ADBM3-282

<<kembali | lanjut >>

MESKIPUN PRASTAWA tidak mengikuti apa yang terjadi atas seorang kawannya itu, namun nalurinya seakan-akan telah memperingatkannya agar ia cepat menyelesaikan lawannya. Ketika ia mendengar seseorang mengaduh kesakitan tidak jauh dari padanya, maka Prastawa telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan cepat ia berusaha untuk menyerang lawannya di sela-sela putaran bindinya. Ketika ujung pedangnya berdesing dekat kening lawannya, maka lawannya yang marah itu telah mengayunkan bindinya kearah dahi Prastawa. Tetapi dengan cepat Prastawa merendah. Demikian bindi itu terayun lewat di atas kepalanya, maka pedangnya pun menebas dengan cepatnya.

Orang bersenjata bindi itu berteriak nyaring. Bahkan kemudian mengumpat kasar. Pedang Prastawa sempat tergores menyilang di dadanya.

Orang itu terhuyung-huyung sejenak. Tetapi dengan cepat ia berusaha untuk menguasai dirinya. Betapa luka itu terasa sakit. Namun orang bersenjata bindi itu berusaha untuk mengatasinya.

Namun bersamaan dengan itu, seorang pengawal yang terluka lambungnya dan berusaha mengambil jarak dari lawannya telah kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh selangkah dari Prastawa.

Agaknya kakinya telah menyentuh akar yang menjorok keluar sementara keadaan tubuhnya sudah menjadi semakin lemah.

Prastawa yang kemudian melihat seseorang memburunya dengan senjata teracu, tidak dapat tinggal diam. Ia pun segera meloncat menyongsong orang itu sambil berteriak memberi isyarat kepada salah seorang dari kedua orang yang bersenjata bindi itu.

Pengawal yang bertempur berpasangan itu pun segera tanggap pula. Seorang diantara mereka dengan cepat meloncat mengambil alih lawan Prastawa yang ditinggalkan. Namun orang itu telah terluka di dadanya. Luka yang tergores menyilang, sehingga darah pun menjadi semakin banyak mengalir.

Orang yang memburu pengawal yang terjatuh itu memang terkejut. Seorang pengawal yang lain telah menyongsongnya dengan pedang yang terayun cepat.

Hampir saja ujung pedang itu mengoyak tubuhnya. Karena itu, maka orang itu dengan cepat melangkah surut.

Tetapi Prastawa tidak membiarkannya. Dengan cepat ia memburu sambil menjulurkan pedangnya. Orang itu telah melukai kawannya sehingga keadaannya menjadi gawat.

Orang itu harus berusaha untuk membebaskan diri dari kejaran senjata Prastawa. Dengan cepat orang itu berputar dan berlindung di balik sebatang pohon yang cukup besar.

Untuk sementara orang itu memang selamat. Tetapi Prastawa tidak melepaskannya. Karena itu, maka ia pun segera berusaha untuk memburunya. Ia merasa wajib untuk menuntut balas atas keadaan kawannya yang nampaknya terluka parah.

Pertempuran pun tidak dapat di elakkan lagi. Orang yang telah berhasil melukai salah seorang pengawal itu hatinya memang mengembang. Seakan-akan ia akan dapat memperlakukan para pengawal yang lain sebagaimana yang telah dilukainya itu.

Tetapi ternyata Prastawa lain. Prastawa memiliki kemampuan lebih tinggi dari pengawal yang terluka itu. Apalagi kemarahannya yang membuatnya semakin garang. Karena itu, maka lawannya itu semakin lama menjadi semakin terdesak.

Dalam pada itu jerit kesakitan, kebencian dan kemarahan telah menggetarkan hutan itu. Salah seorang yang bersenjata bindi itu benar-benar tidak mampu bertahan lagi. Betapapun keras dan kasarnya orang itu, namun pada batas tertentu ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk mempertahankan hidupnya. Orang yang telah dilukai Prastawa yang ternyata tidak mau mengakui keadaannya itu masih saja bertempur dengan kasar dan bahkan liar. Karena itulah, maka lawannya tidak mau memberinya kesempatan. Ketika orang sudah terluka itu dengan membabi buta mengayun-ayunkan bindinya, maka pengawal itu sempat meloncat ke samping. Namun dalam pada itu pedangnya telah menyambar lambung orang bersenjata bindi itu.

Orang itu berteriak sambil mengumpat nyaring. Namun diluar dugaan, bahwa bindinya masih sempat terayun deras menyambar kepala yang melukainya itu.

Pengawal itu terkejut. Secepatnya ia berusaha menghindar sambil menangkis serangan itu. Tetapi ayunan bindi itu terlalu kuat. Meskipun bindi itu tidak mengenai sasarannya, namun bindi itu sempat mengenai pundak kiri pengawal itu.

Betapa perasaan sakit menggigit pundaknya. Bahkan terasa tulangnya menjadi retak. Namun pada kesempatan itu, pengawal itu pun telah meloncat justru mendekat. Sambil berteriak pula oleh kemarahan dan sakit yang hampir tidak tertahankan, maka senjatanya telah mematuk menikam langsung ke arah jantung.

Orang bersenjata bindi itu masih berusaha untuk mengangkat senjatanya. Tetapi jantungnya telah terkoyak, sehingga yang dapat dilakukan hanyalah mengerang kesakitan dan langsung roboh ke tanah.

Pengawal yang marah dan kesakitan itu pun kemudian menarik pedangnya. Ia masih sempat berdiri tegak beberapa saat Namun kemudian perasaan sakit itu pun rasa-rasanya tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka pengawal itu pun kemudian telah tertunduk lemah bersandar sebatang pohon beberapa langkah didekat orang bersenjata bindi yang sudah tidak bernafas lagi itu.

Sementara itu kawannya masih bertempur melawan orang-orang yang bersenjata bindi yang lain. Namun orang yang bersenjata bindi yang sebelumnya harus bertempur melawan dua orang itu pun telah menjadi semakin lemah. Tubuhnya pun telah terluka di beberapa tempat. Darah memang telah mewarnai pakaiannya yang kasar dan apalagi telah terkoyak oleh senjata lawannya.

Melihat kawannya yang juga bersenjata bindi itu terbunuh, maka kemarahannya telah memuncak sampai ke ubun-ubun. Tetapi tenaganya sudah jauh susut, sehingga meskipun lawannya tinggal seorang, namun sulit baginya untuk dapat memenangkan pertempuran itu.

Dalam pada itu, Prastawa yang marah itu pun telah menyerang lawannya habis-habisan. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan bagi lawannya untuk membela diri. Jika semula ia merasa bahwa ia akan dapat mengalahkan para pengawal, tetapi melawan Prastawa ia benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, pemimpin sekelompok orang dari perkemahan itu pun harus melihat kenyataan yang dialaminya. Ia sadar bahwa orang-orangnya tidak akan mampu mengimbangi para pengawal yang selain jumlahnya lebih banyak, juga memiliki bekal olah kanuragan yang baik. Apalagi ternyata bahwa beberapa orang kawannya telah terluka parah bahkan ada yang telah terbunuh pula.

Karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Ketika keadaan menjadi semakin buruk, maka terdengar orang itu bersuit nyaring. Sementara ia sendiri ialah berloncatan surut sambil berlindung dibelakang pepohonan, melingkari gerumbul-gerumbul perdu dan sambil memberikan isyarat terakhir, maka ia pun segera berlari menuruni tebing bersama dengan kawan-kawannya.

Tetapi dua orang diantaranya justru terjatuh dan berguling-guling di sepanjang lereng. Untunglah bahwa pepohonan dan pohon-pohon perdu telah menahan mereka, sehingga mereka tidak terlanjur menyelusur sampai ke kaki bukit berpadas. Sementara itu seorang di antara mereka telah terbunuh di pertempuran.

Orang-orang dari perkemahan itu memang sudah merasa tidak akan mampu berbuat sesuatu untuk mengatasi para pengawal itu. Karena itu, maka demikian ia mendengar isyarat, maka mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan serta-merta mereka pun secepatnya telah meninggalkan arena.

Tetapi mereka yang telah terluka, justru karena terlalu tergesa-gesa, apa lagi para pengawal tampaknya tidak akan melepaskan mereka begitu saja, maka mereka pun telah terjatuh. Tubuh mereka yang lemah tidak mampu untuk dipaksa melarikan diri bersama dengan kawan-kawannya. Tetapi mereka pun tidak mau tinggal sebagai tawanan para pengawal. Karena itu, mereka pun justru telah terguling diantara pepohonan diantara bukit itu.

Sementara itu Prastawa telah meneriakkan perintah agar para pengawal tidak memburu mereka. Prastawa memang mempunyai pertimbangan tersendiri. Orang-orang itu akan berlari ke lereng dan jika satu saja diantara mereka lepas dan sampai ke perkemahan, maka dalam waktu pendek, sekelompok orang akan segera datang.

Karena itu, maka Prastawa justru memerintahkan agar para pengawal itu segera berkumpul.

“Kenapa kita biarkan mereka berlari?” bertanya salah seorang diantara para pengawal.

Prastawa pun dengan singkat menjelaskan alasannya kenapa mereka tidak usah memburu orang-orang perkemahan itu. Bahkan kemudian katanya, “Kita pun harus meninggalkan tempat ini. Dalam Waktu dekat, mereka akan segera kembali dengan kawan-kawan mereka. Apalagi diantara kawan-kawan kita ada yang terluka. Bahkan ada yang cukup parah. Kita harus segera mencapai padukuhan terdekat dan bersiap menghadapi segala kemungkinan jika orang-orang itu datang ke padukuhan untuk membalas dendam.”

“Tetapi bagaimana dengan orang bersenjata bindi yang terbunuh itu. Sementara itu, ada juga diantara mereka yang terguling di lereng bukit?” bertanya pengawal yang lain.

“Kita terpaksa meninggalkan mereka. Jika kita terlambat meninggalkan tempat ini, maka kitalah yang aka dibantai habis. Mungkin ada satu dua orang yang disisakan diantar kita, tetapi yang tersisa itu akan mengalami nasib yang sangat buruk di perkemahan itu.” jawab Prastawa. Lalu katanya pula, “Karena itu, marilah, kita meninggalkan tempat ini secepatnya. Tolong kawan-kawan kita yang terluka. Kita akan mengobatinya di padukuhan yang terdekat.”

Para pengawal pun segera bersiap meninggalkan tempat itu. Mereka berharap bahwa orang yang terbunuh dan terluka itu akan segera diambil oleh kawan-kawan mereka yang tentu akan berdatangan setelah mereka mendapat pengaduan dari mereka yang harus meninggalkan pertempuran itu.

Tiga orang pengawal telah terluka. Seorang diantaranya cukup parah. Lambungnya telah terkoyak senjata lawannya. Sementara itu, seorang pengawal rasa-rasanya tulangnya telah retak ketika pundaknya tersentuh bindi lawannya. Sedangkan yang lain telah terluka di lengannya. Tajamnya kapak telah menyayat lengannya sehingga menganga.

Sedangkan tiga orang yang lain juga terluka, tetapi sekedar goresan-goresan yang tidak berbahaya meskipun darah telah meleleh dari luka itu.

Beberapa saat kemudian, maka para pengawal itu pun telah menuruni lereng disebelah Timur langsung menuju ke padukuhan terdekat. Demikian mereka sampai ke banjar, maka Prastawa segera memerintahkan untuk mengadakan pengawasan diluar padukuhan. Mungkin sekali kelompok orang akan menyusul para pengawal itu untuk membalas dendam sampai ke padukuhan itu.

Para pengawal dan anak-anak muda di padukuhan itu pun segera bersiap. Tetapi Prastawa masih mencegah agar mereka tidak usah membunyikan tanda bahaya agar tidak seluruh tanah Perdikan menjadi ribut dan gelisah.

Sementara itu, para pengawal yang terluka, yang telah dipapah oleh kawan-kawannya sampai ke banjar, segera mendapat pengobatan untuk sementara. Prastawa dibantu oleh seseorang yang memahami serba sedikit tentang obat-obatan di padukuhan itu telah mengobati luka-luka mereka, sehingga menahan arus darah yang mengalir dari luka-luka itu.

“Beristirahatlah,” berkata Prastawa kalian telah berada ditempat yang aman. Para pengawal padukuhan ini telah berjaga-jaga diluar padukuhan sehingga orang-orang dari perkemahan itu tidak akan dapat mengejar kalian.”

Para pengawal yang terluka memang menjadi tenang meskipun perasaan sakit masih mencekam tubuh mereka. Namun darah mereka telah menjadi pampat.

Dalam pada itu Prastawa telah memerintahkan dua orang untuk segera pergi ke padukuhan induk. Keduanya harus melaporkan apa yang terjadi pada Ki Gede dan kepada Agung Sedayu. Sementara itu, Prastawa sendiri tetap berada di padukuhan itu. Bukan saja menunggui para pengawal yang terluka, tetapi bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan bersama para pengawal dan anak-anak muda dari padukuhan terdekat dari perbukitan di sisi Barat Tanah Perdikan Menoreh itu.

Ketika kedua orang pengawal berderap berpacu diatas punggung kuda menuju ke padukuhan induk, maka orang-orang di perkemahan itu pun telah diguncang pula oleh laporan orang-orang yang telah bertempur di puncak perbukitan. Pemimpin sekelompok orang yang telah bertemu dengan peronda dari Tanah Perdikan Menoreh itu telah memberikan laporan apa yang telah terjadi. Bahkan ia pun telah menunjukkan bahwa tubuhnya sendiri juga telah terluka. Beberapa orang kawannya bahkan tidak kembali bersama mereka.

“Bagaimana dengan mereka?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

“Kami tidak tahu pasti. Mungkin mereka terluka parah. Tetapi mungkin juga terbunuh. Jumlah para peronda itu lebih banyak dari jumlah sekelompok orang-orang kita,” jawab pimpinan kelompok itu.

Ki Tempuyung Putih tidak berpikir terlalu lama. Ia pun segera memerintahkan sekelompok orang-orang yang mendapat perintah itu adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi. Seorang Putut yang sudah ditempa dengan berbagai macam ilmu. Putut Sawega.

Dengan cepat Putut Sawega bersama sepuluh orang diantara para penghuni perkemahan itu dengan petunjuk jalan pemimpin kelompok yang telah dikalahkan oleh sekelompok pengawal yang dipimpin oleh Prastawa itu telah memanjat tebing. Ketika mereka sampai ke puncak, maka mereka tidak melihat seorang pun lagi. Para pengawal yang dipimpin oleh Prastawa telah meninggalkan puncak bukit yang menjadi lengang itu.

Orang-orang perkemahan itu memang sudah mengira bahwa para pengawal tentu sudah pergi. Yang mereka kerjakan kemudian adalah mencari kawan-kawan mereka yang tidak kembali bersama mereka ke perkemahan.

Setelah bekerja beberapa lama akhirnya mereka menemukan seorang yang bersenjata bindi terbunuh dan dua orang yang lain luka parah. Seorang masih sempat mengerang, tetapi yang lain telah pingsan.

Putut Sawega menjadi sangat marah. Ia sudah memerintahkan untuk memburu para pengawal yang membawa kawan-kawannya yang telah terluka pula. Tetapi pemimpin kelompok yang kelompoknya telah dikalahkan oleh para pengawal itu mencoba mencegahnya.

Katanya, “Mereka tentu sudah turun dari bukit dan bahkan berada di padukuhan. Agaknya kita tidak akan dapat berbuat banyak.”

“Kita hancurkan padukuhan itu jika para penghuninya berusaha melindungi para pengawal.” jawab Putut Sawega.

“Jumlah mereka cukup banyak. Agaknya diantara mereka terdapat pula para pengawal yang akan siap melawan kita.”

“Kau menjadi ketakutan?” bertanya Putut itu.

“Tidak, tetapi tidak ada gunanya membunuh diri.” jawab pemimpin kelompok orang yang terdahulu itu.

Putut Sawega termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang-orang yang menyertainya. Mereka memang nampak tegar dan siap untuk bertempur. Tetapi jumlah mereka memang hanya sepuluh orang. Jika ia memaksa untuk turun ke padukuhan, maka nasibnya akan sama seperti dialami oleh kelompok yang terdahulu.

Karena itu, maka Putut Sawega telah mengurungkan niatnya untuk memburu para pengawal sampai ke padukuhan. Namun bukan berarti bahwa Putut Sawega akan tetap berdiam diri menghadapi keadaan. Apalagi ia merasa mendapat kepercayaan diri Ki Tempuyung Putih.

Dengan geram ia berkata, “Aku akan kembali ke perkemahan. Aku akan membawa orang lebih banyak lagi. aku harus turun ke padukuhan dan mencari para pengawal yang telah membunuh dan melukai orang-orang kita. Aku tidak mau terlambat. Besok mereka tentu sudah dibawa ke padukuhan induk mereka.”

Pemimpin kelompok yang terdahulu itu mengangguk-angguk. Jika Putut itu akan membawa orang lebih banyak, maka hal itu memang mungkin dilakukan. Ia pun memperhitungkan bahwa para pengawal, terutama yang terluka tentu masih berada di padukuhan terdekat sampai esok pagi.

Karena itu, maka orang itu pun berkata, “aku setuju. Tetapi kita harus melakukannya dengan cepat. Sebelum fajar kita harus memasuki padukuhan itu. Bahkan mungkin mereka pun sudah memperhitungkan bahwa kita akan memasuki padukuhan itu.”

“Kita akan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Menangkap para pengawal, mencari bahan makanan dan mungkin ternak yang akan dapat kita sembelih disini dan agaknya di perkemahan ini perlu juga beberapa orang perempuan. Bukankah selama ini tidak ada perempuan yang masak untuk kita?”

Seorang anak muda yang bertubuh kasar pun bertanya lantang, “Hanya untuk masak?”

“Setan kau,” geram Putut Sawega, “aku akan berbicara dengan Ki Tempuyung Putih.”

“Tidak perlu. Kita tidak boleh terlambat,” jawab anak muda yang bertubuh kasar itu.

Tetapi Putut Sawega tidak mendengarkan pendapat anak muda bertubuh kasar itu. Ia pun kemudian berkata, “Kita akan turun dan membawa lebih banyak orang lebih banyak. Aku akan membawa dua puluh atau tiga puluh orang. Padukuhan-padukuhan itu akan aku hancurkan. Dengan demikian maka padukuhan-padukuhan yang lain akan menjadi ketakutan sebelum datang gilirannya kita menghancurkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh jika mereka tidak menyerah.”

Putut Sawega tidak menunggu tidak lama lagi. Ia pun segera berbalik ke perkemahan untuk bertemu dengan Ki Tempuyung putih.

Ketika Ki Tempuyung Putih mendengar niat Putut Sawega untuk pergi ke padukuhan sekaligus mengambil bahan makanan dan ternak, maka Ki Tempuyung Putih itu berkata, “Pergilah. Kita tidak usah bersembunyi lagi. Mereka sudah tahu bahwa kita ada disini. Aku menjadi curiga, bahwa yang mengambil Bajang Engkrek juga orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. “

“Baik Ki. Selain ternak dan bahan makanan aku juga akan mengambil beberapa orang perempuan untuk membantu kita memasak. Perempuan tentu lebih pandai dari pada orang-orang kita yang kebanyakan orang-orang kasar itu.”

Tetapi wajah Ki Tempuyung Putih menjadi tegang. Dengan lantang ia berkata, “Tidak. Jika kau bawa perempuan seorang saja, maka itu berarti bencana bagi perkemahan kita disini.”

“Tetapi kita memerlukan orang-orang yang dapat masak,” jawab Putut Sawega.

“Tidak, kau dengar? Atau aku batalkan perintahku atasmu.” geram Ki Tempuyung Putih.

Putut Sawega mengangguk-angguk. Sementara Ki Tempuyung Putih berkata, “Di perkemahan ini tinggal orang-orang gila yang buas. Mereka akan berkelahi satu dengan yang lain jika disini ada perempuan. Kecuali jika kau dapat membawa perempuan sebanyak orang yang ada disini.”

Putut Sawega mengangguk-angguk. Ia mengerti alasan Ki Tempuyung Putih. Karena itu, maka Putut itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku batalkan niatku mengambil perempuan sebagai juru masak atau sebagai apa pun.”

“Nah, jika demikian pergilah. Bawa dua puluh lima orang untuk memasuki padukuhan terdekat kau akan menemukan orang-orang yang telah membunuh kawan-kawan kita dan juga melukai orang-orang diantara mereka. Bawa orang-orang yang telah membunuh dan melukai kawan-kawan kita itu kemari. Kita akan mencari keterangan dari mereka, apakah orang-orang Tanah Perdikan telah mengambil Bajang kerdil itu.”

Demikianlah, maka dalam waktu singkat Putut Sawega telah menyiapkan dua puluh lima orang. Satu jumlah yang dianggap lebih dari cukup untuk memasuki dan menguasai sebuah padukuhan. Tetapi karena mereka akan membawa bahan makan dan ternak yang ada di padukuhan itu, maka mereka memerlukan orang yang cukup banyak selain mereka yang akan membawa beberapa orang pengawal.

Sesuai dengan rencana, maka Putut Sawega akan memasuki padukuhan itu sebelum fajar. Agar orang-orang yang semalam bertempur di puncak bukit itu masih ada di padukuhan itu. Jika fajar datang, maka ada kemungkinan orang itu sudah berangkat ke padukuhan induk.

Sementara itu, dua orang pengawal yang berkuda ke padukuhan induk telah menghadap Ki Gede bersama Agung Sedayu yang telah mendapat laporan lebih dahulu, karena rumah Agung Sedayu ternyata dilewati oleh kedua orang pengawal yang akan menghadap Ki Gede Menoreh itu.

“Apakah menurut Prastawa ada kemungkinan orang-orang itu menyusul ke padukuhan terdekat?” bertanya Ki Gede.

“Kemungkinan itu memang ada. Seorang diantara mereka terbunuh dan dua orang terluka parah, sehingga disaat mereka akan melarikan diri, mereka terguling di lereng perbukitan,” jawab pengawal itu.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “kembalilah ke padukuhan. Bawa beberapa orang pengawal terpilih dari padukuhan induk selain pengawal yang ada di padukuhan itu.”

“Glagah Putih akan menyertai mereka,” berkata Agung Sedayu.

Demikianlah, maka kedua orang pengawal itu bersama dengan sekelompok pengawal terpilih dari Tanah Perdikan yang berjumlah tujuh orang telah berangkat menuju ke padukuhan terdekat dengan kaki bukit itu. Mereka singgah di rumah Agung Sedayu untuk mengajak Glagah Putih bersama dengan mereka. Namun ternyata bukan hanya Glagah Putih yang berangkat tetapi juga Sabungsari.

Sebelas orang berderap dengan cepat menuju ke padukuhan yang terdekat dengan kaki bukit yang disebelah yang lain menjadi tempat orang-orang yang tidak dikenal itu berkemah.

Ternyata mereka datang lebih dahulu dari Putut Sawega yang harus berjalan mendekati bukit dan kemudian turun di sisi yang lain bersama duapuluh lima orang. Sebenarnyalah Putut Sawega menganggap bahwa limabelas orang saja sudah terlalu banyak untuk menghancurkan sebuah padukuhan. Apalagi duapuluh lima orang. Penghuni padukuhan itu tentu akan tidak berdaya sama sekali meskipun di padukuhan itu tentu ada beberapa orang anak muda dan barang kali beberapa orang laki-laki yang memiliki keberanian untuk melawan. Tetapi mereka tentu akan tidak banyak berarti. Mereka akan segera menjadi ketakutan dan menyerah jika satu dua diantara mereka telah menjadi korban. Karena itu Putut Sawega dan orang-orangnya tidak akan segan membunuh.

Kedatangan sebelas orang di padukuhan itu telah membesarkan hati Prastawa. Menurut dugaan Prastawa, orang-orang dari perkemahan itu akan dapat menyusul ke padukuhan itu karena mereka merasa kehilangan. Selain itu, maka nampaknya orang-orang di perkemahan itu menganggap bahwa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh mengetahui tentang Bajang Bertangan Baja yang hilang di tangan mereka.

Karena itu sebelas orang, justru termasuk Glagah Putih dan Sabungsari itu memang akan sangat berarti jika orang-orang perkemahan itu benar-benar menyusulnya ke padukuhan itu.

Sementara itu, beberapa orang pengawal padukuhan itu tengah mengamati keadaan. Mereka berada di sebuah gubug kecil ditengah bulak yang tidak begitu luas. Namun mereka dapat melihat langsung jalan yang menuju ke kaki bukit.

Karena itu, ketika duapuluh lima orang beriringan menuju ke padukuhan, mereka yang berada di gubug kecil itu sempat melihat mereka.

Dua orang diantara mereka menyelinap dibalik tanaman jagung yang tumbuh subur menyusuri pematang berlari-lari menuju ke padukuhan. Di regol padukuhan ia berkata kepada para peronda, “Mereka telah datang.”

“Ya,” sahut salah seorang peronda, “mereka telah berada di banjar.”

“Jangan bergurau. Aku melihat mereka datang. Sekelompok orang yang jumlahnya cukup banyak. Lebih dari duapuluh orang,” berkata orang yang datang berlari-lari dari bulak itu.

“Siapakah yang kau maksud?” bertanya peronda itu.

“Orang-orang dari bukit,” jawab yang baru datang dari bulak.

“Jadi?” peronda itu memang menjadi agak gugup, “jadi mereka benar-benar datang?” bertanya peronda itu.

“Jadi kau kira aku menyebut siapa?” yang baru datang itu justru bertanya.

“Aku kira kawan-kawan kita dari padukuhan induk,” jawab peronda itu.

“Jadi mereka juga datang?”

“Ya. Mereka baru saja datang. Sebelas orang.”

“Jika demikian aku akan pergi ke banjar,” berkata orang yang haru datang dari bulak itu.

Dengan tergesa-gesa kedua orang pengawas itu pun segera pergi ke banjar. Sementara itu para peronda di regol padukuhan pun segera bersiap-siap. Lima orang peronda itu telah turun dari gardu dan justru berada diluar padukuhan.

Ketika kedua orang pengawas itu sampai ke banjar dan melaporkan kedatangan orang-orang dari bukit, maka Prastawa pun segera memerintahkan para pengawal dan anak-anak muda di padukuhan itu bersiap. Ki Bekel yang berada di banjar, telah ikut pula bersama para pengawal dan anak-anak muda yang berada di banjar dengan beberapa orang bebahu. Mereka dengan cepat pergi ke regol padukuhan dan bergabung bersama para peronda yang sudah berada diluar padukuhan.

Dengan cepat mereka menebar dan siap menyergap orang-orang yang bakal datang ke padukuhan itu. Diantara mereka terdapat sebelas orang dari padukuhan induk termasuk Glagah Putih dan Sabungsari.

Tetapi selain mereka yang bersiap menunggu diluar padukuhan, maka beberapa orang telah berjaga-jaga di padukuhan pula. Beberapa orang yang terluka masih berbaring di banjar padukuhan. Mereka harus memperhitungkan bahwa diantara mereka yang datang menyerang padukuhan itu akan dapat menerobos menembus pertahanan dan memasuki padukuhan. Bahkan mungkin mereka akan langsung pergi ke banjar. Atau ingin merusak bangunan-bangunan yang ada di padukuhan itu.

Dalam pada itu, duapuluh lima orang yang memiliki pengalaman yang luas dalam dunia petualangan serta beberapa orang kasar yang berpengaruh dan menjadi pengikut Resi Belahan itu semakin mendekati padukuhan. Putut Sawega yang memimpin iring-iringan itu berada di paling depan. Putut Sawega telah melihat batang-batang jagung yang bergoyang ditengah-tengah bulak. Karena itu, ia sudah tahu bahwa sudah ada orang yang mendahului kedatangan iring-iringan itu dan melaporkannya ke padukuhan. Tetapi bagi Putut Sawega, hal itu sama sekali tidak berarti apa-apa baginya dan bagi kelompok orang yang dipimpinnya. Meskipun orang-orang padukuhan itu mengetahui kedatangannya, mereka tidak akan mampu berbuat banyak. Kemungkinan terburuk yang dihadapinya adalah kemungkinan para pengawal melarikan diri dari padukuhan itu. Seandainya demikian, maka orang-orangnya harus mengejar mereka. Yang terluka tentu akan dapat melarikan diri dengan cepat.

Namun Putut Sawega pun tidak mengabaikan kemungkinan perlawanan yang keras pula dari para penghuni padukuhan itu. Putut Sawega juga pernah mendengar bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh berbeda dengan anak-anak muda pedesaan yang lain. Mereka memiliki kemampuan bertempur lebih baik karena Tanah Perdikan Menoreh telah ditempa oleh peristiwa-peristiwa yang memaksa penghuninya memiliki kemampuan olah kanuragan.

“Tetapi seberapa jauh mereka memiliki kemampuan itu? Seandainya jumlah mereka tidak terlalu banyak, maka mereka tidak akan dapat mengalahkan kawan-kawan kita di puncak bukit itu,” berkata Putut Sawega kepada orang-orang yang menyertainya.

Tetapi ia pun memperingatkan, bahwa bagaimana pun juga para pengawal itu mampu juga bertempur sebagaimana telah terjadi diatas bukit itu.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat dengan padukuhan maka Putut Sawega itu pun memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk berhati-hati Justru karena Putut Sawega mengetahui bahwa kedatangan mereka tentu sudah ditunggu, maka ia pun telah mengatur orang-orangnya untuk siap menghadapi sergapan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, khususnya yang ada di padukuhan yang menjadi sasaran serangan itu.

Mereka berjalan berurutan di kedua sisi jalan memanjang ke belakang. Seakan-akan mereka siap menghadapi serangan dari kedua sisi jalan yang menuju ke regol padukuhan.

“Jika kita tertahan diluar padukuhan, maka ampat orang harus berusaha untuk dan langsung menuju ke banjar. Para pengawal yang terluka di puncak bukit itu tentu berada di banjar padukuhan. Jika di banjar tidak ada, maka mereka berada di rumah Ki Bekel. Cari banjar dan rumah itu sampai ketemu. Jika perlu seret seseorang keluar dari rumahnya untuk menunjukkan banjar atau rumah Ki Bekel. Bahkan, perempuan atau kanak-kanak sekalipun,” berkata Putut Sawega.

Ia pun kemudian telah menunjukkan ampat orang pilihan diantara duapuluh lima orang yang dibawanya itu, untuk menyusup langsung ke padukuhan.

Demikianlah, maka iring-iringan di kedua sisi jalan memanjang belakang itu menjadi semakin dekat dengan regol padukuhan. Prastawa yang memimpin langsung para pengawal dan anak-anak muda padukuhan itu telah siap pula memberikan perintah untuk menyergap.

Namun menilik tatanan iring-iringan itu, maka Prastawa menganggap bahwa pemimpin sekelompok orang itu cukup berhati-hati.

Ketika orang-orang dari perbukitan itu telah masuk ke dalam batas kesiagaan para pengawal, maka Prastawa pun segera memberikan isyarat. Demikian para pengawal mendengar suitan nyaring memecah keheningan malam, maka mereka pun segera bangkit. Bergegas mereka menyusup lewat pematang-pematang sawah keluar dari lingkungan tanaman jagung yang subur.

Putut Sawega ternyata tanggap terhadap akan keadaan. Ketika ia mendengar suitan nyaring, maka ia pun telah meneriakkan perintah, agar orang-orangnya segera bersiap.

Demikian, sejenak kemudian, maka benturan kekuatan telah terjadi. Orang-orang dari balik bukit itu tidak terkejut ketika mereka melihat para pengawal dan anak-anak muda dari padukuhan itu jumlahnya agak lebih banyak dari jumlah mereka. Meskipun mereka sadar, bahwa para pengawal itu juga memiliki kemampuan bertempur bahkan mampu membunuh dan melukai kawan-kawannya, tetapi orang-orang itu tetap yakin bahwa hanya beberapa orang pilihan sajalah yang mampu berbuat demikian.

Sementara itu orang-orang yang kasar yang ada diantara mereka yang datang dari bukit itu pun segera menyongsong para pengawal. Kebanyakan diantara mereka bersenjata bindi. Tetapi ada pula yang bersenjata kapak yang besar dan berat.

Para pengawal memang terkejut menyaksikan cara mereka bertempur. Namun Prastawa yang serba sedikit sudah memberikan keterangan tentang orang-orang yang berada dibalik bukit, maka mereka pun segera berusaha menyesuaikan diri. Namun bahwa ternyata yang mereka hadapi benar-benar orang yang keras, kasar dan agaknya mempunyai kekuatan badani yang sangat besar, maka para pengawal itu harus sangat berhati-hati.

Putut Sawega sambil berteriak memberikan aba-aba, langsung menyergap ke arah para pengawal yang berloncatan naik ke jalan dari pematang-pematang. Senjatanya langsung berputar menyambar orang yang pertama mendekatinya.

Pengawal itu berteriak nyaring. Bukan saja karena kesakitan. Tetapi ia benar-benar terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba itu. Ujung pedang Putut Sawega ternyata langsung menyilang menggores dadanya.

Pengawal itu terdorong surut. Hampir saja ia jatuh menelentang ke dalam parit yang akan dapat menenggelamkan kepalanya, meskipun parit itu hanyalah parit kecil. Namun pengawal yang terluka itu tentu tidak akan dapat keluar dari parit itu justru karena lukanya. Bahkan mungkin pengawal itu akan segera menjadi pingsan jika terlambat memberikan pertolongan.

Namun untunglah bahwa Glagah Putih ada dibelakangnya. Dengan tangkas Glagah Putih menangkap pengawal itu. Dengan tangkas pula Glagah Putih meloncat kembali sambil memapahnya.

Putut Sawega telah siap memburunya. Namun Sabungsari telah meloncati tanggul dan tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Putut Sawega itu.

“Setan kau,” geram Putut Sawega.

Sabungsari melangkah selangkah maju sambil mengacukan pedangnya. Sementara itu, Putut Sawega justru telah bergeser selangkah mundur.

Tetapi Putut Sawega tidak memperlakukan Sabungsari sebagai pengawal yang telah dilukainya. Ia mampu menilai, bahwa Sabungsari memiliki kelebihan dari. para pengawal yang lain.

“Marilah,” geram Sabungsari, “kita mempunyai banyak kesempatan sekarang.”

“Kau akan mati seperti kawanmu itu,” berkata Putut Sawega.

“Apapun yang terjadi. Kita berada di medan pertempuran,” jawab Sabungsari.

Putut Sawega tidak menjawab lagi. Sementara itu, disekitarnya pertempuran telah berkobar di sepanjang jalan.

Sabungsari pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Putut Sawega dengan tangkasnya meloncat menyerang. Ujung pedangnya bergetar mematuk mengarah ke dada.

Tetapi Sabungsari ternyata jauh lebih cepat bergerak dari pada pengawal yang telah dilukai dadanya. Bahkan terasa betapa tangan Putut Sawega menjadi pedih ketika pedangnya yang terjulur itu terdorong ke samping oleh pedang Sabungsari.

Putut Sawega menggeram. Tetapi ia sadar, bahkan lawannya itu memiliki bekal ilmu yang mapan dan kekuatan yang cukup besar.

Sementara itu, Glagah Putih ialah membawa pengawal yang terluka itu dan membaringkannya di pematang. Dengan obat yang dibawanya, Glagah Putih mencoba untuk memberikan pertolongan meskipun sifatnya sementara. Namun dengan menaburkan obatnya itu, maka darah yang mengalir dari luka di tubuh pengawal itu pun segera menjadi pampat.

Namun Glagah Putih tidak segera meninggalkan orang yang masih saja mengerang kesakitan. Ia memerlukan seseorang untuk menunggui pengawal yang langsung terluka demikian ia memasuki pertempuran itu. Agaknya ia tidak mengira sama sekali bahwa tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi sehingga ia menjadi lengah.

Sementara itu, pertempuran menjadi semakin lama menjadi semakin sengit. Para pengawal telah bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka. Orang-orang yang bersenjata bindi ternyata memang menggetarkan jantung para pengawal. Nampaknya mereka orang-orang yang sangat garang. Pada umumnya mereka mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Namun dalam pada itu, Glagah Putih yang belum terlibat dalam pertempuran itu melihat bayangan yang menyelinap menghindar dari pertempuran. Bahkan langsung menuju ke padukuhan.

Glagah Putih tidak dapat tinggal diam. Ia pun segera meloncat ke medan. Menarik seorang pengawal sambil berkata, “Seorang kawanmu terluka parah di pematang. Lihat dan jika sempat, awasi pengawal itu. Aku akan menyusul beberapa orang yang menghindar dari medan.”

Pengawal itu tidak sempat bertanya. Sesaat kemudian Glagah Putih telah hilang di kegelapan.

Sementara itu, Sabungsari masih bertempur melawan Putut Sawega yang mengira bahwa dirinya adalah seorang yang tidak terkalahkan. Namun menghadapi Sabungsari memainkan pedangnya telah membingungkan Putut Sawega yang merasa dirinya sangat tangkas itu.

Di sisi lain, Prastawa telah bertempur lagi melawan salah seorang dari mereka yang bersenjata bindi. Namun Prastawa sudah berpengalaman ketika ia bertempur di puncak bukit.

Orang-orang yang bersenjata bindi itu bertempur dengan mengandalkan kekuatan mereka. Bukan kemampuan olah kanuragan. Karena itu, maka Prastawa harus berhati-hati dan tidak saja mempergunakan kekuatan pula. Tetapi ia harus mempergunakan penalarannya untuk mengalahkan lawannya.

Sementara itu, para pengawal yang lain pun telah terlibat dalam pertempuran keras pula. Orang-orang yang bersenjata bindi itu untuk beberapa saat mampu mendesak lawan-lawan mereka. Namun Prastawa sempat memberikan petunjuk kepada para pengawal, bahwa mereka jangan terpancing bertempur dengan mengandalkan kekuatan mereka saja.

Apalagi jumlah pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan itu lebih banyak, sehingga karena itu, maka mereka dapat memanfaatkan kelebihan itu untuk membuat orang-orang yang bertempur dengan keras dan kasar itu agak kebingungan.

Para pengawal yang tidak mendapat lawan telah bergerak dari satu orang ke orang yang lain. Mereka membantu para pengawal yang agak kesulitan menghadapi lawannya. Namun kemudian pengawal itu telah berpindah lagi membantu kawannya yang lain. Namun tiba-tiba saja pengawal itu menyerang lawan yang kurang berhati-hati sehingga menimbulkan kesulitan.

Justru karena beberapa orang diantara para pengawal itu berloncatan dari satu lawan ke lawan yang lain, maka orang-orang perkemahan itu merasa sangat terganggu karenanya. Mereka tidak dapat memusatkan perhatiannya kepada seorang lawan yang sedang bertempur melawannya. Tetapi ia pun harus berhati-hati jika tiba-tiba saja pengawal yang lain datang menyerang dari arah yang tidak diduga-duga.

Dengan demikian, maka pertempuran menjadi semakin sengit. Yang kemudian terluka bukan saja hanya seorang pengawal. Tetapi orang-orang Putut Sawega pun telah menjadi susut pula.

Sementara itu, Glagah Putih telah menyusul memasuki padukuhan. Didalam padukuhan itu ternyata telah terjadi pertempuran pula. Ampat orang yang menyusup memasuki padukuhan itu telah bertempur menyerang para pengawal yang memang disiapkan untuk menjaga banjar dan rumah Ki Bekel jika ada diantara lawan yang menyusup memasuki padukuhan.

Ampat orang dari perkemahan itu ternyata sangat sulit untuk diatasi. Beberapa orang pengawal yang menghentikan mereka sebelum mereka sampai ke banjar telah terdesak. Ketika salah seorang diantara mereka itu terluka parah, maka yang lain mulai tergetar. Ampat orang itu benar-benar memiliki kelebihan dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ada di padukuhan itu.

Apalagi jumlah para pengawal yang tinggal di padukuhan itu sangat terbatas.

Karena itu, maka ampat orang yang menuju ke banjar itu seakan-akan tidak tertahan lagi Tujuh orang yang berjaga-jaga di banjar telah berkurang satu orang. Enam orang yang tersisa ternyata juga mengalami kesulitan. Ketika seorang lagi dari keenam orang itu terluka dan terlempar jatuh menimpa dinding halaman rumah di sebelah banjar, maka para pengawal itu sudah berniat untuk membunyikan tanda bahaya. Dengan memukul kentongan mereka berharap para pengawal yang ada di padukuhan datang membantu mereka yang terluka yang ditempatkan di banjar padukuhan.

Dalam pada itu dua orang pengawal yang lain juga berada di banjar telah berloncatan ke luar regol halaman banjar ketika mereka mendengar keributan di luar halaman. Tetapi para pengawal yang berjumlah tujuh orang lagi itu, masih tidak mampu menahan keempat orang itu. Seorang lagi dari pada pengawal itu terluka. Bahkan kemudian menyusul seorang lagi.

Namun demikian kelima orang yang tersisa masih berusaha untuk bertahan. Seorang diantara mereka mendapat isyarat dari kawannya untuk memukul kentongan yang ada di banjar.

Karena itu, maka ia pun berlari memasuki regol halaman untuk membunyikan isyarat

“Setan,” geram salah seorang yang menyerang banjar, “jika kentongan itu berbunyi, merupakan bahwa kalian semua akan mati. Panggil kawanmu itu.”

Tetapi para pengawal tidak menghiraukannya. Apapun yang terjadi atas diri mereka, namun keempat orang itu harus dicegah agar mereka tidak sempat memasuki banjar dan mendapatkan para pengawal yang terluka. Karena para pengawal itu tahu benar bahwa keempat orang itu mendedam kepada kawan-kawannya yang terbaring di banjar.

Sementara itu, orang-orang yang telah mencapai kentongan itu terkejut. Sebuah bayangan seperti tebang mendekatinya. Hampir saja pengawal itu berteriak memanggil kawannya sebelum ia sempat memukul kentongan meskipun ia tahu bahwa kawan-kawannya yang tersisa sedang bertempur. Karena jika tidak seorang pun sempat memukul kentongan, maka tidak akan ada pengawal yang datang membantunya. Para pengawal yang ada di rumah Ki Bekel tidak akan tahu apa yang terjadi di banjar itu.

Namun pengawal itu justru menarik nafas lega setelah ia melihat, bahwa yang datang adalah Glagah Putih.

“Kau?” desis pengawal yang berdiri di dekat kentongan.

“Dimana kawan-kawanmu?” bertanya Glagah Putih.

“Diluar halaman. Mereka sedang bertempur. Tetapi ampat orang kami sudah terluka.” jawab pengawal itu.

“Baik. Aku akan membantu mereka. Jangan bunyikan kentongan,” berkata Glagah Putih.

“Tetapi kami memerlukan bantuan,” jawab pengawal itu.

“Jika kau bunyikan kentongan, maka kawan-kawan kita yang bertempur di luar padukuhan tidak akan dapat memusatkan perhatian mereka. Dengan demikian mereka akan mengalami kesulitan karena lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang garang dan berkemampuan tinggi.”

Pengawal itu menjadi ragu-ragu. Namun Glagah Putih tidak mau membuang waktu lagi. Katanya, “Marilah. Kita bantu mereka bertempur.”

Pengawal itu memang termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia melihat Glagah Putih berlari keluar halaman, ia pun telah menyusul pula.

Hampir saja Glagah Putih terlambat. Seorang lagi dari pengawal itu terluka dan terdorong jatuh. Pada saat yang bersamaan lawannya yang marah karena salah seorang pengawal akan memukul kentongan telah meloncat mendekat. Pengawal yang terjatuh itu telah tidak berdaya sama sekali ketika lawannya mengangkat pedangnya siap menghunjam ke dadanya.

Glagah Putih tidak sempat untuk ragu-ragu. Jika ia terlambat sedikit saja, maka pengawal itu tentu sudah terbunuh dengan luka di jantungnya tertembus senjata lawannya.

Karena itu, maka Glagah Putih telah meloncat dengan pedang terjulur langsung ke arah dada orang yang sudah mengangkat senjata itu.

Melihat pedang terjulur dan yang dengan kecepatan tinggi meluncur ke arah dadanya, maka orang itu pun telah meloncat mundur. Dengan tangkas ia mengelak bahkan berusaha untuk menyerang Glagah Putih dengan putaran senjatanya di saat pedang Glagah Putih terjulur. Namun Glagah Putih sempat meloncat ke samping. Dengan sekuat tenaganya, Glagah Putih menangkis serang itu. Demikian kerasnya, sehingga pedang orang itu telah terlepas dari tangannya.

Ternyata orang itu sama sekali tidak mengira bahwa anak muda yang baru datang itu memiliki kekuatan yang sangat besar, berbeda dengan anak-anak muda yang bertempur terdahulu.

Karena itu, maka orang yang kehilangan senjata itu telah meloncat surut. Namun sama sekali ia tidak menduga, bahwa anak muda yang tidak jadi memukul kentongan itu telah berada di lingkaran pertempuran itu pula. Karena itu demikian ia tegak setelah mengambil jarak, maka sebuah pedang telah masuk lambungnya.

Orang itu berteriak nyaring oleh kemarahan yang mengguncang dadanya. Tetapi ternyata bahwa ia sudah tidak berdaya lagi.

Glagah Putih memang menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun segera meloncat dengan pedang terjulur pula. Dengan cepat ia sudah melibat seorang lagi dari orang-orang yang memasuki padukuhan itu.

Dengan demikian keadaan orang-orang yang menyerang padukuhan itulah yang kemudian menjadi sulit. Dua orang diantara mereka harus menghadapi ampat orang pengawal, sementara yang seorang lagi berhadapan dengan Glagah Putih.

Ternyata Glagah Putih tidak memerlukan waktu yang lama. Beberapa saat kemudian, senjata orang itu telah terlempar pula.

Karena itu, maka Glagah Putih pun berkata lantang, “Menyerahlah. Atau kau akan terbunuh seperti kawanmu.”

Orang itu masih termangu-mangu. Dalam keremangan dini hari ia melihat bayangan kedua orang kawannya yang bertempur melawan ampat orang pengawal.

Karena itu ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku menyerah.”

“Katakan dengan kedua kawanmu agar mereka juga menyerah,” berkata Glagah Putih.

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata pula, “Menyerahlah. Aku sudah menyerah.”

“Pengecut,” tiba-tiba seorang kawannya mengumpat kasar. Bahkan tiba-tiba saja sebuah pisau belati meluncur dari tangan kawannya yang masih bertempur itu menancap langsung di dadanya.

Orang itu mengaduh perlahan. Namun ternyata ujung pisau yang dilontarkan itu telah menggapai jantungnya, sehingga ia pun jatuh terguling di tanah.

Namun dengan demikian kawannya yang melemparkan pisau belati itu telah kehilangan waktu sesaat. Apalagi ia harus melawan dua orang pengawal. Karena itu, kesempatan yang sesaat itu agaknya telah dipergunakan oleh kedua orang pengawal dengan sebaik-baiknya. Hampir berbareng dengan dua ujung pedang telah menikam dada orang yang melempar pisau belati kepada kawannya itu.

Glagah Putih melihat hal itu dengan jantung yang berdegup keras. Bahkan kemudian ia berkata lantang, “Biarlah yang seorang tetap hidup.”

Tetapi ia terlambat. Yang seorang itu bagaikan menjadi gila. Dengan membabi buta ia menyerang kedua lawannya. Dengan tanpa perhitungan kemampuannya yang terbatas, maka ia sudah langsung memasuki lingkaran pertahanan lawan-lawannya itu.

Kedua pengawal yang melawannya itu pun mendengar pesan Glagah Putih. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain menghadapi orang yang seperti menjadi gila itu. Karena itu, maka dua ujung senjata telah menghunjam ke dalam tubuh orang itu pula.

Glagah Putih hanya dapat berdiri temangu-mangu. Ia memang menjadi kecewa bahwa ampat orang itu semuanya telah terbunuh.

Dengan nada menyesal Glagah Putih berkata, “Kita kehilangan sumber yang akan dapat berbicara tentang keadaan di belakang bukit itu.”

Para pengawal pun saling berpandangan. Tetapi keempat orang itu benar-benar telah terbunuh dan tidak akan bangkit kembali.

“Mudah-mudahan di luar padukuhan masih ada orang yang tertangkap hidup,” berkata Glagah Putih.

Para pengawal itu tidak menjawab. Mereka masih saja berdiri termangu-mangu. Sehingga Glagah Putih berkata, “Sekarang, tolong kawan-kawanmu yang terluka dan kumpulkan keempat sosok tubuh itu.”

Barulah para pengawal itu sadar akan keadaan mereka. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa mereka pun mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka di banjar bersama-sama dengan para pengawal yang telah terluka lebih dahulu.

“Jaga mereka baik-baik,” berkata Glagah Putih, “aku akan pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi.”

“Apakah tidak akan ada diantara mereka yang bakal datang kemari?” bertanya salah seorang pengawal.

“Jika terpaksa sekali, bunyikan isyarat,” pesan Glagah Putih. Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah meninggalkan para pengawal yang sibuk dengan kawan-kawannya mereka yang terluka. Sementara itu langit pun menjadi merah. Fajar mulai membayang di langit.

Tetapi pintu-pintu rumah masih belum terbuka. Orang-orang padukuhan itu menjadi ketakutan mendengar pertempuran yang terjadi. Namun mereka yang tinggal di sisi yang lain, sudah mulai membuka pintu rumahnya dan menyapu halaman. Tetapi satu dua orang pengawal masih memperingatkan agar mereka untuk sementara tidak keluar dari rumah mereka.

Tetapi agaknya pertempuran di luar padukuhan itu pun telah selesai. Beberapa orang yang tersisa melarikan diri ke perbukitan dan hilang di hutan lereng pegunungan. Sedangkan beberapa orang yang sempat ditangkap. Sedangkan Putut Sawega sendiri telah mengalami nasib yang buruk. Ia mencoba mempergunakan ilmunya yang dianggapnya akan dapat menyelesaikan lawannya, Sabungsari. Tetapi ternyata kemampuan Sabungsari jauh melampaui kemampuannya. Ketika Sabungsari menghentikan serangannya, maka Putut Sawega tidak mampu menyelamatkan diri. Daya tahannya sama sekali tidak mampu menahan serangan ilmu Sabungsari yang menjadi semakin mapan.

“Sebenarnya aku tidak ingin membunuhnya,” desis Sabungsari.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia percaya bahwa Sabungsari tidak berniat membunuh mereka. Dalam pertempuran yang sengit pun Sabungsari memang bukan seorang pembunuh. Tetapi kadang-kadang sulit baginya untuk mengukur kemampuannya dengan daya tahan lawannya, sehingga suatu ketika tidak dengan sengaja maka ia telah menembus dan melampaui kemampuan daya tahan tertinggi dari lawannya.

Dengan nada rendah Glagah Putih pun kemudian berkata, “Tetapi ada beberapa orang yang tertangkap. Kepada mereka kita akan mencari keterangan tentang orang-orang di seberang bukit.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Sementara Prastawa telah memerintahkan para pengawal untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka di pertempuran itu. Demikian pula beberapa sosok tubuh lawan, termasuk Putut Sawega yang merasa dirinya memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun demikian Glagah Putih berkata, “Didekat banjar, ampat orang dari sebelah bukit terbunuh. Selain pemimpin mereka dan beberapa orang yang lain, beberapa orang terluka parah sehingga tidak dapat melarikan diri. Satu isyarat agar kita menjadi semakin berhati-hati. Mungkin mereka akan datang lagi menyerang padukuhan ini atau padukuhan-padukuhan yang lain.”

Prastawa yang mendengarkan pula pendapat Glagah Putih itu menyahut, “Kita harus menempatkan sekelompok pengawal berkuda yang mampu dengan cepat mencapai padukuhan-padukuhan yang terdekat dengan perbukitan.”

“Kita akan berhubungan dengan barak pasukan khusus. Setidak-tidaknya kita akan meminjam beberapa ekor kuda untuk menambah kuda-kuda yang ada pada kita,” sahut Glagah Putih.

“Jumlah mereka yang ada di seberang bukit itu terlalu banyak,” berkata Sabungsari kemudian, “mereka akan dapat menyerang dua atau tiga padukuhan sekaligus. Jika kita terpancing karena isyarat satu padukuhan sehingga kita memusatkan perhatian kita pada satu padukuhan itu, maka mungkin padukuhan yang lain pun akan mendapat serangan yang serupa pula.”

Glagah Putih mengangguk-angguk, sementara Prastawa berkata, “Kita harus meningkatkan pengawasan kita atas perkemahan di kaki bukit itu. Kita berharap untuk dapat mengikuti setiap gerakan mereka. Tetapi tugas itu adalah tugas yang sangat berat.”

Glagah Putih dan Sabungsari mengangguk-angguk. Mereka pun sadar sepenuhnya bahwa tugas itu adalah tugas yang sangat berat. Setiap saat mereka harus menempatkan sekelompok pengawal untuk mengawasi jalur jalan dari bukit, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menempuh jalur jalan yang lain meskipun melingkar agak jauh.

Tetapi untuk keselamatan Tanah Perdikan Menoreh, hal itu harus mereka lakukan.

Sementara langit pun menjadi terang. Beberapa orang padukuhan yang mengetahui bahwa pertempuran sudah selesai telah ke luar dari rumah masing-masing. Mereka memang melihat kesibukan para pengawal. Apalagi mereka yang tinggal disekitar banjar padukuhan. Sementara itu dua orang pengawal telah berpacu ke padukuhan induk untuk memberikan laporan apa yang terjadi.

Ternyata laporan itu dapat tanggapan cepat dari Ki Gede Menoreh. Beberapa saat kemudian, maka Ki Gede dan beberapa pengawal bersama Agung Sedayu telah datang padukuhan yang baru saja didatangi oleh orang-orang dari balik bukit.

“Perang sudah dimulai,” berkata Ki Gede Menoreh, “Meskipun kita masih belum tahu pasti alasan dari perang ini sekedar menduga-duga serta menghubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang mendahului.”

“Ya Ki Gede,” berkata Agung Sedayu, “persoalan inilah yang akan aku bawa ke Mataram. Aku akan singgah di barak dan bersama dengan Ki Lurah Branjangan menghadap para pimpinan di Mataram untuk menerima perintah-perintah atau petunjuk-petunjuk.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Siang nanti aku akan sudah berada di Tanah Perdikan ini kembali. Di rumah ada Ki Jayaraga yang menunggui Bajang Bertangan Baja bersama Wacana yang justru untuk sementara berada di Tanah Perdikan.”

“Baiklah ngger,” berkata Ki Gede, “silahkan pergi ke Mataram. Aku juga menunggu, apakah perintah Mataram menanggapi orang-orang itu.”

Kepada Glagah Putih, Agung Sedayu berkata, “Hati-hatilah. Aku tidak akan terlalu lama. Tetapi aku juga ingin singgah di rumah Raras dan bertemu pula dengan Ki Rangga Wibawa. Tetapi Wacana berpesan agar aku tidak mengatakan apapun tentang niat kedatangannya di Tanah Perdikan dan apa yang telah terjadi dengan Sabungsari. Jika hal itu kemudian didengar oleh Raras, maka ia tidak akan berani lagi pulang ke rumah Ki Rangga Wibawa.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Sabungsari yang hanya menundukkan kepalanya saja tanpa memberikan tanggapan sama sekali. Karena yang terjadi itu bagi Sabungsari sama sekali tidak dikehendakinya.

Agung Sedayu yang dapat mengerti perasaan Sabungsari tidak memperpanjang persoalan itu. Ia pun kemudian segera minta diri kepada Ki Gede dan kepada yang lain untuk segera pergi ke barak dan kemudian ke Mataram.

Sementara itu para pengawal masih sibuk mengumpulkan para korban dalam pertempuran menjelang fajar di padukuhan itu. Beberapa orang yang tertawan telah berada di banjar pula. Namun agaknya orang-orang yang tertawan itu tidak banyak mengetahui tentang tugas kehadiran mereka di Tanah Perdikan Menoreh.

Meskipun demikian beberapa orang yang akan dapat memberikan lebih banyak pengenalan orang-orang Tanah Perdikan terhadap mereka yang ada di seberang bukit.

Hari itu Tanah Perdikan Menoreh bukan saja menjadi sibuk. Tetapi beberapa orang telah berduka. Anak-anak mereka telah menjadi korban kegarangan orang-orang yang berada di balik bukit itu. Bahkan ada diantara mereka yang telah gugur.

Glagah Putih dan Sabungsari masih juga berada di padukuhan itu. Demikian pula Ki Gede Menoreh. Ia berada diantara rakyatnya yang sedang berduka menangisi anak-anak mereka.

Ki Gede hanya dapat mengusap dadanya. Betapapun orang-orang Tanah Perdikan menyadari arti dari satu pengorbanan, tetapi orang-orang yang langsung kehilangan itu tentu akan menjadi sedih. Anak-anak muda yang sejak masa kanak-kanaknya dirawat dengan penuh kasih sayang, dibesarkan dengan segala usaha dengan seonggok cita-cita dan harapan, ternyata ketika anak itu sedang mulai berkembang ke usia dewasa telah direnggut oleh maut.

Setiap kali Ki Gede hanya dapat mengatakan kepada mereka yang langsung kehilangan bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia.

“Tanah Perdikan ini akan selalu mengenang pengorbanan mereka,” berkata Ki Gede selanjutnya, “darah mereka telah menyiram tanah kelahiran ini. Jasad mereka akan dibaringkan di pangkuan tanah kelahiran pula. Kita serahkan mereka kepada Yang Maha Agung yang telah memanggilnya. Namun apa yang telah mereka lakukan di Tanah Perdikan ini akan diteruskan dari angkatan ke angkatan berikutnya dengan penuh tanggung jawab.”

Orang-orang yang langsung kehilangan itu memang mengangguk-angguk. Tetapi penalaran mereka kadang-kadang tidak sejalan dengan perasaan mereka. Sementara itu peristiwa-peristiwa serupa masih akan terjadi di Tanah Perdikan itu. Orang-orang yang tidak dikenal masih berkemah di seberang perbukitan. Mereka akan dapat datang setiap saat menebarkan maut meskipun harus dibayar mahal pula karena mereka pun akan selalu akan dibayangi oleh maut pula.

Setelah memberikan beberapa petunjuk kepada Prastawa, maka Ki Gede pun kemudian kembali ke padukuhan induk. Ia pun telah menitipkan padukuhan itu kepada Glagah Putih dan Sabungsari selama mereka masih akan berada di padukuhan itu.

“Aku akan mengirimkan beberapa pengawal pilihan untuk berada di padukuhan ini dan padukuhan sebelah,” berkata Ki Gede ketika ia meninggalkan padukuhan itu.

Sepeninggal Ki Gede, maka Prastawa telah mengatur pengawal yang ada di padukuhan itu untuk berjaga sebaik-baiknya. Bahaya masih tetap mengancam padukuhan itu. Sementara itu Prastawa memang menganjurkan, bagi mereka yang mempunyai sanak kadang padukuhan-padukuhan lain yang lebih jauh dari perbukitan agar untuk sementara menitipkan perempuan dan anak-anak padukuhan-padukuhan itu.

Dalam pada itu, Prastawa bersama dengan Glagah Putih dan Sabungsari pun telah mengunjungi padukuhan sebelah menyebelah. Padukuhan yang sedikit lebih jauh dari padukuhan yang telah mendapat serangan itu.

Prastawa ingin memberikan penjelasan kepada para penghuninya agar mereka mengetahui dengan pasti, apa yang telah terjadi. Bahkan kepada penghuni padukuhan itu. Prastawa juga menganjurkan agar perempuan dan anak-anak dititipkan kepada sanak kadang yang tinggal di padukuhan yang lebih jauh.

Meskipun demikian, Prastawa pun tetap memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi.

Hari itu juga Prastawa telah memanggil pimpinan kelompok-kelompok pengawal yang ada di Tanah Perdikan Menoreh berkumpul di padukuhan yang baru saja mendapat serangan. Selain menghormati pemakaman, para korban yang gugur, Prastawa pun memberikan beberapa penjelasan kepada para pemimpin kelompok pengawal agar mereka menjadi semakin berhati-hati.

“Hal seperti ini dapat terjadi di semua padukuhan,” berkata Prastawa, “tidak hanya di padukuhan ini.”

Para Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Mereka memang menyadari akan hal itu. Namun Prastawa pun kemudian berkata, “Beberapa orang kelompok pengawal terpilih akan dipersiapkan untuk bergerak setiap saat ke padukuhan-padukuhan yang memerlukan. Tetapi padukuhan-padukuhan itu sendiri harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tidak mustahil bahwa dua tiga padukuhan akan mendapat serangan bersama-sama.”

Demikianlah, ketika para pemimpin kelompok itu kembali ke padukuhan masing-masing, maka segala persiapan pun segera dilakukan. Para pengawal dan anak-anak muda sepadukuhan setiap malam harus bersiaga sepenuhnya. Setiap saat mereka dapat dipanggil untuk berkumpul di banjar, bahkan bertempur jika padukuhan mereka diserang.

Sementara itu, di perkemahan orang-orang yang tidak kenal di seberang perbukitan menjadi gempar pula. Berbeda dengan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang ikut merasa berduka cita atas gugurnya beberapa orang pengawal dan anak-anak mudanya, maka para pemimpin di perkemahan itu telah mengumpati orang-orang mereka yang terbunuh terluka dan tertangkap.

Ki Tempuyung Putih menjadi sangat marah ketika orang-orangnya yang berhasil melarikan diri datang kembali ke perkemahan.

“Pengecut,” geram Ki Tempuyung Putih, “kau biarkan kawan-kawanmu dibantai oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, sementara kau lari pontang-panting meninggalkan medan pertempuran. Kenapa kau tidak bertempur sampai mati atau berhasil menghancurkan padukuhan itu serta membunuh orang-orang yang telah membunuh kawan-kawanmu diatas bukit?”

“Sebagian kawan-kawan kami telah menyerah,” jawab salah seorang dari mereka yang berhasil melarikan diri itu.

“Mereka lebih pengecut lagi,” Ki Tempuyung Putih berkata lantang, “jika kami berhasil memasuki padukuhan itu dan menemukan mereka yang menyerah, maka mereka harus dihukum mati.”

Tidak seorang pun yang berani menjawab. Sementara itu Ki Tempuyung Putih berkata selanjutnya, “Sampai hari ini ternyata Ki Resi Belahan belum datang. Aku masih harus menunggu sebelum aku sempat mengambil langkah-langkah yang menentukan. Sementara itu, kalian sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu disini. Bahkan sangat memalukan dan pengecut.”

Semuanya hanya terdiam sambil menunduk. Dengan marah yang semakin menyala Ki Tempuyung Putih berkata pula, “Beberapa hari sebelumnya Bajang Engkrek itu hilang. Kemudian orang-orang kita dibantai diatas bukit. Sekarang beberapa orang membunuh diri, yang lain menyerah dan melarikan diri. Apa yang akan dapat kita capai dengan jiwa kerdil seperti ini?”

Karena tidak ada suara apapun juga, maka Ki Tempuyung Putih masih berkata lagi, “Putut Sawega itu hanya mulutnya sajalah yang terlalu lebar. Tetapi menghadapi orang-orang padukuhan kecil saja ia tidak mampu. Bahkan mati. Tetapi mati lebih baik baginya dari pada aku harus menghukum mati orang itu.”

Semuanya masih terdiam. Tiba-tiba saja Ki Tempuyung Putih berteriak, “Pergi kalian orang-orang yang berjiwa kerdil. Lebih kerdil dari Bajang Engkrek itu. Ia kerdil tubuhnya, tetapi jiwanya tidak. Dengan berani dan tegar ia menghadapi tekanan kewadagan yang luar biasa, bahkan seakan-akan ia tidak mengeluh sama sekali. Ia Justru menantang untuk mati. Tekanan dan siksaan yang dideritanya tidak membuatnya kehilangan ketegaran jiwanya.”

Orang-orang yang gagal memasuki padukuhan tetapi berhasil melarikan diri itu pun segera meninggalkan Ki Tempuyung Putih sebelum sikapnya berubah. Bahkan mungkin sekali terjadi. Ki Tempuyung Putih itu dengan serta merta membunuh mereka jika mereka berada di dekatnya.

Kegagalan Putut Sawega yang bahkan membawa nyawanya serta, membuat Ki Tempuyung Putih menjadi marah sekali. Tetapi Ki Tempuyung Putih masih harus banyak menahan diri. Ia menanti Resi Belahan, yang belum juga datang ke perkemahan itu. Sementara itu, Bajang yang akan dapat mengejutkan Resi Belahan jika ia datang, justru telah terlepas dari tangannya.

Dengan darah yang bagaikan mendidih, Ki Tempuyung Putih itu pun telah memerintahkan menyiapkan kelompok yang lebih besar lagi. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kelompok itu setiap saat akan dapat digerakkan. Kelompok itu harus berhasil menguasai sebuah pedukuhan dan mendapatkan sesuatu dari padanya. Ternak atau pengawal yang dapat kita peras keterangannya. Terutama tentang Bajang Bertangan Baja itu.”

Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan telah dipanggil untuk menemuinya di gubug khususnya.

“Ki Tempuyung Putih memanggil aku?” bertanya orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu.

“He, kau sudah mendengar bahwa Putut Sawega mati?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

“Ya. Aku sudah mendengar,” jawab orang yang bertubuh tinggi.

“Dengan demikian di padukuhan itu tentu ada orang yang berilmu,” berkata Ki Tempuyung Putih pula.

“Belum tentu,” jawab orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan. Katanya selanjutnya, “Mungkin Putut Sawega terjebak dalam kelompok orang-orang padukuhan. Bukankah jumlah mereka jauh lebih banyak dari orang-orang kita? “

“Meskipun dikepung oleh sekelompok orang padukuhan, jika diantara mereka tidak ada yang berilmu, maka mereka tidak akan dapat mengalahkan Putut Sawega,” jawab Ki Tempuyung Putih.

Orang bertubuh tinggi itu hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tetap tidak yakin, bahwa di padukuhan itu ada orang atau apalagi beberapa orang yang berilmu tinggi. Menurut orang itu, meskipun Putut Sawega berilmu tinggi, tetapi kemampuannya itu ada batasnya pula. Jika ia harus melawan sejumlah orang-orang padukuhan, maka memang mungkin ia tidak mampu untuk menyelamatkan hidupnya.

Namun dalam pada itu Ki Tempuyung Putih berkata, “Menurut laporan yang disampaikan kepadaku, Putut Sawega bertempur seorang melawan seorang dengan salah seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh.”

“Aku tidak yakin,” jawab orang bertubuh tinggi itu, “pengecut-pengecut itu tentu tidak sempat memperhatikan pertempuran itu dengan baik, karena mereka tergesa-gesa melarikan diri dari medan. Mereka tentu hanya sempat melihat Putut Sawega yang bertempur dengan berani itu jatuh dan tidak bangkit lagi. Itu saja.”

Kemarahan Ki Tempuyung Putih telah menyala lagi. Hampir saja ia memanggil orang-orang yang telah melarikan diri itu. Namun orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu berkata, “Biarkan mereka. Aku akan membawa mereka kembali ke padukuhan. Aku akan memaksa mereka bertempur sampai atau menang untuk membawa ternak kembali kemari. Lembu dan kambing untuk membawa beberapa orang untuk mendapat keterangan tentang Bajang Engkrek yang hilang dari perkemahan kita itu.”

Ki Tempuyung Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “baiklah. Bawa kapan saja mereka kembali ke padukuhan. Aku tidak mau lagi melihat mereka sempat melarikan diri.”

Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu mengangguk. Katanya, “Aku akan menunggu dua atau tiga hari lagi. Aku akan menyerang mereka dengan tiba-tiba. Sasaranku bukan padukuhan terdekat. Aku akan menyerang padukuhan yang justru agak jauh dari perbukitan. Kekuatan Tanah Perdikan tentu berada di padukuhan terdekat yang pernah diserang oleh Putut Sawega.

Ki Tempuyung Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepadamu. Tetapi kita segera memerlukan keterangan tentang Bajang Bertangan Baja itu.”

Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu mengangguk. Katanya, “Baiklah seandainya Resi Belahan datang sebelum aku menangkap orang Tanah Perdikan dari padukuhan itu, maka aku kira kita akan memburunya di tengah-tengah sawah atau bahkan pasar sekalipun.”

“Tetapi sudah tentu bukan sembarang orang. Mereka tentu tidak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita,” berkata Ki Tempuyung Putih, “kita harus memilih orang yang kita lakukan itu tidak sia-sia.”

“Baiklah,” berkata orang yang bertubuh tinggi itu, “aku akan memilih diantara mereka.”

Ki Tempuyung Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepadamu. Tetapi kita tidak boleh selalu gagal. Hal itu akan membesarkan hati orang-orang Tanah Perdikan. Pada saatnya mereka tentu akan berani menyerang perkemahan kita disini. Meskipun jika hal itu mereka lakukan, maka mereka akan membunuh diri. Mereka tentu melihat betapa besar kekuatan kita. Bukan jumlah kita tetapi kemampuan kita.”

Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian minta diri setelah Ki Tempuyung Putih memberi ijin untuk memilih orang-orang yang akan dibawa menyeberangi bukit turun ke padukuhan.

Sementara itu di padukuhan induk, Prastawa telah menyerahkan beberapa orang tawanan kepada Ki Gede untuk diminta keterangannya. Mereka terdiri dari orang-orang yang dianggap mewakili kelompok-kelompok orang yang ada di perkemahan. Diantaranya ada orang-orang yang agaknya memiliki cara hidup yang agaknya masih terbelakang. Bentuk tubuh, pakaian dan sifat mereka agak berbeda dengan kelompok-kelompok yang lain yang nampaknya sudah memiliki peradaban yang sewajarnya.

“Kita harus lebih berhati-hati menghadapi orang-orang yang nampaknya kasar dan tidak terikat pada paugeran apapun juga itu, paman,” berkata Prastawa.

“Kita menunggu angger Agung Sedayu,” berkata Ki Gede.

“Bukankah ia berjanji kembali pada hari ini juga?” desis Prastawa.

“Ya. Nanti lewat senja, biarlah seseorang melihat ke rumahnya apakah ia sudah kembali atau belum,” berkata Ki Gede kemudian. “tetapi jika Agung Sedayu itu belum kembali hari ini, biarlah Glagah Putih dan Sabungsari ikut mencari keterangan dari orang-orang yang tertawan itu,” jawab Ki Gede.

Prastawa mengangguk-angguk pula. Katanya, “Mereka sudah berada di rumahnya. Mereka kembali ke padukuhan induk bersamaku membawa para tawanan.”

“Bagaimana dengan padukuhan-padukuhan di dekat perbukitan?” bertanya Ki Gede kemudian.

“Semuanya sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya,” jawab Prastawa.

“Aku telah mempersiapkan kelompok-kelompok pengawal untuk berada di empat padukuhan yang terdekat dengan perbukitan,” berkata Ki Gede pula.

Namun Prastawa berkata, “Mungkin sasaran mereka bukan di padukuhan terdekat lagi paman. Tetapi aku sudah minta agar semua padukuhan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kentongan dapat dipergunakan jika keadaan memang memaksa. Beberapa kelompok pengawal berkuda pun telah disiapkan pula sehingga setiap saat dapat bergerak dengan cepat.

“Mudah-mudahan kita dapat mengatasi orang-orang yang berada di perkemahan itu,” berkata Ki Gede kemudian.

Dengan demikian maka para tawanan itu masih ditempatkan di ruang yang khusus dan dijaga dengan ketat. Ternyata bahwa orang-orang yang nampaknya lebih keras dan lebih kasar dengan yang lain itu memang lebih sulit untuk diatur. Bahkan dengan kawan-kawan mereka sendiri dalam bilik yang tertutup selalu berselisih. Bahkan ada diantara mereka yang berkelahi sehingga para pengawal terpaksa ikut campur untuk melerai mereka setelah kawan-kawan mereka di bilik itu tidak mampu melakukannya.

Namun sebenarnyalah terhadap mereka para pengawal Tanah Perdikan harus hati-hati karena mereka dapat berbuat sesuatu di luar dugaan.

Lewat senja, sebelum Ki Gede memerintahkan seseorang untuk melihat apakah Agung Sedayu sudah pulang apa belum, maka ternyata Agung Sedayu dan Glagah Putih telah datang ke rumah Ki Gede.

Keduanya pun kemudian dipersilahkan untuk duduk di pendapa.

Ki Gede dan Prastawa kemudian setelah menemui mereka sementara orang-orang telah menyuguhkan minuman dan makanan kepada keduanya.

“Aku baru saja datang Ki Gede,” berkata Agung Sedayu, “di Mataram aku menemui beberapa orang sekaligus. Mumpung aku berada di Mataram.”

“Bagaimana tanggapan para pemimpin Mataram tentang orang-orang di seberang bukit?”

“Aku mendapat ijin untuk mempergunakan Pasukan Khusus untuk membantu Tanah Perdikan menghadapi orang-orang itu. Menurut penilaian Mataram, maka kedatangan orang itu agaknya memang sengaja ditunjukkan untuk membuat keresahan di Mataram. Tanah Perdikan adalah satu lingkungan yang dekat dengan Kotaraja Mataram, sehingga Tanah Perdikan ini akan dapat menjadi sasaran gerakan pengacauan mereka selanjutnya. Karena itu, Mataram juga berkepentingan untuk menangkal mereka.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih ngger. Dengan demikian maka hati kami menjadi semakin tenang, karena kami yakin bahwa kekuatan Pasukan Khusus di Tanah Perdikan itu cukup besar meskipun jumlahnya itu tidak berlebihan.”

“Tetapi kekuatan Tanah Perdikan Menoreh sendiri sebenarnya cukup besar pula. Tetapi jika kekuatan para pengawal Tanah Perdikan itu harus terbagi pada setiap padukuhan itulah yang agak terasa sulit. Kita tidak tahu padukuhan manakah yang akan didatangi oleh orang-orang di seberang pegunungan itu. Sementara pada saat ini untuk menyerang mereka nampaknya masih terlalu tergesa-gesa. Kita belum tahu pasti kekuatan dan jebakan-jebakan apa yang telah dibuat orang-orang di seberang bukit itu sehingga kita memerlukan waktu untuk melakukannya.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “sementara itu, mereka dapat bergerak setiap saat untuk mendatangi padukuhan- padukuhan yang satu dengan yang lain terpisah.”

“Ki Gede,” berkata Agung Sedayu, “aku akan dapat menempatkan kelompok Pasukan berkuda di Tanah Perdikan ini. Mereka akan dapat bergerak cepat ke padukuhan-padukuhan yang memerlukan meskipun tidak mustahil bahwa ada dua atau tiga padukuhan yang bersama-sama membutuhkan bantuan karena serangan mereka terbagi atas beberapa padukuhan. Kegagalan orang-orang di seberang bukit itu membuat mereka lebih berhati-hati lagi.”

“Kita memang harus mengamati setiap gerakan mereka. Nampaknya mereka juga menduga bahwa Bajang Bertangan Baja ada di tangan kita,” sahut Prastawa.

Hanya orang-orang terpilih sajalah yang akan melakukannya. Apalagi mendekati perkemahan itu. Nampaknya tingkat kemampuan orang-orang di perkemahan itu yang satu dengan yang lain jauh berbeda. Bahkan ada diantara mereka orang-orang yang hanya berpijak pada keberanian, kekerasan justru tidak sempat terlalu banyak mempergunakan pikirannya,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Itulah yang ingin aku bicarakan sekarang ngger.” berkata Ki Gede, “Aku berharap bahwa angger Agung Sedayu dan Glagah Putih sempat berbicara dengan orang-orang itu.”

“Baiklah Ki Gede. Nampaknya keterangan mereka akan berarti bagi kita,” jawab Agung Sedayu.

Ki Gede pun kemudian telah mengajak Agung Sedayu dan Glagah Putih pergi ke banjar. Beberapa orang yang tertangkap di padukuhan terdekat dengan perbukitan itu telah dibawa dan ditempatkan di banjar itu.

Namun agaknya memang sulit berhubungan dengan orang-orang yang nampaknya kasar dan keras itu. Ketika dua orang diantara mereka dipanggil keluar dari bilik mereka telah menolak.

“Ki Gede ingin bertemu dengan kalian,” berkata pengawal yang memanggilnya.

“Suruh orang itu kemari,” orang itu justru membentak.

“Kau yang harus menghadapnya,” pengawal itu pun menjadi jengkel.

Tetapi orang itu sama sekali tidak beringsut. Bahkan matanya yang memandang pengawal itu dengan tajamnya, menjadi merah.

“Cepat,” bentak orang itu.

“Apakah kau tuli,” orang itu berteriak, “suruh orang itu kemari.”

Pengawal itu menjadi marah. Dengan serta merta ia mencabut pedangnya. Beberapa orang pengawal yang lain pun ikut merasa tersinggung karena sikap orang itu. Mereka menganggap bahwa orang itu telah menghina Kepala Tanah Perdikan mereka.

Namun Agung Sedayu yang mendengar teriakan-teriakan itu telah mendekat. Kepada Pengawal yang marah itu Agung Sedayu berkata, “Biarlah aku yang membawanya keluar.”

Agung Sedayu lah yang kemudian memasuki bilik bagi beberapa orang tahan itu. Beberapa orang yang lain justru telah menyibak. Namun orang yang dipanggil itu justru berdiri tegak seakan-akan menantang Agung Sedayu.

“Kau membuat kita semua mendapatkan kesulitan,” desis seorang diantara para tawanan itu.

Tetapi orang kasar itu justru membentaknya, “Pengecut. Aku bunuh kau nanti.”

Tetapi orang itu juga menjadi marah. Katanya, “Setan. Kau kira aku takut padamu.”

Agung Sedayu pun kemudian telah melangkah memasuki ruangan itu. Ditrapkannya ilmu kebalnya. Dalam keadaan yang rumit itu ia harus berjaga-jaga.

Orang-orang yang ada di ruangan itu terdiam melihat kehadiran Agung Sedayu. Mereka tidak tahu, siapakah orang yang baru masuk itu. Namun dengan suara berat berwibawa Agung Sedayu berkata, “Jangan bertengkar. Tidak ada artinya sama sekali bagi kalian.”

Orang-orang itu tidak menjawab, sementara Agung Sedayu mendekati orang kasar itu sambil berkata, “Marilah. Ikut aku. Ki Gede memanggilmu.”

“Aku sudah berkata berkali-kali. Suruh orang yang memanggilku itu datang kemari.”

“Kau tidak dapat menolak. Kau tawanan kami. Kami dapat membunuhmu jika kami kehendaki,” berkata Agung Sedayu pula.

“Aku tidak takut mati. Jika kau merasa mampu membunuhku, bunuhlah. Tetapi kau pun akan mati di tanganku.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika kau tidak takut mati, kenapa kau menyerah? Kenapa kau tidak melawan di bukit sampai mati?”

“Orang-orang licik itu menyerah. Aku hanya terpengaruh saja saat itu. Tetapi kemudian aku menyesal. Karena itu, maka kau jangan mencoba berbuat aneh-aneh terhadapku, karena aku akan dapat membunuh siapa saja sekarang. Kau jangan memaksa aku menghadap siapa pun. Siapa yang memerlukan aku, ia harus datang kepadaku.”

Adalah di luar dugaan dan sama sekali bukan kebiasaan Agung Sedayu jika tiba-tiba saja ia telah memukul mulut orang itu, sehingga orang itu terkejut. Selangkah ia surut. Mulutnya memang terasa sakit sekali.

Meskipun demikian ia justru menggeram, “Aku dapat membunuhmu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi tangannya memukul mulut orang itu.

Orang itu menggeram. Tiba-tiba saja ia melompat maju. Tangannya terayun deras sekali memukul kening Agung Sedayu.

Orang-orang yang menyaksikannya menjadi terkejut bukan buatan. Agung Sedayu tidak sempat mengelak, sementara ayunan tangan orang kasar itu meluncur deras sekali.

Dengan demikian maka pukulan orang itu tepat mengenai kening Agung Sedayu. Demikian kerasnya, sehingga orang yang menyaksikannya telah menahan nafasnya. Jantung mereka menjadi berdebaran.

Mereka mengira bahwa Agung Sedayu akan terlempar dan jatuh terlentang.

Tetapi mereka terkejut untuk kedua kalinya. Agung Sedayu tetap berdiri tegak. Ia sama sekali tidak menjadi goyah karena pukulan yang sangat keras itu. Bahkan Agung Sedayu justru melangkah maju sambil berkata, “Tidak ada gunanya kau memukul aku. Sekarang ikut aku pergi menghadap Ki Gede.”

Orang itu pun menjadi sangat heran melihat Agung Sedayu masih tetap berdiri tegak dan bahkan mendekat. Karena itu, maka sekali lagi orang itu mengayunkan tangannya. Ia tidak lagi meninju. Tetapi orang itu menerkam wajah Agung Sedayu dengan kedua tangannya. Jari-jarinya mengembang sedang kukunya yang panjang dan kehitam-hitaman siap mengoyak kulit wajah Agung Sedayu.

Agung Sedayu sama sekali tidak mengelak. Dibiarkannya jari tangan itu mencengkeram wajahnya.

Sekali lagi orang itu terkejut. Bahkan jantungnya mulai bergetar. Agung Sedayu sama sekali tidak tergeser dari tempatnya. Wajahnya sama sekali tidak tergores oleh kuku-kukunya yang tajam. Bahkan jari-jarinya terasa menjadi sakit bagaikan menerkam seonggok besi baja.

Agung Sedayu masih saja berdiri tegak. Bahkan sekali lagi ia membentak, “Cepat. Jangan mengganggu aku kehilangan kesabaran. Keluar dari bilik ini dan ikut menghadap Ki Gede.”

“Tidak. Kau Dengar. Tidak,” orang itu berteriak keras sekali.

Tetapi suaranya patah ketika sekali lagi Agung Sedayu menampar wajahnya. Demikian kerasnya sehingga wajahnya itu terputar ke samping.

Orang itu memang mengaduh kesakitan. Lehernya bagaikan retak sementara pipinya serasa membengkak.

Belum lagi ia sempat memperbaiki kedudukannya, Agung Sedayu telah memukul perutnya sehingga orang itu terbungkuk kesakitan. Kedua tangannya memegangi perutnya yang bagaikan bergejolak. Ususnya bagaikan terpuntir melingkar-lingkar sehingga orang itu menjadi sangat muak.

Ketika ia sekali lagi mencoba melawan dan memukul dada Agung Sedayu, maka Agung Sedayu telah melangkah maju. Pukulan yang mengenai dadanya itu seakan- akan tidak terasa sama sekali.

Orang yang kasar itu memang menjadi bingung melihat ketahanan tubuh Agung Sedayu. Ketika Agung Sedayu melangkah maju lagi, maka orang itu telah bergeser surut.

“Ingat,” berkata Agung Sedayu, “aku dapat berbuat apa saja atasmu sementara kau tidak dapat berbuat apa-apa atasku. Karena itu sekali lagi aku katakan kepadamu, ikuti aku, atau kau akan aku remukkan disini tanpa membunuhmu. Aku tahu kau tidak takut mati. Tetapi kau tentu takut hidup dengan tubuh yang remuk.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Dipandanginya Agung Sedayu dengan tajamnya. Ketika Agung Sedayu melangkah maju lagi, maka orang itu bergeser surut. Tetapi kemudian tidak akan dapat mundur lagi karena punggungnya sudah melekat pada dinding ruangan itu.

Sementara itu Agung Sedayu berkata lagi, ”jawab pertanyaanku. Kau memilih aku menghadap Ki Gede, atau kau akan menjadi orang yang cacat seumur hidupmu. Kau akan berjalan merangkak karena kakimu patah. Sedangkan tanganmu pun akan tidak banyak berarti lagi selain hanya sekedar untuk menggeser tubuhmu. Wajahmu tidak akan dapat dikenali lagi sebagaimana kau sekarang ini.”

Wajah orang yang tegang itu menjadi pucat. Ia memang tidak dapat melawan orang yang bertubuh sekeras besi baja itu.

Ketika Agung Sedayu siap untuk memukulnya lagi, maka orang itu pun berkata dengan serta merta, “Baik. Baik. Aku akan menghadap orang yang kau sebutkan itu.”

“Jika demikian, marilah. Ikut aku.”

Orang itu tidak membantah, sementara Agung Sedayu telah menunjuk seorang lagi untuk bersamanya menghadap Ki Gede Menoreh di pendapa banjar.

Orang yang kasar itu benar-benar menjadi ketakutan. Meskipun ia tidak takut mati, tetapi Agung Sedayu itu baginya mirip sosok hantu yang dapat berbuat apa saja tanpa dapat dibalasnya. Sehingga karena itu, maka ia benar-benar menjadi tunduk kepadanya.

Dihadapan Ki Gede, maka kedua orang itu duduk sambil menundukkan kepalanya. Ki Gede yang memperhatikan mereka sempat mengangguk-angguk kecil. Orang-orang itu memang nampak kasar dan keras. Rambutnya tidak teratur, tergerai dibawah ikat kepalanya yang asal saja dikenakan di kepalanya. Jambang, kumis dan janggutnya tumbuh tidak terawat.

Dengan nada berat Ki Gede pun kemudian bertanya, “Siapakah nama kalian berdua? Bukankah kalian juga mempunyai nama?” Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tetapi keduanya kemudian memandang Agung Sedayu yang duduk di sebelah mereka. Karena Agung Sedayu memandang mereka dengan tajamnya, maka mereka pun kemudian tetap berpaling.

“Siapa nama kalian?” Ki Gede mengulangi.

“Jawablah. Kau tahu itu bahwa pertanyaan Ki Gede harus kalian jawab dengan benar dan jujur. Atau dahimu akan aku lubangi,” geram Agung Sedayu.

Glagah Putih dan Prastawa lah yang kemudian saling berpandangan melihat sikap Agung Sedayu yang berubah.

Tetapi mereka pun mengerti, kenapa Agung Sedayu bersikap demikian. Nampaknya orang-orang yang keras kepala itu harus ditangani dengan sikap yang khusus agar mereka bersedia melakukan perintah-perintah yang diberikan kepada mereka.

Karena ancaman Agung Sedayu itu, maka seorang diantaranya menjawab, “Namaku Pogog.”

“Yang lain?,” desak Agung Sedayu.

“Namaku Gancar Gede,” jawab yang seorang lagi.

“Kenapa Gede?” Glagah Putih tidak dapat mencegah keinginannya untuk mengetahui maksud nama itu.

“Adikku namanya juga Gancar. Gancar cilik.” jawab orang itu.

Glagah Putih mengangguk-angguk, sedangkan Prastawa menahan tertawa.

Sementara itu, maka Ki Gede pun bertanya pula, “Dimana tempat tinggalmu yang sebenarnya.?”

“Aku tinggal dimana saja aku suka,” jawab orang itu.

“Jawab yang benar,” bentak Agung Sedayu.

“Aku sudah menjawab yang benar,” jawab Pogog.

“Kau tinggal dimana sebelum aku berada di perkemahan itu. Di Kademangan mana, atau Kadipaten mana,” Agung Sedayu membentak lagi.

Orang itu juga membentak, “aku tidak masuk tlatah mana-mana. Tidak ada orang yang memerintah aku dan orang-orang sekelompokku. Aku tinggal dimana saja aku suka. Hari ini aku berada di lereng Gunung Kelud, lain kali aku berada di hutan-hutan dekat Grobogan atau menyelusuri Bengawan Solo.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya kepada Gancar Gede, “kau tinggal dimana?”

“Aku termasuk dalam keluarga Pogog yang berpindah-pindah tempat tinggal,” jawab Gancar.

“Apakah kalian berada di seberang bukit juga dengan perempuan dan anak-anak?” bertanya Ki Gede.

“Tidak,” jawab Pogog.

“Dimana perempuan dan anak-anakmu?” bertanya Ki Gede pula.

“Kau akan mencari mereka?” justru Pogog lah yang bertanya.

“Tentu tidak. Buat apa Ki Gede mencari?” Prastawa lah yang tiba-tiba menjawab.

Orang itu justru terdiam.

Namun Agung Sedayu mendesak pula, “Dimana keluarga kalian, kalian tinggalkan?”

Kedua orang itu ternyata menjadi ragu-ragu. Ketika keduanya saling berpandangan, maka Agung Sedayu mulai membentak lagi. “Katakan, dimana keluarga kalian, kalian tinggalkan.”

Gancar Gede lah yang menjawab, “Mereka kami tinggalkan di hutan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

“Hanya perempuan dan anak-anak?” desak Agung Sedayu.

“Beberapa orang laki-laki menemani mereka. Juga anak-anak yang mendekati dewasa,” jawab Gancar Gede.

“Apa yang mereka makan selama kalian tinggalkan?” bertanya Prastawa.

“Laki-laki dan anak laki-laki yang mulai tumbuh itu setiap hari pergi berburu. Mereka juga mencari akar-akaran di hutan. Juga buah-buahan. Di hutan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terdapat banyak buah-buahan, terutama pisang,” jawab Gancar.

“Kenapa kalian tiba-tiba saja berada di seberang bukit?” bertanya Ki Gede kemudian.

“Kami mencari tempat tinggal yang lebih baik,” jawab Pogog dengan serta merta.

“Siapakah yang mengajak kalian? Bukankah kalian sudah terbiasa tinggal berpindah-pindah?,” desak Ki Gede.

“Kiai Sana Kikis,” jawab Pogog pendek.

Nampaknya kedua orang itu menjawab sebagaimana mereka ketahui. Mereka sama sekali tidak ingin berbelit-belit.

Agung Sedayu kemudian bertanya, “Siapakah Kiai Sana Kikis itu?”

“Bagaimana aku mengatakannya? Ia tidak ada disini sekarang. Juga tidak ada di bilik pengab itu tadi. Bagaimana pun juga aku menyebutnya, kalian tetap tidak akan tahu,” jawab Pogog.

Yang mendengar jawaban itu mengangguk-angguk. Yang dikatakan oleh Pogog itu memang benar. Meskipun demikian Agung Sedayu pun berkata, “Katakan, apa hubunganmu dengan Kiai Sana Kikis. Dimanakah ia sekarang berada. Di perkemahan atau di lembah di celah-celah Gunung Merapi dan Merbabu? Atau dimana? Dan kenapa kau menurut saja kepada Kiai Sana Kikis?”

“Kiai Sana Kikis itu memelihara demit. Ilmunya tinggi sekali. Ia dapat berbuat apa saja yang orang lain tidak dapat melakukannya,” jawab Gancar.

“Misalnya, apa yang dapat dilakukan?” bertanya Agung Sedayu.

“Ia dapat membunuh orang tanpa menyentuhnya. Ia dapat menyakiti orang dari jauh. Ia dapat memasukkan duri dan tulang ke dalam tubuh orang lain dari rumahnya,” jawab Gancar pula.

Yang mendengar jawaban itu mengangguk-angguk. Ki Gede dengan nada berat bertanya, “Apa yang ditawarkan kepada kalian, sehingga kalian bersedia mengikutinya ke seberang bukit?”

“Kami akan mendapat tanah yang luas dan subur. Kami tidak perlu berpindah-pindah lagi. Disini ada hutan, ada sawah dan ada sungai. Kami dapat berburu, mencari buah-buahan di hutan, mencari ikan di sungai dan kami dapat menanami tanah yang sudah tergelar tanpa menebang hutan,” jawab Pogog.

“Kau tahu bahwa tempat ini sudah lebih dahulu dihuni?” bertanya Prastawa.

“Kiai Sana Kikis akan mengusir mereka. Yang tidak mau pergi akan dibunuh dari jauh. Tubuh mereka akan dihancurkan dengan duri dan tulang.” jawab Pogog.

“Jika demikian kenapa kalian harus bertempur? Kawan-kawan kalian ada yang mati. Kenapa bukan Kiai Sana Kikis saja yang membunuh lawan-lawanmu? Maksudku penghuni yang telah ada di tanah yang dijanjikan kepadamu?” berkata Agung Sedayu pula.

“Sebelum Kiai Sana Kikis bertindak maka kami mendapat wewenang untuk melakukannya pula dengan cara kami. Kiai Sana Kikis tidak melarang kami membunuh orang-orang yang tinggal di tempat yang dijanjikan kepada kami.” jawab Pogog.

“Apa hubungannya Kiai Sana Kikis dengan Ki Tempuyung Putih yang juga tinggal di seberang bukit itu?” bertanya Ki Gede.

“Ki Tempuyung Putih memimpin semua orang. Kiai Sana Kikis memimpin kami. Tetapi sekarang Kiai Sana Kikis baru pergi mencari orang yang disebut Resi Belahan,” jawab Pogog.

“Jadi kalian semua harus tunduk kepada Ki Tempuyung Putih dan Kiai Sana Kikis?” bertanya Prastawa.

“Masih ada beberapa orang yang memelihara iblis di seberang bukit,” jawab Pogog, “mereka yang tidak tunduk kepada orang-orang yang memelihara demit itu, tentu akan mati, apapun alasannya. Gandu yang berani membantah perintah Kiai Sana Kikis, mati dipagut ular. Rame yang tidak berangkat berburu karena malas, tiba-tiba saja mati tercekik tanpa sebab.”

“Apakah kalian tidak takut mati karena kalian menyerah?” bertanya Prastawa kemudian, “bukankah Kiai Sana Kikis atau Ki Tempuyung Putih dapat membunuhmu selagi kau duduk disini sekarang?”

“Mereka tahu bahwa itu bukan salahku. Aku hanya ikut ikutan menyerah. Sebenarnya aku tidak ingin menyerah,” jawab Pogog. Namun nampaknya kecemasan membayang di wajahnya.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “untuk sementara kami tidak akan bertanya lebih banyak lagi. Tetapi pada kesempatan lain, kami akan minta kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan lagi.”

Tetapi Pogog itu menjawab, “Apalagi yang akan kau tanyakan? Kenapa tidak sekarang saja?”

“Tidak. Aku tidak ingin lain kali diganggu lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang memuakkan itu,” jawab Pogog, “apalagi aku akan dapat dibunuh oleh Ki Sana Kikis dari jauh jika ia tidak senang bahwa aku selalu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”

“Ia tidak akan membunuh karena kau menjawab pertanyaan-pertanyaan Ki Gede,” sahut Agung Sedayu, “Jika ia membunuh tentu karena kau menyerah, sementara kawan-kawanmu ada yang mati.”

Wajah orang itu menegang. Demikian pula wajah Gancar Gede. Namun dengan nada tinggi Pogog pun kemudian berkata, “Apapun yang akan terjadi, kau tidak dapat memaksa aku untuk berbuat menurut kehendakmu.”

“Kau ingat bahwa aku akan dapat meremukkan tubuhmu tetapi tidak membunuhmu? Itu yang tidak dapat dilakukan oleh Ki Sana Kikis. Bagiku sangat mudah untuk membunuhmu. Jika aku ikat di halaman selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan minum, maka kau akan mati. Bukankah dengan demikian aku juga dapat membunuhmu? Tetapi meremukkan tubuhmu tanpa membunuhmu itu agaknya yang sulit. Tetapi aku dapat melakukannya.”

Wajah Pogog memang menjadi tegang. Bahkan di luar sadarnya ia berkata, “Kau pun tentu memelihara demit. Tubuhmu menjadi keras seperti besi. Kau tidak menjadi kesakitan ketika aku memukulmu. Tanpa dilindungi demit itu tidak mungkin.”

Prastawa tidak dapat menahan tertawanya. Bahkan Glagah Putih harus menutup mulutnya yang tersenyum mendengar kata-kata Pogog itu.

Agung Sedayu dan Ki Gede hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun Agung Sedayu pun kemudian berkata kepada kedua orang itu, “Mari ikut aku lagi. Kau akan ditempatkan di bilik yang terpisah dari kawan-kawanmu.”

Pogog termangu-mangu. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa orang itu dapat berbuat apa saja atasnya tanpa dapat dibalasnya. Sehingga karena itu, maka Pogog tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya kepada Agung Sedayu.

Tanpa melawan Pogog dan Gancar pun telah ditempatkan di tempat yang terpisah dari kawan-kawannya. Dengan demikian maka setiap saat keduanya diperlukan, tidak akan terlalu sulit untuk mengambilnya. Apa lagi jika yang mengambil itu Agung Sedayu sendiri.

Demikian kedua orang itu disingkirkan, maka Agung Sedayu telah mengambil seorang tawanan yang lain. Bukan orang yang datang dari kelompok yang sama dengan Pogog dan Gancar.

Memang tidak banyak kesulitan sebagaimana ketika para pengawal mengambil Pogog dan Gancar. Tawanan itu menurut saja ketika ia dipanggil untuk keluar dari biliknya. Kemudian dibawa menghadap Ki Gede dan beberapa pemimpin Tanah Perdikan itu yang lain. Tetapi sebaliknya, ketika diajukan pertanyaan kepadanya, maka jawabnya menjadi membingungkan. Orang itu berusaha untuk sebanyak-banyaknya merahasiakan isi perkemahan di seberang bukit.

“Aku tidak tahu nama pemimpin kami,” jawab orang itu.

“Sebut siapa saja orang terpenting yang ada di perkemahan itu,” minta Ki Gede.

“Aku tidak tahu,” jawab orang itu.

“Siapa namamu?” tiba-tiba saja Prastawa bertanya.

Orang itu termangu-mangu, sementara Glagah Putih yang juga menjadi tidak sabar bertanya pula, “Apakah kau juga tidak tahu siapa namamu?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia menjawab. “Namaku Mertasrana,” jawab orang itu.

“Kalau kau ingat namamu, kau tentu ingat orang yang memimpin orang-orang seisi perkemahan itu,” desis Agung Sedayu.

“Aku benar-benar tidak tahu siapa pemimpin tertinggi di perkemahan itu,” jawab orang yang mengaku bernama Mertasrana itu.

“Jika demikian siapa pemimpinmu yang langsung?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Tidak ada. Kami mempunyai kedudukan yang sama di perkemahan itu,” jawab orang itu.

“Nah, jika kalian mempunyai kedudukan yang sama, lalu siapa yang berhak mengatur kalian?” desak Ki Gede.

Orang itu termangu-mangu. Tetapi ia masih mencoba untuk mengelak, “Kami adalah orang-orang yang sudah berpengalaman sehingga kami dapat menempatkan diri diantara kami semuanya. Tanpa ada yang mengatur, maka segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik, wajar dan tidak ada persoalan.”

“Apakah kau lebih dungu dari orang yang bernama Pogog dan Gancar yang baru saja kami panggil?” bertanya Agung Sedayu, “Pogog dan Gancar dapat menyebut orang-orang yang memimpin perkemahan itu. Mereka dapat menyebutkan orang yang memimpin kelompoknya dan orang yang memimpin seluruh perkemahan.”

Tetapi Mertasrana itu masih saja dapat menjawab, “Itu justru karena mereka orang-orang dungu. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kepemimpinan perkemahan itu.”

“Apakah kau tidak dungu dan tahu tentang kepemimpinan di perkemahan itu,” bertanya Agung Sedayu serta-merta.

Orang itu terdiam. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Ia melihat bagaimana Agung Sedayu berhasil memaksa Pogog untuk mengikutinya menghadap Ki Gede Menoreh. Betapa Pogog itu keras kepala, dungu dan tidak mempunyai banyak pertimbangan, namun ia terpaksa harus mengikuti perintah orang itu.

Karena itu, maka orang yang mengaku bernama Mertasrana itu harus mempertimbangkan kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya.

Agung Sedayu melihat keragu-raguan di mata Mertasrana. Justru karena itu, justru, karena itu, maka ia membentaknya, “Kau tahu bahwa Pogog dan Gancar tidak kembali ke dalam bilik itu?”

Mertasrana tidak menjawab.

“Tetapi itu karena salah sendiri. Ketika ia menjawab semua pertanyaan dengan jujur, rasa-rasanya ingin juga memaafkannya. Tetapi ternyata ia benar-benar keras kepala sehingga aku harus berbuat lebih keras atas mereka. Mereka tidak mau menghormati orang yang seharusnya paling dihormati di Tanah Perdikan ini. Hal itu yang sama artinya dengan mereka yang tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik.”

Wajah Mertasrana menjadi semakin tegang. Sementara Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Tetapi aku kira wajar sekali jika kau tidak segera menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Kau harus menunjukkan bahwa kau tidak menyerah, kau tidak dengan cepat mau mengkhianati pemimpin-pemimpinmu.”

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Apalagi ketika Agung Sedayu berkata, “Untuk menyatakan kesetiaanmu kepada pemimpinmu, maka baru setelah tulang-tulangmu berpatahan, kau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.”

Keringat dingin mengalir di punggung Mertasrana. Ia memang bukan pengecut. Tetapi kata-kata Agung Sedayu itu memang merupakan ancaman baginya. Jika Pogog dan Gancar tidak kembali ke bilik tahanan maka kemungkinan buruk dapat terjadi pula atas dirinya.

Sementara itu Agung Sedayu berkata, “Apakah kami harus mulai memaksamu berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami?”

“Baik. Baik,” suara orang itu pun bergetar, “aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian bertanya, “Siapakah pemimpin tertinggi di perkemahan itu?”

Orang itu masih ragu-ragu. Namun ketika Agung Sedayu bergeser maju sejengkal mendekatinya, maka orang itu dengan serta-merta menjawab, “Resi Belahan, Ki Sanak. Resi Belahan.”

Tiba-tiba saja Agung Sedayu mencengkam lengan orang itu dengan lambaran tenaga dalamnya. Jari-jarinya menjadi seperti tulang-tulang besi baja yang menjepit lengannya.

Orang itu menyeringai menahan sakit. Dengan gagap ia berkata, “Baik, baik. Aku akan berkata sebenarnya.”

“Kenapa kau sebut Resi Belahan? Bukankah Resi Belahan masih belum datang? Agaknya ia datang terlambat. Tetapi ia tentu bukan pemimpin perkemahan itu. Nah, sebut orang lain. Aku tahu apakah kau berbohong atau tidak.”

“Ya, ya,” orang itu terbata-bata. “memang bukan Resi Belahan. Tetapi ternyata Resi Belah mempunyai pengaruh yang sangat kuat di perkemahan kami. Jika saja ia datang, maka ia akan segera dianggap sebagai pemimpin tertinggi kami.”

“Ya, aku percaya,” jawab Agung Sedayu, “tetapi sebut nama lain sebelum Resi Belahan datang.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Agung Sedayu belum melepaskan tangannya. Bahkan cengkaman jari-jarinya menjadi semakin kuat.

Meskipun penuh kebimbangan orang itu kemudian menjawab, “Ki Tempuyung Putih. Ia untuk sementara memimpin kami penghuni perkemahan itu.”

Agung Sedayu melepaskan tangannya. Sambil menarik nafas panjang ia berkata, “Bagus. Aku percaya. Tetapi sebut lagi pemimpin kelompokmu.”

“Kami berada di bawah pimpinan Putut Sawega. Tetapi ia telah terbunuh,” jawab Mertasrana.

“Sebut nama lain. Jangan nama orang yang telah terbunuh di pertempuran,” berkata Agung Sedayu.

Orang itu menjadi bingung. Tetapi Agung Sedayu mendesak, “sebut nama orang-orang penting di perkemahan itu. Selain Ki Tempuyung Putih, Putut Sawega yang telah terbunuh. Siapa lagi?”

Orang itu termangu-mangu. Tetapi ketika ia melihat sorot mata Agung Sedayu yang tajam, maka jantungnya menjadi berdebaran, sehingga ia pun menjawab, “Di perkemahan itu ada Ki Truna Pangur, Ki Dadaplandep dan Ki Batarubuh.”

“Kenapa disebut Ki Batarubuh?” sela Glagah Putih.

Orang itu memandang Glagah Putih yang masih terlalu muda. Namun ia tidak dapat mengelak dari pertanyaan itu. Jawabannya, “Suaranya memang gemuruh, seperti setumpuk bata yang roboh.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia terdiam untuk beberapa saat. Sementara Prastawa pun bertanya, “Kenapa tidak aku sebut nama Ki Sana Kikis?”

“Ya. Memang ada Ki Sana Kikis. Tetapi ia berada diantara kelompok Pogog dan Gancar,” jawab Mertasrana. Namun bahwa Prastawa menyebut sebuah nama, maka Mertasrana menjadi lebih berhati-hati. Ternyata orang-orang itu sudah mengetahui beberapa hal tentang perkemahannya.

Orang-orang Tanah Perdikan itu juga sudah tahu serba sedikit tentang Resi Belahan dan Barangkali juga yang lain-lain.

Karena itu ketika kemudian Ki Gede bertanya tentang keadaan perkemahan itu, Mertasrana tidak berani menjawab asal saja menjawab. Jika ia ingin menyembunyikan sesuatu, maka ia harus berfikir beberapa kali.

Yang ditanyakan Ki Gede dan para pemimpin Tanah Perdikan itu berikutnya adalah keadaan perkemahan itu. Terutama Prastawa ingin tahu dimana kelompok-kelompok itu tinggal. Dimana kelompok Pogog dan dimana kelompok-kelompok yang lain.

Ketika orang itu ingin mengingkari letak kemah Ki Tempuyung Putih, maka Glagah Putih bertanya lagi, “Sebut, dimana letak Ki Tempuyung Putih itu sebenarnya.”

“Aku berkata sebenarnya. Ki Tempuyung Putih tinggal di kemah yang terbesar diantara kemah-kemah yang ada.”

Tetapi Agung Sedayu telah menangkap lengan orang itu dan menggeram, “Katakan, dimana Ki Tempuyung Putih tinggal. Ia tidak berada di gubug yang terbesar yang ada di sisi Selatan deretan gubug-gubug perkemahan itu.”

Tengkuk Mertasrana meremang. Jari-jari Agung Sedayu memang seperti batang-batang besi yang mencekam lengannya. Agar lengannya tidak patah, maka Mertasrana itu pun berdesis, “Baik, baik. Aku akan mengatakannya.”

“Tetapi kau tidak boleh bohong,” desis Agung Sedayu.

Orang itu pun berkesimpulan bahwa sebenarnya orang-orang Tanah Perdikan itu sudah tahu dimana letak gubug yang dipergunakan oleh Ki Tempuyung Putih sehingga karena itu, maka Mertasrana harus mengatakan apa yang sebenarnya.

Mertasrana menarik nafas dalam-dalam. Ketika Agung Sedayu dan orang-orang Tanah Perdikan yang lain pun mempercayainya. Namun dengan demikian Mertasrana semakin yakin, bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu pernah datang dan berada di Perkemahan itu. Bahkan dugaanya bahwa Bajang Bertangan Baja ada di Tanah Perdikan itu pun menjadi semakin mantap.

Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ia tidak dapat melaporkan bahwa ia berkesimpulan bahwa Bajang Bertangan Baja itu berada di Tanah Perdikan, karena ia tidak akan mungkin meninggalkan Tanah Perdikan itu. Sebagai seorang tawanan ia sadar sepenuhnya bahwa penjagaan di banjar itu demikian ketatnya sehingga tidak akan ada seorang tawanan pun yang akan dapat lolos. Kecuali mereka yang sengaja membunuh diri.

Demikianlah setelah beberapa pertanyaan yang lain dijawabnya dengan hati-hati maka Mertasrana itu pun telah dikembalikan lagi ke dalam bilik tahanannya. Tetapi di bilik itu masih juga belum nampak Pogog dan Gancar yang diambil lebih dahulu dari padanya.

Setelah para tawanan itu di kembalikan, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu mempunyai wawasan yang lebih luas tentang perkemahan di lereng bukit itu. Dengan demikian, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu akan dapat membuat rencana yang lebih mapan menghadapi orang-orang yang ada di seberang bukit.

“Ternyata sebagian dari mereka adalah orang-orang yang hidup dengan cara dan kebiasaan yang masih agak terbelakang. Mereka nampaknya masih belum menyadari satu lingkungan pemerintahan sehingga mereka merasa bahwa mereka tidak tunduk kepada pemerintahan yang mana pun. Namun nampaknya Resi Belahan, Ki Tempuyung Putih dan beberapa orang dapat memanfaatkan mereka dengan menunjukkan beberapa kelebihan mereka, sehingga orang-orang yang masih agak terbelakang itu dapat mereka takut-takuti. Mereka menganggap bahwa Ki Tempuyung Putih dan beberapa orang yang lain memiliki hubungan dengan kekuatan di luar jangkauan penalaran mereka. Lambaran ilmu hitam itu memungkinkan Ki Tempuyung Putih dan kawan-kawannya memberikan kesan bahwa mereka mempunyai kuasa yang tidak terlawan.”

Dengan demikian, maka selain kepada orang-orang yang masih terbelakang itu. diberikan harapan-harapan, mereka pun telah ditakut-takuti pula, sehingga dengan demikian maka mereka telah tunduk kepada perintah-perintah Ki Tempuyung Putih.

Demikianlah, maka Ki Gede pun kemudian telah meninggalkan banjar bersama pemimpin Tanah Perdikan yang lain. Agung Sedayu dan Glagah Putih mohon diri untuk langsung pulang ke rumah mereka. Sementara Prastawa akan berada diantara para pengawal yang selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di rumah Ki Gede telah disediakan pula beberapa ekor kuda yang siap bergerak sebagaimana beberapa ekor yang lain yang ada di tiga padukuhan terdekat dengan perkemahan di seberang bukit.

Namun sebelum mereka berpisah, Agung Sedayu sempat berpesan kepada Ki Gede, “Ki Gede, sebaiknya hanya orang-orang terpilih sajalah yang akan menyelidiki perkemahan itu lebih lanjut. Karena itu biarlah besok aku sendiri akan mengaturnya, sementara para pengawal biarlah mempersiapkan diri di padukuhan-padukuhan masing-masing, selain pengawal berkuda yang akan dapat bergerak dengan cepat ke padukuhan yang memerlukan bantuan.”

“Baiklah ngger,” lalu Ki Gede itu pun berkata kepada Prastawa, “kau sudah mendengar sendiri pesan itu. Hati-hatilah dengan para pengawal. Mereka sebaiknya mengawasi perbukitan itu dari sisi sebelah Timur. Para pengawal padukuhan supaya meletakkan pengawas di luar padukuhan mereka masing-masing, sehingga mereka tidak terjebak dalam kepungan tanpa mengetahui kedatangan lawan.”

Prastawa pun mengangguk sambil menjawab, “Ya paman. Aku akan melihat kesiagaan mereka sekali lagi. Malam ini aku akan berada di padukuhan terdekat dengan perkemahan di seberang bukit itu.”

“Berhati-hatilah. Kita masih belum tahu pasti perkembangan keadaan sekarang ini. Para pengawal jangan kehilangan perhitungan. Meskipun mereka memiliki keberanian, tetapi keberanian saja tidak cukup untuk mengatasi orang-orang yang ada di perkemahan itu. Nampaknya mereka mempunyai kekuatan yang cukup besar.”

Malam itu, para pemimpin tanah Perdikan telah saling berpisah untuk melakukan tugas mereka masing-masing. Tetapi menurut perhitungan Prastawa, orang-orang perkemahan itu tentu masih belum akan menyerang malam itu. Meskipun demikian, para pengawal tidak akan kehilangan kewaspadaan.

Sementara Agung Sedayu dan Glagah Putih pun telah langsung pulang ke rumah. Ketika mereka memasuki regol halaman rumahnya, mereka melihat Sabungsari duduk sendiri di atas lincak bambu di serambi gandok rumah.

Anak muda itu memang bangkit berdiri ketika melihat Agung Sedayu dan Glagah Putih datang. Namun kepada keduanya Sabungsari tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang gelisah.

Ternyata Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak langsung masuk ke dalam rumah mereka. Keduanya pun kemudian telah duduk di lincak bambu itu pula.

“Apa yang sedang kau risaukan Sabungsari?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak apa-apa,” jawab Sabungsari, “aku hanya tidak dapat tidur. Udara terasa terlalu panas didalam.”

Tetapi Agung Sedayu melihat tatapan mata Sabungsari yang redup serta suaranya yang sangat dalam. Karena itu, maka katanya, “Sabungsari. Meskipun umur kita seolah-olah tidak terpaut, namun aku telah melangkah lebih dahulu dari padamu. Karena itu, aku dapat ikut merasakan perasanmu.”

Sabungsari menggeleng. Katanya, “tidak ada yang aku pikirkan, Agung Sedayu. Aku hanya ingin duduk disini untuk mencari udara sejuk. Didalam udara terasa panas. Cobalah. Nanti kau akan merasakan juga bahwa duduk diluar terasa lebih segar dari pada udara panas didalam.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya kepada Glagah Putih, “Lihatlah. Apakah Ki Jayaraga atau Wacana yang menunggui Bajang bertangan Baja.”

Glagah Putih kemudian telah bangkit dan melangkah ke dalam. Ia tahu, bahwa Agung Sedayu ingin berbicara dengan Sabungsari tanpa kehadirannya. Mungkin Sabungsari yang memang lebih tua dari Glagah Putih itu merasa segan untuk berbicara tentang dirinya sendiri di hadapan anak muda itu.

Demikian, maka Glagah Putih masuk kekurangan dalam yang ternyata memang tidak diselarak dari dalam, karena Ki Jayaraga masih duduk di ruang-dalam bersama Bajang Bertangan Baja dan Wacana, maka Agung Sedayu dan Sabungsari terlibat dalam pembicaraan yang lebih bersungguh-sungguh.

“Kau memang harus jujur kepada dirimu sendiri Sabungsari,” berkata Agung Sedayu.

“Aku memang tidak mengingkari perasaanku Agung Sedayu,” jawab Sabungsari, “tetapi bukankah aku tidak dapat sekedar mementingkan diriku sendiri?”

“Menurut Wacana. Sebenarnyalah bahwa Raras sangat memperhatikanmu. Sejak ia merasakan perlindunganmu, maka ia menjadi sangat tertarik kepadamu. Bukankah itu satu pertanda baik buatmu karena kau juga memperhatikannya? Kau sudah cukup, bahkan sedikit lewat ambang kedewasaanmu. Apa lagi yang kau tunggu. Wacana ternyata bersikap jujur pula. Ia tidak mau mengingkari janjinya ketika ia mencoba untuk menjajagi kemampuanmu.”

“Tetapi kau masih memikirkan Raden Teja Prabawa. Hatinya akan menjadi sakit sekali jika Raras benar-benar meninggalkannya. Apalagi Raden Teja Prabawa itu adalah saudara laki-laki Rara Wulan. Apa kata Rara Wulan tentang aku, jika dengan serta-merta aku merebut Raras dari sisi kakaknya?”

“Sabungsari,” desis Agung Sedayu, “Rara Wulan tidak berjiwa kerdil. Ia mengerti perkembangan perasaan Raras. Meskipun agaknya Rara Wulan juga merasa iba melihat keadaan kakaknya, tetapi ia mencoba untuk menilai keadaan dengan wajar. Ia tidak akan dapat menyalahkanmu. Apalagi jika Raras sendiri telah mengambil keputusan.”

“Jadi apa yang sebaiknya aku lakukan?” bertanya Sabungsari meskipun dengan ragu-ragu.

“Kau harus menemui Raras. Kau harus terus terang menghadapi kepadanya. Hanya dengan demikian kau akan mendapatkan ketenangan. Demikian pula Raras. Raden Teja Prabawa sebaiknya mengakui kelemahannya sehingga ia harus minggir. Ia harus menyesuaikan dirinya dengan penilaian orang lain terhadap dirinya, ia tidak boleh terus-menerus mempunyai penilaian yang keliru tentang dirinya itu. Sehingga seolah-olah ia dapat menentukan apa saja menurut kehendaknya sendiri. Juga tentang perasaan Raras.”

“Aku mengerti Agung Sedayu. Nalarku dapat berkata seperti itu. Tetapi sulit bagiku untuk menyingkirkan getar perasaanku. Jika terjadi sesuatu atas Raden Teja Prabawa, aku tentu akan merasa bersalah,” jawab Sabungsari.

“Kesalahan itu akan berlipat jika benar-benar terjadi sesuatu atas Raden Teja Prabawa, tetapi juga atas Raras karena gadis itu menjadi putus asa,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Wajah Sabungsari berkerut. Pandangan matanya seakan-akan menurut penjelasan dari Agung Sedayu.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “jika benar dikatakan Wacana, maka Raras tidak lagi menggayutkan harapannya kepada Raden Teja Prabawa. Agaknya sulit untuk mencoba mendesak Raras agar dapat bertaut kembali kepada orang yang telah mengecewakannya. Karena itu, jika harapan yang kemudian diharapkannya juga luput, maka ia akan dapat berputus-asa. Hidupnya menjadi tidak berarti lagi.”

“Tetapi apakah Raden Teja Prabawa tidak mengalami hal yang sama jika Raras terlepas dari padanya?” bertanya Sabungsari.

“Memang kepahitan yang akan ditelan tidak berbeda. Tetapi bukan salah orang lain. Raras sendiri menghendakinya,” desis Agung Sedayu.

Tetapi tiba-tiba Sabungsari berkata, “Sudahlah Agung Sedayu. Bukankah kita menghadapi persoalan yang gawat sekarang di Tanah Perdikan ini? Biarlah kita memusatkan perhatian kita pada persoalan yang kita hadapi sekarang.”

“Aku mengerti Sabungsari. Tetapi Raras yang jiwanya mengalami kekosongan memerlukan sesuatu yang dapat membuatnya berpengharapan. Ia tidak boleh terlalu lama mengalami kegelisahan justru baru saja jiwanya terguncang,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Agung Sedayu pun terdiam untuk beberapa saat. Namun kemudian Agung Sedayu itu pun berdesis, “Aku akan melihat, apakah Ki Jayaraga masih duduk.”

“Mereka masih ada di ruang tengah,” jawab Sabungsari.

“Siapa saja?” bertanya Agung Sedayu.

“Ki Jayaraga, Wacana dan Bajang Bertangan Baja,” jawab Sabungsari.

“Apakah kau akan ikut duduk pula? Kita berbicara tentang orang-orang di perkemahan itu.” ajak Agung Sedayu.

Sabungsari tidak menolak. Ia pun kemudian mengikuti Agung Sedayu ke ruang dalam. Di ruang dalam memang masih duduk orang-orang yang dikatakan oleh Sabungsari ditambah oleh Glagah Putih. Sementara Sekar Mirah dan Rara Wulan telah berada didalam biliknya.

Tetapi di atas amben bambu yang luas masih tersedia minuman meskipun sudah menjadi dingin. Meskipun demikian wedang jahe gula kelapa itu masih dapat membuat tubuh menjadi hangat.

Bersama Ki Jayaraga; Glagah Putih dan Sabungsari, Agung Sedayu mulai membicarakan orang-orang yang berada di perkemahan. Kepada Bajang Bertangan Baja Agung Sedayu berkata, “Kau boleh mendengarkannya, karena apa yang aku katakan bukan rahasia bagimu karena kau tidak berdiri di pihak mereka.”

Bajang Bertangan Baja hanya menundukkan kepalanya saja. Ia merasa dirinya bukan bagian darinya bukan bagian dari Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga bukan bagian dari orang-orang perkemahan. Tetapi bagaimana pun juga ia tidak dapat melupakan, bahwa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu telah melepaskannya dari siksa Ki Tempuyung Putih atas nama Resi Belahan yang mendendamnya karena telah menyebabkan Ki Manuhara terbunuh bukan karena tugas pokoknya.

Sementara itu Agung Sedayu memang menceriterakan hasil pembicaraannya dengan para tawanan di banjar.

“Tanah Perdikan ini benar-benar ada dalam bahaya. Orang-orang yang sebelumnya hidup tanpa menghiraukan arti pemerintahan itu akan menjadi sangat berbahaya. Ki Tempuyung Putih dan orang-orangnya tentu memberikan keterangan-keterangan yang tidak benar kepada mereka. Mereka tentu telah membakar hati orang-orang itu untuk dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Besok kita harus mulai dengan penyelidikan di perkemahan itu,” sahut Glagah Putih.

“Besok kita bertiga akan memasuki perkemahan itu,” berkata Agung Sedayu.

Tetapi Bajang Bertangan Baja itu berkata, “Jika, diijinkan, aku bersedia ikut memasuki perkemahan itu.”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Belum saatnya kau melibatkan diri Bajang. Apalagi kau membawa dendam di hatimu. Di perkemahan tentu kau lebih banyak dikuasai oleh gejolak perasaanya daripada perhitungan nalarmu. Itu berbahaya bagi kita dan terutama bagimu sendiri. Kau adalah buruan yang sangat berharga bagi orang-orang perkemahan itu.”

Bajang Bertangan Baja itu mengangguk-angguk. Katanya, “aku mengerti. Kalian pun tentu tidak mempunyai kepercayaan cukup kepadaku. Aku sama sekali tidak kecewa karena hal itu adalah hal yang sangat wajar.”

Orang-orang yang mendengar kata-kata Bajang Bertangan Baja itu menjadi termangu-mangu. Namun Agung Sedayu lah yang kemudian berkata, “Terima kasih atas pengertianmu. Tetapi pada suatu saat kepercayaan kami kepadamu mungkin akan meningkat dan bahkan mungkin kami tidak berkeberatan jika kau bersedia membantu Tanah Perdikan menghadapi orang-orang di perkemahan itu, karena orang-orang perkemahan mempunyai beberapa orang berilmu tinggi.”

“Agung Sedayu,” berkata Bajang Bertangan Baja, “jika dikehendaki, maka aku akan dengan senang hati melibatkan diri, membantu orang-orang tanah Perdikan ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum Agung Sedayu menjawab, Bajang Bertangan Baja itu pun berkata, “Tetapi aku pun tidak akan dapat menuntut terlalu banyak. Apalagi ada kemungkinan bahwa aku akan dihukum mati di Tanah Perdikan ini.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “meskipun demikian, kita akan melihat perkembangan keadaan.”

Bajang Bertangan Baja itu tidak menjawab. Dengan wajah yang kosong ia mengangguk-angguk kecil. Sementara Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Kita dapat beristirahat sekarang. Hari sudah jauh malam. Besok kita masih mempunyai kewajiban yang harus kita lakukan.”

Orang-orang yang ada di ruang dalam itu pun kemudian bangkit dan pergi ke bilik masing-masing. Ki Jayaraga juga mempersilahkan untuk beristirahat.

“Bagaimana dengan Bajang Engkrek?” bertanya Ki Jayaraga kepada Agung Sedayu.

“Biarlah aku yang mengawasinya,” jawab Agung Sedayu, “nanti biarlah Glagah Putih menggantikan aku jika aku mulai mengantuk.”

“Bukankah kau besok bertugas di barak?” bertanya Ki Jayaraga pula.

“Ya. Tetapi aku masih punya kesempatan untuk tidur nanti,” jawab Agung Sedayu.

Demikianlah maka Ki Jayaraga pun telah pergi ke biliknya pula. Sementara itu ternyata Sabungsari lah yang menemani Agung Sedayu duduk di ruang tengah itu. Ketika yang lain telah pergi, maka Sabungsari itu pun bertanya, “Apakah di Mataram kau bertemu dengan Raras?”

“Aku memang menemui Ki Rangga Wibawa. Raras hanya sebentar menemui aku sambil menghidangkan minuman. Ia tidak mengatakan sesuatu kepadaku kecuali mengucapkan selamat datang.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak bertanya lagi tentang Raras. Bahkan kemudian ia pun berkata, “Besok kita sebaiknya melihat keadaan perkemahan itu. Kita tidak boleh terlambat, sehingga tanah perdikan ini akan menjadi ajang permainan mereka yang keras dan kasar itu.”

“Ya. Besok kita bersama Glagah Putih akan pergi ke perkemahan itu,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Demikianlah untuk beberapa saat mereka masih berbincang tentang orang-orang yang ada di perkemahan itu. Namun kemudian Sabungsari justru mempersilahkan Agung Sedayu untuk beristirahat. Katanya, “Kau tentu letih. Sehari-harian kau berada di Mataram. Besok kau akan bertugas di barak. Biarlah aku saja yang mengawasi Bajang Bertangan Baja. Nampaknya ia sudah menjadi jinak.”

Agung Sedayu mengiakannya. Namun ia berpesan, “Meskipun demikian kau harus berhati-hati. Orang itu terhitung orang yang licik. Karena itu ia dapat saja berpura-pura. Tetapi jika datang kesempatan, maka kesempatan itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya.”

“Ya,” jawab Sabungsari, “aku akan berhati-hati. Nanti jika aku benar-benar mengantuk, Aku akan membangunkan Glagah Putih.”

Agung Sedayu kemudian bangkit sambil berkata, “Terima kasih. Aku memang letih.”

Sepeninggal Agung Sedayu maka Sabungsari pun duduk bersandar di tiang dalam rumah Agung Sedayu itu. Betapapun ia berusaha melawan, namun setiap kali angan-angannya telah kembali lagi kepada Raras. Wajah itu bagaikan mengambang di angan-angan apapun yang sedang dipikirkannya. Sabungsari telah mencoba untuk memusatkan penalarannya untuk memasuki cara terbaik memasuki perkemahan orang-orang di seberang bukit. Tetapi ternyata yang kemudian nampak justru Raras yang melambaikan tangannya dari atas bukit itu.

“Aku tidak mungkin lagi untuk melarikan diri,” berkata Sabungsari.

Apalagi setelah Sabungsari mendapat pertimbangan dari Agung Sedayu tentang Raden Teja Prabawa. Sabungsari itu sama sekali tidak bersalah jika kemudian Raras memalingkan wajahnya dari Raden Teja Prabawa yang dinilainya kurang bertanggung jawab.

Sementara ini malam merambat semakin lama semakin dalam. Bahkan kemudian telah menukik menjelang fajar Sabungsari masih duduk bersandar di tiang. Angan-angannya masih saja hilir mudik dari Raras ke perkemahan di seberang bukit.

Sementara itu, Prastawa sudah berada diantara para pengawal di padukuhan terdekat dengan bukit. Namun ia pun sempat tidur di banjar bersama beberapa orang pengawal. Tetapi di luar padukuhan beberapa orang selalu mengawasi keadaan jika saja orang-orang di perkemahan itu turun lagi menyerang padukuhan mereka.

Tetapi ternyata sampai fajar menyingsing tidak ada padukuhan yang mendapat serangan. Padukuhan-padukuhan lain yang termasuk dekat dengan perbukitan itu pun tidak dapat gangguan apa pun. Sehingga ketika pagi menguak malam, orang-orang padukuhan itu pun telah melakukan pekerjaan mereka sehari-hari. Bahkan mereka yang biasanya berjual beli di pasar pun telah pergi ke pasar pula.

Meskipun padukuhan-padukuhan itu nampak tenang, tetapi Prastawa tetap memerintah para pengawal untuk meronda mengawasi jalan-jalan yang ramai serta pasar yang terdekat dengan perbukitan itu.

Bahkan beberapa orang pengawal berkuda pun telah menelusuri jalan antara padukuhan ke padukuhan. Mengamati bulak-bulak panjang dan pategalan.

Tetapi para peronda itu tidak menemukan tanda-tanda yang menggelisahkan. Tidak ada kelompok-kelompok orang yang mencurigakan di padukuhan-padukuhan terdekat dengan perbukitan.

Tetapi Prastawa tidak menganggap bahwa Tanah Perdikan itu benar-benar bersih. Ia yakin bahwa ada diantara orang-orang Tanah Perdikan yang sibuk di pasar itu terdapat orang-orang yang sengaja dikirim dari perkemahan.

Karena itulah, maka Prastawa dan dua orang pengawal terpilih telah ada di pasar ketika matahari mulai naik untuk melihat-lihat keadaan. Bertiga mereka menyusup diantara ramainya orang yang berjual beli. Mereka tidak hanya melihat-lihat di satu pasar saja. Ketika mereka tidak melihat sesuatu yang pantas untuk diperhatikan di sebuah pasar, maka mereka pun telah berpindah ke pasar di padukuhan yang lain. Meskipun sudah agak siang, tetapi pasar itu masih ramai dikunjungi orang.

Ketiganya termangu-mangu ketika mereka melihat Glagah Putih dan Sabungsari telah berada di pasar itu pula.

Glagah Putih dan Sabungsari yang juga melihat Prastawa itu pun mendekatinya pula. Hampir berbisik ia berkata, “Aku melihat dua orang yang pantas diawasi. Tetapi agaknya mereka tidak ingin berbuat sesuatu selain melihat-lihat keadaan.”

“Dimana mereka sekarang?” bertanya Prastawa.

“Diluar pasar itu. Agaknya mereka akan memasuki kedai di depan pasar itu,” jawab Glagah Putih.

“Kenapa mereka kalian tinggalkan?” bertanya Prastawa.

“Mereka tentu akan makan. Aku ingin melihat, apakah ada orang lain yang perlu diawasi. Nah, pergilah ke kedai itu. Tetapi sebaiknya mereka tidak usah diusik jika mereka tidak berbuat apa-apa,” pesan Glagah Putih.

Prastawa mengangguk-angguk. Bersama dengan dua orang pengawal itu pun kemudian telah pergi ke kedai di depan pasar.

Sebenarnyalah Prastawa melihat dua orang yang nampak asing sekali berada di kedai itu. Bukan saja ujudnya, tetapi caranya berpakaian dan ketika Prastawa mendengar mereka berbicara maka ia yakin bahwa orang-orang itu bukan orang-orang Tanah Perdikan atau lingkungan disekitarnya.

Tetapi seperti pesan Glagah Pulih, ia tidak berbuat sesuatu selama kedua orang itu juga tidak berbuat apa-apa.

Kedua orang itu agaknya juga menjadi sangat berhati-hati. Keduanya tidak banyak berbicara. Mereka makan dengan lahapnya serta menghabiskan semua makanan yang disediakan di hadapan mereka. Yang manis, yang asin dan masing-masing semangkuk nasi.

Prastawa dan kedua pengawal yang menyertainya saling berpandangan sejenak. Mereka bertiga tidak akan dapat menghabiskan makanan, sebanyak itu betapapun mereka lapar.

Namun dengan demikian Prastawa menjadi curiga. Mungkin orang-orang itu tidak akan membayar harga makan, makanan dan minuman yang telah dimakan dan diminumnya.

Karena itu, maka Prastawa dan kedua orang pengawal yang menyertai mereka tidak beranjak dari tempat mereka. Mereka menunggu sampai kedua orang itu selesai makan dan minum.

Namun dugaan Prastawa ternyata keliru. Kedua orang itu setelah makan dan minum, telah membayar sesuai dengan harga yang disebut oleh pemilik kedai itu.

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Kepada kedua pengawal yang menyertainya Prastawa berbisik sambil tersenyum, “Aku salah duga.”

“Apakah kau cemas bahwa orang-orang itu tidak akan membayar?” salah seorang dari kedua pengawal itu juga berbisik.

Prastawa mengangguk, ia masih tersenyum.

Kedua pengawal itu pun tersenyum pula tanpa memandang kepada kedua orang yang asing itu.

Tetapi demikian kedua orang itu keluar dari kedai itu, maka Prastawa pun dengan cepat telah membayar harga makanan dan minuman mereka. Kemudian dengan cepat pula keluar dari kedai itu agar mereka tidak kehilangan pengamatan terhadap kedua orang itu.

Ketika ketiganya keluar dari kedai, ternyata kedua orang itu sudah tidak nampak lagi. Namun Prastawa justru melihat punggung Glagah Putih dan Sabungsari. Sabungsari lah yang sempat berpaling meskipun sudah agak jauh. Ia mengangkat tangannya dan mengacungkan ibu jarinya.

Prastawa menarik nafas panjang ternyata Glagah Putih dan Sabungsari telah mengambil alih pengamatan mereka terhadap kedua orang asing itu.

Tetapi kedua orang itu memang tidak berbuat sesuatu. Agaknya mereka hanya mendapat tugas untuk melihat-lihat keadaan tanpa memancing persoalan.

Sementara itu Prastawa dan kedua orang pengawal yang menyertainya berjalan menuju ke pintu gerbang pasar. Agaknya pasar itu telah menjadi semakin lengang. Meskipun masih ada beberapa orang yang menunggui dagangannya yang tersisa, serta masih juga ada pembeli yang kesiangan, namun sebagian besar telah mulai membenahi dan membungkus dagangan mereka.

Meskipun demikian, beberapa orang pande besi masih nampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Suaranya masih berdentangan bersahut-sahutan. Beberapa orang masih duduk-duduk disebelah menyebelah bengkel dari para pande besi itu menunggu pesanan alat-alat pertanian yang mereka pesan itu diselesaikan.

Dalam pada itu, Glagah Putih dan Sabungsari masih saja mengikuti dan mengamati dua orang asing yang berjalan meninggalkan lingkungan pasar itu.

Dengan nada rendah Sabungsari bertanya, “Darimana keduanya mendapat uang yang dipergunakannya untuk membayar harga makanan dan minuman di kedai itu?”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia pun melihat bagaimana kedua orang itu minum dan makan berlebihan, meskipun dari luar kedai. Sebagaimana Prastawa yang melihat langsung bagaimana keduanya menghabiskan minuman dan makanan yang terlalu banyak menurut takaran orang kebanyakan, ia pun mengira bahwa kedua orang itu tidak akan membayarnya. Tetapi dugaan itu keliru. Kedua orang itu membayar harga makanan dan minuman sebagaimana seharusnya.

Sebelum Glagah Putih menjawab, maka Sabungsari itu bergumam lirih, “Apakah mereka memang dibekali uang oleh para pemimpin di perkemahan atau mereka mengambil sendiri di rumah-rumah orang kaya.”

“Tetapi tentu tidak di Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Glagah Putih, “karena selama ini tidak pernah ada laporan perampokan yang terjadi di Tanah Perdikan ini.”

“Kita belum tahu, apakah di Kademangan di sebelah bukit juga tidak pernah terjadi perampokan. Sudah beberapa hari kita tidak berhubungan dengan Kademangan sebelah,” sahut Sabungsari.

Glagah Putih, mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dilihatnya kedua orang yang mereka ikuti itu berhenti di tengah-tengah bulak.

“Kenapa mereka berhenti?” desis Glagah Putih.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Berdua dengan Glagah Putih keduanya tidak dapat berhenti dan apalagi kembali karena jika demikian maka kedua orang yang berhenti dan berpaling itu tentu akan menjadi curiga.

“Nampaknya keduanya memperhatikan kita,” berkata Sabungsari kemudian.

“Ya,” jawab Glagah Putih, “mungkin mereka merasa bahwa kita sedang mengikuti mereka. Apaboleh buat.”

Keduanya memang tidak berhenti. Glagah Putih dan Sabungsari berjalan terus, seakan-akan mereka tidak bersangkut-paut dengan kedua orang yang berhenti di tengah-tengah bulak itu.

Sabungsari dan Glagah Pulih menjadi semakin berdebar-debar ketika kedua orang itu nampaknya melihat kekanan dan ke kiri, seakan-akan sedang meyakinkan bahwa tidak ada orang lain kecuali mereka berdua dan dua orang yang sedang lewat itu.

“Kita memang pantas berhati-hati,” berkata Glagah Putih.

“Ya. Agaknya keduanya justru menunggu kita,” sahut Sabungsari sambil mengerutkan dahinya.

Namun keduanya berjalan terus. Mereka menjadi semakin berhati-hati ketika kedua orang itu kemudian mengambil jarak yang satu dengan yang lain. Keduanya berdiri di sisi jalan yang berlawanan.

Glagah Putih dan Sabungsari masih berjalan terus. Semakin lama semakin dekat. Namun mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Dua langkah dari kedua orang itu, salah seorang dari mereka telah menyapa, “Ki Sanak. Apakah Ki Sanak baru pulang dari pasar?”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang yang lain kemudian telah bertanya pula. “Untuk apa Ki Sanak pergi ke pasar?”

“Hanya sekedar melihat-lihat Ki Sanak,” jawab Sabungsari.

“Apakah kalian berdua termasuk saudagar atau bebahu Tanah Perdikan ini atau bebahu padukuhan atau belantik ternak?”

Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Tidak Ki Sanak. Kami adalah petani biasa.”

Seorang diantara mereka melangkah setapak maju. Dipandanginya Glagah Putih dan Sabungsari. Keduanya memang tidak nampak seperti seorang saudagar atau seorang bebahu Tanah Perdikan. Tetapi pandangan mata kedua orang muda itu pun menunjukkan bahwa mereka bukan petani kebanyakan yang tidak banyak mengetahui persoalan yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata, “Ki Sanak. Ada dua kepentingan kami menghentikan Ki Sanak. Yang pertama, kami memerlukan uang. Kami telah kehabisan uang karena kami baru saja kalah berjudi di pasar. Uang kami sedikit yang tersisa telah kami pergunakan untuk makan karena kami hampir kelaparan. Yang kedua, kami ingin mempersilahkan kalian berdua singgah di rumah kami.”

“Kami mengerti tentang uang yang kalian butuhkan meskipun kami tidak mempunyainya. Tetapi kami tidak mengerti maksud kalian minta kami berdua singgah di rumah kalian.”

“Ada beberapa persoalan yang ingin kami tanyakan kepada kalian berdua tentang Tanah Perdikan. Tetapi tidak baik kami lakukan di tengah-tengah bulak ini. Karena itu, maka kami mempersilahkan kalian untuk singgah di rumah kami.”

“Dimana rumah kalian?” bertanya Sabungsari.

“Ikuti saja kami. Kalian akan sampai ke rumah kami,” jawab salah seorang diantara kedua orang itu.

“Jangan begitu,” sahut Sabungsari, “kami adalah orang-orang Tanah Perdikan. Kami mengetahui segala sudut Tanah ini.”

Tetapi kedua orang itu nampaknya menjadi tidak sabar. Seorang diantara mereka menjadi semakin kasar, “Sudahlah. Jangan banyak cakap. Ikuti kami dan jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan kalian sendiri.”

“Aku tetap tidak mengerti. Untuk apa kalian memaksa kami singgah di rumah kalian, sementara kalian tidak mau menunjukkan dimana rumah kalian,” sahut Glagah Putih.

“Sekali lagi aku memperingatkanmu. Jangan membuat persoalan karena hal itu akan menjerat lehermu sendiri,” geram salah seorang dari kedua orang itu.

Tetapi Sabungsari lah yang menjawab, “Kalian aneh Ki Sanak. Kalian hanya berdua. Kami juga berdua. Jangan menakut-nakuti kami Ki Sanak. Karena kami juga laki-laki seperti Ki Sanak.”

“Jangan membunuh diri,” berkata salah seorang dari mereka, “meskipun kalian juga berdua, tetapi kalian tidak akan dapat menyelamatkan diri jika kami sudah mulai bertindak kasar.”

“Kalian memang sudah berbuat kasar. Kami berada di bumi kami sendiri. Apapun yang terjadi, kami berada dipihak yang benar. Sementara kalian berusaha memaksakan kehendak kalian atas kami,” jawab Sabungsari.

Kedua orang itu menjadi sangat marah. Dengan garang seorang diantaranya berkata, “Baiklah. Kalian telah jemu hidup. Jika kalian berkeras untuk tidak mau mengikuti kami dan singgah di rumah kami barang sebentar, maka kalian tidak akan sempat menyesali kesombongan kalian itu. Mayat kalian akan diketemukan orang yang pulang dari pasar kesiangan.”

“Mereka akan mengenali kami. Mereka akan membawa kami kepada keluarga kami seandainya kami tidak sempat pulang sendiri. Tetapi kalian tidak dikenal disini. Jika kalian yang mati, maka mayat kalian akan dikubur di kuburan tua itu tanpa pertanda apapun juga,” geram Glagah Putih.

Kedua orang itu memang menjadi tidak sabar lagi. Dengan kemarahan yang membayang di wajah mereka, maka keduanya segera mempersiapkan diri. Seorang menghadapi Glagah Putih, dan seorang yang lain menghadapi Sabungsari.

Namun dalam pada itu Glagah Putih dan Sabungsari pun telah bersiap pula sepenuhnya untuk menghadapi kedua orang itu.

Ketika kedua orang itu mulai bergeser, maka Glagah Putih dan Sabungsari pun juga mengambil jarak. Sementara orang yang berdiri berhadapan dengan Glagah Putih itu bertanya, “Siapa namamu?”

“Apakah itu penting?” bertanya Glagah Putih.

“Setidak-tidaknya aku tahu, siapa yang aku bunuh hari ini,” jawab orang itu.

“Namaku Brancak,” jawab Glagah Putih.

“Aku tahu, kau berbohong,” orang itulah yang menggeram.

Sementara Sabungsari tiba-tiba saja berteriak, “Benar, ia berbohong. Namanya Pogog dan namaku Gancar.”

“Kau kira kami percaya? Kalian memang telah berbohong,” jawab orang itu.

“He, apakah kau pernah mendengar nama Pogog dan Gancar?” desak Sabungsari.

“Kalian dapat menyebut nama apa saja. Aku memang tidak perlu mempertanyakan nama kalian,” berkata orang itu pula.

“Bagus,” sahut Sabungsari, “Jika demikian maka kami pun tidak akan bertanya nama kalian sekarang. Kalian tentu tidak akan mengatakannya dengan benar. Tetapi jika kalian mati tanpa nama, maka tidak seorang pun yang akan pernah dapat menunjukkan kepada keluargamu, dimana kau dikuburkan.”

Kedua orang itu agaknya tidak ingin berbicara lagi. Keduanya segera mulai bergerak untuk benar-benar bertempur.

Glagah Putih dan Sabungsari pun segera telah bersiap pula untuk menghadapi mereka. Keduanya bergeser semakin menjauh, agar mereka dapat bertempur ditempat yang lebih lapang.

Sejenak kemudian, maka lawan Glagah Putih itu telah meloncat menyerang. Kakinyalah yang terjulur menggapai lambung Glagah Putih. Tidak terlalu keras, sementara Glagah Putih pun hanya bergeser selangkah. Namun tiba-tiba saja orang itu melenting menerkam dengan kedua tangannya. Jari-jarinya terbuka seperti kuku .jari-jari seekor elang yang menerkam lawannya.

Glagah Putih terpaksa sekali lagi melenting menghindar. Tetapi ia sudah siap menghadapi serangan-serangan berikutnya.

Seperti seekor elang, maka lawannya kemudian menyambarnya. Tubuhnya bagaikan melayang di udara, sementara kedua tangannya mengembang. Tetapi kemudian tiba-tiba saja tubuhnya berkerut melenting dengan kaki yang terjulur lurus mengarah ke dada.

Orang itu agaknya memang tidak memakai ancang-ancang. Ia langsung mengerahkan kemampuannya pada tataran yang tinggi. Agaknya ia memang ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.

“Hanya ada dua pilihan,” berkata orang itu, “kau ikut aku ke rumahku, atau kau mati disini.”

Namun Glagah Putih menjawab, “Aku tidak mau kedua-duanya. Tetapi aku justru menawarkan kesempatan kepadamu. Menyerah dan aku bawa menghadap Ki Gede atau mati dan dikuburkan di kuburan tua di lereng pegunungan itu.”

“Iblis kau,” geram orang itu.

Tetapi orang itu terkejut. Seperti seekor burung Sikatan, tiba-tiba saja Glagah Putih menyerang. Ujung jari-jarinya mematuk dengan cepat seperti paruh seekor burung sikatan menyambar bilalang.

Dengan serta-merta orang itu pun meloncat jauh surut untuk mengambil jarak. Ia tidak mengira bahwa anak muda itu dapat bergerak demikian cepatnya. Hampir saja tusukan ujung jari anak muda itu mengenai lambungnya.

Glagah Putih tidak tergesa-gesa memburunya. Tetapi ia melangkah maju mendekat.

Dengan demikian maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Orang dari perkemahan itu sama sekali tidak mengira bahwa di jalan bulak panjang itu ia bertemu dengan anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Ketika ia tiba-tiba saja teringat bahwa perkemahannya ingin mendapat sedikit keterangan tentang Bajang Bertangan Baja, maka timbullah keinginannya untuk menangkap dua orang anak muda yang nampak agak lain dari para petani kebanyakan dan membawanya ke perkemahan. Jika keduanya termasuk pengawal Tanah Perdikan atau bebahu padukuhan, apalagi bebahu Tanah Perdikan, mungkin mereka tahu serba sedikit tentang hilangnya Bajang Bertangan Baja, atau tentang kematian Putut Sawega atau persoalan-persoalan lain yang akan dapat memberikan gambaran yang lebih luas tentang Tanah Perdikan dan kekuatannya.

Tetapi untuk menangkap anak-anak muda itu tidak semudah yang diduganya. Ternyata keduanya mampu memberikan perlawanan yang berat bagi kedua orang perkemahan itu.

Seperti Glagah Putih, maka Sabungsari pun telah bertempur pula dengan kerasnya. Lawannya yang ingin dengan cepat menguasainya telah menyerangnya dengan segenap kemampuan yang ada padanya. Dengan demikian maka Sabungsari pun harus mengimbanginya pula.

Benturan-benturan kekuatan pun segera terjadi. Mula-mula Sabungsari memang terdesak surut. Tetapi lawannya semakin lama justru menjadi semakin berdebar-debar. Selapis demi selapis Sabungsari telah meningkatkan ilmunya pula, sehingga lawannya tidak lagi dapat mendesaknya. Bahkan beberapa kali ia terkejut karena Sabungsari mampu bergerak dengan cepat dan bahkan kadang-kadang telah mendahului dan memotong unsur-unsur geraknya.

Seperti juga Glagah Putih, maka Sabungsari pun bertempur semakin sengit. Lawannya benar-benar telah mengerahkan kemampuannya untuk dengan cepat mengalahkannya sebelum orang-orang Tanah Perdikan melihat pertempuran itu dan melibatkan diri mereka.

Tetapi ternyata orang itu tidak mampu. Bahkan semakin lama, ketika Sabungsari semakin meningkatkan ilmunya, orang itu justru menjadi semakin terdesak.

Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain mempergunakan senjatanya. Niatnya untuk menangkap anak muda Tanah Perdikan itu pun menjadi terdorong kebelakang.

Dengan garang ia berkata, “Sebenarnyalah aku ingin mempersilahkanmu singgah ke rumahku. Aku telah mengatakannya dengan baik. Tetapi kau tidak menanggapinya dengan baik pula. Karena itu aku ingin memaksamu untuk mengikutiku pergi ke rumahku. Tetapi kau justru semakin sombong dan keras kepala. Karena itu, maka aku tidak mempunyai pilihan lain. Daripada kau luput dari tanganku dan berceritera kepada orang-orang Tanah Perdikan yang lain, maka sebaiknya kau benar-benar mati saja disini.”

“Kau kira aku sudah ingin mati?” jawab Sabungsari.

“Aku tidak peduli. Ingin atau tidak ingin, aku akan membunuhmu,” jawab lawannya.

Tetapi Sabungsari berkata, “Ki Sanak, aku juga membawa pedang. Karena itu aku akan bertahan. Jika kau memang ingin membunuhku, maka aku pun tidak akan mengekang diri untuk membunuhmu. Namun aku masih mempunyai niat untuk membawamu hidup-hidup menghadap Ki Gede Menoreh.”

“Aku akan mengoyak mulutmu sebelum aku membunuhmu. Aku tidak memerlukan kau lagi. Aku akan dapat membawa orang lain ke rumahku. Orang yang lebih penting dari kau sehingga aku akan mendapat keterangan seperti yang aku inginkan,” geram orang itu.

Sabungsari tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun sudah siap dengan pedangnya.

Ketika keduanya mulai memutar pedangnya, maka Glagah Putih pun telah mendesak lawannya pula. Ketika lawannya menyerangnya dengan ayunan tangan mendatar, maka Glagah Putih telah merendahkan kepalanya, sehingga serangan lawannya itu luput dari sasaran. Sementara itu, Glagah Putih yang merendah sekaligus menyapu kaki lawannya yang sedang mengayunkan tangannya.

Serangan Glagah Putih menyambar demikian cepatnya, sehingga lawannya menghindarinya dengan tergesa-gesa. Ketika orang itu mengangkat kedua kakinya, maka ia justru telah menjatuhkan badannya dan berguling mengambil jarak. Namun Glagah Putih ternyata telah lebih dahulu bangkit. Ketika orang itu melenting tegak, maka kaki Glagah Putih telah terjulur lurus kearah dadanya.

Benturan yang keras telah mendorong orang itu dengan kerasnya. Kemudian terbanting jatuh terlentang. Sekali ia berputar menjauhi lawannya. Tetapi ia tidak segera meloncat bangkit. Tetapi dengan kaki bersilang ia telah bersiap menghadapi kemungkinan.

Glagah Putih tidak segera menyerangnya. Ia tahu, bahwa sikap orang itu justru berbahaya.

Karena Glagah Putih tidak menyerangnya, maka orang itu pun segera bangkit berdiri. Selangkah ia maju. Namun lawan Glagah Putih itu ternyata harus berdesis menahan sakit di dadanya.

Seperti lawan Sabungsari, maka orang itu pun segera menarik senjatanya. Sebuah golok yang besar dan berat Tetapi kekuatan orang itu memang sangat besar sehingga golok itu nampaknya tidak memberatinya.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak mau mengalami kesulitan dengan senjata lawannya. Karena itu, maka Glagah Putih pun telah menarik pedangnya pula sambil berkata, “Kau mulai dengan bermain senjata Ki Sanak.”

“Kau menjadi pucat Apakah kau menjadi ketakutan?” bertanya orang itu.

“Jika aku ketakutan, maka aku akan melarikan diri. Mungkin kau belum tahu bahwa aku adalah salah seorang pelari terbaik di Tanah Perdikan ini, sehingga aku yakin, bahwa kau tidak akan dapat mengejarku sampai aku mencapai padukuhan terdekat. Aku akan dapat berteriak-teriak memanggil semua laki-laki di padukuhan tersebut sehingga kau akan dihadapi oleh orang sepadukuhan. Nah, kau tentu akan dapat membayangkan. Tubuhmu akan hancur dicincang dengan senjata apa pun. Bahkan ada senjata yang sudah tidak tajam lagi, sehingga luka yang ditimbulkan akan terasa sangat nyeri.”

“Cukup,” bentak orang itu, “kau tidak usah mengigau seperti itu. Golokku adalah golok pilihan. Peninggalan kakekku, seorang yang ditakuti oleh semua orang di sepanjang lereng Gunung Kendeng.”

“Apakah kakekmu juga sering menyamun sebagaimana kau lakukan?” bertanya Glagah Putih.

“Kau gila. Aku bukan penyamun.” teriak orang itu.

“Baru saja kau minta uang dari kami berdua,” jawab Glagah Putih.

“Itu tidak penting. Yang penting kau aku minta singgah di rumahku. Itu saja.”

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Apapun yang kau katakan, tetapi kau sudah berusaha menyamun kami.”

Orang itu menjadi sangat marah. Ia tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan garangnya. Goloknya yang berat itu terayun mengerikan. Bahkan semburan anginnya telah menerpa kulit Glagah Putih yang berhasil menghindarinya.

Tetapi Glagah Putih tidak menjadi gentar. Bahkan ketika ia melihat orang itu mengayunkan goloknya yang besar dan berat itu. Dengan ungkapan tenaga dalamnya yang tersalur lewat tangan dan pedangnya, maka kedua orang itu telah beradu kekuatan.

Yang terjadi adalah benturan yang sangat keras. Kekuatan lawan Glagah Putih itu memang sangat besar. Tetapi Glagah Putih adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Tenaga dalamnya yang tersalur pada genggaman tangannya serta daun pedangnya telah membentur kekuatan lawannya yang sangat besar. Sehingga dengan demikian maka kedua senjata yang beradu itu telah melontarkan bunga-bunga api yang memercik dan memancar berhamburan disekitarnya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 283)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-82/

Terima kasih kepada Ki Raharga yang telah me-retype jilid ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s