ADBM2-148

<<kembali | lanjut >>

DALAM pada itu, kedua ujud Ajar Tal Pitu yang melihat Agung Sedayu terjatuh dan bersandar pada batang randu alas itu pun telah mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Mereka telah menyerang Agung Sedayu tanpa perlawanan. Mereka menikam, menggores dan bahkan membakar tubuh Agung Sedayu dengan api yang tersembur dari ujung trisula mereka.

Saat itulah yang ditunggu oleh Ajar Tal Pitu yang sebenarnya. Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa yang menggema di lereng-lereng perbukitan.

“Ternyata hatimu hanya semenir Agung Sedayu,” terdengar suara Ajar Tal Pitu, “justru karena itu, maka ajalmu akan sampai.”

Sebenarnyalah, di atas gumuk padas telah nampak sebuah ujud lagi sebagaimana kedua ujud yang sedang sibuk menyerang Agung Sedayu yang sama sekali tidak melawan.

Sambil mengangkat trisulanya dan menengadahkan wajahnya ke bulan yang sudah semakin bergeser ke Barat, Ajar Tal Pitu itu pun berkata, “berikan cahayamu kepadaku. Aku akan menyempurnakan kematian anak muda yang sombong ini.”

Ki Gede Menoreh yang menyaksikan hal itu hampir tidak dapat menahan diri. Jika ia tidak terikat kepada perjanjian yang dibuat oleh Agung Sedayu dan Ajar Tal Pitu untuk berperang tanding, maka ia sudah tidak sabar lagi. Meskipun kemudian ia melihat trisula di tangan Ajar Tal Pitu yang berdiri diatas gumuk batu padas itu seakan-akan menyala semakin besar, namun diluar sadarnya ia pun melihat cahaya kebiru-biruan di ujung tombaknya.

“Tombakku tentu tidak kalah bertuah dari trisula yang bercahaya kemerah-merahan itu,” berkata Ki Gede didalam hatinya.

Sebenarnyalah Ki Gede tidak gentar melihat betapa cara Ajar Tal Pitu melawan Agung Sedayu. Meskipun ia sadar, bahwa dalam keadaan yang gawat, kakinya sering mengganggunya, tetapi pada saat terakhir ia masih sempat mengembangkan ilmunya. sesuai dengan keadaan tubuhnya.

Ki Waskita pun telah menjadi gemetar, Ia pun harus menahan diri. Apapun yang akan terjadi atas Agung Sedayu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena Agung Sedayu sudah menyatakan dirinya memasuki arena perang tanding.

Dalam pada itu, pada sisi yang lain. didalam gerumbul-gerumbul perdu di sebelah gumuk batu padas itu, dua orang yang menyaksikan perang tanding itu sebagaimana Ajar Tal Pitu telah menentukan, bahwa perang tanding itu akan segera berakhir.

“Ternyata Ajar Tal Pitu berhasil,” berkata yang seorang kepada kawannya.

“Ya, Ki Pringgajaya,” jawab yang lain, “Agung Sedayu sudah tidak berdaya. Padahal Ajar Tal Pitu yang seorang masih baru akan turun kearena.”

“Jangan panggil namaku,” desis yang seorang.

“Semua orang sudah tahu kalau Ki Pringgajaya sebenarnya masih belum mati,” jawab kawannya.

Ki Pringgajaya tersenyum. Katanya, “Biarlah. Tetapi tidak seorang pun akan dapat menemukan aku. Tanpa dapat mengajukan aku sebagai bukti, Ki Tumenggung Prabadaru juga tidak akan dapat dituntut oleh siapapun.”

“Kita akan menyaksikan saat-saat terakhir dari kehidupan seorang anak muda yang pilih tanding,” gumam kawannya.

“Ya. Sebenarnyalah Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang jarang dicari bandingnya. Mungkin ia masih berada beberapa lapis dibawah Senapati Ing Ngalaga dan Pangeran Benawa namun kedua orang anak muda itu memang tidak dapat diperbandingkan dengan siapapun,” desis Ki Pringgajaya, “mungkin pada masa muda Sultan Hadiwijaya yang bernama Mas Karebet dan yang juga disebut Jaka Tingkir itu pun memiliki ilmu seperti Senapati Ing Ngalaga. Namun selain orang-orang ajaib itu, Agung Sedayu termasuk anak muda yang perkasa.”

Kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu. Ajar Tal Pitu yang berada diatas gumuk itu telah meloncat turun. Suara tertawanya masih terdengar menggema. Sementara itu, ia pun melangkah perlahan-lahan mendekati pohon randu alas yang besar dan berdaun rimbun itu.

Agung Sedayu yang tersandar pada pokok batang randu alas itu melihat Ajar Tal Pitu datang mendekatinya. Ia pun melihat Ajar Tal Pitu itu sudah memastikan diri untuk dapat membunuh Agung Sedayu, sehingga karena itu, maka Ajar Tal Pitu pun melangkah maju sambil menengadahkan wajahnya. Suara tertawanya masih saja terdengar. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras.

Beberapa langkah dihadapan Agung Sedayu ia berhenti. Kedua ujud Ajar Tal Pitu yang lain pun telah berhenti menyerangnya. Keduanya berdiri tegak seperti yang dilakukan oleh Ajar Tal Pitu itu sendiri.

Agung Sedayu masih tetap bersandar pada batang pohon randu alas yang besar itu tanpa bergerak.

Dalam pada itu. Ajar Tal Pitu itu pun mulai merundukkan trisulanya mengarah kedada Agung Sedayu sambil berkata, “Agung Sedayu. Nasibmu buruk hari ini. Kau tidak dapat melawan ilmuku yang telah aku sempurnakan dengan mesu diri ampat puluh hari ampat puluh malam diikuti oleh pati geni tiga hari tiga malam. Ternyata ilmu kebalmu tidak sanggup menahan kekuatan ilmuku. Sekarang, trisulaku sendirilah yang akan menembus jantungmu. Mungkin lambaran ilmu kebalmu yang tersisa masih dapat melindungi luka dikulitmu untuk tusukan yang pertama, kedua atau yang ketiga. Tetapi aku akan menusuk kau berulang kali sampai dadamu berlubang tembus ke jantung. Dalam keadaanmu serupa itu, maka kau tidak akan mampu mengetrapkan ilmu kebalmu sampai kepuncak kemampuannya.”

Agung Sedayu masih saja tersandar. Namun ia melihat apa saja yang dilakukan oleh Ajar Tal Pitu. Ia pun melihat Ajar Tal Pitu itu kemudian melangkah setapak surut. Trisulanya benar-benar telah siap menembus jantung Agung Sedayu.

Sesaat Ajar Tal Pitu mengetrapkan puncak ilmunya. Kemudian sambil berteriak nyaring ia telah meloncat dalam ancang-ancangnya. Dengan sekuat tenaga maka ia pun telah mendorong trisulanya lurus mengarah ke jantung Agung Sedayu.

adbm-148-01Namun yang terjadi adalah sangat mengejutkan. Ujung trisula itu sama sekali tidak menusuk dada Agung Sedayu dan mematahkan tulang iganya, apalagi menembus sampai kejantung. Tepat pada saatnya Agung Sedayu telah berguling menghindari serangan maut itu. sehingga trisula itu tidak mengenainya.

Justru ujung trisula itu telah menancap pada pokok pohon randu alas yang tidak terlalu keras. Sehingga dengan demikian, berlandaskan kekuatan ilmu Ajar Tal Pitu, maka ujung trisulanya itu telah menghunjam cukup dalam pada pokok batang randu alas itu.

Ajar Tal Pitu justru terkejut. Sementara itu, Agung Sedayu telah melenting berdiri selangkah di sebelah Ajar Tal Pitu yang menjadi gugup.

Yang terdengar kemudian adalah suara Agung Sedayu. Tidak terlalu keras, “Luar biasa.”

Dalam pada itu, baik Ki Waskita maupun Ki Gede Menorehpun terkejut melihat sikap Agung Sedayu. Keduanya yang sudah kehilangan harapan, dan bahkan Ki Gede yang marah itu hampir saja memburu kearah Ajar Tal Pitu, rasa-rasanya telah melihat satu keajaiban telah terjadi.

Namun dalam pada itu, Ki Waskita pun berdesis, “Apa yang dapat dilakukan oleh anak muda itu ternyata melampaui dugaan kita.”

“Ya,” desis Ki Gede, “kitalah yang ternyata terlalu bodoh untuk mengerti apa yang telah terjadi.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Namun sesuatu masih terasa bergejolak didalam dadanya.

Sementara itu, di arah yang lain Ki Pringgajaya dan seorang kawannya telah terguncang pula jantungnya melihat apa yang telah terjadi. Betapa keduanya terkejut ketika mereka melihat Agung Sedayu itu mengelak dan kemudian melenting berdiri selangkah di sebelah Ajar Tal Pitu.

“Anak Setan,” geram Ki Pringgajaya, “jadi ia masih sempat mengelak.”

Pengawalnya yang terkejut itu justru menjadi gemetar. Ia melihat Agung Sedayu itu berdiri tegak, utuh dan sama sekali tidak lumpuh sebagaimana diduganya setelah Agung Sedayu jatuh bersandar pohon randu alas.

“Benar-benar anak iblis,” sahut kawan Ki Pringgajaya itu.

Sebenarnyalah Agung Sedayu masih berdiri tegak. Ajar Tal Pitu yang tidak menduga bahwa korbannya masih akan mampu mengelak itu pun untuk beberapa saat bagaikan kehilangan akal.

Namun ia bukan seorang yang berotak tumpul. Betapa jantungnya terguncang, namun ia dengan cepat dapat mengambil satu sikap. Ia telah menghadapi satu kenyataan tentang Agung Sedayu. Karena itu, maka ia harus segera berbuat sesuatu.

Karena itulah, maka dengan segenap kekuatan ilmunya, ia telah menarik trisulanya dari pokok pohon randu alas itu.

Adalah giliran Agung Sedayu untuk terkejut. Ia menduga, bahwa Ajar Tal Pitu memerlukan tenaga dalam ilmu puncaknya untuk mencabut senjatanya. Namun ternyata ia telah menarik senjata seolah-olah senjatanya itu tercelup didalam air. Begitu mudahnya.

Dalam keremangan cahaya bulan bulat yang dibayangi oleh rimbunnya daun randu alas, Agung Sedayu melihat dengan tatapan matanya yang tajam, lubang-lubang bekas ketiga ujung trisula itu masih mengepulkan asap.

“Bukan main,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “ternyata api di ujung trisula Ajar Tald Pitu yang sebenarnya itu tidak main-main. Api itu mampu membakar pokok kayu randu alas sehingga dengan mudah ia mampu menarik trisulanya.”

Dalam pada itu, barulah Agung Sedayu merasa membuat satu kesalahan. Karena demikian Ajar Tal Pitu itu menyadari keadaannya dan setelah menarik trisulanya, maka ialah yang mengambil kesempatan untuk memulai lagi dengan satu perang tanding yang dahsyat.

Dengan segenap kekuatannya Ajar Tal Pitu itu mengayunkan trisulanya mendatar menghantam dada Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu sempat meloncat mundur, sehingga trisula itu berdesing dihadapan dadanya.

Tetapi demikian trisula itu tidak menyentuh tubuh Agung Sedayu, Ajar Tal Pitu segera memutar senjatanya berporos pada pangkal tangkai trisulanya. Dengan secepat kilat senjatanya itu telah menyambar sekali lagi.

Agung Sedayu masih sempat mengelak. Namun ia merasa, bahwa Ajar Tal Pitu telah mengambil kesempatan untuk melibatnya dalam perkelahian jarak pendek.

Sebenarnyalah Ajar Tal Pitu yang sudah pernah mengalami kekalahan dari Agung Sedayu itu mengerti, bahwa Agung Sedayu mampu menyerangnya pada jarak diluar jarak jangkau wadagnya. Pada saat yang demikian, ia seolah-olah hanya merupakan sasaran yang tidak mampu membalas. Kedua bayangan ujudnya itu ternyata tidak berdaya menghadapi Agung Sedayu yang telah berhasil memecahkan teka-teki ilmunya, Kakang Pembarep dan Adi Wuragil. Karena itu, maka Ajar Tal Pitu tidak mau mengulangi kekalahan karena ia tidak mampu melawan pada jarak diluar jangkauan senjatanya.

Dengan demikian maka Ajar Tal Pitu yang berada pada jarak jangkau senjatanya itu tidak mau melepaskan Agung Sedayu untuk keluar dari libatan pertempuran jarak pendek.

Agung Sedayu yang sudah terlanjur berada dalam pergumulan berjarak pendek itu sulit untuk mengambil jarak dan melepaskan kekuatan ilmunya lewat sorot matanya. Ia tidak mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri barang sekejap, membangun kekuatan dan ilmunya yang akan dilepaskan lewat sorot matanya.

Pada saat-saat berikutnya ternyata tidak mudah bagi Agung Sedayu untuk membetulkan kesalahannya. Pertempuran jarak pendek itu bagaikan prahara yang melibatnya, sehingga sulit baginya untuk dapat keluar dari putarannya.

Namun Agung Sedayu masih mempunyai perisai yang dapat melindunginya. Ia telah mengetrapkan ilmu kebalnya. Ia tidak mau hancur dicincang oleh ujung senjata Ajar Tal Pitu itu.

Perang tanding itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua ujud Ajar Tal Pitu yang lain itu pun masih ikut bertempur pula. Meskipun Agung Sedayu tidak menghiraukannya lagi, namun karena mereka justru berusaha berbaur, kadang-kadang Agung Sedayu kehilangan waktu sekejap untuk memilih lawannya yang sebenarnya.

Sebagaimana yang dilakukannya terdahulu, karena Agung Sedayu tidak sempat mempergunakan sorot matanya dalam pertempuran yang berjarak pendek itu, maka Agung Sedayu telah mengembangkan ilmu kebalnya. Udara di bawah pohon randu alas itu menjadi semakin lama semakin panas.

Maka terulanglah pertempuran yang dahsyat itu. Yang nampak oleh mata orang lain. Agung Sedayu telah bertempur melawan tiga orang yang sama ujud dan ilmunya.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang telah berhasil memecahkan teka-teki ilmu lawannya itu sama sekali tidak menghiraukan kedua ujud yang lain dari Ajar Tal Pitu itu. Ia berusaha untuk mengenali Ajar Tal Pitu yang sebenarnya dan mengarahkan segenap serangannya kepada ujud yang sebenarnya itu.

Namun bagaimanapun juga, kadang-kadang Agung Sedayu juga kehilangan jejak beberapa saat atas lawannya yang memang berusaha untuk membaurkan diri. Sekali-sekali mereka bertiga dengan sengaja telah berlari-lari saling menyilang.

Tetapi sejenak kemudian Agung Sedayu pun segera dapat mengenali lawan itu pula dengan senjatanya. Karena kedua ujud Ajar Tal Pitu yang bukan sebenarnya itu, seolah-olah tidak tersentuh oleh senjatanya betapapun juga ia menyerangnya.

Namun saat-saat yang sekejap-sekejap itu dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ajar Tal Pitu. Karena itu, maka sekali-sekali ujung trisulanya telah mampu mengenai tubuh Agung Sedayu.

Namun Agung Sedayu telah dilambari oleh ilmu kebalnya. Karena itu maka serangan-serangan Ajar Tal Pitu itu tidak mampu melukai kulitnya.

Justru dalam pada itu, ujung cambuk Agung Sedayu lah yang mulai terasa menyentuh lawannya. Ajar Tal Pitu tidak dapat ingkar, bahwa kemampuan Agung Sedayu yang luar biasa itu telah dapat menggores kulitnya, melukainya dan menyakitinya.

Kemungkinan terluka itu pulalah yang membuat Agung Sedayu mengenali lawannya. Ajar Tal Pitu yang sebenarnya selalu menghindari serangannya, sedangkan ujud yang lain seolah-olah tidak menghiraukan serangan-serangan yang betapapun dahsyatnya.

Dalam pertempuran yang semakin sengit, serta telah terpecahnya ilmu Kakang Pembarep dan Adi Wuragil itu, maka terasa, baik oleh Ajar Tal Pitu sendiri, maupun oleh Agung Sedayu, bahwa keseimbangan pertempuran itu mulai bergeser. Udara panas yang terlontar dari kedua belah pihak ternyata mempunyai akibat yang berbeda. Dengan ilmu kebalnya Agung Sedayu mampu menahan serangan udara panas itu, sementara Ajar Tal Pitu semakin lama semakin mengalami kesulitan.

Sementara Agung Sedayu semakin meningkatkan serangannya, maka Ajar Tal Pitu telah berusaha mencari jalan untuk mengatasi lawannya yang masih muda itu. Dengan segala cara ia berusaha untuk membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung meskipun hanya sekejap. Yang sekejap itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ajar Tal Pitu. Meskipun trisulanya tidak dapat melukai lawannya, namun pada benturan yang keras, kekuatan Ajar Tal Pitu mampu mendorong Agung Sedayu satu dua langkah. Karena itu, maka Ajar Tal Pitu pun yakin. jika ia mendapat kesempatan, maka dengan sepenuh kekuatannya, ia akan mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu. Setidak-tidaknya ia akan dapat menghancurkan bagian dalam Agung Sedayu seandainya ia tidak berhasil melukai kulitnya.

Namun dalam pada itu, rasa-rasanya udara panas itu pun semakin membakar tubuh Ajar Tal Pitu.

“Aku harus mendapat cara untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran ini,” berkata Ajar Tal Pitu kepada diri sendiri.

Karena itu, maka ia pun telah mencari akal berlandaskan ilmu yang ada padanya.

Sementara perkelahian itu menjadi semakin seru, maka pembauran diri dengan saling menyilang itu pun dilakukan semakin sering. Namun akhirnya Agung Sedayu yang sedang kehilangan pengamatan atas lawannya itu menjadi bimbang, karena ketiga orang lawannya itu dengan serta-merta telah menjauhinya.

Namun akhirnya Agung Sedayu mengambil kesimpulan, bahwa ia telah menemukan lawannya yang sebenarnya. Satu di antara ketiga ujud itu telah bergeser perlahan-lahan menjauhinya. Semakin lama semakin jauh, sementara kedua ujud yang lain masih tetap berdiri ditempatnya, bahkan siap untuk menyerang.

“Kau tidak akan dapat lari,” geram Agung Sedayu.

Karena itu, maka dengan serta merta Agung Sedayu pun telah meloncat memburu ujud yang semakin lama semakin menjauhinya. Apalagi ketika ujud itu melihat Agung Sedayu yang siap menyerangnya itu pun dengan cepat telah bergeser semakin jauh.

Serangan Agung Sedayu telah datang membadai. Dengan ujung cambuknya Agung Sedayu ingin menangkap Ajar Tal Pitu dan menyeretnya kembali ke pusat arena dibawah randu alas itu.

Namun ternyata Agung Sedayu telah membuat kesalahan sekali lagi. Agung Sedayu ternyata tidak berhasil menyentuh ujud itu dengan ujung cambuknya. Ketika ia melecut dengan sekuat tenaganya, maka ia melihat ujud itu menggeliat. Namun perasaannya tidak dapat tertipu lagi. Meskipun ujud itu menggeliat, tetapi tangannya tidak merasa sentuhan apapun juga pada ujung cambuknya.

Agung Sedayu baru menyadari apa yang terjadi. Tetapi ia sudah terlambat. Ternyata bahwa Ajar Tal Pitu telah mengelabuinya. Yang berusaha menghindar itu bukan Ajar Tal Pitu yang sebenarnya, justru karena Ajar Tal Pitu sudah mengetahui bahwa Agung Sedayu sudah berhasil memecahkan teka-teki ilmunya.

Dengan perhitungan yang cermat. Ajar Tal Pitu yakin, bahwa Agung Sedayu akan menyangka, bahwa ujud yang paling jauh menghindari senjata cambuknya adalah Ajar Tal Pitu yang sebenarnya.

Namun dalam pada itu, kesalahan Agung Sedayu itu telah memberi kesempatan kepada Ajar Tal Pitu yang sebenarnya untuk mengerahkan segenap kekuatan dalam lambaran ilmunya untuk menyerang Agung Sedayu yang seakan-akan tidak menghiraukannya lagi. Dengan ancang-ancang yang cukup, maka Ajar Tal Pitu telah berlari dengan ujung trisulanya yang merunduk tepat mengarah kejantung Agung Sedayu.

Agung Sedayu tidak sempat lagi untuk menghindar. Yang dapat dilakukan adalah melawan serangan itu dengan perisai ilmu kebalnya pada puncak kemampuannya.

Demikianlah, telah terjadi benturan yang dahsyat sekali. Ilmu Ajar Tal Pitu yang sudah ditempa dalam laku terakhirnya, telah membentur ilmu kebal Agung Sedayu pada puncak kekuatannya.

Sebenarnyalah bahwa ujung trisula itu tidak dapat mengoyak ilmu kebal Agung Sedayu, sehingga dengan demikian kulit Agung Sedayu memang tidak terluka karenanya. Namun kekuatan Ajar Tal Pitu yang tiada taranya itu telah berhasil menghantam bagian dalam tubuh Agung Sedayu dan mendorongnya sehingga Agung Sedayu itu pun terpelanting jatuh.

Betapa perasaan sakit sempat menggigit tulang-tulang Agung Sedayu. Rasa-rasanya tulang-tulangnya itu berpatahan, dan isi dadanya berguguran.

Namun Agung Sedayu masih tetap sadar. Karena itu, maka ia pun melihat, bahwa Ajar Tal Pitu itu kemudian melangkah surut dua tiga langkah. Sekali lagi Ajar Tal Pitu mengambil ancang-ancang. Dengan sepenuh tenaganya ia kemudian mengayunkan trisulanya menghantam Agung Sedayu yang tergolek ditanah.

Tetapi Agung Sedayu tidak membiarkan dirinya sekali lagi dikenai ujung trisula itu. Apalagi pada dahinya. Karena itu, meskipun untuk sesaat ia berbaring diam, namun mata trisula itu meluncur ke kepalanya, maka Agung Sedayu pun telah bergeser setapak. Sehingga dengan demikian, trisula itu telah menghunjam justru kedalam tanah.

Pada saat yang tepat, betapapun perasaan sakit mencengkam tubuhnya, namun Agung Sedayu masih sempat mengayunkan cambuknya membelit tangan Ajar Tal Pitu yang justru menggenggam trisulanya.

Ajar Tal Pitu terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Agung Sedayu masih sempat melakukannya.

Pada saat yang tepat. Agung Sedayu itu pun melenting bangkit. Ia sudah siap berdiri ketika Ajar Tal Pitu menyadari keadaannya sepenuhnya. Pada saat ia berusaha mencabut trisulanya, maka belitan cambuk Agung Sedayu merupakan kekuatan yang menghambatnya.

Memang agak berbeda dengan saat Ajar Tal Pitu mencabut trisulanya dari pokok batang randu alas yang bagaikan terbakar, sehingga lubang-lubang pada mata trisulanya yang hangus itu bagaikan menjadi semakin lebar. Tetapi di saat trisula itu menghunjam di tanah, maka akibat panasnya ujung trisula itu hampir tidak berpengaruh karenanya.

Untuk sejenak, keduanya telah saling menarik. Keduanya ternyata termasuk orang-orang yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Ajar Tal Pitu yang menangkap ujung cambuk Agung Sedayu dengan tangannya yang lain pun berusaha untuk merampas cambuk itu, sementara Agung Sedayu mempertahankannya justru sekaligus merenggut trisula lawannya.

Untuk beberapa saat nampak kedua kekuatan itu seimbang. Namun perasaan sakit ditubuh Agung Sedayu terasa mulai mengganggunya.

Karena itu, maka ia merasa tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi jika ia mempergunakan cara yang demikian.

Dalam pada itu, Ajar Tal Pitu sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu akan melepaskan cambuknya. Senjata yang paling dikuasai dan apalagi senjata itu adalah pusaka yang diterimanya dari gurunya.

Karena itu, ketika tiba-tiba Agung Sedayu melepaskan cambuknya, maka Ajar Tal Pitu terkejut bukan buatan. Ia justru terdorong oleh kekuatannya sendiri beberapa langkah surut. Hampir saja ia justru jatuh terlentang.

Namun Ajar Tal Pitu cukup sigap. Dalam sekejap ia segera dapat menguasai keseimbangannya.

Yang kemudian terasa aneh pada Ajar Tal Pitu adalah justru udara yang panas di sekitarnya karena kekuatan ilmu kebal Agung Sedayu yang dikembangkan telah berkurang. Dengan demikian maka Ajar Tal Pitu mengira, bahwa kekuatan dan kemampuan Agung Sedayu menjadi susut. Apalagi anak muda itu sudah tidak mampu lagi mempertahankan senjatanya. Agaknya serangan trisulanya yang pertama, yang berhasil menghantam tubuh Agung Sedayu, meskipun tidak melukainya telah membuat kemampuan anak muda itu jauh berkurang.

Tetapi sekejap kemudian barulah ia menyadari. Ajar Tal Pitulah yang kemudian membuat kesalahan. Dalam keadaan yang dianggapnya menguntungkan itu, ia melihat Agung Sedayu duduk sambil menyilangkan tangannya didadanya.

Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan Ajar Tal Pitu itu melemparkan cambuk Agung Sedayu yang sudah terurai. Dengan tergesa-gesa ia mengangkat ujung trisulanya mengarah kedada anak muda itu.

Namun dalam pada itu, dadanya merasa mulai menjadi sesak. Bahkan kemudian jantungnya bagaikan diremas.

Ternyata Agung Sedayu telah sempat mengetrapkan ilmunya yang paling dahsyat. Sorot matanya mulai memancarkan kekuatan yang tiada taranya langsung menyusup dan meremas isi dada Ajar Tal Pitu.

Meskipun demikian, Ajar Tal Pitu masih dapat bertahan. Sambil berteriak nyaring ia berlari dengan trisula yang teracu lurus.

Tetapi sementara itu. Agung Sedayu telah menghentakkan kemampuannya pula. Pada saat Ajar Tal Pitu berlari dengan ujung trisula yang lurus mengarah kedadanya, Agung Sedayu telah menghantam dada lawannya dengan puncak kemampuannya.

Namun ujung trisula Ajar Tal Pitu itu masih sempat menghantam dadanya. Demikian kerasnya, sehingga terasa seolah-olah ujung trisula itu menghunjam kejantungnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan Ajar Tal Pitu sudah jauh susut.

Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia berusaha untuk tetap tegak. Ia sama sekali tidak melepaskan serangannya. Apalagi pada kesempatan yang terakhir. Jika ia lepas sekejap, maka yang sekejap itu tentu akan dipergunakan oleh Ajar Tal Pitu sebaik-baiknya.

Karena itu, seperti yang pernah terjadi, Agung Sedayu sama sekali tidak melepaskan lawannya dari cengkaman sorot matanya.

Ajar Tal Pitu yang tidak berhasil memecahkan ilmu kebal Agung Sedayu itu masih berusaha. Ketika ia surut dua langkah untuk mengambil ancang-ancang, maka kekuatan Agung Sedayu lewat sorot matanya menjadi semakin dalam menghunjam kedalam dadanya.

Tetapi Ajar Tal Pitu berusaha menghentakkan kekuatannya. Dengan sisa tenaganya ia mengarahkan trisulanya tidak kedada Agung Sedayu, tetapi langsung kemata Agung Sedayu yang sedang memandanginya sambil melontarkan serangannya.

Agung Sedayu masih tetap pada sikapnya. Ia memang melihat Ajar Tal Pitu mengangkat trisulanya kearah matanya. Namun Agung Sedayu sama sekali tidak bergeser.

Pada saat terakhir, ia melihat Ajar Tal Pitu melangkah sambil berteriak nyaring. Namun ketika kakinya maju selangkah. ia tidak lagi mampu bertahan atas serangan Agung Sedayu. Karena itu, ia pun tidak lagi kuat menahan ujung trisulanya. Ketika ia mengayunkan kakinya pada langkah kedua, maka ujung trisulanya mulai menunduk. Tangannya benar-benar sudah gemetar dan kakinya bagaikan tidak dapat ditegakkan lagi.

adbm-148-02Ajar Tal Pitu jatuh tertelungkup dihadapan Agung Sedayu. Ujung trisulanya memang masih menyentuh Agung Sedayu, tetapi tidak berpengaruh sama sekali, karena trisula itu sudah tidak terlontar oleh kekuatannya yang sudah kering.

Namun demikian Agung Sedayu yang menyadari bahwa lawannya adalah orang yang pilih tanding, tidak segera melepaskan serangannya. Ketika Ajar Tal Pitu itu menggeliat, Agung Sedayu masih tetap pada sikapnya. Serangan sorot matanya masih tetap mencengkam Ajar Tal Pitu yang kemudian terbaring diam. Sementara kedua ujud Ajar Tal Pitu yang lain bagaikan uap yang larut diudara.

Untuk beberapa saat, keadaannya menjadi sepi. Tidak ada gerak dan suara sama sekali. Agung Sedayu yang perlahan-lahan melepaskan serangannya pun masih tetap duduk dalam sikapnya dengan penuh kewaspadaan. Pada saat yang gawat, ia masih tetap siap melontarkan ilmunya kepada siapapun juga.

Dalam pada itu, di tempat yang tersembunyi, Ki Pringgajaya mengumpat kasar. Sementara pengawalnya berkata, “Apakah yang akan kita lakukan? Menurut pengamatanku, meskipun Ajar Tal Pitu dapat dikalahkan, tetapi Agung Sedayu sudah terluka. Apakah Ki Pringgajaya tidak dapat menyelesaikan? Aku akan siap membantu meskipun seandainya aku harus memberikan pengorbanan yang paling besar sekalipun. Agaknya sulit bagi Ki Pringgajaya untuk menunggu keadaan yang demikian.”

“Kau gila,” geram Ki Pringgajaya, “apakah kau dungu, lupa atau memang sudah gila? Kau tahu bahwa Ki Gede dan Ki Waskita menunggui perang tanding ini pula.”

Pengawal Ki Pringgajaya itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Ya. Kita memang tidak dapat membunuh diri di bawah pohon randu alas itu.”

“Kita gagal lagi,” geram Ki Pringgajaya, “tetapi ini belum usaha terakhir. Masih banyak jalan, dan mungkin kita akan mengambil sasaran yang lain, tetapi masih dalam rangkuman usaha keseluruhan.”

Pengawalnya tidak menyahut. Namun Ki Pringgajaya lah yang kemudian bergumam, “Kita tinggalkan tempat jahanam ini.”

Dalam pada itu, Ki Waskita dan Ki Gede yang melihat akhir dari pertempuran itu menarik nafas dalam-dalam. Ketegangan yang mencengkam jantung mereka, bagaikan tersentuh embun yang sejuk.

“Pertempuran itu sudah berakhir,” desis Ki Gede.

“Marilah, kita mendekat,” ajak Ki Waskita.

Ki Gede pun kemudian berpaling kepada Prastawa sambil berkata, “Marilah kita mendekat.”

Prastawa seolah-olah masih membeku. Karena itu, Ki Gede telah mengulanginya, “Marilah Prastawa. Pertempuran itu sudah selesai.”

Prastawa nampak ragu-ragu. Tetapi ketika Ki Gede dan Ki Waskita melangkah mendekat, ia pun mengikutinya pula di belakang, meskipun ia masih tetap ragu-ragu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang telah menyelesaikan pertempuran itu, masih tetap duduk ditempatnya. Ia masih berusaha untuk mengatasi keadaan dirinya sendiri. Nafasnya yang menjadi sesak seolah-olah dadanya menjadi semakin sempit.

Ternyata Agung Sedayu tidak dapat mengingkari, bahwa ia pun telah terluka di bagian dalam dadanya. Tetapi Agung Sedayu pun menyadari, bahwa keadaannya masih jauh lebih baik daripada ketika ia bertempur melawan Ajar Tal Pitu di Jati Anom. Meskipun sebagaimana dikatakan oleh Ajar Tal Pitu bahwa ia sudah melaksanakan laku terakhir dari ilmunya, namun peningkatan ilmu Ajar Tal Pitu itu masih belum sepesat peningkatan ilmu Agung Sedayu.

Ki Waskita yang pertama-tama mencapai Agung Sedayu itu pun segera berjongkok disampingnya. Perlahan-lahan ia bertanya, “Bagaimana Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa dadanya sudah menjadi semakin longgar. Karena itu, maka ia pun kemudian mulai mengulur tangannya sambil berkata, “Tuhan masih melindungi aku.”

“Ya. Kau berhasil mengalahkan lawanmu,” desis Ki Gede yang sudah berdiri di belakangnya pula.

Agung Sedayu menarik nafas sekali lagi. Panjang sekali. Kemudian dibantu oleh Ki Waskita ia pun berusaha untuk bangkit dan berdiri.

Ternyata ia tidak mengalami kesulitan yang parah. Meskipun dadanya masih terasa sakit, dan tulang-tulangnya bagaikan retak, tetapi ia masih merasa mampu untuk berdiri dan berjalan sendiri.

“Kau terluka di bagian dalam dadamu,” berkata Ki Waskita.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “tetapi tidak terlalu parah.”

“Kau berhasil mengatasi ilmunya yang paling dahsyat,” desis Ki Waskita.

“Tuhan telah memberikan petunjuk, bagaimana aku harus melawan ilmunya yang luar biasa itu. Namun ternyata bahwa dengan keteguhan hati, ilmunya itu dapat diabaikan,” jawab Agung Sedayu.

Ki Gede dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Ternyata bahwa kemajuan yang dicapai Agung Sedayu pada saat-saat terakhir merupakan satu langkah yang cukup panjang dalam ilmu kanuragan.

“Marilah,” berkata Ki Waskita, “kau perlu beristirahat.”

“Bagaimana dengan Ajar Tal Pitu?” bertanya Agung Sedayu, “nampaknya aku telah terpaksa membunuh lagi kali ini.”

Ki Gede dan Ki Waskita pun kemudian mendekati tubuh Ajar Tal Pitu yang terbaring diam. Sebenarnyalah Ajar Tal Pitu telah meninggal. Ia telah menebus dendamnya dengan kematian. Dendam yang didorong oleh ketamakannya untuk menerima upah bagi kematian Agung Sedayu dari Ki Pringgajaya.

“Aku akan mengurusnya,” berkata Ki Gede kepada Ki Waskita, “silahkan Ki Waskita membawa Agung Sedayu kembali. Biarlah ia beristirahat lebih dahulu.”

“Tidak Ki Gede,” jawab Agung Sedayu, “biarlah aku disini. Aku sudah merasa tubuhku semakin segar. Barangkali sebaiknya dipanggil anak-anak muda yang dapat membantu mengurus mayat Ki Ajar Tal Pitu.”

Ki Gede termangu-mangu. Sementara itu, di antara anak-anak muda yang melihat perang tanding itu dari kejauhan, ternyata ada juga yang memiliki keberanian untuk mendekati Ki Gede dan Ki Waskita. Ketika mereka melihat bahwa Ki Gede dan Ki Waskita nampaknya sudah yakin bahwa Ajar Tal Pitu tidak berbahaya lagi, maka dua orang anak muda telah berlari-lari mendapatkannya.

Langkah mereka telah mengejutkan Ki Gede dan Ki Waskita, sementara jantung Prastawa hampir terlepas karenanya.

Anak-anak muda itu dengan terengah-engah mendekati mereka yang berada dibawah randu alas yang rimbun itu. Sementara Ki Gede yang mengenali mereka segera bertanya, “Ada apa?”

Anak-anak muda itu pun kemudian mengatakan bahwa mereka telah melihat perang tanding itu, “beberapa kawan, kami masih berada dipersembunyian kami, dibalik gerumbul-gerumbul itu. Ada di antara mereka yang masih belum sadar.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Pingsan. Kami menjadi ketakutan melihat apa yang telah terjadi. Dan kami tidak tahu, kenapa kami menjadi gemetar mendengar orang ini tertawa,” jawab anak muda itu.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Segalanya telah selesai. Adalah menjadi kewajiban kalian untuk mengurus mayat ini. Baiklah kita membawanya ke banjar padukuhan terdekat. Besok kita akan menguburnya. Panggillah kawan-kawanmu yang tidak pingsan. Aku akan melihat, siapa saja yang masih belum sadar.”

Ki Gede pun kemudian mengikuti anak-anak muda itu untuk melihat, siapakah yang masih pingsan di antara mereka.

Dalam pada itu, dari kejauhan Ki Pringgajaya yang untuk beberapa saat memperhatikan tingkah laku anak-anak muda itu pun segera melangkah pergi. Anak-anak itu agaknya telah menarik perhatiannya. Bahkan telah menggelitik hatinya untuk melakukan sesuatu atas mereka untuk mengurangi sakit hatinya. Namun kehadiran Ki Gede di antara mereka, tentu akan berakibat lain.

Dengan pengalamannya yang luas, akhirnya Ki Gede berhasil membantu dua orang anak muda yang masih pingsan. Akhirnya keduanya itu pun segera menjadi sadar. Namun masih ada kesan ketakutan di hati mereka.

“Jangan takut,” berkata Ki Gede, “aku ada disini. Ki Waskita berada di bawah randu alas itu bersama Agung Sedayu yang telah berhasil membunuh lawannya.”

Namun bagaimanapun juga terasa ketakutan itu masih mencengkam jantung mereka.

Oleh Ki Gede anak-anak muda itu dibawanya ke randu alas. Mereka pun kemudian membawa tubuh Ajar Tal Pitu ke banjar padukuhan terdekat. Namun demikian, ada juga di antara anak-anak muda itu yang menyentuh mayatnya pun tidak berani.

Sementara itu, karena keadaan tubuh Agung Sedayu, maka ia telah mengikuti anak-anak muda itu di punggung kudanya.

Demikianlah, maka akhirnya sekitar randu alas itu pun menjadi sepi. Yang ada kemudian adalah bangkai-bangkai anjing hutan yang terbunuh berserakan. Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh pun mendapat tugas di keesokan harinya untuk mengubur bangkai-bangkai itu agar tidak menimbulkan persoalan tersendiri.

Tidak terlalu banyak orang yang menyaksikan apa yang terjadi di bawah randu alas itu. Dan di antara yang sedikit itu, beberapa orang tidak melihat apa yang telah terjadi karena mereka menjadi pingsan. Namun demikian ketika kemudian anak-anak muda itu kembali ke padukuhan mereka, berita tentang peristiwa itu pun mulai merambat dari seorang kepada orang lain.

Dalaum keadaan yang masih lemah. Agung Sedayu berada di banjar padukuhan terdekat dengan randu alas itu, sementara mayat Ajar Tal Pitu pun terbaring di banjar itu pula. Tidak ada yang aneh pada mayat orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu. Sebagaimana orang-orang lain yang telah meninggal. Diam, membeku. Betapapun keajaiban pernah dilakukan pada masa hidupnya, tetapi yang pernah dilakukan itu masih tetap dalam bingkai keterbatasan.

Ketika fajar mulai mengoyak gelapnya malam, maka seolah-olah seluruh Tanah Perdikan telah mendengar, apa yang pernah dilakukan oleh Agung Sedayu. Heran, kagum dan bangga serasa telah memenuhi dada anak-anak muda itu. Agung Sedayu bagi mereka adalah anak muda yang baik dan selalu dekat dengan mereka dalam kerja. Ternyata anak muda itu memiliki ilmu yang tidak dapat mereka bayangkan.

Sementara itu, Prastawa tidak tahu lagi, bagaimana ia harus bersikap terhadap Agung Sedayu. Sekali-sekali ia pun teringat, bahwa ia bersama dengan kawan-kawannya pernah memukuli Agung Sedayu sampai anak muda itu terjatuh. Tetapi, apakah arti dari perbuatannya itu setelah ia melihat, betapa Agung Sedayu mampu bertempur melawan Ajar Tal Pitu dalam pertarungan ilmu yang dahsyat dan tidak dapat dimengertinya.

Hari yang baru itu telah memanggil anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh untuk melakukan kerja yang sibuk. Sebagian dari mereka mengurusi tubuh Ajar Tal Pitu yang harus dikubur sebagaimana layaknya. Sedangkan yang lain telah pergi ke daerah sekitar Randu Alas yang besar itu untuk mengumpulkan dan kemudian mengubur pula sekelompok anjing hutan yang telah dipergunakan oleh Ajar Tal Pitu untuk mengacaukan pemusatan ilmu Agung Sedayu. Namun di antara anjing-anjing hutan itu sama sekali tidak terdapat anjing hutan raksasa yang selalu melolong sambil memandang bulan yang bulat.

Baru setelah segalanya selesai, maka Agung Sedayu yang terluka dibagian dalam tubuhnya itu, meninggalkan banjar padukuhan yang terdekat dengan randu papak. Bersama Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh serta Prastawa, Agung Sedayu berkuda ke rumah Ki Gede Menoreh.

Di sepanjang jalan, anak-anak muda telah menyambutnya sebagaimana mereka menyambut seseorang yang telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, ternyata keadaan luka Agung Sedayu tidak terlalu parah, sebagaimana pernah terjadi di Jati Anom. Dengan obat yang ada, terasa tubuhnya menjadi semakin segar. Bahkan bagi orang lain yang tidak menyaksikan apa yang pernah terjadi, maka tidak nampak bahwa Agung Sedayu itu terluka dibagian dalam tubuhnya.

Namun, sejalan dengan menjalarnya kabar tentang peristiwa yang pernah terjadi di bawah randu alas itu, maka semakin banyak anak muda yang telah datang menengoknya dari berbagai padukuhan. Dari padukuhan yang paling dekat dengan randu alas itu, sampai dengan padukuhan yang paling jauh. Mereka menyatakan kekaguman mereka terhadap kemampuan ilmu Agung Sedayu yang telah berhasil mengimbangi ilmu lawannya yang luar biasa, sehingga hampir tidak dapat dipercaya, bahwa hal itu pernah terjadi.

Kekaguman orang-orang Tanah Perdikan Menoreh tidak saja disebabkan oleh ceritera dari beberapa orang yang menyaksikan sendiri apa yang telah terjadi. Namun Tanah Perdikan itu telah digemparkan oleh kenyataan, bahwa pada hari-hari berikutnya, ternyata pohon randu alas yang besar dan berumur berpuluh tahun itu menjadi layu. Daun-daunnya menjadi kekuning-kuningan. Kemudian satu demi satu rontok berjatuhan.

“Luar biasa,” desis anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh, “ternyata Agung Sedayu benar-benar seorang yang mumpuni. Ia seolah-olah mempunyai perbawa yang tidak terlawan. Bukan saja oleh Ajar Tal Pitu, tetapi juga oleh randu alas raksasa itu.”

Ternyata bahwa panas yang terlontar baik dari Ajar Tal Pitu, maupun Agung Sedayu telah membunuh randu papak itu. Daunnya menjadi layu, dan ranting-rantingnya pun menjadi kering, sehingga randu alas yang disebut randu papak itu pun kemudian menjadi mati. Pohon yang menjulang dengan batang, cabang dan ranting yang mengering itu seolah-olah menjadi perlambang kegagalan usaha orang-orang yang ingin membuat Tanah Perdikan Menoreh menjadi ringkih dan tidak berdaya. Satu-satu ranting itu berpatahan. Kemudian cabangnyapun runtuh sebatang demi sebatang. Yang tinggal kemudian hanyalah pokoknya saja yang tegak namun telah kering.

Sementara itu, keadaan Agung Sedayu sudah menjadi berangsur pulih kembali. Pada hari-hari biasa, ia sudah berada di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh yang semakin mengaguminya.

Seperti yang dilakukan sebelum ia berhadapan dengan Ajar Tal Pitu, maka Agung Sedayu selain memberikan tuntunan kerja di segala lapangan, ia pun telah membimbing beberapa orang anak muda terpenting di Tanah Perdikan Menoreh dalam olah kanuragan.

Dari hari kehari semakin nyata kelihatan, hasil dari kehadiran Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun semuanya itu dicapai bukan karena hasil kerja Agung Sedayu semata-mata, tetapi juga karena hadirnya Agung Sedayu itu bagaikan menjadi tanda waktu bagi rakyat Tanah Perdikan Menoreh sendiri untuk bangun dari tidur yang lelap.

Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita pun tidak luput dari kekagumannya melihat anak muda yang rendah hati itu. Bahwa randu alas yang besar itu pun kemudian menjadi mati dan kering, sebenarnyalah telah membuat Ki Gede menjadi heran tetapi juga kagum.

Meskipun demikian, tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak berubah karenanya. Ia sama sekali tidak menunjukkan kepada anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh, bahwa ia adalah seorang anak muda yang luar biasa. Yang jarang dicari bandingnya.

Namun dalam pergaulan sehari-hari, Agung Sedayu masih tetap sebagaimana Agung Sedayu. Jika ia berada di antara anak-anak muda yang membuat bendungan, maka ia pun tidak segan-segannya ikut serta mengangkat brunjung-brunjung yang berisi batu. Kemudian menyisipkan sangkrah di antara brunjung-brunjung itu sebelum ditimbum dengan tanah dan pasir.

Di malam hari, bersama anak-anak muda yang dianggapnya paling baik mewakili kawan-kawannya. Agung Sedayu memberikan tuntunan dalam olah kanuragan. Para pengawal yang sudah mulai bangkit lagi, telah berlatih semakin tekun. Sementara itu, anak-anak muda itu pun telah memberikan tuntunan kepada kawan-kawan mereka yang lain di padukuhan-padukuhan.

Dengan demikian, maka langkah mundur yang dialami oleh Tanah Perdikan Menoreh selangkah demi selangkah telah diperbaiki. Dari beberapa segi tatanan kehidupan Tanah Perdikan Menoreh telah berhasil menutup kekurangannya. Parit yang kering telah menjadi basah kembali. Jalan-jalan yang menjadi sendi hubungan antara padukuhan telah diperkeras. Bahkan, kekuatan pokok Tanah Perdikan dengan sekelompok pengawal pilihan telah dipulihkan kembali. Agung Sedayu telah memilih anak-anak muda, yang kebanyakan tersebar, untuk menjadi inti kekuatan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu antara dirinya dengan Prastawa, maka Agung Sedayu telah meminta kepada Prastawa agar bersedia memimpin kekuatan inti Tanah Perdikan ini.

Karena permintaan Agung Sedayu itu diperkuat oleh Ki Gede Menoreh, maka Prastawa tidak dapat mengelak. Agaknya memang menjadi kewajibannya untuk secara langsung memimpin anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi kehadiran Agung Sedayu telah memalingkan perhatian anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu daripadanya.

Tetapi Prastawa tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa Agung Sedayu memang memiliki kelebihan yang sangat jauh daripadanya yang semula menganggap bahwa ia akan dapat memaksa Agung Sedayu untuk berlutut dihadapannya.

Apalagi setelah ia melihat sendiri bagaimana Agung Sedayu menghadapi orang yang disebut Ajar Tal Pitu. Ia melihat sendiri betapa dahsyatnya ilmu Ajar Tal Pitu yang seolah-olah dapat memecah diri menjadi tiga orang. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu berhasil melawan ketiganya dan membinasakannya.

Dalam pada itu yang juga tidak dapat dibantah, kenyataan betapa dahsyatnya perang tanding dibawah pohon randu alas itu ialah bahwa randu alas yang dikenal sebagai randu papak itu telah menjadi kering dan mati.

Tetapi dalam keadaan yang bagaimanapun juga, rasa-rasanya ada yang masih saja bergejolak didalam hatinya menghadapi kenyataan itu. Ia merasa kagum dan heran terhadap kemampuan ilmu Agung Sedayu, tetapi didalam lubuk hatinya yang paling dalam justru berkembang perasaan kurang mapan, atas kehadiran dan hubungannya dengan Agung Sedayu untuk selanjutnya. Perasaan bersalah, kecil dan tidak berarti terasa sangat mengganggunya. Namun tidak ada dorongan didalam dirinya untuk mendapatkan keberanian minta maaf kepada anak muda yang datang dari Jati Anom itu.

Dengan demikian, maka hubungan antara kedua anak muda itu masih selalu terasa sebuah tirai yang membatasi, betapapun tirai itu tidak dapat dinyatakan dengan tegas.

Ki Gede Menoreh pun merasakan keterbatasan hubungan antara keduanya. Namun ia berharap bahwa pada suatu saat hubungan mereka akan menjadi semakin akrab.

Sementara itu, dengan keadaan yang demikian, kedua anak muda itu memimpin Tanah Perdikan Menoreh. Namun Prastawa masih saja membawa cara hidupnya yang lama di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun ia telah dibebani tugas untuk memimpin pasukan pengawal terpilih di Tanah Perdikan Menoreh, namun ia masih tetap mempunyai beberapa kawan terdekat. Beberapa orang anak muda masih tetap merupakan kelompok yang seolah-olah terpisah dari kawan-kawannya yang lain di mata Prastawa. Seperti yang terbiasa dilakukan, anak-anak muda itu mendapat perlakuan khusus dari padanya. Kadang-kadang bahkan Prastawa telah memberikan uang kepada mereka, atau apapun juga yang dapat mengikat mereka untuk menjadi kawan-kawannya yang paling akrab. Justru mereka bukan anak-anak muda yang terpilih menjadi pasukan pengawal khusus yang harus dipimpinnya.

Meskipun demikian, namun pasukan pengawal terpilih itu dapat berkembang terus.

Ki Gede sendiri telah membimbing Prastawa untuk tetap berada pada kedudukannya. Meskipun kadang-kadang masih juga harus diperingatkan dengan keras, namun lambat laun, Prastawa terbiasa pula dalam kedudukannya. Apalagi ketika ia sadar, bahwa anak-anak muda yang tergabung dalam pasukan pengawal khusus itu ilmunya menjadi semakin meningkat. Kecerdasan mereka menanggapi keadaannya telah berbeda dan yang penting mereka telah melihat satu kenyataan dihadapan mata mereka tentang Tanah Perdikan Menoreh yang maju selangkah demi selangkah, meskipun masih belum dapat mengimbangi keberhasilan Swandaru membina Kademangannya, Agung Sedayu sempat merenungi dirinya sendiri.

Kadang-kadang, dengan Ki Waskita dan Ki Gede ia berusaha mengurai peristiwa yang baru saja terjadi. Kematian Ajar Tal Pitu tentu bukan peristiwa yang paling akhir yang harus dihadapinya.

Tetapi Agung Sedayu harus melihat, apakah benar kehadiran Ajar Tal Pitu itu hanyalah karena dendam semata-mata. Agung Sedayu tahu bahwa keterlibatan anak-anak dari padepokan Tal Pitu di Jati Anom, terutama diarahkan kepada Untara dan orang-orang yang pada waktu itu pergi bersamanya ke Sangkal Putung.

“Kita melihat, tangan-tangan orang-orang Pajang yang termasuk kedalam kelompok mereka yang ingin mengembalikan satu masa kejayaan Majapahit dengan citra mereka dan bagi kepentingan mereka sendiri terlibat langsung kedalamnya,” berkata Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Ia pun telah mendapat penjelasan selengkapnya tentang apa yang terjadi di Jati Anom itu dengan segala macam latar belakangnya.

“Ada yang memanfaatkan dendam itu,” berkata Ki Gede.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka saling memanfaatkan keadaan bagi kepentingan masing-masing.”

“Itulah yang berbahaya,” desis Agung Sedayu, “dengan demikian maka kadang-kadang mereka tidak lagi mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang wajar.”

“Aku kira, kehadiran Ajar Tal Pitu tidak sendiri. Seandainya sendiri, maka kematiannya tentu sudah didengar oleh orang-orang yang berkepentingan dengan orang itu, langsung atau tidak langsung.”

“Hal ini perlu diketahui oleh angger Untara,” desis Ki Waskita.

“Guru juga perlu mengetahuinya,” desis Agung Sedayu.

Ki Waskita dan Ki Gede pun mengangguk-angguk.

“Aku sudah cukup beristirahat,” berkata Agung Sedayu, “luka-luka dibagian dalam tubuhku telah sembuh sama sekali. Karena itu, jika diperkenankan, aku akan pergi barang dua tiga hari untuk memberitahukan hal ini kepada kakang Untara dan kepada guru. Mungkin juga penting bagi Swandaru. Karena sangkut-pautnya dengan aku. Bukan saja sebagai saudara seperguruan, tetapi dalam hubungan kami dengan Mataram.”

“Kita akan pergi bersama-sama,” berkata Ki Waskita.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Jika Ki Waskita pergi bersamanya, maka tidak ada lagi yang akan mengawasi Ki Gede dalam kerja. Justru Tanah Perdikan Menoreh sedang mulai dengan kesibukan-kesibukannya.

Tetapi karena rencana kepergian mereka hanya dua atau tiga hari, maka agaknya tidak akan terlalu banyak mengganggu pekerjaan di Tanah Perdikan itu.

Akhirnya didalam pembicaraan itu telah diputuskan, esok hari Agung Sedayu akan pergi bersama Ki Waskita ke Jati Anom.

“Aku kira, selama kalian pergi, aku dan Prastawa akan melakukan pekerjaan di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Gede Menoreh, “meskipun barangkali kami tidak dapat berbuat setangkas Angger Agung Sedayu, namun tentu saja kami akan berbuat sebaik-baiknya.”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “yang aku lakukan tidak lebih baik dari yang Ki Gede lakukan. Dua atau tiga liari lagi aku sudah berada di Tanah Perdikan ini jika tidak ada halangan suatu apa.”

“Mudah-mudahan segalanya berjalan rancak,” sahut Agung Sedayu, “dan mudah-mudahan tidak ada gangguan apapun di perjalanan.”

Namun dalam pada itu, ketika matahari semakin condong ke Barat, tiba-tiba saja Tanah Perdikan itu dikejutkan oleh hadirnya seorang tamu. Dengan tergopoh-gopoh Ki Gede menyongsong tamunya turun ke halama dan mempersilahkannya naik ke pendapa.

“Silahkan Raden,” Ki Gede mempersilahkannya.

Tamunya mengangguk hormat sambil menjawab, “terima kasih Ki Gede.”

Keduanya pun kemudian duduk di pendapa. Agung Sedayu dan Ki Waskita pun segera diberi tahu bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Keduanya pun kemudian ikut menemui tamunya yang di kawani oleh dua orang pengawalnya.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka akhirnya Ki Gede pun bertanya, “Raden, apakah kedatangan Raden ini sekedar melihat keadaan, atau memang ada satu keperluan yang mendesak sehingga Raden memerlukan datang sendiri ke Tanah Perdikan ini.”

“Tidak ada satu kepentingan yang khusus Ki Gede,” jawab Raden Sutawijaya, “namun aku hanya sekedar ingin menyampaikan selamat, bahwa Agung Sedayu telah berhasil melawan dan bahkan membinasakan Ajar Tal Pitu.”

“Raden sudah mengetahuinya?” bertanya Ki Gede.

“Aku sudah mendapat laporan. Bukankah hal itu sudah diketahui oleh setiap orang? Orang orangku pun telah mendengarnya. Di tempat penyeberangan, orang-orang membicarakannya. Tukang-tukang satang, dan orang-orang yang menyeberang ke sebelah Timur Kali Pragapun membawa berita ini pula,” jawab Raden Sutawijaya, “karena itu, maka aku pun sudah mendengarnya.”

“Tuhan masih melindungi aku,” desis Agung Sedayu.

“Ya,” sahut Raden Sutawijaya, “tetapi bukan berarti bahwa kau tidak berusaha.”

“Aku memang hanya sekedar berusaha, sebagaimana yang dapat dilakukan oleh seseorang. Tetapi segalanya tergantung kepada Yang Maha Agung juga akhirnya,” sahut Agung Sedayu.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia sudah mengenal Agung Sedayu dengan segala macam sifat-sifatnya.

Namun dalam pada itu, maka Raden Sutawijaya pun bertanya, “Apakah menurut pendapatmu, hal ini merupakan satu peristiwa yang berdiri sendiri? Dendam atau semata-mata kepentingan Ajar Tal Pitu yang pernah kecewa di Jati Anom?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga bahwa kepentingan Raden Sutawijaya tentu lebih banyak ditujukan kepada persoalannya. Bukan pada benturan antara Ajar Tal Pitu dan Agung Sedayu itu sendiri, sehingga akhirnya Ajar Tal Pitu telah terbunuh.

“Raden,” berkata Agung Sedayu, “baru hari ini aku berniat untuk pergi ke Jati Anom. Hal ini sudah aku nyatakan kepada Ki Gede, dan aku pun telah mendapat persetujuan bahwa besok aku akan menemui guru dan Swandaru.”

“O,” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku kira ada juga baiknya. Mungkin gurumu mempunyai wawasan yang luas tentang persoalan yang sedang kau hadapi ini dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.”

“Ya. Peristiwa ini tentu tidak berdiri sendiri,” jawab Agung Sedayu, “karena aku dan Ajar Tal Pitu pernah juga bertemu di Jati Anom.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Itulah sebabnya, aku ingin menemuimu setelah aku mendengar laporan tentang kematian Ajar Tal Pitu.”

“Apakah ada hubungannya langsung dengan Raden atau dengan Mataram,” bertanya Agung Sedayu.

“Aku tidak akan dapat menyembunyikannya lagi,” jawab Raden Sutawijaya, “hubungan antara Pajang dan Mataram menjadi semakin buruk. Ayahanda semakin tenggelam kedalam cengkaman penyakitnya dan menjadi semakin tidak sempat melihat persoalan-persoalan yang berkembang diluar biliknya.”

Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Seperti Ki Juru Martani, keduanya tidak tahu, kenapa Raden Sutawijaya tidak mau langsung masuk kedalam bilik ayahandanya dan menerima perintah untuk memperbaiki keadaan. Apalagi jika Raden Sutawijaya berhasil mengajak Pangeran Benawa bersamanya. Bagaimanapun juga kedua orang itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan keadaan pada saat-saat yang gawat.

Tetapi agaknya keduanya lebih senang berada di luar istana, dalam satu lingkungan dan sikap yang berbeda.

“Karena itu,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “rencanamu untuk pergi ke Jati Anom adalah baik sekali. Namun kedatanganku ke Tanah Perdikan ini, aku katakan atau tidak aku katakan, tentu sudah dapat ditangkap maksudnya, dalam hubungannya dengan keadaan yang semakin memburuk.”

Agung Sedayu, Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita pun mengangguk-angguk. Sebenarnyalah mereka sudah mengerti, apa yang dimaksud oleh Raden Sutawijaya.

Pajang yang dikendalikan oleh orang-orang tertentu, karena Sultan Hadiwijaya sendiri seakan-akan telah kehilangan gairah untuk memerintah itu menjadi semakin keras berusaha menekan Mataram yang tumbuh. Karena bagi mereda, nampaknya Mataram menjadi tumpuan kekuatan baru yang akan dapat menggeser kedudukan Pajang.

Sebenarnyalah bahwa Sutawijaya menganggap. Pajang tidak akan mungkin dapat diperbaiki. Terlalu banyak orang yang lebih senang memanjakan angan-angannya daripada berpijak kepada kenyataan keadaan rakyat Pajang yang sebenarnya. Sekelompok orang-orang yang bercita-cita untuk membangun satu masa kejayaan hanya dengan mimpi. Orang-orang yang demikian justru tidak segan-segan menyingkirkan orang-orang yang dengan jujur menunjukkan kepada mereka, bahwa sudah saatnya mereka terbangun dari mimpinya yang nikmat. Namun mereka harus menyingsingkan lengan baju dan bekerja dengan tekun untuk mencapai satu keadaan yang lebih baik sebagaimana dikehendaki.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya pun kemudian berkata, “Agung Sedayu, jika kau sempat, aku berharap bahwa kau besok singggah barang sekejap di Mataram. Aku akan menunjukkan kepadamu, apa yang sudah aku kerjakan. Terserah atas penilaianmu, apakah yang aku lakukan itu baik atau buruk. Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk mengatasi keadaan yang menurut pendapatmu menjadi semakin memburuk ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kearah Ki Waskita, maka Ki Waskita itu pun mengangguk mengiakannya.

“Raden,” berkata Agung Sedayu kemudian, “baiklah. Aku akan singgah besok, meskipun barangkali tidak terlalu lama.”

adbm-148-03“Terima kasih. Besok aku menunggu. Mudah-mudahan kau tidak terhambat di perjalanan, karena tidak mustahil orang-orang yang mempersiapkan kehadiran Ajar Tal Pitu di Tanah Perdikan ini mempunyai rencana lain,” sahut Raden Sutawijaya.

Nampaknya Raden Sutawijaya memang tidak mempunyai kepentingan lain kecuali ingin mempersilahkan Agung Sedayu singgah. Namun dengan demikian ia berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk waktu yang cukup lama, meskipun Raden Sutawijaya itu tidak bermalam.

Sepeninggal Raden Sutawijaya dari Tanah Perdikan Menoreh, maka Ki Gede, Ki Waskita dan Agung Sedayu sempat mengurai persoalan yang sedang berkembang. Mereka harus melihat satu kenyataan bahwa hubungan antara Pajang dan Mataram menjadi semakin buruk.

“Satu peringatan dari Raden Sutawijaya kepada Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Gede, “saatnya sekarang bagi Tanah ini menentukan sikap dengan pasti. Jika kami memilih untuk terlibat kedalam usaha menegakkan Mataram, maka kita harus bersiap disini.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu satu usaha yang berat. Ki Gede tahu, bahwa Pajang mungkin masih mempergunakan pengaruhnya atas nama Sultan Hadiwijaya meskipun barangkali Sultan itu sendiri tidak mengetahui. Kekuatan dari daerah Timur tidak dapat diabaikan. Pesisir Utara masih juga berada dibawah pengaruh Pajang.”

“Tetapi sebagian dari mereka tentu menyadari apa yang mereka hadapi,” berkata Ki Gede, “karena para Adipati itu pun tentu memiliki pertimbangan dan pengamatan yang tajam terhadap keadaan dalam keseluruhan. Bahkan kita tidak akan dapat ingkar dari penglihatan kita, bahwa ada Adipati yang memang sedang menunggu saatnya, kapan mereka dapat memisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai satu pusat pemerintahan yang tidak tergabung pada ikatan-ikatan yang mereka anggap dapat membatasi kekuasaan mereka.”

Ki Waskita menganguk-angguk. Sentuhan dalam hubungan pemerintahan tentu akan lebih peka pada Ki Gede Menoreh yang dalam ujud yang bagaimanapun juga, termasuk salah seorang yang memimpin pemerintahan. Dan sebenarnyalah Tanah Perdikan Menoreh adalah satu Tanah Perdikan yang cukup luas, meskipun terlalu kecil dibanding dengan sebuah Kadipaten.

Meskipun demikian, jika Ki Gede berhasil dengan rencananya, maka Tanah Perdikan Menoreh akan mempunyai kekuatan yang cukup mengejutkan disamping Kademangan Sangkal Putung yang lebih sempit dari Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi bukan berarti bahwa Raden Sutawijaya akan dapat mengabaikan kekuatan para Adipati yang masih terikat kepada Pajang.

Demikianlah, maka Ki Waskita dan Agung Sedayu pun telah sepakat untuk singgah dan melihat sendiri apa yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya. Namun sebenarnyalah bagi keduanya sudah jelas, bahwa Raden Sutawijaya tentu sudah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Gede, “masih ada waktu satu malam bagi angger sebelum berangkat untuk memberikan pesan-pesan kepada para pengawal.”

“Aku sudah membagi mereka dalam kelompok-kelompok latihan Ki Gede,” jawab Agung Sedayu, “meskipun aku tidak ada ditempat, tetapi latihan-latihan itu akan tetap berjalan sebagaimana seharusnya.”

“Bagus,” sahut Ki Gede, “selama dua tiga hari ini, aku akan melihat-lihat mereka bersama Prastawa. Mengingat pesan Raden Sutawijaya, maka kita sudah harus mulai dengan satu sikap.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia memang sependapat. Nampaknya persoalan yang dihadapi Raden Sutawijaya menjadi semakin bersungguh-sungguh.

Malam itu Agung Sedayu masih sempat berada bersama para pengawal khusus di halaman rumah Ki Gede. Ia masih sempat memberitahukan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pengawal itu pada dua atau tiga hari mendatang.

“Segalanya harus ditingkatkan,” berkata Agung Sedayu, “peristiwa yang baru saja terjadi itu menjadi peringatan bagi kita, bahwa kita memang harus bersiaga. Kali ini yang datang hanyalah seseorang. Namun mungkin pada saat yang lain akan datang dua tiga orang, bahkan mungkin sepasukan yang kuat.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa mereka adalah pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Pada suatu saat mereka tidak hanya sekedar mengintip peristiwa seperti yang terjadi di bawah pohon randu alas itu, namun mereka akan terlibat langsung.

Namun para pengawal itu agak kurang mengerti dengan sikap Prastawa. Ada sesuatu yang terselip didalam hati anak muda itu. Tetapi agaknya ia tidak dapat menyampaikan kepada siapapun. Juga kepada Ki Gede sendiri.

Beberapa orang anak muda yang pernah mendengar bahwa Prastawa pernah berbuat kasar terhadap Agung Sedayu menduga bahwa Prastawa merasa dirinya bersalah, sehingga ia menjadi sangat segan terhadap Agung Sedayu. Apalagi setelah mengetahui, bahwa kemampuan Agung Sedayu berada jauh diatas tingkat kemampuannya. Jika pada saat Prastawa itu bertindak kasar Agung Sedayu menjadi marah, maka akibatnya akan sangat gawat bagi Prastawa sendiri. Namun agaknya Agung Sedayu membiarkannya, sehingga dengan demikian Prastawa dibebani oleh penyesalan.

Meskipun demikian, pada malam itu juga Agung Sedayu telah menemui anak muda kemanakan Ki Gede itu. Bagaimanapun juga Prastawa adalah anak muda yang memiliki ilmu paling baik di antara kawan-kawannya di Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu Prastawa adalah pemimpin pengawal khusus di Tanah Perdikan Menoreh.

Kepada anak muda itu Agung Sedayu pun memberikan beberapa pesan khusus. Pasukan yang dipimpinnya itulah yang merupakan pasukan yang harus dapat mengatasi segala masalah yang sudah tidak dapat diatasi oleh para pengawal Tanah Perdikan itu, termasuk para pengawal di padukuhan-padukuhan.

“Masalahnya berkembang dengan cepat,” berkata Agung Sedayu.

Prastawa hanya mengangguk-angguk saja. Namun ia merasa bahwa ia tidak akan dapat ingkar dari kewajiban itu. Pamannya telah menekankannya pula untuk melakukan tugas itu sebaik-baiknya. Apalagi justru setelah perkembangan Tanah Perdikan Menoreh sudah mulai nampak selangkah demi selangkah maju, sementara susunan tugas-tugas para pengawal telah tersusun menurut tatarannya.

Demikianlah, maka Agung Sedayu pun telah minta diri kepada para pengawal barang dua tiga hari. Ia tidak mengatakan kepada para pengawal kepentingannya yang sebenarnya. Ia hanya mengatakan, bahwa ia sudah merasa rindu kepada gurunya, saudara-saudaranya dan para penghuni padepokannya.

Seperti yang direncanakan, maka pada pagi hari berikutnya Agung Sedayu dan Ki Waskita pun meninggal kan Tanah Perdikan Menoreh untuk waktu yang pendek. Namun dalam keadaan yang gawat, maka waktu yang pendek itu cukup mendebarkan. Bukan saja bagi Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga perjalanan yang akan ditempuh oleh Agung Sedayu dan Ki Waskita. Meskipun keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang mapan, namun seperti yang selalu dikatakan oleh Agung Sedayu, bahwa manusia itu selalu berada dalam keterbatasan.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu dan Ki Waskita tidak mendapat gangguan apapun di perjalanan, sehingga ia menyeberang Kali Praga dan kemudian menginjakkan kakinya didaerah kekuasaan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

Semula Agung Sedayu dan Ki Waskita tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian di Mataram. Namun kemudian mereka mulai menyadari bahwa ternyata daerah Mataram telah diwarnai oleh kesiagaan yang lebih tinggi.

Di beberapa tempat Agung Sedayu dan Ki Waskita merasa, bahwa keduanya selalu di awasi. Namun para petugas yang mengawasi keduanya tidak bertindak sesuatu, selain sekedar mengawasi.

“Nampaknya Mataram benar-benar telah bersiap-siap,” desis Ki Waskita.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia pun melihat orang-orang yang justru menarik perhatiannya. Bahkan ada di antara mereka yang perlu mendapat peringatan, bahwa mereka telah menjalankan tugas mereka dengan cara yang kurang baik, sehingga dengan mudah dapat dikenali oleh orang lain, apa yang sedang mereka lakukan.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Agung Sedayu tertegun sambil berdesis, “Aku mengenal orang itu.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Dilihatnya seseorang yang duduk dibawah sebatang pohon asam di pinggir jalan. Disampingnya terdapat sebuah bungkusan kecil, yang memberikan kesan bahwa orang itu sedang beristirahat.

Agaknya orang itu pun telah melihat Agung Sedayu. Karena Agung Sedayu memperhatikannya, dan agaknya telah mengenalinya, maka orang itu pun tersenyum sambil bangkit berdiri. Beberapa langkah ia maju mendekati Agung Sedayu dan Ki Waskita yang menghentikan kudanya. Tetapi keduanya tidak meloncat turun.

“Aku memang bertugas disini,” berkata orang itu sambil tertawa ketika dilihatnya Agung Sedayu pun tertawa, “aku tidak dapat mengelak, karena kau mengenaliku.”

“Kita sudah sering bertemu jika aku menghadap Raden Sutawijaya di rumahnya,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Dan aku pun mengenalmu. He, apakah kau akan pergi ke Jati Anom?” bertanya orang itu.

“Ya. Dan aku akan singgah di Mataram,” jawab Agung Sedayu.

“Senapati ada di rumahnya. Bukankah kemarin ia pergi ke Tanah Perdikan Menoreh?” orang itu pun bertanya pula.

“Ya. Kami telah bertemu. Tetapi aku ingin singgah memenuhi permintaannya,” berkata Agung Sedayu.

“Silahkan. Senapati agaknya memang telah menunggumu,” jawab orang itu.

Namun Agung Sedayu sempat mengatakan kepada orang itu, bahwa beberapa orang kawannya terlalu bergairah dalam tugas mereka, sehingga justru mereka telah membuat dirinya sendiri dikenali orang.

Orang yang semula duduk dibawah pohon asam itu tersenyum. Katanya, “terima kasih. Akulah yang bertugas untuk memimpin mereka.”

Agung Sedayu juga tersenyum. Kemudian katanya, “Baiklah kami minta diri untuk melanjutkan perjalanan kami.”

“Silahkan. Aku akan menemui kawan-kawanku yang berhasil kau ketahui bahwa mereka telah mengawasimu dan barangkali orang-orang lainpun mengetahui pula bahwa mereka sedang diawasi. Aku harus segera memberi mereka peringatan, agar orang-orang yang benar-benar perlu pengawasan tidak segera mengenali orang-orang dungu itu.”

“Mungkin mereka terlalu bangga akan tugas-tugas mereka yang seharusnya dirahasiakan itu,” desis Agung Sedayu.

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Mungkin sekali.” Agung Sedayu pun tertawa pula. Kemudian bersama Ki Waskita keduanya meneruskan perjalanan mereka menuju ke pusat pemerintahan Mataram. Sementara itu, petugas sandi itu pun sambil bersungut-sungut melangkah kearah yang berlawanan untuk mencari kawan-kawannya yang kurang mengerti akan tugas masing-masing.

Dalam pada itu, sesaat kemudian Agung Sedayu dan Ki Waskita sudah memasuki gerbang kota Mataram. Kemudian mereka pun mengikuti jalan induk kota itu langsung menuju ke rumah Senapati Ing Ngalaga di Mataram.

Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Raden Sutawijaya. Sebagaimana sudah dimengerti, bahwa Agung Sedayu dan Ki Waskita akan datang pada hari itu.

Setelah berbincang sejenak tentang keadaan masing-masing, maka Raden Sutawijaya pun mulai berbicara tentang keadaan Mataram pada saat-saat terakhir. Dengan sungguh-sungguh Raden Sutawijaya berkata, “Pajang sudah mengirimkan utusannya sekali lagi untuk minta agar Ki Pringgabaya dan Ki Tandabaya yang masih ada di tempat ini diserahkan kepada Pajang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Ki Waskita bertanya, “Dan Raden tetap pada pendirian Raden?”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “aku tetap pada pendirianku. Keduanya akan mendapatkan keadilan di sini. Tidak di Pajang. Meskipun aku belum dapat mengatakan, kapan keadilan itu akan ditetapkan.”

Ki Waskita pun mengangguk-angguk. Namun ia sadar, bahwa hal itu tentu akan diulang lagi oleh Pajang. Bahkan mungkin Pajang akan mempergunakan masalah itu untuk membuka persoalan yang lebih luas.

Sementara itu, Raden Sutawijaya pun berkata lebih lanjut, “Selain kenyataan itu, maka petugas-petugas sandi di Pajang telah menemukan beberapa kenyataan, bahwa Pajang telah menyiapkan sepasukan prajurit khusus yang dapat digerakkan langsung oleh Panglimanya untuk segala kepentingan. Pasukan ini tidak berada didalam lingkungan kesatuan yang sudah ada di Pajang. Seolah-olah pasukan segelar-sepapan ini dibentuk khusus bagi maksud-maksud tertentu dengan cara tertentu untuk memotong jalur perintah dari Sultan Pajang yang turun kepada para Senapati, dengan memisahkan pasukan khusus itu. Sebenarnyalah para Senapati tidak lagi berkuasa atas pasukan itu, selain seseorang saja, yaitu Panglimanya.”

“Siapakah Panglima pasukan khusus itu?” bertanya Ki Waskita.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah yang sangat menarik perhatian. Panglima pasukan khusus yang terdiri dari prajurit pilihan segelar sepapan itu adalah Tumenggung Prabadaru.”

“He?” hampir berbareng Ki Waskita dan Agung Sedayu mengulang, “Tumenggung Prabadaru?”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “bukankah sangat menarik perhatian?”

“Siapakah yang mengangkat Tumenggung itu menjadi Panglima?” bertanya Ki Waskita.

“Kangjeng Sultan Pajang,” jawab Senapati Ing Ngalaga.

Ki Waskita dan Agung Sedayu saling berpandangan. Sementara itu Ki Waskita berkata, “Bukankah hal itu sangat menarik bagi Mataram. Kita tahu, siapakah Tumenggung Prabadaru dalam hubungannya dengan Ki Pringgajaya. Tumenggung itulah yang telah berusaha menyembunyikan Ki Pringgajaya dengan berita kematiannya.”

“Memang sangat menarik,” desis Raden Sutawijaya, “karena itulah maka kita disini harus mengambil satu kesimpulan dengan sikap Pajang itu.”

“Untuk itukah Raden mengharap kami singgah hari ini?” bertanya Ki Waskita kemudian.

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “aku tidak akan bersembunyi lagi. Masalahnya sudah semakin jelas. Bukankah dengan demikian aku pun harus mengimbanginya?”

“Raden juga akan membentuk satu pasukan khusus untuk mengimbangi kekuatan pasukan khusus dari Pajang itu?” bertanya Ki Waskita pula.

“Menarik sekali untuk melakukannya. Dan aku sudah tergelitik untuk menyusun pasukan khusus itu,” jawab Raden Sutawijaya, “tetapi nampaknya terlalu menyolok jika aku lakukan di sini. Seolah-olah aku langsung menjawab tantangan Pajang itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Sementara itu ia pun bertanya, “jadi apakah yang akan Raden rencanakan dalam hubungannya dengan pasukan khusus itu?”

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang. Kemudian katanya, “Sebenarnya aku masih ragu-ragu. Tetapi apaboleh buat. Aku tidak mempunyai waktu banyak sebelum pasukan khusus itu menghancurkan Mataram. Jika Ki Waskita dan Agung Sedayu ingin tahu, pasukan khusus itu terdiri dari beberapa golongan yang datang dari beberapa Kadipaten. Maksudnya jelas, bahwa Pajang seolah-olah masih mendapat dukungan yang kuat dari Kadipaten-Kadipaten itu. Namun aku tidak yakin, bahwa para Adipati di daerah Timur dan Utara mempercayai pembentukan pasukan khusus itu sebagai satu kebulatan.”

“Tetapi bukankah dengan demikian berarti pasukan itu sangat kuat. Selain dari kemampuan secara pribadi setiap orang didalam pasukan itu, juga jumlahnya yang cukup besar,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Karena itulah, maka aku harus memikirkannya dengan sungguh-sungguh untuk mengatasinya,” jawab Raden Sutawijaya.

Ki Waskita dan Agung Sedayu mengangguk-angguk. Mereka mulai mengerti arah pembicaraan Raden Sutawijaya yang ingin membentuk pasukan khusus sebagaimana yang ada di Pajang, tetapi ia tidak menghendakinya pasukan itu terbentuk di Mataram sehingga tidak akan menyolok dan terlalu langsung menjawab tantangan Pajang.

Seperti yang sudah mereka duga, maka Raden Sutawijaya pun berkata selanjutnya, “Karena itu Agung Sedayu, jika kau setuju, sebelum aku menyampaikannya kepada Ki Gede, meskipun kemarin aku sudah bertemu, aku ingin mendengar sikapmu.”

Agung Sedayu dan Ki Wsakita menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Raden Sutawijaya belum mengatakannya, tetapi keduanya dapat menangkap niat Raden Sutawijaya untuk membangun pasukan khusus itu dan sebagai ajang dipilihnya Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan demikian, maka Mataram sudah melibatkan Tanah Perdikan Menoreh langsung kedalam pergolakan antara Mataram dan Pajang. Namun bagaimanapun juga hal yang serupa itu pada akhirnya tidak akan dapat dihindari.

Nampaknya Raden Sutawijaya memang tidak akan memilih Sangkal Putung yang lebih dahulu menemukan bentuk kemantapan bagi para pengawalnya, karena justru Sangkal Putung terletak langsung dihadapan Mataram dalam garis hubungannya dengan Pajang.

Dalam pada itu, maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Bagaimanapun juga, akhirnya aku memang harus sampai pada sikap yang pasti dan tegas. Karena itulah aku tidak mempunyai pilihan lain dari menyusun alas kekuatan. Dan aku telah memilih Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu menjadi berdebar. Sudah barang tentu Raden Sutawijaya ingin mendengarkan pendapatnya. Apakah ia sependapat atau tidak. Dan barangkali malahan Raden Sutawijaya akan bertanya kepadanya, apakah ia bersedia ikut didalam pasukan itu.”

Tetapi Raden Sutawijaya terdiam untuk beberapa saat. Agaknya ia memang memberi kesempatan kepada Agung Sedayu untuk berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan.

“Sudahlah,” berkata Raden Sutawijaya lebih lanjut, “bukankah kau akan pergi ke Jati Anom. Pikirkan sepanjang perjalananmu. Aku mengerti bahwa kau harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang panjang dan berulang kali. Jika sekali aku menyebut namamu, berarti kau dalam keseluruhan. Kau sebagai murid Kiai Gringsing, kau sebagai kakak seperguruan Swandaru Geni dari Sangkal Putung, dan yang paling berat bagimu adalah, kau sebagai adik Untara.”

“Aku akan memikirkannya Raden,” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku sudah mengerti selengkapnya apa yang Raden maksudkan. Tentang pasukan khusus, tentang alas pembentukan yang Raden maksud dan tentang hubungannya dengan aku sendiri.”

“Terima kasih. Jika kau pergi ke Jati Anom, kau dapat membicarakannya dengan Kiai Gringsing. Bagiku sekarang, tidak ada waktu lagi untuk berpura-pura. Meskipun demikian, aku masih harus berhati-hati dengan segala langkah, agar aku tidak mempercepat bencana yang akan dapat menimpa Pajang, sebelum aku benar-benar masak untuk menghadapinya. Karena aku yakin, bahwa Pajang akan dihancurkan dari dalam oleh orang-orang Pajang sendiri. Karena itu aku harus bersiap-siap agar aku tidak akan ikut hancur bersama Pajang itu sendiri.”

Agung Sedayu memandang Ki Waskita sekilas. Dilihatnya Ki Waskita mengangguk-angguk. Agaknya Ki Waskita pun dapat menangkap bukan saja yang terungkap lewat kata-kata dan sikap Raden Sutawijaya, namun seolah-olah Ki Waskita dapat melihat tembus sampai kepusat jantungnya.

Karena itulah, maka tidak banyak lagi yang akan mereka perbincangkan. Agung Sedayu dan Ki Waskita pun menganggap untuk sementara kepentingannya singgah di Mataram telah selesai.

Dengan demikian maka Agung Sedayu pun segera minta diri. Bersama Ki Waskita ia masih akan melanjutkan perjalanan ke Jati Anom menemui gurunya untuk memberitahukan peristiwa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, namun sekaligus menyampaikan pesan Raden Sutawijaya bagi gurunya dan bagi Swandaru.

Raden Sutawijaya pun tidak berkeberatan. Setelah makan sepotong makanan dan seteguk minuman, maka Agung Sedayu dan Ki Waskita pun segera melanjutkan perjalanan mereka.

Seperti pada saat mereka memasuki Mataram dari arah tanah Perdikan Menoreh, maka ke arah Timur pun Agung Sedayu dan Ki Waskita melihat satu dua orang yang mengawasinya dengan tajamnya. Nampaknya Mataram benar-benar mulai bersiap-siap menghadapi hubungannya yang menjadi semakin buram dengan Pajang.

“Langit menjadi semakin gelap,” berkata Ki Waskita, “jika kita sendiri tidak bersedia payung, maka kita akan kehujanan dan menjadi basah kuyup.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti yang dimaksud oleh Ki Waskita. Agung Sedayu sendiri memang harus menjatuhkan pilihan. Namun ia adalah tetap adik Untara, seorang Senapati Pajang yang bertugas di Jati Anom.

Demikianlah keduanya berpacu menuju ke Jati Anom. Jalan yang pada saat-saat terakhir menjadi semakin ramai, nampaknya menjadi agak berkurang. Orang-orang yang hilir mudik lewat jalan itu harus mempertimbangkan perkembangan Pajang yang semakin garang menghadapi Mataram.

Namun sikap pasukan Pajang di Pajang sendiri dan sekitarnya memang agak berbeda dengan sikap prajurit Pajang di Jati Anom. Untara yang mengetahui pula pembentukan pasukan khusus yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Prabadaru pun harus berpikir dengan sungguh-sungguh. Untara sadar, bahwa mau tidak mau Tumenggung Prabadaru telah dapat dianggap melakukan satu kecurangan dengan berusaha secara sadar menyembunyikan Ki Pringgajaya dengan menyatakannya telah mati. Namun yang akhirnya telah terungkap bahwa Pringgajaya masih hidup dan bahkan pernah berusaha membunuhnya.

Dengan demikian, maka menghadapi perkembangan Pajang pada saat terakhir, Untara memang harus berhati-hati. Meskipun demikian ia masih tetap seorang prajurit Pajang.

Namun dalam pada itu, keduanya tidak menemui kesulitan apapun di perjalanan. Agung Sedayu dan Ki Waskita telah langsung menuju ke Jati Anom tanpa singgah di Sangkal Putung. Baru kemudian mereka memang akan pergi ke Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing.

Ketika mereka memasuki regol padepokan kecil mereka, maka para cantrik yang melihat kedatangan mereka pun terkejut. Hampir berbareng beberapa orang cantrik berteriak, “Agung Sedayu?”

Yang mendengar adalah Glagah Putih yang kebetulan ada di padepokan. Dengan serta merta ia pun berlari ke pendapa. Sebenarnyalah yang datang adalah Agung Sedayu dan Ki Waskita.

“Kakang Agung Sedayu,” Glagah Putih pun berlari menyongsong kedua orang yang baru datang itu.

Anak muda itu menjadi sangat gembira. Ia memang sudah rindu kepada kakak sepupunya itu. Karena itu, maka kedatangannya itu disambutnya sebagaimana ia menyambut seseorang yang sangat diharapkannya.

Setelah menambatkan kuda mereka, maka Agung Sedayu dan Ki Waskita pun segera naik ke pendapa. Setelah beberapa lama mereka meninggalkan padepokan itu, rasa-rasanya Agung Sedayu ingin segera melihat-lihat sampai ke ujung kebun yang paling belakang.

Tetapi sebelum ia memasuki pintu pringgitan, mereka melihat Kiai Gringsing yang keluar dari lewat pintu itu. Sambil membenahi bajunya Kiai Gringsing pun telah menyambut muridnya dan Ki Waskita.

“Baru kemarin aku kembali dari Sangkal Putung,” berkata Kiai Gringsing.

“O,” desis Agung Sedayu, “nampaknya akulah yang beruntung.”

“Marilah. Kalian sekarang menjadi tamu padepokan ini,” Kiai Gringsing mempersilahkan.

Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Seperti biasanya jika ada tamu di padepokan itu, maka Glagah Putih lah yang kemudian pergi ke dapur menyiapkan minuman dan makanan bersama para cantrik.

Kiai Gringsing pertama-tama menanyakan keselamatan kedua orang yang baru saja datang itu di perjalanan dan orang-orang yang mereka tinggalkan di Tanah Perdikan Menoreh. Sementara Ki Waskita pun telah bertanya pula tentang keselamatan isi padepokan itu.

Baru kemudian Kiai Gringsing mempersilahkan Agung Sedayu dan Ki Waskita minum dan makan hidangan yang tersedia.

“Silahkan. Untuk sementara kalian aku perlakukan seperti tamu. Seterusnya terserah kepada kalian, apakah kalian ingin tetap menjadi tamu, atau kalian ingin merasa seperti sebelum kalian meninggalkan padepokan ini,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Aku lebih senang merasa tinggal di padepokan sendiri. Tetapi aku pun sadar, jika demikian adalah tugasku untuk membelah kayu bakar dan mengisi jambangan di pakiwan sebagaimana selalu aku lakukan.”

Kiai Gringsing pun tertawa. Agung Sedayu dan Ki Waskita pun tertawa pula.

Demikianlah maka Agung Sedayu dan Ki Waskita pun telah minum dan makan jamuan yang dihidangkan oleh Glagah Putih. Sementara itu, Kiai Gringsing bertanya, “Kedatangan kalian memang agak mengejutkan. Apakah kedatangan kalian ini sekedar menengok padepokan yang sudah beberapa lama kalian tinggalkan, atau kalian memang mempunyai keperluan yang penting yang harus segera kalian selesaikan? Jika kalian tidak tergesa-gesa, maka aku kira kita dapat berbicara nanti atau besok atau lusa.”

Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “Kami tidak terlalu tergesa-gesa guru. Tetapi rasa-rasanya kami ingin segera menyampaikan sesuatu yang sudah lama menyumbat dada ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sementara Agung Sedayu berkata lebih lanjut, “Soalnya tidak begitu penting guru. Namun setelah dalam keberangkatan kami, kami singgah di Mataram, soalnya menjadi penting juga.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Sebelum kalian beristirahat, katakanlah. Barangkali keteranganmu perlu direnungkan. Nanti malam, besok atau lusa, kita akan dapat menelusuri lagi persoalan yang kalian bawa itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ketika dipadanginya Glagah Putih, maka tiba-tiba saja Agung Sedayu bertanya, “Dimana paman Widura?”

“Ayah baru ke Banyu Asri, kakang,” jawab Glagah Putih.

“Apakah Sabungsari masih sering datang kemari?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Ya. Tetapi kadang-kadang ia justru menunggui padepokan ini sendiri. Aku dan ayah tidak berada di padepokan, Sementara Kiai Gringsing berada di Sangkal Putung,” jawab Glagah Putih, “tetapi justru karena itu, maka sanggar padepokan ini menjadi selalu bersih.”

“Sabungsari sering mempergunakannya?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Sekali-sekali jika kebetulan kami bertemu, maka kami berdualah yang mempergunakannya,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Kau kali ini dapat mendengarkan keteranganku. Aku kira kau sudah menjadi semakin dewasa, sehingga kau sudah mengerti, manakah yang dapat kau ceriterakan kepada orang lain, dan manakah yang tidak.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

adbm-148-04Sementara itu, yang pertama-tama di ceriterakan oleh Agung Sedayu adalah peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Pertemuannya dengan Ajar Tal Pitu yang mendendamnya, dan menyusulnya ke Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata,” bersukurlah kepada Tuhan, bahwa kau masih mendapat perlindungannya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya guru. Aku memang merasa bersukur.”

“Bagus. Kau tidak boleh melupakannya dalam keadaan yang bagaimanapun juga,” berkata guiunya kemudian.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk kecil. Sebagaimana biasa, gurunya memang tidak pernah merasa terpisah dari Yang Maha Agung dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Baru kemudian Agung Sedayu menceriterakan apa yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya. Baik pada saat Raden Sutawijaya berada di Tanah Perdikan Menoreh, maupun ketika Agung Sedayu dan Ki Waskita singgah di Mataram.

Kiai Ggringsing mengerutkan keningnya. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Lambat atau cepat, hal itu tentu akan terjadi.”

“Apa guru?” justru Agung Sedayu lah yang bertanya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita sudah dapat menebak maksud Raden Sutawijaya. Kecuali Raden Sutawijaya mengharap kerelaan Ki Gede untuk memberikan tempat bagi terbentuknya pasukan khusus itu, maka Raden Sutawijaya sudah pasti akan melibatkan Sangkal Putung dan daerah-daerah sekitar Mataram. Sudah tentu Raden Sutawijaya akan melibatkan daerah Perbukitan Seribu. Meskipun tidak ada seseorang yang dapat di kemukakan pada saat ini, tetapi anak-anak muda dan bibit yang tersebar di daerah itu, akan memberikan kekuatan yang besar bagi Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia mengucapkan kembali, “Daerah Perbukitan Seribu. Daerah yang jarang disebut. Baik oleh Raden Sutawijaya sendiri maupun oleh orang-orang Pajang.”

“Ya. Tetapi daerah itu menyimpan hubungan yang akrab dengan Raden Sutawijaya karena beberapa hal. Pengaruh Raden Sutawijaya akan terasa lebih besar daripada pengaruh Pajang,” berkata Kiai Gringsing, “sebagai daerah yang pernah dilalui arus pengungsian yang besar dari Majapahit yang kemudian justru menuju ke daerah Bergota, maka Perbukitan Seribu menyimpan bekas-bekasnya yang mempunyai kisah tersendiri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun selama petualangannya di daerah olah kanuragan, ia masih belum pernah menjamah daerah Pebukitan Seribu. Bukit-bukit yang terbujur bagaikan sebuah dinding dari pulau ini memanjang di daerah Selatan, dari Timur ke arah Barat. Daerah Pebukitan yang terdiri dari tanah kapur, batu-batu karang dan diseling oleh daerah yang subur. Dataran-dataran yang membentang di antara batu-batu karang, merupakan daerah pangan yang tidak kering, terdapat disela-sela puncak-puncak yang mencuat pada gugusan pegunungan itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak akan sempat menilai daerah itu sebagai daerah yang mempunyai kisahnya sendiri dalam hubungannya dengan sikap Raden Sutawijaya. Jika pada saatnya anak-anak muda daerah Daerah Pebukitan itu hadir di Tanah Perdikan Menoreh, maka mereka akan diterima sebagaimana anak-anak muda lainnya dari daerah manapun juga.

Namun segalanya masih tergantung kepada Ki Gede Menoreh. Apakah Ki Gede akan dapat menyerahkah ranah Perdikannya menjadi satu ajang pembentukan satu pasukan khusus. Dan itu berarti Tanah Perdikan Menoreh sudah bersikap menghadapi Pajang.

Tetapi menurut dugaan Agung Sedayu, Ki Gede tidak akan berkeberatan. Ia akan menyerahkan Tanah Perdikan Menoreh tidak dalam keseluruhan. Tetapi ia menyerahkan Tanah Perdikan dari satu segi kepentingan.

Selain Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu akan berbicara pula dengan Sangkal Putung sebagai satu penjajagan atas sikap Raden Sutawijaya menghadapi Pajang. Tetapi agaknya Sangkal Putung, khususnya Swandaru sudah menunjukkan sikap yang lebih jelas.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “sebenarnyalah bagi Raden Sutawijaya waktunya memang sudah tiba. Mataram tidak akan dapat berdiam diri menghadapi perkembangan didalam lingkungan istana Pajang. Namun sebuah pertanyaan bagimu sendiri Agung Sedayu. Bagaimana?”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Pertanyaan itu memang sudah diketahuinya akan didengarnya. Baik oleh gurunya sebelum ia berbuat sesuatu.

Namun sebenarnyalah, bahwa usahanya untuk menjajagi sikap Swandaru di Sangkal Putung, dan Ki Gede di Tanah Perdikan Menoreh, adalah sudah menunjukkan sikap nuraninya meskipun masih berada di lingkaran yang paling bawah.

Namun dalam pada itu, ia tidak akan dapat mengabaikan bahwa ia adalah adik Untara, seorang Senapati Pajang yang bertugas di Jati Anom.

“Guru,” berkata Agung Sedayu, “aku kira guru sudah dapat membaca sikapku selama ini. Aku tidak pernah berhubungan dengan orang-orang Pajang selain kakang Untara. Aku tidak pernah mengerti keadaan Pajang yang sebenarnya. Tetapi aku dapat mengambil satu kesimpulan dari sikap beberapa orang prajurit Pajang, bahkan sikap seorang Pangeran yang seharusnya akan menerima warisan tahta. Pangeran Benawa. Sehingga dengan demikian, maka menurut penilaianku. Pajang memang merupakan satu tataran yang suram setelah Demak.”

“Pajang berdiri diatas hiruk-pikuknya perebutan kekuasaan antara sanak kadang. Kini Pajang menjadi ajang berkembangnya ketamakan dari orang-orang tertentu, justru dari jalur yang berbeda dengan urutan keluarga yang pernah berebutan semasa Demak menjadi buram. Sultan Pajang, yang semasa mudanya bernama Jaka Tingkir dan memiliki kemampuan dan ilmu yang seakan-akan tidak terbatas, ternyata pada masa tuanya, tidak mampu mengatasi nafsu yang berkembang di sekitarnya,” desis Kiai Gringsing.

“Bukankah dengan demikian, berarti bahwa usaha menyelamatkan Pajang adalah satu usaha yang akan sangat sulit guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Aku kira memang demikian,” jawab Kiai Gringsing, “karena itu, kita memang harus bersikap terhadap Pajang.”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Dipandanginya Ki Waskita yang hanya berdiam diri saja. Namun yang menurut Agung Sedayu, sikapnyapun telah dapat dilihatnya pula.

Kiai Gringsing itu pun mengangguk-angguk. Ia memang sudah melihat sikap yang meskipun samar-samar, tetapi semakin lama menjadi semakin jelas.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing sendiri memang berpendapat, bahwa Sultan Pajang yang menjadi semakin lemah karena penyakitnya itu semakin lama menjadi semakin terbatas kemampuan pengamatannya. Ia memang melihat bahwa di sekitarnya telah tumbuh benalu. Tetapi ia tidak mampu mengungkitnya dari batang yang menjadi kian rapuh.

Kiai Gringsing itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Ki Waskita sudah mendengar pembicaraan kami serta barangkali pembicaraan Agung Sedayu dengan Raden Sutawijaya di Mataram. Sudah barang tentu Ki Waskita sudah dapat mengambil satu kesimpulan. Dan barangkali Ki Waskita telah mengambil satu kesimpulan bagi Ki Waskita sendiri.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Selama ini aku terasing dengan persoalan pemerintahan. Bergesernya pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang, hampir tidak menarik perhatianku pada saat itu, justru pada waktu aku masih muda. Tetapi kini rasa-rasanya tertarik juga untuk ikut berbicara tentang Pajang. Nampaknya sikap Raden Sutawijaya memang dapat dimengerti. Agaknya Pajang sudah tidak akan mungkin dibenahi dari dalam.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, baiklah Agung Sedayu. Berbicaralah dengan bahasa yang paling jelas bagi adik seperguruanmu. Katakan bahwa Raden Sutawijaya ingin membentuk satu pasukan khusus. Sudah barang tentu pasukan itu akan diambil dari berbagai daerah yang setuju dengan perkembangan Mataram.”

Agung Sedayu memandang gurunya sejenak. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Sementara itu sudah terpahat di jantungnya, sikap tegas gurunya. Mereka akan ikut ambil bagian dalam pergolakan antara Pajang dan Mataram.

Sementara itu. Kiai Gringsing memang masih melihat persoalan didalam hati Agung Sedayu. Ia adalah adik Untara. Dan hal itu perlu mendapat pemecahan khusus. Apalagi baik Agung Sedayu sendiri maupun Kiai Gringsing masih belum tahu pasti, apa yang sebenarnya bergejolak di hati Senapati muda itu setelah ia melihat sikap Pajang dengan menempatkan Ki Tumenggung Prabadaru pada kekuatan yang disusun khusus menghadapi pergolakan masa terakhir.

Tetapi untuk mengetahui sikap Untara, bukan satu pekerjaan yang mudah dilakukan. Agaknya Kiai Gringsing akan menunggu kedatangan Ki Widura untuk membantunya memecahkan persoalan itu.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Agung Sedayu. Aku kira, kau tidak perlu menunda-nunda lagi. Aku akan pergi bersamamu ke Sangkal Putung. Sementara biarlah Glagah Putih menemui ayahnya dan mendengar penjelasan langsung dari Ki Waskita, sebelum kita sempat menemuinya. Menurut pengamatanku selama ini, agaknya Ki Widura juga condong pada sikap kita. Apalagi setelah ia mengetahui, bahwa Tumenggung Prabadaru telah diangkat menjadi Panglima pasukan khusus yang baru disusun. Bukankah dengan demikian ada kesengajaan beberapa orang pemimpin Pajang untuk menempatkan sebagian kekuatan pokok Pajang berada dibawah perintah langsung dari Tumenggung Prabadaru yang bagi kita mempunyai sikap yang jelas?”

“Baiklah guru,” jawab Agung Sedayu, “sebenarnyalah aku pun hanya minta waktu dua tiga hari kepada Ki Gede untuk perjalanan ini. Meskipun Ki Gede sudah dapat membayangkan maksud Raden Sutawijaya, tetapi Raden Sutawijaya belum menyatakan dengan jelas, apakah yang dimaksud sebenarnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kau akan kembali setelah dua tiga hari. Kau harus mempersiapkan segala-galanya untuk maksud tersebut, karena tidak mudah untuk menyelenggarakan satu lingkungan bagi satu kesatuan yang besar seperti yang akan disusun itu.”

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing pun segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Sangkal Putung bersama Agung Sedayu yang datang ke Jati Anom bersama Ki Waskita. Tetapi Kiai Gringsing minta agar Ki Waskita tinggal di padepokan untuk berbicara dengan Ki Widura yang akan dijemput oleh Glagah Putih ke Banyu Asri.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing pun sudah siap. Keduanya pun segera turun ke halaman dan untuk selanjutnya meninggalkan padepokan itu pergi ke Sangkal Putung.

Sepeninggal Kiai Gringsing, maka Glagah Putih pun kemudian berbenah diri. Dipersilahkannya Ki Waskita untuk tinggal di padepokan, sementara anak muda itu akan pergi menjemput ayahnya.

“Tentu ayah akan segera datang,” berkata Glagah Putih, “sudah beberapa hari berturut-turut ayah selalu pergi ke Banyu Asri. Tetapi sesudah panen selesai, ayah tidak akan hilir mudik lagi.”

“O, apakah Ki Widura baru panen?” bertanya Ki Waskita.

“Ya. Panen jagung dan sedikit padi,” jawab Glagah Putih.

“Bersama-sama?” bertanya Ki Waskita pula.

“Ya. Jagung kami, kami tanam di pategalan. Bukan jagung yang kami tanam di antara tanaman padi di dua musim,” jawab Glagah Putih.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan senang sekali jika Ki Widura dapat segera datang. Dengan demikian aku tidak terlalu lama sendiri.”

“Ada beberapa orang cantrik. Mereka dapat diajak berceritera tentang musim,” jawab Glagah Putih.

Ki Waskita tersenyum. Sementara itu Glagah Putih pun segera meninggalkan padepokan, setelah ia berpesan kepada beberapa orang cantrik untuk menemani Ki Waskita di pendapa.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu telah berjalan menuju ke Sangkal Putung. Tidak banyak yang mereka perbincangkan di sepanjang jalan. Namun agaknya Kiai Gringsing pun berpendapat, bahwa persiapan itu lebih baik dilakukan secepatnya oleh Mataram.

Kedatangan Agung Sedayu di Sangkal Putung telah mengejutkan. Swandaru yang sedang ada di rumah bergegas menyongsongnya. Sementara Sekar Mirah pun berlari-lari mendapatkannya sambil bertanya dengan serta-merta. “Apakah tugasmu di Tanah Perdikan Menoreh sudah selesai dan kau sudah kembali lagi ke Jati Anom?”

Agung Sedayu menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku mendapat kesempatan untuk menengok padepokanku barang dua tiga hari.”

“O,” wajah Sekar Mirah nampak dibayangi oleh kecemasan.

“Karena itu,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sebenarnyalah Tanah Perdikan itu tidak terlalu jauh. Jika diperlukan, setiap saat aku dapat kembali ke Jati Anom, atau ke Sangkal Putung, kemudian kembali lagi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Ia mencoba menghibur perasaan kecewanya dengan keterangan Agung Sedayu itu. “Tanah Perdikan Menoreh memang tidak terlalu jauh.”

Ki Demang pun kemudian menerima Kiai Gringsing di pendapa bersama Agung Sedayu, Swandaru Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun ikut menerima mereka pula karena ketiganya ingin mengetahui, apakah kepentingan mereka datang ke Sangkal Putung.

Setelah berbincang tentang keselamatan masing-masing, maka akhirnya Ki Demang pun bertanya, apakah kedatangan mereka ke Sangkal Putung hanya sekedar menilik keselamatan keluarga Sangkal Putung, atau ada satu kepentingan yang khusus.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Sebaiknya aku tidak berahasia lagi Ki Demang. Kedatangan kami kali ini memang mengemban satu kepentingan yang sangat khusus. Apalagi dengan demikian, maka kita pun telah menentukan sikap terhadap perkembangan keadaan dalam hubungan dengan Pajang dan Mataram.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah Angger Agung Sedayu mendapat pesan khusus untuk hal ini? Beberapa hari yang lalu Kiai Gringsing berada di sini tanpa menyebut sama sekali tentang sikap itu.”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “Agung Sedayu lah yang mendapat pesan khusus dari Raden Sutawijaya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Cobalah katakan, apakah pesan khusus itu menguntungkan bagi kita semuanya.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Agaknya Ki Demang pun akan mempertimbangkan semua tindakannya bagi kepentingan Kademangannya. Jika ia mengambil sikap dalam hubungan antara Pajang dan Mataram, maka hal itu pun tentu akan disesuaikan dengan keuntungan Kademangannya.

Dengan hati-hati Agung Sedayu pun mengatakan keputusan Raden Sutawijaya untuk menanggapi sikap terakhir dari para pemimpin di Pajang yang telah bertindak sesuai dengan kepentingan mereka tanpa menghiraukan keadaan Sultan yang sedang sakit. Bahkan semakin lama nampaknya menjadi semakin parah.

Ki Demang nampaknya menjadi ragu-ragu. Ia harus berpikir dengan sungguh-sungguh jika ia ingin melibatkan Kademangannya dalam pertikaian yang menjadi semakin panas antara Pajang dan Mataram.

Namun dalam pada itu, selagi Ki Demang merenungi keadaan itu, Swandaru dengan serta merta menjawab, “Aku sependapat. Dalam persoalan yang akan menyala antara Pajang dan Mataram, kita tidak akan dapat berdiri dengan ragu-ragu. Kita harus mengambil sikap. Tegas dan pasti.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya kepada anaknya, “Swandaru, bagaimana dengan sikapmu?”

“Aku bersedia mengirimkan anak-anak muda terpilih untuk menyusun pasukan khusus itu ke Tanah Perdikan Menoreh. Itu tentu lebih baik. Aku mempunyai perhitungan tersendiri mengenai Sangkal Putung ini. Kita tidak akan dapat bertahan dalam garis perang, seandainya Pajang datang menyerang. Kecuali jika Mataram akan menentukan satu garis pertahanan di sebelah Timur Sangkal Putung. Karena itu, seandainya Raden Sutawijaya mempunyai kebijaksanaan lain, maka kita harus menyesuaikan diri. Dalam pengertian lain, kita tidak akan dapat berpijak pada satu tempat tertentu sebagai landasan perjuangan tanpa perhitungan lain. Mungkin kita akan bergeser. Tetapi sudah tentu dengan satu tujuan. Sangkal Putung akan dapat kita kuasai pada saat terakhir dengan cara apapun yang pernah kita tempuh sebelumnya.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Dengan suara berat ia bertanya, “Maksudmu, bahwa sebagai satu perhitungan peperangan, mungkin Sangkal Putung akan dilepaskan meskipun dengan satu tekad terakhir, Sangkal Putung harus dikuasai kembali?”

“Ya. Tetapi lebih dari itu. Pajang harus dikalahkan. Orang orang yang dibakar oleh nafsu pribadinya itu harus disingkirkan. Sultan Hadiwijaya dan kebijaksanaannya harus ditegakkan sebagaimana seharusnya,” berkata Swandaru.

Ki Demang masih nampak ragu-ragu. Katanya, “Kenapa kita tidak bertekad untuk mempertahankan Sangkal Putung sebagai perisai yang dapat melindungi Mataram dari kekuatan orang-orang Pajang. Justru pasukan khusus itu kita letakkan disini, di Sangkal Putung.”

“Ki Demang,” berkata Agung Sedayu kemudian, “bagaimanapun juga kita masih menghormati Pajang sebagai satu pusat pemerintahan. Kita tidak dengan serta merta menjawab tantangan itu dengan menunjukkan kekuatan yang tersimpan di Mataram. Raden Sutawijaya ingin mempersiapkan diri tanpa mengundang dan mempercepat benturan yang nampaknya memang agak sulit dielakkan. Namun dalam hal ini, Raden Sutawijaya tidak akan anggege-mangsa. Jika pasukan khusus itu disusun di Sangkal Putung, maka sebelum pasukan itu tersusun rapi, maka Pajang tentu sudah akan bertindak dengan dalih apapun juga. Bahkan mungkin dengan meninggalkan pertimbangan dari Kangjeng Sultan sendiri.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Akhirnya ia dapat juga mengerti perhitungan dan pertimbangan Raden Sutawijaya. Meskipun demikian, rasa-rasanya seperti yang dikatakan Swandaru itu pun sulit untuk dielakkan.

Meskipun demikian Ki Demang merasa tidak dapat meninggalkan pertimbangan-pertimbangan yang rumit bagi Kademangannya. Hanya karena Swandaru sudah mengambil sikap yang pasti, maka agaknya Ki Demang tidak merasa perlu untuk mempersoalkannya lagi. Ia terlalu percaya kepada anak laki-lakinya yang memang sudah terbukti, mampu membentuk Sangkal Putung menjadi satu Kademangan yang besar.

“Segalanya terserah kepada pertimbanganmu, Swandaru,” berkata Ki Demang kemudian.

“Baiklah ayah,” jawab Swandaru, “aku akan membicarakannya lebih lanjut dengan kakang Agung Sedayu.”

“Seharusnya memang demikian,” sahut Kiai Gringsing, “agaknya persiapan yang semata-mata kecuali akan mempercepat geseran yang mungkin terjadi karena kecemasan orang-orang yang memusuhi Mataram, akan dapat menimbulkan salah paham pula bagi Kangjeng Sultan. Karena agaknya Kangjeng Sulta memang tidak sempat melihat pergolakan ini secara keseluruhan.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Baiklah. Dalam hubungan yang demikian, agaknya aku memang kurang menguasai secara mendasar. Aku percaya kepada kalian.”

Demikianlah akhirnya, Ki Demang menyerahkan segala-galanya kepada Swandaru dan Agung Sedayu. Meskipun ia minta pula kepada Kiai Gringsing untuk mengamati hasil pembicaraan kedua anak-anak muda itu.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu malam itu berada di Sangkal Putung. Ia masih akan mengadakan pembicaraan-pembicaraan yang panjang dengan Swandaru, dan tentu pula dengan Sekar Mirah dan Pandan Wangi.

Namun dalam pada itu, ketika langit menjadi buram dan Agung Sedayu berada seorang diri di Pakiwan untuk mandi, maka mulailah ia berpikir tentang kakaknya Untara. Apakah yang akan dilakukannya seandainya Untara sebagai seorang prajurit Pajang berdiri di dalam lingkungan pasukan Pajang yang pada suatu saat akan memerangi Mataram.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sulit untuk menghindarkan diri dari keragu-raguan. Setiap kali ia selalu mempersoalkan satu masalah pertimbangan-pertimbangan yang rumit. Ia memandang satu masalah dari segala segi. Ditimbangnya untung dan ruginya. Dikajinya baik dan buruknya sampai limabelas kali. Namun setiap kali, ia tidak dapat mengambil satu keputusan yang mantap. Kadang-kadang ia masih harus menunggu perkembangan keadaan yang akan menghanyutkan kedalam satu sikap.

Ketika malam turun, sebelum ia berbicara dengan Swandaru, maka ia telah bertemu lebih dahulu dengan gurunya. Sebagaimana biasa maka Kiai Gringsing mulai melihat, keragu-raguan dihati Agung Sedayu.

“Kaulah yang menyampaikan pesan Raden Sutawijaya kepadaku dan kepada Ki Demang di Sangkal Putung serta Swandaru. Di Jati Anom Ki Waskita tentu sudah berbicara pula dengan Ki Widura,” berkata Kiai Gringsing, “jika kau kemudian menjadi ragu-ragu, maka akan dapat menimbulkan salah paham.”

“Aku mengerti guru,” berkata Agung Sedayu, “tetapi orang-orang itu tidak mempunyai persoalan yang sangat khusus seperti yang aku alami. Mereka tidak mempunyai seorang kakak yang menjadi prajurit Pajang.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun ia tetap saudara tuamu. Namun sikap dan pendirian memang akan dapat berbeda. Selanjutnya, kau dan Untara harus memilih jalan yang paling baik untuk mengatasi perbedaan itu. Dengan demikian masalahnya bukan pada sikapmu menghadapi persoalan antara Pajang dan Mataram, tetapi bagaimana kau harus mengatasi persoalanmu dengan Untara apabila memang timbul persoalan yang demikian.”

adbm-148-05“Itulah yang membebani hatiku,” desis Agung Sedayu.

“Tetapi kau tidak boleh menghambat persoalan yang besar yang timbul antara Pajang dan Mataram. Sementara kau berusaha menemukan cara itu, maka segalanya harus berjalan sebagaimana telah diperhitungkan oleh Raden Sutawijaya. Yang dalam hubungan manusiawi, ia akan berhadapan dengan ayah angkatnya, dengan gurunya dan dengan sesembahannya,” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “tetapi bukan maksudku untuk memperbandingkan hubungan dengan Untara dengan hubungan antara Raden Sutawijaya dengan Sultan Hadiwijaya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berbicara dengan nalar dihadapan Swandaru. Biarlah yang bergejolak didalam hatiku aku simpan bagi diriku sendiri.”

Kiai Gringsing memandang wajah muridnya itu sekilas. Orang tua itu mengerti sepenuhnya gejolak perasaan Agung Sedayu. Adalah sifatnya memang demikian, ia selalu dibayangi oleh keragu-raguan untuk mengambil satu keputusan. Apalagi dalam persoalan antara Pajang dan Mataram, kedudukannya memang sulit. Kakaknya satu-satunya adalah seorang Senapati Pajang. Sementara Agung Sedayu sendiri condong untuk berpihak kepada Mataram.

Namun dengan demikian, maka Agung Sedayu berusaha untuk dapat menguasai perasaannya dengan nalarnya. Ia harus berbicara dengan Swandaru, Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Karena itu, ia tidak boleh dipengaruhi oleh perasaannya saja.

Setelah makan malam, maka Agung Sedayu dan Swandaru telah membicarakan pelaksanaan rencana Raden Sutawijaya itu dengan lebih terperinci bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Jika sebagian anak-anak muda harus dikirim ke Tanah Perdikan Menoreh, maka Sangkal Putung harus mengatasi persoalannya sepeninggal anak-anak muda itu. Karena keamanan Sangkal Putung sendiri tidak dapat diabaikan.

“Aku akan memilih di antara anak-anak muda itu,” berkata Swandaru. Lalu, “Namun sebelumnya aku akan membagi pengawal Kademangan ini menjadi tiga tataran. Mereka yang masih belum dewasa penuh. Mereka yang sepenuhnya telah dewasa, dan mereka yang umurnya mulai melampaui perempat abad. Bahkan sampai mereka yang berumur ampat puluh tahun.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa bagi Sangkal Putung hal itu akan dapat dilaksanakan oleh Swandaru. Pada dasarnya para pengawal Kademangan Sangkal Putung memang terdiri dari tiga tataran. Orang yang pernah ikut dalam kegiatan oleh kanuragan di Sangkal Putung akan dapat dikerahkan kembali pada saat-saat diperlukan.

“Tetapi aku memerlukan waktu barang satu bulan,” berkata Swandaru, “waktu yang akan aku pergunakan untuk mematangkan persiapan bagi kepentingan Sangkal Putung sendiri apabila Kademangan ini akan ditinggalkan oleh anak-anak muda sampai menjelang umur seperempat abad, atau satu dua tahun diatasnya menurut pertimbangan keadaan wadag mereka.”

“Itu wajar sekali,” berkata Agung Sedayu, “tetapi kau harus segera mulai. Jika kau siap sebelum satu bulan, maka hal itu akan lebih baik bagi Mataram.”

“Aku akan berusaha lebih cepat dari waktu itu,” jawab Swandaru, “secepatnya aku akan mulai. Agaknya memang berbeda dengan daerah-daerah lain yang tidak langsung berhadapan dengan Pajang pada garis lurus antara Pajang dan Mataram. Jika Raden Sutawijaya akan mengambil anak-anak muda dari daerah Pegunungan Seribu, maka keadaannya memang berbeda. Daerah itu akan dapat dalam waktu satu dua pekan mengirimkan orang-orangnya. Tetapi kami disini mempunyai beberapa pertimbangan lain.”

“Ya. Daerah Pegunungan Seribu tidak mempunyai persoalan langsung seperti yang dihadapi oleh Sangkal Putung,” berkata Agung Sedayu, “namun dalam pada itu, meskipun kedatangan anak-anak Sangkal Putung agak lambat, mereka akan segera dapat menyesuaikan dirinya karena pada dasarnya mereka sudah mempunyai kemampuan dalam olah kanuragan.”

Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian menemukan kesepakatan. Swandaru akan mempersiapkan anak-anak muda itu dalam waktu satu bulan. Ia akan mengirimkan anak-anak muda itu dengan bertahap, agar tidak menarik perhatian.

“Sementara itu, aku akan menyiapkan Tanah Perdikan Menoreh. Selain anak-anak muda dari Tanah Perdikan itu sendiri, juga kami di Tanah Perdikan harus menyediakan segala-galanya. Barak, peralatan dan juga ladang yang cukup luas untuk menyelenggarakan latihan-latihan. Sudah barang tentu, aku tidak akan dapat melakukannya sendiri. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan beberapa orang yang akan dapat memberikan latihan-latihan khusus yang berat,” berkata Agung Sedayu.

“Aku percaya kepada kebijaksanaan Ki Gede,” berkata Swandaru, “kau dan Ki Gede akan dapat mengaturnya.”

“Yang aneh,” berkata Agung Sedayu, “Ki Gede belum mengetahui dengan pasti, rencana yang dibuat oleh Raden Sutawijaya ini. Namun sebagai seorang tua yang memiliki pengalaman yang luas, Ki Gede tentu sudah dapat mengetahui, berdasarkan perhitungan nalar dan penggraitanya yang tajam.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Raden Sutawijaya baru akan mengatakan kepada Ki Gede jika segalanya sudah pasti. Karena Raden Sutawijaya menganggap bahwa Ki Gede tidak akan berkeberatan.”

“Mungkin memang demikian. Dan aku pun menganggap bahwa Ki Gede tidak akan berkeberatan,” jawab Agung Sedayu.

Demikianlah, maka akhirnya pembicaraan mereka pun menjadi semakin jelas. Tahap-tahap yang akan dilakukan oleh Swandaru pun telah jelas pula. Namun anak muda itu pun berkata, “Tetapi kakang harus memberi tahukan kepadaku, jika semuanya telah pasti. Sehingga tidak akan terjadi salah paham. Meskipun hanya satu kemungkinan dari seribu, namun dapat terjadi Ki Gede merasa berkeberatan untuk menjadi ajang pembentukan pasukan khusus itu.”

“Aku akan memberi kabar,” jawab Agung Sedayu.

Dalam pada itu, setelah persoalan tentang pasukan khusus itu selesai, maka pembicaraan mereka pun segera bergeser. Pertemuan di antara keluarga Sangkal Putung itu pun menjadi semakin luas. Ki Demang dan Kiai Gringsing yang semula berada di ruang dalam, telah hadir pula di pendapa, setelah Pandan Wangi dan Sekar Mirah justru menyiapkan minuman panas pula. Mereka mendengarkan keputusan yang diambil oleh anak-anak muda itu dengan sungguh-sungguh. Sekali-kali mereka mengangguk-angguk. Namun kadang-kadang nampak kerut merut di dahi mereka.

Namun dalam menanggapi rencana itu dalam keseluruhan Kiai Gringsing berkata, “Kalian telah melakukan pengisian sebaik-baiknya atas kandang yang berkembang di Kademangan ini dan di sekitarnya. Bahkan keadaan Mataram dalam hubungannya dengan Pajang. Baiklah, kalian harus berusaha mewujudkan rencana ini sebaik-baiknya.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Aku yakin, bahwa pasukan ini akan terbentuk. Mungkin anak-anak muda dari berbagai daerah yang lain kurang mempunyai dasar oleh kanuragan. Namun jika mereka telah pasrah diri dalam satu kesatuan khusus, maka mereka tentu akan menyediakan hidup matinya dalam keseluruhan sehingga mereka akan dapat berlatih sebaik-baiknya.”

“Memang bukan tugas yang ringan untuk membentuk satu kekuatan yang nampak dari kekuatan yang mempunyai latar belakang kemampuan yang berbeda-beda. Namun hal ini tentu sudah dipikirkan oleh Raden Sutawijaya. Raden Sutawijaya tentu sudah menyediakan beberapa tataran pelatih bagi kesatuan khusus ini.”

Ternyata bahwa dalam pembicaraan selanjutnya, mereka sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi di tanah Perdikan Menoreh. Mereka pun sudah dapat membayangkan sikap Pajang terhadap Tanah Perdikan itu. Mungkin dengan surat kekancingan yang ditandai dengan tanda kekuasaan Sultan Hadiwijaya Tanah Perdikan itu akan dicabut. Namun segalanya tentu sudah diperhitungkan. Bahkan surat kekancingan dengan tanda apapun juga akan dapat ditolak dan tidak diakui, sebagaimana pada suatu saat Mataram tidak akan mengakui lagi kekuasaan Pajang sudah tidak murni lagi.

Ketika segalanya menjadi jelas dan kesimpulan-kesimpulan sementara sudah dapat diambil, maka Ki Demang pun kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk beristirahat. Mungkin mereka merasa letih oleh perjalanan dan barangkali justru karena pembicaraan-pembicaraan yang panjang.

Tetapi ketika Kiai Gringsing kemudian memasuki gandok. Agung Sedayu justru duduk di serambi ditemani oleh Sekar Mirah. Agaknya Sekar Mirah masih ingin penjelasan tentang rencana Raden Sutawijaya yang disampaikan oleh Agung Sedayu.

Namun sebenarnyalah bahwa pembicaraan mereka pun akhirnya telah bergeser. Sekar Mirah mulai berbicara tentang harapan-harapan bagi masa depan mereka. Pembicaraan yang dalam beberapa hal agak kurang serasi, sebagaimana yang selalu terjadi sejak waktu yang lama.

Tetapi agaknya ada sesuatu yang ingin di tanyakan oleh Sekar Mirah, apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya ia masih saja dibebani oleh sebuah mimpi yang belum jelas.

“Mimpi itu sangat menakutkan,” berkata Sekar Mirah, “seolah-olah kakang Agung Sedayu telah diserang oleh sekelompok serigala.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara dalam ia berkata, “Mimpimu dara-dasih Sekar Mirah. Sebagian dari peristiwa ini sudah aku katakan dihadapan Ki Demang dan Swandaru meskipun tidak sepenuhnya.”

“Aku menjadi sangat cemas kakang,” berkata Sekar Mirah pula, “jika sebenarnya kakang diserang oleh sekumpulan anjing hutan maka aku yakin bahwa kakang akan dapat menghalau atau bahkan membinasakan anjing-anjing liar itu. Tetapi jika mimpiku ini bukanlah kenyataan sebagaimana adanya, tetapi sebuah sanepa yang mendebarkan.”

“Apa maksudmu Mirah?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku tidak mau siapapun merampasmu dari hatiku kakang,” desis Sekar Mirah.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang terjadi adalah sebenarnya sebagaimana kau lihat dalam mimpimu. Mimpimu dara-dasih. Artinya, mimpimu benar-benar terjadi sebagaimana kau lihat didalam mimpi.”

Sekali lagi Agung Sedayu berceritera tentang anjing-anjing hutan itu. Ia memang belum menceriterakan secara terperinci. Dengan demikian maka jantung Sekar Mirah pun menjadi berdebar-debar. Seolah-olah ia melihat seseorang yang dapat menjadikan dirinya seekor anjing hutan raksasa yang buas dan liar. Namun yang kemudian dalam sekejap dapat merubah dirinya kembali menjadi seorang yang bernama Ajar Tal Pitu.

Kulit Sekar Mirah kemidian meremang. Namun terdengar ia berdesis, “Syukurlah bahwa kau dapat mengatasi kesulitan itu kakang.”

“Tuhan masih melindungi aku,” desis Agung Sedayu.

Tetapi yang kemudian dikatakan oleh Sekar Mirah telah membuat jantung Agung Sedayu berdebar-debar, “Soalnya kemudian kakang, apakah kelebihanmu itu akan dapat dijadikan kiblat harapan bagi masa depan?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

“Bukankah aku tidak bersalah kakang, jika aku menggantungkan banyak harapan kepadamu? Kau adalah orang yang dekat dengan Raden Sutawijaya. Jika perjuangannya berhasil, maka kau pun telah ikut serta menyumbangkan tenaga dan pikiranmu,” berkata Sekar Mirah kemudian.

“Agaknya memang demikian Mirah,” jawab Agung Sedayu, “tetapi sebaiknya kita tidak meletakkan perjuangan kita pada harapan-harapan pribadi. Kita memang ingin melihat sesuatu yang lebih baik diatas bumi ini. Khususnya diatas Tanah kelahiran kita. Jika hal itu akan mengangkat kita pada suatu keadaan yang lebih baik, maka kita akan mengucapkan terima kasih ganda.”

“Ah. Tentu saja hal itu dapat diucapkan dihadapan banyak orang. Tetapi apakah kita tidak akan berkata jujur terhadap diri kita sendiri?” sahut Sekar Mirah.

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab. Ia memang melihat kejujuran sikap Sekar Mirah. Tetapi setiap kali ia berbicara tentang masa depan, maka kegelisahan akan selalu timbul dihati Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, sebelum pembicaraan mereka berlanjut, terdengar Swandaru mendehem di pintu butulan. Kemudian anak muda yang gemuk itu telah melangkah keluar dan tertegun ketika melihat Agung Sedayu dan Sekar Mirah duduk berdua di serambi.

Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Namun kemudian ia pun berdesis, “Selamat malam kakang. Aku sudah mengantuk.”

Agung Sedayu hanya mengangguk saja. Sementara itu, Sekar Mirah pun segera meninggalkan serambi.

“Aku kira kau sudah tidur, kakang,” bertanya Swandaru.

“Belum,” jawab Agung Sedayu, “aku sedang menjelaskan apa yang pernah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh tentang diriku dan serigala serigala. Ia pernah bermimpi, yang agaknya mimpinya dara-dasih. Tepat pada peristiwa itu terjadi.”

“O,” Swandaru mengangguk-angguk, “anak itu berteriak pada saat itu. Mimpinya memang sangat mengerikan.”

Agung Sedayu mengangguk. Namun kemudian Swandaru pun berkata, “Silahkan beristirahat kakang.”

Ketika Swandaru kemudian masuk keruang dalam, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam2. Ia sadar, agaknya Ki Demang kurang senang jika Agung Sedayu dan Sekar Mirah berdua di serambi yang suram hanya berdua saja. Jika malam sepi menjadi semakin sepi, maka adalah kurang baik bagi anak gadisnya duduk berdua dengan seorang laki-laki muda yang dicintainya. Meskipun telah ditentukan saat-saat yang akan menentukan hubungan mereka dalam waktu yang dekat. Justru dalam keadaan yang sangat khusus setelah Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk waktu yang agak lama dan mengalami satu peristiwa yang sangat menegangkan.

Untuk sesaat Agung Sedayu masih duduk di serambi. Kemudian ia justru pergi ke gardu didepan Kademangan. Beberapa saat ia berbincang dengan para pengawal yang sedang bertugas meronda. Baru kemudian Agung Sedayu pun masuk ke gandok.

Ternyata Kiai Gringsing masih duduk di amben bambu bersandar dinding. Ketika ia melihat Agung Sedayu, maka, “Marilah. Apakah kau belum mengantuk?”

“Rasa-rasanya aku tidak mengantuk guru. Aku baru aja dari gardu di regol depan,” jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing pun kemudian mengangguk-angguk, ketika Agung Sedayu duduk pula di amben itu, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Jika kau ada waktu, kau sempat melihat kemajuan yang dicapai oleh Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Mereka pun selalu berusaha untuk meningkatkan ilmunya. Dan usaha itu bukannya tidak sia-sia. Namun ternyata bahwa kemudian yang mereka peroleh tidak dapat sepesat kemajuan yang dapat kau capai.”

“Ah, mungkin hanya berbeda ujud. Sisi yang nampak meningkat pada ilmuku, berbeda dengan sisi yang di pahami oleh Swandaru,” jawab Agung Sedayu.

“Aku kira bukan sekedar itu,” jawab Kiai Gringsing, “Swandaru memang lebih tertarik kepada yang kasat mata. Ia lebih menekuni kemampuan jasmaninya daripada mengamati kekuatan yang tersimpan didalam dirinya, yang dapat diungkapkannya pada saat-saat tertentu.”

“Namun sudah barang tentu dengan mengenali sifat dan watak dari kekuatan itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ia memang ingin melihat kemajuan adik seperguruannya. Dan agaknya ia pun ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Sekar Mirah kemudian.

Demikianlah dihari berikutnya. Agung Sedayu masih tetap berada di Kademangan Sangkal Putung. Atas persetujuan Swandaru, maka Agung Sedayu sempat melihat latihan-latihan yang dilakukan oleh adik seperguruannya itu bersama isteri dan adik perempuannya.

Sebenarnyalah bahwa ketiganya telah mendapatkan kemajuan yang pesat. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu melihat kekuatan yang agak berbeda pada Pandan Wangi. Meskipun Pandan Wangi belum mengembangkannya, namun benih dari kekuatan yang besar telah nampak padanya.

Tetapi Pandan Wangi sendiri masih belum menunjukkan kemampuannya itu dengan terbuka. Hanya karena ketajaman penglihatan Agung Sedayu sajalah, maka ia dapat melihatnya.

Namun dalam pada itu, kekuatan Swandaru benar-benar nggegirisi. Kekuatan yang terlatih telah berkembang didalam dirinya, seolah-olah tanpa batas. Tangannya yang gemuk mampu meremas batu padas sehingga pecah berhamburan. Dengan sisi telapak tangannya Swandaru mampu memecahkan kepingan-kepingan batu padas, bahkan papan kayu nangka yang tebal.

“Mengagumkan,” desis Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, yang lebih penting bagi Agung Sedayu adalah melihat cara Swandaru mulai mempersiapkan tataran para pengawalnya. Dengan para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan, Swandaru mulai berusaha untuk membagi mereka sesuai dengan tingkat umurnya dan kemudian tingkat kemampuan mereka sesuai dengan umur mereka.

“Apakah ada kepentingan khusus?” bertanya salah seorang pemimpin pengawal.

“Ya. Pada saatnya aku akan memberitahukan kepada kalian,” Jawab Swandaru.

Kecepatan gerak Agung Sedayu memang mengagumkan. Sehari setelah ia mendengar rencana itu, maka seolah-olah ia sudah siap untuk melaksanakannya.

“Tetapi segalanya masih akan menunggu keputusan Raden Sutawijaya,” berkata Agung Sedayu.

“Tentu, “jawab Swandaru, “seperti yang sudah aku katakan. Aku memerlukan waktu kira-kira satu bulan, atau kurang sedikit. Mungkin dalam waktu dua tiga hari aku dapat menentukan siapa yang akan berangkat. Tetapi yang penting bagiku, bukan sekedar siapa yang akan berangkat. Tetapi bagaimana dengan Sangkal Putung sendiri. Waktu yang satu bulan itu akan aku pergunakan untuk mematangkan kesiagaan para pengawal yang akan ditinggalkan.”

Sebulan memang waktu yang singkat bagi persiapan satu kerja yang besar. Bahkan mungkin Tanah Perdikan Menoreh sendiri justru masih belum siap dengan waktu yang satu bulan itu.

Dalam pada itu, sehari itu Agung Sedayu sempat melihat Sangkal Putung dalam keseluruhan. Sebenarnyalah bahwa Tanah Perdikan Menoreh masih harus belajar banyak dari Kademangan itu.

Tetapi kelebihan Kademangan Sangkal Putung adalah wajar sekali, karena Sangkal Putung mulai jauh sebelum Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan demikian maka Agung Sedayu banyak mendapat tuntunan dari penglihatannya atas Kademangan Sangkal Putung.

Agung Sedayu telah bermalam satu malam lagi di Sangkal Putung. Bahkan ia sempat ikut berlatih bersama dengan Swandaru. Dibawah penilikan gurunya, kedua saudara seperguruan itu telah mencoba ilmu mereka yang bersumber dari guru yang sama namun dengan perkembangannya masing-masing.

Kiai Gringsing hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Yang tidak dapat dilihat oleh Swandaru, ternyata dapat ditangkap oleh Kiai Gringsing. Agung Sedayu hanya lebih banyak melayani. Meskipun sekali-sekali ia telah mengejutkan Swandaru, namun dalam keseluruhan. Agung Sedayu menyesuaikan diri dengan tingkat kemampuan adik seperguruannya. Namun Agung Sedayu terpaksa mengimbangi kekuatan Swandaru dengan tenaga cadangan yang jauh lebih matang dari adik seperguruannya itu, sehingga karena itu, maka kekuatan keduanya nampak seimbang.

“Aneh,” berkata Swandaru didalam hatinya, “dari mana kakang Agung Sedayu memiliki kekuatan yang dapat mengimbangi kekuatanku?”

Namun Swandaru tidak bertanya. Meskipun demikian, anak muda itu masih tetap menganggap bahwa jika ia benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya, ia masih memiliki kelebihan dari Agung Sedayu.

Ternyata dengan latihan itu. Agung Sedayu telah dengan langsung dapat menjajagi kemampuan adik seperguruannya. Tetapi sebaliknya, bahwa Swandaru tidak dapat melihat kemampuan Agung Sedayu yang sebenarnya.

Tetapi hal itu telah dianggap cukup oleh gurunya. Dan ia mengucap syukur didalam hati, bahwa Agung Sedayu sebagaimana diduganya, telah berlaku bijaksana menghadapi adik seperguruannya. Sebab Kiai Gringsing mengetahui bahwa Agung Sedayu telah dapat membunuh Ajar Tal Pitu, dan Kiai Gringsing mengetahui betapa tinggi ilmu Ajar Tal Pitu itu.

Karena itu, apabila Agung Sedayu tidak bertindak bijaksana, maka akan dapat terjadi salah paham. Swandaru akan dapat menganggap bahwa gurunya telah berbuat khilaf dengan emban cinde emban siladan, yang menganggap Agung Sedayu lebih baik dari Swandaru, sehingga membuat anak muda itu menjadi lebih sempurna dari Swandaru.

Dengan demikian, maka Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah, menganggap bahwa mereka masih tetap dalam tataran yang sama dengan Agung Sedayu, meskipun mereka merasa, bahwa Agung Sedayu mempunyai pengalaman yang lebih luas. Dengan membunuh Ajar Tal Pitu maka Agung Sedayu memmpunyai pengalaman yang lebih baik dari mereka yang berada di Sangkal Putung.

“Meskipun demikian, ternyata bahwa dasar ilmunya tidak terpaut dari ilmuku,” berkata Swandaru didalam hatinya. Lalu katanya pula kepada diri sendiri, “Guru telah berbuat adil. Meskipun sebagian besar waktunya berada di samping kakang Agung Sedayu, tetapi ia tidak membuat kakang Agung Sedayu mengejutkan kami. Yang selalu berada di Sangkal Putung, yang seolah-olah telah tidak berguru lagi.”

Dalam pada itu, di hari berikutnya, maka Agung Sedayu pun telah minta diri kepada Ki Demang; di Sangkal Putung dan keluarga lainnya. Ia akan kembali ke Jati Anom, dan kemudian bersama-sama dengan Ki Waskita kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku akan singgah di Mataram,” berkala Agung Sedayu, “segala sesuatunya akan aku sampaikan kepada Raden Sutawijaya. Ia tentu akan bergembira dan berterima kasih kepada Sangkal Putung. Meskipun aku sudah menduga, bahwa ia lebih senang jika pasukan itu akan dapat disusun kurang dari sebulan lagi. Tetapi sebulan itu pun bukan waktu yang terlalu panjang bagi persiapan satu kerja seperti ini.”

“Aku akan berusaha mempercepatnya,” jawab Swandaru.

“Terima kasih,” sahut Agung Sedayu yang kemudian bersama Kiai Gringsing segera bersiap-siap untuk berangkat.

Ketika mereka berada di regol, Sekar Mirah berdesis. “Mudah-mudahan mimpiku tidak mempunyai arti lain kakang.”

“Tidak Sekar Mirah. Jika mimpi itu menjadi satu kenyataan yang disebut dara-dasih, maka mimpi itu tidak akan mempunyai arti yang lain lagi.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun nampak kecemasan masih membayang di wajahnya.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu dan gurunya itu pun telah meninggalkan Sangkal Putung menuju ke Jati Anom. Jarak itu memang tidak terlalu jauh. Karena itu, maka mereka tidak memerlukan waktu terlalu lama.

Di padepokan kecil Agung Sedayu telah ditunggu oleh Ki Waskita, Ki Widura, Glagah Putih dan Sabungsari yang telah datang pula setelah ia mengetahui bahwa Agung Sedayu berada di Jati Anom.

Sabungsari yang telah sekian lama tidak bertemu dengan Agung Sedayu merasa seolah-olah ia bertemu dengan saudara sendiri. Baginya Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang sangat dikaguminya. Bukan saja kemampuannya dalam olah kanuragan, tetapi juga kematangannya berpikir dan kebijaksanaannya, meskipun Sabungsari juga mengetahui, kadang-kadang Agung Sedayu telah dilihat dalam keragu-raguan yang berkepanjangan sehingga sulit untuk mengambil satu keputusan.

Karena itulah, maka mereka pun segera terlibat dalam pembicaraan yang riuh. Sabungsari telah mendengar, bahwa Agung Sedayu telah membunuh Ajar Tal Pitu di Tanah Perdikan Menoreh dari Ki Waskita, sehingga karena itu, maka Sabungsari pun menyatakan kekagumannya.

“Ilmumu maju dengan pesat,” berkata Sabungsari, “ternyata jarak di antara kita bukannya menjadi semakin pendek, tetapi justru menjadi semakin jauh.”

“Ah,” desis Agung Sedayu, “kau selalu memuji. Tetapi agaknya kau pun telah mencapai satu tingkat yang tinggi. Mungkin kau kurang mendapat kesempatan karena tugas-tugasmu. Tetapi aku yakin, bahwa kau tidak terhenti pada satu batas seperti yang kau kuasai sekarang ini.”

“Aku mencoba,” berkata Sabungsari, “tetapi kadang-kadang aku menjadi buntu. Seolah-olah apa yang telah aku capai ini tidak lagi mampu aku kembangkan.”

“Tentu tidak,” jawab Agung Sedayu, “kau dapat melihat alam disekelilingmu. Kau akan menemukan pelajaran dari padanya.”

Sabungsari menarik nafas dalam2. Ia pun tahu bahwa Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang akrab sekali dengan alam dan kekuatan yang tersimpan di dalamnya sebagaimana telah di kurniakan Tuhan bagi penghuninya.

“Aku akan berusaha Agung Sedayu,” berkata Sabungsari kemudian.

Dalam pada itu, maka mengulangi pembicaraan Agung Sedayu dengan gurunya dan Swandaru, ia telah mengatakan segala pesan Raden Sutawijaya kepada Ki Widura tanpa prasangka sama sekali meskipun Sabungsari hadir.

“Kau tahu, mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk disampaikan kepada kakang Untara,” berkata Agung Sedayu, “sebenarnyalah aku sendiri kurang tahu tanggapan kakang Untara atas perkembangan keadaan sekarang ini di Pajang.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu kepadanya. Dan ia pun dapat mengerti, bahwa ia seharusnya tidak berlaku seperti kanak-kanak yang tumbak cucukan. Mengatakan apa saja yang diketahuinya tanpa disaring lebih dahulu.

Ki Widura mendengarkan segala penjelasan Agung Sedayu dengan mengangguk-angguk kecil. Persoalannya memang berkembang ke arah satu pameran kekuatan yang berbahaya. Namun ia pun tidak dapat mengelakkan kenyataan bahwa di Pajang telah tumbuh satu kekuasaan yang merupakan kekuasaan tandingan dari Kangjeng Sultan Hadiwijaya, yang justru karena keadaan jasmaninya, semakin lama mengalami kemunduran yang semakin menggelisahkan.

Nampaknya Raden Sutawijaya merasa tidak akan dapat berbuat apa-apa melalui kedudukannya sebagai seorang putera angkat dan seorang Senapati Ing Ngalaga dari dalam tubuh Pajang sendiri. Karena itulah maka ia harus memperbaiki keadaan yang semakin buram itu dengan Mataramnya.

Ternyata bahwa Widura pun tidak melihat satu kemungkinan yang lain. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku dapat mengerti sikap Raden Sutawijaya seutuhnya. Tetapi aku tidak mengerti, apa yang akan dikatakan Untara tentang itu.”

“Angger Untara bukannya orang yang tidak mempunyai pertimbangan,” sahut Kiai Gringsing, “ia adalah seorang prajurit yang baik. Tetapi ia pun memiliki pengamatan yang cukup tajam.”

Widura mengangguk-anggguk. Katanya, “Mudah-mudahan. Tetapi aku kira masih belum waktunya untuk mengatakan kepadanya.”

Diluar dugaan Agung Sedayu tiba-tiba saja berkata, “Paman, kami akan menyerahkan hubungan hal ini dengan kakang Untara kepada paman. Kami percaya akan kebijaksanaan paman, serta pengaruh paman terhadap kakang Untara,”

Ki Widura mengerutkan keningnya. Katanya, “Satu tugas yang sangat berat. Tetapi aku akan mencobanya Agung Sedayu. Meskipun barangkali tidak dalam waktu dekat.”

“Masih ada waktu paman,” jawab Agung Sedayu, “Swandaru pun memerlukan waktu. Ia baru akan dapat menyelesaikan kesepakatan ini dalam waktu sebulan mendatang. Mungkin daerah lain yang jelas berada dibawah pengaruh Mataram pun baru akan dapat menyelesaikan kewajiban yang sama dalam waktu yang bersamaan pula.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 149)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-48/

Terima kasih kepada Ki Banuaji yang me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s