ADBM2-145

<<kembali | lanjut >>

AGUNG SEDAYU mengangguk-angguk. Tetapi ia mengerti, bahwa Prastawa ingin menunjukkan kepada Agung Sedayu, bahwa sejak sebelum ia datang, Tanah Perdikan Menoreh telah cukup tenang dan aman karena kegiatan anak-anak mudanya.

Seperti yang dikatakannya, maka setelah makan pagi Agung Sedayu minta diri untuk melihat-lihat Tanah Perdikan Menoreh seorang diri. Ia ingin bertemu dengan anak-anak muda yang pernah dikenalnya sebelumnya.

“Hati-hatilah,” berkata Ki Waskita, “dan kau harus menahan diri menghadapi segalanya.”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Aku akan selalu berusaha.”

Ki Gede pun kemudian mempersilahkannya, meskipun ia menjadi agak berdebar-debar, justru karena keinginan Agung Sedayu untuk pergi seorang diri.

“Dengan demikian, mungkin ia berusaha untuk memberikan kesan bahwa ia sama sekali tidak ingin bermusuhan atau ingin dibayangi oleh kekuasaan di Tanah Perdikan ini Ki Gede,” berkata Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang demikian. Jika ia seorang diri, maka agaknya memang tidak akan memancing banyak perhatian atau sikap permusuhan.”

Namun ternyata Prastawa bersikap lain. Ketika ia mengetahui bahwa Agung Sedayu berkeliling Tanah Perdikan Menoreh atau sebagian daripadanya seorang diri, maka ia pun segera menemui kawan-kawannya.

“Sombong sekali,” geram Prastawa.

“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya seorang kawannya.

“Satu kesempatan yang baik untuk membuatnya jera,” geram Prastawa, “betapapun tinggi ilmunya, justru karena ia murid Kiai Gringsing dan kakak seperguruan Swandaru, namun aku rasa ilmuku masih akan dapat mengimbanginya. Panggil tujuh atau delapan orang terbaik di antara kita. Kita akan memberinya sedikit pelajaran.”

Kawan-kawannya pun segera menjalankan segala perintah Prastawa. Bersama tujuh orang Prastawa kemudian berusaha untuk mencegat perjalanan Agung Sedayu itu di tengah-tengah bulak panjang yang sepi.

Sementara itu, sepeninggal Agung Sedayu, Ki Waskita yang memasuki biliknya yang ditempatinya bersama Agung Sedayu, diluar sadarnya telah melihat juntai cambuk Agung Sedayu dibawah pembaringannya. Ketika ia mengambilnya, sebenarnyalah Agung Sedayu memang tidak membawa senjatanya.

“Apa maksudnya,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri sambil mengembalikan cambuk itu. Yang kemudian dijawabnya sendiri, “Mungkin ia benar-benar ingin tidak memberikan kesan permusuhan.” Namun kemudian, “tetapi bagaimana jika ia bertemu dengan musuh yang sebenarnya, yang mungkin saja memburunya sampai ke Tanah Perdikan ini.”

Namun Ki Waskita menjadi agak tenang ketika ia pun teringat usaha Agung Sedayu menyempurnakan ilmunya di saat terakhir. Cambuk itu memang sangat berbahaya ditangannya. Namun tanpa cambuk itu pun, Agung Sedayu sudah termasuk tataran orang kuat didalam dunia olah kanuragan.

Bahkan Ki Waskita pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Agung Sedayu memang ingin berbuat bijaksana. Bagaimanapun juga ia adalah seorang anak muda yang memiliki indera lengkap, termasuk sentuhan perasaan yang dapat membuatnya marah. Agaknya ia tidak ingin mengotori cambuknya apabila tingkah laku anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh ini sudah melampaui batas.

Tetapi Ki Waskita pun percaya akan kesabaran Agung Sedayu menghadapi tingkah laku Prastawa dan kawan-kawannya.

Sementara itu, Agung Sedayu mulai menelusuri jalan-jalan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Ketika di regol padukuhan induk ia bertemu dengan seorang anak muda, maka Agung Sedayu pun berhenti.

“He,” anak muda itu menyapa, “kau Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Kau tidak lupa padaku.”

“Tentu tidak. Kau sudah beberapa kali berada di Tanah Perdikan ini. Apalagi menurut pendengaranku, kau sekarang akan tinggal disini untuk waktu yang agak lama karena Ki Gede minta kepadamu untuk membantunya,” bertanya anak muda itu.

“Ya. Ki Gede minta membantu Prastawa,” jawab Agung Sedayu.

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Desisnya, “Apakah kau tahu tentang Prastawa?”

Agung Sedayu menggeleng lemah. Namun jawabnya, “Ia adalah kemanakan Ki Gede.”

“Tetapi ia telah salah langkah,” jawab anak muda itu, “He, Agung Sedayu, apakah kau masih melihat para pengawal Tanah Perdikan ini sesigap dahulu? Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tetap melakukan tugasnya sebagai pengawal yang langsung ditunjuk oleh Ki Gede. Namun dalam keadaan yang gawat, jumlah itu sama sekali tidak memadai, sementara anak mudanya bersikap acuh tidak acuh saja.”

“Dan kau sendiri?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku tidak termasuk sejumlah pengawal yang ditunjuk. Karena itu, aku lebih senang turun ke sawah untuk kepentingan keluargaku sendiri,” jawab anak muda itu.

“Tetapi sawah pun nampaknya menjadi kering di musim kemarau,” gumam Agung Sedayu

“Ya. Tidak ada orang yang bersedia bangkit untuk mengajak kita memperbaiki bendungan yang rusak itu,” geram anak muda itu.

“Dan kau?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku tidak berarti apa-apa disini. Suaraku seperti gema yang memantul di lereng bukit. Mengaung sebentar, kemudian hilang ditelan angin.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu. “he, kau mau kemana Agung Sedayu?”

“Berkeliling Tanah Perdikan ini, atau jarak yang sempat aku tempuh untuk pagi ini. Aku ingin bertemu dengan kawan-kawan yang pernah aku kenal dan mengenal aku. Tetapi anak-anak muda yang baru tumbuh itu banyak yang tidak aku kenal,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi mereka mengenalmu. Anak-anak muda itu mengenal kau seperti mereka mengenal kawannya sendiri,” jawab anak muda itu, “kecuali mereka yang terpengaruh oleh Prastawa. Ia tidak suka melihat kedatanganmu. Aku mendengar tentang hal itu.”

“Aku pun tahu,” jawab Agung Sedayu, “tetapi aku ingin membuktikan kepadanya bahwa aku tidak ingin memusuhi siapa saja di Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kau berhasil.”

“Kita akan bersama-sama membangunkan Tanah Perdikan yang mulai tertidur ini. Kau setuju?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

“Tentu. Aku setuju. Jika kau minta, aku akan bersedia untuk berbuat apa saja,” jawab anak muda itu.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Marilah. Aku akan melanjutkan perjalanan keliling ini. Kau akan pergi ke sawah?”

“Ya,” jawab anak muda itu.

Keduanya pun berpisah. Agung Sedayu mulai berjalan lewat bulak pendek diluar padukuhan induk. Ketika ia memasuki padukuhan kecil di sebelah padukuhan induk, maka ia pun bertemu dengan beberapa orang anak muda yang telah mengenalnya. Dan kesan yang didengarnya-pun serupa dengan anak muda yang ditemuinya di padukuhan induk.

Namun sering kali Agung Sedayu bertemu dengan sekelompok anak muda kawan-kawan Prastawa. Betapa telinga Agung Sedayu menjadi panas, tetapi ia harus menahan hati. Ia sama sekali tidak menanggapi sikap bermusuhan dari anak anak muda itu.

Tetapi sikap anak-anak muda itu, ternyata baru sebagian dari tantangan yang dihadapinya di Tanah Perdikan Menoreh itu. Seperti yang diperhitungkan oleh Prastawa, maka Agung Sedayu telah melampaui padukuhan kecil di sebelah padukuhan induk itu, lalu memasuki sebuah bulak panjang yang sepi di pagi hari. Ada satu dua orang yang bekerja di sawah mereka. Namun nampaknya gairah bekerja pun telah menurun karena parit sudah tidak mengantar air melimpah seperti beberapa saat yang lampau, sehingga mereka terpaksa mengatur, giliran untuk mempergunakan air, namun kadang-kadang timbul juga pertengkaran tentang air itu pula.

Demikian Agung Sedayu berjalan di bulak panjang itu, maka Prastawa yang telah menunggunya di tengah-tengah bulak, di sebuah pategalan beberapa langkah dari jalan bulak itu segera bersiap-siap.

“Anak itu lewat,” desis seorang kawannya.

“Kita pancing ia berbelok ke pategalan ini,” desis Prastawa, “Kita akan mengajarinya sedikit sopan santun disini, agar tidak dilihat orang.”

Kawan-kawannya tertawa.

“Pergilah salah seorang ke tepi jalan bulak itu,” perintah Prastawa, “ajaklah ia singgah. Ia tidak akan menolak, justru karena kesombongannya. Ia merasa dirinya demikian penting disini, sehingga setiap orang akan membutuhkannya dan menghormati kedatangannya.”

Sebenarnyalah salah seorang anak muda itu pun segera menuju ke pinggir jalan bulak yang dilalui oleh Agung Sedayu. Ia tidak perlu bersembunyi atau berpura pura. Ia berdiri saja di pinggir jalan dengan tangan di pinggang.

Agung Sedayu yang berjalan menelusuri bulak itu, untuk pergi ke padukuhan sebelah, melihat juga anak muda itu. Memang terbersit kecurigaannya. Tetapi ia melangkah terus.

Demikian ia sampai di depan anak muda itu. maka ia pun berhenti karena anak muda yang bertolak pinggang itu menghentikannya.

“Agung Sedayu,” berkata anak muda itu, “aku ingin mengucapkan selamat datang kepadamu.”

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu sambil mengangguk kecil, “selamat bertemu.”

“Ada beberapa orang kawan ingin bertemu denganmu Agung Sedayu,” berkata anak muda itu berterus terang, “mereka ingin mengerti, apa maksud kedatanganmu sebenarnya.”

“O,” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “dimana mereka sekarang?”

“Mereka berada di pategalan itu,” jawab anak muda itu.

“Kenapa di pategalan? Sebaiknya aku persilahkan saja kalian pergi ke rumah Ki Gede. Kita akan dapat berbicara panjang lebar,” jawab Agung Sedayu.

“Kenapa harus pergi ke rumah Ki Gede?” anak muda itu pun justru bertanya, “kau sudah ada disini sekarang. Dan kawan-kawan sudah cukup lama menunggu. Jangan kecewakan mereka. Bukankah kau datang untuk kepentingan mereka?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia pun mengangguk kecil sambil menjawab, “Baiklah. Mungkin aku dapat menjawab beberapa pertanyaan.”

“Marilah, ikut aku,” ajak anak muda itu.

Agung Sedayu pun kemudian mengikutinya. Anak muda itu memang mengumpat didalam hatinya, “Anak ini benar-benar sombong. Kenapa ia bersedia begitu saja ikut aku, meskipun seharusnya ia mencurigai kenapa aku membawanya ke pategalan.”

Tetapi anak muda itu mencoba menahan diri, betapa ia merasa muak melihat sikap Agung Sedayu itu.

Ketika mereka memasuki pagar petegalan, maka Agung Sedayu pun terkejut ketika ia melihat Prastawa beserta beberapa orang anak muda duduk di antara pepohonan menunggunya. Demikian ia muncul, maka anak anak muda itu tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Selamat datang Agung Sedayu,” berkata Prastawa sambil tertawa, “aku sudah mengira bahwa kau tidak akan menolak singgah sebentar, karena kau cukup sombong untuk melakukannya.”

“Aku tidak mengerti,” jawab Agung Sedayu.

“Jangan bohong,” jawab Prastawa, “he, kenapa kau menjadi pucat. Bukankah kau sengaja datang dengan dada tengadah dan menunjukkan kepada anak-anak Tanah Perdikan Menoreh, bahwa kau adalah jenis anak muda yang paling baik yang akan dapat merubah Tanah Perdikan ini menjadi sebuah taman impian yang tenang, damai, kaya raya, penuh dengan seribu macam kenikmatan hidup. Sejahtera dan sentausa. Namun juga kuat lahir dan batinnya menghadapi segala macam mara bahaya.”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “jangan berkata begitu. Kau tentu ingat apa yang dikatakan oleh Ki Gede. Kehadiranku sekedar pertanda waktu. Kita akan bangkit bersama-sama untuk membangun Tanah Perdikan ini.”

“Kalau demikian kenapa harus kau?” bertanya Prastawa.

“Adalah kebetulan aku bersedia membantu sementara aku mempunyai kesempatan. Hanya kesempatan, bukan kelebihan apapun yang ada padaku,” jawab Agung Sedayu, “jangan salah mengartikan niat Ki Gede memanggil aku. Meskipun Tanah Perdikan ini memiliki anak-anak muda yang baik, lebih baik dari aku, tetapi apa salahnya jika aku mendapat kesempatan untuk sekedar membantu. Mungkin aku dapat berbuat sesuatu yang berarti atau mengusulkan sesuatu yang dapat dipertimbangkan.”

“Kau benar benar anak yang sombong,” geram Prastawa, “kemari. Mendekatlah.”

Agung Sedayu ragu-ragu. Tetapi Prastawa yang duduk diatas sebuah batu itu membentak, “Kemari, mendekat kau dengar?”

Agung Sedayu menjadi semakin bimbang. Tetapi ia melangkah beberapa langkah mendekati Prastawa.

Tiba-tiba saja Prastawa tertawa. Di antara derai tertawanya ia berkata, “Kenapa kau gemetar he, anak kekasih para malaikat. Dahulu aku pernah kau katakan, kau ingat? Tetapi waktu itu aku adalah anak ingusan yang tidak tahu arti unsur gerak apapun juga. Sekarang kau jangan bermimpi dapat mengalahkan murid Ki Gede Menoreh yang terpercaya. Karena itu, cepat, duduk dihadapanku. Duduk kau dengar? Cepat.”

Agung Sedayu masih tetap dicengkam oleh kebimbangan. Namun sekali lagi ia mendengar Prastawa berteriak, “Duduk, cepat.”

Agung Sedayu tidak membantah. Ia pun kemudian duduk di depan Prastawa yang sudah duduk diatas sebuah batu. Sementara itu, kawan-kawan Prastawa pun telah duduk memutarinya.

“Bagus,” berkata Prastawa, “disini agak lain dengan di rumah paman Argapati. Disana kau terlalu dimanjakan, tetapi disini kau harus melihat kenyataan, dengan siapa kau berhadapan.”

“Aku tidak tahu maksudmu Prastawa,” desis Agung Sedayu.

Prastawa tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau pucat, gemetar, tetapi lebih dari segala itu, kesombonganmu telah larut hanyut oleh sifat pengecutmu yang sebenarnya. Jangan menangis anak manis. He, kenapa kau menangis?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sikap itu agak keterlaluan. Tetapi ia masih berusaha untuk menahan diri.

“Agung Sedayu,” berkata Prastawa kemudian, “kini kau baru berhadapan dengan kurang dari sepuluh orang anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Kau sudah menjadi pucat, gemetar dan bahkan menangis. Bagaimana kau dapat menghadapi seluruh anak muda di Tanah Perdikan ini.”

“Kau memakai istilah yang keliru Prastawa,” jawab Agung Sedayu, “apakah yang kau maksud dengan menghadapi?”

Prastawa memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian dengan lantang ia berkata, “Kau sudah menantang kami, anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh dengan kesombonganmu. Seolah-olah kami tidak akan mampu berbuat bagi kepentingan kami di Tanah Perdikan ini, sehingga kau perlu datang kemari untuk menyelamatkan kami.”

“Aku sama sekali tidak bermaksud demikian,” jawab Agung Sedayu, “sudah berkali-kali aku katakan. Aku sekedar pertanda waktu kebangkitan dari Tanah Perdikan ini seperti yang dikehendaki oleh Ki Gede. Aku sendiri tidak banyak berarti. Tetapi bahwa rakyat Tanah Perdikan ini bersama-sama bangkit untuk membangun kembali Tanah Perdikan ini, itulah yang akan berarti bagi Tanah Perdikan ini.”

“Kau memang pandai memutar balikkan kata-kata untuk sekali-kali menutupi kesombonganmu. Tetapi di saat lain, dengan mengolah kata-kata yang sama, kau menunjukkan bahwa seolah-olah hanya kaulah manusia yang memiliki kemampuan untuk membangun Tanah ini,” geram Prastawa.

“Jangan salah mengerti Prastawa,” jawab Agung Sedayu, “aku sama sekali tidak bermaksud demikian.”

Tetapi Prastawa tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja ia berdiri sambil bertolak pinggang. Katanya, “Agung Sedayu, kau harus berani menunjukkan kepada kami, bahwa kau benar-benar mempunyai arti bagi Tanah Perdikan ini. Nah, apa yang dapat kau lakukan terhadap kami. Bukan kami bersama-sama, tetapi kami seorang demi seorang. Aku tahu, kau adalah murid Kiai Gringsing. Tetapi aku adalah murid Ki Gede Menoreh.”

“Jangan terlalu jauh menanggapi kehadiranku disini Prastawa,” berkata Agung Sedayu, “anggap saja aku datang untuk membantu apa yang kalian lakukan. Aku hanya seorang. Jika aku memang tidak berarti apa-apa, biarlah aku tidak berarti menurut pendapatmu. Tetapi jangan dihadapkan kepada cara seperti ini.”

“Persetan,” geram Prastawa, “ayo berdiri. Berdirilah.”

Agung Sedayu masih tetap duduk, meskipun anak-anak muda kawan Prastawa itu sudah berdiri.

“Berdirilah,” bentak Prastawa.

Namun demikian Agung Sedayu berdiri, tiba-tiba saja Prastawa telah memukul perut Agung Sedayu dengan sekuat-kuatnya.

Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Agung Sedayu terbungkuk oleh pukulan itu. Dalam pada itu, satu pukulan yang keras telah mengenai tengkuknya. Sisi telapak tangan Prastawa telah mendorong Agung Sedayu tertelungkup, meskipun ia mencoba bertahan pada kedua tangannya.

“Bangunlah, bangunlah anak perkasa,” geram Prastawa, “ayo bangkitlah agar kau tidak mati terinjak-injak disini.”

Perlahan-lahan Agung Sedayu mencoba untuk bangkit. Namun dengan kerasnya Prastawa telah menendangnya tepat pada perutnya pula, sehingga Agung Sedayu terjatuh pula.

Demikian Agung Sedayu menyeringai menahan sakit, maka terdengar Prastawa pun tertawa. Kawan-kawannya yang menegang, tiba-tiba telah ikut tertawa pula berkepanjangan.

Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Prastawa itu pun berkata, “marilah anak-anak, berbuatlah sesuatu. Ternyata kulitnya tidak sekeras kulit buaya seperti yang aku duga, tetapi kulitnya hanyalah selunak kulit kelinci.”

Anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika sekali lagi Prastawa memukul Agung Sydayu, maka anak-anak muda itu pun ikut pula memukulnya beramai-ramai. Bahkan kemudian mereka pun saling berebutan memukul Agung Sedayu yang berdiri tertatih-tatih.

Dalam pada itu, jantung Agung Sedayu rasa-rasanya telah terbakar oleh kemarahan atas sikap itu. Tetapi ia sudah berjanji untuk menahan diri dan tidak memusuhi anak-anak Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk mengekang diri tanpa membalas sama sekali.

Sementara itu, anak-anak Tanah Perdikan Menoreh yang berada di pategalan bersama Prastawa itu pun telah berbuat sesuka hati mereka. Mereka memukul, menendang, menghantam dengan siku, dengan lutut dan dengan apa saja.

Prastawa yang justru tidak berbuat sesuatu lagi. dan berdiri selangkah dari anak-anak muda yang mengerumuni Agung Sedayu itu justru menjadi jengkel. Ia masih melihat Agung Sedayu tetap berdiri meskipun kawan-kawannya telah memukulinya.

“Minggir,” teriak Prastawa kemudian, “aku akan membuatnya jatuh mencium tanah. Tanah yang sama-sama kita hormati dari Tanah Perdikan ini.”

Suaranya yang menggelegar itu telah menyibakkan kawan-kawannya, sehingga kemudian Prastawa berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu yang masih tetap berdiri tegak.

“Gila,” geram Prastawa, “kau mulai mencoba menakut-nakuti anak-anak ini dengan daya tahanmu yang luar biasa?”

Agung Sedayu sudah menggerakkan mulutnya untuk menjawab. Tetapi Prastawa telah mendahuluinya. Sekali lagi ia menghantam perut Agung Sedayu. Tidak hanya dengan tangannya, tetapi dengan tumit kakinya.

Agung Sedayu bergeser setapak surut. Tetapi ia masih tetap berdiri saja meskipun ia memegangi perutnya yang dihantam oleh kaki Prastawa.

Melihat sikap Agung Sedayu, Prastawa menjadi semakin marah. Sekali lagi ia menghantam dengan kakinya, justru pada dada. Namun seperti semula, Agung Sedayu hanya bergeser saja setapak surut.

“Gila,” geram Prastawa, “Kita harus menjatuhkannya. Kita harus membuatnya jatuh terbujur di tanah. Kita bersama-sama.”

adbm-145-01Sekali lagi anak-anak muda itu berebutan menghantam Agung Sedayu dengan sekuat tenaganya, termasuk Prastawa sendiri. Tetapi Agung Sedayu masih tetap berdiri tegak. Bahkan kadang-kadang terdengar giginya gemeretak menahan kemarahan yang hampir tidak terkendali lagi. Namun demikian, ia masih tetap berusaha untuk tidak melawan dengan terang-terangan, meskipun sikapnya itu pun sudah cukup memberikan perlawanan. Justru kediamannya itu, tetapi ia tetap berdiri tegak dan tidak tergoyahkan.

Karena sebenarnyalah, pukulan-pukulan itu tidak berarti apa-apa bagi kekebalan tubuh Agung Sedayu.

Namun dengan demikian, Prastawa dan kawan-kawannya itu bagaikan menjadi gila. Mereka benar-benar kehilangan pengekangan diri. Mereka menghantam Agung Sedayu dengan segenap kekuatan mereka pada tubuh Agung Sedayu tanpa memilih.

Dalam pada itu, barulah Agung Sedayu sadar, bahwa ia pun telah hanyut kedalam arus perasaan mudanya. Seharusnya ia tidak bersikap demikian, sehingga membuat anak-anak itu bagaikan menjadi gila.

“Aku harus jatuh,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “jika tidak, maka anak-anak ini akan benar-benar menjadi gila dan kehilangan pengamatan diri.”

Karena itu, untuk memberikan kepuasan kepada anak-anak itu, tiba-tiba saja kaki Agung Sedayu menjadi goyah. Perlahan-lahan ia menjadi gontai. Akhirnya Agung Sedayu itu pun jatuh pada lututnya.

“Rasakan,” geram Prastawa sambil menghantam dagu Agung Sedayu sehingga wajahnya terangkat. Tetapi pada saat itu dihantamnya kening Agung Sedayu dengan sekuat tenaganya, sehingga wajah yang terangkat itu pun bagaikan diputar kesamping. Sehingga Agung Sedayu pun bagaikan terputar pula dan jatuh ditanah.

Demikian Agung Sedayu terbujur di tanah, Prastawa menarik nafas dalam-dalam sambil berdiri bertolak pinggang, “Nah, kau harus merasai, apa yang dapat kami lakukan atasmu.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menjawab. Wajahnya tertelungkup dibayangi oleh kedua tangannya yang bersilang didahinya.

“Agung Sedayu,” Prastawa mengguncang tubuh itu dengan kakinya, “kali ini kami hanya ingin memberikan sedikit peringatan. Ada dua kemungkinan yang dapat kau tempuh. Pergi dari Tanah Perdikan ini, atau tunduk kepada segala perintahku. Jika tidak, maka pada saat lain jika dapat berbuat lebih banyak lagi.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Bahkan salah seorang dari anak muda itu berdesis, “Apakah ia mati?”

“Jika ia mati, akan kami kuburkan di pategalan ini,” geram yang lain.

Tetapi anak-anak itu menjadi gelisah. Namun Prastawa dengan kasar telah membalikkan tubuh Agung Sedayu dengan kakinya.

“Ia masih bernafas,” geram Prastawa, “marilah kita pergi. Jika sehari ini ia tidak datang ke rumah paman, maka ia mati disini. Dan kita harus mengambil langkah-langkah.” lalu katanya kepada Agung Sedayu, “kau jangan mengadukan hal ini kepada paman, jika kau tidak ingin hal serupa ini terulang, jauh lebih parah bagimu sendiri.”

Prastawa tidak menghiraukannya lagi. Ia pun segera melangkah pergi. Diikuti oleh beberapa orang kawan-kawannya itu.

Namun ternyata seorang di antara mereka telah datang kembali dengan tergesa-gesa sambil membawa air di tudung kepalanya. Untunglah bahwa Agung Sedayu masih terbaring ditanah. Ia merasa anak muda itu mengusap wajahnya dengan air yang segar.

“Bangunlah. Jangan mati,” desis anak muda itu.

Agung Sedayu membuka matanya. Ia melihat wajah anak muda itu. Nampaknya ia pun menjadi gembira melihat Agung Sedayu membuka matanya. Namun ia tidak menunggu terlalu lama. Ia pun segera bangkit dan pergi menyusul kawan-kawannya.

Sepeninggal anak muda itu. Agung Sedayu masih berbaring beberapa saat. Bukan karena badannya menjadi sakit. Ia tidak merasakan apapun juga, karena ia telah melindungi dirinya dengan ilmunya, bahkan pukulan-pukulan itu menggetarkan kulitnyapun tidak. Tetapi rasa-rasanya ia masih ingin merenungi tingkah laku anak-anak muda itu beberapa saat ditempatnya.

Namun akhirnya ia pun bangkit. Dikibaskannya pakaiannya yang menjadi kotor. Ia tidak mau mengejutkan pemilik pategalan itu, jika tiba-tiba saja orang itu datang.

Setelah membenahi dirinya, maka Agung Sedayu pun segera keluar dari pategalan itu, meneruskan langkahnya. Tetapi karena pakaiannya yang menjadi kotor, ia pun kemudian berbelok memintas jalan sempit ditengah bulak menuju kembali keinduk padukuhan di Tanah Perdikan Menoreh.

Ia masih bertemu beberapa orang anak-anak muda sebayanya yang masih mengenalnya. Seperti sebelumnya sebagian besar dari mereka menyambut kedatangan Agung Sedayu dengan senang hati.

“Kenapa pakaianmu?” bertanya seorang anak muda.

“Aku tergelincir di tepi parit di ujung galengan,” jawab Agung Sedayu.

Nampaknya kau jarang berjalan di jalan-jalan sempit di antara air dan lumpur,” berkata anak muda itu sambil tertawa.

“Tidak. Di Sangkal Putung, akupun setiap hari bergulat dengan lumpur. Tetapi sekali-sekali akupun tergelincir juga seperti sekarang ini,” jawab Agung Sedayu.

Anak muda itu tertawa. Lalu ia pun bertanya, “Sekarang kau akan kemana?”

“Kembali ke induk padukuhan,” jawab Agung Sedayu.

“O, kau memang memilih jalan memintas ini? Baik. Biasakan berjalan di jalan-jalan sempit seperti ini. Sayang, parit-parit sebagian menjadi kering, sehingga kesempatanmu tergelincir menjadi lebih kecil.” anak muda itu bergurau.

Agung Sedayu pun tertawa. Katanya, “Terima kasih. Asal bukan dengan sengaja kau siram aku dengan lumpur.”

Anak muda itu pun tertawa. Lalu katanya, “Kapan kita bertemu dan berbicara tentang diri kita. Maksudku, diri kami, anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Juga tentang pengawal Tanah Perdikan dan tentang parit-parit.”

“Aku akan datang. He, bukankah gardu-gardu masih dapat dipergunakan?” bertanya Agung Sedayu.

“Gardu disudut padukuhanku itu sudah rusak,” jawab anak muda itu.

“Kenapa tidak kau perbaiki?” bertanya Agung Sedayu.

“Lain kali, aku akan memperbaikinya,” jawab anak muda itu.

Agung Sedayu pun meninggalkannya. Setiap kali ia sempat bertanya tentang gardu. Tentang bambu yang dapat diambil di setiap sudut pekarangan. Tali ijuk yang dapat dibeli di sembarang tempat.

“Apa sulitnya memperbaiki gardu? “ Agung Sedayu selalu bertanya kepada anak-anak muda itu tentang gardu.

Ketika Agung Sedayu kemudian sampai di padukuhan induk, ia melihat sekelompok anak-anak muda kawan-kawan Prastawa itu menunggunya di depan regol rumah Ki Gede Menoreh. Ketika mereka mehhat Agung Sedayu mendekat, maka mereka pun saling berbicara. Seorang diatara mereka masuk ke halaman untuk memberitahukan kehadiran Agung Sedayu itu kepada Prastawa.

“Anak itu tidak mati,” geram Prastawa, “akupun sudah menjadi berdebar-debar. Jika ia mati, paman tentu akan marah sekali. Untunglah kita masih dapat bersabar dan menahan hati, sehingga kita masih sempat membiarkannya tetap hidup.”

Prastawa pun kemudian pergi ke regol juga. Dipandanginya Agung Sedayu yang berjalan menuju ke regol. Sambil mengerutkan keningnya ia berdesis, “Tidak nampak bekas-bekasnya sama sekali, bahwa ia baru saja mengalami perlakuan yang dapat membuatnya jera. Ia berjalan seperti biasa. Masih juga dengan mengangkat dada penuh kesombongan.”

Agung Sedayu yang juga melihat anak-anak itu menjadi berdebar-debar pula. Apalagi yang akan diperbuat oleh anak-anak itu.

“Tetapi mereka tidak akan berbuat apa-apa di hadapan Ki Gede Menoreh,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Dalam pada itu, semakin lama Agung Sedayu pun menjadi semakin dekat. Prastawa dan kawan-kawannya menjadi semakin heran. Sama sekali tidak nampak bekas-bekas peristiwa yang terjadi di pategalan. Kening Agung Sedayu tidak menjadi biru kemerah-merahan, langkahnya, sikapnya, tidak menunjukkan sama sekali, bahwa ia baru saja mengalami perlakuan yang kasar.

“Anak iblis,” geram Prastawa. Namun katanya kemudian, “Ia berhasil menahan kesakitannya. Dengan sombong ia berusaha untuk nampak tetap segar. Tetapi sebentar lagi ia akan menangis di biliknya.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

Sementara itu. Agung Sedayu telah sampai ke regol halaman. Prastawa yang berdiri di pintu regol menghentikan langkahnya.

Sambil memandang Agung Sedayu dengan tajam Prastawa itu pun berkata, “He, anak iblis. Ingat. Jangan kau katakan apapun yang terjadi atasmu, agar kau tidak mati di pategalan di kesempatan lain.”

Agung Sedayu mengangguk perlahan. Namun sementara itu, Prastawa masih terheran-heran bahwa tidak ada bekasnya sama sekali pada tubuh Agung Sedayu tetap bersih. Hanya pakaiannya sajalah yang kotor.

“Apa yang akan kau katakan tentang pakaianmu yang kotor?” bertanya Prastawa kemudian.

“Apa saja. Tergelincir di pinggir parit barangkali,” jawab Agung Sedayu.

“Paman tidak akan percaya. Cari alasan yang lebih baik,” bentak Prastawa.

“Tolong, apa yang sebaiknya aku katakan kepada Ki Gede,” bertanya Agung Sedayu.

“Gila,” Prastawa menggeram, “jika kau tidak berada di depan regol rumah paman, aku sobek mulutmu. Sudah tentu kaulah yang harus mancari alasan, bukan aku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam. Lalu katanya, “Kalau begitu, aku akan langsung menuju kebilikku, agar aku sempat membenahi pakaianku. Dengan demikian aku tidak akan mendapat pertanyaan yang sulit aku jawab.”

“Pergilah anak iblis,” gigi Prastawa gemeretak. Sementara Agung Sedayu pun melangkah memasuki regol dan seperti yang dikatakannya, ia pun langsung menuju kegandok.

Sepeninggal Agung Sedayu, Prastawa bergumam di antara kawan-kawannya, “Ia sudah menjadi semakin jinak. Aku kira ia akan benar-benar menjadi jera. Jika ia tidak meninggalkan Tanah Perdikan ini, tentu ia tidak akan berani berbuat apa-apa lagi disini, sehingga usaha paman memanggilnya kemari, tidak akan berarti apa-apa. Kita, anak-anak Tanah Perdikan inipun tidak akan tercoreng orang karena kehadiran orang lain. Seolah-olah kita sendiri tidak mampu berbuat apa-apa.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun satu dua orang di antara mereka mulai dijalari oleh berbagai pertanyaan. Mereka melihat, bagaimana Prastawa dan diri mereka sendiri telah menyakiti Agung Sedayu, namun nampaknya Agung Sedayu itu sama sekali tidak mengalami kesakitan apapun juga. Atau seandainya ia mengalami kesakitan, maka dalam sekejap, ia telah dapat melupakannya.

Namun Prastawa yang agaknya melihat keheranan di wajah kawan-kawannya itu berkata, “Untung aku tidak lupa diri, sehingga aku benar-benar menyakitinya. Jika aku menjadi waringuten, dan tidak lagi dapat menahan diri, maka aku kira, wajahnya akan menjadi biru pengab. Tetapi jika demikian, apa yang dapat dikatakannya kepada paman Argapati?”

Kawan-kawannya mengangguk angguk. Ada juga yang terpengaruh oleh kata-kata itu. Tetapi masih ada satu dua yang ragu-ragu. Mereka melihat, betapa Prastawa sudah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Jika yang mengalami perlakuan itu adalah orang-orang kebanyakan, maka ia tidak akan dapat bangkit untuk sepekan.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang langsung masuk kedalam biliknya itu pun telah membenahi pakaiannya. Yang kotor dilepasnya, dan ia pun telah mengenakan pakaian yang dipakainya dan berada di serambi, maka sama sekali tidak ada bekas apapun juga yang dapat memancing pertanyaan kepadanya.

Namun agaknya Ki Gede sedang sibuk didalam rumahnya dengan Ki Waskita. Karena itu, maka mereka tidak melihat kedatangan Agung Sedayu yang langsung menuju ke biliknya. Baru kemudian, ketika keduanya mendengar bahwa Agung Sedayu telah datang, maka anak muda itu telah mereka panggil masuk keruang dalam. Namun demikian Agung Sedayu melihat, tatapan wajah Prastawa masih saja mengancamnya.

Ketika kemudian Agung Sedayu duduk bersama Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita, maka ia pun mulai berceritera tentang apa yang dilihatnya di Tanah Perdikan Menoreh.

“Meskipun aku belum melihat seluruhnya, tetapi aku sudah melihat cukup banyak,” berkata Agung Sedayu.

“Itulah keadaan Tanah Perdikan ini Agung Sedayu,” berkata Ki Gede, “Tidak ada lagi yang dapat diharapkan. Mudah-mudahan kau dapat membantu kami. Kedatanganmu akan dapat membangunkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.”

Agung Sedayu, mengangguk-angguk. Sebenarnyalah Tanah Perdikan itu perlu diguncang dengan kejutan-kejutan agar anak-anak mudanya bangkit bagi Tanah Perdikannya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu sama sekali tidak menyinggung tentang tingkah laku Prastawa yang berusaha menyakitinya. Ia berniat hal-hal seperti itu akan dapat diatasinya sendiri.

Bahkan Agung Sedayu pun kemudian berkata kepada Ki Gede, “Aku ingin melihat kehidupan Tanah Perdikan ini di malam hari.”

“Silahkan,” berkata Ki Gede, “apa yang kau anggap penting untuk dilihat, lihatlah jika itu akan dapat menjadi bahan langkah-langkah yang kau ambil.”

Hari itu Agung Sedayu belum dapat mengatakan apa-apa kepada Ki Gede. Dan Ki Gede pun tahu, bahwa Agung Sedayu memerlukan waktu untuk melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Menoreh. Baru beberapa hari kemudian Agung Sedayu akan dapat mengajukan pendapat-pendapatnya yang mungkin bermanfaat bagi Tanah Perdikan itu.

Namun dalam pada itu, ketika Agung Sedayu dan Ki Waskita berada didalam bilik mereka, barulah anak muda itu menceriterakan apa yang telah dialaminya.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga.”

“Tetapi biarlah paman. Aku akan mencari cara untuk mengatasinya. Memang mungkin pada suatu hari aku terpaksa menyombongkan diri. Bukan sekedar menyombongkan diri, namun aku berharap bahwa dengan demikian kehadiranku disini ada gunanya,” berkata Agung Sedayu.

“Memang mungkin sekali,” desis Ki Waskita, “tetapi kau harus memperhitungkan waktu dan keadaan. Jika dengan langkah itu kau justru dimusuhi oleh anak-anak muda Tanah ini, maka kau harus menghindarinya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Benar Ki Waskita. Mudah-mudahan aku dapat memperhitungkan waktu keadaan itu.”

Demikianlah, seperti yang sudah direncanakan. Agung Sedayu benar-benar ingin melihat keadaan Tanah Perdikan Menoreh di malam hari. Kepada Ki Gede ia berkata, “Aku akan pergi pada saat yang aku anggap tepat Ki Gede. Mungkin menjelang malam, mungkin tengah malam atau justru dini hari.”

“Terserah kepadamu. Tetapi jika kau perlu, kau dapat mengajak Prastawa dan dua atau tiga orang pengawal,” berkata Ki Gede.

“Terima kasih Ki Gede,” jawab Agung Sedayu. “Aku masih tetap ingin pergi seorang diri. Aku akan dapat bebas menentukan apa yang akan aku lihat dan apa yang akan aku perbuat.”

Ki Gede yang sudah mempercayai Agung Sedayu itu pun sama sekali tidak berkeberatan apapun yang akan dilakukan. Karena itu, maka ia pun menyerahkan segala kebijaksanaan kepada anak muda itu.

Karena itu, maka ketika malam turun, Agung Sedayu dan Ki Waskita telah berada didalam biliknya. Agaknya Agung Sedayu mencoba menjelaskan rencananya kepada Ki Waskita untuk mulai menggelitik hati anak-anak muda di padukuhan-padukuhan.

“Aku akan memukul kentongan yang masih tersisa di gardu-gardu,” berkata Agung Sedayu, “mudah-mudahan suaranya akan menimbulkan pertanyaan, siapakah yang membunyikannya, akan memancing keinginan mereka untuk melihat, dan barangkali mengenang serba sedikit tentang gardu dan kentongan.”

“Tetapi gardu-gardu itu sudah rusak. Tidak lagi ada kentongan di gardu-gardu yang rusak itu,” berkata Ki Waskita.

“Jika demikian, aku akan membawa kentongan yang tergantung di serambi gandok itu. Meskipun kentongan itu kecil, tetapi suaranya cukup keras untuk membangunkan beberapa rumah di seputar gardu-gardu itu.”

“Kau dapat mencobanya,” berkata Ki Waskita, “mungkin besok atau lusa kau menemukan cara lain yang lebih langsung.”

“Ya. Mudah-mudahan. Tetapi aku masih harus selalu memperhitungkan sikap Prastawa. Karena itu, nanti aku akan keluar dari halaman ini tidak melalui regol depan,” berkata Agung Sedayu.

“Melalui butulan?” bertanya Ki Waskita.

“Juga tidak. Mungkin Prastawa meletakkan orang-orangnya disemua jalan keluar,” jawab Agung Sedayu, “karena itu, aku akan meloncati dinding saja. Demikian pula jika aku nanti kembali.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi agaknya cara itu lebih baik dilakukan oleh Agung Sedayu untuk menghindarkan diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk menghadapi Prastawa, justru karena Agung Sedayu sendiri masih muda pula, sehingga apabila darahnya tidak lagi dapat terkekang, maka anak itu akan dapat meledak. Jika Agung Sedayu marah, maka siapapun juga tidak akan berarti apa-apa baginya.

Demikianlah, maka seperti yang direncanakan ketika malam menjadi semakin sepi. Agung Sedayu telah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Ki Waskita dalam biliknya. Namun Ki Waskita masih juga berpesan, agar ia berbuat dengan sangat berhati-hati.

“Nampaknya Prastawa ada di regol bersama kawan-kawannya,” berkata Ki Waskita.

“Ya. Aku kira Prastawa masih tetap mencurigai aku meskipun ia sudah mengancam beberapa kali,” berkata Agung Sedayu.

Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian sama sekali tidak diketahui oleh Prastawa. Dengan hati-hati Agung Sedayu mengambil kentongan kecil di serambi. Kemudian membawa kentongan itu keluar dari halaman dengan meloncat dinding.

Ketika Agung Sedayu sudah berada diluar dinding halaman rumah Ki Gede, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Jalan sempit di sebelah rumah Ki Gede itu rasa-rasanya sepi sekali. Bahkan jalan yang lebih besar di depan rumah itu pun juga nampak sangat sepi.

Agung Sedayu kemudian melangkah menyelusuri jalan kecil itu. Ia tidak akan berbuat apa-apa di padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu agar tidak menarik perhatian Prastawa. Agaknya seperti malam sebelumnya, Prastawa dan kawan-kawannya yang berada diregol, akan membunyikan kentongan pula pada saat-saat tertentu menjelang tengah malam. Kemudian tepat ditengah malam, Prastawa akan membunyikan kentongan dengan irama dara muluk.

Setelah lewat jalan sempit beberapa lama, maka Agung Sedayu pun sampai ke jalan induk. Ia mengerti, bahwa di regol padukuhan induk itu pun tidak ada orang yang berjaga-jaga. Karena itu, maka dengan tenang Agung Sedayu berjalan terus.

Meskipun demikian, mendekati regol ia merasa perlu untuk berhati-hati. Seandainya secara kebetulan ada orang digardu. Namun ternyata gardu di regol yang sudah hampir rusak itu pun sepi.

Diluar regol padukuhan induk, Agung Sedayu berjalan semakin tenang. Seandainya ia bertemu dengan satu dua orang petani yang terpaksa pergi ke sawah untuk menyadap air yang menjadi semakin sulit, maka ia tentu akan dapat melihatnya lebih dahulu, sehingga ia akan sempat menghindar agar tidak seorang pun yang mengetahui bahwa ia berkeliaran di malam hari di Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti yang direncanakan. Agung Sedayu pergi dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Ternyata padukuhan-padukuhan itu benar-benar sepi. Anak-anak mudanya lebih senang tidur di rumah masing-masing. Tidak ada pengawal yang bertugas di gardu gardu secara bergiliran. Apalagi yang meronda nganglang dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain.

“Benar-benar satu kemunduran,” desis Agung Sedayu. Namun agaknya Prastawa tidak mau mengerti. Pada dasarnya tanah yang subur, kebutuhan yang tercukupi, membuat Tanah Perdikan itu kurang berprihatin.

Ketika Agung Sedayu sampai di sebuah padukuhan kecil dan menemukan gardunya yang sudah rusak, maka timbul niatnya untuk menarik perhatian beberapa orang penghuni padukuhan itu, terutama anak-anak mudanya.

“Mudah-mudahan suara kentongan akan dapat memberikan sedikitnya satu kenangan pada masa-masa lampau dari Tanah Perdikan ini,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

adbm-145-02Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun akhirnya. Agung Sedayu telah memukul kentongan kecilnya. Meskipun kentongan itu memang sebuah kentongan kecil, namun suaranya cukup keras melengking dimalam yang sepi.

Sebenarnyalah seperti yang dimaksud oleh Agung Sedayu, suara kentongannya memang menarik perhatian.

Meskipun tidak banyak, tetapi ada beberapa orang laki-laki dan anak-anak muda yang mendengar kentongan melengking di malam hari. Sudah lama mereka tidak mendengar suara kentongan. Karena itu suara kentongan itu rasa-rasanya bagaikan lagu lama yang sudah tidak pernah lagi didendangkan, tiba-tiba saja mereka telah mendengarnya dalam irama yang sudah mereka kenal dengan baik.

Karena itu, maka suara kentongan itu mendapat perhatian yang khusus dari anak-anak muda di padukuhan itu. Meskipun mereka tidak langsung keluar dari rumah mereka, namun suara itu telah menggelitik hatinya untuk bertanya di antara mereka, siapakah yang telah memukul kentongan itu.

Ternyata Agung Sedayu tidak hanya melakukan di satu tempat. Ia memukul kentongan di beberapa sudut padukuhan dan regol yang sepi. Di gardu-gardu yang rusak dan tidak lagi dipergunakan. Bahkan di simpang empat didalam padukuhan-padukuhan kecil.

Tetapi karena kentongan Agung Sedayu memang hanya sebuah kentongan kecil, maka suaranya tak terdengar sampai ke padukuhan induk. Sehingga karena itu, maka Prastawa dan kawan-kawannya sama sekali tidak mendengarnya.

Malam itu, Agung Sedayu telah berhasil menggelitik hati anak-anak muda di beberapa padukuhan kecil. Ketika ia sudah merasa cukup, maka ia pun segera kembali ke padukuhan induk. Dengan cara yang sama seperti saat ia meninggalkan rumah Ki Gede, maka ia pun telah masuk kembali. Dengan hati-hati ia menggantungkan kentongan di tempatnya semula. Tanpa diketahui oleh Prastawa dan kawan-kawannya, Agung Sedayu telah masuk kembali kedalam biliknya di gandok.

Ternyata Ki Waskita masih belum tidur. Justru dengan pendengarannya yang tajam, ia mendengar kedatangan Agung Sedayu mendekati pintu. Karena itulah, sebelum Agung Sedayu mengetuknya, Ki Waskita sudah membukanya.

Dengan singkat Agung Sedayu menceriterakan apa yang sudah dilakukannya. Meskipun Agung Sedayu sendiri tidak yakin, apakah ada gunanya.

Namun sebenarnyalah, ketika fajar menyingsing, dan padukuhan-padukuhan itu mulai bangun. Beberapa orang anak muda yang bertemu di pinggir jalan ketika mereka pergi ke sungai, saling bertanya yang satu dengan yang lain.

“Aneh,” berkata seorang anak muda, “gardu itu tidak lagi mempunyai kentongan.”

Tetapi ternyata ada dugaan yang justru bertentangan dengan maksud Agung Sedayu. Seorang anak muda bertubuh kurus berdesis, “Mungkin di padukuhan ini ada hantunya sekarang.”

“Ah,” sahut kawannya, “ada hantu memukul kentongan?”

“Kentongannya pun tidak ada. He, jika bukan hantu kentongan manakah yang berbunyi semalam? Kentongan diserambi rumahku suaranya tidak seperti itu. Yang aku dengar semalam adalah suara kentongan bambu yang tidak cukup besar.”

“Ya, memang hanya kentongan kecil. Tetapi aku kira bukan hantu. Tetapi aku tidak dapat menyebutnya, siapa,” jawab yang lain.

Namun bagaimanapun juga, suara kentongan itu telah menjadi bahan pembicaraan beberapa orang anak muda di beberapa padukuhan yang sempat di kunjungi oleh Agung Sedayu semalam. Agaknya dengan demikian maka sebagian dari maksud Agung Sedayu sudah dapat terpenuhi. Dengan membicarakan suara kentongan, maka anak-anak muda itu pun mulai berbicara pula tentang gardu-gardu yang rusak.

“Dengar,” tiba-tiba seorang anak muda berkata, “kemarin aku bertemu dengan Agung Sedayu.”

“Agung Sedayu,” desis kawannya, “maksudmu Agung Sedayu dari Jati Anom yang datang bersama Ki Gede?”

“Ya. Kemarin aku bertemu dengan anak muda itu di bulak sebelah. Pakaiannya kotor, karena menurut keterangannya ia tergelincir jatuh di ujung jalan sempit itu,” jawab anak muda yang pertama.

“Bagaimana dengan Agung Sedayu?” bertanya kawannya.

“Entahlah, tetapi kenapa aku tiba-tba saja menghubungkan suara kentongan dengan Agung Sedayu.”

“Ia kemarin bertanya kepadaku tentang gardu yang rusak.”

“Bahkan ia menyebut-nyebut tentang rumpun-rumpun bambu yang banyak terdapat di padukuhan kita. Dan ia pun berbicara tentang tali ijuk yang sangat murah harganya.”

“Apakah maksudnya agar kita memperbaiki gardu-gardu yang rusak itu?” bertanya kawannya.

“ Mungkin,” jawab yang pertama.

“Buat apa? Kita tidak memerlukannya lagi.” sahut yang lain.

“Tetapi kawan-kawannya ternyata terpaksa merenungi kata-kata itu. Apakah benar bahwa mereka tidak memerlukan lagi.”

Meskipun anak-anak muda itu tidak mengambil kesimpulan, namun mereka mulai merenunginya. Mereka mulai mengingat-ingat, apa saja yang pernah terjadi pada saat-saat terakhir, setelah mereka menganggap bahwa gardu-gardu itu sama sekali tidak berarti lagi.

Seperti daerah-daerah yang lain, maka Tanah Perdikan Menoreh tidak bersih sama sekali dari kejahatan. Pencurian dan perampokan-perampokan kecil memang pernah terjadi. Sementara itu tidak ada lagi orang yang menghiraukannya. Hanya pada saat-saat tertentu, jika ada seseorang berteriak tentang pencuri dirumahnya, maka tetangga-tetangganya dengan malas keluar rumah dan berusaha untuk membantu menangkap pencuri itu. Tetapi biasanya pencuri itu bergerak lebih cepat, sehingga hampir tidak pernah ada seorang pencuri pun yang tertangkap.

Namun anak-anak muda yang mulai merenung itu, ternyata tidak hanya berbicara tentang gardu. Seorang anak muda yang bertemu dengan Agung Sedayu, meskipun hanya sekilas, telah mendengar beberapa pertanyaan Agung Sedayu tentang parit yang kering. Jalan yang rusak dan segala kegiatan yang menurun.

Meskipun demikian, anak-anak muda itu masih terbatas pada merenunginya. Bahkan ada satu dua yang tidak menghiraukannya lagi. Mereka merasa bahwa gardu hanya akan membuat mereka kedinginan di saat-saat mereka meronda, dan parit-parit yang kering akan merupakan panggilan bagi mereka untuk turun memperbaiki bendungan.

Dalam pada itu, selagi beberapa orang anak-anak muda di beberapa padukuhan merenungi pendengaran mereka atas suara kentongan yang tidak mereka ketahui dengan pasti dari mana sumbernya itu, di rumah Ki Gede, para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh dan para pemimpin padukuhan telah berkumpul sebagaimana mereka lakukan setiap sepekan sekali.

Nampaknya kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ki Gede untuk mulai dengan rencana besarnya, membangunkan Tanah Perdikan Menoreh. Dengan memperkenalkan Agung Sedayu kepada mereka, maka Ki Gede berkata, “Aku mengajak angger Agung Sedayu untuk membantu kita.”

Sebagian besar dari para pemimpin Tanah Perdikan itu sudah mengenal Agung Sedayu. Karena itu, maka mereka pun telah menyambut baik kedatangan anak muda itu di Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, wajah Prastawa masih saja garang bagi Agung Sedayu. Setiap kali Agung Sedayu sempat memandangi wajah itu, selagi ia berhadapan dengan para pemimpin Tanah Perdikan itu dan para pemimpin padukuhan, maka nampak betapa anak muda itu mengumpatinya didalam hati.

Prastawa menjadi semakin marah didalam hati ketika ia mendengar pamannya berkata, “Pada hari-hari mendatang yang pendek, kami akan datang ke padukuhan-padukuhan untuk melihat langsung, apa yang perlu dibenahi.”

“Kami menunggu dengan senang hati Ki Gede,” jawab para pemimpin padukuhan itu.

Sebenarnyalah, ketika pertemuan itu selesai dan para pemimpin padukuhan meninggalkan rumah Ki Gede Menoreh, maka mulailah Ki Gede berbicara tentang rencana itu.

“Kau sudah melihat-lihat seorang diri Agung Sedayu,” berkata Ki Gede, “namun yang kau lakukan baru sekedar melihat. Tetapi kita bersama akan mengunjungi setiap padukuhan. Kita akan berbicara dan kemudian membuat rencana-rencana tertentu bagi padukuhan-padukuhan itu.”

“Bagus sekali Ki Gede,” jawab Agung Sedayu, “aku akan memanfaatkan segala kesempatan. Namun sekali lagi, bahwa kebangkitan Tanah Perdikan ini memang ternyata sekali atas usaha Tanah Perdikan ini sendiri. Kehadiranku hanya sekedar pertanda seperti yang Ki Gede maksudkan.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Itu adalah kewajiban kami. Disaat kami menyadarinya, maka kami harus mengerjakannya. Aku berharap bahwa para pemimpin Tanah Perdikan ini akan melakukannya bersamaku.”

Dihari berikutnya Ki Gede sudah akan mulai dengan rencananya. Ia sudah menunjuk beberapa orang yang akan menyertainya bersama beberapa orang pengawal.

Ketika para pemimpin Tanah Perdikan itu pulang kerumah masing-masing, satu dua di antara mereka sempat berbicara di antara mereka, “Nampaknya gairah kerja Ki Gede telah timbul lagi. Anak muda itu dapat mengisi kekosongan hatinya, yang hampir saja memadamkan api didadanya, sepeninggal anak gadisnya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun sebuah pertanyaan telah terlontar dari seorang pemimpin Tanah Perdikan yang masih tergolong muda usia, “Tetapi pada saat-saat yang demikian, apakah kita sudah berusaha untuk berbuat sesuatu?”

Seorang pemimpin lainnya menarik nafas dalam. Katanya, “Ya, kita sendiri juga tertidur selama ini. Untunglah bahwa kita belum terlambat. Masih mungkin bagi kita untuk mengejar ketinggalan kita selama ini.”

“Bukan ketinggalan,” jawab pemimpin yang masih muda itu, “Kita harus mengakui, bahwa kita justru telah bergerak mundur.”

“Kemanakan Ki Gede itu kurang dapat menempatkan diri,” desis seorang pemimpin yang lain.

Namun pemimpin yang masih muda itu menyahut, “Sebaiknya kita tidak mencari kesalahan pada orang lain. Kita semuanya sudah bersalah. Sekarang waktunya untuk memperbaiki kesalahan. Anak muda dari Jati Anom itu akan bekerja bersama kita. Kita harus merasa malu bahwa orang lain akan bekerja bagi kita, sementara kita sendiri tidak berbuat apa-apa.”

Dalam pada itu di hari yang sudah direncanakan, maka Ki. Gede telah bersiap untuk pergi ke padukuhan-padukuhan bersama beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Bersama dengan mereka telah diajak pula Agung Sedayu dan Ki Waskita yang akan di temani oleh Prastawa dan beberapa orang anak muda yang lain.

Namun dalam pada itu, selagi iring-iringan itu sudah siap dihalaman, Prastawa sempat mendekati Agung Sedayu sambil berdesis, “Kau yang mengajukan rencana ini?”

“Tidak. Bukan aku,” jawab Agung Sedayu.

“Siapa? Ki Waskita? “ desak Prastawa.

“Juga bukan. Ki Gede sendiri,” jawab Agung Sedayu pula.

Prastawa menggeretakkan giginya. Katanya, “Agaknya kau tidak lagi berani dengan sombong berkeliling Tanah Perdikan ini lagi seorang diri lalu kau membuat rencana terselubung, sehingga akhirnya paman Argapati telah mengambil satu kesimpulan untuk melakukan perjalanan ini.”

“Sama sekali tidak,” desis Agung Sedayu.

Prastawa memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Sorot matanya mengandung ancaman. Namun Agung Sedayu menghindari tatapan mata itu dan memandang kearah yang lain.

“Aku memang harus bersabar,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Tetapi ia tidak mau beradu pandang dengan Prastawa yang semakin lama memang terasa sangat menjengkelkan. Jika ia kehilangan kesabaran, maka sorot matanya akan dapat berbahaya bagi Prastawa.

Dalam pada itu Prastawa tidak dapat bertanya lebih banyak lagi ketika Ki Gede Menoreh telah hadir dan kemudian bersiap untuk berangkat. Ia masih memberikan beberapa penjelasan kepada para pemimpin Tanah Perdikan yang mengikutinya beberapa saat. Baru kemudian iring-iringan itu mulai bergerak.

Ternyata bahwa iring-iringan itu benar-benar telah menarik perhatian rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Sudah lama mereka tidak melihat kesibukan yang demikian, sehingga karena itu maka hal itu telah menumbuhkan beberapa pertanyaan dihati rakyat Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, dihati para pemimpin Tanah Perdikan yang mengikuti Ki Gede itu, telah timbul berbagai macam tanggapan terhadap keadaan di Tanah Perdikan mereka sendiri itu. Rasa-rasanya mereka baru melihat untuk pertama kalinya, keadaan yang sebenarnya terjadi di kampung halaman mereka sendiri, meskipun setiap hari ia berada di tempat itu.

“Setiap hari aku lewat jalan ini,” berkata salah seorang pemimpin itu didalam hatinya, “tetapi baru kali ini aku tahu pasti, bahwa parit itu bukan saja kering, tetapi sudah rusak sama sekali. Seandainya bendungan diperbaiki, maka air tidak akan dapat mengalir lagi lewat parit ini.”

Ki Gede sendiri sebenarnya sudah cukup lama merasa prihatin. Tetapi setiap kali hatinya yang kosong telah menjebaknya sehingga ia menjadi tidak lagi bergairah untuk berbuat sesuatu. Namun kehadiran Agung Sedayu itu rasa-rasanya merupakan dorongan yang telah membuka hatinya pula.

Perjalanan itu ternyata telah menimbulkan hentakan pada Tanah Perdikan yang lesu itu. Ki Gede membawa para pemimpin itu menjelajahi satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Mereka berhenti beberapa saat di padukuhan-padukuhan itu, untuk berbicara dengan beberapa orang penghuninya. Sementara itu. para pemimpin padukuhan yang memang sudah mengetahui bahwa Ki Gecde akan berkeliling menjelajahi padukuhan demi padukuhan telah menyambut pula kedatangan iring-iringan itu.

Tetapi ternyata iring-iringan itu tidak berhenti terlalu lama di setiap padukuhan yang mereka lewati dihari pertama itu. Ki Gede dan para pemimpin Tanah Perdikan itu telah berbicara langsung dengan beberapa orang penghuni yang sempat menemui mereka. Ki Gede telah menanyakan keluhan-keluhan yang akan mereka sampaikan.

“Katakan apa adanya,” berkata Ki Gede.

Namun sebagian besar dari mereka tidak dapat mengatakannya dengan jelas. Tetapi terbayang pada kata kata mereka yang kadang-kadang tumpang suh itu. bahwa mereka merasakan kelesuan dalam tatanan kehidupan mereka sehari-hari. Baik dalam lingkungan keluarga mereka, maupun dalam tatanan hidup bebrayan didalam padukuhan mereka.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “sejak hari ini, kita akan bangkit dan bekerja lebih keras untuk menutup lubang yang selama ini telah kita gali sendiri. Para pemimpm padukuhan inilah yang pertama-tama harus bangkit. Kita bersama-sama akan bekerja keras bagi Tanah Perdikan ini.”

Ternyata usaha Ki Gede untuk hadir di padukuhan-padukuhan itu memberikan pengaruh yang sangat besar. Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang malas menilai keadaan diri sendiri, seolah-olah telah dihadapkan pada sebuah cermin yang besar.

Sementara itu, Agung Sedayu pun sempat melihat, bagaimana keadaan Tanah Perdikan itu sebenarnya. Bukan saja anak-anak mudanya menjadi lesu, tetapi orang-orang tua pun nampaknya tidak lagi bergairah untuk berbuat lebih banyak dari mencari makan bagi hidup mereka sehari-hari.

Namun dalam pada itu, dalam perjalanan semacam itu pula Ki Gede melihat, ada beberapa orang yang justru mengambil keuntungan. Orang yang dengan mata tertutup menghisap tetangga-tetangganya yang semakin lama menjadi semakin sulit untuk hidup. Mereka telah menaburkan uang mereka untuk memancing bunga yang kadang-kadang dapat mencekik leher.

Dalam perjalanan kembali ke padukuhan induk, Ki Gede itu pun berkata kepada para pengikutnya, “Aku hampir terlambat. Tetapi kita masih mendapat kesempatan. Angger Agung Sedayu, kau sudah melihat keadaan ini. Terserah kepadamu, kepada Prastawa dan kepada anak-anak muda yang masih mempunyai gairah yang besar untuk membantu aku membangun Tanah Perdikan ini, bagaimana sebaiknya membangunkan anak-anak muda Tanah Perdikan ini yang sedang tertidur itu.”

“Selama ini aku sudah berusaha, paman,” sahut Prastawa, “tetapi mereka memang malas sekali. Lebih dari itu, anak-anak muda di Tanah Perdikan ini, sudah dipengaruhi oleh kemalasan orang tua mereka, sehingga mereka sulit sekali untuk digerakkan. Meskipun demikian di antara anak-anak muda yang tidak lagi mau berbuat sesuatu, aku masih mempunyai kelompok anak-anak muda yang dengan gigih bekerja bagi Tanah Perdikan ini. Tanpa mereka, Tanah Perdikan ini benar-benar telah menjadi padang kehidupan yang sangat gersang.”

“Bagus,” jawab Ki Gede, “kau dapat meneruskannya. Sekarang ada Agung Sedayu pula yang mungkin dapat mengemukakan pikiran-pikiran baru disamping yang kau lakukan itu.”

Wajah Prastawa menegang. Tetapi ia tidak berani menjawab kata-kata Ki Gede, sementara Ki Gede sama sekali tidak sempat berpaling untuk memperhatikan wajah kemenakannya yang berkuda di belakangnya. Bahkan Ki Gede itu pun berkata kepada para pemimpin yang bersamanya, “Sekarang jelas bagi kita. Aku minta kalian membantu apa yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu dan kelanjutan kegiatan yang sudah dilakukan oleh Prastawa. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, gairah untuk hidup itu mulai menjalar di Tanah Perdikan ini, meskipun aku tahu, bahwa kita semuanya tidak dapat mengharap untuk memetik hasilnya dalam waktu yang terlalu dekat.

Seorang pemimpin Tanah Perdikan yang masih muda itu pun menjawab, “Kami akan melakukannya Ki Gede. Kami seharusnya merasa malu. bahwa semuanya itu telah terjadi di Tanah Perdikan ini.”

“Kau bangun kesiangan Ki Sanak,” sahut Prastawa, “aku sudah melakukan segalanya tanpa putus barang sehari pun. tetapi aku bekerja sendiri. Dan sekarang kau seolah-olah memikul tanggung jawab atas masa lampau yang suram itu dan tampil sebagai seorang pahlawan.”

Pemimpin yang masih muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi karena ia sadar, bahwa yang menyahut itu adalah Prastawa, kemanakan Ki Gede, maka ia pun tidak menjawab.

Tetapi yang menjawab Ki Gede Menoreh sendiri, “Apa salahnya melihat kesalahan masa lampau Prastawa. Bukankah dengan demikian akan timbul niat yang kuat untuk tidak melakukan kesalahan serupa. Yang sudah bekerja keras, sebaiknya itu dilanjutkan. Tetapi yang merasa dirinya belum berbuat apa-apa, biarlah ia bangun meskipun kesiangan. Itu lebih baik daripada tidur sepanjang hari.”

Prastawa menjadi tegang. Tetapi ia masih menjelaskan, “Maksudku, tidak semuanya kita tertidur nyenyak. Tidak semuanya harus merasa malu. Apalagi yang merasa telah bekerja keras selama ini meskipun tidak mendapat tanggapan apapun dari para pemimpin di padukuhan-padukuhan.”

“Bagus. Bagus,” sahut Ki Gede, “kau dapat melanjutkannya. Sementara kami yang bangun kesiangan akan membantumu mulai sekarang.”

Prastawa tidak menjawab lagi. Tetapi ia bergeser mendekat Agung Sedayu sambil bergumam “Nah, kau dapat tampil sekarang, seolah-olah kaulah yang telah berbuat paling baik di Tanah Perdikan ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Ingat. Kau pergi dari Tanah Perdikan ini, atau menurut segala petunjukku,” desis Prastawa.

“Kita bekerja bersama-sama,” sahut Agung Sedayu lirih.

“Aku sobek mulutmu. Kau hanya menjawab salah satu dari dua kemungkinan. Pergi dari Tanah Perdikan ini, atau menurut petunjukku,” geram Prastawa.

“Aku akan menurut petunjukmu, karena kau yang selalu berada di Tanah Perdikan ini,” jawab Agung Sedayu.

“Bagus. Tetapi jika kau ingkar, kau akan menyesal, atau bahkan kau tidak akan mendapat kesempatan untuk menyesali perbuatanmu itu,” desis Prastawa. Lalu. “Dahulu aku memang kalah berkelahi melawanmu, tetapi sekarang aku adalah murid Ki Gede Menoreh. Satu-satunya setelah Pandan Wangi pergi.”

“Ya, ya. Aku mengerti,” jawab Agung Sedayu pula.

Prastawa terdiam. Iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk. Namun dalam perjalanan kembali itu pun, beberapa orang di padukuhan-padukuhan yang mereka lalui merasa tergugah pula hatinya. Nampaknya akan ada pembaharuan yang timbul di Tanah Perdikan yang sudah beberapa lama lesu itu.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu menjadi gelisah. Prastawa benar-benar sangat menjengkelkan. Meskipun ia akan dapat saja tidak menghiraukannya, tetapi jika karena kehadirannya timbul kerusuhan dan perkelahian di antara anak-anak muda yang melihat dirinya, maka tentu bukan itulah yang dimaksud oleh Ki Gede.

Tetapi Agung Sedayu kemudian menemukan cara yang barangkali dapat ditempuhnya. Ia akan menempatkan diri dalam lingkungan anak-anak muda yang dipengaruhi oleh Prastawa. Ia akan menurut apa yang hendak dilakukan oleh Prastawa, karena dalam keadaan itu. ia pun tentu ingin menunjukkan kerja bagi Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, meskipun Ki Gede Menoreh belum menyusun rencana terperinci untuk kerja yang besar bagi Tanah Perdikan Menoreh, namun ia sudah memerintahkan setiap pemimpin padukuhan untuk berbuat sesuatu.

Terutama, sebelum langkah-langkah yang nyata, para pemimpin padukuhan diwajibkan untuk menggugah hati rakyat Tanah Perdikan Menoreh agar mereka bersiap-siap menghadapi kerja yang berat.

“Kita sudah cukup lama beristirahat,” berkata Ki Gede, “marilah kita sekarang bangun dan bekerja kembali.”

Dalam gejolak yang mulai terasa diseluruh Tanah Perdikan Menoreh itu, Prastawa pun ternyata tidak mau ketinggalan. Meskipun ia mempunyai caranya tersendiri, tetapi ia pun ingin tetap menjadi anak muda terpenting di Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti yang direncanakan. Agung Sedayu dengan sengaja telah berada didalam kelompoknya. Kepada Ki Gede ia mengatakan, bahwa ia akan melihat Tanah Perdikan itu lebih jelas lagi bersama anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang dipimpin oleh Prastawa.

Ki Gede rnenarik nafas dalam. Katanya, “Aku percaya bahwa kau tentu akan menentukan sikap tersendiri. Sebenarnyalah, aku kurang setuju dengan sikap Prastawa. Baik dalam hubungannya dengan para pemimpin padukuhan dan para pemimpin Tanah Perdikan ini, maupun sikapnya sebagai seorang anak muda.”

“Aku akan berusaha untuk ikut serta menentukan sikap anak-anak muda itu, Ki Gede,” jawab Agung Sedayu, “aku memang memilih jalan yang tidak akan saling berbenturan.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu tidak menceriterakan-nya, tetapi Ki Gede pun sudah dapat meraba, apa yang telah terjadi. Agaknya Agung Sedayu benar-benar seorang anak muda yang bijaksana. Ia ingin menempuh jalan yang paling baik bagi segala pihak, meskipun ia dapat berbuat lain dengan bekal yang ada padanya dan kuasa yang tentu akan diperolehnya bila ia minta langsung kepada Ki Gede.

Tetapi nampaknya Agung Sedayu mengambil jalan lain, meskipun jalan itu agaknya akan lebih panjang.

“Mudah-mudahan sikap itu bukan pertanda sikapnya yang lamban,” berkata Ki Gede didalam hatinya, “segalanya sudah mulai. Jika Agung Sedayu masih saja ragu-ragu untuk bertindak, seperti watak dan sifatnya yang pernah aku dengar, maka kehadirannya disini akan kurang berarti.”

Tetapi Ki Gede masih ingin melihat, apa yang dilakukan oleh anak muda dari Jati Anom itu.

Sementara itu, kepada Ki Waskita Agung Sedayu mengatakan rencenanya lebih terperinci lagi. Ia dengan terus terang berkata, “Aku tidak yakin, bahwa aku akan dapat bertahan untuk waktu yang terlalu lama Ki Waskita. Pada suatu saat, aku harus menunjukkan kepada anak itu, bahwa kelakuannya sudah sangat memuakkan. Tetapi apa kata Ki Gede jika karena kehadiranku telah terjadi pertengkaran. Justru dengan kemanakan Ki Gede itu sendiri, meskipun Ki Gede telah mengatakan kepadaku, bahwa ia tidak dapat membiarkan tingkah laku kemanakannya itu berkepanjangan.”

“Kau harus mempertimbangkan kata-kata Ki Gede itu ngger. Mungkin Ki Gede justru ingin kau mengimbangi tingkah lakunya dengan caramu. Bukan justru ikut dalam arus tingkah lakunya,” berkata Ki Waskita.

“Aku memang akan berbuat demikian Ki Waskita, tetapi aku akan melakukannya dari dalam. Tidak dari luar dan langsung berhadapan beradu dada,” berkata Agung Sedayu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Ia mengenal Agung Sedayu dengan baik sehingga ia pun sebenarnya harus sudah mengetahui, bahwa sikap itulah yang akan diambil oleh Agung Sedayu.

Sementara itu, Agung Sedayu harus mulai dengan rencananya ketika Prastawa datang kepadanya dan berkata, “Ikut aku sekarang.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun bertanya, “Kemana?”

“Jangan banyak bertanya,” berkata Prastawa, “Tanah ini sedang bekerja keras. Apakah kau datang kemari sekedar untuk tidur di gandok?”

“Tentu tidak,” jawab Agung Sedayu.

“Nah ikut aku sekarang,” berkata Prastawa pula.

“Baik. Aku akan berkemas,” sahut Agung Sedayu.

Sambil berbenah diri, Agung Sedayu pun minta diri kepada Ki Waskita untuk mengikuti Prastawa. Ia belum tahu, kemana dan untuk apa.

Sejenak kemudian, Prastawa dan tujuh orang kawannya telah meninggalkan padukuhan induk bersama Agung Sedayu. Mereka pergi ke padukuhan kecil di seberang bulak panjang.

Ternyata di pintu gerbang padukuhan kecil itu telah terdapat beberapa anak muda yang telah bersiap-siap untuk melakukan sesuatu. Mereka membawa beberapa jenis alat untuk satu kerja.

“Kita akan memperbaiki bendungan,” berkata Prastawa, “di sebelah padukuhan itu ada sebuah sungai kecil yang semula memberikan air bagi beberapa petak sawah. Tetapi bendungan itu sudah rusak. Kita akan memperbaikinya sekarang.”

“Ya,” jawab Prastawa.

“Kenapa tidak dimulai sejak matahari terbit di pagi hari? Udaranya tentu masih segar dan kerja yang dihasilkan untuk satu hari akan nampak. Jika kita mulai dengan kerja yang besar lewat tengah hari begini, maka demikian kita mulai berkeringat, matahari sudah condong dan sebentar lagi tenggelam,” jawab Agung Sedayu.

“Pemalas,” geram Prastawa,” Kita akan bekerja kapan saja tanpa mengingat waktu. Kita harus bekerja keras bagi Tanah Perdikan ini. Aku tahu, kau bukan anak muda Tanah Perdikan ini, sehingga kau, merasa segan untuk bekerja keras. Tetapi jika tidak untuk bekerja keras, lalu apa gunanya kehadiranmu disini.”

“Bekerja keras bukan berarti bekerja seingatnya,” jawab Agung Sedayu, “tetapi perencanaan itu perlu, agar kerja kita menghasilkan sebagaimana kita kehendaki.”

“Tutup mulutmu,” bentak Prastawa, “kau harus melakukan apa yang aku katakan. Kau harus menunjukkan kerja melampaui anak-anak muda Tanah Perdikan ini.”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia tidak ingin menjawab lagi agar tidak terjadi perselisihan. Ia akan melakukan apa saja yang dikehendaki oleh Prastawa.

Ketika mereka sampai di pintu gerbang, maka Prastawa yang berada dipaling depan itu pun berhenti dihadapan anak-anak muda yang sudah siap.

“Apakah kita dapat mulai?” bertanya Prastawa kepada anak-anak muda itu.

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

“He, bukankah aku sudah menyuruh seseorang untuk memberitahukan bahwa kita akan memperbaiki bendungan itu?” bertanya Prastawa pula.

Anak-anak muda itu masih saja berdiam diri.

Namun dalam pada itu, pemimpin padukuhan yang sudah separuh baya, menyibakkan anak-anak muda itu dan kemudian berdiri dihadapan Prastawa. Katanya, “Anak-mas, aku sudah menerima utusan anakmas, dan akupun telah menyiapkan anak-anak muda untuk bekerja sebagaimana kau kehendaki. Tetapi, apakah tidak sebaiknya kita mulai dengan memperbaiki parit yang akan menampung air dari bendungan itu, jika air itu naik Jika kita memperbaiki bendungan, sementara parit yang akan menampung air itu rusak, maka kerja kita akan sia-sia.”

“Tidak,” jawab Prastawa, “jika bendungan itu selesai, maka air itu untuk sementara dapat di biarkan tergenang. Sementara itu kita memperbaiki parit yang akan menampung airnya. Tetapi jelas, bahwa air itu sudah ada.”

Pemimpin padukuhan itu tidak berani membantah lagi. Prastawa adalah kemanakan Ki Gede Menoreh yang berkuasa di Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Jika demikian, terserahlah kepada anakmas. Kita sudah siap untuk melakukannya, yang manapun yang akan didahulukan.”

“Kita akan pergi ke bendungan,” berkata Prastawa.

Prastawa bersama ketujuh orang kawannya, segera mendahului anak-anak muda padukuhan itu memasuki pintu gerbang dan melintasi jalan di tengah-tengah padukuhan itu menuju kesebuah sungai yang tidak terlalu besar. Meskipun demikian airnya yang mengalir di segala musim itu memang memungkinkan untuk dibendung dan dinaikkan ke parit yang akan dapat mengaliri sawah beberapa bagian dari tanah persawahan di padukuhan itu, seperti beberapa waktu yang lampau. Tetapi kerusakan pada bendungan dan parit yang menyalurkan air itu, tidak mendapat perhatian secukupnya sehingga semakin lama menjadi semakin parah.

Sementara itu Agung Sedayu mengikuti pula bersama dengan anak-anak muda padukuhan itu. Namun sepanjang jalan, seolah-olah mereka tidak sempat berbincang, karena Prastawa yang berjalan dipaling depan semakin lama menjadi semakin cepat.

Ketika mereka sampai di pinggir sungai, ternyata matahari sudah melampaui puncaknya dan mulai turun ke arah Barat. Namun Prastawa sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan suara lantang ia berkata, “Kita akan mulai sekarang dengan memperbaiki bendungan ini.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki bendungan yang sudah rusak cukup parah itu.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun berkata, “Prastawa. Apakah tidak sebaiknya kita membuat persiapan-persiapan lebih dahulu. Mungkin kita memerlukan brunjung-brunjung bambu yang harus kita isi dengan batu. Mungkin juga slangkrah untuk menempatkan sela-sela brunjung itu. Baru kemudian kita akan menimbuninya dengan tanah dan pasir.”

“Bodoh sekali,” geram Prastawa, “kau memang bodoh sekali. Jika kehadiranmu hanya untuk memamerkan kebodohanmu saja, maka sebaiknya kau pergi. Kau hanya memperbanyak jumlah penduduk tanpa dapat berbuat apa-apa. Kau lihat, hanya kau yang tidak tahu apa yang harus dilakukan, sementara anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh sudah siap untuk bekerja.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dilihatnya anak-anak muda yang lainpun masih kebingungan. Mereka memegang cangkul, parang dan linggis ditangan. Tetapi apa yang pertama-tama akan mereka lakukan tidak diketahuinya.

“Cepat,” teriak Prastawa,” Kita memperbaiki bendungan itu.”

Pemimpin padukuhan itulah yang kemudian bertanya, “Yang mana yang harus kita lakukan dahulu?”

Prastawa menjadi bingung. Namun kemudian katanya, “Paman telah memanggil anak dungu itu kemari. He, katakan, apa yang harus kita lakukan sekarang? Supaya ada gunanya kau di Tanah Perdikan ini, maka katakan, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki bendungan ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Jika kau menyerahkannya kepadaku, biarlah aku mulai dengan mempersiapkan kelengkapan dari sebuah bendungan. Kita akan mencari bambu dan membuat brunjung. Kemudian brunjung itu akan kita isi dengan batu. Dengan brunjung dan slangkrah yang dapat kita cari dengan mudah, termasuk daun bambu yang kita tebang, maka kita akan membangun bendungan ini.”

“Kau hanya akan menghindari kerja keras di bendungan ini,” geram Prastawa.

“Kita tidak akan dapat berbuat apa-apa sekarang,” jawab Agung Sedayu.

adbm-145-03Dalam pada itu, pemimpin padukuhan itu pun berkata, “Aku sependapat dengan angger Agung Sedayu. Kita sekarang mencari bambu. Besok kita membuat brunjung dan baru kemudian kita memperbaiki bendungan dengan brunjung-brunjung setelah kita isi dengan batu yang dapat kita cari disungai ini pula.”

Wajah Prastawa menjadi merah. Namun kemudian katanya, “Terserah kepada kalian. Tetapi aku perintahkan Agung Sedayu untuk membantu pimpinan padukuhan ini untuk memperbaiki bendungan itu. Kau tidak boleh merasa dirimu pemimpin disini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Aku akan melakukannya.”

Prastawa memandangi anak-anak muda yang kebingungan di bendungan. Sejenak ia pun menjadi kebingungan. Namun kemudian ia membentak, “Cepat. Lakukan sesuatu. Kita tidak dapat lagi bermalas-malas sekarang ini. Paman Argapati telah memutuskan, kita akan bekerja keras untuk kepentingan Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah,” jawab Agung Sedayu. Lalu katanya kepada pemimpin padukuhan itu, “Apakah kita dapat mencari bambu di padukuhan ini.”

“Mari,” jawab pemimpin padukuhan ini, “disini ada berpuluh-puluh rumpun bambu yang siap ditebang. Kita tidak akan berkeberatan memberikan bambu yang paling tua dan yang paling baik untuk bendungan.”

“Bukan bambu yang besar-besar. Justru bambu apus,” desis Agung Sedayu.

“Seberapa pun yang diperlukan, dapat diambil di kebun-kebun di padukuhan ini,” jawab pemimpin padukuhan.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun berkata, “Marilah, kita akan mengumpulkan beberapa puluh bambu untuk brunjung-brunjung.”

“Kau tidak hanya berbicara,” bentak Prastawa, “kaupun harus pergi menebang bambu itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun sekali lagi ia mengangguk dan menjawab, “Aku juga akan ikut menebang bambu.”

Demikianlah maka anak-anak muda itu telah meninggalkan bendungan kembali ke padukuhan. Sementara itu, Prastawa dan ketujuh orang kawannya mengikutinya di belakang. Tetapi mereka tidak ikut bekerja seperti Agung Sedayu yang bersama-sama dengan anak-anak muda padukuhan itu menebang bambu.

Ternyata dalam waktu singkat, anak-anak muda itu telah mendapatkan bambu cukup banyak. Mereka pun kemudian membawa bambu-bambu itu kebendungan.

“Besok kita akan membuat menjadi brunjung-brunjung,” berkata Agung Sedayu kepada anak muda itu.

“Ya. Besok kita mulai pagi-pagi sekali,” sahut pemimpin padukuhan, “hari ini kita mulai terlampau siang. Angger Prastawa memberikan perintah menjelang tengah hari, sehingga baru setelah matahari turun, kita dapat mulai dengan kerja ini.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ketika ia memandang ke tanggul di pinggir sungai itu, ia melihat Prastawa dan kawan-kawannya berdiri memandangi mereka yang berada dibawah.

“Besok kita mulai membuat brunjung,” berkata Agung Sedayu kepada Prastawa.

“Kita siapa?” bertanya Prastawa.

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita, ya kita. Anak-anak muda padukuhan ini, aku dan kalian.”

“Persetan,” geram Prastawa, “kau tahu tugasku hanya menunggui padukuhan ini saja he? Anak dungu. Aku adalah kemanakan Ki Gede Menoreh yang mempunyai kewajiban tersebar di seluruh Tanah Perdikan. Aku hanya memberikan dorongan agar kerja ini dapat dimulai pada saat Tanah ini sudah berjanji untuk bekerja keras. Sudah tentu aku akan berada ditempat lain dalam tugas yang sama sejak besok. Aku akan datang setiap kali ke bendungan dan melihat, apakah kalian benar-benar telah memenuhi perintah paman Argapati. Bekerja keras bagi Tanah Perdikan ini. Dan apakah kehadiran Agung Sedayu disini ada gunanya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Gejolak didadanya hampir saja meledak. Tetapi ia masih selalu menahan diri, karena ia tidak mau menyakiti hati Ki Gede Menoreh dengan pertengkaran dan apalagi perkelahian, meskipun ia dapat berbuat apa saja atas anak muda yang bernama Prastawa itu.

Sejenak kemudian, ternyata seperti yang dikatakannya, Prastawa telah meninggalkan tempat itu bersama dengan ketujuh orang kawannya. Namun dengan demikian. Agung Sedayu merasa, bahwa ia akan dapat bekerja leluasa tanpa diganggu lagi.

Sepeninggal Prastawa, maka Agung Sedayu pun kemudian berkata kepada pemimpin padukuhan itu, “Kita dapat bekerja sekarang. Kita membuat brunjung bambu. Kemudian kita isi brunjung-brunjung itu dengan batu, sementara jika para penghuni padukuhan ini tidak berkeberatan, setiap laki-laki yang masih mampu bekerja, meskipun sudah berusia agak lanjut, dimohon untuk membantu memperbaiki parit. Tidak usah memaksa diri dengan memeras tenaga. Sejauh dapat dilakukan saja.”

“Kita memerlukan waktu satu atau dua hari untuk menganyam brunjung,” berkata pemimpin padukuhan itu.

“Kita tidak tergesa-gesa. Jika ada satu dua brunjung yang siap, maka sebagian dari kita dapat langsung mengisinya. Kita tidak perlu menunggu semua brunjung siap,” jawab Agung Sedayu.

“Aku sependapat,” berkata pemimpin padukuhan itu, “juga tentang setiap laki-laki yang masih mampu bekerja. Aku pun sependapat, kita tidak akan memeras tenaga sebagai budak-budak yang diperlakukan tanpa pertimbangan kemanusiaan. Meskipun demikian, kita akan bekerja keras atas dasar kesadaran kita bagi Tanah Perdikan ini.”

Dengan demikian, maka anak-anak muda itu pun mulai membelah bambu untuk menganyam brunjung. Tetapi karena langit mulai suram, maka kerja itu pun ditangguhkannya sampai besok. Sementara pemimpin padukuhan itu berkata, “Nanti, aku akan berkeliling dari rumah kerumah. Besok setiap laki-laki akan keluar dengan kerja masing-masing, sesuai dengan kemampuan tenaga yang ada. Perempuan pun akan mempunyai kewajiban. Menyiapkan minum dan merebus jagung dan ketela pohon.”

Malam itu, Agung Sedayu hanya berada di rumah Ki Gede sebentar saja untuk memberitahukan kerjanya kepada Ki Waskita. Setelah makan dan beristirahat sebentar, maka ia pun telah meninggalkan halaman itu diluar pengetahuan Prastawa, kembali kepadukuhan kecil yang sedang membangun bendungan itu.

Ternyata kehadiran Agung Sedayu telah memancing beberapa orang anak muda untuk berkumpul. Karena gardu sudah rusak, maka mereka berkumpul di rumah pemimpin padukuhan itu.

Meskipun malam itu Agung Sedayu hanya berceritera saja tentang bermacam-macam pengalamannya, namun ternyata ia sudah berhasil mengikat hati beberapa orang anak muda yang berada di rumah pemimpin padukuhan itu.

Ternyata Agung Sedayu berhasil memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya. Ia berhasil menggelitik hati anak-anak muda untuk bekerja keras di hari-hari berikutnya sesuai dengan keinginan Ki Gede untuk memulihkan keadaan Tanah Perdikan yang mundur itu. Bahkan apabila mungkin untuk memacunya lebih cepat untuk maju.

“Besok kita akan mulai dengan mengisi brunjung-brunjung,” berkata Agung Sedayu, “sementara orang-orang yang sudah tidak dapat bekerja berat, akan memperbaiki parit-parit yang sudah rusak, longsor dan bahkan hampir tidak berbekas lagi.”

“Kita sudah siap,” jawab anak-anak muda itu.

“Bagus,” berkata Agung Sedayu, “sementara bendungan itu dibangun maka kita dapat membangun segi lain dari kegiatan padukuhan ini.”

“Apa,” jawab anak-anak muda itu hampir bersamaan.

“Gardu-gardu. Bukan hanya sekedar gardunya, tetapi juga kegiatan untuk menjaga padukuhan ini dari gangguan kejahatan,” jawab Agung Sedayu.

“Kami sependapat,” desis beberapa orang anak muda. Bahkan pemimpin padukuhan itu pun berkata, “Jika kalian benar-benar ingin melakukannya, tentu bagus sekali. Besok, disamping kita yang membangun bendungan, ampat orang akan melakukan pekerjaan yang lain. Memperbaiki gardu dengan bambu-bambu yang dapat kita ambil seperti kita mengambilnya untuk memperbaiki bendungan. Aku masih mempunyai beberapa gulung tali ijuk sisa ketika aku memperbaiki dapur. Kalian dapat mempergunakannya. Kita akan memesan kentongan dari pangkal pohon kelapa dari Ki Senu disudut padukuhan ini, yang kelak akan kita pasang di gardu.”

Anak-anak muda itu pun sependapat. Agaknya mereka telah menemukan gairah untuk berbuat sesuatu bagi padukuhannya.

“Gairah dan kemauan yang sudah mulai tumbuh dihati kita masing-masing harus kita pelihara sebaik baiknya agar tidak mati lagi. Besok atau pada saat lain jika Prastawa datang melihat hasil kerja kita, ia tidak akan kecewa,” berkata Agung Sedayu.

“Anak itu sebenarnya tidak berarti apa-apa bagi kami,” desis seorang anak muda berambut keriting, “kami menghormatinya karena ia kemanakan Ki Gede.”

Kawan-kawannya memandanginya dengan tatapan mata yang gelisah. Agaknya mereka menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Sementara pemimpin padukuhan itu hanya menundukkan kepalanya saja.

Tetapi anak muda berambut keriting itu justru melanjutkan, “Coba lihat, betapa sombongnya ia bersikap terhadap Agung Sedayu. Seolah-olah ia adalah Ki Gede sendiri. Bukankah kedatangan Agung Sedayu ini atas undangan Ki Gede seperti yang dikatakannya dalam pertemuan para pemimpin Tanah Perdikan ini dan para pemimpin padukuhan?”

Diluar sadarnya pemimpin padukuhan itu mengangguk. Namun Agung Sedayu lah yang menyahut, “Aku tidak berkeberatan atas sikapnya. Mungkin diluar sadarnya ia bersikap demikian, sehingga kesannya seolah-olah ia adalah anak muda yang sombong. Tetapi kewajiban kita adalah menunjukkan, bukan saja kepada Prastawa, tetapi juga kepada Ki Gede, bahwa kita mampu melakukan sesuatu bagi padukuhan ini.”

Demikianlah, Agung Sedayu berada di padukuhan itu sampai larut malam. Baru kemudian, setelah tengah malam lama berlalu, Agung Sedayu pun minta diri.

“Kita masih perlu beristirahat barang sebentar. Besok kita masih akan bekerja keras,” berkata Agung Sedayu sambil minta diri.

Sebenarnyalah ketika Agung Sedayu keluar dari rumah pemimpin padukuhan itu, ternyata diserambi beberapa orang anak muda sudah tidur mendekur.

“Biar sajalah,” berkata Agung Sedayu ketika kawan-kawannya akan membangunkan mereka, “tenaga mereka besok masih sangat diperlukan.”

Demikianlah, diam-diam Agung Sedayu telah memasuki halaman rumah Ki Gede seperti saat ia pergi. Ki Waskita yang terbangun mendengar desir didinding, telah membuka pintu perlahan-lahan dan kemudian ia pun masih sempat mendengarkan ceritera tentang anak-anak muda padukuhan kecil itu.

“Bagus Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita, “teruskan. Tetapi kaupun harus bersiap-siap jika Ki Gede bertanya tentang rencana. Bukankah Ki Gede memerlukan satu rencana yang menyeluruh.”

“Aku belum dapat menyusunnya sebelum aku mengenal dengan pasti keadaan Tanah Perdikan ini Ki Waskita. Namun yang terjadi di padukuhan kecil itu akan aku laporkan juga sebagai satu penjajagan khusus. Jika usaha di padukuhan kecil itu berhasil, maka yang dilakukan di padukuhan itu dapat dijadikan pola, meskipun masih harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing padukuhan. Tidak setiap padukuhan dekat dengan sungai yang betapapun kecilnya. Dan tidak setiap padukuhan memerlukan perbaikan tata aliran air. Mungkin masih ada padukuhan yang tata aliran airnya masih baik. tetapi mempunyai kelemahan dihidang yang lain,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi nampaknya Prastawa itu akan dapat menghalangi kerjamu secara menyeluruh,” berkata Ki Waskita.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin pada suatu saat, aku harus menyampaikannya kepada Ki Gede meskipun dengan sangat berhati-hati. Aku harus mendapat isyarat dari Ki Gede jika aku ingin berbuat sesuatu atas Prastawa.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Ia mengenal sifat Agung Sedayu. Hati-hati dan sebenarnyalah agak lamban. Berbeda dengan Swandaru yang dapat berbuat lebih cepat, dengan pertimbangan yang tidak begitu rumit. Namun kadang-kadang agak terlalu mengambil kesimpulan atas sesuatu peristiwa sehingga kurang cermat.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba Ki Waskita berkata, “Untuk mengurangi persoalan yang dapat timbul antara kau dan Prastawa, maka biarlah aku ikut bersamamu. Agung Sedayu. Agaknya Prastawa akan menjadi segan untuk berbuat dengan berlebih-lebihan atasmu. Sehingga dengan demikian kau akan mendapat kesempatan lebih banyak untuk melihat dan mendengar keadaan Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah Ki Waskita. Jika Ki Waskita tidak berkeberatan, aku berharap, tingkah lakunya akan dapat dibatasi.”

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu masih berniat ingin menyelesaikan bendungan itu tanpa Ki Waskita, sementara Ki Waskita pun menyetujuinya.

Ternyata bahwa apa yang terjadi berbeda sekali dari yang dimaksud oleh Prastawa. Justru karena di hari-hari berikutnya ia tidak hadir di bendungan, maka ia tidak melihat apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Dan ternyata yang dilakukan oleh Agung Sedayu kemudian telah menunjukkan pelaksanaan pembuatan bendungan, namun ia juga dapat melakukannya sendiri.

Karena itu, maka anak-anak muda padukuhan itu justru semakin dekat dengan Agung Sedayu. Mereka tertarik kepada kepribadiannya yang rendah hati, tetapi menunjukkan kemampuan yang tinggi.

Seperti yang direncanakan, maka akhirnya Agung Sedayu pun menyampaikannya pula kepada Ki Gede meskipun dengan alasan yang berbeda. Agung Sedayu sama sekali tidak mengatakan, bahwa Prastawa telah memaksanya untuk ikut serta memperbaiki bendungan. Tetapi dikatakannya bahwa atas pertimbangan Prastawa maka bendungan itu telah diperbaiki. Dengan demikian ia akan mendapat satu pertimbangan untuk langkah-langkah selanjutnya. Pekerjaan itu adalah satu penjajagan terhadap kerja yang lebih besar. Kerja secara menyeluruh di atas Tanah Perdikan Menoreh.

Prastawa terkejut ketika tiba-tiba pada suatu hari Ki Gede telah mengajaknya untuk meninjau bendungan itu bersama Agung Sedayu dan Ki Waskita. Diluar dugaan Ki Gede berkata, “Menurut Agung Sedayu, kaulah yang memberikan pertimbangan kepadanya.”

Prastawa tidak dapat menjawab selain menganggukkan kepalanya. Namun ia masih ragu-ragu, kenapa Agung Sedayu mengatakan bahwa ialah yang memberikan pertimbangan.

“Agaknya ia sudah benar-benar menjadi ketakutan.” berkata Prastawa didalam hatinya. Namun kemudian, “Tetapi apakah kerja itu gagal dan tidak berarti sama sekali, sehingga ia minta agar paman melihatnya dan kemudian melihat kebodohanku?”

Namun Prastawa tidak sempat untuk merubah rencana Ki Gede. Dengan beberapa orang pemimpin padukuhan, Agung Sedayu dan Ki Waskita, Prastawa dan beberapa orang kawannya telah mengikut pula.

Sekali lagi Prastawa terkejut melihat kenyataan, bahwa bendungan itu benar-benar telah berhasil mengangkat air. Meskipun tidak terlalu banyak, karena sungainya pun bukan sungai yang besar, namun air benar-benar telah mengalir melalui parit-parit yang menjelujur di tengah-tengah petak-petak sawah.

“Parit itu pun telah diperbaiki,” desis Prastawa kepada kawan-kawannya.

Kedatangan Ki Gede memberikan kegembiraan tersendiri kepada penghuni padukuhan itu. Seolah-olah mereka merasa pekerjaan mereka mendapat nilai langsung dari pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh.

Namun hati Prastawa menjadi sakit ketika ternyata pemimpin padukuhan itu dalam laporannya lebih banyak menyebut nama Agung Sedayu daripada dirinya. Pemimpin padukuhan itu memuji ketangkasan sikap dan sifat yang rendah hati dari Agung Sedayu, sehingga karena kepemimpinannya itu maka bendungan itu dapat diselesaikan.

“Gila,” geram Prastawa.

Yang terjadi itu jauh dari yang diharapkan. Ia ingin menyudutkan Agung Sedayu pada satu kerja yang tidak berarti dan mengikatnya sehingga ia tidak akan dapat berbuat yang lain di Tanah Perdikan itu, namun ternyata ia justru berhasil mendapat pujian, bukan saja dari pemimpin padukuhan itu, tetapi langsung dihadapan pamannya dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lain.

adbm-145-04Dalam pada itu, yang dilakukan itu adalah satu contoh keberhasilan Agung Sedayu. Karena itu, maka agak terpisah dari iring-iringan yang lain, yang sedang melihat-lihat bendungan itu, Prastawa berbisik kepada kawan-kawannya, “Gila. Anak itu memang harus disingkirkan.”

“Apakah kita akan menghajarnya sekali lagi, tetapi jauh lebih parah?” bertanya kawannya.

“Aku justru takut jika paman mengetahuinya, “jawab Prastawa.

“Jadi, bagaimana menurut kau?” bertanya kawannya pula.

“Kita dapat meminjam tangan orang lain. Kita dapat menghubungi siapapun untuk mengusir anak itu dari Tanah Perdikan ini. Aku menjadi semakin muak.” Desis Prastawa.

“Bagus,” sahut kawannya, “kita meminjam tangan orang-orang yang akan mampu mengusirnya, sementara kita tidak akan dapat dituduh berbuat sesuatu atasnya.”

“Justru pada saat-saat yang ditentukan, aku akan berada didekat paman Argapati,” desis Prastawa.

Kawannya tertawa. Katanya, “Bagus. Orang-orang yang mengusirnya itu dapat memberikan kesan apa saja tentang perselisihannya dengan Agung Sedayu.”

“Kita serahkan saja kepada orang-orang itu,” jawab Prastawa.

 “Bagus. Semakin cepat semakin baik. Nampaknya Ki Gede semakin tertarik kepadanya,” desis kawannya.

 “Kita memanggil orang yang paling terpercaya. Jangan tanggung-tanggung, karena anak itu adalah murid Kiai Gringsing. Mungkin aku sendiri dapat mengatasinya. Tetapi orang lain akan mengalami kesulitan. Karena itu, maka jika kita minta bantuan orang lain, maka orang-orang itu harus diyakinkan, bahwa yang dihadapi adalah murid Kiai Gringsing yang dikenal sebagai orang bercambuk, yang justru pernah berada di Tanah Perdikan ini pula, sehingga mungkin orang-orang itu pernah juga mengenal, setidak-tidaknya mendengar tentang mereka. Dengan demikian, maka mereka akan dapat menyiapkan kekuatan yang memadai.”

“Betapapun juga tinggi ilmunya, namun ia hanya seorang diri,” berkata kawannya.

Prastawa mengangguk-angguk.

Namun ia tidak sempat berbicara lebih panjang, karena pamannya kemudian berkisar dari bendungan itu untuk melihat-lihat parit yang sudah diperbaiki, menjelujur di antara petak-petak sawah yang basah.

Ternyata Ki Gede Menoreh pun menjadi gembira. Satu pedukuhan telah berhasil bangun dari tidurnya yang nyenyak. Bukan hanya bendungan dan parit. Namun ternyata regol padukuhan, gardu dan jalan-jalan pun telah diperbaiki pula, meskipun hanya sekedar menutup kerusakan disana-sini.

“Padukuhan ini akan menjadi contoh,” berkata Ki Gede. Lalu katanya kepada Agung Sedayu, “kau sudah berhasil menjajagi kemungkinan untuk melakukan kerja yang lebih besar di atas Tanah Perdikan ini ngger. Silahkan. Aku menunggu rencanamu yang menyeluruh. Semakin cepat kita besama-sama bangun di seluruh Tanah ini, akan Semakin baik. Jika sarana kehidupan menjadi semakin baik, maka kita akan segera dapat hadapi segi yang lain. Para pengawal sudah lupa, bagaimana cara membawa tombak. Mereka pun perlu dibangunkan pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekilas ia memandang wajah Prastawa, ia melihat, betapa kebencian menyala di hati anak muda itu.

Namun Agung Sedayu menjawab juga, “Aku akan berusaha Ki Gede. Tentu saja dengan bantuan dan petunjuk anak-anak muda Tanah Perdikan ini sendiri.”

“Aku menunggu,” desis Ki Gede sambil berjalan di sepanjang jalan padukuhan. “Gardu yang sudah diperbaiki itu mempunyai sebuah kentongan baru, yang dibuat dari pangkal pohon kelapa.”

Ketika Ki Gede mencoba memukul kentongan itu, terdengar suaranya nyaring dengan nada dara muluk.

Dalam pada itu, orang-orang yang tidak melihat apa yang dilakukan Ki Gede, terkejut juga mendengar kentongan yang berbunyi tidak pada waktunya. Tetapi karena nada yang dilontarkan adalah nada yang tidak memberikan kesan khusus dan apalagi bahaya, maka orang-orang itu pun menduga, bahwa seseorang sedang mencoba sebuah kentongan baru.

“Siapa yang membuat kentongan itu?” bertanya seseorang yang sedang berada disawah bersama seorang kawannya. Karena keduanya bukan orang padukuhan yang sedang membangun bendungan, maka mereka tidak tahu, bahwa padukuhan itu sudah memesan sebuah kentongan baru kepada Ki Senu di sudut padukuhan.

Dengan kebanggaan yang bergejolak di dalam hati, Ki Gede pun kemudian kembali ke padukuhan induk. Kepada para pemimpin Tanah Perdikan ia menekankan lagi agar mereka pun berbuat sesuatu untuk ikut mempercepat kerja yang sudah dimulai.

Dihari berikutnya. Agung Sedayu sudah tidak lagi berada di bendungan yang sudah diselesaikannya. Tetapi ia ingin melihat-lihat daerah yang lain dari Tanah Perdikan Menoreh.

Untuk menghindari peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki, maka Agung Sedayu telah memutari beberapa padukuhan bersama Ki Waskita. Sehingga dengan demikian, Prastawa menjadi segan untuk berbuat sesuatu atasnya.

“Gila,” geram Prastawa, “anak itu sekarang selalu ditemani oleh paman Waskita.”

“Tetapi pada suatu saat, ia akan sendiri, dalam keadaan apapun,” jawab kawannya, “karena itu, kita harus secepatnya menghubungi orang-orang yang akan dapat mengusirnya.”

“Atau menghapusnya sama sekali,” geram Prastawa.

Kawannya tidak menyahut. Bagaimanapun juga, sikap Prastawa yang terakhir itu membuatnya menjadi berdebar-debar. Ia tidak berniat melangkah begitu jauh.

Ternyata kawan-kawannya yang lain pun menjadi termangu-mangu. Namun agaknya Prastawa tidak menghiraukannya.

Dalam pada itu, selagi Prastawa berusaha untuk menemukan orang yang akan dapat mengusir Agung Sedayu, jauh dari Tanah Perdikan Menoreh, seseorang sedang berusaha untuk menyempurnakan ilmunya dengan laku terakhir menjelang laku puncaknya, pati geni. Ajar Tal Pitu yang merasa terhina karena kekalahannya, telah bertekad untuk menyempurnakan ilmunya dan sekali lagi menghadapi Agung Sedayu. Jika pada saatnya ia selesai dengan laku puncaknya, dan ternyata Agung Sedayu tidak diketemukannya lagi di padepokannya, maka Ajar Tal Pitu itu tentu akan mencarinya sampai ke ujung bumi sekalipun.

Namun Prastawa sama sekali tidak mengerti persoalan antara Agung Sedayu dan Ajar Tal Pitu. Sehingga dengan demikian, maka ia telah berusaha untuk menemui orang yang diketahuinya, memiliki kemampuan yang luar biasa, meskipun orang itu dari lingkungan orang-orang yang hidup diluar tatanan hubungan manusia kebanyakan, lewat seorang anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang memang agak lain dari kebanyakan anak-anak muda.

“Siapa anak itu?” bertanya seorang yang bertubuh tinggi, kekar dengan kumis, jambang dan janggut yang lebat.

“Namanya Agung Sedayu,” sahut Prastawa, “ia adalah murid orang bercambuk yang terkenal, dan pernah berada di Tanah Perdikan ini pula pada masa kakang Sidanti menyalakan api perlawanan di Tanah ini. Setelah itu pun ia beberapa kali telah datang ke Tanah Perdikan ini untuk keperluan yang bermacam-macam.”

“Apa peduliku dengan orang bercambuk itu?” geram orang bertubuh kekar dan berjambang lebat itu, “setiap orang tahu, bahwa aku adalah benggol kecu yang paling ditakuti.”

“Tetapi ia memiliki bekal ilmu yang mapan untuk menghadapi keadaan yang paling gawat sekalipun melawan orang-orang yang telah memiliki nama,” desis Prastawa. Lalu. “Sebenarnya aku sendiri dapat menyelesaikannya, karena aku adalah murid Ki Argapati. Tetapi dalam keadaan ini. paman tentu segera mencurigai aku dan mungkin paman akan sangat marah dan sampai hati menghukum aku.”

“Apakah anak itu memiliki kemampuan seperti Ki Gede?” bertanya orang itu.

“Tentu tidak. Sudah aku katakan, akupun akan mampu mengatasinya.” Prastawa berhenti sejenak, lalu. “apakah kau merasa memiliki ilmu seperti paman Argapati?”

“Ah, tentu tidak,” jawab orang itu, “tetapi jarang sekali ada orang yang mampu mengimbangi kemampuan Ki Gede. Ki Tambak Wedi pun tidak mampu melawannya. Apalagi aku. Tetapi jika anak itu tidak setinggi Ki Gede kemampuannya, aku akan merasa dapat mengalahkannya. Aku yakin.”

Prastawa mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi jangan seorang diri.”

“Kau tidak percaya bahwa aku akan dapat mengalahkannya dan seandainya kau kehendaki membunuhnya?” bertanya orang itu.

“Bukan tidak percaya,” jawab Prastawa, “tetapi ia adalah orang yang sagat licik. Ia akan dapat melarikan diri dan menyampaikan persoalannya kepada paman Argapati.”

“Jadi aku harus membunuhnya?” bertanya orang itu.

Prastawa menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia menggeleng lemah, “Tidak perlu. Tetapi kau harus membuatnya jera, mengancamnya sehingga ia tidak akan berani lagi menginjakkan kakinya diatas Tanah Perdikan Menoreh.”

“Tetapi jika diluar kemauanku, tanganku telah mengoyak kulit dagingnya atau mematahkan tulangnya?” bertanya orang itu.

“Terserah kepadamu jika keadaan memang menuntut demikian. Maksudku jika karena perlawanannya kau terpaksa mengambil sikap yang tegas,” jawab Prastawa. “jika demikian, maka bawa saja ia ke tlatah Mataram dan lemparkan ia di jalan-jalan agar diketemukan orang yang dapat membawanya ke Mataram dan selanjutnya mengembalikannya ke Jati Anom. Tetapi jika diluar niatmu, ia terbunuh, itu adalah karena nasibnya yang sangat buruk.”

Orang berkumis, berjanggut dan berjambang lebat itu tertawa. Katanya, “Serahkan semuanya kepadaku.”

“Sekali lagi aku peringatkan, bawalah dua atau tiga orang kawan agar anak itu tidak akan sempat melarikan diri,” berkata Prastawa kemudian, “tetapi ingat, lakukan semua rencana jika ia seorang diri. Nampaknya karena ketakutannya kepadaku, ia selalu berdua dengan paman Waskita. Nah, ketahuilah, paman Waskita memiliki kemampuan setingkat dengan paman Argapati.”

Benggol kecu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Percayakan kepadaku. Tetapi jika kau kehendaki aku harus membawa satu dua orang kawan, maka aku akan membawanya. Mungkin benar, bahwa aku harus berjaga-jaga agar anak itu tidak sempat melarikan diri.”

“Kau harus menentukan waktu, kapan kau akan melakukannya,” berkata Prastawa selanjutnya.

“Kaulah yang menentukan,” jawab orang itu.

“Baiklah. Lakukanlah pekan depan. Carilah saat yang paling baik. Ingat, jangan kau lakukan jika ada paman Waskita bersamanya. Kau akan dapat menjadi endapan endog pangamun-amun,” pesan Prastawa.

“Bagaimana aku tahu kapan ia pergi seorang diri,” bertanya orang itu.

“Kita akan mehhat. Jika ia tidak pernah mengalami gangguan apapun lagi, agaknya ia akan berani pergi seorang diri. Atau kupancingnya, “kata Prastawa kemudian.

Perjanjian pun telah disetujui bersama. Orang yang dikenal sebagai seorang benggol kecu yang ditakuti itu, akan membawa tiga orang kawannya untuk membuat Agung Sedayu jera dan mengusirnya dari Tanah Perdikan.

Namun dalam pada itu, benggol kecu itu bergumam kepada diri sendiri, “Tetapi jika karena sesuatu hal anak itu terbunuh, bukan salahku. Aku sudah mengatakan kemungkinan itu. Agaknya lebih mudah untuk membunuh seseorang daripada menyakitinya dan kemudian mengancam, mengusir dan untuk selanjutnya mengawasi agar ia tidak kembali.”

Karena itu, maka benggol kecu yang berkumis, berjanggut dan berjambang lebat itu sama sekali tidak berpikir untuk berbuat lain kecuali membunuhnya dan melemparkannya ke Kali Praga.

Sementara itu Prastawa pun telah berusaha untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menakut-nakuti Agung Sedayu. Dalam saat-siat terakhir ia nampak tidak mengacuhkannya lagi. Seolah-olah ia sudah tidak mempunyai persoalan lagi dengan Agung Sedayu.

Justru karena itu, seperti yang diharapkannya, ternyata Agung Sedayu berpendapat lain. Disangkanya bahwa Prastawa sudah jemu memusuhinya sehingga ia tidak menghiraukannya lagi.

“Anak itu cerdik dan licik,” berkata Ki Waskita, “hati-hatilah. Mungkin ia mempunyai rencana tersendiri. Menurut pengamatanku, ia tidak akan menjadi jemu. Bahkan mungkin ia akan bertindak lebih jauh lagi untuk mengusirmu, justru setelah kau berhasil dengan bendungan itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia tidak mempunyai prasangka seburuk itu terhadap Prastawa.

Seperti yang diharapkan oleh Prastawa, maka pada saat-saat berikutnya Agung Sedayu telah keluar dari padukuhan induk seorang diri. Ketika ia berpapasan dengan Prastawa dan Prastawa tidak berbuat sesuatu, meskipun ia menyapa dengan tidak ramah sama sekali. Agung Sedayu berpendapat, bahwa Prastawa telah berubah.

“Mungkin Ki Gede telah menasehatinya,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak menduga, bahwa ampat orang telah bersiap untuk berbuat jahat terhadapnya pekan mendatang. Dan pekan mendatang itu pun akhirnya menjadi semakin dekat pula.

Namun dalam pada itu, setiap kali Ki Waskita masih selalu berpesan agar ia berhati-hati. Bahkan ia masih juga mengikutinya sekali dua kali dalam perjalanan keliling yang dilakukan Agung sedayu dalam rangka usahanya untuk menyusun rencana menyeluruh.

Tetapi dalam pada itu, secara khusus Agung Sedayu menjadi semakin sering berkunjung ke padukuhan-padukuhan tertentu. Tidak hanya siang hari, kadang-kadang malampun ia pergi. Bahkan karena Prastawa seolah-olah tidak menghiraukannya lagi, maka ia tidak lagi meninggalkan rumah Ki Gede dengan diam-diam di malam hari.

“Agaknya anak itu menjadi jemu,” desis Agung Sedayu ketika Ki Waskita memperingatkan sekali lagi.

“Kau akan lengah menghadapi keadaan yang demikian,” Ki Waskita masih tetap memperingatkan. Kemudian, “Bagaimanapun juga, kau harus tetap berhati-hati.”

“Aku selalu berhati-hati Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu.

“Mungkin penggraitaku salah. Justru bukan Prastawa yang akan datang menjumpaimu, tetapi orang lain. Bahkan mungkin Ajar Tal Pitu.”

Sebenaranyalah benggol kecu yang disebut Sura Bureng itu mempersiapkan tiga orang kawan untuk bersama-sama melakukan tugas yang diberikan oleh Prastawa untuk mendapat upah yang cukup banyak. Tetapi ternyata bahwa Sura Bureng tidak mau mempersulit diri dengan ancaman-ancaman atau bahkan membawa Agung Sedayu ke sebelah Timur Kali Praga. Baginya lebih mudah untuk membunuhnya saja, kemudian melempar mayatnya ke Kali Praga.

Ternyata ketiga orang kawannya sependapat. Apalagi ketika Sura Bureng itu berkata, “Prastawa pun telah memberikan isyarat, jika anak itu melawan, dan tidak mungkin di tangkap hidup-hidup, maka kita dapat mengambil jalan lain. Jika anak itu terbunuh diluar niat kami, apaboleh buat.”

“Jika demikian, kita jangan mempersulit diri,” berkata seorang kawannya.

“Apa yang sulit?” bertanya Sura Bureng, “anak itu bukan anak iblis. Aku sendiri dapat membunuhnya, jika anak itu tanggon. Maksudku jika anak itu berani menghadapi aku sampai mati, seperti dua orang yang berperang tanding. Tetapi menurut Prastawa anak itu sangat licik. Karena itu aku perlukan kalian untuk menjaga agar anak itu jangan sampai terlepas dan melarikan diri. Mungkin ia memang memiliki kemampuan untuk berlari cepat.”

Ketiga orang kawannya tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Lucu sekali. Kenapa Prastawa memerlukan empat ekor serigala untuk membunuh seekor kelinci sakit-sakitan. Tetapi baiklah, jika memang hal itu yang dihendaki.”

Sura Bureng pun kemudian merencanakan waktu yang sebaik-baiknya untuk melakukan rencananya. Ia akan berbicara kepada Prastawa, agar pada waktu yang ditentukan, Agung Sedayu dapat dipancing keluar dari padukuhan induk. Misalnya, sekelompok anak-anak muda dari satu pedukuhan mengharapnya datang, atau barangkali dapat disebut, salah seorang dari anak-anak muda itu akan kawin atau alasan apapun juga.

Akhirnya mereka pun bersepakat untuk menentukan hari ketiga pekan mendatang. Malam akan sangat gelap, karena bulan lua akan hadir dilangit lewat tengah malam.

Dihari berikutnya Sura Bureng telah menemui Prastawa dan membicarakan rencana itu serta pelaksanaannya sebaik-baiknya.

“Baiklah,” berkata Prastawa, “seorang kawanku akan memancingnya keluar dihari yang sudah ditentukan. Tetapi jangan salah hitung. Segalanya harus selesai pada saat itu juga.”

“Percayakan segalanya kepadaku,” jawab benggol kecu itu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu sama sekali tidak menduga bahwa hal semacam itu akan terjadi. Ketika Ki Waskita memperingatkannya, maka angan-angannya memang tertuju kepada Ajar Tal Pitu. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk memantapkan diri, jika benar pada suatu saat ia harus berhadapan dengan Ajar Tal Pitu yang menurut perhitungannya, seperti juga perhitungan Ki Waskita, tentu sudah berusaha menyempurnakan ilmunya.

Itulah sebabnya. Agung Sedayu masih harus mempertimbangkan waktu sebaik-baiknya jika ia akan mulai dengan menggerakkan kembali para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh dan memberikan latihan-latihan olah kanuragan, karena ia sendiri masih memerlukan waktu khusus, meskipun hanya dilakukan dalam biliknya.

Namun yang dilakukan Agung Sedayu telah mulai nampak hasilnya di Tanah Perdikan Menoreh. Selain sebuah bendungan, maka sebagian terbesar dari padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan Menoreh telah memperbaiki dan menghidupkan kembali segala peralatan padukuhan-padukuhan itu. Gardu, jalan-jalan padukuhan, pagar-pagar dan parit-parit yang rusak. Bahkan di antara mereka sudah mulai mempersiapkan peralatan untuk menelusur kesalahan, apakah yang menyebabkan air di parit-parit menjadi jauh berkurang.

Sementara itu, Agung Sedayu pun telah mulai menyusun rencana untuk membangun Tanah Perdikan itu secara keseluruhan, dibantu oleh para pemimpin Tanah Perdikan dan para pemimpin padukuhan yang memberikan bahan-bahan yang sangat diperlukan.

“Kami sudah terbangun dari tidur yang terlalu nyenyak,” berkata salah seorang pemimpin padukuhan, “namun tidur yang terlalu nyenyak itu pun ternyata sangat melelahkan.”

Tetapi justru karena itulah, maka Prastawa menjadi semakin tidak sabar. Hari ketiga pekan mendatang rasa-rasanya menjadi sangat lama. Ia sudah terlalu muak melihat Agung Sedayu yang menurut pengamatannya menjadi terlalu sombong atas pujian yang diberikan oleh para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi Prastawa harus menahan diri. Ia harus sabar menunggu hari ketiga pekan mendatang.

Dalam pada itu, di sela-sela kunjungannya ke padukuhan-padukuhan untuk sekedar berbincang-bincang dan bergurau dengan anak-anak muda di gardu-gardu yang sudah diperbaiki, kadang-kadang Agung Sedayu masih melihat kedalam dirinya sendiri. Ia sadar sepenuhnya bahwa Ki Waskita tahu benar akan keadaannya. Karena itulah, maka kadang-kadang, lewat tengah malam. Agung Sedayu duduk di pembaringannya sambil menyilangkan tangannya.

Pada saat-saat yang demikian Ki Waskita sama sekali tidak mengganggunya. Ia tahu apa yang sedang diperbuat oleh Agung Sedayu.

Sementara itu, hari pun berlalu dengan pasti. Saat yang ditunggu-tunggu oleh Prastawa itu pun menjadi semakin dekat. Betapa ia tidak sabar lagi, ketika ia masih harus menunggu sehari lagi.

Segalanya sudah diatur sebaik-baiknya. Ia sudah menetapkan seseorang untuk menemui dan memanggil Agung Sedayu di malam yang sudah disepakati.

Namun dalam pada itu, ia sendiri menjadi bimbang. Ia ingin membuang kecurigaan pamannya dengan tetap berada dirumah. Tetapi la ingin melihat apa yang bakal terjadi. Sehingga dengan demikian ia harus membuat rencana sebaik-baiknya bagi dirinya sendiri.

“Aku harus menyiapkan saksi palsu. Meskipun aku tidak berada dirumah, kawan-kawanku harus menyebutkan bahwa aku benar-benar tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas Agung Sedayu.

Demikianlah Prastawa telah berunding dengan kawan-kawan terdekatnya. Meskipun Ki Gede tidak bertanya, tetapi mereka harus memberikan kesan lewat cara apapun, bahwa Prastawa berada bersama mereka disatu tempat yang telah ditetapkan.

Demikianlah, maka hari-hari yang ditunggu oleh Prastawa itu pun akhirnya datang juga. Ketika matahari terbit di hari yang ditentukan, rasa-rasanya waktu beredar sangat lamban. Namun betapapun lambatnya, akhirnya malam pun turun juga di Tanah Perdikan Menoreh.

Segalanya sudah direncanakan oleh Prastawa. Kawannya yang akan minta Agung Sedayu pergi ke sebuah padukuhan telah siap pula. Benggol Kecu yang bernama Sura Bureng pun telah siap dengan tiga orang kawannya.

Tidak akan ada kesalahan lagi dalam rencana yang sudah disusun matang itu. Segalanya akan berjalan lancar. Dan sejak malam itu, Agung Sedayu akan hilang dari Tanah Perdikan. Mungkin dalam waktu tiga atau ampat hari, akan datang berita dan Jati Anom, bahwa Agung Sedayu telah kembali ke Jati Anom dan keberatan untuk datang lagi ke Tanah Perdikan Menoreh.

Namun Prastawa tidak menyadari, bahwa Sura Bureng tidak akan memperlakukan Agung Sedayu itu demikian. Menghajarnya sampai lumpuh, dan melemparkannya kesebelah Timur Kali Praga. Atau setelah meremukkan tulang-tulangnya, kemudian dengan sisa tenaga yang ada. Agung Sedayu harus meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh dan tidak boleh kembali lagi, agar ia tidak akan mati tanpa arti apapun juga di Tanah Perdikan Menoreh.

Sura Bureng ternyata menganggap bahwa membunuh anak muda itu akan jauh lebih mudah daripada sekedar menyakiti dan mengusirnya. Apalagi jika anak muda itu melawan.

Demikianlah, pada saatnya, maka rencana itu pun mulai berjalan. Ketika malam menjadi semakin dalam, dua orang telah mencari Agung Sedayu di gandok rumah Ki Gede.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Agung Sedayu.

Anak muda itu tersenyum. Jawabnya, “Tidak ada apa-apa. Tetapi apakah kau dapat datang ke padukuhan kami?”

“Ada apa?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Sekedar mengisi kekosongan malam ini. Anak-anak muda akan berjaga-jaga semalam suntuk. Bukan karena apa-apa. tetapi seorang penghuni padukuhan kami akan mengawinkan anak gadisnya besok,” jawab anak muda itu sambil tertawa. Lalu. “Jika kau sempat datanglah. Atau lebih baik bersama kami karena mungkin sekali kau belum mengetahui rumah orang itu.”

“Lalu, apakah ada hal yang dapat dibicarakan di pertemuan itu?” bertanya Agung Sedayu selanjutnya.

“Tidak. Sekedar berjaga-jaga saja sambil berbuat apa saja yang dapat dipakai untuk mengisi waktu. Agaknya anak-anak muda padukuhan kami sangat mengharap kau datang meskipun barangkali orang yang akan mengawinkan anak gadisnya itu tidak bermaksud demikian,” jawab orang yang datang itu.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasanya ia tidak dapat menolak ajakan itu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah aku berganti pakaian dahulu. Tunggulah sebentar di serambi.”

Kedua orang anak muda itu pun kemudian duduk di serambi menunggu Agung Sedayu membenahi pakaiannya.

Ketika Ki Waskita mendengar dari Agung Sedayu tentang ajakan kedua anak muda itu, maka Ki Waskita tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. Karena itu, maka sekali lagi ia memperingatkan,” berhati-hatilah Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Aku akan berhati-hati paman. Aku mempunyai dua orang kawan yang akan dapat membantuku diperjalanan jika terjadi sesuatu.”

Ki Waskita memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Lalu katanya, “berhati-hatilah terhadap satu kemungkinan bahwa Ki Ajar Tal Pitu akan mencarimu sampai ke tempat ini. Tetapi berhati-hatilah juga, justru terhadap kedua anak muda itu.”

“Keduanya anak Tanah Perdikan ini,” jawab Agung Sedayu.

“Memang. Tetapi kemungkinan-kemungkinan buruk itu sering datang tanpa dapat diduga-duga sebelumnya,” desis Ki Waskita.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sambil mendekati Ki Waskita ia berdesis, “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu paman. Namun seandainya bahaya itu datang pula, aku sudah cukup berhati-hati untuk menyelamatkan diri.”

Ki Waskita hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia bermaksud untuk mengikuti Agung Sedayu, namun menurut keterangan Agung Sedayu, anak-anak muda itu mengundangnya dalam pertemuan sekelompok anak-anak muda saja.

Sejenak kemudian. Agung Sedayu pun telah siap. Ketika ia sampai di pintu, ternyata Ki Waskita memanggilnya. Ketika Agung Sedayu berpaling, ia melihat Ki Waskita menyibakkan tikar dipembaringannya.

“Apakah kau tidak akan membawanya?” bertanya Ki Waskita sambil menunjuk cambuk Agung Sedayu yang diletakkan di bawah tikar.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku kira, dalam keadaan seperti ini aku tidak memerlukannya Ki Waskita.”

Ki Waskita menggeleng lemah. Katanya lirih, “Kau lebih berbahaya tanpa cambukmu, karena jika terpaksa kau akan mempergunakan senjatamu yang tidak akan dapat terlawan. Setiap sentuhan akan berarti maut. Tetapi agaknya tidak demikian dengan senjatamu ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun melangkah kembali dan kemudian membelitkan senjatanya di bawah bajunya seperti biasanya. Baru kemudian ia pun telah minta diri.

Demikian ia melangkahi pintu, kedua orang yang menjemputnya itu pun berdiri. Kemudian mereka bersama-sama menuruni tangga gandok dan langsung menyeberangi halaman menuju regol.

Ternyata Prastawa berdiri di sebelah regol yang terbuka. Adalah diluar kebiasaannya, bahwa ia bertanya sambil tersenyum. “Kemana Agung Sedayu?”

Agung Sedayu merasa aneh atas sikap Prastawa itu. Meskipun pada saat-saat terakhir Prastawa tidak pernah bersikap kasar terhadapnya, namun sikap yang sangat ramah itu justru membuatnya berdebar-debar. Apalagi Agung Sedayu mempunyai panggraita yang tajam sehingga sikap itu telah dihubungkannya dengan pesan Ki Waskita, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu pun benar-benar merasa harus berhati-hati.

Namun demikian Agug Sedayu menjawab pula, “Aku akan mengikuti kedua anak muda ini. Agaknya senang juga berjaga-jaga dirumah seseorang yang sedang mempunyai keperluan untuk mengawinkan anaknya.”

“Menyenangkan sekali,” jawab Prastawa, “hidangan akan mengalir untuk semalam suntuk.”

“Apakah kau tidak pergi juga kesana?” bertanya Agung Sedayu.

Prastawa menggeleng sambil menjawab, “Kau sajalah pergi. Anak-anak itu ingin berbicara denganmu sepanjang malam.”

Agung Sedayu tersenyum. Kemudian ia pun minta diri meninggalkan regol halaman rumah Ki Gede.

Prastawa memandang langkah Agung Sedayu yang semakin jauh dan kemudian hilang didalam gelapnya malam. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun kemudian beringsut meninggalkan regol yang masih tetap terbuka. Sambil menyembunyikan senyumnya ia pun naik ke pendapa dan hilang dipintu pringgitan.

Para peronda di gardu kemudian menutup pintu regol yang terbuka meskipun tidak menyelaraknya. Namun demikian mereka kembali duduk di gardu, Prastawapun telah turun pula dari pendapa. Dua orang kawannya yang berada di gardu bersama para perondapun turun pula dan bersamanya keluar dari halaman.

Sekali lagi pintu regol itu ditinggalkannya terbuka. Sekali lagi para peronda harus menutup pintu itu.

“Jangan terlalu rapat desis pemimpin peronda itu, “biarlah mereka yang akan keluar masuk tidak usah membukanya lagi, sehingga justru terlampau lebar.”

“Kemana anak itu?” bertanya seseorang di antara para peronda.

“Entahlah,” sahut yang lain, “sudah menjadi kebiasaan Prastawa setiap malam berkeliaran. Bahkan kadang-kadang ketempat yang tidak dapat disebutkan.”

“Apakah Ki Gede tidak mengetahuinya?” bertanya yang lain pula.

“Tentu sudah mengetahuinya,” desis pemimpin peronda itu, “tetapi entahlah. Kadang-kadang Ki Gede juga sudah memberikan beberapa nasehat kepada anak itu. Tetapi agaknya ia memang keras kepala. Sekarang perhatian Ki Gede lebih banyak tertuju kepada Agung Sedayu. Meskipun ia orang lain. tetapi ia berbuat lebih banyak dari Prastawa.”

“Sikap Prastawa sudah berubah,” berkata seorang kawannya, “biasanya ia bersikap kasar terhadap Agung Sedayu.”

“Kita akan melihat, siapa yang akan lebih banyak memberikan arti kepada Tanah Perdikan ini meskipun Prastawa adalah anak Tanah Perdikan, sementara Agung Sedayu dapat dikatakan orang lain,” desis pemimpin peronda itu.

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka seolah-olah melihat pada Prastawa, sikap yang tidak ramah terhadap Agung Sedayu pada hari-hari yang lewat. Namun agaknya sikap itu sudah berubah. Prastawa nampaknya tidak bersikap kasar lagi terhadap Agung Sedayu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang berjalan didalam gelapnya malam bersama dua orang anak muda yang mengajaknya, telah memasuki sebuah bulak pendek. Kemudian mereka mengikuti jalan simpang sebelum mereka memasuki padukuhan dihadapan mereka. Justru karena itu maka beberapa puluh langkah kemudian, mereka memasuki sebuah jalan kecil di antara tanah persawahan yang luas. Mereka ternyata tidak melalui padukuhan dihadapan mereka, tetapi mereka menempuh jalan kecil di sebelah padukuhan itu.

“Kita mengambil jalan memintas,” berkata salah seorang dari kedua anak muda itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Perasaannya semakin digelitik oleh sikap yang kurang wajar dari kedua orang anak muda itu. Apalagi ketika ia membayangkan sikap Prastawa yang tidak seperti biasanya.

Karena itu, Agung Sedayu cukup berhati-hati. Bagaimanapun juga, hal-hal yang tidak diinginkan itu akan dapat saja terjadi di luar perhitungannya.

Ketika sekali lagi mereka berbelok, maka mereka semakin menjauhi padukuhan itu. Mereka langsung turun disebuah jalan lain yang lebih besar di tengah-tengah bulak panjang.

“Kita pergi ke padukuhan itu,” berkata salah seorang anak muda itu sambil menunjuk sebuah padukuhan yang tidak nampak digelapnya malam.

Agung Sedayu yang sudah mengenal Tanah Perdikan Menoreh dengan baik itu pun bertanya, “Apakah kau tinggal di padukuhan itu? Menurut pengetahuanku, kau tidak tinggal di padukuhan itu.”

“Aku memang tidak tinggal di padukuhan itu. Bibiku lah yang tinggal disana. Tetapi karena aku juga sering berada di rumah bibi, maka seolah-olah aku adalah anak padukuhan itu pula.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun ia tetap bersikap hati-hati. Bulak yang panjang, gelap dan sepi itu rasa-rasanya mengandung seribu macam kemungkinan. Yang baik dan yang buruk.

Sebenarnyalah, di bulak yang panjang, sepi dan gelap itu, Sura Bureng dan tiga orang kawannya telah menunggu. Seperti yang sudah direncanakan, Agung Sedayu akan dipancing lewat jalan itu. Jika ia tidak berhasil diundang dengan alasan peralatan, maka ia akan dipancing dengan cara lain, seolah-olah sekelompok anak muda minta ia memisah perselisihan di antara kawan-kawan mereka. Atau alasan lain yang akan dapat diterima oleh Agung Sedayu.

Namun ternyata bahwa Agung Sedayu sudah berada di bulak yang panjang dan gelap itu.

Ketika perjalanan anak-anak muda dari padukuhan induk itu sudah sampai ditengah-tengah bulak, maka yang dicemaskan Agung Sedayu itu pun telah terjadi. Beberapa orang telah menghentikan langkah mereka dengan sikap yang kasar.

Agung Sedayu tidak terlalu terkejut. Seolah-olah ia memang sudah menunggu akan terjadi sesuatu seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita dan sebagaimana terbersit didalam panggraitanya sendiri. Justru karena itulah maka ia selalu berhati-hati.

adbm-145-05Sura Bureng yang berdiri di tengah jalan itu pun kemudian bertanya dengan kasar. “Siapa kalian he?”

Kedua anak muda itu menjadi gemetar. Yang seorang bersembunyi di belakang Agung Sedayu, sementara yang lain justru tergagap tanpa dapat menjawab.

“Siapa kalian he?” bentak Sura Bureng, sehingga kedua anak muda itu pun menjadi semakin ketakutan.

Namun dalam pada itu, dengan tenang Agung Sedayu menjawab, “Hal semacam inilah yang sebenarnya aku tunggu. Aku sama sekali tidak tertarik kepada peralatan dan ceritera tentang kawan-kawan yang menunggu aku. Tetapi kemungkinan-kemungkinan yang terselubung seperti inilah yang sebenarnya sangat menarik perhatianku.”

“Gila, kau sudah menjadi gila. Apa maksudmu?” bertanya Sura Bureng.

“Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “jangan bertanya tentang hal-hal yang sudah kau ketahui. Segala rangkaian peristiwa sebelumnya akhirnya dapat aku baca pada saat ini dengan jelas. Aku sudah tahu maksudmu, siapa yang berdiri di belakangmu, dan untuk apa hal ini kaulakukan.”

Ketenangan Agung Sedayu membuat Sura Bureng hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ia masih berkata, “Kenapa tiba-tiba kau mengigau tanpa arti.”

Agung Sedayu menjawab sareh, “Jangan mencoba membohongi aku. Aku melihat dengan jelas, peranan apa yang sedang kau lakukan sekarang.”

“Bohong,” bentak Sura Bureng.

“Jika kau tidak percaya, bertanyalah kepada kedua anak muda ini. Mereka pun sebenarnya tidak perlu takut kepada kalian,” berkata Agung Sedayu.

Kedua anak muda itu pun termangu mangu. Namun nampaknya Agung Sedayu begitu yakin tentang apa yang dikatakannya.

Akhirnya Sura Bureng lah yang tidak sabar lagi. Dengan kasar ia berkata, “Kau akan mati sekarang. Baiklah, kau boleh mengetahui apa yang sedang aku lakukan.”

Kedua anak muda itu terkejut. Tetapi mereka tidak sempat berkata sesuatu ketika Sura Bureng berkata lebih lanjut, “Kau tidak usah menyesali nasib. Memang tugasku yang sebenarnya tidak untuk membunuhmu. Tetapi aku kira aku akan lebih puas jika aku melemparkan mayatmu ke Kali Praga.”

Kedua anak muda itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berani berbuat sesuatu, ketika Sura Bureng itu pun berkata lebih lanjut, “Aku memang sudah bertekad demikian. Jika ada orang yang berusaha menghalangiku, akan aku bunuh sama sekali. Mayatnya pun akan aku lemparkan ke Kali Praga bersama mayatmu.”

“Semuanya sudah jelas,” berkata Agung Sedayu. “Sekali lagi aku katakan. Seolah-olah aku membaca sebuah kitab, Ketika aku sampai pada halaman terakhir, maka aku menjadi jelas seluruh isi kitab itu.”

“Persetan,” geram Sura Bureng, “aku tidak peduli. Bersiaplah untuk mati.”

Tetapi salah seorang dari kedua anak muda itu berusaha untuk memotong.

“Tutup mulutmu,” bentak Sura Bureng, “aku sudah bertekad untuk membunuh siapa saja yang menghalangi aku. Bahkan Prastawa sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia berusaha untuk memancing pengakuan itu. Meskipun ia memang sudah menduga, namun ia menjadi bertambah jelas, apa yang sedang dihadapinya.

Dalam pada itu, sambil mengendap-endap Prastawa telah mendekati tempat itu. Ia mendengar namanya disebut, sehingga karena itu ia pun mengumpat didalam hati. Namun kemudian ia mendengar Sura Bureng berkata, “Aku tidak mempunyai waktu banyak. Terserah kepadamu, apa kau akan melawan, atau tidak. Seandainya kau mengetahui persoalan yang kau hadapi, aku sama sekali tidak berkeberatan, karena kau akan mati. Sebenarnya bagi Prastawa sendiri, memang lebih baik jika kau mati daripada sekedar diancam dan memaksamu berjanji untuk tidak akan membuka rahasia ini. Karena pada suatu saat, dibawah perlindungan seseorang, kau akan dapat ingkar pada janji itu, sehingga rahasia ini akan terbuka juga. Tetapi jika kau mati, untuk selamanya rahasia ini tidak akan tersingkap dari balik tirai kematianmu.”

“Gila orang ini,” geram Prastawa. Namun kawannya berbisik perlahan sekali ditelinganya, “nampaknya masuk akal juga jalan pikiran Sura Bureng itu.”

Prastawa merenung sejenak. Namun akhirnya ia pun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Kau benar. Aku mengerti.”

Tetapi adalah diluar dugaannya, bahwa pada saat itu, Agung Sedayu yang mempunyai perhitungan dan pertimbangan yang cermat, memang sudah menduga bahwa ada satu dua orang yang mengawasi peristiwa itu dari kegelapan. Kartena ia sempat mempertajam pendengarannya sebagaimana ia dapat mempertajam penglihatannya pada satu sasaran. Karena itulah, betapapun lemahnya, ia dapat menangkap pembicaraan antara Prastawa dan kawannya. Sehingga dengan demikian maka semuanya sudah menjadi jelas sekali baginya.

Namun Agung Sedayu bukannya seseorang yang bertindak dengan tergesa-gesa dalam menanggapi satu persoalan. Karena itu maka seperti biasanya, menghadapi masalah yang gawat ia pun, ia masih tetap tenang dan berhati-hati.

Dalam pada itu, maka Sura Bureng itu pun berkata, “Jika kau sudah mengerti, nah apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “yang mula-mula akan aku lakukan adalah berbicara. Mungkin kau dapat mengerti, sehingga kau akan dapat bersikap lebih baik.”

“Memuakkan,” bentak Sura Bureng, “he, bukankah menurut pendengaranku, kau adalah murid orang bercambuk yang terkenal itu. Sekarang adalah waktunya untuk membuktikan, apakah benar orang bercambuk itu mempunyai kelebihan dari orang lain.”

“Tidak ada kelebihan apapun,” jawab Agung Sedayu.

Jawaban itu memang mengejutkan Sura Bureng. Tetapi akhirnya ia menjadi semakin marah. Seolah-olah Agung Sedayu dengan sengaja telah menghinanya.

Namun Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Banyak orang yang salah mengerti tentang orang bercambuk yang tidak lebih dari salah seorang di antara kumpulan gembala. Demikian pula murid-muridnya.”

“Persetan,” geram Sura Bureng, “siapapun kau dan siapapun orang bercambuk itu, aku tidak peduli. Bersiaplah untuk mati.”

“Jangan tergesa-gesa Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “apakah tidak ada jalan lain daripada membunuh.”

“Tidak ada jalan lain. Jangan berbicara lagi. Setiap kata yang terloncat dari mulutmu, hanya membuat aku menjadi semakin marah, dan semakin membakar nafsuku untuk membunuhmu dengan cara yang tidak sewajarnya.”

“Kau cepat dibakar oleh perasaanmu,” desis Agung Sedayu.

“Cukup. Kau membuat aku ingin mengikatmu dan menceburkan kau kedalam sungai itu hidup-hidup,” desis Sura Bureng.

Agung Sedayu tidak sempat menjawab, karena tiba-tiba Sura Bureng berkata lantang kepada kawan-kawannya, “Jaga anak ini agar tidak sempat lari.”

Ketiga orang kawan Sura Bureng itu pun segera memencar. Sementara itu Sura Burengpun berkata, “Bukan berarti bahwa aku memerlukan tiga orang kawan untuk membunuhmu. Aku akan membunuhmu seorang diri. Aku ingin menjajagi orang bercambuk itu sendiri lewat muridnya. Berapa lama kau mampu bertahan, sehingga dengan demikian aku akan mengerti, berapa lama gurumu mampu bertahan melawan aku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Orang ini memang tidak dapat diajak berbicara lagi. Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang dapat dilakukannya kecuali mempertahankan diri. Betapapun juga ia tidak mau mengalami perlakuan yang kasar, apalagi benar-benar membahayakan jiwanya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 146)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-45/

Terima kasih kepada Ki Terangguk-angguk yang me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s