ADBM2-180

<<kembali | lanjut>

SERANGAN keris itu telah mendebarkan jantung Putut Pradapa. Karena itu, maka Putut itu pun telah berloncatan surut. Namun Ki Tumenggung sama sekali tidak melepaskannya. Dengan sigapnya Ki Tumenggung selalu memburunya. Jika Putut itu terlepas barang sekejap, maka ia akan sempat membangun serangan dengan ilmunya yang sangat dahsyat lewat kedua telapak tangannya yang mengembang.

Serangan keris Kiai Santak itu benar-benar telah merubah keseimbangan pertempuran. Kecuali keris itu sendiri memang keris pilihan dan jarang ada duanya., ternyata bahwa pengaruh keris itu sebagai pusaka gurunya, telah mencengkam jantung Putut Pradapa. Meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa keris itu berada di tangan orang yang pantas dibinasakan, tetapi berhadapan dengan keris itu rasa rasanya Putut itu berhadapan dengan gurunya.

Dengan demikian, maka Putut Pradapa pun semakin lama menjadi semakin terdesak. Serangan lawannya yang cepat dan kuat, tidak memberinya kesempatan untuk menyerangnya dengan ilmunya yang luar biasa. Sehingga dengan demikian, maka Putut itu harus bertempur dengan beralaskan kekuatan dan ketrampilan ilmu kanuragannya. Namun justru karena lawannya menggenggam senjata yang mempunyai pengaruh langsung bagi jiwanya, maka Putut Pradapa pun dengan cepat telah terdesak.

Tetapi kesetiaannya telah mendorongnya untuk bertempur terus apa pun yang terjadi.

Sebenarnyalah bahwa kemampuan dan ilmu Putut Pradapa masih berada selapis di atas Ki Tumenggung meskipun Ki Tumenggung itu lebih dahulu berguru. Tetapi Putut Pradapa yang selalu dekat dengan gurunya dan usahanya yang bersungguh-sungguh tanpa mengenal lelah, telah memiliki kemampuan melampaui kakak seperguruannya.

Namun, saat itu Ki Tumenggung telah menggenggam keris Kiai Santak. Keris yang sangat dihormati oleh Putut Pradapa itu sendiri.

Karena itu, maka betapapun juga perlawanan Putut Pradapa, maka perbawa keris itu tidak mampu dihindarinya. Ketika Ki Tumenggung memburunya dengan serangan yang datang bagaikan amuk badai yang dahsyat, Putut Pradapa tidak mampu menghindari semua serangan itu. Jantungnya berdegup keras, ketika terasa lengannya tergores keris Kiai Santak.

Dengan serta merta Putut Pradapa meloncat jauh surut. Tetapi Ki Tumenggung tidak memberinya kesempatan. Ia sadar, bahwa jika Putut itu berhasil mengambil jarak, maka ia tentu akan dapat menyerangnya dengan ilmunya yang dashyat itu.

Serangan Ki Tumenggung ternyata telah mengejarnya kemana saja Putut itu berusaha menghindar.

Para prajurit pengikut Ki Tumenggung Purbarana yang semula menjadi cemas, telah bersorak dengan serta merta. Mereka bagaikan orang yang bangkit dari kehilangan harapannya.

Namun dalam pada itu, para cantriklah yang menjadi semakin cemas. Mereka melihat Ki Tumenggung selalu memburu Putut Pradapa dengan keris Kiai Santak.

Sebenarnya Putut Pradapa akan mampu bertahan, jika jiwanya tidak dicengkam oleh pengaruh keris itu sendiri. Betapa pun ia berusaha dengan sadar melawan Ki Tumenggung, namun keris itu masih saja selalu membayanginya, sehingga akhirnya Putut Pradapa itu benar-benar telah terdesak.

Segores luka di tubuhnya telah memberikan isyarat kepadanya, bahwa ia pun harus ikut bersama gurunya, menghadap Yang Maha Pencipta. Kembali ke alam asalnya untuk selama-lamanya.

Kemampuan warangan pada keris Kiai Santak benar-benar tajam. Sesaat kemudian, Putut Pradapa telah merasakan, bahwa tubuhnya menjadi gemetar. Betapa pun ia berusaha, namun geraknya menjadi semakin lamban, sehingga justru karena itu, maka Keris Kiai Santak itu kemudian telah melukainya sekali lagi. Lebih dalam dan lebih panjang menyayat kulit di dadanya.

Putut Pradapa terdorong surut. Namun ia tidak lagi berusaha untuk menghindar. Ketika Ki Tumenggung meloncat maju dan menikam dadanya dengan keris itu. Putut Pradapa sama sekali tidak menghindarkan dirinya.

Tikaman itu benar-benar menentukan. Bukan saja karena warangan keris itu. Tetapi keris itu memang menghunjam sampai ke jantung, sehingga demikian keris itu ditarik, maka Putut Pradapa pun telah terjatuh di tanah.

Putut Pradapa sama sekali tidak mengeluh. Meskipun ia sempat berdesis. Tetapi kemudian nafasnya pun terhenti.

Jantung para cantrik bagaikan meledak melihat kematian Putut Pradapa yang seakan-akan menjadi wakil gurunya di padepokan itu, Apalagi kematian Putut Pradapa itu disebabkan oleh tangan saudara tuanya yang telah berkhianat. Yang telah membunuh gurunya dan merampas pusakanya. Pusaka yang tidak ada duanya. Dan dengan pusaka itu pula ia mengakhiri perlawanan Putut Pradapa.

Sejenak para cantrik itu termangu-mangu. Namun adalah di luar dugaan para pengikut Ki Tumenggung Purbarana. Mereka mengira bahwa kematian Putut Pradapa adalah pertanda berakhirnya perlawanan di padepokan itu.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Para cantrik yang mencintai gurunya dan kakak seperguruannya yang dianggapnya sebagai wakil gurunya itu, seakan-akan telah membuat, mereka kehilangan akal.

Tidak ada yang menjatuhkan perintah di antara para cantrik itu. Namun tiba-tiba saja, hampir bersamaan, para cantrik itu telah mengamuk. Dengan senjata apa saja yang dapat mereka gapai, maka mereka telah menyerang para prajurit pengikut Ki Tumenggung Purbarana yang ada di dekatnya. Bahkan sebagian dari para cantrik itu sempat mencabut senjata prajurit-prajurit itu sendiri, karena para prajurit itu sama sekali tidak menduga, bahwa hal itu akan terjadi.

Dua orang cantrik yang sudah meningkat dan di anggap sebagai jejanggan di padepokan itu, adalah orang-orang pertama yang telah mengamuk bagaikan seekor banteng yang terluka. Dua orang jejanggan itu sudah memiliki ilmu yang memadai. Meskipun ia masih belum mencapai kemampuan sebagaimana Putut Pradapa. Namun tiba-tiba saja lima orang prajurit telah terkapar di tanah.

Ki Tumenggung untuk beberapa saat justru terpukau oleh peristiwa yang tidak di sangka-sangka itu. Namun agaknya Ki Tumenggung seakan-akan telah kehilangan akal pula, sehingga terdengar ia berteriak nyaring, “Tumpas semua perlawanan.”

Para pengikutnya tidak berpikir lebih panjang, maka para pengikut Ki Tumenggung pun segera melakukan perintah itu.

Jumlah para pengikut Ki Tumenggung memang cukup banyak. Karena itu, maka mereka pun segera berhasil menguasai medan. Meskipun demikian, mereka tidak segera berhasil memadamkan pertempuran karena setiap orang cantrik telah bertekad untuk bertempur sampai mati sebagaimana gurunya dan Putut Pradapa.

Dengan demikian, maka padepokan itu pun bagaikan telah dibakar oleh api kemarahan yang tidak terkendali. Kedua belah pihak bertempur tanpa mengingat apa pun lagi kecuali untuk membunuh lawan masing-masing.

Ternyata, bahwa para cantrik yang mengamuk itu benar-benar telah mendebarkan jantung Ki Tumenggung. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa kematian gurunya dan Putut Pradapa telah menyeret lebih dari dua puluh orangnya yang terbunuh pula. Namun dengan kegarangan sekelompok serigala lapar, maka para cantrik itu pun seorang demi seorang telah terkapar pula di buminya.  Padepokan kecil tempat mereka setiap hari dengan tekun menuntut ilmu dan bekerja bagi kehidupan mereka.

Perlahan-lahan api pertempuran yang mengerikan itu pun berhasil dipadamkan oleh para pengikut Ki Tumenggung. Tetapi korban di antara mereka yang jatuh benar-benar di luar dugaan. Lebih dari duapuluh orang terbunuh dan lebih banyak lagi yang terluka.

“Orang-orang gila” geram Ki Tumenggung. Namun di dasar hatinya yang paling dalam terbersit juga satu kekaguman akan kesetiaan para cantrik itu. Ternyata tidak seorang cantrik pun yang masih tetap hidup. Mereka bertempur sampai orang yang terakhir.

Dengan wajah yang kusut Ki Tumenggung menyaksikan orang-orangnya mengumpulkan kawannya yang terluka dan yang terbunuh. Mereka tidak dapat membiarkan saja mereka dalam keadaannya. Karena itu,, maka beberapa orang diantara para pengikut Ki Tumenggung yang memiliki sedikit pengetahuan tentang obat-obatan telah dikerahkan untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka.

Sementara itu, mereka pun tidak dapat pula membiarkan tubuh para cantrik yang terbunuh bertebaran di halaman dan di kebun padepokan. Karena itu, maka mereka pun telah membuat sebuah lubang kubur yang besar untuk mengubur para cantrik yang bertempur dengan gagah berani sampai orang yang terakhir.

Namun bagaimana pun juga, Ki Tumenggung masih juga menaruh hormat kepada gurunya. Karena itu, maka gurunya pun telah dikuburkannya terpisah dari para cantrik. Dengan sepotong kayu, Ki Tumenggung telah memberikan tanda pada kubur gurunya di belakang padepokan itu.

Tetapi karena itu, maka Ki Tumenggung tidak segera dapat meninggalkan padepokan itu. Ia harus menunggu beberapa orangnya sembuh dari luka-lukanya. Ia tidak dapat meninggalkan mereka, karena jumlah orang-orangnya telah menjadi jauh susut.

Yang terjadi di padepokan itu, sama sekali tidak diketahui oleh orang lain. Padepokan itu memang terletak di tempat yang terpencil. Meskipun bukan berarti bahwa padepokan itu sama sekali tidak berhubungan dengan orang luar, tetapi hubungan itu terjadi pada keadaan-keadaan yang tertentu saja. Dengan demikian, maka segala sesuatu yang terjadi di padepokan itu tidak dengan cepat menjalar ke daerah di sekitarnya. Apalagi, letak padepokan itu memang agak terpencil dari lingkungan padukuhan-padukuhan.

Meskipun demikian, rasa-rasanya jiwa Ki Tumenggung tidak dapat tenang berada di padepokan itu. Ia selalu diganggu oleh ingatan tentang gurunya yang dibunuhnya dengan racun. Tentang Putut Pradapa yang memiliki ilmu nggegirisi. Namun yang kemudian terkubur bersama jasadnya sebelum ilmu itu bermanfaat bagi kehidupan. Bahkan Ki Tumenggung pun tidak dapat melupakan barang sejenak, mayat para cantrik dengan kesetiaannya yang tinggi, terbujur lintang di halaman dan di kebun padepokan itu.

Tetapi bagaimana pun juga Ki Tumenggung Purbarana harus menahan diri. Orang-orangnya yang terluka parah masih memerlukan waktu untuk dapat pergi meninggalkan padepokan itu. Sehingga bagaimana pun juga, Ki Tumenggung masih harus tinggal untuk beberapa saat lamanya.

Ternyata bahwa akibat pertempuran antara para pengikutnya dan para cantrik itu benar-benar cukup parah. Kekuatan Ki Tumenggung yang tidak terlalu besar itu telah susut.

Meskipun demikian, api dendam yang menyala di hati Tumenggung Purbarana sama sekali tidak susut sebagaimana kekuatan yang ada padanya.

Dengan beberapa orang pemimpin kelompoknya ia setiap kali membicarakan langkah-langkah yang akan diambilnya setelah mereka dapat meninggalkan padepokan kecil yang telah berubah menjadi neraka yang mengerikan itu.

“Kita dapat berhubungan dengan paman Bagaswara di Tegal Payung. Kita pun dapat berbicara dengan Warak Ireng dan Linduk yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetapi karena sikapnya yang berbeda dengan sikap beberapa orang pengikut kakang Panji, maka mereka berdua tidak mau hadir di Prambanan.” berkata Purbarana.

Seorang perwira yang berambut putih menggeleng lemah sambil berkata, “Ki Tumenggung, jika Ki Tumenggung sependapat dengan aku, jangan pergi ke Warak Ireng dan Linduk. Mereka adalah orang-orang licik yang sama sekali tidak berpegangan pada satu paugeran hidup yang dihormati. Bagi mereka, apa saja dapat mereka lakukan jika hal itu mereka kehendaki. Meskipun secara pribadi aku belum mengenal mereka, tetapi aku sudah pernah mengenalnya mereka dari pamanku yang sekarang sudah tidak ada lagi.”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. “Jangan dikungkung oleh pendapat seseorang yang belum pasti kebenarannya. Tetapi camkan. Berhadapan dengan orang yang licik, maka kita pun harus berbuat seperti itu pula. Aku yakin bahwa pasukan kita lebih besar dan lebih kuat dari isi padepokan Warak Ireng dan Linduk. Sementara itu, aku akan dapat mengimbangi kemampuan keduanya apalagi dengan keris Kiai Santak. Karena itu, pada saatnya, jika mereka memang berbahaya, maka mereka akan kita binasakan. Tetapi sementara itu, mereka akan sangat berarti bagi kita.” Ki Tumenggung itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi bagaimana dengan paman Bagaswara?”

“Bagaimana jika paman Ki Tumenggung itu sudah mendengar peristiwa yang terjadi di padepokan ini?” bertanya Perwira berambut putih itu.

“Tidak seorang pun di antara para cantrik yang lolos. Tidak akan ada orang yang sempat menyampaikan persoalan ini kepada paman Bagaswara.” jawab Ki Tumenggung. Lalu, “Paman Bagaswara adalah seorang yang sangat baik kepadaku. Bahkan dahulu, aku sangat dimanjakannya. Mudah-mudahan ia masih bersedia berbuat demikian sekarang ini dalam bentuk yang lebih dewasa dan berarti.”

Para pemimpin kelompoknya hanya mengangguk-angguk. Namun mereka semuanya merasa, bahwa yang telah terjadi di padepokan ini adalah satu peristiwa yang sangat berkesan di hati mereka. Kesetiaan para cantrik itu ternyata melampaui kesetiaan prajurit. Para cantrik itu sama sekali tidak mengenal menyerah sampai orang yang terakhir. Bahkan yang terluka dan tidak mampu memberikan perlawanan telah membiarkan dirinya mati tanpa berusaha untuk mengobatinya sama sekali.

Dari hari ke hari, para prajurit yang terluka telah berangsur sembuh. Beberapa orang yang parah ternyata tidak lagi berhasil diselamatkan, sehingga masih saja ada kawan-kawan mereka yang dengan hati yang sangat berat terpaksa di serahkan kepada bumi di padepokan kecil dan terpencil itu.

Namun akhirnya, saat yang mereka tunggu-tunggu itu pun telah datang. Para prajurit yang terluka telah menjadi sembuh dan mampu untuk melanjutkan perjalanan. Masih ada beberapa yang masih belum pulih sama sekali bahkan masih ada yang harus berjalan sambil bertelekan tongkat. Namun mereka sudah dapat meninggalkan padepokan yang selalu memberikan mimpi yang sangat buruk.

Demikianlah, ketika keadaan memang sudah memungkinkan. Ki Tumenggung telah memanggil beberapa orang pemimpin kelompok dan orang-orang yang pantas untuk diajak berbicara tentang rencananya lebih lanjut.

“Kita harus segera mulai,” berkata Ki Tumenggung, “mula-mula aku akan menghadap paman Bagaswara. Baru kemudian kita bertemu dengan Warak Ireng dan Linduk. Mungkin paman akan dapat memberikan beberapa petunjuk untuk menghadapi kedua orang ini setelah kita tidak memerlukan mereka lagi.”

“Baiklah Ki Tumenggung,” sahut salah seorang perwiranya, “segala sesuatu akan dapat kita bicarakan setelah kita bertemu dengan paman Ki Tumenggung itu. Nampaknya paman Ki Tumenggung itu juga seorang yang mempunyai wawasan yang luas.”

“Ya. Wawasannya mengenai hubungan antara Pajang dan Mataram, tentu lebih luas paman Bagaswara. Ia adalah bekas Senapati pada akhir kekuasaan Demak. Iapun pernah mengalami kekecewaan justru karena Demak kemudian pindah ke Pajang. Pada saat pemerintahan kemudian berada di tangan Sultan Hadiwijaya anak Pengging itu.” berkata Ki Tumenggung, “Sehingga dengan demikian, paman Bagaswara telah memilih hidup di sebuah padepokan kecil di Tegal Payung. Padepokan sebagaimana padepokan ini.”

“Jika demikian, maka satu-satunya jalan yang paling baik kita tempuh sekarang adalah menemui paman Ki Tumenggung.” berkata salah seorang pemimpin kelompoknya, “apapun yang akan dikatakannya, akan dapat kita jadikan bahan untuk menentukan langkah-langkah berikutnya.”

“Hanya jika sesuai dengan jalan pikiran kita,” potong Ki Tumenggung dengan serta merta, “jika paman menolak rencana kita, maka ia akan mengalami nasib sebagaimana guru sendiri. Aku tidak mau seorang pun merintangi rencanaku.”

Para perwira yang menjadi pengikut Ki Tumenggung itu tidak menjawab lagi. Agaknya Ki Tumenggung benar-benar ingin melaksanakan rencananya. Apa pun yang merintanginya akan dihancurkannya. Bahkan gurunya sendiri telah dibunuhnya. Bukan hanya itu, tetapi Ki Tumenggung telah mengambil pula pusaka gurunya yang disebut Kiai Santak. Sebilah keris yang besar, melampaui ukuran keris kebanyakan.

Dalam pada itu, maka para pengikut Ki Tumenggung Purbarana itu pun telah membenahi diri. Barang-barang yang akan mereka bawa telah mereka siapkan. Bahkan mereka sempat mengumpulkan beberapa macam barang yang ada di padepokan itu, yang menurut mereka akan dapat mereka pergunakan di perjalanan mereka yang panjang.

“Kita akan segera mulai dengan satu perjalanan yang seakan-akan tidak terbatas. Kita akan menjelajahi lembah dan ngarai, lereng-lereng pegunungan dan jurang-jurang yang terjal. Kita mengembara dengan membawa satu cita-cita yang luhur. Tetapi kita tidak tahu, kapan kita akan selesai.” berkata Ki Tumenggung Purbarana, “tetapi kita berharap bahwa daerah Timur pun akan segera berkobar api pemberontakan melawan Mataram. Sementara kita akan mendapat tempat pijakan yang lebih mapan, sehingga kita akan dapat melawan Mataram dengan lebih mantap.”

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Mereka memang sudah mantap sebagaimana Ki Tumenggung Purbarana.

Sementara itu, Ki Tumenggung pun berkata, “Jika hasil perjuangan ini tidak dapat kita nikmati sekarang, maka anak cucu kita akan mengenyam, bahkan mereka akan mengucap terima kasih, bahwa kita sekarang sudah berjuang bagi masa depan.”

Para pengikutnya masih mengangguk-angguk. Tetapi seorang prajurit muda bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku kira-kira juga akan mempunyai anak cucu? Sampai saat ini aku belum sempat kawin. Jika besok aku mati di peperangan, maka aku tentu tidak akan mempunyai anak cucu.”

Tetapi prajurit itu tidak menanyakannya kepada siapapun juga, karena dengan demikian pertanyaannya itu akan dapat menumbuhkan kesan yang kurang baik.

Namun dalam pada itu, beberapa orang perwira yang ikut bersama Ki Tumenggung Purbarana telah menyadari sepenuhnya, bahwa pada satu saat kelompok itu tentu akan berubah bentuknya. Pada saat kesulitan-kesulitan datang satu demi satu, pada akhirnya kelompok itu akan menjadi sekelompok orang yang dibenci dan ditakuti.

“Tetapi jika Ki Tumenggung Purbarana berhasil mendapatkan daerah landasan, keadaan akan berbeda.” berkata para perwira itu di dalam hatinya.

Meskipun demikian, perasaan kecewa, kebencian dan dendam telah mencengkam jantung mereka. Kemenangan Mataram benar-benar satu peristiwa yang sangat menyakitkan hati.

Namun, di samping mereka itu, terdapat pula beberapa orang perwira muda yang di dalam darahnya mengalir satu keinginan untuk bertualang. Untuk mengalami satu peristiwa yang dahsyat yang akan dapat mereka ceriterakan sebagai satu kebanggaan dalam pengalaman hidup mereka. Namun ada juga yang memang di dalam dirinya memencar watak yang tidak terpuji.

Demikianlah, maka pasukan itu memutuskan untuk meninggalkan padepokan kecil itu di dini hari mendatang.

Malam yang terakhir di padepokan itu telah mereka lampaui dengan berbagai macam gambaran tentang petualangan yang akan mereka lakukan. Pertempuran demi pertempuran akan mereka masuki. Darah dan kebencian akan selalu mewarnai perjalanan mereka. Dengan senjata di dalam pelukan, mereka akan memasuki daerah demi daerah. Berbicara dan sedikit membual tentang masa depan. Jika diketemukan kesepakatan, maka mereka akan mendapat sejumlah kawan baru. Tetapi jika tidak, maka yang terjadi adalah pertumpahan darah.

Satu-satu kawan-kawan mereka akan rontok seperti daun kering di cabang pepohonan. Tetapi mereka berharap bahwa ada tunas-tunas yang tumbuh untuk menggantikan mereka yang telah runtuh.

Meskipun bayangan masa depan nampaknya sangat suram, tetapi Ki Tumenggung dan orang-orangnya tidak berputus asa. Mereka telah membenahi diri mereka sendiri dengan tugas yang sangat berat. Tetapi juga sesuatu yang dapat memperkaya penglihatan mereka tentang kehidupan dari segi tertentu.

Ketika fajar menyingsing, maka para pengikut Ki Tumenggung yang berada di padepokan itu telah siap. Sekelompok pasukan yang cukup besar. Dengan tekad bulat mereka akan menuju ke Tegal Payung, menemui Ki Bagaswara. Adik seperguruan dari guru Ki Tumenggung Purbarana.

Demikian orang terakhir meninggalkan padepokan itu, maka padepokan itu benar-benar telah berubah menjadi satu kuburan yang luas. Sepi dan lengang. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan kecuali hijaunya pepohonan. Binatang peliharaan yang ada di padepokan itu telah habis sampai telur ayam yang terakhir. Apalagi lembu dan kambing.

Yang kemudian nampak bergerak-gerak di padepokan itu adalah dedaunan yang ditiup angin, di atas kuburan yang menyimpan seluruh cantrik, manguyu, jejanggan dan Putut Pradapa. Juga guru mereka yang sangat mereka kasihi. Bahkan beberapa orang prajurit pengikut Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung Purbarana yang meninggalkan padepokan itu, masih juga sempat berpaling. Tetapi regol halaman padepokan yang terbuka itu benar-benar bagaikan regol sebuah kuburan yang sepi lengang.

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Namun di luar sadarnya ia bergumam kepada diri sendiri, bahwa pada suatu saat, ia ingin kembali melihat padepokan yang telah berubah menjadi neraka itu. Bagaimanapun juga, gurunya telah dikuburnya di tempat itu juga, sehingga masih terasa adanya keterikatan antara dirinya dan padepokan sepi itu.

Iring-iringan itu pun kemudian menelusuri jalan sempit menerobos hutan yang tidak begitu lebat menuju ke jalan terbuka yang berhubungan dengan padukuhan-padukuhan di luar padepokan itu. Dengan demikian maka iring-iringan itu akan muncul di jalan yang sering dilalui oleh orang-orang yang pergi dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.

Tetapi Ki Tumenggung Purbarana sudah tidak peduli lagi. Peristiwa yang terjadi di padepokan gurunya, telah membuat dirinya semakin membenci. Dendamnya kepada orang-orang Mataram bagaikan tersiram minyak sehingga menyala semakin besar di dalam dadanya. Bahkan rasa-rasanya ia pun telah membenci semua orang yang begitu mudahnya tunduk kepada orang-orang Mataram pada saat Pajang dikalahkan. Demikian mudahnya, padahal kekuatan Pajang masih cukup besar seandainya orang-orang Pajang sendiri mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu.

Wirabumi dan Benawa tidak ubahnya seperti kelinci-kelinci cengeng yang tidak berani berbuat apa-apa sepeninggal Sultan Hadiwijaya. Padahal Wirabumi dan Benawa memiliki kekuatan yang tentu akan dapat mengimbangi kekuatan Mataram. Keduanya adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Terutama Pangeran Benawa.

“Tetapi Pangeran Benawa hatinya tidak lebih besar dari biji sawi” berkata Ki Tumenggung itu di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung tidak lagi menghiraukan apa pun juga. Ia tidak peduli lagi apabila pasukannya itu akan menakut-nakuti orang-orang yang melihatnya dan padukuhan-padukuhan yang dilewatinya.

“Aku harus bertemu dengan paman Bagaswara,” berkata Ki Tumenggung itu di dalam hatinya, “kemudian aku harus bertemu dengan orang-orang lain yang akan dapat memperkuat kedudukanku. Arah yang paling baik menurut perhitunganku saat ini adalah Tanah Perdikan Menoreh. Mendudukinya dan kemudian menjadikan tempat itu sebagai alas pijakan sebelum aku meluaskan daerah pengaruhku. Jika tidak mungkin, maka aku harus cepat menemukan sasaran baru. Mungkin Sangkal Putung, mungkin Mangir. Tetapi letak Mangir terlalu dekat dengan pusat pemerintahan Sutawijaya. Sulit bagiku untuk mendapat kesempatan menyusun diri.

Ternyata beberapa orang pembantunya sependapat dengan rencananya itu. Pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi sasaran utama, dan harus dihancurkan lebih dahulu. Tanpa pasukan khusus, maka Tanah Perdikan Menoreh tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika ada orang-orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan itu maka pasukan Ki Tumenggung pun akan membawa orang-orang berilmu tinggi.

“Agung Sedayu yang disebut sebagai orang yang tidak terkalahkan dan yang telah berhasil membunuh Ki Tumenggung Prabadaru, tidak akan mampu melawan tuah keris Kiai Santak. Mungkin kemampuan ilmuku masih selapis dibawah Ki Tumenggung Prabadaru. Tetapi Ki Tumenggung Prabadaru tidak mempunyai keris Kiai Santak.” berkata Ki Tumenggung Purbarana di dalam hatinya.

Dalam pada itu, sebenarnyalah iring-iringan itu telah menumbuhkan berbagai pertanyaan di hati orang-orang yang bertemu di jalan-jalan padukuhan. Bahkan beberapa orang menjadi ketakutan dan bersembunyi di balik regol halaman.

Tetapi anak-anak yang masih belum mengenal bentuk iring-iringan seperti itu justru telah berderet di pinggir jalan untuk melihat sepasukan prajurit dengan senjata lengkap dan perbekalan, berjalan dengan cepat melintasi padukuhan mereka.

Anak-anak itu tidak melihat kesan yang buram di wajah-wajah para prajurit itu. Anak-anak itu tidak mampu membaca nyala api dendam yang membakar jantung orang-orang yang beriringan melintasi padukuhan mereka.

Tetapi iring-iringan itu sama sekali tidak mengganggu orang-orang lewat dan anak-anak yang menonton mereka di pinggir-pinggir jalan. Bahkan iring-iringan itu sama sekali tidak berpaling ketika mereka melintasi sebuah pasar yang ramai di pinggir sebuah padukuhan.

Namun demikian, iring-iringan itu telah membuat orang-orang yang ada di pasar itu menjadi gelisah. Bahkan ada satu dua orang yang dengan serta merta telah mengumpulkan dagangan mereka, yang apabila terjadi sesuatu, siap untuk diangkut keluar pasar itu.

“Siapakah mereka?” hampir setiap orang saling bertanya.

Tidak seorang pun yang dapat menjawab. Hanya seorang tua yang berambut putih berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Aku mengenali pakaian mereka.”

Pakaian itu adalah pakaian prajurit Pajang. Tetapi sudah tidak lengkap lagi. Ada di antara mereka yang tidak lagi mengenakan tanda-tanda khusus dari kesatuannya. Bahkan ada di antara mereka yang sudah mengenakan baju yang lain.

“Jadi siapakah mereka itu?” bertanya seseorang.

Orang tua itu menggeleng. Namun akhirnya ia menjawab “Mungkin satu pasukan yang meninggalkan kesatuannya. Nampaknya mereka sudah kehilangan ciri-ciri keprajuritan mereka dalam sikap dan tingkah laku.

Orang-orang yang berada di sekitar orang tua itu mengangguk-angguk. Orang tua itu memang pernah tinggal di Pajang untuk beberapa lamanya ketika ia masih muda. Meskipun ia tidak menjadi seorang prajurit, tetapi ia menghamba kepada seorang perwira prajurit Pajang, sehingga ia mengenali beberapa sifat dan watak prajurit Pajang.

Tetapi Ki Tumenggung Purbarana sama sekali tidak mempedulikan tanggapan orang-orang yang melihat iring-iringannya dengan pertanyaan di dalam dada mereka. Apapun yang mereka katakan, Purbarana sama sekali tidak peduli. Ia hanya ingin segera sampai ke Tegal Payung. Menghadap paman gurunya dan menyampaikan kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Menurut dugaannya, pamannya akan lebih mengetahui sikapnya dari pada gurunya sendiri.

Karena itu, maka iring-iringan itu berjalan terus di sepanjang jalan bulak dan padukuhan. Mereka melewati pinggir-pinggir hutan dan kadang-kadang menyilang pasar yang ramai.

Tetapi, iring-iringan itu tidak dapat mencapai tujuan pada satu hari saja. Karena itu, maka ketika malam mulai turun, iring-iringan itu telah berhenti di sebelah banjar padukuhan.

Seisi padukuhan menjadi gelisah. Tetapi nampaknya orang-orang bersenjata yang akan bermalam di banjar itu tidak akan berbuat buruk terhadap rakyat padukuhan itu.

Karena itu, maka meskipun ada juga kecemasan, namun penduduk padukuhan itu berusaha untuk menerima mereka dengan wajar. Bahkan dengan serta merta bebahu padukuhan itu berhasil mengumpulkan beras untuk menjamu orang-orang bersenjata yang bermalam di banjar mereka, meskipun hanya sekedar dengan jangan gori.

Bebahu padukuhan yang pada malam hari itu sempat berbicara dengan Ki Tumenggung Purbarana, tanpa berprasangka buruk telah bertanya, pasukan yang dibawanya itu akan bertugas kemana saja.

Untuk sesaat Ki Tumenggung bingung juga untuk menjawab. Namun kemudian ia berhasil menemukan jawaban, “Ki Sanak. Setelah perang berakhir, maka keadaan pemerintahan ternyata masih belum mapan benar. Ada segolongan orang yang ingin memanfaatkan keadaan ini untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Mereka mempergunakan saat-saat kosong ini untuk merampas dan merampok. Orang-orang itu sadar, bahwa para prajurit Mataram maupun Pajang dan Jipang sedang sibuk membenahi diri, sehingga mereka tidak sempat untuk menjaga dan melindungi rakyatnya, apalagi yang letaknya agak jauh dari Kota Raja seperti ini. Karena itulah, maka kami mendapat tugas untuk menganglang. Bukan hanya batas Kota Raja. Tetapi kami harus mengelilingi daerah Pajang untuk mengamati keadaan. Sementara itu kami mendengar bahwa di daerah Tegal Payung terdapat segerombolan orang yang dengan tegas mendirikan satu gerombolan untuk merampok. Mereka terdiri dari bekas-bekas prajurit yang terdesak dari medan perang. Namun mereka segan untuk kembali ke kesatuan mereka setelah perang berakhir.

Bebahu padukuhan itu mengangguk angguk. Namun katanya, “Kami masih belum mendengar hal itu terjadi di Tegal Payung.”

“Bukankah Tegal Payung masih agak jauh dari padukuhan ini?”bertanya Ki Purbarana.

“Ya. Hampir sehari perjalanan. Tetapi perjalanan yang lamban.” jawab bebahu itu. Kemudian, “Tetapi jika benar terjadi seperti yang Ki Sanak katakan, kami tentu mendengarnya. Di pasar, orang saling berhubungan. Sementara berita semacam itu akan cepat tersebar.”

“Syukurlah jika hal itu tidak benar.” jawab Ki Tumenggung Purbarana, “dengan demikian tugas kami menjadi ringan. Kami adalah prajurit Pajang yang mendapat tugas khusus dari Mataram yang sekarang berkuasa lewat Adipati Pajang, Wirabumi, untuk menumpas gerombolan itu. Karena itu, jika gerombolan itu memang tidak ada, maka kami akan segera dapat kembali ke Pajang.

Bebahu itu mengangguk-angguk. Sama sekali tidak ada kecurigaan di hatinya. Bebahu itu memang melihat pakaian keprajuritan. Tetapi ia tidak memahami ciri-ciri dan tanda-tanda khusus dari prajurit Demak. Karena itu, ia pun tidak tahu bahwa orang-orang yang bermalam di banjar itu sudah tidak mengenakan pakaian prajurit yang lengkap.

Dengan demikian, maka pasukan Ki Tumenggung Purbarana itu dapat tidur dengan nyenyak di banjar, meskipun hanya dengan lembaran tikar yang dibentangkan di pendapa banjar. Mereka tidur dalam deretan dari sisi sampai ke sisi yang lain, berderet dalam beberapa bujur melintang. Apalagi mereka letih dan lapar, maka makan yang mereka dapat dari padukuhan itu terasa nikmat sekali.

Namun dalam pada itu, selagi pasukan Ki Tumenggung Purbarana beristirahat di banjar sebuah padukuhan, maka padepokan Tegal Payung yang akan ditujunya telah menjadi kosong.

Kiai Bagaswara dengan para cantriknya telah meninggalkan padepokan mereka meskipun dengan hati yang sangat berat.

Sebenarnyalah, bahwa yang terjadi di padepokan guru Purbarana bukannya seperti yang diduga oleh Ki Tumenggung itu. Para cantrik tidak tertumpas habis tanpa tersisa. Ternyata masih ada seorang cantrik yang kebetulan sedang berada di sawah. Ketika ia kembali, maka dilihatnya padepokannya telah menjadi ajang pertempuran yang mengerikan.

Cantrik itu kurang tahu apa yang terjadi. Namun akhirnya ia mengetahui, bahwa seisi padepokan itu telah menjadi korban kegarangan sepasukan prajurit dari Pajang.

“Aku melihat pasukan itu datang Kiai” berkata cantrik itu dipimpin oleh Ki Tumenggung Purbarana. Nampaknya tidak ada persoalan apapun yang timbul. Ki Tumenggung masih tetap bersikap sangat hormat kepada gurunya, sebagaimana seorang murid. Tetapi ketika malam itu aku kembali dari sawah, semuanya telah terjadi. Karena itu Kiai, karena semua saudara-saudaraku telah mati, maka sepantasnya aku juga harus mati. Jika aku pada saat itu tidak membunuh diri terjun ke dalam lingkungan pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung itu, karena aku merasa perlu untuk menyampaikan hal ini kepada Kiai. Selebihnya, jika sepantasnya aku harus mati sebagaimana saudara-saudaraku, maka sebaiknya Kiai membunuh aku saja.

Kiai Bagaswara menarik nafas dalam-dalam. Sebagaimana yang dikatakan oleh cantrik itu, bahwa segalanya terjadi begitu saja tanpa diketahui sebab-sebabnya, maka Kiai Bagaswara menjadi sangat prihatin.

Namun ternyata bahwa masih ada lagi seorang cantrik yang berhasil mencapai padepokan Kiai Bagaswara. Seorang cantrik yang telah terluka. Namun ia masih sempat berceritera apa yang telah terjadi. Bahkan cantrik yang sempat melarikan diri dari medan tanpa diketahui oleh prajurit-prajurit Ki Tumenggung itu pun sempat menceriterakan apa sebabnya maka segalanya telah terjadi.

Tetapi, cantrik itu sudah terlalu payah. Wadagnya tidak lagi mampu bertahan. Karena itu, setelah meneguk air hangat seteguk, maka cantrik itupun telah menjadi pingsan dalam keadaan yang sangat payah, setelah ia sempat menceriterakan apa yang terjadi.

Kiai Bagaswara sempat merawat cantrik itu beberapa lama. Cantrik itu sempat sadar dan tersenyum. Lalu katanya, “Aku tidak mempunyai tujuan lain kecuali padepokan ini. Tidak ada tempat untuk mengadu.”

“Ya. Ya. Kau sudah memilih jalan yang benar.” berkata Kiai Bagaswara.

Cantrik itu tersenyum. Digapainya tangan kawannya, sesama cantrik dari padepokannya. Katanya, “Jangan mati. Kau satu-satunya saksi.”

“Kau juga seorang saksi yang tahu lebih banyak dari aku.” jawab cantrik yang tidak terluka.

Tetapi cantrik itu tersenyum. Dengan suara sendat ia berkata kepada Kiai Bagaswara, “Aku mohon pamit. Mudah-mudahan pemberitahuan ini berarti bagi Kiai. Sebab menurut perhitunganku, sepeninggal gurunya, mungkin sekali Ki Tumenggung Purbarana akan datang kemari.”

“Satu kemungkinan yang dapat terjadi.” jawab Kiai Bagaswara.

Cantrik itu memandang wajah Kiai Bagaswara yang lembut sejenak. Namun kemudian wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat. Satu tarikan nafas yang panjang ternyata telah mengakhiri hidupnya.

Kiai Bagaswara menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, cantrik yang datang dari padepokan yang sama itu pun tidak dapat menahan perasaannya. Betapapun ia bertahan, namun titik-titik air matanya tidak terbendung lagi.

Demikianlah, maka cantrik yang meninggal setelah pada saat terakhir ia memberikan arti bagi hidupnya itu, telah dikuburkan sebagaimana seharusnya. Bahkan bagi orang-orang padepokan itu, cantrik itu merupakan seorang yang telah mengorbankan hidupnya bagi kepentingan yang besar. Ia tidak sekedar menyelamatkan diri dari medan pertempuran. Tetapi ia berbuat demikian bagi kepentingan sesama yang hidupnya terancam bahaya.

Karena itulah, maka Kiai Bagaswara pun segera memanggil beberapa orang yang dianggapnya dapat diajak berbicara. Dua orang jejanggan yang sudah cukup dewasa dan seorang putut yang memiliki wawasan yang cukup jauh.

Dari cantrik yang melihat kekuatan Ki Tumenggung Purbarana, maka Kiai Bagaswara dan pembantu-pembantunya dapat membayangkan, betapa besarnya kekuatan itu dibandingkan dengan kekuatan para cantrik di padepokan itu.

Padepokan yang lebih besar, tempat Ki Tumenggung itu pernah berguru telah dihancurkan. Bahkan tumpas tapis seakan-akan tidak tersisa sama sekali. Apalagi padepokan Kiai Bagaswara yang lebih kecil.

Karena itu, maka menurut perhitungan mereka, tidak ada gunanya untuk membenturkan kekuatan padepokan itu dengan kekuatan Ki Tumenggung Purbarana yang sudah memiliki pula pusaka berupa keris yang besar yang disebut Kiai Santak.

“Kita akan menyingkir,” berkata Kiai Bagaswara, “bukan sekedar untuk mencari selamat. Tetapi kita harus memperhitungkan segala kemungkinan. Para cantrik dari padepokan kakang Panembahan itu tidak sempat berbuat lain. Karena itu, maka mereka tidak mempunyai pilihan dari pada bertempur sampai orang yang terakhir.

Tetapi kita di sini masih mempunyai kesempatan. Kita tidak perlu membunuh diri bersama sama. Bukan berarti bahwa kita tidak setia kepada kebenaran. Tetapi kita tidak ingin melihat kematian yang tidak berarti apa-apa, karena jika kita bertempur sampai orang terakhir, nilainya tidak sama sebagaimana para cantrik dari padepokan kakang Panembahan.

Para putut, jejanggan dan para cantrik ternyata sependapat dengan guru mereka. Meskipun terbersit juga satu keinginan untuk melawan, tetapi pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh guru mereka itu masuk pula didalam akal mereka.

Karena itu, maka mereka pun segera bersiap siap untuk meninggalkan padepokan itu. Sebelum Ki Tumenggung datang, maka padepokan itu harus sudah dikosongkan.

“Jika kita terlambat, maka yang akan terjadi adalah seperti padepokan kakang Panembahan. Kita juga tidak akan mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka marilah, kita akan meninggalkan padepokan ini,” berkata Kiai Bagaswara, “aku menyeyogyakan kalian kembali ke padukuhan kalian masing-masing, sebagaimana pada saat-saat kalian berlibur. Tidak ada kesan apa pun yang pantas kalian tunjukkan kepada sanak kadang kalian, kecuali kegembiraan seperti biasanya. Tumenggung Purbarana tidak mengenal kalian seorang demi seorang, sehingga ia tidak akan mungkin menelusuri kalian sampai ke rumah kalian masing-masing. Sementara itu aku sendiri yang akan mengamati padepokan ini. Pada saatnya apabila mereka telah pergi, aku akan memberitahukan kepada kalian. Aku sudah tahu rumah kalian. Tetapi aku dapat juga memberi tahukan hal itu kepada dua tiga orang cantrik yang akan meneruskan pemberitahuan itu kepada saudara-saudaranya.”

Para cantrik pun mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Bagaswara pun berkata, “Marilah. Meskipun dengan sangat berat, kita akan mengosongkan padepokan ini sekarang. Kita akan meninggalkan padepokan ini dan kembali ke rumah kita masing-masing.”

Dengan demikian maka pada hari itu juga, padepokan itu telah menjadi kosong. Beberapa hari sebelum Ki Tumenggung tiba di padepokan itu. Sebagaimana padepokan itu akan dikosongkan, maka seisi padepokan itu pun telah diatur dan dibenahi dengan baik. Alat-alat dapur yang sudah dibersihkan, terletak teratur di paga bambu. Bilik-bilik pun nampak bersih sementara sanggar pun rasa-rasanya telah dipersiapkan sebaik-baiknya untuk dipakai setiap saat.

Dua hari semalam padepokan itu kosong sama sekali. Tikar dan perabot-perabot yang bersih sudah mulai dihinggapi debu yang semakin tebal. Sementara itu, pasukan Ki Tumenggung Purbarana sudah berada di perjalanan menuju ke padepokan itu. Mereka ternyata sedang bermalam di sebuah banjar padukuhan yang masih berjarak hampir sehari perjalanan.

Malam pun rasa-rasanya segera dihanyutkan oleh waktu. Ketika fajar menyingsing, maka beberapa orang perempuan sudah sibuk di banjar. Ternyata penduduk padukuhan itu adalah penduduk yang ramah-dan baik hati. Mereka masih sempat juga menyediakan makan pagi bagi sepasukan prajurit menurut pengertian mereka yang akan melanjutkan perjalanan ke Tegal Payung.

Demikianlah, setelah mengucapkan terima kasih, maka Ki Tumenggung Purbarana pun melanjutkan perjalanan mereka. Seperti sebelumnya, maka mereka sama sekali tidak berusaha untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Pasukan itu tidak peduli sama sekali jika orang-orang yang melihat mereka lewat menjadi ketakutan.

Ki Tumenggung memang terlalu percaya kepada kekuatan pasukannya. Ia pun yakin bahwa tidak akan ada pasukan yang dapat menyusul mereka karena arah perjalanan mereka di saat mereka meninggalkan Pajang tidak jelas. Jika kemudian ada laporan tentang sepasukan prajurit yang menyusup di padukuhan-padukuhan, maka pasukan Pajang akan memerlukan waktu untuk mencarinya. Sementara itu pasukan itu pun telah menjadi semakin jauh.

“Jika pasukan ini mencapai Tegal Payung, dan paman Bagaswara dapat menerima kedatanganku, maka Tegal Payung akan dapat aku jadikan alas berpijak meskipun agak terlalu jauh dari sasaran. Tetapi di Tegal Payung aku akan dapat menyusun kekuatan dari beberapa lingkungan yang akan dapat aku hubungi kemudian.” berkata Ki Tumenggung itu di dalam hatinya.

Dengan demikian maka rasa-rasanya Ki Tumenggung itu ingin cepat-cepat sampai ke tujuan. Ia ingin cepat bertemu dengan Kiai Bagaswara untuk menyampaikan persoalannya. Bahkan Ki Tumenggung itu hampir pasti, bahwa pamannya akan mendukungnya, karena ia sendiri pernah mengalami kekecewaan sebagai seorang prajurit.

Demikianlah, pasukan itu seakan akan berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan apapun juga. Hanya sekali kali saja mereka beristirahat. Kadang-kadang mereka telah memasuki sebuah padukuhan untuk minta beberapa puluh butir kelapa muda. Beberapa orang dengan jantung yang berdegupan terpaksa memanjat pohon-pohon kelapa untuk mengambil kelapa muda yang di minta oleh pasukan itu. Bahkan kemudian mereka pun melayani para prajurit yang kehausan itu. Memecah kelapa muda itu dan mencungkil dagingnya.

Dengan demikian, maka perjalanan ke Tegal Payung itu terasa lebih cepat dari yang mereka perhitungkan. Perjalanan itu tidak memerlukan waktu sehari. Ketika matahari mulai turun di sisi langit sebelah barat, maka mereka telah menjadi semakin dekat dengan tujuan.

“Aku pernah mengunjungi paman,” berkata Ki Tumenggung, “padepokannya terletak di pinggir sebuah sungai kecil, di antara padang perdu yang luas. Sebuah hutan terbentang di seberang sungai kecil itu dan merupakan tempat berburu bagi para cantrik. Tempat itu memang menyenangkan sekali. Di sebelah padang perdu, adalah tanah persawahan yang digarap oleh para cantrik dengan menaikkan air dari sungai kecil itu. Tetapi cukup untuk sebidang sawah yang cukup luas. Hasilnya berlebihan bagi makan mereka sehingga dalam saat-saat tertentu mereka sempat menukarkan kelebihan hasil sawah mereka dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain.”

Dengan keterangan-keterangan itu, maka seluruh pasukan pun berharap-harap cemas. Mereka memang menginginkan untuk sampai ke satu tempat yang dapat memberikan sedikit kesempatan bagi mereka untuk benar-benar beristirahat dan kemudian menyusun diri. Mereka telah terlalu lama berada dalam kelelahan lahir dan batin.

Karena itu, maka Tegal Payung memang merupakan satu tujuan yang memberikan pengharapan bagi mereka.

Hati mereka telah mulai merasa sejuk ketika mereka memasuki sebuah padang perdu. Mereka menelusuri sungai yang tidak begitu besar yang kemudian akan sampai ke sebuah padepokan. Padepokan yang dipimpin oleh Kiai Bagaswara.

Ki Tumenggung Purbarana yang berjalan di paling depan tiba-tiba saja berkata lantang, “Lihat. Kau lihat gerumbul hijau di hadapan kita. Seperti sebuah pulau yang diselubungi oleh permadani yang berwarna hijau? Nah, itulah padepokan paman Bagaswara.”

Setiap orang di dalam pasukan itu seakan-akan tersenyum mendengar keterangan itu. Mereka memandang padepokan yang masih nampak samar-samar di hadapan mereka dengan hati yang sejuk. Sementara panas matahari yang mulai menurun masih terasa membakar kulit, para prajurit itu mulai membayangkan sejuknya padepokan yang penuh dengan pohon buah buahan. Kolam yang luas dengan berbagai ikan di dalamnya. Binatang peliharaan dan bermacam-macam kesejukan yang lain.

“Minuman yang segar,” desis seorang prajurit yang kehausan setidak-tidaknya seperti yang kita dapatkan di perjalanan. Kelapa muda.

“Wedang sere dengan gula kelapa,” sahut yang lain, “sambil berbaring di bawah sebatang pohon jambu air yang lebat dan menunggu nasi masak. Sementara itu seekor kambing telah disembelih bagi kita semua ini.

Kawannya tertawa. Tetapi tertawa itu terasa masam sekali.

“Kenapa kau tertawa begitu, seakan akan kau tidak lagi memiliki gairah sama sekali?” bertanya orang yang pertama.

“Aku sudah terlalu lama menderita, sehingga aku kehilangan kepercayaan bahwa penderitaan ini pada satu saat akan berakhir jawab prajurit yang tertawa masam sekali itu.

“Kau mudah sekali menjadi berputus asa. Bukan watak seorang prajurit sejati.” sahut kawannya yang lain.

Tetapi prajurit itu masih tertawa. Katanya, “Apa bedanya antara berputus asa dan menerima kenyataan yang tidak terelakkan. Apa yang dapat kau katakan terhadap orang-orang yang tertawan di Mataram dan yang menjadi cacat karena pertempuran? Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. Mereka harus menerimanya tanpa dapat disebut berputus asa, karena mereka masih dapat memikul beban.”

“Tetapi kau mempunyai kesempatan lebih baik dari mereka,” jawab yang lain, “bahkan yang cacat dan tertawan itupun masih berpengharapan untuk dapat hidup wajar dan bebas dari himpitan dinding tahanan untuk menempuh satu kehidupan yang lebih baik.

“Sedangkan kenyataan yang harus aku alami adalah, penderitaan yang tidak akan pernah berakhir.” jawab prajurit itu.

Kawannya hanya menarik nafas saja. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Agaknya prajurit itu telah kehilangan sama sekali harapan bagi masa depannya yang lebih baik.

Demikianlah, langkah demi langkah iring-iringan itu mendekati satu padepokan yang nampak hijau. Semakin lama semakin jelas. Pepohonan tumbuh dengan suburnya. Bahkan kemudian setiap orang di dalam pasukan itu melihat dinding padepokan yang tidak terlalu tinggi.

Rasa-rasanya semua orang ingin meloncat lebih cepat lagi untuk segera sampai ke tempat yang nampaknya sangat teduh dan segar itu. Namun mereka harus melangkah satu-satu menyusuri tebing sungai yang tidak terlalu besar.

Namun, akhirnya jarak itu pun terlintasi. Sejenak kemudian Ki Tumenggung Purbarana telah berdiri di muka regol padepokan itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeser pedang di lambungnya ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya.

Kemudian dengan hati-hati, seakan-akan Ki Tumenggung itu takut bahwa regol itu akan roboh, ia mendorong pintu yang ternyata tidak diselarak.

“Marilah, kita masuk,”  perintah Ki Tumenggung, “tetapi jangan gaduh. Mungkin paman sedang beristirahat. Tetapi mungkin sedang berada di sanggar.”

Dengan demikian, maka para prajurit itu pun kemudian mengikuti Ki Tumenggung memasuki regol. Mereka melintasi halaman dan langsung menebar.

Bagaimanapun juga, memang sulit mengatur orang dalam jumlah yang banyak. Demikian mereka berada di dalam padepokan, maka kegaduhan itu pun tidak dapat dihindari. Beberapa orang yang melihat jambu air yang bergayutan di pohonnya, tidak menunggu lebih lama lagi. Tanpa mempedulikan apapun juga, mereka langsung menggapai jambu air itu. Bahkan dua tiga orang telah memanjat dan bertengger di dahan-dahannya.

Bukan saja jambu air, bahkan pohon duwet yang buahnya memenuhi cabang-cabangnya pun telah dipanjati pula. Yang lain langsung berbaring sambil berdesah. Sementara satu dua orang duduk-duduk di rerumputan di pinggir kolam yang berair jernih.

Ki Tumenggung sendiri langsung pergi ke pendapa. Ia termangu-mangu sejenak menyaksikan para pengikutnya yang menjadi ribut. Namun terasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Rasa-rasanya padepokan itu sangat sepi.

“Nampaknya halaman ini tidak disentuh sehari ini.” berkata Ki Tumenggung didalam hatinya. Ia melihat daun-daun kering yang bertebaran di halaman yang luas.

Sejenak kemudian Ki Tumenggung itu justru menjadi curiga. Dengan serta merta iapun meloncat ke pendapa dan langsung menuju ke pringgitan. Bahkan kemudian didorongnya pintu pringgitan, sehingga pintu yang tidak diselarak itu terbuka lebar.

Jantungnya terasa berdentang semakin keras. Ia tidak melihat seorang pun. Karena itu, maka ia pun kemudian berlari-lari memasuki rumah induk padepokan itu sampai ke serambi belakang.

Kecurigaan Ki Tumenggung semakin memuncak. Iapun kemudian berlari-lari ke setiap bilik didalam rumah induk itu. Bahkan kemudian ia mulai memanggil, “Paman, paman Bagaswara.”

Suaranya melingkar-lingkar di dalam rumah itu. Namun tidak terdengar seorang pun menjawab.

“Paman.” Ki Tumenggung itu mengulangi semakin keras, sehingga beberapa orang perwira yang duduk di pendapa mendengarnya.

Beberapa orang di antara mereka pun telah bangkit dan memasuki rumah itu pula.

“Apakah Ki Bagaswara tidak ada di rumah?” bertanya salah seorang perwiranya.

“Gila. Rumah ini nampaknya sepi sekali,” jawab Ki Tumenggung yang tiba-tiba saja berteriak, “He, anak-anak. Cari seseorang di seluruh padepokan ini. Siapapun juga yang ada, bawa ia kemari.”

Para prajurit yang sedang beristirahat itupun terkejut. Mereka pun segera bangkit. Beberapa orang perwira telah mengulangi perintah Ki Tumenggung. Bahkan beberapa orang perwira telah ikut pula bersama mereka mencari seseorang, siapa pun yang ada di padepokan itu.

Tetapi ternyata padepokan itu memang sudah kosong. Tidak ada seorang pun, yang mereka temui. Apalagi Kiai Bagaswara, seorang cantrik pun tidak ada yang masih tinggal di padepokan itu.

“O, sungguh-sungguh gila.” teriak Ki Tumenggung ketika ia mendapat laporan bahwa padepokan itu telah kosong.

“Semua ruang dan bilik nampak teratur dan bersih, meskipun sudah mulai berdebu. Nampaknya dua tiga hari padepokan ini telah dikosongkan.” berkata salah seorang perwira.

Ki Tumenggung mengumpat-umpat kasar. Bahkan hampir setiap orang di dalam pasukan itu ikut mengumpat pula. Mereka yang bermimpi untuk minum wedang sere hangat-hangat atau yang ingin menyuapi mulutnya dengan nasi hangat dan daging kambing yang masih muda, telah memaki dengan kasar.

Namun di antara mereka seorang prajurit masih saja terbaring di bawah bayang-bayang pohon yang rimbun. Ia sama sekali tidak mengumpat dan tidak pula menjadi gelisah.

“He,” seorang kawannya mendepak kakinya, “kau masih juga berbaring dengan tenang? Nampaknya kau sama sekali tidak peduli terhadap keadaan yang kita hadapi sekarang. Kita akan kelaparan dan kehausan.”

Tetapi prajurit itu tersenyum. Jawabnya, “aku sudah terlalu lama mengalami kesulitan dan penderitaan, sehingga aku tidak percaya bahwa penderitaanku akan cepat berakhir. Karena itu, apa yang aku hadapi sekarang sama sekali tidak mengejutkan aku. Kalian yang terlalu mengharap ternyata justru mengalami kejutan yang lebih parah dari aku yang sudah mengalasi perasaanku dengan tidak berpengharapan apa-apa.”

“Uh, kau memang sudah gila.” geram kawannya.

Tetapi prajurit itu tersenyum. Bahkan kemudian matanya mulai terkatub. Katanya, “Aku mengantuk sekali.”

Dalam pada itu, Ki Tumenggung yang berada di ruang dalam masih saja marah-marah tanpa diketahui siapakah yang harus dimarahi. Setiap kali ia masih membentak-bentak. Ketika seorang perwira muda berdiri termangu-mangu di pintu, Purbarana telah membentaknya, “Cepat. Cari Kiai Bagaswara sampai ketemu. Perintahkan semua orang untuk mencari tidak saja di dalam lingkungan padepokan ini. Tetapi cari di luar padepokan. Di sungai, di goa-goa. Mungkin mereka bersembunyi di sana.”

Perwira muda itu terkejut. Namun iapun kemudian melangkah mundur dan keluar dari ruang dalam.

Sementara itu, Ki Tumenggung Purbarana yang marah itu tiba-tiba saja telah memukul dinding penyekat di ruang dalam sehingga dinding itu pecah berserakan.

Beberapa orang dengan tergesa-gesa mendekatinya. Namun Purbarana justru berteriak, “Permainan gila. Benar-benar satu permainan gila. Siapakah diantara kalian yang telah berkhianat dan mengabarkan rencana kedatangan kami ke padepokan ini?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sementara itu Tumenggung Purbarana berteriak pula, “Tentu ada diantara kita yang berkhianat. Kita sudah membunuh semua orang cantrik dari padepokan guru. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk memberitahukan apa yang terjadi itu kepada paman Bagaswara. Apalagi mereka tentu tidak tahu bahwa kita akan pergi ke padepokan ini.”

Ketika masih belum ada yang menjawab, Ki Tumenggung berteriak semakin keras, “Cari. Cari seseorang yang telah berkhianat. Bawa ia kemari. Aku harus membunuhnya.”

Namun dalam pada itu, seorang perwira yang sudah berambut putih melangkah maju sambil berkata, “Sabarlah Ki Tumenggung. Kita memang merasa sangat kecewa. Tetapi kita masih dapat berpikir jernih. Tentu tidak mungkin kita dapat menemukan seorang pengkhianat di antara kita. Karena tentu tidak akan ada orang yang berkhianat. Apakah keuntungan kita untuk berkhianat? Seandainya ada juga orang yang berbuat demikian, maka aku yakin bahwa orang itu sudah pergi bersama Kiai Bagaswara.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Kemudian katanya lantang, “Mungkin. Mungkin kau benar. Jika demikian, tentu ada satu atau dua orang cantrik yang lolos. Bukankah menurut penglihatan kita semua cantrik telah terbunuh.”

“Hal itu mungkin saja terjadi,” jawab perwira itu, “mungkin cantrik itu sedang tidak ada di padepokan saat terjadinya pertempuran. Ia hanya melihat saat-saat terakhir, pada waktu kita semuanya memusatkan perhatian kita kepada para cantrik sehingga kita tidak mengetahui, bahwa kita sedang diamati oleh seorang cantrik dari luar padepokan.”

“Jika demikian, kenapa ia memberitahukan hal itu kepada paman Bagaswara? Apakah cantrik itu mengetahui bahwa kita akan pergi ke padepokan ini?”

“Ki Tumenggung,” jawab perwira itu, “Kiai Bagaswara adalah saudara seperguruan dari guru Ki Tumenggung itu. Karena itu, maka adalah wajar sekali jika satu atau dua orang cantrik yang sempat menyelamatkan diri pergi ke padepokan ini dan menceritakan apa yang dilihatnya meskipun tidak begitu jelas.

Ki Tumenggung menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Memang mungkin. Dengan demikian maka paman Bagaswara telah menghindarkan diri.” ia berhenti sejenak. Namun sekali lagi ia menghantam dinding kayu penyekat dan sekali lagi bagian dinding itupun pecah seperti yang terdahulu, “aku harus menemui paman Bagaswara. Ia menghindari aku, karena ia belum tahu apa yang akan aku katakan. Jika paman mengerti, maka paman tentu akan dapat menerima rencanaku.”

“Tetapi Kiai Bagaswara itu sudah pergi.” jawab perwira itu.

“Aku akan memerintahkan semua orang untuk mencarinya di sekitar padepokan ini. Mungkin di padukuhan-padukuhan terdekat, atau mungkin di tempat-tempat lain.” geram Ki Tumenggung.

“Sulit untuk menemukannya,” berkata perwira itu, “meskipun demikian Ki Tumenggung dapat mencobanya.”

Wajah Ki Tumenggung menjadi merah. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Bakar. Bakar semua bangunan yang ada di padepokan ini.”

“Ki Tumenggung.” hampir bersama beberapa orang prajurit berdesis.

“Aku tidak peduli. Padepokan ini harus dibakar sampai lumat.” teriaknya.

Namun perwira berambut putih itu berkata dengan nada sareh, “Tunggu Ki Tumenggung. Apakah Ki Tumenggung tidak mempunyai pertimbangan lain. Seandainya Ki Tumenggung membakar padepokan ini, maka Ki Tumenggung sudah memutuskan untuk tidak akan pernah berhubungan lagi dengan paman guru Ki Tumenggung. Kiai Bagaswara tentu akan marah, dan bahkan akan berdiri sebagai lawan Ki Tumenggung. Padahal, segalanya masih belum pasti. Mungkin Kiai Bagaswara memang menghindari Ki Tumenggung. Tetapi sebelum ia mendengar penjelasan Ki Tumenggung. Jika pada suatu kesempatan Ki Tumenggung masih dapat menjumpainya, maka Ki Tumenggung masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dan mungkin membujuknya.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Seorang pengkhianat tentu sudah mengatakan apa yang telah terjadi.”

“Tetapi apakah Ki Tumenggung yakin, bahwa yang dikatakannya itu cukup lengkap sebagaimana telah terjadi?” bertanya perwira itu.

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku tidak akan membakar padepokan ini untuk jangka waktu tertentu.”

“Dengan demikian, kita akan sempat mendapat tempat berteduh Ki Tumenggung,” berkata perwira itu, “jika kelak ternyata padepokan ini serta Kiai Bagaswara tidak akan dapat memberikan arti apa-apa lagi, maka padepokan ini dibakar.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Ia sependapat, bahwa untuk sementara bangunan-bangunan yang ada di padepokan itu akan dapat dipergunakan bagi para prajuritnya. Sementara itu, ia tidak menutup segala kemungkinan untuk berbicara dengan pamannya itu.

Namun ada satu masalah yang harus dipecahkan. Pangan. Selama mereka berada di padepokan itu, maka mereka harus makan.

Karena itu, maka setelah berbicara sejenak dengan para perwira, Ki Tumenggung pun telah turun sendiri ke halaman. Dicarinya lumbung pada padepokan itu untuk melihat, apakah masih ada persediaan pangan.

Ternyata Kiai Bagaswara adalah orang yang terlalu baik. Meskipun ia sadar, apa yang terjadi, namun ia tidak mengosongkan sama sekali lumbung padepokannya. Meskipun ia menganjurkan para cantrik untuk menyingkirkan semua binatang peliharaan, tetapi ia tidak sampai hati untuk mengosongkan lumbungnya.

Tetapi, Kiai Bagaswara hanya menyisakan isi lumbungnya untuk tiga empat hari saja. Tidak lebih, sesuai dengan perkiraan dari cantrik yang telah menemuinya, berapa banyaknya para pengikut Ki Tumenggung Purbarana.

Dengan sisa persediaan bahan makan di lumbung itu, kemarahan Ki Tumenggung agak mereda. Apalagi ketika ia sendiri pergi ke dapur. Dilihatnya alat-alat dapur sudah tersusun rapi di atas paga. Siapa yang memerlukannya, tinggal memakainya sesuai dengan kebutuhan.

“Tetapi apakah kita hanya akan makan nasi saja?” bertanya Ki Tumenggung.

“Tentu tidak Ki Tumenggung,” jawab salah seorang perwiranya, “di padepokan ini kita dapat menemukan sayur-sayuran yang akan dapat kita masak. Sementara itu, jika kita menginginkan lauk-pauk, maka kita dapat memasuki hutan itu untuk mencari binatang buruan.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Namun katanya, “Kita semuanya sudah merasa lapar setelah sehari berjalan. Karena itu, siapa yang dapat menyediakan makanan bagi kita, biarlah ia melakukannya.”

Dengan demikian, ketika Ki Tumenggung pun kemudian kembali ke rumah induk, beberapa orang telah mendapatkan tugas untuk menanak nasi. Dengan sukarela beberapa orang menyatakan, bahwa mereka dapat melakukannya. Sementara beberapa orang yang lain, sambil melihat-lihat keadaan di sekitarnya, telah pergi ke hutan untuk mencari binatang buruan.

Namun Ki Tumenggung telah berpesan, jika mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang, dan mempunyai kebiasaan mengurai rambut dan menyangkutkan ikat kepala yang tidak dipakainya di lehernya, maka mereka supaya segera membawa orang itu menghadap.

“Itu adalah ciri-ciri paman Bagaswara.” berkata Ki Tumenggung.

“Berapakah kira-kira umur Kiai Bagaswara?” bertanya salah seorang dari mereka yang akan pergi berburu, “Enam puluh lebih sedikit. Tetapi terakhir aku lihat beberapa tahun yang lalu, ujudnya masih seperti seorang yang berumur sepuluh tahun.”

Para prajuritnya mengangguk-angguk. Orang-orang yang mempunyai cara hidup yang akrab dengan alam, biasanya memang tidak cepat menjadi tua.

Demikianlah, di hari yang semakin suram itu, beberapa orang di padepokan Kiai Bagaswara yang telah kosong, sibuk memasak. Sementara yang lain pergi berburu ke hutan. Tetapi, karena malam sudah mulai membayang, maka tidak banyak yang dapat dilakukan oleh para pemburu. Meskipun demikian mereka mendapatkan juga beberapa ekor ayam alas dan seekor kijang tua yang agaknya tersesat.

Tetapi sementara itu, di padepokan Ki Tumenggung dan para pengikutnya ternyata tidak mendapatkan minyak setitik pun untuk lampu dan apalagi untuk masak, untuk menggoreng daging ayam hutan.

Ki Tumenggung dan para pengikutnya mengumpat-umpat. Mereka terpaksa membuat api di halaman dengan kayu dan ranting kering.

Namun, beberapa orang justru lebih senang berada di sekitar api itu sambil menghangatkan tubuh mereka. Sementara di dapur orang-orang sibuk menyelesaikan tugas mereka.

Akhirnya nasi, sayur dan lakunya pun telah siap apa pun ujudnya. Karena perut yang lapar, maka apapun terasa nikmat juga untuk ditelan sambil duduk melingkari perapian yang mereka buat di halaman dan di kebun.

Sementara itu, masih belum ada seorang pun di antara para pengikut Ki Tumenggung yang melihat seseorang sebagaimana disebut dengan ciri-cirinya. Beberapa orang memang berpendapat bahwa Kiai Bagaswara dan para cantrik tentu mengungsi ke tempat yang cukup jauh untuk di capai oleh Ki Tumenggung dan para pengikutnya.

Tetapi dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Kiai Bagaswara sama sekali tidak meninggalkan padepokannya terlalu jauh. Ia masih berada di sekitar padepokannya. Bahkan ia sempat menyaksikan, saat-saat Ki Tumenggung Purbarana dan para pengikutnya memasuki padepokannya.

Kiai Bagaswara itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat iring-iringan yang besar itu. Meskipun ia sudah mendapat laporan tentang pasukan itu, tetapi ketika ia melihat sendiri, ia menjadi berdebar debar. Itulah agaknya, maka pasukan itu dapat menghancurkan seisi padepokan saudara tua seperguruannya. Bahkan adalah guru dari Ki Tumenggung sendiri. Apalagi menurut cantrik yang terluka, kemungkinan terbesar sebagaimana dilihat oleh cantrik itu, Kiai Santak akan selalu berada di tangan Ki Tumenggung itu. Kiai Santak yang sangat dikaguminya. Pusaka dari perguruannya yang oleh gurunya diwariskan kepada saudara tertua di dalam perguruan itu. Namun yang kemudian telah jatuh ke tangan seseorang yang seharusnya tidak berhak.

“Dengan ilmu yang telah didapatkannya dan dengan Kiai Santak di tangan, Ki Tumenggung akan menjadi seorang yang sangat menakutkan.” berkata Kiai Bagaswara.

Tanpa disadarinya ia pun meraba senjatanya. Sebilah luwuk yang juga diwarisinya dari gurunya.

Kiai Bagaswara menarik nafas dalam-dalam. Ia juga mendengar dari cantrik yang datang kepadanya, bahwa murid tertua saudara seperguruannya, Putut Pradapa yang memiliki ilmu yang sudah lengkap dari perguruannya, telah terbunuh juga oleh Ki Tumenggung Purbarana, justru setelah Ki Tumenggung menggenggam keris Kiai Santak.

Sejenak Kiai Bagaswara termangu-mangu. Luwuk yang diwarisinya itu pun mempunyai kekuatan yang hampir sama dengan Kiai Santak meskipun ujudnya lebih sederhana, karena luwuk mirip dengan sebilah pedang biasa. Tetapi cara pembuatannya yang mirip dengan membuat sebilah keris.

Namun, akhirnya Kiai Bagaswara menggeleng lemah. Katanya, “Adalah tidak pantas jika aku berkelahi melawan anak-anak. Betapapun nakalnya anak itu, aku harus mencari pemecahan lain. Tidak dengan kekerasan senjata.”

Tetapi sementara itu, Kiai Bagaswara tidak ingin meninggalkan padepokannya. Ia ingin selalu mengawasi apa yang akan terjadi. Meskipun ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat mencegahnya, seandainya Purbarana akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya atas padepokannya.

Dalam pengamatannya, maka Kiai Bagaswara itu dapat melihat, satu dua orang pengikut Ki Tumenggung Purbarana itu telah pergi berburu dengan menyandang busur dan anak panah. Di hari kedua, ada juga beberapa orang yang pergi ke hutan.

Tiba-tiba saja timbul satu keinginan Kiai Bagaswara untuk berbicara dengan mereka. Dengan menemui mereka di hutan, maka Kiai Bagaswara akan dapat berbicara serba sedikit dengan para pengikut Ki Tumenggung itu.

“Tetapi sudah barang tentu tidak dalam ujudku ini.” berkata Kiai Bagaswara.

Karena itulah, maka Kiai Bagaswara pun telah berusaha untuk merubah semua kebiasaannya. Ia sadar akan ujud dan bentuk tubuhnya. Karena itu, ia harus berbuat sesuatu yang dapat memperkecil ujudnya itu.

Demikianlah, maka ketika beberapa orang pengikut Ki Tumenggung Purbarana itu sedang berburu, maka mereka telah tertarik ketika mereka melihat seseorang yang duduk di bawah sebatang pohon di pinggir hutan itu. Seorang yang sudah berusia lanjut mengenakan ikat kepala berwarna gelap.

“Apakah orang itu salah seorang dari penghuni padepokan?” bertanya salah seorang di antara mereka kepada kawan-kawannya.

“Entahlah. Tetapi orang itu nampaknya sudah terlalu tua.” jawab yang lain.

Meskipun demikian, ada juga seseorang di antara orang-orang yang berburu itu datang mendekatinya. Namun orang itu sama sekali tidak berpaling ke arahnya.

“He, Ki Sanak. Apa yang kau lakukan disini?” bertanya orang itu.

Orang itu masih saja tidak berpaling, sehingga prajurit Ki Purbarana itu terpaksa mengulangi pertanyaannya.

Ketika orang itu masih diam saja, maka prajurit itupun telah berteriak, “He, apakah yang kau lakukan disini?”

Ternyata orang itu berpaling. Ketika ia melihat prajurit itu berdiri di sampingnya maka iapun bergeser surut. Tetapi ia pun kemudian tertawa sambil bangkit berdiri.

Ternyata orang tua itu adalah orang yang agak bongkok dan timpang.

“Eh, kau mengejutkan aku Ki Sanak. Kau bertanya apa?” bertanya orang tua yang terbongkok itu.

“Kau sedang apa kakek?” bertanya prajurit itu keras-keras.

Orang tua itu memiringkan kepalanya untuk dapat mendengar pertanyaan prajurit itu. Kemudian jawabnya, “O, aku sedang mencari jamur so. He, apakah kau pernah makan jamur so? Enaknya melampaui hati ayam.”

“Rumahmu mana kek?” bertanya prajurit itu pula.

Tetapi jawab orang itu meleset, “Disana Ki Sanak. Di lereng itu banyak terdapat jamur so.“

“Aku bertanya, dimana rumahmu?” prajurit itu berteriak semakin keras.

“O” orang tua itu tertawa lagi. Katanya “Maaf Ki Sanak. Telingaku memang sudah cacat. Ketika aku masih muda, telingaku terkena penyakit sehingga aku menjadi tuli,” Ia mengangguk-angguk sambil mengusap matanya yang sipit. Lalu katanya, “Rumahku di padukuhan sebelah Ki Sanak. Menelusuri sungai kecil itu ke Utara. Disana ada sebuah padukuhan kecil.”

“Kakek tua,” berkata prajurit itu lagi, “apakah kau pernah mengenali orang-orang yang tinggal di padepokan itu?

Orang itu berpikir sejenak. Lalu, “Padepokan itu maksudmu Ki Sanak.”

“Ya” prajurit itu masih berteriak-teriak.

“Tentu saja aku kenal. Aku sering pergi ke padepokan itu. Setiap kali aku datang, aku mendapat beras seberuk penuh. Para cantrik di padepokan itu menggarap sawah di sebelah padukuhanku.

“Kau mengenal orang yang bernama Kiai Bagaswara?” bertanya prajurit itu.

“Siapa?” bertanya orang tua itu.

“Kiai Bagaswara.” prajurit itu berteriak.

“O, tentu saja aku kenal,” jawab orang tua itu, “kenapa dengan Kiai Bagaswara?

Ia tidak ada di padepokannya. Apakah kau melihat, dimana ia sekarang tinggal? Maksudku, jika ia tidak berada di padepokannya, dimanakah kira-kira Kiai Bagaswara itu berada?” bertanya prajurit itu keras-keras.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun menjawab, “Orang itu memang jarang-jarang berada di padepokan. Ia lebih banyak berada di tempat-tempat sepi untuk menjalani laku dalam usahanya menyempurnakan dirinya. Aku pernah mendengar sekali, ia berjalan tujuh, hari tujuh malam tanpa berhenti. Dua orang cantrik yang mengikutinya terpaksa berhenti di tengah jalan, karena kakinya menjadi bengkak.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Namun justru karena itu ia mulai berpikir, apakah Kiai Bagaswara itu memang sedang keluar dari padepokannya untuk satu kepentingan sebagaimana ia sedang menjalani laku seperti dikatakan oleh orang tua itu.

Karena itu, maka iapun kemudian bertanya lagi sambil berteriak, “Kakek tua. Apakah kau tahu, kemana Kiai Bagaswara sekarang pergi atau barangkali menjalani laku seperti yang kau katakan?”

Kakek tua itu termangu-mangu sejenak. Ia bergeser surut ketika ia melihat beberapa orang mendekatinya. Seorang di antara para prajurit itu berkata kepada kawannya yang sedang berteriak-teriak bertanya kepada orang tua itu, “Apa yang akan kau dapatkan dari seorang yang tuli seperti itu?”

“Ia mengenal Kiai Bagaswara.” jawab kawannya.

“Sekedar menerima pemberian seberuk beras. Tidak lebih dari itu.” gumam kawannya.

Namun prajurit itu menjawab, “Mungkin aku mendapatkan beberapa keterangan yang penting.”

“Jangan berteriak. Aku tidak tuli seperti orang tua itu.” sahut kawannya.

“O” prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian sekali lagi ia bertanya kepada orang tua yang tuli itu, “Apakah kau tahu dimana Kiai Bagaswara berada?”

Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Tetapi apakah ia tidak ada di padepokan?”

“Tidak. Aku berada di padepokan itu.” jawab prajurit itu.

“O, jadi Ki Sanak berada di padepokan itu?” orang tua itulah yang kemudian bertanya, “apakah Ki Sanak muridnya atau saudaranya?”

“Aku datang bersama murid kakak seperguruan Kiai Bagaswara. Ki Tumenggung Purbarana,” jawab prajurit itu keras-keras.

Namun kawannya memotongnya, “Buat apa kau katakan hal itu kepadanya?”

Prajurit itu berpaling kepada kawannya. Katanya, “Mungkin orang itu sengaja atau tidak sengaja bertemu dengan Kiai Bagaswara, maka ia akan dapat mengatakan bahwa Ki Tumenggung ada di padepokannya.”

“Ia justru menyingkir.” jawab kawannya.

“Itu sekedar dugaan. Mungkin Kiai Bagaswara sedang membawa semua cantriknya untuk menjalani laku yang sangat penting bagi ilmunya.” jawab prajurit itu.

Kawannya merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Mustahil jika tidak ada seorang pun yang tinggal.”

“Jika ia sengaja menyingkir karena laporan tentang keadaan padepokan dari guru Ki Tumenggung, kenapa masih ada sisa bahan makan di lumbung. Jika hal itu benar-benar disebabkan karena kecemasan akan datangnya Ki Tumenggung, maka lumbung itu tentu sudah dikosongkan. Jika mereka tidak sempat membawa pergi, maka lumbung itu tentu akan dibakarnya.” jawab kawannya.

Orang tua yang tuli itu memiringkan kepalanya. Tetapi pada wajahnya sama sekali tidak terkesan bahwa ia mendengar pembicaraan para prajurit itu. Meskipun sekali-sekali ia memandang prajurit yang seorang, kemudian memandang yang lain, namun agaknya ia hanya dapat melihat gerak bibir para prajurit itu saja.

Sementara itu, maka prajurit yang sudah bercakap-cakap dengan orang tua itu sebelumnya, berkata keras-keras, “Tolong Kakek. Jika kau melihat Kiai Bagaswara, sampaikan kepadanya atau kau sajalah yang datang ke padepokan itu untuk memberitahukan kepada kami dimanakah Kiai Bagaswara berada. Kau akan mendapat tidak hanya seberuk beras. Tetapi tiga beruk.”

“He? Tiga beruk beras? Apakah kalian sekarang membawa beras untuk aku?” bertanya orang itu.

“Orang gila” geram prajurit itu, sementara beberapa orang kawannya justru tersenyum.

Prajurit itu mengulangi sambil berteriak, “Jika kau datang dan menunjukkan dimana Kiai Bagaswara berada, kau akan mendapat tiga beruk beras dan seekor kambing.”

“O” orang itu mengangguk-angguk, “terima kasih. Jika aku melihat Kiai Bagaswara aku akan memberitahukan kepada kalian di padepokan. Aku sudah lama sekali merindukan seekor kambing.”

“Baiklah,” berkata prajurit itu sambil berteriak pula, “sekarang aku akan pergi berburu.”

“O, untuk apa?” bertanya orang tua itu.

“Kami ingin daging rusa muda.” jawab prajurit itu.

“Sebaiknya kalian tidak membunuh binatang hutan. Biar sajalah mereka hidup dengan tenang dan damai. Apa salah mereka, sehingga seekor kijang harus dibunuh?” bertanya orang tua itu.

“Orang tua ini memang gila” desis prajurit itu yang kemudian berteriak menjawab, “Salah mereka adalah, bahwa daging kijang itu termasuk daging yang paling enak. Itu saja. Jika dagingmu seenak daging kijang, maka kau pun akan kami buru.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Agaknya ada beberapa kata yang tertinggal dari pendengarannya. Namun akhirnya orang tua itupun tertawa, “Terima kasih” tiba-tiba saja ia menjawab, “ jika kalian sudi berburu untuk aku. Tetapi aku tidak ingin daging kijang.”

“Persetan” geram prajurit itu, “marilah kita pergi.” katanya kemudian kepada kawan-kawannya.

Para prajurit itu pun kemudian bersiap melanjutkan perjalanan mereka untuk berburu. Namun prajurit yang seorang itu masih berpaling dan berkata sambil berteriak, “Marilah kek. Jika kau nanti mendapatkan jamur so maka pertanda bahwa aku pun mendapat seekor kijang.”

Orang itu tertawa sambil mengangguk-angguk. Sementara itu, maka iring-iringan itu pun berjalan semakin lama semakin jauh. Yang kemudian nampak di punggung mereka adalah sebuah endong dan anak panah yang cukup, sementara di tangan mereka tergenggam busur, sedangkan di lambung tersangkut sebilah pedang panjang.

Agaknya para prajurit itu juga memperhitungkan angin yang bertiup dalam perburuan mereka, karena angin akan ikut menentukan arah bau tubuh mereka menusuk ke dalam lebatnya hutan.

Demikian para prajurit itu meninggalkannya, maka orang tua yang tuli itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia tegak, maka barulah nampak tubuhnya yang tegap kekar. Kakinya sama sekali tidak timpang dan sebenarnyalah bahwa ia samasekali tidak menjadi tuli.

Dari pembicaraan yang berhasil disadapnya maka Kiai Bagaswara itu yakin, bahwa yang didengarnya dari para cantrik bukannya satu hal yang sangat dibesar-besarkan. Peristiwa itu benar-benar telah terjadi di padepokan saudara tua seperguruannya.

Ada semacam gejolak di dalam hati Kiai Bagaswara untuk menghukum murid saudara tua seperguruan itu. Ia adalah contoh dari seseorang yang telah berani melawan gurunya. Bahkan telah membunuhnya dan merampas pusakanya. Pusaka yang pada suatu saat akan diwariskannya kepada seorang muridnya yang paling sesuai dengan jenis pusaka itu.

Tetapi Kiai Bagaswara harus menahan dirinya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa Ki Tumenggung Purbarana telah membawa kekuatan yang sangat besar. Betapapun tinggi ilmunya, ia tidak akan dapat melawan orang sebanyak itu. Bahkan seandainya ia membawa semua cantrik dan jejanggan, maka yang terjadi adalah pembantaian seperti yang telah terjadi sebelumnya.

“Ada bedanya,” gumam Kiai Bagaswara, “murid-murid kakang Panembahan bertempur berurutan. Mula-mula kakang Panembahan terbunuh. Kemudian Putut Pradapa. Baru para cantrik turun ke gelanggang dengan keputus-asaan. Tetapi jika kakang Panembahan, Putut Pradapa dan para cantrik turun bersama-sama, mungkin akibatnya akan lain. Demikian juga jika aku, seorang pututku, jejanggan dan para cantrik turun bersama-sama ke medan, akibatnya tentu akan lain. Mereka tidak akan dapat membinasakan kami seluruhnya. Tetapi mungkin akan dapat terjadi sebaliknya.”

Tetapi, bagi Kiai Bagaswara pembantaian yang demikian, pihak yang manapun yang akan tumpas tapis sampai orang terakhir, akan merupakan satu peristiwa yang sangat mengerikan. Sebagaimana ia membayangkan telah terjadi di padepokan saudara tua seperguruannya. Karena itu, maka Kiai Bagaswara telah mengesampingkan rencana untuk melakukan benturan beradu dada.

“Apakah aku dapat berusaha dengan cara yang lebih baik?” bertanya Kiai Bagaswara itu kepada diri sendiri.

Namun orang tua itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya jalan yang akan ditempuhnya nampak sangat gelap.

Sementara itu, di padepokan Ki Tumenggung yang kecewa itu pun telah mempersiapkan diri untuk satu perjuangan menurut sudut pandangannya, yang panjang dan lama. Beberapa orang perwiranya sependapat bahwa Ki Tumenggung akan menghubungi seorang pemimpin padepokan yang disebutnya Kiai Linduk. Meskipun orang itu licik dan kadang-kadang curang, namun Kiai Tumenggung masih yakin bahwa ia memiliki kekuatan lebih besar dari kekuatan Kiai Linduk, sehingga apabila keadaan menyudutkannya kedalam satu benturan kekuatan, maka ia yakin bahwa ia akan dapat menghancurkan Ki Linduk dan orang-orangnya.

“Jika kekuatan kita telah terkumpul, maka kita akan menduduki Tanah Perdikan Menoreh. Kita akan memutuskan hubungan antara Mataram dan Bagelen. Sementara kita akan dapat menyusun kekuatan untuk menerobos ke Mangir. Kita akan dapat memaksa Ki Gede Menoreh dan Ki Gede Wonoboyo untuk berpihak kepada Kita. Sementara di sebelah Timur, Madiun telah mulai melancarkan pemberontakan.” berkata Ki Tumenggung Purbarana.

Para pengikutnya hanya mengangguk-angguk saja. Agaknya memang tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik. Para pengikutnya sadar, jika Ki Gede Menoreh dan Ki Gede Wonoboyo mendadak, maka tidak ada jalan lain daripada membinasakan mereka.

Ki Tumenggung yang seakan-akan mengerti gejolak perasaan para pengikutnya itupun kemudian berkata,” Kita tidak usah cemas, bahwa di Tanah Perdikan Menoreh ada kekuatan yang nggegirisi. Meskipun Agung Sedayu yang telah membunuh Ki Tumenggung Prabadaru tinggal di Menoreh, namun ia tidak akan dapat melawan Kiai Santak. Seandainya ia memiliki ilmu kebal sebagaimana Putut Pradapa memiliki ilmu Lembu Sekilan, maka keris Kiai Santak akan dapat dengan mudah menembusnya dan melukai kulitnya. Akibatnya sebagaimana telah terjadi dengan Putut Pradapa. Sementara itu, dengan Kiai Santak aku ingin membuktikan, bahwa Kiai Baru, pusaka yang menjadi kekuatan Mangir tidak akan berarti apa-apa.”

Para pengikutnya masih saja mengangguk-angguk. Rencana semacam itu memang pernah juga mereka bicarakan di padepokan yang telah mereka hancurkan, meskipun saat itu Ki Tumenggung masih juga menyinggung padepokan Kiai Bagaswara.

Dalam pada itu, selagi Ki Tumenggung berbincang dengan beberapa orang perwira yang menjadi pengikutnya, maka di hutan di seberang sungai, beberapa orang tengah berburu binatang hutan. Ketika dua orang di antara melihat seekor kijang yang sedang minum di sebuah mata air yang jernih berkilat-kilat, maka keduanya telah mempersiapkan anak panah pada busur mereka masing-masing.

Seorang di antara keduanya telah memberikan isyarat untuk bersiap. Kemudian ia mulai menghitung perlahan-lahan,” Satu, dua, tiga.” Anak panah dari kedua buah busur itu meluncur seperti angin. Keduanya tepat mengarah ke punggung kijang yang sedang minum dengan segarnya, tanpa menyadari bahaya yang sedang menerkamnya.

Tetapi begitu kedua anak panah itu meluncur mendekati sasaran, maka tiba-tiba saja, seolah-olah angin telah bertiup dengan kerasnya menerjang kedua anak panah itu sehingga keduanya telah berubah arah. Dengan demikian maka kedua anak panah itu sama sekali tidak mengenai binatang buruan itu, bahkan kijang itulah yang kemudian terkejut dan berlari masuk kedalam gerumbul hutan yang cukup lebat untuk melindungi dirinya.

“Gila” kedua orang itu berteriak hampir bersamaan. Kemudian salah seorang berkata lantang, “Apa yang telah terjadi. Kedua anak panah itu bagaikan ditiup angin. Tetapi rasa-rasanya tidak ada angin yang menggerakkan dedaunan, kecuali selingkar gerumbul di dekat mata air itu saja.”

Dengan jantung yang berdegupan dan hati yang kesal kedua orang itu pun menghambur lari mendekati mata air tempat kijang yang menjadi buruan mereka itu minum.

Ketika mereka sampai di tempat itu, dedaunan sudah tidak bergetar lagi. Tidak ada angin yang keras dan tidak ada sesuatu yang dapat mendorong kedua anak panah itu berbelok.

Hentakan di dalam dada kedua orang itu telah mendorong mereka untuk melihat lihat keadaan di sekeliling mata air itu. Namun tiba-tiba keduanya tersentak. Beberapa langkah di hadapan mereka, duduk laki-laki tua yang dikenalnya sebagai laki-laki yang tuli itu.

“Kakek” geram salah seorang dari kedua pemburu yang gagal itu. Kakek itu tersenyum. Katanya, “Kalian mencari apa?”

“Kijang” teriak kedua prajurit itu hampir berbareng.

Orang itu memiringkan kepalanya. Lalu katanya, “O, kijang. Kijang yang minum itu yang kalian maksud?

“Ya” jawab prajurit itu.

“Bukankah kijang itu sudah lari” berkata orang tua itu.

“Kijang itu terkejut dan lari. Tetapi siapakah yang telah membuat pangeram-eram?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Membuat apa?” orang tua itu sekali lagi memiringkan kepalanya untuk dapat mendengar lebih jelas.

“Siapa yang membuat pangeram-eram.” ulang prajurit itu sambil berteriak.

Orang tua itu tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Kau aneh Ki Sanak. Bukankah aku sudah mengatakan, jangan membunuh kijang di hutan ini.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka tiba-tiba bertanya, “Jadi, apakah kau yang sedang menggagalkan perburuan ini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Maksudmu?”

“Apakah kau yang membuat pangeram-eram itu? Apakah kau yang sudah mengguncang udara sehingga anak panah itu berkisar dari arahnya?” bertanya prajurit itu.

“Ah,” orang itu tertawa, “bukan pangeram-eram. Aku hanya sekedar ingin menyelamatkan kijang yang sedang kehausan itu. Betapa segarnya air yang sedang dinikmatinya pada saat maut itu datang menjemputnya. Aku kasihan melihat kijang itu.”

“Persetan,” geram prajurit itu, “Jadi kau yang telah mengganggu aku?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapa yang sedang menunggu?”

“Orang tua gila,” teriak prajurit itu, “mengganggu. Bukan menunggu. Kau sudah mengganggu aku.”

“O” Orang tua itu mengangguk-angguk, “maksudku tidak mengganggu. Maksudku sekedar menyelamatkan kijang yang sedang kehausan itu.”

Wajah kedua orang prajurit itu menjadi merah oleh kemarahan yang menghentak hentak di dada mereka. Karena itu, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Kakek tua yang tidak tahu diri. Bagi kami, tingkah lakumu itu benar-benar menyakitkan hati. Di padepokan itu kawan kawanku menunggu hasil buruanku. Sementara itu kau telah mengganggu. Kau kira, bahwa yang kau lakukan itu satu kelucuan?

Orang itu termangu mangu sejenak. Baru kemudian ia menjawab, “Ah, jika demikian aku mohon maaf. Tetapi, jika persoalannya sekedar lauk untuk makan, kenapa kalian tidak mencari sayur sayuran saja? Atau barangkali dengan beberapa jenis buah yang dapat dimasak. Waluh misalnya. Terong atau timun yang tentu banyak terdapat di padepokan.”

“Jangan mengigau lagi,” teriak prajurit itu, “Kau harus minta maaf atas kesalahanmu. Selanjutnya kau tidak boleh mengganggu lagi.”

“Ah, bagaimana mungkin aku harus minta maaf Ki Sanak. Aku justru merasa telah melakukan sesuatu yang benar dan baik.”  jawab orang tua itu.

“Gila. Kau kira dengan pengeram-eram itu, kau akan terlepas dari tangan kami jika kami menjadi benar-benar marah?” geram prajurit yang lain.

“Sebaiknya, marilah kita melupakannya” berkata orang tua itu, “lupakan peristiwa itu. Dan lupakan segala macam binatang buruan.”

Kedua prajurit itu menjadi semakin marah, sementara kawan kawannya masih belum dilihatnya. Agaknya mereka berburu di tempat yang terpisah.

Kemarahan itu telah mendorong salah seorang dari kedua prajurit itu mengumpat sambil berkata, “Kakek tua. Umurmu tinggal beberapa hari saja. Jangan membuat persoalan. Jika kami marah, maka kau akan sangat menyesal.”

“Jangan begitu Ki Sanak,” berkata kakek tua itu, “seharusnya kau berterima kasih, bahwa aku sudah mencegah kau melakukan pembunuhan atas binatang yang tidak berdaya itu.”

“Cukup,” teriak prajurit yang lain, “jongkok dan tundukkan kepalamu. Minta ampun di bawah kakiku.”

Namun tanggapan orang tua itu benar-benar mengejutkan. Orang tua itu justru tertawa sambil berkata, “Jangan main-main seperti itu.”

Kemarahan kedua prajurit itu sudah tidak tertahan lagi. Seorang di antara mereka melangkah maju sambil mengancam, “Cepat. Lakukan. Atau aku akan sampai hati memukul kepalamu.”

“Jangan terlalu kasar Ki Sanak.” desis orang tua itu.

“Lakukan sebelum aku mengambil sikap yang lebih kasar.” bentak prajurit itu.

Tetapi jantung kedua prajurit itu terasa berdentang semakin cepat ketika orang tua itu justru menggeleng sambil berkata, “Jangan memaksa begitu. Bukankah sudah aku katakan. Aku tidak bersalah.”

Kedua orang prajurit yang menjadi pengikut Ki Tumenggung Purbarana itu tidak dapat menahan diri lagi. Salah seorang dari keduanya telah melangkah maju. Dengan serta merta, maka tangan orang itu telah terayun ke kening orang tua itu.

Terasa tangan prajurit itu membentur kening orang tua itu. Meskipun tidak dengan sekuat tenaganya, tetapi pukulan itu adalah pukulan kemarahan, sehingga pukulan itu adalah pukulan yang keras.

Namun ketika tangan prajurit itu ditarik, maka prajurit itu menjadi sangat terkejut. Ia tidak melihat kesan apa pun pada orang tua itu. Orang tua itu sama sekali tidak nampak kesakitan atau sedang menyeringai karena pukulannya.

Orang itu masih berdiri sambil memandanginya. Bahkan kemudian orang tua itu justru tersenyum.

Perbuatannya memang sangat menyakitkan hati. Karena itu, prajurit yang seorang lagi telah meloncat mendekati pula. Ia sudah mendapat kesan tentang sikap orang tua itu setelah pukulan kawannya yang seakan akan tidak terasa di keningnya.

Karena itu, orang itu tidak menghantam kening. Tetapi prajurit itu dengan sekuat tenaganya telah menghantam ke arah dada orang tua itu.

Pukulannya tepat mengenai sasarannya, karena orang tua itu memang tidak menghindar dan tidak menangkis. Pukulan yang keras itu tepat menghantam arah ulu hati.

Namun sekali lagi kedua orang prajurit itu terkejut. Orang tua itu sama sekali tidak tergeser. Bahkan ia masih saja tersenyum.

Kedua prajurit itu benar-benar merasa dipermainkan. Karena itu maka keduanya tanpa berjanji telah menyerang bersama-sama dengan sekuat tenaga mereka.

Tetapi serangan mereka itu tidak berarti apa-apa.

Orang tua itu masih tetap berdiri di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergeser setebal rambut sekalipun. Bahkan orang tua itu kemudian justru tertawa sambil berkata, “Sudah aku katakan Ki Sanak. Jangan main-main seperti itu. Kau akan menjadi letih tanpa ada gunanya sama sekali.”

Kedua orang itu akhirnya menyadari, bahwa kekuatan tangannya tidak akan dapat menyakiti orang tua itu. Karena itu, maka tiba-tiba seorang diantaranya telah menarik pedangnya. Bahkan demikian kawannya berbuat demikian, yang lain pun telah berbuat serupa pula.

“Orang tua gila,” geram salah seorang prajurit itu, “ternyata kau bukan orang kebanyakan seperti aku duga. Tetapi justru karena kesombonganmu itu, kau akan menemui kesulitan. Kau harus dihancurkan sama sekali. Tajam pedangku tidak akan dapat kau abaikan meskipun seandainya kau berilmu kebal sekalipun.” teriak prajurit itu.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Ia masih saja memiringkan kepalanya, seakan akan ingin mendengar kata-kata prajurit itu lebih jelas lagi. Namun sebenarnyalah bahwa orang tua itu telah melihat kedua orang prajurit itu membawa pedang.

Sambil mengacungkan pedangnya keduanya melangkah mendekat. Kemarahan yang menghentak membuat kedua orang prajurit itu tidak berpikir lebih panjang lagi.

Demikian keduanya mendekat, maka tiba-tiba saja salah seorang di antara mereka telah mengayunkan pedangnya mendatar. Memang tidak langsung mematuk ke arah ,jantung, atau mengoyak kulit dan daging. Prajurit itu berusaha untuk menggores kulit orang tua itu, untuk menjajagi kemungkinan ilmu yang ada pada orang itu.

Namun prajurit itu terkejut bukan buatan,. Terasa ujung pedangnya memang telah menyentuh tubuh orang tua itu. Tetapi demikian pedangnya terayun, maka sama sekali ia tidak melihat goresan pada tubuh orang tua itu. Jika ia merasa pedangnya menyentuh lengan, namun sama sekali ia tidak melihat luka di lengan orang tua itu.

Wajah prajurit itu menjadi merah membara. Ia kemudian sadar sepenuhnya bahwa orang tua itu tentu memiliki ilmu kebal atau justru kekuatan lain yang lebih berbahaya dari ilmu kebal.

Tetapi sebagai prajurit, maka keduanya tidak mudah untuk mengambil keputusan menarik diri dari benturan kekuatan. Karena itu keduanya justru bersiap untuk melakukan serangan bersama dengan segenap kekuatan yang ada pada mereka.

“Sudahlah,” berkata orang tua itu, “kita hentikan permainan yang tidak menarik ini.”

Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Tetapi keduanya masih mengacukan pedang mereka dan siap untuk menikam ke arah dada.

“Tidak ada gunanya kita berselisih. Sebenarnya aku pun tidak ingin terjadi perselisihan seperti ini. Aku sebenarnya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat. Bukan saja mencegah kalian berburu di hutan ini dengan membunuh binatang buruan. Tetapi aku sebenarnya memang ingin memperkenalkan diriku.” berkata orang tua itu.

Ternyata orang tua itu tidak lagi berdiri terbongkok-bongkok dengan kaki timpang. Perlahan lahan ia melepas ikat kepalanya yang berwarna gelap, sambil berkata, “Aku tidak terbiasa mengenakan ikat kepala. Aku biasanya hanya menyangkutkannya di leher atau di pundakku.”

Kedua prajurit itu terbelalak melihat orang yang berdiri di hadapannya. Orang itu memang sudah berambut putih. Tetapi ketika ia berdiri tegak, maka nampaknya umurnya menjadi susut jauh ke belakang. Orang yang sudah bagaikan seorang kakek tua yang tidak berdaya itu justru nampak menjadi seorang laki-laki yang gagah, bertubuh tinggi besar dan berdada bidang.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “maafkan jika aku benar-benar telah terlibat kedalam satu permainan yang kurang menyenangkan bagi kalian. Tetapi aku menduga, seandainya kalian dipesan oleh Ki Tumenggung untuk bertemu dengan orang yang bernama Kiai Bagaswara, maka agaknya kau sudah diberi tahu, bagaimanakah ciri-ciri orang itu.”

Kedua orang prajurit itu berdiri mematung. Hampir di luar sadarnya salah seorang dari kedua orang itu berdesis, “Kiai Bagaswara.”

Orang tua itu mengangguk, Jawabnya sambil tersenyum, “Ya Ki Sanak Akulah orang yang kalian cari.”

Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Ternyata orang yang berada di hadapannya itulah orang yang selalu disebut namanya oleh Ki Tumenggung Purbarana.

Karena itu, kedua orang itu pun kemudian merasa tidak perlu lagi mengacukan pedangnya. Karena pedang mereka itu pun tentu tidak akan berarti apa-apa bagi Kiai Bagaswara.

Dengan demikian maka keduanya pun telah menyarungkan pedangnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Kami mohon maaf Kiai, Kami tidak tahu sama sekali bahwa kami berhadapan dengan Kiai Bagaswara.”

“Bukan salah kalian,” jawab Kiai Bagaswara, “aku memang dengan sengaja menyamarkan diri, sehingga jika kalian masih dapat mengenali ciri-ciriku, maka dengan demikian aku sudah gagal.”

“Sebenarnyalah kami memang mendapat pesan untuk mencari Kiai Bagaswara.”

“Katakan, apa yang dikatakan oleh Purbarana tentang aku.” berkata Kiai Bagaswara.

“Kiai, Ki Tumenggung memang ingin sekali bertemu dengan Kiai. Jika dalam hal ini, Kiai dan para cantrik sengaja menyingkir dari padepokan, apakah sebenarnya sebabnya. Mungkin Kiai telah mendengar laporan yang salah tentang Ki Tumenggung Purbarana, sehingga karena itu Ki Tumenggung ingin menjelaskannya.” berkata prajurit itu.

“Aku memang sudah mendengar Ki Sanak. Saudara seperguruanku, justru adalah guru Purbarana sendiri, telah terbunuh.” berkata Kiai Bagaswara.

“Itulah yang akan dijelaskan Kiai. Seandainya Kiai bersedia untuk datang barang sebentar.” berkata prajurit itu.

“Aku sudah tahu semuanya. Aku pun tahu tujuan sikap yang disebutnya satu perjuangan itu. Tetapi agaknya aku berpendapat lain,” berkata Kiai Bagaswara.

“Apapun yang akan Kiai katakan, maka sebaiknya Kiai dapat langsung berbicara dengan Ki Tumenggung.” minta prajurit itu.

“Tidak ada gunanya,” berkata Kiai Bagaswara, “aku tahu pasti, bahwa yang dilakukan sama sekali bukan satu perjuangan. Tetapi satu kegilaan. Apa yang akan dapat dicapainya dengan pemberontakannya itu? Nah, aku kira kau juga seorang prajurit. Kau tentu mempunyai penalaran yang masak untuk menilai medan. Mungkin kau bukan seorang yang berpangkat untuk menentukan satu kebijaksanaan di medan perang. Mungkin kau hanya seorang prajurit yang harus menerima perintah dan melaksanakannya. Tetapi bagaimanapun juga, kau tetap memiliki kemampuan berpikir dan membuat perhitungan. Katakan dengan jujur, apakah hati nuranimu membenarkan perjuangan Ki Tumenggung? Seandainya kau sependapat dengan Ki Tumenggung, namun apakah kau yakin bahwa perjuangan itu akan berhasil? Kau tentu mempunyai perhitungan karena kau telah ditempa oleh satu pengalaman. Berapa kekuatan yang ada padamu sekarang? Kau dapat memperbandingkan dengan kekuatan Mataram. Tidak perlu Mataram itu sendiri, tetapi lingkungan di sekelilingnya. Misalnya Sangkal Putung, Jati Anom, Tanah Perdikan Menoreh, Mangir dan daerah-daerah lain di sekitarnya. Belum lagi di perhitungkan kekuatan pada Adipati. Yang terdekat adalah Adipati Pajang.”

Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Sementara itu, Kiai Bagaswara melanjutkan, “Kau mempunyai kesempatan untuk merenung. Jika kau berani jujur terhadap dirimu sendiri, maka kau akan dapat mengambil satu kesimpulan. Karena sebenarnyalah, kekuatan Ki Tumenggung Purbarana bukan kekuatan yang perlu ditakuti. Padepokanku pun akan dapat menghancurkannya jika aku mau. Jika padepokan saudara seperguruanku itu hancur adalah karena mereka justru tidak menduga sama sekali, bahwa peristiwa itu akan terjadi. Tetapi bayangkan, jika saudara seperguruanku itu benar-benar ingin bertempur, bersama dengan Putut Pradapa yang terbunuh kemudian, bersama jejanggan dan para cantrik, apa kira-kira Purbarana akan dapat melawan? Demikian sekarang aku, seorang pututku yang memiliki kemampuan seimbang dengan Pradapa. Tiga orang jejanggan yang berilmu tinggi, meskipun belum sejajar dengan putut itu. Apakah kira-kira Purbarana akan dapat bertahan.”

“Tetapi Ki Tumenggung sekarang memiliki keris Kiai Santak,” berkata salah seorang dari kedua orang prajurit itu.

“Kiai Santak adalah keris yang jarang ada duanya. Tetapi aku pun mempunyai pusaka yang serupa, meskipun ujudnya adalah sebuah luwuk.” jawab Kiai Bagaswara.

Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Ki Tumenggung akan menemui Ki Linduk dan seorang saudara seperguruannya.”

Wajah Kiai Bagaswara menjadi tegang, Katanya, “Purbarana benar-benar sudah sesat. Dan kau akan mengikutinya saja di belakang tanpa mengetahui artinya. He Ki Sanak. Sebenarnya aku ingin memberikan satu peringatan kepadamu, bahwa sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku dapat saja membinasakan Purbarana dengan seluruh pasukannya. Jika aku merasa kurang kuat, aku dapat mengundang tiga ampat orang sahabatku, meskipun mungkin ilmunya belum setinggi pututku. Atau aku akan dapat melaporkan kepada kekuatan Adipati Wirabumi? Yang ada di daerah ini. Bukankah Purbarana adalah buruan Adipati Wirabumi?” Kiai Bagaswara berhenti sejenak, lalu, “tetapi aku tidak ingin terjadi lagi pembantaian atas siapa pun. Juga atas para pengikutnya Ki Tumenggung yang pada umumnya tidak bersalah.”

“Apa maksud Kiai sebenarnya?” bertanya prajurit itu.

“Jika satu demi satu para pengikut Ki Tumenggung menyadari kekeliruannya dan meninggalkannya, maka tidak akan terjadi perang dimana pun,” jawab Kiai Bagaswara, “karena itu, tinggalkan Ki Tumenggung. Jangan kembali ke padepokan. Sebenarnya aku dapat saja membunuh kalian untuk memperlemah kedudukan Ki Tumenggung, tetapi sekali lagi aku katakan, aku tidak ingin.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Nampaknya mereka sedang memikirkan kata-kata Kiai Bagaswara itu. Agaknya memang masuk akal, bahwa perjuangan Ki Tumenggung itu tidak akan mempunyai arti apa-apa lagi selain kematian. Kekuatan mereka terlalu kecil untuk menghadapi Mataram. Seandainya mereka mendapat sekelompok kawan dari sebuah padepokan, jumlah itu pun tentu terlalu kecil, dibanding dengan kebesaran Mataram yang tumbuh terus.

Kiai Bagaswara melihat sesuatu sedang bergejolak di hati kedua orang prajurit itu. Karena itu, maka Kiai Bagaswara itu pun berkata selanjutnya, “Pikirkan Ki Sanak. Apakah ada sesuatu yang menarik bagimu di peperangan? Apakah pembunuhan merupakan alas dari satu kepuasan bagi kalian? Jika tidak, maka menyingkirlah dari arena pembantaian. Jangan lumuri tanganmu dengan darah. Jika tanganmu sudah terlanjur menjadi merah, justru carilah air yang bening, yang akan dapat mencuci noda-noda itu dari dirimu, karena sebenarnyalah selagi kau masih mempunyai kesempatan. Jika pada saatnya kau terbaring diam, entah karena tikaman senjata atau karena sebab-sebab lain, maka kau sudah tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk menemukan pengampunan. Dan saat yang demikian akan datang tanpa kau ketahui, kapan. Mungkin kau akan berumur panjang, tetapi mungkin kau tidak sempat melihat matahari terbit esok pagi, meskipun seandainya kau bersembunyi di dalam peti baja sekalipun.”

Kedua orang prajurit itu menarik nafas dan dalam. Sementara itu masih saja terdengar suara yang mengetuk ketuk pintu hatinya, “Ki Sanak. Kalian masih mempunyai jalan untuk meninggalkan satu kehidupan yang akan menjadi semakin sengsara. Jiwamu akan menjadi semakin kering, dan kalian akan kehausan seperti kijang yang haus akan air yang bening. Maka kau pada saatnya akan merasa haus akan sumber Hidupmu yang Maha Hidup.”

Kedua prajurit itu menjadi semakin tunduk. Namun mereka masih mendengar Kiai Bagaswara itu berkata, “Kenalilah Sumber Hidupmu, karena kau mau tidak mau pada satu saat kau akan datang menghadapnya. Jika kau mengenalnya, maka kelak Yang Maha Hidup itu pun akan memanggilmu karena Yang Maha Hidup itu pun mengenalmu. Tetapi jika kau tidak mengenalnya, maka kau akan dibiarkan saja menjadi kering bagaikan debu, karena Yang Maha Hidup itu tidak mengenalmu.”

Tubuh kedua orang prajurit itu menjadi gemetar. Perlahan lahan mereka terbawa kedalam satu kesadaran tentang dirinya dalam hubungannya dengan Penciptanya. Karena itu, betapa keduanya merasa bahwa hidup mereka selama ini telah tersia-sia.

Karena itu, maka dengan kepala tunduk, salah seorang dari kedua prajurit itu berkata, “Aku mengerti Kiai.”

“Nah, jika demikian, apakah kalian masih juga merasa perlu untuk kembali kepada Ki Tumenggung Purbarana? Apakah kau masih ingin mencari kepuasan dengan mengotori tanganmu dengan darah sesama, yang ada sebagaimana kau ada?” bertanya Kiai Bagaswara.

Kedua prajurit itu masih menunduk. Kening mereka nampak berkerut. Sesuatu memang sedang bergejolak dengan dahsyatnya di dalam dadanya.

Namun, akhirnya salah seorang dari mereka berkata, “Kiai. Ternyata Kiai sudah menunjukkan jalan yang lebih baik yang dapat kami tempuh. Kiai memberikan satu kesadaran baru di dalam hidup ini. Karena itu Kiai, aku berjanji, bahwa aku tidak akan kembali kepada Ki Tumenggung Purbarana. Aku akan ikut bersama Kiai jika Kiai tidak berkeberatan.”

Kiai Bagaswara menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu prajurit yang lain pun berkata, “Aku sependapat dengan kawanku Kiai. Aku memang merasa bahwa hidupku rasa-rasanya selama ini tidak wajar sebagaimana orang kebanyakan. Ada sesuatu yang lain, yang mengungkungku tanpa dapat aku lepaskan. Namun Kiai telah melepaskan kungkungan itu dan menunjukkan kepadaku, jalan menuju kehidupan yang wajar. Karena itu Kiai, seperti kawanku, jika Kiai berkenan, aku akan ikut bersama Kiai dalam satu kehidupan baru.”

Kiai Bagaswara tersenyum. Katanya, “Syukurlah jika kata-kataku dapat membuka selubung yang selama ini menutupi mata hatimu. Tetapi sudah barang tentu, untuk sementara aku tidak dapat menerima kalian. Aku sedang tidak berada di padepokanku sebagaimana kau lihat.”

“Kami akan ikut ke mana pun Kiai pergi.” jawab salah seorang dari kedua prajurit itu.

Namun Kiai Bagaswara menggeleng. Katanya, “Untuk sementara tidak mungkin. Karena itu, untuk sementara menyingkirlah. Kembalilah ke kampung. Jika kau takut kembali ke rumahmu, karena dengan demikian ada kemungkinan utusan Ki Tumenggung menjemputmu, maka kau dapat kembali ke Pajang. Kau dapat menyerahkan diri kepada pasukan yang masih tetap berada di tempatnya. Kau tentu akan mendapat pengampunan. Mungkin kau akan dihukum. Tetapi anggaplah hukuman itu sebagai satu masa kau mencuci diri. Setelah hukuman itu kau jalani, kau akan menjadi bersih dan kau akan dapat menempuh satu kehidupan baru. Demikian kau lepas dari kolam pencucian, maka kau akan merasa sebagai dilahirkan kembali. Dan kau akan dapat menempuh satu jalur kehidupan baru yang baru yang akan dapat kau susun kemudian dengan hati-hati.”

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Bagaswara berkata selanjutnya, “Kau dapat melakukannya dengan segera. Tinggalkan tempat ini. Jangan kau jumpai lagi kawan-kawanmu berburu. Akulah yang akan menemui mereka. Aku ingin juga menunjukkan jalan sebagaimana aku lakukan kepada kalian. Syukurlah jika mereka dapat mengerti dan hatinya terbuka memandang ke satu kehidupan yang lebih baik. Jika tidak pun, maka rasa-rasanya aku sudah melakukan satu usaha yang baik bagi sesama.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian tanpa mengucapkan kata sepatah pun, ternyata keduanya sudah menemukan kesepakatan. Karena itu, maka salah seorang dari dua orang prajurit itu berkata, “Baiklah Kiai. Jika demikian petunjuk Kiai, maka kami akan melakukannya. Kami berdua akan kembali ke Pajang dan melaporkan apa yang telah terjadi. Jika kami harus menjalani hukuman, maka seperti yang Kiai katakan, hukuman itu akan kami anggap sebagai satu arena yang dapat mencuci jiwa kami. Menghapus segala macam noda yang telah kami lakukan, sehingga jika saat kami terlepas, maka kami akan dapat menikmati hidup kami sebagaimana orang-orang lain dapat menikmati kehidupan sewajarnya.”

Kiai Bagaswara mengangguk-angguk. Pada sorot matanya nampak kelembutan hatinya mengiringi sikap kedua orang prajurit itu. Kedua orang yang apabila dikehendakinya, dengan mudah dapat dibunuhnya. Tetapi pembunuhan bukannya satu-satunya jalan untuk melemahkan kedudukan lawan.

Dengan pengarahan kedua orang prajurit Ki Tumenggung itu, ia pun telah berhasil memperlemah kedudukannya. Apalagi apabila ia dapat melakukannya bagi orang-orang lain lagi.

Dalam pada itu, kedua prajurit itu pun. kemudian sudah bertekad untuk kembali ke Pajang. Dengan suara bergetar seorang di antaranya minta diri, “Sudahlah Kiai. Aku akan segera berangkat. Mudah-mudahan aku akan sampai ke tujuan dengan selamat.”

“Lepaskan alat pembunuh yang kau bawa itu. Berjalanlah sebagaimana para pengembara yang tidak bersiap-siap untuk saling berbunuhan di sepanjang jalan. Tanpa senjata, maka kamu tidak akan dimusuhi oleh orang-orang yang merasa dirinya gegedug yang tidak terkalahkan. Tetapi senjata di lambung memang akan dapat memancing perselisihan tanpa sebab.” berkata Kiai Bagaswara.

Kedua orang itu sependapat. Mereka pun telah melepaskan pedang di lambungnya dan meletakkan serta endong anak panahnya.

Dengan kepala tunduk seorang di antara mereka mengangguk hormat sambil menyalaminya.

“Aku mohon diri Kiai.” desisnya.

“Berhati-hatilah. Pintu masih selalu terbuka bagi pengampunan berkata Kiai Bagaswara.”

Namun sementara itu, ketika yang seorang lagi menjabat tangan Kiai Bagaswara, tiba-tiba saja ia berjongkok sambil memeluk kaki Kiai Bagaswara. Laki-laki yang garang itu tiba-tiba saja menangis sebagaimana kanak-kanak menangis. Terisak dan air mata meleleh dari sepasang matanya yang biasanya memancarkan api kebencian.

“Kiai,” katanya, “aku adalah orang yang telah penuh dengan dosa dan noda. Aku ikut membantai para cantrik di padepokan saudara tua Kiai Bagaswara. Dengan tanganku aku menikam jantung mereka dan orang-orang lain yang pernah aku bunuh. Apakah dengan demikian, aku masih mungkin menemukan jalan kembali?”

“Justru sekarang kau melihat pintu itu terbuka,” berkata Kiai Bagaswara, “masuklah. Kau akan menjadi keluarga dari orang-orang yang sudah bertaubat.”

Laki-laki yang garang itu berusaha menahan tangisnya. Kemudian dengan wajah yang pengab ia pun mohon diri untuk meninggalkan satu dunia yang suram, yang tidak dapat memberikan cahaya bagi masa depan yang panjang. Bahkan bagi anak cucu.

Demikianlah kedua orang itu pun kemudian meninggalkan Kiai Bagaswara. Keduanya mengambil jalan menyilang, sehingga mereka tidak akan bertemu dengan para pengikut Ki Tumenggung Purbarana yang lain. Mereka sudah bertekad untuk menyerahkan diri kepada para prajurit Pajang. Semoga Adipati Wirabumi yang mendapat kekuasaan di Pajang setelah Mataram berdiri dapat melihat persoalannya dengan wajar.

Sepeninggal kedua orang itu, maka Kiai Bagaswara pun menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata kepada diri, “Mudah-mudahan aku dapat membantu orang-orang lain untuk mengenal jalan kembali.”

Sebenarnyalah, Kiai Bagaswara telah berusaha untuk beberapa orang dengan cara yang sama. Dengan bekal pengalaman yang matang dan kadang-kadang dengan menunjukkan beberapa kelebihan yang sulit dimengerti oleh para prajurit pengikut Ki Tumenggung, Kiai Bagaswara berhasil membujuk beberapa orang untuk meninggalkan Ki Tumenggung yang sesat. Dengan niat yang baik, maka Kiai Bagaswara berusaha untuk menyelamatkan beberapa orang dari kehancuran bersama Ki Tumenggung.

Namun yang terjadi itu telah menggemparkan padepokan Kiai Bagaswara. Pada hari pertama, lima orang ternyata telah hilang dan tidak kembali ke padepokan.

Tidak ada orang yang tahu, apakah yang telah terjadi. Seorang perwira yang mendapat laporan itu berkata, “Jangan disampaikan kepada Ki Tumenggung lebih dahulu. Kita berusaha untuk memecahkan persoalan ini. Mungkin mereka tersesat. Mungkin mereka bertemu dengan lawan yang dapat membinasakan mereka. Besuk kita akan melihat apa yang telah terjadi.”

Namun di hari berikutnya, ampat orang tidak kembali ke padepokan itu. Mereka hilang sebagaimana lima orang di hari pertama.

Ternyata hal itu tidak lagi dapat disembunyikan. Pada hari kedua Ki Tumenggung telah mendengar, bahwa sembilan orangnya telah hilang.

“Ini satu kegilaan yang tidak dapat dimaafkan,” geram Ki Tumenggung, “cari kesembilan orang itu. Jika mereka mati dimakan harimau atau dibunuh oleh para cantrik dari padepokan ini, maka bawa kembali mayatnya. Tetapi jika mereka melarikan diri dan dapat ke lain ketemukan, maka bawa mereka kembali hidup-hidup. Aku lah yang akan menyayat kulitnya sebelum mereka diseret di belakang kaki kuda mengelilingi padepokan ini, lewat semak-semak berduri.”

Kemarahan Ki Tumenggung membuat jantung para pengikutnya semakin kuncup. Ki Tumenggung adalah orang yang tidak terkalahkan, apalagi dengan Kiai Santak di tangannya.

Namun dalam pada itu, di hari berikutnya, ternyata masih ada juga dua orang yang hilang. Dua orang yang tidak kembali lagi ke padepokan itu.

“Kalian semua adalah orang-orang dungu yang tidak berarti,” teriak Ki Tumenggung di hadapan para pengikutnya, “jika terjadi lagi di antara kalian yang tidak kembali, maka seluruh kelompok akan menerima hukumannya. Aku sendiri akan menghukum mereka dengan tanganku.”

Dengan demikian, maka yang bertugas keluar padepokan di hari berikutnya terdiri dari kelompok-kelompok yang tidak terpisahkan. Namun demikian di dalam daerah perburuan, Kiai Bagaswara masih sempat juga menemui mereka secara terpisah.

Tetapi kesempatan Kiai Bagaswara menjadi terlalu sempit. la tidak dapat berbicara gamblang. Karena itu, maka penjelasannya pun tidak dapat ditangkap sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Meskipun demikian, sekelompok kecil yang terdiri dari sepuluh orang itu, ketika berkumpul di tempat yang ditentukan di tengah-tengah hutan itu, telah kehilangan seorang di antara mereka. Hilangnya yang seorang itu telah membuat pemimpin kelompok itu menjadi sangat marah, karena mereka seluruhnya tentu akan mendapat hukuman yang tentu tidak ringan.

“Kita akan mencarinya,” berkata pemimpin kelompok itu, “tetapi kita akan selalu bersama-sama. Tidak boleh seorang pun di antara kita yang terpisah.”

Namun dalam pada itu, seorang di antara para prajurit dalam kelompok itu dengan ragu-ragu berkata, “Ki Lurah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”

“Apa?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ketika kita masing-masing mengejar binatang buruan, ternyata telah membuat kita agak terpisah yang satu dengan yang lain. Aku berdua dengan kawan yang hilang itu telah bertemu dengan seseorang yang semula, aku kira seorang tua pencari kayu bakar. Tetapi ternyata orang itu adalah Kiai Bagaswara.

“Kiai Bagaswara sendiri?” bertanya pemimpin kelompok itu dengan wajah yang tegang.

“Ya. Kiai Bagaswara itu sendiri.” jawab prajurit itu.

“Jadi kawanmu itu telah dibunuh oleh Kiai Bagaswara?” bertanya pemimpin kelompoknya.

“Tidak. Ternyata Kiai Bagaswara tidak membunuh seorang pun di antara kawan-kawan kami yang hilang. Tetapi Kiai Bagaswara sempat memberikan beberapa petunjuk. Seakan-akan kami waktu itu telah terseret ke dalam ketidak-sadaran. Seolah-olah apa yang dikatakan oleh Kiai Bagaswara itu telah mencengkam jiwa kami. Tetapi ternyata bahwa aku masih sempat berpikir. Kesempatan yang ada pada Kiai Bagaswara agaknya terlalu pendek. Ketika tiba-tiba di kejauhan terdengar suara beberapa orang kawan kami memburu seekor kijang, maka aku telah menemukan kesadaranku kembali. Aku telah berlari ke arah suara itu dan meninggalkan kawanku yang agaknya benar-benar telah terbius oleh kata-kata dan janji-janji Kiai Bagaswara.”

“Janji apa?” bertanya pemimpinnya.

“Janji tentang hidup sesudah mati.” jawab prajurit.

“O, gila. Para prajurit itu agaknya memang sudah gila.” geram pemimpin kelompoknya. Namun keterangan itu agaknya cukup penting diberikan kepada Ki Tumenggung Purbarana, sehingga akan dapat mengurangi kemarahan Ki Tumenggung itu karena seorang di antara anggauta kelompoknya telah hilang.

“Marilah, kita akan menghadapi Ki Tumenggung. Kita akan mempertanggung jawabkan hal ini kepadanya. Kita semua. Tetapi keterangan tentang Kiai Bagaswara itu memang cukup penting, sehingga perlu segera kita sampaikan. Mudah-mudahan keterangan itu akan dapat membebaskan kita dari hukuman yang mungkin akan diberikan oleh Ki Tumenggung kepada kita.”

Dengan demikian, maka sekelompok prajurit itu pun dengan tergesa-gesa telah meninggalkan hutan buruan sambil membawa hasil buruan mereka. Namun yang lebih penting bagi mereka adalah, bahwa mereka telah bertemu dengan orang yang selama ini mereka cari. Kiai Bagaswara.

Ketika kemudian Ki Tumenggung mendengar laporan itu, tubuhnya serasa menggigil oleh kemarahan yang menghentak-hentak dadanya. Dengan demikian ia sadar, bahwa Kiai Bagaswara tentu tidak akan menyetujui sikapnya seandainya ia dapat menemuinya dan berbicara tentang rencananya itu.

Namun yang dilaporkan oleh pemimpin kelompok itu memang dapat meredakan kemarahan Ki Tumenggung terhadap seluruh kelompok yang telah kehilangan seorang kawannya itu. Kemarahan Ki Tumenggung sepenuhnya telah ditumpahkan kepada Kiai Bagaswara.

Karena itu, maka dengan lantang ia pun berkata, “Kita siapkan semua prajurit. Kita akan menerobos hutan itu dengan tebaran pasukan berjarak sejauh-jauhnya tiga langkah. Kita akan menjaring seluruh isi hutan. Bahkan, seandainya kita bertemu dengan sekelompok gajah sekali pun, kita tidak boleh memutuskan jaring itu. Kita harus menemukan Kiai Bagaswara yang ternyata telah bersembunyi di dalam hutan itu dan dengan caranya memperlemah kedudukanku.”

Tidak ada waktu untuk beristirahat bagi kelompok yang baru saja datangi dari berburu itu, Mereka segera ikut mempersiapkan diri untuk pergi ke hutan. Mereka akan menebar dengan jarak sejauh tiga langkah. Mereka akan menelusuri tempat-tempat yang mungkin dipergunakan oleh Kiai Bagaswara untuk bersembunyi.

Dengan wajah yang masih tetap membara Ki Tumenggung segera memerintahkan pasukannya untuk berangkat setelah ia memberikan beberapa petunjuk kepada para pemimpin kelompok. Dengan suara bergetar Ki Tumenggung berkata “Kita tidak boleh gagal.

Sejenak kemudian, semua prajurit yang ada di padepokan itupun telah berangkat menuju ke hutan. Demikian mereka menyeberang sungai maka mereka pun mulai menebar. Dengan petunjuk prajurit yang telah bertemu dengan Kiai Bagaswara, maka mereka pun telah mulai bergerak dalam tebaran yang rapat, sebagaimana selembar jaring yang ditebarkan.

Perlahan lahan tebaran itu mulai bergerak maju. Dengan isyarat beberapa orang prajurit telah memberikan aba-aba khusus, sehingga para prajurit itu bergerak pada garis yang tetap teratur.

Gerak maju para prajurit itu ternyata bukannya satu tugas yang ringan. Ternyata di tengah hutan itu terdapat rawa-rawa, sehingga beberapa orang prajurit terpaksa menyeberangi rawa-rawa itu. Namun di tempat lain terdapat belukar berduri, sehingga beberapa orang prajurit harus berjalan menembus belukar itu. Dengan pedang mereka menebasi pepohonan perdu yang menghalangi jalan mereka agar garis tebaran prajurit itu tidak terputus karenanya.

Ki Tumenggung sendiri melakukan sebagaimana dikatakan. Ia pun tidak menyimpang ketika di depannya terdapat sebuah rawa yang agak dalam. Ia turun kedalam air yang kotor dan berjalan dengan susah payah bersama beberapa orang di sebelah-menyebelahnya.

Ki Tumenggung tidak ingin sejengkal tanah pun yang terlewatkan dari pengamatan mereka. Ia memperhatikan bukan saja setiap semak. Tetapi setiap batang pohon diamatinya, cabang-cabangnya, ranting-rantingnya. Mungkin Kiai Bagaswara bertengger di atasnya. Demikian juga diperintahkannya kepada semua pengikutnya.

Namun, meskipun mereka telah menempuh perjalanan yang jauh, tetapi mereka tidak menemukan seorang pun. Yang mereka jumpai di tengah-tengah hutan itu adalah beberapa jenis binatang buruan yang berlari ketakutan. Bahkan beberapa ekor harimau pun telah berlari pula menghindar. Sekali terdengar binatang buas itu mengaum. Namun kemudian lenyap di balik lebatnya hutan.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Ki Tumenggung itu pun mengumpat. Jika malam turun, maka ia sadar, bahwa ia akan kehilangan buruannya, jika ia belum menemukannya sebelumnya.

Sebenarnyalah, hutan itu pun menjadi semakin gelap. Meskipun matahari masih nampak di langit, tetapi sinarnya mulai menjadi lemah dan tidak lagi mampu menembus lebatnya dedaunan hutan sampai menyentuh tanah.

“Gila,” geram Ki Tumenggung, “iblis itu akan sempat lolos di gelapnya malam.”

Para pengikutnya tidak menyahut. Seorang perwira yang berambut putih menarik nafas dalam-dalam. Sejak semula ia sudah meragukan, apakah cara itu akan dapat bermanfaat. Jika ia mencari segerombolan perampok, mungkin cara itu akan berarti. Mungkin pasukan itu akan menemukan sarang perampok itu. Tetapi yang mereka cari hanyalah satu orang. Satu orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, sehingga sulit bagi perwira itu untuk membayangkan bahwa usaha itu akan berhasil.

Tetapi perwira berambut putih yang sudah mengenal tabiat Ki Tumenggung Purbarana itu tidak mencegahnya. Usaha itu akan sia-sia. Bahkan seandainya Ki Tumenggung itu mengakui kebenaran pendapatnya di dalam hati, namun ia tidak akan mau mundur dari keputusannya yang gila itu.

Namun ketika malam benar-benar turun, maka Ki Tumenggung pun terpaksa menghentikan usahanya. Dengan isyarat bunyi sangkakala ia memanggil seluruh pasukannya.

“Usaha kita sia-sia,” Ki Tumenggung menggeram, “iblis tua itu diselamatkan oleh malam yang tiba-tiba saja datang, seakan-akan lebih cepat dari biasanya.”

Tidak seorang pun yang menyahut.

“Jika besok atau selambat-lambatnya hari berikutnya, kita tidak dapat menangkap iblis tua itu, maka kita akan menghancurkan padepokannya. Kita akan membakar semua bangunan yang ada dan kemudian meninggalkannya. Aku menjadi muak tinggal di padepokan iblis tua yang licik itu.” berkata Ki Tumenggung itu lantang.

Namun dalam pada itu, pada saat Ki Tumenggung menyiapkan pasukannya kembali ke padepokan, maka di padepokan Kiai Bagaswara duduk dengan wajah yang sayu di halaman belakang. Padepokan yang sudah dihuninya untuk waktu yang lama.

Kiai Bagaswara itu sadar, bahwa usahanya tidak akan dapat berkembang lebih jauh. Ketika ia melihat seorang diantara dua orang prajurit yang sedang diberinya sesuluh untuk menemukan jalan kembali telah berlari mencari kawan-kawannya, maka iapun sadar, bahwa semua usahanya itu akan berakhir.

Orang yang melarikan diri jaring yang dipasangnya, memberikan isyarat kepadanya, bahwa akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.

Karena itulah, maka Kiai Bagaswara justru mendekati padepokannya. Ia melihat ketika Ki Tumenggung dan pasukannya meninggalkan padepokan itu. Dengan ketajaman penggraitanya ia dapat menebak, bahwa Ki Tumenggung justru sedang mencarinya. Dalam kekosongan itulah maka Kiai Bagaswara telah memasuki padepokannya.

“Tidak seorang pun yang tinggal.” desisnya ketika ia memasuki padepokannya dengan hati-hati.

Sebenarnyalah padepokannya memang sudah kosong. Karena itu, maka Kiai Bagaswara dengan leluasa dapat memasuki setiap rumah yang ada di padepokannya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Bagaswara melihat beberapa jenis barang yang di bawa oleh para prajurit. Ada yang membawa beberapa lembar pakaian yang terbungkus rapi. Ada yang membawa peti kecil yang berisi beberapa macam jimat dan sipat kandel. Namun ada juga yang membawa rangkapan senjata. Dalam perjalanan mencari Kiai Bagaswara semua prajurit tentu membawa senjata masing-masing. Jadi jika masih ada sejenis senjata di padepokan itu, tentu merupakan rangkapan senjata dari prajurit itu.

Ketika Kiai Bagaswara memasuki dapur padepokannya, ia melihat dua ekor binatang buruan yang masih belum dikuliti. Agaknya mereka tergesa-gesa menjalankan perintah Ki Tumenggung untuk mencari Kiai Bagaswara.

Namun semua itu hanya membuat hati Kiai Bagaswara menjadi terasa pedih. Dengan langkah yang lemah ia turun ke halaman dan duduk di halaman belakang yang mulai menjadi gelap.

Kiai Bagaswara sudah menduga, bahwa pada suatu saat padepokannya itu tentu akan menjadi sasaran kemarahan Ki Tumenggung Purbarana. Namun Kiai Bagaswara tidak akan dapat mencegahnya jika ia tidak ingin terjadi pembantaian lagi. Siapapun yang akan menjadi korbannya.

“Aku harus berusaha menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya.” berkata Kiai Bagaswara.

Namun ia pun sadar, bahwa Ki Tumenggung Purbarana untuk selanjutnya tentu akan menjadi orang yang sangat berbahaya dengan Kiai Santak di tangannya.

Dari beberapa orang yang berhasil dibebaskannya dari cengkeraman kegelapan yang dipancarkan dari jantung Ki Tumenggung Purbarana yang kelam. Kiai Bagaswara mendengar tujuan Ki Tumenggung. Antara lain disebut-sebut Tanah Perdikan Menoreh atau Sangkal Putung atau Mangir. Tetapi yang paling mungkin, Ki Tumenggung akan bersiap-siap menghadapi Mataram dari arah Barat.

 

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 181)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-80/

Terimakasih kepada Ki Is yang telah konversi ke doc

<<kembali | lanjut>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s