ADBM3-231

<<kembali | lanjut >>

DENGAN demikian maka Agung Sedayu pun menyadari, bahwa persoalan antara Mataram dan Madiun masih belum mereda, dan justru menjadi semakin panas.

“Agaknya beberapa orang mengambil sikap masing-masing.”  berkata Agung Sedayu.

“Ya”  jawab Untara, “beberapa orang dari Mataram telah mengambil sikap sendiri tanpa menunggu perintah Panembahan Madiun. Sementara itu Panembahan Senapati telah memerintahkan Pangeran Singasari untuk berada di istana dan melepaskan kedudukannya diantara pasukannya.”

“Kenapa dengan Pangeran Singasari? Bukankah ia telah melakukan tugasnya dengan berhasil?”  bertanya Agung Sedayu.

“Pangeran Singasari memang berhasil di Padepokan Nagaraga. Tetapi ternyata Pangeran Singasari telah mengambil langkah-langkah sendiri, sehingga Panembahan Senapati terpaksa menempatkan Pangeran Singasari di dekatnya.”  jawab Untara.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tentu bukan hanya Pangeran Singasari. Tentu masih ada orang-orang Mataram yang didorong oleh kepemimpinan pribadi telah melakukan langkah-langkah yang justru bertentangan dengan usaha yang ditempuh oleh Panembahan Senapati. Mungkin Pangeran Singasari telah bertindak dengan landasan kepentingan Mataram meskipun langkahnya tidak sesuai dengan kebijaksanaan Panembahan Senapati, sementara orang lain benar-benar tidak ada hubungannya dengan kepentingan Mataram.

“Karena itu Agung Sedayu.”  berkata Untara selanjutnya, “hati-hatilah di setiap langkahmu. Jika kau sembuh benar, maka kau pun harus melakukan setiap perintah dengan baik. Aku kira perintah Panembahan Senapati telah disampaikan pula ke Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan Menoreh jangan mengambil kebijaksanaan sendiri menghadapi Madiun.”

“Aku mengerti kakang.”  jawab Agung Sedayu. Namun ia pun bertanya, “Bagaimana dengan Sangkal Putung?”

“Sangkal Putung juga diperhitungkan oleh Mataram. Kekuatan Kademangan Sangkal Putung diperkirakan sama dengan kekuatan prajurit segelar-sepapan. Yang pantas diperhitungkan bukan saja para pengawalnya, tetapi hampir setiap laki-laki di Sangkal Putung, terutama anak-anak mudanya mempunyai kemampuan seorang prajurit. Namun seandainya perintah itu belum dianggap perlu disampaikan kepada Sangkal Putung oleh Panembahan Senapati, maka kau dapat mengatakannya meskipun bukan merupakan perintah resmi. Namun sikap itu perlu diketahui oleh Sangkal Putung. Bahkan pada saatnya Panembahan Senapati tentu akan memberikan pertanda kepadaku untuk menghimpun kekuatan dari lingkungan ini atas limpahan kuasanya, tanpa mencampuri pemerintahan di daerah masing-masing.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara itu Untara pun berkata selanjutnya, “Aku juga sedang memberikan pesan kepada setiap Kademangan di sekitar Jati Anom, termasuk Kademangan Jati Anom sendiri, agar mereka mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang mungkin akan menjadi gawat. Setidak-tidaknya di setiap Kademangan agar mempersiapkan sepasukan pengawal terpilih yang dapat bergerak setiap saat. Bukan saja di Kademangannya sendiri, tetapi mampu bergerak keluar dari Kademangannya. Aku juga sudah menganjurkan di setiap Kademangan untuk menghitung jumlah kuda yang dapat dipergunakan untuk kepentingan gerak cepat para pengawal itu.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa Mataram benar-benar telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang nampaknya justru semakin kalut. Sepeninggal Pangeran Benawa, maka rasa-rasanya jarak antara Mataram dan Madiun menjadi sangat jauh.

Demikianlah, maka setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah mohon diri untuk pergi ke Sangkal Putung dan seterusnya kembali ke Tanah Perdikan.

“Kau juga harus berhati-hati Glagah Putih.”  desis Untara.

“Ya, kakang.”  jawab Glagah Putih sambil mengangguk kecil.

“Nah, semoga adi Sekar Mirah dapat memberikan peringatan kepada Glagah Putih jika anak itu masih saja nakal.”  berkata Untara.

Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “Aku masih harus menarik telinganya setiap kali Glagah Putih berendam di kali mencari ikan di pliridan, kakang.”

Untara pun tertawa. Sementara isterinya berkata, “Jika nakal jangan diberi makan sehari. Ia akan menjadi jera.”

Sekar Mirah pun tertawa pula, sementara Agung Sedayu menjawab, “Jika ia tidak diberi makan di rumah ia akan pergi ke rumah Ki Gede untuk mencari makanan.”

Glagah Putih hanya tersenyum-senyum saja. Namun sebenarnya ia berkeberatan jika ia masih saja diperlakukan seperti anak-anak. Agung Sedayu dan Sekar Mirah memang tidak memperlakukannya demikian. Tetapi Untara yang jarang-jarang bertemu agaknya masih saja mengenang Glagah Putih di masa kanak-kanaknya. Sebagai kanak-kanak Glagah Putih memang termasuk anak yang banyak berbuat dan selalu ingin tahu.

Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah siap meninggalkan rumah Untara. Beberapa orang prajurit sempat mengamati kuda Glagah Putih yang besar dan tegar.

Glagah Putih yang mengetahui kudanya menjadi perhatian, telah berdesis, “Peninggalan Raden Rangga.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Memang Raden Rangga mempunyai kegemaran seperti ayahandanya, bermain-main dengan kuda. Ternyata bahwa Glagah Putih termasuk seorang anak muda yang beruntung mendapat hadiah seekor kuda yang tegar.

Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah meninggalkan Jati Anom. Mereka berkuda di cerahnya matahari yang mulai menggatalkan kulit.

Randu Alas yang dianggap menjadi sarang Gendruwo Bermata Satu masih tetap berada di tempatnya. Sementara jalan pun telah menjadi semakin baik dan lebih terpelihara. Tidak lagi terdapat semak-semak liar di pinggir-pinggir jalan. Bahkan tanggul parit pun menjadi teratur rapi. Sedangkan airnya yang jernih mengalir tanpa henti di sepanjang musim.

Kedatangan ketiga orang itu di Sangkal Putung disambut dengan gembira. Bukan saja oleh keluarga Ki Demang. Tetapi sebelum mereka memasuki Kademangan, beberapa orang yang melihat mereka lewat sempat menyapa dengan ramah.

Seorang perempuan yang sudah separo baya dengan ramah telah menyapa Sekar Mirah, “Mirah. Kau sekarang bertambah cantik.”

“Ah Bibi.”  sahut Sekar Mirah sambil tersenyum, “aku telah bertambah tua.”

Tanpa maksud apa-apa perempuan itu tiba-tiba saja bertanya, “Kapan kau menyusul isteri kakakmu, he?”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Sementara itu perempuan itu meneruskan, “Sebentar lagi kakakmu akan memomong anak. Apakah kau juga?”

Wajah Sekar Mirah tiba-tiba saja bagaikan lampu yang kehabisan minyak. Tetapi segera ia berusaha untuk menghapus kesan itu. Bahkan ia sempat tersenyum sambil berkata, “Doakan saja Bibi.”

“Ya. Aku akan berdoa untukmu.”  sahut perempuan itu.

Sekar Mirah pun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Ia berusaha menghapuskan kesan itu dari dalam hatinya, karena ia tidak mau mempengaruhi perasaan Agung Sedayu. Sebagai isterinya Sekar Mirah pun mengerti, bahwa Agung Sedayu akan dapat merasa bersalah jika hal itu selalu dibicarakannya.

Demikianlah, mereka pun kemudian telah berada di Kademangan Sangkal Putung, Keluarga Kademangan dengan akrab telah menyambut mereka.

“Bagaimana keadaanmu?”  bertanya Ki Demang kepada Agung Sedayu, demikian Agung Sedayu naik ke pendapa.

“Atas doa Ki Demang, keadaanku sudah menjadi baik.”  jawab Agung Sedayu.

“Jadi kekuatanmu telah pulih kembali?”  bertanya Ki Demang pula.

“Ya Ki Demang.”  Agung Sedayu mengangguk kecil, “agaknya memang demikian.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Swandaru sempat pula bertanya kepada Glagah Putih, “Bagaimana dengan lukamu?”

“Sudah sembuh kakang.”  jawab Glagah Putih, “meskipun bekasnya masih sedikit basah. Tetapi sudah tidak berarti apa-apa lagi.”

“Bukankah kau masih mengobatinya terus?”  bertanya Swandaru.

“Ya kakang. Aku masih mengolesnya dengan obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing. Sementara itu, aku masih juga harus menelan reramuan obat pula.”  jawab Glagah Putih.

“Syukurlah jika kalian benar-benar telah menjadi baik.”  desis Swandaru.

Sementara itu Sekar Mirah tidak ikut naik ke pendapa bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi sebagaimana ia berada di rumahnya sendiri, maka Sekar Mirah pun telah langsung masuk ke dapur menemani Pandan Wangi dan pembantu-pembantu rumah itu menyediakan hidangan minuman dan makanan. Namun sambil bekerja Pandan Wangi dan Sekar Mirah ternyata ramai berbincang tentang bermacam-macam hal. Bahkan Pandan Wangi pun ingin tahu apa yang telah terjadi di satu malam, sehingga Agung Sedayu dan Glagah Putih telah terluka.

“Kau tentu sibuk juga malam itu, Mirah?”  bertanya Pandan Wangi.

“Aku berada di barak induk bersama Kiai Gringsing.”  jawab Sekar Mirah, “tetapi ternyata ada juga diantara mereka yang sempat menyusup sampai ke barak induk itu, sehingga aku pun terpaksa mencegahnya masuk kedalam.”

“Tongkatmulah tentu yang berbicara.”  gumam Pandan Wangi.

“Aku telah dipaksa untuk melakukannya.”  jawab Sekar Mirah.

Pandan Wangi tersenyum. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka peristiwa yang terjadi di padepokan itu tidak dapat lepas begitu saja dari perhatiannya.

Namun demikian, mereka tidak lupa akan tugas mereka. Sebentar kemudian maka hidangan pun telah siap. Sekar Mirah dan Pandan Wangi sendirilah yang kemudian membawanya ke pendapa. Bahkan keduanya tidak lagi segera kembali ke dapur, karena Keduanya pun ikut pula berbincang di pendapa.

“Luka kakang Agung Sedayu parah.”  berkata Swandaru kepada isterinya, “tetapi ternyata Guru benar-benar seorang yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan hampir sempurna. Dalam waktu dekat, kakang Agung Sedayu sudah sembuh sama sekali, meskipun barangkali segala sesuatunya masih belum sebagaimana semula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memerlukan waktu sepuluh hari lebih.”

“Tetapi tanpa perawatan Guru, mungkin kakang memerlukan waktu satu bahkan mungkin dua bulan. Semula aku memang mengira bahwa kakang akan berada di padepokan itu untuk lebih dari satu bulan.”  berkata Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengakui kebenaran pendapat adik seperguruannya itu. Tanpa perawatan dan obat-obat yang baik, maka Agung Sedayu tentu memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk menyembuhkan luka-luka di bagian dalam tubuhnya meskipun hal itu juga tergantung pada ketahanan tubuh Agung Sedayu. Jika ketahanan tubuh Agung Sedayu tidak melampaui takaran, maka penyembuhannya pun akan menjadi sangat sulit dan lama.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terbersit didalam hati Agung Sedayu satu pertanyaan, karena Kiai Gringsing tidak mampu mengatasi kesulitan didalam dirinya sendiri.

Tetapi sebagaimana ia sering mendengar dari gurunya itu pula, bahwa berapa pun tinggi ilmu dan pengetahuan seseorang, namun ia tidak akan dapat keluar dari batasan-batasan yang telah ditetapkan bagi hidupnya.

Demikianlah, maka sebagaimana diinginkan oleh Sekar Mirah, maka Agung Sedayu suami isteri dan Glagah Putih akan tinggal untuk beberapa hari di Sangkal Putung. Namun demikian, ternyata Sekar Mirah pun dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Meskipun ia ingin tinggal di rumah tempat ia bermain-main di masa kecilnya asal lama, namun karena mereka sudah lama terpaksa berada di padepokan Kiai Gringsing lebih dari sepuluh hari, maka Sekar Mirah tidak akan memaksakan keinginannya itu. Sekar Mirah pun tahu, bahwa orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh tentu sudah gelisah menunggu mereka.

Karena itu, maka Sekar Mirah pun telah berkata kepada Agung Sedayu pula satu kesempatan, “Aku kira kau tidak perlu terlalu lama disini kakang.”

“Bukankah kau ingin berada di rumah ini untuk waktu yang agak panjang?”  bertanya Agung Sedayu.

“Hanya untuk mengenang masa kanak-kanak. Tetapi agaknya keadaan tidak mengijinkan kali ini. Mungkin pada kesempatan lain.”  berkata Sekar Mirah.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Agaknya kita memang harus segera kembali ke Tanah Perdikan.”

“Ya. Suasana yang kurang menguntungkan. Kakang tentu sangat diperlukan di Tanah Perdikan.”  berkata Sekar Mirah pula.

Tetapi kedua orang suami isteri itu juga tidak akan dengan serta merta minta diri. Mereka telah memutuskan untuk berada di Sangkal Putung selama tiga hari tiga malam.

Selama itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih sempat melihat kesiagaan para pengawal dan anak-anak muda Sangkal Putung. Swandaru memang telah membentuk kelompok khusus yang memiliki kemampuan bergerak dan berkemampuan lebih baik dari yang lain. Namun bukan berarti bahwa yang lain tidak mendapat perhatiannya. Di Sangkal Putung telah pula dipersiapkan beberapa ekor kuda yang dapat dipergunakan setiap saat untuk bergerak.

“Kau dapat mencoba mengetrapkannya di Tanah Perdikan Menoreh. Kakang.”  berkata Swandaru kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Aku akan mencobanya.”

Glagah Putih lah yang mengerutkan keningnya. Menurut penglihatannya, apa yang berlaku di Sangkal Putung itu telah berlaku di Tanah Perdikan Menoreh. Di Tanah Perdikan Menoreh telah pula terbentuk sekelompok khusus pengawal yang dianggap paling baik di setiap padukuhan.

Ketika Glagah Putih itu diluar sadarnya berpaling kepada Sekar Mirah, maka dilihatnya mbokayunya itu menarik nafas panjang.

Dalam pada itu, sambil melihat-lihat perkembangan Sangkal Putung, Swandaru berkata, “Kami telah mengirimkan beberapa orang ke Kademangan-kademangan tetangga untuk memenuhi permintaan mereka. Sebagaimana dianjurkan oleh kakang Untara, maka setiap Kademangan harus mempersiap-kan diri sebaik-baiknya menghadapi perkembangan keadaan yang tidak menentu ini. Beberapa Kademangan yang lebih dekat dengan Jati Anom telah minta para prajurit untuk memberikan latihan-latihan keprajuritan. Tetapi Kademangan-kademangan terdekat dengan Sangkal Putung, telah minta kepada Sangkal Putung untuk memberikan latihan-latihan bagi para pengawal dan anak-anak mudanya, atas persetujuan kakang Untara, karena kakang Untara pun tidak akan dapat mengabaikan kenyataan, bahwa para pengawal kami disini memiliki kemampuan seorang prajurit.”

Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk. Sekali-sekali ia memuji keberhasilan Swandaru yang ternyata bergerak lebih cepat dan lebih berarti daripada ayahnya yang masih memangku jabatan Demang di Sangkal Putung. Sebagaimana ternyata para Demang tetangganya dalam pertemuan-pertemuan yang sering diadakan telah menyata-kan, bahwa mereka merasa iri bahwa di Sangkal Putung terdapat seorang anak muda seperti Swandaru.

“Apa yang Ki Demang lakukan atas anak itu di masa kecilnya?”  bertanya para Demang itu kepada Ki Demang Sangkal Putung.

“Tidak apa-apa.”  jawab Ki Demang Sangkal Putung, “mungkin satu kebetulan bahwa di masa remajanya, pasukan Pajang berada di Sangkal Putung untuk menghadapi sisa-sisa pasukan Jipang dibawah pimpinan Alap-alap Jalatunda dan Pande Besi, Sedang Gabus. Namun lebih dari itu, sisa-sisa pasukan Jipang itu berada dibawah kekuasaan langsung Macan Kepatihan yang memiliki kemampuan diatas kemampuan orang kebanyakan. He, kalian ingat itu?”

“Ya.”  jawab para Demang itu, “Agaknya Ki Demang Sangkal Putung mampu mengambil keuntungan kehadiran Senapati Untara di Sangkal Putung untuk menghadapi Tohpati pada waktu itu.”

Demikianlah untuk waktu-waktu yang sudah ditentukan, Agung Sedayu dan Sekar Mirah benar-benar telah melihat seluruh isi Kademangan Sangkal Putung. Sebagai anak Sangkal Putung, Sekar Mirah ingin melihat kembali dan mengenang apa yang pernah terjadi lebih-lebih yang menyangkut dirinya, di Sangkal Putung. Namun Sekar Mirah pun ingin melihat pula apakah yang pernah dibanggakan oleh kakaknya.

Namun pada hari yang terakhir, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih berada di Sangkal Putung, menjelang malam yang ketiga, mereka telah dikejutkan oleh kehadiran sekelompok prajurit Mataram yang dipimpin oleh perwira muda. Seorang perwira yang bernama Jaka Rampan. Seorang perwira muda yang memiliki nama yang dengan cepat menanjak di kalangan prajurit Mataram. Namun karena untuk waktu yang agak lama ia bertugas di Mataram, sebagaimana para perwira yang berada dibawah pimpinan Untara, maka Jaka Rampan belum mengenal secara pribadi para pemimpin di Sangkal Putung.

Dengan hormat dan ramah Ki Demang telah menerima sekelompok pasukan Mataram itu di rumahnya. Dipersilah-kannya beberapa orang perwira yang ada didalam pasukan itu untuk naik ke pendapa, sementara para prajurit yang bersamanya dipersilahkan duduk-duduk di sepanjang serambi gandok.

Setelah mempertanyakan nama dan kesatuan para prajurit Mataram itu, maka Ki Demang pun telah bertanya tentang keperluan perwira yang masih muda itu.

“Aku mengemban perintah Panembahan Senapati.”  berkata perwira muda itu.

“Barangkali tugas yang dibebankan kepada Ki Sanak itu menyangkut Kademangan Sangkal Putung?”  bertanya Ki Demang.

“Ya.”  jawab Jaka Rampan.

 “Apakah perintah itu?”  bertanya Ki Demang pula.

“Ki Demang. Atas nama Panembahan Senapati di Mataram, aku mendapat perintah untuk membawa sepasukan pengawal dari Sangkal Putung bersamaku untuk memperkuat sekelompok prajuritku,”  berkata perwira muda itu.

Ki Demang mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Untuk apa Ki Sanak?”

“Aku mengemban perintah untuk menusuk langsung ke belakang garis pertahanan yang sudah disusun oleh Madiun.”  berkata perwira muda yang bernama Jaka Rampan itu.

Ki Demang termangu-mangu. Ia belum pernah mengenal perwira muda itu. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu.

“Kenapa Ki Demang nampak bingung?”  suara Jaka Rampan menjadi lebih keras, “perintah ini harus kita laksanakan. Maksudku, kami dan Ki Demang.”

“Ki Sanak. Bukan maksud kami meragukan kebijaksanaan Panembahan Senapati.”  berkata Ki Demang, “tetapi karena kami belum pernah mengenal Ki Sanak, apakah Ki Sanak bersedia menunjukkan pertanda apa pun yang diberikan oleh Panembahan Senapati?”

Wajah perwira muda itu menjadi merah. Namun ia pun berusaha untuk menahan diri. Bahkan ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Mungkin Ki Demang memang belum mengenal aku, sebagaimana aku belum mengenal Ki Demang. Aku memang cukup lama bertugas di sekitar Ganjur. Memang bukan pasukan yang besar, tetapi pasukanku mempunyai tugas untuk mengawal pintu gerbang Mataram di bagian Selatan. Bukan tidak mustahil, bahwa ada kekuatan yang sengaja ingin menusuk Mataram justru dari Selatan, satu arah yang dianggap tidak perlu diperhitungkan. Tetapi ternyata Panembahan Senapati cukup hati-hati sehingga menempatkan pasukan di Ganjur.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa sebenarnya perintah Panembahan Senapati itu? Mengambil sepasukan pengawal untuk bertempur bersama Ki Sanak di belakang garis batas Madiun?”

“Ya.”  jawab Jaka Rampan. Namun katanya kemudian, “Tetapi garis batas itu sebenarnya tidak ada. Mataram berkuasa atas Madiun, sehingga yang ada adalah garis batas kekuasaan Madiun yang dilimpahkan oleh Panembahan Senapati yang dapat dihapuskan setiap saat.”

Ki Demang menjadi termangu-mangu sejenak. Dalam pada itu, Swandaru, Agung Sedayu dan Glagah Putih yang ikut menerima kedatangan pasukan prajurit dari Mataram itu, mendengarkan pembicaraan Ki Demang itu dengan sungguh-sungguh. Bahkan pada saat Ki Demang masih ragu-ragu, maka Swandaru pun berkata dengan mantap, “Jika hal itu dikehendaki oleh Panembahan Senapati, kami sudah siap. Kami akan dapat memanggil pengawal Kademangan yang terbaik untuk melakukan tugas yang berat tetapi memberikan kebanggaan itu.”

“Terima kasih.”  jawab Jaka Rampan. Namun ia pun ternyata, “Siapakah kau?”

“Anakku.”  Ki Demang lah yang menjawab, “ialah yang sekarang ini lebih banyak berbuat bagi Kademangan ini daripada aku. Terutama dalam hubungannya dengan kekuatan di Sangkal Putung.”

“Bagus.”  jawab Jaka Rampan, “kesediaanmu tentu sangat dihargai oleh Panembahan Senapati. Jika demikian, maka besok kita akan segera mempersiapkan diri. Kita tidak boleh kehilangan waktu. Pada waktu satu bulan sejak perintah jatuh dari Panembahan Senapati, aku harus sudah menghadap untuk memberikan laporan.”

“Kapan pun dikehendaki, kami sudah siap.”  berkata Swandaru pula.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah menyela, “Tetapi Ki Sanak. Kau belum menunjukkan pertanda yang ditanyakan oleh Ki Demang.”

Perwira yang bernama Jaka Rampan itu memandang wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Sorot matanya bagaikan memancarkan penyesalan yang sangat atas pertanyaan Ki Demang yang telah disinggung lagi oleh Agung Sedayu itu.

Dengan nada rendah ia bertanya, “Siapa lagi orang ini Ki Demang?”

“Anak menantuku.”  jawab Ki Demang.

Jaka Rampan mengangguk-angguk. Katanya seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Yang seorang anak Ki Demang dan yang seorang menantunya. Jadi merekalah yang telah membentuk Kademangan Sangkal Putung ini menjadi Kademangan yang besar dan kuat. Tetapi sayang, bahwa sikap mereka agak berbeda.”

“Ki Sanak.”  berkata Ki Demang kemudian, “bukankah pertanyaanku itu wajar?”

“Jadi Ki Demang tidak yakin melihat pakaian kami dan sikap kami?”  bertanya orang itu.

“Maaf Ki Sanak.”  jawab Ki Demang, “bukan tidak yakin apalagi tidak percaya. Tetapi bukankah kita harus menjunjung martabat Panembahan Senapati sebagai pemimpin tertinggi Mataram?”

“Aku tidak mau mendengar pertanyaan itu. Aku hanya tahu mengemban perintah Panembahan Senapati.”  jawab Jaka Rampan.

“Apakah kita tidak dapat mempercayainya begitu saja, ayah?”  bertanya Swandaru yang ternyata juga mulai berpikir.

“Bukan begitu. Segala sesuatunya agar kita dapat melakukan tugas kita sebaik-baiknya, sebagaimana aku katakan tadi, justru untuk menjunjung kuasa Panembahan Senapati itu sendiri.”  jawab Ki Demang.

“Aku tidak mau dipersulit dengan hal-hal yang tidak berarti seperti itu. Aku minta disiapkan tiga puluh orang terbaik yang senilai dengan prajurit. Aku telah membawa tigapuluh orang pula bersamaku. Kita akan menempuh perjalanan jauh. Kita tidak akan menuju ke Madiun lewat jalan raya yang menghubungkan Mataram, Pajang dan Madiun. Tetapi kita akan menempuh jalan simpang yang kecil dan barangkali jarang dilalui orang. Kita akan menembus kedalam wilayah Madiun dan mengejutkan mereka, agar mereka tidak menjadi terlalu sombong. Sikap mereka sudah keterlaluan sehingga Panembahan Senapati menjadi marah.”  berkata Jaka Rampan.

“Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “Panembahan Senapati adalah orang yang sangat berhati-hati. Apalagi Panembahan Senapati telah berniat untuk mencari penyelesaian yang lebih baik daripada perang.”

“Omong kosong.”  wajah Jaka Rampan mulai berkerut, “Kau tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan oleh Panembahan Senapati menghadapi Madiun. Nah, jangan bertanya lagi. Aku minta disiapkan sejumlah pengawal.”

Tetapi Ki Demang lah yang menjawab, “Ki Sanak. Kami minta maaf, bahwa kami masih harus bertanya lagi tentang pertanda itu. Baru kemudian kami akan dapat menentukan sikap. Sebab terus terang, kami ragu-ragu bahwa Panembahan Senapati memerintahkan sepasukan prajurit dari Mataram untuk menyusup ke belakang garis batas Madiun dan Mataram.”

“Kenapa kau ragu-ragu? Pangeran Singasari juga mendapat tugas untuk menghancurkan padepokan Nagaraga. Bukankah kita semuanya tahu, bahwa padepokan Nagaraga adalah sebuah padepokan yang mengakui kuasa Madiun. Bukan Mataram.”

Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “Ki Sanak. Jika Panembahan Senapati memerintahkan untuk menghancurkan Nagaraga, sebab sudah terbukti, bahwa Nagaraga telah berani menyerang langsung pribadi Panembahan Senapati. Serangan secara pribadi itu telah memberikan alasan yang kuat bagi Panembahan Senapati untuk menghukum Padepokan Nagaraga.”

“Darimana kau tahu hal itu?”  bertanya Jaka Rampan.

“Glagah Putih ikut dalam tugas penumpasan padepokan Nagaraga.”  Swandaru lah yang menyahut.

“Siapa Glagah Putih itu?”  bertanya Jaka Rampan.

“Ia adalah kawan dekat Raden Rangga semasa hidupnya.”  jawab Swandaru.

“Yang memimpin pasukan ke Nagaraga adalah Pangeran Singasari.”  geram Jaka Rampan.

“Glagah Putih memang berangkat lebih dahulu bersama Raden Rangga pada waktu itu.”  sahut Agung Sedayu.

“Siapakah yang mengatakan hal itu kepadamu?”  bertanya Jaka Rampan.

“Glagah Putih sendiri.”  jawab Agung Sedayu, “ia ada disini sekarang.”

Jaka Rampan langsung dapat menebak, yang manakah yang bernama Glagah Putih. Ketika ia kemudian memandanginya, maka ia pun berdesis didalam hatinya, “Anak yang masih sangat muda ini.” Namun Jaka Rampan pun tahu pula, bahwa Raden Rangga juga masih sangat muda. Bahkan barangkali lebih muda dari Glagah Putih itu.

Untuk beberapa saat Jaka Rampan termangu-mangu. Agaknya di Sangkal Putung terdapat juga orang-orang yang sempat berpikir. Mereka tidak sekedar dengan kepala tunduk dan mata tertutup menjalankan perintah.

“Nah Ki Sanak.”  berkata Agung Sedayu kemudian, “sebaiknya Ki Sanak tidak merasa bersalah, atau kurang berwibawa jika Ki Sanak menunjukkan pertanda perintah Panembahan Senapati itu. Karena kita pun tahu betapa besarnya kuasa Panembahan Senapati.”

Jaka Rampan menjadi semakin gelisah. Tetapi ia merasa paling tidak senang terhadap Agung Sedayu yang telah berani bersikap tegas itu. Namun Jaka Rampan pun merasa bahwa ia harus berhati-hati menghadapi para pemimpin di Kademangan Sangkal Putung itu.

Meskipun demikian, ia masih juga berusaha untuk menekan Ki Demang. Katanya, “Ki Demang. Kaulah yang bertanggung jawab disini. Keputusan itu harus kau pertanggung jawabkan kepada Panembahan Senapati. Jika aku gagal membawa orang-orangmu, maka kau akan dapat, dianggap dengan sengaja menghambat tugas keprajuritan Mataram. Apalagi dalam keadaan gawat seperti sekarang ini.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku akan menjalankan segala perintahnya jika Ki Sanak sudi menunjukkan pertanda kuasa dari Panembahan Senapati.”

“Cukup.”  bentak Jaka Rampan, “aku adalah utusan yang membawa kuasa sepenuhnya dari Panembahan Senapati. Jika kau tidak mendengar perintahku, berarti kau tidak mendengarkan perintah Panembahan Senapati. Dan kau tahu, apa artinya itu.”

“Jangan salah paham Ki Sanak.”  sahut Ki Demang.

Tetapi sebelum ia meneruskan kata-katanya, Jaka Rampan telah memotongnya, “Aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. Jawab pertanyaanku. Kau mau menjalankan perintah Panembahan Senapati atau tidak.”

Ki Demang tidak segera menjawab. Ketika ia memandang Agung Sedayu, maka Agung Sedayu pun berkata, “Tentu Ki Sanak. Ki Demang tentu akan menjalankan segala perintah Panembahan Senapati, karena Panembahan Senapati itu memang junjungan kita semuanya.”

“Jika demikian, sediakan tigapuluh orang pengawal pilihan, yang akan pergi bersamaku besok pagi-pagi.”  berkata Jaka Rampan.

“Tetapi itu bukan perintah Panembahan Senapati. Atau katakan, belum meyakinkan bahwa perintah itu adalah perintah Panembahan Senapati. Sebagaimana yang akan kau lakukan itu sendiri.”  jawab Agung Sedayu. Lalu, ”Ternyata bahwa orang-orang dari Madiun juga banyak yang telah melakukan tindakan diluar pengetahuan dan kendali Panembahan Madiun. Jika kau melakukannya juga, maka yang kau lakukan adalah sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nagaraga. Bahkan yang kau lakukan justru lebih keras lagi. Apa artinya enam puluh orang bagi kekuatan Madiun. Aku tahu, bahwa dengan enam puluh orang kalian akan memotong ranting-ranting yang ada pada batang Kadipaten Madiun. Tetapi kau salah hitung. Enam puluh orangmu itu akan menjadi daun-daun kering yang masuk kedalam apinya kekuatan Madiun.”

“Omong kosong kau pengecut.”  bentak Jaka Rampan, “kau kira aku dengan ceroboh mengambil sikap seperti ini? Sudah cukup lama orang-orangku dalam tugas sandi menyelidiki kelemahan Madiun. Kelemahan-kelemahan itu kemudian aku sampaikan langsung kepada Panembahan Senapati yang kemudian memerintahkan aku membawa pasukan menuju ke Belakang garis pertahanan Madiun serta mengambil tiga puluh orang pengawal dari Kademangan ini.”

“Ki Sanak.”  jawab Ki Demang, “sudahlah. Jika Ki Sanak bersedia menunjukkan pertanda perintah Panembahan Senapati, semuanya akan dapat kau lakukan sebagaimana kau katakan.”

“Persetan.”  geram Jaka Rampan, “jika kau menolak. jangan menyesal. Kau tahu bahwa aku membawa pasukan. Kau tahu bahwa tugas setiap prajurit Mataram adalah menghancurkan pemberontakan.”

“Maksud Ki Sanak?”  bertanya Ki Demang.

“Sangkal Putung telah memberontak terhadap Panembahan Senapati.”  geram Jaka Rampan.

“Kau jangan asal saja bersikap Ki Sanak.”  Agung Sedayu lah yang menyahut, sementara Swandaru memang menjadi bimbang. Ia kurang mengerti hubungan kuasa Panembahan Senapati dengan orang-orang yang mendapat perintahnya atau tidak.

“Aku masih memberimu kesempatan”  berkata Jaka Rampan, “jika kesempatan ini tidak kau pergunakan, maka Sangkal Putung akan menjadi karang abang.”

Wajah Swandaru memang menjadi merah. Namun ternyata Agung Sedayu masih sempat berpikir dengan baik. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah. Tunggulah sampai lewat tengah malam. Kami akan membicarakannya dengan para bebahu yang akan segera kami panggil. Dengan demikian maka keputusan yang kami ambil akan dipertanggung jawabkan oleh seluruh pemimpin Kademangan ini.”

Ki Demang memang menjadi agak bingung karena sikap Agung Sedayu yang tiba-tiba menjadi lunak itu. Tetapi ia tidak membantah. Mungkin Agung Sedayu sekedar mencari kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi mereka atau perhitungan-perhitungan lain untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh Sangkal Putung itu.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu telah minta kepada Ki Demang untuk memerintahkan beberapa orang memberikan tempat kepada Jaka Rampan untuk beristirahat sambil menunggu keputusan orang-orang Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, ketika Jaka Rampan itu telah berada di gandok, maka ia pun telah memanggil beberapa orang pembantunya. Dengan singkat Jaka Rampan memberitahukan kemungkinan yang bakal terjadi.

“Aku masih harus menunggu. Mereka akan membicarakan dengan para bebahu.”  berkata Jaka Rampan. Lalu, “namun yang agaknya paling cerdik adalah menantu Ki Demang itu.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”  bertanya seorang perwira bawahannya.

“Menunggu dan bersiap-siap.”  berkata Jaka Rampan, “Tetapi aku yakin, bahwa menantu Ki Demang yang cerdik itu tidak cukup mempunyai keberanian untuk menolak.”

Para perwira bawahannya mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya, “Apakah kita dapat yakin, bahwa menantu Ki Demang itu tidak akan berani menolak?”

“Mula-mula nampaknya ia dengan keras menolak. Tetapi ketika aku mulai mengancam, maka ia menjadi sedikit lunak, dan bersedia membicarakannya dengan para bebahu yang akan dipanggil sekarang juga.”  jawab Jaka Rampan.

Sementara itu yang lain pun bertanya, “Jika mereka menolak, apakah kita akan benar-benar menghancurkan Kademangan itu.”

Jaka Rampan termangu-mangu. Katanya, “Kademangan ini adalah Kademangan yang kuat. Jika mereka menolak, maka kita akan meninggalkan Kademangan ini dan mengancam, bahwa kita akan kembali lagi. Kita akan membawa kekuatan yang lebih besar. Kita akan menangkap orang-orang yang bertanggungjawab atas penolakan itu.”

“Darimana kita akan mendapat kekuatan yang lebih besar itu?”  bertanya salah seorang perwira yang lain.

“Aku kira pasukan paman Gondang Bangah sudah ada di Semangkak. Sebelum mereka berangkat ke Madiun dan menyusup sebagaimana kita lakukan sesuai dengan rencana, melalui jalan kaki masing-masing, maka biarlah kita menghukum orang-orang Sangkal Putung. Mereka akan berpikir berulang kali untuk benar-benar melawan prajurit Mataram dalam kesatuan yang utuh.”  jawab Jaka Rampan.

“Jika demikian, apakah tidak sebaiknya satu dua orang diantara kita pergi ke Semangkak untuk meyakinkan apakah pasukan itu sudah ada disana?”  berkata salah seorang perwiranya.

“Paman Gondang Bangah tidak pernah meleset dari rencana yang telah tersusun.”  berkata Jaka Rampan, “Jika benar-benar orang-orang Kademangan ini menolak, maka kita minta agar mereka menyiapkan pengawal segelar sepapan. Kita benar-benar akan datang dengan pasukan paman Gondang Bangah.”

Para perwiranya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata, “Aku kira orang-orang Kademangan ini tidak akan berani bertempur melawan prajurit Mataram dalam kelengkapannya sebagai prajurit. Bagaimanapun juga, mereka akan dibayangi oleh tuduhan telah memberontak terhadap Mataram karena telah melawan prajurit-prajuritnya.”

Jaka Rampan mengangguk-angguk. Sementara itu seorang prajuritnya telah memberitahukan bahwa pertemuan dengan para bebahu telah dimulai. Satu-satu para bebahu telah datang berkumpul dan berbincang di pringgitan, langsung dipimpin oleh Ki Demang sendiri.

“Bagaimana dengan anak dan menantunya?”  bertanya Jaka Rampan.

“Mereka ada juga diantara para bebahu. Tetapi aku tidak dapat mendengar apa yang telah mereka bicarakan.”  berkata prajurit itu.

“Biarlah kita menunggu sampai tengah malam.”  berkata Jaka Rampan, “jika kita tidak telaten, maka kita akan menentukan sikap.”

Beberapa saat, Jaka Rampan menunggu. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban. Ketika terdengar kentongan di regol dipukul dengan nada dara muluk, maka ia pun bertanya kepada seorang perwiranya, “Apakah bunyi kentongan itu mengisyaratkan tengah malam?”

“Ya”  jawab perwira itu, “agaknya saat itu memang telah menginjak pada pertengahan malam.”

“Dan pembicaraan itu belum selesai?”  bertanya Jaka Rampan.

“Agaknya belum.”  jawab prajurit itu.

Jaka Rampan masih menyabarkan diri dan menunggu beberapa saat. Namun kemudian ia menjadi tidak sabar, karena pembicaraan di pringgitan nampaknya masih saja belum berkeputusan.

Karena itu, maka Jaka Rampan pun kemudian berkata, “Aku akan pergi ke pringgitan.”

Dua orang perwira bawahannya mengikutinya. Dengan dada tengadah Jaka Rampan telah hadir di pringgitan.

“Nah, katakan, apakah keputusan kalian?”  bertanya Jaka Rampan.

Ki Demang memang menjadi agak bingung. Ia pun kemudian memandang Agung Sedayu dengan agak gelisah.

“Ki Sanak.”  berkata Agung Sedayu kemudian, “aku mohon Ki Sanak bersabar sebentar. Kita masih belum selesai. Ada beberapa persoalan yang masih harus kami pecahkan.”

“Jangan mengada-ada.”  geram Jaka Rampan, “sebenarnya kalian tidak mempunyai pilihan.”

Sementara Agung Sedayu termangu-mangu, maka Glagah Putih telah keluar dari ruang dalam. Ia pun kemudian duduk di belakang Agung Sedayu sambil menyeka peluhnya.

“Sudah?”  bisik Agung Sedayu.

“Ya”  jawab Glagah Putih pendek.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kau memaksa untuk menjawab, biarlah aku mewakili Ki Demang. Kami dengan terpaksa sekali tidak dapat memenuhi permintaan Ki Sanak, menyediakan tigapuluh orang pengawal terpilih.”

Wajah Jaka Rampan menjadi merah. Katanya dengan nada berat, “Apakah sudah kalian pertimbangkan masak-masak sikap kalian.”

“Sudah Ki Sanak.”  jawab Agung Sedayu.

Tetapi Jaka Rampan berkata, “Aku ingin mendengar jawaban Ki Demang sendiri. Yang menjadi Demang disini bukan kau.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Ia pun kemudian berkata kepada Ki Demang, “Silahkan menjawab Ki Demang.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “jawabku sama dengan jawaban menantuku.”

Telinga Jaka Rampan bagaikan tersentuh api. Jawaban itu sama sekali tidak dikehendakinya. Karena itu, maka ia pun membentak, “jawab sesuai dengan pertanyaanku.”

Ki Demang mengerutkan keningnya, sementara Swandaru beringsut setapak maju.

“Baiklah.”  berkata Ki Demang. Lalu katanya, “Ki Sanak. Jawabku tidak berubah. Setelah kami berbicara dengan para bebahu, maka kami berkesimpulan bahwa kami berkeberatan mengirimkan anak-anak kami bersama dengan Ki Sanak jika Ki Sanak tetap tidak mau menunjukkan pertanda dari Mataram bahwa Ki Sanak memang membawa kuasa Panembahan Senapati.”

“Persetan.”  geram Jaka Rampan, “dengan demikian maka kalian benar-benar memberontak terhadap Mataram. Kalian lebih percaya kepada sepotong benda apakah itu lencana atau tunggul kerajaan daripada kepada prajurit-prajurit Mataram.” Jaka Rampan berhenti sejenak, lalu, “jika demikian tunggu sebentar. Kami benar-benar akan mengambil tindakan. Tidak seorang pun yang diperkenankan keluar dari kademangan ini.”

“Maksud Ki Sanak?”  bertanya Ki Demang.

“Kalian kami jadikan tawanan kami.”  geram Jaka Rampan.

“Tidak mungkin.”  geram Swandaru, “kalian tidak berhak menahan kami di rumah kami sendiri.”

Tetapi Agung Sedayu memberi isyarat kepada Swandaru untuk tenang, sementara ia berbisik kepada Glagah Putih, “Kau dengar pernyataan Jaka Rampan itu?”

Diam-diam Glagah Putih pun telah bergeser meninggalkan pringgitan itu. Dalam pada itu, seorang diantara perwira bawahan Jaka Rampan telah meninggalkan pringgitan itu pula. Ia tahu apa yang harus dikerjakan. Sejenak kemudian, maka para prajurit Mataram itu pun telah menebar di halaman, sedangkan dua orang diantara mereka dengan tergesa-gesa telah pergi ke Semangkak.

Jaka Rampan sendiri masih berada di pringgitan. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku masih memberi kesempatan kepada kalian. Aku akan menunggu di halaman, diantara prajurit-prajuritku. Jika kalian benar-benar menolak, maka kalian akan berhadapan dengan prajurit Mataram yang sedang mengemban tugas. Aku tahu, bahwa Kademangan ini adalah Kademangan yang kuat. Tetapi kami adalah prajurit-prajurit.”

Jaka Rampan itu pun kemudian telah bangkit dan meninggalkan pringgitan itu sambil berkata, “Semua orang tinggal di tempat masing-masing.”

Wajah Swandaru lah yang menjadi merah. Tetapi setiap kali Agung Sedayu memberikan isyarat kepadanya untuk mematuhi perintah Jaka Rampan itu, agar mereka tetap tinggal di tempat masing-masing.

Dalam pada itu, dengan sigap para prajurit Mataram telah menempatkan diri dalam kelompok-kelompok kecil di tempat-tempat terpenting di halaman. Mereka mengawasi setiap perkembangan keadaan dan setiap gerak para pengawal yang menjadi agak kebingungan karena mereka tidak mendapat perintah apa pun juga. Namun para pengawal yang terlatih itu pun segera bersiaga pula. Mereka tahu bahwa para pemimpin Kademangan ada di pringgitan. Dalam keadaan yang gawat, maka mereka yakin, perintah itu akan diberikan dari pringgitan. Mungkin oleh Ki Demang sendiri, atau oleh Swandaru atau Agung Sedayu. Sementara para pengawal yang ada di gardu pun telah siap untuk membunyikan kentongan jika memang diperlukan.

Namun para pengawal Kademangan Sangkal Putung memang sama sekali tidak bermimpi untuk bertempur melawan prajurit Mataram. Selama ini justru mereka berusaha untuk mengabdikan diri mereka kepada Mataram.

Ketika Jaka Rampan dan para perwira prajurit Mataram telah turun dari pringgitan dan mengatur prajurit mereka, Agung Sedayu pun berkata, “Kita akan menunggu perkembangan keadaan.”

“Aku tidak telaten.”  geram Swandaru.

“Kita tidak dapat dengan serta merta bertempur melawan prajurit Mataram dalam pakaian dan kelengkapan keprajuritan mereka. Apalagi kita tahu benar, bahwa Jaka Rampan memang seorang perwira yang namanya mulai menanjak. Namun kita pun tidak bersalah karena Jaka Rampan tidak mau dan bahkan mungkin memang tidak memiliki pertanda kuasa Panembahan Senapati. Mungkin Jaka Rampan telah kejangkitan nafsu yang membuatnya untuk mengambil keuntungan dari rencananya sendiri menyusup ke Madiun.”  berkata Agung Sedayu.

Dalam pada itu, ternyata beberapa saat kemudian, sepasukan prajurit Mataram yang lain, yang dipimpin oleh seorang Senapati yang bernama Gondang Bangah telah memasuki halaman Kademangan. Sebagaimana pasukan Jaka Rampan, maka pasukan ini pun memakai kelengkapan pertanda prajurit Mataram, sehingga dengan demikian, maka dua pasukan Mataram yang dipimpin oleh Jaka Rampan dan Gondang Bangah telah berada di halaman Kademangan dan menebar sampai ke halaman samping.

Jaka Rampan yang menyambut kedatangan Gondang Bangah berkata sambil tersenyum, “Kita menghadapi sikap para pemimpin Sangkal Putung yang sombong.”

Gondang Bangah tertawa. Ia pun kemudian bersama Jaka Rampan telah melangkah ke pringgitan. Namun tanpa naik ke pringgitan itu Gondang Bangah berteriak, “Apakah kalian menolak perintah adi Jaka Rampan?”

Yang menjawab adalah Agung Sedayu sambil duduk, “Kami hanya ingin melihat pertanda perintah Panembahan Senapati. Apakah kau membawa Ki Sanak? Dan barangkali Ki Sanak merasa perlu untuk memperkenalkan diri kepada kami?”

Gondang Bangah mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Siapakah kau? Apakah kau Demang disini?”

“Menantu Ki Demang.”  sahut Jaka Rampan, “ia adalah orang yang terlalu banyak berbicara disini. Melampaui Ki Demang sendiri. Bahkan anak laki-laki Ki Demang semula untuk setuju untuk mengumpulkan tigapuluh orang pengawal yang akan bersama-sama dengan pasukanku melakukan tugas yang berat di belakang garis pertahanan Madiun. Tetapi menantu Ki Demang itu telah mencairkan kembali kesediaan itu karena ia terlalu banyak berbicara.”

“Nah, jika demikian, atas nama adi Jaka Rampan sekali lagi aku bertanya, apakah kalian bersedia membantu pasukan Mataram atau tidak. Aku tidak mau mendengar jawaban siapa pun selain Ki Demang.”  berkata Gondang Bangah.

Ki Demang memandang Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti. Namun ia pun kemudian menjawab, “Maaf Ki Sanak. Dengan cara seperti ini kami tidak dapat membantu kalian. Sekali lagi aku jelaskan, bahwa Sangkal Putung akan tetap setia kepada Mataram sepanjang kami yakin bahwa kami benar-benar berhadapan dengan limpahan kuasa Panembahan Senapati dengan pertanda yang sah.”

“Baik. Kami tidak akan memberi kesempatan lagi. Karena itu, maka Ki Demang, anak dan menantunya akan menjadi tawanan kami. Kalian bertiga akan kami bawa menghadap Panembahan Senapati untuk diadili.”  berkata Gondang Bangah.

“Persoalannya sama saja Ki Sanak.”  berkata Ki Demang, “apakah kalian berhak menangkap kami dan membawa kami menghadap Panembahan Senapati? Aku tidak yakin, bahwa Ki Sanak benar-benar akan membawa kami menghadap Panembahan Senapati. Ki Sanak dapat memperlakukan kami diluar batas paugeran dan untuk selama-lamanya kami tidak akan sampai kehadapan Panembahan Senapati tetapi juga tidak kembali ke Sangkal Putung.”

“Ki Demang sudah berani memfitnah kami?”  bentak Gondang Bangah.

“Aku menjadi tidak telaten, kakang Gondang.”  berkata Jaka Rampan. Lalu katanya kepada Ki Demang, “Ki Demang. Apakah kita benar-benar harus beradu kekuatan? Apakah Kademangan Sangkal Putung benar-benar ingin bertempur melawan pasukan Mataram? Yang ada disini sekarang, bukan hanya pasukanku. Tetapi juga pasukan kakang Gondang Bangah. Nah, perhatikan keadaan ini.”

Ki Demang memang menjadi bingung. Tetapi Agung Sedayu telah memotong, setuju atau tidak disetujui oleh Gondang Bangah, katanya, “Kami tidak dapat tunduk kepada perintah siapa pun yang tidak jelas bagi kami.”

“Bagus.”  teriak Gondang Bangah yang agaknya mempunyai darah yang lebih mudah mendidih daripada Jaka Rampan, “kita akan bertempur.”

Halaman rumah Ki Demang itu menjadi tegang. Para prajurit Mataram dibawah pimpinan Jaka Rampan dan Gondang Bangah itu pun telah bersiap. Mereka telah berada di tempat-tempat yang mapan, yang dengan mudah dapat menyergap para pemimpin Kademangan yang berada di pringgitan.

Sementara itu, para pengawal pun telah bersiap pula. Tetapi jumlah mereka sama sekali tidak memadai. Para pengawal tidak bersiap untuk membenturkan kekuatan melawan para prajurit Mataram. Mereka pun tidak tahu apakah mereka harus melawan dan melindungi Kademangan itu seandainya para prajurit Mataram benar-benar akan menangkap Ki Demang.

Tetapi para pengawal melihat di pringgitan itu ada Ki Demang, Ki Jagabaya, Agung Sedayu dan Swandaru. Sementara itu mereka pun tahu, bahwa didalam rumah itu masih ada Glagah Putih, Sekar Mirah dan barangkali juga Pandan Wangi meskipun keadaannya sedang tidak menguntungkan.

Dalam puncak ketegangan itu terdengar suara Gondang Bangah, “Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak berubah sikap, maka aku akan menjatuhkan perintah untuk menangkap kalian dengan kekerasan. Jika pengawal-pengawal Kademangan ini berusaha melindungi kalian, atau ada diantara kalian yang melawan, maka kami benar-benar akan bertindak sesuai dengan tugas kami sebagai prajurit.”

Suasana menjadi semakin tegang, ketika Gondang Bangah itu mulai menghitung “Satu”,  sementara para prajurit Mataram pun mulai bergerak. Kemudian, ”Dua, ……………….”

Dan yang mengejutkan itu terjadilah. Selagi para prajurit dibawah pimpinan Jaka Rampan dan Gondang Bangah mulai melangkah mendekati pendapa dan pringgitan, sementara para pemimpin Kademangan Sangkal Putung itu masih saja duduk betapa pun ketegangan mencekam jantung, terdengarlah suara di seketheng mendahului mulut Gondang Bangah. “Jangan ucapkan bilangan berikutnya.”

Semua orang telah berpaling kearah suara itu. Seseorang melangkah dalam kegelapan keluar dari seketheng dibawah cahaya lampu yang suram. Namun semua orang segera mengenalnya, bahwa orang itu pun mengenakan pakaian seorang prajurit Mataram dengan pertanda seorang Senapati.

Sebelum orang-orang itu sempat mengenali wajahnya, maka beberapa orang perwira yang lain telah muncul pula diikuti oleh dua orang yang membawa tunggul pertanda kesatuan serta kelebet kebesaran.

Gondang Bangah dan Jaka Rampan bagaikan membeku melihat para perwira itu. Sementara dari seketheng itu pula serta seketheng di sisi yang sebelah, telah muncul pasukan yang berkelengkapan lengkap sebagai prajurit Mataram pula.

Mereka pun menebar justru diluar tebaran para prajurit Mataram yang telah hadir lebih dahulu. Bahkan kemudian di regol halaman itu pun telah muncul pula sekelompok prajurit Mataram yang lain.

Dalam ketegangan itu, maka seorang perwira dalam kedudukan sebagai Senapati Besar prajurit Mataram telah naik ke pendapa. Orang itu adalah Untara. Sedangkan para bebahu Kademangan itu bersama Agung Sedayu dan Swandaru pun telah berdiri pula.

“Atas nama kuasa Panembahan Senapati, aku perintahkan Jaka Rampan dan Gondang Bangah mengumpulkan prajurit-prajuritnya.” terdengar suara Untara berat membelah keheningan yang mencekam.

Sejenak Jaka Rampan dan Gondang Bangah berdiri bagaikan membeku. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa di Kademangan Sangkal Putung itu telah hadir pula Senapati Besar Untara dengan pasukannya. Demikian cepatnya Senapati itu mendengar apa yang terjadi di Sangkal Putung.

Selagi Jaka Rampan dan Gondang Bangah termangu-mangu, maka Glagah Putih telah menyusupi lewat pintu pringgitan dan berdiri di belakang Agung Sedayu. Agung Sedayu berpaling kepadanya sambil tersenyum, sementara Glagah Putih pun tersenyum pula.

Jaka Rampan pun kemudian menyadari, bahwa orang-orang Sangkal Putung itu telah memperdayainya. Mereka minta waktu untuk membicarakan dengan para bebahu sampai lewat tengah malam adalah sekedar usaha menunda waktu. Sementara itu, mereka telah mengirimkan utusan untuk menemui Untara di Jati Anom.

“Yang datang tentu pasukan berkuda.”  berkata Jaka Rampan didalam hatinya. Tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang mendengar derap kaki kuda. Namun jika yang datang itu bukan pasukan berkuda, tentu memerlukan waktu yang lebih panjang.

Jaka Rampan menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Senapati Besar Untara yang telah mereka kenal sebagai seorang Senapati yang tegak pada paugeran dan tugas-tugas keprajuritan.

Karena itu, maka Jaka Rampan dan Gondang Bangah pun telah mengumpulkan prajurit mereka masing-masing. Sementara prajurit Mataram dibawah pimpinan langsung Senapati Besar Untara mengamati mereka dengan seksama.

Demikian para prajurit itu sudah berkumpul, maka Untara pun berkata, “Jaka Rampan dan Gondang Bangah, marilah, kita akan berbicara dengan para bebahu Kademangan Sangkal Putung.”

Untara tidak menunggu keduanya. Ia pun kemudian telah melangkah menuju ke pringgitan. Bersama para bebahu dan orang-orang yang ada di pringgitan, maka ia pun telah duduk pula.

Sejenak kemudian, maka Jaka Rampan dan Gondang Bangah pun telah hadir pula diantara mereka.

Sejenak suasana masih terasa tegang. Jaka Rampan dan Gondang Bangah duduk sambil menundukkan kepalanya. Mereka menyesali kebodohan mereka, sehingga mereka justru telah terjebak.

“Siapakah yang memerintahkan kalian untuk pergi ke belakang garis pertahanan Madiun?”  tiba-tiba saja Untara itu pun bertanya.

Baik Jaka Rampan maupun Gondang Bangah tidak menjawab. Mereka justru menjadi semakin menundukkan kepala.

“Aku tahu bahwa kalian telah mengambil kebijaksanaan sendiri.” berkata Untara, “tetapi apa alasan kalian meninggalkan kesatuan kalian? Kalian tidak dapat begitu saja pergi untuk waktu yang lama tanpa alasan yang dapat diterima akal.”

Jaka Rampan dan Gondang Bangah tidak segera menjawab. Sementara Untara pun berkata, “Baiklah jika kalian berkeberatan untuk memberikan keterangan sekarang. Kalian akan kami bawa menghadap ke Mataram. Bahkan jika perlu, aku akan mohon untuk membawa kalian menghadap langsung Panembahan Senapati.”

Gondang Bangah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Memang ada niat untuk membantu mempercepat penyelesaian persoalan antara Mataram dan Madiun. Kami memang ingin memperlemah kedudukan Madiun di belakang garis pertahanan mereka.”

“Satu rencana yang mustahil.”  berkata Untara, “kalian tidak mempelajari keadaan dengan sebaik-baiknya. Mungkin kalian dapat memasuki daerah di belakang garis pertahanan. Namun sesudah itu apa yang dapat kalian lakukan? Kalian akan menyerang kesatuan-kesatuan prajurit Madiun atau akan melakukan pengacauan di belakang garis pertahanan? Atau dengan kekuatan yang kalian bawa, kalian akan berusaha langsung menyerang istana Panembahan Madiun atau rencana yang lain?”

Gondang Bangah semakin menunduk. Dengan suara lemah ia berkata, “Kami belum mempunyai rencana terperinci.”

“Mungkin kalian ingin memanfaatkan keadaan ini untuk mendapat pujian atau bahkan kemudian mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Aku tahu bahwa nama kalian, terutama Jaka Rampan justru mulai menanjak. Tetapi jalan pintas yang akan kalian tempuh bukan jalan yang baik.”  berkata Untara.

Gondang Bangah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang, mungkin kami telah mengambil langkah yang tidak wajar.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita akan membicarakannya kelak. Besok kita akan pergi ke Mataram.”

Berbeda dengan Gondang Bangah, justru Jaka Rampan tiba-tiba berkata, “Jika saja kami mendapat kesempatan.”

“Kesempatan apa?”  bertanya Untara.

“Melaksanakan rencana kami.”  jawab Jaka Rampan, “kami akan membuktikan, bahwa kami adalah putera-putera terbaik Mataram.”

“Kau yakin bahwa kau dapat berbuat sesuatu di belakang garis pertahanan Madiun?”  bertanya Untara.

Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menunduk lagi. Bahkan nampak wajahnya yang tengadah. Dengan nada tinggi ia berkata,

“Ki Untara. Barangkali Ki Untara pernah mendengar serba sedikit tentang kemampuanku. Beberapa kali aku telah menyelesaikan tugas dengan baik. Kelompok demi kelompok kejahatan di sekitar Ganjur, Panggang sampai ke pesisir telah kami bersihkan.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku mengerti. Namamu mulai menanjak sehingga dalam waktu singkat kau telah menduduki jabatanmu yang sekarang.” berkata Untara. Lalu, “Tetapi justru karena itu kau mempunyai penilaian yang salah terhadap dirimu sendiri. Kau baru dapat menumpas kejahatan-kejahatan kecil di lingkungan tugasmu sampai ke pesisir, kau sudah merasa memiliki kelebihan yang jarang ada bandingnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa ilmumu itu bukan apa-apa bagi Sangkal Putung. Sebenarnya tanpa aku dan pasukanku, Sangkal Putung akan dapat menahan pasukanmu dan pasukan Gondang Bangah. Tetapi karena kalian memakai kelengkapan prajurit Mataram yang utuh, maka Sangkal Putung menjadi ragu-ragu. Memang tidak bijaksana bagi Sangkal Putung untuk bertempur langsung melawan prajurit Mataram meskipun mereka tahu, bahwa kalian justru telah melanggar paugeran prajurit Mataram. Karena itulah maka aku hadir disini.”

Jaka Rampan mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Untara sekilas, namun ketika Untara kemudian menatap matanya, maka Jaka Rampan segera melemparkan pandangannya. Namun ia masih juga berkata, “Ki Untara. Kami memang tidak dapat berbuat apa-apa dihadapan Ki Untara dengan pasukan Mataram. Apalagi Ki Untara telah langsung menemukan kami disaat kami mengayunkan langkah yang bertentangan dengan paugeran seorang prajurit. Tetapi yang Ki Untara katakan, bahwa Sangkal Putung mempunyai kemampuan lebih besar dari kemampuan kami, itulah yang agak janggal di telinga kami.”

“Jadi kau tidak percaya?”  bertanya Ki Untara.

“Mungkin yang Ki Untara maksudkan, Sangkal Putung mempunyai jumlah pengawal yang jauh lebih banyak dari jumlah prajurit yang aku bawa sehingga akan dapat mengalahkan prajurit Mataram seandainya benar-benar terjadi pertempuran.”  berkata Jaka Rampan.

“Salah satu pengertiannya memang demikian. Tetapi pengertian yang lain adalah, bahwa kau, pemimpin dari pasukan Mataram yang akan menyusup ke belakang gardu pertahanan Madiun, tidak akan dapat melampaui kemampuan para pemimpin di Sangkal Putung.”

“Omong kosong.”  diluar sadarnya Jaka Rampan menyahut.

Wajah Untara menjadi merah. Dengan nada keras ia berkata, “Dengan siapa kau berbicara?”

Jaka Rampan menundukkan kepalanya. Jawabnya, “Dengan Senapati Besar Mataram di Jati Anom.”

“Nah, jika demikian maka kau tidak pantas menuduhku omong kosong.”  berkata Untara, “meskipun demikian, jika kau ingin membuktikan, aku kira para pemimpin di Sangkal Putung tidak akan ingkar. Apalagi para pemimpin mudanya. Disini ada anak dan menantu Ki Demang. Salah seorang dari mereka dapat membuktikan, bahwa kau bukan putera terbaik dari Mataram.”

Terasa dada Jaka Rampan bagaikan meledak. Sebagai seorang perwira muda yang namanya sedang menanjak, maka pernyataan Untara itu serasa telah menghinanya. Apalagi ketika kemudian Untara berkata, “Nah, terserah kepadamu Jaka Rampan.”

Jaka Rampan memandang Untara sekilas. Kemudian katanya, “Jika Senapati menginginkan, aku bersedia membuktikan. Tetapi sudah tentu jangan dijadikan alasan untuk memperberat kesalahan seakan-akan aku menentang keputusan Senapati disini.”

“Bagus.”  berkata Untara, “aku tidak akan menyebutnya demikian. Tetapi hal ini akan aku tawarkan kepada para pemimpin muda di Sangkal Putung.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata Swandaru lah yang berkata lantang, “Kakang Untara. Kakang Agung Sedayu masih belum sembuh benar. Jika memang kesempatan itu diberikan kepada para pemimpin muda di Sangkal Putung, biarlah aku yang membuktikannya, bahwa di Sangkal Putung terdapat orang-orang yang mampu mengimbangi kemampuan perwira prajurit Mataram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Biarlah kita melihat. Jika Jaka Rampan tidak percaya, kita akan membuktikannya. Bukan maksudku memperkecil harga diri seorang perwira prajurit Mataram. Namun agar para prajurit pun menyadari, bahwa para pengawal di Kademangan ini merupakan bagian dari kekuatan Mataram itu. Aku juga seorang prajurit. Tetapi justru karena tugasku, maka aku mengerti nilai dari pengabdian orang-orang Sangkal Putung dan Kademangan-kademangan lain, bahkan seluruh tlatah Mataram, sebagaimana mereka pun mengerti arti seorang prajurit bagi mereka, tidak hanya di medan perang.”  Untara menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Sementara yang kau lakukan adalah justru menodai citra prajurit Mataram itu sendiri.”

Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku tidak ingkar Ki Untara. Tetapi secara pribadi aku ingin membuktikan, bahwa aku adalah putera Mataram terbaik yang akan dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan di pundakku, atau yang telah aku angkat sendiri bagi kepentingan Mataram.”

“Baiklah.”  berkata Untara, “kita akan melihat dengan jujur apakah benar Jaka Rampan memiliki sebutan putera terbaik dari Mataram.”

Jaka Rampan memandang Swandaru dengan sorot mata yang menyala. Anak muda itu nampaknya tidak begitu menghiraukannya dengan sebutan putera Mataram terbaik. Bahkan anak muda yang semula telah menyetujui menyerahkan pengawal Sangkal Putung sebagaimana dimintanya itu, telah melangkah turun ke halaman sambil berkata, “Marilah. Kita akan bermain-main di halaman.”

Untara lah yang kemudian mengatur segala sesuatunya. Beberapa orang prajurit Mataram yang dibawanya berdiri memagari sebuah lingkaran. Untara dan Gondang Bangah akan menjadi saksi dari perkelahian itu. Namun selain mereka, Untara juga menunjuk Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk mengawasinya.

Sejenak kemudian, maka arena pun telah siap. Kedua belah pihak telah melepaskan senjata mereka. Jaka Rampan telah meletakkan pedangnya, sementara Swandaru telah meletakkan pula cambuknya.

Ki Demang yang berdiri diluar arena bersama Ki Jagabaya menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang menyebut dirinya Jaka Rampan dan yang sudah berani mengambil sikap sendiri, menerobos garis pertahanan Madiun, tentu seorang yang yakin akan kemampuannya sendiri.

Demikian setelah segala sesuatunya siap, maka Untara pun berkata, “Yang akan berhadapan di arena adalah Jaka Rampan pribadi dan Swandaru pribadi pula. Keduanya sekedar ingin membuat takaran tentang ilmu kanuragan. Karena itu, keduanya harus jujur terhadap diri sendiri. Kalah dan menang bukan persoalan.”

Jaka Rampan dan Swandaru mengangguk. Sementara itu Untara pun bertanya, “Apakah kalian sudah siap?”

“Ya.”  sahut Jaka Rampan dengan serta merta.

Sedangkan Swandaru menjawab kemudian, “Ya. Aku sudah siap.”

Untara berdiri diantara kedua orang itu untuk beberapa saat. Kemudian ia pun memberi isyarat kepada Gondang Bangah dan Agung Sedayu, bahwa perkelahian itu akan segera dimulai.

Sesaat kemudian, maka Untara pun bergeser menepi. Dengan demikian maka perkelahian antara Jaka Rampan, seorang perwira muda prajurit Mataram yang namanya sedang menanjak naik, melawan Swandaru, anak Ki Demang Sangkal Putung, murid Kiai Gringsing yang tinggal di padepokan kecil di Jati Anom.

Demikian perkelahian itu dimulai, maka nampak kegembiraan di wajah Jaka Rampan. Ia merasa mendapat penyaluran dari kekecewaannya, bahwa ia telah gagal untuk mendapatkan pujian atas langkah-langkah yang akan diambilnya, disamping untuk kepentingan pribadinya.

Tetapi Swandaru menjadi gembira pula. Ia akan menunjukkan kepada Untara, kepada Agung Sedayu dan kepada banyak orang bahwa ia telah memiliki ilmu yang tinggi. Terutama ia ingin menunjukkan kepada saudara tua seperguruannya, betapa ia akan dapat membanggakan diri akan kemampuannya.

“Agaknya orang-orang Mataram hanya mengenal kakang Agung Sedayu. Kini mereka akan melihat, bahwa adik seperguruannya justru memiliki kelebihan daripadanya.”  berkata Swandaru didalam hatinya.

Jaka Rampan yang telah bersiap itu pun mulai bergeser mendekati Swandaru. Sementara Swandaru pun telah bersiap pula untuk menghadapinya.

Namun tiba-tiba saja Jaka Rampan masih bertanya, “Kenapa kau begitu cepat berubah sikap tentang permintaanku untuk menyiapkan pengawal dari Sangkal Putung ini?”

“Agaknya aku termasuk orang yang terlalu jujur menanggapi keadaan. Aku sama sekali tidak berprasangka buruk terhadapmu. Tetapi ternyata dugaanku itu salah. Dan aku mengakui kesalahan itu, sehingga aku harus berubah sikap.”  jawab Swandaru.

Jaka Rampan mengangguk-angguk. Ternyata Swandaru itu cukup cepat pula menanggapi keadaan.

Namun Jaka Rampan tidak mengira kalau Swandaru itu justru bertanya, “Apakah kau sudah siap? Atau masih ada lagi yang ingin kau tanyakan kepadaku selagi kau masih sempat?”

“Persetan.”  geram Jaka Rampan.

Namun tiba-tiba saja Jaka Rampan itu sudah melenting menyerang.

Swandaru yang sudah siap itu pun segera bergeser. Tetapi dengan tiba-tiba pula ia telah menyerang kembali dengan dahsyatnya. Satu loncatan panjang dengan kaki terayun menyamping.

Ketika Jaka Rampan menghindari serangan itu dengan cepat pula, maka Swandaru pun telah menyerangnya pula. Dengan memutar tubuhnya, maka kakinya pun telah terayun mendatar.

Tetapi Jaka Rampan tidak menghindari serangan itu. Ia terlalu percaya akan kekuatannya. Karena itu, maka Jaka Rampan itu tidak berusaha menghindari serangan itu. Dengan kedua tangannya Jaka Rampan telah membentur putaran kaki Swandaru itu.

Maka terjadilah satu benturan yang keras. Swandaru yang telah mempergunakan sebagian dari kekuatannya itu memang terkejut. Kakinya terasa bagaikan membentur dinding baja sehingga seakan-akan telah memental kembali. Dengan demikian maka ia pun menjadi terhuyung-huyung sesaat. Namun dengan tangkasnya ia justru telah meloncat mengambil jarak dari lawannya. Ketika kedua kakinya menyentuh tanah, maka ia pun telah tegak berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ternyata bahwa lawannya tidak memburunya. Benturan yang terjadi agaknya terlalu keras baginya, sehingga Jaka Rampan telah terdorong beberapa langkah surut. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa anak padukuhan Sangkal Putung itu memiliki kekuatan sedemikian besarnya.

Bagaimanapun juga Untara menjadi berdebar-debar melihat benturan itu. Ia sudah mempercayakan kepada Swandaru untuk membuktikan bahwa Jaka Rampan telah menilai kekuatan di Sangkal Putung. Jika Swandaru tidak berhasil membuktikannya, maka Jaka Rampan akan menjadi semakin sombong akan kelebihannya. Meskipun ia akan tunduk kepada Untara untuk dibawa ke Mataram, karena kesalahannya telah bertindak sendiri, namun ia masih akan dapat menengadahkan wajahnya dan berkata bahwa dirinya adalah putera terbaik Mataram. Bahkan tidak mustahil bahwa Jaka Rampan itu menganggap bahwa secara pribadi ia tentu akan dapat melampaui kemampuan Untara. Hanya karena kedudukan Untara sajalah maka Jaka Rampan tunduk kepadanya.

Dalam pada itu, maka Jaka Rampan dan Swandaru telah bersiap pula. Sejenak kemudian, pertempuran di arena itu pun telah mulai lagi. Justru semakin lama menjadi semakin cepat.

Jaka Rampan yang merasa dirinya seorang perwira yang baru tumbuh dan dengan cepat memangku jabatan yang baik dalam susunan keprajuritan di Mataram, berusaha untuk menunjukkan kelebihannya itu. Ia berusaha dengan cepat untuk mengalahkan Swandaru. Ia ingin segera berdiri di sisi tubuh yang terbaring pingsan di arena sambil menghadap kepada Untara dan berkata, “Apakah ada orang lain yang lebih baik?”

Tetapi ternyata bahwa tidak semudah itu untuk menundukkan Swandaru. Swandaru, saudara seperguruan Agung Sedayu yang perhatiannya lebih banyak tertuju kepada kekuatan jasmaniah serta dukungan tenaga cadangannya itu, ternyata memang memiliki kekuatan yang mendebarkan. Ketrampilan gerak yang tinggi dan langkah-langkah yang kadang-kadang sulit untuk diperhitungkan. Meskipun setiap geraknya nampak mantap dan berat, tetapi kakinya yang kuat mampu melontarkan tubuhnya dengan cepat dan tangkas ke segala arah yang dikehendaki.

Setelah bertempur beberapa saat, maka Jaka Rampan mulai melihat satu kenyataan tentang Kademangan Sangkal Putung. Anak laki-laki Ki Demang yang agak gemuk itu, benar-benar memerlukan segenap kesungguhannya, meskipun ia seorang prajurit Mataram yang terbaik.

Agung Sedayu mengikuti setiap gerak dan langkah dari kedua orang yang bertempur itu dengan seksama. Karena Swandaru adalah saudara seperguruannya, maka ia pun mengenal setiap tata geraknya dengan baik. Namun sekali-sekali Agung Sedayu pun mengangguk-angguk melihat kemampuan Swandaru mengembangkan unsur-unsur gerak dari ilmunya, sehingga dengan demikian, maka ilmu itu pula Swandaru menjadi seakan-akan memiliki unsur gerak yang berlipat.

Dalam pada itu, maka ternyata bahwa Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun telah hadir pula di halaman. Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tetapi mereka dapat melihat dengan jelas, apa yang terjadi di arena.

Demikianlah, maka ketegangan telah mencengkam halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Para prajurit Mataram yang datang bersama Jaka Rampan dan Gondang Bangah melihat pertempuran itu dengan heran. Mereka menganggap bahwa Jaka Rampan adalah seorang perwira muda yang jarang ada duanya. Namun berhadapan dengan anak muda dari sebuah Kademangan, ternyata ia tidak segera dapat mengatasinya.

Berbeda dengan penglihatan para prajurit, maka Gondang Bangah justru menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat kelebihan Swandaru yang memiliki kekuatan raksasa itu.

Sementara itu, prajurit Mataram yang datang dari Jati Anom memang berusaha untuk dapat menyaksikan pertem-puran di arena itu pula. Namun sebagian dari mereka harus mengamati keadaan halaman itu seluruhnya. Bahkan juga mengawasi prajurit yang datang bersama Jaka Rampan dan Gondang Bangah. Tetapi menurut pengamatan para prajurit dari Jati Anom itu bahwa para prajurit yang datang dengan Jaka Rampan dan Gondang Bangah ternyata telah terpukau oleh pertempuran di arena antara pemimpinnya yang mereka anggap melampaui kemampuan orang-orang berilmu melawan anak muda Sangkal Putung.

Namun ternyata murid Kiai Gringsing itu benar-benar tidak mengecewakan. Untara yang tegang itu kadang-kadang sempat juga mengangguk-angguk meli-hat kemampuan Swandaru yang mendebarkan.

Beberapa kali telah terjadi benturan antara kedua orang yang sedang bertempur itu. Namun Swandaru yang telah meningkatkan kemampuan-nya itu membuat lawannya semakin heran.

Tetapi Jaka Rampan adalah seorang perwira muda yang tangguh. Dalam keadaan yang gawat, ia masih sempat melenting surut. Namun dengan kecepatan yang sangat tinggi, ia telah meloncat menyerang lawannya. Kedua tangannya terjulur kedepan dengan telapak tangan yang mengembang, tetapi dengan jari-jari yang merapat. Kedua telapak tangannya bersusun menelungkup. Namun dengan cepat bergerak mengembang, demikian kakinya menyentuh tanah selangkah di depan Swandaru.

Swandaru yang melihat gerak lawannya, justru telah menyilangkan kedua tangannya didadanya. Namun ternyata kedua tangan Jaka Rampan yang mengembang itu telah menyerang kening Swandaru dari dua arah.

Tetapi Swandaru tidak menjadi bingung karenanya. Dengan cepat ia merendahkan dirinya. Kedua tangannyalah yang kemudian menyerang dada orang yang berdiri di hadapannya itu, sementara kedua tangan orang itu tidak menyentuh sasarannya.

Namun orang itu pun cukup tangkas. Dengan cepat Jaka Rampan bergeser surut, sehingga tangan Swandaru tidak mencapainya.

Demikian pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Baik Jaka Rampan maupun Swandaru telah meningkatkan ilmu mereka. Mereka mengerahkan tenaga cadangan mereka sampai ke batas kemampuannya.

Sebagai seorang perwira yang sedang dengan cepat meningkat, maka Jaka Rampan merasa sudah terlalu lama bertempur melawan anak Demang Sangkal Putung itu. Seharusnya ia lebih cepat mengalahkannya, sehingga ia akan tetap dianggap seorang yang berilmu tinggi. Seorang yang pantas disebut putera terbaik dari Mataram.

Tetapi betapa ia mengerahkan kemampuannya, ternyata ia masih belum dapat menjatuhkan anak Ki Demang Sangkal Putung itu. Bahkan justru anak Ki Demang Sangkal Putung itu rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin kokoh.

Gondang Bangah memang menjadi sangat gelisah menyaksikan pertempuran itu. Apakah seorang perwira seperti Jaka Rampan itu akan dapat diimbangi ilmunya oleh seorang anak Demang.

Namun sebenarnyalah Jaka Rampan justru mulai mengalami kesulitan. Swandaru yang dengan sungguh-sungguh menekuni ilmunya itu, semakin lama justru menjadi semakin kuat. Tenaganya sama sekali tidak menjadi susut, meskipun keringat telah terperas dari tubuhnya.

Pada setiap benturan yang terjadi terasa bahwa kekuatan Swandaru tidak menjadi susut, tetapi justru rasa rasanya menjadi semakin meningkat. Tubuhnya menjadi semakin keras dan gerakannya pun menjadi semakin tangkas.

Jaka Rampan mengumpat didalam hati. Sebagai seorang perwira yang berpengalaman, maka ia pun segera berusaha mengatasi kemampuan Swandaru. Jaka Rampan mulai dengan segenap kemampuannya berusaha menyerang titik-titik kelemahan Swandaru. Menurut pengetahuan Jaka Rampan betapa pun kemampuan seseorang, namun mereka tetap memiliki kelemahan itu. Kelemahan yang terdapat pada bagian-bagian tertentu tubuhnya.

Tetapi Swandaru pun mengerti, bahwa Jaka Rampan -itu telah membidik tempat-tempat yang lemah sebagaimana telah dipelajarinya dari gurunya. Kiai Gringsing sebagai seorang yang memiliki kemampuan pengobatan telah memberitahukan kepadanya dalam latihan-latihan olah kanuragan, bahwa ada delapan kelemahan pokok terdapat pada tubuhnya. Kemudian dua belas tempat lainnya pada tataran kedua, dan lebih banyak lagi pada tataran ketiga.

Dengan demikian maka Swandaru pun telah memper-hitungkan hal itu pula. Bahkan sebagaimana dilakukan oleh lawannya, maka Swandaru pun telah melakukan hal yang serupa.

“Agaknya orang ini benar-benar akan mengakhiri pertempuran tanpa memikirkan akibatnya,” berkata Swandaru didalam hatinya, karena serangan-serangan pada tempat-tempat yang paling lemah akan dapat berakibat gawat. Bahkan titik-titik kelemahan itu akan benar-benar dapat membunuh seseorang atau membuatnya cacat.

Sementara itu, Untara mulai menjadi tenang ketika ia melihat bahwa Jaka Rampan memang tidak dapat dengan segera mengalahkan Swandaru dan menepuk dada sebagai putera terbaik dari Mataram, sehingga wajarlah jika ia berusaha untuk berbuat sesuatu bagi kebaikan Mataram atas rencananya sendiri.

Pandan Wangi yang semula merasa cemas, menjadi lebih tenang pula. Kemampuannya mengamati ilmu seseorang telah menunjukkan kepadanya. Meskipun banyak kemungkinan dapat terjadi, seandainya Swandaru berbuat kesalahan oleh kelengahannya atau oleh sebab-sebab lain, namun dalam keadaan wajar, ia tidak akan mudah dikalahkan.

Sekar Mirah pun kemudian hampir menjadi yakin bahwa kakaknya akan mampu bertahan sampai akhir pertempuran.

Di tempat lain Glagah Putih yang pernah menilai latihan-latihan yang dilakukan oleh Swandaru didalam sanggar padepokan di Jati Anom justru masih berharap Swandaru meningkatkan ilmunya selapis lagi.

Sebenarnyalah, bahwa ketika kedua belah pihak telah merasa bahwa pertempuran itu sudah berlangsung terlalu lama tanpa ada yang dapat menunjukkan kemenangannya, sementara langit pun mulai menjadi terang, maka Jaka Rampan benar-benar telah mengerahkan tenaganya, justru pada saat-saat tenaganya sudah mendekati batas susut.

Namun Swandaru telah siap menghadapi kemungkinan itu. Apalagi karena Swandaru pun tahu bahwa sebenarnya Jaka Rampan telah sampai pada batas.

Karena itulah, maka Swandaru lah yang kemudian lebih banyak menguasai arena. Ia masih tetap tegar dan kuat. Bahkan seakan-akan tenaganya justru masih akan dapat bertambah. Tubuhnya masih mungkin mengeras dan ketahanan tubuhnya masih lebih baik dari Jaka Rampan.

Gondang Bangah yang berada diluar arena, ternyata mampu menilai kenyataan yang telah terjadi. Sebenarnyalah ia merasa sedih bahwa seorang perwira prajurit Mataram yang namanya mulai menanjak, ternyata tidak lebih baik dari anak seorang Demang di Sangkal Putung.

Tetapi jika kenyataan itu yang terjadi, maka Gondang Bangah itu memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu dalam keadaan terakhir, Swandaru lah yang bertempur dengan dada tengadah. Ia telah membuktikan, bahwa ia memiliki kemampuan yang lebih baik dari seorang perwira prajurit yang dianggap sebagai seorang perwira yang berilmu tinggi.

“Kakang Agung Sedayu tidak akan dapat menuduhku hanya sekedar berbicara,” berkata Swandaru didalam hatinya.

Pada saat-saat berikutnya, Jaka Rampan menjadi semakin terdesak. Sementara itu Swandaru justru menjadi semakin cepat bergerak. Beberapa kali serangannya berhasil menyusup pertahanan Jaka Rampan sehingga sekali-sekali tangannya telah mengenai tubuh perwira prajurit Mataram itu.

Jaka Rampan yang mengerahkan tenaganya disaat-saat yang gawat itu sekali-sekali memang juga berhasil mengenai tubuh Swandaru, tetapi dalam perbandingan yang lebih jarang. Ia pun tidak sempat mengenai tepat pada sasaran yang dibidiknya, pada bagian-bagian yang sangat lemah di tubuh Swandaru.

Ketika tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara serangan Swandaru datang semakin deras, maka sekali-sekali Jaka Rampan itu seakan-akan hampir kehilangan keseimbangannya. Bahkan ketika tangan Swandaru yang terayun ke samping mendatar berhasil mengenai dadanya, maka Jaka Rampan itu telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Swandaru yang tidak mau kehilangan kesempatan telah memburunya. Satu tendangan kakinya kemudian telah mengenai sekali lagi dadanya itu yang bagaikan menjadi retak.

Jaka Rampan benar-benar tidak dapat bertahan untuk tetap tegak. Karena itu, maka ia pun telah terdorong beberapa langkah lagi surut dan kemudian jatuh terguling di tanah.

Namun oleh pengalaman dan kemampuan yang ada didalam dirinya, maka Jaka Rampan itu pun telah melenting berdiri. Betapa pun kekuatannya telah semakin surut, namun ia masih juga mampu tegak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi Swandaru ternyata tidak memburunya lagi. Ia berdiri sambil bertolak pinggang memandang lawannya yang nampak menjadi semakin lemah.

Sementara itu langit memang sudah menjadi terang. Untara pun kemudian maju beberapa langkah. Ia berdiri diantara Jaka Rampan dan Swandaru yang tegak dengan dada tengadah.

“Aku kira permainan ini sudah cukup,” berkata Untara, “kita sudah tahu, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang.”

“Siapa yang kalah menurut pendapat Ki Untara?,” bertanya Jaka Rampan dengan wajah yang tegang.

Untara mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia justru ganti bertanya, “Jadi kau merasa belum kalah?, “

“Aku belum kalah,” berkata Jaka Rampan “aku tantang anak Demang Sangkal Putung itu bertempur dengan senjata. Seorang prajurit baru dapat dinilai dengan lengkap jika ia sudah mempergunakan senjatanya. Tanpa senjata ia masih belum seorang prajurit yang utuh.”

“Tidak perlu,” berkata Untara.

Namun Swandaru berteriak “Jika ia ingin kita bermain senjata, maka aku tidak berkeberatan.”

“Nah, Ki Untara mendengar sendiri. Betapa ia menjadi sangat sombong. Seolah-olah ia berhasil meruntuhkan nilai dan harga diri seorang prajurit,” berkata Jaka Rampan.

“Kenapa?” justru Untara bertanya, “apakah salahnya jika seseorang yang bukan prajurit mempunyai kemampuan melampaui seorang prajurit seperti kau yang justru telah merusak citra keprajuritan.”

“Aku akan membuktikan bahwa aku adalah seorang prajurit yang baik” berkata Jaka Rampan “karena itu beri aku kesempatan bertempur dengan senjata.

“Kau dengar jawabku? Tidak. Kau tidak dapat memaksaku” berkata Untara.

“Sebaiknya biarlah aku menyelesaikan persoalanku sendiri. Kau tidak perlu turut campur” bentak Jaka Rampan.

Wajah Untara menjadi merah. Dengan nada berat ia bertanya kepada Jaka Rampan “Kau berhadapan dengan siapa?“

Betapa pun perasaannya bergejolak, maka naluri keprajuritannya telah mengekangnya. Karena itu, suaranya pun telah menyusut ketika ia kemudian menjawab “Senapati Besar di Jati Anom.”

“Lakukan perintahku”, geram Untara.

Jaka Rampan tidak menjawab. Namun Swandaru lah yang hampir berteriak “Beri kesempatan kepadanya bermain senjata. Aku akan menerima tantangannya.”

“Tidak” suara Untara masih tetap tegas “aku perintahkan, pertarungan ini dianggap selesai. Semua kembali ke tempatnya masing-masing.”

“Tetapi aku bukan seorang prajurit yang harus tunduk kepada perintah Senapati yang mana pun” Swandaru ternyata masih juga berusaha mendesak.

Tetapi Ki Demang lah yang datang kepadanya. Katanya, “Dalam keadaan yang gawat, Senapati akan dapat bertugas menangani semua persoalan yang berhubungan dengan pengamanan satu lingkungan. Seandainya kau dapat tidak tunduk pada perintah seorang Senapati sekarang ini, lalu kau akan berkelahi melawan siapa? Nah, sekarang kau dengar. Aku ayahmu. Aku perintahkan kau keluar dari arena ini.”

Swandaru memandang ayahnya dengan ungkapan kekecewaannya. Ketika ia kemudian memandang Agung Sedayu dan Glagah Putih, maka agaknya mereka pun sependapat dengan Ki Demang. Namun dalam keragu-raguan itu Pandan Wangi telah mendekatinya. Tanpa berkata apa pun juga Pandan Wangi telah membimbing Swandaru keluar dari arena seperti membimbing seorang anak yang kebingungan. Mengambil cambuk Swandaru yang dilepas dan kemudian membawanya masuk lewat seketheng.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian, maka Ki Demang pun telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk kembali naik ke pendapa.

Tetapi agaknya mereka tidak terlalu lama duduk di pringgitan. Untara segera mempersiapkan diri untuk langsung pergi ke Mataram. Ia tidak boleh menunda persoalan itu terlalu lama. Persoalan Jaka Rampan dan Gondang Bangah harus segera ditangani. Mereka tentu sudah meninggalkan kesatuan mereka tanpa diketahui oleh Senapati yang membawahinya langsung, atau dengan cara yang tidak wajar mendapat ijin justru membawa pasukan meskipun jumlahnya terlalu kecil, sehingga Jaka Rampan harus menambah pasukannya dalam perjalanan.

Tetapi Untara cukup bijaksana. Ia tidak melucuti senjata pasukan Jaka Rampan dan Gondang Bangah, kecuali kedua perwira itu sehingga mereka tidak menjadi sangat tersinggung. Tetapi Untara telah memberikan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi serta kesalahan yang telah mereka lakukan.

Seorang pemimpin kelompok telah menjawab ketika Untara bertanya, “Aku tidak tahu yang sebenarnya dari perjalanan ke Timur ini. Aku hanya menerima perintah. Aku kira yang dilakukan oleh pemimpin kami adalah wajar.”

“Kalian akan dapat menyampaikan kepada yang bertugas untuk memeriksa kalian di Mataram,” berkata Untara.

Demikianlah, ketika segala persiapan telah selesai, maka Untara dan pasukan berkudanya telah membawa Jaka Rampan dan Gondang Bangah bersama pasukannya pula menuju ke Mataram. Kuda-kuda dari pasukan Untara yang ditinggalkan diluar padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung telah diambil dan dibawa ke halaman Kademangan.

“Semakin cepat persoalan ini selesai, semakin baik,” berkata Untara.

Demikianlah maka sejenak kemudian iring-iringan prajurit Mataram telah meninggalkan Kademangan Sangkal Putung. Untara menolak ketika Ki Demang mempersilahkannya menunggu agar disediakan makan bagi para prajurit seluruhnya.

“Seorang Senapati yang berdiri tegak pada hak dan kewajibannya,” desis Ki Demang.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ada kebanggaan yang bergetar didalam dada Agung Sedayu, bahwa kakaknya dalam keadaan yang bagaimanapun juga tetap tegak pada paugeran seorang prajurit.

Sejenak kemudian maka halaman Kademangan Sangkal Putung itu pun telah menjadi lengang. Beberapa pengawal masih tetap berjaga-jaga. Sementara Ki Demang telah mempersilahkan para bebahu yang ingin beristirahat untuk pulang. Kecuali Ki Jagabaya yang masih akan berada di Kademangan bersama beberapa orang pengawal.

Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirah pun telah meninggalkan pringgitan pula. Sementara di ruang dalam Swandaru duduk bersama Pandan Wangi. Ketika Ki Demang telah meninggalkan pringgitan, maka ia pun telah duduk bersama Swandaru pula.

“Aku menyesal bahwa aku tidak diperkenankan untuk bertempur dengan senjata”, geram Swandaru.

“Sudahlah kakang” potong Pandan Wangi.

“Ki Untara telah memerintahkan menghentikan pertandingan itu. Untara telah memerintahkan kepada Jaka Rampan untuk berhenti. Jika kau nekad ingin berkelahi, kau tidak akan mempunyai lawan.” berkata Ki Demang.

“Jaka Rampan tentu akan memaksa juga”, jawab Swandaru.

“Tetapi kau tahu sikap Untara”, sahut Ki Demang.

Swandaru menundukkan kepalanya. Tetapi kekecewaannya masih membayang di wajahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Jika perkelahian dengan senjata itu berlangsung, maka aku dapat melakukan untuk beberapa sasaran sekaligus. Kecuali memenuhi keinginan kakang Untara, aku pun dapat menunjukkan kepada kakang Agung Sedayu, tataran yang dapat aku capai, sehingga akan dapat mendorongnya untuk sedikit memberikan perhatian kepada ilmunya.”

“Agung Sedayu sudah bukan anak-anak,” berkata Ki Demang, “ia tentu dapat menempatkan dalam dunianya. Sudah bertimbun pengalaman didalam dirinya.”

“Justru karena itu, ia terlalu yakin akan kemampuan yang sudah dimilikinya. Berkali-kali kakang Agung Sedayu mengalami luka parah jika ia berhadapan dengan lawan yang berilmu tinggi. Tetapi pengalaman yang pahit itu tidak menderanya untuk meningkatkan ilmunya” desis Swandaru.

“Jangan berprasangka begitu,” berkata Ki Demang, “jika kau menilai seseorang yang terluka di pertempuran, maka kau harus menilai kedua-duanya. Jika lawannya berkemampuan jauh lebih rendah, maka seseorang tidak akan mengalami sesuatu. Jika keduanya ilmunya seimbang, maka kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi pada kedua-duanya. Hal itu berlaku untuk segala tataran. Yang berilmu rendah pun akan dapat terjadi seperti itu. Apalagi yang berilmu tinggi.”

“Apakah ayah menilai ilmu Jaka Rampan terlalu rendah?” bertanya Swandaru.

“Aku tidak mengatakan pertempuran yang baru saja terjadi. Aku mengatakan sesuatu yang berlaku umum. Seandainya ilmu Jaka Rampan dan ilmumu seimbang, maka keadaannya tentu berbeda” berkata Ki Demang.

“Pengakuan seperti itulah yang ingin aku pancing dari kakang Agung Sedayu,” berkata Swandaru “jika ia mengakui bahwa ilmu Jaka Rampan cukup tinggi, maka ia akan menilai kemampuanku yang berada diatas kemampuan Jaka Rampan yang dibuktikan oleh keputusan kakang Untara.

Ki Demang mengangguk-angguk. Sebenarnya ia kurang pendapat dengan Swandaru. Tetapi sulit bagi Ki Demang untuk menyusun pendapatnya itu dalam kalimat yang dapat diucapkan. Sedangkan Pandan Wangi merasa lebih baik untuk berdiam diri dan tidak mencampuri pembicaraan antara ayah dan anak laki-lakinya itu meskipun terasa hatinya juga tergelitik karenanya.

Namun dalam pada itu, Ki Demang pun kemudian berkata, “Sudahlah. Beristirahatlah. Mungkin kau letih.”

“Ya ayah”, jawab Swandaru “tetapi sebenarnya aku tidak terlalu letih.”

Ki Demang pun kemudian telah meninggalkan Swandaru di ruang tengah. Namun Swandaru pun kemudian telah bangkit pula untuk pergi ke pakiwan.

“Aku akan menyediakan ganti pakaianmu kakang,” berkata Pandan Wangi.

Di pintu samping Pandan Wangi bertemu dengan Sekar Mirah. Dengan nada rendah Sekar Mirah bertanya, “Bagaimana dengan kakang Swandaru?, “

“Kakang Swandaru baru mandi”, jawab Pandan Wangi.

“Kakang tidak apa-apa?,” bertanya Sekar Mirah pula.

Adalah diluar kehendaknya ketika seolah-olah yang ditekan didalam dadanya telah terungkat, “Kakang Swandaru menjadi sangat kecewa. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu mengalahkan seorang perwira Mataram dalam olah senjata.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Bagaimana dengan ayah?“

“Ki Demang sudah banyak memberikan pesan kepada kakang Swandaru,” jawab Pandan Wangi.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Ia tahu benar sifat kakaknya yang agak gemuk itu. Namun agaknya Pandan Wangi masih juga menahan diri untuk tidak melepaskan semua yang terasa menyesak didadanya.

“Sekarang kau akan kemana?” bertanya Sekar Mirah.

“Menyediakan pakaian kakang Swandaru. Pakaian yang dipakainya basah oleh keringat dan kotor oleh debu,” jawab Pandan Wangi.

Sekar Mirah meng-angguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Dimana ayah sekarang?“

“Ki Demang pergi ke biliknya mungkin. Ki Demang nampak letih”, jawab Pandan Wangi.

Sekar Mirah meng-angguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, nanti saja aku menemuinya.

Namun tiba-tiba saja Ki Demang muncul dari pintu yang lain. Sambil mengusap keningnya ia bertanya, “Kau mencari aku? Apakah ada hal yang penting?“

“Tidak ayah. Tidak ada apa-apa”, jawab Sekar Mirah. Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sementara Pandan Wangi pun telah meninggalkan ruangan itu untuk menyiapkan pakaian suaminya.

Ki Demang perlahan-lahan telah mendekati anak perempuannya. Dengan nada rendah ia berkata, “Kakakmu memang menjadi sangat kecewa. Tetapi aku tidak dapat berbuat lain.”

Sekar Mirah mengangguk. Sementara Ki Demang pun berkata, “Disamping niatnya untuk menunjukkan kepada para prajurit Mataram dibawah pimpinan Jaka Rampan bahwa anak muda Sangkal Putung pun memiliki kemampuan seorang perwira, ada juga niatnya yang baik.”

“Apa ayah?” bertanya Sekar Mirah.

“Swandaru ingin menunjukkan kepada kakak seperguruannya, bahwa kemungkinan untuk meningkatkan ilmu masih terbuka,” berkata Ki Demang, lalu, “Swandaru menganggap bahwa suamimu tidak cukup banyak menyediakan waktu bagi peningkatan ilmunya.”

“Ayah,” berkata Sekar Mirah, “kakang Swandaru telah salah menilai kemampuan kakang Agung Sedayu. Aku sudah mencoba untuk memberitahukan hal itu. Tetapi kakang Swandaru menganggap bahwa aku terlalu mengagumi suamiku, sehingga tidak lagi dapat membuat pertimbangan sewajarnya.”

“Aku sudah mengira” berkata Ki Demang, “Agung Sedayu bersikap lebih dewasa dari Swandaru. Tetapi Swandaru menganggap bahwa karena Agung Sedayu beberapa kali mengalami luka-luka parah dalam pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukannya, maka Swandaru menganggap bahwa alas kemampuan ilmu Agung Sedayu masih belum cukup tinggi.”

“Bukankah hal itu juga tergantung pada lawannya bertempur?,” desis Sekar Mirah.

“Aku mengerti”, jawab Ki Demang.

“Kakang Agung Sedayu mendalami ilmunya tidak sekedar pada permukaannya. Tetapi jauh menusuk ke kedalamannya,” berkata Sekar Mirah. Lalu katanya, “Lawannya yang terakhir ternyata memiliki ilmu kebal dari jenis Aji Tameng Waja. Kakang Agung Sedayu harus mengerahkan segenap ilmunya untuk dapat mengalahkannya. Namun kakang Agung Sedayu sendiri mengalami luka parah.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Dimana suamimu sekarang?“

“Didalam bilik bersama Glagah Putih” berkata Sekar Mirah, “nampaknya mereka mulai mencemaskan keadaan di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Bukankah masih ada orang lain yang pantas diketengahkan di Tanah Perdikan selain Ki Gede?” bertanya Ki Demang.

“Memang Tanah Perdikan tidak terlalu mencemaskan. Masih ada Ki Jayaraga, yang juga dianggap guru oleh Glagah Putih. Namun disana pun ada barak pasukan khusus Mataram yang ditempatkan di Tanah Perdikan itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Bukankah kau dan suamimu tidak akan tergesa-gesa kembali ke Tanah Perdikan?“

“Tetapi kami tidak akan dapat terlalu lama disini. Meskipun rinduku kepada kampung halaman ini rasa-rasanya masih belum hilang, namun aku tidak dapat mencegahnya, jika kakang Agung Sedayu menghendaki kami kembali”, jawab Sekar Mirah.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepada kalian. Keadaan memang sedang kalut. Ternyata bukan orang-orang Madiun saja yang ingin memanfaatkan keadaan ini. Mungkin untuk keuntungan pribadi atas dasar ketamakan akan harta benda, sedangkan mungkin dilakukan karena menginginkan pujian, derajad dan pangkat. Agaknya ada juga orang-orang Mataram yang melakukannya.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus berhati-hati ayah.”

“Baiklah. Usahakan agar suamimu merasa tenang disini. Jika kau memerlukan sesuatu, katakan kepadaku,” berkata ayahnya “aku memang akan beristirahat setelah semalam suntuk mengurusi Jaka Rampan dengan orang-orangnya.”

Ki Demang pun kemudian meninggalkan Sekar Mirah yang kemudian telah pergi ke dapur. Ternyata Pandan Wangi setelah menyediakan ganti pakaian suaminya juga telah berada di dapur pula.

Hari itu, orang-orang di Kademangan Sangkal Putung masih saja membicarakan tentang sikap Jaka Rampan. Mereka pun merasa bangga, bahwa anak Ki Demang telah menunjukkan harga diri anak-anak muda Sangkal Putung pada umumnya.

“Ternyata Swandaru benar-benar seorang yang berilmu tinggi. Ia tidak hanya sekedar membual, berteriak-teriak dan marah-marah kepada anak-anak muda di Kademangan ini. Tetapi ia benar-benar seorang yang berilmu tinggi,” berkata seorang pemimpin kelompok pengawal Kademangan Sangkal Putung.

“Agaknya Ki Demang memang beruntung. Anaknya yang perempuan itu pun berilmu tinggi pula. Agung Sedayu dan Pandan Wangi, menantu-menantunya, juga orang-orang yang berilmu tinggi. Seandainya mereka berkumpul di Kademangan Sangkal Putung, maka Sangkal Putung akan menjadi Kademangan terkuat di seluruh tlatah Mataram,” sahut kawannya.

Beberapa orang yang mendengarnya menganguk-angguk. Hampir berbareng dua orang berkata, “Ya. Kita akan menjadi terkuat.”

Tetapi seorang yang sudah lebih tua dari mereka berkata, “Jika kita terkuat, lalu mau apa?“

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Tetapi seorang diantara mereka menjawab “setidak-tidaknya kita dapat berbangga.”

“Dan menyombongkan diri?” bertanya orang yang lebih tua itu.

Sekali lagi mereka termangu-mangu. Namun beberapa orang diantara mereka menjawab “Tentu tidak.”

Sementara seorang anak muda yang lain berkata, “Aku kira memang ada perbedaan antara kebanggaan dan kesombong-an.”

“Kau benar”, jawab orang yang lebih tua itu, “tetapi jarak itu terlalu pendek, sehingga jika kita tenggelam dalam kebanggaan diri, maka kita akan terlalu mudah untuk tergelincir dalam sikap yang sombong.”

Kawan-kawannya tidak membantah lagi. Bahkan beberapa orang yang lain mengangguk-angguk.

Di rumah Ki Demang, suasana masih nampak lesu. Orang-orang di rumah Ki Demang pada umumnya merasa letih. Namun setelah lewat tengah hari, maka mereka telah menjadi segar kembali. Swandaru pun telah berada di pendapa bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sambil membawa minuman dan makanan, maka Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah ikut pula duduk-duduk di pendapa.

Pembicaraan mereka pun masih juga berkisar pada sikap Jaka Rampan yang telah menodai wajah prajurit Mataram sendiri.

Namun akhirnya pembicaraan mereka pun telah merambat sampai ke Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu memang sedikit mencemaskan perkembangan keadaan. Namun seperti yang pernah dikatakan oleh Sekar Mirah, bahwa kehadiran Ki Jayaraga dan adanya barak pasukan khusus di Mataram, akan dapat membantu mengatasi persoalan jika itu timbul di Tanah Perdikan.

“Karena itu, kakang tidak usah tergesa-gesa,” berkata Swandaru “jika kakang sempat berada di Kademangan ini barang sebulan, maka kita akan mendapat kesempatan untuk berlatih bersama sebagaimana dahulu sering kita lakukan, disaat-saat kita mulai menapakkan kaki di perguruan kita.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menjawab, “Sebenarnya memang menarik sekali. Tetapi rasa-rasanya kami tidak akan dapat berada disini terlalu lama. Jika tubuh dan kesehatanku pulih kembali sepenuhnya, maka kami terpaksa minta diri.”

“Tetapi bukankah seperti kakang katakan, bahwa Tanah Perdikan tidak perlu terlalu dicemaskan?” bertanya Swandaru.

“Sebenarnya itu adalah pernyataan sekedar untuk menenangkan diri. Namun kegelisahan itu masih saja tetap bergejolak didalam hati”, jawab Agung Sedayu.

“Jika demikian, kita pergunakan kesempatan yang ada betapa pun sempitnya,” berkata Swandaru “bukankah kita dapat memanfaatkannya untuk membuat perbandingan ilmu. Bukan dengan maksud apa-apa. Tetapi sewajarnyalah bahwa sebagai saudara seperguruan kita sekali-sekali berlatih bersama.”

Agung Sedayu tersenyum. Namun jawabnya “Aku sebenarnya ingin sekali melakukannya. Tetapi agaknya keadaan tubuhku masih terlalu lemah.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Lalu katanya, “Bukankah keadaan kakang sudah baik? Biasakan bergerak kembali agar kau benar-benar segera pulih. Tetapi jika kau masih saja merasa dirimu sakit dan lemah, maka kau benar-benar memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk merasa pulih kembali.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga hatinya mulai terasa tergelitik oleh sikap Swandaru. Tetapi Sekar Mirah mencoba untuk menengahi. ”Kakang Agung Sedayu akan menilai dirinya sendiri. Jika ia sudah merasa benar-benar pulih, aku kira kakang Agung Sedayu tidak akan berkeberatan.”

Swandaru memandang adiknya sekilas. Tetapi ia menahan kata-kata yang hampir saja terloncat dari bibirnya “Jangan terlalu kau manjakan suamimu.”

Tetapi untunglah bahwa dalam keadaan tertentu, Swandaru dapat juga menahan diri.

Yang mereka bicarakan kemudian adalah persoalan-persoalan lain meskipun masih juga menyangkut perkembangan Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Ternyata bahwa kehadiran Sekar Mirah untuk melihat rumah serta kampung halamannya telah membuat Pandan Wangi menjadi rindu pula pada Tanah Perdikan-nya. Tetapi menyadari keadaannya, maka Pandan Wangi memang tidak ingin dalam waktu dekat pergi ke Tanah Perdikan.

“Aku tidak ingin melakukan perjalanan dalam keadaan seperti ini,” berkata Pandan Wangi.

“Syukurlah jika Ki Gede sempat menengokmu,” desis Swandaru sambil tersenyum.

“Jika Ki Gede mengetahui, maka Ki Gede tentu akan mencari kesempatan datang ke Kademangan ini,” berkata Agung Sedayu.

“Setidak-tidaknya menjelang selapan,” desis Sekar Mirah sambil tersenyum.

“Terlalu lama”, sahut Pandan Wangi.

Tetapi Swandaru menyahut, “Kau kira Ki Gede dapat begitu saja meninggalkan Tanah Perdikan dalam suasana seperti ini? Ada dua hal yang harus diperhatikan. Tanah Perdikan yang ditinggalkannya dan keselamatan Ki Gede sendiri dalam perjalanan. Tetapi tentu tidak demikian dengan seorang Kepala Tanah Perdikan.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Ia pun mengerti sebagaimana dikatakan oleh suaminya.

Pembicaraan mereka pun terputus ketika seorang pelayan memberitahukan bahwa mereka telah mempersiapkan makan siang di ruang dalam.

“O,” desis Pandan Wangi, “ternyata aku terlalu asik disini sehingga aku tidak melihat, bagaimana makan siang itu dipersiapkan. Tunggulah sebentar. Aku akan membenahinya.”

Adalah menjadi kebiasaan Pandan Wangi untuk mengatur sendiri makan terutama jika sedang ada tamu. Karena itu, maka ia pun segera meninggalkan pendapa menuju ke ruang dalam. Namun Sekar Mirah pun telah mengikutinya pula ke ruang dalam.

Baru sejenak kemudian, Pandan Wangi mempersilahkan mereka yang ada di pendapa masuk ke ruang dalam untuk makan.

Demikianlah, Agung Sedayu dan Sekar Mirah tinggal beberapa hari di Sangkal Putung. Yang sering menjadi pening adalah Glagah Putih jika ia mendengar Swandaru memberikan beberapa pesan kepada Agung Sedayu. Ia tidak mengerti, bagaimana Agung Sedayu dapat dengan sabar mendengarkannya.

Dalam pada itu, pada satu kesempatan, selagi Untara sedang melakukan tugas meronda bersama beberapa orang prajuritnya, telah singgah di Sangkal Putung. Untara sekedar ingin memberitahukan kepada Ki Demang bahwa Jaka Rampan dan Gondang Bangah telah diserahkan kepada seorang Senapati yang ditunjuk untuk menanganinya.

“Aku sempat menghadap langsung Panembahan Senapati,” berkata Untara. Lalu, “ternyata Panembahan Senapati menjadi sangat prihatin. Tetapi Panembahan Senapati belum dapat dengan cepat memecahkan hubungannya dengan Madiun. Bahkan nampaknya persoalan Pajang justru akan dapat menambah jarak itu.”

“Persoalan Pajang yang mana?,” bertanya Agung Sedayu yang ikut mendengarkan pula.

“Pengganti Pangeran Benawa”, jawab Untara.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga, bahwa hal itu akan dapat menjadi persoalan baru bagi Mataram dan Madiun. Sementara di kedua belah pihak terdapat orang-orang yang tamak dan ingin memanfaatkan keadaan itu. Atau mereka yang kurang dapat mengendalikan diri dan ingin bertindak sendiri-sendiri.

Dalam pada itu Untara pun telah menceriterakan pula, bagaimana mungkin Jaka Rampan dan Gondang Bangah meninggalkan kesatuannya dengan membawa prajurit.

“Ternyata bahwa perintah bagi keduanya adalah menangkap sekelompok penjahat yang mengganggu ketenangan satu lingkungan. Jaka Rampan seharusnya mendapat tugas ke Dlingo karena di daerah itu telah timbul keributan. Sekelompok orang telah berusaha menguasai kehidupan beberapa Kademangan di Dlingo. Sedangkan Gondang Bangah harus pergi ke daerah pesisir Selatan, karena keadaan yang hampir sama. Tetapi keduanya telah bersepakat untuk melakukan tindakan sendiri. Sudah tentu pada keduanya terdapat pamrih pribadi yang baru akan diketahui setelah keduanya menjalani pemeriksaan.”

Yang mendengarkan keterangan Untara itu mengangguk-angguk. Sementara itu Untara pun berpesan pula “Hati-hatilah untuk seterusnya.”

Ki Demang dan mereka yang mendengarkan keterangan Untara itu mengangguk-angguk. Mereka memang harus berhati-hati. Banyak hal yang dapat terjadi. Bahkan kadang-kadang diluar dugaan mereka sama sekali.

Dalam pada itu, ketika Untara meninggalkan Sangkal Putung, maka Agung Sedayu pun sekaligus minta diri, bahwa dalam waktu dekat, ia akan langsung kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Tolong kakang. Mohon dalam saat-saat tertentu kakang menyempatkan diri menengok guru dan paman Widura di padepokan kecil itu” berkata Agung Sedayu.

Untara tersenyum. Katanya, “Rasa-rasanya aku juga ingin sering berada di padepokan itu bersama paman Widura. Ilmu yang membekali kami berdua bersumber dari mata air yang sama. Meskipun rasa-rasanya aku sudah terlalu tua, apalagi paman Widura, tetapi tidak ada salahnya jika kami berusaha untuk menyegarkan ilmu kami.”

Agung Sedayu pun tersenyum pula. Sementara Swandaru menyahut “Tidak ada salahnya kakang. Waktu untuk meningkatkan ilmu tidak dibatasi oleh umur seseorang.

Untara tertawa. Namun sejenak kemudian, ia telah meninggalkan rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba saja Swandaru berkata hampir berbisik di telinga Agung Sedayu “Nah, kau dengar kakang. Sementara kakang Untara pun merasa perlu untuk meningkatkan ilmunya. Apalagi kakang Agung Sedayu yang lebih muda. Seharusnya kakang menyediakan waktu lebih banyak lagi untuk menekuni ilmu. Besok, jika kakang kembali ke Tanah Perdikan, silahkan membawa kitab yang dipinjamkan oleh Guru kepada kita. Kakang tidak perlu tergesa-gesa mengembalikan. Maksudku, kita tidak perlu terikat pada batas waktu tiga bulan di tempat masing-masing.”

Telinga Glagah Putih yang ikut mendengar meskipun perlahan-lahan sekali, terasa menjadi panas. Sementara itu Agung Sedayu menjawab lirih “Terima kasih adi Swandaru.”

Sebenarnyalah, Swan-daru telah menyiapkan kitab yang dipinjamkan oleh Kiai Gringsing kepada dua muridnya. Kiai Gringsing memang menyerahkan perkembangan ilmu murid-muridnya kepada kedua muridnya itu sendiri. Menurut penilaian Kiai Gringsing, ilmu Agung Sedayu lah yang maju lebih cepat dari ilmu Swandaru.

Dalam pada itu, pada hari yang telah disepakati oleh Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka keduanya bersama Glagah Putih telah minta diri kepada Ki Demang dan seluruh keluarga Kademangan Sangkal Putung.

Sebenarnya mereka memang masih ingin menahan Agung Sedayu suami isteri dan Glagah Putih, tetapi agaknya keadaan yang gawat telah membuat ketiganya tidak dapat terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan.

“Waktuku terlalu lama habis dirampas oleh luka-luka di Jati Anom,” desis Agung Sedayu.

“Baiklah,” berkata Ki Demang. ”Lain kali, syukurlah jika suasana menjadi cepat cerah, kalian akan datang lagi untuk waktu yang lebih lama di Kademangan Sangkal Putung ini.”

Sekar Mirah ternyata harus berjuang melawan air matanya yang mengembang di pelupuk. Apalagi ketika ia minta diri kepada Pandan Wangi. Betapa pun ia berusaha, namun setitik air memang telah menetas dari matanya yang basah. Sehingga Pandan Wangi pun harus mengusap matanya sendiri yang menjadi panas.

“Kurnia itu akan datang pada waktunya” bisik Pandan Wangi. Sekar Mirah mengangguk.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, selagi matahari mulai naik, mereka telah meninggalkan Sangka! Putung. Keluarga Ki Demang telah mengantar mereka sampai ke pintu gerbang. Swandaru memang menawarkan beberapa orang pegawai untuk mengantar mereka, tetapi sambil tersenyum Agung Sedayu berkata, “Terima kasih adi. Agaknya kami akan tidak terganggu di perjalanan, –

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah berpacu di bulak-bulak persawahan Kademangan Sangkal Putung. Beberapa orang yang melihat mereka telah menyapa dan bertanya, apakah mereka akan kembali ke Tanah Perdikan.

Seorang perempuan yang sedang menyiangi sawahnya telah naik ke pematang sambil bertanya, “Kau tidak menunggu mbokayumu sampai melahirkan?“

Sekar Mirah tersenyum, berapa pun hatinya tersentuh. Jawabnya “Kami akan segera kembali lagi bibi.”

Selama mereka masih berada di daerah Kademangan, maka mereka tidak dapat berpacu lebih cepat. Apalagi jika mereka memasuki padukuhan-padukuhan. Maka mereka masih harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang bertemu di sepanjang jalan.

Baru ketika mereka telah keluar dari Kademangan Sangkal Putung, maka mereka bertiga dapat mempercepat derap kuda mereka.

“Apakah kita akan singgah di Mataram?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu berpaling kepada Sekar Mirah. Jawabnya “Aku kira tidak perlu. Tidak ada persoalan penting yang perlu kita laporkan, karena kakang Untara telah menghadap langsung untuk memberikan laporan tentang Jaka Rampan dan prajurit-prajuritnya.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Nampaknya Agung Sedayu memang ingin segera kembali ke Tanah Perdikan. Rasa-rasanya mereka bertiga memang sudah terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan itu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama mereka berada di Jati Anom dan Sangkal Putung rasa-rasanya telah mendorong Agung Sedayu untuk semakin cepat kembali.

Glagah Putih memang tidak mempunyai kepentingan khusus di Mataram sehingga ia pun tidak berkeberatan untuk langsung kembali ke Tanah Perdikan.

“Jika ada persoalan yang harus diselesaikan dengan Mataram, pada kesempatan lain kita akan dapat menghadap,” berkata Agung Sedayu pula.

Meskipun tidak mengatakannya, namun Glagah Putih mengetahui bahwa Agung Sedayu bermaksud mengatakan “Sekarang kita kembali dahulu ke Tanah Perdikan.”

Meskipun mereka tidak ingin singgah di Mataram, namun mereka telah menempuh perjalanan melalui jalan yang paling ramai. Jalan yang meskipun melalui hutan di Tambak Baya, tetapi jalan itu merupakan jalan yang sibuk. Meskipun hutan Tambak Baya masih merupakan hutan yang pepat dan besar, tetapi di sebelah menyebelah jalan, rasa-rasanya hutan itu tidak lebih dari sebuah taman. Justru karena jalan itu cukup ramai, maka binatang buas telah pergi semakin jauh masuk kedalam hutan yang masih jarang disentuh kaki manusia. Bahkan di beberapa tempat telah sekelompok-sekelompok rumah yang bukan saja dihuni, tetapi telah dibuka pula beberapa buah kedai makanan dan minuman. Orang-orang yang tinggal di rumah-rumah itu sama sekali tidak cemas terhadap binatang-binatang buas yang akan dapat mereka lawan bersama-sama. Jika satu kali seekor harimau tersebut masuk ke lingkungan mereka, maka beberapa orang laki-laki telah menghadapinya dengan tombak-tombak panjang.

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang berpacu di punggung kuda meskipun tidak terlalu kencang, telah menyeberangi sungai Opak dan beberapa saat kemudian mereka mendekati lingkungan hutan Tambak Baya. Tetapi karena jalan yang banyak dilewati orang yang hilir mudik, maka mereka sama sekali tidak memikirkan hambatan yang akan dapat mengganggu perjalanan mereka.

Sebenarnya tidak ada niat ketiganya untuk berhenti di sebuah kedai yang terdapat di pinggir jalan itu. Tetapi rasa-rasanya mereka ingin memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.

Karena itu, ketika mereka sampai di sebuah tanjakan yang tidak begitu tinggi, maka mereka telah berhenti di sebuah kedai diantara sekelompok kedai yang lain. Kedai yang cukup besar dan agaknya banyak dikunjungi orang. Beberapa ekor kuda nampak ditambatkan di sebelah kedai itu. Sementara seorang laki-laki telah sibuk memberikan air dan makan bagi kuda-kuda itu.

“Kita berhenti sebentar,” berkata Agung Sedayu, “kuda-kuda kita akan mendapat pelayanan sebagaimana kita sendiri.”

Sekar Mirah yang berpakaian seperti seorang laki-laki itu tersenyum. Katanya, “Baiklah. Agaknya Glagah Putih juga sudah haus. Terik matahari di punggung kita telah memeras keringat kita di perjalanan yang cukup panjang ini.”

“Tetapi aku masih harus bertanya, apakah Glagah Putih bersedia minum atau tidak” desis Agung Sedayu.

Glagah Putih tertawa kecil. Katanya, “Aku memang tidak ingin minum bersama kuda-kuda itu.”

Sekar Mirah pun tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah maka mereka bertiga pun telah singgah di sebuah kedai di pinggir Alas Tambak Baya. Sementara itu kuda-kuda mereka pun telah sempat beristirahat. Seperti kuda-kuda yang lain, maka kuda-kuda mereka pun telah mendapat minum dan makan. Nampaknya kedai itu telah mengadakan tambahan pelayanan khusus bagi kuda-kuda para tamu yang singgah di kedai itu, sehingga dengan demikian maka orang-orang berkuda yang memang sering lewat jalan itu akan memilih tempat itu untuk singgah.

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang kemudian memasuki kedai itu telah memilih tempat di sudut. Tempat yang agak kedalam sehingga tidak banyak mendapat perhatian orang lain. Mereka duduk di sebuah lincak panjang. Di depan lincak itu terdapat sebuah geledeg bambu rendah untuk menempatkan berbagai macam makanan.

Beberapa saat kemudian, maka minuman yang mereka pesan telah dihidangkan. Sebagaimana orang lain didalam kedai itu, maka mereka pun kemudian telah meneguk minuman yang masih hangat, meskipun sebenarnya mereka belum terlalu haus. Tetapi perjalanan yang mereka tempuh memang sudah cukup jauh.

Namun beberapa saat kemudian, telah masuk pula empat orang kedalam kedai itu. Seorang diantara mereka telah lewat separo baya. Rambutnya selembar-selembar yang berjuntai dibawah ikat kepalanya telah nampak keputih-putihan, sebagaimana kumis dan janggutnya yang lebat tetapi tidak terlalu panjang. Sedangkan tiga orang lainnya masih nampak agak lebih muda. Bahkan seorang diantaranya nampaknya masih seumur dengan Agung Sedayu.

Ternyata keempat orang itu telah memperhatikan Agung Sedayu sejenak. Mereka pun kemudian melangkah dan duduk di lincak panjang di hadapannya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekar Mirah dan Glagah Putih pun sempat memperhatikan mereka sekilas. Namun mereka tidak lagi menghiraukan keempat orang itu, kecuali Agung Sedayu yang sempat berkata kepada orang yang tertawa itu “Marilah minum Ki Sanak.”

Orang itu mengangguk ramah. Dengan nada rendah ia menjawab “Silahkan Ki Sanak. Kami baru akan memesan.”

Ketika kemudian Agung Sedayu meneguk minumannya, maka orang-orang itu pun telah memesan minuman pula.

Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Namun kemudian orang yang rambutnya telah memutih itu tiba-tiba saja bertanya sambil mengunyah jenang alot “Bukankah Ki Sanak yang bernama Agung Sedayu?“

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia pun sedang makan sepotong pondoh beras.

“Ya Ki Sanak”, jawab Agung Sedayu setelah menelan makanan di kerongkongannya “aku minta maaf, bahwa agaknya aku agak lupa kepada Ki Sanak seandainya kami sudah pernah berkenalan sebelumnya.”

Orang itu tersenyum. Sementara Sekar Mirah dan Glagah Putih pun nampaknya tertarik kepada pertanyaan itu.

Tetapi jawab orang itu, “Kita memang belum pernah berkenalan, Ki Sanak.”

“O” Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Kami hanya mengenal Ki Sanak karena kemashyuran nama Ki Sanak. Meskipun beberapa saat yang lalu, Ki Sanak mengalami luka berat dalam satu pertempuran di Jati Anom,” berkata orang itu pula.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya, “Darimana Ki Sanak mengetahui?”

“Orang-orang terkenal sebagaimana murid-murid Kiai Gringsing tentu lebih banyak diketahui orang tentang keadaannya”, jawab orang itu.

“Siapa sebenarnya Ki Sanak? Mungkin sahabat Kiai Gringsing atau orang yang dekat dengannya?,” bertanya Agung Sedayu.

Orang itu tersenyum. Potongan terakhir dari jenang alotnya telah ditelannya. Katanya, “Ki Sanak. Kami memang harus kagum terhadap murid-murid Kiai Gringsing yang perkasa. Ki Sanak adalah murid yang tertua. Sementara Swandaru, murid muda pun memiliki kemampuan yang luar biasa. Aku tidak yakin, bahwa kemampuan Swandaru memang berada diatas kemampuan Agung Sedayu.”

“Aku tidak tahu apa yang Ki Sanak katakan,” desis Agung Sedayu.

“Beberapa orang sering mendengar Swandaru mengeluh, bahwa kakak seperguruannya agak kurang menyediakan waktunya untuk berada didalam sanggar karena kesibukan-nya. Agung Sedayu lebih senang berada di bendungan daripada berada didalam sanggar. Karena itu, menurut Swandaru, kemampuan Agung Sedayu lambat sekali berkembang. Tidak sebagaimana terjadi pada Swandaru,” berkata orang itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya saudara banyak mengetahui tentang keadaan kami.”

“Aku telah berusaha untuk mengetahuinya,” berkata orang itu, “beberapa hari terakhir aku mencoba untuk mengenal dari dekat murid-murid Kiai Gringsing yang terkenal itu.”

“Ki Sanak”, sahut Agung Sedayu, “nampaknya Ki Sanak telah membuang waktu untuk kepentingan itu. Apa sebenarnya yang Ki Sanak kehendaki?“

Orang itu tertawa. Katanya, “Swandaru adalah seorang anak muda yang perkasa. Ia dikelilingi oleh sepasukan Kademangan yang memiliki kemampuan seorang prajurit. Karena itu, sulit bagiku untuk berurusan dengan anak muda itu.”

Agung Sedayu mulai menjadi berdebar-debar, Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Jika aku memaksa diri, maka aku akan berhadapan dengan sepasukan pengawal yang kuat. Betapa pun tinggi ilmu seseorang, tetapi jumlah yang banyak akan ikut menentukan kekuatan salah satu pihak.”

“Aku tidak mengerti Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu.

“Agung Sedayu,” berkata orang itu dengan kesan wajah yang tidak berubah. Lalu katanya, “Aku adalah guru Jaka Rampan.”

“O” Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Karena aku tidak dapat dengan serta merta membalas sakit hati muridku terhadap Swandaru yang selain mampu menjebaknya, juga mengalahkannya dalam perang tanding yang tidak tuntas, maka aku telah memilih sasaran yang lain. Menurut pendengaranku, kaulah yang telah merencanakan mengirimkan penghubung ke Jati Anom untuk menjebak muridku,” berkata orang itu.

Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menangkap maksud Ki Sanak, jadi Ki Sanak merasa sakit hati karena Jaka Rampan ditangkap oleh Senapati Besar di Jati Anom?“

“Ya. Dan Senapati itu adalah kakak kandungmu. Jadi ada beberapa alasan jika aku menemuimu setelah Jaka Rampan ditangkap,” berkata orang itu.

“Lalu maksud Ki Sanak?” bertanya Agung Sedayu.

“Maaf Agung Sedayu,” berkata orang itu dengan sikap yang tidak berubah, “kami ingin mempersilahkanmu singgah di padepokanku.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku mempunyai tugas yang harus aku selesaikan di Tanah Perdikan.”

“Aku tahu Agung Sedayu”, jawab orang itu “agaknya kau ingin segera kembali ke Tanah Perdikan. Aku memang mengambil kesempatan ini untuk mengikutimu dan mempersilahkanmu singgah di padepokan.”

“Maaf Ki Sanak”, jawab Agung Sedayu “sudah aku katakan, aku tidak mempunyai banyak waktu.”

Orang itu tersenyum. Namun sementara itu Glagah Putih dan Sekar Mirah pun menjadi tegang.

Tetapi sikap orang itu tidak berubah. Ia masih saja berbicara perlahan sambil tersenyum-senyum, sehingga orang-orang yang ada di kedai itu sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan mereka. Sedangkan Agung Sedayu pun menanggapinya dengan cara yang sama pula.

“Agung Sedayu,” berkata orang itu, “aku menawarkan satu pemecahan yang baik. Kau sajalah yang singgah di padepokanku. Biarlah kedua orang yang bersamamu, isteri dan adik sepupumu itu kembali ke Sangkal Putung dan mengabarkan kepada Untara, bahwa kau telah singgah di padepokanku. Kau akan aku persilahkan meninggalkan padepokan tanpa luka seujung duri pun jika Jaka Rampan- pun kembali dengan selamat. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan Gondang Bangah dan prajurit-prajurit yang lain. Yang penting bagiku adalah Jaka Rampan, Untara tentu dapat mengusahakan agar Jaka Rampan dibebaskan demi keselamatan adiknya. Tetapi jika Jaka Rampan tidak dibebaskan, maka kau pun tidak akan aku persilahkan meninggalkan padepokanku sepanjang waktu yang diperlukan oleh Jaka Rampan menjalani hukumannya. Sedangkan jika ternyata kemudian bahwa Jaka Rampan dihukum mati, dengan menyesal hukuman yang serupa akan kau alami. Nah, bukankah itu satu penyelesaian yang adil?”

Agung Sedayu masih meneguk minuman hangatnya. Bahkan ia masih juga memungut sepotong tasik yang liat. Tanpa kegelisahan pada nada suaranya, Agung Sedayu mempersilahkan, ”Tasikan ini manis sekali Ki Sanak.”

Guru Jaka Rampan itu mengerutkan keningnya. Ia memang menjadi berdebar-debar melihat sikap Agung Sedayu. Orang yang disebut saudara tua seperguruan anak Demang Sangkal Putung ini bersikap tenang sekali menghadapi kesulitan.

“Ki Sanak,” berkata guru Jaka Rampan itu, “nampaknya kau tidak menyadari apa yang dapat terjadi dengan dirimu. Kau agaknya masih terpengaruh perkelahian yang terjadi di halaman Kademangan Sangkal Putung. Ingat Agung Sedayu, aku adalah guru Jaka Rampan. Kau jangan mengukur ilmuku dengan ilmu Jaka Rampan yang ternyata dapat dikalahkan oleh adik seperguruanmu itu.”

“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu “aku tidak pernah merendahkan ilmu seseorang. Juga ilmu Jaka Rampan. Apalagi gurunya. Tetapi bagiku lebih baik bersikap wajar daripada aku harus berteriak-teriak marah dan mengumpatmu sekarang ini. Karena dengan demikian maka kita akan dapat mengganggu ketenangan kedai ini. Bukankah Ki Sanak sudah bersikap demikian?“

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Nah. Kau tidak menjumpai pilihan lain Agung Sedayu.”

“Kenapa tidak?”, jawab Agung Sedayu “aku berhak menentukan apakah aku akan singgah atau tidak.”

“Agung Sedayu. Kau kira aku tidak akan dapat memaksamu?” bertanya guru Jaka Rampan itu.

“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu “seharusnya kau menyadari, bahwa muridmu telah melakukan kesalahan. Sebagai seorang guru kau justru harus menunjukkan kepada murid-muridmu, manakah yang benar dan baik dilakukan dan manakah yang tidak. Jika kau memanjakan muridmu seperti ini, maka Jaka Rampan tidak akan pernah merasa bersalah. Sementara itu, Mataram adalah sebuah negara yang mempunyai paugeran. Sudah sewajarnyalah bahwa setiap orang, termasuk para prajurit di Mataram, harus mentaati paugeran-paugeran yang berlaku di Mataram. Nah, sebaiknya kau temui muridmu itu dan kau nasehati agar Jaka Rampan menerima hukuman yang akan diletakkan di pundaknya dengan penuh penyesalan. Dengan demikian, maka Jaka Rampan tidak akan jatuh kedalam kesalahan lagi di kemudian hari.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya Untara sempat juga memberimu beberapa petunjuk. Tetapi ingat Agung Sedayu. Aku bukan prajurit Mataram yang tunduk pada paugeran seorang prajurit. Ketahuilah, kesalahan yang sebenarnya tidak terletak pada Jaka Rampan. Ia hanya menjalankan perintahku. Ada dendamku kepada saudara seperguruanku yang tinggal di belakang garis pertahanan Madiun. Jika Jaka Rampan sempat mempergunakan pasukannya, maka aku akan dapat menuntut balas, sementara gerakan Jaka Rampan itu akan dapat memberikan keuntungan yang besar bagi Mataram. Tetapi ternyata Senapati Untara itu berjiwa kerdil yang hanya berpegang pada paugeran yang mati tanpa kebijaksanaan.”

“Apakah yang kau maksud kebijaksanaan dari satu paugeran?,” bertanya Agung Sedayu “apakah bedanya kebijaksanaan atas satu paugeran dengan penyimpangan?“

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 232)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-31/

Terima kasih kepada Ki Mahesa & Ki Kuncung yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s