ADBM3-217

<<kembali | lanjut >>

UNTUK beberapa saat lamanya Kiai Damarmurti termangu-mangu. Memang ada niatnya untuk berbuat sesuatu. Ia ingin menunjukkan kepada anak-anak muda itu bahwa kemampuan ilmu Sapu Angin bukan sekedar yang dilihatnya. Tetapi kekuatan ilmu Sapu Angin akan dapat memutar kedua anak muda itu dan melemparkannya tinggi ke udara. Kemudian membantingnya jatuh keatas bebatuan yang berserakan.

Namun selagi ia termangu-mangu, Kiai Gringsing telah bertanya kepadanya, “Apa yang akan kau lakukan Ki Sanak?”

Kiai Damarmurti berpaling kearah Kiai Gringsing. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Bagaimana jika aku menunjukkan kepada kedua orang anak muda itu tentang kekuatan ilmu Sapu Angin yang sesungguhnya?”

“Tidak perlu Kiai. Sebaiknya kau peringatkan kedua adik seperguruanmu itu untuk menghentikan pertempuran. Kau tentu sudah mengetahui keseimbangan yang sebenarnya diantara mereka. Jika kau biarkan mereka bertempur terus, maka kemungkinan yang paling pahit akan dapat terjadi atas kedua saudara seperguruanmu. Kedua lawan mereka itu nampaknya masih sangat muda, sehingga mungkin pada suatu saat mereka tidak lagi sempat membuat pertimbangan nalar. Tetapi mereka hanya menuruti perasaannya saja. Nah, apa katamu jika kedua saudara seperguruanmu itu terbunuh?”

“Aku akan membunuh keduanya.”  geram Kiai Damarmurti.

“Kau anggap kami tidak mampu berbuat apa-apa untuk mencegahnya?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Aku hanya membalas saja.”  jawab Damarmurti.

“Buat penilaian, cepat. Sebelum kedua saudara seperguruanmu itu mati. Siapakah yang bersalah dalam persoalan itu. Jika kau menganggap bahwa kedua anak muda itu yang bersalah, maka kami akan langsung ikut campur. Kami akan membunuhmu meskipun kau pemimpin perguruan Sapu Angin.”

Wajah Kiai Damarmurti menjadi merah. Sementara itu ia berkata, “Jangan kau anggap kemampuanku seperti muridku yang telah kalian bunuh itu.”

“Aku tahu bahwa Kiai Damarmurti adalah guru dan sekaligus pemimpin dari perguruan Sapu Angin.”  jawab Kiai Gringsing, “tetapi aku pun akan mampu menilai, seberapa tinggi ilmu guru dan pemimpin dari sebuah perguruan yang murid-muridnya telah kami jajagi ilmunya. Apa pun yang kau katakan, betapa pun tinggi ilmu yang akan kau pamerkan, kau tidak akan dapat mengalahkan kami bertiga.”

“Pengecut.”  geram Kiai Damarmurti, “aku kira kau akan menghadapi aku seorang lawan seorang.”

“Baik. Marilah.”  berkata Kiai Gringsing, “kau akan mati bersama kedua muridmu.”

Kiai Damarmurti termangu-mangu. Ia melihat Putut Pideksa yang basah kuyup sudah berdiri tegak. Tetapi ia tidak mau naik ke tepian. Ia masih tetap berdiri di dalam air sungai yang mengalir tidak begitu deras itu. Sementara Putut Wiyantu sedang berusaha untuk mengurangi perasaan sakit pada punggungnya.

Raden Rangga dan Glagah Putih ternyata masih tetap menunggu. Gejolak di dalam dada mereka justru telah menurun ketika mereka melihat lawan mereka masing-masing sudah tidak lagi akan dapat menentukan akhir dari pertempuran itu. Apa pun yang mereka lakukan, namun mereka berdua tidak akan mampu menguasai ilmu Raden Rangga dan Glagah Putih.

Meskipun demikian keduanya masih belum menyerah. Mereka masih memiliki satu kemungkinan. Mereka akan dapat mempergunakan dua macam kemampuan untuk melawan anak-anak muda itu. Selain sambaran angin yang dahsyat yang mampu menggugurkan batu-batu padas di tebing, mereka dapat mempergunakan pisau-pisau kecil mereka yang dapat dilontarkan dengan kemampuan yang sangat tinggi. Mereka memiliki kemampuan bidik yang sangat tajam sehingga rasa-rasanya cicak di bumbungan pun akan dapat dikenainya dengan lontaran pisau itu.

Tetapi untuk mempergunakannya, mereka masih juga ragu-ragu. Anak-anak muda itu tampaknya begitu meyakinkan, sehingga sebelum mereka mencobanya, rasa-rasanya pisaunya tidak akan banyak memberikan arti.

Sementara itu Kiai Gringsing berkata, “Kedua anak muda itu memiliki kemampuan yang tidak akan terlawan. Sementara kau pun tidak mempunyai kesempatan lagi. Jika ketiga muridmu masih hidup itu bukan karena mereka mampu mempertahankan diri. Demikian juga kedua saudara seperguruan itu dan kau sendiri.”

Darah Kiai Damarmurti rasa-rasanya bagaikan mendidih di dalam jantungnya. Namun ia memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Apalagi apabila ia mengingat kata-kata ketiga muridnya yang masih tetap hidup.

Agaknya yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu memang benar. Ketiga murid Kiai Damarmurti itu masih tetap hidup bukan karena mereka mampu mempertahankan dirinya. Agaknya demikian pula kedua adik seperguruannya yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari murid-muridnya. Namun mereka tidak dapat mengatasi kemampuan kedua anak muda yang dijumpainya di tepian Kali Lanang itu.

Ketika Kiai Damarmurti itu memandang wajah tua Kiai Gringsing, nampak kerut merut yang memang sudah menjadi semakin dalam di dahinya karena umurnya, menjadi tegang. Agaknya orang tua itu berkata dengan sungguh-sungguh. Apalagi ketika ia sempat memandang sekilas wajah Ki Jayaraga dan Sabungsari. Orang yang termuda diantara ketiga orang yang telah menjajagi ilmu ketiga muridnya itulah yang nampaknya paling tidak sabar.

“Orang muda itulah yang dari matanya dapat memancar serangan yang mematikan.”  berkata Kiai Damarmurti di dalam hatinya.

Ketika Kiai Damarmurti itu sekali lagi memandangi kedua adik seperguruannya yang termangu-mangu, maka akhirnya ia pun berkata, “Sudahlah. Kita maafkan saja kedua anak muda itu.”

Tetapi belum lagi Kiai Damarmurti mengatupkan bibirnya, Raden Rangga telah menyahut, “Itu tidak perlu. Kami tidak pernah merasa bersalah. Kalian dapat memilih dua cara penjelasan. Kalian yang minta maaf kepada kami, atau kami membunuh kalian dengan cara kami. Jangan disangka bahwa kami tidak dapat melakukannya. Jika kalian tetap berkeras, tidak mau minta maaf, kami akan menghancurkan tubuh kalian sampai lumat dan menaburkannya di sungai itu.”

Namun yang terdengar adalah suara Kiai Gringsing, “Sudahlah. Apakah artinya pertentangan yang berlarut-larut. Baiklah. Jika kalian berpegang pada harga diri dan tidak mau dipersalahkan. Aku berharap bahwa kalian dari kedua belah pihak saling minta maaf dan menganggap semua persoalan telah selesai.”

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling ke arah Glagah Putih, maka Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah. Siapakah yang berani mendahului dengan sikap seorang laki-laki saling memaafkan?”  bertanya Kiai Gringsing.

Kiai Damarmurti sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak akan dapat memaksa anak-anak muda itu untuk minta maaf, apalagi anak-anak muda itu yakin bahwa mereka memiliki kelebihan dari kedua saudara seperguruannya itu.

Ternyata yang pertama-tama melangkah mendekati lawannya adalah Glagah Putih karena Ki Jayaraga mendesaknya, “Kenapa bukan kau?”

Meskipun demikian, namun yang diucapkan oleh Glagah Putih masih juga menggelitik perasaan lawannya, “Aku maafkan kau. Dan aku pun minta maaf.”

Putut Pideksa memandang Glagah Putih dengan tanpa berkedip. Namun ia memang tidak mempunyai kesempatan apa pun juga. Karena itu maka ia pun mengangguk sambil berdesis. ”Ya.”

“Ya, apa?” tiba-tiba Glagah Putih mendesak.

“Aku juga memaafkan kau.”  desisnya.

Sementara itu tiba-tiba saja Raden Rangga berkata nyaring. ”Bagus. Seperti kanak-kanak. Seharusnya kita saling mengaitkan kelingking.”

Wajah Glagah Putih dan Putut Pideksa memang menjadi merah. Namun Kiai Gringsing lah yang menyahut, “Sudahlah. Jangan dipersoalkan lagi. Kita masih mempunyai tugas berikutnya.”

Dengan langkah yang tetap Raden Rangga pun mendekati Putut Wiyantu sambil berkata, “Kita akan saling memaafkan. Persoalan diantara kita akan kita akhiri sampai sekian.”

Putut Wiyantu mengangguk diluar sadarnya. Sejenak Raden Rangga menunggu. Tetapi dari mulut Putut Wiyantu tidak terucapkan kata-kata.

“Bagus.”  berkata Raden Rangga, “jika kau segan, kau tidak usah mengucapkannya. Tetapi kau sudah mengangguk.”

Kiai Damarmurti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata akhir dari kesombongannya adalah justru menjerat dalam satu keadaan yang membuat jantungnya menjadi kecut. Betapa ia mampu memutar sanggarnya mengangkatnya dan melemparkannya. Namun dihadapan orang-orang yang baru dikenalnya lewat ceritera murid-muridnya itu, ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Kiai Gringsing melihat kemurungan wajah Kiai Damarmurti itu. Rasa-rasanya seperti air yang tertahan oleh tanggul yang tinggi. Namun jika air itu menggelegak, maka agaknya sulit untuk dapat dikendalikannya. Bahkan mungkin akan dapat memecahkan tanggul jika tidak diberi saluran peluapan.

Karena itu, maka tiba-tiba Kiai Gringsing pun berkata, “Ki Sanak. Kemarilah. Jangan merasa dirimu terlalu kecil menghadapi keadaan seperti ini. Yang terjadi sama sekali tidak mengurangi kebesaran Perguruan Sapu Angin, karena anak-anak muda yang telah menundukkan para Putut dari perguruan Sapu Angin adalah orang-orang yang memang sepantasnya berbuat demikian.”

Kiai Damarmurti mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kiai memang sudah mengenal mereka?”

“Ya. Itulah sebabnya aku berusaha untuk mencegahnya.”  berkata Kiai Gringsing.

“Siapakah mereka itu Kiai.”  bertanya Kiai Damarmurti, “dan siapa pula Kiai bertiga?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap jika Kiai Damarmurti itu mengerti, dengan siapa kedua adik seperguruannya berhadapan, maka hatinya akan menjadi tenang.

Tetapi Raden Rangga sendiri hampir saja mencegahnya. Namun akhirnya dibiarkannya Kiai Gringsing mengatakan tentang dirinya.

“Kiai Damarmurti.”  berkata Kiai Gringsing, “ketahuilah, bahwa anak muda yang bertempur melawan adik seperguruanmu, Putut Wiyantu itu adalah putera Panembahan Senapati.”

“Putera Panembahan Senapati?”  Kiai Damarmurti sangat terkejut.

“Ya. Anak muda itu adalah putera Panembahan Senapati yang bernama Raden Rangga.”  jawab Kiai Gringsing.

“Yang seorang?”  bertanya Kiai Damarmurti.

“Yang seorang adalah Glagah Putih. Adik sepupu dan sekaligus murid Agung Sedayu. Aku tidak tahu apakah kalian mengenal Agung Sedayu atau tidak. Namun yang barangkali kalian dapat langsung mengenalinya, guru yang lain dari Glagah Putih adalah Ki Jayaraga.”

Kiai Damarmurti termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Gringsing pun telah menunjuk Ki Jayaraga yang berdiri beberapa langkah di sebelahnya.

“O”  Kiai Damarmurti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa salah seorang dari ketiga orang yang pernah bertemu dengan murid-muridnya adalah seorang guru yang tentu memiliki kemampuan yang sangat tinggi, karena muridnya telah berhasil mengalahkan adik seperguruannya. Menilik sikap Putut Pideksa, maka anak muda yang bernama Glagah Putih itu tentu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan inti panasnya api.

“Apalagi gurunya.”  berkata Kiai Damarmurti di dalam hatinya. Bahkan ia pun merasa beruntung bahwa ia sendiri tidak melibatkan diri dalam pertarungan yang kurang seimbang itu. Jika ia sudah terlanjur memasuki pertempuran, maka ia hanya dapat keluar setelah nyawanya terlepas dari tubuhnya.

Sementara itu Kiai Gringsing pun berkata, “Sedangkan aku sendiri bernama Kiai Gringsing. Dan kemenakanku itu bernama Sabungsari.”

Kiai Damarmurti mengangguk-angguk. Dan Kiai Gringsing pun melanjutkan, “Kiai, demikian besar nama perguruan Sapu Angin, maka sebenarnyalah aku telah mendengar serba sedikit tentang perguruan itu. Aku telah pernah pula mendengar nama Bagus Parapat, salah seorang diantara murid-murid perguruan Sapu Angin yang besar, yang kini ternyata mewarisi perguruan itu.”

“Kiai.”  wajah Kiai Damarmurti menjadi tegang, “siapakah sebenarnya Kiai?”

“Kiai Damarmurti tidak usah mengetahuinya. Aku adalah orang yang sebagaimana aku katakan, bernama Kiai Gringsing.”  jawab Kiai Gringsing, “namun yang penting ingin aku tanyakan kenapa perguruan Sapu Angin yang besar itu telah terlibat dalam satu gerakan yang akan sangat merugikan Mataram? Aku sendiri bukan prajurit atau petugas sandi Mataram. Tetapi aku merasa lebih senang jika Mataram selalu dalam keadaan aman dan damai. Mataram yang sedang berusaha membangun diri itu harus mendapat dukungan dari seluruh rakyatnya yang tersebar dari ujung sampai ke ujung. Jika Mataram selalu saja bergejolak, maka bagaimana Mataram dapat membangun dirinya?”

Kiai Damarmurti menarik nafas dalam-dalam. Bahkan sambil mengangguk-angguk ia berkata, “pertanyaan Kiai memang masuk akal.”

“Kita akan berbicara.”  berkata Kiai Gringsing, “karena kita sudah bertemu disini, biarlah kita berbicara disini. Aku masih mempunyai waktu beberapa hari lagi. Kepada murid-murid kiai aku memang mengatakan, mungkin aku akan singgah. Tetapi sudah barang tentu sesudah tugas-tugas kami selesai, karena menurut para murid dari Sapu Angin, Sapu Angin terletak di pinggir Bengawan Madiun didekat Alas Prahara.”

Kiai Damarmurti mengangguk-angguk, Kemudian diberinya isyarat kepada saudara-saudara seperguruannya untuk berkumpul.

Raden Rangga dan Glagah Putih masih berdiri saja termangu-mangu ketika kedua orang Putut itu berjalan dengan kepala tunduk mendekati Kiai Damarmurti. Bahkan Raden Rangga pun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan aku Kiai?”

“Marilah Raden. Silahkan.”  berkata Kiai Gringsing.

“O.”  Kiai Damarmurti lah yang kemudian mengangguk hormat, “kami mohon maaf Raden. Semuanya kami lakukan karena kami tidak tahu siapa Raden sebenarnya. Kami pun mengucapkan terima kasih, bahwa Raden tidak berbuat lebih jauh atas adik-adik seperguruanku itu. Karena jika Raden kehendaki, maka hal itu akan dapat terjadi menilik kemampuan ilmu yang Raden miliki.”

“Sudahlah.”  berkata Raden Rangga, “agaknya aku memang harus mulai mempergunakan nalar.”

Kiai Damarmurti mengangguk sambil berkata, “Karena itulah maka kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

Putut Wiyantu lah yang agaknya masih berdebar-debar. Ternyata Putera Panembahan Senapati memiliki ilmu yang luar biasa. Itu pun agaknya belum sampai pada tataran tertinggi ilmu yang dimilikinya.

“Apalagi Panembahan Senapati sendiri.”  berkata Putut Wiyantu di dalam hatinya.

Sedangkan Putut Pideksa pun berkata kepada diri sendiri, “Menilik orang-orang ini, maka semua perlawanan atas Mataram agaknya tidak akan berarti apa-apa selain kerusakan. Baik bagi diri sendiri maupun bagi orang banyak yang tidak mengerti ujung dan pangkal dari pergolakan yang mungkin timbul itu.”

Beberapa orang yang bertemu di tepian itu pun kemudian telah berkumpul dan duduk di tepian. Agaknya pembicaraan yang dikemukakan oleh Kiai Gringsing masih menghindari tugas yang sedang diembannya, karena ia masih belum yakin sepenuhnya bahwa Kiai Damarmurti tidak akan mengganggu tugas itu.

Yang kemudian ditanyakan oleh Kiai Gringsing adalah, “jadi benar Sapu Angin telah melibatkan diri sebagaimana dikatakan oleh murid-murid Kiai itu?”

Kiai Damarmurti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang ada kekuasaan di daerah Timur yang menghimpun kekuatan untuk menghadapi Mataram Biarlah hal ini aku katakan, karena agaknya bukan rahasia lagi bagi Mataram.”

“Apakah Kiai dapat memberikan keterangan tentang hal itu?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Sapu Angin terlibat di dalamnya dan aku tidak ingin berkhianat meskipun mungkin Sapu Angin akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru setelah kami bertemu dengan Kiai Gringsing dan bahkan diantaranya adalah putera Panembahan Senapati sendiri.”  berkata Kiai Damarmurti.

“Agaknya Mataram sudah dapat memperhitungkan kekuasaan manakah yang akan mencoba untuk mengimbangi Mataram.”  berkata Kiai Gringsing, “Kami memang menghargai sikap Sapu Angin yang tidak ingin berkhianat terhadap kekuasaan yang pernah menghubunginya Tetapi apakah dengan demikian berarti bahwa Sapu Angin tetap pada sikapnya untuk menentang Mataram, meskipun dengan pertimbangan-pertimbangan baru itu dapat Kiai artikan, cara yang akan ditempuh oleh Sapu Angin untuk menghadapi Mataram.”

Kiai Damarmurti mengerutkan keningnya. Sementara Kiai Gringsing pun menjadi semakin yakin pula, dengan siapa ia berhadapan. Namun agaknya orang yang menamakan dirinya Kiai Damarmurti itu sudah menjadi semakin mengendap, sehingga sikapnya sudah agak berbeda dengan sikap yang pernah didengarnya tentang Bagus Parapat.

“Kiai.”  berkata Kiai Damarmurti kemudian, “sebenarnya aku ingin minta Kiai singgah dipadepokan kami Mungkin kami dapat berbicara lebih panjang dan lebih bersungguh-sungguh. Tidak sekedar sebuah pembicaraan di pinggir Kali seperti ini.”

“Sudah aku katakan kepada murid-muridmu. Aku berusaha untuk singgah kelak. Tetapi karena letak padepokanmu itu terlalu jatuh ke Timur, maka kemungkinan untuk singgah dan tidak agaknya sama besarnya. Namun satu permintaanku kepada Sapu Angin, jangan ikut-ikutan menentang Mataram. Sampai saat ini Mataram yang sedang membangun masih mengekang diri, tidak mempergunakan kekuatan yang besar dan keras untuk mengendapkan niat beberapa orang pemimpin di daerah Timur ini. Seharusnya para pemimpin di daerah Timur ini menanggapi sikap Mataram bukan sebagai satu kelemahan.”

Kiai Damarmurti mengangguk-angguk. Katanya, “Kami dapat mengerti. Kami pun dapat membayangkan bahwa di Mataram memang terdapat kekuatan yang cukup besar untuk menghadapi kekuatan di daerah Timur ini. Bahkan orang-orang yang berilmu tinggi pun cukup banyak terdapat di Mataram. Tetapi agaknya satu peringatan yang penting bagi Mataram adalah, bahwa di daerah Timur, beberapa orang memiliki kelebihan yang agaknya sulit dicari imbangannya. Mungkin Panembahan Senapati sendiri akan mampu mengimbanginya. Tetapi sampai berapa jauh kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Panembahan Senapati sendiri sebagai seorang pemimpin tertinggi di Mataram. Jika ia turun ke medan, berarti bahwa tidak ada orang lain lagi yang pantas diturunkan ke medan perang.”

“Aku mengerti maksudmu.”  berkata Kiai Gringsing, “tetapi jangan lupa bahwa beberapa keluarga Panembahan Senapati yang memegang pimpinan sebagai Adipati di beberapa Kadipaten, adalah orang-orang yang tidak terkalahkan. Aku pun ingin mengingatkan kepada para penguasa di daerah Timur, jika kau berkesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka, bahwa Adipati Pajang, Adipati Jipang, Demak dan lebih-lebih lagi Pati, adalah orang-orang yang jarang ada duanya di tanah ini. Sementara itu, beberapa padepokan yang dilibatkan dalam rencana untuk melawan Mataram akan dapat dihadapi oleh beberapa lingkungan kecil di Mataram. Di Pajang dan dari Pati. Beberapa Tanah Perdikan yang kuat dan bahkan orang-orang yang selama ini tersembunyi.”

Kiai Damarmurti mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Gringsing pun berkata, “Tidak banyak gunanya kekuasaan di daerah Timur ini memanfaatkan kekuatan beberapa perguruan seperti Nagaraga, Watu Gulung, kini Sapu Angin dan mungkin ada beberapa kekuatan yang lain.”

Kiai Damarmurti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kiai Gringsing berkata selanjutnya, “Untuk memenuhi kesediaan beberapa padepokan yang nampaknya justru paling bersaing itu, maka beberapa padepokan tidak segan-segan berhubungan dengan kelompok-kelompok orang yang disebut gegedug dan semacamnya.”

“Agaknya memang begitu Kiai.”  berkata Kiai Damarmurti, “ternyata sudah banyak yang kalian ketahui. Karena itu, sekali lagi kami ingin mempersilahkan kalian singgah.”

“Seperti yang sudah aku katakan. Satu kemungkinan. Tetapi aku tidak pasti.”  jawab Kiai Gringsing.

“Dan sekarang, apakah yang akan Kiai kerjakan?”  bertanya Kiai Damarmurti.

“Tidak apa-apa. Kami hanya sekedar mencari Raden Rangga dan Glagah Putih.”  jawab Kiai Gringsing.

“Setelah bertemu?”  bertanya Kiai Damarmurti pula.

“Beristirahat disini.”  jawab Kiai Gringsing.

Kiai Damarmurti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa Kiai Gringsing mengatakan, apakah keperluannya datang ke Timur.

Namun ternyata Kiai Gringsing itu berkata, “Kiai Damarmurti yang memimpin perguruan Sapu Angin yang sudah mempunyai nama sejak lama. Aku tetap berharap bahwa kau tidak melibatkan diri lebih jauh. Semisal seorang yang ingin menebang pohon yang besar, maka tentu akan dipotong dahan-dahannya lebih dahulu. Baru kemudian pokok barangnya akan dirobohkannya pula.”

Kiai Damarmurti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kiai. Tugas Kiai sekarang agaknya juga dalam rangka memotong dahan-dahan kayu itu. Satu kerja yang bijaksana.”

“Kau ingin mengatakan bahwa Mataram tidak mempunyai kekuatan untuk langsung merobohkan batangnya?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Bukan. Sama sekali bukan.”  jawab Kiai Damarmurti, “justru sebaliknya. Aku memuji kesabaran Panembahan Senapati. Sebagaimana orang-orangnya yang dikirimkannya untuk menyelesaikan tugas besarnya. Panembahan Senapati tidak nampak tergesa-gesa meskipun agaknya Panembahan Senapati sudah banyak mengetahui tentang gejolak di daerah Timur ini, yang memang sudah mulai sejak waktu yang agak lama.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang yang menyebut dirinya Damarmurti ini sudah mau lebih banyak berpikir daripada mengikuti perasaannya.

“Kiai.”  berkata Damarmurti selanjutnya, “aku akan memikirkan pembicaraan ini Meskipun aku belum dapat mengatakan apa-apa.”

“Terserah kepadamu.”  berkata Kiai Gringsing, “aku hanya memberikan bahan-bahan pertimbangan.”

Kiai Damarmurti pun kemudian telah minta diri untuk meninggalkan tempat itu bersama adik-adik seperguruannya. Meskipun nampaknya ia cenderung untuk melepaskan diri dari ikatan yang pernah dibuatnya dengan kekuasaan beberapa orang Adipati di daerah Timur namun ternyata bahwa sisa-sisa kesombongannya masih ada pada orang yang menyebut dirinya Kiai Damarmurti itu.

“Hampir saja.”  desis Raden Rangga setelah Kiai Damarmurti pergi.

“Kesombongannya masih melekat di hatinya”  sahut Kiai Gringsing, “tetapi ia sudah banyak sekali berubah. Meskipun dengan sombong ia masih merasa harus diturut perintahnya oleh setiap orang, namun kenyataan-kenyataan yang terjadi atas padepokannya, murid-muridnya, adik-adik seperguruannya dan dirinya sendiri telah banyak merubah sikapnya. Aku tadi merasa cemas bahwa Kiai Damarmurti masih akan bertahan dalam kesombongannya dan tidak membiarkan adik-adik seperguruannya menghentikan perlawanan.”

“Nah.”  berkata Sabungsari kemudian, “rasa-rasanya aku dapat bernafas sekarang. Hampir saja aku tidak dapat menahan diri melihat sikapnya.”

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “menurut Kiai Gringsing orang itu sudah banyak berubah. Aku tidak tahu, apa yang dilakukannya sebelum perubahan itu terjadi.”

“Ia bukan orang yang baik.”  berkata Kiai Gringsing, “namanya memang sudah cacat. Tetapi agaknya pengalamannya telah banyak mengajarinya, bagaimana ia harus berhadapan dengan kehidupan. Barangkali ia juga sudah menemukan semacam kepercayaan kepada diri sendiri sehingga ia tidak terlalu tergila-gila untuk menutupi kekurangannya sebagai seorang pemimpin perguruan Sapu Angin yang besar.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pun menilai bahwa orang itu akan benar-benar memikirkan pendapat yang Kiai berikan tadi. Bahkan mungkin sebenarnya ia sudah meyakininya, bahwa apa yang dilakukannya tidak berarti apa-apa. Apalagi bahwa ia dapat menangkap dan mengerti bahwa Mataram sekarang sedang memotong dahan-dahan dari batang yang akan ditebangnya.”

Namun tiba-tiba Kiai Gringsing berkata, “Marilah. Kita tidak tahu apakah Kiai Damarmurti akan menemui orang-orang Nagaraga. Mungkin Kiai Damarmurti memperhitungkan, bahwa kehadiran kita disini ada hubungannya dengan usaha untuk memotong perguruan Nagaraga yang kuat dari keterlibatannya.”

“Tetapi aku kira Kiai Damarmurti tidak akan berbuat demikian. Justru ia akan merasa kehilangan saingannya jika Nagaraga dihancurkan.”  berkata Ki Jayaraga.

“Tetapi kita memang wajib memperhitungkan segala kemungkinan.”  sahut Sabungsari, “karena itu, setelah kita bertemu dengan Raden Rangga dan Glagah Putih, maka sebaiknya kita pun mendekati sasaran.”

“Kita akan mengikuti jalur Kali Lanang.”  berkata Raden Rangga, “menurut keterangan orang tua yang sedang mencari ikan itu, orang-orang Nagaraga mengikuti arah kepergian seekor ular naga.”

“Ya.”  jawab Kiai Gringsing, “kita akan mengikutinya. Tetapi sampai tempat tertentu, kita akan berkumpul dengan orang-orang lain yang berangkat bersama-sama dari Mataram.”

“Entahlah.”  desis Raden Rangga, “tetapi yang penting kita berjalan sekarang.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih berharap bahwa Raden Rangga dan Glagah Putih masih akan dapat dikendalikannya.

Demikianlah mereka pun melanjutkan perjalanan mengikuti jalur sungai searah dengan arus. Meskipun tidak jelas, namun mereka masih dapat melihat jejak seekor ular naga yang menelusuri sungai itu. Iring-iringan yang kemudian menjadi lima orang itu bergerak perlahan-lahan di tepian berpasir dan diantara batu-batu berserakan.

Kiai Gringsing yang mendapat beberapa keterangan tentang padepokan Nagaraga itu pun sempat menyampaikannya pula kepada Raden Rangga. Namun agaknya Raden Rangga lebih senang terhadap penemuannya sendiri, sehingga ia pun berkata, “Kiai, ternyata tanpa petunjuk itu, kami berdua sudah menemukan arah menuju ke perguruan Nagaraga. Seandainya Kiai Gringsing, Ki Jayaraga dan Sabungsari tidak kemari, maka aku pun akan berhasil menunaikan tugas ini sebagaimana diperintahkan oleh ayahanda.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Ya Raden. Agaknya Raden memang akan berhasil. Sebentar lagi Raden akan menemukan padepokan itu, yang sudah Raden dapatkan arahnya hampir pasti. Namun kami mengemban tugas lain, Raden. Kami tidak sekedar bertugas untuk menemukan padepokan Nagaraga. Tetapi kami harus memotong salah satu dahan sebagaimana aku katakan.”

“Dengan sekelompok prajurit?”  bertanya Raden Rangga.

“Ya. Dengan sekelompok prajurit.”  jawab Kiai Gringsing, “karena menurut keterangan yang kami dapatkan, orang-orang Nagaraga memang mempunyai Kekuatan yang cukup.”

Raden Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira keterangan itu benar. Ketika aku menemukan bekas padepokannya yang lama, maka nampak bahwa padepokan itu adalah sebuah padepokan yang besar. Jauh lebih besar dari padepokan-padepokan yang pernah aku lihat sebelumnya. Agaknya di Nagaraga memang terdapat kekuatan yang besar. Menilik susunan padepokannya, maka aku kira di padepokan Nagaraga terdapat sebuah perguruan berjenjang.”

“Maksud Raden?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Seorang yang dianggap paling tinggi kedudukannya adalah gurunya sekaligus pemimpin padepokan itu. Kemudian beberapa orang muridnya mempunyai murid-murid mereka sendiri. Di tataran yang paling bawah adalah para cantrik. Mungkin, para cantrik itu tidak lebih dari pekerja-pekerja. Tetapi agaknya para cantrik itu juga mendapat tuntunan olah kanuragan, sehingga mereka mempunyai kemampuan dasar untuk melakukan tugas-tugas yang berujud kekerasan.”  jawab Raden Rangga.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Darimana Raden Rangga dapat mengambil kesimpulan seperti itu. Ketika mereka melihat bekas padepokan itu, maka mereka hanya melihat beberapa bagian saja, terutama bagian depan. Pendapa yang masih kokoh. Tiang-tiang yang berukir dengan ciri-ciri yang dapat dihubungkan dengan ciri-ciri orang-orang Nagaraga. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat susunan sebagaimana dikatakan oleh Raden Rangga itu.

Karena itu, maka Glagah Putih pun bertanya, “Raden. Kenapa Raden tidak memberitahukan kepadaku atas kesimpulan Raden itu pada saat kita berada di padepokan itu.”

Raden Rangga justru termangu-mangu. Sejenak ia berpikir. Lalu katanya, “Bukankah kita mempersoalkannya pada waktu itu?”

“Maksud Raden?”  bertanya Glagah Putih.

“Bukankah kita sempat melihat bagian-bagian yang terpisah di padepokan itu. Semacam padepokan-padepokan yang lebih kecil yang seakan-akan terpisah yang satu dengan yang lain?”  jawab Raden Rangga, “bukankah kita melihat sebuah sanggar yang besar yang ada di tengah-tengah padepokan itu. Namun juga di setiap bagian dari padepokan itu terdapat sanggar-sanggar kecil. Kemudian se-akan-akan di bagian belakang dari padepokan itu kita melihat sebuah sanggar terbuka. Sanggar yang dapat dipergunakan untuk mengadakan latihan bersama dalam jumlah yang banyak?”

“Kapan kita melihatnya itu semuanya Raden? Bukankah kita waktu itu tergesa-gesa. Kita memang melihat beberapa bagian dari padepokan itu. Kita memang melihat beberapa ekor ular yang menyusup diantara reruntuhan dan tetumbuhan liar yang kemudian tumbuh di seluruh padepokan itu. Memang kita dapat membayangkan padepokan itu sebagai sebuah padepokan yang besar. Tetapi kita tidak melihat sampai ke bagian-bagian yang kecil itu Raden. Kita tidak melihat sanggar yang besar, kemudian sanggar-sanggar yang lebih kecil dan sanggar terbuka sebagaimana Raden katakana.”  berkata Glagah Putih.

Raden Rangga menjadi bingung. Dipandanginya Glagah Putih dengan tatapan mata yang aneh. Lalu katanya, “Aku tidak mengerti. Glagah Putih. Apakah kau demikian cepat melupakan apa yang baru saja kita lihat. Seakan-akan baru tadi malam kita melihatnya. Dan sekarang kau sudah tidak mengenalinya lagi.”

Glagah Putih pun menjadi bingung seperti Raden Rangga.

Ternyata bukan hanya Raden Rangga dan Glagah Putih yang menjadi bingung. Kiai Gringsing, Ki Jayaraga dan Sabungsari menjadi heran pula. Raden Rangga itu tidak pernah terpisah dari Glagah Putih menurut ceritera mereka berdua. Namun mereka dapat mempunyai penglihatan dan pengalaman yang berbeda. Menilik sikap, sorot mata dan kata-kata mereka, maka kedua-duanya menunjukkan sikap yang jujur dan tidak dibuat-buat. Mereka pun tidak sedang berkelakar, meskipun hal seperti itu sering dilakukan oleh Raden Rangga.

“Memang aneh.”  berkata Kiai Gringsing, “bagaimana mungkin kalian berdua mempunyai penglihatan yang berbeda atas padepokan itu. Tetapi apakah kalian memilih sasaran yang berbeda saat kalian memasuki bekas padepokan itu?”

“Tidak.”  jawab Glagah Putih, “kami selalu berdua.”

“Ya. Kami selalu bersama-sama.”  jawab Raden Rangga.

Ki Jayaraga menggeleng-gelengkan kepalanya Katanya, “Apakah padepokan itu kemudian dipergunakan oleh sekelompok siluman yang mampu memberikan penglihatan yang berbeda terhadap kalian berdua di padepokan itu?”

Raden Rangga benar-benar merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi. Demikian pula Glagah Putih. Ia sama sekali tidak melihat apa yang dikatakan oleh Raden Rangga itu secara terperinci. Jika Raden Rangga sekedar mengira-irakan bangunan yang nampak memang mungkin. Tetapi tentu tidak demikian jelas.

“Raden.”  berkata Kiai Gringsing kemudian, “kapan Raden melihat keseluruhan bangunan padepokan Nagaraga itu?”

Raden Rangga mulai berpikir dengan sungguh-sungguh. Tiba-tiba ia bertanya kepada Glagah Putih, “Kapan kita pergi ke padepokan itu? Rasa-rasanya baru semalam aku melihatnya.”

“Bersama aku?”  jawab Glagah Putih.

Raden Rangga tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kiai. Aku sekarang mulai dapat membedakan. Ternyata aku melihat padepokan itu dua kali. Sekali aku melihat bersama Glagah Putih dan mengenali padepokan itu sebagai padepokan Nagaraga. Aku dan Glagah Putih melihat-lihat pendapa yang masih berdiri dengan kokoh. Ukiran pada tiangnyalah yang memberikan ciri bahwa padepokan itu adalah padepokan Nagaraga. Aku dan Glagah Putih memang melihat pula beberapa ekor ular yang menjalar, ada yang kecil tetapi ada yang juga besar.”

Raden Rangga berhenti sejenak, lalu, “tetapi kemudian aku melihatnya sekali lagi. Memang baru semalam. Agaknya aku telah melihatnya di dalam mimpi. Padepokan sebagaimana pernah aku lihat bersama dengan Glagah Putih. Tetapi serasa aku melihatnya sampai ke segala sudut padepokan itu. Aku melihat segala-galanya. Juga bersama Glagah Putih.”

Orang-orang yang mendengarnya menarik nafas dalam-dalam Sementara Glagah Putih sendiri mengangguk-angguk kecil. Namun Glagah Putih itu pun berkata di dalam hatinya, “Kadang-kadang aku sering terlibat dalam mimpi Raden Rangga, Tetapi kali ini aku benar-benar tidak tersentuh oleh mimpi Raden Rangga itu.”

Demikianlah, maka Raden Rangga pun telah menjelaskan mimpinya yang seakan-akan bersungguh-sungguh. Ia melihat bagian-bagian dari padepokan itu sampai ke bagian belakang yang luas.

Sambil mengangguk-angguk, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Raden, Memang ada mimpi yang tidak berarti apa-apa, tetapi ada juga mimpi yang merupakan ujud dari hasil daya pikir yang tajam. Mungkin Raden selalu mengingat-ingat ujud padepokan itu dan mereka-reka bagian-bagian yang ada di dalamnya. Hasilnya sebuah bayangan tentang ujud padepokan itu dalam keseluruhan. Namun ada juga mimpi yang seakan-akan merupakan isyarat atau semacam penglihatan batin yang sangat tajam.”

“Ya. Kiai benar. Dan sekarang kita tidak tahu, termasuk jenis mimpi yang mana mimpiku itu.”  berkata Raden Rangga.

“Kita akan melihat ujud padepokan itu nanti dari bagian luarnya. Tentu saja dengan diam-diam agar tidak diketahui oleh para penghuninya. Mungkin kita akan dapat mengambil kesimpulan apakah mimpi Raden Rangga dara-dasih atau tidak.”

“Kiai.”  berkata Glagah Putih, “mimpi-mimpi Raden Rangga sampai saat ini merupakan dunia tersendiri. Kadang-kadang bersentuhan dengan dunia kewadagan ini, tetapi kadang-kadang memang tidak.”

“Karena itu, kita masih akan melihatnya kelak.”  jawab Kiai Gringsing.

“Baiklah Kiai.”  berkata Raden Rangga, “kita akan melihatnya kelak.”

Raden Rangga berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan Senapati dari para prajurit yang bertugas sekarang ini?”

“Pamanda Raden, Pangeran Singasari?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Maksudku, apakah sikap pimpinan para prajurit itu akan dapat sejalan dengan rencana kita?”  bertanya Raden Rangga pula.

“Kita tentu harus membicarakannya.”  jawab Kiai Gringsing, “jika kita dapat meyakinkannya, maka tentu tidak akan ada keberatannya sama sekali.”

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun ia pun berdesis, “Aku mengenal sifat-sifat pamanda Pangeran Singasari. Seorang Senapati yang keras hati dan sulit untuk berpikir.”

“Sedangkan Raden sendiri?”  bertanya Glagah Putih.

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum sambil berkata, “Sudah aku katakan. aku sudah mulai berpikir. Sebenarnya aku bukannya tidak dapat berpikir. Tetapi kesempatan untuk berpikir kadang-kadang datang terlambat, sehingga sesuatu terjadi, baru aku mulai berpikir.”

Kiai Gringsing, Ki Jayaraga dan Sabungsari pun tersenyum.

Namun Sabungsari pun berkata, “Kadang-kadang memang demikian Raden. Aku pun sering merasa bahwa kesempatan untuk membuat pertimbangan nalar itu datangnya terlambat.”

“Nah, bukankah aku tidak sendiri.”  berkata Raden Rangga kemudian.

“Tetapi sebaiknya kalian mulai mempergunakan nalar sebaik-baiknya.”  berkata Kiai Gringsing, “namun aku tidak tahu, apakah Pangeran Singasari sudah mulai berpikir atau belum sekarang ini. Mudah-mudahan penalarannya menjadi semakin tajam dibanding dengan perasaanya.”

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu mereka berjalan semakin jauh menyusuri sungai kearah hulu. Di beberapa tempat mereka memang tidak lagi melihat bekas jejak ular itu. Namun tiba-tiba mereka sempat mengenalinya kembali.

Demikianlah mereka mempergunakan hari itu untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Waktu mereka memang tinggal sedikit. Mereka sudah harus mendekati tempat yang sudah disepakati sesuai dengan ancar-ancar yang pernah mereka dapatkan di Mataram.

Namun menurut perhitungan Kiai Gringsing, mereka masih belum memasuki hari terakhir, sehingga setidak-tidaknya mereka masih mempunyai waktu yang cukup untuk mencapai tempat yang ditentukan itu.

Dalam pada itu, maka sesuai dengan keterangan yang mereka terima maka jejak ular itu pada suatu saat tidak lagi nampak di sungai itu. Tetapi mereka melihat jalur yang memberikan isyarat bahwa ular naga yang mereka telusuri itu naik keatas tebing dan kemudian bergerak menyusuri padang perdu.

Bekas yang mereka ikuti itu seakan-akan telah hilang sama sekali. Namun agak jauh dihadapan mereka terdapat gumuk-gumuk kecil. Menurut keterangan yang diperoleh di Mataram, maka mereka memang akan berkumpul di sekitar sebuah gumuk diantara gumuk-gumuk kecil itu, yang dindingnya agak keputih-putihan. Di depan dinding tegak yang menghadap ke Barat, para perwira dari Mataram itu akan berkumpul.

“Mungkin ular itu memang menuju ke gumuk-gumuk kecil itu.”  berkata Raden Rangga.

“Mungkin.”  sahut Kiai Gringsing, “tetapi wajar sekali jika jejaknya sudah hilang sama sekali. Ular itu memang sudah agak lama berpindah tempat. Seandainya di sepanjang sungai itu tidak banyak terdapat bebatuan dan kita memang belum mendapat keterangan bahwa ular itu memang menelusuri sungai dan kemudian memanjat naik, kita tidak akan segera dapat mengenali jejak yang hampir terhapus itu.”

Raden Rangga mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Bagaimana dengan orang-orang Nagaraga? Jika kita memperkirakan padepokan mereka berada diantara beberapa gumuk kecil itu, maka kedatangan kita tentu akan diketahuinya.”

“Raden”  berkata Kiai Gringsing, “kita sepakat, bahwa kita akan mendekati tempat itu hanya dimalam hari. Sementara itu, padepokan Nagaraga berada di ujung sebuah hutan. Kita harus menemukan tempat itu. Di dekatnya terdapat sebuah goa tempat seekor ular naga bersembunyi. Ular naga yang dianggap dapat memberikan kekuatan dan kelebihan bagi orang-orang Nagaraga.”

Raden Rangga mengangguk-angguk. Agaknya mereka memang harus mencari. Meskipun demikian, lingkungan pencaharian itu sudah dibatasi, tidak sebagaimana saat-saat ia harus berangkat ke Timur yang sama sekali tidak dibekali keterangan apa pun juga.

Namun mereka akan bertemu di tempat yang ditentukan dan mereka hanya akan mendekati tempat itu dimalam hari, agar tidak mudah terlihat oleh orang-orang Nagaraga. Karena itu, maka mereka harus memperlambat perjalanan mereka. Gumuk-gumuk kecil itu sudah nampak meskipun masih cukup jauh. Dengan demikian mereka akan berada di padang perdu untuk menghabiskan sisa hari itu.

Namun agaknya Raden Rangga memang sudah mulai berpikir. Dipadang perdu itu, ia tidak melakukan hal-hal yang aneh-aneh sehingga akan dapat memancing perhatian orang lain. Semuanya akan mengalami kesulitan jika seandainya hal yang sudah aneh-aneh itu dapat dilihat oleh orang-orang Nagaraga.

Ketika kemudian senja turun, mereka berlima pun telah bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan. Sebelum gelap mereka sekali lagi memandang arah gumuk-gumuk kecil yang akan mereka dekati.

Ternyata bahwa mereka pun harus berhati-hati. Beberapa ratus tonggak sebelum mereka sampai ke tempat yang mereka tuju, maka kelima orang itu pun berhenti. Kemudian Kiai Gringsing telah memerintahkan Sabungsari dan Glagah Putih untuk melihat-lihat, apakah mereka berada di jurusan yang benar.

Namun sebelum keduanya menjawab, Raden Rangga berkata, “Kenapa bukan aku saja? Biarlah aku pergi bersama Glagah Putih.”

“Tetapi Raden harus sangat berhati-hati.”  berkata Kiai Gringsing.

Raden Rangga tertawa. Katanya, “Baik Kiai. Aku akan berhati-hati sekali.”

Demikianlah, maka yang kemudian mendahului kelompok kecil itu untuk melihat-lihat sasaran adalah Raden Rangga dan Glagah Putih.

Sebenarnyalah bahwa mereka menemukan beberapa ciri yang dikatakan. Bahkan ternyata di tempat yang disebut oleh Kiai Gringsing telah nampak beberapa orang berkumpul.

“Mereka agaknya adalah prajurit-prajurit dari Mataram.”  bisik Raden Rangga.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Dari sela-sela batu padas mereka melihat agak di bawah, orang-orang yang agaknya sedang beristirahat.

“Kita laporkan kepada Kiai Gringsing.”  desis Raden Rangga perlahan-lahan.

Keduanya pun kemudian merangkak surut. Dengan sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan salah paham, maka keduanya meninggalkan tempat itu. Seperti saat mereka mendekat, maka mereka pun menyelinap diantara gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu padas.

Demikian mereka kembali ke tempat Kiai Gringsing menunggu, Raden Rangga berkata, “Kiai, dihadapan dinding tegak yang agak keputih-putihan itu memang sudah berkumpul beberapa orang. Mungkin mereka adalah orang-orang Mataram menilik sikap dan tingkah laku mereka.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita pun akan pergi ke tempat itu. Meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati. Banyak kemungkinan dapat terjadi, karena kita memang sudah berada dilingkungan padepokan yang kita cari.”

Ki Jayaraga yang sudah bersiap itu pun berkata, “Kiai, kita harus tetap menyadari, bahwa Nagaraga telah terkait dengan satu rencana besar menghadapi Mataram.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Memang Ki Jayaraga. Nagaraga tidak berdiri sendiri, sebagaimana Watu Gulung dan Sapu Angin serta tentu ada beberapa padepokan yang lain. Disamping itu, persoalan yang terjadi antara daerah Timur dan Mataram ini telah menyangkut beberapa Kadipaten.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Agaknya awan yang telah membentang diatas Madiun semakin lama menjadi semakin tebal. Jika angin tidak bertiup menghembus awan itu ke laut, maka akan terjadi pertumpahan darah antara Mataram dan beberapa Kadipaten di daerah Timur.

Sementara itu maka Kiai Gringsing pun berkata, “Ki Jayaraga. Kita memang sedang memotong dahan-dahannya sebelum menumbangkan batang.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk kecil sambil bergumam, “Meskipun tugas memotong dahan-dahannya itu tidak lebih mudah dari menebang batangnya. Kiai, jika hubungan antara padepokan ini dengan Madiun menjadi semakin akrab, maka mungkin Madiun tidak akan membiarkan padepokan Nagaraga mengalami kesulitan.”

“Maksud Ki Jayaraga, mungkin di padepokan itu juga terdapat para prajurit atau kekuatan lain dari Madiun, justru setelah Nagaraga gagal membunuh Senapati?”  berkata Kiai Gringsing.

“Begitulah. Ternyata bahwa Nagaraga tidak mengulangi usahanya. Mungkin Nagaraga justru mempersiapkan diri untuk satu perjuangan yang lain bersama dengan Madiun dan beberapa Adipati yang menentang Mataram.”  desis Ki Jayaraga.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Memang mungkin sekali. Namun sungguh memprihatinkan. Madiun yang merasa keturunan langsung dari Demak itu merasa berhak pula atas tahta yang telah berpindah dari Pajang ke Mataram. Jika persoalan seperti itu masih saja berulang, maka tidak akan terdapat kedamaian diatas Tanah ini. Seorang raja yang mempunyai beberapa orang anak, pada akhirnya saling berebut tahta.”

“Tetapi agaknya Panembahan Madiun merasa bahwa Panembahan Senapati bukan seorang dari garis keturunan Demak.”  berkata Ki Jayaraga.

“Itulah yang memprihatinkan.”  jawab Kiai Gringsing, “sementara itu Panembahan Senapati telah mendapat restu langsung atau tidak langsung dari Sultan Pajang sendiri, yang oleh beberapa pihak disebut sebagai satu langkah pemberontakan. Permasalahan yang kalut dan hubungan yang tidak rancak serta pembicaraan yang kabur telah membuat jarak antara Mataram dan Madiun semakin jauh.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk pula. Katanya, “Tetapi padepokan-padepokan yang melibatkan diri kadang-kadang justru mempunyai kepentingan yang lain.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Sabungsari lah yang menyahut. ”Ya Kiai. Orang-orang padepokan-padepokan yang tersebar itu ada yang dengan sengaja memanfaatkan keadaan. Yang mereka lakukan justru bagi kepentingan mereka sendiri. Seolah-olah mereka mendapat pengesahan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Sehingga kesediaan mereka bekerja sama dengan Madiun adalah semata-mata untuk kedok saja.”

“Padahal, sulit bagi kita untuk membedakan, padepokan dan golongan yang manakah yang memang mempunyai niat sejalan dengan Madiun, dan yang manakah yang memanfaatkan setiap perkembangan keadaan untuk kepentingan diri sendiri. Meskipun keduanya dapat dianggap bersalah terhadap Mataram, namun mereka yang memanfaatkan keadaan bagi kepentingan sendiri telah melakukan kesalahan ganda.”  berkata Kiai Gringsing.

Sabungsari dan Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Sementara itu Raden Rangga pun bertanya, “Kapan kita akan menggabungkan diri dengan mereka?”

Kiai Gringsing tersenyum. Lalu katanya, “Marilah. Kita akan pergi sekarang.”

Demikianlah mereka berlima telah berjalan dengan sangat berhati-hati mendekati tempat yang dikatakan oleh Raden Rangga. Untuk tidak menimbulkan salah paham, maka ketika mereka sudah menjadi semakin dekat, maka Kiai Gringsing lah yang pertama-tama muncul justru mendekati dua orang yang bertugas berjaga-jaga.

Ujung-ujung tombak pun segera merunduk. Namun Kiai Gringsing berdesis, “Aku Ki Sanak. Kiai Gringsing.”

Kedua orang yang bertugas itu pun kemudian mengangkat kembali ujung tombaknya. Mereka memang sudah mengenal Kiai Gringsing. Karena itu, maka seorang diantara mereka bertanya, “Apakah Kiai sendiri?”

“Tidak.”  jawab Kiai Gringsing, “kami datang berlima.”

“Berlima? Siapa saja?”  bertanya petugas itu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan memanggil mereka. Aku tidak mau terjadi salah paham jika kami bergerombol mendatangi penjagaan ini.”

“Silahkan Kiai.”  sahut penjaga itu.

Kiai Gringsing pun kemudian memanggil keempat orang yang lain, termasuk Raden Rangga dan Glagah Putih.

Ketika mereka mendekati kedua orang petugas itu, maka keduanya terkejut ketika mereka melihat Raden Rangga. Seorang diantara mereka berkata, “Ternyata Kiai bertemu dengan Raden Rangga.”

“Ya.”  jawab Kiai Gringsing, “hanya kebetulan.”

Penjaga itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Namun ketika Raden Rangga berjalan di depannya, maka anak muda itu telah menepuk bahunya sambil bertanya, “Sudah berapa hari kau berada disini?”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku sudah berada disini dua hari Raden. Kawanku itu justru sudah tiga hari.”

Raden Rangga tersenyum. Katanya, “Apakah pamanda Pangeran Singasari sudah ada disini pula?”

“Sudah.”  jawab penjaga itu, “pamanda Raden sudah gelisah menunggu Kiai Gringsing.”

“Bukankah masih ada waktu?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Tetapi Kiai datang hampir pada saat-saat terakhir.”  jawab penjaga itu.

Kiai Gringsing lah yang tertawa pendek. Katanya, “Baiklah. Aku akan menghadap Pangeran Singasari.”

Bersama Ki Jayaraga, Sabungsari dan diikuti oleh Raden Rangga dan Glagah Putih, mereka pun telah memasuki lingkungan perkemahan orang-orang Mataram itu.

Seorang diantara para penjaga itu telah membawa mereka menghadap Pangeran Singasari. Tetapi penjaga itu telah menyerahkan mereka kepada seorang perwira, yang juga sedang bertugas di perkemahan itu.

“Pangeran Singasari sudah gelisah.”  berkata perwira itu, “jika besok Kiai tidak datang maka pasukan ini akan bergerak tanpa menunggu Kiai.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Nadanya seperti petugas yang berjaga-jaga diluar perkemahan. Karena itu, Kiai Gringsing mengambil kesimpulan bahwa sikap Pangeran Singasari itu sudah dinyatakan oleh setiap orang yang ada di perkemahan itu.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Baiklah. Aku ingin menghadap.”

“Sebaiknya Kiai menghadap sendiri.”  berkata perwira itu, “yang lain menunggu disini.”

“Aku datang bersama Raden Rangga.”  berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Raden Rangga.”  ulang perwira itu sambil mengamati orang-orang yang berada beberapa langkah dari padanya dalam kegelapan. Agaknya Raden Rangga memang sengaja tidak mendekat. Ia berdiri diantara empat orang yang datang bersamanya.

“Ya.”  jawab Kiai Gringsing, “aku datang bersama Raden Rangga. Bukankah Pangeran Singasari sudah mengetahui, bahwa aku berusaha untuk bertemu dengan Raden Rangga dan Glagah Putih yang sudah mendahului kita?”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebaiknya Kiai sajalah yang menghadap.”

Kiai Gringsing tidak mempersoalkannya lagi. Ia pun kemudian memberi isyarat kepada yang lain untuk menunggu. Ia akan pergi menghadap Pangeran Singasari yang berada dibalik gerumbul-gerumbul perdu, dalam lingkungan yang seakan-akan terpisah dari para prajurit yang lain, kecuali orang-orang tertentu yang memang dikehendakinya.

Ketika ia kemudian menyusup diantara beberapa gerumbul, maka ia pun telah memasuki satu lingkungan tersendiri. Meskipun tempat itu sama gelapnya dengan bagian perkemahan yang lain, namun agaknya tempat itu memang disediakan khusus bagi Pangeran Singasari. Di tempat itu terdapat tikar yang sudah terbentang. Beberapa mangkuk berisi minuman dan makanan yang khusus disediakan bagi Pangeran Singasari dan dua orang perwira terdekatnya.

“Siapa?”  bertanya Pangeran Singasari ketika ia melihat sesosok bayangan mendekat.

“Aku Pangeran, Kiai Gringsing.”  jawab Kiai Gringsing.

“O.”  desis Pangeran Singasari, “aku kira kau tidak akan bergabung lagi dengan kami.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Tetapi bukankah batas waktunya masih belum habis malam ini.”

“Aku tidak peduli dengan batas waktu. Jika kita memang sudah siap, serta memperhitungkan gerakan sasaran, maka aku dapat mengambil kebijaksanaan yang lain.”  jawab Pangeran Singasari.

“Tetapi bukankah itu belum Pangeran lakukan?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Kau melihat sendiri.”  Pangeran Singasari agak menjadi keras, “jika sudah aku lakukan, buat apa kau datang kemari?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih tetap berdiri di tempatnya.

“Marilah, duduklah.”  Pangeran Singasari kemudian mempersilahkan, “kemana Kiai selama ini?”

Kiai Gringsing pun kemudian duduk pula bersama dua orang perwira yang lain. Kemudian jawabnya, “Aku mencari Raden Rangga dan Glagah Putih yang sudah berangkat lebih dahulu. Bukankah hal ini juga sudah Pangeran ketahui.”

“Persetan dengan Rangga.”  geram Pangeran Singasari, “anak yang tidak tahu adat itu tidak aku perlukan.”

“Tetapi mereka juga mengemban tugas dari Panembahan Senapati.”  jawab Kiai Gringsing, “dan sekarang, aku telah menemukannya.”

“Jadi Kiai bawa anak itu kemari?”  bertanya Pangeran Singasari.

“Ya Pangeran. Biarlah kedua anak muda itu memperkuat pasukan kecil ini dari pada mereka melakukan langkah sendiri yang barangkali justru akan mengganggu.”  berkata Kiai Gringsing.

“Memperkuat pasukan ini?”  bertanya Pangeran Singasari, “apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak bengal itu? Rangga hanya dapat mengacaukan semua rencana yang sudah tersusun dan bertindak sendiri sesuka hati. Ia mengira bahwa ia mempunyai kemampuan yang pantas untuk berbuat demikian. Sedangkan kawannya itu apalagi. Ia tentu hanya ikut-ikutan saja sebagaimana dilakukan oleh Rangga.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga, bahwa Pangeran Singasari merasa tidak memerlukan Raden Rangga dalam tugasnya ini. Bahkan mungkin bagi Pangeran Singasari, Raden Rangga justru akan dapat mengganggu rencana-rencana yang sudah disusunnya. Namun Kiai Gringsing masih juga berkata, “Pangeran. Bukankah sejak semula sudah aku katakan bahwa aku akan mencari Raden Rangga.”

“Sejak semula aku pun tidak memperhitungkan Kiai dan kawan-kawan Kiai itu.”  berkata Pangeran Singasari, “aku lebih senang jika Kiai asyik mencari Rangga dan kawannya dan tidak kembali ke pasukan ini. Dengan demikian kami akan dapat melakukan tugas ini dengan murni. Hanya para prajurit Mataram.”

“Pangeran.”  desis Kiai Gringsing, “kenapa Pangeran bersikap seperti itu?”

“Aku tidak mengerti maksud kakanda Panembahan Senapati.”  jawab Pangeran Singasari, “kenapa Kakanda Panembahan memerintahkan Kiai ikut dalam pasukan ini, seakan-akan di Mataram tidak ada orang yang mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik.”

“Pangeran.”  desis Kiai Gringsing, “apa pun persoalan di dalam diri Pangeran, namun Panembahan Senapati telah memerintahkan aku, Ki Jayaraga dan Sabungsari, juga seorang prajurit Mataram yang berada di Jati Anom untuk ikut dalam pasukan ini. Tentu Pangeran juga mendengar perintah itu. Panembahan Senapati memerintahkan kepada Pangeran untuk mendengarkan nasehatku. Aku tidak tahu apakah aku mampu memberikan nasehat atau tidak.”

“Cukup.”  potong Pangeran Singasari, “aku tidak memerlukan nasehat siapa pun juga.”

“Aku juga tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi itu perintah Panembahan Senapati.”  sahut Kiai Gringsing. ”Nah, apakah Pangeran akan mematuhi perintah Panembahan Senapati, atau Pangeran akan menentangnya? Pangeran tahu, menentang perintah Panembahan Senapati adalah satu pemberontakan.”

Wajah Pangeran Singasari menjadi tegang. Ia tidak mengira bahwa pada satu saat orang tua itu akan berkata keras terhadapnya. Namun kemudian Pangeran Singasari itu pun berkata, “Kiai, Kiai jangan bersandar kepada perintah kakanda Panembahan Senapati. Disini aku adalah Senapati yang bertanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan perintah Kakanda Panembahan Senapati. Segala sesuatunya disini harus tunduk kepada perintahku. Bukankah yang mengangkat aku menjadi Panglima dalam pasukan kecil ini juga kakanda Panembahan Senapati?”

“Tetapi apakah kebijaksanaan Pangeran sebagai Panglima yang diangkat oleh Panembahan Senapati boleh bertentangan dengan perintah itu?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Cukup, cukup.”  Pangeran Singasari tiba-tiba membentak, “aku adalah Panglima disini. Aku bertanggung jawab kepada kakanda Panembahan Senapati. Yang menilai kebijaksanaanku adalah kakanda Panembahan Senapati. Bukan orang lain.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan Pangeran?”  bertanya Kiai Gringsing kemudian, “apakah aku dan kawan-kawanku harus kembali membawa Raden Rangga dan Glagah Putih atau Pangeran memerintahkan kami tetap disini? Jika Pangeran memerintahkan kami harus kembali, maka kami akan kembali dan melapor kepada Panembahan Senapati, bahwa Pangeran tidak memerlukan kami sebagai satu kebijaksanaan yang akan Pangeran pertanggung jawabkan terhadap Panembahan Senapati sendiri.”

“Persetan.”  geram Pangeran Singasari, “aku tidak mengira bahwa orang setua Kiai masih juga tumbak cucukan. Mengadu dan mungkin dibumbui dengan persoalan-persoalan yang tidak masuk akal.”

“Aku menunggu perintah.”  desis Kiai Gringsing, “tetapi jangan menuduh yang bukan-bukan.”

Pangeran Singasari menjadi semakin tegang. Ternyata bahwa Kiai Gringsing pun dapat bersikap keras. Orang yang dianggapnya terlalu lembut dan bahkan lemah itu, mampu mengerutkan dahi tuanya dan memandangnya dengan tajam.

Dengan suara yang mulai bergetar Pangeran Singasari berkata, “Terserah kepadamu. Apakah kau akan tetap disini atau kembali ke Mataram. Kau bukan prajurit dibawah perintahku.”

“Jika demikian aku akan tetap disini, menjunjung perintah Panembahan Senapati untuk memberikan petunjuk dan nasehat kepada Pangeran. Demikian pula Raden Rangga dan Glagah Putih akan berada dalam pasukan Pangeran.”  berkata Kiai Gringsing.

“Kau hanya diberi wewenang untuk memberikan petunjuk dan nasehat kepadaku. Tetapi kakanda Panembahan Senapati tidak memerintahkan kepadaku untuk tunduk kepada petunjukmu. Karena itu seandainya Rangga dan kawannya berada disini, aku dapat memberikan perintah apa pun kepada mereka.”  berkata Pangeran Singasari.

“Aku akan menjadi saksi, apakah perintah Pangeran wajar atau tidak.”  berkata Kiai Gringsing.

“Cukup. Aku tidak mempunyai persoalan yang dapat aku bicarakan lagi kepada Kiai.”  berkata Pangeran Singasari.

“Jika demikian aku mohon diri.”  sahut Kiai Gringsing. Namun ia masih bertanya, “Jika aku boleh mengetahui, kapan kita akan bergerak?”

“Besok kau akan dengar. Tetapi jaga agar Rangga tidak berbuat gila. Anak-anak itu menjadi tanggung jawab Kiai.”  geram Pangeran Singasari.

“Baik.”  jawab Kiai Gringsing tegas, “aku bertanggung jawab atas anak-anak itu. Juga atas keselamatan mereka, karena bagaimanapun juga Raden Rangga adalah putera Panembahan Senapati itu sendiri.”

Pangeran Singasari mengerutkan keningnya. Kata-kata Kiai Gringsing itu memang terasa menyentuh hatinya. Raden Rangga itu adalah putera Panembahan Senapati. Kemanakannya sendiri. Tetapi Pangeran Singasari pun tahu, bahwa setiap kali Panembahan Senapati telah memarahi anak itu. Namun Raden Rangga seakan-akan tidak pernah merubah tingkah lakunya. Setiap kali Raden Rangga itu membuat ayahandanya menjadi marah.

“Jika ia pergi juga ke Timur, maka sama sekali bukan karena kakanda Panembahan Senapati memilihnya untuk melakukan tugas itu. Tetapi itu semata-mata satu hukuman bagi Rangga.”  berkata Pangeran Singasari kepada diri sendiri.

Tetapi Pangeran Singasari tidak menghiraukannya lagi. Kepada perwira Mataram yang ada di tempat itu, Pangeran Singasari berkata, “Kita dapat beristirahat sekarang. Kita masih mempunyai waktu sehari besok.”

“Baik Pangeran.”  berkata perwira itu, “tetapi apakah ada perintah bagi para perwira dan prajurit yang ada di tempat ini?”

“Saat ini belum.”  berkata Pangeran Singasari, “tetapi apakah semua orang yang akan memasuki padepokan Nagaraga itu sudah berada di tempat ini?”

“Sudah Pangeran. Semuanya sudah hadir.”  jawab perwira itu.

“Baiklah. Semuanya harus dipersiapkan baik-baik. Pada saatnya kita akan menyergap dan sekaligus menghancurkannya sampai lumat. Mungkin tugas seperti ini akan berulang. Kekuatan yang akan menjadi salah satu pendukung kekuatan di daerah Timur ini semuanya akan dihancurkan.”  berkata Pangeran Singasari.

Perwira itu tidak menjawab. Namun kemudian para perwira yang berada di tempat yang khusus itu pun telah meninggalkan Pangeran Singasari yang kemudian berbaring diatas sehelai tikar yang memang dibawa dari Mataram.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing, Ki Jayaraga, Sabungsari, Raden Rangga dan Glagah Putih duduk di tempat yang terpisah dari para perwira dan prajurit. Namun ternyata bahwa para perwira dari Mataram itu tetap memperhatikannya. Beberapa orang perwira ternyata telah mendekatinya, seorang diantaranya adalah perwira yang telah mempersilahkannya menghadap Pangeran Singasari.

“Bagaimana Kiai.”  bertanya perwira itu, “apakah perintah Pangeran?”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata, “Seperti yang kau katakan Ki Sanak. Pangeran memang sudah gelisah. Tetapi bukan besok Pangeran akan bergerak seperti yang kau katakan.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya ingin memberikan tekanan, bahwa Pangeran memang sudah sangat gelisah. Pangeran memang mengatakan, jika datang saatnya, kita akan bergerak tanpa menunggu Kiai.”

“Tetapi seperti yang sudah aku katakan, saat yang ditentukan masih belum tiba.”  jawab Kiai Gringsing, “sebagai prajurit seharusnya kita mempunyai patokan-patokan rencana yang mapan. Hanya jika karena sesuatu hal yang sangat mendesak, rencana dapat berubah. Misalnya, orang-orang Nagaraga tiba-tiba saja mengetahui bahwa kita berkemah disini. Atau tiba-tiba saja kita ketahui bahwa orang-orang Nagaraga akan melakukan gerakan yang akan dapat menggagalkan rencana kita meskipun orang-orang Nagaraga tidak mengetahui kehadiran kita disini.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kiai datang terlalu dekat dengan batas waktu yang ditentukan. Dengan demikian maka kita semuanya, bukan saja Pangeran Singasari menjadi gelisah. Sementara itu, kita sudah menentukan saat-saat penyerangan.”

“Tetapi kami bukan anak-anak lagi Ki Sanak.”  berkata Ki Jayaraga, “kami sudah dapat mengatur diri.”

“Bagaimana jika pada saatnya Kiai belum menemukan Raden Rangga?”  bertanya perwira itu.

“Bukankah kami tahu kewajiban kami.”  Sabungsari lah yang menjawab, “sebagai seorang prajurit aku harus siap untuk melakukan tugas yang direncanakan.”

“Tegasnya.”  sahut Kiai Gringsing, “kami akan berada di tempat yang ditentukan dalam batas waktu yang sudah ditentukan pula.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Ternyata segala sesuatunya masih dapat dikembalikan kepada rencana yang semula.”

Raden Rangga lah yang kemudian tertawa sambil berkata, “Pamanda Pangeran Singasari memang sering bingung jika ia mengemban tugas. Apalagi tugas-tugas penting seperti ini.”

“Ah, bukan begitu.”  potong Kiai Gringsing.

“Kiai tidak percaya.”  Raden Rangga justru menyahut berkepanjangan, “pamanda Singasari lebih sering duduk di serambi istananya sambil mendengarkan siul burung beo, atau barangkali burung jalak. Bahkan di istananya terdapat burung kedasih dan burung gagak. Nah, jika tiba-tiba saja ia mendapat perintah untuk memasuki medan perang, maka ada sedikit kekacauan didalam hati pamanda.”

“Tentu tidak Raden.”  jawab Kiai Gringsing, “pamanda Raden adalah seorang Pangeran yang tegas dan berpendirian keras.”

Raden Rangga tertawa semakin panjang meskipun ditahankannya. Namun yang tidak diduga, tiba-tiba saja Raden Rangga berkata, “Kiai, bertanyalah kepada para perwira itu. Terutama perwira yang paling dekat dengan pamanda. Jika ia jujur, ia akan tahu bahwa kekerasan dan ketegasan pamanda Singasari, semata-mata untuk menutupi kekurangannya. He, siapa yang berani berkata jujur disini?”

Beberapa orang perwira yang ada di tempat itu terkejut mendengar kata-kata Raden Rangga itu. Bahkan sambil mendekati para perwira itu seorang demi seorang, ia berkata, “Nah, katakan. Apa yang kau ketahui tentang pamanda Singasari?”

“Sudahlah Raden.”  berkata Kiai Gringsing, “bagaimanapun juga, Pangeran Singasari adalah pamanda Raden sendiri. Pangeran Singasari adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas dan pandangan jauh kedepan.”

Tetapi Raden Rangga tertawa semakin keras, sehingga beberapa orang yang berada di tempat yang lain pun mendengarnya. Seorang perwira yang sudah hampir tertidur di belakang gerumbul perdu justru terkejut karenanya. Dengan marah ia bangkit dan melangkah mendekati suara tertawa itu sambil mengumpat.

“Gila.”  geram perwira itu, “siapa yang membuat gaduh disini? Apakah tidak tahu, bahwa kita berada dilingkungan lawan yang akan menjadi sasaran serangan kita? Jika kita berbuat gila seperti itu, maka kemungkinan yang buruk dapat terjadi disini.”

Namun perwira itu tertegun ketika tiba-tiba saja Raden Rangga menyongsongnya sambil berkata, “Kau sudah menjadi ketakutan he? Inikah sosok seorang Senapati Mataram yang besar yang merasa berhak untuk memerintah dari ujung Barat sampai ke ujung Timur tanah ini?”

“Jadi yang tertawa itu Raden?”  bertanya perwira itu.

“Ya. Aku sedang mentertawakan kalian. Termasuk kau yang pengecut ini.”  bentak Raden Rangga.

Wajah perwira itu menjadi merah. Seandainya yang berdiri dihadapannya itu bukan Raden Rangga, putera Panembahan Senapati.

“Kenapa kau mengumpat-umpat seperti itu?”  bertanya Raden Rangga kemudian.

Kiai Gringsing memang menjadi gelisah melihat sikap Raden Rangga. Sementara itu Raden Rangga berkata, “Kau adalah cermin dari sikap pamanda Pangeran Singasari. Jika kau sakit hati, laporkan kepada pamanda yang tidak berani menerima kehadiranku disini secara langsung.”

Tetapi kata-kata Raden Rangga terputus ketika Kiai Gringsing kemudian mendekatinya dan menggandengnya. Katanya, “Sudahlah Raden, duduklah.”

Raden Rangga pun kemudian telah duduk pula disamping Kiai Gringsing. Tarikan tangan orang tua itu seakan-akan memang tidak terlawan oleh Raden Rangga yang muda itu. Sementara itu, para perwira yang ada di sekitarnya menjadi terdiam bagaikan membeku.

“Sudahlah.”  berkata Kiai Gringsing, “bukankah kalian ingin beristirahat?”

Para perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan mereka menemukan jalan untuk keluar dari ketegangan itu.

“Sudahlah Kiai.”  berkata seorang diantara para perwira, “kami akan beristirahat.”

“Silahkan Ki Sanak.”  sahut Kiai Gringsing. Ketika para perwira itu meninggalkan Kiai Gringsing, maka Kiai Gringsing itu pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Raden Rangga telah berkata, “Sebenarnya mereka tahu, apa yang aku katakan.”

“Tetapi bukankah Raden harus bersikap bijaksana?”  berkata Kiai Gringsing, “bagaimanapun juga sikap pamanda Raden, namun Pangeran Singasari sekarang adalah Panglima dari kelompok kecil para perwira dan beberapa orang prajurit yang ada disini. Karena itu Raden harus ikut menjaga kewibawaan Pangeran Singasari.”

“Tetapi pamanda Pangeran telah menghina aku.”  berkata Raden Rangga, “kenapa pamanda hanya mau menerima Kiai seorang diri?”

“Sudahlah.”  berkata Kiai Gringsing pula, “bukankah Raden sudah mulai berpikir sekarang? Bukan nanti jika sudah terlambat?”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai benar.”

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun berkata, “Silahkan kalian beristirahat disini. Sabungsari, Glagah Putih dan Raden Rangga. Aku dan Ki Jayaraga akan melihat-lihat keadaan. Tetapi sekali lagi aku mohon, Raden hendaknya jangan mudah menuruti perasaan semata-mata.”

“Kalian selalu menekankan kelemahanku. Jika pada suatu saat, aku terlambat mengambil langkah, itu justru karena aku terlalu banyak berpikir, “ berkata Raden Rangga.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab.

Bersama Ki Jayaraga, maka Kiai Gringsing telah menyelinap diantara gerumbul-gerumbul perdu untuk menemui perwira yang telah mempersilahkannya menemui Pangeran Singasari seorang diri.

Perwira yang sudah mulai berbaring itu terkejut. Ia pun kemudian bangkit dan duduk diatas sebuah batu. Dengan nada dalam ia bertanya, “Ada apa Kiai?“

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga pun kemudian duduk pula dihadapan perwira itu. Dengan hati-hati Kiai Gringsing berkata, “Ki Sanak. Apakah kita sudah menilai sasaran yang akan kita masuki?“

“Maksud Kiai?“ bertanya perwira itu.

“Apakah Ki Sanak tahu, bahwa Pangeran Singasari sudah mengirimkan petugas sandi untuk menemukan padepokan yang akan kita datangi itu?“ bertanya Kiai Gringsing.

Perwira itu tersenyum. Katanya, “Tentu sudah menjadi rencana Pangeran Singasari. Besok malam petugas sandi itu akan berangkat mendekati padepokan Naga-raga.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ternyata aku masih harus menunggu beberapa hari. Bukankah dengan demikian aku masih belum hampir terlambat?“

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Tetapi kita sudah sampai pada tahap terakhir.”

“Jika besok malam petugas sandi itu baru akan melihat sasaran, maka bukankah malam berikutnya kita baru akan berangkat? Itu pun paling cepat. Jika masih ada pertimbangan-pertimbangan lain, maka keberangkatan itu masih dapat diundur lagi. Mungkin sehari, mungkin lebih“, sahut Kiai Gringsing.

Sebelum perwira itu menyahut, maka Ki Jayaraga berkata, “Yang terlambat bukan kami. Tetapi Pangeran Singasari. Kami sudah berada di tempat ini tepat pada waktunya.”

Perwira itu hanya dapat mengerutkan keningnya. Sebenarnyalah bahwa rencana Pangeran Singasari memang telah mundur satu hari dari batas waktu yang ditentukan.

“Sudahlah, “ berkata Kiai Gringsing, ”mumpung sisa malam masih panjang, kami akan berjalan-jalan.”

“Apakah Kiai berdua tidak akan beristirahat? Mungkin masih sempat tidur beberapa saat“ berkata perwira itu.

“Kami belum mengantuk. Kami ingin melihat keadaan tempat ini dan sekitarnya”, jawab Kiai Gringsing.

“Tetapi Kiai harus berhati-hati. Kita sudah berada dekat sekali dengan lingkungan lawan“ pesan perwira itu.

“Aku tidak akan pergi jauh”, jawab Kiai Gringsing, “hanya di sekitar tempat ini.”

“Tetapi itu belum berarti bahwa orang-orang Nagaraga tidak akan melihat Kiai berdua, “ berkata perwira itu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun ia sempat bertanya, “Bukankah kau sudah lama menjadi prajurit Mataram?”

“Perwira itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa maksud Kiai dengan pertanyaan itu?”

“Jika kau sudah lama menjadi prajurit Mataram, setidak-tidaknya kau tidak terlalu mencemaskan keadaanku” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Perwira itu menjadi tegang. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Seakan-akan ia baru sadar, dengan siapa ia berhadapan. Bagi beberapa orang perwira Mataram, maka Kiai Gringsing adalah seorang yang dikenal memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Karena itu, maka perwira itu pun tidak lagi berpesan apa-apa juga. Ketika Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga meninggalkannya, maka ia pun segera kembali berbaring di antara gerumbul perdu.

Demikianlah Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga telah menyusup keluar dari perkemahan orang-orang Mataram. Penjaga yang bertugas ternyata tidak dapat melihat mereka berdua.

“Kita akan melihat padepokan itu” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Mudah-mudahan kita mendapat gambaran yang jelas tentang padepokan Nagaraga itu”, jawab Ki Jayaraga.

Tanpa mendapat ijin dari Pangeran Singasari, maka kedua orang tua itu telah pergi untuk melihat padepokan yang akan menjadi sasaran serangan mereka. Agaknya mereka akan lebih percaya kepada penglihatan mereka sendiri daripada petugas sandi yang akan dikirim oleh Pangeran Singasari.

Namun kedua orang itu sadar, bahwa jika mereka gagal, maka mungkin perkemahan orang Mataram itu akan mendapat kesulitan pula.

“Tetapi kita harus sangat berhati-hati” desis Ki Jayaraga.

“Ya. Menurut pendengaran kita, di padepokan itu terdapat orang-orang berilmu tinggi. Pimpinan padepokan itu yang tidak ikut pergi ke Mataram, tentu orang yang mumpuni. Meskipun muridnya terbunuh di Mataram tetapi agaknya pimpinan padepokan Nagaraga adalah seorang yang pantas disegani”, sahut Kiai Gringsing.

Dengan demikian, maka dengan sedikit bekal pengenalan mereka berusaha untuk dapat menemukan padepokan Nagaraga di seberang hutan di bawah sebuah gumuk yang pada dindingnya terdapat sebuah goa. Didalam goa itu tinggal seekor ular naga yang besar, yang menjadi tumpuan dan sandaran dari orang-orang Nagaraga, terutama dalam hal ilmu kanuragan.

Sementara itu, selagi Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga mengendap-endap menuju ke padepokan Nagaraga, maka Raden Rangga ternyata menjadi sangat gelisah. Ketika ia mendengar gonggong anjing hutan diatas gumuk, ia pun berdesis, “Kenapa Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga sangat lama.”

“Sudahlah Raden” berkata Glagah Putih, “pada saatnya mereka tentu akan kembali.”

“Aku tidak menggelisahkan mereka”, jawab Raden Rangga.

“Lalu apa yang Raden gelisahkan?” bertanya Sabungsari.

“Tentu keduanya dengan sengaja telah mengelabuhi kita. Aku yakin keduanya pergi ke padepokan Nagaraga” berkata Raden Rangga.

“Bukan mengelabuhi kita”, jawab Glagah Putih, “tetapi mereka memang tidak akan mengajak kita. Kita harus tetap berada disini.”

“Aku juga ingin melihat padepokan itu” berkata Raden Rangga.

“Raden pernah melihatnya” berkata Glagah Putih, ”meskipun hanya dalam mimpi. Raden telah melihat separo gambaran dari padepokan yang rusak ditinggal penghuninya itu, namun dalam ujud yang utuh sebagaimana yang dihuni seorang oleh orang-orang dari perguruan Nagaraga.”

“Tetapi aku ingin melihat keadaan yang sebenarnya” berkata Raden Rangga, “aku tidak ingin sekedar melihat bentuk-bentuk yang aneh dan tidak beralas pada ujud-ujud yang sehari-hari kita lihat.”

Tetapi Glagah Putih tidak membiarkan Raden Rangga pergi. Sabungsari pun telah membantunya pula. Katanya,, “Raden, sebaiknya kita menunggu. Bukankah orang-orang itu berpesan agar kita tetap berada disini?”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak jadi meninggalkan tempat itu. Katanya, “Kalian membuat aku kecewa. Justru penglihatanku dalam mimpi itu mendorong aku untuk melihat padepokan itu yang sebenarnya.”

“Pada saatnya kita akan memasuki padepokan itu” berkata Glagah Putih.

Raden Rangga tidak menjawab. Namun ditengadahkannya wajahnya memandang langit yang bersih digayuti oleh bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Namun tiba-tiba Raden Rangga berkata, “Siapa saja yang berada dalam pasukan kecil ini?”

“Sebagian besar adalah para perwira, meskipun perwira di tataran bawah seperti aku” jawab Sabungsari, “agaknya Mataram menganggap bahwa orang-orang Nagaraga pada umumnya memiliki ilmu melampaui tataran prajurit biasa. Hanya beberapa orang prajurit terpilih yang ada di pasukan ini.”

Raden Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi disini sekarang banyak perwira prajurit Mataram dibawah pimpinan pamanda Pangeran Singasari?”

“Ya, begitulah”, jawab Sabungsari.

Raden Rangga masih saja mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jadi kalian tidak setuju jika aku mencari Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga? Mereka tentu pergi ke padepokan.”

“Kita menunggu saja, Raden”, jawab Glagah Putih.

Tiba-tiba saja Raden Rangga telah berbaring begitu saja tanpa alas apa pun juga. Glagah Putih dan Sabungsari saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian harus juga mencari tempat untuk berbaring sebagaimana dilakukan oleh Raden Rangga.

Ternyata mereka memang letih, sehingga sejenak kemudian ketiganya telah tertidur. Mereka sama sekali tidak merasa cemas, karena lingkungan itu mendapat penjagaan yang cukup ketat oleh para prajurit Mataram.

Sementara itu. Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga diluar pengetahuan Panglima pasukan Mataram telah mencari jalan menuju ke padepokan Nagaraga yang belum pernah dilihatnya.

Tetapi ketajaman pengenalan keduanya, ternyata telah membawa mereka menuju ke arah yang benar. Perlahan-lahan kedua orang tua itu telah mendekati padepokan yang disebut Nagaraga.

Beberapa ciri telah mereka ketemukan. Di sebelah hutan yang tidak begitu lebat, diantara gumuk-gumuk kecil, terdapat sawah yang terbentang luas. Sawah yang digarap oleh orang-orang Nagaraga. Bahkan di lereng beberapa gumuk kecil itu terdapat pategalan yang juga menjadi daerah garapan orang-orang Nagaraga.

“Kita sudah dekat” berkata Ki Jayaraga, “kita sudah berada di tengah-tengah, lingkungan tanah yang dikerjakan oleh Nagaraga.”

“Ya” Kiai Gringsing mengangguk-angguk, “tinggal mencari, dimana padepokan itu dibuat.”

Ternyata keduanya tidak mendapat banyak kesulitan. Namun keduanya tidak dapat mengikuti jalan setapak yang tentu menuju ke padepokan itu. Keduanya harus mendekati padepokan itu lewat tempat-tempat yang justru tersembunyi.

Dengan bekal ilmu yang tinggi, maka keduanya berhasil menemukan padepokan Nagaraga di sebelah hutan itu. Padepokan Nagaraga semula memang bukan padepokan yang dirahasiakan. Namun justru karena kaitan padepokan itu yang menjadi sangat buruk dengan Mataram sejak beberapa orang berusaha membunuh Panembahan Senapati tetapi gagal, maka orang-orang padepokan itu tentu merasa perlu untuk melindungi padepokan mereka dengan cara yang dapat mereka lakukan.

Tetapi penghuni padepokan itu yakin, jika tidak ada pertanda apa pun yang keluar dari goa, tempat ular naga yang menurut kepercayaan orang-orang padepokan menjadi tumpuan kekuatan orang-orang Nagaraga itu, maka tentu tidak akan terjadi apa pun juga dengan padepokan itu.

Dengan sangat hati-hati Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga mendekati padepokan itu. Menurut penglihatan mereka, padepokan itu memang sebuah padepokan yang besar, yang tentu dihuni oleh banyak orang. Agaknya Mataram telah mengambil langkah yang benar dengan mengirimkan sepasukan yang meskipun kecil, tetapi cukup kuat, yang hampir seluruhnya terdiri dari perwira-perwira pilihan diantara prajurit-prajurit Mataram. Hanya sebagian kecil saja diantara mereka adalah prajurit-prajurit yang harus melayani pasukan itu.

“Untunglah Pangeran Singasari berada di tempat yang cukup jauh terpisah dengan padepokan ini” berkata Kiai Gringsing, “nampaknya Pangeran Singasari kurang cermat melakukan tugasnya. Ia sudah menentukan perkemahan orang-orang Mataram sebelum ia mempunyai gambaran tentang letak padepokan ini.”

“Pangeran Singasari terlalu percaya kepada keterangan-keterangan yang didengarnya, bukan kenyataan yang dilihatnya. Seharusnya sebelum ia menentukan tempat itu berdasarkan petunjuk yang pernah didengarnya, ia membuktikan, dimana sebenarnya letak padepokan itu”, sahut Ki Jayaraga.

“Untunglah orang-orang Watu Gulung tidak curang dan berusaha menjebak Mataram” berkata Kiai Gringsing.

Namun keduanya tidak dapat berbicara lebih panjang. Keduanya sudah menjadi semakin dekat dengan dinding padepokan.

Dengan meningkatkan kewaspadaan, maka keduanya- pun kemudian telah melekat dinding. Menurut pengamatan mereka, padepokan itu memang sangat luas. Sebagaimana Raden Rangga pernah mengatakan, bahwa padepokan itu agaknya terbagi dalam lingkungan-lingkungan yang terpisah.

Dengan isyarat keduanya ternyata setuju untuk memasuki halaman padepokan itu dengan meloncat dinding. Namun sebelumnya keduanya telah mengendap-endap untuk meyakinkan bahwa tidak ada orang yang akan melihat mereka.

Ketika keduanya yakin tidak mendengar desah nafas seseorang, maka keduanya telah meloncat bagaikan terbang keatas dinding. Dengan cepat keduanya telah menelungkup melekat dinding itu, sehingga seandainya tiba-tiba saja ada peronda yang lewat, maka peronda itu tidak akan segera melihatnya.

Ternyata halaman di bagian belakang itu memang sepi. Padepokan itu seakan-akan telah tertidur nyenyak. Hanya disana-sini mereka melihat lampu-lampu yang dipasang di serambi barak didalam padepokan.

Namun tiba-tiba saja Kiai Gringsing menggamit Ki Jayaraga. Ternyata dua orang muncul dari sudut barak berjalan memutari halaman padepokan itu. Keduanya membawa tombak pendek yang dipandinya di pundak mereka. Ujung-ujung tombak itu mencuat keatas seakan-akan justru sedang menunjuk kedua orang yang sedang berada diatas dinding itu.

Tetapi dengan kemampuan yang sangat tinggi, keduanya mampu menyerap bunyi yang timbul dari desah nafas mereka. Karena itu, maka kedua orang yang lewat hanya beberapa langkah dari keduanya sama sekali tidak melihat, bahwa ada dua orang yang menelungkup diatas dinding didalam kegelapan.

Demikian kedua orang itu menjauh, maka Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga pun menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka masih menunggu sejenak. Baru kemudian mereka yakin bahwa mereka akan dapat meloncat turun.

Sesaat kemudian, keduanya telah berada di halaman padepokan Nagaraga. Dengan sangat berhati-hati keduanya menyelinap diantara pepohonan dan gerumbul-gerumbul perdu yang ditanam di padepokan itu.

“Raden Rangga memang anak muda yang aneh” desis Kiai Gringsing.

“Yang dilihatnya dalam mimpi, ternyata terdapat disini”, sahut Ki Jayaraga.

Keduanya memang melihat batas-batas didalam padepokan itu. Dinding yang tidak begitu tinggi membatasi bagian-bagian tertentu, seakan-akan padepokan itu memang terbagi dalam beberapa lingkungan yang terpisah meskipun dalam keseluruhan merupakan keluarga perguruan Nagaraga.

Ketika mereka sampai ke halaman jauh di belakang, maka mereka pun tertegun. Keduanya benar-benar merasa heran, bahwa ternyata di bagian belakang itu memang terdapat sebuah sanggar terbuka yang dibatasi oleh selingkar dinding yang agak tinggi, hampir setinggi, dinding padepokan itu sendiri.

“Bukan main” desis Ki Jayaraga, “sanggar ini pun dilihat pula oleh Raden Rangga. Jika demikian, maka di setiap lingkungan itu pun tentu terdapat pula sanggar yang tertutup.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun mereka pun kemudian memang membuktikan, bahwa sanggar semacam itu memang ada diantara barak-barak.

“Satu padepokan yang sangat besar” berkata Kiai Gringsing.

“Mana yang lebih besar diantara padepokan ini dengan padepokan Kiai di Jati Anom?” bertanya Ki Jayaraga hampir berbisik.

Kiai Gringsing tertawa tertahan. Katanya,, “Aku dapat berbangga dengan padepokanku. Kecil, tetapi terasa lebih hidup.”

“Kenapa?” bertanya Ki Jayaraga, “apa yang lebih hidup?”

“Karena pimpinan padepokannya”, jawab Kiai Gringsing.

Ki Jayaraga pun tertawa. Namun Kiai Gringsing memberinya isyarat dengan jari-jarinya.

Keduanya kemudian melanjutkan pengamatannya atas padepokan itu. Ternyata yang terdapat di padepokan itu segalanya memang mirip dengan apa yang disebut oleh Raden Rangga.

“Apakah sudah cukup?”desis Kiai Gringsing kemudian.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Kita akan berbicara dengan Raden Rangga.”

Keduanya pun kemudian sudah merasa cukup, Mereka telah melihat hampir semua bagian di padepokan itu. Yang tak mereka lewati hanyalah halaman depan dari bangunan induk dalam padepokan itu, yang agaknya mendapat pengawasan yang sangat ketat. Di regol terdapat sebuah gardu. Beberapa orang yang sedang bertugas terdapat di gardu itu. Sedangkan di beberapa bagian terpenting di padepokan itu pun telah dijaga pula. Namun agaknya orang-orang padepokan yang besar itu merasa bahwa padepokan mereka tidak akan diganggu oleh siapa pun juga. Apalagi jika mereka tidak mendengar isyarat pertanda apa pun dari dalam goa.

Demikianlah maka sejenak kemudian, kedua orang itu telah berada diluar padepokan. Mereka masih akan singgah sejenak untuk melihat goa yang menurut ceritera orang, dihuni oleh seekor ular naga.

“Jalannya sangat rumpil” desis Kiai Gringsing.

“Ya. Agaknya tidak seorang pun yang sering mendekati goa itu” sahut Ki Jayaraga.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun mereka harus memusatkan perhatian mereka kepada tanah yang terbentang dihadapan mereka. Sekali-sekali mereka memang tertegun mendengar aum binatang buas dari dalam hutan di sebelah.

Namun tiba-tiba saja langkah mereka terhenti. Mereka telah dikejutkan oleh suara yang aneh. Bergaung namun terputus-putus.

“Kiai” desis Ki Jayaraga, “tentu suara seekor ular raksasa”

“Ular di goa itu. Suaranya bergaung mendebarkan”, sahut Kiai Gringsing.

Kedua orang tua itu pun kemudian termangu-mangu. Menurut perasaan mereka, ular naga raksasa itu seolah-olah telah mengetahui bahwa diluar goanya telah hadir orang-orang yang tidak dikehendaki.

Karena itu, maka kedua orang itu pun menjadi ragu-ragu untuk maju lebih dekat lagi ke mulut gua. Namun mereka sekedar ingin mengetahui serba sedikit tentang goa itu. Keduanya sama sekali tidak ingin terlibat dalam satu persoalan yang sungguh-sungguh dengan ular itu.

Betapa sulitnya jalan yang ditempuh diantara batu-batu karang dan pepohonan hutan, namun akhirnya mereka telah berada di sisi mulut goa itu.

Untuk beberapa saat mereka memperhatikan goa itu. Tetapi tidak ada yang terlalu menarik untuk diperhatikan secara khusus.

“Kita dapat mengabaikan goa ini” berkata Ki Jayaraga, “aku kira tidak akan banyak pengaruhnya asal ular itu tidak keluar dari sarangnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Kita tidak perlu menaruh banyak perhatian atas goa ini sehingga kita dapat memusatkan perhatian kita pada padepokan itu.”

Namun sebelum keduanya bergerak meninggalkan goa itu, tiba-tiba saja mereka menjadi tegang. Mereka melihat beberapa buah obor memasuki lingkungan yang asing itu.

“Siapakah mereka” desis Kiai Gringsing.

Ki Jayaraga pun termangu-mangu. Dengan nada datar ia berdesis, “Agaknya orang-orang padepokan itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia pun memang menduga, bahwa yang datang itu tentu orang-orang padepokan.

Untuk menghindarkan diri dari kemungkinan yang tidak diharapkan,- maka keduanya telah menyingkir dan berlindung dibalik bayangan pepohonan. Namun dari tempat mereka berlindung, keduanya dapat melihat plataran yang tidak terlalu luas di muka mulut goa itu.

Sejenak kemudian, maka beberapa orang yang membawa obor itu telah berada di mulut goa. Mereka ternyata membawa seekor kambing hidup. Dengan menghadapkan kambing itu ke mulut goa, maka seseorang telah mencambuk kambing itu keras-keras, sehingga kambing itu telah berteriak dan berlari langsung memasuki mulut goa.

Tetapi orang-orang itu tidak segera meninggalkan mulut goa itu. Seorang yang agaknya memimpin kelompok kecil itu telah berjongkok di mulut goa diikuti oleh beberapa orang lain. Mereka menempatkan obor-obor mereka di tonggak-tonggak kecil yang agaknya memang sudah disediakan.

Ternyata telah terjadi upacara kecil. Orang-orang itu telah mengucapkan mantra-mantra yang tidak diketahui artinya oleh Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga.

Upacara itu tidak berlangsung lama. Sementara itu suara yang berasal dari dalam goa itu terdengar lagi. Tetapi tidak terlalu keras dan tidak terlalu panjang.

Beberapa saat kemudian maka upacara itu pun telah selesai. Tetapi apa yang dikatakan oleh orang yang memimpin upacara itu cukup mengejutkan. Dengan nada lantang orang itu berkata, “Kita harus berhati-hati. Kiai Nagaraga memberitahukan kepada kita, bahwa padepokan kita terancam bahaya.

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga yang berada didalam kegelapan sempat saling berpandangan. Mereka memang menjadi heran bahwa orang yang memimpin upacara itu dapat mengambil kesimpulan bahwa padepokannya telah terancam bahaya.

Sekelompok orang itu masih berada di pelataran goa itu untuk beberapa lama. Namun kemudian mereka pun bergeremang, ”Korban kita agaknya telah diterima. Kambing itu tidak keluar dari goa.”

“Ya. Kambing itu sudah terperosok masuk ke lekuk yang agak dalam itu, sehingga kambing itu tidak akan dapat keluar” desis seseorang.

“Mulutmu dapat terbakar nanti “tiba-tiba orang yang memimpin upacara itu membentak, “katakan, korban kita telah diterima.”

“Baik, baik Kiai” orang itu memang menjadi ketakutan.

Sementara orang yang memimpin upacara itu berkata, “Kita akan kembali ke padepokan. Kita akan minta agar para penghuni padepokan bersiaga. Untunglah korban kita diterima justru pada saat Kiai Nagaraga memberikan isyarat akan bahaya itu, sehingga agaknya kita akan mampu mengatasinya seandainya bahaya itu benar-benar akan datang”

“Marilah Kiai” berkata seorang yang lain, “kita segera memberikan laporan.”

Beberapa orang telah mengambil obor-obor yang masih menyala. Sejenak kemudian, maka orang-orang itu pun telah meninggalkan plataran goa itu. sehingga tempat itu kembali menjadi gelap.

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mereka berdua pun meninggalkan tempat itu, Betapa pun rumitnya jalan yang harus dilalui namun akhirnya mereka pun sampai ke arah orang-orang Mataram membuat perkemahan.

“Langit sudah dibayangi warna fajar” berkata Ki Jayaraga,

“Cepat sedikit, agar kita tidak kesiangan” desis Kiai Gringsing.

Namun keduanya sempat menyelinap masuk dan tanpa membangunkan orang-orang yang sedang tidur keduanya telah berbaring tidak jauh dari Sabungsari.

Keduanya memang berusaha untuk memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk tidur.

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga memang sempat memejamkan matanya meskipun hanya sejenak. Namun bagi kedua orang itu, kesempatan tidur yang sejenak itu sudah cukup. Mereka terbangun bersamaan dengan orang-orang lain dalam perkemahan itu. Agaknya hari memang sudah menjadi terang. Bahkan matahari telah melontarkan cahayanya di langit.

Namun Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga terpaksa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Raden Rangga yang mendekatinya berkata, “Aku melihat Kiai berdua kembali semalam. Tetapi karena nampaknya Kiai berdua ingin beristirahat, maka aku tidak mengganggu. Bukankah Kiai berdua baru saja kembali dari padepokan Nagaraga atau goa tempat ular itu bersembunyi?”

“Darimana Raden tahu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku hanya menduga. Disini Kiai berdua tidak akan pergi kemanapun selain sasaran yang akan kita sergap nanti pada saatnya” jawab Raden Rangga,

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Raden benar. Kami memang melihat-lihat padepokan itu. Kami juga mendekati goa tempat ular itu bersarang, meskipun dari samping kami memang tidak mendekati mulut goa itu dari depan, karena pada saat itu ular yang ternyata oleh orang-orang perguruan Nagaraga juga disebut bernama Nagaraga, tiba-tiba telah mengeluarkan suara yang bergaung didalam goa namun terputus-putus. Kami tidak ingin terlibat dalam persoalan dengan ular itu sebelum saatnya, karena dengan demikian akan dapat menggagalkan rencana Pangeran Singasari dalam keseluruhan”

Raden Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “kenapa Kiai tidak mengajak kami?”

“Kami tidak mempunyai rencana yang kami perhitungkan dengan baik. Kami hanya begitu saja pergi sehingga kami tidak sempat mengajak Raden dan tentu juga Glagah Putih dan Sabungsari” jawab Kiai. Gringsing.

Tetapi Raden Rangga tertawa, meskipun ia tidak mengatakan sesuatu.

Kiai Gringsing mula-mula mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum pula.

“Sebaiknya Raden tidur” desis Ki Jayaraga.

Raden Rangga tertawa semakin keras.

Demikianlah, maka di hari itu, para prajurit Mataram memang tidak mempunyai kegiatan apa pun selain bersembunyi. Orang-orang yang bertugas menyediakan makan bagi mereka telah menyelinap keluar untuk mencari lingkungan yang memungkinkan mereka mendapatkan banyak orang berjualan. Mereka tidak menyalakan api sendiri untuk menghindarkan diri dari pengamatan orang-orang Nagaraga yang padepokannya sudah tidak terlalu jauh lagi dari perkemahan itu.

Ketika orang-orang itu masuk kedalam pasar seperti hari sebelumnya di sebuah lingkungan padukuhan, maka mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian. Mereka tidak membeli makanan terlalu banyak pada satu tempat. Beberapa orang telah membeli berpencaran dan terpisah-pisah.

Meskipun demikian ada juga seorang penjual nasi yang bertanya kepada kawannya berjualan, “Untuk apa mereka membeli nasi sebanyak itu?”

“Entahlah”, sahut kawannya, “mungkin sekelompok orang yang sedang beramai-ramai mengerjakan bendungan atau memperbaiki tanggul yang longsor.”

Penjual nasi itu hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak memikirkannya lagi. Ia justru merasa senang bahwa dagangannya cepat habis sehingga pagi-pagi ia sudah dapat pulang sambil membawa oleh-oleh buat anak-anaknya.

Di hari itu, ternyata Pangeran Singasari sama sekali tidak memanggil Raden Rangga. Nampaknya Pangeran Singasari memang tidak ingin bertemu dan berbicara dengan anak yang dianggapnya sangat nakal itu.

Namun di hari itu, Pangeran Singasari memerintahkan para prajurit Mataram yang terdiri sebagian besar dari para perwira itu bersiaga sepenuhnya.

Kepada Senapati yang menjadi pembantunya yang terdekat ia memerintahkan tidak seorang pun diantara mereka yang boleh meninggalkan perkemahan kecuali untuk pergi ke sungai kecil yang tidak terlalu jauh dari perkemahan itu.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga menjadi bimbang untuk memberitahukan bahwa orang-orang padepokan Nagaraga seakan-akan telah mendapat isyarat bahwa padepokan itu sedang dalam bahaya, sehingga dengan demikian maka kesiagaan di padepokan itu pun perlu diperhitungkan dengan cermat.

“Jika kita melaporkan perjalanan sandi kita, apakah Pangeran Singasari justru tidak menjadi marah?” bertanya Kiai Gringsing.

“Mungkin ia justru menjadi marah”, sahut Ki Jayaraga, “sebaiknya kita memberitahukannya dengan cara lain.”

“Cara bagaimana?” bertanya Kiai Gringsing pula.

“Pada saat kita mendekati padepokan itu” berkata Ki Jayaraga, “sehingga dengan demikian Pangeran Singasari tidak banyak mendapat kesempatan memarahi kita.”

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi ia mengangguk-angguk. Katanya, “Kau ternyata bijaksana.”

Ki Jayaraga pun tersenyum pula.

Namun keduanya memang menjadi gelisah, bahwa Pangeran Singasari telah memerintahkan prajurit Mataram untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Malam itu petugas sandi akan menuju ke sasaran. Baru malam berikutnya pasukan akan bergerak. Menjelang fajar, mereka harus sudah mengepung padepokan itu.

“Terlalu lamban” desis Ki Jayaraga.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Justru setelah keduanya sempat melihat padepokan itu, maka mereka memperhitungkan, bahwa untuk mengamati padepokan itu dan sekaligus bergerak mendekatinya dapat dilakukan dalam satu malam.

“Lewat wayah sepi uwong petugas sandi itu dapat bergerak, sementara yang lain beristirahat sepenuhnya namun sudah dalam kesiagaan penuh, kecuali beberapa orang petugas khusus. Demikian mereka dibangunkan oleh satu isyarat, maka mereka akan dapat bergerak dan mengepung padepokan itu” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Seharusnya petugas sandi itu justru sudah bergerak sebelumnya” berkata Ki Jayaraga, “bagi pasukan kecil ini, pengamatan yang hanya sekali agaknya tentu masih kurang. Petugas sandi itu perlu melihat sampai dua tiga kali. Apalagi jika mereka tidak sempat memasuki padepokan itu.”

“Kita akan menghadapi Pangeran Singasari, “ berkata Kiai Gringsing, “kita mempunyai wewenang untuk memberikan pendapat, Diterima atau tidak diterima.”

Ki Jayaraga tiba-tiba tersenyum sambil menjawab, “Menilik sikap Pangeran Singasari, maka rasa-rasanya apa yang akan kita lakukan itu sia-sia. Pangeran Singasari lebih percaya kepada rencananya sendiri, yang barangkali sudah dibicarakannya dengan para Senapati kepercayaannya.

“Ya, agaknya memang demikian,“ Kiai Gringsing mengangguk-angguk, “tetapi untuk berbicara dengan Pangeran Singasari adalah tugas kita.”

Meskipun dengan ragu, namun kedua orang itu telah berusaha untuk menemui Pangeran Singasari yang ternyata sedang berbincang dengan Senapati kepercayaannya.

“Pangeran Singasari sedang sibuk” berkata seorang Senapati yang berjaga-jaga diluar lingkungan yang dipergunakan oleh Pangeran Singasari.

“Kami ingin berbicara sedikit” berkata Kiai Gringsing.

“Tunggu. Pangeran Singasari sedang membicarakan langkah-langkah yang akan kita ambil bersama Senapati terpilih diantara kami. Mungkin pembicaraan itu sangat rahasia sehingga tidak seorang pun yang boleh mendengarnya”, sahut Senapati itu.

“Jika yang dibicarakan itu sangat rahasia, maka mereka tentu akan diam. Tetapi yang ingin aku sampaikan juga pertimbangan-pertimbangan yang barangkali bermanfaat bagi Pangeran Singasari” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Pangeran Singasari. Apakah Pangeran Singasari dapat menerima Kiai berdua atau tidak.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa Senapati itu, karena dengan demikian akan dapat timbul suasana yang kurang baik.

Dalam pada itu, ternyata Pangeran Singasari sudah selesai berbincang dengan Senapati terpercaya yang selalu memberi pertimbangan bagi setiap keputusan yang akan diambil oleh Pangeran Singasari. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata kepada Senapati yang menyampaikan niat Kiai Gringsing dan Jayaraga, “Sebenarnya aku segan menerima mereka. Tetapi mereka merasa mendapat wewenang dari Panembahan Senapati untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan kepadaku. Padahal maksud Panembahan Senapati hanyalah sekedar basa basi saja jika Panembahan mengatakan kepada mereka, bahwa mereka diminta untuk memberikan pertimbangan kepadaku. Tetapi kedua orang tua itu merasa memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari aku, sehingga mereka pantas menjadi penasehatku.”

Senapati yang menyampaikan keinginan Kiai Gringsing untuk menghadap itu diluar sadarnya menyahut, “Ya Pangeran. Kedua orang tua itu, terutama yang aku ketahui adalah Kiai Gringsing, memiliki pengalaman dan kemampuan ilmu yang tidak ada bandingnya.”

“Cukup” tiba-tiba Pangeran Singasari membentak, “Semua orang memang tahu bahwa Kiai Gringsing memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi yang harus kita pertimbangkan, apakah kita memerlukannya atau tidak. Jika kita sendiri mampu menyelesaikannya, kenapa kita harus minta bantuan kepadanya?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun bagaimanapun juga sebagai seorang Senapati, maka ia merasa perlu untuk mempertahankan harga dirinya, meskipun ia tidak akan berani menentang Pangeran Singasari. Karena itu, maka katanya, “Pangeran, didengar atau tidak didengar, berguna atau tidak berguna, apa salahnya jika orang-orang itu memberikan pertimbangannya kepada Pangeran.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku akan menerimanya meskipun sebenarnya aku merasa segan. Aku bukan anak-anak lagi yang harus selalu digurui”, jawab Pangeran Singasari. Namun kemudian katanya, “Suruh mereka kemari.”

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga masih saja menunggu. Mereka mendengar lamat-lamat pembicaraan antara Senapati yang menyampaikan maksudnya menghadap dengan Pangeran Singasari. Tetapi keduanya yang mempunyai pendengaran yang sangat tajam itu masih juga tidak tahu isi pembicaraan mereka, karena mereka menunggu di tempat yang memang agak jauh.

Ketika Kiai Gringsing mencoba mempertajam lagi pendengarannya untuk mencoba menangkap pembicaraan itu serba sedikit, pembicaraan itu ternyata sudah selesai.

Sejenak kemudian Senapati yang menyampaikan maksud kedua orang tua itu pun telah datang sambil berkata, “Kalian diperkenankan menghadap.”

“Terima kasih” berkata Kiai Gringsing dan Jayaraga hampir berbareng.

Pangeran Singasari telah menerima Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga dengan wajah yang kosong. Dengan nada rendah ia berkata, “Duduklah Kiai.”

“Terima kasih Pangeran”, sahut Kiai Gringsing yang kemudian duduk dihadapan Pangeran Singasari.

“Apakah ada yang penting yang ingin Kiai berdua sampaikan?” bertanya Pangeran Singasari.

“Benar Pangeran”, jawab Kiai Gringsing, “kami telah mendengar bahwa Pangeran hari ini memerintahkan pasukan bersiaga penuh. Malam nanti petugas sandi akan pergi ke sasaran untuk mengamati keadaan. Baru malam besok pasukan akan berangkat dan mengepung sasaran sebelum fajar.”

“Ya”, jawab Pangeran Singasari, “ada kesempatan bagi pasukan kita untuk bersiap lahir dan batin.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apakah kami dapat memberikan pendapat kami?”

“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Pangeran Singasari.

“Jika pengamatan atas sasaran memang hanya dilakukan satu kali, maka apakah tidak lebih baik jika nanti malam kita bergerak mengiringi petugas sandi? Kita siap didekat sasaran menjelang fajar dan jika petugas sandi selesai mengamati keadaan, kita bergeser maju. Sementara itu, di ujung malam semua prajurit sempat beristirahat. Dengan demikian kita akan menghemat waktu satu hari.”

“Aku ingin memberi kesempatan para prajurit mempersiapkan diri sebaik-baiknya” berkata Pangeran Singasari.

“Semuanya sudah siap. Bahkan rasa-rasanya hampir menjadi jemu untuk menunggu. Apalagi mereka yang sudah lebih lama berada disini“ berkata Kiai Gringsing.

Pangeran Singasari termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku sudah mengambil keputusan. Bahkan para perwira sudah mengetahui. Kurang baik rasanya jika aku mencabutnya dan menyusuli dengan rencana baru.”

“Tidak apa Pangeran”, jawab Ki Jayaraga, “jika benar Pangeran mengajukan satu hari rencana penyergapan itu, maka tentu akan disambut dengan gembira oleh para perwira yang merasa sudah terlalu lama menunggu itu.”

“Sayang” berkata Pangeran Singasari, “sebagai Panglima perintahku tidak berubah-rubah. Dengan demikian maka orang-orangku tidak akan mengalami kebingungan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mengira bahwa pendapatnya tentu akan sia-sia. Tetapi ia tidak lagi dapat dipersalahkan, karena ia menjadi acuh tidak acuh.

Dengan nada dalam Kiai Gringsing berkata, “Segala sesuatunya terserah kepada Pangeran. Namun aku dan Ki Jayaraga telah memberikan pendapatku.”

“Terima kasih. Aku sudah mendengar pendapatmu. Tetapi sayang, bahwa kau memberikan pertimbangan setelah aku menjatuhkan keputusan.”

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga tidak dapat memaksa. Mereka memang harus tunduk kepada semua keputusan Panglima yang memimpin pasukan itu.

Sementara itu Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga juga tidak dapat mengatakan bahwa keduanya telah berhasil mendekati, bahkan memasuki padepokan yang akan menjadi sasaran sergapan pasukan Mataram, karena dengan demikian, maka keduanya akan dianggap tidak mematuhi paugeran dari sekelompok pasukan dari Mataram itu.

Karena itu, maka keduanya hanya dapat menunggu, saat-saat yang telah diputuskan oleh Pangeran Singasari.

Sejenak kemudian, maka kedua orang tua itu pun telah meninggalkan Pangeran Singasari dan Senapati terpilihnya. Ketika kedua orang tua itu berada diantara para perwira, maka memang terasa kegelisahan diantara mereka, karena mereka merasa telah terlalu lama menunggu. Tetapi para perwira itu tidak dapat berbuat apa-apa. Pimpinan dan perintah memang berada di tangan Pangeran Singasari.

Malam yang ditentukan itu, Pangeran Singasari telah memerintahkan dua kelompok petugas sandi, yang masing-masing terdiri dari dua orang untuk melihat-lihat keadaan padepokan. Dengan ancar-ancar sebagaimana pernah didengar oleh Pangeran Singasari dari Panembahan Senapati yang telah mendapat laporan sebelumnya, maka kedua orang itu melakukan tugas mereka.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat mengatakannya bahwa sasaran yang akan didatangi oleh kedua kelompok pasukan sandi itu sangat berbahaya. Apalagi mereka seakan-akan dapat mengerti isyarat yang diberikan oleh ular naga yang mereka sebut bernama Kiai Nagaraga itu.

Karena itulah maka kedua orang itu telah berusaha mengambil cara yang lain.

Keduanya telah dengan diam-diam mendahului kedua kelompok itu dan berusaha menemuinya di jalur jalan yang akan mereka lalui.

Kedua kelompok yang berangkat setelah malam menjadi semakin dalam itu pun terkejut, ketika di sisi lereng bukit, tiba-tiba saja muncul bayangan dua orang dalam kegelapan. Karena itu, maka keempat orang itu pun dengan sigapnya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun keempat orang itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam ketika mereka mengetahui bahwa kedua orang itu adalah Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga.

“Kenapa Kiai berdua ada disini?” bertanya salah seorang diantara petugas sandi itu.

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga saling berpandangan, sejenak. Namun kemudian Kiai Gringsing pun berkata, “Ki Sanak. Kami berdua berniat meringankan tugas Ki Sanak. Terserah kepada Ki Sanak. Apakah Ki Sanak menerima dengan senang hati atau justru sebaliknya.”

“Setiap pertolongan atas tugas-tugas kami, sepanjang tidak bertentangan dengan perintah Pangeran Singasari akan sangat menguntungkan kami. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih”, sahut salah seorang diantara mereka.

“Tetapi aku sudah melanggar perintah Pangeran Singasari” berkata Kiai gringsing.

Keempat orang itu menjadi tegang. Orang yang menjawab pernyataan Kiai Gringsing itu berkata pula, “Kenapa Kiai melanggar perintah Pangeran Singasari yang diangkat oleh Panembahan Senapati menjadi panglima dari kelompok kecil ini.”

“Maksudku baik” berkata Kiai Gringsing, “dengarlah.”

Keempat orang itu memandang Kiai Gringsing dengan tatapan mata yang tajam. Sementara itu Kiai Gringsing menceriterakan apa yang sudah dilakukan.

“Sebenarnya aku dapat berdiam diri. Tidak seorang pun tahu apa yang sudah aku lakukan itu” berkata Kiai Gringsing, “tetapi aku ternyata merasa perlu memberitahukan kepada kalian berempat. Semua itu aku lakukan demi keselamatan kalian dan seluruh pasukan. Jika kalian tidak menyadari, bahwa orang-orang Nagaraga dalam kesiagaan justru karena ular yang berada didalam goa itu dianggap memberi isyarat, maka hal itu akan sangat berbahaya bagi kalian. Meskipun menurut dugaanku, ular yang ada didalam goa itu sekedar lapar. Jika menjadi kebiasaan, bahwa jika ular itu berteriak maka seekor kambing akan dikorbankan, maka ular itu akan terbiasa. Jika ia lapar, maka ia akan memanggil korbannya.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Ternyata keterangan Kiai Gringsing selanjutnya sangat mempermudah tugas-tugas mereka yang berat. Sedikit keterangan tentang padepokan itu sendiri telah membuat mereka mempunyai gambaran, apa yang sebaiknya dilakukan.

Dalam pada itu Kiai Gringsing pun berkata, “Nah, terserah kepada Ki Sanak. Apakah kami dianggap telah melakukan pelanggaran yang harus dihukum atau tidak.

Keempat orang itu termangu-mangu, sementara Ki Jayaraga berkata, “Kalian dapat membuktikan, apakah yang dikatakan oleh Kiai Gringsing sekedar membual atau berguna bagi kalian. Demikianlah kalian kembali dari tugas, kalian dapat mengambil satu sikap tentang kami.”

“Baiklah Kiai. Kami akan melanjutkan perjalanan. Terima kasih atas petunjuk Kiai. Sementara itu, jika keterangan Kiai memang menguntungkan kami seperti yang dikatakan oleh Ki Jayaraga, sudah barang tentu kami tidak akan menyulitkan kedudukan Kiai disini. Apalagi kami tahu, siapakah Kiai berdua. Terutama Kiai Gringsing” berkata salah seorang dari mereka, “sebenarnyalah bahwa kami percaya kepada semua keterangan Kiai. Apakah Kiai akan pergi lagi ke padepokan itu sekarang?

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Tidak. Kami tidak akan pergi malam ini. Kami akan menenangkan Raden Rangga yang sudah gatal-gatal untuk pergi ke padepokan itu.”

Keempat orang itu pun sekali lagi mengucapkan terima kasih. Kemudian mereka pun telah melanjutkan perjalanan menuju ke padepokan. Namun mereka telah banyak mendapat bahan dan bekal dari kedua orang tua itu.

Sebenarnyalah, ketika mereka mendekati padepokan itu, maka terasa oleh keempat orang yang berpisah menjadi dua kelompok itu, bahwa tentu terjadi peningkatan kesiagaan di padepokan itu.

Mereka akhirnya merasa, bahwa petunjuk Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga itu sangat berarti bagi tugas mereka. Bahkan mereka mengakui, tanpa petunjuk dari kedua orang tua, tugas mereka akan terasa sangat berat, dan barangkali mereka telah terperosok kedalam daerah pengawasan orang-orang Nagaraga.

Berbeda dengan Kiai Gringsing, maka keempat orang itu tidak sempat memasuki padepokan. Meskipun mereka sudah mendapat bekal dan petunjuk-petunjuk dari kedua orang tua itu. Namun ketika mereka berhasil menjenguk kedalam dengan meloncat keatas dinding yang gelap dan agak jauh dari pengamatan para petugas di padepokan itu, mereka melihat kesiagaan yang sangat tinggi.

Meskipun demikian keempat orang itu telah mendapat gambaran, apakah yang akan dilaporkan kepada Pangeran Singasari dan sekaligus pendapat mereka, apa yang sebaiknya dilakukan oleh pasukan Mataram saat pasukan itu menyerang padepokan.

Pada waktu yang sudah ditentukan maka keempat orang itu telah berkumpul kembali. Mereka pun dengan tergesa-gesa meninggalkan lingkungan padepokan Nagaraga dan kembali ke perkemahan orang-orang Mataram.

Dengan jelas mereka dapat melaporkan, apa yang mereka lihat. Bahkan mereka kadang-kadang lupa, apakah yang dikatakan itu benar-benar hasil pengamatan mereka atau keterangan yang mereka dengar dari Kiai Gringsing. Namun dengan demikian keterangan keempat orang itu dianggap terlalu lengkap sehingga Pangeran Singasari berkata, “Kalian pantas mendapat anugerah karena kalian berhasil melakukan tugas kalian dengan sangat baik, asal saja kalian tidak membual. Hal ini akan kita lihat kelak jika kita sudah memasuki padepokan itu.

Demikianlah, maka keempat itu pun merasa berbangga atas pujian dari Pangeran Singasari, meskipun didalam hati mereka mengakui, seandainya mereka tidak bertemu dengan Kiai Gringsing, mungkin mereka justru telah terperosok kedalam penjagaan lawan yang sangat ketat.

Namun sebenarnyalah bahwa yang mereka laporkan adalah apa yang sebenarnya memang terdapat di padepokan Nagaraga. Karena baik yang mereka lihat dan mereka amati sendiri, maupun yang mereka dengar dari Kiai Gringsing benar-benar memang terdapat di padepokan itu, sehingga dengan demikian maka mereka tidak merasa cemas, bahwa akhirnya Pangeran Singasari akan membuktikan kebenaran laporan mereka.

Di hari berikutnya Pangeran Singasari ingin membicarakan dengan beberapa Senapati hasil pengamatan petugas sandinya dan merencanakan sergapan dimalam berikutnya. Karena itu, maka ia pun telah memerintahkan memanggil tidak lebih dari lima orang. Namun ternyata bahwa Pangeran Singasari teringat juga kepada Kiai gringsing dan Ki Jayaraga. Karena itu, maka dalam pembicaraan itu, Pangeran Singasari telah memanggil pula Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga.

Raden Rangga yang tidak ikut dipanggil oleh pamanda-nya berkata kepada Kiai Gringsing, “Jika pamanda memang tidak menghendaki aku berada disini, sebaiknya aku dan Glagah Putih meninggalkan pasukan ini dan melanjutkan tugas yang telah kami lakukan. Kami memang mengemban tugas yang berbeda dengan pamanda Pangeran Singasari.”

“Jangan Raden” berkata Kiai Gringsing yang menyadari bahwa Raden Rangga memang menjadi kesal, “marilah kita bersama-sama melakukan rencana ayahanda Panembahan Senapati dengan sebaik-baiknya. Jika Raden melakukan tugas secara terpisah, mungkin akan terjadi benturan-benturan yang dapat merugikan kita semuanya. Dan berarti bahwa ayahanda Raden telah gagal apa pun alasannya.

“Raden” berkata Ki Jayaraga kemudian, “setuju atau tidak setuju dengan sikap Pangeran Singasari, kita semua memang wajib berusaha mencapai hasil yang sebesar-besarnya. Karena itu, maka kami berdua, maksudku aku dan Kiai Gringsing berusaha untuk membantu sejauh-jauhnya tugas yang diemban oleh Pangeran Singasari sekarang, meskipun sikap Pangeran Singasari kepada kami berdua kadang-kadang kurang menyenangkan hati kami. Tetapi kami tidak boleh mementingkan diri kami sendiri dalam keseluruhan tugas ini.”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kiai. Sebenarnyalah bahwa aku hanya memandang keberhasilan rencana ayahanda Panembahan Senapati. Aku akan berusaha untuk mengekang diri.”

“Bagus Raden”, sahut Kiai Gringsing, “agaknya Raden telah dapat memisahkan tanggapan Raden atas sikap pamanda Raden itu dengan keseluruhan tugas yang dibebankan kepada kita semuanya.”

“Bukanlah itu yang Kiai kehendaki?”, sahut Raden Rangga, “untunglah kami berdua bertemu dengan Kiai. Jika tidak, memang mungkin kami melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan rencana pamanda Pangeran Singasari.”

“Terima kasih Raden” berkata Kiai Gringsing, “sekarang, kami berdua akan menghadap Pangeran Singasari.”

Raden Rangga tidak menjawab. Sepeninggal Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga maka ia pun kemudian duduk dengan lesu di sebuah batu yang terdapat didekat sebuah gerumbul. Dengan kesal tiba-tiba tangannya telah mempermainkan tongkatnya, disentuhnya gerumbul perdu di dekatnya dengan ujung tongkatnya. Nampaknya kekesalan hatinya telah tersalur lewat tongkat pring gadingnya, sehingga gerumbul itu tiba-tiba telah menjadi bagaikan dipanggang api. Daun-daunnya menjadi layu dan kering.

Untunglah ketika asap mulai mengepul, Glagah Putih memperingatkannya, “Raden. Kita berada dilingkungan pengawasan orang-orang Nagaraga. Jika asap mengepul dari gerumbul yang terbakar oleh kekecewaan hati Raden, maka orang-orang Nagaraga akan tertarik karenanya.”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menyelipkan tongkatnya di punggungnya sambil berkata, “Salah gerumbul itu sendiri.”

Namun asap tidak jadi mengepul lebih banyak dan gerumbul itu pun belum sempat terbakar.

Sabungsari yang menyaksikan hal itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar kelebihan anak muda itu. Ternyata bahwa yang didengarnya itu tidak berlebih-lebihan. Raden Rangga memang seorang yang memiliki kemampuan diluar perhitungan.

Sementara itu Pangeran Singasari telah membicarakan rencana yang akan dilakukannya malam mendatang. Ia telah mengatur pasukannya dan memberikan perintah-perintah kepada para Senapati. Berdasarkan atas laporan para petugas sandi, maka Pangeran Singasari telah menentukan apa yang akan dilakukan oleh pasukan itu.

“Padepokan itu adalah padepokan yang besar” berkata Pangeran Singasari, “padepokan itu dibagi-bagi dalam beberapa bagian yang agaknya memang terpisah, meskipun dalam keseluruhan padepokan itu satu. Dengan demikian, maka kita harus menyesuaikan diri. Orang dalam pasukan kita hanya sedikit. Tetapi sebagian besar dari kita adalah para perwira. Karena itu, dengan jumlah orang yang sedikit, kita harus mampu menghancurkan padepokan yang besar itu. Meskipun demikian, agaknya di setiap bagian didalam padepokan itu terisi oleh hanya beberapa orang guru dan murid, dalam lingkungan perguruan besar Nagaraga. Yang paling banyak tentu hanyalah para cantrik atau pemula yang belum memiliki pegangan yang kuat. Namun dipadepokan itu tentu ada seorang pemimpin tertinggi atau katakanlah guru besar dari perguruan Nagaraga.”

Pangeran Singasari pun kemudian mencoba untuk mengurai laporan yang diberikan oleh keempat orang yang bertugas mengamati padepokan itu. Sebagian memang hasil penglihatan mereka sendiri, namun sebagian yang lain adalah justru yang mereka dengar dari Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga tidak akan mengurangi penghargaan Pangeran Singasari kepada para petugas sandinya. Karena itu, keduanya sama sekali tidak menyahut.

Ternyata bahwa Pangeran Singasari telah membagi pasukannya sebanyak bagian yang diperhitungkan ada di padepokan itu. Mereka tidak akan menyerang dari pintu gerbang dalam pasukan yang utuh serta mendesak dari segala arah. Tetapi menurut perhitungan Pangeran Singasari akan lebih cepat berhasil jika prajurit Mataram itu terbagi dan langsung memasuki bagian-bagian yang membagi padepokan itu. Mereka bertugas dan bertanggung jawab untuk menghancurkan sasaran, sehingga diharapkan pada waktu yang hampir bersamaan tugas mereka akan selesai. Jika ada kesulitan maka perwira yang bertanggung jawab dilingkaran itu harus segera memberikan laporan.

“Hari ini kita harus sudah membagi diri” berkata Pangeran Singasari, “aku akan memberikan petunjuk-petunjuk khusus bagi setiap orang yang bertanggung jawab pada kelompok-kelompok itu. Menurut laporan para petugas sandi, di padepokan itu ada enam bagian yang dibatasi dengan dinding kayu meskipun tidak begitu tinggi. Nanti aku akan berbicara langsung dengan enam orang yang akan memimpin kelompok-kelompok yang khusus, yang akan memasuki pintu gerbang. Aku akan memimpin sendiri pasukan yang khusus itu untuk bertemu langsung dengan pimpinan tertinggi padepokan itu.”

Berdasarkan pembicaraannya dengan para Senapati terdekat, maka Pangeran Singasari pun telah menyusun kelompok-kelompok yang jumlahnya menjadi tujuh itu. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang Senapati yang terpercaya. Diantara mereka adalah orang-orang yang sedang berbicara dengan Pangeran Singasari itu.

Namun dalam pada itu, Pangeran Singasari sama sekali tidak menyebut-nyebut Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga. Apalagi Sabungsari, Glagah Putih dan Raden Rangga.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun telah, mencoba untuk menyela, “Pangeran, apakah yang Pangeran perintahkan kepada kami?”

“Siapa saja?” bertanya Pangeran Singasari.

“Kami berlima” awan Kiai Gringsing. Pangeran Singasari mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bukankah kalian bukan prajurit?”

“Seorang diantara kami adalah prajurit Mataram -jawab Kiai Gringsing.

“Tetapi bukan dari kesatuan yang ditentukan”, jawab Pangeran Singasari, “bukankah Sabungsari seorang perwira muda dari pasukan Mataram yang berada di Jati Anom di bawah pimpinan Untara?”

“Ya Pangeran”, jawab Kiai Gringsing, “tetapi perintah bagi Sabungsari datang dari Panembahan Senapati.”

“Jika demikian, lakukan perintah itu?”, jawab Pangeran Singasari.

“Perintah itu mengatakan, bahwa Sabungsari akan bergabung dengan pasukan itu sebagaimana aku dan Ki Jayaraga. Selanjutnya Raden Rangga dan Glagah Putih yang kami jumpai di daerah ini juga dalam tugas yang diperintahkan Panembahan Senapati” berkata Kiai Gringsing.

Pangeran Singasari mengangguk-angguk. Lalu katanya,, “Jika demikian, Kiai berdua dan anak-anak itu akan berada bersama kami. Tetapi dengan syarat, bahwa kalian hanya akan melakukan sesuatu atas perintah kami. -”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah Pangeran. Kami akan berada dalam kelompok khusus yang akan memasuki padepokan bersama Pangeran. Kami akan melakukan semua perintah Pangeran sebatas kemampuan kami.”

“Baiklah” berkata Pangeran Singasari, “karena itu dalam pertemuan antara para pemimpin kelompok sebagaimana telah kita bicarakan, Kiai tidak perlu hadir. Karena akulah pemimpin kelompok ketujuh itu, sehingga cukup aku sajalah yang akan mewakili seluruh kelompok.”

“Segala perintah akan kami lakukan”, jawab Kiai Gringsing.

“Perintah selanjutnya akan diberikan saat pasukan ini berangkat” berkata Pangeran Singasari selanjutnya.

Namun pertemuan itu sempat menentukan, kapan mereka harus berangkat menuju sasaran.

“Kita harus memperhitungkan bahwa saat fajar naik ke langit, kita sudah berada di sekitar padepokan. Sebelum matahari terbit, kita akan meloncat masuk dan menuju ke sasaran masing-masing. Gambaran tentang dinding didalam padepokan, akan aku berikan nanti dalam pertemuan diantara para pemimpin kelompok. Kita akan berbicara dengan terperinci” berkata Pangeran Singasari.

Dengan demikian maka pertemuan itu pun telah selesai. Mereka yang ikut dalam pembicaraan itu pun telah meninggalkan tempat mereka masing-masing.

Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga pun telah kembali pula ke tempat mereka. Sabungsari, Glagah Putih dan terutama Raden Rangga rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Karena itu, demikian Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga duduk di antara mereka, Raden Rangga pun bertanya, “Begitu lama Kiai? –

“Ah, bukankah hanya sesaat saja?”, sahut Kiai Gringsing.

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Mungkin waktu di tempat Kiai berbincang dengan pamanda Pangeran Singasari berbeda dengan waktu disini.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Raden sekali-sekali masih juga merajuk.”

Raden Rangga memandang wajah Kiai Gringsing sekilas. Namun kemudian katanya, “Sekali-sekali menyenangkan juga“ Raden Rangga berhenti sejenak, namun kemudian katanya, “Apa yang dibicarakan?”

Kiai Gringsing, Ki Jayaraga, Sabungsari, Glagah Putih dan Raden Rangga pun kemudian duduk melingkar. Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga telah menceriterakan hasil pembicaraan mereka dengan Pangeran Singasari. Namun kedua orang tua itu cukup berhati-hati sehingga tidak menyinggung perasaan Raden Rangga. Tidak semua yang mereka dengar mereka katakan kepada anak-anak muda itu.

Akhirnya Kiai Gringsing pun berkata, “Nanti kita berangkat”

“Nanti atau besok?” bertanya Raden Rangga, “Bukankah kita akan berangkat menjelang pagi.”

“Raden benar. Kita akan berangkat lewat tengah malam” jawab Kiai Gringsing.

Anak-anak muda yang mendengarkan keterangan Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga itu mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan tugas-tugas yang harus mereka lakukan besok. Namun anak-anak muda itu merasa kecewa bahwa mereka akan selalu berada bersama dengan Pangeran Singasari itu sendiri. Dengan demikian maka gerak mereka akan sangat terbatas. Bahkan sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Singasari, bahwa mereka tidak boleh berbuat apa-apa tanpa perintah.

Tetapi mereka memang tidak dapat memilih sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gringsing.

Namun bagaimanapun juga Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga berhati-hati sekali menyampaikan hasil pembicaraan mereka dengan Pangeran Singasari, namun kekecewaan masih nampak jelas membayang di wajah Raden Rangga. Tetapi agaknya Raden Rangga masih berusaha untuk menahan diri.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 218)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-17/

Terima kasih kepada Ki Mahesa & Ki Kuncung yang telah me-retype jilid ini

 

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s