ADBM2-150

<<kembali | lanjut >>

KAU akan menemui Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu.

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami ingin mengambil rontal yang harus kami serahkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

“Ki Lurah ada didalam,” jawab Agung Sedayu, “apakah kalian akan berangkat sekarang?”

“Ya,” jawab anak muda itu, “agar waktu kami agak cukup.”

“Bagus. Semakin cepat semakin baik,” berkata Agung Sedayu, “masuklah. Ki Lurah memang menunggu kalian.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan mereka. Ketika ia berpaling, ia melihat ketiga orang anak itu telah memasuki barak untuk minta diri dan mengambil rontal yang harus mereka bawa.

Dalam pada itu. Agung Sedayu pun masih saja merenungi sikap para pemimpin keprajuritan. Memang berbeda sekali dengan sikap seorang guru di padepokan. Gurunya sendiri hampir tidak pernah menjatuhkan hukuman apapun juga kepadanya, meskipun pada suatu saat ia melakukan kesalahan. Tetapi dengan menunjuk kesalahan-kesalahan itu maka kesalahan itu sudah dapat dibetulkan.

Tetapi Agung Sedayu bukannya tidak melihat perbedaan yang besar di antara sebuah padepokan dan sebuah barak keprajuritan.

Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Agung Sedayu masih ingin bertemu dan berbicara dengan ketiga orang anak muda itu. Karena itu ia pun justru menunggu, meskipun ditempat yang agak jauh.

Ketika ketiga orang anak muda itu memasuki bilik ditempat Ki Lurah menunggu, maka mereka pun menjadi ragu-ragu untuk melangkah masuk. Beberapa saat mereka berdiri dimuka pintu. Namun kemudian salah seorang dari mereka memberanikan diri mengetuk pintu.

“Masuklah,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Ketiga orang anak muda itu pun memasuki bilik khusus yang dipergunakan oleh Ki Lurah dalam tugasnya. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu di muka pintu.

“Kapan kalian akan berangkat?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

Salah seorang dari ketiga orang anak muda itu menjawab, “Segera Ki Lurah, agar kami mempunyai waktu yang cukup.”

“Mataram tidak terlalu jauh dari tempat ini,” berkata Ki Lurah.

“Tetapi menurut pendengaran kami, Raden Sutawijaya sering menjelajahi padukuhan di sekitar Mataram atau justru pergi nenepi ke tempat yang tidak diketahui,” jawab anak muda itu.

“Ya. Raden Sutawijaya memang sering pergi ketempat yang tidak diketahui,” jawab Ki Lurah, “sebaiknya kalian memang segera pergi.”

“Apakah rontal yang harus kami serahkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati itu sudah siap?” bertanya salah seorang dari ketiga anak muda itu.

“Sudah siap. Aku akan mengambilnya,” berkata Ki Lurah.

Ki Lurah pun kemudian meninggalkan bilik itu sejenak. Ketika ia kembali, ia telah membawa sebuah kantong berwarna putih. Didalamnya terdapat sebuah bumbung.

“Didalam bumbung itu terdapat sepucuk nawala. Sampaikan kepada Raden Sutawijaya. Dan kau harus menunggu jawabnya,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Ketiga orang anak muda itu pun kemudian mohon diri. Dengan jantung yang berdebaran, mereka harus melakukan hukuman itu. Beberapa kemungkinan dapat terjadi. Jika Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu pergi ketempat yang tidak diketahui, maka mungkin sekali mereka akan gagal. Terbayang didalam angan-angan mereka, bahwa didalam keadaan yang demikian, maka mungkin sekali mereka bertiga akan dikirim kembali, sehingga hilanglah harapan mereka untuk memasuki lingkungan pasukan khusus yang akan dibentuk. Apalagi untuk menjadi salah seorang pemimpinnya.

Dengan hati yang berdebar-debar ketiga orang anak muda itu meninggalkan barak khusus yang dipergunakan oleh Ki Lurah Branjangan itu. Namun mereka tertegun ketika mereka kemudian bertemu lagi dengan Agung Sedayu.

adbm-150-01“Kalian sudah mendapat nawala itu,” bertanya Agung Sedayu sambil memandangi kantong berwarna putih itu.

“Ya. Ini harus kami serahkan. Kemudian kami akan menunggu jawabnya,” jawab salah seorang di antara ketiganya.

“Cepat sajalah. Jika Raden Sutawijaya tidak ada, kalian aku nasehatkan untuk bertanya, kemana Raden Sutawijaya itu pergi. Jika tidak seorang pun yang mengetahuinya, maka kalian harus menghadap Ki Juru Martani.”

“Ki Juru Martani?” bertanya salah seorang dari ketiga orang anak-anak muda itu.

“Ya. Ki Juru adalah penasehat Raden Sutawijaya. Ia adalah saudara seperguruan Ki Gede Pemanahan. Ayah Raden Sutawijaya,” jawab Agung Sedayu.

“Terima kasih,” jawab anak-anak muda itu.

“Kepada Ki Juru Martani kalian dapat minta petunjuknya. Katakan terus terang, bahwa kalian sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh Ki Lurah Branjangan,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Terima kasih,” sekali lagi anak-anak muda itu mengucapkan terima kasih.

Sejenak kemudian maka anak-anak itu pun segera membenahi dirinya dan memeriksa keadaan kuda mereka. Baru setelah mereka yakin tidak ada kekurangan pada diri mereka dan kuda-kuda mereka, maka mereka menggantungkan pedang dilambung dan segera meloncat kepunggung kuda masing-masing.

Ketika kuda itu berderap meninggalkan barak, maka anak-anak muda yang kebetulan bertugas di gardu dan diregol memandangi kawan-kawannya itu dengan penuh iba. Namun mereka pun terpaksa memperingatkan diri mereka, agar tidak membuat kesalahan seperti itu.

“Agung Sedayu memaafkan kesalahan yang lebih berat,” berkata salah seorang dari mereka, “anak Pasantenan itu sudah mencoba untuk membunuhnya. Jika Agung Sedayu bukan seorang yang pilih tanding, ia tentu sudah mati. Matanya yang ditaburi pasir itu tidak dapat melihat sama sekali, apa yang dilakukan oleh anak Pasantenan itu. Tetapi pisau belati itu hanya dapat mengoyak bajunya saja.”

“Ki Lurah memang lain dengan Agung Sedayu,” sahut yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak mempersoalkannya lebih lanjut.

Dalam pada itu, Ki Lurah melihat dari dalam biliknya, lewat lubang pintu yang ditutupnya sebagian dan hanya tersisa setebal papan pintu itu sendiri, bagaimana Agung Sedayu menjadi gelisah menjelang keberangkatan anak-anak muda itu. Ki Lurah pun melihat, bagaimana Agung Sedayu berpesan kepada mereka. Meskipun Ki Lurah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu, namun tentu sesuatu yang membuat Agung Sedayu itu gelisah.

“Ia seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa,” berkata Ki Lurah didalam hatinya namun ia kurang sesuai untuk menjadi seorang pemimpin dalam susunan keprajuritan. Hatinya terlalu lembut dan perasa. Sebagian dari tindakannya selalu dibayangi oleh keragu-raguan, sehingga kurang menguntungkan bagi kedudukan seorang pemimpin. Dengan demikian ia akan lambat mengambil keputusan yang penting dan tergesa-gesa.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak kehilangan harapan, sebagaimana yang diharapkan bahwa Agung Sedayu akan dapat menjadi pemimpin dari pasukan khusus itu.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu sendiri semakin merasa, bahwa ia ternyata benar-benar kurang sesuai dengan kedudukan didalam lingkungan barak itu. Bagaimanapun juga ia memaksa diri, namun kadang-kadang perasaannya telah membentur kenyataan-kenyataan yang mendebarkannya. Dalam keadaan yang khusus ia dapat mencoba mengerti berdasarkan nalarnya. Tetapi untuk mencapai keseimbangan nalar dan perasaannya kadang-kadang terasa terlalu sulit. Apalagi jika ia selalu teringat akan pesan Ki Waskita, bahwa ia jangan memaksa diri sehingga lepas dari kewajaran pribadinya.

Ketika hal itu dikemukakan kepada Ki Waskita, maka Ki Waskita hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Sulit bagiku untuk menyesuaikan diri Ki Waskita,” berkata Agung Sedayu, “apalagi beralaskan kewajaran pribadiku. Aku merasa gelisah menyaksikan anak-anak itu menjalani hukumannya. Lebih gelisah lagi jika aku sendiri yang dihukum.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Jika kau memang merasa tidak dapat mengikuti keadaan didalam barak itu Agung Sedayu, kau dapat menempatkan dirimu pada kedudukan yang paling memungkinkan bagimu. Kau lakukan tugas-tugas yang diserahkan kepadamu sekarang. Kau dapat memberikan latihan-latihan kanuragan seperti yang diminta. Tetapi kau tidak ikut menyelenggarakan kepemimpinan didalam barak itu. Dengan demikian, maka tugasmu adalah tugas yang khusus.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya jalan itulah yang paling baik ditempuhnya. Ia berdiri diluar barak. Tetapi ia membantu memberikan bimbingan kepada anak-anak muda didalam barak itu.

Agaknya memang tidak ada pilihan lain. Ki Gede Menoreh yang kemudian mendengar hal itu dari Ki Waskita, sependapat bahwa sebaiknya Agung Sedayu merupakan pembimbing khusus dalam bidangnya tanpa ikut menentukan kepemimpinan di barak itu.

“Meskipun demikian, dalam kekhususan itu pun kau masih tetap seorang pemimpin dengan sikap kepemimpinanmu,” berkata Ki Gede Menoreh, “namun hal itu akan lebih mudah kau lakukan. Kau akan dapat melaporkan pelanggaran-pelanggaran kepada Ki Lurah Branjangan. Biarlah Ki Lurah menentukan tindakan apa yang akan diambilnya bagi anak-anak yang kadang-kadang memang perlu sedikit dicubit, agar mereka selalu ingat akan kesalahan yang pernah dibuatnya. Sudah tentu bahwa maksudnya agar mereka tidak melakukan kesalahan lagi.”

“Aku akan mengatakannya kepada Ki Lurah,” berkata Agung Sedayu, “bukankah dengan demikian, sikap itu tidak akan banyak berpengaruh atas terselenggaranya tempaan bagi anak-anak muda itu?”

“Sebaiknya memang kau katakan seawal mungkin, agar dengan demikian Ki Lurah dapat mempersiapkan orang lain untuk membantunya dalam penyelenggaraan itu disamping kedua orang perwira dari Mataram itu,” berkata Ki Gede.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia memang berniat untuk menemui Ki Lurah Branjangan dan mengatakan kesulitan itu. Sementara itu Ki Gedepun berkata, “Dengan demikian, kegelisahankulah yang menjadi berkurang.”

“Kenapa?” bertanya Ki Waskita.

“Sebenarnya aku sudah menjadi cemas, bahwa pada waktu yang pendek aku akan kehilangan angger Agung Sedayu,” berkata Ki Gede. Lalu, “Tetapi aku tidak pernah dapat mengatakannya, karena jika kedudukan itu memang disiapkan untuk angger Agung Sedayu, maka jika aku menahannya, berarti bahwa aku sudah menjadi hambatan bagi perkembangan dirinya. Sudah tentu aku tidak akan dapat memberikan imbangan kedudukan kepada angger Agung Sedayu di Tanah Perdikan ini. Tetapi jika hal itu, karena keadaan pribadi angger Agung Sedayu sendiri, maka terserahlah.”

Ki Waskita justru tertawa. Katanya, “Yang tidak pernah dapat Ki Gede katakan itu sudah Ki Gede katakan.”

Ki Gede pun tertawa pula. Katanya, “Aku hanya hanyut pada keadaan yang kebetulan memberikan kemungkinan itu.”

Agung Sedayu pun tersenyum pula, Ia mengerti, bahwa sebenarnya Ki Gede merasa keberatan untuk ditinggalkannya, jika benar ia akan duduk didalam kepemimpinan pasukan khusus itu. Namun akhirnya Agung Sedayu sendiri menyadari, bahwa itu bukan tempat yang paling sesuai bagi dirinya.

“Bagiku, Tanah Perdikan Menoreh memberikan lebih banyak kesempatan kepadaku tanpa menyimpang dari kewajaran pribadiku,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Ketika kemudian segalanya sudah dipertimbangkan dari berbagai sudut, maka Agung Sedayu pun telah menemui Ki Lurah Branjangan. Dengan terus terang ia menyatakan dirinya kurang sesuai dengan kedudukan kepemimpinan didalam barak itu.

“Ki Lurah,” berkata Agung Sedayu, “tidak akan banyak bedanya bagi anak-anak muda yang berada didalam barak itu. Yang berbeda adalah beban didalam diriku. Beban perasaanku. Aku akan tetap pada tugasku. Namun dalam hal-hal tertentu aku akan memberikan laporan saja kepada Ki Lurah, kemudian Ki Lurah atau orang yang Ki Lurah tunjuk akan mengambil sikap. Tetapi didalam tugasku. Karena itu, sekali lagi aku nyatakan, bahwa pengaruhnya yang terbesar dari keadaan ini adalah justru bagi diriku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Angger Agung Sedayu. Baiklah aku berterus terang. Sebenarnyalah bahwa angger Agung Sedayu telah disebut-sebut menjadi salah seorang calon untuk memimpin pasukan khusus ini. Memang ada beberapa calon lain, namun sebenarnyalah kemampuan angger Agung Sedayu telah dikagumi oleh Raden Sutawijaya.”

“Bukan apa-apa dibanding dengan Raden Sutawijaya,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi menurut pertimbanganku, perbandingan antara umur angger dan tingkat kemampuan yang sudah angger capai sekarang ini, maka angger adalah orang terbaik dari segala calon yang ada,” berkata Ki Lurah.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya bagi Agung Sedayu, kedudukan itu memang kurang menarik baginya. Meskipun setiap kali ia selalu teringat akan Sekar Mirah, yang tentu lebih senang melihatnya menjadi seorang pemimpin pasukan khusus daripada hidup disebuah padepokan kecil di Jati Anom. Namun kedudukan itu menuntut banyak pertanggungan jawab. Yang satu di antaranya adalah hubungannya dengan Untara, yang kebetulan adalah seorang Senapati dari Pajang.

“Tetapi kakang Untara tahu, bahwa Tumenggung Prabadaru adalah seorang yang menyimpan rahasia dalam dirinya. Usahanya menyelamatkan Ki Pringgajaya dengan menganggapnya telah mati, dan usaha-usaha yang lain yang tertuju kepadanya, memang memungkinkan Senapati Pajang di Jati Anom itu mengambil sikap sendiri terhadap pasukan khusus yang dipimpin oleh Ki Prabadaru,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Namun demikian, rasa-rasanya ia tidak akan dapat memikul beban tanggung jawab itu, khususnya terhadap setiap orang yang ada didalam pasukan itu.

Ia tentu tidak akan dapat bertindak tegas seperti yang dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan. Bahkan menghukum seseorang meskipun orang itu sudah menjadi pucat dan ketakutan karena melakukan satu kesalahan.

Tetapi dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan masih belum mengambil keputusan untuk menggeser nama Agung Sedayu sebagai salah seorang calon. Dengan terus terang pula ia berkata, “Angger Agung Sedayu. Mungkin sampai saat ini kedudukan itu kurang menarik bagi angger. Tetapi baiklah kita melihat untuk beberapa lama. Apakah kedudukan itu masih tetap kurang menarik. Sampai saatnya barak ini akan terisi oleh anak-anak muda yang lebih banyak dari beberapa daerah.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terserahlah kepada Ki Lurah. Aku sudah menyatakan perasaanku. Namun segalanya memang masih akan berkembang.”

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu masih juga dicengkam oleh kegelisahan karena hukuman yang diberikan oleh Ki Lurah Branjangan kepada ketiga orang anak muda yang bersalah itu. Bahkan ketika malam menyelubungi Tanah Perdikan Menoreh, rasa-rasanya Agung Sedayu tidak dapat tidur nyenyak.

“Apakah mereka dapat melakukan tugas itu? “ pertanyaan itu selalu mengejarnya. Karena menurut jalan pikiran Agung Sedayu, jika anak-anak itu gagal, maka akan datang hukuman yang lain pula. Karena jika hukuman itu tidak di jalankan dengan baik, dan tidak ada tindakan apapun juga, maka kewibawaan Ki Lurah Branjangan akan tidak dapat ditegakkan. Justru karena itu, anak-anak muda itu akan menjadi semakin ketakutan.

Malam itu Agung Sedayu tidak dapat tidur dengan nyenyak. Sampai lewat tengah malam ia masih belum dapat memejamkan matanya. Baru menjelang dini hari, untuk sesaat Agung Sedayu telah tertidur.

Pagi-pagi, Agung Sedayu telah terbangun. Ia pun segera berkemas dan siap untuk pergi ke barak.

“Kau bertugas pagi ini?” bertanya Ki Waskita.

“Tidak,” jawab Agung Sedayu, “tetapi aku ingin melihat apakah ketiga anak muda itu dapat melakukan tugasnya sebaik-baiknya. Dan apakah mereka sudah kembali sebagaimana diperintahkan oleh Ki Lurah Branjangan.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Semalam kau gelisah.”

“Aku memikirkan anak-anak itu,” jawab Agung Sedayu.

Setelah minta diri kepada Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh, maka Agung Sedayu pun tergesa-gesa berkuda ke barak meskipun ia tidak sedang bertugas pagi itu.

Ketika ia memasuki barak, ternyata barak itu sepi. Agaknya yang bertugas memberikan bimbingan pagi itu telah membawa anak-anak muda itu keluar. Lereng-lereng bukit dan tebing-tebing yang curam itu pun merupakan daerah yang baik untuk memanaskan badan di pagi hari. Sekaligus untuk melatih pernafasan dan ketahanan tubuh.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya Ki Lurah Branjangan berdiri didepan barak khususnya.

Setelah menambatkan kudanya, maka Agung Sedayu pun dengan tergesa-gesa mendekatinya.

“Bagaimana dengan anak-anak itu?” bertanya Agung Sedayu dengan serta merta.

“Anak-anak yang mana?” bertanya Ki Lurah.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Semalam suntuk ia gelisah oleh anak-anak itu. Tetapi Ki Lurah masih bertanya, anak-anak yang mana.

Karena itu dengan ragu-ragu Agung Sedayu menyahut, “Anak-anak yang kemarin mendapat hukuman dan yang pagi ini harus sudah kembali.”

“O,” Ki Lurah tersenyum, “mereka sedang tidur.”

“Tidur? “ Agung Sedayu menjadi semakin heran.

“Ya. Mereka sudah kembali sebelum dini hari. Mereka membawa pesan balasan dari Raden Sutawijaya sebagaimana harus mereka lakukan,” jawab Ki Lurah, “karena semalam suntuk mereka tidak beristirahat, maka sekarang aku suruh mereka tidur dan tidak ikut bersama kawan-kawannya yang pergi kelereng.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Agaknya mereka berhasil.”

“Harus berhasil,” sahut Ki Lurah Branjangan, “jika tidak, maka hukuman mereka akan menjadi berlipat.”

   “Apakah Raden Sutawijaya kebetulan ada di tempat?” bertanya Agung Sedayu.

   “Tidak. Raden Sutawijaya baru berada di Ganjur untuk bermain-main dengan kudanya. Anak-anak itu harus menyusul ke Ganjur. Karena itu baru dini hari mereka kembali. Karena di Ganjur mereka tidak segera dapat menghadap,” jawab Ki Lurah Branjangan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Perjalanan itu tentu terasa sangat berat bagi anak-anak muda itu. Tetapi syukurlah bahwa mereka telah menyelesaikannya dengan baik, sehingga mereka tidak harus menjalani hukuman berikutnya.

Tetapi anak-anak muda di barak itu tentu masih akan melakukan kesalahan-kesalahan yang lain, sehingga mereka pun tentu masih akan dihukum.

Namun akhirnya Agung Sedayu mencoba tidak menghiraukan hukuman-hukuman itu lagi, karena bukan tanggung jawabnya. Ia akan menjalani tugasnya sebaik-baiknya. Selebihnya adalah tanggung jawab Ki Lurah Branjangan.

Demikianlah Agung Sedayu telah bekerja keras bagi barak dan penghuninya yang sekelompok kecil itu, dan bagi Tanah Perdikan Menoreh. Namun setiap kali terasa jantungnya berdenyut keras. Yang kemudian terjadi di dalam barak itu benar-benar telah mendebarkan jantungnya. Rasa-rasanya Ki Lurah Branjangan dan para perwira dari Mataram itu menjadi semakin garang. Bahkan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, kekurangan kemampuan untuk melakukan latihan-latihan sesuai seperti yang dikehendaki, telah cukup alasan untuk menjatuhkan hukuman.

Ketika seorang anak muda gagal berayun dan hinggap pada sebatang bambu yang merentang khusus dalam latihan tali, anak muda itu harus mengulanginya sepuluh kali. Dalam sepuluh kali itu, enam kali ia gagal dan ampat kali ia berhasil.

“Kau masih harus mengulangi,” seorang perwira yang marah membentak anak yang pucat itu.

Namun Agung Sedayu berkata kepada Ki Lurah. “Sekali lagi ia mengulangi, maka ia akan jatuh karena kehabisan tenaga.”

“Ia harus berhasil sampai sepuluh kali,” jawab Ki Lurah Branjangan, “jika hukuman itu dirubah, maka ia akan mengulangi kesalahan itu bahkan sampai sepuluh kali, karena setiap kesalahan telah diperhitungkan.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata anak itu benar-benar harus mengulangi sampai ia berhasil sepuluh kali. Namun untuk berhasil sepuluh kali ia sudah berayun sampai dua puluh lima kali. Bahkan demikian ia dapat menyelesaikan ayunan yang kesepuluh, maka ketika ia berusaha menepi untuk berteduh, ia pun jatuh pingsan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ketakutan yang sangat telah berhasil mendorong kemampuannya untuk berayun dua puluh lima kali. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan dalam keadaan yang wajar.

“Dorongan tenaga yang demikian yang harus dapat digali sebaik-baiknya,” berkata Agung Sedayu dalam hatinya, “kemampuan itu harus dipelajari dan dikuasai, sehingga bukan saja dalam ketakutan, terpaksa dan diluar sadar. Tetapi didalam sadarpun mereka akan dapat melakukan.”

Agung Sedayu sendiri sudah dapat menguasai tenaga cadangannya dengan baik bahkan hampir sempurna. Tetapi anak-anak muda itu baru menginjak dalam tataran permulaan.

Adalah menjadi kewajiban Agung Sedayu untuk menuntun mereka dalam kemampuan kanuragan tanpa mempergunakan senjata. Namun Agung Sedayu yang memang bukan seorang prajurit, tidak dapat memberikan latihan-latihan dengan keras dan dibayangi oleh hukuman-hukuman bagi setiap kesalahan.

Meskipun demikian. Agung Sedayu ingin mengimbangi kekurangannya itu dengan kerja yang keras dan bersungguh-sungguh.

Tetapi adalah juga satu pengalaman baru bagi Agung Sedayu, bahwa tidak semua anak muda yang berada didalam barak itu bekerja seperti yang dikehendakniya. Berbeda dengan Glagah Putih yang bahkan untuk beberapa hal ia harus menghambatnya. Karena dengan mengerahkan tenaga berlebihan, hasilnya justru akan sebaliknya.

Dalam keadaan tertentu, Agung Sedayu memang melihat anak-anak muda yang berusaha menghindarkan diri dari latihan-latihan yang berat, yang memerlukan ketekunan dan kerja yang sungguh-sungguh.

Tetapi Agung Sedayu mempunyai cara tersendiri, ia tidak memaksa anak-anak muda itu dengan hukuman-hukuman. Tetapi ia telah mendorong anak-anak itu dengan memberikan tataran pada mereka.

“Kalian adalah calon-calon pemimpin dalam lingkungan pasukan khusus ini,” berkata Agung Sedayu, “aku adalah salah seorang yang akan ikut menentukan, siapakah yang akan berada dalam tataran tertinggi yang disediakan, tataran tengahan dan tataran di paling bawah. Karena aku mempunyai tugas khusus, maka aku akan menentukan tataran itu dari bidang yang diserahkan kepadaku.”

Mula-mula hal itu memang kurang menarik. Anak-anak muda itu masih saja berusaha dengan dalih apapun juga untuk menghindarkan diri dari tugas-tugas yang berat, yang bagi orang lain telah mendorong untuk memberikan hukuman.

“Mereka menganggap bahwa aku tidak akan pernah memberikan hukuman kepada mereka,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “dan hal ini harus aku kenal sebagai salah satu kelemahanku.”

Namun pada saat-saat berikutnya, setiap kali Agung Sedayu memberikan urutan tataran kepada anak-anak muda itu. Agung Sedayu membagi anak-anak muda itu menjadi tiga tataran. Tataran tertinggi, tataran menengah dan tataran terendah.

Setiap kali ia menggeser anak-anak muda itu dari satu tataran ketataran yang lain. Mungkin dari tataran yang rendah ke tataran yang lebih tinggi. Tetapi sebaliknya dari tataran yang lebih tinggi ketataran yang lebih rendah.

“Bagi mereka yang karena ketinggalan terlalu jauh, dan terpaksa tidak dapat masuk ketataran yang paling rendah sekalipun, akan terpaksa diletakkan diluar kemungkinan untuk menjadi seorang pemimpin, ia akan berada di antara kawan-kawannya yang akan datang kemudian dan akan mulai dari permulaan sekali,” berkata Agung Sedayu.

Ternyata tidak ada di antara mereka yang ingin tertinggal. Bahkan mulai terasa oleh Agung Sedayu bahwa mereka telah didorong untuk saling berlomba dalam mencapai, tingkat yang lebih baik.

Demikianlah dengan caranya. Agung Sedayu telah berhasil memacu anak-anak muda itu dalam olah kanuragan. Dengan sungguh-sungguh Agung Sedayu pun memimpin mereka. Namun ternyata yang dilakukan tidak lebih banyak dari yang dilakukannya atas anak-anak Tanah Perdikan Menoreh sendiri.

Sementara itu, selagi Agung Sedayu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kepemimpinan didalam barak yang baru terisi sebagian kecil itu, Prastawa masih tetap dipengaruhi oleh perasaannya atas Agung Sedayu. Anak muda itu sadar, bahwa dalam olah kanuragan ia tidak berarti sama sekali bagi Agung Sedayu. Namun anak muda itu tetap merasa tidak ikhlas untuk menerimanya di Tanah Perdikan Menoreh. Karena bagaimanapun juga, Prastawa melihat kemungkinan-kemungkinan yang buram bagi masa depannya, apabila anak itu masih tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Sebenarnya Prastawa pun berharap, mudah-mudahan Agung Sedayu akan mendapat kedudukan di dalam barak itu. Dengan demikian maka ia tidak akan menetap di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi ia akan berada bersama pasukan khusus itu. Bahkan pada suatu saat, pasukan itu akan berada di medan perang.

Tetapi ia menjadi kecewa ketika ia ternyata melihat Agung Sedayu sampai saat-saat terakhir, masih belum dapat menyesuaikan dirinya. Bahkan Prastawa pun mendengar, bagaimana Agung Sedayu mengeluh dihadapan Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh.

Meskipun demikian, Prastawa tidak dapat berbuat sesuatu. Ia tidak akan mungkin dapat berbuat sesuatu dengan kekerasan. Seandainya ia memanggil sepuluh orang gegedug perampok, penyamun dan benggol kecu yang paling garang, mereka tentu akan digilas oleh Agung Sedayu apabila keringat anak muda itu sudah terlanjur membasahi punggungnya. Apalagi apabila darah sudah menitik dari tubuhnya, sebagaimana Ki Ajar Tal Pitu yang mampu merubah diri menjadi tiga orang dalam ilmu yang paling garang.

Karena itu, maka Prastawa hanya dapat menyimpan perasaannya didalam hati. Meskipun dengan demikian, seolah-olah ia telah menyimpan api didalam sekam.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda yang berada didalam barak itu pun menjadi semakin maju. Mereka menjadi semakin trampil dalam olah kanuragan, olah senjata dan olah gelar perang. Setiap orang telah memberikan tuntunan dalam bidangnya dengan cara masing-masing.

Kedua orang perwira dari Mataram dan Ki Lurah Branjangan telah menempa anak-anak muda itu dengan keras. Setiap kesalahan tentu akan mendapat hukuman. Tidak seorang pun di antara anak-anak itu yang sempat bermalas-malas. Sehingga dengan demikian, maka anak-anak itu dengan rampak telah maju, meskipun ada juga selang satu dua lapis tipis.

Sementara itu Agung Sedayu telah mempergunakan caranya sendiri. Ia memaksa anak-anak itu untuk berlatih dengan sungguh-sungguh, karena Agung Sedayu telah menempatkan mereka pada tataran yang berbeda. Mereka yang berada di tataran terendah akan berusaha dengan sepenuh tenaga, agar mereka dapat segera meningkat ketataran berikutnya. Apalagi mereka yang terpaksa diturunkan tatarannya. Maka mereka akan bekerja dengan segenap kekuatan yang ada padanya.

Sebenarnyalah bahwa tataran-tataran itu pun merupakan jenjang hukuman yang diberikan oleh Agung Sedayu. Mereka yang berada di tataran paling rendah, sebenarnyalah telah merasa mendapat hukuman yang meskipun tidak terasa berat bagi tubuh mereka, tetapi hukuman itu akan menjadi beban perasaan mereka.

adbm-150-02“Hampir tidak ada bedanya,” berkata Ki Waskita kepada Agung Sedayu.

“Tetapi tidak semata-mata,” jawab Agung Sedayu, “kadang-kadang hatiku tidak dapat mengelak lagi jika aku melihat anak-anak muda itu dijemur diterik panas matahari. Dengan tongkat pendek yang berujung segumpal kapas terbalut kain itu, mereka harus berlatih dengan gemetar oleh kelelahan. Rasa-rasanya aku ingin menghentikan hukuman seperti itu. Jika mereka kurang menguasai unsur-unsur baru dalam ilmu olah senjata, maka biarlah mereka berlatih terus. Tetapi tidak dengan dipaksa oleh hukuman.”

“Hukuman badan maksudmu,” potong Ki Waskita.

“Ya,” jawab Agung Sedayu.

“Kaupun telah menjatuhkan hukuman pula kepada mereka. Hukuman bagi perasaan mereka yang terpaksa berada di tataran yang terendah,” berkata Ki Waskita selanjutnya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Hampir tidak ada bedanya. Tetapi aku merasakan kelainan itu.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Tentu ada kelainan. Juga akibatnya. Bukan maksudku menyalahkan caramu.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Tetapi nampaknya cara itulah yang paling sesuai baginya untuk sementara. Mungkin pada suatu saat ia pun akan terbiasa dengan cara yang keras dan bersungguh-sungguh seperti yang dilakukan oleh para pemimpin dari Mataram itu.

Dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan yang untuk sementara mempertanggung jawabkan perkembangan anak-anak muda didalam barak itu, merasa bahwa tugasnya dapat dilaksanakan dengan baik meskipun dengan tenaga yang sangat terbatas. Namun dengan bantuan Agung Sedayu, dan kadang-kadang Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh dalam hal-hal tertentu, anak-anak muda yang diharap akan dapat menjadi inti dan tenaga pimpinan dalam pasukan khusus itu dapat maju sebagaimana diharapkan.

Dengan selisih waktu yang meskipun tidak terlalu panjang, maka anak-anak itu akan mempunyai kelebihan dari anak-anak yang bakal datang kemudian. Meskipun dengan pengertian, bahwa mereka harus mengembangkan terus kemampuan mereka.

Karena itulah, ketika Ki Lurah memandang bahwa anak-anak itu telah memiliki bekal untuk membantu dalam kepemimpinan kemudian, maka ia pun memberikan laporan kepada Raden Sutawijaya bahwa dasar pertama telah dapat diletakkan atas anak-anak muda itu.

“Aku akan melihat mereka,” berkata Raden Sutawijaya kepada Ki Lurah.

Namun dalam pada itu, Ki Lurah Branjanganpun telah memberikan laporan tentang Agung Sedayu. Anak muda itu memiliki sifat dan watak yang agak kurang sesuai dengan sifat dan watak seorang pemimpin didalam lingkungan keprajuritan.

“Ia adik Untara,” berkata Raden Sutawijaya.

“Ternyata sifatnya jauh berbeda dengan Untara,” jawab Ki Lurah Branjangan, “Untara adalah seorang prajurit. Setiap langkahnya, setiap kata-katanya, solah tingkahnya, adalah seorang Senapati. Tetapi Agung Sedayu lain. Anak itu memang memiliki kemampuan olah kanuragan yang mungkin melampaui Untara. Ilmunya mapan dan bahkan anak itu telah berhasil membunuh Ajar Tal Pitu yang memiliki ilmu yang sekarang sudah jarang sekali ada duanya, Kakang Pembareb dan Adi Wuragil.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Apakah kau tidak dapat membantunya menyesuaikan diri dengan lingkungan keprajuritan?”

“Aku sudah mencoba Raden, tetapi aku belum berhasil,” jawab Ki Lurah.

“Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya, “besok aku akan menemuinya dan berbicara serba sedikit tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas anak muda yang aneh itu.”

“Silahkan Raden,” jawab Ki Lurah, “agaknya memang lebih baik Raden menemuinya.”

Demikianlah, maka pada hari yang sudah ditentukan. Raden Sutawijaya pun telah pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk melihat perkembangan anak-anak muda yang akan menjadi inti dari pasukan khususnya untuk mengimbangi pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Prabadaru.

Namun dalam pada itu, Ki Pringgajaya pun berbincang dengan Ki Tumenggung Prabadaru di tempat yang tersembunyi. Ternyata Ki Tumenggung menjadi sangat kecewa, bahwa Ajar Tal Pitu telah gagal usahanya untuk membunuh Agung Sedayu, bahkan Ajar Tal Pitu sendirilah yang telah terbunuh.

“Luar biasa. Memang luar biasa,” berkata Ki Pringgajaya, “aku hampir tidak percaya bahwa Agung Sedayu mampu melakukannya.”

“Semakin lama ilmunya menjadi semakin sempurna,” berkata Ki Tumenggung Prabadaru, “jika anak itu tidak segera disingkirkan, maka di Mataram akan ada kekuatan rangkap yang tidak dapat kami cari bandingnya di Pajang. Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga dan Agung Sedayu.”

“Tetapi Agung Sedayu tentu masih belum setingkat dengan Raden Sutawijaya,” berkata Ki Pringgajaya.

“Sekarang,” jawab Ki Tumenggung, “sebentar lagi, hal itu akan mungkin terjadi. Beberapa saat yang lalu, ketika Agung Sedayu bertempur dengan Ki Ajar Tal Pitu, ia masih terluka parah dan bahkan memerlukan waktu lama untuk sembuh. Lebih lama dari waktu yang dipergunakan oleh Ajar Tal Pitu. Setelah Ajar Tal Pitu menyempurnakan ilmunya dengan sesirik dan pati geni sebagai laku puncak dari penyempurnaan ilmunya, ia justru terbunuh oleh anak itu. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa kemajuan Agung Sedayu ternyata lebih pesat dari kemajuan ilmu Ajar Tal Pitu.”

Ki Pringgajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Tumenggung benar. Tetapi kemampuan seseorang tentu ada batasnya. Menurut pengamatanku Agung Sedayu tidak akan dapat mencapai tataran Raden Sutawijaya.”

“Siapa tahu bahwa hal itu akan terjadi. Karena itu, selagi ia masih belum sampai ke tataran yang mencemaskan, maka anak itu memang harus dibinasakan. Agaknya menurut pengamatan beberapa orang petugas sandi, Mataram telah menyusun pasukan khusus untuk mengimbangi pasukanku. Agung Sedayu tentu ada didalamnya,” berkata Tumenggung Prabadaru.

“Jika saja Pangeran Benawa tidak menuruti hatinya sendiri,” berkata Ki Pringgajaya, “satu-satunya orang Pajang yang dapat mengimbangi Raden Sutawijaya, selain Sultan sendiri adalah Pangeran Benawa. Tetapi kini. Sultan yang sakit-sakitan itu tentu tidak lagi dapat mencapai kemampuan puncaknya. Karena betapapun tinggi ilmu seseorang, ia tidak akan dapat melawan batas-batas alaminya. Sementara Pangeran Benawa rasa-rasanya seperti kapuk yang diterbangkan angin. Tidak tentu arah sama sekali.”

“Jangan berbicara tentang Pangeran Benawa,” jawab Prabadaru, “orang seperti itu sama sekali tidak dapat diajak berbicara, ia justru orang yang sangat berbahaya. Apalagi Pangeran Benawa adalah seseorang yang memiliki ilmu yang setingkat dengan Raden Sutawijaya sendiri.”

“Pajang akan kehilangan segala harapannya, apabila Pangeran Benawa ternyata kemudian berpihak kepada Raden Sutawijaya, sementara Agung Sedayu benar berhasil mencapai tataran mereka berdua.” desis Ki Pringgajaya.

“Karena itu, kita harus mencegahnya,” berkata Tumenggung Prabadaru, “sementara itu murid Kiai Gringsing yang tinggal di Sangkal Putung itu masih belum terlalu berbahaya. Adalah memang agak janggal bahwa perkembangan kedua murid Kiai Gringsing itu agak jauh berbeda.”

“Apa yang dapat kita kerjakan?” bertanya Ki Pringgajaya.

“Aku belum dapat mengatakan sekarang,” jawab Ki Tumenggung Prabadaru, “tetapi kita harus mencari jalan, sementara itu, petugas sandi kita harus mengamati keadaan Mataram dan perkembangan pasukan khusus yang mereka bentuk itu dengan cermat.”

Ki Pringgajaya hanya dapat mengangguk-angguk. Tetapi usaha yang rumit masih harus di jalankan untuk dapat menyingkirkan Agung Sedayu dan jika mungkin saudara seperguruannya dan bahkan gurunya.

“Aku menunggu pendapatmu,” berkata Prabadaru, “sementara itu, kau cari jalan untuk mendapat keterangan tentang kekuatan pasukan khusus yang telah disusun oleh Mataram.”

“Baiklah Ki Tumenggung,” jawab Ki Pringgajaya, “aku akan menjalankan perintah. Tetapi apakah akan berhasil, masih merupakan sebuah teka-teki.”

Tumenggung Prabadaru menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa tugas yang dibebankan kepada Ki Pringgajaya adalah tugas yang berat, yang menuntut ketrampilan khusus.

Sementara itu. Raden Sutawijaya telah mengunjungi Ki Gede Menoreh di Tanah Perdikan Menoreh. Raden Sutawijaya tidak langsung pergi ke barak anak-anak muda yang telah mendahului para calon yang lain untuk dipersiapkan menjadi pemimpin pada tataran tertentu dalam pasukan khusus yang akan dibentuk. Tetapi Raden Sutawijaya lebih dahulu telah datang kepada pemimpin Tanah Perdikan itu.

Kedatangan Raden Sutawijaya telah disambut dengan sebaik-baiknya oleh Ki Gede Menoreh. Dalam pada itu Ki Waskita dan Agung Sedayu pun telah menemuinya pula.

Setelah saling mengucapkan selamat, maka Ki Gedepun kemudian bertanya, “Raden, apakah kedatangan Raden ada hubungannya dengan anak-anak muda di barak itu?”

“Ya Ki Gede. Aku ingin melihat, seberapa jauh perkembangan anak-anak muda didalam barak itu. Selama ini aku baru mendengar laporan-laporan dari Ki Lurah Branjangan. Sekarang aku ingin melihat sendiri,” berkata Raden Sutawijaya.

“Tentu Raden ingin melihatnya,” berkata Ki Gede, “menurut penglihatanku, kemajuan anak-anak muda itu cukup baik. Tetapi mungkin Raden mempunyai penilaian tersendiri.”

“Ah. Tentu tidak,” sahut Raden Sutawijaya, “apa yang Ki Gede anggap baik, tentu aku menganggapnya baik juga.”

Demikianlah, maka diantar oleh Ki Lurah Branjangan, bersama Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan Agung Sedayu mereka telah mengunjungi barak.

Anak-anak muda didalam barak itu telah dipersiapkan, bahwa mereka akan mendapat kunjungan Raden Sutawijaya. Hari itu mereka harus menunjukkan kemampuan mereka, untuk mendapat penilaian dari pemimpin tertinggi Mataram, Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

Ternyata kedatangan Raden Sutawijaya itu benar-benar telah memberikan gairah kepada anak-anak muda itu. Dengan sepenuh hati mereka telah menunjukkan hasil latihan yang mereka lakukan selama mereka berada di dalam barak itu. Mereka telah menunjukkan kemampuan mereka dalam olah kanuragan secara pribadi. Kemampuan mereka olah senjata dan kemampuan mereka dalam gelar perang.

Beberapa orang telah memamerkan ketrampilan mereka berkelahi tanpa senjata, bahkan mereka telah menunjukkan kemampuan mereka mempergunakan tenaga cadangan, sehingga mereka berhasil menunjukkan kekuatan mereka melampaui kekuatan tenaga wajar mereka. Yang lain menunjukkan kecakapan mereka bermain pedang. Bermain tombak dan mempergunakan senjata-senjata lain yang kurang dikenal. Bahkan mempergunakan senjata apa saja yang mereka ketemukan di sekitar mereka. Beberapa orang telah memamerkan ketrampilan mereka sodoran diatas punggung kuda.

Raden Sutawijaya menyaksikan semuanya itu sampai mengangguk-angguk. Ternyata bahwa yang telah dilakukan oleh anak-anak muda itu dapat memenuhi harapannya. Dalam waktu yang terhitung singkat mereka telah berhasil melandasi diri mereka dengan kemampuan yang memadai.

Setelah semuanya disaksikan oleh Raden Sutawijaya, maka anak-anak muda itu pun mendapat kesempatan untuk beristirahat, sementara itu Raden Sutawijaya menyaksikan bangunan-bangunan yang terdapat dalam satu lingkungan bagi pasukan khusus yang bakal disusun.

Ternyata segalanya telah memuaskannya. Kemampuan anak anak yang mendahului kawan-kawannya itu dianggapnya sudah cukup, sehingga Raden Sutawijaya telah mulai membicarakan kemungkinan yang lebih luas lagi dari pasukan khusus itu.

Setelah Raden Sutawijaya selesai menyaksikan barak yang sudah siap seluruhnya itu, maka ia pun telah mulai dengan pembicaraan-pembicaraan lebih jauh dari pembentukan pasukan khusus itu dengan Ki Lurah Branjangan, Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan Agung Sedayu.

“Nampaknya segalanya telah siap,” berkata Raden Sutawijaya, “agaknya pembentukan pasukan itu tidak mengalami kesulitan apapun juga. Ki Lurah Branjangan tentu sudah dapat menyusun jenjang kepemimpinan yang dapat di serahkan kepada anak-anak muda yang telah mendahului kawan-kawannya itu. Selain mereka telah mendapat latihan-latihan khusus sebelumnya, mereka pun tentu termasuk anak-anak muda yang terpilih di daerah mereka masing-masing.”

“Ya,” jawab Ki Lurah, “tetapi sudah tentu mereka akan berada pada jenjang kepemimpinan yang memungkinkan.”

“Maksud Ki Lurah? “bertanya Raden Sutawijaya.

“Mereka tidak akan dapat mencapai jenjang kepemimpinan yang tinggi,” jawab Ki Lurah.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Ki Lurah. Mereka akan menjadi pemimpin pada tataran menengah dan bawah. Sementara itu, aku akan menentukan sepuluh orang diluar anak-anak muda itu yang akan memegang pimpinan tertinggi dari pasukan khusus itu.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah Agung Sedayu. Namun ia tidak melihat kesan apapun diwajah itu.

Dalam pada itu, Ki Lurah itu pun kemudian berkata, “Tentu Raden harus menunjuk orang-orang yang akan memegang pimpinan tertinggi dari pasukan khusus itu. Sepuluh orang akan menjadi Manggala dan Senapati, namun masih ada orang-orang diluar yang sepuluh itu yang akan dimohon untuk membantu menempa anak-anak muda di lingkungan pasukan khusus ini.”

“Bagus sekali,” berkata Raden Sutawijaya, “aku sependapat. Sudah waktunya kita menentukan saat bagi anak-anak muda yang lain, yang telah terlalu lama menunggu, maka segera akan dapat kami laksanakan,” jawab Ki Lurah Branjangan, “sementara itu, seluruh jenjang kepemimpinan harus sudah terisi.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Lurah Branjangan. Namun Raden Sutawijaya hanya berkata, “Aturlah di antara anak-anak muda itu. Aku akan mengatur sepuluh orang yang aku maksudkan.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu kemudian berada di antara anak-anak muda untuk berlatih bersama, maka Raden Sutawijaya telah mempergunakan kesempatan itu untuk berbicara hanya dengan Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita. Raden Sutawijaya ingin mendapat penjelasan tentang sikap Agung Sedayu.

“Ia mempunyai Sifat yang berbeda dengan kakaknya,” berkata Ki Waskita.

“Aku mengerti Ki Waskita, tetapi apakah ia benar-benar tidak dapat diserahi kepemimpinan dari pasukan khusus itu?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku kira ia kurang sesuai Raden,” jawab Ki Waskita kemudian, “Agung Sedaya memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi memiliki ilmu bukannya berarti bahwa ia akan dapat menjadi seorang pemimpin dibidang tertentu. Mungkin ia akan dapat melakukan tugas lain dengan tepat sesuai dengan sifat dan wataknya.”

“Ki Waskita,” berkata Raden Sutawijaya, “bukankah selama ia menuntut ilmu, ia juga dibebani tugas-tugas yang berat dan paugeran yang kokoh oleh gurunya? Sebagai seorang yang berilmu ia tentu memiliki ketajaman nalar dan budi.”

“Raden,” berkata Ki Gede, “sebenarnyalah bahwa didalam perguruan seseorang harus mengasah nalar dan budi. Tetapi pembawaan seseorang yang apalagi seperti Agung Sedayu, ia berguru pada masa menjelang dewasa, sehingga wataknya telah hampir terbentuk secara bulat. Meskipun tidak mustahil bahwa untuk seseorang dapat berkembang karena satu peristiwa yang sangat berkesan pada dirinya, namun ia masih selalu berpijak oleh wataknya yang semula. Selain Agung Sedayu, Raden dapat melihat sebuah contoh yang lebih tegas dari seorang berilmu yang sangat tinggi, tetapi kurang sesuai atau mungkin dapat disebut tidak ada minat untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan tahta pun tidak dikehendakinya. Pangeran Benawa.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Yang Ki Gede katakan adalah benar. Tetapi adimas Pangeran Benawa memang tidak mempunyai minat. Bukan karena ia tidak dapat melakukannya. Seandainya ia mempunyai minat, maka mungkin sekali ia akan dapat melakukan kewajiban seorang raja dengan sebaik-baiknya.”

“Hampir sama dengan Agung Sedayu,” jawab Ki Gede, “mungkin ia memang mempunyai minat meskipun hanya setitik didalam hatinya. Tetapi ia bukan seorang yang memiliki watak seorang pemimpin prajurit. Ia seorang yang mudah menjadi iba. Pengampun meskipun kadang-kadang justru bertentangan dengan kepentingan perkembangan sifat seseorang. Justru hatinya terlalu lembut untuk menjadi seorang Senopati. Apalagi dalam pasukan khusus seperti ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Ia dapat mengerti keterangan Ki Gede Menoreh.

Namun dalam pada itu, Ki Waskita tersenyum meskipun hanya didalam hatinya. Ia mengerti, bahwa Ki Gede mempunyai kepentingan dengan Agung Sedayu. Jika Agung Sedayu benar-benar akan berada didalam lingkungan keprajuritan, apalagi memimpin pasukan khusus itu, maka Tanah Perdikan Menoreh akan kehilangan.

Meskipun demikian, sebenarnyalah Ki Gede tidak mempunyai niat dengan sengaja menghalangi Agung Sedayu. Ia akan ikut merasa berbahagia jika Agung Sedayu merasa berbahagia juga didalam kedudukannya.

Akhirnya Ki Gede pun berkata, “Tetapi Raden, Segalanya terserah kepada Agung Sedayu sendiri.”

“Baiklah Ki Gede,” jawab Raden Sutawijaya, “aku akan berusaha untuk mendekati hatinya. Tetapi Serba sedikit aku sudah mengetahui wataknya yang andap asor, perasaannya yang lembut dan tidak tahan melihat kesulitan orang lain. Karena itu, aku akan memberikan perhatian khusus terhadapnya.”

“Silahkan Raden,” berkata Ki Gede, “mudah-mudahan Raden dapat menentukan sikap yang benar terhadap anak muda itu.”

“Aku akan mengamatinya dengan cermat, selama aku berada disini Ki Gede,” jawab Raden Sutawijaya.

Raden Sutawijaya memang tidak hanya satu hari berada di Tanah Perdikan Menoreh. Dalam kesempatan yang tidak terlalu panjang itu, ia sudah memperhatikan, segala-galanya. Ia juga memperhatikan setiap sikap Agung Sedayu, bagaimana gejolak perasaannya jika ia melihat satu dua orang yang sedang menjalani hukuman yang cukup berat karena sesuatu kesalahan.

Meskipun ia belum mengatakan kepada siapapun juga, namun akhirnya Raden Sutawijaya memang menganggap Agung Sedayu terlalu terpengaruh oleh perasaan yang lembut. Meskipun pada saat-saat tertentu darahnya dapat mendidih dan membakar dunia seputarnya, namun pada dasarnya Agung Sedayu adalah seorang perasa.

Namun dalam pada itu, maka yang kemudian dikatakan oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga kepada Ki Lurah Branjangan adalah, bahwa anak-anak muda yang sudah dipersiapkan di daerah-daerah yang telah menyatakan kesediaannya mengirimkan anak-anak mudanya itu, dapat segera diserahkan kepada pimpinan pasukan khusus itu. Sementara itu, ia pun mendapat tugas untuk memilih anak-anak muda yang terdahulu untuk membantu memimpin anak-anak muda yang bakal datang.

“Tetapi bukan berarti bahwa mereka sudah mumpuni. Mereka harus meningkat terus, pada jarak tertentu dengan anak-anak muda yang baru akan datang nanti,” berkata Raden Sutawijaya, “karena itu mereka harus berlatih terus. Aku kira Ki Lurah akan tetap berpegangan pada pertimbangan, bahwa disamping para pemimpin tertinggi pasukan khusus itu, masih akan terdapat beberapa orang pembimbing yang akan selalu meningkatkan ilmu anak-anak muda yang datang terdahulu.”

Demikianlah, maka yang harus segera dilakukan oleh Ki Kurah adalah menilai anak-anak muda yang ada di barak itu. Ternyata bahwa Raden Sutawijaya yang untuk beberapa hari berada di antara mereka dapat pula membantu Ki Lurah Branjangan. Pengamatan Raden Sutawijaya yang tajam, meskipun ia hanya sempat melihat sekilas, telah banyak memberikan pertimbangan kepada Ki Lurah Branjangan. Namun dalam pada itu, Ki Lurah pun tidak meninggalkan kedua orang pembantunya dan Agung Sedayu. Bahkan Ki Waskita dan Ki Gede yang kadang-kadang berada di barak itu juga, telah diminta pertimbangannya pula.

Sementara itu. Raden Sutawijaya yang telah melihat apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu selama ia berada di barak itu, ternyata sependapat, bahwa pimpinan pasukan khusus itu memang bukan tempatnya bagi Agung Sedayu.

Ketika ia berkesempatan bertemu dengan anak muda itu, maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Aku tidak akan menawarkan satu kedudukan yang kurang sesuai bagimu Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Aku sudah berusaha menyesuaikan diri. Tetapi aku tidak dapat melepaskan diri dari kedirianku sendiri.”

“Ya. Aku menghargai kejujuranmu terhadap dirimu sendiri,” sahut Raden Sutawijaya, “aku melihat bahwa kau masih berpijak pada satu sikap yang mapan. Sementara orang lain yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan apapun berusaha dengan segala cara untuk menjadi seorang pemimpin hanya didorong oleh satu kerinduan terhadap satu keadaan, bahwa orang lain akan menghormatinya. Yang lain berusaha untuk mendapat kesempatan karena kedudukannya untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Karena itulah, maka tidak jarang terjadi, bahwa kedudukan yang dianggap penting, telah diperebutkan dengan cara yang kadang-kadang kotor dan tidak pantas.”

“Jika aku tidak merasa diriku sesuai Raden, bukan karena aku orang yang bersih dari segala macam keinginan dan nafsu keduniawian semacam itu. Tetapi semata-mata karena aku merasa, bahwa aku tidak akan dapat melakukannya dengan baik sebagaimana seharusnya,” jawab Agung Sedayu.

“Aku mengerti,” berkata Raden Sutawijaya, “justru orang yang menyadari keadaan dirinya yang demikian itu jarang sekali ditemui sekarang. Bukan saja di Pajang, tetapi di Mataram yang baru lahir itu pun terdapat orang-orang yang memaksakan dirinya untuk mendapat satu kedudukan yang baik. Bahkan jika perlu dengan mengorbankan orang lain. Karena kedudukan akan sama artinya bagi mereka dengan kehormatan, keuntungan duniawi, dan kekuasaan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

“Karena itu aku hormati sikapmu Agung Sedayu,” berkata Raden Sutawijaya, “meskipun dengan demikian aku harus memilih di antara calon-calon yang lain. Namun dalam pada itu, aku dan Ki Lurah Branjangan masih akan tetap minta bantuanmu. Orang-orang yang datang mendahului kawan-kawannya itu, yang akan membantu keberhasilan pembentukan pasukan khusus ini, masih harus ditingkatkan terus ilmunya sebagaimana yang dilakukan sebelum kawan-kawannya datang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan membantu sejauh dapat aku lakukan Raden. Aku akan tetap merasa terikat oleh tugas-tugasku disini.”

“Terima kasih Agung Sedayu,” berkata Raden Sutawijaya, “aku mengerti sepenuhnya, karena kau mengalami kesulitan untuk menjadi pemimpin pada pasukan khusus ini. Bukan sebenarnyalah bahwa tidak setiap orang akan tepat berada disetiap tempat. Kau tentu akan lebih berhasil berada ditempat yang lebih sesuai dengan sifat-sifatmu itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang wajah Sekar Mirah yang kecewa. Namun baru saja ia mendengar, sebagaimana dikatakan oleh Raden Sutawijaya, kadang-kadang orang tidak menghiraukan dirinya sendiri dalam usaha untuk mendapatkan satu kedudukan yang baik.

“Apakah aku akan termasuk orang-orang yang demikian?” bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata Agung Sedayu berhasil menguasai dirinya sendiri dan bersikap jujur. Ia mengatakan keadaan dirinya yang ternyata juga dilihat oleh Ki Lurah Branjangan dan Raden Sutawijaya. Namun dalam pada itu, ternyata Raden Sutawijaya menjadi semakin hormat kepadanya. Satu sikap yang sukar dicari duanya pada masa yang sedang dibayangi oleh gejolak ketidak pastian itu.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah Branjanganpun telah sampai pada persiapan terakhir. Tetapi Raden Sutawijaya tidak dapat menunggui barak itu terlalu lama. Karena itu, maka ia pun segera kembali ke Mataram setelah memberikan beberapa pesan kepada Ki Lurah Branjangan.

Dalam waktu yang dekat, persiapanpun telah mendekati penyelesaiannya. Pendadaran demi pendadaran telah berlangsung untuk memilih orang yang tepat pada tataran-tataran tertentu.

Ternyata bahwa keputusan terakhir Ki Lurah Branjangan telah diterima dengan baik oleh anak-anak muda itu. Tidak seorang pun yang merasa di kecewakan. Yang berada ditataran yang lebih rendahpun merasa, bahwa kemampuannya memang tidak dapat menyamai mereka yang berada di tataran yang lebih tinggi.

“Sepuluh orang di tataran tertinggi dari pasukan khusus ini akan ditentukan oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati Ing Ngalaga,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada anak-anak muda itu. Kemudian, “dalam waktu dekat, mereka sudah akan berada di antara kalian. Sementara itu, kawan-kawan kalian pun akan berdatangan pula sehingga lengkaplah pasukan yang dibentuk ini. yang akan menjadi pasukan khusus yang pilih tanding.”

Terasa jantung anak-anak muda itu telah mengembang. Mereka merasa bahwa mereka pada saatnya akan ikut bertanggung jawab, untuk menyusun masa depan dari tanah tercinta ini.

Dalam pada itu, serba sedikit mereka pun telah mendapat penjelasan tentang keadaan yang sedang dihadapi oleh Mataram.

Dengan demikian maka anak-anak muda itu akan dapat berjalan dengan sadar. Mereka bukan sekedar alat yang tidak mengerti, apa yang sedang mereka lakukan.

Pada saat-saat terakhir, menjelang kedatangan anak-anak muda yang lain dari daerah-daerah yang telah menyatakan kesediaannya, maka anak-anak muda yang mendahului itu telah mendapat tempaan terakhir yang berat. Dengan demikian, maka mereka pun menjadi semakin mantap untuk membantu memimpin pasukan khusus yang akan dibentuk.

Dalam pada itu, para pemimpin dari pasukan khusus yang akan dibentuk itu pun telah dipersiapkan. Raden Sutawijaya dengan cermat sedang memilih sepuluh orang yang akan ditempatkan di Tanah Perdikan Menoreh.

Sementara itu, latihan-latihan pun seakan-akan tidak henti-hentinya telah dilakukan di dalam atau di luar barak.

Namun, selagi kegiatan itu semakin meningkat dan mencapai puncaknya pada saat-saat terakhir, maka orang-orang yang berada di dalam barak itu mulai merasa terganggu oleh sesuatu yang kurang jelas bagi mereka. Hampir setiap anak muda yang sedang bertugas pernah melihat seseorang yang melintas di depan barak itu di saat-saat lewat senja. Beberapa kali terdapat laporan tentang seseorang yang tidak dikenal yang seolah-olah tengah mengawasi barak itu. Bahkan demikian beraninya, atau justru karena orang itu tidak mengerti sama sekali, bahwa yang dilakukan itu selalu mendapat pengawasan.

“Kalian berhak untuk bertanya kepadanya,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Salah seorang di antara mereka berkata, “Apakah kami dapat menghentikannya, dan minta orang itu singgah digardu untuk dimintai keterangan?”

“Ya. Tentu,” jawab Ki Lurah.

adbm-150-03“Apakah hal ini tidak akan menyinggung perasaan orang-orang Tanah Perdikan, seandainya orang itu sama sekali tidak bermaksud buruk,” bertanya anak muda itu.

“Kalian hanya minta keterangan daripadanya,” jawab Ki Lurah, “kalian tidak menangkapnya apalagi menahannya.”

Keterangan itu merupaka perintah bagi anak-anak muda yang bertugas. Seandainya orang itu lewat, maka orang itu dapat dipersilahkan untuk singgah di gardu untuk memberikan keterangan. Sehingga karena itulah, maka setiap anak muda yang bertugas, justru seolah-olah menunggu orang itu lewat.

“Sebentar lagi,” desis seorang anak muda yang bertubuh kecil. Lalu, “Biasanya ia muncul dari semak-semak itu. Mungkin ia seorang petani yang mengerjakan pategalan dilereng itu.”

“Memang mungkin menilik pakaiannya,” jawab yang lain, “tetapi sikapnya kadang-kadang memang mengundang kecurigaan.”

Anak muda yang bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Namun bersama kawan-kawannya yang bertugas mereka memang menunggu.

Sebenarnyalah seperti yang mereka duga. Sebentar kemudian, ketika langit menjadi buram, seseorang muncul dari balik gerumbul perdu, lewat jalan setapak melintas ke jalan didepan barak. Jalan yang jarang sekali dilalui orang kebanyakan, karena jalan itu adalah jalan yang khusus dibuat bagi kepentingan barak yang terpisah dari daerah padukuhan.

“Itulah,” desis orang bertubuh kecil.

“Hentikan. Bertanyalah kepadanya atau ajak orang itu singgah sebentar digardu,” berkata kawannya.

Orang bertubuh kecil itu pun kemudian melangkah ketepi jalan. Ia balik berusaha agar orang dalam pakaian petani yang muncul dari balik gerumbul itu tidak menjadi curiga.

Namun demikian anak muda bertubuh kecil itu telah menarik perhatiannya. Langkahnya mulai tertgun-tegun. Bahkan kemudian orang itu berhenti.

Anak muda bertubuh kecil itu pun menjadi semakin curiga. Dengan demikian maka ia tidak menunggunya lagi. Tetapi justru anak muda itu telah menyongsongnya dengan tergesa-gesa.

Orang yang termangu-mangu itu tidak sempat menghindar. Karena itu maka ia pun segera berkisar menepi dan berhenti dengan gelisah.

“Siapa kau?” bertanya anak muda bertubuh kecil itu dengan serta merta.

“Aku penghuni padukuhan kecil di sebelah utara itu anak muda,” jawab orang itu, “nampaknya anak muda belum banyak dikenal disini.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang itu dengan saksama. Meskipun langit menjadi semakin gelap, tetapi ia masih sempat mengamati wajah orang itu.

“Aku belum pernah mengenalmu,” berkata anak muda bertubuh kecil itu.

“Aku seorang petani kecil di padukuhan sebelah Utara itu anak muda. Pada saat seperti ini, aku berangkat ke sungai kecil di sebelah untuk mencari ikan. Di sungai kecil yang berlumpur itu banyak terdapat ikan lele yang besar-besar,” berkata orang itu.

“Kau pencari ikan?” bertanya anak muda bertubuh kecil itu.

“Ya anak muda. Untuk menambah penghasilan sebagai petani kecil,” jawab orang itu.

“Tetapi aku belum pernah melihatmu Ki Sanak,” berkata anak muda itu, “nampaknya kau keliru. Aku penghuni barak itu memang. Tetapi aku berasal dari Tanah Perdikan ini.”

Orang itu nampak terkejut. Setapak ia bergeser surut.

“Berkatalah terus terang,” desak anak muda itu, “jangan menyebut lagi padukuhan di sebelah Utara itu. Aku kenal kepada setiap orang di Tanah Perdikan ini. Setidak-tidaknya aku mengetahuinya.”

Orang itu terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tanah Perdikan ini tidak terlalu sempit seperti sebuah Kademangan. Tidak semua orang di Tanah Perdikan ini saling mengenal. Apalagi orang-orang yang tataran umurnya jauh berbeda. Ternyata aku tidak mengenalmu anak muda, dan kau juga tidak mengenal aku.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Kecurigaannya menjadi semakin tajam terhadap orang itu. Meskipun orang itu menyebut perbedaan umur, tetapi nampaknya orang itu pun bukan orang tua.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah Ki Sanak. Siapapun Ki Sanak, aku persilahkan Ki Sanak singgah barang sebentar di barak kami. Ada beberapa orang anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh. Mungkin satu dua di antara mereka dapat mengenal Ki Sanak, seandainya aku belum mengenalmu.”

“Ah,” berkata orang itu, “aku masih mempunyai banyak pekerjaan. Aku harus memasang icir. Kemudian memasang beberapa kail dan jika saatnya datang, aku harus menutup pliritan di sungai kecil itu.”

“Aku juga sering mencari ikan. Aku juga sering mengail dan memasang icir pada pliridan. Tetapi waktunya masih cukup jika kau hanya singgah barang sejenak.” ajak anak muda bertubuh kecil itu.

“Terima kasih,” jawab orang berpakaian petani itu.

“Tetapi aku akan langsung pergi ke sungai saja.”

“Baiklah aku berterus terang Ki Sanak. Kami mencurigaimu. Karena itu, kami memaksamu untuk singgah.” anak muda itu mulai kehilangan kesabaran.

“Ah,” desis orang itu, “jangan begitu anak muda. Ki Gede Menoreh telah berbaik hati memberikan tempat bagi kalian. Bagi pasukan khusus yang akan di bentuk. Tetapi penghuni barak ini jangan berbuat sewenang-wenang dengan mencurigai dan menangkap orang-orang yang tidak disukai. Coba katakan anak muda, apa salahku?”

“Kau memang tidak bersalah Ki Sanak,” jawab anak muda itu, “sudah aku katakan. Aku dan beberapa orang kawan menjadi curiga atas sikapmu. Karena itu aku mencoba berbuat sebaik-baiknya dengan mempersilahkan kau singgah. Segalanya akan dapat diselesaikan dengan baik, dan sama sekali bukan satu tindak sewenang-wenang. Tetapi karena kau tidak memilih cara itu, maka aku terpaksa menunjukkan cara yang lain.”

“Ah, aku keberatan anak muda,” sahut orang itu.

“Maaf Ki Sanak. Jika demikian, aku harus memaksamu,” berkata anak muda itu.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia bergeser surut dan bahkan berusaha menghindar dengan meloncat kedalam gerumbul dan berusaha lari.

Tetapi anak muda itu cukup tangkas. Dengan serta merta, ia pun telah meloncat pula mengejarnya.

Beberapa orang kawannya yang menunggu didepan regol halaman barak mereka melihat apa yang terjadi. Karena itu, maka mereka pun segera berlari-larian mendekat. Hanya seorang saja di antara mereka yang tetap berada diregol untuk berjaga-jaga.

Untuk beberapa saat anak anak muda itu saling bekejaran di antara semak-semak. Senja menjadi semakin gelap sehingga pandangan mereka menjadi semakin kabur.

Dalam pada itu, ternyata anak-anak muda itu tidak segera dapat menemukan orang yang mereka cari. Anak muda yang bertubuh kecil itu menjadi bingung. Ketika ia melihat kawan-kawannya membantunya maka katanya, “Ia tentu masih berada ditempat ini.”

“Ya. Kami pun melihat, baru saja ia meloncat berlari,” jawab kawannya.

Untuk beberapa saat mereka masih tetap mencari. Mereka memutari semak-semak yang tidak begitu lebat. Namun mereka tidak menemukannya. Semakin lama mereka bergeser semakin jauh dari halaman barak mereka. Tetapi jejaknyapun tidak dapat mereka ketemukan didalam suramnya ujung malam.

Namun dalam pada itu, selagi beberapa orang pengawal sibuk mencari orang yang mengaku bertempat tinggal di padukuhan sebelah Utara itu, seorang kawannya yang mereka tinggalkan di regol terkejut ketika tiba-tiba saja seseorang meloncat dari dalam semak-semak di seberang jalan didepan barak itu.

Dengan tenang orang itu mendekatinya sambil bertanya, seolah-olah tidak ada persoalan apapun juga, “Kau bertugas sendiri disini anak muda?”

Anak muda itu termangu-mangu. Namun diluar sadarnya ia pun menjawab, “Ada beberapa orang kawanku yang bertugas malam ini.”

“O,” orang itu mengangguk-angguk, “dimana mereka sekarang?”

Anak muda itu termangu-mangu. Menurut pengamatannya, meskipun tidak begitu jelas, orang itu adalah orang yang sedang dicari oleh kawan-kawannya. Namun kawan-kawannya yang kemudian hilang dibalik gerumbul itu masih belum kembali, sementara orang itu telah datang dengan sendirinya ke regol halaman.

Anak muda itu tidak segera dapat menentukan sikap. Sementara itu, orang itu pun bertanya dengan tenangnya, “Apakah kawan-kawanmu yang tidak sedang bertugas berada di dalam barak itu?”

“Ya. Mereka ada didalam barak. Sebagian dari mereka sedang berlatih. Yang lain menekuni olah kajiwan,” jawab anak muda itu.

“Apakah mereka juga belajar mengenali isi kitab? Apakah kitab yang berisi ilmu, berisi kisah, atau babad dan kidung pepujian?” bertanya orang itu.

“Tentu. Ada beberapa kitab di dalam barak ini,” jawab anak muda itu, “kami mendapat kesempatan untuk mengenal masa lampau, dongeng kepahlawanan dan kidung pepujian.”

“Bagus,” jawab orang itu, “dengan demikian pandangan hidup kalian menjadi luas. Bagaimana dengan pemeliharaan segi rohaniah kalian?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia membentak, “Siapa kau he?”

Orang itu tertegun sejenak. Lalu katanya,” jangan hiraukan aku.”

“He, bukankah kau orang yang dicari oleh kawan-kawanku itu?”

“O. Mungkin. Ya, mereka mungkin sedang mencari aku. Tetapi biarlah. Mereka nanti akan mengetahui bahwa aku ada disini,” jawab orang itu.

Anak muda itu menjadi termangu-mangu. Sejenak ia memandang kearah kawan-kawannya menghilang dibalik semak-semak untuk mencari orang yang bersembunyi didalamnya. Namun ternyata orang itu telah datang kepadanya, seolah-olah tidak ada persoalan tentang dirinya.

Namun anak muda itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Kawan-kawanku sedang mencari Ki Sanak. Sekarang Ki Sanak ada disini. Aku harap Ki Sanak tidak meninggalkan regol ini.”

“Ah. Jangan begitu. Aku merasa kasihan melihat kau bertugas seorang diri menjelang malam di regol ini. Karena itu untuk sementara sebelum kawan-kawanmu datang, aku menemanimu untuk sekedar berbincang-bincang,” jawab orang itu.

“Aku tahu bahwa kau bukan orang kebanyakan karena sikapmu itu,” berkata anak muda yang berada diregol, “karena itu kecurigaan kami selama ini tentu beralasan.”

“Maaf anak muda,” jawab orang itu, “aku adalah seorang pencari ikan disamping seorang petani kecil di padukuhan di sebelah Utara itu. Karena itu, aku tentu akan segera pergi ke sungai di sebelah. Sungai kecil itu ternyata menyimpan ikan cukup banyak. Aku sudah menyimpan icir di rumpun-rumpun pring ori di pinggir kali itu. Sambil menunggui pliridan aku mengail. Hasilnya cukup untuk lauk pauk sehari penuh. Bahkan kadang-kadang aku dapat menjualnya ke pasar.”

“Cukup Ki Sanak,” potong anak muda itu, “silahkan masuk ke dalam. Aku persilahkan Ki Sanak duduk di gardu itu.”

“Ah, aku mohon maaf. Sebaiknya anak muda jangan memaksa aku,” berkata orang itu.

“Kau akan melawan?” bertanya anak muda itu.

“Tentu tidak. Bukankah kalian adalah anak-anak muda yang telah dipersiapkan untuk menjadi anggauta pasukan khusus dan bahkan menjadi pemimpin pada tataran tertentu,” jawab orang itu.

“Darimana kau tahu?” bertanya anak muda itu.

“Semua orang di Tanah Perdikan Menoreh mengetahuinya. Apakah itu aneh? He, apakah anak muda yang bertubuh kecil, yang pertama-tama datang kepadaku itu benar-benar anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh?”bertanya orang itu.

“Ya,” jawab anak muda diregol itu.

“O. Apakah masih ada yang lain. Maksudku anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya orang itu pula.

“Ya. Ada beberapa,” jawab anak muda itu. Namun tiba-tiba ia sadar dan berkata lantang, “Cukup. Aku persilahkan kau masuk kedalam halaman barak kami. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan.”

“Tidak anak muda. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan mencari ikan,” jawab orang itu.

“Maaf. Jika perlu aku akan memaksamu,” berkata anak muda itu, “kau akan melawan?”

“Tidak. Tidak. Sudah aku katakan tidak. Tetapi akupun tidak dapat singgah di barak ini, karena aku harus bekerja mencari lauk bagi anak -anakku besok. Mungkin aku akan menjualnya dan menukarkannya dengan garam, gula dan bumbu-bumbu yang lain, sementara isteriku dapat memetik dedaunan sebagai selingan.”

Tetapi anak muda itu menggeram. Katanya, “jangan menganggap aku anak-anak yang baru pandai merengek Ki Sanak. Aku tahu, menilik sikapmu, kau tentu seseorang yang mempunyai niat tertentu dan merasa dirimu berilmu tangguh. Adalah gila jika seseorang yag melarikan diri dari kejaran beberapa orang kemudian datang dengan tenangnya menemui aku.”

“Baiklah. Baiklah aku pergi saja,” berkata orang itu.

“Tidak. Aku akan menangkapmu,” berkata anak muda itu.

“Aku tidak akan melawan. Tetapi aku akan lari lagi kedalam semak-semak itu,” jawabnya.

“Kau kira aku tidak akan dapat mengejarmu,” desis anak muda yang mulai kehilangan kesabaran itu.

“Dan kau tinggalkan barak ini begitu saja? He, anak muda. Jangan sekali-sekali berbuat demikian. Jika kau mengejar aku dan kau tinggalkan regol ini, maka dapat terjadi banyak hal diluar kehendakmu. Mungkin sekali aku membawa beberapa orang kawan. Mereka akan masuk dengan leluasa, jika kau tinggalkan regol ini, sehingga mereka akan dapat mengganggu ketenangan kawan-kawanmu didalam.”

Anak muda itu tidak ingin berbicara lagi. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi orang yang nampaknya di selimuti oleh rahasia yang belum terpecahkan.

Karena itu, maka ia pun maju selangkah sambil berkata, “Aku akan memaksamu. Aku tahu, kau memiliki kelebihan. Tetapi aku sedang menjalankan tugas.”

Tetapi orang itu beringsut surut. Jika selangkah anak muda itu maju, maka selangkah pulalah ia mundur.

Akhirnya dengan tiba-tiba saja anak muda itu telah meloncat dengan kecepatan yang tinggi menggapai tubuh orang itu untuk menyekapnya. Namun anak muda itu terkejut. Ia sama sekali tidak menyentuh orang itu, yang nampaknya tidak bergerak sama sekali.

“Nah, bukankah kau dengan sengaja ingin menunjukkan bahwa kau adalah seorang yang pilih tanding? Orang yang dapat menunjukkan ilmu yang barangkah sulit untuk digapai dengan nalar? “ geram anak muda itu.

“Kau cerdik anak muda,” berkata orang itu, “tetapi bukankah kau salah seorang yang akan menjadi pemimpin dari pasukan khusus yang akan terbentuk nanti? Dengan melihat kemampuanmu, bukankah aku akan dapat mengukur kemampuan pasukan khusus itu nanti.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Dan kau akan menganggap bahwa pasukan ini tidak mempunyai arti apa-apa? Ki Sanak. Jika kau utusan atau petugas sandi dari manapun juga, tentu kau adalah orang pilihan. Seandainya kau salah seorang petugas dari pasukan khusus yang terbentuk di Pajang, maka aku yakin dan pasti, tidak semua orang didalam pasukan khusus itu yang memiliki kemampuan setinggi kemampuanmu itu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau benar anak muda. Namun demikian, aku tetap tidak akan bersedia singgah di barakmu.”

Anak muda itu memandangi orang aneh itu dengan saksama. Ia sadar bahwa orang itu adalah yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, ia tidak akan membiarkan orang itu pergi.

Karena itu, maka ia berusaha untuk menahan orang itu agar tidak segera meninggalkannya, sementara kawan-kawannya akan segera kembali. Dengan demikian maka ia berharap untuk dapat berbuat sesuatu atas orang itu.

Dengan nada datar maka ia pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Apakah sebenarnya keberatanmu untuk singgah barang sejenak?”

“Aku akan kemalaman. Ikan lele di sungai itu sudah terlanjur keluar dari sarangnya, sehingga aku tidak akan dapat menjebaknya kedalam pliridanku,” jawab orang itu.

“Kenapa kau masih juga menjawab seperti itu? Kau tahu, aku bukan anak-anak lagi. Kau tahu, bahwa aku mengerti tentang kau. Kau bukan pencari ikan dari padukuhan di sebelah utara itu,” jawab anak muda itu.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Jika demikian, kaupun tahu kenapa aku tidak mau singgah.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Ia masih mengajukan beberapa pertanyaan lagi untuk menahan agar orang itu tidak meninggalkannya.

Namun anak muda itu terkejut ketika tiba-tiba saja orang itu berkata, “Nah, bukankah usahamu untuk tetap menahan aku disini berhasil. Kau lihat, kawan-kawanmu telah datang? Mereka memang mencari aku, tetapi aku disini.”

“Kau keliru,” anak muda itu mencoba mengelak, “aku sama sekali tidak ingin menahanmu, aku benar-benar ingin tahu beberapa hal tentang dirimu.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Sudahlah. Aku minta diri. Mereka tentu akan mengejar aku lagi. Tetapi ingat, regol ini jangan ditinggalkan begitu saja.”

“Tidak,” anak muda itu menjawab, “akan ada orang yang menjaganya. Tetapi jangan pergi.”

Anak muda itu meloncat mendekat. Sekali lagi ia berusaha untuk menggapai orang itu. Sekali lagi ia tidak menyentuhnya.

Namun anak muda itu tidak membiarkannya. Sementara kawan-kawannya tentu sudah melihatnya. Meskipun malam menjadi semakin gelap, tetapi jarak kawan-kawannya menjadi semakin pendek, sementara obor di regol membantu menerangi jalan yang melintas didepan.

Anak muda itu pun kemudian meloncat, berusaha untuk berdiri di seberang orang itu, sementara kawan-kawannya memang sudah melihatnya.

“Mereka telah datang,” desis anak muda yang berada di regol itu.

“Mereka tidak akan dapat menangkap aku,” desisnya.

Sebenarnyalah, ketika anak-anak muda itu berlari-larian mendekat, maka orang itu tidak berusaha untuk melarikan diri lewat jalan didepan regol itu. Tetapi sekali lagi ia meloncat kedalam semak-semak.

Anak muda yang berdiri beberapa langkah dari padanya itu pun segera mengejarnya. Ketika tangannya terjulur, hampir saja ia berhasil menyentuh bajunya. Tetapi orang itu sempat meloncat dan berlari lebih cepat menyelinap kedalam semak-semak.

Kawan-kawannya yang lain, yang melihatnya segera memburunya pula. Sekali lagi mereka berusaha mengepung tempat itu. Anak muda yang semula tinggal diregol itu terdengar berteriak, “Disini. Orang itu berada disini.”

adbm-150-04Yang lain pun segera menghambur mendekat. Mereka mengepung tempat yang ditunjuk oleh anak muda itu. Namun ternyata mereka sekali lagi menjadi kecewa. Orang itu tidak dapat mereka ketemukan didalam gerumbul yang ditunjuk oleh anak muda itu.

“Anak setan,” geram anak muda itu.

Namun tiba-tiba kawannya menyahut, “He, apakah benar orang itu anak setan, atau jin atau sebangsanya?”

Tidak seorang pun menjawab. Namun mereka pun dengan diam-diam telah meninggalkan tempat itu dan dengan tergesa-gesa pergi keregol.

Di regol, anak-anak muda itu pun sibuk memperbincangkan-nya. Seorang kawannya yang mengejar sejak semula bertanya, “Bagaimana mungkin ia berada di regol ini?”

“Aku tidak tahu,” jawab anak muda yang berada di regol. “tiba-tiba saja ia datang mendekati aku.”

“Gila,” desis anak muda bertubuh kecil dari Tanah Perdikan Menoreh, “Orang itu sengaja mempermainkan kita.”

“Apakah ia benar-benar orang seperti kita? Atau barangkali mahluk lain dari lereng bukit itu?” bertanya seorang anak muda yang lain.

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh itu berkata, “Kita wajib melaporkan-nya.”

Dua di antara anak-anak muda itu pun kemudian menghadap Ki Lurah Branjangan yang memang tinggal didalam regol itu. Dengan urut dan terperinci dilaporkannya tentang orang yang aneh dan menumbuhkan teka-teki itu.

“Aku lebih condong menganggapnya seorang yang memiliki ilmu yang tingggi daripada sesosok hantu atau sebangsanya,” berkata Ki Lurah Branjangan. Lalu, “Aku akan berbicara dengan Agung Sedayu. Menurut pengamatanku dan dengan jujur aku mengakui, ia adalah orang yang memiliki ilmu terbaik disini, selain Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita. Tetapi yang paling banyak berbuat bagi kita adalah Agung Sedayu itulah.”

Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk. Salah seorang berdesis, “Ya. Mudah-mudahan teka-teki ini segera dapat dipecahkan. Tetapi mungkin orang itu tidak akan lewat lagi didepan regol.”

“Belum pasti. Besok aku dan Agung Sedayu akan berada diregol. Mudah-mudahan orang itu masih akan lewat,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Mudah-mudahan,” jawab yang lain, “kami akan bersama-sama menunggu.”

Demikianlah maka orang yang di selubungi rahasia itu telah membuat ketegangan tersebut. Malam itu, maka anak-anak muda didalam barak itu telah membicarakannya dengan alat pandangannya masing-masing. Namun di antara mereka ada juga yang menganggap bahwa yang rela mengganggu mereka itu adalah hantu lereng bukit, karena menurut pendengaran mereka, bukit Menoreh masih banyak dihuni oleh mahluk halus dan sebangsanya.

Tetapi pendapat itu sama sekali tidak mempengaruhi pendapat Ki Lurah Branjangan. Ia menganggap bahwa orang itu telah sengaja dikirim oleh orang-orang Pajang untuk melihat tingkah kemampuan anak-anak muda yang berada di dalam barak itu, dan sekaligus mengganggu mereka untuk menunjukkan, bahwa mereka mempunyai orang-orang yang berilmu tinggi.

Karena pandangan yang berbeda-beda itulah, maka anak-anak muda itu tidak habis-habisnya memperbincangkannya. Sehingga dengan demikian maka hampir semalam suntuk mereka tidak berbaring dipembaringan. Bahkan di regol di depan barak itu telah berkumpul beberapa orang yang seharusnya tidak bertugas. Tetapi mereka telah mengadakan persiapan khusus untuk menghadapi persoalan yang kurang jelas bagi mereka.

Dalam pada itu, ketika matahari terbit di hari berikutnya, maka Ki Lurah Branjangan telah menunggu kehadiran Agung Sedayu, yang semalam tidak berada di barak, tetapi berada di rumah Ki Gede Menoreh.

DemikianAgung Sedayu datang, maka seorang anak muda telah mendapatkannya dan berkata, “Ki Lurah Branjangan telah menunggu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa ada sesuatu yang penting?”

“Ya. Ki Lurah akan menyampaikan sesuatu yang kami anggap penting. Silahkan,” jawab anak muda itu.

Agung Sedayu pun kemudian mendapatkan Ki Lurah didalam biliknya. Sebenarnyalah, kedatangan Agung Sedayu telah disambutnya dengan sikap yang gelisah.

“Silahkan. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Agung Sedayu pun kemudian duduk dihadapan Ki Lurah Branjangan, yang kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di barak itu sesuai dengan laporan yang telah disampaikan oleh para petugas yang mengalami langsung peristiwa yang mendebarkan itu.

AgungSedayu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Tidak ada ciri-ciri yang dapat disebutkan pada orang itu?”

Ki Lurah menggeleng, jawabnya, “Orang itu sebagaimana orang kebanyakan. Tidak ada ciri khusus. Dalam keremangan lewat senja, anak-anak muda itu tidak dapat mengenal dengan pasti.”

“Lalu, apakah maksud Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Ada semacam keragu-raguan didalam hatinya untuk mengatakan rencananya kepada Agung Sedayu.

Namun akhirnya ia berkata juga, “Agung Sedayu. Menurut dugaanku, orang itu tentu orang yang terlalu yakin akan kemampuan diri. Karena itu, kita disinipun harus menanggapinya. Kita harus dapat menunjukkan, baik kepada orang itu, maupun kepada anak-anak kita disini, bahwa kita disini tidak dapat ditakut-takuti.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara itu Ki Lurah Branjangan berkata selanjutnya, “Jika kita tidak dapat mengatasi persoalan ini, maka anak-anak kita disini tentu akan bertanya-tanya, apakah kita, para pembina ini akan dapat melakukan tugas kita sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Ki Lurah, aku akan mencoba. Tetapi segalanya akan tergantung kepada keadaan.”

“Tentu ngger. Segalanya akan tergantung kepada keadaan. Tetapi marilah kita melihat kedaan itu,” jawab Ki Lurah Branjangan.

Rencana itu, ternyata tidak dapat dirahasiakan. Anak-anak muda di Barak itu mengetahui bahwa Agung Sedayu dan Ki Lurah Branjangan akan menunggu orang yang telah mengganggu para petugas di regol barak itu.

“Jangan mengganggu rencana ini,” Ki Lurah memperingatkan anak-anak di barak itu. “Biarlah anak-anak muda yang bertugas sajalah yang berada di gardu. Dengan demikian, maka orang itu tidak melihat persiapan-persiapan yang akan dapat menjebaknya.”

Demikianlah, ketika matahari condong ke Barat, Agung Sedayu minta diri kepada Ki Lurah untuk menemui Ki Waskita. Ia ingin mengatakan serba sedikit tentang orang aneh itu kepada Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh.

“Akupun akan memberitahukan bahwa malam nanti aku akan berada di barak ini,” berkata Agung Sedayu.

Ketika hai itu kemudian benar-benar di beritahukan kepada Ki Waskita dan Ki Gede, maka keduanya telah berpesan, agar Agung Sedayu berhati-hati. Tidak dapat diduga, apa yang dikehendaki oleh orang itu. Bahkan mungkin masih ada kaitannya dengan kematian Ajar Tal Pitu. Dendam itu akan dapat menyeretnya kedalam kesulitan. Mungkin yang dilakukan oleh orang itu terhadap para penjaga malam itu, hanya sekedar cara untuk memancingnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Memang mungkin sekali ada orang lain setelah Ajar Tal Pitu. Namun hal itu tidak akan dikatakannya kepada Ki Lurah Branjangan.

Menjelang senja. Agung Sedayu telah berada kembali dibarak. Ia sudah siap untuk ikut serta dalam tugas para penjaga di regol. Bersama Ki Lurah Branjangan ia ingin memecahkan teka-teki yang terasa mengganggu perasaan anak-anak muda yang berada didalam barak itu.

Ketika langit menjadi suram, maka setiap hatipun menjadi berdebar-debar. Anak-anak yang tidak bertugaspun ikut menjadi tegang.

Beberapa saat anak-anak muda yang berada diregol menunggu. Pada saat-saat seperti biasanya orang itu lewat, mereka pun menunggu dengan tegang. Bahkan rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menanti.

Tetapi ternyata hari itu orang yang mereka tunggu tidak lewat. Sampai lewat senja anak-anak muda itu menunggu. Bahkan ternyata sampai jauh malam orang yang mereka nantikan itu tidak menampakkan batang hidungnya.

“Orang itu tidak muncul,” berkata anak-anak muda yang bertugas.

“Apakah ia mengetahui bahwa di antara kami terdapat Agung Sedayu dan Ki Lurah Branjangan?” desis anak-anak muda itu.

“Mungkin sekali,” jawab yang lain.

Para petugas itu pun kemudian melaporkannya kepada Ki Lurah Branjangan bahwa saat orang itu lewat telah lampau. Agaknya orang itu memang tidak akan lewat. Setidak-tidaknya malam itu.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah. Jika malam ini orang itu tidak lewat, maka kami akan menunggu malam berikutnya.”

Dalam padi itu, seperti yang dikatakannya. Di hari berikutnya Ki Lurah Branjangan minta agar malam nanti ia berada lagi di barak itu. Mungkin orang itu akan lewat.

Hari itu Agung Sedayu melakukan kewajibannya seperi biasanya. Di sore hari ia pergi kerumah Ki Gede untuk bertemu dengan Ki Gede dan Ki Waskita.

“Malam nanti aku akan menunggu lagi bersama Ki Lurah Branjangan,” berkata Agung Sedayu.

“Kau harus tetap berhati-hati,” pesan keduanya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa menghadapi teka-teki seperti itu, ia memang harus berhati-hati.

Seperti yang direncanakan, maka malam berikutnya, Agung Sedayu pun berada di barak itu pula. Kegiatan anak-anak muda dibarak itu seolah-olah telah terhenti untuk dua malam. Mereka hanya menunggu dengan tegang tanpa melakukan apa-apa.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang bertugas diregol pun telah menunggu seperti malam sebelumnya. Mereka berusaha untuk tidak menunjukkan sikap dan tingkah laku yang dapat menimbulkan kesan bahwa mereka sudah siap menghadapi kemungkinan hadirnya orang yang aneh itu.

Menjelang senja anak-anak muda diregol itu pun menjadi tegang pula. Mereka menanti arah dari mana orang itu selalu datang.

Jantung anak-anak muda itu bagaikan berhenti berdetak ketika tiba-tiba saja mereka melihat bayangan orang itu datang, dalam keremangan itu, anak anak muda diregol itu tetap mengenalinya, bahwa orang itu, dalam pakaian yang itu-itu juga telah datang mendekati regol halaman barak itu.

Seorang dari anak-anak muda itu pun kemudian memberitahukan kepada Ki Lurah dan Agung Sedayu yang berada diregol, bahwa orang itu telah datang.

“Bagus,” desis Ki Lurah Branjangan, “biarlah ia sampai ke depan regol. Jangan kau hentikan sebelum ia berada dihadapan kalian.”

Anak-anak muda itu pun mematuhi pesan Ki Lurah Branjangan. Anak muda yang melaporkan itu pun telah menyampaikan pesan Ki Lurah itu. Karena itulah, maka anak-anak muda itu menunggu saja sampai orang yang mereka tunggu itu sampai di depan regol.

“Selamat malam Ki Sanak,” tegur salah seorang anak muda.

“Selamat malam,” jawab orang itu.

“Nampaknya tergesa-gesa Ki Sanak.?” bertanya anak muda itu pula.

“Aku sudah agak lambat,” jawab orang itu, “aku harus memasang icir sebelum ikan-ikan itu keluar dari sarangnya.”

Anak muda itu tertawa pendek. Katanya, “Kau masih saja berceritera tentang icir, ikan dan kemalaman. Ki Sanak, jangan terlalu merendahkan kami. Aku tahu, kau memiliki sesuatu yang tidak kami miliki. Ternyata kami tidak mampu mencarimu di antara semak-semak itu. Tetapi meskipun demikian, jangan terlalu memperbodoh kami dengan ceritera tentang icir, ikan dan pliridan.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia bertanya, “jadi kalian jugakah yang telah mengejar aku di antara semak-semak itu?”

“Ya,” jawab anak muda itu.

“O, adakah kau bertugas setiap malam disini? Tidakkah kalian bergani-ganti tugas?” bertanya orang itu.

“Jadi kau tahu, bahwa petugas seperti aku ini biasanya berganti-ganti?” beranya anak muda itu.

“Aku hanya menduga, tetapi bukankah nalar jika aku bertanya demikian. Di barak ini ada banyak anak-anak muda. Tentu tidak hanya lima atau enam orang sajalah yang bertugas tiap malam terus-menerus.” bertanya orang itu.

“Tepat,” jawab anak muda itu. Lalu, “Ki Sanak. Seperti dua malam yang lalu, maka aku ingin mempersilahkan kau singgah. Agar aku tidak usah mencarimu di antara semak-semak, maka aku harap kau tidak usah berlari-lari.”

“Jangan memaksa begitu anakmas,” jawab orang itu. “sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan singgah di barak ini. Jika aku tidak boleh lagi menyebut ikan, icir dan pliridan, maka aku tidak akan menyebut apapun juga. Tetapi aku tidak akan singgah.”

“Berkata terus terang sajalah,” desis anak muda itu, “apakah yang sebenarnya kau kehendaki. Kau tentu berusaha memancing seseorang keluar dari barak ini. Jika tidak, maka mustahil malam ini kau lewat lagi di jalan ini. Bukankah kau dapat mengambil jalan lain?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Aku akan meneruskan perjalanan. Jangan ganggu aku lagi.”

“Maaf Ki Sanak,” jawab anak muda itu, “kami tidak akan melepaskan kau lagi. Kami akan memaksamu untuk singgah.”

“Jangan bergurau lagi,” jawabnya, “kau tidak akan dapat mengejar aku.”

Namun dalam pada itu terdengar suara lain di regol, “Aku akan mencoba mengejarmu Ki Sanak.”

Orang itu terkejut. Dipandanginya seorang anak muda yang berdiri diregol. Cahaya obor yang redup menggapai wajahnya yang berkerut.

“Siapa kau?” bertanya orang yang berdiri didalam gelap.

Anak muda yang semula menyapanya telah mendahului menjawab, “Agung Sedayu. Anak muda itulah Agung Sedayu.”

Agung Sedayu sendiri menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, orang yang mengaku akan mencari ikan itu pun berkata, “Agung Sedayu. Aku belum pernah mengenal Agung Sedayu.”

“Tentu,” desis anak muda bertubuh kecil yang pernah mengejarnya, “bukankah satu bukti lagi bahwa kau bukan orang dari padukuhan di sebelah utara itu? Setiap orang Tanah Perdikan Menoreh tentu mengenal Agung Sedayu.”

Orang yang berada di bayangan kegelapan itu berkata pula, “Sudahlah. Biarlah Agung Sedayu atau bukan Agung Sedayu ikut bersama kalian. Tetapi senja telah menjadi semakin gelap. Aku akan terlambat.”

“Jangan sebut lagi tentang icir,” bentak salah seorang anak muda didepan regol.

“Ah, kenapa kau membentak aku?” berkata orang dalam pakaian petani itu, “aku adalah seorang yang bebas. Aku bukan buruan dan bukan penjahat yang tertangkap. Kenapa?”

“Ikuti perintah kami,” berkata anak muda yang bertubuh kecil.

“Tidak,” jawab orang itu. “Kalian sudah mencoba menangkap aku, tetapi kalian tidak berhasil.”

“Agung Sedayu akan dapat menangkapmu,” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Setiap kali kalian menyebut nama Agung Sedayu. Apakah Agung Sedayu itu mempunyai kemampuan seperti iblis?” bertanya orang itu.

Dalam pada itu. Agung Sedayu telah melangkah maju sambil berkata, “jangan salah mengerti Ki Sanak. Agung Sedayu tidak mempunyai kelebihan apapun juga. Tetapi karena aku belum mencoba mengejarmu, maka aku akan mencobanya. Mungkin akupun akan gagal. Tetapi aku tidak akan berkata bahwa aku gagal, sebelum aku mencobanya.”

“Bagus,” berkata orang itu, “tangkaplah aku jika kau mampu.”

“Nah, berlarilah kedalam semak-semak. Bukankah kau berbuat demikian pada saat anak-anak muda di barak ini mengejarmu?” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Dan aku memang akan mengulangi,” jawab orang itu.

Sejenak orang itu termangu-mangu. Sementara itu Agung Sedayu pun berkata kepada Ki Lurah Branjangan yang berdiri di belakangnya, “Biarlah aku mencoba menangkapnya Ki Lurah.”

“Hati-hatilah Agung Sedayu,” pesan Ki Lurah.

Dalam pada itu, orang dalam pakaian petani itu pun mulai bergeser surut. Tiba-tiba saja ia pun telah meloncat kedalam semak-semak seperti yang pernah dilakukannya. Namun dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun telah meloncat seperti angin. Sekejap kemudian keduanya telah hilang dari pandangan mata anak-anak muda yang menghuni barak itu. Bahkan Ki Lurah Branjangan pun menjadi heran pula. Katanya didalam hati, “Nampaknya orang itu bukan orang kebanyakan. Tetapi dihadapan Agung Sedayu ia tidak akan dapat apa-apa.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan dan anak-anak muda itu pun telah menunggu dengan berdebar-debar. Mereka tidak mendengar sesuatu dan mereka pun tidak melihat semak-semak yang terguncang. Nampaknya kedua orang yang saling mengejar itu bagaikan bayangan yang terbang menembus semak-semak tanpa menyentuhnya.

Ketegangan telah mencengkam setiap dada. Mereka kadang-kadang menjadi cemas bahwa Agung Sedayu telah terperangkap kedalam satu kesulitan, yang tidak teratasi. Namun dalam pada itu, mereka pun yakin akan kemampuan Agung Sedayu. Apalagi anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang sempat menyaksikan, bagaimana Agung Sedayu membunuh Ajar Tal Pitu. Tetapi hanya ada dua orang sajalah yang sempat melihat peristiwa itu, dan kebetulan telah dikirim oleh Tanah Perdikan Menoreh memasuki barak mendahului kawan-kawannya. Namun yang dua orang itu telah mengatakannya kepada kawan-kawannya, bukan saja anak-anak dari Tanah Perdikan Menoreh sendiri, tetapi kepada anak-anak muda yang datang dari daerah-daerah lain.

Dalam pada itu, Agung Sedayu mengikuti bayangan yang menyelinap di antara semak-semak itu. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengikuti kecepatan geraknya.

Bahkan kemudian ternyata bahwa Agung Sedayu telah ketinggalan beberapa langkah. Sehingga akhirnya buruannya itu telah hilang dari pandangan matanya.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata ia sendiri tidak mampu mengikuti kecepatan gerak orang itu. Apalagi anak-anak muda yang berada didalam barak itu.

Ia dapat saja dengan jujur mengakui kekurangannya. Tetapi apakah dengan demikian, ia tidak akan membuat anak-anak muda didalam barak itu menjadi kecewa?

“Apaboleh buat,” desis Agung Sedayu.

Namun Agung Sedayu tidak berputus asa. Ia memiliki kemampuan untuk mempertajam inderanya, pendengarannya, pandangan matanya dan penciumannya. Karena itu, maka dicobanya untuk mendengarkan, apakah ia masih akan dapat menggapai detak jantung orang yang dicarinya atau mungkin desah nafasnya.

Ternyata usaha Agung Sedayu itu berhasil. Sambil berdiri tegak ia mencoba untuk mengetahui arah desah nafas seseorang didalam semak-semak.

Dipusatkannya segenap kemampuannya mempertajam inderanya pada pendengarannya. Seolah-olah desah nafas orang yang dicarinya itu menjadi semakin jelas di telinganya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dengan kecepatan kilat meloncat memburu. Bahkan sambil menarik nafas dalam-dalam ia beringsut selangkah. Sambil bersandar pada sebatang pohon yang agak besar yang tumbuh di antara semak-semak ia berkata, “Sudahlah Pangeran. Aku sudah lelah sekali. Jika Pangeran berkisar lagi, aku tentu tidak akan dapat menemukannya.”

Untuk sesaat, tidak terdengar jawaban sama sekali. Sementara itu Agung Sedayu masih tetap berdiri ditempatnya.

Namun demikian Agung Sedayu benar-benar tidak ingin lagi mengejar buruannya. Jika orang itu memang berniat, maka usaha Agung Sedayu tentu akan gagal karena Agung Sedayu menyadari, bahwa orang itu memiliki kemampuan jauh melampaui kemampuannya.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Namun sejenak kemudian. Agung Sedayu mendengar gemerisik dedaunan.

“Kenapa kau berhenti Agung Sedayu,” terdengar seseorang bertanya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun menjawab, “Tidak ada gunanya lagi aku berlari-lari mengejar, karena aku yakin bahwa aku memang tidak akan dapat menemukan Pangeran.”

Terdengar seseorang tertawa. Sejenak kemudian Agung Sedayu melihat orang yang di kejarnya itu muncul dari semak-semak. Katanya, “Seharusnya kau mencari aku sampai ketemu: Tetapi bahwa kau tahu, aku masih disini itu adalah pertanda bahwa kau memiliki ketajaman indera yang luar biasa.”

“Aku tidak tahu bahwa Pangeran ada disini,” jawab Agung Sedayu, “asal saja aku memanggil-manggil, tentu Pangeran akan datang.”

“Jangan berkata begitu,” jawab orang itu, “kau tahu aku disini. Ketika kau mendengar sesuatu, kau yakin bahwa yang kau dengar itu adalah suana yang aku timbulkan. Nampaknya kau mendengar desah nafasku.”

“Tentu Pangeran sengaja memperdengarkan desah nafas Pangeran,” jawab Agung Sedayu, “aku yakin. Pangeran dapat menyerap segala macam bunyi yang timbul karena sebab apapun. Mungkin sentuhan antara tubuh Pangeran dengan keadaan di sekitar Pangeran, maupun bunyi dari diri Pangeran sendiri termasuk pernafasan Pangeran.”

Orang itu tertawa. Setelah ia berdiri dekat dihadapan Agung Sedayu, maka Agung Sedayu pun berdiri tegak pula.

“Nah, kau sudah menemukan aku. Apa yang akan kau lakukan? “ bertanya orang itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Agung Sedayu, “aku hanya memenuhi keinginan anak-anak muda dibarak itu dan keinginan Ki Lurah Branjangan agar aku mengejar Pangeran.”

“Apakah kau memang sudah mengenali aku sejak aku berada didepan regol?” bertanya orang itu.

“Tentu Pangeran. Aku telah mengenal Pangeran. Semula aku ragu-ragu. tetapi suara Pangeran lebih aku kenal dari ujud Pangeran didalam kegelapan,” jawab Agung Sedayu.

“Baiklah,” berkata orang itu, “sekarang, apakah kau akan menangkap aku dan membawa aku ke barakmu?”

“Tidak,” jawab Agung Sedayu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kau mengejar aku?” bertanya orang itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Agung Sedayu.

“Kau orang aneh,” berkata orang itu.

“Pangeran lebih aneh lagi,” jawab Agung Sedayu, “namun demikian, sebenarnyalah aku yang harus bertanya kepada Pangeran. Apakah yang Pangeran kehendaki. Karena aku pun mengerti, bahwa Pangeran tentu berniat memanggil aku dengan cara Pangeran yang aneh itu.”

“O,” orang itu mengerutkan keningnya, “apa begitu? Kau yakin bahwa yang aku cari adalah kau?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Memang mungkin tidak.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Duduklah. Aku memang ingin berbicara denganmu serba sedikit.”

“Pangeran,” berkata Agung Sedayu, “apakah Pangeran benar-benar tidak ingin singgah di barak itu?”

adbm-150-05“Aku ingin berbicara dengan kau saja,” berkata orang itu, “tidak dengan Ki Lurah Branjangan, apalagi dengan orang-orang lain didalam barak itu.”

“Baiklah. Mungkin yang akan Pangeran katakan itu penting sekali bagiku,” desis Agung Sedayu.

“Tidak,” jawab Pangeran Benawa, “bukan masalah yang penting sekali. Tetapi aku hanya ingin mengerti, mungkin mendengar serba sedikit tentang pasukan khusus yang sudah dipersiapkan oleh Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Nampaknya kakangmas Sutawijaya sudah kehilangan kesabaran menghadapi orang-orang gila seperti Prabadaru,” berkata orang itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Adalah satu sikap berhati-hati Pangeran. Mungkin Pangeran juga mengetahui apa saja yang sudah dilakukan oleh Tumenggung Prabadaru.”

“Ya. Aku sudah mendengar apa yang dilakukan oleh Pringgajaya. Pringgabaya dan Tandabaya,” jawab orang itu, “dan akupun sudah mendengar apa yang mereka lakukan lewat tangan Ajar Tal Pitu. Namun ternyata bahwa nasib Ajar itulah yang sangat buruk. Kau berhasil membunuhnya. Satu hal yang tidak pernah diperhitungkan oleh mereka.”

“Satu kebetulan Pangeran,” jawab Agung Sedayu.

“Kau masih saja selalu merendahkan diri. Bukan satu kebetulan, tetapi ilmumu lebih tinggi dari ilmu Ajar Tal Pitu.” jawab orang itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang itu berkata selanjutnya, “Nampaknya usaha orang-orang gila di Pajang itu yang terakhir adalah memancing pertentangan yang lebih tajam lagi dengan membentuk pasukan khusus dibawah Prabadaru. Ternyata kakangmas Sutawijaya benar-benar telah kehilangan kesabaran. Namun ternyata bahwa kakangmas Sutawijaya masih membuat perhitungan yang cermat. Ia tidak mau menyusun kekuatan ini di Mataram. Tetapi di Tanah Perdikan Menoreh, sehingga tidak semata-mata menjawab tantangan Tumenggung Prabadaru itu.”

“Ya. Begitulah keadaannya Pangeran,” jawab Agung Sedayu.

“Dan kau adalah salah seorang yang akan memimpin pasukan ini?” bertanya orang itu.

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Tidak Pangeran. Aku tidak akan menjadi salah seorang pemimpin atau Senapati dalam pasukan khusus ini. Aku merasa bahwa aku tidak sesuai menjadi seorang Senapati.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “jadi kau tidak akan menjadi seorang Senapati di pasukan khusus yang akan dibentuk ini? Aku memang sudah mengira. Tetapi kau tetap diangggap orang terbaik didalam lingkungan barak ini. Semua orang didalam barak ini, anak-anak muda yang mendahului kawan-kawannya, para pembina dan pelatih, para pemimpin dan Senopati, menganggap bahwa kau adalah puncak dari kekuatan mereka, sudah tentu selain kakangmas Sutawijaya sendiri, dan Ki Juru Martani.”

“Tidak Pangeran,” jawab Agung Sedayu, “ada orang lain. Tetapi karena mereka menganggap bahwa yang kebetulan berada di barak adalah aku, maka mereka meletakkan kepercayaannya kepadaku.”

“Kenapa bukan Ki Lurah Branjangan? Anak-anak muda itu selalu menyebut namamu dengan penuh kebanggaan,” berkata orang itu.

“Yang mereka lihat pada waktu itu di regol adalah aku. Meskipun ada Ki Lurah Branjangan, namun yang setiap hari bergulat dalam latihan adalah aku,” jawab Agung Sedayu.

“Dan mereka tahu, bahwa kau telah membunuh Ajar Tal Pitu. Sesuatu yang tidak akan dapat dilakukan oleh orang lain,” desak orang itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Karena mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi, mereka tidak pernah melihat, betapa tinggi ilmu yang kini dimiliki oleh Raden Sutawijaya. Dan betapa ajaibnya ilmu yang dimiliki oleh Pangeran Benawa, maka apa yang mereka lihat padaku, mereka anggap sesuatu yang pantas dikagumi.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau memang seorang yang rendah hati. Kau kira bahwa aku mempunyai semacam ilmu yang dapat menyamai ilmumu dan apalagi ilmu kakangmas Sutawijaya.”

“Bukan aku yang rendah hati. Tetapi Pangeran benar-benar orang aneh bagiku. Bukan saja ilmu yang ada pada Pangeran, tetapi juga sikap Pangeran menanggapi keadaan pada masa-masa terakhir ini.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mau terlihat dalam persoalan yang sangat memuakkan. Perebutan kekuasaan, ketamakan atas kesempatan yang terbuka di Pajang pada saat-saat ayahanda sakit-sakitan.”

“Bukankah sebenarnya Pangeran dapat mengambil sikap?” bertanya Agung Sedayu.

“Sudah seribu kali aku katakan,” jawab orang itu, “aku kecewa sejak aku sadar, bahwa disamping ibunda, di Pajang ada seribu perempuan lain yang semuanya mengaku mencintai ayahanda. Sementara itu ayahanda-pun telah mencintai mereka. Kau tahu, bahwa ibunda hanya menerima sebagian kecil saja dari cinta ayahanda yang terhambur-hambur itu?”

“Apakah itu sebab yang sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Pangeran memiliki semua yang diperlukan,” berkata Agung Sedayu.

“Kakangmas Sutawijaya juga memiliki semuanya yang diperlukan,” jawab orang itu sambil memandang kekejauhan. Seolah-olah ingin menatap sesuatu yang tidak ada di dalam gelapnya malam.

“Pangeran,” bertanya Agung Sedayu kemudian, “apakah yang sebenarnya Pangeran kehendaki?”

“Maksudmu atas Pajang atau atas kehadiranku disini?” bertanya orang itu pula.

“Atas kehadiran Pangeran sekarang ini? Juga atas Pajang dalam keseluruhan,” jawab Agung Sedayu.

“Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaanmu yang kedua. Tetapi pertanyaanmu yang pertama itu pun tidak dapat aku jawab langsung. Sebenarnya aku tidak ingin mengunjungi tempat ini. Tetapi karena aku lewat daerah wadah pasukan khusus ini disusun, maka aku pun ingin singgah barang sejenak. Yang penting bagiku adalah menjumpaimu,” jawab orang itu.

“Jadi Pangeran Benawa hanya lewat saja?” ulang Agung Sedayu.

“Ya,” jawab orang itu, “dan tiba-tiba saja aku ingin menemuimu disini.”

“Dari manakah Pangeran sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu.

“Beberapa hari yang lalu, aku turun dari goa Pamanasan,” jawab orang itu.

“Goa Pamanasan? Aku belum pernah mendengar nama itu.”

“Di lereng bukit Menoreh. Disiang hari kau dapat melihat dinding kelir yang keputih-putihan menghadap ke lautan. Ke Samodra yang seakan-akan tidak bertepi. Yang ombaknya selalu bergerak tanpa berhenti.”

“Maksud Pangeran, Laut Selatan?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya,” jawab Pangeran Benawa.

“Tetapi aku belum pernah mendengar goa Pamanasan. Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh tidak pernah menyebut nama goa itu. Aku memang melihat dinding yang keputih-putihan yang barangkali yang berdiri tegak seperti kelir, sehingga Pangeran menyebutnya dinding Kelir itu.”

“Ya,” jawab orang itu, “di bagian atas dari dinding itu terdapat sebuah lubang. Aku menyebutnya lubang Pamanasan.”

“Tetapi orang-orang Menoreh tidak pernah menyebut demikian.”

“Biar saja,” jawab Pangeran Benawa, “aku tidak mempunyai keberatan sebutan apapun yang diberikan oleh orang-orang Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi apakah Pangeran memasuki goa itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Aku memasuki goa itu.”

“Bagaimana mungkin, dinding yang berwarna kapur itu berdiri tegak. Seperti sebuah dinding yang sangat tinggi dan terjal karena terdiri dari batu-batu karang,” sahut Agung Sedayu.

“Aku turun dari atas. Aku mempergunakan sebuah tali. Aku memasuki goa itu di dini hari. Aku berada didalam goa itu tiga hari tiga malam,” berkat Pangeran Benawa.

“Tiga hari tiga malam? “ ulang Agung Sedayu.

“Didalam goa itu terdapat sebuah mata air yang sangat jernih, dari mulut goa, air yang mengalir itu bagaikan meresap kedalam bumi. Hilang,” jawab Pangeran-Benawa.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Benawa memang sama anehnya dengan Raden Sutawijaya. Raden Sutawijaya telah berendam sambil bergantung pada dahan sekaligus pati geni tiga hari tiga malam disebuah sendang di dekat Jati Anom. Ternyata kini ia mendengar pengakuan Pangeran Benawa yang telah berada didalam goa tiga hari tiga malam. Betapa sulitnya memasuki goa yang seolah-olah hanya merupakan lubang kecil pada sebuah dinding karang yang tegak dan luas. Darimana pula Pangeran Benawa mengetahui bahwa pada dinding itu terdapat sebuah goa.

Dalam pada itu. Pangeran Benawa pun berkata, “Agung Sedayu. Aku mendapatkan sesuatu yang sangat berharga didalam goa itu. Karena itu aku perlukan singgah untuk menemuimu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang.

Dalam pada itu Pangeran Benawa berkata seterusnya, “Sebagaimana kau ketahui Agung Sedayu. Aku adalah orang yang lemah hati, cengeng, perajuk dan sejenisnya. Aku bukan seorang yang berhati kuat menghadapi keadaan Pajang. Berbeda dengan kakangmas Sutawijaya. Ia memiliki pegangan hidup yang kuat dan diyakininya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Nampaknya ayahanda yang sudah mengetahui segala-galanya. Tetapi ayahanda yang mempunyai sifat yang aneh dimasa mudanya itu ternyata telah terbelenggu oleh satu keadaan yang sangat rumit. Seperti seutas benang yang telah kusut. Nah, dalam kekusutan itu ayahanda menyaksikan kekuatan-kekuatan yang akan saling berbenturan.” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu. “namun dalam pada itu, dalam ketidak pastian itu, sikapku pun tidak pasti pula. Aku tidak ingkar. Aku akan dibebani dosa-dosa karena sikapku ini. Meskipun demikian, aku kurang mengerti apakah sebabnya, bahwa kau telah menarik perhatianku. Aku tidak akan menentang kakangmas Sutawijaya, Ayahanda pun tidak menentangnya. Tetapi aku pun tidak dapat langsung melibatkan diri untuk berdiri berhadapan dengan Pajang meskipun dengan restu ayahanda sekalipun.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Ia menjadi bingung karena ia tidak mengerti ujung dan pangkal pembicaraan Pangeran Benawa. Namun sementara itu Pangeran Benawa melanjutkan, “Dalam keadaan yang demikian, aku menjadi sangat tertarik kepadamu. Kepada sikapmu, kepada kepribadianmu. Justru dengan segala cacat dan celamu. Karena itu aku datang padamu. Aku tahu bahwa akan semakin banyak orang yang memusuhimu. Tetapi semakin banyak pula orang yang membantumu. Kau sudah menyadap sampai tuntas ilmu dari Kiai Gringsing. Kau pun menguasai dengan utuh ilmu yang mengalir lewat jalur ayahmu. Ki Sadewa meskipun tidak dengan langsung. Kau menguasai sebagian besar dari cabang ilmu Ki Waskita. Namun demikian, tidak ada orang yang akan mencapai kesempurnaan seutuhnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih belum tahu arah pembicaraan Pangeran Benawa. Sementara Pangeran Benawa masih meneruskan, “Agung Sedayu, untuk menghadapi orang-orang yang semakin banyak mendendammu, maka tiba-tiba saja timbul pula keinginanku, untuk ikut serta memberikan sedikit sumbangan bagi keselamatanmu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semakin tegang. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian bertanya, “Aku kurang mengerti maksud Pangeran yang sebenarnya.”

“Bukan maksudku untuk mengatakan bahwa aku mempunyai kelebihan daripadamu,” berkata Pangeran Benawa, “tetapi sudah barang tentu ada yang kebetulan aku miliki tetapi tidak kau punyai dan sebaliknya. Aku tidak dapat berbicara tentang kakangmas Sutawijaya. Ia sudah mempunyai segala-galanya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil.

“Nah, jika kau mau, kau akan dapat memperoleh seperti apa yang aku peroleh,” berkata Pangeran Benawa.

Agung Sedayu menunggu kelanjutan keterangan itu. Dan Pangeran Benawapun berkata, “Aku mendapatkan sesuatu yang berharga di goa itu.”

“Apakah yang Pangeran dapatkan?” tiba-tiba saja Agung Sedayu bertanya.

“Nampaknya kau mulai tertarik,” desis Pangeran Benawa.

“Yang Pangeran katakan kurang jelas bagiku,” sahut Agung Sedayu.

“Baiklah. Dengarlah. Aku tahu, bahwa kau memiliki ilmu kebal yang sangat tinggi. Aku tahu bahwa dengan sorot matamu kau dapat meruntuhkan gunung. Aku pun tahu bahwa kau mempunyai kekuatan yang mirip dengan ilmu sapta pangrungu, dan akupun tahu bahwa kau memiliki kemampuan bergerak cepat dan menyerap bunyi. Bukan saja yang timbul dari dalam dirimu, tetapi juga sentuhan wadagmu dengan benda-benda diluar dirimu,” berkata Pangeran Benawa.

Agung Sedayu justru bagaikan membeku. Ia menjadi heran, bahwa Pangeran Benawa mengetahui sebagian besar ilmu yang ada pada dirinya.

“Tetapi Agung Sedayu,” berkata Pangeran Benawa, “masih ada cara untuk menembus ilmumu. Mungkin dengan ilmu yang tinggi, serangan seseorang dapat membuka tirai ilmu kebalmu. Sudah tentu dalam keadaan yang biasa kekuatan itu tidak akan banyak berarti, karena yang sempat menembus tirai ilmumu itu tentu sudah menjadi lemah sekali. Namun jika yang lemah itu adalah goresan senjata atau sentuhan racun lainnya, maka kau akan mengalami kesulitan. Karena agaknya kau belum memiliki daya tahan terhadap racun dan bisa yang sangat kuat.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk, jawabnya, “benar Pangeran. Aku mengandalkan perlawanan terhadap bisa kepada kemampuan guruku. Guru mampu menawarkan bisa yang paling kuat sekalipun.”

“Dengan ilmu pengobatan,” sahut Pangeran Benawa, “tetapi yang aku maksudkan adalah penolakan dari dalam tubuhmu sendiri.”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Pangeran. Aku memang tidak mempunyai kemampuan yang demikian.”

Agung Sedayu telah termangu-mangu. Seolah-olah ia ragu-ragu, apakah Pangeran Benawa itu berkata sebenarnya.

Untuk beberapa saat Pangeran Benawa menunggu. Sementara Agung Sedayu masih mengharap penjelasan. Namun akhirnya Agung Sedayu itu pun bertanya, “Apakah maksud Pangeran, kekuatan semacam itu terdapat didalam goa yang Pangeran maksudkan?”

“Ya,” berkata Pangeran Benawa.

“Dari manakah Pangeran mengetahui, bahwa di dalam goa itu terdapat kekuatan untuk melawan bisa ular atau racun yang paling keras sekalipun,” bertanya Agung Sedayu.

“Aku sudah menyelidikinya dengan saksama,” jawab Pangeran Benawa, “aku sudah membuktikannya dan aku kemudian meyakininya.”

“Dengan pati geni tiga hari tiga malam?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak. Laku yang harus ditempuh memang agak berbeda,” jawab Pangeran Benawa, “aku mendapat petunjuk dari seorang dukun tua yang tidak banyak dikenal. Aku menunggui dukun itu dalam keadaan sakit karena umurnya yang sudah sangat tua. Kemudian timbullah niatku untuk membuktikannya. Ternyata orang itu tidak berbohong.”

“Pangeran sudah memberitahukannya kepada dukun tua yang sakit itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Aku masih sempat menemuinya. Dukun itu masih dapat memberikan beberapa petunjuk bagimana aku harus membuktikannya,” jawab Pangeran Benawa, “tetapi kini ia sudah tidak ada lagi. Baru beberapa hari yang lalu ia meninggal karena ketuaannya itu. Tetapi ia sudah meninggalkan keyakinan kepadaku, bahwa yang dikatakannya itu benar.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk, ia percaya bahwa Pangeran Benawa tidak akan berbohong. Namun ia masih saja merasa heran bahwa Pangeran Benawa demikian memperhatikannya sehingga ia memerlukan singgah untuk menemuinya dan memberitahukan kepadanya rahasia tentang goa di dinding yang disebut oleh Pangeran Benawa dinding Kelir itu.

“Agung Sedayu,” berkata Pangeran Benawa, “jika kau ingin memiliki kemampuan seperti itu, aku dapat memberikan petunjuk itu kepadamu.”

“Pangeran,” jawab Agung Sedayu kemudian, “pada dasarnya segala macam ilmu dan pengetahuan, akan sangat bermanfaat bagi hidup ini. Jika kesempatan itu Pangeran berikan kepadaku, maka aku tentu akan sangat berterima kasih.”

“Baiklah Agung Sedayu,” berkata Pangeran Benawa, “jika kau benar-benar berniat untuk melakukannya, maka kau akan dapat melakukannya seperti yang pernah aku lakukan. Kau harus berada di dalam goa itu selama tiga hari tiga malam. Kau tidak boleh makan apapun juga selain minum air yang mengalir didalam goa itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sementara Pangeran Benawa itu berkata selanjutnya, “Tetapi kau harus yakin kepada dirimu sendiri, bahwa kau akan dapat melakukannya. Karena setelah tiga hari tiga malam kau berada didalam goa itu tanpa makan selain minum, maka pada hari berikutnya kau harus memanjat tali naik keatas dinding Kelir. Kau tidak boleh ragu-ragu sedikit pun, bahwa kau dapat melakukannya, karena keragu-raguan akan dapat sangat membahayakanmu.”

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab. Ia memang harus memperhitungkannya dengan cermat.

“Tetapi Agung Sedayu,” berkata Pangeran itu selanjutnya, “aku dapat melakukannya. Kau pun tentu dapat melakukannya pula.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ada keinginan ku untuk melakukan Pangeran. Tetapi laku apalagi yang harus dikerjakan didalam goa Itu?”

“Tidak apa-apa. Duduk dan minum kapan saja kau merasa haus,” jawab Pangeran Benawa.

“Dan dengan sendirinya kau akan kebal dari segala jenis bisa dan racun?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Ya,” jawab Pangeran Benawa, “hal itu memang perlu penjelasan. Menurut dukun tua itu, di atas dinding Kelir itu tumbuh sebatang pohon raksasa. Pohon yang ujudnya seperti pohon beringin. Tetapi pohon itu mempunyai satu bagian yang lain dari tumbuh-tumbuhan yang kita kenal. Sulur-sulur pohon yang mirip dengan pohon beringin itu sangat beracun. Setiap jenis kehidupan yang tersentuh oleh sulur-sulurnya, maka ia akan mati. Setelah mati, maka sulur-sulur itu seakan-akan dapat membelitnya dan menarik korbannya ke pusat batangnya yang sangat besar itu. Dan korban yang paling digemari oleh pohon yang disebut dengan pohon hantu itu adalah sejenis ular dan binatang berbisa lainnya. Bahkan dengan demikian, maka bisa pohon itu pun menjadi semakin tajam.”

“Apakah pohon itu sekarang masih ada?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak. Pohon hantu itu sudah tidak ada,” jawab Pangeran Benawa, “pohon itu menurut dukun tua itu, telah terlibat dalam satu permusuhan dengan raja ular yang berada dilangit. Raja ular itu mendengar keluhan dari rakyatnya yang mengalami perlakuan yang sangat keji dari pohon itu. Karena itu, maka pada suatu saat raja ular itu telah datang dan menghancurkan pohon raksasa itu. Ternyata dalam pertempuran itu, pohon raksasa itu tidak dapat bertahan. Meskipun seribu sulur-sulur raksasanya berusaha menggapai raja ular yang menyerangnya, namun tangan-tangan pohon itu tidak berhasil menangkap lawannya, karena setiap sentuhan dengan tubuh raja ular itu, berarti hangus. Raja ular itu bertubuh api yang tidak dapat dimatikan oleh racun pada sulur-sulur raksasa itu.”

“Satu dongeng yang mengerikan,” desis Agung Sedayu diluar sadarnya.

“Mungkin memang satu dongeng. Meskipun demikian, sebagian kecil dari dongeng itu tentu merupakan pernyataan dari satu peristiwa yang memang mengandung rahasia,” jawab Pangeran Benawa, “tetapi aku berpendapat, bahwa apa yang dikatakan oleh dukun tua itu, kedatangan raja ular dari langit, menilik bekas-bekasnya yang sudah tidak dapat dikenali dengan baik karena hal itu telah terjadi pada waktu yang lama sekali, pohon itu agaknya telah disambar petir yang sangat kuat. Namun kematian pohon itu tidak dapat mematikan mata air yang terdapat dibawah akar-akarnya yang tersisa. Air yang mengalir dari bawah pohon itu, menelusuri goa di dinding kelir itu ternyata menyimpan satu kekuatan tersendiri.”

Agung Sedayu mendengarkan ceritera itu dengan jantung yang berdegup semakin keras. Ia mulai mengerti maksud yang sebenarnya dari Pangeran Benawa. Air yang mengalir didalam goa itu mengandung semacam khasiat yang dapat membuat seseorang menjadi kebal bisa.

Pada dasarnya Agung Sedayu adalah seseorang yang ingin mempelajari segala macam ilmu dan menambah pengetahuannya sejauh dapat dilakukan. Rasa ingin tahunya tiba-tiba telah menggebu didalam hatinya. Apalagi jika Agung Sedayu menyadari, bahwa ia masih saja selalu menjadi sasaran dendam dan kebencian dari beberapa pihak yang bahkan kadang-kadang diluar dugaannya sama sekali.

Karena itulah, maka ia pun kemudian menjawab, “Pangeran. Jika yang dimaksud Pangeran, agar aku memasuki goa itu, maka aku akan bersedia melakukannya, karena dengan demikian akan memberikan satu kekuatan baru bagiku. Mungkin kekuatan itu akan berguna bagi masa depanku yang penuh dengan ketidak tentuan ini.”

Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada datar ia bertanya, “jadi kau bersedia?”

“Ya Pangeran,” jawab Agung Sedayu.

“Dengan demikian masih juga tersirat keinginanmu untuk meningkatkan kemampuanmu. He, untuk apakah sebenarnya kemampuanmu yang akan menjadi semakin dahsyat itu? Apakah kau sebenarnya ingin menjadi seorang Senapati meskipun pada ujud lahiriahnya kau menolak? Atau kau ternyata dibayangi juga oleh dendam dan kebencian kepada seseorang yang kau harapkan akan dapat kau kalahkan?” bertanya Pangeran Benawa tiba-tiba.

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Agung Sedayu. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Pangeran Benawa akan bertanya seperti itu kepadanya.

Namun untunglah, bahwa jawaban dari pertanyaan yang demikian telah tersimpan didalam hatinya. Kiai Gringsing setiap kali memang mengulangi pertanyaan seperti itu dan setiap kali mengingatkan kepadanya bagaimana ia harus menjawabnya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian menjawab, “Pangeran. Sebenarnyalah bahwa ilmu itu tergantung sekali kepada seseorang yang memilikinya. Ilmu yang semakin tinggi akan dapat menjadi semakin berbahaya bagi kehidupan manusia, tetapi juga sebaliknya. Karena dengan ilmu yang tinggi, maka seseorang akan dapat berbuat lebih banyak. Baik bagi maksud-maksud buruk maupun bagi maksud-maksud baik. Jika mereka yang berniat buruk memiliki ilmu yang semakin tinggi, tetapi tidak mendapat imbangan dari mereka yang bermaksud baik, maka kita akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi.”

“O,” Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Lalu ia pun telah mengejutkan Agung Sedayu lagi dengan pertanyaan, “Nah, jika demikian dimana kau sebenarnya berdiri. Pada yang buruk atau pada yang baik?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Pertanyaan Pangeran memang sangat sulit untuk dijawab. Tetapi setiap orang memang harus berbuat sesuatu sesuai dengan niat yang terpahat didinding jantungnya. Sementara penilaian akan hasilnya memang tergantung kepada banyak masalah yang kadang-kadang berada di luar kuasanya.” Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu. “Pangeran. Aku mempunyai landasan sikap dan perbuatanku pada petunjuk-petunjuk guruku. Disamping itu aku pun telah mendapat banyak nasehat dari Ki Waskita. Aku kira Pangeran tahu maksudku. Sudah tentu bahwa aku berniat berbuat baik. Dan aku tentu tidak akan dapat menjawab apabila Pangeran bertanya kepadaku, apakah aku orang baik yang pantas menjadi pelindung menghadapi orang-orang yang kurang baik. Namun sebenarnyalah, aku berkeyakinan seperti yang selalu dikatakan oleh guruku, bahwa sebaiknya kita menyerahkan segala yang ada pada diri kita bagi kebesaran nama Yang Maha Pencipta. Termasuk kemampuan lahir dan batin.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bagus. Pergilah Agung Sedayu. Kau dapat melihat lubang goa itu dari depan wajah dinding Kelir. Kau akan dapat mencapai puncak bukit dijajaran Pegunungan Menoreh itu. Kau akan dapat turun dengan seutas tali. Tiga hari tiga malam kau tinggal didalam goa itu. Maka kau akan mendapatkan khasiat dari air yang mengalir didalam goa itu.” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu. “tetapi ingat, pada hari-hari pertama, kau harus menjaga dirimu agar kau tidak terluka oleh benda apapun juga yang terdapat didalam goa itu. Jika terjadi demikian, maka kau harus berusaha merendam luka itu kedalam air yang mengalir itu, meskipun airnya tidak terlalu banyak.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Satu laku yang cukup berat. Namun jika benar dengan demikian maka ia akan kebal dari segala macam bisa, maka hal itu akan bermanfaat bagi hidupnya kelak. Meskipun kekebalan itu hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri.

“Nah, aku kira aku tidak dapat memberikan petunjuk lebih banyak lagi, sebagaimana aku menerima petunjuk sebelum aku memasuki goa itu. Karena itu, maka biarlah aku kembali ke Pajang atau kemanapun yang aku inginkan,” berkata Pangeran Benawa itu kemudian.

“Jangan Pangeran,” cegah Agung Sedayu, “masih ada yang harus Pangeran beritahukan kepadaku. Bagaimana aku dapat meyakini bahwa aku telah berhasil.”

“O,” jawab Pangeran Benawa, “mudah sekali. Kau tangkap seekor ular berbisa. Jangan kau trapkan ilmu kebalmu. Biarkan ular itu menggigitmu. Atau kau tampung getah beracun dari satu jenis pepohonan. Minum racun itu.”

“Suatu pengamatan yang berbahaya,” berkata Agung Sedayu.

“Memang berbahaya. Ketika aku melakukannya, aku masih ditunggui oleh dukun tua itu. Jika terjadi sesuatu, maka dukun tua itu telah menyediakan obat penawar racun itu,” jawab Pangeran Benawa. “Karena itu, untuk meyakinkan kebenarannya, kau dapat berhubungan dengan gurumu. Jika seekor ular menggigit ujung jarimu, dan ternyata kau tidak kebal terhadap bisanya, biarlah gurumu mengobatinya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Untuk beberapa saat ia merenungi kemungkinan itu. Dan Agung Sedayu pun yakin bahwa gurunya tidak akan berkeberatan.

Namun dalam pada itu, ketika Pangeran Benawa sekali lagi minta diri. Agung Sedayu mencegahnya. Katanya, “Pangeran, aku mohon dengan sangat. Pangeran singgah barang sebentar di barak itu.”

“Ah, jangan begitu Agung Sedayu,” berkata Pangeran Benawa, “aku sama sekali tidak ingin singgah ke barak itu. Aku hanya ingin menemuimu justru diluar barak. Sekarang aku sudah menemui dan mengatakan maksudku. Bukankah aku dapat bebas pergi kemanapun. Bahkan aku pun dapat mengambil sikap lain. Sama sekali tidak singgah kemari dan sama sekali tidak memberitahukan kepadamu.”

“Tetapi aku mohon dengan sangat Pangeran,” minta Agung Sedayu.

“Apakah kau ingin memaksaku? “ Pangeran Benawa.

“Tidak Pangeran sama kali tidak. Bagaimana mungkin aku akan memaksa Pangeran. Bahkan seisi barak itu pun tidak akan mampu memaksa Pangeran,” jawab Agung Sedayu.

“Jangan berputar-putar. Apa maksudnya sebenarnya?” bertanya Pangeran Benawa.

“Seperti yang sudah aku katakan, bahwa anak-anak muda di barak itu menumpukan kepercayaannya kepada para pembina dan pelatihnya,” berkata Agung Sedayu, Namun tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi sebelumnya perkenankan aku bertanya, bukankah Pangeran tidak berkeberatan dengan terbentuknya pasukan khusus di Tanah Perdikan ini?”

“Kau tidak memerlukan jawab,” desis Pangeran Benawa.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Kemudian katanya, “Pangeran. Jika Pangeran bersedia singgah, maka Pangeran akan memperoleh kepercayaan anak-anak muda itu kepada para pembimbingnya. Tetapi jika aku kembali tanpa Pangeran, maka mereka akan sangat kecewa. Apa yang pernah mereka dengar bahwa aku telah berhasil mengalahkan Ajar Tal Pitu, akan mereka pertanyakan kembali.”

“Agung Sedayu,” Pangeran Benawa menjadi heran, “jadi ternyata bahwa kau pun telah dihinggapi sikap yang terlalu mementingkan diri sendiri seperti itu? Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa kau sekarang telah dibayangi oleh kecemasan bahwa orang lain tidak akan memujimu. Bahwa orang lain akan kecewa, dan menganggapmu bukan orang terkuat diseluruh dunia. Bahwa orang lain mengetahui, bahwa kau tidak dapat memaksa Pangeran Benawa untuk dihadapkan kepada anak-anak muda itu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Pangeran salah mengerti. Jika aku memohon Pangeran singgah, sama sekali bukan untuk kepentinganku. Seandainya bukan aku yang menemui Pangeran sekarang ini, maka aku pun akan tetap memohon agar Pangeran bersedia singgah. Bagiku, kesediaan Pangeran akan sangat berpengaruh bukan bagi kepentinganku, tetapi semata-mata untuk memberikan kemantapan kepada anak-anak itu. Mereka akan menganggap bahwa mereka benar-benar diasuh oleh orang-orang yang memiliki kemampuan yang pantas bagi seorang pengasuh dalam olah kanuragan.”

“Dan dengan demikian kau akan mengorbankan aku untuk menjadi pangewan-ewan didalam barak itu?” bertanya Pangeran Benawa.

“Tentu bukan Pangeran. Tetapi seorang pencari ikan yang bersikap aneh dan mengandung rahasia,” jawab Agung Sedayu, “kecuali jika aku harus bersikap lain. Silahkan Pangeran meninggalkan tempat ini tanpa singgah di barak itu, tetapi aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku telah bertemu dengan Pangeran Benawa.”

 “Jangan. Bukankah kau belum kehilangan kesadaranmu?” bertanya Pangeran Benawa.

 “Tentu belum Pangeran,” jawab Agung Sedayu, “jika aku tidak menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, tentu aku tidak akan mohon belas kasihan Pangeran. Sementara tidak seorang pun yang akan mengetahui, bahwa yang aku hadapi sekarang ini adalah Pangeran Benawa. Atau jika Pangeran tidak bersedia, maka orang yang dianggap terbaik di barak ini akan sangat mengecewakan. Ternyata orang itu tidak mampu membawa seorang pencari ikan kedalam barak. Dalam keadaan yang pahit itu, mungkin aku tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak menyebut mana Pangeran.”

“Kau telah melakukan pemerasan,” berkata Pangeran Benawa, “atau dengan istilah lain, kau telah menjual belas kasihan.”

“Pangeran Benawa benar,” jawab Agung Sedayu.

“Kau memang anak iblis,” geram Pangeran Benawa. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku terpaksa singgah. Tetapi apakah aku harus percaya bahwa hal ini sama sekali bukan karena kau telah mementingkan dirimu sendiri, tetapi sekedar untuk menjaga kemantapan anak-anak muda yang berada didalam barak itu?”

“Pangeran akan mengetahuinya,” berkata Agung Sedayu.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 151)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-50/

Terima kasih kepada Ki Arema yang me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s