ADBM2-146

<<kembali | lanjut >>

DALAM pada itu, Agung Sedayu pun menyadari kebenaran pendapat Ki Waskita. Memang lebih baik baginya untuk membawa cambuknya, karena tanpa cambuk, ia akan dapat menjadi justru lebih berbahaya.

Dalam pada itu, orang yang bernama Sura Bureng itu benar-benar telah mulai. Dengan langkah pendek ia maju. Tangannya terjulur ke depan, meskipun ia belum benar-benar mulai menyerang.

Agung Sedayu masih belum bergerak. Ia masih berdiri tegak. Namun ia masih sempat berkata kepada kedua orang anak muda yang menjemputnya dengan lantang, “Minggirlah. Kau dapat menonton tontonan yang barangkali menyenangkan buat kalian berdua, dan barangkali juga buat Prastawa dan kawan-kawannya.”

Dengan sengaja Agung Sedayu berusaha agar Prastawa dapat mendengarnya. Sehingga dengan demikian Prastawa pun mengerti, bahwa apa yang telah terjadi itu dapat dimengerti pula sepenuhnya oleh Agung Sedayu.

Sebenarnyalah Prastawa memang mendengar apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu itu, sehingga jantungnya rasa-rasanya berdentang semakin keras.

Namun demikian ia dapat menghibur dirinya sendiri, bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat mengatakan rahasia itu kepada siapapun juga.

“Tetapi bukan aku yang bermaksud membunuhnya. Aku hanya menyuruh Sureng Bureng untuk mengusirnya,” desis Prastawa kepada diri sendiri.

Sikap Agung Sedayu benar-benar menyakitkan hati Sura Bureng. Karena itu, maka tiba-tiba saja kakinya telah terayun dengan kerasnya mengarah ke lambung Agung Sedayu.

Baru Agung Sedayu bergeser. Selangkah ia surut sehingga kaki lawannya tidak mengenainya. Tetapi Sura Bureng telah memburunya. Demikian kakinya berpijak diatas tanah, maka kakinya yang lain telah terayun pula.

Agung Sedayu tidak meloncat surut, tetapi ia bergeser kesamping. Demikian kaki lawannya terjulur dihadapannya, maka kaki itu telah didorongnya kesamping sehingga tubuh Sura Bureng telah terputar. Tetapi Sura Bureng cukup cepat. Ia bahkan meloncat selangkah surut, dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun ternyata Agung Sedayu tidak berbuat apa-apa. Ia masih saja berdiri tegak memandang lawannya yang tegang.

“Gila,” geram Sura Bureng, “ternyata kau tidak mampu berbuat apa-apa. Kau hanya mampu berloncatan tanpa arti sama sekali.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan berikutnya. Sura Bureng yang telah mulai dengan serangan-serangan yang meskipun belum bersungguh-sungguh itu, tentu akan segera meningkatkan serangannya. Sementara kawannya yang tiga orang, masih saja berdiri diam. Mereka hanya mendapat tugas untuk menjaga agar Agung Sedayu tidak melarikan diri.

Seperti yang diperhitungkan oleh Agung Sedayu, maka Sura Bureng pun telah bersiap untuk bertempur dengan sungguh-sungguh. Sejenak kemudian ia bergeser maju. Sebelah tangannya terjulur, yang lain menyilang didada.

Sejenak kemudian terdengar ia berteriak sambil meloncat menyerang Agung Sedayu dengan tangannya langsung mengarah ke dahi.

Tetapi Agung Sedayu sudah bersiap menghadapinya. Ia sempat bergeser sambil menarik tubuhnya condong kebelakang, sehingga tangan lawannya tidak menyentuhnya. Namun pada saat tangan Sura Bureng tidak mengenai sasaran, tiba-tiba saja tangan itu bergerak mendatar. Dengan sisi telapak tangannya Sura Bureng menghantam kening.

Sekali lagi Agung Sedayu harus menghindar. Tetapi ia tidak membiarkan dirinya menjadi sasaran dan harus menghindar dan menghindar. Ketika tangan Sura Bureng menyambar diatas kepalanya yang menunduk, maka Agung Sedayu dengan cepat menyerang lambung lawan yang terbuka.

Namun ternyata Sura Bureng cukup cekatan. Serangan Agung Sedayu dapat dihindarinya dengan loncatan panjang kesamping.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sura Bureng itu cukup cepat pula bergerak. Meskipun Agung Sedayu masih belum bersungguh-sungguh, namun dengan demikian ia mengerti, bahwa lawannya termasuk orang berilmu.

Karena itu, maka Agung Sedayu yang sudah berhati-hati itu menjadi semakin berhati-hati. Lawannya tidak hanya seorang. Meskipun tiga orang yang lain masih belum berbuat apa-apa, dan mereka hanya bertugas untuk menjaga agar Agung Sedayu tidak melarikan diri, namun pada saatnya mereka tentu akan melibatkan diri.

Sekali lagi Agung Sedayu merasa berterima kasih kepada Ki Waskita yang sudah memperingatkannya agar ia membawa cambuknya.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itu pun menjadi semakin cepat. Sura Bureng yang memang tidak mempunyai pertimbangan lain daripada membunuh Agung Sedayu itu pun berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. Dengan demikian, ia pun segera mengerahkan segala kemampuannya, agar Agung Sedayu cepat dapat dikuasainya.

Tetapi ternyata dugaannya tentang Agung Sedayu keliru. Murid orang bercambuk yang menurut Prastawa dapat dikalahkan jika Prastawa tidak segan menanganinya sendiri itu, masih mampu bertahan untuk beberapa saat.

“Anak iblis,” geram Sura Bureng, “kau membuat aku semakin marah. Kau akan membuat dirimu sendiri semakin tersiksa karenanya.”

“Apa maksudmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika kau masih saja melawan, maka kau akan membuat dirimu sendiri semakin parah disaat terakhir,” geram Sura Bureng.

“Jadi kau bermaksud agar aku menyerahkan leherku?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Dengan baik-baik.” bentak orang itu.

“Jangan bergurau,” berkata Agung Sedayu, “aku tidak menyangka bahwa dalam keadaan seperti ini kau masih sempat juga bergurau.”

Kemarahan Sura Bureng menjadi semakin memuncak. Sikap Agung Sedayu itu dinilainya seakan-akan anak itu menjadi semakin sombong. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin garang. Langkahnya menjadi semakin cepat, dan ayunan tangannya menjadi semakin berat.

Namun seolah-olah usahanya itu sama sekali tidak berpengaruh. Agung Sedayu justru masih sempat membalas serangan-serangannya dengan serangan pula. Dan yang paling menyakitkan hati Sura Bureng, justru serangan-serangan Agung Sedayulah yang telah mengenainya.

Karena itu, maka Sura Bureng tidak mau mengalami kesulitan lebih lama lagi. Dengan serta merta ia pun telah mencabut goloknya yang besar.

Agung Sedayu melangkah surut. Golok itu memang terlalu besar. Karena itu, maka ia pun mengerti, bahwa kekuatan orang itu pun tentu cukup besar untuk menggerakkan goloknya

Ketika orang itu memutar goloknya, maka Agung Sedayu pun menjadi semakin yakin, orang itu menguasai ilmu pedang dengan baik. Golok itu berputar dengan cepat, kemudian tiba-tiba saja sambil melangkah maju, golok itu langsung terjulur kearah dadanya. Agaknya orang itu akan segera mengakhiri pertempuran dengan cepat.

Agung Sedayu yang meloncat mundur, terkejut melihat gerak orang itu. Cukup cepat. Selangkah ia memburu, dan goloknya telah terayun mendatar.

Namun Agung Sedayu sempat merendah. Golok itu menyambar diatas kepalanya, tanpa menyentuhnya.

Sura Bureng ternyata tidak mau melepaskan kesempatan berikutnya. Ketika goloknya tidak mengenai lawannya, ia telah menarik serangannya. Sekali lagi ia menusuk lurus selagi Agung Sedayu masih merendah.

Geraknya Sura Bureng cukup cepat. Namun benar-benar diluar dugaan Sura Bureng, bahwa Agung Sedayu masih sempat mengelak.

Namun dengan demikian, oleh kemarahan yang memuncak, maka serangan Sura Bureng pun datang beruntun mengejar Agung Sedayu. Semakin lama semakin cepat. Meskipun demikian, serangan itu sama sekali tidak menyentuh sasaran. Agung Sedayu seolah-olah telah berubah menjadi bayangan yang tidak tersentuh.

Sura Bureng pun kemudian menyadari, sebenarnyalah Agung Sedayu memiliki ilmu yang cukup untuk menghadapinya. Ia sudah menghentakkan segala kemampuannya, dan bahkan ilmu pedangnya. Namun Agung Sedayu masih sempat mengelakkannya, dan bahkan ia sama sekali tidak melawannya dengan senjata.

Kemarahan Sura Bureng mulai disentuh oleh perasaan gelisah. Ia sadar, bahwa seorang diri ia tidak akan dapat mengalahkan Agung Sedayu, yang disebutnya murid orang bercambuk.

“Kenapa Prastawa mengaku dapat mengalahkannya seandainya ia tidak segan terhadap pamannya?” bertanya Sura Bureng didalam hatinya.

Dan dalam pada itu, pertanyaan serupa telah bergejolak dihati Prastawa yang melihat perkelahian itu, meskipun malam cukup gelap. Tetapi karena mereka bertempur di bulak panjang, maka Prastawa masih dapat melihat pertempuran itu. Dan ia pun melihat, bahwa dengan pedang Sura Bureng tidak dapat menguasai Agung Sedayu yang tidak bersenjata.

“Apakah ia mempunyai ilmu iblis,” geram Prastawa yang menilai ilmu pedang Sura Bureng cukup menggetarkan.

Prastawa pun menjadi semakin gelisah. Bahkan ia menjadi jengkel, kenapa tiga orang kawan Sura Bureng itu masih saja menjadi penonton pada saat Sura Bureng mengalami kesulitan.

Namun akhirnya Prastawa menarik nafas panjang ketika ia mendengar Sura Bureng berkata lantang kepada kawan-kawannya, “He, jangan menonton saja seperti menonton sabung ayam. Kau lihat betapa liciknya anak itu. Ia hanya dapat meloncat-loncat menghindar tanpa berani bertempur dengan mapan. Karena itu, apa artinya aku menantangnya berperang tanding. Kita harus beramai-ramai menangkapnya dan membunuhnya.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Jika ia harus menghadapi ampat orang bersenjata, maka ia tidak akan dapat melawan mereka tanpa senjata. Mungkin ia dapat berlari-lari menghindar dalam arena yang luas. Tetapi dengan demikian maka pertempuran itu tidak akan terselesaikan.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun menunggu sejenak. Ketika ketiga orang lainnya telah menggenggam senjata ditangan masing-masing, maka justru mereka menjadi berdebar-debar melihat Agung Sedayu mengurai cambuknya.

Sura Bureng yang memimpin kawan-kawannya itu pun memperhatikan cambuk itu dengan jantung yang berdegupan. Sebelum menggenggam senjata, ia tidak dapat menyentuhnya sama sekali meskipun ia telah menggenggam goloknya. Dan kini Agung Sedayu itu telah memegang tangkai cambuknya. Senjata yang tidak terlalu banyak dipergunakan orang.

“Tetapi aku sekarang berempat,” berkata Sura Bureng didalam hatinya.

Dalam pada itu, ketiga kawan-kawannya yang sudah bersenjata pula bergeser selangkah. Mereka pun memperhatikan cambuk Agung Sedayu yang berjuntai cukup panjang.

Agung Sedayu masih tetap berdiri ditempatnya. Sekali-sekali ia berpaling kepada lawan-lawannya yang sengaja mengepungnya dari segala arah. Agung Sedayu sadar, bahwa keempat orang itu adalah orang-orang kasar yang sudah terbiasa mempergunakan kekerasan. Namun Agung Sedayu sama sekali tidak ingin menunjukkan kelebihan-kelebihannya. Ia ingin bertempur dengan wajar. Ia ingin mengalahkan lawan-lawannya dengan ilmu cambuknya.

Meskipun demikian, Agung Sedayu tidak menganggap lawan-lawannya terlalu ringan. Karena itu, ia telah melindungi kulitnya dengan ilmu kebalnya. Meskipun demikian ia tidak menampakkannya dengan semata-mata. Meskipun seandainya ia berdiri tegak tanpa bergerak sekalipun, keempat lawannya itu tidak akan dapat melukai kulitnya, namun ia sama sekali tidak akan memberikan kesan bahwa ia memiliki ilmu kebal.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian telah bersiap untuk berkelahi dengan senjatanya.

Ketika keempat orang itu mulai bergeser semakin dekat, maka Agung Sedayu pun telah bersiap sepenuhnya. Ia pun sadar, bahwa Prastawa sedang memperhatikannya didalam gelapnya malam, beberapa langkah dari arena perkelahian itu.

Namun dalam pada itu, keempat orang itu telah terkejut sehingga mereka berloncatan surut. Tiba-tiba saja cambuk Agung Sedayu itu telah meledak. Dengan sengaja Agung Sedayu sekedar mengerahkan kekuatan wadagnya, sehingga dengan demikian cambuknya itu pun telah menggetarkan telinga wadag keempat orang lawannya.

Untuk sesaat keempat kawannya itu masih tetap berada ditempatnya. Mereka sedang mengatur degup jantungnya yang tidak menentu karena terkejut. Sekali-sekali mereka menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.

Agung Sedayu lah yang kemudian bergeser maju mendekati Sura Bureng. Sekali-sekali Agung Sedayu menggerakkan ujung cambuknya, sehingga. Sura Bureng itu terpaksa bergeser surut sambil mengumpat karena kawan-kawannya masih belum berbuat apa-apa.

Namun akhirnya kawan-kawan Sura Bureng itu pun sadar, bahwa mereka harus berbuat sesuatu. Karena itu, maka hampir bersamaan mereka telah berloncatan maju. Bahkan sejenak kemudian mereka pun telah mulai menyerang Agung Sedayu dari segala arah.

Namun serangan mereka terhalang oleh ujung cambuk Agung Sedayu yang diputarnya.

Dalam pada itu Sura Bureng yang merasa bertanggung jawab atas tugas itu pun telah mengambil sikap lebih berani dari kawan-kawannya yang semula hanya bertugas untuk menjaga agar Agung Sedayu tidak sekedar melarikan diri. Sambil merendahkan diri ia menyusup di antara putaran cambuk Agung Sedayu. Tangannya terjulur lurus langsung menyerang dada Agung Sedayu dengan goloknya yang besar.

Tetapi Agung Sedayu tidak membiarkan dadanya disentuh oleh senjata lawannya atau sengaja memamerkan ilmu kebalnya. Tetapi Agung Sedayu telah menghindari serangan itu. Namun dalam pada itu, ia pun telah menggerakkan cambuknya menyerang Sura Bureng yang gagal mengenainya.

Serangan Agung Sedayu tidak begitu cepat, sehingga Sura Bureng berhasil meloncat dengan loncatan panjang menghindari ujung cambuk yang memburunya.

Namun dalam pada itu, ketiga orang kawan Sura Bureng itu telah mengambil kesempatan. Mereka bersama-sama telah menyerang dari segala arah dengan senjata yang terjulur.

Agung Sedayu yang sudah memperhitungkannya, sempat melihat serangan-serangan itu, sehingga ia pun sempat meloncat mengelak. Namun dengan demikian ia menjadi semakin dekat dengan Sura Bureng.

Dengan seria merta, Sura Bureng pun telah berteriak nyaring sambil meloncat maju. Senjatanya menebas datar mengarah keleher Agung Sedayu.

Dalam keadaan wajar, jika seseorang dikenai serangan itu tepat pada lehernya, maka lehernya tentu akan terputus karenanya. Namun Agung Sedayu yang sempat melihat golok itu menyambar lehernya, sempat merendahkan dirinya sehingga golok itu terayun diatas kepalanya. Demikian kerasnya ayunan itu, sehingga terdengar angin bagaikan berdesing nyaring.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu sempat pula mengayunkan cambuknya. Tidak terlalu keras. Namun ketika ujung cambuknya menyambar Sura Bureng, ia pun telah meloncat dengan serta merta.

adbm-146-01Tetapi ternyata ujung cambuk Agung Sedayu bergerak lebih cepat. Meskipun Sura Bureng telah meloncat, namun ujung cambuk itu masih juga menyambar betisnya.

Terdengar Sura Bureng mengaduh tertahan. Perasaan sakit yang sangat telah menyengatnya. Namun demikian, ia masih sempat meloncat beberapa langkah surut. Kawan-kawan Sura Burengpun telah berusaha untuk membebaskannya dengan serangan-serangan yang datang beruntun sehingga Agung Sedayu harus berloncatan menghindar.

Mula-mula Sura Bureng hanya merasa kakinya menjadi sakit. Tetapi ia terkejut bukan kepalang, ketika ia meraba kakinya yang sakit itu, terasa tangannya telah menyentuh cairan yang hangat. Apalagi ketika tangannya tepat meraba betisnya yang dikenai cambuk Agung Sedayu, hatinya bagaikan terbakar karenanya, karena kakinya itu ternyata telah terkoyak kulit dagingnya.

“Gila,” ia mengumpat. Namun perasaan sakit itu menjadi semakin mencengkamnya ketika ia sadar, bahwa luka dibetisnya itu telah menganga.

Kemarahan Sura Bureng bagaikan membakar jantung. Giginya gemeretak dan matanya bagaikan membara. Meskipun demikian Sura Bureng tidak dapat menyembunyikan rasa sakit yang menggigit betisnya.

Sementara itu, oleh kemarahan yang memuncak, Sura Bureng masih dapat bergerak dengan cepat menyerang Agung Sedayu yang sedang melindungi dirinya dari serangan ketiga orang lawannya yang lain. Dengan ayunan yang keras dan cepat. Sura Bureng menyerang lambung.

Namun Agung Sedayu sempat menggeliat, sehingga serangan Sura Bureng tidak mengenai sasarannya. Bahkan Agung Sedayu masih juga sempat menghindari serangan ketiga orang lawannya yang lain tanpa menggerakkan cambuknya sama sekali. Seolah-olah Agung Sedayu sengaja menunjukkan kepada lawan-lawannya bahwa ia memiliki kemampuan bergerak yang luar biasa. Tanpa melawan dengan senjata, mereka sama sekali tidak mampu mengenainya.

Yang kemudian merasa terhina, bukan saja Sura Bureng. Tetapi juga ketiga orang yang lain Karena itu, maka mereka pun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sebagaimana sifat keempat orang itu, maka sejenak kemudian mereka bertempur dengan kasarnya. Apalagi Sura Bureng yang telah terluka betisnya.

Untuk melawan keempat orang yang marah itu, maka Agung Sedayu ternyata tidak mengalami kesulitan. Apalagi ketika ia mempergunakan cambuknya sebaik-baiknya. Dalam perkelahian selanjutnya, maka ledakan cambuknya telah menyengat lawan-lawannya, seorang demi seorang, sehingga keempat orang itu telah dikenainya. Seorang terluka di pundaknya, seorang di punggungnya dan seorang lagi di lengannya.

Bagaimanapun juga perasaan sakit itu akhirnya mempengaruhi perlawanan mereka. Pada saat-saat tubuh mereka menjadi semakin lemah dan tenaga yang semakin susut, oleh pertempuran itu sendiri, atau karena darah yang meleleh dari luka, maka keempat orang itu, akhirnya mengakui bahwa mereka tidak akan dapat mengalahkan Agung Sedayu. Namun agaknya mereka terlambat mengambil keputusan. Agung Sedayu agaknya melihat kemungkinan yang bakal dilakukan oleh lawan-lawannya itu, sehingga justru karena itu, maka disaat terakhir itu, Agung Sedayu lah yang telah menyerang lawannya dalam libatan kecepatan yang tidak teratasi.

Ketika cambuk Agung Sedayu kemudian meledak-ledak, maka terdengar keluhan tertahan-tahan. Ujung cambuk Agung Sedayu telah mengenai mereka beberapa kali lagi, sehingga luka ditabuh keempat lawannya itu bagaikan silang melintang di tubuh mereka.

Meskipun ayunan cambuk Agung Sedayu yang cepat itu tidak mempergunakan seluruh kekuatannya, tetapi luka-luka itu bagaikan telah membakar seluruh tubuh mereka.

Sura Bureng ternyata tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Dadanya terasa pedih, sementara lengannya telah terkoyak pula, selain betisnya yang masih saja berdarah. Sentuhan kecil di lehernya rasanya bagaikan sentuhan bara api.

Sementara itu, kawan-kawan Sura Bureng itu pun tidak luput dari gigitan cambuk Agung Sedayu. Mereka pun telah terluka dibeberapa bagian dari tubuh mereka, sehingga hampir diseluruh tubuh itu pula telah ternoda darah.

Tidak ada kesempatan apapun lagi yang dapat dilakukan oleh keempat orang itu, sementara tubuh mereka menjadi semakin lemah. Bahkan mereka pun kemudian menyadari, bahwa mereka tidak akan mampu lagi melarikan diri. Ujung cambuk itu akan mengejar mereka, meskipun seandainya mereka berlarian ke jurusan yang berbeda. Tenaga mereka tidak akan mampu membawa mereka melampaui kecepatan lari seorang anak yang baru belajar berjalan.

Dengan demikian, maka satu demi satu lawan Agung Sedayu itu pun telah kehilangan kemampuan untuk melawan. Mereka akhirnya pasrah pada keadaan dan membiarkan Agung Sedayu menentukan nasib mereka.

Sura Bureng yang masih mencoba untuk melarikan diri. Tetapi tanpa dikejar oleh Agung Sedayu, ia telah tergelincir dan terjatuh di pematang pada loncatan yang salah oleh karena kakinya yang terlalu lemah.

Akhirnya perkelahian itu pun berakhir dengan sendirinya ketika keempat orang itu sudah tidak mampu lagi melawan

Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah mendekati Sura Bureng. Kemudian menariknya kembali ketempat ketiga orang kawannya terduduk lemah di pinggir jalan bulak yang panjang itu.

Sura Bureng tidak dapat menolak. Tertatih-tatih ia ditarik oleh Agung Sedayu, sementara goloknya telah terlepas dari tangannya disaat ia terpelanting jatuh. Kemudian ketika Agung Sedayu mendorongnya maka ia pun telah terduduk pula didekat kawan-kawannya.

Sambil berdiri tegak dihadapan keempat orang itu. Agung Sedayu mempermainkan ujung cambuknya. Jika ujung cambuk itu menyentuh kulit mereka yang terduduk lesu itu, terasa jantungnya bagaikan berhenti mengalir. Mereka baru mengerti sepenuhnya apa yang sebenarnya mereka hadapi. Anak muda murid orang yang disebut orang bercambuk itu ternyata tidak dapat dikalahkan oleh ampat orang yang merasa dirinya memiliki kemampuan tidak terlawan di Tanah Perdikan Menoreh, kecuali oleh Ki Gede sendiri.

Dalam pada itu, meskipun tidak tersentuh cambuk Agung Sedayu, namun yang menggigil karena ketakutan adalah Prastawa. Ia sadar, bahwa keempat orang itu akan dapat berkata sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan.

Namun kawannya telah membisikkan ditelinganya, “Kau dapat ingkar. Kau dapat menuduh hal itu sebagai satu fitnahan. Kau dapat mengatakan bahwa ada orang yang ingin mengadu domba antara kau dan Agung Sedayu.”

Prastawa mengangguk-angguk. Sementara itu, maka ia pun telah beringsut meninggalkan tempatnya.

Agung Sedayu yang memiliki ketajaman pendengaran dan penglihatan pada saat yang dikehendaki itu dapat mengetahui bahwa Prastawa telah meninggalkan tempat itu. Namun ia memang melepaskannya pergi. Ia sama sekali tidak berniat untuk menangkapnya. Sementara itu Agung Sedayu masih berdiri tegak menghadapi keempat orang yang terluka itu. Dengan hada berat ia bertanya, “Apakah kalian masih ingin membunuh aku? “

Bagaimanapun juga Sura Bureng dan kawan-kawannya tidak dapat mengelakkan diri dari satu kenyataan, bahwa mereka tidak akan dapat melawan lagi. Karena itu, maka tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan Agung Sedayu itu.

Karena tidak ada yang menjawab, maka Agung Sedayu berkata seterusnya Baiklah Jika kalian sempat melihat kenyataan tentang diri kalian, maka aku pcrsilah-kan kalian mengambil satu sikap.”

Keempat orang itu menjadi bingung Mereka tidak tahu maksud Agung Sedayu. Namun yang terbersit didalam hati mereka adalah bayangan-bayangan yang mengerikan. Seolah-olah Agung Sedayu telah menyuruh mereka memilih jalan kematian masing-masing.

Dengan demikian maka tidak seorang pun yang dapat menjawabnya. Dengan jantung yang berdegup keras mereka hanya dapat menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu.

Karena mereka masih tetap berdiam diri, maka Agung Sedayu pun mendesak “Ki Sanak. Apa yang akan kalian lakukan kemudian setelah kalian mengalami kenyataan ini. Apakah kalian masih akan meneruskan niat kalian, atau tidak, atau mungkin sikap lain yang kalian anggap menguntungkan. Cepat, aku sudah membuang waktu banyak untuk bermain-main dengan kalian.”

Dalam pada itu, Sura Bureng lah yang memberanikan diri untuk bertanya, “Kami tidak mengetahui maksudmu Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maksudku, apakah kalian ingin bertempur terus, menyerah, atau apa?”

Sura Bureng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau melihat kenyataan ini. Segalanya terserah kepadamu. Kami tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

“Jadi kalian menyerah? “ desak Agung Sedayu.

Terasa mulut Sura Bureng menjadi sangat berat.

Namun akhirnya ia pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Kami menyerah.”

“Bukankah dengan demikian nasib kalian ada ditanganku?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya,” jawab Sura Bureng.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku ingin mendengar pengakuanmu. Apa yang dijanjikan Prastawa jika kau berhasil melakukan tugasmu sekarang ini?”

Orang itu ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia tidak dapat mengelak lagi. Jawabnya, “Uang dan jaminan bagi satu masa yang panjang dalam ujud tanah persawahan atau pategalan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kita belum pernah berhubungan. Aku dan kalian tidak mempunyai persoalan yang menuntut sikap yang keras dan kasar, meskipun kalian telah melakukannya. Tetapi bagiku, kalian masih perlu mendapat kesempatan untuk melihat kepada diri sendiri. Mangakui kesalahan dan bertaubat. Bukan saja terhadap aku dan barangkali orang-orang yang berhubungan dengan aku. Tetapi juga dalam segala segi kehidupanmu.”

Yang dikatakan oleh Agung Sedayu itu justru mengejutkan orang-orang yang sudah terluka itu. Mereka sama sekali sudah tidak berpengharapan karena mereka mengerti, bahwa sikap mereka telah pasti. Membunuh Agung Sedayu. Sehingga dengan demikian maka mereka pun menyangka bahwa Agung Sedayu akan mengambil sikap serupa pula.

Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu masih memberi mereka kesempatan.

Namun dengan demikian justru mereka menjadi ragu-ragu. Mungkin Agung Sedayu sengaja telah menyiksa perasaan mereka. Ia dengan sengaja telah memberikan pengharapan-pengharapan. Namun yang kemudian dengan tiba-tiba ia telah merenggut pengharapan itu dengan kejamnya. Dengan demikian, maka kematian akan terasa sangat mengerikan.

Tetapi ternyata Agung Sedayu bersikap sungguh-sungguh. Bahkan katanya kemudian sambil menunjuk kedua orang yang kemudian benar-benar menjadi ketakutan, bukan sekedar berpura-pura seperti saat mereka bertemu dengan keempat orang yang berusaha membunuh Agung Sedayu itu, “Nah, ternyata bahwa kalian berdua masih mempunyai tugas malam ini. Kalian tidak perlu mengantar aku kemanapun juga. Tetapi kalian harus membawa keempat orang ini. Terserah apa yang akan kalian lakukan terhadap mereka. Apakah kalian akan menunggui mereka semalam suntuk disini, atau kalian akan melaporkannya kepada Ki Gede, atau cara lain.”

“Jangan laporkan kami kepada Ki Gede,” minta Sura Bureng.

“Terserah kepada kedua orang itu. Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk berurusan dengan kalian,” berkata Agung Sedayu kemudian. Namun ia masih berpesan, “Tetapi ingat. Jangan mengganggu Tanah Perdikan Menoreh untuk seterusnya dengan tujuan apapun. Aku dapat membunuh kalian jika aku menghendaki. Atau membawa kalian menghadap Ki Gede dan membuka rahasia kalian sekaligus hubungan kalian dengan Prastawa. Tetapi untuk kali ini aku masih belum akan melakukannya. Aku yang mengemban tugas untuk membina masa depan Tanah Perdikan ini, aku melihat, apakah kalian mematuhi perintahku atau tidak.”

Sura Bureng menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena perasaan sakit yang menggigit seluruh tubuhnya. Namun ternyata bahwa yang terjadi adalah sebaliknya dari yang direncanakannya. Bukan ia dan kawan-kawannya yang mengancam dan menakut-nakuti Agung Sedayu, tetapi justru Agung Sedayu lah yang mengancamnya.

Tetapi ia tidak dapat memilih. Karena itu, satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah mengangguk sambil menyahut, “Baiklah Agung Sedayu. Aku akan mematuhi segala perintahmu, sambil mengucapkan terima kasih bahwa aku masih berkesempatan untuk hidup.”

“Namun kau akan menjadi saksi jika diperlukan untuk mengungkap segala tingkah laku Prastawa pada saatnya,” berkata Agung Sedayu, “namun itu hanya satu kemungkinan. Kemungkinan yang lain, tidak sama sekali.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan keempat orang yang terluka itu di bulak panjang bersama kedua orang anak muda yang menjemputnya. Kedua anak muda itu menjadi kebingungan. Namun akhirnya mereka berusaha menolong keempat orang itu untuk menyingkir perlahan-lahan. Untunglah bahwa malam menjadi sangat sepi, sehingga tidak seorang pun yang melihat apa yang telah terjadi.

Namun dalam pada itu, langkah Agung Sedayu pun telah terganggu pula.

Ketika ia meloncati tikungan, ia telah melihat bayangan yang melintas dengan cepat. Ketajaman penglihatan Agung Sedayu menangkap bayangan itu. Bahkan tiba-tiba saja Agung Sedayu telah tertarik untuk mengikutinya.

Ternyata Agung Sedayu tidak mengalami kesulitan. Ketika bayangan itu melintasi pematang. Agung Sedayu pun mengikutinya pula. Semakin lama semakin jauh.

Ada juga kecemasan dihati Agung Sedayu bahwa ia akan dijebak oleh seseorang. Dan ia pun sadar, bahwa orang itu tentu tidak ada hubungannya dengan Prastawa.

“Ajar Tal Pitu,” ia berdesis didalam hatinya.

Namun Agung Sedayu tidak menghentikan langkahnya. Ia masih saja mengikuti bayangan itu yang nampaknya berjalan dengan wajar di pematang. Namun arahnyalah yang tidak wajar, apalagi dimalam buta.

Agung Sedayu masih saja mengikutinya. Langkahnya tidak terlalu cepat, dan nampaknya ia sama sekali tidak berusaha untuk bersembunyi, atau melepaskan diri dari pengamatan Agung Sedayu.

Justru dengan demikian Agung Sedayu menjadi semakin berhati-hati. Ia menganggap bahwa lawannya merasa terlalu yakin akan dirinya sehingga bayangan itu tidak merasa perlu untuk menghindar.

Ketika bayangan itu berbelok di tikungan yang dihalangi oleh rumpun-rumpun pepohonan pategalan. Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Ia sadar, bahwa jika orang itu berniat buruk, tikungan itu akan dapat dijadikan landasan yang baik untuk menyerangnya, apabila orang itu tidak ingin bertempur beradu dada.

Karena itu. Agung Sedayu tidak bertindak tergesa-gesa. Ia tidak langsung berjalan lewat tikungan. Jika yang berada dibalik tikungan itu Sura Bureng atau kawan-kawannya, Agung Sedayu sama sekali tidak akan mengalami kesulitan. Tetapi jika yang berada dibalik tikungan itu Ajar Tal Pitu, maka ia tidak akan mendapat banyak kesempatan untuk mengelak.

Agung Sedayu telah menepi dan meloncati parit di pinggir jalan itu. Baru kemudian ia berjalan dengan hati-hati melalui tikungan. Jika seseorang bersembunyi dibalik gerumbul di tikungan itu, ia masih mempunyai kesempatan untuk mengelak. Namun jika yang berada di balik tikungan itu adalah Ajar Tal Pitu atau orang yang setingkat, maka Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya untuk melindungi dirinya dari serangan yang tiba-tiba dari seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun, ternyata di tikungan itu tidak terdapat seseorang. Sementara bayangan yang diikutinya itu seolah-olah telah lenyap ditelan gelapnya malam.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Berlari-lari kecil ia menelusuri jalan yang membujur panjang. Tetapi ia tidak melihat seseorang di sepanjang jalan itu. Bahkan ketika ia mempertajam penglihatannya menyusuri jalan itu, ia pun tidak melihat apapun juga. Sepi.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Ia menduga keras, bahwa orang yang diikutinya itu berada di pategalan yang rimbun di sebelah tikungan. Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian justru menunggu ditempat yang terbuka, sehingga ia akan segera mengetahui jika ada orang yang mendekat.

Untuk beberapa saat lamanya Agung Sedayu menunggu. Tetapi tidak seorang pun yang datang mendekatinya. Sementara itu malam menjadi semakin dalam.

Namun untuk mencari orang itu didalam gerumbul Agung Sedayu merasa segan. Selain karena ia menduga bahwa orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan sengaja ingin mencarinya, termasuk Ajar Tal Pitu, maka Agung Sedayu pun tidak mau memburu lawan, seandainya orang yang diikutinya itu memang lawannya.

“Jika ia ingin membuat perhitungan biar ia datang kepadaku,” berkata Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu pun sama sekali tidak akan menjadi sakit hati, jika orang itu menganggapnya seorang pengecut.

Namun ternyata orang itu tidak keluar dari gerumbul pategalan. Atau bahkan orang itu telah pergi jauh. Betapapun Agung Sedayu mempertajam pendengarannya dan penglihatannya, ia tidak melihat seseorang dan ia pun tidak mendengar desah nafas.

Tetapi Agung Sedayu pun sadar, bahwa kemampuannya mendengar dan melihat itu bukan tidak ada batasnya. Ia tidak akan dapat melihat orang yang berdiri dibalik pepohonan atau gerumbul-gerumbul perdu yang lebat. Sementara telinganyapun tetap tidak akan dapat mendengar pada jarak tertentu.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun hanya dapat menunggu.

Sementara itu, malam menjadi semakin gelap. Prastawa yang tergesa-gesa kembali kerumah Ki Gede, rasanya masih saja gemetar. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa Agung Sedayu memiliki ilmu yang demikian dahsyatnya. Ia dapat melawan empat orang yang memiliki ilmu yang tinggi dengan cambuknya. Bahkan keempat orang itu benar-benar telah dilumpuhkan.

Dengan demikian ia mulai menilai perlakuannya terhadap anak muda dari Jati Anom itu. Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Agung Sedayu pada waktu itu. Ketika ia bersama beberapa orang kawannya mengancam, bahkan memukulinya, nampaknya Agung Sedayu seolah-olah tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan ia telah jatuh terkapar di tanah, sehingga beberapa kawannya menjadi cemas, bahwa ia akan mati karenanya.

“Apakah pada waktu itu Agung Sedayu dengan sengaja membiarkan dirinya dipukuli,” bertanya Prastawa didalam hatinya, “atau justru karena kesombongannya yang tiada taranya.”

Namun bagaimanapun juga, Prastawa merasa bahwa dirinya ternyata terlalu kecil dihadapan Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu tidak pernah menunjukannya langsung kepadanya, tetapi ia telah sempat menyaksikan betapa dahsyatnya cambuk anak Jati Anom itu.

“Kecuali murid orang bercambuk, ia adalah adik Untara, Senapati muda yang besar didaerah Selatan,” gumam Prastawa diluar sadarnya, sehingga kawannya yang berjalan di sampingnya bertanya.

“Tidak apa-apa,” desis Prastawa. Namun ia tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

Agaknya kawannya dapat mengerti, bahwa yang baru saja mereka lihat itulah yang telah menggelisahkan Prastawa. Bukan saja Prastawa, tetapi anak-anak muda yang pernah menyakiti Agung Sedayu, baik tubuhnya maupun hatinya akan merasa sangat gelisah jika mereka mendengar apa yang telah terjadi itu.

Dengan hati yang kecut, Prastawa memasuki halaman rumah pamannya. Di regol masih ada dua orang pengawal yang duduk terkantuk-kantuk. Sementara seorang yang lain berjalan hilir mudik di halaman.

Prastawa sama sekali tidak menyapa mereka meskipun ia mengangguk kecil. Dengan lesu Prastawa langsung naik ke pendapa dan duduk di sudut pringgitan bersama kawannya yang mengikutinya. Namun agaknya Prastawa tidak berminat untuk berbicara terlalu banyak. Tetapi ia pun sama sekali tidak merasa mengantuk meskipun malam menjadi semakin larut. Ia lebih senang duduk merenungi kekecutan hatinya karena tingkah lakunya terhadap Agung Sedayu.

Dalam pada itu. Agung Sedayu masih duduk di sebelah pategalan. Rasa-rasanya ada yang menahannya untuk pergi. Seolah-olah ada yang memberitahukan kepadanya, bahwa bayangan yang diikutinya itu masih berada di dalam pategalan.

Tetapi akhirnya Agung Sedayu pun menjadi jemu. Bahkan ia merasa telah membuang waktu tanpa arti.

“Orang itu tentu sudah pergi,” desisnya.

Namun ketika Agung Sedayu bangkit dan menggeliat, tiba-tiba saja ia mendengar sesuatu didalam pategalan itu. Gemerisik lembut, kemudian suara seruling yang mengalun perlahan-lahan sekali. Seolah-olah suara itu sengaja ditujukan hanya kepadanya.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Didengarkannya dengan teliti suara di pategalan itu. Suara seruling itu pun mengalun dengan lembut dan lambat, seakan-akan takut menggetarkan udara malam yang hening.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia mulai mengenali suara itu. Suara seruling yang melontarkan nada-nada lembut penuh kedamaian.

Tiba-tiba saja Agung Sedayu seolah-olah telah terlempar kedalam satu dunia yang asing. Ketegangan yang membawanya ketempat itu, segala macam ilmu yang tersimpan didalam dirinya, rasa-rasanya tidak berarti sama sekali bagi kelembutan kidung kedamaian yang terlontar pada suara seruling itu.

“Rudita,” Agung Sedayu berdesis.

Hampir diluar sadarnya. Agung Sedayu melangkah mendekati suara seruling itu. Sambil membungkuk-bungkuk di antara pepohonan, ia masuk pategalan yang gelap. Gelap sekali. Rasa-rasanya ilmunya tidak mampu lagi menolongnya untuk mempertajam penglihatannya.

adbm-146-02Suara seruling itu telah menuntun Agung Sedayu mendekatinya. Semakin lama semakin dekat. Sehingga akhirnya Agung Sedayu berdiri tegak memandang kearah sebuah bayangan yang duduk disebongkah batu padas di antara pohon buah-buahan yang rimbun di pategalan itu.

Agung Sedayu yang bagaikan tercengkam oleh pesona yang tidak terlawan itu terkejut ketika tiba-tiba saja suara seruling itu berhenti.

“Kau Agung Sedayu,” terdengar suara perlahan.

Agung Sedayu yang terbangun dari cengkaman suara seruling itu pun menarik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia maju mendekat sambil berkata, “Aku sudah mengira, sejak aku mendengar suara serulingmu itu. Bahwa kaulah yang berada disini.”

“Marilah, duduklah,” berkata Rudita, “sudah lama kita tidak bertemu.”

“Ya. Sudah lama kita tidak bertemu,” jawab Agung Sedayu.

“Ternyata dalam waktu sepanjang itu, kau sudah berhasil menjangkau ilmu yang sangat dahsyat. Aku yakin, bahwa yang kau pertunjukkan terhadap keempat orang itu baru sebagian kecil saja dari keseluruh ilmumu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Anak yang duduk dihadapannya itu bagi Agung Sedayu adalah anak muda yang tidak dapat dimengertinya.

“Duduklah,” sekali lagi Rudita mempersilahkan.

Agung Sedayu pun kemudian duduk pula di samping Rudita. Namun rasa-rasanya jantungnya telah dibebani oleh kegelisahan yang sangat. Jantungnya itu tidak akan berdentang begitu cepatnya seandainya malam itu ia bertemu dengan Ajar Tal Pitu seorang dengan seorang.

“Kau tentu lelah,” desis Rudita kemudian.

Untuk menghilangkan kebekuan pada dirinya, Agung Sedayu menjawab, “Tidak. Aku tidak lelah.”

“O, tentu. Aku salah menilai. Tentu kau tidak lelah. Apa artinya ampat orang itu bagimu,” sahut Rudita diluar dugaan.

Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas dalam panjang. Tetapi ia tidak menjawab.

“Agung Sedayu,” desis Rudita kemudian, “sebenarnya sudah lama aku berniat untuk menemuimu demikian aku mendengar bahwa kau berada disini bersama ayah. Tetapi baru saat ini aku mendapat kesempatan itu.”

“Kenapa baru sekarang,” bertanya Agung Sedayu, “dan dengan cara yang sangat aneh. Kenapa kau tidak dapat kerumah Ki Gede untuk bertemu dengan aku dan Ki Waskita?”

Rudita tertawa. Katanya, “Kalian baru sibuk. Aku bangga melihat usahamu meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat Tanah Perdikan ini. Kau sudah berusaha membantu mendorong rakyat Tanah Perdikan ini memperbaiki bendungan, parit-parit, jalan-jalan padukuhan dan banyak lagi yang sudah kau kerjakan. Tetapi disamping kebanggaan itu akupun menjadi ngeri, karena kau tentu akan membangun kemampuan anak-anak muda ini untuk saling berbenturan antara sesama. Kau akan membangun perasaan curiga dan saling membenci. Bukankah kau akan memberi tuntunan olah kanuragan yang selama ini menjadi kebanggaan kebanyakan anak-anak muda.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia mengerti, perasaan apa yang tersisip didalam hati anak muda itu. Rudita menganggap olah kanuragan adalah salah satu sebab meningkatkan kecurigaan dan kebencian antara sesama.

Justru karena itu Agung Sedayu harus berhati-hati untuk menjawabnya. Ia berusaha untuk dapat memberikan penjelasan yang dapat ditelusur menurut jalan pikiran Rudita.

“Rudita,” berkata Agung Sedayu kemudian, “apakah kau dapat membayangkan, seseorang yang membuat rumahnya ditempat yang ramai, yang aman dan tidak pernah mendapat gangguan dari apapun juga, cukup dengan dinding bambu selembar. Tetapi……”

Sebelum Agung Sedayu melanjutkan kata-katanya, terdengar Rudita tertawa pendek sambil menyahut, “Tetapi jika kita membuatnya di pinggir hutan, didekat binatang buas berkeliaran mencari mangsa, maka kita harus membuat dinding rumah kita rangkap atau bahkan dari bahan yang lebih kuat dan tahan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ya. Demikianlah yang akan aku katakan.”

“Aku sudah mendengar penjelasan seperti ini beberapa kali, meskipun dengan kata-kata yang lain. Untuk melawan kejahatan yang mempergunakan kekuatan dan ilmu kanuragan, maka harus dipersiapkan pula kekuatan dan ilmu kanuragan,” sahut Rudita.

“Ya,” desis Agung Sedayu.

“Jalan kita akan menjadi semakin jauh,” berkata Rudita kemudian, “tetapi mudah-mudahan pada suatu saat, kita mengerti bahwa ada jalan yang lebih dekat untuk menemukan kedamaian.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Jika kita dapat mendasari hidup kita dengan cinta kasih di antara sesama, maka semuanya akan selesai. Tanpa kekerasan dan tanpa dinding rangkap,” desis Rudita. Namun kemudian dilontarkannya pandangan matanya kearah yang sangat jauh. Dengan nada yang dalam ia berkata, “tetapi jalan yang paling dekat itu kini justru telah dijauhi, sedangkan jalan yang panjang itu agaknya semakin banyak dianut orang. Kekerasan semakin tegas mewarnai kehidupan, sedangkan cinta dan kasih telah menjadi semakin kabur. Kedamaian nampaknya menjadi semakin jauh. Dan bumi kita memang menjadi semakin tua.”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia tidak dapat membantah. Sebenarnyalah bahwa nafas dari kehidupan menjadi semakin tajam di warnai oleh kekerasan. Benturan kepentingan sesama dan sentuhan-sentuhan di jalan silang.

Dalam pada itu Rudita berkata, “Agung Sedayu. Bagiku kau adalah orang sana yang paling mengerti, karena betapapun suramnya, cahaya cinta kasih ada didalam hatimu. Dengan demikian, kepada orang sana hanya kepadamulah aku dapat mengatakannya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Rudita. Akupun mengerti bahwa kau berpijak pada satu keyakinan terhadap kebenaran hubungan antara sesama.”

“Akupun mengerti, bahwa duniamu masih memerlukan kekerasan, kekuatan, ilmu kanuragan dan cara-cara yang paling baik untuk berkelahi di antara sesama,” desis Rudita, “tetapi demikianlah dunia yang kau hadapi.”

“Kau benar Rudita,” jawab Agung Sedayu, “aku sudah terlanjur terlibat dalam pusaran warna kehidupan dunia sekarang.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah. Aku selalu tertarik untuk berbicara dengan kau. Meskipun ada hal-hal yang tidak sesuai menurut keyakinanku, tetapi justru karena kau mengatakan sebagaimana adanya, maka aku akan selalu mencari waktu untuk berbicara meskipun tidak terlalu panjang.”

“Datanglah ke rumah paman Argapati,” ajak Agung Sedayu.

“Jangan sekarang. Kaupun tidak perlu mengatakan kehadiranku disini kepada ayah, karena seharusnya aku berada dirumah untuk menunggui ibuku. Tetapi rasa-rasanya senang juga berkeliaran melihat-lihat kenyataan betapapun pahitnya,” jawab Rudita, “tetapi lain kali, aku akan datang kerumah paman.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku menunggu Rudita. Meskipun kita berdiri di alas yang berbeda, tetapi setiap kali aku bertemu denganmu, aku merasa bahwa aku telah mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang tidak dapat aku sebut, tetapi dapat aku rasakan.”

Rudita tertawa. Katanya, “Sebaiknya kau kembali kerumah paman Argapati. Jangan terlalu lama, agar ayah tidak menjadi gelisah.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia bertanya, “Kau akan pergi kemana?”

“Sudah aku katakan, senang juga melihat kenyataan betapapun pahitnya,” berkata Rudita, “perkelahian yang mendebarkan, dan barangkali melihat segi lain dari kehidupan yang lebih baik, segarnya tanaman yang telah mendapat air dari parit yang sudah diperbaiki itu. Dua sisi dari kehidupan yang berbeda warnanya.”

“Baiklah,” Agung Sedayu pun kemudian bangkit, “biarlah aku kembali ke rumah Ki Gede. Aku benar-benar menunggumu dalam waktu dekat. Mungkin kita dapat berbicara tentang banyak hal. Mungkin kita akan dapat lebih banyak lagi tentang diri kita sendiri.”

“Selamat malam,” desis Rudita.

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan anak muda itu. Meskipun mereka berbeda jalan, tetapi setiap kali Agung Sedayu bertemu dengan anak itu, rasa-rasanya ia mendapatkan kekuatan baru. Kekuatan baru untuk tetap berdiri pada jalan hidup yang telah ditempuhnya selama ini. Meskipun menurut Rudita ia termasuk orang yang berdiri pada tempat yang lain, namun yang didengarnya dari anak muda itu telah mempertebal keyakinannya, bahwa ia mengemban satu kewajiban untuk menegakkan satu sikap dan pandangan hidup yang dianutnya, sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Bahwa apa yang dimilikinya itu adalah kurnia yang harus dipergunakannya untuk keluhuran nama Sumber dari segala Sumber Yang Ada.

Namun, langkah Agung Sedayu itu pun tertegun ketika ia mendengar suara seruling yang bergetar menembus sepinya malam. Tidak terlalu keras, beralun menelusuri dedaunan, menyentuh dasar jantung yang paling dalam.

Suara lembut itu seolah-olah mengalunkan damba perdamaian yang dirindukan. Hampir setiap orang merindukan perdamaian, tetapi banyak orang yang telah merusaknya pula.

Suara seruling Rudita seperti biasa yang pernah didengar oleh Agung Sedayu adalah melampaui keterikatan gending yang ada. Lepas bebas tanpa batas-batas sebagaimana lepasnya suara hatinya yang merindukan kedamaian yang sejati.

Bahkan perlahan-lahan sekali terdengar Rudita bergumam menyelingi suara serulingnya, “Untukku, hidup ini bagaikan kidung bagi Yang Maha Agung.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan didalam hatinya seolah-olah ia telah mengisi cakepan lagu yang selanjutnya dilontarkan kembali lewat seruling, “betapa pahit dan pedihnya kehidupan, namun baginya, di antara tangis yang sendu, masih selalu terdengar lagu sorgawi yang Agung. Alangkah manisnya kedamaian yang sejati.”

Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu meloncat dengan langkah yang panjang meninggalkan tempat itu. Semakin dalam ia menyerap sentuhan suara seruling Rudita, semakin terasa hatinya menjadi gersang. Apalagi karena Agung Sedayu sendiri merasa,bahwa ia tidak akan berani menentang pahit getirnya kehidupan dengan menanggungkannya dengan ikhlas.

Demikianlah, maka akhirnya suara seruling itu tidak didengarnya lagi. Suara yang mengikutinya kemudian adalah suara desir angin malam yang dingin.

Ketika Agung Sedayu menengadahkan wajahnya, dilihatnya lintang Waluku sudah turun kesisi Barat pada lingkaran langit yang hitam.

Dengan tergesa gesa Agung Sedayu pun kemudian kembali kerumah Ki Gede Menoreh. Ketika ia sampai diregol, seorang penjaga menyapanya, “Kau tidak tinggal diperalatan itu sampai pagi?”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Aku sudah tidak dapat menahan kantuk lagi.”

“Kau kembali sendiri,” bertanya penjaga yang lain.

“Ya,” jawab Agung Sedayu.

“Dimana kedua anak muda yang menjemputmu?” bertanya penjaga itu pula.

“Ia masih disana,” jawab Agung Sedayu pula dengan singkat.

Penjaga-penjaga itu mengangguk-angguk.

Ketika Agung Sedayu melintas di halaman, ternyata Prastawa sudah tidak ada di pendapa. Namun ia masih mendengar dari biliknya percakapan pendek itu. Karena itu, jantungnya terasa menjadi semakin cepat berdentang. Agung Sedayu itu telah kembali. Apakah ia akan langsung melaporkannya kepada Ki Gede, atau menunggu sampai kesempatan lain.

Namun Prastawa sudah bertekad untuk mengelakkan setiap tuduhan bahwa ia terlibat dalam peristiwa yang terjadi di bulak itu. Ia akan menuduh hal itu sebagai satu fitnah yang dilontarkan oleh Sura Bureng untuk mengadu domba antara dirinya dengan Agung Sedayu, sebagaimana dikatakan oleh kawannya. Bahkan ia akan menuduh bahwa Sura Bureng tentu sudah di pergunakan oleh orang lain untuk tujuan tersebut.

Meskipun demikian, namun Prastawa masih juga selalu berdebar-debar. Apakah ia akan dapat benar-benar menghindar. Apakah pamannya masih akan mempercayainya.

Ketika terdengar ayam jantan berkokok di dini hari, Prastawa sudah bangun. Ketika ia pergi kepakiwan, jantungnya hampir berhenti berdegup. Ia melihat Agung Sedayu sedang membersihkan diri.

Tetapi Prastawa tidak mungkin lagi untuk melangkah surut. Karena itu, maka betapapun jantungnya serasa terhimpit, ia memaksa diri untuk berjalan terus.

Dadanya bagaikan retak ketika ia melihat Agung Sedayu yang sudah selesai itu memandanginya. Ketika anak muda itu tersenyum, rasa-rasanya anak itu telah menghinakannya.

Tetapi ternyata Agung Sedayu menyapa seperti biasanya, “Masih sepagi ini kau sudah bangun Prastawa?”

Prastawa tergagap. Tetapi ia akhirnya menjawab pendek, “Ya. Bukankah kau sudah bangun pula.”

Agung Sedayu tersenyum. Dan Prastawa pun memaksa diri untuk tersenyum pula.

Ketika Agung Sedayu kemudian kembali ke biliknya, ia menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia sudah terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Namun dadanya terasa berdentang kembali ketika ia mendengar langkah mendekatinya pula. Dengan sigap ia memutar diri, seolah olah ia berada ditempat yang gawat, yang setiap saat lawan akan dapat menerkamnya dari belakang.

“O,” Prastawa menarik nafas panjang.

Ternyata Ki Waskita berdiri termangu-mangu memandanginya. Bahkan Ki Waskita itu pun kemudian berkata, “Apakah aku mengejutkanmu?”

“O, tidak. Tidak paman,” jawab Prastawa. Lalu ia pun bertanya asal saja bertanya, “apakah paman juga akan membersihkan diri?”

“Ya. Bukankah sudah waktunya?” bertanya Ki Waskita.

“Ya. Ya. Silahkan.” Prastawa mempersilahkan.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendengar apa yang telah terjadi semalam dari Agung Sedayu. Namun seperti Agung Sedayu Ki Waskita bersikap wajar seolah-olah ia tidak mengetahui apapun juga dari peristiwa semalam di bulak panjang.

Sehari itu Prastawa selalu gelisah. Apapun yang dilakukannya, seolah-olah selalu dibayangi oleh tuduhan-tuduhan yang akan dapat menjeratnya jika ia tidak berhasil mencuci tangannya dari peristiwa yang mengguncang hatinya itu.

Namun sehari itu, Agung Sedayu telah melakukan kebiasaannya. Ia pergi ke padukuhan-padukuhan di ujung Tanah Perdikan sebagaimana telah direncanakan, untuk meyakinkan rencana-rencana yang telah disusunnya bersama beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan.

“Gila,” geram Prastawa yang gelisah, “kenapa anak itu masih belum memberitahukan apa yang telah terjadi di bulak itu kepada paman Argapati.”

Namun sebenarnyalah hari itu Agung Sedayu sama sekali tidak melaporkannya. Segala tingkah lakunya sama sekali tidak berkesan apapun tentang rencana Sura Bureng untuk membunuhnya.

Justru dengan demikian Prastawa menjadi semakin gelisah. Seolah-olah Agung Sedayu sengaja menunda untuk mengumpulkan bahan-bahan secukupnya, sehingga ia tidak akan dapat mengelak lagi.

“Kenapa ia tidak membawa salah seorang dari keempat orang yang siap untuk membunuhnya itu,” Prastawa bertanya kepada diri sendiri, “atau bahkan keempat-empatnya untuk memperkuat kesaksiannya bahwa akulah yang memerintahkan kepada mereka.”

Ternyata teka-teki itu membuat Prastawa hampir tidak tahan lagi.

Tetapi ternyata pada hari-hari berikutnya Agung Sedayu tetap tidak melaporkannya kepada Ki Gede. Sehingga pada suatu saat, Prastawa menganggap bahwa agaknya Agung Sedayu benar-benar mengabaikan apa yang telah terjadi itu

“Jika ia ingin melaporkan, tentu sudah dilakukannya. Semakin lama masalahnya tidak akan dapat dipercayai lagi, sebagaimana persoalannya baru saja selesai,” berkata Prastawa kepada seorang kawannya.

“Ya. Agaknya anak itu memang tidak akan melaporkannya,” sahut kawannya.

“Anak itu benar-benar sombong dan keras kepala. Ia menganggap Sura bureng dan ketiga kawannya itu tidak berarti apa-apa, sehingga ia tidak merasa perlu untuk memberitahukannya kepada paman Argapati,” berkata Prastawa.

Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Orang-orang dianggapnya memiliki kelebihan sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan tidak hanya seorang, tetapi empat orang.”

Sementara itu. Agung Sedayu sudah mulai mewujudkan rencananya yang sudah disusunnya bersama para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Menurut pengamatan Agung Sedayu dan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh, ada beberapa bendungan yang perlu diperbaiki karena kerusakan. Parit-parit masih harus dibenahi, jalan-jalan yang rusak di ratakan dan dikeraskan dengan batu-batu padas.

Dari hari ke hari, ternyata rencana itu mulai dapat diwujudkan. Tidak tergesa-gesa. tetapi juga tidak terlalu lamban. Satu demi satu bendungan itu pun diperbaiki. Sementara orang-orang yang tidak cukup kuat untuk bekerja di bendungan, telah membenahi parit-parit. Sementara di padukuhan lain, anak-anak muda telah bekerja keras untuk memperbaiki jalan induk padukuhan mereka.

Rasa-rasanya Tanah Perdikan yang tertidur itu benar-benar telah terbangun.

Ki Gede sendiri tidak jemu-jemunya mengelilingi padukuhan-padukuhan yang sedang sibuk. Sementara Agung Sedayu dan Ki Waskita telah terlibat langsung dalam kerja bersama anak-anak muda dan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu.

Dari hari kehari, terasa penghidupan di Tanah Perdikan itu semakin hidup. Pasar-pasar menjadi semakin ramai. Pedati tidak lagi mengalami kesulitan di lorong-lorong padukuhan dan pandai besi di sudut-sudut desapun mulai bekerja keras melayani permintaan para petani yang sibuk dengan kerja masing-masing.

Bagi Prastawa tidak ada pilihan lain dari menghanyutkan diri dalam kerja yang riuh itu jika ia tidak ingin terlepas sama sekali dari tempatnya berpijak. Apalagi sikap pamannya selama itu pun tidak berubah sama sekali. Dalam setiap pembicaraan Ki Gede masih selalu mencarinya dan minta pertimbangannya.

Namun setiap kali ia duduk bersama Agung Sedayu dalam satu pertemuan dan pembicaraan, terasa jantungnya selalu berdebaran.

Dalam pada itu, ternyata rencana Agung Sedayu tidak hanya terbatas pada bendungan, parit, jalan dan gardu-gardu. Namun ia mulai menyentuh kepada kegiatan anak-anak muda dimalam hari dan di saat-saat tertentu apabila diperlukan.

“Susunan kelompok para pengawal di tertibkan lagi,” berkata Agung Sedayu pada suatu saat kepada Ki Gede Menoreh.

“Aku sependapat Agung Sedayu,” jawab Ki Gede, “sampai saat terakhir, para pengawal yang khusus sajalah yang masih tetap dalam tugasnya. Mereka adalah anak-anak muda dari padukuhan induk yang seakan-akan langsung aku tunjuk atas nama mereka masing-masing. Sementara yang lain tidak mau tahu lagi, apa yang telah terjadi.”

“Tetapi Ki Gede,” berkata Agung Sedayu.

“Bagus. Semoga usaha ini barhasil dengan baik,” jawab Ki Gede.

“Tetapi perlahan-lahan,” berkata Ki Waskita kepada Agung Sedayu, “kau tidak akan dapat memaksakannya dalam waktu dekat. Biarlah mereka berada di gardu-gardu. Kemudian dari sedikit kau ajak mereka mengingat kembali masa-masa lampau yang dapat memberikan kebanggaan kepada mereka.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa ia tidak akan dapat melakukannya dengan serta-merta. Untuk rencananya itu, ia memerlukan waktu.

“Tetapi lebih baik kita mulai secepatnya,” berkata Ki Gede, “meskipun perlahan-lahan kita sudah mulai dengan langkah kita yang pertama.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun mulai melakukan rencana khususnya itu dari para pengawal yang masih ada. Yang merasa diri mereka ditunjuk langsung oleh Ki Gede, sehingga mereka tidak dapat berbuat lain. Bahkan di antara mereka pun masih terdapat orang-orang yang memiliki ketrampilan yang cukup untuk berolah senjata.

“Apakah kalian masih ada kesempatan untuk bermain-main?” bertanya Agung Sedayu kepada para pengawal itu.

“Maksudmu?” bertanya salah seorang dari mereka yang kebetulan bertugas di rumah Ki Gede.

“Sudah lama kita tidak berlatih untuk meningkatkan ilmu kanuragan,” jawab Agung Sedayu, “rasa-rasanya aku ingin mendapat kawan untuk melakukannya.”

Ternyata bahwa di antara para pengawal yang tidak terlalu muda, ada juga yang telah mengenal kemampuan Agung Sedayu, murid orang bercambuk dari Jati Anom.

Karena itu, salah seorang dari mereka dengan serta merta menyahut, “Mari. Agaknya menjemukan untuk selalu duduk merenungi regol itu. Dimana kita akan berlatih?”

“Terserahlah,” jawab Agung Sedayu, “mungkin di halaman samping?”

Demikianlah, Agung Sedayu mulai berlatih bersama para pengawal yang bertugas, yang jumlahnya sangat terbatas. Di halaman samping Agung Sedayu bersama empat orang pengawal telah melakukan latihan untuk mengisi kekosongan waktu bagi para pengawal. Sementara dua orang yang lain masih tetap berada diregol

Tidak banyak yang dilakukan oleh Agung Sedayu. Ia sekedar melihat dan menilai tingkat kemampuan para pengawal. Dengan demikian ia akan dapat mencari alas, dari mana ia harus mulai.

Malam itu, Agung Sedayu hanya memancing minat para pengawal. Ia memberikan beberapa petunjuk khusus tentang beberapa unsur yang ternyata belum diketahui oleh para pengawal. Sambil mempertunjukkan kemampuan unsur gerak itu, maka Agung Sedayu telah berhasil menarik perhatian mereka.

“Ulangi,” desis salah seorang dari keempat orang itu.

“Tusuk aku dari arah samping,” berkata Agung Sedayu untuk memperagakan unsur gerak itu. Lalu, “kemudian kau dapat menyerang dengan ayunan mendatar.”

Pengawal itu ragu-ragu. Jika pedangnya menyentuh Agung Sedayu, maka ia akan melukainya.

Karena itu, Agung Sedayu pun kemudian mencari sepotong bambu. Katanya, “Pakailah bambu ini, agar kau tidak ragu-ragu.”

Pengawal itu pun kemudian mempergunakan sepotong bambu. Ia mempergunakannya sebagaimana ia mempergunakan pedang. Dengan tangkasnya ia menusuk lambung Agung Sedayu. Dengan jelas. Agung Sedayu memperegakan bagaimana ia menghindar. Karena tusukan itu tidak mengenainya, maka pengawal itu telah mengayunkan bambunya mendatar tepat setinggi dada. Sekali lagi Agung Sedayu memperlihatkan, bagaimana ia menghindarinya dengan tidak menghamburkan tenaga.

Yang diperagakan Agung Sedayu itu hanya sekedar untuk memikat hati para pengawal. Karena itu. maka Agung Sedayu pun berkata, “Kita akan mulai dengan latihan-latihan yang mapan jika kalian berminat. Aku akan berlatih bersama kalian.”

“Ya. Aku ikut,” sahut para pengawal itu dengan serta merta.

“Tetapi sebaiknya tidak hanya berempat. Cari sepuluh orang kawan. Termasuk para pemimpin pengawal jika mereka bersedia,” sahut Agung Sedayu.

“Aku akan mengatakannya,” jawab pengawal itu.

“Kita akan menyusun rencana waktu bersama-sama,” berkata Agung Sedayu.

“Besok aku akan datang setelah aku bertemu dengan pemimpin pengawal,” berkata para pengawal itu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Jika ia berhasil, maka ia akan mendapat kesempatan untuk memperluas latihan-latihan itu di padukuhan-padukuhan. Dengan demikian maka gairah anak-anak muda itu akan menjadi semakin meningkat. Pengawalan di Tanah Perdikan Menoreh akan berkembang kembali. Tidak hanya para pengawal khusus yang ditunjuk, tetapi anak-anak muda akan melakukannya dengan senang hati seperti pada masa-masa lampau di Tanah Perdikan itu.

Dihari berikutnya, ternyata ampat orang pengawal itu benar-benar datang menemui Agung Sedayu. Mereka mengatakan, bahwa mereka telah melaporkannya kepada pemimpin pengawal yang juga sudah mengenal Agung Sedayu.

“Apa katanya,” bertanya Agung Sedayu.

“Ia juga berminat sekali. Ia akan datang nanti malam,” jawab para pengawal itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya ia akan berhasil. Ia akan dapat membangunkan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh untuk mengawal Tanah itu.

Namun dalam pada itu, diluar perhitungan Agung Sedayu, Ajar Tal Pitu yang mesu diri, telah menyelesaikan laku terakhirnya. Ia sudah menyelesaikan segala-galanya. Pati Geni yang tiga hari tiga malam itu pun telah dilakukannya.

Dengan demikian, maka Ajar Tal Pitu itu merasa, bahwa ia adalah seorang yang memiliki ilmu yang sempurna. Ia merasa seolah-olah tidak ada orang lain yang dapat menyamainya dalam olah kanuragan.

“Yang bernama Senapati Ing Ngalaga pun akan bersimpuh dihadapanku jika harus melakukan perang tanding,” berkata Ajar Tal Pitu itu kepada para muridnya.

Beberapa orang yang masih berguru kepadanya menjadi semakin mantap. Dengan cara yang khusus, ia setiap kali memperlihatkan kepada muridnya, betapa ia merupakan orang yang tidak terkalahkan.

Dengan bekal ilmunya yang menjadi semakin mapan, dan dendam yang selalu membara di jantungnya, ia berusaha untuk menemui Agung Sedayu. Ia ingin memperlihatkan kepada anak muda itu, bahwa ia memiliki kemampuan yang akan dapat mengimbangi kemampuan Agung Sedayu dan bahkan Ajar Tal Pitu itu akan sanggup membunuhnya.

Namun betapa kecewa membakar jantungnya ketika ia mengetahui bahwa Agung Sedayu sudah tidak berada di padepokannya. Yang ada dipadepokan itu tinggallah orang-orang yang tidak berarti baginya.

“Gila,” geram Ajar Tal Pitu, “aku harus menemukannya, dimanapun ia bersembunyi.”

Dengan segala cara, membujuk, berpura-pura dan cara-cara yang lain terhadap cantrik-cantrik yang ditemuinya di sawah, akhirnya Ajar Tal Pitu mengetahui, bahwa Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan Menoreh.

“Bagus,” berkata Ajar Tal Pitu itu didalam hatinya, “aku akan mencarinya ke Tanah Perdikan itu. Aku akan mendapat kesempatan untuk bertemu seorang dengan seorang.”

Karena itulah, maka dengan bekal ilmu dan dendam, Ajar Tal Pitu telah menuju ke Tanah Perdikan Menoreh untuk mencari Agung Sedayu.

Sementara itu, padepokan di Jati Anom itu menjadi semakin sepi. Kiai Gringsing selalu hilir mudik ke Sangkal Putung. Dengan tekun ia mengamati perkembangan ilmu muridnya yang muda itu. Namun Kiai Gringsing ternyata juga sempat mengamati perkembangan ilmu Sekar Mirah dan Pandan Wangi, yang kedua-duanya tidak lagi ditunggui oleh guru masing-masing.

Dalam pada itu, semakin dalam Kiai Gringsing mengamati ilmu Swandaru, isteri dan adiknya, maka ia pun melihat semakin jelas seperti yang dilihat sebelumnya, bahwa Pandan Wangi mempunyai cara tersendiri untuk memperdalam ilmunya. Ia bukan saja melakukan latihan-latihan yang berat, tetapi Pandan Wangi telah melihat kedalaman ilmunya. Ia sering merenungi setiap unsur gerak untuk mencari arti dan wataknya. Bahkan ia pun telah menekuni betapa tenaga cadangan didalam dirinya mulai bangkit dan bekerja, sehingga tenaga wajarnya seolah-olah menjadi berlipat.

“Diluar sadar dan mungkin juga secara kebetulan. Pandan Wangi menelusuri ilmunya sebagaimana pernah ditempuh oleh beberapa orang yang kemudian ternyata mempunyai kemampuan melontarkan kekuatan-kekuatan khusus diluar sentuhan wadag,” berkata Kiai Gringsing.

Sebenarnyalah mulai nampak kemampuan yang asing pada Pandan Wangi, yang semula tidak dikenalnya sendiri. Dalam ketekunannya berlatih, Pandan Wangi berusaha mengenal lontaran kekuatan cadangan yang ada didalam dirinya tanpa menyentuh sasaran dengan wadagnya. Dalam pemusatan ilmunya, dalam latihan yang tekun, ayunan tangan Pandan Wangi yang melontarkan kekuatan sepenuhnya, tiba-tiba telah menggetarkan beberapa benda di sekitarnya. Gejala yang semula tidak dikenal dan justru mengejutkan Pandan Wangi itu, lambat laun justru dipelajarinya. Perlahan-lahan Pandan Wangi dapat mengenalinya semakin baik, bahwa ia memiliki kemampuan melontarkan tenaga untuk mengenai sasaran tanpa menyentuhnya. Seolah-olah ia mampu memukul sesuatu pada jarak yang tertentu.

Pengenalannya atas perkembangan ilmunya itu semula masih dirahasiakannya. Jika ia berlatih bersama Swandaru dan Sekar Mirah, maka ia tidak pernah menunjukkan kemampuan yang terjadi dalam perkembangan ilmunya itu. Namun dengan demikian, maka latihan-latihan yang dilakukan bersama Swandaru dan Sekar Mirah, nampak seolah-olah Pandan Wangi semakin lama semakin lambat dan mulai ketinggalan. Namun sejalan dengan itu, Pandan Wangi lebih sering berada di sanggar seorang diri. apalagi Pandan Wangi memang mempunyai waktu yang lebih banyak dari Swandaru. Kadang-kadang jika Swandaru meninggalkan Kademangan, nganglang di padukuhan-padukuhan, Pandan Wangi mempergunakan waktu untuk tenggelam didalam sanggar seorang diri.

Sekar Mirah menyangka, bahwa yang dilakukan oleh Pandan Wangi itu adalah usaha untuk memacu kemampuannya, mengejar ketinggalan-ketinggalan yang semakin nampak dalam latihan-latihan bersama.

“Jika pengenalanku atas perkembangan ilmu ini telah mapan, aku tentu akan segera dapat mengejar ketinggalan itu,” berkata Pandan Wangi kepada dirinya sendiri.

Baru ketika Kiai Gringsing sering berada di Sangkal Putung, maka Pandan Wangi pun mulai mencari sandaran yang lebih mapan lagi kepada orang tua itu. Kepada guru Swandaru.

adbm-146-03“Luar biasa,” desis Kiai Gringsing ketika ia sempat menyaksikan betapa Pandan Wangi dapat memecahkan sebuah jambangan pada jarak beberapa langkah dengan pukulan tangannya dari tempatnya berdiri.

Pandan Wangi berdiri termangu-mangu. Sementara Kiai Gringsing berkata seterusnya, “Kau dapat meningkatkan kemampuan ini Pandan Wangi. Apakah suamimu sudah mengetahuinya?”

Pandan Wangi menggeleng. Kemudian ia pun berkata dengan nada dalam, “Aku telah melakukan satu kesalahan yang besar Kiai.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Dalam hal ini aku telah menyimpan satu rahasia yang tidak diketahui oleh suamiku,” jawab Pandan Wangi, “padahal aku tahu, bahwa aku tidak boleh berbuat demikian. Tetapi bagaimana mungkin aku harus mengatakannya. Kakang Swandaru akan bertanya-tanya didalam hatinya seandainya tidak dikatakannya, darimana aku mampu memiliki ilmu seperti ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan mengatakannya. Kau telah menemukannya sebagaimana yang telah terjadi. Ia akan percaya kepadaku. Gejala yang telah kau kenal beberapa lamanya, telah kau kembangkan sehingga akhirnya kau mampu melakukan seperti yang kau lakukan. Sekarang kau dapat memecahkan belanga tanah liat itu. Tetapi jika kau tekun. pada suatu saat kau akan dapat memecahkan batu padas pada jarak tertentu tanpa menyentuhnya, sebagaimana dapat dilakukan meskipun pada ukuran yang berbeda oleh Raden Sutawijaya. Dan barangkali beberapa orang lain dengan ujud yang berbeda pula.”

“Segalanya aku serahkan kepada Kiai,” desis Pandan Wangi.

Sebenarnyalah, Kiai Gnnysing telah berusaha menemukan kesempatan yang paling baik, untuk menunjukkan kepada Swandaru suatu kemajuan ilmu yang dicapai oleh Pandan Wangi

“Sebenarnya Swandaru dapat juga melakukannya,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya. “Namun agaknya Swandaru tidak telaten melakukan pengamatan yang mendalam. Ia lebih percaya kepada kemampuan dan kekuatan jasmaniahnya.”

Tetapi, sejalan dengan cara yang ditempuh oleh Swandaru. maka kekuatan Swandaru pun bagaikan berlipat dari kemampuan orang kebanyakan. Ketahanan tubuhnya pun sangat mengagumkan. Jika ia melecutkan cambuknya dengan sepenuh tenaganya, maka sentuhan ujung cambuk itu akan berarti maut bagi lawan-lawannya. Apalagi juntai cambuk Swandaru telah di tambah dengan beberapa karah baja disamping yang telah ada.

Sementara itu. Sekar Mirah pun telah menempuh cara seperti yang dilakukan oleh Swandaru. Tetapi sesuai dengan keadaan jasmaniahnya sebagai seorang perempuan, maka peningkatan kemampuan Sekar Mirah lebih condong kepada kecepatan geraknya. Gadis itu memiliki kecepatan gerak yang sangat mengagumkan. Jika ia bermain dengan tongkat baja putihnya, maka yang nampak bagaikan gumpalan awan yang bergulung-gulung mengerikan. Tetapi setiap sentuhan gumpalan awan itu, akan berakibat maut.

Dalam pada itu, di Jati Anom, Glagah Putih telah mempunyai cara tersendiri pula. Bersama ayahnya, ia menekuni lukisan tanda-tanda dan lambang-lambang gerak yang terdapat pada dinding goa. Yang dilakukan oleh Glagah Putih hampir seperti yang dilakukan oleh Agung Sedayu. Namun Glagah Putih yang masih terlalu muda itu masih didampingi oleh ayahnya.

Dengan demikian maka ilmu Glagah Putih pun telah berkembang dengan pesat. Kemampuannya yang keras dan dorongan ayahnya yang kuat, membuat anak muda itu semakin tekun menempa diri. Sehari-hari kerjanya adalah melatih diri di dalam goa yang terasing itu.

Dalam pada itu, Widura yang mendampingi anaknya dan memberikan dorongan kepadanya, di luar kehendaknya sendiri, karena ia selalu berada didalam lingkungan pendalaman ilmu yang sejajar dengan ilmunya sendiri, maka dengan sendirinya, ia pun telah meningkatkan ilmunya pula. Hal-hal yang tidak pernah diketahui di masa mudanya, seolah-olah telah terungkap pada pahatan lambang-lambang ilmunya di dinding goa itu.

Sementara itu, Sabungsari pun merasa sepi sepeninggal Agung Sedayu. Menurut pengertiannya, sepeninggal Agung Sedayu, Glagah Putih yang jarang ditemuinya di padepokan, lebih sering berada di Banyu Asri. Sementara Kiai Gringsing sering pula berada di Sangkal Putung.

Namun justru karena itu, maka ia sering berada di padepokan itu hanya bersama para cantrik, yang menurut pengamatannya merasa sepi pula seperti dirinya. Para cantrik yang karena kepergian Agung Sedayu itu mendapat kesempatan yang lebih kecil untuk berlatih dan menempa diri, karena hanya Kiai Gringsing sajalah yang kemudian menuntun mereka dalam olah kanuragan, justru Kiai Gringsing sering berada di Sangkal Putung.

Tetapi dalam pada itu, Sabungsari lah yang lebih sering mempergunakan sanggar di padepokan kecil itu. Dalam kesepiannya, maka ia lebih banyak memandang kepada diri sendiri.

“Aku tidak boleh berhenti,” berkata Sabungsari didalam dirinya, “aku masih cukup muda untuk berkembang terus.”

Dalam pada itu, Sabungsari pun sempat memikirkan keadaan Agung Sedayu. Ia menganggap bahwa tugas Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh itu telah menutup kemungkinan bagi Agung Sedayu untuk mengembangkan dirinya lebih jauh, karena ia akan tenggelam dalam kerja yang berat.

“Mudah-mudahan ia mendapat kesempatan,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “ia pun masih muda. Kemungkinan untuk berkembang masih cukup banyak.”

Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu sama sekali tidak berhenti seperti yang dicemaskan oleh Sabungsari. Dalam kesibukannya, ternyata ia masih sempat mematangkan ilmunya dengan caranya yang khusus bersama Ki Waskita didalam biliknya. Namun sekali-sekali Agung Sedayu pun telah pergi ketempat yang sunyi dan jauh dari kemungkinan pengamatan orang lain untuk melihat kedalam dirinya sendiri dan untuk meningkatkan ilmunya.

Pada kesempatan lain. Agung Sedayu ternyata telah berhasil memikat hati sepuluh orang yang dimaksud. Setiap malam mereka telah berada di samping rumah Ki Gede, di tempat terbuka. Agung Sedayu telah bekerja dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ilmu mereka. Sepuluh orang pengawal itu telah diberinya beberapa petunjuk dan pengetahuan yang menyempurnakan ilmu mereka.

Bahkan Agung Sedayu pun telah dengan langsung berlatih dengan mereka untuk memperagakan petunjuk-petunjuknya. Bahkan kadang-kadang ia telah melakukan satu latihan yang berbahaya dengan memberi kesempatan kepada para pengawal untuk menyerangnya dengan senjata. Sehingga dengan demikian ia dapat memperlihatkan kepada mereka, bagaimana seseorang dapat menghindari serangan dengan mempergunakan tenaga yang sedikit saja.

Sebaliknya Agung Sedayu pun telah melatih mereka, bagaimana caranya menyerang. Unsur-unsur gerak yang telah dikuasai oleh para pengawal itu telah dikembangkannya, sehingga dengan demikian, maka para pengawal itu memiliki kemampuan yang meningkat.

Namun sejalan dengan latihan-latihan yang tekun. Agung Sedayu pun tidak lupa untuk membenahi segi kejiwaan mereka. Dengan hati-hati Agung Sedayu selalu meniupkan ketelinga mereka, bahwa yang mereka pelajari itu akan mereka pergunakan untuk kebaikan semata-mata.

Seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, ternyata yang sepuluh orang itu telah bercerita kepada lingkungan yang lebih luas, sehingga dengan demikian, maka yang telah dilakukan oleh kesepuluh orang itu telah menarik hati anak-anak muda yang lain, terutama para pengawal.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian telah mengatur waktu sebaik-baiknya. Tetapi ia tidak dapat dengan begitu saja menyatakan kesediaannya untuk memberikan latihan-latihan kepada setiap anak muda yang menginginkan, karena tenaga dan waktu yang terbatas. Tetapi pertama-tama ia menyatakan kesediaannya untuk memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang telah ada.

Dengan demikian, maka gairah anak-anak muda di Tanah Perdikan rasa-rasanya semakin hidup. Disiang hari mereka bekerja keras untuk membangun padukuhan-padukuhan masing-masing. Di malam hari, mereka berada di gardu-gardu, sementara para pengawal telah mengadakan latihan-latihan khusus dibawah tuntunan Agung Sedayu.

Dengan besarnya minat para pengawal, maka Agung Sedayu terpaksa mengadakan pembagian waktu sebaik-baiknya. Setiap kelompok tertentu telah mendapat waktu sepekan dua kali. Ada sekelompok pengawal yang mendapat waktu di dini hari, tetapi ada kelompok lain yang mendapat waktu setelah senja.

“Aku tidak akan dapat memberikan latihan-latihan kepada semua anak-anak muda,” berkata Agung Sedayu, “waktuku terbatas sekali sebagaimana yang mungkin aku pergunakan. Karena itu, aku akan mempergunakan cara yang akan dapat, menjangkau segala pihak. Sepuluh orang yang berlatih pertama kali itu, nanti akan membantu aku mengembangkan pengetahuannya kepada kawan-kawannya di padukuhan-padukuhan yang tersebar. Kemudian sepuluh orang lagi akan aku minta untuk melakukan hal yang sama, sehingga dengan demikian kemampuan para pengawal itu akan tersebar, tanpa menunggu aku lagi.”

Dengan cara itu, maka yang diberikan oleh Agung Sedayu kepada para pengawal itu pun berkembang lebih cepat. Meskipun ada juga satu dua orang yang kecewa karena tidak langsung mereka terima dari Agung Sedayu.

Namun demikian, pada waktu-waktu tertentu Agung Sedayu pun menyediakan waktu untuk melihat-lihat para pengawal yang sedang berlatih dibawah tuntunan kawan-kawan mereka sendiri yang telah mendapat petunjuk langsung dari Agung Sedayu. Dengan demikian maka kekecewaan itu pun telah berkurang.

Perubahan-perubahan mulai nampak di Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun tidak secepat keinginan Agung Sedayu sendiri, namun selangkah demi selangkah Tanah itu mulai memperbaiki kemunduran yang terjadi sebelumnya.

Hampir di segala lapangan, Tanah Perdikan Menoreh mulai membenahi diri. Wajah padukuhan-padukuhan pun sedikit demi sedikit mulai bertambah cantik. Jalan-jalan mulai rata sehingga pedati-pedati yang lewat di dini hari tidak mengalami kesulitan lagi pada lubang-lubang di jalan yang menggenang jika hujan turun. Bendungan-bendungan pun telah diperbaiki, sehingga air yang naikpun menjadi semakin banyak, sementara parit yang membelah tanah-tanah persawahan telah mengantarkan air sampai ke ujung-ujungnya, sehingga sawah yang menjadi kering telah dibasahi kembali.

Dimalam hari, gardu-gardu mulai terisi. Gardu-gardu yang rusak dan kehilangan kentongannya, telah menjadi baik dan kentongan pangkal batang kelapa itu pun telah tergantung di sudut.

Harapan demi harapan mulai membayang. Ki Gede Menoreh sendiri menjadi semakin bergairah untuk mengelilingi Tanah Perdikannya. Perlahan-lahan ia telah berhasil mengusir kesepian di hatinya sepeninggal anak perempuannya. Apalagi jika ia melihat Prastawa pun nampaknya telah hanyut pula dalam kerja.

Kadang-kadang bersama Ki Waskita disore hari, Ki Gede Menoreh berkuda menempuh jalan-jalan di sepanjang Tanah Perdikannya. Perubahan wajah Tanah Perdikan itu membuatnya seakan-akan menjadi muda kembali. Wajahnya yang cekung mulai nampak gembira. Sorot langit yang kemerah-merahan di sore hari, tidak lagi menjadi lambang kemuraman yang bakal turun di atas Tanah Perdikan. Obor-obor akan menyala di sudut-sudut padukuhan dan di gardu-gardu. Bahkan di regol-regol beberapa halaman pun akan terpasang obor-obor kecil yang menerangi jalan-jalan.

Bahkan di halaman banjar padukuhan, anak-anak muda justru mulai turun dalam latihan-latihan apabila langit menjadi gelap. Dengan penuh minat mereka mulai mengenang kembali kewajiban mereka untuk mengawal Tanah Perdikan itu, setelah untuk beberapa lama mereka terlena dalam tidur yang nyenyak sejak gelap mulai turun.

Para pemimpin Tanah Perdikan itu pun menjadi semakin berpengharapan atas masa depan. Tanah Perdikan itu tidak lagi membayangkan kesuraman yang mencemaskan.

Dalam kesempatan tertentu. Agung Sedayu berusaha untuk memilih orang-orang terbaik dari Tanah Perdikan itu untuk mendapat tempaan khusus. Mereka akan menjadi penggerak utama dalam tugas pengawalan Tanah Perdikan itu. Namun hal itu baru akan dapat dilakukannya, setelah ia berada lebih lama lagi di atas Tanah itu, sehingga ia benar-benar mendapatkan anak-anak muda yang bukan saja memiliki kemampuan jasmaniah, tetapi juga anak-anak muda yang memiliki ketrampilan berpikir. Lebih dari itu, mereka harus anak-anak muda yang tahu akan dirinya dalam hubungan antar sesama dan hubungan dengan Penciptanya, sehingga kemampuan yang akan mereka miliki, tidak akan menambah buramnya Tanah Perdikan Menoreh.

Justru karena itu, maka Agung Sedayu tidak bertindak tergesa-gesa. Ia selalu menyampaikan segala persoalan yang timbul kepada Ki Waskita untuk mendapat petunjuk pemecahan.

Namun Agung Sedayu pun sadar, bahwa waktunya di Tanah Perdikan Menoreh pun tentu akan sangat terbatas.

Pada saatnya ia akan kembali ke padepokan kecilnya, jika ia sudah sampai pada saatnya menginjak hidup berkeluarga.

Tetapi kadang-kadang masih timbul pula pertanyaan didalam dirinya, “apakah aku masih mendapat kesempatan seperti ini sesudah hari perkawinanku dan membawa Sekar Mirah ke Tanah Perdikan ini?”

Karena persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya itulah, maka Agung Sedayu harus mengambil jalan tengah. Ia tidak boleh tergesa-gesa memilih anak-anak muda seperti yang dimaksud, tetapi ia pun tidak boleh terlalu lamban, sehingga ia akan kehilangan kesempatan.

Namun dalam pada itu, selagi Agung Sedayu sibuk dengan usahanya untuk meningkatkan Tanah Perdikan Menoreh, telah terjadi sesuatu yang mengejutkan seluruh Tanah Perdikan itu.

Sejak anak-anak muda di Tanah Perdikan itu bangkit, maka keadaannya pun menjadi semakin baik. Tidak lagi terjadi kerusuhan-kerusuhan di malam hari, apalagi disiang hari.

Namun tiba-tiba saja, ketika seorang petani pergi kesawah di dini hari, ia telah dikejutkan oleh sesosok tubuh yang terbaring di jalan kecil yang membujur di sebelah sawahnya.

Dengan tergesa-gesa ia berlari-lari memanggil beberapa orang anak muda yang masih berada digardu di sudut desa. Dengan demikian maka anak-anak muda itu pun segera menghambur ketempat yang dikatakan oleh petani itu.

Sebenarnyalah mereka menemukan seorang anak muda yang pingsan. Pada tubuhnya terdapat bekas-bekas penganiayaan. Pada wajahnya terdapat noda-noda biru. Demikian juga pada beberapa bagian tubuhnya. Sementara itu, di pinggangnya terselip sebatang seruling bambu.

Hal itu cepat didengar oleh Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu dan Ki Waskita. Ketika Agung Sedayu mendengar ciri-ciri orang yang terbaring itu, apalagi sebuah seruling yang terselip di pinggangnya, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum Ki Gede dan Ki Waskita bersiap. Agung Sedayu telah mendahului menuju ketempat itu.

Sebenarnyalah, darah Agung Sedayu serasa berhenti mengalir. Anak muda itu adalah Rudita.

“Gila,” ia menggeram, “siapa yang telah menganiaya anak ini. Ia bukan sasaran penganiayaan karena ia tidak mempunyai rasa permusuhan meskipun hanya seujung duri.”

Tiba-tiba saja jantung Agung Sedayu bagaikan menggelegak. Ia tidak pernah merasa betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya seperti pada saat itu.

adbm-146-04Ketika panas yang membakar dadanya tidak lagi terkendali, maka Agung Sedayu pun kemudian berdiri tegak sambil menggeram, “Aku akan mencari orang yang telah melakukan penganiayaan ini sampai ketemu.”

Orang-orang yang mengerumuni Rudita itu pun menyibak ketika Ki Gede dan Ki Waskita tiba ditempat itu. Di belakang mereka, Prastawa termangu-mangu menyaksikan apa yang telah terjadi. Ketika tiba-tiba saja tatapan mata Agung-Sedayu menyambarnya, maka Prastawa pun segera menundukkan kepalanya.

“Rudita,” Ki Waskita pun segera berlutut di samping tubuh yang terbujur itu. Demikian pula Ki Gede dan disusul kemudian oleh Agung Sedayu.

Beberapa orang anak muda pun telah mengenalnya pula, karena Rudita memang sering berada di Tanah Perdikan Menoreh. Kadang-kadang bersama ayahnya, tetapi kadang-kadang ia seorang diri, karena anak muda itu pun masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ki Gede Menoreh.

Namun dalam pada itu, ternyata tubuh yang pingsan itu sudah mulai bergerak. Perlahan-lahan Rudita membuka matanya. Sejenak ia masih dibayangi oleh kebingungan karena seolah-olah dengan tiba-tiba ia telah dihadapkan kepada orang banyak. Namun kemudian perlahan-lahan ia mulai mengingat kembali apa yang telah terjadi.

“Rudita,” desis Ki Waskita.

“Ayah,” sahut Rudita, “O, agaknya Ki Gede dan Agung Sedayu telah berada disini pula.”

“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Waskita.

Sejenak Rudita merenung. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada apa-apa ayah.”

“Tetapi kau pingsan. Ada bekas-bekas penganiayaan pada tubuhmu,” sahut Ki Gede.

Tiba-tiba saja Rudita bangkit. Meskipun ia masih sangat lemah, namun ia berusaha untuk duduk. Sambil tersenyum pula ia menjawab, “Tidak ada apa-apa ayah. Mungkin aku terlalu letih dan kantuk, sehingga aku tertidur disini.”

Ki Waskita termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Aku tahu Rudita, bahwa kau sama sekali tidak menaruh dendam kepada siapapun, meskipun orang itu telah menganiayamu. Tetapi apakah didalam keyakinanmu, kau dibenarkan untuk berbohong?”

Rudita mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas panjang ia menggeleng, “Aku memang tidak perlu berbohong ayah.”

“Nah, jika demikian, apa yang telah terjadi,” bertanya ayahnya.

“Ayah sudah mengetahui apa yang telah terjadi meskipun aku tidak menjawabnya,” jawab Rudita. Lalu, “Dan itu bukannya satu kebohongan. Aku hanya tidak mau mengatakannya.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu Ki Gede berkata, “Marilah, kita bawa anak ini pulang. Kita akan dapat berbicara lebih panjang di rumah.”

Ki Waskita tidak menolak. Maka ia pun kemudian memapah anaknya menuju ke padukuhan induk.

Beberapa orang anak muda mengikutinya. Agung Sedayu yang masih saja dibakar oleh kemarahan yang menghentak-hentak, ikut pula membawa Rudita ke rumah Ki Gede. Sementara itu, Prastawa mengikut pula beberapa puluh langkah di belakang bersama beberapa orang kawan-kawannya.

Di rumah Ki Gede, beberapa orang berusaha untuk mengetahui siapakah yang telah melakukan penganiayaan itu. Namun Rudita hanya tersenyum saja.

“Aku sudah sehat,” katanya setelah minum beberapa teguk, “aku mohon kalian melupakan saja peristiwa yang baru saja terjadi. Mudah-mudahan orang yang berhati gelap itu segera mendapat kurnia kebeningan budi dari Yang Maha Agung.”

“Tetapi ia berbahaya bagi orang lain Rudita,” desak Agung Sedayu, “mungkin kau dapat melupakannya, memaafkannya dan bahkan berdoa agar orang itu mendapat petunjuk. Tetapi dengan demikian berarti kau melupakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas orang lain. Mungkin lebih parah, dan bahkan mungkin orang itu akan merenggut nyawa seseorang.”

Rudita menggeleng. Katanya, “Tidak. Ia tidak akan berbuat apa-apa, Akupun tidak mati karenanya.”

Agung Sedayu menahan gejolak yang serasa meledak dijantungnya. Perasaan yang menghentak-hentak, kecewa, bahkan jengkel bercampur baur itu memang belum pernah dialaminya. Karena itu, maka bibirnya justru menjadi gemetar.

Tetapi tidak seorang pun dapat memaksa Rudita mengatakan sesuatu. Ia hanya tersenyum saja. Kadang-kadang tertawa. Bahkan akhirnya ia berkata kepada Ki Gede, “Paman, aku sebenarnya sangat lapar. Apakah paman bersedia memberikan semangkuk nasi kepadaku.”

“O, tentu. Tentu Rudita,” sahut Ki Gede.

Tetapi sebelum Ki Gede beringsut. Agung Sedayu telah pergi ke dapur untuk memesan kepada seorang pelayan agar menyediakan makan buat Rudita.

Namun dalam pada itu, Ki Waskita telah menyusulnya. Sambil berbisik ia bertanya, “Apakah mungkin Prastawa melakukannya seperti yang pernah dilakukan atasmu bersama-sama dengan kawan-kawannya?”

“Aku kira bukan Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu, “menurut ingatanku, Rudita mempunyai landasan ilmu kebal meskipun ia sendiri menyebutnya sebagai satu sikap munafik. Tetapi yang pernah terjadi, ia tidak mengalami cidera ketika terjadi salah paham. Terhadapnya, sehingga ia mengalami nasib yang buruk ditangan anak-anak muda. Namun ia dapat melindungi dirinya dengan ilmu kebalnya.”

“Tetapi ia masih tetap mengalami pertumbuhan sikap dan keyakinan,” sahut Ki Waskita, “jika kemudian ia dengan sadar melepaskan ilmu yang dianggapnya munafik itu? Bahkan ia membiarkan tubuhnya menjadi merah biru karena penganiayaan itu?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam. Katanya kemudian, “Aku tidak melihat alasan, kenapa Prastawa memperlakukannya demikian.”

“Jadi siapa menurut dugaanmu?” bertanya Ki Waskita,

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Baginya teka-teki itu memang rumit. Tetapi ia sudah bertekad untuk mencari orang yang telah menganiaya Rudita sampai ketemu dan bahkan ia pun telah berniat untuk membuat perhitungan apapun yang akan terjadi. Satu keputusan untuk membuat perhitungan apapun yang akan terjadi. Satu keputusan yang jarang dapat diambil dengan cepat oleh Agung Sedayu.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian seorang pelayan telah menyediakan makan dan minum seperti yang diminta oleh Rudita. Karena itu, maka Rudita pun kemudian dipersilahkan untuk makan di ruang dalam.

Agung Sedayu dan Ki Waskita menungguinya ketika Rudita makan. Sekali-sekali Ki Waskita masih juga bertanya. Tetapi setiap kali Rudita selalu mengelak.

Namun tiba-tiba diluar dugaan Agung Sedayu Ki Waskita berdesis, “Baiklah Rudita, jika kau tidak mau mengatakan apa yang telah terjadi. Jangan kau kira bahwa aku tidak mengetahuinya. Bukan hanya kau yang pernah mengalaminya. Beberapa saat yang lalu, demikian angger Agung Sedayu datang ke Tanah Perdikan ini, ia pun mengalami nasib yang sama.”

Wajah Rudita menegang sejenak, sehingga ia pun berhenti mengunyah makanan di mulutnya.

Hampir saja Agung Sedayu akan menyahut. Namun Ki Waskita sudah mendahuluinya, “Karena itu, maka akulah yang akan membuat perhitungan. Aku tahu, kau memegang satu keyakinan yang berbeda dengan aku. Karena itu, biarlah aku yang bertindak.”

“Apa yang akan ayah lakukan?” bertanya Radita dengan jantung yang berdebaran.

“Aku akan memperlakukannya sama seperti yang dilakukannya atas mu,” jawab Ki Gede, “bahkan karena kau tentu tidak melawannya, maka jika ia melawan aku akan membalas dua kali lipat.”

“Ayah,” potong Rudita, “apakah ayah mengira bahwa kekerasan akan dapat menyelesaikan semua masalah.”

“Terhadap anak yang bengal maka tidak ada lain cara yang dapat aku lakukan, kecuali dengan kekerasan,” jawab Ki Waskita.

“Tetapi siapakah yang ayah maksud anak yang bengal itu?” bertanya Rudita.

“Prastawa,” jawab Ki Waskita singkat.

“Tidak. Bukan Prastawa yang memperlakukan aku demikian,” sahut Rudita dengan serta merta. Lalu, “Nah, bukankah ayah lihat, bahwa cara yang akan ayah tempuh sudah salah sejak dalam rencana. Kenapa ayah menuduh Prastawa berbuat demikian?”

“Ia juga memperlakukan Agung Sedayu demikian,” berkata Ki Waskita, “karena itu, jangan kau lindungi lagi anak itu.”

“Bukan. Bukan anak itu. Bukankah aku tidak akan berbohong?” jawab Rudita kemudian.

“Jika bukan Prastawa siapa? Kau tidak akan berbohong? “ desak Ki Waskita.

“Sudah aku katakan bahwa berbohong dan tidak mengatakannya adalah berbeda,” jawab Rudita.

“Jika demikian aku menjadi semakin pasti, bahwa Prastawa lah yang telah melakukannya. Karena itu, aku akan membuat perhitungan apapun yang akan dikatakan Ki Gede tentang kemanakannya itu. Aku bukan orang yang pantas dihinakan seperti itu. Dikiranya aku tidak mempunyai kemampuan apapun juga seandainya aku harus melawan seluruh Tanah Perdikan ini. Adalah sia-sia bahwa selama ini aku telah membantu pertumbuhan Tanah Perdikan ini, jika kemanakan Ki Gede itu juga memperlakukan anakku seperti itu. Meskipun anakku itu sendiri tidak menghendaki,” geram Ki Waskita.

“Ayah,” suara Rudita menjadi gemetar, “sekali lagi aku katakan. Yang melakukan itu sama sekali bukan Prastawa. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi ia tidak akan dapat menyakiti kulitku. Memang memalukan sekali, bahwa kemunafikan itu masih harus terjadi. Tetapi karena aku berbicara dengan ayah dan Agung Sedayu, maka aku tidak akan mengingkari kemunafikanku itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Lalu katanya, “Rudita tetap tidak mau menyebut Prastawa. Tetapi anak muda itu memang pantas mendapat pelajaran.”

“Tidak ayah. Sungguh tidak. Yang melakukan itu sama sekali bukan anak muda lagi. Aku benar-benar tidak tahu siapakah orang itu. Tetapi apakah gunanya masalah ini dipikirkan berkepanjangan. Aku sudah tidak apa-apa. Sehari dua hari, aku akan sembuh sama sekali. Lalu apakah yang perlu kita risaukan lagi?” sahut Rudita.

Ki Waskita memandang anaknya dengan tajamnya. Namun kemudian sekali lagi ia berpaling kepada Agung Sedayu. Katanya, “Jika yang melakukan bukan orang yang dapat disebut muda lagi, maka akupun percaya bahwa orang itu bukan Prastawa.”

Agung Sedayu yang tegang itu pun menarik nafas pula. Ia tahu kemudian apakah maksud Ki Waskita. Ia sudah berhasil memancing keterangan dari anaknya, bahwa yang memperlakukan itu bukan Prastawa. Tetapi seseorang yang sudah tidak dapat disebut muda lagi. Bahkan Rudita pun dengan tidak langsung mengatakan, bahwa ia sudah melindungi dirinya dengan ilmu kebalnya. Tetapi ternyata bahwa ia menjadi pingsan karenanya. Dengan demikian maka baik Agung Sedayu maupun Ki Waskita dapat memperhitungkan, bahwa yang memperlakukan Rudita demikian adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Rudita yang berhenti makan itu pun kemudian berdesis, “Ternyata ayah berhasil memancing keteranganku. Tetapi tidak apa-apa. Aku mohon ayah dan Agung Sedayu melupakan saja apa yang telah terjadi. Tidak ada gunanya lagi untuk merenunginya. Bahkan-sebaiknya ayah dan Agung Sedayu memberitahukan kepada anak-anak muda di Tanah Perdikan ini untuk tidak melayaninya jika mereka bertemu pada suatu saat dengan laki-laki itu, agar dengan demikian tidak akan terjadi sesuatu atas mereka.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Makanlah sebaik-baiknya. Aku akan mempertimbangkan semua keteranganmu.”

Rudita tidak menjawab lagi. Ia pun melanjutkan mengisi perutnya yang memang terasa lapar itu. Seteguk air kemudian diminumnya ketika ia merasa perutnya menjadi kenyang.

Namun dalam pada itu, keterangan Rudita itu telah memberikan jalan bagi Ki Waskita dan Agung Sedayu untuk memecahkan teka-teki, siapakah yang telah melakukan penganiayaan atas Rudita tersebut. Meskipun mereka masih belum pasti, namun mereka berkesimpulan bahwa orang itu tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Orang yang mampu menembus perisai kekebalan Rudita.

Agaknya, hanya karena sikap Rudita yang diam tanpa melawan sama sekali itulah, maka orang itu tidak membunuhnya.

Dalam kesempatan yang lain, ketika Ki Waskita dan Agung Sedayu berada di serambi setelah mereka membawa Rudita untuk berbaring melepaskan keletihannya didalam bilik di gandok, keduanya tidak dapat mengingkari dugaan mereka yang ternyata sesuai.

“Agaknya Ajar Tal Pitu telah sembuh sama sekali. Tentu ia ingin membuat perhitungan dengan aku,” berkata Agung Sedayu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi juga mungkin orang lain yang di minta oleh Ki Pringgajaya. Atau justru Ki Pringgajaya sendiri.”

“Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi menurut perhitunganku, yang paling mungkin melakukannya adalah Ajar Tal Pitu. Ia mungkin sekali masih terikat perjanjian dengan Ki Pringgajaya sekaligus untuk melepaskan dendamnya,” sahut Agung Sedayu.

“Dengan demikian, kita harus mempersiapkan diri ngger. Bagaimanapun juga, tentu ada usaha Ajar Tal Pitu untuk meningkatkan diri, menyempurnakan ilmunya. Jika pada saat itu kau masih berada selapis tipis diatasnya, maka kau harus memperhitungkannya kali ini. Namun sebagaimana aku ketahui, bahwa keadaanmu setelah pertempuran itu, telah memungkinkanmu untuk menyempurnakan ilmu kebalmu. Kau telah berhasil memanfaatkan keadaanmu justru pada saat kau terluka parah. Namun disamping menyempurnakan ilmu kebalmu, kau pun harus meningkatkan kemampuan secara menyeluruh dalam batas kemungkinan yang sangat sempit.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang demikian terasa betapa jauh perbedaan yang terdapat antara dirinya dengan Rudita. Dengan sikapnya yang pasrah maka Rudita justru tidak pernah merasa gelisah menghadapi apapun juga. Namun setiap kali Agung Sedayu merasa, bahwa kelemahannya telah menyudutkannya kedalam keadaan yang berbeda dengan Rudita.

Sementara itu, maka ketika senja lewat, anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh seperti biasanya telah menyelenggarakan latihan-latihan yang berpencar. Sementara Agung Sedayu berada di halaman samping rumah Ki Gede untuk memberikan latihan kepada anak-anak muda yang khusus, yang kemudian akan menyebarkan ilmu itu kepada kawan-kawannya.

Namun dalam pada itu, terasa bahwa sikap Agung Sedayu agak berbeda dengan kebiasaannya. Ia nampak agak tergesa-gesa dan latihan-latihan itu diselesaikan dalam waktu yang lebih pendek dari biasanya.

Tidak seorang pun yang bertanya. Mereka hanya mengira bahwa Agung Sedayu sedang letih, sehingga ia perlu beristirahat.

Namun sebenarnyalah bahwa dalam keadaan yang demikian. Agung Sedayu telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya bagi dirinya sendiri. Bersama Ki Waskita ia telah pergi ketempat yang terpencil dan tidak banyak di kunjungi orang.

Dalam sepinya malam, maka Agung Sedayu melihat kedalam dirinya sendiri, seolah-olah ia ingin meneliti, apakah segalanya masih pada keadaan yang seharusnya.

Beberapa kali Agung Sedayu mengamati ilmunya. Ternyata bahwa kemampuannya justru menjadi semakin mapan setelah ia tidak henti-hentinya merenungi pada saat-saat tertentu didalam biliknya, didalam malam yang hening, selama ia berada di Tanah Perdikan Menoreh.

“Seandainya Ajar Tal Pitu itu berada di Tanah Perdikan Menoreh Ki Waskita, aku kira akulah yang paling bertanggung jawab atas kehadirannya,” berkata Agung Sedayu kepada Ki Waskita.

“Aku mengerti ngger. Dan agaknya kau pun sudah siap bertemu kapan saja,” jawab Ki Waskita. “Apalagi setelah kau merambah dalam pengenalan ilmu yang lain yang kau temui didalam kitab yang pernah kau baca itu, meskipun baru kau mulai. Tetapi karena yang memulai itu adalah seseorang yang sudah dilandasi oleh kemampuan yang tinggi, maka nampaknya yang permulaan itu pun sudah berada pada tingkat yang tinggi pula.”

“Aku sedang menjajagi kemungkinannya Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu, “namun ilmu yang mampu meningkatkan kecepatan gerak itu sangat menarik.”

“Jika kau berhasil, maka kau akan dapat bergerak secepat angin sehingga bagi lawanmu, seolah-olah kau bukan lagi bersifat wadag, tetapi seperti bayangan yang berterbangan di sekitarnya,” berkata Ki Waskita.

“Aku mohon, Ki Waskita bersedia untuk membantuku,” berkata Agung Sedayu, “aku akan melihat lebih dalam pada kemungkinan yang terdapat dalam ilmu itu.”

“Aku akan berusaha membantumu,” berkata Ki Waskita.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia memang memiliki kemampuan untuk bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga kadang-kadang lawannya menganggap seolah-olah kakinya tidak menyentuh tanah. Namun dilambari dengan ilmu yang ditemuinya pada kitab Ki Waskita, maka kemampuannya bergerak cepat itu akan menjadi semakin mantap. Seolah-olah ia telah didorong oleh kekuatan lain sehingga ia mampu bergerak lebih cepat lagi. Tubuhnya yang bersifat wadag itu bagaikan lenyap sehingga yang ada hanyalah bayangan yang berputar membingungkan.

Demikianlah, Agung Sedayu perlahan-lahan mulai mencoba mengetrapkan ilmu yang dikenalnya dalam kitab Ki Waskita. Selain yang pernah dipelajarinya, maka ilmu itu ternyata telah menarik perhatiannya dalam keadaan yang gawat itu.

Malam itu, seluruh waktunya telah di pergunakannya untuk mengenal ilmu yang akan dapat memperkaya kemampuannya.

Meskipun waktu itu terlalu sempit bagi pengamatan atas ilmu yang akan mampu mendorong gerak dan kemampuannya, namun Agung Sedayu dapat mempergunakan sebaik-baiknya. Ia sadar, bahwa ia masih harus mengulangi dan mengulangi. Namun setiap langkah merupakan kemajuan yang pesat bagi Agung Sedayu yang pada dasarnya sudah memiliki ilmu yang tinggi.

Baru menjelang pagi Agung Sedayu mengakhiri pengamatannya. Kemudian bersama Ki Waskita, Agung Sedayu memerlukan meronda padukuhan-padukuhan yang tidak terlalu jauh sambil menuju kembali ke padukuhan induk.

Di padukuhan-padukuhan yang dilaluinya. Agung Sedayu dan Ki Waskita masih menjumpai anak-anak muda yang berada di gardu-gardu. Namun ada di antara mereka yang sudah bersiap-siap untuk kembali kerumah masing-masing karena langit sudah menjadi kemerah-merahan.

Disiang hari Agung Sedayu melakukan kewajibannya sebagaimana dilakukan sehari-hari. Namun ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengingkari kemungkinan, bahwa orang yang merasa dirinya tidak terkalahkan sebagaimana Ajar Tal Pitu, akan dapat menemuinya di siang hari tanpa menghiraukan orang-orang lain yang mungkin akan memperhatikan mereka.

Namun bagaimanapun juga, Agung Sedayu masih juga berpikir tentang Rudita. Meskipun Prastawa sendiri tidak melakukannya, karena ia tidak akan mampu menembus dinding kekebalan Rudita, namun anak muda yang dengki itu akan dapat meminjam tangan orang lain.

Tetapi Agung Sedayu mencoba untuk menjawabnya sendiri, “Tetapi Prastawa tentu tidak mempunyai pamrih apapun terhadap Rudita.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu condong kepada kemungkinan, bahwa yang hadir di Tanah Perdikan Menoreh adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, yang mempunyai kepentingan dengan Agung Sedayu. Perbuatannya itu semata-mata untuk memancing agar Agung Sedayu dapat ditemuinya tidak dirumah Ki Gede Menoreh.

Pada malam berikutnya. Agung Sedayu masih melakukan latihan-latihan yang sama setelah ia dengan tergesa-gesa menyelesaikan latihan-latihan bagi para pengawal. Rasa-rasanya Agung Sedayu selalu dibayangi oleh orang-orang yang memburunya.

Sementara itu, Rudita seolah-olah telah melupakan apa yang telah terjadi. Meskipun badannya masih belum pulih sama sekali, tetapi ia sudah dapat turun kehalaman dan berjalan-jalan keluar regol halaman itu.

“Kau jangan meninggalkan halaman rumah ini,” pesan Ki Waskita, “bukan karena kecemasan bahwa kau akan mengalami sesuatu, tetapi biarlah kekuatan tubuhmu pulih kembali.”

Rudita tersenyum. Sambil mengangguk ia menjawab, “Baiklah ayah. Aku akan tinggal di rumah ini untuk beberapa lama, sehingga aku mampu keluar dengan kekuatan yang sudah pulih sama sekali. Mungkin ibu juga menunggu-nunggu, kenapa aku tidak segera pulang, karena aku hanya minta ijin untuk keluar barang satu dua hari saja.”

“Baiklah, jika keadaanmu sudah menjadi semakin baik,” jawab Ki Waskita. Lalu, “Tetapi jangan dalam waktu yang terlalu dekat.”

Sebenarnyalah ada semacam perasaan aneh dihati Agung Sedayu. Semakin banyak ia menyadap ilmu, maka rasa-rasanya ia menjadi bertambah gelisah karena ia merasa selalu diburu oleh orang-orang yang mendendamnya. Sementara Rudita yang sama sekali tidak pernah memikirkan bagaimana ia harus melawan seseorang, rasa-rasanya justru selalu tenang dan tenteram. Bahkan rasa-rasanya Rudita telah mulai menjelajahi jalan menuju ke kedamaian.

Tetapi Agung Sedayu sudah terlanjur ada di tengah-tengah arus yang kasar dari olah kanuragan. Betapapun juga ia sudah terlanjur basah. Surut atau melangkah lanjut.

Ternyata Agung Sedayu mendapat kesempatan tiga malam untuk mempelajari ilmu yang telah dibacanya dalam kitab Ki Waskita. Ia telah sempat menemukan hubungan yang luluh antara ilmu itu dengan ilmu yang telah dikuasai sebelumnya, sehingga dengan demikian, maka ilmu yang dipelajarinya itu telah terasa luluh menjadi satu dengan ilmunya yang lain.

“Kau berhasil ngger,” berkata Ki Waskita, “ilmumu tidak lagi dibatasi dalam kotak-kotaknya masing-masing. Tetapi kau telah berhasil membuatnya menjadi luluh yang satu dengan yang lain.”

“Tetapi masih dalam tingkat permulaan Ki Waskita,” sahut Agung Sedayu.

“Sudah aku katakan, permulaan bagimu adalah tataran yang harus dicapai bertahun-tahun oleh orang lain,” jawab Ki Waskita.

Dalam pada itu, seperti biasanya, menjelang dini hari mereka meninggalkan tempat terpencil itu dan berjalan melalui padukuhan-padukuhan. Tetapi Agung Sedayu di setiap pagi telah menempuh jalan yang berbeda, sehingga seolah-olah ia memang dengan sengaja mengelilingi padukuhan-padukuhan yang berbeda-beda di setiap malam.

Pada malam berikutnya Agung Sedayu sudah tidak tergesa-gesa lagi ketika ia berlatih bersama para pengawal. Namun ketika ia sudah selesai, maka ia masih juga pergi ketempat yang dipergunakan untuk berlatih setiap malam, sekedar untuk memantapkan ilmu yang baru saja dipelajarinya itu.

Tetapi justru menjelang pagi, telah terdengar isyarat yang mengejutkan seluruh penghuni Tanah Perdikan Menoreh. Pada saat Agung Sedayu berada di sebuah gardu di padukuhan kecil di perjalanan kembali ke rumah Ki Gede, langkahnya tertegun. Dari padukuhan di ujung Tanah Perdikan itu terdengar suara kentongan memecah heningnya dini hari. Rasa-rasanya udara diatas Tanah Perdikan itu telah tergetar oleh suara kentongan dalam nada titir.

Agung Sedayu dan Ki Waskita menjadi tegang. Tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata lantang, “Siapa dapat memberikan kuda kepada kami?”

Dua orang anak muda pun telah berlari-lari pulang. Sejenak kemudian mereka telah kembali dengan kuda masing-masing.

“Bersiagalah sepenuhnya. Kami berdua akan pergi ke sumber suara titir itu,” geram Agung Sedayu sambil melecut kudanya. Sejenak kemudian kuda itu pun telah berderap disusul oleh kuda yang dipergunakan oleh Ki Waskita.

Keduanya bagaikan berpacu. Ketika mereka melintas padukuhan berikutnya, mereka melihat anak-anak muda sudah bersiap-siap. Beberapa pedati yang akan pergi ke pasar, terpaksa berhenti di sudut desa karena mereka tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Dengan demikian mereka merasa lebih aman berada di dekat anak-anak muda yang bersiaga daripada berada di bulak panjang.

“Dimanakah sumber suara titir itu?” bertanya Agung Sedayu kepada anak-anak muda yang berjaga-jaga.

“Padukuhan sebelah, di seberang bulak panjang,” jawab salah seorang peronda.

Agung Sedaya dan Ki Waskita pun memacu kudanya kembali menuju kepadukuhan sebelah seperti yang ditunjukkan oleh peronda itu.

Ketika ia mendekati padukuhan yang dimaksud, suara titir sudah tidak terdengar lagi. Bahkan di padukuhan-padukuhan lain suara itu justru masih menjalar. Sementara langit yang merah pun menjadi semakin terang.

Dengan jantung yang berdebar-debar Agung Sedayu memasuki padukuhan itu. Padukuhan yang berada di ujung Tanah Perdikan Menoreh.

Di gerbang padukuhan Agung Sedayu mehhat beberapa anak muda berjaga-jaga dengan senjata telanjang. Ketika anak-anak muda itu melihat Agung Sedayu dan Ki Waskita, maka mereka pun segera menyongsongnya.

“Apa yang terjadi?” bertanya Agung Sedayu sambil menarik kekang kudanya.

“Marilah, kita pergi ke banjar,” jawab salah seorang dari anak-anak muda itu, “sesuatu telah terjadi.”

Agung Sedayu tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia pun kemudian mengikuti anak muda itu ke banjar padukuhan yang terletak tidak terlalu jauh dari mulut lorong itu.

Ketika Agung Sedayu dan Ki Waskita memasuki regol halaman, maka keduanya pun segera meloncat turun dan menambatkan kuda mereka pada patok-patok yang sudah disediakan.

“Marilah, silahkan masuk,” anak-anak muda itu mempersilahkan.

Demikian Agung Sedayu melangkah masuk keruang dalam banjar padukuhan itu, maka jantungnya berdegup semakin keras. Ia melihat beberapa anak muda terbaring diatas tikar yang dibentangkan di lantai ruang dalam banjar itu.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

Sebelum anak muda itu menjawab. Agung Sedayu telah melihat, betapa tubuh anak-anak muda itu bernoda merah biru. Dengan demikian maka Agung Sedayu pun mengetahui bahwa mereka agaknya telah dipukuli oleh seseorang.

“Siapa yang melakukannya?” bertanya Agung Sedayu.

“Marilah, silahkan duduk di pendapa banjar,” anak muda itu mempersilahkan.

“Aku harus bergerak cepat. Mungkin aku dan Ki Waskita dapat berbuat sesuatu,” jawab Agung Sedayu.

Tetapi anak muda itu mempersilahkan Agung Sedayu dan Ki Waskita untuk duduk meskipun hanya sebentar.

Demikian mereka duduk, maka anak muda itu pun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di padukuhan kecil itu.

“Sejak sore, kami sudah mencurigainya,” berkata anak muda itu, “ketika kawan-kawan kami sedang berlatih, maka orang itu melihat-lihat bagaimana kami berlatih.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Tetapi orang itu kemudian telah pergi,” anak muda itu meneruskan, “dan kamipun sudah melupakannya. Tetapi menjelang dini hari, kami lihat orang itu lewat di jalan padukuhan ini. Kawan-kawan kami yang berada di gardu di ujung yang lain dari lorong ini telah menghentikannya. Nampaknya dalam pembicaraan berikutnya telah terjadi perselisihan sehingga akibatnya sangat parah bagi kawan-kawan kami yang berada di regol di ujung yang lain dari lorong ini. Beberapa orang anak-anak muda itu ternyata tidak berdaya menghadapi orang itu. Akibatnya dapat dilihat pada anak-anak muda yang terbaring di ruang dalam. Sementara hal itu terjadi, salah seorang di antara mereka sempat membunyikan kentongan, sehingga gardu di ujung lainpun telah menyahut. Demikianlah maka beberapa orang yang memang sudah bangun segera membunyikan kentongan mereka masing-masing, sehingga suara titir itu telah menjalar.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian mendapat keterangan, siapakah orang yang telah melakukannya. Meskipun anak anak muda itu belum mengenalnya, tetapi satu dua di antara mereka dapat menyebut ciri-cirinya.

Agung Sedayu menarik nafas. Hampir diluar sadarnya ia bergumam, “Untunglah orang itu sempat melihat latihan yang kalian lakukan?”

“Ya,” Ki Waskita pun mengangguk-angguk. “Jika orang itu belum melihat kalian berlatih, maka keadaannya akan lebih gawat lagi.”

“Aku tidak mengerti, dan apakah kau mengenalnya?” bertanya anak muda itu kepada Agung Sedayu.

Agung sedayu merenung sejenak. Kemudian katanya, “Justru orang itu melihat latihan yang kalian lakukan, maka ia tahu, bahwa kalian tidak berbahaya baginya. Karena itu, maka yang membekas itu sekedar sentuhan-sentuhan kekuatan wajarnya saja. Itu pun telah membuat seluruh tubuh anak-anak muda itu menjadi merah biru.”

“Kalau orang itu tidak mengenal kemampuan kami?” bertanya anak muda itu.

“Mungkin ia mempergunakan kekuatan yang berlebihan, sehingga tulang belulang kalian akan rontok karenanya. Jika aku tidak salah, orang itu adalah orang yang memiliki ilmu tiada taranya dari padepokan Tal Pitu,” jawab Agung Sedayu.

Anak muda itu termangu-mangu. Tetapi ia belum mengetahui padepokan Tal Pitu, sehingga ia pun tidak mendapat kesan yang nggegirisi dari nama Padepokan itu.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun berkata, “Obati anak-anak itu sebagaimana dapat kalian lakukan. Aku akan berusaha untuk mencari orang itu.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk.

Namun sebelum Agung Sedayu meninggalkan banjar, maka sebuah iring-iringan yang lain telah datang. Ternyata adalah Ki Gede Menoreh sendiri, diiringi oleh beberapa pengawal dan Prastawa.

Ki Gede mengerutkan keningnya ketika ia melihat Agung Sedayu dan Ki Waskita sudah berada ditempat itu.

“Kalian sudah mendahului,” desis Ki Gede kemudian, “itulah sebaiknya kami tidak menemukan kalian di bilik kalian. Rudita mengatakan bahwa kalian telah pergi sebelum tengah malam dan belum kembali ketika terdengar tengara titir.”

“Kami berjalan-jalan di bulak-bulak panjang Ki Gede,” sahut Agung Sedayu, “ketika terdengar titir, kami berada di sebuah padukuhan sehingga kami dapat meminjam kuda.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Agung Sedayu pun segera minta diri bersama Ki Waskita untuk mencari orang yang mereka sangka Ajar Tal Pitu.

“Tetapi berhati-hatilah,” pesan Ki Gede.

Demikianlah, Agung Sedayu dan Ki Gede meninggalkan padukuhan itu. Dari seseorang Ki Gede mendapat petunjuk kemana orang yang telah menggemparkan padukuhan itu pergi.

Sejenak kemudian dua ekor kuda telah berderap menuju kearah yang sama seperti yang ditunjukkan oleh orang itu. Semakin lama semakin cepat, sehingga kedua ekor kuda itu akhirnya bagaikan sedang berpacu.

Tetapi ketika mereka sampai kesebuah simpang tiga, maka mereka pun telah berhenti. Mereka tidak dapat menebak, kemana arah orang yang mereka cari itu.

adbm-146-05“Kita kemana paman?” bertanya Agung Sedayu kepada Ki Waskita.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng ia menjawab, “Sulit untuk mencari Agung Sedayu.”

Agung Sedayu memandang Ki Waskita dengan tajamnya, seolah-olah ia inggin meyakinkan, apakah benar Ki Waskita tidak mengetahuinya. Namun akhirnya ia pun menyadari, bahwa Ki Waskita bukan orang yang dapat melihat segala-galanya. Yang dapat diketahui pun hanyalah hal-hal tertentu saja. Bahkan kadang kadang Ki Waskita pun tidak berhasil mengurai isyarat yang ditangkap dan terbatas itu.

Akhirnya Agung Sedayu pun berkata, “Tidak ada gunanya untuk menebak-nebak kemana orang itu pergi. Ia tentu sudah pergi jauh. Atau bahkan mungkin ia masih berada di sekitar padukuhan itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah kita kembali saja kepadukuhan itu.”

Keduanya pun kemudian berpacu kembali, setelah keduanya tidak berhasil menemukan orang yang dicarinya, karena mereka sudah terlambat terlalu lama.

Ketika mereka sampai ke banjar, Ki Gede masih duduk di pendapa.

Dengan demikian, maka mereka pun kemudian duduk untuk berbincang di pendapa itu. Mereka berbicara mengenai peristiwa yang baru saja terjadi di padukuhan itu, dihubungkan dengan peristiwa yang telah menimpa Rudita beberapa hari yang lalu.

“Ki Gede,” Agung Sedayu pun kemudian berkata dengan nada dalam, “nampaknya kehadiranku di Tanah Perdikan ini justru telah membawa bencana.”

“Ah,” desis Ki Gede, “kita akan bersama-sama mencari orang yang telah melakukan kejahatan itu. Jika bencana itu terjadi, maka itu bukan salahmu.”

“Tetapi jika aku tidak berada disini, maka hal itu tentu tidak akan terjadi,” jawab Agung Sedayu.

“Hal itu mungkin tidak akan terjadi. Tetapi perkembangan keadaan di Tanah Perdikan ini pun tidak akan terjadi juga,” sahut Ki Gede kemudian. Lalu, “karena itu, jangan hiraukan. Bukan berarti bahwa kita tidak berusaha untuk mencegah hal itu terulang kembali. Maksudku, jangan menyalahkan diri sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Karena akulah yang dicari oleh orang itu, maka aku akan mencarinya pula sampai aku dapat menemukannya.”

“Tetapi jangan tergesa-gesa. Semuanya harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Ketergesa-gesaan tidak banyak memberikan keuntungan,” berkata Ki Geie. Lalu, “Lakukan apa yang harus kau lakukan. Jika dalam melakukan kewajiban itu kau bertemu dengan orang itu, apaboleh buat. Orang itulah yang mencarimu. Bukan kau.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Gede. Namun aku pun wajib untuk berusaha membatasi bencana-bencana serupa ini.”

“Kita akan melakukan bersama-sama,” sahut Ki Gede.

Dengan demikian, maka peristiwa itu justru dapat menjadi cambuk untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun beberapa orang menjadi kecut pula hatinya. Apalagi mereka yang telah menyaksikan sendiri, bagaimana orang itu dengan gerak yang sederhana dan seolah-olah tanpa mengacuhkannya, dapat melumpuhkan beberapa orang sekaligus.

Sejak malam itu, maka semua anak-anak muda telah bersiaga. Para pengawal yang tersebar itu pun telah memperkuat penjagaan di padukuhan masing-masing. Sementara itu, Agung Sedayu dan Ki Waskita dimalam hari selalu berada di padukuhan-padukuhan yang tersebar di Tanah Perdikan itu, diatas punggung kuda. Hanya kadang-kadang saja mereka beristirahat dan tidur beberapa saat di banjar-banjar padukuhan. Sementara itu kuda mereka pun selalu siap untuk berpacu kemanapun juga.

Dalam pada itu, Rudita yang sudah menjadi sehat benar, lelah bersiap-siap untuk meninggalkan Tanah Perdikan. Menjelang keberangkatannya, ia sempat berkata kepada ayahnya, “Ayah. Bukankah kita sendiri yang selalu diombang-ambingkan oleh perasaan kita? Apabila kita dapat melepaskan diri dari sikap bermusuhan itu, maka kita tidak akan terbelenggu oleh kegelisahan yang tidak berarti itu.”

Ki Waskita hanya dapat mengelus kepala anaknya. Kemudian katanya, “Pulanglah ngger. Ibumu tentu sudah menunggu. Katakan bahwa aku berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu terperanjat mendengar kata-kata Ki Waskita itu. Karena itu, maka dengan serta merta ia bertanya, “Ki Waskita, apakah tidak berbahaya bagi Rudita untuk keluar dari rumah apalagi dan padukuhan ini.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Keyakinannya membuat aku yakin pula akan dirinya.”

Dalam pada itu Rudita pun tersenyum sambil berkata, “Agung Sedayu. Aku mengerti, bahwa kau mencemaskan keadaanku. Mungkin aku akan mengalami nasib buruk seperti yang pernah terjadi.”

Agung Sedayu mengangguk kecil.

“Tidak. Tidak akan terjadi apa-apa dengan aku. Hanya mereka yang merasa bersalah, langsung atau tidak langsung, atau mereka yang memang sudah mempersiapkan diri untuk bermusuhan sajalah yang menjadi ketakutan. Mereka diburu oleh bayangan sendiri sehingga setiap gerak dan sikap, mereka harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas dirinya,” sambung Rudita.

“Tetapi peristiwa buruk itu telah menimpamu pula,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi aku tidak mencemaskannya bahwa hal itu akan mencelakai aku. Ternyata aku tidak apa-apa,” jawab Rudita.

“Tetapi peristiwa semacam itu akan dapat berakibat maut,” bantah Agung Sedayu pula.

“Itu bukan persoalanku. Jika seseorang pada suatu saat membunuhku, itu adalah persoalannya. Aku tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan orang itu,” jawab Rudita pula.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia harus mengerti atau mencoba mengerti, alas berpijak dari keyakinan Rudita.

Karena itu, maka baik Agung Sedayu maupun ayahnya tidak akan dapat mencegahnya. Rudita pun kemudian minta diri kepada seisi rumah. Kepada Ki Gede, kepada Prastawa dan kepada anak-anak muda yang berada di halaman.

Ki Waskita melepas anaknya diregol halaman. Nampak kerut-merut di kening orang tua itu. Anaknya yang seorang itu telah menganut jalan yang berbeda dengan jalan yang telah ditempuhnya. Namun justru karena itu, maka agaknya Rudita telah menemukan kedamaian di hatinya.

Agung Sedayu yang juga berdiri diregol memandang anak muda itu melangkah semakin lama semakin jauh. Ketika anak muda itu hilang ditikungan, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa atasnya,” desis Ki Waskita.

“Ia telah menemukan satu keyakinan yang tidak tergoyahkan,” desis Agung Sedayu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Hatinya lebih teguh dari hatiku.”

“Juga dari hatiku dan dari hati setiap orang yang pernah aku kenal sampai saat ini,” sahut Agung Sedayu pula.

Keduanya terdiam sejenak. Kemudian Ki Waskita pun berkata, “Kita serahkan segalanya kepada Yang Maha Bijaksana Kita adalah orang yang terlalu banyak membuat persoalan bagi diri kita sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Tetapi setiap kali ia selalu melihat dirinya sendiri sebagai seseorang yang sudah berada di tengah-tengah sungai yang mengalir deras. Bagaimanapun juga, ia sudah terlanjur menjadi basah.

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian melangkah memasuki halaman. Prastawa pun telah masuk keruang dalam.

Dengan demikian maka Agung Sedayu dan Ki Waskita pun langsung masuk kedalam biliknya.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita kemudian, “sebenarnyalah aku merasa iri terhadap Rudita. Tetapi apaboleh buat. Kita sudah memilih jalan kita sendiri. Karena itu, justru kita harus berusaha agar dengan jalan yang kita tempuh ini, kita akan dapat berbuat sesuatu yang paling baik.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Ki Waskita berkata ketika aku masih kanak-kanak, aku sering berangan-angan, agar aku dapat menjadi orang yang tidak terkalahkan. Orang yang memiliki kesaktian yang paling tinggi. Bahkan melampaui tataran manusia sewajarnya. Jika aku dalam keadaan yang demikian, maka aku akan menghancurkan semua kejahatan tanpa ragu-ragu karena tidak seorang pun akan dapat mengalahkan aku.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Angan-angan yang demikian pernah juga hinggap dikepalanya. Bahkan dengan jujur ia mengatakan kepada dirinya sendiri, “Angan-angan semacam itu masih tetap ada didalam dada ini.”

Tetapi sebagian dari kemampuan yang di angan-angankan itu telah dimilikinya. Meskipun demikian, yang dimilikinya itu adalah masih jauh dari angan-angannya. Karena angan-angan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, keterbatasan kewadagan dan kajiwan.

Namun dalam pada itu, segalanya itu justru telah mendorong Agung Sedayu untuk bekerja lebih keras lagi. Sebagaimana membayang di angan-angannya, semakin banyak dan semakin tinggi ia menguasai ilmu, maka ia pun akan menjadi semakin banyak dapat beramal.

Dalam pada itu, pada saat yang tegang di Tanah Perdikan Menoreh, maka Agung Sedayu pun menganggap, bahwa tugasnya yang utama, setelah ia berhasil mengarahkan kemauan dan kemampuan kerja orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, adalah peningkatan gairah kerja anak-anak mudanya, juga dalam pengamanan kampung halamannya.

Namun sementara ia mulai, maka di Tanah Perdikan itu telah hadir seorang yang menganggap dirinya sebagai lawan bebuyutan yang harus dibinasakannya.

“Sikapku memang berbeda dengan sikap Rudita,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “aku harus menghadapi orang yang bernama Ajar Tal Pitu itu, agar ia tidak berbahaya bagi orang lain.”

Demikianlah maka kerja Agung Sedayu disetiap malam adalah mencari orang yang bernama Ajar Tal Pitu bersama Ki Waskita. Bukan karena Agung Sedayu tidak berani menghadapinya sendiri, tetapi kecurangan memang mungkin terjadi di mana-mana.

***

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak muda yang bertanya kepadanya itu. Kemudian dipandanginya pula anak-anak muda yang berdiri termangu-mangu di muka gardu.

Baru sejenak kemudian orang itu berkata, “Aku datang untuk satu kepentingan pribadi. Sama sekali tidak menyangkut siapapun juga. Karena itu, jika ada orang yang ingin menggangguku, maka ia akan menjadi korban yang pertama.”

“Jika masalahnya tidak menyangkut kami, tentu kami tidak akan ikut mencampurinya,” jawab anak muda itu, “yang justru ingin kami tanyakan, apakah kami akan dapat membantu Kiai.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian orang itu berkata, “Baiklah. Jika kau memang ingin membantuku, aku akan sangat berterima kasih.”

“Nah, barangkali ada yang dapat kami lakukan?” bertanya anak muda itu.

“Aku ingin bertemu dengan Agung Sedayu,” jawab orang itu.

“ Agung Sedayu?” ulang anak muda itu.

“ Ya. Apakah kau mengenalnya?” bertanya orang itu.

“Tentu. Aku mengenalnya dengan baik,” jawab anak muda itu, “aku akan mengatakannya. Tetapi apakah yang harus aku katakan?”

“Aku ingin bertemu dengan Agung Sedayu. Aku ingin berperang tanding. Aku tidak berkeberatan jika ia membawa saksi-saksi. Tetapi tantanganku adalah perang tanding,” jawab orang itu.

Anak-anak muda itu pun termangu-mangu. Yang berdiri di depan gardu itu pun menegang. Tetapi anak muda yang berbicara langsung itu masih bertanya, “jadi apakah yang harus aku katakan kepadanya? Perang Tanding? Dimana dan kapan?”

“Aku siap melakukannya di manapun juga,” jawab orang itu, “tetapi lebih baik jika kita akan melakukan perang tanding ditempat yang tidak banyak didatangi orang. Aku menunggu di ujung hutan dibawah sebatang pohon randu alas yang menurut keterangan beberapa orang disebut randu papak. Jika purnama naik, aku tantang Agung Sedayu di bawah randu papak di ujung hutan. Aku masih menghargai harga diri Agung Sedayu dan orang-orang Tanah Perdikan ini. Karena itu aku menganggap bahwa mereka tidak akan berbuat curang meskipun yang akan hadir di randu papak itu bukan hanya Agung Sedayu seorang diri. Aku tahu, bahwa Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan ini bersama Ki Waskita, dan sudah barang tentu Ki Gede sendiri adalah orang yang mumpuni.”

Anak muda itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Kiai, aku akan menyampaikannya. Aku tidak mengerti persoalan apakah yang sudah terjadi antara Kiai dan Agung Sedayu. Karena itu, kewajibanku hanyalah menyampaikannya saja kepadanya.”

“Bagus. Aku mengucapkan terima kasih,” jawab orang itu, “jangan lupa. Pada saat purnama naik, dibawah randu papak di ujung hutan. Jika Agung Sedayu tidak datang, maka akibatnya akan sangat buruk bagi Tanah Perdikan yang sedang dibangunnya. Tetapi jika ia datang dan bahkan setelah kematiannya, Tanah Perdikan ini akan dapat bekerja terus meskipun tanpa anak itu. Sebenarnyalah bahwa anak itu tidak banyak berarti bagi Tanah Perdikan ini.”

“Nampaknya Kiai banyak mengetahui tentang Agung Sedayu,” desis anak muda itu.

“Aku mengetahui segala-galanya tentang anak itu. Aku sudah mendapat keterangan tentang anak itu sampai hal yang sekecil-kecilnya. Karena itulah maka aku sudah siap untuk membunuhnya,” jawab orang itu.

Anak-anak muda yang berada di depan gardu itu menjadi semakin tegang. Rasa-rasanya mereka ingin menerkam orang itu. Tetapi mereka sadar, bahwa pernah terjadi, beberapa orang kawan mereka menjadi pingsan karena seseorang, yang menurut dugaan mereka, tentu orang itu pula.

Tetapi anak muda yang langsung menghadapi orang itu telah bertindak bijaksana. Ia masih tetap menahan diri dan berbicara dengan cara yang baik, sehingga orang itu tidak menjadi marah dan berbuat sesuatu yang dapat mencelakai mereka.

“Sudahlah,” berkata orang itu, “katakan kepada Agung Sedayu, sebagaimana aku pesankan. Biarlah ia berkemas menghadapi hari kematiannya. Barangkali ia masih ingin memberikan pesan kepada seseorang menjelang kematiannya.”

Anak muda itu tidak menjawab. Sementara orang itu pun melangkah menjauh sambil berkata, “Aku tunggu di randu papak menjelang purnama naik. Aku tidak berkeberatan jika ia membawa saksi untuk kemudian membawa mayatnya dan menguburkannya.”

Anak-anak muda di gardu itu bagaikan membeku. Mereka hanya memandangi saja laki-laki itu berjalan semakin lama semakin jauh memasuki gelapnya malam.

Demikian orang itu hilang, anak-anak muda di gardu itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seorang di antara mereka pun berkata, “Kita beri isyarat. Agung Sedayu tentu sudah siap memburunya.”

“Orang itu menantang perang tanding,” jawab pengawal yang berbicara langsung.

“Karena itu, kita hindari perang tanding itu. Jika kita menunggu purnama naik, maka yang akan tejadi adalah perang tanding. Tetapi jika sekarang kita membunyikan isyarat titir, maka Agung Sedayu tidak perlu menghadapinya dalam perang tanding yang mungkin akan merenggut nyawanya,” jawab anak muda itu.

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng, “Kita minta pertimbangan Agung Sedayu. Terserah apakah Agung Sedayu akan melayaninya dalam perang tanding, atau nanti pada saatnya, ia akan menangkap orang itu sebagai seorang penjahat.”

Tetapi anak muda itu membantah, “Agung Sedayu tentu keberatan jika hal itu dilakukan pada saat perang tanding itu dilaksanakan.”

“Meskipun demikian, aku tidak dapat menyetujuinya. Kita harus berbicara dahulu dengan Agung Sedayu sendiri,” jawab pengawal itu.

Karena itulah, maka niat untuk membunyikan isyarat itu pun diurungkannya. Anak anak muda itu pun kemudian bersepakat untuk menyampaikan hal itu kepada Agung Sedayu sebagaimana adanya.

Demikianlah, maka rasa-rasanya anak-anak itu tidak sabar menunggu pagi. Tetapi mereka tidak dapat langsung menjumpai Agung Sedayu, karena mereka pun tahu, bahwa Agung Sedayu biasanya juga tidak menetap. Baru setelah matahari terbit, ia berada kembali dirumah Ki Gede Menoreh.

Dengan demikian, maka demikian matahari mulai naik keatas cakrawala maka dua orang anak muda dengan tergesa-gesa telah pergi ke rumah Ki Gede Menoreh. Mereka rasa rasanya tidak sabar untuk menemui Agung Sedayu sambil berjalan kaki. Karena itu, maka kedua anak muda itu pun pergi ke padukuhan induk dengan berkuda.

Kedatangan mereka telah mengejutkan para pengawal. Dengan wajah tegang dan tergesa-gesa mereka bertanya, apakah Agung Sedayu ada di rumah itu,

“Ada apa?” bertanya seorang pengawal di regol halaman.

“Aku ingin bertemu dengan Agung Sedayu segera,” jawab anak muda yang baru datang itu.

“Ia pun belum lama datang,” jawab pengawal di regol halaman.

“Aku tahu bahwa ia selalu meronda di malam hari. Karena itu aku datang setelah matahari terbit.”

Kedua orang anak-anak muda itu pun kemudian langsung dibawa kepada Agung Sedayu di gandok. Nampaknya Agung Sedayu baru saja selesai mandi dan mengemasi dirinya.

“Silahkan,” berkata Agung Sedayu ketika kedua orang anak muda itu naik keserambi gandok.

Setelah menunggu sejenak, maka Agung Sedayu pun kemudian duduk bersama kedua orang anak muda yang sudah dikenalnya itu.

“Apakah ada sesuatu yang penting? Bagaimana dengan latihan-latihan yang diselenggarakan di padukuhan kalian?” bertanya Agung Sedayu.

Salah seorang dari kedua orang anak muda itu adalah anak muda yang langsung berbicara dengan orang yang aneh itu. Karena itu maka ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Kegelisahannya telah mendorongnya untuk berkata, “Agung Sedayu. Ada sesuatu yang sangat penting bagimu.”

“Apa?” bertanya Agung Sedayu dengan hati yang berdebar-debar.

Anak muda itu pun kemudian menceriterakan apa yang ditemuinya ketika ia sedang meronda di padukuhannya.

“Anak-anak yang berada di gardu itu pun melihat dan mendengar percakapan kami,” berkata anak muda itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Baginya menjadi semakin jelas. Orang itu tentu Ajar Tal Pitu yang mendendamnya sampai keujung rambut.

“Bagaimana pertimbanganmu Agung Sedayu,” bertanya anak muda itu.

Agung Sedayu memandang kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Aku tidak dapat memilih jalan lain kecuali menerimanya.”

“Maksudmu, kau akan menerima tantangannya?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.

“Ya. Aku akan menerima tantangannya,” jawab Agung Sedayu.

“Perang tanding?” bertanya anak muda itu.

“Tidak ada pilihan lain. Jika aku tidak menerima tantangan itu, kalianlah yang akan menjadi korban. Apa yang telah kita kerjakan selama ini akan menjadi berantakan,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi bukankah dengan demikian orang itu dapat dianggap sebagai seorang penjahat dan akan dapat ditangkap beramai-ramai? Kau, Ki Waskita, Ki Gede sendiri dan kami, para pengawal,” berkata anak muda itu.

“Tetapi dengan demikian akan dapat mengundang persoalan yang lebih jauh lagi,” jawab Agung Sedayu, “karena itu biarlah aku menghadapinya. Bagiku, dengan demikian persoalan ini pun tidak akan berkepanjangan. Apa yang akan terjadi, tetapi persoalanku dengan orang itu pun akan berakhir dengan tuntas.”

“Siapakah sebenarnya orang itu. Agung Sedayu?” bertanya anak muda yang lain.

“Aku belum dapat mengatakannya karena aku belum bertemu dengan orang itu. Tetapi menilik ciri-ciri yang kalian katakan, orang itu agaknya adalah Ajar Tal Pitu yang mempunyai dendam kepadaku,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi apakah hal itu tidak akan sangat berbahaya bagimu Agung Sedayu. Orang itu mempunyai kemampuan yang tidak terhingga. Beberapa orang pengawal baginya tidak berarti sama sekali.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 147)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-46/

Terima kasih kepada Ki Banuaji yang me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s