ADBM2-149

<<kembali | lanjut >>

KARENA daerah itu sendiri tidak akan dapat dengan serta merta ditinggalkan tanpa menyerahkan tugas kepada kelompok yang lain yang masih harus dibina lebih dahulu.

Widura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku kira yang sebulan ini dapat kita jadikan waktu untuk ancang-ancang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara itu, orang-orang yang berada bersamanya melihat, seakan-akan Agung Sedayu sudah mantap berdiri pada satu sikap yang tegas.

Namun sebenarnyalah, didalam diri Agung Sedayu sendiri masih selalu di bayangi oleh satu pertanyaan, terutama sikap kakak kandungnya sendiri.

Tetapi dengan demikian, maka sikap orang-orang padepokan itu menjadi jelas pula. Mereka berdiri sebagaimana diinginkan oleh Raden Sutawijaya. Dan mereka pun tidak melihat kegelisahan didalam diri Agung Sedayu, kecuali gurunya dan Ki Waskita. Bahkan Widura-pun menganggap bahwa sikap Agung Sedayu tugas itu merupakan satu perkembangan jiwani dari anak muda tersebut.

Dalam pada itu, setelah pembicaraan itu rasa-rasanya didapat satu kesimpulan dan persesuaian sikap, maka Agung Sedayu pun mulai dengan pengamatannya yang lain atas adik sepupunya. Bersama Sabungsari maka mereka pun lelah memasuki sanggar.

Ternyata bahwa Glagah Putih telah menemukan satu sikap yang matang dari Jalur ilmu Ki Sadewa. Tidak sia-sia usahanya untuk menekuni tanda-tanda yang tergores didalam goa yang tersembunyi itu. Meskipun perkembangan ilmunya agak berbeda dengan perkembangan ilmu didalam diri Agung Sedayu. namun Agung Sedayu melihat betapa Glagah Putih telah menguasai satu jalur ilmu yang nggegirisi. Pada batas umurnya, maka yang dicapai oleh Glagah Putih memang luar biasa.

“Beberapa saat lagi. ia akan sampai pada batas yang tidak dapat ditembusnya karena kerusakan yang aku timbulkan didalam goa itu,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Justru karena itu ia merasa berkewajiban untuk menuntun Glagah Putih menembus batas yang dapat dijangkaunya dengan tanda-tanda dan perlambang-perlambang yang terdapat didalam goa itu.

“Anak itu akan berada di Tanah Perdikan Menoreh bersama pasukan khusus itu,” berkata Agung Sedayu pula didalam hatinya, “dengan demikian aku akan dapat mempergunakan waktu yang khusus baginya justru untuk mengisi kerusakan tanda dan perlambang itu. Dengan demikian maka Glagah Putih akan tuntas dengan ilmu dari jalur Ki Sadewa itu. Dan ia pun akan segera siap menerima petunjuk untuk pengembangannya lebih lanjut.

Sebenarnyalah Sabungsari pun merasa heran, bahwa tanpa Agung Sedayu, Glagah Putih masih tetap maju dengan pesat. Tetapi ternyata bahwa rahasia goa yang tersembunyi itu tidak pernah bocor terhadap siapapun juga. Juga tidak kepada Sabungsari betapapun akrabnya hubungan mereka.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun telah melihat kemajuan yang sangat pesat pula pada Sabungsari. Ia memang mendapat kesempatan khusus untuk mengembangkan ilmunya. Agaknya Ki Untara tahu pasti apa yang berkembang didalam dirinya. Sementara itu, ia sudah berhasil mendapat kedudukan setingkat lebih tinggi dalam jenjang keprajuritan, meskipun kemampuannya masih tetap berada diatas perwiranya sekalipun.

Tetapi Sabungsari menyadari, bahwa ia berada dalam satu jenjang urutan kepangkatan yang tertib dan teratur, sehingga tidak dapat menuruti keinginan sendiri dan mengangkat dirinya sendiri sesuai dengan tataran kemampuannya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu tidak dapat berada di Jati Anom lebih lama lagi. Ia harus segera kembali ke Tanah Perdikan Menoreh dan dalam perjalanan kembali ia harus singgah di Mataram.

Malam menjelang keberangkatan Agung Sedayu, maka sekali lagi ia berbicara dengan gurunya tentang Ajar Tal Pitu. Kematiannya tentu akan menumbuhkan persoalan bagi orang-orang yang telah mempergunakannya. Mungkin sasaran mereka akan bergeser dari Agung Sedayu kepada orang-orang lain yang dekat dengan padanya. Mungkin saudara seperguruannya, mungkin bahkan padepokan kecil itu dengan isinya.

“Kami akan selalu bersiap-siap Agung Sedayu,” berkata gurunya, “jika aku sedang berada di Sangkal Putung, aku mohon angger Sabungsari sering berkunjung ke padepokan ini. Sementara jika aku berada disini, aku minta Swandaru tidak kehilangan kewaspadaan bersama para pengawal-pengawalnya. Banyak kemajuan telah dicapai oleh para pengawal. Beberapa orang secara khusus telah mendapat tuntunan langsung dari Swandaru sehingga mereka akan dapat menjadi kekuatan yang mapan di Sangkal Putung. Selebihnya, Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah mendapat kemajuan sejalan dengan kemajuan Swandaru sendiri. Bahkan pada Pandan Wangi nampak gejala yang lebih terang dari suaminya, karena ia berusaha memandang jauh kedalam dirinya sendiri, dalam hubungannya dengan alam di sekitarnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika keadaan disini tidak mencemaskan. Aku kira segalanya tidak lepas dari usaha orang-orang Pajang yang di antaranya terdapat Ki Pringgajaya yang gagal mematikan diri, karena ia justru sudah membuka selubungnya sendiri dihadapan kakang Untara.”

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun telah banyak memberikan pesan kepada muridnya. Dalam olah kanuragan, Agung Sedayu telah mencapai satu tingkat yang sudah melampaui harapan gurunya. Namun bagaimanapun juga, pengalaman Kiai Gringsing masih jauh lebih banyak dari pengalaman Agung Sedayu, khususnya dalam olah kajiwan.

Demikianlah, ketika matahari terbit di hari berikutnya, maka Agung Sedayu pun segera minta diri. Namun sebagai seorang adik, maka ia pun berniat berkunjung kepada kakaknya, Untara. Tetapi kunjungannya itu benar-benar sebagai kunjungan seorang adik tanpa membicarakan masalah apapun juga, agar tidak justru memancing persoalan-persoalan yang masih belum berujud dengan rencana Raden Sutawijaya.

“Tidak ada salahnya jika kau berbicara tentang kematian Ajar Tal Pitu,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun Ki Widura-pun berkata, “Katakanlah. Sekedar untuk diketahui oleh Untara. Mungkin hal itu akan dapat menjadi alas sikapnya yang kemudian menghadapi Ki Pringgajaya dan terutama Tumenggung Prabadaru, yang kini menjadi Panglima pasukan khusus di Pajang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah paman. Aku akan mengatakannya Tetapi sekedar memberitahukan apa yang terjadi tanpa menyebut sikap apapun juga.”

“Aku kira kau cukup memberitahukan, “sahut Ki Widura “ segalanya yang menyangkut sikap dan pendiriannya, akan aku jajagi kemudian.”

Demikianlah, maka Agung Sedayu pun segera minta diri. Kepada Glagah Putih ia berjanji, bahwa pasukan khusus itu sudah terbentuk, ia akan membawa anak muda itu bersamanya ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Kau dapat menyempurnakan ilmumu lebih dahulu disini,” berkata Agung Sedayu.

Tetapi justru puncak dari ilmu itu terhapus,” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasa bersalah. Namun ia akan sanggup menyelesaikannya jika Glagah Putih telah berada di Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun hal itu masih belum dikatakannya.

Dalam perjalanan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu telah singgah di rumah kakaknya.

Seperti biasanya, kakak iparnya menerimanya dengan senang hati. Seolah-olah ia telah menerima kedatangannya seorang adik kecil yang sudah lama tidak pernah berjumpa.

“Kau minum apa Agung Sedayu? Air jahe? Wedang sere atau dawet cendol?” bertanya kakak iparnya.

Agung Sedayu tersenyum. Dipandanginya Ki Waskita yang duduk bersamanya di gandok sambil menunggu Untara.

 “Paman minum apa?” bertanya Agung Sedayu.

 “Apa saja Nyai,” jawab Ki Waskita.

 “Ya mbokayu, apa saja,” jawab Agung Sedayu.

 “Tunggulah. Sebentar lagi kakakmu akan datang,” berkata kakak iparnya kemudian, “aku akan ke dapur.”

“Tetapi jangan terlalu sibuk karenanya,” pesan Agung Sedayu.

“Tidak. Aku terbiasa melakukannya. Ada atau tidak ada tamu,” jawab isteri Untara.

Baru sejenak kemudian, setelah isterinya pergi ke dapur, Untara telah datang menjumpai adiknya di gandok, yang datang bersama Ki Waskita.

Setelah bertanya serba sedikit tentang keadaannya dan mengucapkan selamat datang, maka seperti biasanya Untara segera bertanya kepada adiknya, apakah ia mempunyai keperluan khusus.

“Tidak kakang,” jawab Agung Sedayu, “aku memang ingin singgah karena sudah lama aku tidak menengok keselamatan kakang sekeluarga. Hari ini aku akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh setelah beberapa hari aku berada di Sangkal Putung dan di padepokan.”

“Syukurlah jika tidak terjadi sesuatu,berkata Untara. Namun tiba tiba saja Untara berkata, “Laporan tentang peristiwa di Tanah Perdikan Menoreh telah sampai kepadaku. Adalah kebetulan sekali kau dalang kemari. Dengan demikian aku akan dapat melihat apakah pendengaranku itu benar.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Berita apakah yang telah didengar oleh kakaknya itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak bertanya sesuatu. Ia menunggu saja kakaknya itu berkata seterusnya, “Agung Sedayu. Menurut pendengaranku. Ajar Tal Pitu telah menyusulmu ke Tanah Perdikan Menoreh. Menurut laporan yang aku dengar, kau telah membunuhnya dalam satu perang tanding yang seru. Bahkan menurut laporan yang aku dengar, karena perang tanding itu, maka kalian telah membakar sebatang randu alas raksasa dan daerah di sekitar tempat itu telah menjadi kering dan tandus.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu sangat berlebih-lebihan kakang. Aku memang berkelahi dengan Ajar Tal Pitu yang menantangku, karena agaknya ia mendengar bahwa aku telah berada di Tanah Perdikan Menoreh. Ajar Tal Pitu telah dengan tidak sengaja menghunjamkan senjatanya ke pokok pohon randu alas itu, karena aku menghindari serangannya. Agaknya ujung trisula Ajar Tal Pitu itu mengandung racun yang dapat membunuh randu alas itu. Tetapi tidak terbakar seperti yang barangkali kakang dengar. Apalagi tanah di sekitarnya menjadi tandus dan kering.”

“Agung Sedayu,” berkata Untara kemudian, “apapun yang terjadi, tetapi bahwa kau sudah dapat mengalahkan Ajar Tal Pitu adalah pertanda bahwa ilmumu benar-benar telah dewasa. Aku harus mengakui bahwa aku tidak akan dapat melakukannya. Karena itu, maka kau harus segera menemukan kepastian bagi masa depanmu sendiri. Jika pada beberapa bulan lagi. kau akan mengakhiri hidupmu sebagai seorang anak muda karena hari perkawinanmu, apakah kau masih saja akan hidup bertualang?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Agung Sedayu,” berkata kakaknya, “berita tentang kematian Ajar Tal Pitu telah sampai kepadaku justru lewat jalur pemberitaan prajurit Pajang. Aku kira para petugas sandi di Pajang menangkap berita yang tentu dengan segera tersiar diseluruh Tanah Perdikan Menoreh dan bahkan menyeberang sampai kesebelah Timur Kali Praga. Tentu bukan rahasia lagi, bahwa ada petugas-petugas sandi Pajang yang berada di Mataram. Tetapi barangkali kaupun telah mendengar bahwa di Pajang sekarang ada pasukan yang khusus. Terlalu khusus, dibawah pimpinan Tumenggung Prabadaru yang juga meragukan kesetiaannya. Ia telah menyebarkan berita kematian Pringgajaya, yang ternyata sama sekali tidak benar. Bahkan Pringgajaya itu telah berusaha membunuhku pada waktu itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab. Ketika ia mencoba memandang Ki Waskita, ternyata Ki Waskita pun menundukkan kepalanya.

Karena Agung Sedayu tidak menjawab, maka Untara-pun kemudian berpesan, “Baiklah. Mungkin kau sudah mengerti apa yang sebaiknya kau lakukan. Berhati-hatilah. Kau harus segera mengambil sikap, karena kau akan segera menempuh satu jenjang hidup yang baru, yang tidak akan dapat kau anggap sebagaimana seseorang sedang bermain-main. Atau karena bakal isterimu itu juga memiliki ilmu kanuragan, kalian telah bertekad untuk menjadi sepasang suami isteri yang akan hidup mengembara?”

Agung Sedayu memandang kakaknya sekilas. Jawabnya kemudian, “Tentu tidak kakang. Aku tidak akan menempuh suatu cara hidup yang tidak sewajarnya sebagaimana kebanyakan orang.”

“Karena itu, pikirkanlah sebaik-baiknya apa yang akan kau lakukan kemudian. Kau tidak akan dapat menghindarkan diri dari pengaruh keadaan di sekitarmu. Kau harus mulai memperhitungkan, apakah saat-saat yang sudah ditentukan itu tidak akan dipengaruhi oleh hubungan yang semakin suram antara Pajang dan Mataram. Suram dalam pengertian yang sebenarnya, karena didalam tubuh Pajang sendiri telah tumbuh persoalan-persoalan yang perlu mendapat tanggapan khusus,” berkata Untara kemudian.

Agung Sedayu memandang Ki Waskita sekilas. Agaknya Ki Waskita pun tertarik kepada pendapat Untara itu. Tetapi keduanya sama sekali tidak menyatakan tanggapannya.

Meskipun demikian ada dua persoalan yang terkesan di hati Agung Sedayu. Yang pertama adalah sikap Untara terhadap Pajang yang nampaknya sudah dipengaruhi oleh penglihatannya terhadap beberapa orang yang justru mengeruhkan suasana didalam istana Pajang sendiri. Sementara yang kedua adalah pesan Untara untuk memperhitungkan waktu sebaik-baiknya. Memang tidak mustahil bahwa pada bulan kedua belas di akhir tahun, adalah bulan yang akan diwarnai oleh benturan-benturan kekerasan antara Pajang dan Mataram, sehingga saat-saat perkawinan yang sudah diperhitungkan masak-masak itu akan terpengaruh juga karenanya.

Namun dalam pada itu, sebelum Untara berbicara lebih lanjut, isterinya telah datang dengan membawa minuman hangat beberapa mangkuk dan beberapa jenis makanan untuk dihidangkan.

“Marilah,” berkata kakak ipar Agung Sedayu, “bukankah kau gemar sekali wajik ketan ireng? Kau tentu masih gemar juga gadung? He, apakah kau masih ingat, kau waktu itu bertanya kepadaku, apakah aku mempunyai gadung goreng? Tetapi aku menyesal sekali bahwa sekeping pun aku tidak mempunyai lagi. Sekarang, aku mempunyai sesenik kecil. Ayo habiskan. Jangan takut kau akan mabuk. Gadung itu sudah aku rendam di dalam abu sampai tuntas.”

adbm-149-01Agung Sedayu tersenyum. Sementara isteri Untara masih mempersilahkan, “Marilah Ki Waskita. Silahkan minum air jae hangat. Gulanya bukan gula kelapa, tetapi gula aren yang aku dapat dari lereng Gunung Merapi.”

Ki Waskita pun mengangguk sambil tersenyum.

Jawabnya, “Terima kasih Nyai.”

Mereka pun kemudian minum minuman hangat. Tetapi justru karena isteri Untara hadir, maka pembicaraan mereka pun telah berkisar.

Demikianlah, maka akhirnya Agung Sedayu dan Ki Waskita itu pun minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun isteri Untara berusaha untuk menahan mereka sampai makan siang, tetapi keduanya dengan minta maaf, terpaksa meninggalkan rumah itu.

Untara dan isterinya pun kemudian mengantar mereka sampai ke regol. Beberapa orang prajurit yang sudah mengenal Agung Sedayu pun telah menyapanya.

Namun dalam pada itu, di regol kakaknya masih berpesan, “Pertimbangkan pendapatku baik-baik Agung Sedayu.”

“Aku akan merenungkannya dengan sungguh-sungguh kakang,” jawab Agung Sedayu, “aku mengucapkan terima kasih atas peringatan itu.”

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu dan Ki Waskita telah meninggalkan Jati Anom. Sudah menjadi rencana mereka, bahwa mereka akan singgah di Mataram untuk menyampaikan tanggapan gurunya di Jati Anom dan Swandaru di Sangkal Putung.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Ki Waskita pun merasa harus berhati-hati dalam perjalanan kembali. Mungkin ada satu dua orang yang ingin berbuat sesuatu, sebagaimana pernah terjadi.

Namun ternyata bahwa mereka tidak menjumpai hambatan apapun di perjalanan.

Kedatangan mereka di Mataram ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh Raden Sutawijaya. Karena itu, maka keduanya pun kemudian telah diterima di pendapa oleh Raden Sutawijaya bersama Ki Juru Martani.

Setelah masing-masing menanyakan keadaannya dan mengucapkan selamat, maka Raden Sutawijaya pun kemudian bertanya, “Apakah kau sempat menjajagi pendapat saudara seperguruanmu Agung Sedayu?”

Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan pendapat gurunya, Swandaru dan bahkan Untara yang mulai melihat perkembangan di Pajang dengan prasangka, justru karena Tumenggung Prabadaru telah diangkat menjadi Panglima pasukan khusus yang telah di bentuk di Pajang.

“Swandaru mohon waktu satu bulan untuk menyusun kekuatan untuk mengamankan Sangkal Putung, apabila di antara anak-anak mudanya harus berada dalam satu lingkungan khusus di Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, bahwa Swandaru harus menyiapkan pasukan cadangannya, jika orang-orangnya yang terbaik akan meninggalkan Kademangan-nya.

“Aku mengucapkan terima kasih kepadamu, kepada Kiai Gringsing dan sudah barang tentu kepada Swandaru. Mudah-mudahan rencana ini dapat berjalan lancar seperti yang kita kehendaki. Yang terakhir harus kau hubungi adalah Ki Gede Menoreh,” berkata Raden Sutawijaya.

“Tentu bukan aku,” jawab Agung Sedayu, “aku persilahkan Raden membicarakannya sendiri dengan Ki Gede. Tentu tanggapan Ki Gede pun akan lebih bersungguh-sungguh daripada akulah yang menyampaikannya.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun Ki Jurulah yang menyahut, “Tentu. Tentu harus Raden Sutawijaya sendiri yang menyampaikannya kepada Ki Gede Menoreh.”

Raden Sutawijaya pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku sendiri akan menghadap Ki Gede untuk menyampaikan rencana ini. Yang kemudian akan berkumpul di Tanah Perdikan Menoreh adalah anak-anak muda dari Mataram sendiri, dari Tanah Perdikan Menoreh dan sudah barang tentu dari Sangkal Putung. Tetapi aku juga sudah menghubungi anak-anak muda dari Pagunungan Sewu. Nampaknya mereka sependapat dengan rencanaku. Mereka lebih dekat dengan Mataram daripada dengan Pajang. Apalagi Pajang dalam keadaan seperti sekarang ini.”

Agung Sedayu memandang Ki Juru sekilas. Nampaknya orang tua itu pun bersungguh-sungguh pula.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian menjawab, “Jika demikian, apakah tidak sebaiknya Raden pergi ke Tanah Perdikan Menoreh bersama kami?”

Raden Sutawijaya lah yang kemudian berpaling kepada Ki Juru. Seolah-olah diluar sadarnya ia bertanya, “Apakah sebaiknya demikian paman?”

Ki Juru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku kira ada baiknya. Segalanya segera menjadi jelas. Tanah Perdikan Menoreh dapat bersiap-siap. Sementara Sangkal Putung, Mataram sendiri termasuk daerah di sekitarnya, dan Pagunungan Sewu akan mempersiapkan diri pula.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan pergi bersama kalian. Tetapi aku mohon kalian bermalam satu malam lagi di Mataram. Aku akan menyelesaikan beberapa masalah malam ini.”

Agung Sedayu berpaling kepada Ki Waskita, seolah-olah minta pendapatnya, apakah Ki Waskita sependapat untuk bermalam satu malam lagi.

Ketika Ki Waskita mengangguk kecil, maka Agung Sedayu pun berkata, “Baiklah Raden. Aku akan menunggu Raden sampai besok.”

“Bagus, terima kasih,” sahut Raden Sutawijaya. Lalu, “Jika demikian, aku akan mempersilahkan kalian beristirahat di gandok.”

Agung Sedayu dan Ki Waskita tidak menolak. Agaknya Raden Sutawijaya kemudian memberitahukan kepada seorang pelayannya bahwa dua orang tamunya akan bermalam dan beristirahat di gandok, sehingga tempat itu telah dibersihkan.

Beberapa saat kemudian, maka Raden Sutawijaya pun mempersilahkan tamunya beristirahat, karena ia sendiri akan melakukan sesuatu dalam kewajibannya.

Agung Sedayu dan Ki Waskita sudah sering bermalam di Mataram. Karena itu, mereka pun telah mengenal beberapa orang penting dalam lingkungan keluarga Raden Sutawijaya. Beberapa orang pelayan sudah dikenalnya dengan baik, dan bahkan Agung Sedayu dan Ki Waskita itu bagaikan telah menjadi keluarga sendiri.

Namun dalam pada itu. ketika Agung Sedayu dan Ki Waskita sedang berbincang di ruang depan gandok itu, telah hadir pula Ki Lurah Branjangan.

Pembicaraan mereka menjadi bertebaran tanpa ujung pangkal. Setelah beberapa lama mereka tidak bertemu, maka Ki Lurahpun banyak bertanya tentang Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Namun akhirnya Ki Lurah itu berkata, “Dua orang tawanan yang memerlukan pengawasan khusus itu sungguh melelahkan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Ki Waskita memandang Ki Lurah itu dengan saksama. Keduanya telah mengerti, siapakah yang dimaksud. Dan keduanya pun mengerti sikap orang-orang Pajang atas keduanya.

“Keduanya masih saling mendendam. Tetapi dalam beberapa hal, keduanya tentu akan dapat bekerja bersama,” berkata Ki Lurah kemudian, “karena itu, maka diperlukan pengamatan yang cermat terhadap keduanya.”

“Apakah keduanya di tempatkan di satu tempat?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak. Jika demikian tentu akan lebih berbahaya lagi,” jawab Ki Lurah Branjangan.

Agung Sedayu dan Ki Waskita pun mengerti. Dan mereka pun diluar sadar telah ikut merenungkan. Jika pecah pertentangan yang lebih keras antara Pajang dan Mataram, apakah keduanya masih akan tetap merupakan beban yang semakin menjemukan. Tetapi untuk melepaskan mereka, berarti Mataram telah melemahkan diri mereka sendiri, karena kedua orang itu adalah orang yang memiliki kelebihan.

Tetapi keduanya tidak berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang bagahnanapun juga. Segalanya akan teserah kepada Raden Sutawijaya, yang mempunyai pandangan yang luas tentang persoalan yang dihadapinya.

Dalam pada itu Ki Lurah Branjangan tidak berbicara banyak tentang rencana untuk menyusun satu kekuatan khusus sebagaimana dilakukan oleh Pajang. Bagi Ki Lurah, memang tidak ada pilihan lain. Dan Raden Sutawijaya sudah memutuskan untuk melakukannya.

Kemudian untuk semalam Agung Sedayu dan Ki Waskita akan berada di Mataram. Ketika mereka duduk bersama di pendapa lepas senja, maka Raden Sutawijaya sudah menyebut rencananya serba sedikit. Ia sudah menyebut beberapa orang yang akan memberikan bimbingan khusus dan memberikan latihan-latihan olah kanuragan.

“Anak-anak muda itu akan mengalami pembajaan diri yang berat,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Hanya dengan demikian mereka akan menjadi prajurit pilihan. Bukankah apa yang harus mereka lakukan itu belum merupakan sebagian kecil dari apa yang pernah kau lakukan, Agung Sedayu?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Dan yang aku lakuan, hanyalah sekuku ireng dibanding dengan apa yang pernah Raden Sutawijaya lakukan,” sahut Agung Sedayu.

“Ah, tentu tidak,” Raden Sutawijaya pun tertawa.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah mendapat gambaran, bagaimanakah pasukan khusus itu akan disusun.

Di pagi hari berikutnya, maka Agung Sedayu dan Ki Waskita pun telah siap begitu matahari mulai memancar. Ternyata Raden Sutawijaya pun telah bersiap pula. Agaknya ia akan membawa dua orang pengawal khususnya untuk bersama dengan Agung Sedayu dan Ki Waskita pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.

Setelah makan pagi, maka mereka pun meninggalkan Mataram menuju ke Tanah Perdikan Menoreh, Tidak banyak yang terjadi di perjalanan. Setelah mereka menyeberang Kali Praga dengan rakit, maka mereka pun segera menyusuri jalan Tanah Perdikan.

Kedatangan mereka di Tanah Perdikan Menoreh, telah disambut dengan senang hati oleh Ki Gede yang memang sudah menunggu kedatangan Agung Sedayu.

Meskipun Agung Sedayu hanya beberapa hari saja meninggalkan Tanah Perdikan itu, rasa-rasanya sudah begitu lamanya. Apalagi yang datang bersama Agung Sedayu dan Ki Waskita adalah Raden Sutawijaya.

Setelah mereka duduk di pendapa dan berbincang sejenak mengenai keselamatan masing-masing, maka agaknya Raden Sutawijaya ingin langsung pada persoalan yang akan dibicarakannya.

“Maaf Ki Gede,” katanya, “aku tidak dapat terlalu lama berada di Tanah Perdikan ini. Ada persoalan yang masih harus aku selesaikan di Mataram. Tetapi karena persoalan ini adalah persoalan yang aku anggap penting sekali, maka aku telah memerlukannya bersama Agung Sedayu dan Ki Waskita.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya Raden tidak usah tergesa-gesa. Bukankah di Mataram ada Ki Juru?”

Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Paman Juru sudah harus banyak beristirahat.”

Ki Gede pun tertawa pula.

Dalam pada itu, maka Raden Sutawijaya pun kemudian mengatakan rencananya kepada Ki Gede. Menyambung pembicaraannya terdahulu. Bahkan Raden Sutawijaya ingin mohon kerelaan Ki Gede untuk menempatkan pasukan khusus itu di Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Sebagian persoalannya memang sudah diduganya. Namun dengan demikian, maka akan timbul beberapa akibat samping.

Karena itu, Ki Gede yang sebenarnya telah menentukan sikap didalam hatinya, menyatakan tidak berkeberatan, tetapi ia pun mohon agar Raden Sutawijaya bertanggung jawab tentang penyelenggaraan itu sendiri.

“Untuk kepentingan itu diperlukan banyak dana,” berkata Ki Gede, “kami mohon Raden memikirkannya.”

“Aku akan mengusahakannya Ki Gede,” berkata Raden Sutawijaya, “aku pun telah menyusun sekelompok orang yang akan menjadi pelatih dalam pasukan khusus itu. Aku pun akan memberikan petunjuk cara-cara yang akan ditempuh untuk menyelenggarakan latihan khusus itu. Karena menurut pendapatku, pasukan ini bukan sekedar kumpulan orang-orang terpilih. Tetapi harus mempunyai satu sikap dan tingkat kemampuan yang khusus pula. Agaknya rencana ini, meskipun baru merupakan satu mimpi, tetapi akan selapis lebih baik dari pasukan khususnya Tumenggung Prabadaru. Pasukan khusus di Pajang adalah kumpulan prajurit-prajurit yang memiliki kelebihan. Mereka berkumpul dan berada didalam satu pasukan. Tetapi aku belum yakin, bahwa mereka benar-benar memiliki satu tingkat tataran dalam ilmu kanuragan yang melampaui tataran prajurit dari kesatuan yang lain.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia sudah benar-benar berada didalam satu lingkungan dalam persoalan antara Pajang dan Mataram.

Tetapi apaboleh buat. Ia memang tidak akan dapat ingkar, bahwa ia memang sudah memilih. Dan ia pun akan bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Karena itu, maka Ki Gede itu pun kemudian berkata, “Raden, sebagaimana Sangkal Putung, maka aku pun mohon waktu. Aku akan mempersiapkan tempat, barak dan barangkali lingkungan sehingga kehadiran pasukan itu tidak akan mengguncangkan tata kehidupan Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, maka untuk menjaga agar tidak terjadi persoalan dengan lingkungannya, aku mohon bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh akan mendapat tempat seimbang dengan anak-anak muda dari tempat-tempat lain.”

“Tentu sama sekali tidak ada keberatannya Ki Gede,” berkata Raden Sutawijaya, “aku justru berterima kasih jika anak-anak Tanah Perdikan sendiri ikut ambil bagian didalam pasukan itu. Semakin banyak semakin baik.”

“Baiklah Raden,” berkata Ki Gede, “aku mohon untuk kepentingan tersebut disiapkan satu rencana yang akan dapat memberikan petunjuk kepadaku secara terperinci, apa yang harus aku laksanakan di Tanah Perdikan ini.”

“Aku akan mengirimkan beberapa orang untuk kepentingan tersebut Ki Gede,” berkata Raden Sutawijaya, “Ki Lurah Branjangan adalah salah seorang yang akan ikut bertanggung jawab. Selebihnya tentu aku mohon Ki Gede sendiri, Agung Sedayu dan juga Ki Waskita.”

“Aku hanya akan dapat membantu Raden,” jawab Ki Waskita, “karena aku tidak akan mungkin berada dalam lingkungan tersebut secara pasti.”

Raden Sutawijaya pun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku mengerti Ki Waskita. Tetapi kesediaan Ki Waskita itu telah membuat hatiku sedikit tenang. Bahwa dengan demikian bantuan Ki Waskita akan dapat aku harapkan. “

Pembicaraan seterusnya masih belum menyangkut masalah-masalah yang terlalu khusus. Namun secara garis besar, di Tanah Perdikan Menoreh akan dapat disusun satu tempat pembajaan diri bagi satu pasukan khusus yang akan dapat digerakkan setiap saat oleh Mataram.

Mengenai papan telah diserahkan kepada Ki Gede, agar Ki Gede bersama Agung Sedayu dapat menyiapkannya. Di bawah lereng bukit akan didirikan beberapa buah barak. Barak-barak itu akan berada dalam beberapa lingkungan, semacam padepokan-padepokan yang akan menampung anak-anak muda dari beberapa tempat yang akan di latih secara khusus dalam olah kanuragan dan olah kaprajuritan.

“Tugasmu menjadi semakin berat Agung Sedayu,” berkata Ki Gede, “ketika aku minta kau datang di Tanah Perdikan, aku sama sekali tidak membayangkan bahwa kau pun akan terpercik tugas seperti ini.”

“Tetapi bahwa ia hadir di Tanah Perdikan ini, sebenarnyalah secara umum hal seperti ini sudah membayang Ki Gede,” berkata Raden Sutawijaya, “tetapi bentuknyalah yang masih belum jelas pada waktu itu.”

“Ya, ya ngger,” sahut Ki Gede, “bentuknya itulah memang yang aku maksudkan. Tentu kita semuanya tidak akan menyangka, bahwa kita akan sampai pada suatu bentuk yang demikian.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Gede benar. Tetapi kita dihadapkan pada gejolak yang terjadi di Pajang. Dan sebenarnyalah kita dituntut untuk menyesuaikan diri. Tetapi karena Mataram ternyata tidak mampu berbuat sendiri, aku terpaksa lari kepada Ki Gede.”

“Tidak mengapa,” sahut Ki Gede, “kita sudah bersama-sama memancangkan satu tekad. Dan aku tidak menyesal karenanya.”

Demikianlah, akhirnya Raden Sutawijaya menganggap bahwa pembicaraan itu untuk sementara sudah cukup. Karena itulah, maka Raden Sutawijaya itu pun segera minta diri. Ia masih harus menghubungi daerah Pegunungan Sewu. Meskipun dalam beberapa hal Pasantenan sudah menyatakan sikapnya, namun masih perlu ditegaskan, apakah yang akan dilakukan oleh Raden Sutawijaya. Apalagi Pasantenan sudah menyatakan, bahwa Pasantenan hanya akan mengirimkan anak-anak mudanya, sementara pimpinan Tanah Pasantenan sendiri untuk sementara tidak akan dengan langsung melibatkan diri.

Raden Sutawijaya itu benar-benar tidak terlalu lama berada di Tanah Perdikan Menoreh. Ia pun kemudian mohon diri untuk kembali ke Mataram. Masih banyak yang harus di tangani di Mataram.

Sepeninggal Raden Sutawijaya, maka Ki Gede pun harus merundingkan hal itu lebih masak lagi. Agung Sedayu dan Ki Gede sendiri akan mencari tempat yang paling baik bagi barak-barak pasukan khusus yang akan didirikan dalam beberapa kelompok itu. Tidak terlalu dekat dengan Padukuhan-padukuhan yang penting, tetapi juga tidak terlalu terpencil. Ki Gede harus mempertimbangkan, bahwa didalalm barak-barak itu akan terdapat anak-anak muda dari beberapa daerah dengan latar belakang sikap dan pandangan hidup masing-masing. Selebihnya, anak-anak muda itu sebagian terbesar tentu belum mempunyai keluarga, meskipun tentu ada juga yang sudah berkeluarga, tetapi tentu belum terlalu lama. Anak-anak muda yang belum berkeluarga itu harus dipertimbangkan hubungannya dengan gadis-gadis Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, Ki Gede mempunyai permintaan, bahwa jumlah anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh sendiri didalam pasukan khusus itu harus imbang dengan jumlah anak-anak muda yang dalang dari luar Tanah Perdikan Menoreh, karena bagaimanapun juga, Tanah Perdikan itu tidak boleh kehilangan wibawanya. Jika jumlah anak-anak Tanah Perdikan sendiri cukup jumlahnya, maka Tanah Perdikan Menoreh akan tetap dapat menentukan sikapnya sebagai Tanah Perdikan Menoreh, karena penghuni barak itu tak akan dapat memaksakan kehendaknya atas Tanah Perdikan itu.

Dengan demikian maka tugas Agung Sedayu benar-benar menjadi semakin berat. Ia harus membantu Ki Gede menyiapkan barak-barak bagi pasukan khusus itu. Tetapi ia pun harus menyiapkan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang akan ikut serta dalam pasukan itu.

“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Gede pada suatu saat, “kita harus menunjukkan kepada daerah lain, kepada Sangkal Putung, kepada Mataram, Mangir dan Pagunungan Sewu termasuk Pasantenan, bahwa anak-anak Perdikan Menoreh bukan anak-anak ingusan. Kita tidak boleh menyerahkan anak-anak muda hanya karena Raden Sutawijaya menyetujui permintaanku, bahwa jumlah anak-anak muda dari perdikan ini harus seimbang dengan anak-anak muda yang datang dari luar. Bukan pula anak-anak bawang yang tidak terhitung dalam lingkungan mereka yang sebenarnya mempunyai tingkat kemampuan pasukan khusus. Tetapi anak-anak muda dari Tanah Perdikan harus setidak-tidaknya sejajar dengan anak-anak muda yang datang dari daerah-daerah lain itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dan ia sadar, bahwa tugas itu dibebankan kepadanya.

Tetapi ternyata Ki Gede tidak tinggal diam dan hanya sekedar memerintahkan tugas-tugas berat kepada Agung Sedayu. Pada hari-hari berikutnya, maka Ki Gede, ikut terjun langsung menangani peningkatan kemampuan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh.

Agar tidak terjadi saling berbenturan karena ilmu yang berbeda, maka Ki Gede telah membagi kewajiban. Agung Sedayu harus meningkatkan kemampuan anak-anak muda itu secara pribadi. Ki Gede akan menuntun mereka dalam olah kaprajuritan dan gelar dalam perang. Sementara itu, Ki Waskita dimohon juga oleh Ki Gede untuk memberi tuntunan dalam olah senjata sehingga anak-anak muda itu akan dapat mempergunakan berjenis-jenis senjata yang terdapat di medan perang apabila mereka telah kehilangan senjata mereka masing-masing karena sesuatu hal.

Demikian, selagi barak-barak dipersiapkan di Tanah Perdikan Menoreh, maka anak-anak mudanya pun telah mengadakan latihan-latihan khusus untuk waktu yang tidak terbatas disetiap hari. Rasa-rasanya kapan saja mereka sempat, mereka telah mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Bahkan mendahului pasukan khusus yang akan tinggal didalam barak-barak, maka anak-anak muda Tanah Perdikan yang akan dipilih secara cermat, telah dimasukkan pula didalam barak-barak yang telah tersedia. Bukan barak-barak khusus, tetapi mereka mempergunakan rumah-rumah yang besar bagi kepentingan itu.

Agung Sedayu pun kemudian telah mempergunakan sebagian besar waktunya bagi anak-anak muda yang telah berada didalam barak-barak sementara itu. Namun Ki Gede telah menentukan bahwa Prastawa tidak akan berada bersama mereka.

“Kau harus tetap dalam kewajibanmu Prastawa. Bagaimanapun juga peningkatan tataran hidup rakyat Tanah Perdikan ini harus tetap terbina. Biarlah Agung Sedayu membagi sebagian waktunya untuk meningkatkan ilmu anak-anak muda itu. Namun kau akan tetap bekerja keras bersama waktu-waktu luang Agung Sedayu untuk kesejahteraan Tanah Perdikan ini.”

Sebenarnyalah Prastawa memang tidak ingin untuk berada didalam lingkungan pasukan khusus itu. Ia akan menjadi terikat dan ia akan kehilangan banyak kesempatan dalam kedudukannya sebagai kemanakan Ki Gede Menoreh. Didalam barak itu ia harus tunduk pada banyak ketentuan-ketentuan yang tentu akan menjengkelkan, karena ia akan berada langsung dibawah perintah Agung Sedayu. Betapapun ia sadar, bahwa kemampuan Agung Sedayu ternyata melampaui kemampuan orang yang bernama Ajar Tal Pitu, dan bahkan dapat membunuhnya, namun didalam hati kecilnya masih tersimpan perasaan segan untuk berada di bawah perintahnya.

adbm-149-02Dalam pada itu, maka latihan-latihanpun telah dilakukan dengan tataran yang semakin lama semakin berat. Menjelang matahari terbit. Agung Sedayu telah membawa anak-anak muda itu berlari mengelilingi daerah tertentu, melampaui lereng-lereng bukit Menoreh, menuruni tebing yang terjal dan kemudian mendaki lagi lereng yang menanjak tinggi.

Dengan demikian maka Agung Sedayu telah membentuk anak anak muda itu menjadi anak-anak muda yang mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Latihan pernafasan menjadi bagian yang penting dalam latihan-latihan berikutnya. Kemudian latihan kecepatan bergerak dan ketrampilan, kekuatan dan kecepatan mengambil sikap menghadapi keadaan yang tiba-tiba didalam olah kanuragan.

Pada saat lainnya, mereka bermain-main dengan senjata khusus sesuai dengan keinginan masing-masing dan kesesuaian mereka dengan jenis-jenis senjata. Namun pada kesempatan yang lain, mereka berlatih dengan segala macam senjata bersama Ki Waskita. Seolah-olah mereka tidak wenang untuk memilih senjata yang paling sesuai dengan pribadi mereka masing-masing. Mereka mempergunakan apa saja yang mereka ketemukan. Tali ijuk, tongkat, golok, ikat pinggang, ikat kepala, bahkan kain panjang mereka masing-masing. Namun khusus Ki Waskita telah memberikan tuntunan bagaimana mereka mempergunakan senjata yang dapat paling banyak mereka jumpai. Sepotong kayu darimanapun mereka dapat. Mungkin mereka sempat memungut di pinggir jalan, mematahkannya langsung dari dahan-dahan pepohonan, atau mencabut sebatang kayu metir di sepanjang pagar padukuhan.

Sementara itu, dalam waktu yang lain, Ki Gede telah mengajari mereka berbagai macam, gelar perang. Bagaimana mereka harus bertempur dalam gelar sehingga mereka tidak boleh mementingkan kepentingan diri sendiri, tetapi keterikatan mereka dengan gelar dalam keseluruhan.

Dengan demikian, suasana Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin sibuk. Karena selain yang berada didalam barak-barak sementara itu, masih harus disiapkan pengawal bagi Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri.

Jika anak-anak muda terbaik itu nanti benar-benar berada dalam lingkungan pasukan khusus, Menoreh tidak boleh kehilangan kekuatannya sebagai satu Tanah Perdikan. Itulah sebabnya, selain mempersiapkan anak-anak muda yang akan memasuki kesatuan khusus itu, maka pasukan pengawal lain yang kuat pula harus disusun. Bahkan setiap laki-laki di Tanah Perdikan Menoreh harus merasa berkewajiban untuk berbuat sesuatu bagi ketenteraman Tanah Perdikannya.

Yang kemudian di tangani, bukan saja anak-anak muda, tetapi juga anak-anak remaja menjelang dewasa, dan setiap laki-laki meskipun sudah berumur lebih dari seperempat abad, tetapi masih belum lebih dari ampat puluh tahun. Bahkan mereka yang lebih dari ampat puluh tahun pun, asalkan masih cukup kuat wadagnya, diwajibkan juga ikut menjaga ketenangan padukuhan masing-masing. Mereka masih diwajibkan untuk meronda di malam hari bergiliran di antara mereka, bersama-sama dengan mereka pada tataran masing-masing.

Ternyata waktu serasa berjalan terlalu cepat. Tetapi mendekati saat-saat pasukan khusus itu benar-benar akan dibentuk. Tanah Perdikan sudah siap.

Raden Sutawijaya tidak mengingkari kuwajibannya. Ia telah mengirimkan dana dan beberapa orang yang dianggapnya mampu untuk membantu Tanah Perdikan Menoreh membangun barak-barak di lingkungan yang telah ditentukan oleh Ki Gede. Ternyata bahwa barak-barak yang di bangun dalam kelompok-kelompok seperti padepokan-padepokan yang berpencar itu, justru memberikan kesegaran tersendiri pada Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun telah menyusun rencananya. Pada tataran pertama ia tidak memanggil anak-anak muda dalam jumlah yang terlalu besar. Tetapi ia akan menyiapkan sekelompok anak-anak muda yang akan menjadi pemimpin pada segala tataran di lingkungan pasukan khusus itu.

Dalam hal itu, maka Raden Sutawijaya akan memanggil sekelompok kecil anak-anak muda dari beberapa daerah mendahului terbentuknya pasukan khusus itu.

Demikianlah, maka rencana yang pertama itulah yang akan dilakukan lebih dahulu. Raden Sutawijaya segera menghubungi daerah-daerah yang sudah bersedia dan menyatakan kesanggupannya untuk mengirimkan sekelompok anak-anak mudanya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka kelompok kecil itu pun telah berada di Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu lah yang berkewajiban untuk menerima mereka dan menempatkan mereka pada barak yang sudah siap. Dalam kelompok yang mendahului terbentuknya pasukan khusus itu, sebagaimana saling disetujui, anak-anak Tanah Perdikan Menoreh mempunyai anak muda yang terbanyak, hampir seimbang dengan anak-anak muda dari daerah lain yang datang ke Tanah Perdikan itu.

Ternyata kehadiran anak-anak muda dari berbagai daerah itu telah memberikan pengalaman tersendiri bagi Agung Sedayu. Ia pun kemudian mengenali beberapa sifat dan watak yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang kehidupan mereka masing-masing. Namun sifat dan watak itu masih juga diwarnai oleh sifat dan watak pribadi-pribadi yang jumlahnya sebanyak jumlah anak-anak muda yang datang ke Tanah Perdikan Menoreh itu.

Dengan cepat anak-anak muda itu saling berkenalan. Mereka berusaha untuk saling menyesuaikan diri.

Namun disamping menyesuaikan diri. tidak dapat dihindari usaha anak-anak muda itu untuk saling mengetahui bobot masing-masing. Anak-anak muda dari Sangkal Putung yang sebagian besar dari mereka telah mengenal Agung Sedayu dengan baik, cepat dapat menempatkan diri. Apalagi anak-anak Tanah Perdikan Menoreh sendiri. Sementara anak-anak muda dari Mataram telah mendapat pesan mawantu-wantu dari Raden Sutawijaya sendiri, bahwa mereka harus dapat menjadi contoh yang baik yang bagi anak-anak muda yang berkumpul di Tanah Perdikan Menoreh itu. Mereka akan menjadi kiblat dari anak-anak muda yang berada didalam barak itu.

Karena itulah, maka anak-anak muda yang datang dari Mataram justru menunjukkan sikap yang sangat baik.

Sementara itu, anak-anak muda dari Mangir dan Pegunungan Sewupun berusaha untuk menempatkan diri ditempat yang baik di antara anak-anak muda itu. Mereka pun mendapat pesan dari para pemimpin mereka, bahwa mereka akan membawa nama baik daerah asal mereka.

Tetapi anak-anak muda dengan berbagai sifat dan watak itu, ada saja geseran-geseran yang kadang-kadang membuat mereka mulai tersinggung.

Agung Sedayu yang untuk sementara diserahi untuk memimpin mereka segera melihat keadaan itu. Karena itu, maka ia pun merasa wajib untuk menjadi semakin berhati-hati. Ia semakin cermat mengamati, bukan saja tingkah laku anak-anak muda itu sehari-hari, tetapi juga hubungan mereka yang satu dengan yang lain.

“Jika Angger Agung Sedayu akan ditetapkan di barak itu menjadi pimpinannya, maka akulah yang kehilangan,” berkata Ki Gede kepada Agung Sedayu.

“Tentu tidak Ki Gede,” jawab Agung Sedayu, “tentu hanya sementara. Aku tidak akan sanggup melakukannya. Apalagi jika pasukan itu benar-benar sudah terbentuk.”

“Bukan tidak sanggup dalam pengertian kurang kemampuan,” sahut Ki Gede, “tetapi tidak sanggup dalam pengertian, tidak mau. Jika angger berniat melakukannya, pekerjaan itu bukan pekerjaan yang sulit bagi angger.”

Agung Sedayu hanya tersenyum saja. Tetapi Ki Gede Menoreh percaya, bahwa Agung Sedayu memang bukan ujud dari seseorang yang haus akan kedudukan.

Meskipun demikian, kadang-kadang terbersit juga pertanyaan di hati Agung Sedayu, “Apakah aku akan menolak jika aku akan mendapat tempat pada salah satu tataran kepemimpinan pasukan itu?”

Banyak pertimbangan bergulat didalam hatinya. Kadang-kadang ia teringat akan keinginan Sekar Mirah bagi masa depannya.

Bagi Sekar Mirah, kedudukan adalah sesuatu yang penting. Setiap kali ia bertemu dengan Sekar Mirah, maka masalah kedudukan dan masa depan rasa-rasanya tidak akan pernah ketinggalan untuk dibicarakannya.

Tetapi sama sekali tidak ada dorongan dalam dirinya sendiri, untuk menuntut dengan sungguh-sungguh satu kedudukan. Jika ia melakukannya, maka dorongan itu datang dari bakal isterinya. Sekar Mirah.

Namun dalam pada itu, pada keadaan yang sementara itu. Agung Sedayu sudah bekerja sebaik-baiknya. Dalam waktu singkat. Raden Sutawijaya telah berjanji untuk mengirimkan seorang yang sebenarnya akan memimpin pasukan khusus itu dengan beberapa orang yang akan menjadi pelatihnya. Namun di antara para pelatih itu sudah disebut juga nama Agung Sedayu.

Sementara itu, Ki Gede sebagai pemimpin tertinggi di Tanah Perdikan Menoreh, tidak melepaskan Agung Sedayu begitu saja. Bersama Ki Waskita ia pun ikut serta mengamati anak-anak muda yang telah berkumpul di Tanah Perdikan Menoreh itu.

Beberapa hari kemudian, Mataram telah mengirimkan Ki Lurah Branjangan untuk membantu Agung Sedayu pula. Namun kedudukannya itu pun hanya untuk sementara. Ia mendapat kewajiban untuk memberikan penjelasan-penjelasan pendahuluan.

“Tetapi orang yang sebenarnya bukan aku,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh, “sebagai orang tua aku mendapat kewajiban untuk memberikan arah tanggapan anak-anak muda yang sudah datang ini menghadapi tugas-tugas yang berat.”

Disamping Ki Lurah Branjangan, dua orang pembantunya telah berada di Tanah Perdikan Menoreh. Bersama Agung Sedayu, Ki Waskita dan Ki Gede, mereka telah menyusun pasukan kecil itu dalam kelompok-kelompok tertentu Sesuai dengan jenjang kepemimpinan di antara mereka, maka Ki Lurah Branjangan telah menentukan susunan dan tataran kepemimpinan untuk sementara pula. Di antara mereka yang ditunjuk adalah anak-anak muda dari daerah yang tersebar, agar tidak menimbulkan kesan yang kurang baik bagi salah satu lingkungan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh itu. Untuk hari-hari permulaan, Ki Lurah masih belum mampu menyusun tataran kepemimpinan atas dasar kemampuan mereka, karena Ki Lurah masih belum dapat melihat kemampuan mereka seorang demi seorang.

Namun sebenarnyalah, beberapa orang di antara mereka memang telah tersinggung karena susunan tataran yang kurang sesuai menurut pendapat beberapa orang anak muda. Terutama mereka yang sama sekali belum mengenal Agung Sedayu. Ki Lurah Branjangan telah menetapkan sebagaimana ditetapkan sebelumnya. Agung Sedayu bukan sekedar menerima mereka, menempatkannya dalam barak-barak dan melayani kebutuhan mereka, namun didalam banyak hal, maka peranan Agung Sedayu sangat nampak. Seolah-olah Agung Sedayu mempunyai kedudukan yang khusus di antara anak-anak muda itu.

“Anak Tanah Perdikan yang seorang ini mendapat perhatian khusus dari para petugas di Mataram,” berkata salah seorang anak muda dari Pasantenan Pegunungan Sewu, “apakah ia memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan?”

“Ia pemimpin anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh,” sahut kawannya.

“Baik. Jika ia melakukan seperti apa yang dilakukannya sebelumnya, kami tidak akan mempersoalkannya. Jika ia hanya menerima kami, memberikan petunjuk, di ruang yang mana kami harus tidur, kemudian menunjukkan kepada kami, dimana kami harus mandi, aku tidak akan mempersoalkannya. Namun agaknya setelah orang Mataram itu datang, anak itu justru mendapat kedudukan yang lebih mantap. Nampaknya ia akan menjadi pimpinan yang paling menonjol di antara anak-anak muda yang datang kedalam barak ini,” jawab anak muda yang pertama.

“Tentu akan ada anak muda yang harus memimpin kami disamping para pelatih,” berkata kawannya, “jenjang kepemimpinan yang ada ini baru bersifat sementara. Tentu akan ada perubahan-perubahan jika para pelatih dan pimpinan yang sebenarnya telah melihat kemampuan kami masing-masing.”

“Aku merasa tersinggung,” desis kawannya yang pertama, “anak itu tidak menunjukkan kelebihan apa-apa. Seharusnya Ki Lurah Branjangan itu tidak memilih sembarang orang. Meskipun ia belum tahu dengan pasti, tetapi ia dapat melihat anak-anak muda yang manakah yang pantas menjadi pemimpin yang paling berpengaruh di antara kita. Aku tidak berkeberatan, jika pemimpin-pemimpin kelompok untuk sementara ditunjuk dari banyak daerah yang kemudian dibaurkan. Tetapi yang seorang itu agaknya ikut menentukan. Dalam segala persoalan, anak itu ikut diajak berbincang.”

“Ia telah bertindak untuk itu sejak kami datang. Ia memang mendapat tugas,” desis kawannya yang mulai melihat isi hati kawannya itu, “aku kira, segalanya masih wajar. Ia menyiapkan penerimaan ini. Kemudian mengatur kehadiran kami. Bukankah wajar, jika dalam persoalan berikutnya ia ikut berbicara.”

“Tidak tentu. Kedatangan Ki Lurah Branjangan sudah mengakhiri tugas-tugasnya. Ia harus berada di lingkungan ini seperti kita semuanya. Aku tidak berkeberatan ia menjadi pemimpin kelompok. Tetapi pengaruhnya tidak harus sebesar itu,” kawannya yang pertama justru menggeram.

“Kau tidak perlu menghiraukannya,” sahut yang lain.

“Kalian mengenal aku?” tiba-tiba anak muda itu membentak.

“Justru aku mengenalmu, aku minta kau tidak usah menghiraukannya. Kita, anak-anak Pasantenan tidak perlu berbuat aneh-aneh disini. Meskipun kau adalah seorang anak muda yang tidak terkalahkan di Pasantenan, kau tidak petlu berbuat apa-apa. Nanti pada saatnya kemampuanmu akan dikenal,” berkata kawannya.

“Aku ingin menempatkan kedudukan kami, anak-anak Pasantenan pada tempat yang wajar. Tidak hanya sekedar untuk menambah jumlah saja. Kita yang dikirim mendahului kawan-kawan kita, tentu bukan anak-anak muda kebanyakan,” desis anak muda itu.

Tetapi kawan-kawannya berusaha untuk memperingatkannya, bahwa sikapnya itu kurang menguntungkan pada waktu-waktu permulaan.

Namun demikian, selain kawan-kawannya yang berusaha memperingatkannya, ada juga satu dua orang yang justru menganggap sikapnya itu adalah sikap yang paling baik. Sikap yang akan dapat menjunjung tinggi nama daerah asal mereka.

“Aku sependapat. Kami tidak dapat menerima tanpa berbuat sesuatu atas sikap yang salah ini,” berkata seorang kawannya, “jika ada yang paling pantas untuk mewakili kita semuanya. Bukan saja anak-anak muda Pagunungan Sewu, tetapi semuanya yang ada dibarak ini. Sekelompok di antara kita yang mendahului kawan-kawan kita yang lain, yang pada saatnya akan datang pula ke Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Anak muda yang merasa iri itu menjadi semakin berbesar hati. Anak-anak muda yang mendukung sikapnya itu justru telah membuatnya semakin berminat untuk menggeser kedudukan Agung Sedayu justru setelah Ki Lurah Branjangan ada di Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika hal itu dikatakannya kepada anak muda yang paling disegani di antara anak-anak muda yang datang dari Mangir, maka anak muda dari Mangir itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah hal itu perlu dilakukan? Aku belum mengenal Agung Sedayu. Tetapi namanya aku pernah mendengar. Ketika ia berhasil membunuh Tal Pitu, maka namanya terkenal di sepanjang Kali Praga. Ternyata berita itu telah menyeberang di pinggir Selatan, dekat muara, sehingga kami yang berada di Mangirpun mendengarnya. Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh telah membunuh Ajar Tal Pitu.”

“Apa kelebihannya dengan membunuh Ajar Tal Pitu?” bertanya anak muda dari Pasantenan itu.

“Aku juga belum mengenal Ajar Tal Pitu. Tetapi menurut pendengaranku. Ajar Tal Pitu adalah orang yang luar biasa. Ia mempunyai Aji yang bertumpuk didalam dirinya. Aji Kakang Pembarep dan Adi Wuragil. Aji Sangga Dahana, Aji Gadungan dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebut,” jawab anak muda dari Mangir itu.

Sementara itu, kawannya dari Pasantenan yang mendengar pembicaraan itu pun berusaha untuk menenangkan kawannya yang jantungnya bergejolak itu.

“Kita tidak dapat untuk mencari lawan,” berkata kawannya.

Tetapi anak muda yang seorang itu tidak menghiraukannya. Ia masih tetap menganggap bahwa Agung Sedayu perlu disingkirkan.

“Ceritera itu pada umumnya jauh melampaui kenyataan yang terjadi sebenarnya,” berkata anak muda itu, “mungkin Agung Sedayu memang membunuh Ajar Tal Pitu. Tetapi Ajar Tal Pitu itu sama sekali bukan seseorang yang perlu diperhitungkan dalam dunia olah kanuragan. Ia sekedar mampu berkelahi. Dan secara kebetulan ia dapat menunjukkan sesuatu yang dianggap aneh. Tentu dibanding dengan guruku, ia belum sekuku ireng.”

“Yang ada disini kau, bukan gurumu,” jawab kawannya.

“Aku hanya ingin membuat perbandingan. Karena itu, maka ia tidak pantas sama sekali untuk diajak berbicara oleh Ki Lurah Branjangan dan para pemimpin yang lain.

Kawannya tidak dapat berbuat lain. Mereka sudah mencoba untuk memperingatkan. Tetapi agaknya kawannya yang seorang itu, didorong oleh beberapa orang kawan terdekatnya, benar-benar tidak mau menerima kehadiran Agung Sedayu dalam tugas-tugasnya setelah Ki Lurah Branjangan dan dua orang pemimpin pengawal dari Mataram itu datang.

Ketika hal itu didengar oleh anak-anak muda Sangkal Putung, maka mereka pun berusaha untuk menemui anak muda itu, agar ia tidak mempersoalkannya lagi.

“Kenapa?” bertanya anak Pasantenan itu.

“Kami mengenal Agung Sedayu dengan baik,” sahut salah seorang anak muda Sangkal Putung, “kami tahu siapakah anak muda itu dengan pasti. Selebihnya, ia adalah adik Untara, Senapati Pajang di Jati Anom.”

“Jadi anak muda itu adik seorang Senapati Pajang di Jati Anom? Jika demikian, kenapa ia berada disini? Ia akan dapat menjadi telik sandi yang akan menggagalkan semua usaha kita disini.”

“Kau jangan berprasangka,” jawab anak muda Sangkal Putung, “kami mengenal dengan pasti siapakah Agung Sedayu itu seperti yang sudah aku katakan. Jika kau tidak percaya, bertanyalah anak-anak muda dari Mataram. Mereka pun banyak yang sudah mengenal Agung Sedayu. Jika bukan orangnya, tentu namanya.”

Tetapi anak muda Pasantenan itu nampaknya sulit untuk mengerti. Agaknya ia tetap pada pendiriannya. Gumamnya, “Jika Agung Sedayu memiliki kemampuan melampaui kemampuanku, baru aku akan tunduk pada perintahnya.”

Anak anak muda Sangkal Putung itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka berdesis di antara kawan-kawannya, “Biarlah ia membenturkan kepalanya pada sebuah batu hitam. Baru ia akan merasakan betapa kerasnya.”

“Tetapi jika hal itu akan berakibat buruk?” sahut kawannya, “ia bukan satu-satunya anak Pasantenan yang datang mendahului kawan-kawannya yang lain. Jika timbul dendam di antara kita yang ada disini, maka akibatnya akan sangat buruk.”

“Tidak. Bahkan kawan-kawannya sendiri sudah berusaha untuk mencegahnya. Tetapi anak itu memang keras kepala.” jawab yang lain. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Nampaknya mereka pun kemudian sependapat, biarlah orang itu membenturkan kepalanya pada batu hitam. Dengan demikian, maka ia akan mendapat pengalaman yang sangat berharga.

Dengan demikian maka anak-anak muda Sangkal Putung itu tidak lagi berusaha mencegahnya. Namun agar Agung Sedayu tidak terkejut karenanya, maka mereka menganggap perlu untuk memberitahukan kepadanya. Dengan demikian Agung Sedayu akan dapat menanggapinya dengan sebaik-baiknya.

Sebenarnyalah, maka bahwa dua orang anak muda Sangkal Putung telah menjumpai Agung Sedayu dengan diam-diam. Mereka mengatakan apa yang mereka ketahui tentang sikap anak muda dari Pasantenan itu.

“Kawan-kawannya sendiri telah mencegahnya,” berkata anak muda Sangkal Putung itu, “tetapi agaknya ia merasa dirinya terlalu besar, sehingga ia tidak menghiraukannya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Sebenarnya hal seperti itu tidak perlu terjadi. Aku kira, aku menjalankan kewajibanku dengan wajar. Tetapi masih saja ada orang yang salah paham.”

“Bukan salah paham,” jawab anak muda Sangkal Putung, “tetapi anak muda itu agaknya iri hati melihat kepercayaan yang kau terima dari Ki Lurah Branjangan, karena anak itu menganggap bahwa kau tidak mempunyai hak untuk mendapat kepercayaan itu.”

“Menurut mereka, apakah dasarnya hak yang dimaksudkannya?” bertanya Agung Sedayu.

adbm-149-03“Mereka menganggap bahwa kau tidak mempunyai kelebihan dari orang lain. Dengan demikian, maka agaknya menurut anak muda itu, hanya mereka yang memiliki kelebihan sajalah yang pantas untuk mendapat hak itu,” jawab anak-anak muda Sangkal Putung itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia selalu diganggu oleh sikap seperti itu. Ketika ia datang di Tanah Perdikan Menoreh, ia harus berhadapan dengan Prastawa. Kemudian di antara anak-anak muda ini, ada juga yang bersikap seperti itu.

“Agung Sedayu,” berkata anak muda Sangkal Putung itu, “kau memang perlu menunjukkan kelebihanmu. Dengan demikian, kau akan tetap mempunyai wibawa dan pengaruh yang besar atas anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah ini. Bukan sekedar untuk menyombongkan diri, tetapi jika pengaruh itu dapat kau manfaatkan dengan baik. maka akibatnyapun akan baik pula.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Desisnya, “Baiklah. Aku akan berhati-hati.”

Demikianlah ketika ia melaporkannya kepada Ki Gede, Ki Waskita dan Ki Lurah Branjangan, maka jawab ketiga orang tua itu pun hampir sama dengan sikap anak-anak muda Sangkal Putung itu. Bahkan Ki Lurah Branjangan berkata, “Anak seperti itu memang perlu dihajar sampai jera. Baru ia akan tunduk dan patuh terhadap paugeran.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Namun ketika ia sendiri diserahi, maka ia mulai membayangkan, betapa tenangnya hidup Rudita yang sama sekali tidak menghiraukan ancaman orang lain terhadap dirinya. Ia berpegangan kepada sikap tidak memusuhi siapapun juga, sehingga ia tidak pernah merasa terganggu oleh permusuhan itu.

Meskipun demikian, maka di hari-hari berikutnya Agung Sedayu melakukan kewajibannya seperti tidak akan terjadi sesuatu. Bersama orang-orang tua ia mengatur segala sesuatunya. Bagaimana anak-anak itu mengatur diri dalam kelompok-kelompok masing-masing.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah Branjangan, dua orang pemimpin pengawal Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh mulai mengatur latihan-latihan tahap pertama bagi sekelompok kecil anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah itu untuk mengambil dasar bagi tahap-tahap berikutnya. Ki Lurah Branjangan ingin mengetahui kemampuan mereka sepintas, sehingga ia dapat mengambil satu sikap latihan yang lebih terperinci. Karena sekelompok kecil anak-anak muda itu akan menjadi pimpinan pada berbagai tataran pasukan khusus yang akan disusun kemudian.

Pada latihan-latihan itu Ki Lurah mulai melihat, bahwa didalam hati anak-anak muda itu memang ada persaingan yang kuat. Namun jika persaingan itu dapat disalurkan sebaik-baiknya, justru akan dapat menjadi pendorong bagi mereka untuk bekerja lebih keras dalam latihan-latihan selanjutnya.

Dalam latihan-latihan pertama itulah, Agung Sedayu kemudian melihat, bahwa anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh memang tidak ketinggalan dari anak-anak muda dari daerah lain. Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang dibentuk dengan tergesa-gesa itu telah mempunyai pengetahuan yang cukup dipergunakan sebagai bekal dalam latihan-latihan itu. Sehingga dengan demikian maka anak-anak muda yang berada di dalam kelompok pendahulu itu memang memiliki ilmu yang hampir sejajar.

Namun dalam pada itu, justru karena Agung Sedayu ikut serta dalam kesibukan yang demikian berguna Ki Lurah Branjangan serta orang orang tua yang lain, maka anak muda dari Pasantenan itu semakin merasa tidak senang kepadanya. Ia merasa anak muda yang terbaik yang datang dari Pasantenan. Bahkan ia pun berkata kepada diri sendiri, “Aku siap untuk diadu dengan siapapun juga dalam lingkungan kelompok pendahulu ini. Bahkan dengan anak muda yang bersama Agung Sedayu itu.”

Tetapi ia masih tetap menyimpannya didalam hati. Namun ia tidak dapat menyingkirkan niatnya, bahwa pada suatu saat. ia akan menunjukkan, bahwa ia mempunyai kelebihan dari siapapun juga.

Pada hari-hari berikutnya, dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil, Ki Lurah Branjangan memang ingin menilik secara pribadi kemampuan anak-anak muda itu, sehingga dalam ruang tertutup ia mempersilahkan kelompok-kelompok yang lebih kecil itu untuk menunjukkan kemampuan mereka pribadi.

Jika Ki Lurah Branjangan mempertemukan dua orang dari lingkungan yang berbeda, maka diperlukan pengawasan yang ketat, sehingga masing masing tidak ada yang merasa kalah dan menang. Dalam hal yang demikian, maka Ki Lurah memerlukan bantuan Agung Sedayu, Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh. Namun karena yang paling banyak kesempatannya untuk melakukan hal itu adalah Agung Sedayu, maka yang paling sering nampak didalam sanggar tertutup itu adalah Agung Sedayu dan Ki Lurah Branjangan sendiri. Ki Gede dan Ki Waskita mempunyai kepercayaan sepenuhnya bahwa Agung Sedayu akan dapat melakukannya sebaik yang dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan sendiri.

Meskipun demikian, pada satu saat Ki Gede dan Ki Waskita pun ikut pula membantu tugas Ki Lurah Branjangan itu. Ada yang menarik bagi mereka berada di lingkungan anak-anak muda yang sedang tumbuh.

Dalam pada itu, orang-orang tua itu mulai dapat melihat, meskipun belum dapat meyakinkan karena hanya sepintas, tingkat kemampuan anak-anak yang datang dari berbagai daerah itu.

Pada saat yang demikian itulah, dalam sepintas Ki Lurah Branjangan dapat melihat, seorang anak muda dari Pasantenan memang mempunyai beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang lain dari daerah asalnya.

“Anak itu dapat diingat,” berkata Ki Lurah Branjangan, “ ia memang memiliki kelebihan.”

Adalah kebetulan sekali bahwa pada saat itu diamati kemampuannya, Ki Gede lah yang hadir bersama Ki Lurah Branjangan, sehingga Agung Sedayu masih belum sempat melihatnya.

“Ya,” berkata Ki Gede, “tetapi Ki Lurah tentu masih akan melihat perkembangan anak-anak itu untuk beberapa saat lamanya. Sehingga bersama-sama dengan pimpinan yang sebenarnya akan berada di barak ini, Ki Lurah akan dapat menyusun jenjang kepemimpinan bagi anak-anak muda itu lebih sempurna dari yang sekarang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Tugas ini harus segera aku selesaikan. Raden Sutawijaya sudah siap memanggil anak-anak muda dalam keseluruhan yang akan disusun dalam pasukan khusus itu. Bukankah itu berarti aku harus segera menyiapkan anak-anak ini untuk memimpin pasukan yang lebih besar?”

“Tugas Ki Lurah memang berat,” berkata Ki Gede.

“Aku hanya mendapat dua orang pembantu. Untunglah disini ada Agung Sedayu, Ki Gede dan Ki Waskita,” desis Ki Lurah.

“Raden Sutawijaya mengetahui tentang kami. Agaknya Raden Sutawijaya memang ingin memanfaatkan kami,” jawab Ki Gede.

Ki Lurah tersenyum. Katanya kemudian, “Mungkin memang demikian. Tetapi aku akan kebingungan seandainya Ki Gede, Ki Waskita dan Agung Sedayu tidak bersedia, karena memang tidak ada ikatan bagi Ki Gede untuk melakukannya.”

Ki Gede pun tersenyum pula. Katanya, “Kita semua bertanggung jawab, apakah rencana untuk menyusun pasukan ini akan berhasil atau tidak.”

Demikianlah, maka Ki Lurah pun kemudian berusaha bersungguh-sungguh untuk menyiapkan anak-anak muda itu. Setelah Ki Lurah dibantu oleh dua orang perwira yang datang bersamanya dari Mataram serta Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan Agung Sedayu mengetahui kemampuan dasar yang memang hampir setingkat itu, maka ia pun akan segera mulai dengan latihan-latihan untuk meratakan dasar kemampuan mereka sebelum mereka akan ditunjuk menjadi pimpinan dalam segala jenjang tingkatan apabila pasukan khusus itu terbentuk.

Yang diberikan oleh Ki Lurah mula-mula adalah latihan keprajuritan. Dengan alas kemampuan masing-masing, Ki Lurah ingin memberikan dasar bagi tugas-tugas mereka. Karena mereka telah berada didalam satu lingkungan. Satu kesatuan yang harus merasa mempunyai ikatan di antara mereka, yang seorang dengan yang lain.

Dibantu oleh kedua orang perwira yang datang dari Mataram, maka Ki Lurah pun telah berusaha untuk membantu sekelompok anak-anak muda yang telah mendahului kawan-kawannya untuk menempa diri.

Disamping kemampuan dalam olah keprajuritan, Ki Lurah juga menganggap perlu untuk memberikan dasar-dasar yang sama bagi perkembangan mereka seorang demi seorang. Diatas bekal yang berbeda-beda harus diletakkan alas yang sama bagi kepentingan mereka selanjutnya sebagai salah seorang dari pasukan yang akan disebut pasukan khusus.

Yang mendapat tugas untuk melakukannya adalah Agung Sedayu.

Agung Sedayu tidak dapat ingkar. Karena itu, maka ia pun telah menyatakan diri bersedia melakukannya, tetapi bersama-sama dengan Ki Lurah yang memiliki pengalaman yang luas untuk membentuk anak-anak muda bagi salah seorang di antara sepasukan pengawal, tidak untuk berdiri sendiri-sendiri.

Namun sejak hari pertama. Agung Sedayu sudah merasa, sikap anak muda yang pernah disebut oleh anak-anak muda Sangkal Putung itu memang agak aneh. Kadang-kadang anak muda itu tidak dapat menahan diri lagi, sehingga sikapnya menjadi kasar.

Agung Sedayu menjadi bimbang menghadapinya. Apakah ia harus membiarkannya dan berusaha menghindarkan diri dari rencana anak muda itu untuk menjajagi kemampuannya, atau justru sebaliknya. Ia harus segera melakukannya, agar untuk selanjutnya sikap anak itu tidak membuatnya selalu gelisah. Bahkan kawan-kawannya menjadi gelisah.

Dalam kebimbangan itu. Agung Sedayu mendapat kesan, bahwa anak itu memang menganggapnya tidak mampu mengatasi persoalan jika ia bersikap kasar. Menolak dan bahkan kadang-kadang memperolok-olokkan bimbingan Agung Sedayu bagi anak-anak muda itu.

“Kau harus mengambil langkah yang tepat tetapi cepat Agung Sedayu,” berkata Ki Lurah Branjangan ketika Agung Sedayu melaporkannya. Lalu, “Aku tahu, kau belum terbiasa melakukannya didalam lingkungan keprajuritan. Mungkin kau dapat mengambil cara yang kau lakukan sekarang ini bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi tidak untuk ditrapkan pada anak-anak muda yang harus dilatih sebagai seorang prajurit gemblengan.”

“Apa yang harus aku lakukan Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu.

“Menegurnya. Lalu, bertindak tegas jika ia melawan,” jawab Ki Lurah.

“Apakah tindakan seperti itu dibenarkan?” bertanya Agung Sedayu.

“Dalam batas-batas kewenangan memang dibenarkan,” jawab Ki Lurah. Tetapi kemudian katanya, “Namun nampaknya anak itu memang merasa memiliki bekal dari satu perguruan tertentu. Karena itu kau harus berhati-hati.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia dihadapkan pada kekerasan. Tetapi ia menganggap, sebagaimana dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, persoalan itu secepatnya harus diatasi. Dengan demikian ia tidak membiarkan keragu-raguandan ketidak pastian berkelanjutan lebih lama lagi.

Namun demikian. Agung Sedayu pun harus memperhatikan pesan Ki Lurah Branjangan, bahwa anak muda itu nampaknya memang memiliki bekal yang cukup dari sebuah perguruan.

Sebenarnyalah bahwa sikap anak muda itu telah menarik perhatian beberapa orang anak muda yang lain. Bahkan kawan-kawannya dari daerah Pasantenanpun memperingatkannya. Tetapi karena anak muda itu memiliki kelebihan dari kawan-kawannya, maka tidak seorang pun yang kemudian berani mencegahnya. Apalagi jika anak muda yang seorang itu sudah mulai membentak.

Tetapi anak-anak muda dari daerah lain, kadang-kadang hampir tidak sabar lagi. Seorang anak muda dari Mataram hampir saja bertindak sendiri. Untunglah kawannya dapat mencegahnya.

“Biarlah Agung Sedayu sendiri mengatasinya,” desis kawannya.

“Ia tidak berbuat apa-apa. Tindakan anak Pasantenan itu sudah keterlaluan,” desis anak muda yang hampir saja bertindak sendiri itu.

“Kita sudah mengenal Agung Sedayu,” jawab kawannya, “tentu ia mempunyai kebijaksanaan tersendiri. Ia memang selalu berusaha menghindari perselisihan.”

“Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini,” jawab anak muda yang marah itu, “aku yakin dan pasti. Agung Sedayu adalah seorang yang memiliki kemampuan tiada taranya. Mungkin hampir seperti Senopati Ing Ngalaga sendiri. Tetapi ternyata ia bukan seorang pemimpin yang tegas dan mampu bertindak.”

“Ia mempunyai cara yang berbeda dengan caramu,” sahut kawannya pula.

Anak muda yang marah itu menarik nafas panjang. Seolah-olah udara diseluruh Tanah Perdikan Menoreh akan dihirupnya untuk menenangkan gejolak dijantungnya.

Dalam pada itu, anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh pun menjadi gelisah. Sementara anak-anak muda Sangkal Putung benar-benar tidak mengerti sikap Agung Sedayu.

“Jika yang mengalami perlakuan itu Swandaru, maka anak itu tentu sudah babak belur,” desis anak muda Sangkal Putung itu.

Namun sebenarnyalah akhirnya Agung Sedayu pun mengerti, jika ia tetap diam saja mengalami perlawanan dari anak muda Pasantenan itu, maka akibatnya akan menggoncangkan kewibawaan pasukan khusus itu sen diri. Karena itu, ia pun mulai bersiap-siap untuk meng ambil sikap yang lebih pasti.

Demikianlah, ketika Agung Sedayu memberikan bimbingan dalam olah ketahanan tubuh, mulailah anak muda itu dengan sikapnya. Demikian kawan-kawannya mulai berlatih diatas bebatuan disebuah sungai yang tidak terlalu besar, tetapi mengandung banyak batu-batu besar, mulailah anak itu menunjukkan sikapnya yang menentang.

Anak-anak muda itu telah dibawa oleh Agung Sedayu dipagi-pagi buta untuk berloncatan sambil berlari-lari diatas bebatuan. Kecuali berlatih kecepatan gerak kaki, maka latihan itu berguna pula bagi latihan keseimbangan. Dalam keseluruhan, maka latihan itu akan dapat meningkatkan ketrampilan dan ketahanan tubuh karena latihan yang cukup berat.

Namun demikian anak-anak muda itu mulai berlari-lari diatas bebatuan sambil berloncat-loncat, maka seperti biasa anak muda dari Pasantenan itu justru duduk ditepian sambil berteriak, “jangan ajari kami dengan permainan anak-anak ingusan. Kami tidak akan bermain kejar-kejaran seperti itu. Ajari kami bertempur atau tingkatkan kemampuan kami dalam olah kanuragan.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia menganggap bahwa waktunya sudah tiba. Ia harus bertindak jika ia tidak ingin didahului oleh anak anak muda didalam pasukan kecil itu. Jika anak-anak muda itulah yang akan bertindak, maka akibatnya tentu akan berkepanjangan.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun menghentikan latihan itu. Dengan langkah pasti ia mendekati anak muda yang duduk ditepian sambil memeluk lututnya itu.

“Cepat, ikuti latihan ini,” perintah Agung Sedayu kepada anak muda itu ketika ia sudah berdiri beberapa langkah dihadapannya.

Tetapi anak muda itu justru tertawa. Katanya, “Kau kira latihan semacam itu akan bermanfaat?”

“Aku tahu, kau memiliki bekal ilmu yang cukup. Tentu kau mengetahui, bahwa latihan ketrampilan dan keseimbangan ini akan bermanfaat sekali. Aku kira kau sudah pernah mengalaminya meskipun mungkin dengan cara yang berbeda. Mungkin kau mempergunakan tonggak-tonggak yang kau tanam. Mungkin kau mempergunakan lingkaran-lingkaran di tanah, atau mungkin pula kau mempergunakan penampi yang kau tebarkan di halaman perguruanmu atau cara-cara yang lain,” jawab Agung Sedayu.

“Justru karena itu aku sudah jemu. Anak-anak muda yang lain pun sudah jemu pula. Kau kira latihan semacam ini akan mempengaruhi kemampuanku? Mempengaruhi ketrampilanku dan apalagi daya tahan tubuhku?” berkata anak muda itu. Lalu, “Agung Sedayu, sudah lama aku ingin mengatakan kepadamu, bahwa kita memang harus bertukar tempat.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Agaknya waktunya memang benar-benar tepat untuk menunjukkan kepada anak muda itu, bahwa ia telah melanggar paugeran.

“Apa maksudmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ternyata karena pengetahuanmu dalam olah kanuragan yang sangat sempit, maka kau mencoba mengajari kami dengan hal-hal yang sudah ketinggalan sepuluh tahun dari ajaran-ajaran diperguruanku. Karena itu, serahkan kepadaku, bagaimana seharusnya memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda yang akan menjadi pemimpin dalam satu pasukan khusus yang kuat.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja timbul keseganannya melayani anak muda itu, karena dengan demikian seakan-akan ia telah berebut tempat. Namun ketika ia melihat wajah-wajah yang tegang di sekitarnya, maka ia mulai membuat pertimbangan-pertimbangan lagi. Jika ia tidak melayahi sikap anak muda itu, maka mungkin justru orang lainlah yang akan melakukannya. Mungkin anak muda Mataram, Sangkal Putung atau anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan mungkin anak-anak muda dari Pegunungan Kidul sendiri akan mencegahnya bersama-sama, karena tidak seorang pun berani melakukannya sendiri.

Karena itu, maka ia pun berusaha untuk mengusir keragu-raguannya. Justru karena itu, maka meledaklah jawabnya, “Kau sangka bahwa latihan-latihan semacam ini hanya dilakukan pada saat-saat permulaan kau mengenal olah kanuragan? Aku melakukannya sampai sekarang meskipun kemampuanku sudah jauh melampaui kemampuanmu.”

“Omong kosong,” jawab anak muda itu. Sambil berdiri dan bertolak pinggang ia berkata, “kau jangan menganggap dirimu mumpuni.”

“Aku merasa demikian,” jawab Agung Sedayu, “karena itu, aku diserahi tugas untuk melakukan hal ini oleh Ki Lurah Branjangan yang sudah mengenalku dengan baik. Kaupun harus menyadari, sikapmu ini akan dapat menghadapkan kau pada paugeran. Kau telah melawan perintah orang yang mendapat wewenang untuk melakukannya.”

“Aku akan menegakkan wibawa pada sekelompok anak-anak muda yang dengan penuh pengabdian mendahului memasuki barak ini,” jawab anak muda itu, “jika disini kami hanya di hadapkan kepada seseorang seperti kau, alangkah pahitnya perjuangan ini. Apa artinya pasukan khusus yang bakal terbentuk.”

“Jalankan perintahku,” potong Agung Sedayu, “aku memiliki segala unsur yang diperlukan untuk memaksamu. Aku mempunyai kekuasaan sebagaimana dilimpahkan oleh Ki Lurah Branjangan. Dan aku mempunyai kemampuan cukup untuk memaksamu dengan kekerasan jika kau membantah.”

“Aku menolak,” jawab anak muda itu tegas.

“Baik. Kawan-kawanmu menjadi saksi. Jika aku berusaha memaksamu, aku mempunyai alasan yang cukup,” berkata Agung Sedayu kemudian sambil melangkah mendekat.

“Jangan mendekat lagi, supaya jantungmu tidak rontok,” berkata anak muda itu.

Tetapi Agung Sedayu melangkah maju sambil berkata, “Aku akan menyeretmu.”

Wajah anak muda itu menjadi merah. Menilik sikap dan tingkah laku Agung Sedayu, maka ia tidak akan mengambil tindakan seperti itu. Namun bagi anak muda itu, justru merupakan satu kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Karena itu, demikian Agung Sedayu menangkap lengannya dan menyeretnya, anak muda itu berusaha untuk tetap tegak. Ia ingin menunjukkan kepada anak-anak muda yang menjadi saksi di tepian itu, bahwa tenaga Agung Sedayu tidak dapat menggoyahkan kekuatannya.

Sebenarnyalah terasa oleh Agung Sedayu, bahwa anak muda itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Ketika ia berusaha untuk menariknya, maka ia merasakan betapa kuatnya anak muda yang tegak berdiri ditepian itu.

Agung Sedayu tidak segera menghentakkannya. Ia justru masih bertanya, “Kau akan bertahan dalam sikap yang demikian?”

“Gila,” geram anak muda itu, “lakukan, apa yang akan kau lakukan.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang anak-anak muda yang berdiri ragu-ragu memutarinya, maka ia pun memutuskan untuk melakukannya, agar tingkah laku anak yang melawannya itu tidak meniadi contoh bagi anak-anak muda yang lain untuk melanganggar paugeran.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun terpaksa menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan lebih besar dari anak muda itu. Dengan serta merta, maka anak muda yang telah berusaha melawannya itu ditariknya dengan paksa.

Kaki anak itu berusaha untuk tetap melekat pada pasir tepian. Namun ia tidak berhasil bertahan. Bahkan kemudian Agung Sedayu telah mengibaskannya dengan kekuatan yang sangat besar sehingga anak muda itu telah terdorong beberapa langkah. Namun ia tidak berhasil mempertahankan keseimbangannya, sehingga akhirnya ia pun telah jatuh terjerembab.

Adalah diluar sadar, bahwa beberapa orang anak muda telah bersorak. Apalagi anak muda Mataram yang marah, yang hampir saja mengambil sikap sendiri itu pun dengan serta merta telah bertepuk tangan.

Agung Sedayu menjadi semakin yakin, bahwa ia sudah berbuat sesuai dengan yang seharusnya dilakukan. Karena itu, maka ketika anak muda itu dengan tangkasnya berdiri, ia sudah berada selangkah saja dihadapannya.

“Sekarang, ikuti perintahku,” katanya.

Tetapi anak muda yang menjadi kotor oleh pasir itu menjadi sangat marah, la tidak lagi menghiraukan apapun juga, Karena itu maka dengan serta merta ia telah menyerang Agung Sedayu.

Tetapi Agung Sedayu telah menduganya. Karena itu, ketika tiba-tiba kaki anak muda itu terjulur kearah lambungnya maka ia pun sempat mengelak dengan langkah kecil ke samping.

“Jangan menjadi gila,” geram Agung Sedayu, “aku dapat menghukummu atas hak yang dilimpahkan kepadaku”

“Persetan,” geram anak muda itu, “jika kau mampu mengalahkan aku, aku tunduk kepada segala keputusanmu. Tetapi jika aku yang mengalahkanmu, kaulah yang harus tunduk kepadaku.”

“Aku mendapat wewenang. Kau tidak,” jawab Agung Sedayu.

“Aku tidak peduli dengan wewenang. Tetapi aku tidak mau berada disini untuk mengikuti cara latihan sebagaimana harus aku lakukan sepuluh tahun yang lalu yang diberikan oleh seseorang yang kemarnpuannya jauh dibawah kemampuanku.” Bentak anak muda itu.

Agung Sedayu memandang anak muda itu dengan tajamnya. Sebenarnyalah ia tidak ingin berbuat kasar. Tetapi bahwa nalarnyalah yang telah mendorongnya untuk melakukan kekerasan sesuai dengan tugasnya, meskipun agak bertentangan dengan perasaannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun telah memaksa dirinya. Seakan-akan ia memang seorang pemimpin yang tegas. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menggeram, “Aku menghitung sampai tiga. Jika kau masih tetap berkeras untuk menolak perintahku, aku akan mempergunakan kekerasan.”

Tetapi belum lagi Agung Sedayu mulai menghitung, maka justru anak muda itulah yang mendahuluinya. Dengan garangnya ia telah meloncat menyerang, langsung menghantam kearah dada.

Tetapi Agung Sedayu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia sadar, bahwa yang dihadapinya adalah anak-anak muda yang ingin mengembangkan dirinya dalam satu pasukan khusus. Karena itu, maka ia tidak boleh menghadapi anak muda itu sebagaimana menghadapi Ajar Tal Pitu.

Karena itu, maka Agung Sedayu justru ingin lebih banyak menunjukkan kelebihan-kelebihan yang ada padanya bagi kepentingan kedudukannya sebagai salah seorang pemimpin dari anak-anak muda itu. Dengan demikian, maka ia tidak perlu menyakiti anak muda yang sedang bergejolak jiwanya itu. Ia tidak akan berkelahi dan apalagi dengan kemarahan yang meluap membalas setiap serangan dengan serangan.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu sempat melindungi dirinya dengan ilmu kebalnya meskipun hanya selapik tipis, sehingga seandainya serangan anak muda itu benar-benar mengenainya, maka ia telah terbebas dari akibat yang dapat berbahaya baginya.

Tetapi Agung Sedayu tidak ingin menunjukkan kekebalannya. Yang dilakukannya adalah menghindari serangan anak muda itu.

Ketika serangannya yang pertama tidak menyentuh sasaran, maka anak muda itu pun telah menyerangnya pula. Demikian Agung Sedayu menghindar, maka ia pun segera memburunya.

Mula-mula anak-anak muda yang melihat perselisihan itu menjadi heran dan bahkan ada yang kecewa bahwa Agung Sedayu hanya dapat meloncat-loncat menghindar tanpa mendapat kesempatan untuk membalas. Namun akhirnya mereka menyadari, bahwa Agung Sedayu memang tidak berusaha membalasnya.

Meskipun demikian, walaupun Agung Sedayu sama sekali tidak membalasnya, tetapi serangan anak muda itu tidak pernah berhasil mengenainya. Seandainya serangannya dapat menyentuhnya, seakan-akan Agung Sedayu sama sekali tidak merasakan akibatnya.

Anak muda yang tidak yakin akan kemampuan Agung Sedayu itu menjadi semakin marah. Ia pun menyerang semakin garang. Tetapi kecepatan gerak Agung Sedayu justru membuatnya mulai pening.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang menyaksikan perkelahian itu mulai melihat permainan Agung Sedayu. Pada umumnya mereka pun memiliki kemampuan meskipun baru pada tataran dasar. Karena itu, maka mereka pun melihat, apa yang sebenarnya terjadi.

Ada juga di antara anak-anak muda itu yang kecewa. Mereka ingin Agung Sedayu bertindak lebih keras. Membuat anak muda yang sombong itu menjadi benar-benar jera Tetapi ada juga yang melihat permainan Agung Sedayu itu sebagai satu lelucon yang menyenangkan. Mereka melihat cara Agung Sedayu mengatasi persoalannya dengan sikap dan gurau yang segar.

Karena itu, beberapa orang di antara anak-anak muda itu pun justru mulai bersorak-sorak. Bahkan ada yang bertepuk tangan dengan gembiranya. Mereka melihat wajah yang merah biru dari anak muda Pasantenan yang semakin lama menjadi semakin marah, karena ia pun akhirnya sadar, bahwa Agung Sedayu telah mempermainkannya.

“Gila “ geram anak muda itu, “kau terlalu sombong Agung Sedayu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia masih saja berloncatan menghindari setiap serangan. Semakin lama semakin cepat, sehingga anak muda itu pun menjadi bertambah pening. Bahkan kadang-kadang ia telah kehilangan sasaran serangannya.

Ketika anak-anak muda yang menyaksikan bersorak semakin keras, maka ia pun menjadi semakin marah.

“Akhiri kegilaanmu ini,” desis Agung Sedayu.

“Persetan “ geram anak muda itu.

Namun akhirnya terjadi yang tidak diduga-duga oleh Agung Sedayu dan anak-anak muda yang menyaksikan sambil bersorak-sorak itu. Jika mereka semula menganggap hal itu sebagai satu permainan yang jenaka dari Agung Sedayu, maka mereka pun tiba-tiba menjadi tegang.

Anak muda dari Pasantenan yang marah itu, ternyata tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ketika kemarahannya telah memuncak, maka tiba-tiba saja ia telah mencabut pisau belati dari bawah bajunya.

Sambil mengacukan pisau itu ia menggeram “ Aku bunuh kau anak gila yang sombong.”

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Aku peringatkan sekali lagi. Jangan menjadi gila. Aku mengemban tugas dan wewenang disini. Kau tidak. Aku dapat bertindak dengan lembut, keras dan bahkan kasar. Aku masih ingin melihat kau menyadari kesalahanmu dengan permainan ini. Tetapi nampaknya kau justru menjadi semakin liar. Aku peringatkan, sarungkan pisau itu dan tunduk segala perintahku.”

Anak muda itu tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja ia pun telah meloncat menyerang Agung Sedayu dengan pisau di tangannya.

Agung Sedayu yang menghindar menjadi ragu-ragu. Apakah ia masih harus bermain-main, atau dengan keras membuat anak itu menjadi jera.

Sementara itu, anak-anak muda yang menonton perkelahian itu tidak lagi bersorak-sorak dan bertepuk tangan. Mereka mulai menganggap persoalan ilu menjadi sungguh-sungguh. Anak muda Pasantenan itu benar-benar telah lupa diri dan kehilangan pengamatan nalarnya. Sehingga karena itu, maka ia telah terdorong untuk berbuat sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.

Anak-anak muda Pasantenan yang lainpun menjadi tegang. Mereka sama sekali tidak dapat membenarkan tingkah laku seorang di antara mereka yang justru mereka anggap paling baik di antara mereka.

Dalam pada itu, akhirnya Agung Sedayu pun telah mengambil keputusan. Ia tidak dapat memperlakukan anak itu seperti yang pernah terjadi atas Prastawa. Jika ia tidak bertindak atas anak itu, maka persoalannya akan berpengaruh atas kedudukannya. Kepercayaan kepadanya akan berkurang, seolah-olah ia tidak mampu bertindak tegas sebagai seharusnya seorang pemimpin.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian bertekad untuk membuat anak muda dari Pasantenan itu menjadi jera.

Dalam pada itu, anak muda yang marah itu masih menyerangnya dengan pisau di tangan. Ketika Agung Sedayu menghindar, maka ia pun telah memburunya.

Sementara itu, Agung Sedayu yang telah bulat niatnya untuk membuat lawannya jera, sekaligus menunjukkan kepadanya, bahwa kemampuannya itu sama sekali tidak berarti bagi Agung Sedayu. Karena itu, maka ketika sekali lagi anak muda itu menyerang, maka dengan gerak yang sederhana Agung Sedayu bergeser menghindar. Sementara itu, demikian tangan anak muda itu terjulur, dengan sebagian saja dari kekuatannya Agung Sedayu telah memukul pergelangan tangan anak muda yang marah itu.

Terasa pukulan tangan Agung Sedayu itu bagaikan hentakan sepotong besi baja. Demikian kerasnya, sehingga tangannya bagaikan patah karenanya. Jari-jarinya tidak lagi mampu mempertahankan pisau belatinya dalam genggaman, sehingga pisau belati itu pun telah terlempar jatuh.

Anak muda yang kesakitan itu meloncat surut. Matanya masih memancarkan kemarahan yang tidak tertahankan. Karena itu, maka Agung Sedayu pun bergeser surut sambil berdesis, “Ambil pisaumu. Ambil.”

Orang itu menjadi ragu-ragu. Namun sebenarnyalah kemarahannya masih membakar jantungnya.

Selangkah lagi Agung Sedayu mundur sambil berkata, “Ambil senjatamu. Aku tahu, kau masih belum puas. Kau mungkin merasa, bahwa kebetulan sekali aku dapat menjatuhkan pisaumu.”

Anak muda itu memang masih di bakar oleh kemarahan. Karena itu, maka perlahan-lahan ia melangkah mendekati pisaunya sambil bergumam, “Kau sombong sekali. Kau akan menyesal.”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka sama sekali. Ternyata anak muda itu bukan saja kasar. Tetapi juga licik, demikian ia meraih pisaunya, maka ia pun telah menggenggam pasir di tangannya. Diluar dugaan, tiba-tiba saja anak muda itu telah melemparkan segenggam pasir itu kemata Agung Sedayu.

Agung Sedayu berdesis tertahan. Matanya menjadi kabur. Sementara itu ia pun sadar, bahwa anak muda itu benar-benar licik dan tidak tahu diri, sehingga ia akan mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang.

Karena itu, maka Agung Sedayu meloncat mundur. Ia mendengar anak muda itu mengumpat kasar. Dan Agung Sedayu pun sadar, bahwa anak muda itu sudah siap untuk menyerangnya.

Agung Sedayu tidak sempat berpikir terlalu panjang. Hampir diluar sadarnya, ia telah mempertebal lapisan ilmu kebal yang melindunginya.

Karena itu, maka pada saat Agung Sedayu kemudian sibuk membersihkan pasir dimatanya, sementara anak muda itu mempergunakan saat yang demikian untuk menyerang, sekali lagi anak-anak muda yang mengerumuninya itu pun terkejut karenanya.

Sementara Agung Sedayu masih belum sempat berbuat sesuatu karena matanya masih kabur, anak muda itu telah sempat menusuknya dengan pisau belati yang telah dipungutnya tepat dilambung.

adbm-149-04Anak-anak muda yang mengerumuninya hampir saja berloncatan untuk beramai-ramai bertindak atas anak muda itu. Namun mereka tertegun ketika ternyata anak muda itu telah meloncat mundur. Bahkan kemudian sekali lagi ia berusaha untuk menikam Agung Sedayu pada dadanya. Tetapi pisau itu sama sekali tidak melukai kulitnya.

“Gila” geram Agung Sedayu yang sebenarnya tidak ingin memperlihatkan betapa ia mempunyai ilmu kebal. Namun diluar kehendaknya, hal itu telah terjadi, karena pasir dimatanya itu telah mengaburkan pandangannya. Meskipun ilmunya telah membuatnya tidak merasa pedih karena pasir dimatanya, tetapi ia tetap tidak dapat melihat dengan jelas, karena segenggam pasir yang memenuhi kedua matanya itu.

Anak muda itu berdiri tegak bagaikan patung. Ia merasa pisau belatinya bagaikan mengenai selapis besi baja. Bukan tubuh Agung Sedayu yang koyak karena pisaunya, tetapi tangannya justru merasa pedih.

Ketika anak muda itu melihat baju Agung Sedayu telah tersayat oleh pisau belatinya, maka ia pun segera menyadari, bahwa sebenarnyalah kulit Agung Sedayu tidak dapat dilukainya.

Sementara itu, tanpa menghiraukan anak muda yang menyerangnya, Agung Sedayu pun telah melangkah kedalam air yang tidak begitu dalam. Sambil membungkukkan badannya, maka ia pun membersihkan wajah dengan air sungai itu.

Baru sejenak kemudian, matanya menjadi terang. Pasir di matanya itu telah larut oleh air sungai yang dipergunakannya untuk mencuci mukanya.

Ketika ia pun kemudian berdiri tegak dan berpaling memandang anak muda yang masih menggenggam pisau itu, maka wajah anak muda itu pun menjadi pucat.

“Kau terlalu licik anak muda “ geram Agung Sedayu.

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi tubuhnya mulai gemetar.

“Itu bukan watak seorang laki-laki jantan. Aku menghargai segala macam cara untuk mempertahankan diri dalam olah kanuragan. Tetapi bukan cara yang licik dan tidak menghormati harga diri seperti yang kau lakukan itu,” berkata Agung Sedayu lebih lanjut. Lalu katanya kemudian, “Bukan maksudku untuk menyombongkan diri. Tetapi hal ini sudah terlanjur kau ketahui. Jika kau ingin menusuk bagian dari tubuhku, silahkan. Kau boleh memilih. Bahkan kau dapat menusuk kedua mataku yang baru saja kau baurkan dengan pasir itu.”

Anak muda dari Pasantenan itu menjadi tegang. Wajahnya menjadi kemerah merahan. Ia baru menyadari kesalahannya. Ternyata bahwa anak muda yang bernama Agung Sedayu itu memiliki ilmu kebal atau ilmu yang lain yang sejenis. Ternyata pisau belatinya sama sekali tidak dapat tergores dikulitnya.. Hanya bajunya sajalah yang telah dapat dikoyakkannya.

Tepian itu pun kemudian menjadi hening. Anak-anak muda yang menyaksikan kejadian itu pun menjadi berdebar-debar. Ketika mereka memandang wajah anak muda yang menjadi ketakutan itu, mereka pun menjadi iba. Agung Sedayu telah benar-benar menjadi marah, karena anak muda dari Pasantenan itu telah berusaha untuk membunuhnya. Seandainya Agung Sedayu tidak memiliki ilmu kebal atau ilmu yang sejenis dengan itu, maka ia tentu sudah terbunuh di tepian itu.

Ketika Agung Sedayu selangkah demi selangkah mendekatinya, maka rasa-rasanya jantung anak muda itu akan meledak. Langkah kaki Agung Sedayu bagaikan hentakan bukit-bukit yang membujur ke Utara itu menimpa dadanya.

“Dengan licik kau sudah mencoba membunuh aku. Seseorang yang mendapat wewenang menjadi salah seorang pemimpin dari pasukan khusus yang bakal dibentuk.” geram Agung Sedayu.

Anak muda itu menjadi semakin pucat.

“Marilah. Puaskan hatimu,” berkata Agung Sedayu kemudian, “jika kau sudah puas, baru aku akan membalas dengan senjata yang sama. Aku akan merebut senjata itu dari tanganmu, kemudian aku akan mengoyak perutmu sehingga ususmu akan keluar. Bukan salahku, karena aku hanya melakukan seperti yang telah kau lakukan.”

Anak muda itu surut selangkah. Tubuhnya benar-benar menjadi gemetar dan darahnya bagaikan terperas habis dari tubuhnya, sehingga wajahnya menjadi seputih kapas.

“Jangan cengeng,” bentak Agung Sedayu, “cepat. Lawan aku sebagaimana seorang laki-laki. Aku adalah orang yang paling kasar di Tanah Perdikan Menoreh dan juga di Jati Anom sebelumnya. Aku membunuh lawan-lawanku dengan cara yang paling kejam, sebagaimana aku lakukan atas Ajar Tal Pitu di Tanah Perdikan ini.”

Anak muda itu menjadi semakin ketakutan. Kakinya yang gemetar seolah-olah tidak lagi dapat menahan berat badannya. Ketika Agung Sedayu melangkah lagi mendekat, maka terhuyung-huyung anak muda itu berusaha melangkah mundur.

Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh, Sangkal Putung dan Mataram yang pernah mengenal Agung Sedayu menjadi heran. Anak itu tidak pernah bersikap seperti itu. Bahkan menghadapi lawan yang paling gawat sekalipun. Sementara itu, yang dihadapinya adalah anak muda Pasantenan yang sama sekali tidak dapat diperbandingkan dengan Ajar Tal Pitu.

Namun dalam keadaan marah Agung Sedayu telah menyebut nama Ajar Tal Pitu.

“Kelicikan anak itulah yang telah membuat Agung Sedayu marah sekali,” berkata anak-anak muda itu didalam hatinya.

Anak muda yang ketakutan itu hampir saja terjatuh ketika Agung Sedayu membentaknya, “Cepat. Lakukan sebagaimana sudah kau lakukan.

Anak muda itu justru membeku.

“Cepat “ Agung Sedayu hampir berteriak.

Tetapi anak muda itu justru menggeleng sambil menjawab sendat, “Tidak. Aku tidak akan berbuat lagi.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia bertanya, “Kau berjanji?”

“Aku berjanji,” desis anak muda itu.

“Bohong” geram Agung Sedayu kau tentu mendendam. Kau tentu menunggu satu kesempatan yang akan dapat kau pergunakan. Aku tidak percaya. Kau terlalu licik.”

“Aku berjanji. Aku bersumpah” suaranya gemetar

“Aku merasa telah bersalah. Dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Omong kosong,” bentak Agung Sedayu.

“Sungguh. Aku bersumpah.” anak muda itu hampir menangis “ aku mohon maaf bahwa aku sudah melakukan kebodohan ini.”

“Lahir dan batin?” bertanya Agung Sedayu.

“Lahir dan batin,” sahut anak muda itu.

“Tetapi kesalahanmu terlalu besar untuk dimaafkan. Kau sudah melakukan percobaan untuk membunuh” berkata Agung Sedayu.

“Semuanya terjadi di luar sadarku.” jawabnya. Namun sebelum ia melanjutkan Agung Sedayu memotongnya dengan suara keras, “Setiap saat kau dapat berkata begitu. Setiap kesalahan dapat saja kau tutupi dengan pengakuan diluar sadarmu. Seandainya aku sudah terkapar mati, dan Ki Lurah Branjangan datang menuntut pertanggungan jawabmu, maka kau dapat berkata sambil bertolak pinggang, ‘Semuanya terjadi diluar sadarku.’”

“Tidak. Tidak.” anak muda itu menjadi kebingungan.

“Baiklah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “jika kau benar-benar merasa bersalah. Kali ini aku memaafkanmu. Tetapi jika kau berbuat kesalahan sekali lagi, maka aku tidak akan dapat mengulangi kemurahan ini. Aku sudah mengorbankan sifat-sifatku yang kasar dan barangkali bengis kali ini, karena kau masih terlalu bodoh dengan menganggap bahwa kau sudah memiliki bekal cukup untuk menjadi seorang prajurit dalam pasukan khusus.”

“Aku berjanji,” katanya pula terpatah-patah.

“Jika kau berjanji, itu berarti kau akan tunduk kepada segala perintahku,” berkata Agung Sedayu.

“Ya.” jawab anak muda itu.

“Bagus,” berkata Agung Sedayu. Kemudian katanya kepada anak-anak muda yang lain, “kita akan meneruskan latihan-latihan kita yang terpotong oleh peristiwa ini. Tetapi ada juga manfaatnya. Siapa yang berusaha menentang perintah, dalam lingkungan pasukan khusus ini berlaku paugeran, bahwa mereka akan dihukum. Atau sama sekali menanggalkan niatnya untuk mengikuti latihan-latihan berikutnya dan kembali ke daerah masing-masing.”

Anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka telah terlepas dari ketegangan yang mencekik. Agung Sedayu telah memaafkan anak muda Pasantenan itu.

Namun demikian, peristiwa itu akan tetap membekas di hati anak-anak muda itu, maupun dihati Agung Sedayu. Anak muda dari Pasantenan itu benar-benar telah berusaha membunuh Agung Sedayu.

Dengan demikian, meskipun Agung Sedayu sendiri tidak mengambil tindakan apapun dan memaafkannya, namun nama anak muda itu seakan-akan telah menjadi cacat.

Sebenarnyalah, Agung Sedayu kemudian telah membawa anak-anak muda itu melanjutkan latihan-latihannya. Tetapi karena matahari telah naik semakin tinggi karena pokal anak muda Pasantenan itu, maka sebagian dari latihan-latihan itu pun terpaksa dibatalkan.

Dalam pada itu, ketika mereka sudah sampai di barak, maka Agung Sedayu pun segera menemui Ki Lurah Branjangan untuk memberikan laporan laporan peristiwa yang baru saja terjadi. Ki Lurah itu sebaiknya mendengar langsung dari mulutnya lebih dahulu, daripada ia mendengarnya dari orang lain.

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya

“Kau sudah melakukannya dengan baik. Agaknya anak-anak muda yang datang lebih dahulu sebagai persiapan pasukan khusus yang akan terbentuk itu pun telah memberikan latihan kepadamu, bagaimana kau harus menjadi seorang pemimpin.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Ia pun sadar, bahwa ia memang bukan seorang pemimpin. Karena itu, ia seolah-olah harus berpura-pura dengan sikapnya. Ia harus bertindak tegas dan bahkan jika perlu sedikit kasar.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Lurah Branjangan, “jika yang mengalami peristiwa itu bukan kau, tetapi seorang Senapati, maka ia tidak akan cukup memaafkannya dan mendengarkan janjinya bahwa ia tidak akan berbuat lagi. Tetapi seorang Senapati lain tentu akan menghukumnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa setiap kesalahan memang harus dihukum. Tetapi adalah karena kelemahan hatinya bahwa ia tidak melakukannya.

“Ki Lurah,” bertanya Agung Sedayu kemudian, “manakah yang lebih baik menurut Ki Lurah. Seperti yang aku lakukan, atau seperti yang dilakukan oleh seorang Senapati itu.”

“Jika persoalannya menyangkut persoalan pribadi Agung Sedayu, maka sikapmu adalah sikap yang terpuji,” jawab Ki Lurah Branjangan, “tetapi jika persoalannya menyangkut paugeran satu kesatuan yang apalagi diharapkan untuk menjadi satu pasukan yang kuat dan taat akan kewajibannya, maka sebaiknya anak muda itu dihukum.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku mengerti Ki Lurah.”

“Tetapi jangan berkecil hati,” berkata Ki Lurah “ seperti anak-anak itu berlatih olah kanuragan, maka kau pun berlatih kepemimpinan. Pengalamanmu akan memberikan banyak petunjuk kepadamu. Kau dapat melihat, apa yang kami lakukan dan apa yang dilakukan oleh Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita. Kau melihat perbedaan sikap Ki Gede jika ia berdiri dihadapan anak-anak muda Tanah Perdikannya, dan juga ia berdiri dihadapan anak-anak muda di barak itu. Tetapi perbedaan itu t^u sedikit sekali dapat kau lihat, karena Ki Gede dan Ki Waskita kesempatannya memang tidak begitu banyak. Ki Lurah berhenti sejenak, lalu, “barangkali kau dapat melihat contoh yang lain. Untara. Kau dapat mengingat apa yang dilakukan dihadapan prajurit-prajuritnya.”

Agung Sedayu itu pun mengangguk-angguk kecil, la memang dapat membayangkan sikap kakaknya dihadapan prajurit-prajuritnya. Namun dengan demikian justru ia menjawab, “Ki Lurah. Ternyata aku memang bukan seorang prajurit. Aku tidak akan dapat bersikap seperti kakang Untara. Aku juga tidak akan dapat menirukan sikap Ki Lurah. Karena itu, agaknya aku memang tidak sesuai dengan tugas ini.”

Ki Lurah tertawa. Katanya, “Bukan tidak sesuai. Tetapi kau belum berusaha untuk menyesuaikan diri.”

“Sulit sekali Ki Lurah,” berkata Agung Sedayu. Seluruh tubuhku menjadi basah kuyup ketika aku berpura-pura marah dan mengumpat dihadapan anak muda dari Pasantenan itu. Sebenarnya aku pun menyadari bahwa anak tersebut memang harus dihukum. Tetapi aku tidak dapat melakukannya.”

“Kau harus mencoba. Tetapi dengan satu maksud yang baik. Bahwa hukuman itu bukan sekedar satu usaha untuk melepaskan kemarahan dan membalas sakit hati ataupun sakit tubuh. Tetapi yang penting hukuman adalah satu upaya untuk merubah sikap orang itu. Mula-mula ia akan menyesali kesalahannya. Kemudian ia menjadi jera dan tidak akan melakukannya lagi. Tetapi jika hukuman itu justru menumbuhkan dendam dan bahkan mendorongnya untuk berbuat lebih jauh lagi, maka hukuman itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi mungkin juga hal itu terjadi karena orang yang dikenai hukuman itu memiliki kelainan sifat sehingga upaya yang baik itu dapat berakibat sebaliknya. Jika demikian, maka terhadap orang yang khusus itu harus dicari penyelesaian yang khusus pula.

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Lurah. Tetapi ia pun menyadari kelemahannya sendiri. Ia tidak akan mungkin dapat berbuat seperti kakaknya. Sehingga dengan demikian maka rasa-rasanya ia memang tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin yang baik.”

Dalam keadaan yang demikian, terbayang di angan-angan Agung Sedayu, Sekar Mirah dengan segala sifat-sifatnya. Seorang gadis yang mengagumi kedudukan, pangkat dan derajad. Yang membayangkan hari depan yang baik sebagaimana dilihatnya pada beberapa orang tertentu.

“Apakah aku akan pernah dapat memberinya kepuasan dalam ujud gelar keduniawian. Pangkat, semat dan derajad?” bertanya Agung Sedayu didalam dirinya sendiri. Dan ia pun menjadi berdebar-debar jika ia mengingat, bahwa telah diputuskan, segalanya akan diselesaikan dalam upacara pengantin pada bulan di akhir tahun mendatang. Semakin lama menjadi semakin dekat.

Namun bagaimanapun juga yang terjadi pada Agung Sedayu itu adalah satu pengalaman. Bahkan Agung Sedayu telah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa sebaiknya ia menyesuaikan diri dengan kedudukan yang dihadapinya.

“Seandainya bukan karena keinginanku sendiri atas satu kedudukan, namun dengan kedudukan itu aku sudah berusaha memenuhi salah satu keinginan Sekar Mirah,” berkata Agung Sedayu.

Dalam keragu-raguan itu, maka tidak ada cara yang lebih baik baginya untuk mohon petunjuk kepada Ki Waskita. Jika tidak ada Kiai Gringsing, maka bagi Agung Sedayu, Waskita adalah gurunya yang ke dua. Apalagi keduanya mempunyai beberapa persamaan sikap meskipun ada juga beberapa perbedaannya.

Ketika Agung Sedayu menceriterakan persoalannya kepada Ki Waskita, maka Ki Waskita itu pun tersenyum. Namun ternyata jawabnya memang agak berbeda dengan jawaban Ki Lurah Branjangan.

“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita, “angger memang tidak sesuai untuk menjadi seorang Senapati prajurit”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi untuk meyakinkannya ia berkata, “Tetapi Ki Lurah Branjangan berkata lain paman. Ki Lurah mengatakan, bahwa akulah yang tidak berusaha untuk menyesuaikan diri.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakan dengan pasti, siapakah yang benar di antara kami berdua. Tetapi seandainya kau tidak sesuai dengan kedudukan itu, tetapi kau berusaha dengan sungguh-sungguh, memang mungkin akan terjadi pendekatan. Mungkin kau akan dapat melakukannya meskipun masih kurang selapis dari sikap seorang pemimpin yang sebenarnya dikalangan keprajuritan. Tetapi kekurangan itu akan dapat kau tutup dengan kelebihanmu yang lain. Mungkin dalam olah kanuragan. Sebab aku kira, dalam olah kanuragan kau sudah dapat menyejajarkan diri dengan seorang Senapati. Bukan maksudku memujimu. Tetapi aku yakin, bahwa ilmu kanuraganmu secara pribadi lebih tinggi dari kakakmu Untara. Tetapi Untara mempunyai kelebihan yang lain. Ia memang seorang Senapati dalam sikap dan perbuatan. Dan ia pun memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam perang gelar dan perhitungan medan, yang sudah barang tentu kurang kau kuasai. Tetapi yang lebih nampak dari kekurangan di bidang ilmu adalah sifat-sifat jiwani. Sifat-sifatmu berbeda dengan sifat sifat Untara.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya tertunduk dan pandangannya menjadi buram. Ia mengakui semua yang dikatakan oleh Ki Waskita. Namun karena itu, maka seolah-olah ia tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan sesuatu yang diinginkan oleh Sekar Mirah.

“Apakah dengan demikian, aku akan dapat menjadi seorang suami yang baik?” bertanya Agung Sedayu kepada dirinya sendiri. Justru karena itu, maka rasa-rasanya Agung Sedayu menghadapi sesuatu yang amat pelik di hari kemudian.

Dalam pada itu, Ki Waskita seolah-olah melihat yang terpikirkan oleh Agung Sedayu. Meskipun anak muda itu tidak mengatakannya, tetapi sorot matanya seakan-akan memohon kepada Ki Waskita, untuk menolongnya menemukan jawaban atas kegelisahannya.

“Angger,” berkata Ki Waskita, “mungkin aku mengerti kesulitan dihatimu. Tetapi apakah kau tidak akan berkecil hati jika aku salah tebak?”

Agung Sedayu memandang Ki Waskita sejenak. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku akan sangat berterima kasih paman.”

“Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita, “kau agaknya berpikir tentang Sekar Mirah. Aku tahu, bahwa Sekar Mirah mempunyai sifat yang mirip dengan sifat kakaknya, Swandaru. Itu bukan salahnya. Agaknya terpengaruh dengan sikap orang tuanya, yang memberikan keyakinan kepada anak-anaknya sejak mereka kanak-kanak bahwa keduanya adalah anak seorang pemimpin. Karena itu, maka ketika mereka menjelang dewasa, maka sikap kepemimpinan mereka pun nampak semakin jelas. Tidak selamanya hal ini kurang baik. Kau lihat. Sangkal Putung menjadi maju. Tetapi memang mungkin sekali hal ini akan dapat menumbuhkan sikap yang kurang menguntungkan.”

“Aku mengerti” Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita, “menjadi kewajiban seorang suami untuk memenuhi keinginan isterinya sejauh dapat dijangkaunya. Tetapi jika keinginan itu melampaui batas kemampuannya, sehingga memaksa seorang suami untuk mengambil jalan memintas tanpa memperhitungkan keadaan dan kemampuannya, apalagi memilih jalan sesat, maka hal itu harus di jauhi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Waskita berkata, “Tetapi tidak selalu dalam hal yang demikian tidak teratasi. Jika seorang suami mampu menjelaskan, maka agaknya akan dapat dimengerti pula oleh isterinya. Kau dapat melihat banyak sekali contoh dari kehidupan ini. Dari ceritera pewayangan dan dari peredaran sejarah di negeri sendiri. Bahkan keinginan seorang isteri akan dapat membuat suaminya mukti atau mati.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Ki Waskita.”

“Nah, karena itu, berusahalah. Tetapi jangan memaksa diri melampaui batas kemampuanmu dalam kewajaran. Jika kau sudah keluar dari kewajaranmu, maka kau akan mengalami kesulitan,” berkata Ki Waskita kemudian, “demikian juga tentang kedudukanmu. Kau dapat berusaha menyesuaikan diri. Tetapi dalam batas-batas kewajaran. Karena kedudukan bukanlah hanya dapat kau capai di lingkungan keprajuritan, di lingkungan pemerintahan, tetapi segala lapangan akan dapat memberi tempat kepadamu. Meskipun tidak semuanya akan dapat memberikan kepuasan kepada Sekar Mirah.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk, “Terima kasih Ki Waskita. Pengertian yang berharga bagiku. Aku akan mencari keseimbangan di antara berusaha dan kewajaran didalam diriku.”

Demikianlah, dihari-hari berikutnya. Agung Sedayu berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan tugasnya, meskipun ia selalu ingat kepada pesan Ki Waskita, bahwa ia harus tetap berpijak kepada kewajarannya. Ia harus tetap dalam kepribadiannya. Ia tidak akan memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nuraninya.

Ternyata bahwa pengalaman telah menuntunnya meskipun dalam beberapa hal ia memang tidak dapat menempatkan dirinya. Meskipun demikian, ia justru mendapat tempat yang khusus di hati anak-anak muda yang datang dari beberapa daerah itu.

Anak muda dari Pesantenan yang telah berusaha untuk melawannya itu justru telah berubah sama sekali. Ia benar-benar telah menyesal, sehingga ia menjadi murung dan menyendiri. Kadang-kadang ia nampak gelisah dan bingung.

Kawan-kawannya yang dalang dari daerah yang sama, telah berusaha untuk mendekatinya. Seorang yang berhasil mendengarkan keluhannya mencoba menenangkannya, “Agung Sedayu sudah memaafkanmu. Menurut anak-anak muda dari Sangkal Putung yang mengenalnya dengan baik, juga anak anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh, jika ia sudah memaafkanjmu, maka ia benar-benar memaafkanmu.”

“Mustahil,” desis anak muda itu, “ia sekedar mempermainkan aku. Pada suatu saat, aku tentu akan dihukumnya.”

“Yakinlah. Ia tidak akan berbuat seperti itu,” desis kawannya yang lain.

“Tetapi aku memang sudah pasrah. Hukuman apapun yang akan aku terima, aku tidak akan ingkar,” berkata anak muda itu, “mungkin ia menunggu kehadiran semua anak-anak muda yang akan memasuki barak ini dan menunjukkan kepada mereka, bahwa seseorang telah mencoba berkhianat sehingga harus dihukum.

“Kau hantui dirimu sendiri dengan angan-angan,” sahut kawannya.

Tetapi semua usaha kawan kawannya tidak banyak bermanfaat. Meskipun anak muda itu tidak pernah melalaikan kewajiban sebagaimana harus dilakukan oleh semua anak-anak muda yang lain, sesuai dengan janjinya kepada Agung Sedayu, namun semakin lama anak muda itu menjadi semakin pendiam.

Ternyata hal itu telah didengar oleh Agung Sedayu. Ia menyesal bahwa ia tidak memberikan hukuman apapun juga. Jika ia memberikan hukuman kepada anak muda itu, maka setelah hukuman itu selesai di jalani, maka anak muda itu tentu sudah terlepas dari beban penyesalan yang terlampau berat baginya. Dengan hukuman, ia akan merasa bahwa hutangnya sudah dilunasinya.

“Ia menduga bahwa pada saatu saat, kau akan menghukumnya,” berkata seorang anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang mendengar pengaduan anak-anak muda Pasantenan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku akan menemuinya. Ia harus yakin, bahwa aku sudah menganggap persoalan itu selesai.”

“Cobalah. Ia terlalu lama menderita batin,” desis anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh itu.

Sebenarnya, pada saat yang dianggap baik. Agung Sedayu telah memanggilnya. Sementara senja turun perlahan-lahan sehingga barak itu pun telah diselubungi oleh warna-warna suram.

Anak muda itu tidak menolak meskipun jantungnya menjadi berdegupan. Ia menyangka, bahwa hukuman yang selama itu tertunda, akan dilakukan oleh Agung Sedayu dengan cara yang khusus. Tetapi karena ia memang sudah merasa bersalah, maka ia tidak akan ingkar.

adbm-149-05Dengan tegang, anak muda itu telah menghadap Agung Sedayu dalam ruang yang khusus didalam lingkungan barak itu. Tidak ada orang lain dalam ruangan itu, selain Agung Sedayu.

Nyala lampu minyak yang terayun oleh sentuhan angin senja, membuat hati anak muda itu semakin gelisah.

“Duduklah,” berkata Agung Sedayu ketika anak muda itu sudah memasuki biliknya.

Anak muda itu duduk sambil menundukkan kepalanya.

Sementara itu, beberapa orang anak muda Pasantenan pun menjadi gelisah pula. Mereka tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Mereka pun tidak mengerti, bahwa anak-anak Tanah Perdikan Menoreh telah menyampaikan persoalan anak muda itu kepada Agung Sedayu.

Dalam pada itu, di dalam ruangan yang khusus itu, jantung anak muda Pasantenan itu menjadi semakin berdegupan. Namun bukan saja jantungnya, tetapi Agung Sedayu pun menjadi berdebar-debar pula.

“Aku harus mencoba berlaku sebagai seorang pemimpin,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Ia berusaha untuk membayangkan sikap Swandaru di Kademangan Sangkal Putung, atau Raden Sutawijaya di Mataram. Bahkan sikap Prastawa di Tanah Perdikan Menoreh.

Baru setelah Agung Sedayu menjadi tenang, ia pun mulai bertanya, “Aku melihat perubahan sikapmu sehari-hari dalam beberapa hari ini. Apakah ada yang kau pikirkan?”

Ternyata anak itu tidak ingin menjawab dengan berbelit-belit. Ia pun menjawab dengan berterus-terang, “Aku telah bersalah. Kapan aku akan mendapat hukuman.”

“Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa kau aku maafkan? Bukankah kau menyesal dan minta maaf pada saat itu?” bertanya Agung Sedayu pula. Lalu, “Apakah kau tidak percaya bahwa aku benar-benar memaafkanmu?”

Pertanyaan itu telah mengejutkan anak muda dari Pasantenan itu. Ia tidak menyangka. Apalagi ketika Agung Sedayu berkata lebih lanjut, “Setelah kau melakukan kesalahan, minta, maaf dan aku maafkan, kau sekarang sama sekali tidak mempercayai aku. Lalu apa maksudmu?”

“Aku percaya kepadamu sepenuhnya,” jawab anak muda itu tergagap.

“Jika kau percaya, kenapa kau menjadi murung dan menganggap bahwa pada suatu saat kau masih akan mendapat hukuman dari aku?” bertanya Agung Sedayu.

Anak muda itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Sementara Agung Sedayu kemudian berkata pula, “Aku sudah memaafkanmu. Tetapi jika kau masih membuat persoalan dengan alasan apapun juga, maka aku akan mempertimbangkan-nya lagi.”

“Aku minta maaf,” desis anak muda itu.

“Dua kali kau minta maaf kepadaku” berkata Agung Sedayu, “aku masih akan memaafkannya. Tetapi kau tidak boleh menarik perhatian kawan-kawanmu dengan sikapmu. Kau harus menyadari, bahwa karena sikapmu setiap orang mulai menilai diriku. Seolah-olah aku adalah seorang pendendam. Juga para pemimpin yang tua-tua tentu menilai aku pula, justru karena aku adalah seorang pemimpin yang masih muda.”

Anak muda itu mengangguk Dengan wajah tunduk ia menjawab, “Aku akan mencobanya.”

“Kau harus melakukannya. Kembali kepada keadaanmu semula,” berkata Agung Sedayu pula.

“Ya. Aku akan berusaha,” desis anak muda itu.

“Harus,” desak Agung Sedayu.

“Ya. Harus.” ulang anak muda itu.

“Bagus. Sekarang kembalilah kepada kawan-kawanmu. Kau harus menunjukkan sifat-sifat sewajarnya. Sebenarnya kau mempunyai sikap seorang pemimpin di antara kawan-kawanmu. Tetapi karena kau dibekali sifat sombong, maka kau tidak dapat lagi menilai dirimu sendiri. Sekarang, kembali kepada kawan-kawanmu tanpa sifat sombong. Maka kau adalah seorang pemimpin yang baik,” berkata Agung Sedayu kemudian, “nah, sekarang kau boleh kembali ke tempatmu.”

Anak muda itu pun kemudian bangkit dan mengangguk hormat. Kemudian meninggalkan Agung Sedayu seorang diri dalam bilik itu.

Sepeninggal anak muda itu Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian melepaskannya seolah-olah ingin mengosongkan seluruh isi dadanya. Ketika ia kemudian bangkit, terasa punggungnya menjadi basah. Bahkan kemudian ia tersenyum sendiri. Katanya didalam hati. “Aku tidak tahu sikap seorang pemimpin. Dan aku menyebutnya seorang pemimpin yang baik.”

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu sendirilah yang sebenarnya ingin mencoba bersikap sebagai seorang pemimpin. Pemimpin bagi sekelompok anak-anak muda itu memang jauh berbeda dari sikapnya dihadapan anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Di Tanah Perdikan Menoreh ia bersama-sama dengan anak-anak muda itu bekerja dan melakukan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan Tanah Perdikan sebagai mana masih dilakukannya meskipun waktunya menjadi jauh susut karena kewajiban-kewajibannya yang baru di barak itu.

Tetapi di barak itu, ia tidak hanya sekedar memberikan kemungkinan-kemungkinan atas air yang naik ke parit-parit, atau memberikan contoh dalam olah kanuragan dalam latihan-latihan khusus bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh, tetapi ia harus bersikap sebagaimana seorang pimpinan keprajuritan, dengan paugeran-paugeran yang tegas.

Sejak hari itu, berangsur-angsur anak muda Pasantenan itu berusaha menyesuaikan dirinya kembali. Ada unsur ketakutannya kepada Agung Sedayu jika ia masih tetap murung dan menyendiri. Bahkan ia menjadi cemas bahwa ia akan dikembalikan ke Pasantenan dan untuk selanjutnya tidak boleh lagi mengikuti latihan-latihan bagi seorang yang akan menjadi bagian dari satu pasukan khusus yang kuat.

Dalam pada itu, latihan-latihan yang berat telah mulai dilakukan atas sekelompok kecil anak-anak muda yang mendahului kawan-kawannya itu. Agung Sedayu yang bertekad menyesuaikan diri dengan kepemimpinan anak-anak muda itu pun telah melakukan tugasnya dengan baik. Sementara Ki Lurah sendiri dan dua orang perwira pasukan pengawal dari Mataram telah membuat paugeran-paugeran yang ketat yang harus di jalankan dengan tertib dan penuh tanggung jawab. Latihan-latihan keprajuritan, perang gelar dani kemampuan secara pribadi, disamping pengetahuan secara umum beberapa macam ilmu olah senjata.

Sementara itu, maka hubungan Agung Sedayu dengan anak-anak muda Tanah Perdikan diluar barak itu pun menjadi agak berkurang. Tetapi pada saat-saat tertentu ia masih tetap melakukannya sebagaimana pernah dilakukannya. Bahkan di antara anak-anak muda Tanah Perdikan diluar barak, ia merasa hidup sebagaimana dilakukannya sesuai dengan kewajarannya.

Namun setiap kali ia selalu teringat pesan Ki Waskita,” berusahalah, tetapi jangan lepas dari kewaspadaanmu. Karena itu, maka setiap kali ia merenungi dirinya sendiri, maka Agung Sedayu itu pun selalu berdesis, “Agaknya aku lebih sesuai bergaul dengan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh diluar barak itu daripada aku harus berada didalamnya.”

Meskipun demikian Agung Sedayu masih tetap berusaha. Mungkin pada suatu saat, ia akan benar-benar dapat menyesuaikan diri dengan kedudukan seorang pemimpin.

Sebenarnyalah pada saat-saat selanjutnya, latihan-latihan bagi anak-anak muda itu pun menjadi semakin berat. Agung Sedayu mendapat kewajiban menjadi salah seorang di antara mereka yang harus memberikan pengetahuan olah kanuragan secara pribadi. Namun karena anak-anak muda itu dicakup dalam satu kesatuan, maka oleh Ki Lurah Branjangan, Agung Sedayu dan kedua perwira pengawal dari Mataram dan Ki Lurah Branjangan sendiri yang juga memberikan tuntunan olah kanuragan secara pribadi, telah diberikan garis-garis tertentu. Pada umumnya seseorang yang berilmu, akan dapat mengetahui tata gerak dalam batasan secara umum, sebelum masing-masing mengkhusus dengan ciri-ciri dan rahasia-rahasia bagi perguruan masing-masing. Dalam batasan yang umum itulah, mereka harus meningkatkan kemampuan pribadi anak-anak muda yang telah berkumpul, mendahului kawan-kawan mereka yang lain. Secara khusus Agung Sedayu harus meningkatkan pengetahuan olah kanuragan anak-anak muda itu tanpa bersenjata. Sementara Ki Lurah Branjangan sendiri telah memberikan petunjuk, bagaimana anak-anak muda itu mempergunakan senjata panjang. Seorang perwira yang lain mempergunakan senjata pendek dan perisai.

Demikianlah, semakin lama latihan-latihan di barak itu pun menjadi semakin berat. Agung Sedayu yang berusaha menyesuaikan diripun menjadi semakin mapan. la berusaha untuk meningkatkan kemampuan anak-anak muda itu sebagaimana seharusnya. Dalam pada itu, iapur telah berusaha untuk bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran.

Namun dalam pada itu, ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, Agung Sedayu telah memasuki barak itu. Sebelumnya ia masih sempat singgah di sebuah padukuhan untuk melihat anak-anak muda yang sedang memperbaiki banjar mereka yang sudah mulai disentuh rayap pada bagian bawah dindingnya. Karena itu, maka dinding bambu yang mulai rusak itu harus diganti dengan yang baru.

Betapa terkejut Agung Sedayu ketika ia melihat Ki Lurah Branjangan berdiri tegak di hadapan sekelompok anak-anak muda yang berada di barak itu mendahului kawan-kawannya yang akan membentuk satu pasukan khusus. Sementara itu tiga orang anak muda berdiri di paling depan dengan sikap yang kaku.

“Apa yang terjadi?” bertanya Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi, Agung Sedayu sama sekali tidak mengganggu. Ia pun kemudian berdiri di sebelah kedua orang perwira yang datang dari Mataram.

Jantung Agung Sedayu menjadi berdebar debar ketika ternyata Ki Lurah Branjangan pada saat itu sedang marah sekali terhadap ketiga orang anak muda itu. Seakan-akan kemarahan Ki Lurah Branjangan tidak dapat ditahankan lagi.

“Aku dapat mengusir kalian sekarang juga.” geram Ki Lurah Branjangan.

Ketiga anak muda itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku ingin mendengar, apakah kalian menyesal?” bertanya Ki Lurah.

“Kami menyesal.” hampir berbareng anak-anak muda itu menjawab.

“Baik. Aku akan memperingan hukuman kalian. Tetapi setiap kesalahan harus dihukum.” bentak Ki Lurah kemudian.

Tidak seorangpun yang mengangkat wajahnya. Anak-anak muda yang lain yang berdiri berjajar dalam barisan bersap empat itupun seakan-akan telah membeku.

 “Kalian harus menyerahkan rontal berisi pesanku kepada Raden Sutawijaya. Senopati Ing Ngalaga,” berkata Ki Lurah “kalian harus berusaha untuk dapat menghadap dan menyampaikan pesan ini. Sebagai bukti bahwa kalian sudah menghadap, maka kalian tentu akan membawa surat jawaban.”

Terasa jantung anak-anak muda itu berdentangan. Apakah mungkin mereka menghadap Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati Ing Ngalaga. Sementara orang-orang yang berkedudukan pun jarang yang mendapat kesempatan menghadapnya. Apalagi mereka.

Tetapi mereka tidak berani membantah. Karena itu, maka mereka pun hanya dapat menundukkan kepalanya. Sementara itu keringat mereka pun telah membasahi baju mereka bagaikan baru saja kehujanan.

“Hari ini kalian harus berangkat. Terserah kepada kalian. Pagi ini, siang nanti atau bahkan lewat senja, aku tidak peduli. Tetapi besok sebelum matahari terbit, kalian harus sudah berada ditempat ini. Aku akan melihat apakah kalian membawa balasan dari Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati Ing Ngalaga.

Wajah ketiga orang anak muda itu menjadi tegang. Bahkan Agung Sedayu pun menjadi tegang pula Jika Raden Sutawijaya tidak ada ditempat, siapapun tentu tidak akan dapat melakukannya.

Hampir saja Agung Sedayu menyatakan pendapatnya itu. Tetapi Ki Lurah telah dahulu berkata, “Tidak ada alasan apapun untuk mengingkari perintah ini. Tidak pula ada seorang pun yang dapat membatalkannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jika ia menyatakan pikirannya dalam keadaan yang demikian, tentu Ki Lurah akan menentangnya. Dan bahkan mungkin akan dapat timbul salah paham.

Karena itu, Agung Sedayu hanya berdiam diri saja. Tetapi dalam pada itu, seolah-olah ia tidak dapat menahan diri lagi, untuk menyertai anak-anak muda itu pergi ke Mataram. Jika Raden Sutawijaya ada, maka ia akan dapat membantu mempertemukan anak-anak itu dengannya. Jika Raden Sutawijaya tidak ada, maka ia akan dapat menjadi saksi.

Tetapi seperti setiap kali terjadi atas sikapnya, maka ia pun telah dicengkam oleh keragu raguan. Justru karena itu, maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Sehingga akhirnya terdengar perintah Ki Lurah “ Semuanya kembali kedalam bilik masing-masing. Tidak ada latihan apapun hari ini. Kami semuanya berkabung atas sikap ketiga orang anak muda itu.”

Semua orang pun kemudian meninggalkan tempat ilii dengan kepala tunduk. Tiga orang anak muda itu pun melangkah dengan lesu Namun nampaknya mereka sedang berunding, apa yang akan mereka lakukan.

Dalam pada itu, Ki Lurah Branjanganpun dengan wajah yang gelap meninggalkan tempat itu pula, mema suki bilik khususnya. Sementara itu. Agung Sedayu yang gelisahpun telah menyusulnya pula.

Demikian ia mendekati pintu bilik itu dengan ragu-ragu, maka terdengar suara Ki Lurah, “Masuklah”

Agung Sedayu melangkah maju. Ketika ia sudah berada di dalam pintu, dilihatnya wajah Ki Lurah Braii jangan sama sekali telah berubah. Sambil tersenyum m berkata, “Aku sudah mengira bahwa kau akan datariK kepadaku.”

“Ki Lurah,” berkata Agung Sedayu, “apakah Ki Lurah benar-benar memerintahkan kepada mereka, sebagaimana yang Ki Lurah katakan ?”

“Ya. Aku memang memerintahkan demikian.” jawab Ki Lurah.

“Apakah mereka akan dapat melakukannya?” bertanya Agung Sedayu, “Seandainya pada hari ini Raden Sutawijaya tidak ada di tempat, apakah mereka akan dapat menjalankan tugas itu sebaik-baiknya seperti yang Ki Lurah perintahkan?”

“Bukankah mereka dapat mengatakan kepadaku, bahwa Raden Sutawijaya pergi ke tempat yang tidak diketahui?” jawab Ki Lurah, “Tetapi selama Raden Sutawijaya pergi ke tempat yang dapat disebut, maka mereka memang harus menemukannya. Mungkin semalam suntuk mereka akan berkuda.”

 Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat membayangkan, bahwa tugas itu akan menjadi sangat berat. Tetapi seandainya mereka menemukan Raden Sutawijaya, apakah selalu bahwa Raden Sutawijaya akan bersedia menerima mereka.

Dalam keragu-raguan itu, Agung Sedayu bertanya, “Ki Lurah. Bukankah hukuman itu akan menyangkut kesediaan Raden Sutawijaya. Bukankah dengan demikian hal ini justru akan merendahkan Raden Sutawijaya itu sendiri. Memang berbeda seandainya yang datang menghadap itu seorang perwira Tinggi Pajang atau para pemimpin Mataram sendiri. Tetapi dalam hal ini, Ki Lurah yang menjatuhkan hukuman kepada anak-anak muda itu telah melibat Raden Sutawijaya, pemimpin tertinggi di Mataram.”

Ki Lurah Branjanjjan tertawa. Katanya Kau benar Agung Sedayu. Tetapi hal itu tentu bukannya tidak beralasan, sehingga aku berani melakukannya. Raden Sutawijaya sendiri pernah mengatakan kepadaku bahwa ia bersedia berhubungan dengan anak-anak yang sedang ditempa untuk menjadi pemimpin-pemimpin sebuah pasukan khusus, feahkan sejak semula Raden Sutawijaya sudah mengatakan, bahwa aku diperkenankan memberikan hukuman seperti yang aku perintahkan itu Dan dalam hal tersebut. Raden Sutawijaya akan menanggapinya sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Jika demikian apaboleh buat. Tetapi, apakah kesalahan anak-anak muda itu sehingga mereka harus menjalani hukuman yang berat itu?”

“Kesalahan mereka memang berat Agung Sedayu,” jawab Ki Lurah Branjangan “ mereka memasuki barak menjelang tengah malam. Ketika aku kebetulan melihat barak-barak itu lewat senja, ketiga anak-anak itu belum berada didalam biliknya. Kemudian aku kembali melihat bilik mereka wayah sirep bocah. Mereka juga belum kembali. Ketika sekali lagi aku datang wayah sirep uwong, mereka juga belum datang, sehingga aku memutuskan untuk tetap berada didalam bilik itu. Nah, baru menjelang tengah malam mereka datang.”

“Tetapi bukankah mereka tidak berbuat apa-apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu mereka mengatakan bahwa mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka mengatakan bahwa mereka telah hadir dalam satu pertemuan sebuah keluarga yang sedang mengadakan peralatan perkawinan. Mereka tidak dapat memaksa untuk mohon diri karena keluarga yang didatanginya itu akan menjamunya makan, sehingga mereka merasa segan untuk meninggalkan pertemuan itu.”

“Nah, bukankah mereka mempunyai alasan yang mapan, sehingga seharusnya Ki Lurah tidak menghukum mereka terlalu berat,” berkata Agung Sedayu.

“Tetapi alasan itu tidak dapat dikemukakan dalam satu pelanggaran terhadap paugeran prajurit.” jawab Ki Lurah, “Jika alasan-alasan yang demikian dapat kita terima dan mereka dibebaskan dari hukuman, maka kesalahan yang demikian akan dilakukan oleh semua orang didalam pasukan kecil itu. Terutama anak-anak muda Tanah Perdikan ini sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Ki Lurah Branjangan pun berkata pula, “Kecuali itu ngger. Jika mereka melakukan pelanggaran, dengan melakukan hubungan dengan cara apapun juga dengan anak-anak gadis di Tanah Perdikan ini, apakah hal itu tidak akan dapat menumbuhkan persoalan yang gawat. Mungkin mereka hanya berkenalan, berbicara kesana-kemari atau datang kepada keluarganya sebagaimana mereka mengunjungi sanak kadang. Tetapi hal yang demikian jika tidak dihentikan akan dapat berkepanjanan. Jika terjadi kecelakaan di antara mereka di kemudian hari, maka persoalannya akan bertambah rumit.”

Agung Sedayu mengangguk angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

“Karena itu ngger. Aku ingin memberimu peringatan. Setiap kesalahan di antara mereka harus dihukum. Besar atau kecil. Agar dengan demikian hukuman itu akan menjadi peringatan yang sukar terlupakan.”

“Aku mengerti Ki Lurah.” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Mungkin kau sendiri adalah seorang pengampun. Tetapi dalam kedudukanmu di sini, maka kau harus menyesuaikan dirimu.” berkata Ki Lurah kemudian sambil tersenyum, “Tetapi hukuman berbeda dengan dendam seperti yang pernah aku katakan kepadamu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Kembali Ki Lurah mengatakan kepadanya, bahwa ia masih harus menyesuaikan diri.

“Baiklah, Ki Lurah.” berkata Agung Sedayu kemudian, “Aku akan selalu berusaha.” Namun di dalam hati ia berkata lebih lanjut, “Berusaha tanpa meninggalkan kewajaranku.”

Agung Sedayupun kemudian minta diri kepada Ki Lurah Branjangan. Di depan barak khusus itu ia bertemu dengan ketiga orang anak-anak muda yang akan menghadap Ki Lurah.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 150)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-49/

Terima kasih kepada Ki Banuaji yang me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s