bahwa Ki Tandabaya tentu akan dapat memecahkan dinding bilik itu jika dikehendakinya. Namun pengawalan yang kuat tentu akan dapat mencegahnya melarikan diri. Namun dengan hadirnya dua orang pilihan dari Pajang, maka para pengawal menjadi terlalu sibuk. Apalagi seperti Raden Sutawijaya sendiri menyahut, bahwa sebenarnyalah Mataram kurang memiliki orang-orang yang secara pribadi memiliki ilmu yang tinggi.

Raden Sutawijaya yang kemudian kembali ke pendapa tiba-tiba saja teringat kepada padepokan kecil di Jati Anom. Namun setiap kali ia menjadi ragu-ragu, apakah padepokan kecil itu dapat diharapkan. Justru Agung Sedaya adalah adik Untara.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba pula telah timbul keinginannya untuk dapat bertemu dengan Kiai Gringsing dan murid-muridnya. Secara pribadi murid Kiai Gringsing yang tua memiliki kelebihan, sementara muridnya yang muda memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal Putung ternyata tumbuh dengan pesat dan anak-anak mudanya adalah anak-anak muda yang cukup terlatih. Bahkan jika dalam keadaan yang memaksa mereka tidak akan gentar dihadapkan kepada prajurit-prajurit yang sebenarnya.

Sementara itu, angan-angan Raden Sutawijaya juga melayang ke Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan itu harus segera mendapat perhatian karena perlahan-lahan Tanah Perdikan itu mengalami kemunduran.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Raden Sutawijaya justru ingin bertemu dengan Ki Gede Menoreh di Tanah Perdikan Menoreh. Mungkin ada sesuatu yang dapat dibicarakannya tentang Tanah Perdikan Menoreh itu. Namun dalam keseluruhan. Tanah Perdikan itu memang harus diselamatkan.

Tiba-tiba saja keinginan itu menjadi demikian mendesaknya, sehingga dihari berikutnya, ia berkata kepada Ki Juru Martani, “Paman, aku akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Juru sudah terbiasa mendengar, bahwa Raden Sutawijaya itu pergi kemana saja setiap saat. Namun justru karena Raden Sutawijaya itu akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, maka ia pun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang mendesak?”

“Tiba-tiba saja aku ingin menemui Ki Argapati. Aku rasa, Tanah Perdikan Menoreh yang tidak terlalu jauh dari Mataram itu akan dapat menjadi kawan yang baik pada saat-saat yang sangat gawat. Tanpa Tanah Perdikan Menoreh, maka seolah-olah Mataram tidak mempunyai dinding di halaman belakang rumahnya, paman,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun ia bertanya, “Tetapi begitu tergesa-gesa? Bukankah Raden mengundang beberapa orang Pajang untuk bertemu dengan Ki Lurah Pringgabaya? Dan sekarang justru Ki Tandabaya ada disini pula.”

“Aku kira belum hari ini paman. Bahkan mungkin mereka akan mengirimkan satu dua orang penghubung untuk memberitahukan, kapan mereka akan datang,” jawab Raden Sutawijaya, “namun seandainya hari ini mereka datang, aku harap paman dapat mempersilahkan mereka menunggu. Jika mereka tidak mau menunggu, terserahlah kepada paman, untuk mengantar mereka bertemu dengan Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya. Aku kira paman mengetahui apa yang sebaiknya harus paman lakukan.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa niat Raden Sutawijaya memang sulit untuk dicegah. Demikian ia ingin pergi, maka ia pun akan pergi. Namun demikian Ki Juru pun menyadari, bahwa Raden Sutawijaya adalah seseorang yang cukup bertanggung jawab terhadap Tanah Mataram yang dibangunnya itu.

Karena itu, maka Ki Juru pun kemudian berkata, “Terserahlah kepada angger. Namun aku mohon ketegasan, apakah yang harus aku perbuat, jika misalnya orang-orang Pajang itu datang dan minta agar kedua orang itu diberikan kepada mereka.”

“Untuk sementara biarlah mereka disini paman. Mungkin, aku memang akan menyerahkan kepada orang-orang Pajang, jika persoalan mereka dengan kita sudah selesai.” jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha sebaik-baiknya jika mereka benar-benar datang hari ini dan mereka tidak sempat menunggu Raden kembali.”

“Terima kasih paman,” sahut Raden Sutawijaya, “aku hanya akan pergi sehari ini. Nanti, aku tentu akan kembali meskipun mungkin sampai malam hari.”

Ki Juru hanya dapat mengiakannya. Raden Sutawijaya yang sudah berniat untuk pergi itu, tentu akan pergi.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya itu pun kemudian meninggalkan Mataram bersama Ki Lurah Branjangan dan dua orang pengawal terpilih. Bagaimanapun juga, mereka tidak dapat mengabaikan kenyataan seperti yang pernah dialami oleh Agung Sedayu di pinggir Kali Progo.

Sejenak kemudian, maka Kuda Raden Sutawijaya itu pun telah berpacu. Seperti biasanya. Raden Sutawijaya tidak mengenakan pakaian khusus dan apalagi pakaian kebesaran Senapati Ing Ngalaga di Mataram. Tetapi ia lebih senang memakai pakaian seperti orang kebanyakan. Dengan demikian, maka ia sama sekali tidak akan menarik perhatian.

Perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh dari Mataram memang tidak terlampau jauh. Namun perjalanan itu agaknya memang cukup menarik bagi Raden Sutawijaya.

Sudah terbiasa bagi Raden Sutawijaya untuk melihat hijaunya sawah dan jernihnya air parit yang mengalir disela-sela pematang. Namun yang kemudian menarik perhatiannya adalah tanah yang mulai berpasir dibawah kaki kuda mereka berkata, “Kita sudah dekat dengan Kali Progo Raden Sutawijaya.”

“Dibalik padukuhan itu, kita sudah akan turun ke tepian,” desis Ki Lurah Branjangan

“Ya. Dan kita akan segera menyeberang,” jawab Raden Sutawijaya.

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 140

 

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-II-39/

 

Terima kasih kepada Ki Prass yang telah me-retype jilid ini.

>

KEDUA orang pengawal itu termangu-mangu. Namun Ki Tandabaya lah yang menggeram melihat sikap pengawal yang datang meloncati dinding itu. Seolah-olah pengawal itu tidak mengacuhkannya, meskipun ia melihat kawan-kawannya telah terluka.

“Aku bunuh kau,” Ki Tandabaya hampir berteriak.

Demikian kata-katanya terucapkan, maka ia pun segera meloncat menikam pengawal yang baru saja memasuki halaman itu lewat dinding batu.

Namun berbeda dengan para pengawal yang lain, pengawal yang baru itu sempat mengelak dengan tangkasnya. Dengan langkah yang pendek ia berkisar sambil memiringkan tubuhnya.

Ki Tandabaya tidak membiarkannya. Ia pun segera merubah gerak senjatanya. Tiba-tiba saja senjata itu telah menyerang mendatar. Demikian cepatnya, sehingga pengawal yang baru itu tidak sempat mengelak.

Tetapi pengawal itu sempat menangkis senjata Ki Tandabaya dengan senjatanya pula. Sehingga sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras.

Ternyata benturan itu telah mengejutkan Ki Tandabaya. Ia mengira bahwa senjata pengawal itu akan terlempar dari tangannya. Namun ternyata bahwa ia keliru. Senjata itu sama sekali tidak terlempar dari tangan pengawal itu. Tetapi benturan itu justru telah menggetarkan tangannya.

Ki Tandabaya benar benar telah terkejut karenanya, sehingga ia telah meloncat surut. Yang terjadi itu sama sekali diluar dugaannya. Bahwa seorang pengawal akan mampu mempertahankan senjatanya dalam benturan senjata dengan lambaran kekuatannya yang dihentakkannya.

Tetapi Ki Tandabaya tidak mendapat kesempatan untuk memperhatikan pengawal itu. Demikian Ki Tandabaya meloncat mengambil jarak, pengawal itulah yang telah menyerangnya dengan garangnya. Demikian cepat, sehingga Ki Tandabaya lah yang kemudian harus berloncatan menghindar.

Dalam kegelapan malam, Ki Tandabaya ternyata tidak sempat mengenali wajahnya. Ia hanya mengetahui menilik ujud dalam keseluruhan, bahwa lawannya itu adalah seorang pengawal. Namun oleh keheranan atas pengawal yang baru itu.

Sementara itu, di halaman itu telah terjadi pertempuran dibeberapa tempat. Pengikut-pengikut Ki Tandabaya ternyata telah menebar pula, dan berusaha memancing perhatian para pengawal. Dengan demikian maka hanya satu dua orang sajalah yang telah berusaha untuk menangkap langsung Ki Tandabaya. Namun merekalah yang ternyata telah terluka karena senjata orang yang memiliki kemampuan orang kebanyakan itu.

Dugul dan beberapa orang kawannya tengah bertempur dengan sengitnya. Ketika ia terdesak, tiba-tiba saja ia telah melemparkan kantong kulit di tangannya, yang telah dikendorkan talinya. Demikian kantong itu terlepas dari tangannya, maka beberapa ekor ular telah terpelanting keluar.

Lawan-lawannya terkejut. Mereka telah melonjak-lonjak menghindari ular-ular itu, karena mereka pun menyadari, patukan ular itu berarti kematian, seperti patukan ujung senjata dijantungnya.

Namun dengan demikian perhatian mereka terpecah. Kesempatan itulah yang telah dipergunakan oleh Dugul dan kawannya. Justru pada saat lawannya telah meloncat-loncat menghindari ular yang menggeliat hampir terinjak kakinya, maka senjata lawannya telah menyentuh tubuh mereka.

Beberapa orang pengawal telah terluka pada saat demikian. Tetapi masih ada juga pengawal yang dengan cepat menanggapi keadaan. Ia melihat beberapa orang kawannya terluka. Namun ia masih sempat mengungkit seekor ular bandotan dengan ujung pedangnya, sehingga ular itu terlempar tepat tersangkut ditubuh seorang pengikut Ki Tandabaya.

Orang itu demikian terkejut, sehingga ia telah terpekik keras-keras. Ia masih sempat mengibaskan ular itu. Namun malang baginya, karena ular itu sempat mematuk lengannya.

Kemarahan yang meluap telah membuatnya seolah-olah kehilangan akal. Dengan pedangnya ia telah menyerang ular itu. Sekali ayun, kepala ular itu telah terpenggal. Bahkan kemudian ayunan-ayunan berikutnya, telah memotong ular itu menjadi beberapa bagian. Namun demikian tangannya terayun pada kesempatan terakhir, tubuhnya mulai dipengaruhi racun ular yang sangat berbisa itu. Tubuhnya terasa menggigil dan urat-uratnya bagaikan mengejang.

“Gila, gila,” ia berteriak, “bunuh aku dengan pedang.”

Tetapi suaranya menggelepar dan hilang diudara malam yang dingin, tetapi terasa panas di halaman rumah Raden Sutawijaya itu.

Seorang kawan Dugul lah yang kemudian kejang terbaring ditanah. Sementara beberapa ekor ular yang lain telah menelusur hilang didalam kegelapan, setelah seekor yang lain sempat dibunuh pula dengan ujung tombak.

Ternyata bahwa ular-ular itu sempat mengganggu pertempuran itu sejenak. Namun kemudian, pertempuran itu telah berlangsung kembali dengan serunya. Dugul masih tetap bertahan. Untuk beberapa saat, ia bertempur sambil memperhitungkan kemungkinan waktu yang diperlukan oleh Ki Tandabaya untuk melarikan diri.

Pertempuran yang terjadi dihalamaan itu, ternyata telah berkembang dibeberapa tempat. Para pengikut Ki Tandabaya sengaja tidak berusaha untuk menyatukan diri. Dengan bertempur berpencaran, maka mereka telah menghisap seluruh perhatian para pengawal, sehingga kesempatan Ki Tandabaya untuk melarikan diri menjadi semakin banyak.

Dalam pada itu, ternyata Ki Tandabaya telah tersangkut dalam pertempuran melawan seorang pengawal yang agak lain dari kawan-kawannya. Pengawal yang seorang ini tidak dapat dengan mudah didorongnya dengan ujung senjata, atau didesaknya menepi, sementara ia melarikan diri.

Bahkan ternyata kemudian, telah terjadi pertempuran yang seru antara Ki Tandabaya dengan pengawal itu.

“Anak iblis,” geram Ki Tandabaya didalam hatinya, “pengawal ini mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya.”

Namun Ki Tandabaya tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Selagi kawan-kawannya masih bertempur, maka ia pun ingin dengan cepat meninggalkan halaman itu.

Karena itu, maka Ki Tandabaya itu pun segera mengerahkan kemampuannya. Ia harus dengan segera menyelesaikan pengawal itu sebelum kawan-kawannya akan berdatangan semakin banyak, apabila Dugul dan kawan-kawannya tidak mampu lagi bertahan.

Namun ternyata Ki Tandabaya justru terkejut. Sebelum ia dapat mengalahkan pengawal itu, ia telah mendengar satu isyarat nyaring. Ternyata Dugul telah keliru menghitung waktu. Agaknya Dugul menganggap, bahwa Ki Tandabaya telah dapat keluar dengan selamat.

Tetapi isyarat itu sudah terlanjur. Karena itu, maka dalam sekejap, para pengikut Ki Tandabaya itu pun berusaha untuk melarikan diri menurut cara mereka masing masing. Satu dua di antara mereka masih harus bertempur beberapa saat, sebelum mereka sempat meninggalkan arena. Bahkan ada satu dua di antara mereka yang justru sama sekali tidak berkesempatan untuk meninggalkan lawannya yang dengan garang melibat mereka dalam pertempuran yang sengit.

Namun, ternyata ada beberapa orang yang sempat juga meloncati pagar dan berlari meninggalkan panasnya api pertempuran dengan para pengawal. Bahkan Dugul sendiri pun ternyata justru sempat melarikan diri, meskipun ia ternyata telah terluka.

Tetapi di antara mereka, beberapa orang ternyata telah dipaksa untuk melemparkan senjata mereka dan menyerah sebagai tawanan.

Dalam pada itu, Ki Tandabaya mengumpat didalam hatinya. Ialah yang justru telah ditinggalkan untuk bertempur menghadapi para pengawal. Seperti yang diduganya, maka beberapa orang pengawal yang kehilangan lawannya itu pun telah tertarik oleh hiruk pikuknya pertempuran disatu sudut halaman itu. Dentang senjata telah memanggil mereka untuk mencari, dimana dan siapakah yang masih bertempur di halaman itu.

Ternyata bahwa mereka menemukan Ki Tandabaya yang bertempur dengan dahsyatnya melawan seorang pengawal.

Para pengawal itu pun menjadi heran, bahwa terjadi pertempuran yang demikian sengitnya. Mereka pun heran, bahwa ada di antara mereka yang memiliki ilmu yang demikian tinggi, sehingga mereka menjadi ragu-ragu.

Bahkan para pengawal itu pun saling bertanya di antara mereka, “Siapakah pengawal yang seorang itu?”

Pengawal yang sedang bertempur itu pun ternyata telah berkata kepada para pengawal yang kemudian mengerumuninya, “Jangan ganggu kami. Aku ingin menunjukkan kepada orang ini, bahwa pengawal dari Mataram akan mampu mengimbanginya pula.”

Sementara pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya, ternyata Ki Lurah Branjangan yang telah ikut pula bertempur dan justru berhasil menguasai dua orang pengikut Ki Tandabaya, telah dengan tergesa-gesa mendekatinya. Sejenak ia memperhatikan, siapakah yang sedang bertempur itu. Gelapnya malam, dan gerak yang cepat cekatan, membuatnya agak ragu-ragu menghadapi orang itu. Namun kemudian ternyata Ki Lurah Branjangan lebih cepat dapat mengenali ilmu orang itu dari pada bentuk wajahnya.

“Sipakah pengawal itu Ki Lurah?” bertanya seorang pengawal.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “ia orang baru. He, apakah kalian belum mengenalnya. Ia bertugas di Kesatrian sejak ia diangkat menjadi pengawal beberapa hari yang lalu.”

“Beberapa hari yang lalu?” seorang pengawal bertanya pula, “aku tidak mendengar bahwa baru saja ada pendadaran untuk menjadi seorang pengawal.”

“Pendadaran khusus,” desis Ki Lurah Branjangan.

Pengawal itu tidak bertanya lagi. Dengan tegang ia mengikuti pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit itu.

Betapa tangkas dan tinggi kemampuan Ki Tandabaya. Namun pengawal itu mampu mengimbanginya. Bahkan setiap kali masih terdengar pengawal itu tertawa sambil bergumam.

“Kau memang luar biasa Ki Sanak,” berkata pengawal itu, “karena itulah maka kau memberanikan diri, memasuki halaman ini sebagai seorang pencuri. Pencuri yang membawa pasukan segelar sepapan.”

“Persetan pengawal dungu,” bentak Ki Tandabaya, “kau tidak mau belajar dari kenyataan. Aku dapat membunuh siapa saja yang menghajangi aku.”

“Kau tidak dapat membunuh aku,” desis pengawal itu.

“Aku masih mempunyai belas kasihan,” geram Ki Tandabaya, “karena itu menyingkirlah, atau kau akan menjadi mayat.”

“Aku adalah seorang pengawal. Aku berkewajiban menangkap setiap orang yang memasuki halaman ini dengan maksud buruk. Mencuri, merampok atau berbuat apa saja semacam itu. Karena itu, menyerahlah, agar aku dapat mengikatmu dan menyerahkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati IngNgalaga,” berkata pengawal itu.

“Anak iblis,” Ki Tandabaya yang marah itu hampir berteriak, “aku bunuh kau.”

“Kenapa kau hanya berteriak-teriak saja. Lakukanlah jika ada kemampuan padamu. Agaknya kau terlalu sulit untuk dapat menang melawan pengawal dari Mataram. Apalagi jika kau berhadapan dengan para pemimpinnya. Kau harus menyadari, bahwa disini hadir Ki Lurah Branjangan, sehingga jika ia melibatkan diri, maka kau tidak akan sempat mengeluh lagi.”

Wajah Ki Tandabaya menjadi tegang. Ia sadar, bahwa ia tentu tinggal seorang diri dilingkungan halaman rumah Raden Sutawijaya. Agaknya orang-orangnya telah salah memperhitung-kan waktu, sehingga mereka telah menghentikan perlawanan mereka. Mungkin ada yang sempat melarikan diri, tetapi mungkin ada pula yang tertangkap.

Namun Ki Tandabaya tidak ingin menyerah. Meskipun ia harus berhadapan dengan siapapun. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab, “Apa peduliku dengan Ki Lurah Branjangan. Jika ia mempunyai keberanian, biarlah ia memasuki arena. Jangan sendiri, tetapi dengan pemimpin-pemimpin pengawal yang lain, termasuk Ki Juru Martani dan Senapati Ing Ngalaga sendiri.”

Tetapi pengawal itu tertawa. Sangat menyakitkan hati. Katanya, “Tidak usah orang lain. Kalahkan aku, pengawal Mataram dari tingkat terendah. Barangkali setingkat dengan jajar atau bahkan magang yang paling baru.”

Ki Tandabaya benar-benar tersinggung. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil memutar senjatanya. Kemudian satu langkah bergeser maju dengan senjata terjulur lurus kedepan.

Tetapi lawannya pun benar tangkas dan mampu bergerak cepat, sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Dalam pada itu kemarahan Ki Tandabaya telah sampai ke puncaknya. Dalam hentakan kekuatan dan kemampuannya, maka mulailah terasa, betapa tinggi ilmunya. Setiap sentuhan, senjata atau sentuhan apapun juga, rasa-rasanya telah dialiri panas yang menyengat tubuhnya, dengan demikian jika pengawal itu menangkis serangan senjata Ki Tandabaya, maka telapak tangannya yang menggenggam senjatanya sendiri itu rasa-rasanya menjadi panas.

Ketika mula-mula terasa oleh pengawal itu, ia terkejut. Hampir saja dengan gerak naluriah, senjata yang menyengat itu dikibaskannya. Namun ternyata kemudian bahwa hulur senjatanya sama sekali tidak panas seperti yang terasa.

“Jenis ilmu apa lagi ini,” geram Pengawal itu.

“Persetan,” geram Ki Tandabaya, “sebentar lagi seluruh tubuhmu akan hangus.”

“Panas semu itu tidak akan dapat membakar apapun juga. Tidak akan berpengaruh atas kulitku. Jika aku menyadari, bahwa panas itu tidak sebenarnya menjalari kulitku pada aliran sentuhan apapun, maka aku tidak perlu cemas. Rasa sakit dan panas itu dapat aku abaikan, sehingga dengan demikian, perasaan itu tidak akan berpengaruh apa-apa,” jawab pengawal itu.

Ki Tandabaya menggeram. Tetapi ia menyerang semakin garang. Lawannya masih merasa panas di telapak tangannya, jika senjatanya bersentuhan dengan senjata Ki Tandabaya. Tetapi seperti yang dikatakan, panas itu hanya ada didalam perasaannya. Sama sekali tidak akan berpengaruh atas kulitnya. Demikian sentuhan itu terlepas, maka itu pun telah lenyap pula tanpa meninggalkan bekas.

“Tentu berbeda dengan ilmu orang-orang Gunung Kendeng,” tiba-tiba saja pengawal itu berkata, “tangan orang-orang Gunung Kendeng benar-benar bagaikan membara. Sentuhan ilmunya dapat membakar kulit. Bukan sekedar semu seperti hentakan bumi orang-orang Pesisir Endut.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya yang marah sampai keubun-ubun.

Tetapi sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan untuk mengimbangi ilmu pengawal yang luar biasa itu. Semakin lama semakin jelas, bahwa Ki Tahdabaya telah benar-benar terdesak.

Akhirnya Ki Tandabaya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali berusaha dan mencoba untuk melarikan diri dari halaman itu.

Namun demikian ia meloncat surut, para pengawal yang lain, yang melihat gelagat itu, telah melingkarinya.

“Persetan,” geramnya, “jangan kau sangka bahwa kalian dapat menangkap aku. Aku akan bertempur sampai aku berhasil membunuh kalian semua, atau akulah yang akan mati.”

Pengawal itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja serangannya datang membadai. Senjatanya terayun deras sekali memutari tubuh lawannya. Bahkan dengan serta merta, pengawal itu telah melihat Ki Tandabaya dalam pertempuran pada jarak yang sangat dekat.

Ki Tandabaya menjadi bingung. Ternyata ilmunya tidak mempengaruhi lawannya. Meskipun pengawal itu merasa juga sentuhan panas, tetapi karena ia sadar, bahwa panas itu tidak akan berpengaruh atas wadagnya, maka ia tidak menghiraukannya lagi.

Karena itu, maka Ki Tandabaya benar-benar telah terdesak. Pada satu benturan senjata yang kuat, maka terasa tangan Ki Tandabaya lah yang bergetar, bukan tangan lawannya yang disengat oleh perasaan panas.

Ki Tandabaya berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Tetapi lawannya benar-benar menggetarkan jantungnya. Ia bertempur pada jarak gapai tangannya tanpa senjata. Demikian cepatnya, sehingga Ki Tandabaya kehilangan langkah ketika pengawal itu kemudian telah melibatnya dengan tangkapan tangan.

Ki Tandabaya mengerahkan ilmunya. Ia berharap bahwa meskipun lawannya menyadari, namun perasaan panas itu akan dapat mempengaruhinya.

Tetapi dengan nada dalam ia berkata, “Perasaanku telah membeku. Aku tidak dapat dipengaruhi oleh perasaan apapun juga. Panas, dingin atau apapun juga.”

Ternyata bahwa tangan pengawal itu bagaikan himpitan besi. Ternyata ia justru melepaskan senjatanya, sehingga keduanya pun kemudian telah bertempur dalam kemampuan tangkapan dan himpitan tangan.

Sambil mengumpat Ki Tandabaya yang tidak menyangka, bahwa lawannya akan bertempur dengan cara itu, benar-benar telah kehilangan akal. Apalagi ketika terasa pilinan yang kuat pada pergelangan tangannya telah membuat jari-jarinya bagaikan tidak berdaya untuk bertahan menggenggam senjata.

Namun Ki Tandabaya tidak menyerah. Ketika tangannya terpilin kebelakang, tiba-tiba saja ia menarik kakinya setengah langkah surut, justru menahan kaki lawannya. Dengan tubuhnya ia mendesak lawannya ke belakang dengan cepatnya, sehingga karena kakinya yang tertahan oleh kaki Ki Tandabaya, maka keduanya telah terjatuh di tanah.

Hentakkan itu ternyata telah berhasil mengurai tangkapan tangan lawannya, sehingga tangan Ki Tandabaya telah terlepas. Dengan tangkasnya Ki Tandabaya pun meloncat berdiri. Demikian ia berhasil berdiri diatas kedua kakinya, sementara lawannya pun baru saja bangkit pula, tiba-tiba saja Ki Tandabaya telah meluncur seperti anak panah. Tubuhnya bagaikan lurus sejajar dengan kakinya yang terjulur mematuk dada lawannya.

Tetapi lawannya cukup cerdas. Ia sempat memiringkan tubuhnya. Kemudian menangkap pergelangan kaki lawannya. Dengan satu hentakan ia berhasil, memilin kaki lawannya dan memutarnya, sehingga lawannya itu pun tidak sempat menginjakkan kakinya yang tertangkap itu diatas tanah. Bahkan demikian kakinya yang lain menyentuh-tanah, dan Ki Tandabaya itu bersiap menjatuhkan diri sambil bersiap menghantam lawannya dengan kakinya yang bebas untuk melepaskan kaki yang lain, ternyata lawannya bergerak lebih cepat. Diputarnya pergelangan kaki itu demikian kerasnya, sehingga seluruh tubuh Ki Tandabaya pun terputar. Dengan satu tekanan yang kuat pada punggungnya, maka Ki Tandabaya telah jatuh menelungkup. Demikian cepatnya yang terjadi, maka Ki Tandabaya tidak sempat menolong dirinya sendiri ketika kedua kakinya bagaikan terlipat, yang satu menindih yang lain, sementara tubuh lawannya telah menekan kaki itu sekuat-kuatnya.

Ki Tandabaya menggeram. Tetapi ia tidak berhasil berbuat sesuatu. Bahkan ia masih mencoba menghentakkan ilmunya untuk membakar tangan lawannya yang menyentuh tubuhnya, namun Pengawal itu sempat berkata sambil tertawa, “Sudah aku katakan. Perasaanku sudah membeku. Panas semumu tidak berarti apa-apa bagiku. Meskipun aku merasakan juga panasnya, tetapi karena kesadaranku mampu mengatasi cengengnya perasaanku, maka perasaan panas itu tidak berarti apa-apa bagiku, karena sama sekali tidak akan membawa akibat apa-apa.”

Ki Tandabaya mencoba memaksa tubuhnya bergerak. Tetapi tekanan pada kakinya terasa semakin menghimpit, sehingga semakin terasa betapa sakitnya.

“Gila, licik. Kau tidak bertempur dengan jantan, beradu dada untuk menentukan siapa yang akan mati,” geram Ki Tandabaya yang masih mencoba meronta tetapi tidak berhasil.

“Aku tidak ingin berperang tanding sampai salah seorang dari kita mati. Aku hanya menjalankan tugasku, sebagai seorang pengawal untuk menangkap seseorang yang memasuki halaman ini dengan cara yang tidak wajar dan untuk maksud-maksud yang sangat buruk,” jawab pengawal itu.

“Persetan. Lepaskan, dan kita akan bertempur dengan senjata,” Ki Tandabaya hampir berteriak.

“Jangan gila. Dengan susah payah aku menangkapmu, bagaimana mungkin aku melepaskanmu,” jawab pengawal itu.

Ki Tandabaya tidak berkata apapun lagi. Ia menyadari bahwa kata-katanya tidak akan berarti lagi bagi pengawal yang keras kepala itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terasa oleh Ki Tandabaya tangan pengawal itu menyusuri urat-urat kakinya diatas tumitnya. Betapa terkejutnya Ki Tandabaya yang sudah tidak berdaya itu. Sekali lagi ia menghentakkan kekuatan dan ilmunya. Namun sia-sia, tangan orang yang menyebut dirinya pengawal itu telah menekan jalur urat nadinya dan menelusurinya lambat-lambat.

Terasa kaki Ki Tandabaya itu semakin lama semakin lemah. Bahkan kemudian terasa kakinya itu sudah tidak berdaya lagi.

“Anak iblis,” ia berteriak.

Tetapi pengawal itu sama sekali tidak menghiraukannya. Perlahan-lahan dilepaskannya kaki Ki Tandabaya, sehingga akhirnya dilepaskannya sama sekali.

Namun demikian pengawal itu berdiri, Ki Tandabaya telah berguling. Dengan hentakan sisa kekuatannya ia bangkit. Kakinya masih saja tidak berdaya sama sekali. Namun dengan cepat tangannya menggapai urat-urat diatas tumitnya. Ia pun memiliki pengetahuan seperti pengawal itu, yang dapat melumpuhkan, tetapi juga memulihkan kembali kekuatan dengan tekanan-tekanan pada urat nadi.

Tetapi pengawal itu lebih tangkas. Demikian tangan Ki Tandabaya terjulur, maka ia pun dengan tangkasnya menangkap tangan itu. Satu tekanan dibawah ketiaknya, membuat tangan itu tidak berdaya sama sekali. Sementara tangannya yang lainpun kemudian rasa-rasanya telah dilumpuhkannya pula.

“Ki Sanak,” berkata pengawal itu, “aku tahu, kau tentu memiliki pengetahuan ini pula, karena pengetahuan ini memang bukan ilmu yang luar biasa. Banyak orang yang dapat melakukannya, termasuk kau. Tetapi agaknya aku lebih cepat melakukannya, sehingga dengan demikian, maka kaki dan tanganmu tidak akan berdaya lagi. Karena itu, maka biarlah aku serahkan kau kepada Ki Lurah Branjangan yang akan menahanmu, sambil menunggu Raden Sutawijaya kembali dari pesanggrahannya.”

“Gila, licik. Bunuh aku,” teriak Ki Tandabaya. Tetapi pengawal itu tidak menjawab. Katanya kemudian, “Biarlah Raden Sutawijaya yang mengadilimu. Kaupun tentu tahu, bahwa tekanan pada urat nadimu itu pada saatnya akan mengendor dengan sendirinya, dan kau akan terlepas karenanya.”

“Anak setan,” Ki Tandabaya masih berteriak.

Tetapi pengawal itu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berdiri. Kemudian ia menggapai senjatanya. Memasukkan kedalam sarungnya, kemudian, yang mengejutkan orang-orang yang mengitarinya, pengawal itu telah meloncat keatas dinding. Ketika ia siap meloncat turun keluar, ia masih sempat berkata, “Aku mempunyai tugas yang lain. Aku telah meninggalkan garduku. Mudah-mudahan aku tidak dianggap bersalah oleh peinimpin kelompok ku.”

Tidak seorang pun sempat menjawab. Orang itu pun segera menghilang dibalik dinding.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ialah yang harus mengurusi tawanan itu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Bawa tawanan ini masuk. Aku akan mengikatnya dengan janget yang tidak akan mungkin diputuskannya. Janget berangkap tiga. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia kehilangan kekuatannya.”

Ki Tandabaya benar-benar sudah tidak berdaya. Meskipun ia masih mampu berteriak dan membentak-bentak, tetapi kekuatannya telah jauh susut, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa, ketika para pengawal dari Mataram itu membawanya kesebuah ruang tertutup yang rapat. Bahkan sampai kerangka atapnyapun dibuat demikian kuat dan rapat.

Ki Tandabaya yang kemudian dibaringkan pada sebuah amben bambu masih saja mengumpat-umpat. Namun para pengawal dan Ki Lurah Branjangan seolah-olah tidak mendengarnya sama sekali. Bahkan ia pun kemudian ditinggalkannya seorang diri. Dari pembaringannya Ki Lurah mendengar selarak yang berat telah menahan pintu biliknya itu.

Sambil berbaring, Ki Tandabaya memperhatikan bilik itu. Rasa-rasanya mirip seperti bilik yang dapat dilihatnya dari atas atap ketika ia mencari Ki Lurah Pringgabaya.

“Ternyata ada beberapa bilik seperti ini di rumah ini,” katanya didalam hati.

Namun bagaimanapun juga, hatinya masih saja mengumpat-umpat. Justru ia sendiri telah tertangkap di Mataram dan dimasukkan kedalam sebuah bilik, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Mataram terhadap Ki Lurah Pringgabaya. Apalagi untuk beberapa saat ia masih harus berbaring diam karena tangan dan kakinya terasa seolah-olah lumpuh karenanya.

“Gila,” geramnya, “dan Branjangan telah mengancamku untuk mengikat tangan dan kakiku dengan janget rangkap ganda.”

Tetapi ternyata Ki Lurah Branjangan tidak datang untuk mengikat tangan dan kakinya. Meskipun dengan demikian Ki Tandabaya merasa bahwa orang-orang Mataram tentu menganggap bahwa bilik itu cukup kuat untuk menahannya, atau mungkin para pengawal yang dapat dipereaya telah ditugaskan diluar bilik itu.

Namun bagaimanapun juga, yang terjadi itu benar-benar telah memanaskan hatinya. Ia lebih senang dibunuh saja oleh para pengawal daripada ia harus berada didalam bilik tahanan.

“Raden Sutawijaya telah mempersilahkan beberapa orang pemimpin prajurit Pajang untuk datang melihat keadaan Ki Lurah Pringgabaya. Jika para pemimpin itu datang, agaknya orang-orang Mataram akan mempersilahkan mereka menemui aku juga,” geram Ki Tandabaya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali menunggu dengan jantung yang berdebaran, apa yang akan terjadi atasnya.

Meskipun demikian ia masih sempat menilai betapa seorang pengawal dari Mataram itu dapat mengalahkannya. Bahkan nampaknya dengan mudah. Pengawal itu tidak perlu menghentakkan segenap kemampuannya, bertempur dengan nafas yang memburu dan keringat yang seperti diperas. Tidak pula sampai susut kemampuannya sampai saat terakhir ia berhasil menangkapnya.

“Gila,” geramnya berulang kali. Namun ia tak dapat mengingkari kenyataan bahwa dirinya benar-benar terbaring lemah didalam sebuah bilik yang terbuat dari kayu yang tebal dan kuat. Tentu dijaga oleh para pengawal pilihan pula.

Terbersit didalam ingatannya, bagaimana dengan orang-orangnya. Bagaimana dengan Dugul dan kawan-kawannya.

“Agaknya sebagian dari mereka berhasil melarikan diri,” berkata Ki Tandabaya kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah pada saat itu, ditempat yang lain, beberapa orang pengikut Ki Tandabaya telah tertangkap pula. Tetapi sebagian dari mereka benar-benar telah sempat melarikan diri. Di antara mereka yang selamat adalah justru Dugul sendiri.

Dalam pada itu, dengan sekuat tenaganya Dugul tengah melarikan diri menjauhi rumah Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati Ing Ngalaga itu menuju ketempat yang menjadi tempat persembunyiannya selama ia berada di Mataram.

Demikian ia sampai kerumah itu, maka ia pun segera bersiap-siap meninggalkan Mataram. Dibenahinya kudanya dan dipersiapkannya bekal yang akan dibawanya, terutama senjata yang akan dapat dipergunakannya menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk. Beberapa buah pisau belati yang akan dapat dilontarkannya jika diperlukan.

Ketika ia sudah hampir siap, maka beberapa orang kawannyapun telah berdatangan. Mereka pun segera mempersiapkan diri pula untuk meninggalkan Mataram.

“Kita jangan pergi bersama-sama,” berkata Dugul, “tentu akan sangat menarik perhatian, justru pada saat seperti ini.”

“Jadi?” bertanya kawannya, “apakah kita harus keluar seorang demi seorang?”

Selagi mereka berbincang, maka seorang pengikut Ki Tandabaya yang dianggap sebagai orang yang paling berpengalaman, yang datang kemudian berkata, “Jangan bodoh. Pada saat seperti ini, para pengawal tentu sudah disebar. Semua pintu gerbang dan jalan keluar tentu sudah dijaga ketat. Pengawal Mataram mampu bergerak cepat.”

“Kita harus menghindarkan diri dari buruan para pengawal,” jawab Dugul.

“Tentu jangan sekarang,” sahut kawannya itu, “kita lebih baik bersembunyi disini. Tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi sebaiknya kita tidak berada diluar meskipun dikebun belakang.”

“Apakah sebaiknya kita menunggu sampai besok pagi?” bertanya yang lain.

“Itu lebih baik. Disiang hari, tidak banyak yang akan tertarik kepada seorang berkuda. Nah, besok, kita akan pergi, seorang demi seorang.”

Dugul termangu-mangu. Ia masih mencemaskan kemungkinan pasukan pengawal akan mencari mereka malam itu juga disetiap pintu rumah. Tetapi kawannya berkata, “Kita lebih aman tinggal di rumah ini daripada kita berada di jalan-jalan, karena para pengawal tentu akan berkeliaran.”

Dugul pun mengurungkan niatnya. Mereka memasukkan kuda mereka kembali kekandang dan yang lain disembunyikan dilongkangan, agar jumlah kuda yang terlalu banyak itu tidak akan menumbuhkan kecurigaan pula.

Ternyata pemilik rumah yang memang sudah menyerahkan tempat tinggalnya untuk kepentingan orang-orang Pajang itu pun tidak berkeberatan. Katanya, “Kita sudah melakukannya dengan sadar. Kita tidak perlu mencemaskan akibat yang dapat terjadi atas kita.”

Para pengikut Ki Tandabaya itu mengangguk-angguk. Mereka merasa bahwa pemilik rumah yang sejak sebelumnya sudah dikenal oleh Ki Tandabaya itu agaknya merasa ikut bertanggung jawab.

Namun demikian, salah seorang dari para pengikut Ki Tandabaya itu masih tetap gelisah. Katanya kemudian sambil berbisik kepada Dugul, “Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang tertangkap? Apakah mereka tidak akan menyebutkan tempat tinggal kita disini?”

Dugul masih juga bimbang. Namun pemilik rumah yang mendengar juga desis salah seorang pengikut Ki Tandabaya itu berkata, “Jika mereka merasa bertanggung jawab, maka mereka tidak tahan mengalami tekanan. Tetapi aku kira pemeriksaan itu tidak akan segera berlangsung malam ini. Yang akan dilakukan oleh orang-orang Mataram tentu menutup semua jalan keluar dan mengadakan pengawasan keliling dengan peronda-peronda khusus.”

Dugul mengangguk-angguk. Agaknya pendapat pemilik rumah itu pun dapat dibenarkannya. Karena orang itu adalah kawan Ki Tandabaya, atau orang yang memang sudah dikenalnya, maka agaknya ia akan membantu sejauh dapat dilakukannya.

Karena itu, maka para pengikut Ki Tandabaya itu pun mencoba untuk menenangkan dirinya didalam rumah itu.

Tetapi rasa-rasanya hati mereka tidak dapat tenang. Mereka bagaikan duduk diatas bara. Rasa-rasanya mereka telah dibayangi oleh para pengawal dari Mataram.

“Apakah kita dapat berada ditempat lain,” tiba-tiba saja Dugul bertanya kepada pemilik rumah itu.

“Dimana?” pemilik rumah itu justru bertanya.

“Mungkin kau dapat menunjukkan,” desis Dugul.

Pemilik rumah itu menggeleng sambil berdesis, “Aku tidak tahu, apakah ada tempat yang lebih baik bagi kalian. Tetapi diluar, kalian tentu akan menjadi lebih berbahaya. Para pengawal tentu sedang meronda sekeliling kota.”

Memang tidak ada yang aman bagi mereka. Jika mereka ingin keluar lingkungan Mataram, mereka tentu tidak akan dapat menembus penjagaan para pengawal yang kuat disetiap pintu dan jalan betapapun kecilnya. Agaknya perintah untuk menutup semua jalur jalan itu tentu sudah jatuh segera setelah peristiwa di rumah Raden Sutawijaya itu terjadi. Bahkan mungkin sebelumnya, karena agaknya kedatangan Ki Tandabaya dan para pengikutnya memang sudah diketahui sebelumnya.

adbm-139-02Dalam kegelisahan, para pengikut Ki Tandabaya itu berkumpul dengan senjata di tangan mereka. Mereka merasa seolah-olah setiap saat rumah itu akan diserang oleh para pengawal yang mendapat petunjuk dari kawan-kawan mereka yang telah tertangkap.

Namun demikian, ada juga pengikut Ki Tandabaya itu yang sempat berbaring diamben bambu yang besar dan tidur mendekur, seolah-olah tidak menghiraukan apa saja yang akan terjadi atas mereka.

Ternyata malam itu mereka tidak diusik oleh keadaan. Mereka dapat beristirahat sampai fajar menyingsing, meskipun ada satu dua di antara mereka yang tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, disamping mereka yang memang mendapat giliran berjaga-jaga.

Ketika terdengar ayam berkokok menjelang pagi, rasa-rasanya hati mereka telah dibasahi oleh embun yang sejuk setelah semalaman dibakar oleh panasnya api kegelisahan.

Dugul yang termasuk salah seorang di antara mereka yang tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, meskipun ia tidak mendapat giliran untuk berjaga-jaga, adalah orang yang pertama-tama berbicara di antara mereka yang dicengkam oleh ketegangan, “Sebentar lagi matahari akan terbit. Kita akan meninggalkan rumah ini, seorang demi seorang. Kita akan memencar menuju kearah yang berbeda. Kita akan keluar dari kota lewat jalan yang tidak sama, agar kita sama sekali tidak menarik perhatian. Disiang hari, maka kita tentu bukan satu-satunya orang berkuda yang keluar dari pintu gerbang dan mungkin juga jalan-jalan sempit yang lain. Meskipun tentu masih ada pengawasan ketat, tetapi kalian harus mempergunakan akal.”

“Jika kita masih belum mungkin keluar?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Jika perlu kita akan keluar dengan berjalan kaki. Apa salahnya kita kembali ke Pajang sambil berjalan, tetapi menjamin keselamatan kita masing-masing, daripada berkuda tetapi dipintu gerbang kita ditunggu oleh para pengawal,” berkata Dugul.

Namun orang yang dianggap paling berpengalaman itu berkata, “Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Kita harus melihat keadaan. Dua orang di antara kita, jika perlu aku sendiri, akan melihat-lihat suasana. Baru kita mengambil keputusan, apakah kita akan keluar dari Mataram atau kita masih harus menunggu? Apakah kita akan berkuda atau berjalan kaki.”

“Sejenak lagi, matahari akan terbit. Kita akan bersiap-siap,” berkata Dugul kemudian.

Kawan-kawannya pun kemudian mengemasi diri. Mereka yang masih tidur dengan nyenyak, telah mereka bangunkan. Sementara pengikut Ki Tandabaya yang dianggap paling berpengalaman itu berkata, “Aku akan mandi. Siapa yang akan ikut bersamaku, cepat mengemasi diri. Dengan rapi kita akan turun ke jalan, sehingga kita tidak akan berbeda dengan orang-orang lain yang berada di jalan-jalan.”

Dugul lah yang menyahut, “Aku pergi bersamamu.”

Kedua orang itu pun kemudian pergi ke ruang belakang. Mereka akan keluar lewat pintu butulan untuk pergi ke pakiwan.

Namun mereka telah menjumpai keadaan yang sama sekali tidak mereka duga. Demikian mereka membuka pintu butulan, maka mereka telah dikejutkan oleh penglihatan mereka. Dengan serta merta mereka telah menutup pintu kembali. Ternyata di kebun, di ujung longkangan mereka melihat dua orang pengawal berjaga-jaga.

“Gila,” geram Dugul, “apa sebenarnya yang telah terjadi?”

Pengikut Ki Tandabaya yang paling berpengalaman itu berkata, “Kita dihadapkan satu keadaan yang paling gawat sekarang ini. Marilah kita lihat, apakah ada juga pengawal ditempat lain.”

Kedua orang itu pun kemudian melintas kebagian lain dari rumah itu. Mereka pun dengan hati-hati mendekati pintu butulan pula. Dengan sangat berhati-hati mereka mencoba mengintip lewat pintu yang dibukanya sedikit.

“Gila,” geram kawan Dugul, “kita sudah dikepung. Siapakah yang telah berkhianat ini?”

Dugul menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak ada yang berkhianat. Tetapi bukankah sudah wajar, bahwa kawan-kawan kita yang tertangkap itu akan mengatakan dimana kita bersembunyi? Tentu bukan hanya tempat ini saja yang dikepung. Persembunyian kawan-kawan kita yang satu lagi tentu sudah dikepung pula.”

“Tidak ada lagi yang disana. Semuanya berada disini,” jawab kawan Dugul. Lalu, “Ternyata akulah yang salah hitung. Jika semalam kita keluar, mungkin kita akan mengalami keadaan yang berbeda.”

“Sudahlah. Kita tidak usah saling menyalahkan. Jika kalian semalam mengikuti aku keluar dari rumah ini, mungkin semalam kita sudah tertangkap,” sahut Dugul, “sekarang, bagaimana kita akan menghadapi mereka.”

“Kita beritahu kawan-kawan,” berkata kawan Dugul itu, seseorang yang dianggap paling berpengalaman di antara para pengikut Ki Tandabaya yang tersisa.

“Mungkin kita tidak mempunyai cara lain, kecuali harus bertempur dengan sisa tenaga kami yang terakhir.”

Dugul tidak menjawab lagi. Keduanya pun kemudian meninggalkan pintu butulan yang sudah menjadi rapat kembali.

Kawan-kawan Dugul terkejut dan mendengar keterangan itu. Seorang di antara mereka berkata dengan gelisah. “Kenapa kita tidak pergi semalam saja? Kita terkurung sekarang.”

“Namun justru karena kita tidak pergi semalam, kita masih dapat beristirahat barang sejenak. Karena jika kita keluar semalam, kita tentu sudah mati juga pagi ini, maka umur kita sudah bertambah sepanjang akhir malam ini.” jawab Dugul.

Kawan-kawannya menarik nafas. Tetapi mereka pun segera mengemasi diri. Memang tidak ada jalan lain kecuali bertempur.

Orang yang dianggap paling berpengalaman itu pun segera membagi kawan-kawannya yang tersisa. Hanya beberapa orang saja yang tentu tidak akan banyak berarti bagi para pengawal Mataram. Namun mereka yang tinggal beberapa itu, tidak akan membiarkan tangan mereka diikat tanpa berbuat sesuatu.

Demikianlah, maka sisa para pengikut Ki Tandabaya itu pun telah bersiap sepenuhnya. Dugul yang berada di ruang depan menghadap kepringgitan itu pun berusaha untuk mengintip dari celah-celah dinding. Ternyata di halaman depan rumah itu pun terdapat beberapa orang pengawal yang sudah bersiaga.

“Gila,” geram Dugul, “dimana pemilik rumah ini.

Kawan-kawannya pun kemudian saling bertanya, “Dimana pemilik rumah ini, yang selama kita berada di rumah ini, bersikap sangat baik dan membantu segala keperluan kita sesuai dengan permintaan Ki Tandabaya.”

Tetapi orang-orang itu tidak melihatnya lagi di antara mereka. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang itu menjadi cemas. Mungkin pemilik rumah itu justru sudah tertangkap ketika ia berada diluar, atau di jalan dimuka rumahnya itu.

“Ia kawan baik Ki Tandabaya. Bahkan masih ada hubungan sanak-kadang,” berkata salah seorang dari mereka.

“Tetapi ia menyadari sepenuhnya, apa yang sedang dihadapinya.” sahut yang lain, “ia tidak akan ingkar, jika akibat yang paling buruk itu menimpanya. Nampaknya ia bukan sekedar orang yang menerima upah dari Ki Tandabaya, tetapi ia menyadari sepenuhnya arti dari perbuatannya.”

“Mungkin kesadarannya jauh lebih baik dari kita,” berkata Dugul, “setidak-tidaknya aku sendiri. Aku lebih mementingkan kepentinganku sendiri dalam hal ini.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Bahkan mereka pun seakan-akan harus melihat kepada diri sendiri, apakah yang telah mendorong mereka melakukan semuanya itu, mempertaruhkan dirinya dan bahkan segala-galanya.

Tetapi mereka tidak sempat merenung lebih lama lagi. Mereka pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

Namun agaknya para pengawal Mataram masih saja menunggu. Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu. Satu dua orang berjalan hilir mudik di halaman, sementara yang lain berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Dua atau tiga orang ditempat yang terpencar.

“Gila,” geram Dugul, “kenapa mereka tidak langsung menyerang dengan memasuki rumah ini?”

Kawannya yang berada disisinya pun menyahut, “Mereka memang orang-orang gila. Apakah keuntungan mereka dengan berdiri saja disana tanpa berbuat sesuatu? Mereka hanya membuang-buang waktu saja.”

“Ternyata mereka adalah pengecut yang paling licik,” Dugul menggeretakkan giginya.

Tetapi para pengawal itu masih tetap berada ditempatnya. Hanya satu dua saja yang masih tetap berjalan hilir mudik.

Akhirnya orang yang dianggap paling berpengalaman di antara sisa-sisa pengikut Ki Tandabaya itu tidak sabar lagi. Ketika cahaya matahari sudah mulai menembus lubang-lubang dinding bambu, maka ia pun berteriak di belakang pintu pringgitan, “He, orang-orang Mataram. Apa kerjamu disitu he?”

Suara itu telah menarik perhatian. Para pengawal itu pun kemudian beringsut dan menempatkan dirinya dalam kepungan yang lebih rapat. Salah seorang dari mereka berdiri di halaman menghadap ke pendapa. Sejenak ia memperhatikan keadaan. Namun kemudian pengawal itu berkata lantang, “Ki Sanak. Kami tahu Ki Sanak ada didalam. Karena itu, sebaiknya Ki Sanak keluar saja. Kita dapat berbicara dengan baik tanpa menarik senjata kita dari sarungnya.”

“Persetan,” jawab pengikut Ki Tandabaya itu, “senjataku sudah terlanjur telanjang. Kami akan membunuh setiap orang yang berani mengusik kami.”

Jawaban itu telah menggetarkan jantung setiap pengawal yang mendengarnya. Namun mereka masih tetap menahan diri. Pemimpin pengawal yang berdiri di halaman itu masih tetap berpegang kepada satu niat untuk menangkap mereka tanpa menitikkan darah.

Karena itu, maka pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak, Kami tentu berkeberatan untuk memasuki rumah itu, karena dengan demikian keadaan kalian akan lebih menguntungkan, sementara kami tidak mengetahui jumlah kalian seluruhnya, maka kami akan dapat mengambil jalan lain. Kami dapat menunggu sampai kalian menjadi jemu. Mungkin justru kelaparan atau kehausan. Tetapi jika kamilah yang tidak sabar lagi, maka kami akan dapat membakar saja rumah itu. Kalian akan terpaksa memilih, keluar dari rumah itu, atau mati hangus menjadi abu.”

“Licik, pengecut, tidak tahu malu,” geram Dugul, “kami yang kalian buru itu pun masih memiliki kejantanan. Kami akan bertempur sampai orang kami yang terakhir.

“Itulah yang akan kami hindari,” sahut pemimpin pengawal itu, “kenapa kita harus saling membunuh. Bukankah akhir dari perkelahian yang akan timbul itu sudah dapat kita perhitungkan?”

“Jangan sombong,” geram Dugul, “kalian akan mengorbankan orang terlalu banyak untuk kesombongan kalian.”

“Tetapi bukankah dengan demikian berarti bahwa kalian akan tumpas sampai orang terakhir?” bertanya pemimpin pengawal itu, “Sebaiknya tidak usah demikian. Kalian menyerah dan kalian akan kami bawa dengan baik menghadap Raden Sutawijaya yang hari ini sudah disusul ke pasanggrahannya.”

“Aku tidak peduli. Kami sudah siap untuk mati bersama sejumlah kawan-kawanmu. Bahkan mungkin semua pengawal yang ada disini sekarang,” jawab pengikut Tandabaya itu.

Pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Cobalah berpikir. Aku akan memberimu waktu barang sejenak.”

“Aku sudah berpikir dengan masak. Aku tidak perlu waktu lagi. Jika kalian akan bertindak atas kami, cepat, lakukanlah,” teriak pengikut Ki Tandabaya yang marah itu.

Tetapi pemimpin pengawal itu masih menyahut sareh, “Aku tidak tergesa-gesa. Aku akan menunggu sampai kalian sempat melakukannya.”

“Tidak. Tidak perlu,” pengikut Ki Tandabaya itu berteriak semakin keras, “sekarang lakukan.”

“Kenapa kalian justru memerintah kami?” pengawal itu bertanya, dan pertanyaan itu membuat pengikut Ki Tandabaya semakin marah, sehingga ia berteriak pula, “Gila. pengecut, licik.”

Tetapi pengawal itu justru tertawa. Katanya, “jangan mengumpat-umpat. Yang aku kehendaki, kalian keluar dari rumah itu. Kita dapat berbicara dengan baik, sehingga masalah yang kita hadapi ini akan dapat kita selesaikan dengan baik.”

Pengikut itu masih akan berteriak lagi. Tetapi ternyata Dugul masih sempat mencegahnya. Katanya, “Jangan terpancing. Kita harus tetap menguasai diri. Jika kita kehilangan nalar, maka itu akan sangat berbahaya bagi kita.”

Pengikut Ki Tandabaya yang dianggap paling berpengalaman itu memandang Dugul dengan tegang. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau benar Dugul. Orang-orang Mataram memang memancing kemarahanku.”

“Karena itu, biarlah mereka menunggu. Biarlah mereka yang menjadi jemu,” berkata Dugul pula, “jika mereka menyerbu masuk, maka kita akan mendapat kesempatan lebih baik pada benturan pertama, sehingga meskipun kita harus mati, tetapi jumlah lawan yang akan mati bersama kita tentu cukup banyak.”

Pengikut Ki Tandabaya yang dianggap paling berpengalaman itu mengangguk-angguk.

Tetapi para pengikut yang lain, yang berjaga-jaga dipintu-pintu yang lain dan dipintu butulan, menjadi tidak sabar. Karena itu, maka Dugul pun mendatangi mereka satu persatu dan menjelaskan masalahnya.

“Sampai kapan kita harus bersabar?” bertanya salah seorang pengikut itu.

“Sampai orang-orang Mataram kehabisan kesabaran,” jawab Dugul.

“Aku tidak dapat menahan diri lagi,” geram yang lain.

“Kematianmu akan sia-sia. Sebaiknya kalian menunggu di pintu. Kalian membunuh orang yang akan memasuki rumah ini sebelum kalian akan mati,” jawab Dugul.

Para pengikut Ki Tandabaya itu mencoba untuk menahan hati. Namun rupa rupanya waktu telah mencengkam mereka sehingga mereka menjadi hampir gila karenanya.

Sementara itu para pengawal dari Mataram itu masih saja berjalan hilir mudik di halaman. Beberapa orang yang lain, berdiri tegak mengawasi pintu-pintu yang tertutup. Sementara beberapa orang berada dipintu gerbang.

“Mereka tidak berbuat apa-apa,” geram salah seorang pengikut Ki Tandabaya.

“Aku tidak sabar. Aku akan menyerang mereka,” desis yang lain.

“Apakah kau akan membunuh diri?” bertanya Dugul.

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ketegangan benar-benar telah mencengkamnya.

Sementara itu, pengikut Ki Tandabaya yang paling berpengalaman itu masih bertanya, “Dimana pemilik rumah ini? Apakah ia sudah tertangkap ketika ia berada diluar rumah?”

Tidak seorang pun yang dapat menjawab. Namun pemilik rumah itu memang tidak ada di antara mereka, sementara di rumah itu memang tidak ada anggauta keluarganya yang lain, selama rumah itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian para pengikut Ki Tandabaya.

Ketegangan yang semakin memuncak telah mencengkam rumah itu. Rasa-rasanya udara didalam rumah itu menjadi semakin lama semakin panas. Sementara darah para pengikut Ki Tandabaya itu pun bagaikan telah mendidih.

Apalagi karena para pengawal Mataram itu nampaknya sama sekali tidak menghiraukan waktu.

Untuk beberapa saat lamanya, para pengikut Ki Tandabaya itu masih dapat menahan hati. Namun semakin lama darah mereka semakin memanasi jantung, sehingga akhirnya Dugul sendiri menjadi tidak sabar.

“Orang-orang Mataram memang gila,” geram Dugul. Dan tiba-tiba saja ia telah berteriak, “He, orang orang Mataram. Kenapa kalian begitu pengecut dan penakut? Kenapa kalian tidak berani memasuki rumah ini jika kalian ingin menangkap kami.”

Tetapi jawaban orang-orang Mataram itu benar-benar menyakitkan hati. Pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Kami tidak tergesa-gesa. Bahkan mungkin hari ini Raden Sutawijaya masih belum dapat kembali karena ia sedang sibuk dengan kuda barunya. Mungkin sehari dua hari lagi ia baru pulang. Nah, pada saat itu, baru kami merasa tergesa-gesa.”

“Gila. Itu adalah sikap yang gila,” teriak seorang pengikut Ki Tandabaya.

“Mungkin. Mungkin sekali kami sudah gila. Tetapi sebenarnyalah kami menunggu kalian sempat berpikir bening, sehingga kalian akan menyerah tanpa setetes darah pun yang akan menitik dibumi Mataram.”

“Persetan” geram Dugul, “sampai tengah hari. Jika kalian tidak bertindak, maka kami akan keluar dari rumah ini dan membunuh siapa saja yang kami jumpai. Bukan hanya kalian para pengawal, tetapi juga orang-orang yang tinggal di sekitar rumah ini.”

“Orang-orang yang berputus asa memang dapat berbuat apa saja,” jawab pemimpin pengawal itu, “kadang-kadang yang tidak terduga-duga sama sekali. Tetapi bukankah kalian tidak sedang berputus asa? Aku kira kalian masih tetap menyadari keadaan kalian sepenuhnya.”

“Anak setan,” seorang pengikut yang lain berteriak. Rasa-rasanya dadanya bagaikan retak oleh kemarahan yang menghentak-hentak.

Kesabaran para pengikut Ki Tandabaya itu sudah tidak tertahankan lagi. Meskipun demikian mereka masih menunggu sampai tengah hari atas permintaan Dugul.

“Kitalah yang kehilangan waktu,” geram kawannya, “jika kami semakin banyak pengawal yang datang, maka kesempatan akan tertutup sama sekali.”

Tetap mereka masih tetap menunggu. Dugul masih mencoba untuk membakar hati para pengawal dan memancingnya memasuki rumah itu. Namun usahanya sama sekali tidak berhasil. Bahkan satu dua orang pengawal justru sempat duduk di regol dan di sudut halaman depan, pintu-pintu butulan.

Namun akhirnya sampai juga kebatas waktu yang ditentukan oleh Dugul, setelah sebelumnya mereka sempat makan apa saja yang terdapat di rumah itu, untuk mengisi perut mereka yang mulai terasa lapar. Dengan demikian, maka rasa-rasanya mereka telah mendapatkan kekuatan baru untuk melawan para pengawal yang mereka anggap licik dan tidak jantan itu.”

Karena itu, ketika matahari kemudian sudah memanjat sampai kepuncak langit, maka orang-orang didalam rumah itu sudah tidak sabar lagi. Bahkan orang yang dianggap paling berpengalaman dari sisa para pengikut Ki Tandabaya itu pun kemudian berkata, “Kitalah yang akan mengambil langkah. Kita tidak mau diombang-ambingkan oleh perasaan gelisah. Mereka dengan sengaja ingin melumpuhkan kemauan kita menghadapi perlawanan mereka.”

“Baiklah,” berkata Dugul, “kita akan mulai.”

Orang-orang yang berada didalam rumah itu pun segera mempersiapkan diri. Ketika mereka sampai kepada perhitungan untuk menyerang, maka mereka tidak lagi memencar lewat pintu butulan dan pintu pringgitan. Tetapi mereka memperhitungkan kemungkinan yang paling lemah dari kepungan orang-orang Mataram itu.

“Kita akan keluar lewat butulan disamping dapur. Mereka nampaknya tidak terlalu banyak menghiraukan butulan itu. Jika kita sempat dengan tiba-tiba menyerang mereka, maka masih ada kemungkinan dari kita, meskipun mungkin tidak seluruhnya, keluar dari halaman rumah ini. Mungkin kita harus berlari-larian menyusup jalan-jalan yang belum kita kuasai. Mungkin para pengawal akan memukul isyarat kentongan dan orang-orang padukuhan akan mengejar kita seperti mengejar tupai,” berkata pengikut Ki Tandabaya yang berpengalaman itu.

Dugul menjadi ragu-ragu. Desisnya, “Memang lebih mudah malam hari. Dan aku sudah menyia-nyiakan waktu yang lebih baik itu. Jika saja semalam aku berpikir untuk keluar tanpa seekor kuda.”

“Sudahlah,” potong pengikut Ki Tandabaya itu, “kita akan menyerang mereka dan menghadapi setiap kemungkinan yang akan dapat terjadi atas kita. Mungkin kita akan dicincang oleh orang-orang padukuhan. Namun dengan senjata di tangan, kita akan mendapat kawan dari antara mereka untuk mengarungi batas dengan maut.”

Akhirnya, para pengikut itu telah mengambil satu sikap. Mereka pun segera bersiap justru disatu pintu.

Dugul yang berada dipaling depan berdiri tegak dengan pedang di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang selarak pintu butulan itu. Kemudian dengan suara parau ia mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Demikian mulutnya berhenti, maka selarak itu pun telah terlempar sehingga pintupun segera terbuka. Dengan serta merta, maka para pengikut Ki Tandabaya itu pun segera berloncatan turun lewat pintu butulan itu.

Dalam pada itu, ternyata hanya ada dua orang pengawal yang mengawasi pintu butulan itu. Namun demikian pintu itu terbuka, dan beberapa orang berloncatan, terdengar salah seorang dari kedua pengawal itu bersuit nyaring.

Alangkah marahnya para pengikut Ki Tandabaya itu. Demikian mereka mencapai kedua orang itu, maka beberapa orang pengawal telah berlari-larian mendekati kedua orang kawannya itu.

Karena itulah, maka usaha mereka untuk langsung melarikan diri meloncati dinding kebun itu pun tidak dapat mereka lakukan. Ternyata tidak jauh dari kedua orang itu, terdapat beberapa orang pengawal yang lain.

Dalam sekejap kemudian, maka terjadilah pertempuran yang keras dan kasar. Para pengikut Ki Tandabaya yang marah itu sama sekali tidak berusaha mengekang diri lagi. Mereka tidak sempat lagi memikirkan, apa yang sebaiknya mereka lakukan menghadapi masalah yang gawat bagi keselamatan mereka itu.

Untuk beberapa saat, beberapa orang pengawal yang lain masih tetap berada ditempatnya. Mereka harus berhati-hati, apabila masih ada beberapa orang yang berada didalam.

Namun dalam pada itu, karena pertempuran sudah mulai menyala, maka pemimpin pengawal yang berada di halaman depan, segera membawa beberapa orang pengawal yang lain untuk memasuki rumah itu.

Dengan hati-hati mereka mendekati pintu pringgitan. Kemudian dengan keras mereka memaksa membuka pintu itu. Ternyata selarak pintu yang sengaja dipasang oleh para pengikut Ki Tandabaya sebelum mereka meninggalkan tempat itu, telah dapat dipatahkan. Dengan serta merta, pemimpin pengawal itu pun segera meloncat masuk dengan pedang terjulur kedepan, diikuti oleh tiga orang pengawal.

Namun mereka tidak menemukan seseorang. Karena itu. maka mereka pun segera melihat seluruh ruangan yang ada didalam rumah itu, yang ternyata telah menjadi kosong.

Dengan demikian, maka mereka pun segera berlari-larian keluar lewat pintu butulan, menyusul para pengikut Ki Tandabaya yang telah lebih dahulu meninggalkan rumah itu.

Sementara itu, para pengikut Ki Tandabaya itu masih bertempur di halaman belakang. Ternyata bahwa semakin lama, para pengawal yang datang mengepung mereka menjadi semakin banyak. Apalagi ketika pemimpin pengawal itu memberitahukan, bahwa rumah itu telah kosong.

“Tetapi jangan lengah,” berkata pemimpin pengawal itu, “sebagian dari kalian harus tetap mengamati keadaan.”

Meskipun beberapa orang berada di sekitar rumah itu, tetapi ternyata jumlah para pengawal yang mengepung para pengikut Ki Tandabaya itu sudah terlalu banyak, sehingga para pengikut Ki Tandabaya itu seolah-olah sudah tidak mempunyai ruang gerak lagi. Namun demikian mereka masih tetap bertempur seperti orang kehilangan ingatan. Dugul mengamuk seperti orang kerasukan iblis. Sementara kawannya yang lainpun seakan-akan tidak lagi menyadari, apa yang telah terjadi. Perasaan putus asa telah membuat mereka kehilangan akal.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang berada di pinggir arena itu pun kemudian berteriak, “Sebenarnya kalian tidak perlu berbuat seperti itu.”

“Persetan,” geram Dugul, “hanya ada dua pilihan. Membunuh atau tidak dibunuh.”

“Masih ada pilihan ketiga,” jawab pemimpin pengawal, “menyerah. Kenapa kalian tidak memikirkan kemungkinan itu. Tentu itu akan lebih baik daripada mati.”

“Kalianlah yang akan mati.” teriak salah seorang pengikul Ki Tandabaya.

“Meskipun kalian sudah berputus asa, tetapi cobalah masih melihat kenyataan yang kalian hadapi. Dan apakah keuntungan kalian jika kalian memilih mati.”

“Itu lebih baik,” teriak Dugul, “kalian tidak akan dapat memeras keterangan apapun atas kami.”

Tetapi pemimpin pengawal itu tertawa. Katanya, “Kau jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Buat apa orang orang Mataram memeras keteranganmu? Dan apakah yang kau ketahui tentang perkembangan keadaan terakhir, khususnya hubungan antara Mataram dan Pajang?”

“Persetan,” teriak Dugul.

“Agaknya kau belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Dugul tidak menjawab. Tetapi ia mengamuk semakin dahsyat. Senjatanya berputaran dengan cepatnya. Namun tidak lagi mengarah kesasaran yang memadai dengan pengarahan ilmunya.

Untuk sesaat pertempuran masih berlangsung. Beberapa orang pengawal mengepung para pengikut Ki Tandabaya. Senjata yang berdentangan telah menaburkan bunga api di udara.

Namun kemudian terdengar keluhan tertahan. Para pengikut Ki Tandabaya mulai tersentuh oleh senjata para pengawal. Ketika seorang di antara mereka tersobek lengannya, maka ia pun mengumpat-umpat dengan kasarnya.

Dalam pada itu, pemimpin pengawal itu berkata selanjutnya, “Dengarlah. Kalian tidak usah merasa diri kalian orang-orang besar yang kami butuhkan. Jika kami menangkap kalian, bukan karena kami memerlukan keterangan kalian. Kalian kami tangkap karena kalian telah melanggar tatanan hidup dan ketenteraman di Mataram. Jika kami memerlukan keterangan tentang kalian, kelompok dan orang-orang lain yang berada didalam satu lingkungan dengan kalian, maka di Mataram hari ini ada Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya. Mereka tentu lebih banyak mengetahui daripada kalian, orang-orang yang tidak berarti sama sekali, tetapi yang merasa diri terlalu besar dan penting, sehingga rela mengorbankan nyawa kalian.”

Kata-kata pemimpin pengawal itu ternyata telah menyentuh hati para pengikut Ki Tandabaya itu. Apalagi ketika terdengar seorang di antara mereka berdesis menahan pedih, ketika senjata seorang pengawal menggores dadanya.

“Kami sengaja memakai senjata yang tidak akan menimbulkan bahaya yang gawat bagi nyawa kalian, jika kalian hanya sekedar tergores,” berkata pemimpin pengawal itu, “Lihatlah. Darahmu mengalir. Itu pertanda bahwa luka itu tidak apa-apa. Tetapi jika kulit dan dagingmu menganga, tetapi tidak sedikit darah pun yang keluar, maka itu pertanda bahwa goresan senjata itu akan meminta kematian.”

“Persetan,” teriak Dugul.

“Perhatikan kata-kataku dan cobalah menilai dengan nalar bening,” berkata pemimpin pengawal.

“Aku akan membunuh kalian,” teriak Dugul, “aku tidak peduli apa yang telah terjadi. Tetapi kami hanya mempunyai dua pilihan. Membunuh atau dibunuh. Kami tidak akan memberikan pilihan lain dari keduanya.”

Pemimpin pengawal itu menegang. Nampaknya para pengikut Ki Tandabaya itu sudah sulit untuk diajak berbicara. Namun ia masih ingin mencoba sekali lagi, katanya, “Ki Sanak. Sekali lagi aku peringatkan. Kalian sama sekali tidak berarti apa-apa bagi kami. Seandainya kami terpaksa menangkap kalian matipun kami tidak akan kehilangan sumber keterangan, karena Ki Tandabaya dan Ki Lurah Pringgabaya masih ada pada tangan kami. Jika kami memperingatkan kalian, semata-mata karena kami tidak ingin membunuh. Kami ingin menyelesaikan persoalan ini dengan tanpa melepaskan nyawa sama sekali. Apakah itu nyawa kawan kami, apakah lawan kami. Karena itu, jangan merasa diri kalian lebih besar dari Ki Tandabaya sendiri, seolah-olah kami ingin menangkap kalian, karena kalian mengetahui segala masalah yang berkembang di Pajang. Sebenarnyalah kami mengetahui, bahwa kalian adalah pengikut Ki Tandabaya yang tidak tahu menahu, apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh orang itu, kecuali karena kalian adalah orang-orang yang dihidupinya dengan anak isteri kalian.”

Sekali lagi hati para pengikut Ki Tandabaya itu tersentuh. Sekali lagi mereka dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa mereka memang bukan orang-orang penting. Karena itu, apakah sudah sewajarnya jika mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka tanpa tahu ujung dan pangkal dari persoalan itu seutuhnya?

Untuk beberapa saat tidak ada yang menjawab. Meskipun pertempuran itu masih berjalan terus, tetapi para pengikut Ki Tandabaya sebagian hanyalah berusaha untuk melindungi diri.

Pemimpin pengawal dari Mataram yang berpandangan tajam itu melihat keragu-raguan dimata beberapa orang pengikut Ki Tandabaya. Karena itu, maka ia pun kemudian memberikan perintah agar para pengawal memberikan kesempatan orang-orang itu berpikir.

Beberapa orang pengawal yang sedang bertempur itu pun berloncatan surut. Ternyata para pengikut Ki Tandabaya itu tidak mengejar mereka dengan serangan-serangan. Tetapi mereka pun telah berdiri termangu-mangu meskipun senjata mereka masih merunduk.

“Pikirkan,” berkata pemimpin pengawal, “lihatlah sebaik-baiknya. Ada berapa pengawal disini yang mengepung kalian. Kawan kalian telah terluka. Apalagi? Jika kita harus bertempur terus, maka kalian sudah dapat membayangkan akhir dari pertempuran ini. Kalian akan kami tumpas habis,” pengawal itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi apakah itu niat kami datang kemari? Membunuh tanpa menghiraukan apapun juga? Tidak Ki Sanak. Kami bukan pembunuh-pembunuh yang ganas. Selama kalian masih sempat mendengarkan peringatan-peringatanku.”

Keragu-raguan semakin mencengkam hati para pengikut Ki Tandabaya. Apalagi ketika mereka melihat, bahwa para pengawal itu benar-benar mentaati perintah pemimpinnya. Mereka berdiri mengitari para pengikut Ki Tandabaya itu dengan senjata masih di tangan. Sementara itu, seperti yang dikatakan oleh pemimpin pengawal itu, bahwa jumlah para pengawal itu jauh lebih banyak dari jumlah para pengikut Ki Tandabaya itu.

Akhirnya orang yang paling disegani di antara para pengikut Ki Tandabaya itu berkata, “Kami menyerah.”

Hal itu memang sudah diduga oleh pemimpin pengawal Mataram itu. Ia pun semakin yakin ketika ia melihat, bahwa di antara para pengikut Ki Tandabaya itu nampaknya tidak seorang pun yang menolak pernyataan itu.

Namun perhatian utama dari pemimpin pengawal itu diarahkannya kepada Dugul. Ialah orang yang dianggap paling keras menentang tawaran para pengawal Mataram untuk menyerah.

Tetapi Dugul tidak dapat berbuat sendiri. Apalagi ternyata bahwa menurut pengawal itu, Ki Tandabaya sendiripun telah tertangkap.

Pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Letakkan senjata kalian.”

Terbersit keragu-raguan pula dihati para pengikut Ki Tandabaya itu. Namun kemudian mereka tidak dapat berbuat lain. Mereka pun kemudian melemparkan senjata-senjata mereka ketanah.

Demikianlah para pengawal itu telah berhasil menyelesaikan tugas mereka, dengan tidak jatuh korban.

Meskipun di antara para pengikut Ki Tandabaya ada yang terluka, dan bahkan ada iuga pengawal yang tergores senjata, namun luka-luka itu tidak akan berbahaya bagi nyawa mereka.

Pemimpin pengawal itu pun kemudian memerintahkan para pengikut Ki Tandabaya itu berkumpul. Mereka mendapat beberapa penjelasan, apa yang harus mereka lakukan

“Kami terpaksa mengikat tangan kalian, hanya selama di perjalanan,” berkata pemimpin pengawal itu.

Para pengikut Ki Tandabaya menggeram. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Karena itulah, maka seorang demi seorang dari mereka telah diikat tangannya, meskipun didepan tubuh mereka sehingga mereka masih dapat mengendalikan kuda mereka dengan baik.

“Kita akan menghadap Ki Lurah Branjangan,” berkata pemimpin pengawal itu, “aku tidak tahu pasti, apakah Raden Sutawijaya sudah kembali. Agaknya Ki Lurah sudah memerintahkan dua orang penghubung untuk memberitahukan apa yang telah terjadi di Mataram. Mungkin sekarang, Raden Sutawijaya itu sudah berada di rumahnya. Tetapi mungkin pula belum.”

Tanpa dapat membantah lagi, maka para tawanan itu pun kemudian dibawa kerumah Raden Sutawijaya. Ketika mereka memasuki regol, maka pemimpin pengawal itu sempat bertanya kepada penjaga di regol, “Apakah Raden Sutawijaya sudah kembali?”

Pengawal itu menggeleng sambil menjawab, “Belum.”

“Kenapa,” bertanya pemimpin pengawal itu.

“Aku tidak tahu,” jawab pengawal itu.

“Tetapi bagaimana dengan kedua penghubung itu?” bertanya pemimpin pengawal itu pula.

“Mereka sudah kembali. Mereka telah menghadap Ki Lurah Branjangan.”

Pemimpin pengawal itu tidak bertanya lagi. Ia pun kemudian membawa tawanannya memasuki halaman samping dan menyerahkan mereka kepada seorang pembantunya.

Pemimpin pengawal itu sendiri kemudian mencari kedua penghubung yang telah menyusul Raden Sutawijaya atas perintah Ki Juru Martani. Namun yang ditemukannya di serambi adalah Ki Lurah Branjangan.

“Ki Lurah,” bertanya pemimpin pengawal itu, “bagaimana dengan Raden Sutawijaya?”

Ki Lurah Branjangan menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Raden Sutawijaya masih ingin bermain-main dengan kuda barunya. Besok mungkin ia baru kembali.”

“Apakah Raden Sutawijaya tidak menganggap penting peristiwa yang terjadi semalam?” bertanya, pengawal itu pula.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Peristiwa itu sudah terjadi. Ternyata para pengawal dapat mengatasi kesulitan itu dan bahkan menangkap beberapa orang di antara mereka yang telah membuat kekacauan di halaman ini. Karena itu, maka bagi Raden Sutawijaya tidak akan ada gunanya lagi tergesa-gesa. Apakah Raden Sutawijaya kembali sekarang atau besok, akibatnya akan sama saja.”

Pemimpin pengawal itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata peristiwa yang menggemparkan itu sama sekali tidak mengejutkan Raden Sutawijaya. Mungkin ia sudah cukup pereaya kepada para pengawal, kepada Ki Lurah Branjangan dan kepada Ki Juru. Namun nampaknya Ki Juru sendiri tidak banyak mencampuri persoalan masuknya beberapa orang kehalaman rumah itu.

Tetapi pemimpin pengawal itu tidak bertanya lebih lanjut. Sedikit banyak ia mengerti sifat Raden Sutawijaya. Ia mengerti ketajaman penggraitanya, sehingga jika terjadi sesuatu yang berbahaya, maka tanpa ada orang yang menyusulnya, ia tentu sudah berada di Mataram.

Dalam pada itu, maka para pengikut Ki Tandabaya itu pun segera dimasukkan kedalam satu ruang tertutup yang dijaga kuat. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi atas Ki Tandabaya. Meskipun mereka mendengar para pengawal mengatakan sesuatu tentang Ki Tandabaya, namun kepastian tentang dirinya tetap merupakan teka-teki.

Dalam pada itu, Ki Tandabaya sendiri yang berada didalam sebuah bilik yang tertutup pula masih saja selalu mengumpat-umpat. Ia sadar, bahwa pada suatu saat, tangan dan kakinya itu akan pulih dengan sendirinya. Tetapi itu memerlukan waktu yang cukup panjang. Mungkin sampai menjelang senja, ia masih harus berbaring diam.

Namun karena kemarahan yang mendorong Ki Tandabaya untuk berbuat sesuatu, maka agaknya kaki dan tangannya itu dapat pulih lebih cepat dari yang diduganya. Ketika matahari mulai condong, maka Ki Tandabaya sudah mulai dapat menggerakkan anggauta badannya. Sedikit demi sedikit. Namun karena kemauannya yang keras, ia pun akhirnya dapat bangkit dan duduk di pembaringannya.

“Gila,” geramnya, “orang Mataram memang gila.”

Namun suaranya yang membentur dinding kayu yang rapat itu bergaung tanpa arti. Tidak ada seorang pun yang akan menanggapinya, betapapun ia mengumpat-umpat. Bahkan seandainya ia berteriak-teriak pun tidak akan ada yang mempedulikannya.

Ki Tandabaya menegang ketika ia mendengar selarak pintu berderak diluar. Rasa-rasanya ia ingin meloncat dan menerkam siapapun yang membuka pintu itu. Ia dapat melarikan diri, meskipun seandainya sebatang anak panah akan mengejarnya dan menembus punggungnya. Kematian merupakan penyelesaian yang paling baik baginya dalam keadaan yang demikian.

Sekali sekali ia mengumpat, Ki Lurah Pringgabaya. “Jika orang itu tidak tertangkap, dan jika saja isterinya yang tidak sah itu bukan seorang perempuan yang cantik, mungkin ia tidak akan begitu cepat terdorong kedalam neraka yang sempit itu.”

Tetapi tenaga Ki Tandabaya tidak memungkinkan. Ia baru dapat bangkit dan duduk dipembaringannya. Ia belum dapat beringsut terlalu jauh dan apalagi berdiri tegak.

Sejenak kemudian, maka pintu yang tebal dan berat itu pun terbuka. Jantungnya bagaikan retak ketika ia melihat Ki Lurah Pringgabaya berdiri tegak dimuka pintu sambil memegang sebatang anak panah dalam ukuran kecil.

Karena tubuh Ki Tandabaya yang masih belum pulih sama sekali itu masih belum dapat menghentak-hentak, melepaskan gejolak perasaannya, maka hanya sorot matanya sajalah yang memancarkan betapa panas isi dadanya.

“Selamat datang Ki Tandabaya,” tiba-tiba saja Ki Pringgabaya telah menyapanya.

Ki Tandabaya menggeretakkan giginya. Katanya, “Apakah aku melihat Ki Lurah Pringgabaya atau sekedar bayangan hantunya yang ngelambrang tanpa sandaran?”

Ki Pringgabaya tersenyum. Katanya, “Jangan marah. Aku telah berada ditempat ini lebih dahulu. Sejak aku datang ketempat ini, aku sudah minta agar aku dibunuh saja. Atau beri kesempatan aku sekali lagi berperang tanding melawan Senapati Ing Ngalaga. Tetapi permintaanku itu tidak pernah dikabulkan. Dengan berbagai cara aku sudah berusaha agar aku dibunuh saja. Melarikan diri, melawan para penjaga dan bahkan aku pernah menyerang Senapati Ing Ngalaga ketika ia menengokku di bilikku untuk memberitahukan kepadaku, bahwa ia telah mengundang beberapa orang perwira Pajang. Bukankah perbuatan itu sudah keterlaluan? Namun sampai sekarang aku tetap hidup meskipun aku benar-benar ingin mati.”

“Kenapa kau tidak lari sekarang ini?” bertanya Ki Tandabaya.

“He, apakah kau tidak melihat, bahwa di sekitar tempat ini terdapat beberapa orang pengawal?” sahut Ki Lurah Pringgabaya.

“Bukankah kau tidak takut mati?” bertanya Ki  Tandabaya pula.

Tetapi Ki Pringgabaya tertawa. Katanya, “Aku memang ingin mati. Tetapi itu sudah lewat. Sejak aku menemukan anak panah ini, maka keinginanku itu justru lenyap seperti embun dihapus oleh panasnya matahari.”

Jantung Ki Tandabaya menggelepar. Rasa-rasanya isi dadanya telah terguncang oleh jawaban Ki Pringgabaya itu. Namun justru untuk sesaat Ki Tandabaya bagaikan terbungkam tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun juga.

Pada saat-saat Ki Tandabaya tegak mematung dengan wajah tegang, Ki Lurah Pringgabaya justru tersenyum. Katanya, “Kau tidak usah terkejut mendengar jawabanku. Kau tentu mengerti maksudku.”

“Tidak,” tiba-tiba saja Ki Tandabaya menggeram. “Aku tidak mengerti. Apakah yang sebenarnya kau maksudkan?”

Ki Lurah Pringgabaya itu masih saja tersenyum. Katanya, “Jangan berpura-pura. Kau tentu mengenal anak panah ini.”

“Darimana itu kau dapat?” Ki Tandabaya lah yang kemudian bertanya.

“Aku dapat anak panah ini dari bilik sebelah,” Ki Pringgabaya berhenti sejenak, lalu, “maksudku, aku telah dibawa oleh para pengawal Mataram untuk memasuki bilik sebelah. Dan aku menemukan anak panah ini.”

“Kau tahu, darimanakah asal anak panah itu?” bertanya Ki Tandabaya

“Tentu. Para pengawal itu telah memberitahukan kepadaku, apa yang telah terjadi semalam. Memang aneh, bahwa seorang abdi Kepatihan Pajang telah datang ke Mataram, sekedar untuk melepaskan anak panah dengan sasaran seonggok jerami. Apa maksudmu?” bertanya Ki Pringgabaya. Bahkan dilanjutkannya, “Selebihnya kau telah mempertaruhkan badan dan nyawamu untuk permainan yang aneh itu.”

“Jangan melingkar-lingkar,” potong Ki Tandabaya yang masih tetap duduk dipembaringan. Betapapun darahnya menggelegak, namun ia masih dipengaruhi oleh sentuhan tangan pengawal di sudut halaman itu. Namun yang lambat laun mulai terasa semakin longgar.

“Aku berkata lurus,” jawab Ki Pringgabaya.

“Katakan, bahwa pengawal-pengawal itu sudah memberitahukan kepadamu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kau datang untuk menuduhku sesuai dengan keterangan para pengawal itu, bahwa aku telah berusaha untuk membunuhmu,” geram Ki Tandabaya.

“O,” Ki Lurah Pringgabaya terkejut, “apakah memang demikian? Apakah kau datang dengan mengemban perintah untuk membunuhku?”

“Kau sudah gila,” geram Ki Tandabaya, “marilah kita berbicara wajar, tanpa sikap pura-pura. Kau tentu sudah tahu bahwa aku datang dengan membawa perintah membunuhmu. Dan aku sudah mencoba melaksanakannya. Tetapi aku gagal. Dan bahwa kau sudah mengetahui ternyata bahwa kau membawa anak panah itu kepadaku dan kaupun telah mengatakan bahwa justru karena itu, maka keinginanmu untuk mati itu telah lewat.”

Ki Pringgabaya tertawa. Katanya, “Tepat. Kau menangkap sikapku dengan tepat.”

“Lalu apa maksudmu? Kau mendendam?” bertanya Ki Tandabaya.

Sejenak Ki Pringgabaya termangu-mangu. Ia pun kemudian berpaling, memandang para pengawal yang mengawasinya dari kejauhan. Namun nampaknya mereka sudah siap bertindak, apabila Ki Pringgabaya melakukan sesuatu yang mencurigakan.

“Ki Tandabaya,” berkata Ki Pringgabaya kemudian, “aku memang mendendam, karena aku tahu kenapa kau dengan sungguh-sungguh dan penuh gairah melakukan tugas yang dibebankan kepadamu.”

Wajah Ki Tandabaya menjadi merah. Tetapi karena tubuhnya yang masih lemah, maka ia masih tetap berada ditempatnya.

“Menurut pikiranmu?” bertanya Ki Tandabaya dengan suara berat.

Ki Pringgabaya tertawa tertahan. Katanya, “Kita sekarang bersama-sama berada ditempat ini. Orang lainlah yang akan menemukan perempuan yang tentu menjadi kesepian.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya.

“Kau tidak usah marah-marah. Keadaanmu tidak menguntungkan. Jika kau memaksa diri berbuat sesuatu, maka kau akan terjatuh dan mengalami kesulitan untuk bangkit dan kembali duduk dipembaringanmu.”

“Kekuatanku sudah pulih,” geram Ki Tandabaya.

“Jangan kelabui dirimu sendiri,” sahut Ki Lurah Pringgajaya.

“Sekarang kau mau apa?” bertanya Ki Tandabaya, “kau akan membunuhku dengan anak panah itu?”

“Ki Tandabaya. Kedudukanmu sekarang sama seperti kedudukanku. Kau atau aku atau kita bersama-sama, akan dapat menjadi sumber keterangan yang berbahaya bagi kawan-kawan kita di Pajang. Jika karena hal itu, maka pemimpin-pemimpin kita menentukan, bahwa aku harus mati, maka aku kira hal itu akan berlaku juga bagimu.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya.

Ki Lurah Pringgabaya tertawa. Katanya, “Bukankah yang kau ketahui dan apa yang aku ketahui tidak akan bertaut banyak? Karena itu, maka akibat dari nasib kita yang buruk ini pun tidak akan jauh berbeda.”

“Kau akan membunuh aku lebih dahulu?” bertanya Ki Tandabaya.

“Alangkah mudahnya membunuhmu sekarang,” berkata Ki Lurah Pringgabaya, “aku akan dapat tanpa kesulitan apapun menghunjamkan anak panah yang mungkin beracun ini ketubuhmu yang masih belum mempunyai kekuatan itu sama sekali.”

“Licik. Pengecut,” geram Ki Tandabaya.

Ki Pringgabaya masih tertawa. Katanya, “Kenapa hcik? Bukankah yang kau lakukan itu pun licik sekali jika kau berhasil? Untunglah bahwa kau telah gagal.”

“Aku sudah cukup kuat untuk melawanmu,” geram Ki Tandabaya.

“O, jangan mengelabui diri sendiri,” Ki Lurah Pringgabaya justru tertawa semakin keras.

“Baiklah,” berkata Ki Tandabaya, “jika kau tidak berani menunggu kekuatanku pulih kembali, karena kau sudah mengetahui tingkat ilmuku yang jauh melampaui tingkat ilmumu, bunuhlah aku sekarang. Itu akan sangat baik bagiku.”

Ki Lurah Pringgabaya merenung sejenak. Kerut merut dikeningnya nampak menjadi dalam oleh keresahan didalam hatinya. Namun akhirnya ia berkata, “Manakah yang lebih baik menurutmu. Apakah aku harus membunuhmu sekarang atau tidak.”

“Kau memang seorang pengecut yang cengeng. Lakukan jika kau memang ingin melakukannya. Mengapa kau menjadi ragu-ragu, padahal membunuh adalah pekerjaanmu?” bertanya Ki Tandabaya.

Ki Lurah Pringgabaya lah yang kemudian menjadi tegang. Dipandanginya Ki Tandabaya dengan tajamnya. Orang itu masih tetap lemah meskipun Ki Pringgabaya-pun mengerti, bahwa sebentar lagi Ki Tandabaya akan terlepas dari akibat sentuhan tangan pada urat-uratnya. Perlahan-lahan kekuatan Ki Tandabaya akan pulih kembali sehingga akhirnya ia akan menemukan dirinya sewajarnya.

Tetapi Ki Lurah Pringgabaya masih tetap berdiri. Bahkan kemudian sekali lagi ia berpaling. Ia melihat beberapa orang pengawal telah memandanginya pula. Agaknya waktu yang disediakannya untuk menjumpai kawannya itu sudah hampir habis.

“Ki Tandabaya,” berkata Ki Lurah Pringgabaya, “ternyata kau sudah terjerat oleh kesombonganmu. Kau menganggap bahwa Mataram ini tidak mempunyai kekuatan sama sekali, sehingga kau memberanikan diri memasuki halaman rumah ini untuk membunuhku. Aku tahu apa yang bakal terjadi, ketika aku dipindahkan dari bilikku itu. Meskipun demikian, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang pengawal nampaknya dengan sengaja memberitahukan kepadaku, bahwa malam itu akan datang seseorang untuk membunuhku, sehingga karena itu aku harus dipindahkannya.”

“Untuk apa kau katakan semuanya itu?” bertanya Ki Tandabaya.

“Dengarlah kelanjutannya,” jawab Ki Lurah yang masih tetap berdiri dipintu, “hari ini aku mendapati anak panah ini didalam bilikku. Aku tahu apa yang terjadi dengan pasti setelah aku melihat bagaimana anak panah ini masih menancap ditempatnya dan lubang-lubang pada atap bilik itu.”

adbm-139-04“Cepat katakan, bahwa kau mendendam dan akan membunuhku sekarang dengan anak panah itu meskipun tanpa busurnya, justru karena aku tidak dapat melawan,” Ki Tandabaya hampir berteriak.

Tetapi Ki Tandabaya terkejut ketika ia mendengar jawaban. “Tidak. Aku tidak akan melakukannya sekarang, meskipun aku telah digelitik oleh satu keinginan untuk melakukannya.”

“Kenapa? Kau sudah menjadi cengeng? Licik atau pengecut? Atau kau justru menjadi terlalu sombong dan merasa dirimu seorang pengampun?” geram Ki Tandabaya.

Ki Pringgabaya menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku bukan pengampun. Aku adalah pendendam yang akan melepaskan dendamku setiap ada kesempatan. Aku juga seorang pembunuh yang tidak mengenal ampun dan belas kasihan. Karena itu maka aku memang akan membuat perhitungan denganmu. Tetapi tidak sekarang. Justru pada saat kita mengalami nasib serupa.”

“Kesombonganmu memang tidak dapat dimaafkan. Jika kau tidak mau melakukan sekarang dan menunggu kekuatanku pulih kembali, maka aku akan benar-benar membunuhmu,” Ki Tandabaya hampir membentak.

“Terserahlah apa yang akan kau katakan. Namun jika pada suatu saat kau membunuhku, maka itu berarti bahwa kau akan menanggungkan sendiri tekanan-tekanan orang Mataram untuk mengetahui segala sesuatu mengenai lingkungan kita di Pajang,” jawab Ki Lurah Pringgabaya.

“Gila. Kau memang orang gila. Apakah sebenarnya maksudmu dengan segala macam ceritera, ancaman dan sifat kegila-gilaanmu ini?” bertanya Ki Tandabaya yang sedang marah itu.

“Sabarlah,” berkata Ki Lurah Pringgabaya, “aku sendiri memang bukan orang yang dapat selalu bersabar. Tetapi dengarlah. Aku datang dengan alat yang dapat aku pergunakan untuk membunuhmu. Tetapi dengan demikian, seperti yang aku katakan, jika salah seorang dari kita mati, maka beban itu akan diletakkan seluruhnya diatas pundak salah seorang dari kita yang masih hidup. Lebih dari itu, sebenarnyalah orang Mataram memang menghendaki aku datang untuk membunuhmu. Tetapi sudah barang tentu bahwa dengan demikian, jika aku melakukannya, aku sudah berbuat satu kebodohan yang tidak dapat dimaafkan.”

Ki Tandabaya menegang sejenak. Lalu, “Kenapa?”

“Kecuali untuk membagi beban, kita harus membuktikan kepada orang-orang Mataram, bahwa kita bukan serigala yang akan saling menggigit pada saat-saat kita kelaparan.”

Sejenak Ki Tandabaya termangu-mangu. Ia mulai mengerti maksud Ki Lurah Pringgabaya sebenarnya. Meskipun ia pun sadar bahwa hal itu hanya akan bersilat sementara. Ki Tandabaya pun tahu pasti, bahwa Ki Lurah Pringgabaya adalah seorang yang tidak mudah melupakan peristiwa yang menyangkut dirinya, apalagi menyakiti hatinya. Ia pun bukan orang yang harus berpikir dua tiga kali jika ia sudah bertekad untuk membunuh.

Meskipun demikian, ia pun mengerti, bahwa dihadapan orang-orang Mataram Ki Lurah Pringgabaya tidak bersedia untuk diperlakukan sebagai cengkerik aduan yang harus berkelahi di antara mereka untuk memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Karena itu, maka Ki Tandabaya pun berkata, “Aku mengerti maksudmu. Tetapi apakah kau berkata dengan jujur?”

“Ya. Aku berkata dengan jujur. Aku pun telah berkata dengan jujur pula, bahwa pada suatu saat aku akan membuat perhitungan denganmu, karena aku sadar, bahwa kemampuanmu tidak lebih baik dari kemampuanku. Setidak-tidaknya jika kita terlibat dalam perang tanding yang jujur, kesempatanmu dan kesempatanku akan sama,” jawab Ki Lurah Pringgabaya.

“Baik. Aku terima sikapmu sekarang. Tetapi jangan kau anggap bahwa aku minta belas kasihanmu sekarang ini,” geram Ki Tandabaya.

Ki Lurah tertawa. Katanya, “Terima kasih. Jika demikian, aku akan pergi. Mungkin kita pada suatu saat harus bersama-sama mencari jalan untuk keluar, meskipun di Pajang kita akan berkelahi sampai salah seorang dari kita mati, karena tidak mungkin seorang perempuan harus menerima kita berdua bersama-sama.”

“Persetan,” geram Ki Tandabaya, “sebaiknya kau menutup mulutmu. Jika persoalanmu sudah selesai, sebaiknya kau pergi. Ternyata keadaanku sudah berangsur baik. Sebentar lagi kekuatanku akan pulih kembali.”

“Tentu tidak segera sehingga kita dapat bersama-sama melawan para pengawal,” desis Ki Lurah Pringgabaya.

Ki Tandabaya mengerutkan keningnya. Ia mengerti maksud Ki Lurah Pringgabaya, apakah ia mampu berbuat sesuatu dalam waktu dekat untuk melepaskan diri bersama Ki Lurah Pringgabaya atau untuk mati bersama-sama. Namun ia pun sadar, bahwa sebenarnya Ki Lurah Pringgabaya telah mendendamnya dan justru karena itu, ia segan mati sebelum ia sempat melepaskan dendamnya itu.

Karena itu, maka Ki Tandabayapun kemudian menjawab, “Pergilah. Aku tidak akan dapat memulihkan kekuatan dan kemampuanku segera. Aku memerlukan waktu, meskipun seandainya kau mencoba memulihkan urat syarafmu yang telah disentuh oleh pengawal gila itu.”

Ki Pringgabaya pun telah mendengar apa yang telah terjadi dengan Ki Tandabaya. Ia pun merasa heran, bahwa ada seorang pengawal Mataram yang memiliki kemampuan sedemikian tinggi sehingga ia dapat memperlakukan Ki Tandabaya sesuka hatinya. Karena Ki Lurah itu pun mengerti, bahwa Ki Tandabaya bukan seorang yang tidak memiliki bekal cukup. Ia berani memasuki halaman itu, tentu sudah memperhitungkan setiap kemungkinan. Sebenarnya perhitungan itu tepat sekali, karena pada saat-saat itu Raden Sutawijaya tidak sedang berada di Mataram. Namun ternyata usaha Ki Tandabaya itu pun gagal.

“Tentu bukan Ki Juru pula yang melakukannya,” berkata Ki Pringgabaya didalam hatinya. Ki Juru sudah terlalu tua ditilik dari sikap, umur dan suara pengawal yang menangkap Ki Tandabaya itu menurut pendengarannya dari para pengawal yang mungkin dengan sengaja telah berceritera kepadanya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Pringgabaya pun melangkah surut. Namun ia masih sempat berkata, “Aku akan menyimpan kenang-kenangan ini untuk sepanjang umurku. Anak panah ini bukan saja melambangkan tugas yang harus kau emban, tetapi juga melambangkan pengkhianatanmu atas kawan sendiri.”

“Kau tidak akan terlalu lama menyimpan anak panah itu,” jawab Ki Tandabaya, “karena kau akar cepat mati. Demikian tenaga dan kemampuanku pulih, maka aku akan mencari kesempatan untuk membunuh mu, meskipun aku masih berada dibawah pengawasan orang-orang Mataram.”

Ki Pringgabaya tertawa. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Dalam pada itu, demikian Ki Pringgabaya mundur beberapa langkah menjauhi pintu bilik Ki Tandabaya, beberapa pengawalpun segera mendekatinya. Seorang di antara mereka segera menutup pintu yang tebal itu, dan menyelaraknya dari luar.

“Sudah cukup?” bertanya seorang perwira pengawal.

Ki Pringgabaya tertawa. Katanya, “Aku tidak dapat melakukannya.”

“Apa?” bertanya perwira itu.

“Membunuhnya,” jawab Ki Lurah Pringgabaya.

“He,” wajah perwira pengawal itu menjadi tegang, “apakah kau akan membunuhnya?”

“Bukankah itu yang kau maksud? Bukankah kau memberi kesempatan kepadaku melihat keadaan Tandabaya dan memberikan anak panah ini agar aku membunuhnya?” bertanya Ki Lurah Pringgabaya.

Wajah perwira itu menegang. Katanya dengan nada datar, “Terima kasih bahwa hal itu tidak kau lakukan.”

Ki Lurah Pringgabaya lah yang terkejut. Ia mengharap bahwa perwira itu menjadi kecewa dan mengumpatinya bahwa ia tidak membunuh Ki Tandabaya. Tetapi agaknya perwira itu justru bersukur bahwa hal itu tidak dilakukannya.

Selagi Ki Lurah Pringgabaya termangu-mangu, perwira itu berkata, “Ternyata aku salah hitung. Jika aku mengijinkan kau bertemu dengan Ki Tandabaya itu, karena aku mempunyai maksud yang lain.”

“Bukan kau mengijinkan aku menemuinya. Aku sama sekali tidak berniat. Tetapi kaulah yang mendorong aku untuk datang kepadanya dan menunjukkan anak panah ini selagi keadaan Ki Tandabaya masih belum pulih kembali. Bukankah dengan demikian kau bermaksud aku membunuhnya,” bertanya Ki Lurah Pringgabaya.

Tetapi perwira itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin kau bertemu dan saling menyadari bahwa kalian berdua tidak akan ada gunanya lagi untuk saling melindungi. Kalian telah berhadapan sebagai dua orang yang akan saling membunuh, sehingga dengan demikian kalian harus menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi kalian menyimpan rahasia di antara kalian masing-masing, dan saling menutupi.”

Ki Lurah Pringgabaya lah yang kemudian menggeram. Sekilas ia berpaling. Ketika terlihat olehnya wajah perwira itu menegang, maka ia pun kembali memandang lurus kedepan. Namun dalam pada itu ia melihat beberapa orang prajurit yang mengiringkan-nya telah bersiap dengan senjata telanjang.

Dalam pada itu, perwira itu pun kemudian berkata, “Jika hal itu benar-benar terjadi, maka kematian Ki Tandabaya akan berarti keadaan yang gawat bagiku. Raden sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga tentu akan marah.”

Ki Lurah Pringgabaya tidak menjawab.

“Karena itu, cobalah pikirkan sebaik-baiknya,” berkata perwira itu, “apakah menurut pertimbanganmu, kau masih akan saking melindungi Sementara kalian masing-masing telah siap untuk saling membunuh?”

Ki Lurah Pringgabaya sama sekali tidak menjawab. Namun dalam pada itu, keduanya telah berada dimuka bilik Ki Pringgabaya.

“Silahkan masuk Ki Lurah,” berkata perwira itu, “sebaiknya anak panah itu kau letakkan saja. Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat merugikan dirimu sendiri.”

Ki Pringgabaya tidak membantah. Dilemparkannya anak panah itu ketanah, karena anak panah itu tidak akan berarti banyak baginya. Kemudian dengan kepala tunduk ia memasuki biliknya kembali.

Sejenak kemudian terdengar pintu berderit. Demikian pintu yang berat dan tebal itu tertutup rapat, maka pintu itu pun segera diselarak pula.

Kembali Ki Pringgabaya termenung. Ia telah salah mengartikan maksud pengawal itu, yang kemudian bahkan mendesaknya untuk tidak saling melindungi dengan Ki Tandabaya.

Untuk beberapa saat ia merenung. Apakah ia akan dapat memenuhi desakan pengawal itu, sehingga itu akan berarti bahwa ia harus mengatakan apa saja tentang diri Ki Tandabaya dan sebaliknya Ki Tandabaya pun tentu akan mengatakan segala sesuatu yang diketahui tentang dirinya.

Namun tiba-tiba Ki Lurah Pringgabaya menggeram. Katanya, “Aku masih mempunyai keyakinan, bahwa Ki Tandabaya tidak akan mengatakan apa-apa. Meskipun pada saatnya aku dan Ki Tandabaya akan saling membunuh, tetapi tentu karena sebab lain. Bukan karena kami harus saling membunuh akibat tugas kami masing-masing. Jika Ki Tandabaya akan membunuhku pendorong utamanya tentu perempuan itu, meskipun mungkin orang-orang tertentu memang memerintahkan demikian.”

Dengan demikian, maka Ki Lurah Pringgabaya akan tetap pada sikapnya. Ia tidak akan mengatakan apa-apa. Ia akan diam apapun yang harus dialami. Ia sudah bertekad untuk tetap pada sikapnya itu, karena apa yang dialaminya itu adalah akibat yang wajar dari tugas yang sudah disanggupinya.

Dibagian lain dari rumah itu, didalam bilik yang lebih besar, beberapa orang pengikut Ki Tandabaya duduk tepekur. Satu dua di antara mereka sempat mengumpat-umpat. Namun Dugul sendiri duduk di sudut bersandar dinding.

“Gila,” kawannya menggeram. “Ternyata Dugul itu sempat tidur.”

“Tidak ada masalah baginya,” geram seorang kawannya, “ia sudah terlalu biasa mengalami hal seperti ini. Berpuluh tahun ia menjadi seorang pencuri yang disegani. Bahkan ada yang menganggap bahwa Dugul mampu melenyapkan diri dengan aji Panglimunan. Ada pula yang menganggap orang itu memiliki aji Welut Putih sehingga tidak akan mungkin dapat tertangkap.”

“Tetapi sekarang ia tertangkap,” sahut yang lain.

“Ia berada ditempat yang tabu bagi kekuatan ilmunya sehingga ilmunya tidak dapat dipergunakannya,” jawab kawannya.

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Ada seseorang yang mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi ia justru mengumpat sendiri.

Dalam pada itu, salah seorang dari mereka tiba tiba saja berdesis, “Dimanakah kira-kira pemilik rumah itu?”

“Mungkin ia juga sudah ditangkap,” sahut yang lain.

“Orang itu tentu mendapat perlakuan yang khusus, ia akan mengalami hukuman yang tentu lebih berat dari kita, karena ia sudah berkhianat.”

Kawan-kawannya tidak memberikan tanggapan. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing.

Namun sementara itu, Ki Tandabaya mencoba memperhitungkan keadaannya sebelum ia melakukan tugas itu. Tiba-tiba saja ia teringat kepada saudara seperguruan Ki Lurah Pringgajaya, yang merubah namanya menjadi Partasanjaya.

“Apakah orang itu telah berkhianat,” tiba-tiba saja Ki Tandabaya menggeram.

Sekilas terbayang sikap Ki Partasanjaya yang semula bernama Ki Pringgajaya, yang telah berhasil menyelamatkan dirinya dari sorotan mata keprajuritan Untara karena berita kematiannya.

“Apakah Ki Partasanjaya itu telah berkhianat,” pertanyaan itu timbul di hati Ki Tandabaya berkali-kali.

Namun demikian ia meragukannya. Bagaimanapun juga, maka kepentingan mereka dalam satu kesatuan sikap akan lebih berharga dari kepentingan mereka secara pribadi.

Tetapi tiba-tiba saja Ki Tandabaya itu memejamkan matanya, seolah-olah ia tidak mau melihat, peristiwa tentang dirinya. Bahwa ia justru telah memanfaatkan tugasnya untuk kepentingan pribadinya.

“Persetan,” geram Ki Tandabaya, “itu tugasku. Membunuhnya. Tugas itu semula akan diserahkan kepada Ki Pringgajaya yang bernama Partasanjaya itu. Tetapi adalah salahnya jika ia menolak.”

Meskipun demikian, kecurigaan dihati Ki Tandabaya itu tidak dapat dilupakannya. Selain Ki Lurah Pringgabaya yang harus dibunuhnya itu adalah adik seperguruan Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Ki Partasanjaya, juga karena Ki Partasanjaya itu nampaknya tertarik juga kepada perempuan yang ditinggalkan oleh Ki Pringgabaya itu.

Selagi orang-orang yang tertawan itu sedang merenungi keadaannya, maka dipasangggrahannya Raden Sutawijaya sibuk memandikan kudanya. Kudanya yang baru itu nampaknya sangat menyenangkan, sehingga ia sendiri membawa kuda itu kesebuah belik dan memandikannya, dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Raden Sutawijaya terkejut ketika ia melihat dua orang berkuda menyusulnya. Bukan saja dari pesanggrahan, tetapi agaknya dari Mataram.

“Ki Lurah Branjangan,” desis Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan segera meloncat turun ketika ia sudah mendekati belik itu. Sambil memandangi kuda itu ia bergumam, “Bagus sekali Raden. Tetapi kenapa Raden memandikannya sendiri.”

“Aku senang sekali dengan kuda itu,” jawab Raden Sutawijaya sambil mengelus bulu suri kudanya, “agaknya kuda ini akan dapat menjadi kuda yang cakap.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian mendekati Raden Sutawijaya. Ia pun mengamati kuda itu dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kuda yang bagus sekali.” Namun kemudian ia pun bertanya, “langit mulai buram. Apakah Raden tidak akan kembali ke Mataram.”

“Sudah aku katakan kepada utusan itu, aku akan pulang besok,” jawab Raden Sutawijaya.

“Ada beberapa orang tersimpan di Mataram. Selain Ki Pringgabaya dan Ki Tandabaya, maka pengikut-pengikutnya pun telah kami tangkap.”

“Ya. Aku tahu. Aku sudah mendapat laporannya. Tetapi sudah aku katakan, aku akan kembali besok. Kau sajalah bermalam disini. Sebentar lagi hujan turun,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu Raden Sutawijaya berkata, “Jangan gelisah. Paman Juru ada di rumah.”

“Aku memang tidak gelisah, Raden. Sebagaimana ternyata bahwa Ki Tandabaya itu pun dapat tertangkap dengan mudah,” sahut Ki Lurah, “tetapi perkembangan masalahnya akan cepat menjalar sampai ke Pajang.”

Raden sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil bertanya, “Bagaimana dengan Ki Tandabaya?”

“Aku mengenal Raden seperti aku mengenal diriku sendiri,” berkata Ki Lurah Branjangan, “karena itu, aku segera dapat mengenal siapa yang telah menangkap Ki Tandabaya.”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “bukankah dengan demikian aku tidak perlu tergesa-gesa kembali ke Mataram?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang tertangkap kemudian adalah seorang pengawal Kepatihan Pajang. Bukankah dengan demikian Pajang akan menjadi sangat tertarik dengan peristiwa yang berturut-turut itu. Jika semula Raden Sutawijaya mengundang beberapa orang perwira Pajang untuk bertemu dengan Ki Pringgabaya namun yang sampai sekarang belum seorang pun yang datang, maka dengan tertangkapnya Ki Tandabaya, maka mungkin sekali mereka akan segera merubah sikap.”

“Tetapi tentu tidak sekarang atau malam nanti,” jawab Raden Sutawijaya, “karena itu, beristirahatlah. Besok kita akan bersama-sama kembali ke Mataram.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksa. Karena itu, ia justru bermalam di pasanggrahan itu bersama seorang pengawal. Di esok harinya mereka akan kembali ke Mataram.

Tetapi malam itu Ki Lurah merasa gelisah. Di Mataram ada dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun di Mataram ada Ki Juru Martani, namun yang digelisahkannya adalah justru jika orang-orang Pajang mengambil tindakan sepihak untuk mengambil kedua orang yang mereka dianggap penting itu.

Namun Ki Lurah Branjangan itu terkejut ketika lamat-lamat ia mendengar derap kaki kuda. Sudah agak jauh. Tidak menuju ke pasanggrahan itu, namun justru menjadi semakin jauh. Hanya karena ketajaman pendengarannya sajalah maka ia dapat mendengarnya.

Ki Lurah yang berbaring itu pun kemudian bangkit dan duduk di bibir pembaringannya. Kawannya masih tidur dengan nyenyaknya. Sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Lurah Branjangan itu berkata didalam hatinya, “Tentu Raden Sutawijaya sedang menuju ke Mataram. Luar biasa. Menurut pendengaranku, derap itu hanyalah derap kaki seekor kuda. Agaknya ia pergi seorang diri seperti ketika ia menangkap Ki Tandabaya itu.”

Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang aneh dihati Ki Lurah Branjangan. Dari Ki Juru ia mendapat perintah untuk mengatur bilik yang semula dipergunakan oleh Ki Lurah Pringgabaya untuk menjebak Ki Tandabaya.

“Bagaimana munggkin Ki Juru itu dapat mengerti, apa yang akan terjadi?” desis Ki Lurah Branjangan, “begitu rapatnya sumber keterangan itu, sehingga aku sendiri tidak mengerti, petugas sandi yang manakah yang telah berhasil memberitahukan kemungkinan datangnya Ki Tandabaya itu.”

Dalam kegelisahan itu, hampir semalam suntuk Ki Lurah Branjangan tidak dapat tidur. Namun menjelang pagi, diluar sadarnya, ia telah terlena beberapa saat. Justru pada saat-saat ia ingin mendengar derap kaki kuda yang lamat-lamat itu datang mendekat.

Ki Lurah Branjangan terkejut ketika ia mendengar desir langkah diluar biliknya. Tergagap ia bangun. Kemudian bangkit perlahan-lahan. Desir itu masih terdengar. Karena itu, maka perlahan-lahan ia membuka selarak pintu. Demikian ia membuka pintu dengan hati-hati terdengar suara diluar, “Kau sempat tidur Ki Lurah.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun melangkah keluar sambil berkata, “Selamat pagi Raden.”

Raden sutawijaya tersenyum, katanya, “Nampaknya kau sempat tidur nyenyak.”

“Ya, ya Raden. Semalam suntuk aku tidur nyenyak,” jawab Ki Lurah, “dan sepagi ini Raden sudah berada di serambi gandok.”

“Menjadi kebiasaanku. Setiap pagi aku berjalan-jalan didini hari. Kadang-kadang mengelilingi halaman pesanggrahan ini. Tetapi kadang-kadang aku berjalan keluar mengelilingi padukuhan ini,” jawab Raden Sutawijaya.

“Dan pagi ini Raden mengelilingi daerah yang lebih luas?” bertanya Ki Lurah.

Tetapi Raden Sutawijaya menggeleng. Jawabnya, “Kebetulan aku hanya berjalan-jalan di halaman saja.”

“Tanpa seorang pun yang mengawani Raden?” desis Ki Lurah.

Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Aku jarang dikawani oleh siapapun. Dan agaknya aku masih mempunyai cukup keberanian untuk berjalan jalan seorang diri di dini hari. Biasanya hantu-hantu hanya turun di tengah malam. Jika langit sudah membayang warna fajar, hantu-hantu menjadi ketakutan dan kembali ke alamatnya.”

“Ah, Raden.” desis Ki Lurah sambil tertawa, “mungkin Raden benar.” Ki Lurah berhenti sejenak, lalu, “tetapi bukankah hari ini Raden akan kembali ke Mataram?”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “kita akan kembali.”

“Pagi, siang atau saat-saat lain?” bertanya Ki Lurah pula.

“Pagi-pagi. sebelum udara menjadi panas,” jawab Raden Sutawijaya.

“Jika demikian, baiklah aku berkemas Raden,” berkata Ki Lurah.

“Silahkan mandi Ki Lurah. Aku sudah mandi. Air sumur itu terasa hangat dan segar di dini hari,” berkata Raden Sutawijaya sambil melangkah, “aku akan berjalan-jalan lagi sampai matahari terbit. Kemudian kita akan segera berangkat.”

Ki Lurah Branjangan hanya dapat mengangguk saja. Dipandanginya saja Raden Sutawijaya yang kemudian turun di halaman dan berjalan-jalan dalam keremangan fajar menuju ke regol dan hilang ke balik pintu regol turun kejalan.”

“Luar biasa,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian kepada diri sendiri. Namun ia pun kemudian masuk kembali kedalam biliknya di gandok. Dibangunkannya kawannya yang tidur dengan nyenyaknya.

Sambil menggeliat kawannya bertanya, “Apakah sudah pagi?”

“Kau tidur sejak matahari terbenam sampai matahari terbit. Bangunlah. Kita akan kembali ke Mataram pagi-pagi. Berkemaslah,” berkata Ki Lurah.

Kawannya masih menguap. Ketika ia memandang keluar, maka dilihatnya keremangan fajar yang kemerah-merahan. Sambil bangkit dari pembaringannya ia berkata, “Aku tidur nyenyak sekali. Udara disini demikian segarnya, tidak terlalu panas seperti di Mataram. Rasa-rasanya aku betah tidur lima hari lima malam.”

“Tetapi kita akan segera kembali,” berkata Ki Lurah, “baru saja Raden Sutawijaya datang kemari dan bertanya, apakah kita sudah siap.”

“He?” pengawal itu terkejut, “apakah kau berkata sebenarnya bahwa Raden Sutawijaya baru saja datang kemari?”

“Ya,” jawab Ki Lurah, “kenapa?”

“Dan aku masih tidur mendekur?” bertanya pengawal itu lagi.

“Ya,” jawab Ki Lurah.

“Ah. Ki Lurah tidak mau memberitahukan kepadaku atau membangunkan aku,” desis pengawal itu.

“Untuk apa?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Tentu tidak baik jika Raden Sutawijaya itu masih melihat aku tertidur nyenyak disaat ia bertanya apakah kita sudah siap,” desis pengawal itu.

“Karena itu, kita harus segera bersiap. Jika kau hanya berbicara saja, maka jika sekali lagi Raden Sutawijaya datang dan bertanya kepada kita, maka kita-pun masih belum siap pula,” bertanya Ki Lurah itu pula.

“O. baik. Baiklah.” pengawal itu tergagap. “Aku akan pergi ke pakiwan.”

“Aku juga belum mandi,” desis Ki Lurah Branjangan.

Keduanya pun kemudian pergi ke belakang. Mereka pun segera mandi dan membenahi dirinya.

Ketika matahari terbit, maka seorang pengawal pasanggrahan itu datang memanggil Ki Lurah Branjangan dan pengawal yang datang bersamanya untuk pergi ke pringgitan. Sebelum mereka meninggalkan pasanggrahan itu, maka mereka pun sempat dijamu makan pagi lebih dahulu.

Demikian segalanya sudah siap, maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Marilah. Aku sudah selesai. Meskipun aku masih belum puas dengan kuda yang baru itu, namun beberapa hari lagi aku akan kemari lagi. Jika aku terlalu lama agaknya memang kurang baik karena mungkin setiap saat utusan dari Pajang itu akan datang.”

“Ya,” desis Ki Lurah, “apalagi atas undangan Raden sendiri.”

Raden Sutawijaya pun kemudian meninggalkan pesanggrahan itu. Ternyata Raden Sutawijaya hanya diikuti oleh seorang pengawalnya, sehingga karena itu, maka perjalanan itu hanya terdiri dari ampat orang saja.

Di sepanjang jalan, Raden Sutawijaya banyak sekali berbicara tentang kuda. Ia hampir tidak pernah menyebut-nyebut tentang Mataram, tentang Ki Tandabaya yang baru saja tertangkap dan tentang undangannya atas orang-orang Mataram.

Karena itulah, maka Ki Lurah pun lebih banyak menanggapi saja setiap pembicaraan Raden Sutawijaya tentang kuda.

Namun akhirnya Raden Sutawijaya bertanya, “Ki Lurah. Apakah kau tidak begitu senang dengan kuda?”

“Aku termasuk penggemar kuda pula Raden,” jawab Ki Lurah Branjangan terbata-bata, “tetapi aku hanya sekedar penggemar. Aku kurang mengerti tentang beberapa hal yang harus dikenal pada seekor kuda.”

“Nampaknya memang demikian,” desis Raden Sutawijaya, “cobalah mengerti serba sedikit tentang katuranggan. Kau akan segera tertarik.”

“Mungkin pada suatu saat aku akan mencobanya,” jawab Ki Lurah pula.

Raden Sutawijaya tertawa. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan lagi.

Keempat orang itu pun segera berada di tengah-tengah bulak panjang. Mereka berpacu cukup kencang, sehingga ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka debu pun mulai nampak terlontar dari kaki-kaki kuda yang sedang berpacu itu.

Ki Lurah Branjangan tiba-tiba saja bagaikan orang terbangun dari mimpi ketika ia mendengar Raden Sutawijaya bertanya, “Kau sudah melihat keadaan Ki Tandabaya?”

Tergagap Ki Lurah berkata, “Sudah Raden. Tetapi hanya sekilas. Kemarin Ki Tandabaya nampaknya masih belum tenang sama sekali ketika aku pergi. Oleh pengawal yang menangkapnya, ia telah dibuat lumpuh. Untuk membunuh diri pun ia tidak akan mampu lagi.”

“Orang-orang seperti Ki Tandabaya dan Ki Lurah Pringgabaya tidak akan membunuh diri,” desis Raden Sutawijaya, “tetapi bukankah perlahan-lahan keadaan Ki Tandabaya akan pulih kembali?”

“Ya. Berangsur-angsur, ia sudah menjadi semakin baik. Tetapi agaknya ia pun menjadi semakin gelisah,” sahut Ki Lurah Branjangan.

Raden sutawijaya mengangguk-angguk, sementara Ki Lurah berkata, “Nampaknya ia ingin benar mengetahui, pengawal yang manakah yang telah menangkapnya.”

Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Apakah ia bertanya kepadamu?”

“Tidak. Secara langsung ia tidak bertanya,” jawab Ki Lurah Branjangan. Kemudian, “namun setiap kali tersirat keinginannya untuk bertemu dengan pengawal yang memiliki kelebihan tanpa dapat dilawannya itu.”

Raden Sutawijaya masih tertawa. Ia tidak memberikan tanggapan apapun. Sementara Ki Lurah berkata, “Nampaknya ada pengenalan orang-orang Mataram atas apa yang akan terjadi diluar batas-batas pengetahuanku.”

“Ah,” desis Raden Sutawijaya, “itu hanya kebetulan. Agaknya seseorang telah langsung berhubungan dengan Ki Juru Martani. sementara Ki Juru kadang-kadang lebih senang mengambil sikap langsung tanpa menghiraukan hubungan yang ada di antara para pemimpin Mataram. Demikian juga agaknya tentang Ki Tandabaya itu. Jika kita sudah berada di Mataram, kaupun akan segera mengetahui, siapakah yang sebenarnya orang yang telah berjasa itu.”

Ki Lurah Branjangan hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun agaknya seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, bahwa ia akan dapat mengetahui sumber keterangan itu, apabila ia sudah bera da di Mataram.

Namun dalam pada itu, hampir berbisik ia bertanya kepada Raden Sutawijaya, “Raden, kenapa harus berahasia saat-saat Raden menangkap Ki Tandabaya?”

Raden Sutawijaya tertawa pula. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku kira ada baiknya aku berbuat demikian. Juga sekedar memberi peringatan kepada para pengawal, bahwa sebenarnya mereka masih perlu meningkatkan kewaspadaan mereka.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam ia mengerti maksud Raden Sutawijaya. Agaknya dengan demikian, maka para pengawal akan bercermin tentang kemampuan mereka sendiri.

Ki Lurah Branjangan tidak bertanya lagi. Untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya saling berdiam diri saja. Sementara di belakang mereka, dua orang pengawal yang lain sedang asyik berbicara di antara mereka sendiri.

Demikianlah perjalanan itu pun dilakukan tidak terlalu tergesa-gesa. Kuda-kuda itu berlari tidak terlalu cepat. Bahkan kadang-kadang Raden Sutawijaya memperlambat derap kudanya untuk mengamat-amati sawah yang hijau subur terdampar sampai kecakrawala, diseling oleh padukuhan-padukuhan yang bagaikan pulau-pulau yang mencuat dari permukaan laut, yang bergelombang lembut oleh angin yang tidak terlalu kencang.

Jika Raden Sutawijaya kemudian berbincang dengan Ki Lurah Branjangan di sepanjang jalan, maka yang mereka bicarakan adalah sawah yang subur dan batang-batang padi yang mulai bunting. Beberapa orang petani mulai menyiapkan orang-orangan di sawah mereka untuk menakut-nakuti burung yang akan dapat mengganggu tanaman padi mereka yang mulai berbuah.

Dalam pada itu, akhirnya menjelang tengah hari, maka mereka pun memasuki regol halaman rumah Raden Sutawijaya. Sambil mengerutkan keningnya Raden Sutawijaya melihat kesiagaan yang tinggi di halaman rumah itu. Di regol ia melihat dua orang pengawal dengan senjata siap di tangan. Sementara di serambi gandok kanan ia melihat beberapa orang pengawal yang duduk diamben yang besar. Dua orang yang lain berada di serambi gandok kiri. Sedang di halaman samping dua orang pengawal berjalan hilir mudik.

Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Lihatlah, bukankah mereka benar-benar sudah siap?”

“Ya Raden,” jawab Ki Lurah, “mereka mengerti, apa yang harus mereka lakukan.”

“Ya,” sahut Raden Sutawijaya, “dan mereka pun mengerti, bahwa mereka harus menyiapkan sekian banyak orang karena mereka merasa diri mereka terlalu kecil dibanding dengan Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya.”

“Raden,” Ki Lurah Branjangan terkejut.

“Jangan ingkar tentang diri sendiri,” berkata Raden Sutawijaya, “bahwa sebenarnyalah di Pajang terhimpun kekuatan yang besar sekali. Jika mereka memadukan kekuatan itu, maka Pajang akan menjadi sekuat Kerajaan-kerajaan sebelumnya. Tetapi seperti yang kau lihat sekarang. Pajang tinggallah bayang-bayang yang semakin pudar.”

Ki Lurah tidak menjawab. Ketika ia memandang wajah Raden Sutawijaya, maka ia melihat betapa pahit kenyataan yang dihadapinya. Bahkan katanya kemudian, “Dan sebentar lagi, malam akan turun. Langit diatas Pajang akan menjadi hitam. Jika kita tidak menyediakan obor secukupnya, kita pun akan kegelapan.”

Ki Lurah Branjangan terbungkam. Namun hatinya menjadi berdebar-debar. Nampaknya Raden Sutawijaya telah mengambil sikap didalam hatinya, meskipun belum dinyatakannya dengan terbuka.

Dalam pada itu, seorang pengawal telah mendekatinya untuk menerima kudanya. Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun segera meloncat turun diikuti oleh Ki Lurah Branjangan serta kedua pengawal yang mengiringinya dari Pasanggrahan.

Ketika Raden Sutawijaya melihat Ki Juru berdiri dipintu pringgitan yang kemudian terbuka, maka ia pun berkata, “Marilah. Naiklah ke pendapa. Kita menemui paman Juru.”

“Marilah Raden,” sahut Ki Lurah Branjangan.

“Paman Juru mengetahui segala-galanya tentang Mataram, tentang orang-orang yang tertawan dan tentang Pajang,” desis Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti Raden Sutawijaya naik ke pendapa.

Ketika kemudian mereka duduk di pendapa, dan setelah Ki Juru bertanya tentang keselamatan mereka di perjalanan, maka Raden Sutawijaya pun bertanya, “Bagaimana dengan Ki Majasranti?”

“Ia tidak mempunyai keberatan apa-apa. Ia berada di serambi dalam. Bahkan ia pun bersedia untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah tertangkap itu,” jawab Ki Juru.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Biarlah ia tetap merupakan teka-teki bagi para pengikut Ki Tandabaya. Sampai saat terakhir mereka tidak mengerti, bahwa pemilik rumah yang mereka pergunakan itulah yang telah memberikan beberapa kesaksian tentang diri mereka.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Untuk sementara ia akan berada di rumah ini.”

“Biarlah ia berada disini,” jawab Raden Sutawijaya yang kemudian berpaling kepada Ki Lurah Branjangan, “Ki Lurah. Orang itulah yang perlu kau ketahui.”

“Dalam hubungannya dengan Ki Tandabaya?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Ya. Ia sahabat baik Ki Tandabaya. Tetapi Ki Tandabaya salah menilai tentang dirinya. Dikiranya Ki Majasranti masih tetap sahabatnya,” desis Ki Juru Martani.

“Ia masih tetap sahabatnya, paman. Tetapi tidak tentang hubungan antara Pajang dan Mataram. Maksudku, Pajang yang telah dipengaruhi oleh sikap yang menurut pendapatku, sangat keliru itu,” berkata Raden Sutawijaya kemudian.

Ki Juru Martani pun mengangguk-angguk. Bahkan kemudian katanya, “Ya. Begitulah kira-kira. Ki Majasranti tidak sesuai dengan jalan pikiran Ki Tandabaya.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Ia mengerti tentang apa yang telah terjadi. Agaknya Ki Tandabaya telah terjebak oleh sikap sahabatnya sendiri yang berpura-pura membantunya. Namun yang kemudian justru ia bersikap sebaliknya, karena ia yakin akan kebenaran sikap Raden Sutawijaya.

Karena itulah, agaknya Mataram mengetahui dengan pasti, apa yang akan terjadi, sehingga Mataram sempat memindahkan Ki Lurah Pringgabaya dari biliknya dan menjebak Ki Tandabaya. Namun demikian ternyata seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, bahwa para pengawal di Mataram merasa kecil berhadapan dengan Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Jika Raden Sutawijaya sendiri tidak urun ke medan malam itu, agaknya Ki Tandabaya akan berhasil melarikan diri meskipun para pengawal dari Mataram sudah siap mengepungnya.

Hal itulah yang kemudian sangat mempengaruhi perasaan Ki Lurah Branjangan. Agaknya hal itu pula yang telah menggelisahkan Raden Sutawijaya. Ki Lurah Branjangan tahu, bahwa ada beberapa orang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi Senapati-senapati terpilih di Mataram. Tetapi persiapan akan memerlukan waktu. Sedang kemelut antara Pajang dan Mataram nampaknya sudah menjadi semakin panas.

Dalam pada itu maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Paman, apakah menurut pertimbangan paman, orang-orang Pajang yang aku undang itu akan datang?”

“Jika undangan itu disampaikan kepada Kangjeng Sultan, mungkin Kangjeng Sultan akan mengutus beberapa orang untuk datang. Tetapi jika tidak, mungkin orang-orang Pajang itu justru akan mengambil sikap lain.” berkata Ki Juru.

Aku harap orang-orang Pajang itu akan datang. Aku masih mengharap waktu sedikit untuk mempersiapkan diri, apabila beberapa orang Pajang itu benar-benar kehilangan akal.” Raden Sutawijaya terdiam sejenak, “aku masih berharap. bahwa Kiai Gringsing dapat mengerti, apa yang sedang kita hadapi sekarang.”

“Aku kira ia dapat mengerti, ngger.” jawab Ki Juru. “aku kira ia dapat membedakan sikap Kangjeng Sultan dan orang-orang yang telah terbius oleh suatu mimpi yang berbahaya tentang kejayaan masa lampau itu, yang akan mereka trapkan menurut citra mereka.”

“Tetapi masih ada masalah yang tentu akan membuat Kiai Gringsing harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang rumit,” berkata Raden Sutawijaya, “muridnya yang seorang, yang nampaknya memiliki beberapa kelebihan dalam hal mematangkan ilmunya dari muridnya yang lain, adalah adik Untara. Sedangkan kita semuanya mengetahui, siapakah Untara dan bagaimanakah sikapnya, ia adalah seorang prajurit. Dan ia merasa, bahwa ia seorang prajurit Pajang dibawah pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa hal itu tentu akan menjadi masalah bagi Kiai Gringsing. Namun bagaimanapun juga. Kiai Gringsing adalah orang yang penting. Apalagi muridnya yang seorang, anak Ki Demang Sangkal Putung, akan dapat menjadi kekuatan yang berarti dengan para pengawal Kademangannya. Sangkal Putung yang terletak digaris antara Pajang dan Mataram, akan mempunyai peran penting, jika benar-benar timbul persoalan yang apalagi apabila orang-orang Pajang berhasil menghasut Kangjeng Sultan di Pajang yang sudah semakin sering digumuli oleh penyakitnya itu.

Tetapi setiap kali Ki Juru Martani juga menyesali sikap Raden Sutawijaya yang keras hati itu. Jika sejak semula Raden Sutawijaya tidak mengeraskan sikapnya, tidak mau menghadap ke paseban di Pajang, mungkin persoalannya akan berbeda.

Namun semuanya sudah terlanjur. Apa yang sekarang terjadi itu sudah terjadi. Jarak antara Pajang dan Mataram menjadi semakin jauh. Didorong oleh sikap beberapa orang yang tamak, yang melihat masa depan dari sudut pandangan mereka dan kepentingan mereka sendiri.

Meskipun demikian, agaknya Mataram tidak akan dapat berpaling dari Kiai Gringsing dan kedua muridnya. Sementara itu, Raden Sutawijaya pun memandang ke seberang Kali Progo. Apakah Tanah Perdikan Menoreh juga memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu seperti Sangkal Putung sekarang dibawah kesigapan tangan Swandaru.

“Ki Gede Menoreh sendiri adalah orang yang pilih tanding,” berkata Raden Sutawijaya didalam hatinya, “namun dalam kesendiriannya. Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin mundur.”

Tetapi Raden Sutawijaya tidak mengatakan apa-apa. Nampaknya ia masih ingin membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu, apa yang akan dibicarakan dengan Ki Juru Martani.

Dalam pada itu, justru tiba-tiba saja Raden Sutawijaya berkata, “Aku ingin bertemu dengan Ki Tandabaya. Apakah ia mengenali pengawal yang telah menangkapnya.”

“Silahkan ngger,” sahut Ki Juru.

“Marilah Ki Lurah. Ikutlah aku,” ajak Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjanganpun kemudian mengikuti Raden Sutawijaya turun dari pendapa. Dengan berlari-lari kecil Ki Lurah Branjangan memanggil pimpinan pengawal yang bertugas dan mengajaknya untuk mengikuti Raden Sutawijaya ke bilik tempat Ki Tandabaya ditahan.

Raden Sutawijaya berdiri beberapa langkah di depan bilik itu, ketika seorang pengawal menarik selaraknya. Demikian pintu itu terbuka, maka Ki Tandabaya telah meloncat keluar sambil berkata nyaring, “Bunuh aku, atau biarkan aku pergi.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Ki Tandabaya yang tenaganya telah pulih kembali itu.

Namun, demikian Ki Tandabaya melihat anak muda yang berdiri dihadapannya, tiba-tiba saja ia melangkah surut. Kepalanya menunduk tanpa mengatakan sesuatu.

“Selamat bertemu Ki Tandabaya,” sapa Raden Sutawijaya.

Ki Tandabaya masih menunduk. Tetapi sapa itu membuat jantung Ki Tandabaya bergejolak semakin keras. Untuk sesaat ia justru terdiam. Namun kemudian ia menyahut tersendat-sendat, “Selamat Raden.”

“Baru sekarang aku dapat menengok Ki Tandabaya,” berkata Raden Sutawijaya, “kemarin aku telah disusul sampai dua kali di pesanggrahan. Namun, karena persoalannya sudah dapat di tangani oleh para pengawal, maka baru hari ini aku kembali.”

Wajah Ki Tandabaya menjadi semakin tegang. Sekilas ia mengangkat mukanya memandang Raden Sutawijaya sekilas. Namun ia pun kembali menundukkan kepalanya. Bagaimanapun juga, ia merasa terhina oleh kata-kata Raden Sutawijaya, seolah-olah persoalan yang timbul karena kehadirannya itu sama sekali tidak penting.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya berkata selanjutnya, “Sebenarnya aku masih ingin mengajari kudaku yang baru itu untuk bermain lebih baik lagi. Tetapi karena beberapa orang mendesak, maka aku perlukan kembali barang satu dua hari.”

Ki Tandabaya menggigit bibirnya. Rasa-rasanya jantungnya memang akan meledak. Namun ia masih tetap sadar, dengan siapa ia berhadapan.

“Ki Tandabaya,” berkata Raden Sutawijaya, “tentu tidak hari ini, karena aku baru saja kembali. Mungkin besok aku akan menggundang Ki Tandabaya untuk berbincang barang sebentar. Mungkin masalahnya penting, tetapi mungkin pula tidak.”

Akhirnya Ki Tandabaya tidak dapat menahan hatinya lagi. Maka katanya, “Kenapa Raden harus berputar-putar. Katakan apa yang Raden kehendaki. Mungkin satu pengakuan dari mulutku tentang rencanaku membunuh Ki Lurah Pringgabaya, atau pengakuan-pengakuan yang lain?”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Kau mengerti maksudku. Ya, demikianlah kira-kira apa yang ingin aku dapatkan darimu.”

“Sia-sia saja Raden. Aku tidak akan mengatakan sesuatu,” jawab Ki Tandabaya tegas.

“Luar biasa,” sahut Raden Sutawijaya, “kalian memang orang-orang yang sudah ditempa untuk menjadi seorang pejuang yang tiada taranya. Kalian sudah berbuat apa saja untuk kepentingan keyakinan kalian atas citra negeri ini dimasa datang.”

“Jangan menganggap kami kanak-kanak yang bangga dengan pujian,” jawab Ki Tandabaya.

“Tidak. Tidak Ki Tandabaya,” jawab Raden Sutawijaya, “aku tidak sekedar memuji. Tetapi sebenarnyalah demikian. Ki Lurah Pringgabaya pun tidak mau mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri dan tentang tugas yang diembannya. Aku pun yakin, bahwa kau pun akan berbuat demikian, sehingga aku akan sia-sia berharap untuk mendengar pengakuan dari mulutmu.”

“Jika demikian, buat apa kami harus berada disini? Kenapa kami tidak dibunuh saja semuanya.” tantang Ki Tandabaya.

“Itulah yang mengagumkan,” jawab Raden Sutawijaya, “kalian sama sekali tidak takut mati. Karena itu, tentu kami tidak akan mempunyai kesempatan untuk mendengar meskipun hanya sepatah kata pengakuan dari kalian.”

“Benar,” Ki Tandabaya menegaskan, “karena itu, Raden dapat mengambil sikap dengan tegas terhadap kami semuanya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang harus demikian. Aku harus memperhitungkan segala kemungkinan dengan nalar yang waras. Sebenarnya aku ingin mendengar pengakuan kalian. Kau atau Ki Lurah Pringgabaya atau kedua-duanya. Tetapi jika kalian tidak ingin mengaku, maka agaknya memang lebih baik untuk mengambil langkah tertentu.”

Jawaban itu tiba-tiba membuat wajah Ki Tandabaya menjadi semakin tegang. Dengan lantang ia berkata, “Apa maksud Raden sebenarnya?”

Raden Sutawijaya justru menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Bukankah aku hanya menirukan kata-katamu? Aku dapat mengambil sikap tegas karena kami tidak akan mendapat kesempatan sama sekali untuk mendengarkan pengakuan kalian.”

“Sikap apa yang akan Raden ambil?” bertanya Ki Tandabaya.

“Itulah yang belum aku pikirkan. Tetapi sudah barang tentu kami akan mengambil langkah-langkah untuk berbuat sesuatu. Sudah barang tentu kami tidak akan menyimpan kalian terlalu lama disini karena kalian tidak akan bermanfaat apa-apa bagi kami,” sahut Raden Sutawijaya.

“Ya, lalu apakah yang akan Raden perbuat atas kami? Membunuh kami?” bertanya Ki Tandabaya.

“Bukankah kalian tidak akan berkeberatan?” bertanya Raden Sutawijaya pula.

“Tentu tidak. Lakukanlah jika itu bagi Raden adalah jalan yang paling baik,” geram Ki Tandabaya.

“Tentu bukan yang paling baik. Kami masih mempunyai cara yang lebih baik lagi,” jawab Raden Sutawijaya sambil tertawa.

“Cara apa? Raden akan menyiksa kami? Itu pun tidak akan ada gunanya,” geram Ki Tandabaya.

“Tentu, Aku mengerti, bahwa menyiksa kalian tidak akan ada gunanya. Jika kalian memang tidak berniat untuk berbicara, maka apapun yang akan kami lakukan tentu tidak akan ada gunanya.” jawab Raden Sutawijaya.

“Ya. lalu apa yang akan Raden lakukan?” Tiba-tiba saja Ki Tandabaya yang menegang itu berteriak.

“Kenapa kau berteriak?” bertanya Raden Sutawijaya, “dengan demikian kau telah menarik perhatian orang banyak. Lihatlah. Semua orang telah menengok kepadamu.”

“Aku tidak peduli,” geram Ki Tandabaya, “aku ingin tahu apa yang akan Raden lakukan jika Raden ingin membunuh kami.”

Raden Sutawijaya tertawa. Namun justru karena itu, maka rasa-rasanya jantung Ki Tandabaya itu benar benar akan meledak. Dengan garangnya ia membentak, “Kenapa kau tertawa he? Apa yang perlu kau tertawakan?”

“Kenapa kau menjadi marah-marah Ki Tandabaya,” jawab Raden Sutawijaya, “tenanglah. Aku belum berniat untuk berbincang panjang lebar dengan kau dan kawan-kawanmu. Beristirahatlah sebaik-baiknya.”

Wajah Ki Tandabaya yang tegang menjadi semakin tegang. Rasa-rasanya ingin ia meloncat menerkam. Tetapi setiap kali ia sadar, bahwa yang berdiri dihadapannya itu adalah Raden Sutawijaya maka niatnya itu pun diurungkannya.

Meskipun demikian ia masih menggeram, “Raden sudah mulai dengan cara yang paling tidak menyenangkan. Aku tahu. Raden ingin membuat aku gelisah.”

“Tidak. Bukan maksudku Ki Tandabaya,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi apaboleh buat. Jika kau mendesak, mungkin aku dapat mengatakan salah satu cara yang dapat aku tempuh. Tetapi seperti yang aku katakan, aku belum memikirkannya masak-masak. Jika aku menyebut salah satu cara itu, baru satu kemungkinan dari kemungkinan-kemungkinan yang lain.”

Sorot mata Ki Tandabaya bagaikan menyala. Dengan nada bergetar ia berkata, “Sebut apa saja.”

“Yang paling mungkin aku lakukan, jika kalian memang sudah tidak ingin mengaku sama sekali, adalah menyerahkan kalian kepada para pemimpin di Pajang,” berkata Raden Sutawijaya.

Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Untuk beberapa saat Ki Tandabaya jadi bingung. Apakah ia senang atau justru terhina mendengarnya. Adalah tidak masuk akal jika Raden Sutawijaya akan begitu saja menyerahkannya kepada para pemimpin Pajang. Namun demikian ia masih harus bertanya, siapakah pemimpin Pajang itu.

Raden Sutawijaya melihat gejolak perasaan Ki Tandabaya pada tatapan matanya. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apakah kau mempunyai pikiran lain?”

Tiba-tiba saja terdengar Ki Tandabaya itu menggeram. Katanya, “Raden memang termasuk orang yang paling sombong yang pernah aku kenal. Apakah artinya niat Raden menyerahkan kami kepada orang-orang Pajang. Apakah Raden ingin mempermainkan perasaanku agar timbul harapan-harapan kosong sehingga pada saatnya aku terbanting pada satu kekecewaan yang luar biasa, sehingga Raden akan sempat mempergunakan saat-saat yang demikian untuk meremas keterangan dari mulutku?”

“Kau memang terlalu berprasangka,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi itu adalah sifat yang paling umum dari seseorang yang merasa bersalah. Namun, dengan demikian adalah pertanda masih ada sepercik kebijaksanaan didalam hatiku.”

“Aku tidak mengerti,” geram Ki Tandabaya.

“Kau heran, atau barangkali berprasangka jika aku akan menyerahkanmu kepada para pemimpin di Pajang,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi bukankah hal itu wajar? Kau adalah abdi di Kepatihan Pajang, sedangkan Ki Lurah Pringgabaya adalah seorang prajurit Pajang. Bukankah wajar jika kami menyerahkan kalian kepada para pemimpin kalian? Tetapi kau tidak dapat mengerti, justru karena kau menyadari diri berontak, bahwa kau yang sudah bersalah itu tidak mendapat hukuman, meskipun hal itu ditrapkan kepada dirimu sendiri.”

“Cukup cukup,” sekali lagi Ki Tandabaya berteriak.

Sementara Raden Sutawijaya berdesis, “Kau menarik perhatian para pengawal.”

Ki Tandabaya menggeretakkan giginya. Namun ia benar-benar melihat beberapa orang di sekitarnya telah berpaling lagi kepadanya.

“Sudahlah Ki Tandabaya,” berkata Raden Sutawijaya, “Kau agaknya masih belum tenang. Beristirahatlah. Dan jangan berangan-angan terlalu jauh, sehingga akan dapat berakibat buruk pada perasaan dan badanmu.”

Ki Tandabaya sama sekali tidak menjawab.

“Sudahlah. Sudah aku katakan bahwa aku masih belum ingin berbicara tentang persoalan kita,” berkata Raden Sutawijaya, “mungkin besok atau lusa. Baru kemudian, setelah kau benar-benar tidak ingin berbicara, aku akan mengambil satu sikap. Di antaranya seperti yang sudah aku katakan tadi. Menyerahkan kau kepada orang-orang Pajang, karena kehadiranmu disini tidak akan ada gunanya lagi.”

“Raden akan menyesali kesombongan Raden itu,” geram Ki Tandabaya.

“Mungkin. Kau dan Ki Lurah Pringgabaya adalah orang-orang yang pilih tanding. Yang melampaui tataran kemampuan orang-orang yang berada dalam kedudukan yang sama dengan kalian. Seperti juga Ki Pringgajaya yang terbunuh itu. Dan sudah barang tentu, hal itu bukan karena kebetulan saja,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Tandabaya tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian melangkah surut. Kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah memasuki biliknya.

Seorang pengawal yang kemudian datang mendekat, menunggu perintah Raden Sutawijaya. Baru ketika Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya, maka pengawal itu menutup pintu yang berat dan menyelaraknya dan luar.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, ia sadar, bahwa Ki Tandabaya tentu akan dapat memecahkan dinding bilik itu jika dikehendakinya. Namun pengawalan yang kuat tentu akan dapat mencegahnya melarikan diri. Namun dengan hadirnya dua orang pilihan dari Pajang, maka para pengawal menjadi terlalu sibuk. Apalagi seperti Raden Sutawijaya sendiri menyahut, bahwa sebenarnyalah Mataram kurang memiliki orang-orang yang secara pribadi memiliki ilmu yang tinggi.

Raden Sutawijaya yang kemudian kembali ke pendapa tiba-tiba saja teringat kepada padepokan kecil di Jati Anom. Namun setiap kali ia menjadi ragu-ragu, apakah padepokan kecil itu dapat diharapkan. Justru Agung Sedaya adalah adik Untara.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba pula telah timbul keinginannya untuk dapat bertemu dengan Kiai Gringsing dan murid-muridnya. Secara pribadi murid Kiai Gringsing yang tua memiliki kelebihan, sementara muridnya yang muda memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal Putung ternyata tumbuh dengan pesat dan anak-anak mudanya adalah anak-anak muda yang cukup terlatih. Bahkan jika dalam keadaan yang memaksa mereka tidak akan gentar dihadapkan kepada prajurit-prajurit yang sebenarnya.

Sementara itu, angan-angan Raden Sutawijaya juga melayang ke Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan itu harus segera mendapat perhatian karena perlahan-lahan Tanah Perdikan itu mengalami kemunduran.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Raden Sutawijaya justru ingin bertemu dengan Ki Gede Menoreh di Tanah Perdikan Menoreh. Mungkin ada sesuatu yang dapat dibicarakannya tentang Tanah Perdikan Menoreh itu. Namun dalam keseluruhan. Tanah Perdikan itu memang harus diselamatkan.

Tiba-tiba saja keinginan itu menjadi demikian mendesaknya, sehingga dihari berikutnya, ia berkata kepada Ki Juru Martani, “Paman, aku akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Juru sudah terbiasa mendengar, bahwa Raden Sutawijaya itu pergi kemana saja setiap saat. Namun justru karena Raden Sutawijaya itu akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, maka ia pun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang mendesak?”

“Tiba-tiba saja aku ingin menemui Ki Argapati. Aku rasa, Tanah Perdikan Menoreh yang tidak terlalu jauh dari Mataram itu akan dapat menjadi kawan yang baik pada saat-saat yang sangat gawat. Tanpa Tanah Perdikan Menoreh, maka seolah-olah Mataram tidak mempunyai dinding di halaman belakang rumahnya, paman,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun ia bertanya, “Tetapi begitu tergesa-gesa? Bukankah Raden mengundang beberapa orang Pajang untuk bertemu dengan Ki Lurah Pringgabaya? Dan sekarang justru Ki Tandabaya ada disini pula.”

“Aku kira belum hari ini paman. Bahkan mungkin mereka akan mengirimkan satu dua orang penghubung untuk memberitahukan, kapan mereka akan datang,” jawab Raden Sutawijaya, “namun seandainya hari ini mereka datang, aku harap paman dapat mempersilahkan mereka menunggu. Jika mereka tidak mau menunggu, terserahlah kepada paman, untuk mengantar mereka bertemu dengan Ki Lurah Pringgabaya dan Ki Tandabaya. Aku kira paman mengetahui apa yang sebaiknya harus paman lakukan.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa niat Raden Sutawijaya memang sulit untuk dicegah. Demikian ia ingin pergi, maka ia pun akan pergi. Namun demikian Ki Juru pun menyadari, bahwa Raden Sutawijaya adalah seseorang yang cukup bertanggung jawab terhadap Tanah Mataram yang dibangunnya itu.

Karena itu, maka Ki Juru pun kemudian berkata, “Terserahlah kepada angger. Namun aku mohon ketegasan, apakah yang harus aku perbuat, jika misalnya orang-orang Pajang itu datang dan minta agar kedua orang itu diberikan kepada mereka.”

“Untuk sementara biarlah mereka disini paman. Mungkin, aku memang akan menyerahkan kepada orang-orang Pajang, jika persoalan mereka dengan kita sudah selesai.” jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha sebaik-baiknya jika mereka benar-benar datang hari ini dan mereka tidak sempat menunggu Raden kembali.”

“Terima kasih paman,” sahut Raden Sutawijaya, “aku hanya akan pergi sehari ini. Nanti, aku tentu akan kembali meskipun mungkin sampai malam hari.”

Ki Juru hanya dapat mengiakannya. Raden Sutawijaya yang sudah berniat untuk pergi itu, tentu akan pergi.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya itu pun kemudian meninggalkan Mataram bersama Ki Lurah Branjangan dan dua orang pengawal terpilih. Bagaimanapun juga, mereka tidak dapat mengabaikan kenyataan seperti yang pernah dialami oleh Agung Sedayu di pinggir Kali Progo.

Sejenak kemudian, maka Kuda Raden Sutawijaya itu pun telah berpacu. Seperti biasanya. Raden Sutawijaya tidak mengenakan pakaian khusus dan apalagi pakaian kebesaran Senapati Ing Ngalaga di Mataram. Tetapi ia lebih senang memakai pakaian seperti orang kebanyakan. Dengan demikian, maka ia sama sekali tidak akan menarik perhatian.

Perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh dari Mataram memang tidak terlampau jauh. Namun perjalanan itu agaknya memang cukup menarik bagi Raden Sutawijaya.

Sudah terbiasa bagi Raden Sutawijaya untuk melihat hijaunya sawah dan jernihnya air parit yang mengalir disela-sela pematang. Namun yang kemudian menarik perhatiannya adalah tanah yang mulai berpasir dibawah kaki kuda mereka berkata, “Kita sudah dekat dengan Kali Progo Raden Sutawijaya.”

“Dibalik padukuhan itu, kita sudah akan turun ke tepian,” desis Ki Lurah Branjangan

“Ya. Dan kita akan segera menyeberang,” jawab Raden Sutawijaya.

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 140

 

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-II-39/

 

Terima kasih kepada Ki Prass yang telah me-retype jilid ini.

<<kembali | lanjut >>

2 Responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s