ADBM3-203

<<kembali | lanjut >>

TETAPI kedua orang prajurit itu tidak berpaling ke-arah mereka. Bahkan nampaknya keduanya sedang membicarakan sesuatu yang lucu, sehingga keduanya tertawa tertahan.

“Kita lihat, kemana keduanya pergi,” berkata pemimpin kelompok itu.

Kawannya mengangguk. Sehingga sejenak kemudian, dibawah bayangan rumpun-rumpun pohon bunga, kedua orang itu telah mengikuti arah kedua orang prajurit yang sedang meronda itu.

Namun keduanya harus berhenti, ketika mereka melihat kedua prajurit itu menuju ke halaman depan melintasi sebuah seketheng di samping bangunan induk.

Dalam pada itu, maka pemimpin kelompok itu pun menjadi berdebar-debar. Dilihatnya sebuah regol kecil yang tidak tertutup, namun juga tidak diterangi dengan obor.

“Tunggulah,” berkata pemimpin kelompok itu, “aku akan melihat regol itu dari dekat. Mudah-mudahan kita tidak terjebak karenanya.”

Kawannya mengangguk kecil Dari kegelapan ia menyaksikan pemimpin kelompoknya itu bergeser dengan cepat menuju ke regol itu.

Sejenak ia mengamat-amatinya. Dengan sangat hati-hati ia telah mendekati regol itu. Kemudian memberanikan diri memperhatikan keadaannya.

Setelah ia yakin tidak ada terdengar tarikan nafas di sekitar regol itu, maka ia pun telah berusaha untuk menengok kedalam.

Orang itu menjadi berdebar-debar. Ia melihat longkangan bagian dalam. Di serambi nampak sebuah lampu minyak yang tidak begitu terang, sementara sebuah pintu butulan nampak tertutup.

Dengan isyarat ia memanggil kawannya yang mendekatinya. Dengan memperhatikan setiap kemungkinan keduanya pun memasuki longkangan dalam itu. Didalam longkangan itu juga terdapat beberapa jenis tanaman dalam taman yang teratur.

Dari tempat itu mereka dapat melihat serambi dalam yang dilengkapi dengan perabot-perabot yang baik. Beberapa buah dingklik kayu panjang yang dialasi dengan kulit binatang buruan serta ukiran yang terpahat pada tiang dan dinding kayu, menunjukkan bahwa serambi itu merupakan bagian penting dari istana itu sebagai kediaman Panembahan Senapati.

 Sejenak keduanya termenung melihat keadaan serambi itu. Memang mereka merasa heran, justru serambi itu tidak dijaga. Namun mereka menganggap bahwa para peronda tentu sering melintasi pintu regol yang terbuka itu, bahkan mungkin mereka akan memasuki longkangan dan melihat-lihat serambi itu.

Sebenarnyalah, sebelum mereka meninggalkan tempat itu, mereka telah mendengar derit pintu terbuka. Dengan cepat keduanya telah berlindung dibalik pepohonan perdu yang tumbuh hampir melekat dinding.

Dari tempat mereka bersembunyi, mereka melihat dua orang yang keluar dari sebuah pintu samping serambi itu. Keduanya agaknya prajurit khusus yang tidak bertugas meronda.

Pemimpin kelompok itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar salah seorang diantara keduanya berkata, “Oncor di regol itu mati.”

“Aku ambil api,” desis yang lain.

Pemimpin kelompok itu menggamit kawannya. Mereka harus cepat pergi sebelum longkangan di depan serambi itu menjadi terang karena lampu di regol. Bahkan apabila di regol kemudian dinyalakan lampu, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk keluar.

Karena itu, selagi seorang diantara kedua orang itu masuk kedalam dan yang lain tidak begitu menghiraukan taman kecil di longkangan itu, keduanya telah merayap mendekati regol. Bahkan kemudian keduanya mendapat kesempatan yang baik ketika orang yang berada di serambi itu bergeser menyamping.

Demikian keduanya berada diluar regol, maka keduanya pun telah menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya sadar, bahwa keduanya harus segera menjauhi regol yang lampunya akan dinyalakan.

Dengan demikian maka orang-orang yang diupah untuk melihat dan mengamati garis-garis bangunan yang ada didalam istana telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Sisa tugas mereka adalah tinggal keluar dari istana itu dan melaporkan hasil pengamatan mereka.

Dan mereka pun kemudian dengan tidak mendapat kesulitan apapun juga telah keluar dari halaman istana. Seorang diantara mereka yang mengamati keadaan didalam lingkungan halaman dan dua orang lainnya yang berada diluar, telah bersama-sama dengan mereka kembali ke rumah Pasak.

Menjelang dini hari kelima orang itu telah memasuki regol rumah Pasak. Ternyata Pasak sendiri masih duduk berkerudung kain panjang di serambi samping rumahnya. Didalam gelapnya bayangan teritisan.

Demikian ia melihat kelima orang itu memasuki regol dibawah cahaya oncor, maka ia pun segera bangkit dan menyongsongnya.

“Aku tidak dapat tidur barang sekejap pun,” desis Pasak. Hampir bersamaan kelima orang itu tertawa. Namun pemimpin kelompok itu bertanya, “Kenapa?.”

“Aku merasa gelisah sebelum kalian kembali,” berkata Pasak, “aku mencemaskan keselamatan kalian.”

“Terima kasih”, jawab pemimpin kelompok itu. Tetapi ia pun masih melanjutkan, “tetapi mungkin juga karena kau cemas tentang dirinya sendiri. Jika kami tertangkap, maka mungkin sekali rumahmu akan dikepung oleh sekelompok prajurit Mataram Namun ternyata tidak, sehingga kau tidak usah melarikan diri meskipun kau sudah siap melakukannya.”

“Tidak”, jawab Pasak, “aku berkata sebenarnya. Aku tidak menggelisahkan nasibku sendiri. Tetapi aku benar-benar memikirkan kalian.

Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Kami sangat letih. Kami ingin tidur. Jangan kau bangunkan sebelum kami bangun sendiri, meskipun sudah tengah hari.”

“Baik”, jawab Pasak, “tidurlah sesuka hatimu. Aku tidak usah membelinya dari siapapun juga, jika hanya suguhan itu yang kalian kehendaki.”

Setelah membersihkan dirinya dan membenahi pakaian mereka, maka kelima orang itu pun telah duduk di ruang dalam rumah Pasak. Sebelum mereka pergi tidur, maka Pasak telah menyediakan minuman panas bagi mereka.

“Terima kasih,” desis salah seorang-dari antara kelima orang itu, “segar sekali. Kami akan tidur nyenyak sekali.”

“Tetapi bagaimana tugas kalian?” bertanya Pasak.

“Semua berjalan lancar sekali. Tidak ada kesulitan. Seperti yang kau duga. Mudah sekali” jawab pemimpin kelompok itu.

Pasak menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah-Aku benar-benar merasa ikut bergembira sekeluarga jika kalian semuanya selamat. Beristirahatlah. Aku akan menyediakan makan bagi kalian. Aku akan menyembelih ayam.”

“Jangan berlebihan. Aku sudah memperingatkan. Aku tidak akan memberi lebih sebagaimana kita bicarakan sebelumnya,” berkata pemimpin kelompok itu.

“Aku tidak akan minta lebih. Aku sudah mendapat tiga kali lipat. Malam ini aku tidak sempat berjudi karena aku menunggu kalian dengan gelisah. Besok jika aku berjudi lagi, aku tentu akan menang lagi,” jawab Pasak.

“Tidak,” sahut pemimpin kelompok itu, “besok hubungan hitungan antara hari dan namamu tidak sesuai. Sebaiknya kau tidak berjudi besok.”

Pasak mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum. Katanya, “Aku lebih berpengalaman dari kalian. Dalam hal judi. Tetapi sebagai pencuri, aku mengaku kalah. Kau tentu akan lebih pandai menghitung hari, arah dan saatnya daripada aku. Tetapi untuk berjudi aku tentu lebih cakap menghitung hari, waktu dan kemana kita harus menghadap selama berjudi.”

Pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau menghubungkan hari, hadap dan saat dengan namamu dan letak lintang Panjer Wengi?.”

“Ah, sudahlah. Jika aku kalah, aku akan mencari uang mereka yang menang,” jawab Pasak, “aku berpengalaman juga mencuri, tetapi ditempat orang berjudi. Bukan memasuki rumah-rumah dan barangkali lumbung dan bilik-bilik penyimpanan harta benda.”

Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terserah kepadamu. Aku tidak peduli jika kelak kau menjadi pengemis karena olahmu. Seorang pencuri mungkin akan mengalami nasib buruk. Tetapi mati di keroyok orang banyak masih lebih jantan daripada mati kelaparan.”

Tetapi Pasak hanya tersenyum saja.

Demikianlah sejenak kemudian, maka kelima orang itu pun telah berbaring dipembaringan mereka. Sebenarnyalah kelelahan, kantuk dan dada yang lapang karena tugas yang diselesaikan dengan baik, telah membuat mereka kemudian tidur dengan nyenyaknya. Seperti mereka katakan, maka mereka tidak mau dibangunkan sampai mereka merasa jemu dan bangun dengan sendirinya.

Dalam pada itu, pada saat kelima orang Itu merasa bahwa tugas mereka telah mereka selesaikan dengan baik, maka diistana Mataram telah terjadi satu pembicaraan yang sangat khusus. Panglima Pasukan pengawal serta Senapati yang memimpin para Pelayan Dalam telah dipanggil menghadap oleh Panembahan Senapati yang telah mendapatkan laporan selengkapnya.

“Lima orang telah mendekati dinding istana. Tiga orang meloncat masuk sedangkan dua orang yang lain menunggu diluar. Diantara ketiga orang yang masuk itu, seorang mengamati keadaan, sementara yang dua menelusuri halaman samping dan memasuki longkangan di depan serambi.”

Atas dasar laporan itulah, maka Panembahan Senapati ingin membicarakannya, apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Dengan nada datar Panembahan Senapati itu pun kemudian berkata, “Ternyata perhitungan Agung Sedayu benar. Orang-orang itu telah meneruskan rencananya dan mengirimkan kelompok lain untuk menyelidiki istana ini.

“Ya Panembahan,” berkata Panglima Pasukan Pengawal, “tetapi yang datang itu baru orang-orang upahan.”

“Ya. Mereka adalah orang-orang upahan yang melanjutkan tugas kelompok yang sama sekali tidak berhasil mulai dengan tugas mereka karena mereka terbentur kekuatan Glagah Putih yang mulai tumbuh sesubur Agung Sedayu sendiri.”

“Hamba Panembahan”, sahut Panglima Pasukan Pengawal itu, “tugas kita sekarang adalah menunggu datangnya orang yang mengupah mereka.”

“Kita tidak tahu, kapan mereka akan datang,” berkata Panembahan Senapati. Tetapi apakah sebaiknya kita memberi tahukan hal ini kepada Agung Sedayu!.”

“Ada juga baiknya Panembahan”, jawab Senapati itu, “jika Panembahan berkenan mengutus hamba, maka hamba akan menemuinya.”

“Pergilah,” berkata Panembahan Senapati, “agaknya aku lebih percaya kepadamu daripada kepada siapapun. Jaga rahasia ini baik-baik. Sementara itu, pimpinan Pelayan Dalam aku minta tetap tinggal diistana. Salah seorang saja diantara kalian pergi. Jika diperlukan seorang kawan diperjalanan untuk mengusir kejemuan, pilihlah kawan sendiri.”

“Hamba Panembahan, hamba akan segera melaksanakan perintah panembahan. Tidak banyak orang yang mengenal hamba. Karena itu, maka hamba mempunyai dugaan, bahwa perjalanan hamba akan aman dan tidak akan ada hambatan,” jawab Panglima itu.

Demikianlah, maka setelah mendapat beberapa pesan dari Panembahan Senapati, maka Panglima itu pun kemudian telah bersiap-siap untuk pergi ke Tanah Perdikan Menoreh diikuti oleh seorang Senapatinya yang dipercayainya.

Keduanya tidak mengenakan pakaian yang mencerminkan kedudukan mereka. Tetapi keduanya telah mengenakan pakaian orang kebanyakan. Merekapun tidak mempergunakan kuda yang kuat tegar sebagaimana dipergunakan oleh pasukan berkuda agar tidak menarik perhatian. Tetapi mereka mempergunakan kuda yang terbiasa dipakai oleh orang-orang Mataram yang lain.

Dengan demikian maka keduanya sama sekali tidak menarik perhatian orang lain diperjalanan mereka menuju ke Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itulah, maka keduanya sama sekali tidak menemui hambatan apapun juga, meskipun keduanya harus menahan hati ketika terjadi sedikit ketegangan antara keduanya dengan beberapa orang yang berebut dahulu naik rakit yang akan menyeberangkan mereka ke seberang Kali Praga.

Panglima Pasukan Pengawal itu menggamit kawannya yang hampir saja marah ketika seseorang mendorongnya ketika ia sudah siap naik keatas rakit.

“Kau naik kemudian,” berkata orang yang mendorong itu.

“Aku datang lebih dahulu dari padamu”, jawab Senapati itu.

“Tetapi kau membawa kuda. Tanpa kuda rakit ini masih memuat tiga atau empat orang lagi,” jawab orang yang mendorongnya sambil membelalakkan matanya. Jambangnya yang lebat dan kumisnya yang tebal membuat wajahnya menjadi seram.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan perasaannya yang hampir saja melonjak. Panglima Pasukan Pengawal yang menyamar seperti orang kebanyakan itu tersenyum kepada Senapati yang menyertainya sambil berkata, “Kau boleh marah jika kau berhadapan dengan orang yang akan memasuki istana itu kelak. Tetapi tidak kepada orang itu.”

Senapati itu pun akhirnya tertawa pula sambil berdesis, “Hampir saja aku memukulnya.”

“Jika kau memukulnya, orang itu akan mati meskipun ia berjambang lebat dan berkumis setebal ibu jari kakinya,” jawab Panglima itu.

Senapati itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menuju rakit yang lain, yang masih belum seorang pun yang menumpang. Tetapi rakit itu adalah urutan berikutnya yang akan menyeberang.

Bersama kuda mereka, maka kedua orang prajurit itu telah naik keatas rakit itu. Baru setelah rakit yang terdahulu berangkat menyeberang, maka orang-orang yang datang kemudian telah naik ke rakit itu pula. Setelah rakit itu penuh, maka barulah rakit itu mulai bergerak.

“Rakit yang terdahulu sudah siap kembali kemari,” desis Senapati yang kecewa itu.

“Bukankah kita tidak tergesa-gesa,” jawab Panglima itu.

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi ia mengerti bahwa perjalanan mereka harus tidak terganggu dengan persoalan-persoalan yang seharusnya dapat dihindari.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, mereka pun telah sampai ke seberang. Setelah membayar upah tukang satang, maka mereka pun turun ke tepian.

Senapati itu menyentuh Panglima yang bersamanya sambil berdesis, “Orang itu masih disitu.”

“Apa pedulimu?,” bertanya Panglimanya, “bukankah ia tidak sedang menunggumu, tetapi sedang membeli dawet cendol? –

“Aku juga haus,” berkata Senapati itu.

“Apakah kau akan mencari perkara?,” bertanya Panglimanya.

Senapati itu tersenyum. Namun kemudian jawabnya, “Sebetulnya aku memang haus. Tetapi biarlah aku menahannya sampai kita jumpai penjual dawet cendol yang lain.”

Keduanya pun tertawa. Tetapi mereka memang tidak singgah ditempat penjual minuman itu. Keduanya pun telah meloncat ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanan menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Perjalanan mereka memang tidak terhambat. Ketika mereka memasuki padukuhan induk, Panglima itu pun berdesis, “Kemana kita. Ke rumah Ki Gede atau mencari rumah Agung Sedayu.”

“Kita pergi ke rumah Ki Gede saja,” jawab Senapati yang menyertainya, “ada atau tidak ada. Jika Agung Sedayu kebetulan tidak ada di rumah Ki Gede, ia akan memanggilnya.”

Panglimanya mengangguk-angguk. Karena itu, maka mereka pun langsung menuju ke rumah Ki Gede yang memang sudah diketahuinya. Tetapi mereka belum pernah melihat rumah Agung Sedayu meskipun mereka tahu bahwa rumah Agung Sedayu pun berada di padukuhan induk itu pula.

Tetapi sebenarnyalah ketika mereka sampai di rumah Ki Gede, ternyata Agung Sedayu tidak ada di rumah itu. Meskipun demikian, Ki Gede yang sudah mengenal kedua orang perwira itu pula, telah menyambut mereka dan mempersilahkan mereka naik ke pendapa.

“Kedatangan Ki Sanak berdua telah mengejutkan kami,” berkata Ki Gede.

Panglima itu tersenyum. Katanya, “Sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi Panembahan memerintahkan agar kami berdua datang ke Tanah Perdikan ini.”

“Tentu ada yang penting,” desis Ki Gede, “apalagi menilik pakaian yang Ki Sanak pakai berdua sama sekali tidak mencerminkan kedudukan Ki Sanak.”

Panglima itu justru tertawa. Namun kemudian katanya, “sebenarnyalah Ki Gede, kecuali kami ingin bertemu dengan Ki Gede, kami pun ingin bertemu dengan Agung Sedayu.”

“O” Ki Gede mengangguk-angguk. Namun kemudian Ki Gede pun langsung menghubungkan kedatangan kedua orang perwira Mataram itu dengan persoalan yang baru saja terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, maka ia pun telah bertanya, “Apakah ada hubungannya dengan orang yang diantar oleh Agung Sedayu ke Mataram beberapa waktu yang lalu?.”

Panglima itu mengangguk. Katanya, “Ya Ki Gede. Tetapi hanya satu pemberitahuan. Karena itu, barangkali tidak sangat penting.”

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “biarlah Agung Sedayu dipanggil. Jika ia tidak ada di rumahnya, maka Ki Sanak berdua dimohon menunggu. Karena Agung Sedayu harus dicari.”

“Kami tidak tergesa-gesa Ki Gede”, jawab Panglima itu.

“Syukurlah. Kami akan sempat menyediakan minuman” berkata Ki Gede sambil tersenyum.

Sementara itu, Ki Gede telah memerintahkan seseorang untuk memanggil dan mencari Agung Sedayu sampai dapat seandainya ia tidak di rumah. Ada tamu yang mencarinya. Tetapi Ki Gede tidak memberikan pesan tentang tamunya itu.

Agung Sedayu yang dicari memang tidak ada di rumah. Tetapi Sekar Mirah dapat menunjukkan dimana Agung Sedayu sedang bekerja.

“Bersama Glagah Putih dan Kiai Jayaraga ikut memperbaiki jembatan di padukuhan sebelah,” berkata Sekar Mirah.

Ketika Agung Sedayu mendapat pemberitahuan itu, maka ia pun segera meninggalkan anak-anak muda yang sedang bekerja bersama Kiai Jayaraga. Tetapi Glagah Putih ditinggalkannya untuk tetap berada diantara kawan-kawannya sedang bekerja.

Agung Sedayu dan Kiai Jayaraga tidak singgah lebih dahulu ke rumahnya. Tetapi mereka pun langsung pergi ke rumah Ki Gede, karena mereka menganggap bahwa tentu ada yang penting yang akan disampaikan kepadanya.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang tamunya. Meskipun belum terlalu akrab, tetapi Agung Sedayu mengenal keduanya dengan baik.

Setelah saling menyapa dan menanyakan keselamatan masing-masing maka Panglima itu pun berkata, “Kami sudah mendapat hidangan minuman panas dan makanan. Karena itu, biarlah kami menyampaikan pesan yang kami terima dari Panembahan Senapati.”

Agung Sedayu, Kiai Jayaraga dan Ki Gede mendengarkannya dengan sungguh-sungguh apa yang kemudian dikatakan oleh utusan Panembahan Senapati itu.

Sambil mengangguk-angguk Agung Sedayu pun berkata, “Jadi akhirnya ada juga sekelompok orang yang men dapat tugas serupa dengan yang gagal itu.”

“Ya”, sahut Panglima itu, “seperti yang diperintahkan oleh Panembahan Senapati sebagaimana direncanakan bersama kalian, kami membiarkan orang-orang itu mengamati keadaan di dalam lingkungan istana. Agaknya mereka telah menemukan arah yang akan ditempuh oleh orang yang mengupah mereka.”

Yang mendengarkan penjelasan itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Agung Sedayu bergumam, “Mereka benar-benar akan melakukannya.”

“Ya. Panembahan pun memperhitungkan demikian. Tetapi Panembahan Senapati telah siap menerima siapapun yang akan datang,” berkata Panglima itu, “agaknya Panembahan pun telah membicarakannya dengan Ki Patih.

“Ki Patih yang bijaksana itu tentu akan menemukan jalan yang paling baik untuk mengatasinya jika orang itu benar-benar datang betapapun tinggi bekal yang dibawanya” berkata Ki Gede, “sebab di permukaan bumi ini jarang sekali diketemukan orang yang memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka.”

“Semua rencana sudah masak,” berkata Panglima itu, “Namun Panembahan ingin, Ki Gede dan mereka yang berada di Tanah Perdikan ini mengetahui sebelumnya.”

“Terima kasih,” berkata Ki Gede, “karena peristiwa itu didahului dengan peristiwa yang terjadi disini, maka Panembahan memandang perlu untuk memberitahukan kepada kami.”

“Agaknya memang demikian Ki Gede. Panembahan berharap bahwa Tanah Perdikan ini bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti pesan itu. Mungkin Tanah Perdikan Menoreh dapat dianggap menjadi sebab kegagalan jika rencana dan jebakan yang dipasang di Mataram itu berhasil.

Karena itu maka Ki Gede pun berkata, “Terima kasih atas perkenan Panembahan untuk memberitahukan hal ini kepada kami disini. Mudah-mudahan kami tidak terkejut jika terjadi sesuatu dalam hubungannya dengan usaha untuk berbuat jahat terhadap Panembahan Senapati. Dengan demikian kami dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Utusan Panembahan Senapati itu pun mengangguk-angguk pula. Namun kemudian ia pun berkata, “Agaknya tugasku sudah aku lakukan dengan baik. Karena itu, maka kami pun akan segera mohon diri.”

“Kenapa begitu tergesa-gesa?,” bertanya Ki Gede.

“Kami harus berada di istana sebelum malam. Kami sedang dalam kesiagaan penuh, sehingga kami sebaiknya tetap berada ditempat”, jawab Panglima itu, “sementara itu Panembahan tidak melihat orang lain untuk menyampaikan berita ini sehingga kerahasiaannya dapat dijaga, karena selain Pasukan Khusus Pengawal dan Pelayan Dalam tidak seorang prajurit pun yang mengetahuinya. Karena itu, kami pun juga memohon agar kerahasiaan persoalan ini dapat tetap dijaga pula disini.”

“Kami akan tetap memegang teguh rahasia itu Ki Sanak”, jawab Ki Gede, “kesan yang timbul masih tetap sebagaimana kita kehendaki dahulu.”

Demikianlah maka utusan Panembahan Senapati itu pun kemudian mohon diri. Ketika ia berada di regol ia masih sempat berkata, “Siapa tahu, malam nanti akan terjadi sesuatu.”

“Begitu cepatnya?,” bertanya Ki Gede.

“Agaknya orang itu cenderung berbuat cepat”, jawab Panglima itu.

Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu, maka kedua orang itu pun telah meloncat ke punggung kuda masing-masing. Sekali lagi mereka minta diri. Kemudian kuda mereka pun telah berlari meninggalkan rumah Ki Gede, menyusuri jalan padukuhan induk menuju ke Mataram.

Seperti pada saat mereka berangkat, maka pada saat mereka kembali pun, keduanya tidak mengalami hambatan apapun juga. Sehingga mereka sampai di Mataram sebagaimana mereka rencanakan.

Keduanya tidak menunda sampai besok untuk memberikan laporan perjalanan mereka. Karena itu, maka mereka pun segera menghadap Panembahan Senapati demikian mereka sekali berbenah diri dan mengenakan kelengkapan pakaian mereka sebagai perwira prajurit Mataram.

“Terima kasih,” berkata Panembahan Senapati, “namun dalam pada itu kita sendiri pun harus berhati-hati.

Memang mungkin yang akan terjadi diluar perhitungan kita. Namun kita memang sudah siap.”

Panglima Pasukan Pengawal itu pun kemudian berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya bersama Senapati yang memimpin Pelayan Dalam. Mereka telah meningkatkan kesiagaan berlipat tanpa menarik perhatian orang lain, meskipun prajurit Mataram sendiri.

Dalam pada itu, kelima orang yang merasa bahwa usaha mereka telah berhasil itu pun masih menikmati hari-hari terakhir mereka di Mataram. Pasak yang merasa mendapat keuntungan di perjudian karena kehadiran kelima orang itu, serta uang yang dipergunakan sebagai modal, masih juga mengucapkan terima kasih dengan menyuguhkan makanan dan minuman yang berlebihan.

Namun akhirnya kelima orang itu pun meninggalkan rumah Pasak untuk melaporkan hasil tugas mereka.

“Kami sudah mendapatkan apa yang kalian kehendaki,” berkata pemimpin kelompok itu kepada orang yang mengupahnya.

“Kami akan meyakinkannya”, jawab orang yang mengupah itu.

“Kami memerlukan uang. Kami akan minta sisa upah yang dijanjikan” minta pemimpin kelompok itu.

“Kami masih belum dapat memberikan seluruhnya. Kami akan membuktikan, apakah keteranganmu itu benar. Baru kami akan memberikan sisa upah sebagaimana kami sanggupkan”, jawab orang yang mengupahnya, “nah, sekarang kami akan memberikan sebagian lagi.”

Wajah pemimpin kelompok itu menegang. Katanya, “Kami sudah mempertaruhkan nyawa kami.”

“Diam kau” orang yang mengupah itu membentak, “kau tidak akan dapat memaksa kami kecuali jika kau ingin agar kami membatalkan perjanjian itu. Jika kalian mengancam untuk membuka rahasia, maka kalian akan kami bunuh.”

Pemimpin kelompok itu tidak dapat berbuat lain. Ia harus menerima upah yang baru sebagian itu.

Dengan demikian, maka jalan untuk sampai ke bilik Panembahan Senapati telah terbuka. Orang-orang yang mengupah kelompok itu pun kemudian telah membuat rencananya. Tetapi mereka tidak akan langsung melakukan rencana mereka terhadap Panembahan Senapati. Tetapi mereka akan membuktikan dahulu apakah yang dikatakan oleh sekelompok orang yang mereka upah itu benar.

Tetapi mereka ternyata mempunyai rencana sebagai kelengkapan rencana mereka itu. Seorang diantara mereka berkata, “Kita harus mengalihkan perhatian orang-orang Mataram.”-

“Apa rencanamu?” bertanya yang lain.

“Kita akan mengacaukan Tanah Perdikan Menoreh”, jawab yang pertama.

“Kenapa Tanah Perdikan Menoreh? Bukan daerah yang lain?” bertanya kawannya pula.

“Kita mempunyai alasan”, jawab yang pertama, “gerakan yang kita lakukan mengatas-namakan diri dengan keluarga seperguruan orang-orang yang dibunuh oleh orang-orang Mataram menganggap persoalannya terbatas dengan Tanah Perdikan Menoreh dan tidak akan menyangkut ketenangan kota Mataram. Tanah Perdikan Menoreh tentu akan membuat laporan ke Mataram, bahkan mungkin memerlukan bantuan mereka. Mataram akan dapat menjadi lengah dan tidak memperhatikan keadaan diri mereka sendiri.”

Kawannya mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Aku mengerti. Tetapi kita harus berusaha untuk merahasiakan langkah-langkah kita sejauh mungkin. Orang-orang yang bertugas di Tanah Perdikan Menoreh harus tahu benar apa yang mereka lakukan.”

“Kita tidak akan memberitahukan rencana kita yang sebenarnya Kita akan memerintahkan tikus-tikus itu untuk benar-benar mengacaukan Tanah Perdikan Menoreh dengan dalih seperti yang aku katakan. Dengan demikian maka pengertian mereka tentang tugas mereka adalah memang menuntut balas kawan-kawan kita yang telah dibunuh oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh” berkata orang yang pertama.

“Mereka juga belum mengenal lingkungan Tanah Perdikan itu,” desis kawannya.

“Untuk mengenali lingkungan Tanah Perdikan Menoreh adalah jauh lebih mudah dari mengenali lingkungan istana Mataram. Biarlah mereka melakukannya. Mereka tidak akan berbahaya meskipun satu dua orang dapat ditangkap oleh orang-orang Tanah Perdikan. Mereka tidak akan dapat mengatakan apapun juga tentang kita. Seandainya orang-orang Tanah Perdikan akan memeras keterangan mereka yang tertangkap sampai mati seperti yang sudah terjadi itu pun tidak akan menghasilkan apa-apa”, jawab orang yang pertama, “sementara itu kita akan menghadap guru dan melaksanakan rencana induk kita. Mengakhiri kekuasaan Panembahan Senapati.”

Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita harus melakukannya segera. Tetapi apakah kita akan membuktikan keadaan isi istana itu?.”

“Kita akan melakukannya, sementara orang-orang kita akan menarik perhatian Mataram terhadap Tanah Perdikan yang akan menjadi kacau itu.”

Demikianlah orang-orang yang telah mengupah sekelompok pencuri dan perampok untuk mengenali lingkungan di istana Mataram itu telah menyusun rencananya sebaik-baiknya. Mereka telah memanggil beberapa pengikutnya untuk memberikan petunjuk, apa yang harus mereka lakukan.

“ Kalian harus pergi ke Tanah Perdikan Menoreh” perintah pemimpin mereka itu.

“Kami belum mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik,” desis salah seorang diantara mereka.

“Jangan dungu” bentak pemimpinnya, “bukankah kau dapat melihatnya?.”

Orang yang bertanya itu terdiam Sementara itu pemimpin mereka pun berkata selanjutnya, “Kalian harus berbuat sebaik-baiknya atas nama kawan-kawan kita yang telah dihancurkan dengan cara yang paling buruk.”

Wajah orang-orang itu pun menjadi tegang. Sementara itu pemimpinnya telah menceriterakan peristiwa-peristiwa yang disusunnya di kepalanya untuk memanaskan hati orang-orangnya. Kemudian dengan lantang ia berkata, “Tanah Perdikan Menoreh telah menghinakan kebesaran nama kita. Mereka tidak menyadari siapakah kita sebenarnya.”

Para pengikutnya itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba salah seorang diantara mereka bertanya, “Tetapi apakah hubungannya orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu dengan kita, sehingga salah seorang atau bahkan lebih dari antara kita telah mengalami nasib buruk di Tanah Perdikan itu? Sementara itu, apakah kepentingan kita sebenarnya berada di Mataram ini?.”

Pemimpinnya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kawan-kawan kita tidak melakukan kesalahan apapun di Tanah Perdikan Menoreh. Mereka hanya ingin melihat-lihat lingkungan Tanah Perdikan itu. Namun orang-orang Tanah Perdikan mencurigainya akan menangkapnya. Tetapi kita semuanya adalah laki-laki sejati. Daripada ditangkap dan menjadi tawanan, maka bagi kita lebih baik mati sama sekali.”

Para pengikutnya memang menjadi panas. Mereka merasa terhina atas tingkah laku orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu, pemimpinnya berkata, “Sedangkan kedatangan kita di Mataram ini semata-mata karena berita tentang kesombongan Panembahan Senopati. Tetapi kita masih harus melihat-lihat apa yang sebenarnya ada di Mataram. Karena itu, aku belum dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan. Jika ternyata justru sebaliknya dari anggapan kita, maka kita tidak akan berbuat apa-apa disini. Tetapi itu tidak ada hubungan dengan dendam kita atas orang-orang Menoreh. Karena itu orang-orang Menoreh tidak perlu tahu. Kalian tentu tahu maksudnya.

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Tetapi masih ada juga yang bertanya, “Kenapa kawan kita dapat terbunuh di Tanah Perdikan itu? Apakah di Tanah Perdikan itu ada orang yang memiliki ilmu yang tinggi?.”

“Mereka mengerubutnya. Sejumlah laki-laki yang tidak terhitung banyaknya telah menyerang kawan kita yang hanya tiga orang itu,” jawab pemimpinnya.

“Tetapi kenapa ketiga orang itu tidak mampu melepaskan diri?” bertanya yang lain.

Pemimpinnya menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Kalian memang harus berhati-hati. Mungkin memang ada orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Mungkin kalian sudah pernah mendengar nama Agung Sedayu.”

“Ya”, sahut seseorang, “nama besar itu pernah kami dengar. Tetapi apakah benar kebesaran namanya itu sesuai dengan kebesaran ilmunya yang dihadapkan kepada kita?”

“Jangan sombong”, jawab pemimpinnya, “hati-hatilah. Kalian akan melakukannya di Tanah Perdikan Menoreh bukan hanya bertiga, tetapi sepuluh orang diantara kalian akan pergi

Pemimpinnya itu pun kemudian menunjuk seorang diantara sepuluh orang untuk menjadi tetua kelompok itu. Ia harus memimpin kawan-kawannya melakukan pembalasan dendam atas orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.

Namun pemimpinnya itu masih berpesan, “Tetapi kalian bukannya menyerang Tanah Perdikan itu, tetapi kalian harus mengacaukannya.”

Para pengikutnya itu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh ketika pemimpinnya itu memberikan petunjuk-petunjuk terperinci. Dengan demikian mereka mendapat gambaran, bahwa yang mereka lakukan benar-benar suatu usaha pengacauan dalam waktu yang agak lama Bukan hanya satu serangan untuk melepaskan dendam dan kemudian ditinggalkan. Tetapi waktu yang diberikan adalah dua atau tiga pekan.

“Lakukan dalam waktu dekat,” berkata pemimpinnya, “kalian mempunyai beberapa hari untuk mengamati keadaan. Kemudian kalian akan mulai dengan langkah-langkah sebagaimana harus kalian lakukan.”

“Baiklah”, jawab orang yang diberi tanggung jawab memimpin sembilan orang kawannya, “kami akan berusaha untuk melakukannya sebaik-baiknya.”

Demikianlah sepuluh orang itu pun telah bersiap-siap. Mereka segera meninggalkan tempat persembunyian mereka di hutan-hutan yang berawa-rawa di lereng perbukitan di pesisir Selatan.

Namun dalam pada itu, di sepanjang jalan mereka masih juga membicarakan perintah yang mereka terima itu.

“Siapakah yang mati di Tanah Perdikan Menoreh sebenarnya?” bertanya salah seorang diantara mereka.

Kawan-kawannya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak seorang pun yang dapat menjawab. Namun orang yang diserahi pimpinan itu pun berkata, “Kita harus mengerti, bahwa banyak diantara kita yang tidak saling mengenal. Tetapi dalam keadaan tertentu kita memiliki tanda pengenal itu. Meskipun kita tidak saling mengenali tetapi  jika seseorang mengenakan tanda pengenal seperti yang kita miliki, maka kita adalah kawan dari satu sarang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Hampir diluar sadar, beberapa orang diantara mereka pun telah meraba timang dari ikat pinggang mereka. Timang yang mempunyai bentuk yang khusus dengan gambar kepala harimau yang terbuat dari tembaga.

Namun demikian, tiba-tiba yang lain pun bertanya, “Jadi apakah tugas seperti ini yang harus kita lakukan, justru setelah kita mendekati Mataram?.”

“Bukankah sudah dijelaskan”, jawab pemimpin kelompok kecil itu, “tidak ada kepentingan yang mendesak. Namun kita tidak dapat berpangku tangan melihat perkembangan keadaan, sehingga karena itu, pemimpin kita memerlukan diri untuk melihat keadaan Mataram yang sebenarnya. Sudah tentu, para pemimpin kita memerlukan kita untuk mengawal mereka. Di perjalanan banyak hal yang dapat terjadi.”

Yang lain mengangguk-angguk meskipun sebenarnya mereka tidak puas dengan jawaban itu. Mereka menyadari bahwa masih ada yang disembunyikan. Tetapi hal seperti itu sudah terbiasa terjadi didalam lingkungan mereka. Mereka tidak perlu terlalu banyak mengetahui. Mereka hanya menerima perintah dan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kemudian mereka akan mendapat bagian mereka yang cukup banyak dan janji kedudukan, meskipun mereka tidak mengetahui pasti, kedudukan apakah yang dapat diberikan kepada mereka oleh pemimpin mereka itu.

Namun didapat kesan meskipun tidak tegas, bahwa apabila Mataram dapat dikuasai, maka semuanya akan terjadi sebagaimana dijanjikan.

Dan pertanyaan yang timbul di hati mereka kemudian adalah, “Apakah perjalanan mereka ke pesisir mendekati Mataram itu ada hubungannya dengan kesan yang pernah tersirat didalam jantung mereka itu.”

Namun orang-orang itu tidak banyak mempersoalkannya. Mereka sudah banyak mendapat bagian mereka sehingga mereka merasa terikat kepada tugas-tugas mereka. Namun lebih dari itu, mereka yang sudah terlanjur terjerat kedalam kelompok itu, akan sulit untuk melepaskan diri. Seorang yang berani mengabaikan tugas-tugas yang diberikan, biasanya akan didapati oleh kawan-kawannya mati terbunuh tanpa diketahui sebabnya. Dan mereka pun sadar, bahwa pemimpin-pemimpin mereka adalah beberapa orang dari satu perguruan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Tetapi orang-orang itu tidak akan langsung pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka akan berada di hutan-hutan di daerah Tanah Perdikan itu sebagai tempat persembunyian. Dari tempat itu mereka akan mengaduk Tanah Perdikan Menoreh, sehingga timbul kesan, bahwa Tanah Perdikan itu menjadi kacau.

Namun orang-orang itu tidak mengetahui, bahwa Tanah Perdikan Menoreh pun sudah bersiaga untuk menunggu apa yang mungkin terjadi. Apalagi setelah dua orang perwira dari Mataram memberitahukan bahwa orang-orang yang berniat untuk mengamati keadaan didalam lingkungan istana itu melanjutkan usaha mereka.

Setiap malam gardu-gardu di Tanah Perdikan Menoreh dipenuhi oleh anak-anak muda disamping para pengawal yang memang sedang bertugas. Meskipun diantara mereka ada yang hanya sekedar berpindah tidur dari bilik-bilik mereka ke gardu parondan, namun kehadiran mereka dapat menambah kemeriahan gardu-gardu itu. Dengan demikian, jika saatnya para pengawal meronda berkeliling padukuhan, maka gardu-gardu masih tetap ramai oleh anak-anak muda. Ada diantara mereka yang membawa ketela pohon, jagung dan bahkan ada yang membawa beras ketan. Ada saja yang mereka lakukan dengan bahan-bahan makanan itu.

Bahkan di siang hari, setiap gardu di Tanah Perdikan Menoreh tetap terisi oleh dua orang pengawal yang tanpa memberikan kesan yang dapat menggelisahkan rakyat; Memang tidak ada kesan yang menunjukkan bahwa Tanah Perdikan terancam, sehingga karena itu kehidupan sehari-hari sama sekali tidak terpengaruh karenanya.

Dalam pada itu, sepuluh orang yang mendapat tugas untuk mengacaukan Tanah Perdikan Menoreh itu pun telah berada ditempat persembunyian mereka tanpa menarik perhatian selama perjalanan. Dari tempat itu mereka berusaha untuk dapat mengamati kehidupan Tanah Perdikan. Di siang hari, dua orang diantara mereka telah berusaha melihat-lihat keadaan. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali bergantian untuk meyakinkan pengamatan mereka.

Sebagaimana mereka datang ke lingkungan Tanah Perdikan Menoreh serta tempat persembunyian mereka, maka mereka pun tidak menarik perhatian orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Dua orang diantara mereka yang bergantian melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan telah berhasil mengenali jalan-jalan di Tanah Perdikan itu. Namun di siang hari mereka tidak melihat kesiagaan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang sangat tinggi. Jika mereka melihat satu dua orang berada di gardu, mereka mengira bahwa anak-anak itu adalah anak-anak yang kelelahan bekerja di sawah atau di kebun dan sekedar beristirahat di gardu di sudut desa.

Dengan demikian, maka mereka telah menyusun rencana untuk mulai dengan pengacauan yang akan mereka lakukan dimalam hari.

Sementara itu, dua orang pemimpin mereka, orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, telah membuktikan, apakah laporan orang-orang yang mereka upah melihat-lihat keadaan dilingkungan istana itu bukan sekedar mengarang ceritera untuk memancing upah yang dijanjikan, tetapi tugas yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan.

Namun adalah diluar dugaan, bahwa kedatangan mereka ternyata telah berada dibawah pengawasan para petugas di istana Mataram.

Namun para perwira dari Pasukan Khusus itu pun melihat perbedaan bobot kemampuan kedua orang itu dengan orang-orang yang datang lebih dahulu. Karena itu, maka mereka telah melakukannya dengan sangat berhati-hati. Semula mereka mengira, bahwa kedua orang itulah yang akan langsung memasuki bilik Panembahan Senapati. Karena itu, mereka telah melakukan segala pengamatan sebagaimana dipersiapkan. Mereka telah menarik pula tali isyarat yang memberitahukan langsung kepada Panembahan Senapati, bahwa dua orang yang berilmu tinggi telah memasuki dinding istana.

Tali itu telah menggerakkan sebuah bandul kecil didalam bilik Panembahan Senapati, sehingga Panembahan Senapati pun mengerti, bahwa orang yang ditunggunya telah datang.

Dalam bilik itu, selain Panembahan Senapati terdapat pula Ki Patih Mandaraka, yang ternyata tidak sependapat jika Panembahan Senapati menunggunya seorang diri.

Tetapi ternyata kedua orang itu tidak memasuki bilik Panembahan Senapati. Menurut perhitungan Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka, jalan satu-satunya untuk memasuki bilik itu tanpa diketahui oleh para prajurit Pengawal Khusus dan Pelayan Dalam adalah melalui atap istana itu.

 Namun para prajurit yang mengamati keadaan kemudian melihat kedua orang itu justru meninggalkan halaman istana setelah mereka berhasil mendekati bilik Panembahan Senapati.

 Demikian keduanya keluar dari halaman istana dengan meloncat dinding sebagaimana ditunjukkan oleh orang-orang yang mereka upah, maka seorang diantara mereka bergumam, “Mereka tidak berbohong. Yang mereka katakan, ternyata benar-benar hasil pengamatan mereka.”

Saudara seperguruannya mengangguk. Katanya, “Mereka tidak akan berani membohongi kita. Kita tentu akan segera mengetahuinya dan mereka tahu akibat apa yang akan mereka alami.”

“Tetapi hasil kerja mereka cukup memuaskan. Yang mereka gambarkan ternyata tepat seperti apa yang sebenarnya, sehingga kita dapat menempuh dan melalui jalan, lorong dan pintu-pintu regol serta seketheng dengan lancar tanpa gangguan. Merekapun dapat menyebut tempat-tempat penjagaan dengan jelas dan dengan demikian kami dengan mudah dapat menghindarinya,” sahut yang lain.

“Karena itu, agaknya mereka sudah sepantasnya menerima sisa upah mereka,” berkata saudara seperguruannya.

“Biarlah mereka menunggu. Jika mereka sudah menerima seluruh upah mereka, maka mereka tidak merasa terikat lagi kepada kita. Jika mereka mendapat orang lain yang mereka anggap dapat memberikan upah lebih banyak, mereka akan berkhianat” berkata yang seorang, “sementara itu, mereka pun akan menjadi tidak takut pula jika mereka mendapat perlindungan atau merasa mendapat perlindungan dari pihak lain.”

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, maka segala yang mereka saksikan dan mereka buktikan itu telah diberitahukannya kepada saudara-saudara seperguruannya yang lain, serta para pengikutnya, khusus yang mendapat kepercayaan tertinggi. Mereka masih harus membicarakan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Karena langkah-langkah yang akan mereka ambil selanjutnya akan menyangkut pula guru mereka.

“Kita akan memberi tahukan semuanya kepada guru,” berkata salah seorang diantara mereka, “biarlah guru yang mengambil keputusan. Mungkin guru memang memerlukan pertimbangan kita. Dan kita pun akan memberikan keterangan sejauh kita ketahui.”

Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Kepercayaan mereka yang dianggap pantas untuk ikut dalam pembicaraan itu pun agaknya sependapat. Karena itu, maka saudara yang tertua diantara mereka itu pun berkata, “Baiklah. Kita akan menghadap guru. Tetapi kita tidak usah berangkat semuanya kembali ke padepokan dan menghadap guru. Biarlah aku dan dua orang diantara kalian pergi mewakili kita semuanya. Sementara itu, diantara kita yang tinggal disini harus selalu mengikuti perkembangan keadaan. Mungkin kalian perlu mendengar dan melihat apakah yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Kita harus mampu menyadap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di sekitar Mataram. Mungkin akan menyangkut kepentingan kita seperti yang ternyata telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh itu. Hal yang serupa dengan itu, mungkin dapat pula terjadi di daerah lain. Karena itu, kita akan tetap memasang telinga kita dimana-mana. Tetapi terutama di Tanah Perdikan Menoreh.”

Tidak ada diantara mereka yang berkeberatan. Sementara itu orang tertua diantara mereka pun telah menunjuk seorang dari antara saudara-saudara seperguruannya serta seorang kepercayaannya.

Ketiga orang itu telah meninggalkan pangkalan mereka untuk bergerak ke Mataram, kembali ke padepokan untuk menemui guru mereka. Mereka akan mengatur langkah-langkah yang akan mereka tempuh selanjutnya setelah mereka mendapat kepastian tentang tata letak bangunan serta keadaan istana Mataram.

 Di Mataram, Panembahan Senapati, Ki Patih Mandaraka dan para perwira dari Pasukan Khusus serta Pelayan Dalam telah membicarakan kehadiran dua orang yang agaknya memiliki ilmu yang tinggi kedalam lingkungan istana. Mereka yang disangka akan langsung memasuki bilik Panembahan Senapati. Namun ternyata tidak. Keduanya tidak lebih melihat-lihat seperti yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya.

“Tetapi agaknya mereka sekedar membuktikan apa yang pernah dilihat oleh orang-orang sebelum nya dan berdasarkan atas pengamatan mereka, keduanya menelusurinya kembali,” berkata seorang perwira yang mengamati langsung kedua orang yang datang kemudian itu. Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Dengan sungguh, karena itu, maka kita pun harus bersungguh-sungguh. Kita belum tahu siapakah mereka dan untuk apa sebenarnya mereka bergerak. Untuk kepentingan mereka sendiri, atau mereka sekedar menjalankan satu diantara sesusun rencana tentang Mataram. Dengan demikian maka langkah-langkah mereka akan dibarengi atau disusul dengan langkah-langkah yang lain.”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang satu langkah yang berani. Bukan karena aku memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetapi mereka tentu tahu, bahwa aku telah dibayangi oleh kekuatan sejumlah para pengawal.”

“Itulah sebabnya maka kita menganggap persoalan ini adalah persoalan yang bersungguh-sungguh”, sahut Ki Patih, “mereka tentu bukannya tidak tahu, apakah ini Mataram. Karena itu, mereka tentu memiliki alasan dan bekal yang cukup untuk mengambil langkah-langkah seperti itu.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Mandaraka pun berkata, “Karena itu, hamba masih tetap mohon diperkenankan untuk berada diistana ini bersama Panembahan.”

Panembahan Senapati mengangguk. Katanya, “Aku jadi teringat semasa kanak-kanak. Paman sering menunggui aku menjelang tidur dan menceriterakan satu dongeng yang sangat menarik.”

“Maaf Panembahan”, jawab Ki Patih, “bukan maksud hamba untuk menganggap Panembahan tidak akan dapat mengatasi persoalan ini sendiri. Tetapi kita harus menyadari kelemahan kita betapapun banyak dan tinggi ilmu yang pernah kita peroleh.”

“Aku tidak berkeberatan paman”, sahut Panembahan Senapati, “paman akan tetap berada di bilik bersamaku sebelah menyebelah sekat.”

“Terima kasih angger Panembahan”, jawab Ki Juru, “mungkin yang terasa oleh hamba hanyalah sekedar kecemasan orang-orang tua saja.”

Panembahan Senapati tersenyum. Namun kemudian katanya, “Agaknya bukan sekedar perasaan cemas orang tua saja. Tetapi kita sepakat, bahwa memang ada usaha untuk melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Karena itu, aku pun minta, agar para prajurit yang secara khusus ikut menghadapi persoalan ini menjadi lebih berhati-hati.”

Dengan demikian, maka kehadiran kedua orang itu merupakan satu peringatan bagi para prajurit dari Pasukan Khusus dan Pelayan Dalam, bahwa keadaan memang menjadi semakin gawat.

Dalam pada itu, ketika Mataram semakin memperketat pengamatan, sementara tiga orang diantara mereka yang mempunyai kepentingan dengan Mataram sedang kembali ke padepokan mereka untuk melaporkan kepada gurunya bahwa persiapan terakhir telah dilakukan, maka orang-orang yang mendapat tugas untuk menarik perhatian Mataram atas Tanah Perdikan Menoreh pun mulai bergerak.

Sepuluh orang yang ditugaskan ke Tanah Perdikan Menoreh itu, pada satu malam telah memasuki lingkungan padukuhan-padukuhan yang termasuk tlatah Tanah perdikan. Mereka berusaha untuk menimbulkan kekacauan di Tanah Perdikan itu.

Namun ketika mereka mengamati sebuah padukuhan, maka mereka menjadi berdebar-debar. Dua orang diantara mereka ditugaskan untuk mendekati padukuhan yang akan menjadi sasaran.

“Apa yang ada di mulut regol padukuhan itu” berkata pemimpin kelompok itu, “nampaknya dibawah cahaya obor itu, banyak orang yang berkerumun.”

Dua orang diantara mereka telah merayap mendekat, sementara yang lain, berada di tengah-tengah kegelapan diantara tanaman yang hijau di sawah.

Semakin dekat maka kedua orang itu pun menjadi semakin jelas, bahwa yang berada dibawah cahaya obor itu adalah anak-anak muda yang sedang berkelakar.

“Gila”, geram salah seorang dari keduanya, “Apakah kepentingan mereka berkelakar disitu?.”

“Kita melingkari padukuhan ini. Kita akan melihat, apakah di regol yang lain juga banyak anak-anak muda di gardu, “- jawab yang seorang.

Keduanya pun segera kembali kepada kawan-kawannya dan melaporkan apa yang telah mereka saksikan.

“Anak-anak yang tidak tahu diri”, geram pemimpin kelompok itu. Lalu katanya, “Marilah. Kita lihat regol padukuhan yang lain.”

Namun ternyata bahwa di regol yang lain pun terdapat anak-anak muda yang berada di sekitar gardu. Mereka justru sedang menunggu perapian untuk merebus jagung muda.

Ketika mereka melingkar lagi, maka di gardu yang lain pun terdapat anak-anak muda pula yang sedang berkelompok.

“Apakah padukuhan ini sedang melakukan satu kegiatan tertentu?” bertanya salah seorang diantara mereka.

“Entahlah”, sahut pemimpinnya.

Namun mereka sepakat untuk melihat keadaan di padukuhan lain. Mungkin di padukuhan yang mereka amati itu memang sedang ada satu kegiatan yang tidak mereka ketahui.

Namun padukuhan-padukuhan lain pun ternyata diliputi oleh suasana yang sama.

Dengan demikian maka orang-orang itu pun telah mengambil kesimpulan bahwa mereka harus melihat Tanah Perdikan Menoreh itu sekali lagi. Dan waktunya adalah malam hari.

Sebenarnyalah di malam berikutnya mereka telah melihat-lihat Tanah Perdikan. Mereka membagi diri menjadi bagian-bagian yang kecil, masing-masing dua orang. Mereka melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan itu di bagian yang berbeda-beda menurut garis-garis jalan yang silang menyilang di Tanah Perdikan sebagaimana mereka kenal di siang hari.

Akhirnya mereka pun mendapat kesimpulan, bahwa Tanah Perdikan Menoreh memang berada dalam kesiagaan. Anak-anak muda yang berkerumun di gardu-gardu itu memang sedang mengadakan pengamatan. Mereka berjaga-jaga bagi ketenangan padukuhan mereka.

“Gila”, geram pemimpin kelompok itu, “aku tidak pernah mengira bahwa Tanah Perdikan ini mempunyai kesiagaan yang demikian tinggi, meskipun mungkin mereka tidak lebih dari tikus-tikus kecil. Namun mereka akan dapat menjadi berbahaya jika mereka membunyikan tanda bahaya dan memanggil sejumlah anak-anak muda yang lebih banyak lagi. Bahkan mungkin akan datang Ki Gede Menoreh sendiri, atau orang yang memiliki nama besar Agung Sedayu, meskipun kita masih belum yakin, apakah ia memang benar-benar pantas memiliki nama besar itu.”

“Lalu apakah kita akan mengurungkan tugas kita? Apakah kita akan dapat mempertanggung jawabkannya kepada pemimpin kita?,” bertanya seorang di antara mereka.

“Jangan bodoh”, geram pemimpin kelompok itu, “kita akan melaksanakan tugas ini. Yang perlu kita mempertimbangkan adalah caranya. Apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Yang lain mengangguk-angguk Mereka memang harus mempertimbangkannya masak-masak.

Namun akhirnya pemimpin kelompok itu berkata, “Aku memang melihat satu jalan.”

“Jalan yang mana?,” bertanya salah seorang kawannya.

“Kita akan membakar saja satu dua rumah. Barangkali itu satu satunya cara yang dapat kita tempuh tanpa harus mengorbankan seorang pun di antara kita,” berkata pemimpin kelompok itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang tidak melihat cara yang lain yang dapat mereka tempuh. Jika mereka memberanikan diri langsung berhadapan dengan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, maka mereka akan menghadapi anak-anak muda yang tidak terhitung jumlahnya. Padahal mereka hanya sepuluh orang. Karena itu, maka cara yang disebut oleh pemimpin kelompok itu adalah cara yang paling baik.

Dalam pada itu, pemimpin kelompok itu berkata lebih lanjut, “Jika kita menjumpai anak-anak itu, maka-lebih baik kita menghindar. Kita jangan melawan, karena hal itu akan sia-sia saja.

Sementara itu, jika ada diantara kita bernasib sangat buruk dan tertangkap, maka yang kita ketahui tugas kita adalah untuk melepaskan dendam karena kematian kawan-kawan kita. Dua orang kawan kita mati di sini. Seorang dibunuh oleh seorang anak muda Tanah Perdikan ini, sementara seorang lagi mati dalam pemeriksaan para pemimpin Tanah Perdikan.”

“Bagaimana dengan Mataram?” bertanya salah seorang kawannya.

“Kita tidak tahu menahu”, jawab pemimpinnya, “bukankah sudah diberitahukan bahwa tidak ada hubungannya antara tugas kita sekarang ini dengan persoalan Mataram yang memang tak banyak kita ketahui itu? Sekali kita menyebut Mataram, maka kita akan mengalami nasib seperti orang yang mati itu. Apakah yang dapat kita katakan tentang rencana golongan kita tentang Mataram? Agaknya kita baru dalam tingkat menjajagi. Segala sesuatunya akan diputuskan oleh para pemimpin kita, sementara kita hanya akan melaksanakannya saja di saat yang tepat.

Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka pun membayangkan bahwa mereka akan dapat mengalami keadaan yang sama. Mati dibawah pemeriksaan para pemimpin di Tanah Perdikan ini. Sekali mereka membunuh seseorang yang tidak mau menyebut satu rahasia, atau mungkin karena ia memang belum mengetahuinya, maka hal yang serupa akan dapat terulang.

Karena itu, yang terbaik bagi mereka adalah tidak tertangkap oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.

Demikianlah, maka pada malam berikutnya pula, kelompok itu telah bersiap untuk melakukannya. Mereka telah menyiapkan obor-obor yang cukup besar. Oncor-oncor jarak yang diikat dari beberapa rangkaian menjadi satu, belarak kering dan beberapa jenis kekayuan yang mudah terbakar.

Ketika malam menjadi semakin dalam, dan mendekati pertengahannya, maka mereka pun mulai bergerak. Mereka justru mendatangi padukuhan yang agak jauh dari tempat persembunyian mereka untuk mengaburkan jejak.

Tanpa diduga bahwa malam itu akan terjadi sesuatu di Tanah Perdikan, maka anak-anak muda Tanah Perdikan itu masih dalam kesiagaan sebagaimana malam-malam sebelumnya. Mereka lebih banyak berada di gardu-gardu meskipun sekali-sekali ada juga diantara mereka yang meronda berkeliling.

Namun terjadilah malapetaka itu. Seisi Tanah Perdikan terkejut ketika api menyala dan menelan sebuah rumah yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi termasuk rumah yang cukup baik bagi padukuhan itu.

Untunglah bahwa anak-anak muda memang sudah bersiaga. Demikian mereka melihat api, maka mereka pun segera bergerak. Sebelum rumah itu menjadi gumpalan api yang menyala menjilat langit, beberapa orang anak muda sempat menerobos masuk. Mereka mendapatkan sepasang suami isteri yang terbaring pingsan dipembaringan, sementara seorang anak kecil yang kehilangan nalar berteriak-teriak sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya.

Anak-anak muda itu sempat membawa mereka keluar meskipun tubuh mereka telah terjilat lidah api. Tubuh orang yang ditolong itu, maupun beberapa orang anak muda yang menolong. Namun luka-luka bakar itu sama sekali tidak berarti

Seorang anak muda yang kebetulan adalah adik dari perempuan yang pingsan dan yang sehari-hari juga berada di rumah itu mengumpat-umpat dengan marah. Anak muda itu sedang berada di gardu bersama kawan-kawannya ketika sekelompok penjahat memasuki rumahnya.

Dengan kerja keras, anak-anak muda dan para tetangganya akhirnya dapat memadamkan api. Tetapi karena rumah itu terbuat dari kayu dan bambu beratap ijuk, maka hampir tidak ada yang dapat diselamatkan kecuali kedua suami istri dan anaknya yang masih kecil itu.

Dalam waktu yang singkat, maka Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu bersama isterinya, Kiai Jayaraga dan Glagah Putih telah berada ditempat itu, karena mereka telah mendengar bunyi isyarat kentongan Dengan dituntun oleh cahaya merah di langit, maka mereka pun dengan cepat menemukan arah dari kebakaran itu.

“Suatu peristiwa yang mengejutkan,” berkata Ki Gede, “justru pada saat Tanah Perdikan ini bersiaga sepenuhnya.”

Agung Sedayu memang dicengkam oleh ketegangan. Bahkan Glagah Putih berkata, “Satu tantangan bagi kita kakang.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun bersama beberapa orang ia pun berusaha untuk melihat bekas dari kebakaran itu. Tetapi yang nampak hanyalah onggokan debu dan sedikit sisa-sisa tiang dan tulang-tulang atap rumah itu.

“Apakah kedua orang yang pingsan itu sudah mulai sadar?” bertanya Agung Sedayu.

“Mereka ada di rumah sebelah”, jawab seorang anak muda.

“Kita tidak menemukan apa-apa disini,” berkata Agung Sedayu, “marilah. Kita mungkin mendapatkan beberapa keterangan.”

Ketika Agung Sedayu berada di rumah sebelah, Ki Gede pun sudah berada di rumah itu pula. Setelah mempersilahkan orang-orang yang tidak berkepentingan keluar, maka Ki Gede pun mulai menanyakan beberapa hal tentang kebakaran yang terjadi di rumah itu.

“Bukan karena kelengahan kami Ki Gede”, jawab laki-laki yang sudah sadar dari pingsannya itu.

“Kami sudah menduga”, jawab Ki Gede, “karena kalian diketemukan pingsan di dalam rumah yang terbakar itu. Tentu ada sebab lain yang pantas mendapat perhatian.

Meskipun sekali-sekali laki-laki itu berdesis karena sengatan perasaan nyeri dirubahnya, namun ia pun sempat berceritera. Katanya, “Kami terbangun karena ketukan di pintu rumah kami. Kami memang sudah merasa curiga. Tetapi kami tidak dapat menolak, karena terdengar ancaman diluar. Jika kami tidak membuka pintu, maka rumah kami akan dibakar. Ketika kami membuka pintu, ternyata kami telah disakiti.”

“Apa saja yang dikatakan oleh orang-orang itu? Apakah ia sekedar merampok atau ada kepentingan lain?,” bertanya Ki Gede pula.

“Mereka tidak sekedar merampok Ki Gede, karena di rumah kami memang tidak terdapat sesuatu yang pantas untuk dirampok”, jawab orang itu, “tetapi mereka telah menyebut kematian dua orang yang katanya telah dibunuh oleh orang-orang Tanah Perdikan ini. Mereka ingin menuntut balas. Mereka menganggap bahwa kematian kawannya yang sedang diperas keterangannya membuat mereka menjadi sakit hati.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Satu kemungkinan yang memang sudah kita perhitungkan, “Tetapi kita tidak menyangka bahwa sasaran dendamnya, adalah siapapun juga di Tanah Perdikan ini. Seharusnya mereka mencari Glagah Putih atau orang-orang yang dekat dengan Glagah Putih serta pimpinan Tanah Perdikan ini yang telah memeriksa seorang diantara mereka sehingga terbunuh karenanya.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Kita harus berbuat sebaik-baiknya menghadapi akibat ini. Tetapi langkah pertama adalah penjagaan yang lebih ketat atas Tanah Perdikan ini.”

Agung Sedayu mengangguk. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Nampaknya mereka telah membabi buta.”

“Kita akan membicarakan lebih bersungguh-sungguh,” berkata Ki Gede kemudian.

Dengan demikian, maka malam itu juga di rumah Ki Gede telah diadakan pembicaraan khusus. Namun masih ada pertanyaan yang harus dijawab, “Apakah yang terjadi itu semata-mata hanya pembalasan dendam?.”

Agung Sedayu yang kemudian berkata, “Aku ingin dapat menangkap mereka hidup-hidup.”

“Tentu itu lebih baik. Tetapi seperti yang kita cemaskan, seandainya kita menangkap hidup-hidup, apakah bukan berarti rahasia mereka akan terbuka. Apakah dengan demikian tidak akan berpengaruh terhadap langkah-langkah yang sudah mereka lakukan di Mataram?”, sahut Ki Gede.

Apakah yang terjadi ini memang ada hubungannya dengan Mataram atau apa yang akan terjadi di Mataram?,” bertanya Agung Sedayu, “Atau benar-benar hanya satu balas dendam yang berdiri sendiri dari persoalan orang-orang yang mengupah mereka yang terbunuh itu?.”

“Satu persoalan yang rumit,” desis Ki Gede, “namun kita harus menemukan satu sikap.”

Beberapa saat kemudian mereka berusaha untuk menemukan satu langkah yang paling baik. Jika mereka yakin bahwa yang terjadi itu benar-benar hanya balas dendam saja, maka mereka tidak akan terlalu banyak membuat pertimbangan.

Namun akhirnya Agung Sedayu pun berkata, “Ki Gede, langkah kita yang pertama adalah mencegah terulangnya kembali pembakaran rumah seperti yang sudah terjadi. Sementara itu kita dapat memperhitungkan langkah-langkah berikutnya.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan melihat perkembangannya kemudian.

Demikianlah, pada keesokan harinya, Agung Sedayu telah mengumpulkan para pemimpin pengawal dari semua padukuhan. Mereka mendapat petunjuk-petunjuk terperinci, bagaimana mereka harus mencegah terulangnya peristiwa itu. Tanah Perdikan harus berusaha untuk meringankan beban suami isteri yang telah kehilangan tempat tinggalnya.

“Kita harus membantunya,” berkata Agung Sedayu, “yang terjadi itu adalah karena sikap permusuhan sekelompok orang terhadap Tanah Perdikan ini. Bukan terhadap pribadi suami isteri itu. Dengan demikian maka menjadi kewajiban Tanah Perdikan untuk mempertanggung jawabkan.”

Para pemimpin pengawal itu pun kemudian mendapat perintah pula untuk menghubungi para bebahu di padukuhan-padukuhan untuk membantu keluarga yang mengalami bencana itu. Pada bebahu itu juga akan menerima perintah langsung dari Ki Gede pula, sehingga jalur dari para pemimpin pengawal dan para bebahu itu akan bertemu. Mereka akan mengetuk pintu orang-orang yang berkedudukan di Tanah Perdikan Menoreh, sehingga beban itu terasa ringan karena diangkat oleh seluruh Tanah Perdikan.

Anak-anak muda Tanah Perdikan memang bekerja cepat. Perintah untuk bersiaga itu pun segera sampai ke setiap padukuhan. Sementara itu mereka telah mempersiapkan tenaga untuk membantu membangun sebuah rumah yang akan menggantikan rumah yang sudah terbakar itu.

Dengan demikian, maka para bebahu dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah menghubungi orang-orang yang dapat dan bersedia membantu, sehingga pada hari yang pertama itu, mereka telah mendapat dana yang memadai.

Karena itulah, maka di hari berikutnya anak-anak muda dan tetangga-tetangga orang yang kehilangan rumahnya dan untuk sementara tinggal di banjar itu, telah mulai mengumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan. Mereka menebangi bambu selain milik orang yang kebakaran rumah itu sendiri, juga dari tetangga-tetangga di sekitarnya. Sedangkan bahan-bahan yang harus dibeli pun sudah mulai dibeli pula.

Dalam pada itu, dimalam hari, penjaga pun menjadi semakin ketat. Tidak saja di regol-regol padukuhan. Tetapi anak-anak muda yang biasanya berkumpul, bergurau dan merebus jagung di gardu-gardu telah berpencar di sekitar dinding padukuhan. Seakan-akan setiap jengkal tanah tidak terlepas dari pengawasan anak-anak muda itu.

Tidak setahu siapapun kecuali Ki Gede sendiri, ternyata Agung Sedayu dan Kiai Jayaraga telah kembali dari Mataram. Mereka berangkat di malam hari dan kembali dimalam hari berikutnya. Mereka telah menghadap Panembahan Senapati untuk memohon petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan di Tanah Perdikan Menoreh.

Panembahan Senapati menganggap bahwa persoalan yang sesungguhnya itu berada di Mataram. Namun ketajaman penggraitanya telah menangkap maksud-maksud tertentu dari langkah-langkah orang-orang yang berniat jahat itu di Tanah Perdikan Menoreh.

“Menurut perhitungan, mereka tentu sekedar menarik perhatian agar kita semuanya berpaling ke Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Panembahan Senapati.

“Mungkin Panembahan. Mereka menyatakan pembalasan dendamnya dengan membabi buta,” berkata Agung Sedayu.

“Aku memerlukan laporan berikutnya. Tanah Perdikan Menoreh harus memberikan laporan secara terus-menerus. Ketahuilah, bahwa sudah dua kali orang-orang yang tidak kita kenal itu memasuki halaman istana.

Tetapi mereka belum berbuat apa-apa disini selain mengamati lingkungan dan keadaan”, sahut Panembahan Senapati.

Pembicaraan itulah yang kemudian menjadi bahan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh untuk mengambil langkah-langkah tertentu. Namun mereka pun masih harus menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan.

Pada malam-malam berikutnya, sepuluh orang yang mendapat tugas mengacaukan Tanah Perdikan itu seakan-akan tidak mendapat kesempatan lagi untuk memasuki setiap padukuhan. Penjagaan menjadi terlalu ketat. Sehingga dengan demikian mereka harus mengambil langkah-langkah yang lain.

Yang terjadi kemudian memang mengejutkan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Orang-orang yang tidak dapat memasuki padukuhan itu ternyata telah merusak tanaman di sawah. Beberapa kotak batang padi yang hijau subur telah hancur. Parit-parit pun menjadi rusak dan dengan demikian maka air pun tidak lagi mengalir ke sawah-sawah yang memerlukan.

Ketika kerusakan itu dilihat oleh para petani di pagi harinya, maka mereka pun telah mengumpat-umpat. Ternyata orang-orang yang mengaku mendendam itu benar-benar telah membabi buta. Berbuat apa saja untuk melepaskan perasaan sakit hati mereka.

Dengan demikian maka Ki Gede telah memerintahkan untuk mengamati bukan saja padukuhan-padukuhan, tetapi juga tanah persawahan dan pategalan di seluruh Tanah Perdikan.

“Memang sulit sekali untuk melakukannya,” berkata Ki Gede, “Agaknya tidak mungkin untuk mengamati sawah yang ada dari ujung Tanah Perdikan sampai ke-

ujung. Bulak-bulak panjang yang terentang diantara padukuhan-padukuhan sampai ke pinggir hutan dan lereng-lereng pegunungan.

Dengan demikian, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh telah menyiapkan pengawal berkuda. Mereka akan mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh. Bukan hanya sekedar di padukuhan-padukuhan saja, tetapi juga di bulak-bulak panjang.

Dengan gerak pengamatan yang lebih banyak, maka malam berikutnya tidak terjadi sesuatu. Tidak ada tanaman yang rusak dan tidak ada rumah yang terbakar.

Namun anak-anak muda itu tidak menjadi lengah. Pada malam berikutnya mereka masih juga mengelilingi Tanah Perdikan itu. Sekelompok pasukan pengawal berkuda telah  memecah diri dalam beberapa kelompok kecil untuk dapat mencapai seluruh tlatah Tanah Perdikan.

Ketika fajar menyingsing, maka para pengawal itu pun telah berkumpul. Mereka tidak menjumpai sesuatu. Apalagi sekelompok orang yang merusak tanaman. Bahkan ketika kemudian matahari terbit dan orang-orang pergi ke sawah, tidak seorang pun yang merasa sawahnya telah dirusakkan.

Namun para petani itu menjadi heran, bahwa air di parit tidak mengalir seperti biasanya, sehingga mereka yang mendapat giliran mengairi sawahnya menjadi kebingungan karenanya. Tanamannya sudah sangat memerlukan air, namun paritnya tetap tidak mengalir.

“Tentu ada seorang yang nakal” pikir seorang petani yang sawahnya mulai menjadi kering.

Seperti biasanya jika terjadi pelanggaran, maka petani itu pun menelusuri parit yang kering untuk melihat, siapakah yang telah menutup parit itu. Mungkin tidak sengaja. Ketika ia mengairi sawahnya, ia tertidur sehingga setelah sawahnya penuh air, ia tidak membukanya.

Tetapi ia tidak menemui kesalahan pada para petani yang memiliki sawah di urutan yang lebih tinggi. Tetapi ada orang yang membendung air di parit itu. Bahkan selama ia menelusuri parit itu, ia telah bertemu dengan beberapa orang yang juga merasa heran, bahwa parit itu kering.

Beberapa orang itu pun kemudian menelusuri ke tempat yang lebih tinggi. Mereka merasa heran bahwa induk saluran air pun telah menjadi kering.

Karena itu, maka mereka telah bersepakat untuk pergi ke bendungan. Agaknya bendungannyalah yang salah.

Beberapa orang itu pun telah bergegas untuk pergi ke bendungan. Sebenarnyalah, ternyata bahwa bendungan itulah yang telah rusak.

Ketika beberapa orang itu sampai di bendungan, telah banyak orang yang berkumpul. Bahkan Ki Gede, Agung Sedayu bersama Sekar Mirah, Kiai Jayaraga dan Glagah Putih pun telah berada ditempat itu pula.

Bendungan itulah yang telah menjadi sasaran dari orang-orang yang ingin membalas dendam. Ketika mereka merasa tidak tenang lagi jika mereka merusakkan tanaman karena para pengawal berkuda sering mondar-mandir di bulak-bulak persawahan, maka yang menjadi sasaran mereka kemudian adalah bendungan.

Dengan demikian, maka para pemimpin di Tanah Perdikan Menoreh itu pun harus menilai kembali kesiagaan yang telah mereka lakukan. Dengan gejolak kemarahan yang mengguncang jantungnya Ki Gede telah memerintahkan setiap orang untuk ikut mengamati keadaan. Para pengawal tidak hanya sekedar meronda, tetapi semua jalan masuk ke Tanah Perdikan harus diawasi. Bukan sekedar memasuki padukuhan-padukuhan, tetapi di segala jalan dan lorong masuk ke Tanah Perdikan. Mungkin di tengah sawah, di tengah pategalan atau dimanapun juga.

Dalam pada itu, ketika laporan tentang peristiwa-peristiwa itu sampai di Mataram, maka dengan ketajaman perhitungannya, Panembahan Senapati telah memerintahkan sekelompok prajurit untuk pergi ke Tanah Pendidikan Menoreh, membantu para pengawal untuk mengatasi kekacauan yang timbul di Tanah Perdikan itu.

“Kami masih belum menyerah,” berkata Agung Sedayu yang mondar-mandir dari Mataram ke Tanah Perdikan, “kami masih cukup tenaga untuk melakukan pengamatan di Tanah Perdikan. Para pengawal yang mempunyai pengalaman yang cukup itu akan mampu mengatasinya.”

“Aku percaya,” berkata Panembahan Senapati, “jika aku mengirimkan pasukan ke Tanah Perdikan itu sama sekali bukan karena Tanah Perdikan tidak mampu lagi mengatasinya.”

“Lalu karena apa?,” bertanya Agung Sedayu.

“Orang-orang yang mengacaukan Tanah Perdikan itu aku kira berniat untuk memancing perhatian Mataram ke-arah Tanah Perdikan itu. Sehingga dengan demikian maka Mataram justru akan lengah. Kami seakan-akan tidak merasa bahwa kamilah yang sebenarnya diintai oleh sekelompok orang yang belum kami ketahui alasannya. Dengan demikian maka orang yang berniat untuk memasuki istana ini akan merasa langkahnya lebih aman,” berkata Panembahan Senapati.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Hamba Panembahan. Hamba baru mengerti.”

“Nah, jika demikian aku akan mengirimkan pasukan dengan upacara sehingga banyak orang yang mengetahuinya,” berkata Panembahan Senapati, “dengan demikian maka akhirnya orang-orang itu tentu akan mendengarnya juga.”

Seperti yang dikatakan oleh Panembahan Senapati, maka Mataram telah menyiapkan sekelompok prajurit berkuda. Dengan upacara resmi maka pasukan berkuda itu dilepas untuk berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh.

Sebagaimana diharapkan, maka berita itu pun telah didengar oleh orang-orang yang merasa bahwa rencana mereka berhasil, memancing perhatian Mataram kepada Tanah Perdikan Menoreh, sehingga dengan demikian mereka mengharap bahwa Mataram akan menjadi lengah.

Ki Gede sebenarnya tidak menghendaki bantuan dari Mataram. Tetapi setelah mendapat penjelasan dari Agung Sedayu, maka pasukan itu pun diterimanya dengan senang hati.

Sepuluh orang yang mendapat tugas di Tanah Perdikan Menoreh untuk menimbulkan kekacauan itu pun telah mendengar pula kehadiran pasukan itu, sehingga mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Dalam pada itu, kehadiran pasukan dari Mataram itu memang menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan para pengawal Tanah Perdikan. Seolah-olah Tanah Perdikan Menoreh tidak dapat menyelesaikan sendiri masalahnya.

Sekar Mirah yang pada suatu sore duduk bersama Agung Sedayu, Kiai Jayaraga dan Glagah Putih pun bertanya pula kepada Agung Sedayu, “Kakang, apakah pasukan itu perlu sekali bagi Tanah Perdikan?.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menjawab Sekar Mirah telah berkata lebih lanjut, “Bukankah kita masih belum bersungguh-sungguh menanggapi sekelompok orang yang telah membuat Tanah Perdikan ini menjadi kacau. Aku belum melihat kakang secara khusus menyelidiki orang-orang itu. Dimana mereka bersembunyi dan seluruh kekuatannya berjumlah berapa orang. Apakah kakang tidak berminat, misalnya bersama Kiai Jayaraga dan Glagah Putih, bahkan aku pun bersedia ikut pula, atau kita masing-masing berdua, melihat-lihat dengan lebih saksama dan tidak mengandalkan para pengawal dan anak-anak muda yang meronda itu?.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun karena Sekar Mirah memang sudah mengetahui serba sedikit tentang hubungan persoalan antara Tanah Perdikan Menoreh dengan Mataram, maka Agung Sedayu pun telah memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Ia percaya bahwa orang-orang seisi rumahnya itu tidak akan membocorkan rahasia itu.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka persoalannya akan berbeda.”

“Itulah sebabnya sampai saat ini aku masih belum bertindak dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya aku pun seakan-akan berdiri di persimpangan jalan. Jika aku bersungguh-sungguh dan menangkap orang-orang itu, mungkin langkah orang-orang yang akan memasuki Mataram itu akan berbeda. Tetapi jika aku membiarkannya saja, maka kerusakan dan kegelisahan akan berkembang di Tanah Perdikan ini. Sementara itu, para prajurit berkuda dari Mataram itu pun telah mendapat perintah untuk sekedar melakukan pencegahan. Tetapi mereka tidak mendapat perintah untuk menangkap orang-orang yang telah mengacaukan Tanah Perdikan ini. Dengan demikian, seolah-olah Tanah Perdikan ini sudah dikorbankan untuk satu kepentingan yang dianggap lebih besar dari kerugian yang timbul di Tanah Perdikan sepanjang tidak timbul korban jiwa.”Agung Sedayu menjelaskan.

“Jika demikian kita memang harus menunggu,” berkata Sekar Mirah -tetapi begitu kepentingan Mataram selesai, maka kita akan dapat mengambil langkah-langkah penting.”

“Agaknya memang demikian”, jawab Agung Sedayu, “tetapi sementara ini, kita akan menerima keadaan seperti ini. Kita tidak usah tersinggung karena kehadiran pasukan Mataram. Hal ini memang perlu dijelaskan kepada para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan ini. Tetapi nanti, setelah semuanya lewat.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan demikian, maka tugas kakang tentu hanya sekedar menunggu di rumah Ki Gede atau berada di gardu-gardu bersama para pengawal.”

“Ya”, sahut Agung Sedayu, “para pengawal akan meronda bersama para prajurit dari Mataram. Jika perondaan itu ketat, maka orang-orang itu tentu tidak akan mendapat kesempatan untuk menelan korban berikutnya. Apakah itu sawah, pategalan atau bendungan.”

Sebenarnyalah, sejak kehadiran para prajurit Mataram di Tanah Perdikan Menoreh, maka orang-orang yang bersembunyi itu seakan-akan tidak pernah mendapat kesempatan lagi. Di seluruh Tanah Perdikan dalam kelompok-kelompok kecil mengelilingi seluruh lingkungan Tanah Perdikan. Dengan demikian, maka sulit bagi sepuluh orang itu untuk menyusup dan melakukan satu pengacauan tanpa dilihat oleh para peronda itu.

Tetapi orang-orang itu tidak juga kehabisan akal. Apa saja yang dapat mereka lakukan telah mereka lakukan. Bahkan mereka yang kehilangan kesempatan itu telah dengan tanpa malu-malu memasukkan jenu kedalam sungai yang melalui Tanah Perdikan. Mereka telah berada di tepi sungai itu di pinggir hutan sambil membawa beberapa onggok jenu. Kemudian jenu itu telah  dicairkan  dan  dituangkan  kedalam  sungai.

Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh terkejut ketika mereka melihat bangkai ikan yang mengambang di sungai itu. Tidak hanya beberapa ekor, tetapi terlalu banyak.

Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh hanya dapat mengumpat-umpat saja Namun Agung Sedayu masih berkata, “Untunglah, mereka tidak menaburkan racun.”

-Tetapi pada suatu ketika mungkin sekali hal itu terjadi,” berkata Sekar Mirah.

Namun orang-orang Tanah Perdikan Menoreh kemudian telah meronda di sepanjang sungai itu pula.

Tetapi orang-orang yang mendapat tugas untuk mengacaukan Tanah Perdikan Menoreh itu ternyata sudah puas dengan hasil kerja mereka. Pemimpin mereka pun kemudian berkata, “Kita sudah dua pekan berada disini.

“Aku kira yang kita lakukan sudah cukup menarik perhatian orang-orang Tanah Perdikan. Kita sudah cukup membuat mereka kebingungan sehingga mereka terpaksa minta perlindungan Mataram. Sepasukan prajurit Mataram itu pun tidak mampu menangkap kita. Namun agaknya prajurit-prajurit itu akan tinggal di Tanah Perdikan ini untuk beberapa lama,” sahut seorang kawannya.

Nama Agung Sedayu agaknya tidak lebih dari sebutan didalam mimpi. Jika benar ia berilmu tinggi, maka ia tentu akan dapat menemukan kita dimanapun kita bersembunyi,” berkata pemimpin kelompok itu.

“Aku sebenarnya ingin bertemu dengan orang yang bernama Agung Sedayu itu,” desis seseorang diantara mereka.

Pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan nada datar ia berkata, “Jangan mencari perkara.”

“Kenapa? Aku ingin membuktikan bahwa di Tanah Perdikan ini tidak ada kekuatan yang perlu dicemaskan kecuali Ki Gede Menoreh pun tidak mampu menemukan persembunyian kita dan tidak mampu mencegah tingkah laku kita.”

“Tetapi itu tidak termasuk tugas kita,” berkata pemimpinnya, “tetapi jika kau akan melakukan, itu bukan tanggung jawabku. Dan sebaiknya kau lakukan setelah kita melaporkan diri kepada para pemimpin kita.”

Orang itu nampaknya kecewa sekali. Namun ia tidak dapat melanggar perintah pemimpin kelompoknya.

Sementara itu, di Mataram, persiapan orang-orang yang ingin memasuki istana itu pun menjadi semakin masak. Bahwa Mataram mengirimkan sepasukan ke Tanah Perdikan Menoreh menjadi pertanda, bahwa perhatian para pemimpin di Mataram justru tertuju ke arah Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, maka mereka pun telah bersiap untuk memasuki istana itu setelah utusan mereka menghadap guru dari para pemimpin kelompok itu telah kembali.

“Guru mempercayakan kepada kita,” berkata saudara seperguruan mereka yang menghadap gurunya.

“Apa maksudnya?,” bertanya salah seorang saudara seperguruannya.

“Guru yakin bahwa kita akan dapat menyelesaikan persoalan tanpa kehadiran guru. Kita, tiga orang terbaik, akan dapat menyelesaikan Panembahan Senapati menurut penilaian guru. Tetapi menurut guru, kita tidak bertiga dalam keseluruhan, memasuki bilik Panembahan Senapati. Jika kita bertiga, maka seorang harus mengawasi keadaan diluar istana, seorang mengawasi keadaan didalam istana dan yang seorang lagi akan memasuki bilik Panembahan Senapati” berkata orang yang telah menghadap gurunya itu.

“Apakah itu sudah cukup? Bukankah Panembahan Senapati termasuk orang yang memiliki ilmu yang luar biasa?,” bertanya saudara seperguruannya, “pada umurnya yang masih sangat muda, ia telah mampu membunuh Adipati Arya Penangsang.”

“Bukan karena ilmu Raden Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati”, jawab saudara seperguruannya yang telah menghadap gurunya, “tetapi karena kekuatan tombak Kangjeng Kiai Pleret dan kelengahan Arya Penangsang sendiri. Tanpa tombak Kangjeng Kiai Pleret, Sutawijaya tidak akan mampu melukai kulit Arya Penangsang. Bahkan seandainya Arya Penangsang tidak lengah dengan menyangkutkan ususnya yang keluar itu ke wrangka kerisnya, sehingga ketika ia menarik kerisnya, justru ususnya telah putus, maka Arya Penangsang tidak akan mati jika tidak tergores oleh kerisnya sendiri.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Tetapi ada juga seorang diantara mereka yang meskipun hanya ditunjukkan kepada diri sendiri berkata, “Itu hanya lantaran. Seandainya bukan karena goresan kerisnya sendiri, jika saat itu telah tiba, maka tentu ada sebab lain yang mengantarkannya ke kematian.

Tetapi orang itu tidak mengatakannya, karena tanggapan orang lain mungkin akan berbeda.

Dalam pada itu, saudara seperguruannya yang telah menghadap gurunya itu pun kemudian berkata, “Mungkin ilmuku memang masih kalah selapis dari Panembahan Senapati. Tetapi guru memberi aku bekal. Betapa tinggi ilmu Panembahan Senapati, namun Panembahan Senapati tidak akan dapat melawan pusaka ini.”

Saudara-saudara seperguruannya pun memperhatikan sepucuk senjata yang dipegang oleh saudaranya yang telah menghadap gurunya itu. Sebilah keris. Perlahan-lahan keris itu ditariknya dari wrangkanya.

“Pusaka guru,” desis seseorang.

“Ya”, sahut orang yang memegang keris itu, “Kiai Sarpasri. Keris yang tidak ada duanya.”

Yang melihat keris itu rasa-rasanya memang menjadi silau. Keris itu memang berbentuk naga sebagaimana keris Nagasasra, Naga Kumala dan Naga Geni. Tetapi Keris Sarpasri ujudnya lurus, tidak luk sama sekali. Ujung ekor naga dari keris itu terbuat dari emas dan beberapa butir permata nampak menghiasi tubuh naga itu diantara ukiran sisik-sisiknya. Dua buah matanya terbuat dari sepasang intan, sementara diantara giginya yang tajam juga terdapat butir-butir intan.

“Nah, apa kata kalian tentang pusaka ini. Tidak ada seorang pun yang akan mampu melawan kekuatan keris ini. Panembahan Senapati pun tidak”, jawab orang yang telah menghadap gurunya itu.

Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Sementara orang yang membawa keris itu meneruskan, “Bukan saja goresannya akan berakibat maut, tetapi cahaya pamornya sudah mempengaruhi lawan. Bahkan ada orang yang dapat menjadi lumpuh hanya melihat cahaya pamor keris ini. Namun karena agaknya Senopati memiliki ilmu yang tinggi, maka ia tidak akan menjadi lumpuh, tetapi separo dari ilmunya akan lenyap. Dengan demikian, maka aku akan melawan Panembahan Senapati yang hanya memiliki separo ilmunya yang sebenarnya itu.

“Tetapi ingat” tiba-tiba seorang diantara saudara seperguruannya berkata, “Di Mataram tersimpan tombak Kangjeng Kiai Pleret yang telah membunuh Arya Penangsang seperti yang kau katakan, karena kematian Arya Penangsang bukan karena kemampuan ilmu Raden Sutawijaya.”

“Jangan bodoh”, sahut saudara seperguruannya yang mendapat keris dari gurunya itu, “aku tidak akan memberi kesempatan Panembahan Senapati menggapai tombaknya atau pusakanya yang manapun juga. Aku harus langsung berdiri dihadapannya dengan keris telanjang. Baru kemudian aku tantang ia berperang tanding.”

Saudara-saudara seperguruannya itu pun mengangguk-angguk mengiakan.

Sementara itu orang yang mendapat pusaka keris Kiai Sarpasri itu berkata, “Aku harus menemukan cara untuk berbuat demikian. Aku akan membuka atap tepat diatas bilik Panembahan Senapati dan turun langsung di depan bilik pembaringannya. Panembahan Senapati akan dengan tergesa-gesa bangun. Namun ia tidak akan sempat memungut pusakanya apapun juga.”

“Tetapi apakah kau tidak memperhitungkan gedung perbendaharaan dan gedung pusaka? Jika kau berada diatas bangsal pusaka itu, mungkin kau akan mengalami sesuatu yang dapat menggagalkan rencanamu.”

“Aku dapat mengetahui dimana bangsal pusaka itu berada. Aku mempunyai kemampuan untuk melihatnya. Tidak dengan mata kewadagan. Karena aku secara khusus sudah mempelajarinya.”

Saudara-saudara seperguruannya mengerutkan keningnya. Ternyata saudara seperguruannya yang satu itu telah mendapat ilmu yang khusus dari gurunya. Bahkan mungkin tidak hanya satu jenis ilmu itu. Bahkan orang itu telah mendapat kepercayaan yang sangat besar dengan dipercayakannya pusaka keris Kiai Sarpasri kepadanya. Pusaka yang sebelumnya tidak pernah diberikan kepada siapapun juga.

Namun mereka pun berkata didalam hati, “Sebagai murid tertua ia memang berhak mendapatkan ilmu dan kepercayaannya yang lain.”

Sementara itu orang yang memegang keris pusaka itu pun berkata, “Aku kira waktunya pun sudah tiba. Selagi perhatian Mataram tertuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Aku akan memasuki Mataram. Kalian semuanya harus menyesuaikan diri. Demikian Panembahan Senapati terbunuh, maka seluruh pasukan harus mulai bergerak. Termasuk pasukan yang sekarang berada di Tanah Perdikan Menoreh. Mataram yang kehilangan pemimpinnya akan bertambah bingung. Nah, pada saat yang demikian kekuatan yang sesungguhnya akan menghancurkan Mataram.”

Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk, sementara saudara yang tertua itu berkata, “Nah, kalian tahu tugas kalian masing-masing. Kalian harus menguasai kelompok-kelompok yang sudah dipercayakan kepada kalian masing-masing. Agaknya kelompok yang berada di Tanah Perdikan Menoreh itu pun akan segera datang kembali. Mereka ternyata telah melakukan tugas mereka dengan berhasil, sehingga pasukan berkuda dari Mataram yang terkenal itu telah diperbantukan ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Baiklah,” berkata salah seorang saudara seperguruannya, “kita akan melakukan tugas kita masing-masing sebaik-baiknya. Tetapi apakah kau yakin kau akan dapat melakukan tugasmu bertiga seperti yang kau katakan?, “

“Aku yakin”, jawab orang itu, “orang yang berhadapan dengan keris Sarpasri tidak akan mampu menolak pengaruhnya, kecuali orang-orang yang khusus, yang memiliki ilmu diluar batas kewajaran. Namun aku tahu, bahwa Panembahan Senapati mendapatkan ilmunya dengan laku yang berat sebagaimana orang lain. Jika ilmunya mumpuni dan jumlahnya tidak terhitung, karena masa mudanya sebelum memegang tanggung jawab pemerintahan. Panembahan Senapati menelusuri lereng-lereng pegunungan, pan tai dan tempat-tempat tersembunyi lainnya sebagaimana dilakukan Adipati Pajang yang sekarang, Pangeran Benawa. Namun Pangeran Benawa adalah orang yang lemah hati. Meskipun ilmunya bertimbun didalam dirinya, tetapi ia tidak berani memegang pimpinan tertinggi pemerintahan, sehingga kemudian dipegang oleh Senapati. Dengan demikian maka ilmunya adalah ilmu yang wajar berada didalam dirinya. Bahkan Senapati itu pernah menjalani tiga laku sekaligus. Laku yang jarang dapat dilakukan oleh orang lain. Bergantung, berendam dan pati geni. Ia bergantung pada cabang kayu yang berada diatas sebuah kolam yang tersembunyi, sekaligus pati geni tiga hari tiga malam. Namun justru karena itu, maka ilmunya tidak akan dapat mengatasi kemampuan pusaka guru, Kiai Sarpasri. Ilmunya akan susut separo atau lebih, sehingga aku akan menguasainya dalam perang tanding.”

“Bagaimana jika ia menolak perang tanding?” bertanya salah seorang saudara seperguruannya.

“Itu tidak mungkin. Senapati terlalu percaya kepada ilmunya. Dan aku akan memanfaatkan kepercayaannya yang berlebihan itu. Dengan demikian maka ia tidak akan mempergunakan pusaka Kangjeng Kiai Pleret,” jawab saudara tertuanya itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Agaknya saudara seperguruannya yang tertua itu sudah terlalu banyak mengetahui tentang Panembahan Senapati meskipun sebelumnya ia tidak tahu seluk beluk serta lingkungan istana Mataram. Namun ia telah berhasil melihatnya sekaligus membuktikan kerja orang-orang yang diupahnya.

Ketika semua persiapan telah selesai, maka mereka pun telah menentukan hari yang paling baik yang akan mereka pergunakan untuk memasuki Mataram, saudara seperguruan yang tertua itu telah menunjuk dua orang saudara seperguruannya yang paling dipercayainya serta dianggap memiliki ilmu yang paling tinggi.

“Kita akan melakukannya pada saat malam kelam. Malam ini menjelang pagi masih nampak bulan di langit. Karena itu, kita akan melakukannya dua malam lagi. Malam akan tetap gelap sampai matahari membayangi di langit” berkata saudara tertua itu.

Dalam pada itu, sepuluh orang yang bertugas di Tanah Perdikan Menoreh itu pun merasa bahwa tugas mereka telah selesai. Karena itu, maka mereka telah bersiap-siap untuk kembali ke landasan tugas mereka menghadap ke Mataram, meskipun mereka tidak jelas, tugas apakah yang harus mereka lakukan.

Namun demikian, sebelum mereka meninggalkan Tanah Perdikan, mereka masih akan melakukan satu kerja lagi yang akan dapat membuat Tanah Perdikan itu semakin kacau.

“Kita akan meninggalkan Tanah Perdikan ini sambil membakar hutan,” berkata pemimpinnya, “sementara orang-orang Tanah Perdikan itu kebingungan, kita akan menjadi semakin jauh. Dan kita akan melihat langit yang kemerah-merahan dari jarak beberapa ratus tonggak.”

Ternyata yang lain pun sependapat. Meskipun ada yang merasa kecewa bahwa pemimpinnya tidak membenarkannya untuk dapat bertemu dengan Agung Sedayu.

Kesepuluh orang itu telah menunggu malam turun di Tanah Perdikan. Semalam sebelum rencana pemimpinnya di Mataram dilaksanakan, maka mereka akan melakukan rencana mereka untuk membakar hutan.

“Kita persiapkan sebaik-baiknya agar api tidak padam sebelum benar-benar hutan ini menyala,” berkata pemimpinnya, “kita akan mencari tempat yang paling baik. Kita akan mengumpulkan sampah-sampah kering dan kekayuan. Baru kita akan menyalakannya menjelang tengah malam. Setelah kita yakin api akan berkobar dan membakar hutan ini, maka kita akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh yang telah pernah menjadi sasaran dendam kita. Meskipun kita tidak membunuh seorang pun di Tanah Perdikan ini, namun dendam kita sudah tersalur sepenuhnya.”

“Itulah yang mengecewakan,” berkata seorang yang ingin bertemu dengan Agung Sedayu, “tentu orang itu yang telah membunuh seorang diantara kita pada saat ia memeriksa dan memaksa seorang diantara kita itu mengaku.”

“Jangan sebut lagi,” berkata pemimpinnya, “sudah aku katakan. Kita jangan terjerumus kedalam langkah-langkah yang dapat menyeret kita sendiri.”

Orang yang benar-benar mendendam itu tidak menyahut lagi. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia dan beberapa orang masih belum puas dengan melepaskan dendam sebagaimana telah mereka lakukan.

Pemimpinnya yang melihat ketidak puasan itu pun berkata pula, “Kita harus mengakui kelemahan kita. Kita hanya sepuluh orang disini. Sementara itu, Tanah Perdikan ini telah bersiap-siap sepenuhnya. Bahkan seperti kita ketahui, Mataram telah membantu pula dengan sepasukan prajurit untuk ikut mengamankan Tanah Perdikan ini. Karena itu kita tidak perlu membunuh diri. Kita sudah memberikan kesan tentang langkah-langkah kita. Ternyata bahwa suami istri yang rumahnya terbakar itu tidak mati sebagaimana kita harapkan. Mereka tentu dapat berceritera tentang tujuan kita mengacau Tanah Perdikan ini.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka memang melihat kenyataan bahwa mereka tidak mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat lebih banyak lagi di Tanah Perdikan itu.

Namun dalam pada itu, maka mereka pun telah mempersiapkan rencana mereka untuk membakar hutan. Mereka kemudian hanya menyalakan onggokan-onggokan dedaunan dan kekayuan kering yang telah mereka timbun dibawah batang-batang pohon yang besar, sehingga jika pohon-pohon besar itu menyala, hutan akan benar-benar terbakar dan sulit untuk dikuasai. Sementara itu mereka pun telah menyiapkan arah yang akan mereka tempuh untuk meninggalkan Tanah Perdikan agar tidak mudah dicari jejaknya oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi dalam pada itu, Glagah Putih yang sedang berada diantara anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh di-sebuah gardu di padukuhan yang berada di pinggir Tanah Perdikan itu, ternyata telah mengalami sesuatu. Ketika ia sedang berkelakar dengan anak-anak muda di depan gardu itu, tiba-tiba saja ia merasa sesuatu menyentuh punggungnya.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Meskipun demikian ia berusaha untuk mengetahui, siapakah yang telah menyentuh punggungnya itu.

Namun kemudian ia merasakan lagi sentuhan itu. Lebih keras. Bahkan ia merasa satu sentuhan yang menyakitinya.

Karena ia mulai memperhatikannya, maka ia pun segera mengetahui bahwa sebuah krikil kecil yang dilontarkan dengan kekuatan yang luar biasa telah mengenainya.

Ketika sentuhan kerikil itu sekali lagi menyakitinya, maka ia pun yakin, bahwa ada seseorang diluar sekelompok anak-anak muda dan pengawal di gardu itu telah memanggilnya. Tetapi Glagah Putih tidak tahu, apakah maksud orang itu.

Meskipun demikian, Glagah Putih berniat untuk menemui orang itu. Ia pun sadar, bahwa orang itu tentu seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia mampu mendekati tempat itu tanpa diketahui oleh seorang pun. Dan ia pun mampu melontarkan kerikil kecil tepat mengenainya, sedangkan ia berada di depan gardu itu bersama-sama dengan beberapa orang anak muda lainnya.

Tetapi Glagah Putih tidak akan membuat anak-anak muda itu gelisah. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada seorang pengawal didekatnya, “Aku akan minta diri. Aku akan pergi ke padukuhan berikutnya.”

“Untuk apa?” bertanya pengawal itu.

“Kenapa untuk apa? Bukankah tugasku datang ke setiap gardu dan mencicipi makanan yang disediakan?”, jawab Glagah Putih.

Pengawal serta anak-anak muda yang mendengarnya tertawa. Sementara itu Glagah Putih pun melambaikan tangannya kepada anak-anak muda yang berkumpul di gardu itu sambil berkata, “Nanti, jika ketan serundeng kalian masak, aku akan kembali.”

Anak-anak muda itu tertawa pula. Seorang diantaranya menjawab, “Kami tidak mempunyai serundeng. Kami akan membuat ketan sirkaya.”

“Ah, enak sekali”, sahut Glagah Putih sambil melangkah kegelapan.

Namun, demikian ia terlepas dari pandangan anak-anak muda di gardu itu, ia pun telah bersiap sepenuhnya. Ia sadar, bahwa orang yang menyentuhnya dengan kerikil itu tentu berada ditempat yang tidak jauh dari gardu itu serta kemudian berjalan dibalik dinding sebelah, mengikutinya.

Sebenarnyalah, demikian Glagah Putih berada ditempat yang sepi, sesosok tubuh telah meloncat ke tengah jalan dihadapannya. Glagah Putih surut selangkah. Namun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi Glagah Putih pun segera menarik nafas dalam-dalam. Orang yang berdiri dihadapannya itu sudah terlalu dikenalnya

“Raden Rangga” Glagah Putih berdesis.

Tetapi nampaknya Raden Rangga agak tergesa-gesa. Tiba-tiba saja ia melangkah maju menggapai tangan Glagah Putih. Sambil menariknya Raden Rangga berkata, “Ikut Aku. Cepat.

“Kemana?” bertanya Glagah Putih sambil berlari-lari mengikuti Raden Rangga yang menarik tangannya

“Pergunakan tenaga cadanganmu. Kita berlari cepat,” berkata Raden Rangga tanpa menjawab pertanyaan Glagah Putih, “mudah-mudahan-kita tidak terlambat.”

Glagah Putih tidak bertanya lebih jauh. Ia sadar, bahwa Raden Rangga tentu tidak akan menjawabnya. Karena itu, maka seperti yang dikatakan Raden Rangga, maka Glagah Putih pun telah mempergunakan tenaga cadangannya untuk mendorong kecepatan larinya.

Keduanya telah berlari cepat sekali menuju ke sebuah hutan yang terletak justru di sisi lain dari Tanah Perdikan.

“Aku cari kau kemana-mana,” desis Raden Rangga. Glagah Putih tidak menjawab. Namun mereka berlari semakin cepat menyusuri jalan-jalan sempit dan pematang. Mereka mencari jalan memintas, namun yang tidak perlu melalui padukuhan-padukuhan agar anak-anak muda di gardu-gardu tidak menyapa dan menghentikan mereka.

Dengan kecepatan yang tinggi akhirnya keduanya memasuki sebuah hutan yang lebat masih di daerah Tanah Perdikan Menoreh. Dengan nada datar Raden Rangga berkata, “Kita masih sempat mencegahnya.”

“Apa sebenarnya yang terjadi?,” bertanya Glagah Putih ketika mereka mulai memperlambat langkah mereka.

“Mereka berada beberapa puluh langkah dihadapan kita,” desis Raden Rangga.

“Siapa?”desak Glagah Putih.

“Orang-orang yang akan membakar hutan”, jawab Raden Rangga, “aku mengamati mereka sejak mereka memasuki hutan ini. Namun aku mendengar pembicaraan mereka. Mereka akan membakar hutan ini. Tetapi agaknya mereka tidak langsung melakukannya. Mereka telah mengumpulkan dedaunan kering dan ranting-ranting dibawah batang-batang pohon yang besar, agar pohon yang hidup itu dapat terbakar dan menjalar pada pepohonan di sekitarnya. Aku kemudian mencarimu. Ampat gardu sudah aku lihat. Baru di gardu ke lima aku menemukanmu.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih saja mengikuti Raden Rangga yang memasuki hutan yang gelap gulita. Hanya karena ketajaman penglihatan dan pendengaran mereka, maka keduanya tidak menempuh jalan yang salah.

Namun mereka pun terkejut ketika beberapa puluh langkah dihadapan mereka, keduanya melihat obor yang mulai dinyalakan. Agaknya orang-orang yang akan membakar hutan itu tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka akan segera mulai membakar hutan untuk membuat orang-orang Tanah Perdikan Menoreh merasa bersalah, karena mereka telah membunuh orang-orang yang ternyata memiliki kekuatan di belakangnya.

Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh harus menyesali perbuatan mereka, karena dengan membunuh dua orang. Tanah Perdikan mereka telah menjadi kacau. Rumah terbakar, bendungan rusak, sawah-sawah menjadi berserakan dan parit-parit-pun menjadi kering.

“Marilah,” berkata Raden Rangga, “jangan terlambat.

Glagah Putih pun mengikuti langkah Raden Rangga yang semakin cepat diantara pepohonan hutan.

Agaknya Raden Rangga dengan sengaja tidak menghindari desir kakinya yang menyentuh dedaunan kering di hutan itu. Karena itu, maka orang-orang yang telah menyalakan obor itu pun telah mendengarnya pula, sehingga serentak mereka telah menghadap ke arah suara itu.

“Siapa?”terdengar seorang diantara kesepuluh orang itu bertanya.

Beberapa langkah dari orang-orang itu Raden Rangga berhenti. Katanya, “Bagus sekali. Jadi kalian benar-benar akan membakar hutan?.”

“Siapakah kalian?,” bertanya pemimpin kelompok itu. Raden Rangga maju selangkah sambil menjawab, “Kami adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.”

“Kebetulan sekali”, geram seorang diantara sepuluh orang itu, “apakah salah seorang diantara kalian bernama Agung Sedayu?.”

“Bukan” jawab Raden Rangga, “Agung Sedayu adalah pemimpin anak-anak muda Tanah Perdikan ini. Kami adalah pengawal Tanah Perdikan dua diantara para pengawal yang dipimpin oleh Agung Sedayu itu.”

“Kenapa Agung Sedayu sendiri tidak datang kemari?” bertanya orang itu.

“Kenapa mesti Agung Sedayu? Bukankah para pengawal ini akan dapat menyelesaikan tugas dengan baik? Kami berdua ditugaskan oleh Agung Sedayu untuk menangkap kalian,” jawab Raden Rangga.

“Persetan”, geram pemimpin kelompok itu, “apakah  kau mengigau atau bahkan sudah menjadi gila? Kau tahu bahwa jumlah kami berlipat ganda daripada hanya dua orang. Sementara itu, kami yang memiliki pengalaman dalam tugas-tugas yang berat serta perang di berbagai medan dibekali dengan ilmu dari perguruan kami, harus menyerah kepada dua orang pengawal Tanah Perdikan yang masih ingusan seperti kalian berdua ini?.”

“Bagaimanapun juga kalian telah melakukan banyak kesalahan dan pelanggaran paugeran di Tanah Perdikan ini. Bahkan kesengajaan menimbulkan bencana yang lebih buruk dari pembunuhan. Antara lain adalah membakar hutan seperti yang akan kalian lakukan,” jawab Raden Rangga, “karena itu maka kalian memang harus ditangkap.”Jangan banyak bicara.

Agaknya kalian memang tidak hanya berdua. Mungkin tempat ini sudah dikepung. Tetapi aku tidak akan gentar. Marilah datanglah semua pengawal Tanah Perdikanmu.”

Raden Rangga berpaling ke arah Glagah Putih yang melangkah mendekat. Kemudian dengan nada tinggi ia berkata, “Katakan kepada mereka, tidak ada orang lain kecuali kita.”

“Persetan”, geram pemimpin kelompok itu, “jangan menunggu terlalu lama. Pekerjaan tidak hanya menunggu kalian disini.”

Glagah Putih maju selangkah. Katanya, “Kami memang hanya berdua Ki Sanak. Sekarang, menyerahlah. Tidak ada gunanya kalian melawan.”

“Kalian memang sedang membunuh diri”, geram pemimpin kelompok itu. Lalu katanya kepada orang yang membawa obor, “jangan kau bakar dahulu onggokan kayu kering itu. Tancapkan obor itu di tanah. Nyalakan lagi obor yang lain. Biarlah hutan ini menjadi terang dan kita akan dapat melihat dengan jelas, yang manakah lawan kita dan yang manakah kawan kita.”

Orang yang membawa obor itu pun melakukannya. Ia pun ingin berbuat sesuatu atas orang yang dengan sombong telah datang kepada kelompok itu hanya berdua. Bahkan seorang yang lain pun telah menyalakan obor pula dan menancapkannya di tanah.

Sementara itu, justru diluar dugaan, Raden Rangga telah berkata, “Nah, sekarang lakukanlah jika kalian ingin membalas dendam. Kami berdua jugalah yang telah membunuh kawan-kawanmu di Tanah Perdikan ini. Sekarang kami datang untuk menangkap kalian. Tetapi jika kalian melawan, maka kami pun akan membunuh kalian.”

Wajah orang-orang yang akan membakar hutan itu menjadi tegang. Dengan serta merta salah seorang bergerak maju sambil mencabut senjatanya, “Jadi kalianlah yang telah membunuh itu?  Selama ini dendam kami tetap tersimpan. Kami hanya menumpahkannya kepada bendungan, sawah dan parit-parit. Tetapi adalah kebetulan bahwa kau sendiri datang mengantarkan nyawamu.”

“Kenapa kau tidak mencari kami? Kenapa kau puas dengan merusak bendungan, pematang-pematang sawah dan parit-parit. Kemudian justru yang lebih keji dari segalanya, kau akan membakar hutan ini?,” bertanya Raden Rangga.

“Kami tidak mengingkari kenyataan. Kalian mendapat bantuan dari prajurit Mataram yang mempunyai kekuatan berlipat dari kami sekelompok ini”, jawab pemimpin kelompok itu, “karena itu kami tidak mendapat kesempatan. Namun kami sudah memberikan peringatan kepada Tanah Perdikan ini, agar Tanah Perdikan ini tidak melakukan lagi hal yang serupa, karena kami bukan saja dapat menghancurkan sawah, parit dan bendungan, bahkan hutan. Tetapi kami akan dapat menghancurkan Tanah Perdikan ini dari semua segi sumber kehidupannya.”

“Bukankah itu perbuatan licik dan pengecut?,” bertanya Raden Rangga.

“Aku tidak peduli”, jawab pemimpin kelompok itu, “yang akan kalian alami adalah bencana sebagai pembalasan dendam kami, karena kalian telah berbuat sewenang-wenang atas kawan-kawan kami.”

Tetapi Raden Rangga justru tertawa. Katanya, “Baiklah. Sekarang kalian harus membelakangi aku dan mengatupkan tangan kalian di belakang punggung. Kami akan mengikat kalian satu demi satu.”

“Gila”, teriak seorang diantara kelompok itu, “seandainya tidak ada dendam diantara kami, sikapmu telah cukup menjadi alasan kami untuk membunuhmu.”

“Marilah,” berkata Raden Rangga, “siapakah yang akan membunuh disini. Kalian atau kami berdua.”

Pemimpin kelompok itu benar-benar dibakar oleh kemarahan yang menyala. Karena itu, maka katanya, “Bunuh anak-anak itu. Sebagian diantara kalian harus mengamati keadaan. Mungkin tempat ini memang sudah dikepung.”

“Tidak”, sahut Raden Rangga, “tidak ada yang mengepung tempat ini. Yang mendapat tugas dari Agung Sedayu memang hanya kami berdua, sekaligus untuk mendadar kami. Jika kami berhasil, maka kami akan diterima menjadi pengawal penuh Tanah Perdikan ini. Jika kami tidak berhasil menangkap atau membunuh kalian, maka biarlah kami tidak kembali kepadanya.”

Pemimpin kelompok itu tidak dapat menahan diri lagi. Ia pun segera mencabut senjatanya. Demikian pula orang-orang yang lain. Sementara itu, mereka membiarkan obor mereka menyala dan tertancap di tanah.

Sejenak kemudian, maka Raden Rangga dan Glagah Putih pun telah dihadapi oleh masing-masing dua orang, sedangkan yang lain agaknya masih belum melibatkan diri mereka, karena mereka menganggap bahwa dua orang itu akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan kedua anak-anak muda itu. Sebagian diantara mereka telah mengamati keadaan. Sebagaimana dikatakan oleh pemimpinnya, mungkin tempat itu memang sudah dikepung.

Raden Rangga yang melihat dua orang datang kepadanya tertawa. Katanya, “Jangan bermain-main. Marilah, datanglah lebih banyak lagi agar kalian tahu, bagaimana anak-anak muda Tanah Perdikan ini mengalami pendadaran.”

Pemimpin kelompok yang menggenggam pedang di tangan itu pun berteriak, “Cepat. Bunuh. Aku sudah muak melihat tampangnya dan muak pula mendengar suaranya.”

Keempat orang yang menghadapi Raden Rangga dan Glagah Putih itu pun kemudian telah meloncat maju. Senjata mereka teracu ke arah dada lawan-lawan mereka masing-masing.

Namun Raden Rangga dan Glagah Putih pun mampu bergerak cepat, melampaui kecepatan ujung-ujung senjata itu. Karena itulah, maka ujung-ujung senjata itu sama sekali tidak menyentuh sasarannya.

Sementara itu, Raden Rangga yang melenting ke dekat Glagah Putih sempat berdesis, “Kau bawa ikat pinggang itu.”

“Aku memakainya”, jawab Glagah Putih.

“Kita harus bergerak cepat, sebelum mereka menyadari kelemahan mereka dan berusaha benar-benar membakar hutan ini” bisik Raden Rangga.

Tetapi mereka tidak sempat berbicara lebih banyak. Lawan-lawan mereka pun telah datang pula, menyerang dengan garangnya, sehingga keduanya telah meloncat berpencaran.

Glagah Putih yang meloncat menghindar ke sebelah sebatang pohon yang besar telah mengurai ikat pinggangnya. Ia mengerti maksud Raden Rangga, agar lawan-lawan mereka tidak sempat menyalakan onggokan daun-daun kering dan kekayuan yang mereka timbun di pokok-pokok barang kayu yang besar-besar.

Namun demikian, Glagah Putih masih ingin memancing lebih banyak lawan lagi, agar mereka terikat dalam pertempuran. Dengan demikian maka tidak seorang pun diantara mereka yang akan mempunyai kesempatan membakar onggokan kayu-kayu kering itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Glagah Putih berteriak sebagaimana Raden Rangga, “Marilah. Kenapa hanya empat orang yang melibatkan diri kedalam perkelahian ini? Kenapa tidak semuanya?.”

“Persetan”, geram pemimpinnya sambil mengacu-acukan pedangnya, “Sebentar lagi mulutmu akan dikoyak dengan pedang.”

Namun kedua orang lawan Glagah Putih sama sekali tidak mampu berbuat banyak. Meskipun Glagah Putih masih berusaha memancing lawan-lawannya yang lain, namun ia sudah mulai mendesak kedua orang yang melawannya itu. Ikat pinggangnya yang berputar telah membentur senjata-senjata lawannya. Seorang diantara mereka mengumpat karena senjatanya hampir saja terlepas.

Kawannya dengan cepat telah meloncat menyerang Glagah Putih agar orang yang hampir kehilangan senjatanya itu mendapat kesempatan untuk memperbaiki keadaannya.

Kawannya itu memang sempat memperbaiki genggaman senjatanya. Namun dengan demikian orang itu menyadari, bahwa lawannya yang masih muda itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Apalagi karena senjata yang dipergunakan tidak lebih dari ikat pinggang kulit, sementara senjatanya adalah sebilah pedang yang sangat tajam.

“Senjatanya itu memang aneh,” berkata lawannya itu didalam hatinya. Tetapi justru karena itu, hampir saja ia kehilangan pedangnya.

Kenyataan itu telah membuat kedua lawannya semakin bersungguh-sungguh. Mereka tidak dapat menganggap Glagah Putih seorang anak muda yang sombong dan tidak tahu diri. Kenyataan yang mereka hadapi telah membuktikan, bahwa benturan yang terjadi telah menggoyahkan pegangan lawan-lawannya atas senjata masing-masing.

Pemimpin kelompok itu pun kemudian memang melihat, baik Glagah Putih maupun Raden Rangga ternyata tidak mudah dapat dikuasai. Mereka berdua memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga dua orang yang mendapat tugas untuk menghadapi setiap anak muda itu tidak mampu berbuat banyak.

Karena itu, maka pemimpin kelompok itu pun telah memanggil dua orang lagi untuk bergabung dengan kawan-kawannya, sehingga baik Raden Rangga maupun Glagah Putih harus melawan masing-masing tiga orang.

Raden Rangga yang melihat upaya Glagah Putih memancing lawannya itu pun dapat mengerti pula. Ia pun berusaha untuk berbuat sesuai dengan yang dilakukan oleh Glagah Putih, sehingga semua orang yang ada ditempat itu harus diserapnya kedalam pertempuran.

Karena itu, maka Raden Rangga tidak segera mengakhiri lawan-lawannya. Tetapi seperti Glagah Putih, ia pun berusaha untuk bertempur terus meskipun ia selalu mendesak lawannya.

Lawannya menjadi heran bahwa anak-anak muda itu ternyata sangat liat. Seorang diantaranya bersenjata ikat pinggang, sementara yang lain sama sekali tidak mempergunakan senjata.

Namun akhirnya Raden Rangga itu telah memungut sepotong kayu sebesar pergelangan tangannya sepanjang tiga jengkal yang terdapat dalam onggokan kayu di bawah sebatang pohon yang besar. Dengan kayu itu, ia pun telah melawan ujung-ujung senjata yang mengerumuninya.

Ternyata sepotong kayu yang kering dan lapuk itu di tangan Raden Rangga telah berubah menjadi senjata yang mendebarkan. Kayu lapuk itu mampu membentur sebilah pedang yang sangat tajam. Bahkan sepotong kayu itu seakan-akan telah berubah menjadi sebuah bindi yang sangat berbahaya.

Demikianlah, seorang demi seorang, orang-orang yang akan membakar hutan itu telah masuk ke dalam arena. Dengan demikian maka baik Glagah Putih, maupun Raden Rangga telah bertempur melawan lima orang.

Dalam keadaan yang demikian, maka Raden Rangga-pun berkata, “Nah, sekarang kalian telah melihat kemampuan para calon pengawal Tanah Perdikan. Menyerahlah, agar kami berdua segera diterima dan ditetapkan menjadi pengawal karena kami telah lulus dalam pendadaran ini.”

“Persetan”, geram pemimpin kelompok yang juga telah ikut serta bertempur melawan Raden Rangga, “kalian harus dibunuh.”

Tetapi tidak mudah untuk membunuh Raden Rangga dan Glagah Putih. Bahkan mereka berlima tidak banyak mempunyai kesempatan dalam pertempuran itu.

Meskipun kelima orang itu mampu bertempur dalam pasangan yang baik saling mengisi, tetapi lawan mereka memang seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari kebanyakan orang.

Dalam keadaan yang demikian, maka pemimpin kelompok itu menyadari, bahwa mereka harus menghadapi kenyataan tentang kedua anak muda itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja pemimpin kelompok itu pun berteriak, “Tahan mereka. Aku akan melakukannya.”

Raden Rangga dan Glagah Putih pun terkejut. Namun mereka menyadari, bahwa orang itu tentu akan benar-benar membakar hutan itu.

Sebenarnyalah pemimpin kelompok itu pun telah meloncat meninggalkan arena, sementara keempat orang kawannya berusaha untuk mengepung Raden Rangga. Dengan loncatan panjang pemimpin kelompok itu berusaha untuk menggapai obor yang tertancap di tanah.

Dengan demikian, maka baik Raden Rangga maupun Glagah Putih harus bertindak cepat untuk mencegah orang itu berhasil mencapai satu diantara obor-obor yang tertancap di tanah dan melemparkannya ke arah onggokan daun-daun dan ranting-ranting kering yang teronggok di-bawah sebatang pohon yang besar.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang bertempur melawan keduanya benar-benar berusaha untuk mencegah agar keduanya tidak terlepas dari ikatan pertempuran itu dan memberi kesempatan kepada pemimpin kelompoknya untuk membakar hutan.

Glagah Putih yang bersenjata ikat pinggangnya yang memiliki kemampuan yang mendebarkan itu, tidak sempat berpikir lebih panjang lagi. Ia tidak lagi mengekang diri karena pemimpin kelompok itu telah meloncat mendekat obor yang tertancap di tanah.

Karena itulah, maka dengan segenap kemampuannya, Glagah Putih telah mendera lawan-lawannya. Ikat pinggangnya berputaran dengan cepatnya. Setiap sentuhan dengan senjata lawannya telah melemparkan senjata lawannya itu.

Namun ternyata bahwa kelima orang lawannya itu pun memiliki ketrampilan mempermainkan senjatanya. Ternyata bahwa dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit, seorang diantara kelima lawannya itu berhasil menyentuh tubuh Glagah Putih dengan ujung pedangnya.

Kemarahan telah memuncak di dada Glagah Putih. Karena itu, maka tanpa ragu-ragu lagi ikat pinggangnya telah menyambar pedang yang mengenainya itu. Ketika pedang itu meloncat dari tangan yang kesakitan, Glagah Putih telah mengayunkan senjatanya lagi langsung mengenai lawannya.

Terdengar lawannya itu mengaduh. Kemudian ia terlempar beberapa langkah dan jatuh di tanah. Namun orang itu tidak akan dapat bangun kembali.

Dua orang diantara lawan Glagah Putih telah mampu menggapai senjatanya lagi. Bersama-sama mereka menyerang. Namun keduanya sama sekali tidak berhasil mengenainya. Bahkan sambil menghindari serangan ujung senjata itu, Glagah Putih sempat memutar ikat pinggang lawannya itu pun telah terpelanting jatuh. Demikian kerasnya kepalanya membentur sebatang pohon kayu serta demikian kerasnya ikat pinggang kulit itu menghantam tubuhnya, maka orang itu pun ternyata telah kehilangan nyawanya.

Namun masih ada tiga orang yang menghalanginya. Sementara itu ia melihat obor yang tertancap di tanah itu telah berhasil dipungut oleh pemimpin kelompok itu.

Namun dalam pada itu, ketika ia sempat berpaling, ia melihat Raden Rangga telah meloncat ke arah pemimpin kelompok itu. Namun Raden Rangga itu telah terlambat. Pemimpin kelompok itu tidak menyulut dedaunan kering dan ranting-ranting kayu yang teronggok dibawah batang-batang kayu yang besar, tetapi ia telah melemparkannya.

Karena itu, ketika Raden Rangga mencapai orang itu dengan serangan kaki mendatar, obor itu sudah tidak berada di tangannya. Meskipun demikian orang itu telah terlempar dengan teriakan nyaring. Punggung orang itu ternyata telah patah, sehingga orang itu pun kemudian telah mati seketika.

Sementara itu, api obor itu pun telah menyambar dedaunan kering serta ranting-ranting kecil sehingga api pun segera menjalar.

Ketika Raden Rangga memburu ke arah api itu, dua orang lawannya masih sempat mengejarnya seperti orang-orang yang kehilangan akal. Keduanya tidak lagi sempat mempergunakan nalarnya. Mereka sudah terbiasa berada didalam lingkungan yang terikat erat dalam paugeran yang keras sekali.

Raden Rangga menggeram. Namun ia tidak dapat berbuat lain kecuali melayani kedua orang lawannya itu. Dengan nada keras Raden Rangga berkata, “Kenapa kalian tidak melarikan diri he? Aku memberimu kesempatan. Tetapi dengan bodoh kalian memburuku.”

“Persetan”, teriak lawannya, “kau harus aku bunuh. Bukan saja karena kesombonganmu, tetapi kau sudah membunuh kawanku.”

“Pergi”, teriak Raden Rangga, “Aku akan memadamkan api itu.”

Tetapi kedua orang itu menyerang terus. Bahkan semakin cepat dan keras.

Akhirnya Raden Rangga kehabisan kesabaran. Untuk beberapa lama ia sudah berusaha mengekang dirinya. Tetapi kedua orang itu sangat menjengkelkannya.

Karena itu, maka yang dilakukan oleh Raden Rangga kemudian adalah menghentikan serangan-serangan kedua orang itu.

Demikian kedua orang itu terlempar dan membentur pepohonan, maka Raden Rangga mengumpat dengan marah. Api sudah berkobar semakin besar.

Dalam pada itu, Glagah Putih pun seakan-akan telah terpengaruh oleh sikap Raden Rangga. Ketika lawan-lawannya tidak juga melarikan diri, maka ikat pinggangnya pun telah mengakhiri pertempuran itu, apalagi ketika ia melihat api mulai menjalar naik. Yang terpikir olehnya adalah, jika hutan itu benar-benar terbakar, maka akan terjadi malapetaka di Tanah Perdikan Menoreh. Hutan itu berhubungan dengan hutan di lereng Pegunungan Menoreh, sehingga pegunungan itu pun akan menyala dan api akan menelan pepohonan hutan itu tanpa ampun. Jika gunung itu kemudian menjadi gundul, maka bencana akan menimpa Tanah Perdikan Menoreh untuk waktu yang lama.

Sejenak kemudian Glagah Putih telah berlari-lari pula mendekati Raden Rangga yang memandang api yang telah berkobar itu dengan wajah yang tegang. Sementara itu Glagah Putih pun kemudian bertanya, “Apa yang harus kita lakukan Raden, apakah aku harus memanggil orang-orang Tanah Perdikan agar mereka segera berusaha memadamkan api mumpung belum menjalar lebih luas.”

“Terlambat”, jawab Raden Rangga, “betapapun cepatnya orang-orang Tanah Perdikan itu berkumpul, mereka tidak akan dapat mendahului api itu menjalar.”

“Lalu, apakah yang harus kita lakukan? Membiarkan hutan ini terbatas dan bencana menimpa Tanah Perdikan?”desak Glagah Putih.

Raden Rangga termangu mangu sejenak. Namun api pun benar-benar telah mulai membakar sebatang pohon raksasa, sementara dibawah, api itu menjadi semakin menebar dan meluas.

Raden Rangga pun menjadi semakin tegang melihat api yang semakin menjalar. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun menggeram, “Mundurlah. Kita harus memadamkan api itu.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian telah bergeser mundur.

Raden Rangga pun mundur selangkah. Dipandanginya api yang telah membakar batang kayu yang besar itu. Dengan tegang Raden Rangga memusatkan kemampuan ilmunya. Ia harus berusaha agar ia dapat mencegah hutan itu terbakar.

Sejenak kemudian, maka Raden Rangga itu pun telah mengacukan kedua belah tangannya dengan telapak tangan mengemang menghadap ke arah api itu. Dengan satu hentakkan, maka dari kedua belah telapak tangan Raden Rangga itu seakan-akan telah memancar cahaya yang menyambar api yang telah berkobar.

Sesuatu agaknya telah terjadi. Kekuatan yang memancar dari tangan Raden Rangga itu bagaikan sentuhan udara yang dingin membeku. Api yang sudah mulai berkobar itu perlahan-lahan mulai surut.

Glagah Putih memperhatikan perkembangan keadaan itu dengan tegang. Sementara itu dari telapak tangan Raden Rangga seakan-akan masih tetap berhembus udara dingin yang basah mengandung air.

Dengan demikian, maka api yang sudah mulai merambat naik pada pokok sebatang pohon raksasa itu pun telah menjadi padam, sementara yang membakar dedaunan kering dan ranting-ranting serta kekayuan itu pun telah mati pula.

“Luar biasa,” desis Glagah Putih, “kekuatan apakah yang telah tersimpan didalam diri anak itu.”

Namun Glagah Putih pun menjadi terkejut ketika ia melihat Raden Rangga. Anak muda itu nampak menggigil. Bahkan kemudian keseimbangannya pun mulai terganggu.

Dengan cepat Glagah Putih meloncat menangkap tubuh yang hampir jatuh itu. Namun sekali lagi Glagah Putih terkejut. Tubuh Raden Rangga itu pun menjadi sangat dingin. Melampaui dinginnya malam di musim bediding.

“Raden,” desis Glagah Putih yang hampir saja melepaskan tubuh itu oleh sengatan rasa dingin membeku. Namun untunglah Glagah Putih tetap menyadari bahwa tubuh itu tentu akan terjatuh jika dilepaskannya.

Raden Rangga tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian dibantu oleh Glagah Putih telah duduk diatas tanah sambil berdesah.

“Bagaimana keadaan Raden?,” bertanya Glagah Putih. Raden Rangga pun kemudian duduk dengan menyilangkan tangannya di dadanya. Terdengar suaranya perlahan-lahan dan gemetar, “Bantu aku, agar darahku tidak beku.”

Glagah Putih yang juga memiliki ilmu kanuragan itu pun mengerti maksudnya. Ia pun kemudian duduk di belakang Raden Rangga. Kedua telapak tangannya telah melekat di punggung anak muda yang segera memusatkan sisa kemampuannya untuk mengatasi kesulitan didalam dirinya.

Sejenak keduanya berdiam diri dalam pemusatan nalar budi. Ternyata bahwa usaha itu memberikan pengaruh yang baik bagi tubuh Raden Rangga. Udara panas terasa mengalir dari tubuh Glagah Putih melalui sentuhan tangannya, sehingga darah Raden Rangga yang seakan-akan berhenti mengalir itu pun mulai merambat kembali lewat urat-uratnya.

Raden Rangga perlahan-lahan menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali. Kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Lepaskan tanganmu Glagah Putih. Aku sudah dapat mengatasinya sendiri setelah kau membebaskan darahku dari kebekuan.”

Glagah Putih mendengar kata-kata itu. Ia pun kemudian melepaskan tangannya dan beringsut beberapa tapak surut.

Namun agaknya tubuhnya pun telah terasa menjadi dingin meskipun tidak membeku. Sebagian unsur panas didalam dirinya telah dihisap oleh darah Raden Rangga yang beku. Namun Glagah Putih masih belum sampai pada satu keadaan yang sulit.

Sementara itu, maka Raden Rangga pun berkata, “Aku akan berusaha membebaskan tubuhku dari kebekuan ini, setelah kau berhasil membantu mengedarkan darahku kembali.”

Glagah Putih tidak menjawab. Ia hanya memandang saja Raden Rangga yang meneruskan pemusatan nalar budinya.

Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah duduk pula di belakang Raden Rangga. Meskipun tidak sedalam Raden Rangga, namun Glagah Putih-pun telah mempergunakan waktu sesaat untuk menghapus perasaan dingin didalam dirinya, meskipun tidak terlalu mengganggunya.

Beberapa saat kemudian, terasa Glagah Putih telah terbebas dari pengaruh dingin di dalam dirinya, karena unsur panas yang dialirkannya kedalam tubuh Raden Rangga. Namun agaknya Raden Rangga memerlukan waktu yang agak lama untuk memulihkan kembali keadaannya setelah ia berjuang memadamkan api yang hampir saja merambat dan menelan hutan yang luasnya beribu-ribu patok dan membuat lereng pegunungan Menoreh menjadi gundul.

Namun Glagah Putih masih saja menungguinya. Sementara itu ia sempat memperhatikan tubuh-tubuh yang terkapar di sekitarnya. Tubuh-tubuh yang sudah membeku pula.

Glagah Putih itu pun menjadi berdebar-debar. Ia telah membunuh lima orang sekaligus dan Raden Rangga pun telah melakukannya pula.

“Apa yang harus aku katakan kepada kakang Agung Sedayu,” bertanya Glagah Putih kepada diri sendiri, “ia sudah banyak memberikan pesan kepadaku dalam hubungan dengan Raden Rangga itu pula. Dan sekarang, aku bersama anak muda itu telah membunuh sepuluh orang.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam Namun keadaan memang telah memaksanya melakukan pembunuhan itu. Kemarahan karena luka yang tergores dirubahnya meskipun tidak mengganggu dan tidak berbahaya, bahkan titik-titik darahnya telah pampat, kebingungan dan bahkan seakan-akan ia telah kehilangan akal karena api yang berkobar.

Selagi Glagah Putih dicengkam oleh kegelisahan, maka Raden Rangga pun telah berhasil mengatasi kesulitan didalam dirinya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengurai tangannya yang bersilang di dadanya.

Glagah Putih yang melihat keadaan Raden Rangga itu pun mendekatinya sambil bertanya, “Bagaimana dengan keadaan Raden?.”

“Aku sudah baik, Glagah Putih”, jawab Raden Rangga sambil bangkit berdiri, “agaknya aku telah melakukan sesuatu melampaui batas kemampuanku. Hampir saja darahku membeku dan mungkin aku akan kehilangan kesempatan berikutnya. Untunglah kau berhasil membantu aku membebaskan darahku dari ke kekuatan yang akan dapat berakibat gawat itu.”

“Aku melakukannya atas petunjuk Raden sendiri”, jawab Glagah Putih.

Raden Rangga mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kita telah membunuh orang-orang itu. Mungkin kita dapat dianggap melakukan kesalahan. Tetapi jika orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu melihat apa yang terjadi, mereka tidak akan menimpakan kesalahan itu kepada kita. Karena itu, mumpung keadaan ini belum berubah, laporkan peristiwa ini kepada pimpinan Tanah Perdikan Menoreh.”

Glagah Putih mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah Raden. Aku akan menyampaikannya kepada kakang Agung Sedayu. Biarlah kakang Agung Sedayu menghadap Ki Gede.”

“Baiklah”, jawab Raden Rangga. Namun kemudian ia pun bertanya, “tetapi apakah Tanah Perdikan atau barangkali kau, dapat menjelaskan tentang orang-orang ini? Selain dendamnya kepada Tanah Perdikan ini.”

“Aku tidak begitu mengerti Raden”, jawab Glagah Putih, “namun menurut pendengaranku dalam pembicaraan kakang Agung Sedayu, bahwa yang dilakukan oleh orang-orang itu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di Mataram. Tetapi nampaknya semuanya serba rahasia, sehingga tidak banyak yang dapat aku ketahui.”

“Aku mengerti,” berkata Raden Rangga, “tetapi bagaimana pikiranmu, bahwa yang terjadi sekarang adalah semacam perang perhitungan?.”

“Maksud Raden?,” bertanya Glagah Putih.

“Yang terjadi di Tanah Perdikan ini sekedar usaha untuk memancing perhatian saja. Sementara itu ayahanda Panembahan Senapati yang juga menduga demikian, berpura-pura melakukan sebagaimana dikehendaki. Ayahanda mengirimkan pasukan ke Tanah Perdikan ini, agar orang-orang yang memancing perhatian itu menganggap bahwa ayahanda benar-benar menjadi lengah karena perhatiannya tertuju ke Tanah Perdikan,” berkata Raden Rangga.

Glagah Putih termangu-mangu. Ia tidak dapat mengiakan ataupun membantahnya. Yang dikatakan oleh Agung Sedayu adalah serba rahasia. Meskipun Raden Rangga adalah putera Panembahan Senapati, tetapi ia mempunyai sikap tersendiri, sehingga mungkin rencananya berbeda dengan apa yang akan dilakukan oleh ayahandanya.

Raden Rangga melihat keragu-raguan pada Glagah Putih. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Mungkin kau terikat kepada pesan-pesan kakak sepupunya. Tetapi aku mengerti, sebagian dari peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan ini. Sebagian karena aku memang mendengar, sebagian yang lain atas kata-kata orang-orang yang terbunuh itu sendiri dan sebagian lagi adalah karena penglihatanku atas peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan ini dan di Mataram.

Aku tahu, bahwa beberapa orang telah memasuki halaman istana. Dan aku pun tahu bahwa para pengawal khusus juga melihat orang-orang yang masuk itu tetapi mereka tidak berbuat sesuatu. Bahkan yang terjadi kemudian, orang-orang yang agaknya lebih berilmu telah datang untuk meyakinkan jalan menuju ke bilik- ayahanda.”

Raden Rangga tertawa pendek. Lalu katanya, “Tetapi sebagaimana yang rahasia, maka yang aku katakan ini juga rahasia. Agung Sedayu pun tidak boleh tahu, agar ia tidak melaporkannya kepada ayahanda, sehingga aku akan dimarahinya, karena aku telah mencampuri persoalan ini.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Raden Rangga telah mengetahui banyak tentang persoalan yang dihadapi Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu Raden Rangga pun berkata, “Pergilah kepada kakak sepupumu. Laporkan apa yang terjadi sebelum ada perubahan, agar mereka mendapat gambaran dari peristiwa yang sebenarnya. Mudah-mudahan mereka tidak akan menghukummu dan melaporkan aku kepada ayahanda, karena jika hutan ini benar-benar terbakar, maka Tanah Perdikan ini akan menderita untuk waktu yang lama.”

Glagah Putih pun mengangguk sambil menjawab, “Aku akan pergi. Tetapi apakah Raden akan menunggu di-sini?.”

“Aku akan menunggu disini”, jawab Raden Rangga. Demikianlah,  maka  Glagah Putih pun kemudian meninggalkan hutan itu dan dengan cepat berlari ke padukuhan induk. Ia telah menelusuri jalan-jalan setapak dan pematang agar lebih cepat mencapai rumahnya.

Agung Sedayu terkejut ketika ia melihat Glagah Putih datang dengan wajah yang tegang dan nafas terengah-engah. Dengan sareh ia pun bertanya, “Ada apa Glagah Putih. Apakah ada sesuatu yang gawat telah terjadi.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya. Ketika kakaknya kemudian menyuruhnya duduk, maka hatinya pun menjadi agak tenang.

Sementara itu Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga pun telah hadir pula untuk mendengarkan keterangan Glagah Putih tentang usaha beberapa orang untuk membakar hutan.

“Membakar hutan?” bertanya Agung Sedayu dengan nafas tinggi.

“Ya. Membakar hutan”, jawab Glagah Putih yang kemudian menceriterakan segala yang terjadi di hutan itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku telah membunuh kakang. Tidak kurang dari lima orang. Tetapi aku memang tidak mempunyai pilihan lain.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Sementara itu Kiai Jayaraga berkata, “Dimana hal itu kau lakukan?.”

“Di hutan tidak jauh dari lereng Bukit. Itulah yang membuat aku kebingungan. Jika lereng bukit itu dijamah api, maka akibatnya akan parah sekali bagi Tanah Perdikan ini untuk waktu yang lama” berkata Glagah Putih dengan suara yang mulai gagap.

“Kita pergi ke hutan itu. Kita akan melihat peristiwa itu terjadi” berkata Agung Sedayu.

“Kita pergi bersama-sama”, sahut Kiai Jayaraga.

Sekar Mirah pun tidak mau ketinggalan. Sejenak kemudian mereka telah selesai berbenah diri. Dengan cepat mereka pun menyiapkan kuda. Dengan berkuda, mereka akan segera sampai ke tempat tujuan.

Sejenak kemudian ampat ekor kuda telah berpacu. Derap kakinya memang menimbulkan berbagai tanggapan atas mereka yang kebetulan terbangun dan mendengarnya. Terutama mereka yang tinggal disebelah-menyebelah jalan.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 204)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-03/

Terima kasih kepada Ki Mahesa & Ajar Gurawa yang telah me-retype jilid ini

 

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s