ADBM3-244

<<kembali | lanjut >>

ANAK iblis.”  geram Putut Kaskaya yang juga terhitung masih muda. ”Anak itu harus mendapat pelajaran. Ia harus menyadari, bahwa ia bukan orang terbaik di seluruh dunia. Baru kemudian ia dapat dibunuh.”

Putut Kaskaya itu pun kemudian telah menyibak medan dan berkata kepada Senapati muda yang mengalami kesulitan menghadapi Glagah Putih, “Aku mendapat perintah dari Panembahan Cahya Warastra langsung untuk menghentikan dan kemudian membunuh anak muda itu.”

Senapati muda itu tidak membantah. Jika perintah itu datang dari Panembahan Cahya Warastra, maka perintah itu harus dilaksanakan.

Glagah Putih memang telah mempergunakan ikat pinggangnya untuk bertempur bersama para pengawal Tanah Perdikan. Ia harus menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Tanah Perdikan tidak kalah dari kemampuan orang-orang yang menyerang mereka. Karena itu, ketika kedua pasukan itu berbenturan, maka Glagah Putih langsung berusaha mendesak lawan-lawannya.

Sebenarnyalah Glagah Putih dengan ikat pinggangnya yang bertempur dengan kuat, cepat dan mapan, telah menghalau setiap orang yang mendekatinya, termasuk Senapati muda yang memimpin sayap kanan pasukan lawan itu.

Ketika para pengikut Panembahan Cahya Warastra di sayap kanan itu menyibak dan muncul Putut Kaskaya, maka Glagah Putih pun telah mengendalikan dirinya dan menghentikan serangan-serangannya atas lawannya. Namun dalam pada itu, pasukan Panembahan Cahya Warastra di sayap kanan itu masih saja bertempur melawan para pengawal Tanah Perdikan di sayap kiri.

“Luar biasa anak muda.”  desis Putut Kaskaya.

“Siapa kau?“ bertanya Glagah Putih.

“Namaku Putut Kaskaya.”  jawab Putut itu.

Glagah Putih mengangguk-angguk Namun ia pun bertanya, “Apakah kau datang dari sebuah perguruan? Aku belum pernah mendengar nama itu.”

“Ya. Aku dari perguruan Alang-alang Kerep. Aku adalah murid terpercaya Ki Ajar Cangkring yang siap menghadapi Orang Bercambuk di induk pasukan.”  jawab Putut itu.

“Gurumu bernama Ki Ajar Cangkring, namun padepokanmu tidak bernama padepokan Cangkring, tetapi Alang-alang Kerep.”  desis Glagah Putih.

“Alang-alang Kerep adalah nama sebuah padukuhan. Padepokanku terletak disebelah padukuhan itu, sehingga padepokanku juga disebut padepokan Alang-alang Kerep, meskipun guruku disebut Kiai Cangkring.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi gurumu telah memberanikan diri menghadapi Orang Bercambuk itu? Seharusnya Kecruk Putih lah yang paling pantas untuk berhadapan dengan Kiai Gringsing yang juga disebut Orang Bercambuk itu.”

“Siapakah Kecruk Putih itu?,“ bertanya Putut Kaskaya.” Aku justru belum pernah mendengar namanya.”

“Orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu dahulu bernama Kecruk Putih. Nah, jika ia bertemu dengan Orang Bercambuk itu, maka persoalannya akan menjadi sangat meriah, karena kedua-duanya pernah berkenalan dahulu.”  berkata Glagah Putih.

“Jangan menghina Panembahan Cahya Warastra seorang yang menghinanya akan dapat dihukum mati.”  geram Putut Kaskaya.

Tetapi Glagah Putih tertawa. Katanya, “Bagiku tidak akan ada masalah. Menghina atau tidak menghina, kalian berusaha membunuhku. Persoalannya adalah, apakah kalian mampu atau tidak.”

“Persetan.”  geram Putut Kaskaya, “kau terlalu sombong. Kau yang masih sangat muda itu telah berani menghina Panembahan Cahya Warastra dihadapanku.”

“Kau pun nampaknya masih muda.”  berkata Glagah Putih, “meskipun barangkali sudah lebih tua sedikit dari aku. Karena itu, maka sepantasnya bahwa kau mati lebih dahulu dari aku, karena kau telah mengenali isi dunia ini lebih lama dari aku.”

“Cukup.”  bentak Putut itu, “bersiaplah untuk mati.”

Glagah Putih tertawa. Tiba-tiba saja ia teringat kepada sahabatnya yang telah tidak ada lagi. Raden Rangga, yang kadang-kadang bersikap aneh. Namun Agung Sedayu telah berpesan kepadanya, agar ia tidak berbuat tanpa kendali sebagaimana Raden Rangga. Meskipun kadang-kadang ia tidak mempertimbangkan langkah-langkah yang diambilnya, maka ia akan dapat terjerumus kedalam satu tindakan yang merugikan. Terutama bagi ayahandanya, Panembahan Senapati.

Namun ternyata bahwa Raden Rangga itu telah menyimpan ilmu yang sangat tinggi didalam dirinya. Bahkan pada saat terakhir ia telah mendapat limpahan kemampuan untuk mengembangkan ilmunya itu. Bukan saja dari unsur-unsurnya, tetapi tatarannya. Getaran yang seakan-akan mengalir dari tubuh Raden Rangga kedalam tubuhnya telah membuat segala-galanya meningkat pada dirinya. Ilmunya, kemampuannya, kekuatan tenaga cadangannya serta kecerdasannya dan ketajaman penalarannya.

Tetapi Glagah Putih tidak sempat terlalu lama mengenang Raden Rangga. Lawannya, Putut Kaskaya itu pun telah mulai bergeser selangkah maju, sehingga karena itu, maka Glagah Putih pun harus bersiap.

“Ambil senjatamu.”  berkata Putut Kaskaya, “kita tidak sedang bermain-main.”

Glagah Putih telah menunjukkan ikat pinggangnya sambil berkata, “Ini senjataku.”

“Kau jangan terlalu sombong. Mungkin dengan senjata semacam itu kau dapat menakut-nakuti para prajurit yang belum pernah menuntut ilmu secara pribadi. Tetapi kau sekarang sedang berhadapan dengan Putut Kaskaya.”  berkata Putut itu.

“Senjataku memang hanya satu ini. Jika kau berkeberatan aku mempergunakan senjata ini, berarti kau menghendaki aku bertempur tanpa senjata.”  berkata Glagah Putih.

“Baiklah.”  berkata Putut itu, “jika kau berkeras hati untuk tetap mempergunakan ikat pinggangmu sebagai senjatamu, maka aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa tanpa senjata aku akan dapat membunuhmu.”

“O, apakah kau menyimpan ilmu tanpa batas sehingga akan dapat mengalahkan aku tanpa senjata?”

“Persetan.”  geram Putut itu, “berhati-hatilah. Kita akan mulai.”

Glagah Putih tidak menjawab, sementara itu Putut Kaskaya telah mulai menyerangnya. Dengan garang kedua tangannya bergerak dengan cepat. Sekali kedua tangannya merentang, namun kemudian keduanya telah melakukan gerak yang berbeda. Ketika ia memutar tangan kanannya, maka tangan kirinya berada di dadanya. Namun tangan kirinya terjulur cepat, sementara tangan kanannya siap di sisi tubuhnya.

Namun Glagah Putih tidak kalah tangkasnya. Ia pun telah bergerak dengan cepat pula mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Ketika Putut Kaskaya itu dengan berputar sambil mengayunkan kakinya, maka Glagah Putih dengan cepat menghindar. Namun secepat itu pula ikat pinggangnya telah memukul kearah kaki lawannya itu. Tetapi ternyata bahwa lawannya sempat mengelak, sehingga ikat pinggang Glagah Putih sama sekali tidak menyentuhnya.

Demikianlah, maka pertempuran antara kedua orang yang masih muda itu menjadi semakin sengit. Putut Kaskaya ternyata mempunyai kemampuan untuk bergerak sangat cepat. Namun lawannya adalah seorang anak muda yang bukan sebagaimana anak muda kebanyakan.

Karena itu, maka Putut Kaskaya pun segera terdesak. Meskipun Glagah Putih masih menahan diri. Ia tidak akan merasa puas jika ia melukai lawannya pada saat lawannya tidak bersenjata. Karena itu, maka yang dilakukannya hanya setiap kali mendesak, mengejutkannya dan sekali-sekali memburunya.

Tetapi Putut Kaskaya yang terdesak itu pun ternyata orang yang sombong. Meskipun ia mengalami kesulitan, namun ia masih belum mempergunakan senjata apa pun. Akhirnya Glagah Putih menjadi jengkel. Ia menganggap perlu untuk memaksa lawannya mempergunakan senjata apa pun. Dengan demikian, maka Glagah Putih pun menjadi semakin keras. Ia semakin mendesak lawannya. Bahkan sekali-sekali ikat pinggang Glagah Putih telah menyentuh pakaian Putut Kaskaya sehingga koyak.

Tetapi Putut itu masih saja menganggap belum perlu mempergunakan senjata karena lawannya hanya mempergunakan sehelai ikat pinggang kulit. Ia merasa hanya dirinya akan tersinggung jika senjata pusakanya hanya akan dihadapi dengan ikat pinggang seperti itu.

Namun akhirnya Putut itu harus melihat kenyataan. Glagah Putih yang menjadi semakin tidak sabar, telah benar-benar menyentuh kulit lawannya dengan ujung ikat pinggangnya.

Putut Kaskaya itu benar-benar terkejut. Meskipun sebelumnya ia sudah merasa heran, bahwa ikat pinggang itu dapat mengoyak pakaiannya yang kuat dan tebal namun ketika goresan ikat pinggang itu benar-benar mengoyak kulitnya, maka ia pun telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak.

Glagah Putih memang tidak mengejarnya. Seakan-akan ia telah memberi kesempatan kepada lawannya untuk melihat apa yang telah terjadi atasnya.

“Iblis manakah yang telah memberikan senjata seperti itu kepadamu?“ bertanya Putut itu dengan geramnya.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Kau harus yakin bahwa senjataku bukan barang mainan.”

Putut Kaskaya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sekarang aku percaya bahwa senjatamu termasuk senjata yang memang pantas dibanggakan.”

“Dan kau masih tetap ingin melawan tanpa senjata?“ bertanya Glagah Putih.

Putut Kaskaya tidak segera menjawab. Namun dalam pada itu Glagah Putih berkata, “Aku tahu, bahwa di punggungmu, dibawah bajumu itu tentu bukan sebilah keris. Tetapi sebuah trisula. Nah, kenapa kau tidak mempergunakan trisulamu melawan ikat pinggangku? Apakah kau tidak yakin bahwa trisulamu sama nilainya dengan ikat pinggangku sehingga kau malu mempergunakannya.”

“Kau memang anak iblis.”  geram Putut Kaskaya.

“Jangan marah.”  sahut Glagah Putih, “dalam pertempuran, kau tidak boleh marah. Apakah kau belum pernah mendapat pesan dari gurumu yang sudah berani berhadapan dengan Orang Bercambuk itu? Jika dalam pertempuran kau marah, maka kau akan kehilangan penalaranmu yang bening, sehingga kau akan dapat menjadi salah langkah.”

 “Tutup mulutmu.”  teriak Putut Kaskaya yang marah, “aku tidak ingin kau gurui.”

“Aku tidak mengguruimu. Aku hanya mengingatkanmu jika kau lupa.”  berkata Glagah Putih.

Putut Kaskaya menjadi benar-benar marah. Karena itu, maka ia pun segera mencabut trisulanya yang disisipkan di ikat pinggangnya di arah punggung. Tanpa mengatakan sesuatu, maka ia pun telah meloncat menyerang Glagah Putih dengan trisulanya yang berputar cepat ditangannya.

Tetapi Glagah Putih telah bersiap menghadapi kemungkinan seperti itu. Karena itu, demikian serangan itu datang, maka ia pun segera bergeser surut. Namun ketika Putut Kaskaya memburunya, maka ia pun telah melenting ke samping. Satu putaran ikat pinggangnya mendatar telah berdesing di telinga Putut Kaskaya. Sekali lagi Putut itu terkejut. Desing yang didengarnya terlalu tajam, sehingga seakan-akan sepotong besi bajalah yang telah terayun menyambar telinganya itu.

“Gila.”  geram Putut itu didalam hatinya. Namun keheranannya itu tidak diucapkannya.

Demikianlah pertempuran diantara mereka pun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Mereka berloncatan diantara benturan kekuatan antara Tanah Perdikan Menoreh dan para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang juga membawa prajurit dari Madiun.

Sementara itu di induk pasukan, Ki Gede Menoreh sendirilah yang telah memegang pimpinan. Karena itu, maka ia pun telah langsung berhadapan dengan Senapati yang memimpin pasukan Panembahan Cahya Warastra itu. Seorang Senapati yang memiliki nama yang besar di Madiun. Tumenggung Tambakyuda.

Ketika ia memasuki arena pertempuran itu bersama pasukan yang dipimpinnya maka ia sudah bertekad untuk bertemu dengan salah seorang pemimpin di Tanah Perdikan. Ia menjadi gembira ketika ia tahu, bahwa lawannya adalah Ki Gede Menoreh sendiri yang juga bernama Ki Argapati. Apalagi ia pun sudah mengetahui bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu mempunyai cacat pada kakinya. Semakin banyak kaki itu bergerak, maka cacat itu akan menjadi semakin nampak.

“Aku harus berusaha memancingnya bertempur dalam jarak panjang. Dengan demikian maka cacat kaki Ki Gede itu akan segera kambuh kembali.”  berkata Tumenggung Tambakyuda itu didalam hatinya.

Demikianlah, ketika pertempuran telah menjadi mapan, maka Ki Tumenggung itu telah berusaha dapat langsung bertemu dengan pimpinan pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Gede pun mengerti, bahwa yang kemudian berdiri dihadapannya dengan wibawanya yang besar itu tentu Senapati pasukan pengawal Panembahan Cahya Warastra. Karena itu, maka Ki Gede pun mengangguk hormat sambil berkata, “Bukankah Ki Sanak Senapati dari pasukan yang telah datang menyerang Tanah Perdikan ku ini?”

Ternyata Senapati itu menjawab tegas, “Ya. Aku adalah Tumenggung Tambakyuda dari pasukan khusus prajurit Madiun yang diperbantukan kepada Panembahan Cahya Warastra yang datang ke Tanah Perdikan ini untuk membunuh Ki Patih Mandaraka. Seorang yang mulutnya tajam sekali, sehingga hubungan antara Mataram dan Madiun seakan-akan telah menjadi semakin jauh. Tanpa orang yang dahulu bernama Ki Juru Martani, maka antara Mataram dan Madiun tidak akan timbul persoalan. Apalagi Panembahan Mas di Madiun menganggap Panembahan Senapati itu sebagai puteranya sendiri.”

“Siapakah yang mengatakannya Ki Tumenggung?“ bertanya Ki Gede Menoreh, “sebab menurut pengetahuanku, Ki Patih Mandaraka adalah seorang bijaksana. Ia pulalah yang telah memperingatkan pesan ayahanda Panembahan Senapati, bahwa Panembahan Senapati telah melakukan tiga kesalahan terhadap Sultan Pajang. Salah terhadap orang tua, salah terhadap guru dan salah terhadap raja. Tetapi Panembahan Senapati pun mempunyai pegangan yang kuat untuk tetap pada sikapnya. Sebenarnya ia tidak menentang Kangjeng Sultan di Pajang. Memang telah terjadi satu kesalah pahaman.”

Ki Tumenggung Tambakyuda mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kau adalah orang Tanah Perdikan yang jauh dari kedudukan para pemimpin pemerintahan. Nampaknya mengelabui orang-orang seperti kau ini demikian mudahnya seperti membujuk anak-anak dengan sepotong gula kelapa. Apa yang sebenarnya kau ketahui hubungan antara Panembahan Senapati dan ayahandanya Sultan Pajang? Dan apa pula yang kau ketahui hubungan antara Panembahan Senapati dengan pamandanya di Madiun sekarang ini?” Ki Tumenggung Tambakyuda itu kemudian justru telah tersenyum sambil berkata, “kau harus mengenal dirimu sendiri Ki Gede. Kau adalah orang yang paling terhormat di Tanah Perdikan yang kecil, sepi dan terasing ini. Tetapi kau bukan apa-apa di Madiun.”

“Ki Tumenggung.”  jawab Ki Gede, “aku tidak mengira, bahwa pendapat Ki Tumenggung begitu sempitnya. Ketika aku melihat ujud Ki Tumenggung, aku benar-benar telah terpengaruh oleh wibawa yang tinggi, sehingga diluar sadar aku telah mengangguk hormat. Tetapi ketika Ki Tumenggung mulai menyebut beberapa hal tentang wawasan Ki Tumenggung atas persoalan yang menyangkut Tanah Perdikan ini, Mataram, Pajang dan Madiun, maka ternyata wawasan Ki Tumenggung begitu sempitnya. Tetapi aku harus mengakui, bahwa Tanah Perdikan ini adalah hanya sekedar satu sisi sempit dari Mataram yang besar. Dan sisi sempit ini telah berhasil menahan dan mendorong surut kekuatan Panembahan Cahya Warastra. Atau dengan kata-kata yang kasar, Tanah Perdikan ini akan dapat memukul mundur kekuatan yang telah kalian persiapkan sebaik-baiknya.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun seorang yang memiliki pengalaman yang luas. Maka katanya, “Kau menilai perang ini dengan peristiwa sepotong demi sepotong. Bukan begitu seharusnya menilai satu pertempuran Ki Gede. Kau yang telah menjabat pimpinan Tanah Perdikan ini berpuluh tahun, ternyata masih juga belum memiliki pengetahuan seorang pemimpin.”

Ki Gede tersenyum. Ia sadar, tidak ada manfaatnya untuk lebih banyak berbicara, sementara pertempuran berlangsung dengan sengitnya.

Karena itu, maka Ki Gede pun segera mempersiapkan diri. Sekilas ia melihat pertempuran yang sengit itu. Namun ia tidak melihat tanda-tanda yang mencemaskan dalam pasukannya.

Namun Ki Gede itu menyadari, bahwa di belakangnya berada beberapa orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi, namun yang salah seorang diantara mereka telah menjadi sasaran serangan Panembahan Cahya Warastra itu. Ki Patih Mandaraka.

Tetapi Ki Gede percaya, bahwa orang-orang tua itu akan mampu menempatkan diri sebaik-baiknya dalam pertempuran itu jika orang-orang berilmu tinggi dari Madiun itu mulai turun ke medan.

Sejenak kemudian, maka Ki Gede itu telah mulai menggerakkan tombaknya. Sementara Ki Tumenggung pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun Ki Tumenggung telah mempunyai bekal pengertian, bahwa kaki Ki Gede itu akan dapat kambuh jika terlalu banyak bergerak.

Untuk melawan tombak Ki Gede, maka Ki Tumenggung itu telah menarik sebilah keris yang ukurannya agak tidak wajar. Keris itu panjang dan besar yang diselipkan di punggungnya mencuat sampai ke pundaknya.

“Keris ini buatan Bali.”  berkata Ki Tumenggung, “seorang sahabatku dari pulau itu telah memberikan keris bertuah ini. Dalam segala pertempuran keris ini menyelesaikan masalah yang paling sulit sekalipun.”

Namun Ki Gede tersenyum. Katanya, “Apa pun ujud senjatanya, namun akhirnya yang penting adalah orang-orang yang memegang senjata itu. Aku sependapat dengan Ki Tumenggung, keris itu memang keris yang sangat bagus. Pamornya bagaikan menyala. Sementara itu, ukurannya meyakinkan bagi senjata di peperangan. Berbeda dengan keris yang aku bawa ini. Terlalu kecil untuk benar-benar bertempur di pertempuran. Karena itu, aku tidak mempergunakan kerisku, tetapi aku mempergunakan tombakku ini.”

“Jangan tekebur Ki Gede. Kau belum pernah melihat bagaimana jika keris ini menjadi marah.”  geram Ki Tumenggung.

“Yang marah itu kerisnya atau Ki Tumenggung sendiri?“ bertanya Ki Gede.

Ki Tumenggung menggeretakkan giginya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia meloncat dan tegak diatas kedua kakinya. Satu diantara kedua kakinya melangkah setengah langkah kedepan, sementara lututnya agak merendah.

Ki Gede memang menjadi berdebar-debar. Ketika Ki Tumenggung memutar kerisnya itu, maka seakan-akan yang berputar adalah sepotong bara yang memanjang. Merah dan bagaikan menyala.

“Luar biasa.”  berkata Ki Gede didalam hatinya.

Tetapi ia tidak mau membiarkan lawannya berbesar hati melihat kedahsyatan senjatanya sendiri. Karena itulah, maka Ki Gede pun telah memutar tombaknya.

Ki Tumenggung lah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ujung tombak Ki Gede itu bagaikan telah memancarkan cahaya yang kehijau-hijauan. Bahkan getaran udara oleh putaran tombak itu rasa-rasanya bagaikan ujung duri yang mengerumuninya dan menyentuh-nyentuh kulitnya. Namun Ki Tumenggung tidak ingin terpengaruh lebih lama lagi.

Karena itu, maka dengan tangkasnya ia sudah meloncat menyerang Ki Gede. Ki Tumenggung Tambakyuda itu sudah mulai dengan rencananya untuk memancing Ki Gede bertempur dalam jarak panjang, agar cacat di kaki Ki Gede segera mengganggunya.

Namun Ki Gede menyadarinya. Apalagi ia secara khusus telah mematangkan diri bertempur pada jarak yang terbatas dengan menyesuaikan ilmunya yang tinggi. Ujung tombaknya lah yang seakan-akan telah memperpanjang langkahnya menggapai lawannya yang menghindar menjauh.

Karena itu, maka Ki Gede memang tidak mudah terpancing. Setiap kali Ki Tumenggung meloncat mengambil jarak, maka Ki Gede hanya beringsut selangkah dan bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya.

Namun bukan berarti Ki Gede tidak mampu memburu lawannya sama sekali. Dalam keadaan yang dianggap tepat, maka Ki Gede pun telah meloncat dengan loncatan panjang sambil mengerahkan tombaknya yang dipegangnya erat-erat ditangan kanannya hampir pada pangkal tangkainya, namun dipegangnya dengan longgar dengan tangan kirinya di tengah-tengahnya. Dengan demikian maka tombak itu dapat bergerak ke segenap arah. Bahkan mematuk dengan cepatnya.

Karena Ki Gede lebih banyak bertahan, maka serangannya yang jarang-jarang itu justru sering mengejutkan dan dianggap sangat berbahaya oleh Ki Tumenggung Tambakyuda.

“Ternyata pujian terhadap Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu bukan sekedar omong kosong.”  berkata Ki Tumenggung didalam hatinya.

Karena itu maka ia harus menjadi sangat berhati-hati dan siap menghadapi serangan yang tiba-tiba dari Ki Gede itu.

Demikianlah, pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya adalah orang-orang yang terlatih dan memiliki pengalaman yang luas. Baik dalam pertempuran gelar, bertempur dalam kesatuan yang besar atau dalam kelompok-kelompok kecil, atau kemampuan pribadi mereka masing-masing.

Sementara itu, para pengawal terpilih pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun mampu mengimbangi kemampuan para prajurit Madiun yang datang bersama Panembahan Cahya Warastra. Para pengawal khusus dari Tanah Perdikan itu pun telah ditempa oleh berbagai macam peristiwa di Tanah Perdikan itu. Beberapa orang yang sudah mendekati pertengahan abad masih nampak satu dua diantara mereka. Dengan pengalaman yang luas mereka dapat menuntun arah bagi para pengawal yang masih jauh lebih muda. Meskipun mereka sudah berlatih dengan masak, namun mereka masih belum memiliki pengalaman yang cukup luas.

Gabungan diantara mereka didalam kelompok-kelompok, ternyata merupakan kekuatan tertinggi dari beberapa kemungkinan yang lain. Dengan demikian maka pertempuran di induk pasukan, itu, sebagaimana yang terjadi di sayap-sayapnya telah menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak memiliki kemampuan yang seimbang.

Sementara itu, Panembahan Cahya Warastra masih berada di belakang garis benturan kedua pasukan. Di sebelah-menyebelahnya adalah orang-orang berilmu tinggi yang dibawanya dari Madiun. Sementara itu, beberapa orang pengawal pilihan seakan-akan telah melingkarinya pula.

Sesaat Panembahan itu sempat memperhatikan pertempuran di medan yang tidak begitu luas itu, diluar padukuhan Induk Tanah Perdikan Menoreh. Setiap kali ia masih menerima para penghubung dari ketiga medan yang lain. Namun dari pertempuran di sisi Selatan, panembahan Cahya Warastra mendapat laporan bahwa pasukan dari Madiun menjadi semakin terdesak. Gabungan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang membuat gelar bersusun telah benar-benar menyulitkan pasukan Madiun itu. Karena itulah maka Panembahan Cahya Warastra telah mengambil satu kesimpulan, bahwa mereka harus segera dapat membunuh Ki Patih Mandaraka.

“Ia berada di belakang garis pertempuran.”  berkata salah seorang prajuritnya.

“Para pemimpin Tanah Perdikan itu harus segera dipancing untuk memasuki garis pertempuran.”  berkata Panembahan Cahya Warastra, “tetapi ingat, aku sendiri yang akan membunuh Ki Patih Mandaraka.”

Beberapa orang berilmu tinggi pun segera telah mempersiapkan diri. Mereka memang harus segera memasuki arena pertempuran. Menyelesaikan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan tidak akan mempunyai keberanian lagi untuk bertempur terus. Yang harus mereka hadapi kemudian tinggal para prajurit dari Mataram yang agaknya memang tidak begitu mudah ditundukkan.

Sementara itu, pertempuran di medan yang lain nampaknya tidak membahayakan kedudukan pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan di sisi Selatan, bersama-sama dengan para prajurit dari Mataram pasukan Tanah Perdikan Menoreh benar-benar masih selalu mendesak pasukan yang kuat dari Madiun, yang diharapkan akan dapat memecah dan menduduki sebagian besar dari Tanah Perdikan itu meskipun hanya untuk sementara. Karena setelah kematian Ki Patih, maka mereka harus menghindarkan diri dari benturan dengan prajurit Mataram yang lebih kuat.

Tetapi prajurit Mataram itu tiba-tiba saja telah berada di hadapan hidung mereka.

Demikianlah, maka Panembahan Cahya Warastra telah memerintahkan para pemimpin dan orang-orang berilmu tinggi untuk turun ke medan. Jika mereka ikut mengalahkan pasukan Tanah Perdikan, maka orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Menoreh yang berada di belakang garis pertempuran, akan segera turun pula ke medan.

Beberapa saat kemudian, maka seperti yang diperintahkan oleh Panembahan Cahya Warastra, maka para pemimpin padepokan yang telah menyatakan diri ikut serta bersama Panembahan Cahya Warastra itu telah turun ke medan.

Dengan kemampuan mereka yang sangat tinggi, maka mereka telah bertempur dan dengan serta merta mendesak para pengawal Tanah Perdikan. Dalam saat yang pendek, beberapa orang pengawal telah jatuh menjadi korban. Ilmu yang tidak terjangkau oleh penalaran pengawal Tanah Perdikan itu, telah membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.

Ki Jayaraga yang cepat menanggapi keadaan telah berkata kepada Ki Patih Mandaraka, “Keadaan menjadi gawat.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk. Katanya, “Jangan biarkan mereka membantai para pengawal Mungkin Ki Gede juga ada dalam bahaya jika beberapa orang mengerumuninya.”

Ki Jayaraga tidak menjawab. Dengan cepat ia pun telah menyusup diantara para pengawal Tanah Perdikan dan menghadapi langsung seorang diantara mereka yang berilmu tinggi.

Ki Waskita yang ada pula diantara mereka menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ada keragu-raguan untuk mengatakannya. Namun akhirnya ia pun berkata, “Ki Patih Mandaraka. Sebenarnya akulah yang harus menunggu perintah. Tetapi nampaknya akulah yang akan mohon ijin Ki Patih untuk ikut melibatkan diri. Meskipun sudah lama aku meletakkan senjataku, tetapi dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan dapat tinggal diam.”

Ki Patih Mandaraka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya kami minta Ki Waskita hadir di tempat ini sama sekali bukan untuk turun ke medan perang. Tetapi sekedar untuk bertemu dan barangkali menarik untuk berbicara tentang masa-masa yang lewat. Tetapi ternyata bahwa keadaannya tidak sebagaimana kita harapkan.”

“Aku pun pernah berada cukup lama disini. Sementara itu, aku dan Ki Gede masih ada kaitan kadang sendiri. Karena itu, sudah tentu aku pun berkewajiban untuk membantu Tanah Perdikan ini menghadapi kesulitan-kesulitan.”  jawab Ki Waskita.

Ki Patih Mandaraka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Terima kasih Ki Waskita. Mudah-mudahan setelah peristiwa ini selesai, kita masih sempat berbicara lagi.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan. Tetapi kita bersama-sama berdoa.”

Ki Patih Mandaraka mengerutkan keningnya. Namun ia pun menjawab, “Ya. Kita bersama-sama berdoa. Aku kira, bukan salah kita bahwa pertempuran ini terjadi sehingga jatuh korban di kedua belah pihak. Namun mungkin bencana bagi Tanah Perdikan ini memang aku penyebabnya.”

“Memang harus dibedakan Ki Patih.”  jawab Ki Waskita, “Yang menyebabkan satu peristiwa terjadi, tidak selalu yang bersalah.”

Ki Mandaraka tersenyum. Sementara itu Ki Waskita pun berkata kepada Kiai Gringsing, “Kiai, untuk sementara Kiai dapat menemani Ki Mandaraka berbincang-bincang. Namun nampaknya beberapa saat kemudian, Kiai pun harus turun ke medan.”

Kiai Gringsing yang tua itu tersenyum. Sebenarnyalah ia sudah merasa bahwa dukungan wadagnya tidak lagi sebagaimana beberapa saat yang lalu. Namun dalam keadaan yang memaksa, maka ia masih akan mungkin bertempur dengan orang yang berilmu setinggi apa pun.

Demikianlah, maka Ki Waskita yang juga sudah tua itu telah menyibak pula para pengawal Tanah Perdikan yang sebagian memang sudah mengenalnya. Demikian Ki Waskita sampai ke garis benturan kedua pasukan, maka ia sudah melihat Ki Jayaraga menghentikan seorang tua yang berjanggut putih, yang telah dengan membabi buta mendesak para pengawal Tanah Perdikan.

Orang berjanggut putih itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Jayaraga dengan saksama. Untuk beberapa saat ia justru berdiam diri.

“Kau pernah mengenal aku?“ bertanya Ki Jayaraga.

Orang berjanggut putih itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menggelengkan kepalanya sambil berdesis, “Aku tidak tahu apakah aku mengenalimu atau tidak. Barangkali sudah sangat lama. Tetapi barangkali kau mempunyai nama?”

Ki Jayaraga tertawa. Katanya, “Dalam keadaan seperti ini kau sempat juga bergurau. Kau kira hanya kau saja yang mempunyai nama.”

“Siapa namamu?“ bertanya orang itu.

“Jayaraga. Sederhana dan barangkali ada seribu orang lebih yang bernama Jayaraga atau yang mirip dengan nama itu. Atau barangkali hanya dibalik suku katanya saja.”  jawab Ki Jayaraga.

“Nama itu terlalu bagus bagi orang kumal seperti kau.”  berkata orang berjanggut putih itu, “pantasnya kau bernama Tambra atau Kripik.”

Ki Jayaraga tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau memang seorang yang pintar bergurau. Tetapi karena nama tidak usah membeli, maka aku memilih nama yang baik. He, aku belum bertanya siapa namamu?”

Orang berjanggut putih itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tidak ada gunanya aku menyebut. Kau tentu hanya akan membalas, mengatakan bahwa namaku terlalu baik bagiku.”

Ki Jayaraga tertawa semakin keras. Namun kemudian katanya, “Tidak. Aku tidak akan memberikan tanggapan apa pun pada namamu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Namaku Karpa Tole.”

“He, siapa?“ Ki Jayaraga mengerutkan dahinya.

“Karpa Tole.”  ulang orang itu.

Suara tertawa Ki Jayaraga meledak, sehingga orang berjanggut Putih itu membentak, “He, kau katakan bahwa kau tidak akan memberi tanggapan apa pun pada namaku.”

“Bukankah aku tidak mengatakan apa pun.”  jawab Ki Jayaraga.

“Kau tertawa seperti orang kesurupan.”  geram orang itu.

“Aku hanya tertawa. Aku tertawa karena namamu yang lucu itu.”  sahut Ki Jayaraga.

“Tetapi aku adalah seorang pemimpin sebuah perguruan. Perguruan yang sangat ditakuti orang. Perguruan Dadap Kerep.”  berkata orang itu.

“Dadap Kerep?“ suara tertawa Ki Jayaraga tiba-tiba saja menjadi patah, “menurut pengetahuanku pemimpin padepokan Dadap Kerep adalah Ki Sampar Alun. Bukan orang yang bernama Karpa Tole.”

Orang berjanggut Putih itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau mengenal Ki Dadap Kerep?”

“Ya. Aku mengenal Ki Dadap Kerep. Aku pernah datang ke padepokan itu. Ki Dadap Kerep atau yang juga disebut Ki Sampar Alun adalah seorang yang memiliki wibawa yang sangat besar.”  berkata Ki Jayaraga. Bahkan katanya kemudian, “Terus terang, aku sangat hormat kepadanya. Bukan saja karena ia memang sedikit lebih tua dari aku. Tetapi ilmunya pun sangat aku hormati.”

Orang berjanggut Putih itu tertawa. Katanya, “Jika demikian kau pantas menyerah sekarang. Aku adalah adik seperguruan Ki Sampar Alun di padepokan Dadap Kerep itu. Yang sekarang disebut Ki Dadap Kerep adalah aku, Karpa Tole. Ilmuku sama sekali tidak berselisih seujung rambut pun dengan Ki Sampar Alun itu. Bahkan aku yang lebih suka bertualang sejak muda, memiliki pengalaman dan kematangan yang jauh lebih luas dari kakang Sampar Alun yang hidupnya dihabiskannya di padepokan sehingga pengetahuannya menjadi sempit dan tidak berkembang.”

Ki Jayaraga itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata Ki Sampar Alun itu begitu cepat tersingkir. He, kenapa pimpinan padepokan itu harus diganti?”

Orang yang menyebut dirinya Karpa Tole itulah yang nampak keheranan. Dengan nada tinggi ialah yang justru bertanya, “Jadi bagaimana? Apakah setelah kakang Sampar Alun meninggal, ia dibiarkan tetap memimpin padepokan Dadap Kerep. Ia memang lebih tua darimu dan lebih tua dari aku. Bahkan selisihnya mungkin agak banyak. Sekitar lima atau enam tahun.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi memang mungkin sekali bahwa kau pernah melihat aku pada waktu itu, pada waktu aku mengunjungi Ki Sampar Alun. Karena itu ketika kita bertemu, kau nampaknya sudah pernah mengenali aku.”

“Kalau aku pernah mengenalimu, tentunya kau juga pernah mengenali aku.”  berkata Karpa Tole.

“Belum tentu.”  jawab Ki Jayaraga, “aku waktu itu adalah tamu pemimpin padepokanmu. Hanya orang-orang terpenting sajalah yang menemuiku. Nampaknya waktu itu kau sama sekali belum mempunyai arti apa-apa bagi padepokan Dadap Kerep. Namun tiba-tiba kini kau sudah menjadi pemimpinnya.”

“Cukup.”  geram Karpa Tole, “kita bertemu disini tidak untuk berbicara tentang padepokan Dadap Kerep. Apa pun yang terjadi di padepokan itu sama sekali urusanmu. Sekarang kau bertemu dengan aku. Pemimpin padepokan Dadap Kerep yang baru. Namun yang memiliki kelebihan dalam segala hal dari pemimpin yang telah meninggal itu.”

Tetapi tiba-tiba Ki Jayaraga berkata, “Menyerahlah. Sia-sia saja kau mengadakan perlawanan. Pasukan Panembahan Kecruk Putih itu sudah dihancurkan dimana-mana. Pasukan kebanggaannya yang datang dari Selatan itu sama sekali tidak berhasil maju selangkah pun. Bahkan semakin lama semakin terdesak sehingga sebentar lagi tentu akan segera pecah. Tidak sampai matahari turun ke punggung bukit, maka pasukan dari sisi Selatan itu tentu sudah tercerai berai.”

“Kau bermimpi. Jarang sekali terjadi orang sempat bermimpi di peperangan yang akan dapat merenggut nyawanya. Dengar, apa pun yang terjadi di segala medan, tetapi jika Patih Mandaraka itu sudah mati, maka semuanya akan selesai.”  geram Karpa Tole itu.

Tetapi Ki Jayaraga berkata dengan mantap, “Kita akan segera melihat akhir dari pertempuran ini sebagai suatu kenyataan, apa pun yang terjadi.”

“Bagus. Bersiaplah. Kau akan hancur menjadi debu. Kau agaknya benar-benar tidak menyadari dengan siapa kau berhadapan.”  geram Karpa Tole itu pula.

Ki Jayaraga tidak menyahut lagi. Tetapi ia pun segera bersiap. Ia pun percaya bahwa orang yang bernama Karpa Tole itu memiliki kelebihan. Namun Ki Jayaraga sendiri adalah orang yang juga mempunyai bekal cukup untuk maju kedalam pertempuran yang paling dahsyat sekalipun. Pertempuran diantara orang-orang berilmu tinggi.

Sejenak kemudian, maka Karpa Tole itu pun telah bersiap untuk bertempur sampai tuntas. Hanya kematian sajalah yang akan menghentikan pertempuran itu.

Beberapa saat kemudian, kedua orang tua itu pun telah terlibat dalam pertempuran. Namun pada langkah-langkah pertama mereka masih saling menjajagi. Keduanya masih mencoba untuk mengetahui landasan ilmu lawan. Namun semakin lama mereka pun menjadi semakin cepat bergerak. Meloncat-loncat menyerang dan menghindar. Benturan-benturan kecil mulai sering terjadi untuk mengukur kekuatan masing-masing.

Dalam pada itu, pertempuran antara kedua pasukan pun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka. Kehadiran Ki Jayaraga telah mengurangi tekanan pada pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, karena orang berjanggut putih itu telah mendapatkan lawannya.

Tetapi sementara itu, seorang yang lain telah mengacaukan pertahanan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu pula. Setiap orang itu menggerakkan tangannya, maka bagaikan angin prahara telah menyambar para pengawal Tanah Perdikan sehingga mereka terdorong surut beberapa langkah. Bahkan kadang-kadang seorang telah melanggar orang yang lain dan saling berbenturan.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian melangkah meninggalkan Ki Jayaraga yang telah bertempur melawan Karpa Tole.

Orang yang sedang menghalau para pengawal itu terkejut ketika ia melihat seorang di antara para pengawal itu tidak terdorong dari para pertahanannya. Bahkan orang itu telah bergerak maju beberapa langkah.

“Anak iblis.”  geram orang itu, “siapa kau? Apakah kau yang disebut orang Bercambuk?”

Ki Waskita menggeleng. Katanya, “Aku tidak mempunyai cambuk.”

“Jadi siapa kau?, “berkata orang itu.

“Namaku Waskita.”  jawab Ki Waskita, “siapakah kau Ki Sanak?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi bukan kaulah orang yang aku tunggu. Aku sedang mencari Orang Bercambuk yang katanya memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Di medan perang sebaiknya kau tidak usah mencari orang yang tidak kau temui. Disini kau temui aku, sehingga kau tidak perlu mencari orang lain.”  berkata Ki Waskita.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tertawa berkepanjangan. Katanya, “Siapakah kau sebenarnya berani menantang aku, yang dipersiapkan untuk bertempur menghadapi Orang Bercambuk?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya yang diperhitungkan oleh Panembahan Cahya Warastra, selain Ki Patih Mandaraka sendiri adalah Orang Bercambuk itu, sehingga yang lain tidak terlalu banyak diperhitungkan.

Namun karena Ki Waskita tidak segera menjawab, maka orang itu telah mendesaknya, “He, kenapa kau menjadi bingung? Ki Sanak, kau masih mempunyai kesempatan. Jika kau mau memanggil Orang Bercambuk itu untuk datang kemari, maka kau akan aku beri kesempatan untuk hidup.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Ki Sanak. Orang Bercambuk itu nampaknya belum merasa perlu untuk turun ke medan. Ia sedang melihat-lihat apa yang terjadi disini. Karena itu, kau tidak perlu mengigau tentang Orang Bercambuk yang barangkali sekarang sedang menggembalakan kambingnya itu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru bertanya, “Kau kenal atau tidak dengan Orang Bercambuk itu? Atau barangkali kau mempunyai pengertian yang salah?”

“Tentu aku kenal.”  jawab Ki Waskita, “ia memang datang kemari bersama Ki Mandaraka. Bukankah menurut laporan yang kau dengar juga begitu? Petugas sandimu tentu tahu akan hal itu. Tetapi kau belum menyebut siapa namamu?”

“Aku Ajar Cangkring.”  jawab orang itu, “agaknya kau tentu sudah pernah mendengar namaku.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun menggeleng sambil berkata, “Sayang Ki Sanak. Aku belum pernah mendengar. Sebagaimana kau belum pernah mendengar namaku.”

“Nampaknya harga dirimu terlalu tinggi Ki Sanak. Sebaiknya kau akui saja, bahwa nama Ki Ajar Cangkring memang telah dikenal di seluruh Tanah ini. Dari Banten sampai ke Blambangan.”  berkata orang itu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Katakan bahwa nama Ki Ajar Cangkring telah didengar semua orang di tanah ini kecuali aku. Mungkin itu karena pengetahuanku yang terlalu picik.”

Ki Ajar Cangkring itu tertawa. Katanya, “Kau ternyata ingin juga disebut rendah hati. Siapa pun kau dan apa pun yang kau lakukan, tetapi kau nampaknya memang sedang tersesat. Karena itu sekali lagi aku menawarkan kepadamu, pergilah dan panggil Orang Bercambuk itu kemari. Kau akan terlepas dari sentuhan tanganku yang dapat membunuhmu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku berpihak pada Tanah Perdikan yang tiba-tiba telah mendapat serangan ini, sehingga karena itu, maka aku bukan bawahanmu yang dapat kau perintah untuk melakukan sesuatu di medan ini menurut kepentinganmu.”

Telinga Ki Ajar Cangkring bagaikan disentuh api. Karena itu maka ia pun menggeram, “Baiklah. Agaknya kau memang ingin mati mendahului Orang Bercambuk itu.”

Ki Waskita tidak menjawab lagi. Orang itu pun dengan serta merta pula telah menyerang Ki Waskita. Tetapi Ki Waskita sudah siap untuk mengelakkan serangan itu.

Demikianlah, maka Keduanya pun telah bertempur. Ki Ajar Cangkring memang masih lebih muda dari Ki Waskita. Namun ternyata bahwa Ki Waskita masih cukup tangkas untuk mengimbangi kecepatan gerak Ki Ajar Cangkring.

Sementara itu, orang-orang berilmu tinggi lainnya pun telah berada di medan pula. Sementara Ki Cahya Warastra masih juga sempat memperhatikan orang-orangnya yang sedang bertempur dengan sengitnya. Tetapi Panembahan itu tidak sempat melihat keadaan sayap-sayap pasukan kecilnya itu.

Apalagi ketika ia justru tertegun melihat Ki Ajar Cangkring yang bertempur tidak melawan Orang Bercambuk. Mula-mula Panembahan Cahya Warastra akan menjadi marah dan memerintahkan Ki Ajar Cangkring untuk meninggalkan orang itu dan menyerahkannya kepada orang Iain. Tetapi ketika ia melihat kedua orang itu bertempur, maka ia mulai berpikir lain.

 “Orang ini adalah orang yang berilmu tinggi. Ia memang memerlukan seorang lawan yang memadai.”  berkata Panembahan itu didalam hatinya.

Namun dengan demikian maka ia mulai menilai, apakah Putut Sendawa akan dapat menyelesaikan sendiri Orang Bercambuk. Atau ia harus mencari orang lain untuk mengawaninya. Jika ia sendiri harus menghadapinya, maka Ki Patih Mandaraka akan dapat terlepas dari tangannya.

Karena itu, maka Panembahan Cahya Warastra itu pun telah bergeser lagi. Ia berusaha menemui Karpa Tole yang barangkali dapat menggantikan kedudukan Ki Ajar Cangkring atau bersama Putut Sendawa menghadapi Orang Bercambuk. Tetapi Panembahan Cahya Warastra itu pun menjadi berdebar-debar melihat Karpa Tole itu bertempur dengan orang yang memiliki ilmu yang mampu mengimbanginya.

“Setan.”  geram Panembahan itu, “siapa saja yang sempat dikumpulkan oleh Mandaraka untuk melindungi dirinya?”

Sejenak kemudian Panembahan Cahya Warastra itu pun telah bergeser lagi. Ia kemudian menemui Putut Sendawa yang telah siap untuk menyusup menyeberangi garis pertempuran untuk mencari orang bercambuk di tengah-tengah pengawal Tanah Perdikan.

“Kau akan kemana?, “bertanya Panembahan Cahya Warastra.

“Menemui Orang Bercambuk yang bersembunyi di belakang garis pertempuran.”  jawab Putut Sendawa.

Panembahan Cahya Warastra mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apakah kau sudah gila?”

“Bukankah aku harus melawan Orang Bercambuk itu? Aku memang menunggu Ki Ajar Cangkring. Tetapi aku tidak telaten. Nampaknya Ki Ajar Cangkring ingin memanaskan darahnya lebih dahulu dengan orang lain. Baru akan menemui Orang Bercambuk itu. Namun sementara itu, aku tentu sudah berhasil membunuhnya.”

“Ternyata kau menjadi sangat meragukan.”  berkata Panembahan Cahya Warastra, “jika kau sedikit mampu berpikir, maka kau tentu tidak akan berusaha menyeberangi garis pertempuran, karena dengan demikian maka rasa-rasanya kau seperti akan terjun kedalam perapian untuk membakar diri. Seorang melawan seorang pun kau tidak akan mampu mengimbangi Orang Bercambuk itu. Apalagi jika ia masih berada diantara para pengawal Tanah Perdikan.”

“Tetapi menurut Panembahan, Orang Bercambuk itu sudah terlalu tua. Sakit-sakitan dan lemah, sehingga wadagnya tidak akan dapat mendukung kedahsyatan ilmunya lagi. Bukankah dengan demikian berarti bahwa ia tidak lagi berada dalam kekuatan puncaknya?, “berkata Putut Sendawa.

“Tetapi untuk menjumpainya kau tidak dapat mempergunakan caramu yang bodoh itu. Masih dapat dimengerti jika kau berusaha memancingnya ke garis pertempuran. Tetapi jika kau berusaha menyeberangi dan bertempur melawan Orang Bercambuk itu di sisi para pengawal Tanah Perdikan, maka kau akan mati dengan luka arang keranjang.”  desis Panembahan Cahya Warastra, “meskipun kau mempunyai kekuatan Aji Teleng atau jenis apa pun yang dapat memanfaatkan panas sebagai kekuatan ilmumu, namun kau harus membayangkan bahwa masih ada dua tiga orang berilmu tinggi di seberang garis pertempuran itu. Setidak-tidaknya ada Orang Bercambuk dan Patih Mandaraka itu sendiri.”

Putut Sendawa mengangguk-angguk. Namun ia bertanya, “Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kau tampil di garis pertempuran.”  berkata Panembahan Cahya Warastra.

“Menghadapi pengawal-pengawal itu?“ bertanya Putut Sendawa.

“Sekedar untuk memancing orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan.”  jawab Panembahan Cahya Warastra.

Putut itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi sebenarnya aku agak segan merendahkan diri dan mengotori tanganku dengan nyawa pengawal-pengawal kecil seperti itu.”

“Kau memang gila.”  geram Panembahan Cahya Warastra, “itu memang bukan tujuan. Tetapi cara untuk memancing mereka keluar. Jika Mandaraka itu masih saja bersembunyi, aku pun akan membunuh pengawal itu sebanyak-banyaknya.”

Putut Sendawa itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan melakukannya.”

Seperti perintah Panembahan Cahya Warastra, maka Putut Sendawa itu benar-benar telah turun ke garis pertempuran. Ternyata kehadirannya memang mengejutkan para pengawal. Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun menyadari, bahwa yang dilakukan oleh orang berilmu tinggi itu adalah untuk memancing para pemimpin dari Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, maka Kiai Gringsing berkata kepada Ki Patih Mandaraka, “Biarlah aku memperlihatkan diriku.”

“Tetapi sebaiknya Kiai tidak perlu turun ke medan.”  berkata Ki Mandaraka.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Wadagku memang tidak lagi tegar seperti satu dua tahun yang lalu. Pada saat terakhir keadaanku cepat memburuk. Tetapi aku masih sanggup untuk tampil ke medan. Barangkali justru akan memberikan rangsangan pada jaringan urat syarafku untuk bekerja lagi dengan baik.”

Ki Mandaraka tersenyum. Katanya, “Aku mengucapkan terima kasih kepada kesediaan Kiai.”

Ternyata Kiai Gringsing juga tertawa. Katanya, “Permainan yang nampaknya masih akan menarik.”

Demikianlah, sejenak kemudian Kiai Gringsing yang tua itu sudah berada di medan. Ia sadar, bahwa orang yang harus dihadapinya adalah seorang berilmu tinggi yang masih cukup muda, meskipun sudah lebih tua dari muridnya, Agung Sedayu. Dengan demikian maka Kiai Gringsing harus memperhitungkan sebaik-baiknya dukungan wadagnya. Meskipun ia sanggup menghimpun segala jenis ilmu, tetapi ia tidak dapat mengatasi saat-saat wadagnya menjadi kian rapuh, karena ia tidak mampu menentang arus keharusan yang berlaku bagi setiap mahluk.

Demikian Kiai Gringsing muncul diantara para pengawal, maka dengan serta merta Putut Sendawa meloncat mendekatinya sambil berkata lantang, “Kaulah Orang Bercambuk itu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya dengan nada rendah, “Ya. Akulah yang disebut orang bercambuk itu.”

“Kita akhirnya dapat bertemu Kiai. Bukankah kau sekarang disebut Kiai Gringsing?“ bertanya Putut Sendawa itu lagi.

“Ya. Orang menyebutku Kiai Gringsing.”

“Kau sudah terlalu tua untuk bertempur. Apakah kau masih sanggup?“ bertanya Putut itu pula.

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Aku memang sudah tua. Sebenarnya aku juga sudah tidak ingin berkelahi apa pun alasannya. Tetapi aku tidak sampai hati membiarkan orang-orang itu menjadi korban kegaranganmu. Karena itu, maka terpaksa aku memasuki arena untuk mengajakmu berbincang-bincang. Sebab dengan demikian maka kau tentu akan berhenti membunuh.”

“Ah kau.”  desis orang itu, “agaknya memang senang sempat berbincang-bincang dengan kau yang digelari Orang Bercambuk. Tetapi sudah barang tentu tidak dalam keadaan seperti ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Bagaimana dengan keadaan seperti ini? Bukankah justru menarik? Biar saja orang lain bertempur dengan menggerakkan kemampuan mereka, sementara kita disini duduk berbincang-bincang.”

Orang itu semua berwajah tegang itu tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Ternyata kau memang orang aneh. Jika bukan aku maka sudah barang tentu orang itu akan dapat kau pengaruhi sehingga benar-benar bersedia duduk dan berbincang-bincang denganmu. Tetapi sayang Kiai. Aku agaknya telah mempunyai pilihan sendiri. Kita bertempur dahulu, baru berbincang-bincang.”

“Bagaimana jika salah seorang diantara kita mati?,“ bertanya Kiai Gringsing, “bukankah kita tidak akan dapat berbincang-bincang lagi?”

“Apaboleh buat. Karena keperluan pokok kita datang ke tempat ini memang bukan untuk berbincang-bincang. Tetapi untuk bertempur.”

“O.”  Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya pula, “Hampir aku lupa. Kita memang akan berkelahi, meskipun sebenarnya aku sudah tidak ingin melakukannya. Bagaimana dengan kau Ki Sanak?”

“Jika kau tidak ingin melakukannya, kenapa kau tidak meninggalkan saja medan ini? Kenapa kau justru telah memasuki arena jika sebelum bertempur kau sudah menyesal.”

“Bukan menyesal. Tetapi jika ada kesempatan lain dari bertempur, aku memilih kesempatan lain itu.”  berkata Kiai Gringsing.

“Tidak ada kesempatan lain Kiai. Kita harus bertempur.”  berkata Putut Sendawa.

“Baiklah. Tetapi kau harus menyadari, bahwa aku sudah tua. Aku sudah tidak lagi dapat bergerak dengan tangkas dan cepat. Karena itu, maka kita akan bertempur perlahan-lahan.”  berkata Kiai Gringsing.

Putut Sendawa termangu-mangu. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku sekarang tahu, Kiai. Agaknya Kiai adalah orang yang sangat rendah hati. Namun justru karena itu, maka aku harus menjadi sangat berhati-hati berhadapan dengan Kiai.”

“Ah kau.”  Kiai Gringsing tersenyum. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Siapa namamu? Apakah kau tadi sudah menyebut atau belum?”

“Putut Sendawa.”  jawab orang itu.

“Siapakah nama gurumu?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Sudahlah Kiai. Tidak ada gunanya mengenali nama guruku. Guruku adalah orang yang selalu mengasingkan dirinya sejak muda, sehingga hampir tidak ada orang yang mengenalnya atau yang dikenalnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga hanya berurusan dengan kau. Tidak dengan gurumu. Agaknya kau benar bahwa aku tidak perlu tahu gurumu itu.”

“Maaf Kiai.”  berkata Putut Sendawa yang mulai menjadi hormat kepada lawannya itu, “kita memang harus bertempur. Memang satu kehormatan dapat bertemu dalam pertempuran dengan Orang Bercambuk. Nah, aku memang ingin melihat dan mendengar lecutan cambuk Kiai.”

Kiai Gringsing tersenyum. Namun ia pun telah mengurai cambuknya pula.

“Cobalah Kiai.”  berkata Putut Sendawa.

“Jadi kita akan bertempur?“ Kiai Gringsing masih bertanya.

“Ya. Untuk itu kita datang kemari.”  jawab Putut Sendawa.

“Baiklah.”  Kiai Gringsing mengangguk-angguk, “marilah. Aku sudah siap dengan cambukku. Kau bersenjata apa?”

Putut Sendawa itu segera menarik senjatanya. Sebuah tombak bertangkai sangat pendek. Pada mata tombaknya terdapat sebuah kait yang tajamnya seperti duri pandan.

“Ngeri.”  desis Kiai Gringsing.

“Apa yang ngeri?“ bertanya Putut Sendawa.

“Senjatamu. Ujung tombak dengan duri pandan. Tangkainya tidak lebih panjang dari pedang.”  berkata Kiai Gringsing.

Putut Sendawa tiba-tiba saja mengangguk-angguk sambil berkata, “Biarlah kita mulai. Seandainya aku harus mati, maka rasa-rasanya menyenangkan mati ditangan seorang yang rendah hati seperti Kiai. Aku tidak mengira bahwa Orang Bercambuk itu demikian ramah dan rendah hati. Mula-mula aku mengira seorang yang sudah tua, garang, sombong dan tidak mau tahu tentang ketuaannya. Ternyata Kiai sama sekali tidak demikian.”

“Ah. Jangan memuji begitu. Mari, lawan aku.”  berkata Kiai Gringsing, “bukankah kita datang untuk berkelahi.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku ingin mendengar ledakan cambuk Kiai sebelum aku mati. Aku telah mendengar ledakan cambuk murid Kiai di sayap kanan pasukan Tanah Perdikan. Apalagi jika Kiai yang menggerakkan ujung cambuk itu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya.”

Kiai Gringsing menyadari, bahwa Putut itu pun seorang yang berilmu tinggi, yang mengerti arti ledakan cambuknya. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian telah menghentakkan ujung cambuknya itu. Tetapi cambuk itu tidak meledak. Tidak melontarkan suara yang keras sebagaimana cambuk Agung Sedayu. Namun Putut Sendawa mampu menangkap kekuatan getaran ujung cambuk Kiai Gringsing itu, sehingga ia sekali lagi mengangguk sambil berdesis, “Aku akan mati dengan tenang ditangan Kiai.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia melihat orang yang bernama Putut Sendawa itu seakan-akan justru melihat satu kenyataan yang harus diterimanya. Bahkan ia telah pasrah. Getaran cambuk itu merupakan satu isyarat bagi Putut Sendawa, bahwa ia tidak akan mampu mengatasi kemampuan ilmu orang yang disebut Kiai Gringsing itu.

Namun Putut Sendawa itu berkata, “Kiai. Ternyata aku telah bertemu dengan kekuatan yang jauh diluar jangkauan kemampuanku. Namun demikian Kiai, tolong, biarlah aku mati sebagai seorang laki-laki.”

Tetapi Kiai Gringsing yang memiliki sebangsal pengalaman tidak mau merendahkan lawannya. Ia tahu, bahwa jika ia mulai merendahkan lawannya, maka ia mulai terjerumus kedalam kekalahan. Karena itu, maka ia masih tetap berhati-hati menghadapi lawannya yang seakan-akan sudah begitu pasrah menghadapi kematian. Namun demikian Putut itu masih bertekad untuk mati sebagai laki-laki.

Demikianlah maka sejenak kemudian, maka Putut Sendawa itu telah memutar senjatanya. Dengan suara nyaring ia berkata, “Kiai, aku akan segera menyerang.”

Kiai Gringsing memang sudah bersiaga. Sementara itu, Putut Sendawa itu bagaikan terbang meluncur sambil mengayunkan senjatanya. Namun dengan tangkas Kiai Gringsing bergeser, mengelakkan senjata yang mengerikan itu. Karena itu, maka ujung tombak dengan kait duri pandan itu tidak menyentuhnya sama sekali. Namun dengan cepat pula orang itu menggeliat dan berputar. Sekali lagi ia meluncur dengan senjata yang terayun pula mendatar kearah dada Kiai Gringsing. Namun dengan sedikit bergeser surut, ujung senjata itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Ternyata serangan-serangan berikut menjadi semakin cepat. Orang yang menyebut diri Putut Sendawa itu ternyata telah langsung melepaskan ilmunya yang sangat tinggi. Ia mampu meluncur terbang ke segala arah sambil mengayun-ayunkan senjatanya yang bagaikan menyala.

Tetapi ternyata Kiai Gringsing benar-benar seorang yang sulit untuk diimbangi. Ia dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan keadaan wadagnya yang menjadi semakin lemah. Karena itu, maka ia tidak terlalu banyak bergerak. Ia hanya bergeser sedikit-sedikit menghindari serangan lawannya yang datang setiap kali dengan cepat dan kuat.

Demikianlah, pertempuran antara keduanya menjadi semakin cepat dan keras. Namun Kiai Gringsing berusaha untuk tidak mempergunakan kekuatan wadagnya terlalu banyak. Ia hanya bergeser selangkah demi selangkah. Namun gerak yang seakan-akan tidak nampak itu telah mampu menghindarkan dari sentuhan ujung senjata lawannya.

Putut Sendawa benar-benar heran menghadapi orang tua itu. Namun ia tidak berpura-pura. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing. Namun seperti yang dikatakannya, ia ingin mati sebagai seorang laki-laki.

Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia tidak saja dengan cepat meluncur menyerang, tetapi ujung senjatanya itu bagaikan telah menyala. Dan bahkan seakan-akan menyemburkan api yang kemerah-merahan.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun serangan-serangan itu memang menjadi semakin berbahaya baginya. Ternyata paduan antara ilmu Putut Sendawa dengan senjata yang agaknya memang ciri kekuatan dan kemampuannya itu telah menimbulkan kekuatan yang menyerangnya dengan dahsyatnya dan menjadi sangat berbahaya.

Ketika semburan api menyambar dengan dahsyatnya, Kiai Gringsing harus meloncat beberapa langkah surut. Namun agaknya Putut Sendawa tidak melepaskannya. Demikian kedua kakinya menyentuh tanah, maka ia pun telah menggeliat dan siap untuk meluncur kembali menyerang Kiai Gringsing. Tetapi tiba-tiba saja orang itu telah menghentakkan diri, menggagalkan niatnya. Demikian ia hampir melenting, maka cambuk Kiai Gringsing telah menghentak sendal pancing.

Seperti bahkan melampui sebelumnya, cambuk itu tidak meledak. Tidak menimbulkan kegaduhan dan bunyi yang memecahkan selaput telinga. Namun jantung Putut Sendawa bagaikan runtuh dari tangkainya didalam dadanya.

“Kiai.”  desisnya.

Kiai Gringsing yang siap untuk melecutkan cambuknya sekali lagi telah menahan diri. Sementara itu Putut Sendawa berkata, “Beri aku kesempatan mempertahankan agar jantungku tidak jatuh. Getar ledakkan cambuk Kiai benar-benar mampu meruntuhkan gunung.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau akan mampu bertahan. Hanya jika ujung cambukku menyentuh tubuhnya, maka kau tidak akan mampu bertahan.”

Putut Sendawa termangu-mangu sejenak. Namun ia pun telah mempersiapkan dirinya. Senjatanya masih memancarkan warna api yang setiap saat dapat disemburkan kearah lawannya. Untuk beberapa saat mereka saling berhadapan. Putut Sendawa dengan senjatanya yang mengerikan, sementara Kiai Gringsing telah siap pula dengan cambuknya.

Namun Putut Sendawa yang pernah merasa dirinya berilmu sangat tinggi dan merasa kecewa ketika harus menghadapi Orang Bercambuk itu berdua karena ia merasa akan mampu menyelesaikannya sendiri, harus melihat satu kenyataan yang lain. Tetapi Putut itu sama sekali tidak akan mengingkari kenyataan itu. Sejak Kiai Gringsing meledakkan cambuknya yang pertama, maka Putut itu sudah menerima dengan dada tengadah satu kenyataan, bahwa ilmunya adalah bukan apa-apa bagi Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsing menghormatinya, bahwa Putut itu telah bertekad untuk menyelesaikan tugasnya sebagai seorang laki-laki, apa pun yang terjadi.

Sejenak kemudian, maka Putut itu pun telah mengulangi serangan-serangannya yang cepat sekali itu, sehingga dengan demikian maka pertempuran itu pun telah berlangsung semakin sengit. Namun bagaimanapun juga, kedua orang yang bertempur itu ternyata saling menghormati karena sikap dan kemampuan mereka masing-masing.

Sementara itu, di belakang garis benturan antara dua kekuatan itu, Ki Patih Mandaraka merenungi pertempuran yang berlangsung dengan sengitnya itu. Para bekas perwira Pajang yang diundangnya sebagai sahabat-sahabatnya itu telah menyatakan diri untuk turun ke medan. Namun Ki Patih Mandaraka telah mencegahnya.

“Aku titipkan pengamatan terakhir atas ketahanan pasukan Tanah Perdikan ini kepada kalian. Ki Gede telah langsung memimpin pertempuran itu. Hanya dalam keadaan yang memaksa, seandainya masih ada orang-orang berilmu tinggi diantara para pengikut Panembahan Cahya Warastra, maka tolong, tahan mereka. Mudah-mudahan aku dapat bertemu sendiri dengan Panembahan yang ingin membunuhku itu.”  berkata Ki Patih Mandaraka.

Para bekas perwira Pajang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Baiklah Ki Patih. Kami akan tetap mengamati medan. Hanya dalam keadaan yang seperti Ki Patih maksudkan kami akan turun ke medan.”

“Aku akan melihat benturan kekuatan itu.”  berkata Ki Patih kemudian.

Sejenak kemudian Ki Patih diikuti oleh dua orang pengawal terpilihnya telah memasuki medan. Mula-mula mereka melihat pertempuran yang sangat seru diantara kedua pasukan yang nampaknya memiliki tekad yang tinggi. Beberapa orang pemimpin kelompok yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya nampaknya telah saling berhadapan pula.

Sementara itu, Panembahan Cahya Warastra sendiri juga sudah berada di medan. Meskipun mereka belum bertemu, tetapi medan yang tidak begitu luas itu, tentu akan mempertemukan mereka.

Sementara itu, di sayap kanan, Agung Sedayu masih bertempur dengan sengitnya melawan orang yang menyebut dirinya Wreksa Gora. Orang yang memang merasa memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Wreksa Gora yakin bahwa ia akan dapat membunuh Agung Sedayu. Bahkan gurunya sekalipun yang disebut Orang Bercambuk.

Namun sementara itu, keduanya masih bertempur untuk saling menjajagi. Agung Sedayu masih melecutkan cambuknya dengan suara yang meledak-ledak.

Ketika pertempuran itu berlangsung beberapa lama, maka Wreksa Gora mulai mengenal kemampuan Agung Sedayu. Perlahan-lahan tumbuh pengakuan bahwa orang yang masih terhitung muda itu ternyata memang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun Wreksa Gora pun yakin akan kemampuannya. Karena itu, ketika pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit, maka Wreksa Gora merasa perlu untuk mulai menunjukkan kelebihannya kepada Agung Sedayu.

Itulah sebabnya, maka dalam keterlibatan pertempuran yang cepat, Wreksa Gora telah meloncat mengambil jarak. Namun kemudian ia pun telah berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan nada garang ia berkata, “Nah Agung Sedayu. Pameran kekuatan dan kemampuan yang kau tunjukkan kepadaku sudah cukup memadai. Sekarang, kau harus melihat satu kenyataan tentang lawanmu itu. Ledakan cambukmu yang bagaikan memecahkan langit itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia melihat perubahan sikap lawannya. Seakan-akan ia justru menantang agar ia menyerangnya langsung.

Pengalaman Agung Sedayu memberitahukan kepadanya. bahwa sikap itu adalah sikap seseorang yang merasa kulitnya mendapat satu perlindungan ilmu yang dapat menjadi perisai yang diandalkannya. Sebagaimana dirinya sendiri, akan merasa terlindung jika ia telah mengetrapkan ilmu kebalnya meskipun pada suatu saat ada kekuatan ilmu yang akan dapat mengoyak perisai ilmu kebalnya itu.

Namun dengan demikian, maka Agung Sedayu memang merasa bahwa ia harus semakin berhati-hati menghadapi lawannya itu. Ia belum tahu seberapa jauh kemampuan ilmu kebal orang itu. Tetapi adalah kewajibannya untuk menjajagi ilmu kebal lawannya itu, agar ia dapat memperhitungkan segala kemungkinan dengan lebih mapan.

Dengan penuh kewaspadaan Agung Sedayu telah melangkah mendekati lawannya, sementara pertempuran berlangsung semakin sengit. Ketika matahari menjadi semakin tinggi ke puncak langit, maka darah pun rasa-rasanya menjadi semakin menggelegak didalam dada. Keringat dan darah mulai mewarnai tubuh dan pakaian para pengawal dan prajurit di kedua belah pihak. Namun telapak tangan yang basah itu pun telah membuat senjata menjadi semakin garang.

Namun Agung Sedayu pun tidak mau dianggap lengah. Ia pun telah mengetrapkan ilmu kebalnya pula, meskipun tidak harus berdiri tegak sambil bertolak pinggang dan membiarkan lawannya menyerangnya.

Beberapa langkah dihadapan orang itu Agung Sedayu memang berhenti. Ia mendengar orang itu tertawa sambil berkata, “Agung Sedayu. Aku tahu bahwa kau memiliki ilmu kebal yang dapat melindungi kulit dan tulang-tulangmu. Tetapi ketahuilah bahwa aku tidak hanya mempunyai selembar ilmu kebal. Aku memiliki ilmu kebal rangkap sehingga tidak ada kekuatan yang dapat menembus dua lapis ilmu kebalku itu. Karena itu, maka hari ini adalah hari terakhir kau menikmati pertempuran yang paling berkesan serta ilmu kebalmu yang kau bangga-banggakan itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk mempercayai lawannya, karena jika tidak, maka ia akan dapat terjebak. Namun dalam pada itu, maka katanya, “Ki Sanak. Dalam satu pertempuran, maka masing-masing akan berusaha untuk dapat memenangkan pertempuran dengan bekal ilmu dan senjata yang ada padanya. Karena itu, meskipun mungkin bekal yang kau bawa itu lebih banyak, namun aku tidak akan membiarkan diriku digilas oleh ilmu-ilmumu itu. Aku harus berusaha untuk memanfaatkan ilmu yang meskipun hanya sedikit yang ada padaku untuk menyelamatkan diri sendiri.”

Orang itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi putus asa? Bukankah kau seorang yang bernama besar sebagai murid terpercaya dari Orang Bercambuk itu?”

“Aku tidak berputus asa.”  berkata Agung Sedayu, “guruku mengajar agar aku selalu berusaha memecahkan persoalan yang aku hadapi. Karena itu, maka sekarang pun aku tentu berusaha, bagaimana aku memecahkan ilmu kebalmu yang rangkap itu.”

Wreksa Gora tertawa semakin keras. Katanya, “Kau tidak usah bermimpi. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu memecahkan ilmu kebal yang rangkap. Ilmu kebal selapis, sebagaimana kau miliki memang mungkin akan dapat dipecahkan. Tetapi tidak dengan ilmu kebal rangkap.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Tetapi ia mulai memutar cambuknya. Sementara itu Wreksa Gora pun masih juga memegangi senjatanya. Tongkat baja hitam dengan gerigi tajam di bagian ujungnya. Senjata yang memang mendebarkan.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun telah meloncat sambil menghentakkan cambuknya sendal pancing. Terdengar ledakan yang bagaikan memecahkan selaput telinga. Bahkan rasa-rasanya udara di seluruh medan itu bergetar.

Wreksa Gora melihat serangan itu. Tetapi ia dengan sengaja tidak beringsut dari tempatnya. Tidak pula berusaha menangkisnya.

Beberapa orang yang sedang bertempur dari kedua belah pihak itu pun terkejut karenanya. Mereka melihat hentakkan cambuk itu dan mereka pun mendengar bagaimana ujung cambuk itu meledak.

Beberapa orang bagaikan terpukau melihatnya. Namun tiba-tiba terdengar sorak yang bagaikan membelah langit. Meledak seperti suara cambuk Agung Sedayu.

Para pengikut Panembahan Cahya Warastra serta para prajurit Madiun yang ada didalam pasukan itu bersorak berkepanjangan melihat Wreksa Gora yang terdorong selangkah surut. Kemudian berdiri tegak dan kembali tangannya bertolak pinggang. Senjatanya hanya digenggamnya saja, tanpa dipergunakan untuk menangkis serangan Agung Sedayu.

Bahkan Wreksa Gora masih juga tertawa sambil berkata, “Nah, kau lihat Agung Sedayu. Ujung cambuknya sama sekali tidak mampu menembus ilmu kebalku.”

“Tetapi kau tergetar mundur.”  berkata Agung Sedayu.

“Aku tidak mengingkari kekuatanmu yang sangat besar, yang meskipun tidak mampu mengoyak ilmu kebalku, tetapi dapat mendorongku selangkah surut. Namun keseimbanganku sama sekali tidak terganggu karenanya.”  jawab Wreksa Gora.

“Tetapi yang aku saksikan ternyata tidak sebagaimana aku duga. Atau barangkali kau baru memakai ilmumu yang selapis?“ bertanya Agung Sedayu.

Orang itu termangu-mangu. Namun Agung Sedayu tidak memberinya kesempatan berpikir. Tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan mengulangi seranganku. Lebih keras. Pergunakan ilmu kebalmu kedua-duanya agar kau tidak mengalami kesulitan.”

Sebelum orang itu berkesempatan mempertimbangkan kata-kata Agung Sedayu, maka Agung Sedayu telah memutar ujung cambuknya. Kemudian meloncat sekali lagi menyerang orang yang mengaku memiliki ilmu kebal rangkap itu.

Sekali lagi cambuk itu meledak. Sekali lagi gemuruh sorak para pengikut Panembahan Cahya Warastra meledak pula. Namun sekali lagi Wreksa Gora terdorong pula surut selangkah sebagaimana sebelumnya.

Agung Sedayu sama sekali tidak meningkatkan kekuatan ilmunya. Ia masih mempergunakan kekuatan dan kemampuan yang sama. Namun dengan demikian Agung Sedayu sudah yakin, bahwa orang itu sudah mempergunakan dua lapis ilmu kebalnya.

Sorak yang gemuruh itu memang mempengaruhi medan. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra seakan-akan telah mendapatkan satu kepastian, bahwa mereka akan dapat menggulung orang-orang Tanah Perdikan itu. Jika Agung Sedayu tidak mampu menembus kemampuan ilmu Wreksa Gora, maka ia tentu akan dapat dikalahkan betapa pun tinggi ilmunya. Jika Agung Sedayu telah terbunuh, maka para pengawal Tanah Perdikan itu akan dapat dihalau dengan cepat, secepat memijit buah ranti. Pasukan Tanah Perdikan di sayap kanan itu akan menjadi seperti mentimun yang harus berkelahi melawan durian.

Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh memang telah menjadi cemas. Mereka melihat Agung Sedayu dua kali menyerang lawannya dengan ledakan cambuk yang bagaikan membelah bumi. Tetapi lawannya itu sama sekali tidak terluka.

Namun bagaimanapun juga orang-orang Tanah Perdikan Menoreh mempunyai kepercayaan yang sangat tinggi kepada Agung Sedayu bahwa ia akan dapat mengatasi kesulitan. Beberapa kali Agung Sedayu telah mengalami kesulitan, bahkan terluka parah di medan pertempuran, maka ia mampu mengatasi kesulitan itu.

Meskipun dengan debar jantung yang lebih cepat, namun mereka masih tetap berpengharapan.

Agung Sedayu pun menyadari, bahwa yang baru saja terjadi itu, akan dapat mempengaruhi ketahanan jiwani orang-orang Tanah Perdikan. Karena itu, maka ia pun harus menunjukkan, bahwa ia akan mampu melindungi para pengawal yang sedang bertempur itu.

Karena itulah, maka Agung Sedayu harus menjajagi kekuatan lawan. Ia tidak mau dengan sombong membiarkan lawannya menyerang sebelum ia yakin akan kemampuannya yang akan dapat mengatasi kekuatan lawannya itu.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu itu pun mulai menyerang lawannya. Ujung cambuknya berputaran dan sekali-sekali meledak dengan dahsyatnya, meskipun ledakan itu hanya mampu mendesak lawannya selangkah surut.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah berhasil memancing benturan-benturan senjata beberapa kali, sehingga dengan demikian, maka Agung Sedayu pun mulai meyakini dirinya, bahwa ilmu kebalnya yang hanya selapis itu akan mampu menahan kekuatan tongkat baja lawannya.

Bahkan Agung Sedayu itu sempat berkata kepada diri sendiri, “Orang yang menyebut dirinya Wreksa Gora itu telah salah langkah. Sebaiknya ia mendalami salah satu dari kedua lapis ilmu kebalnya sehingga mendekati sempurna. Yang selapis itu tentu akan lebih baik dari yang rangkap tetapi dalam tataran yang masih rendah.”

Tetapi Agung Sedayu tidak menunjukkan perubahan sikap. Ia masih saja bertempur melawan Wreksa Gora. Bahkan kemudian Agung Sedayu pun sama sekali tidak berusaha menangkis atau menghindari serangan dari lawannya.

Dengan demikian, maka serangan-serangan lawan Agung Sedayu itu pun telah langsung mengenai tubuh Agung Sedayu, sebagaimana ujung cambuk Agung Sedayu mengenai tubuh lawannya.

Mula-mula para pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak melihat sesuatu yang dapat memberikan kebanggaan hati bagi mereka. Namun kemudian mereka pun mulai melihat, bahwa bukan saja Wreksa Gora yang memiliki kemampuan melindungi dirinya dengan ilmu kebal, tetapi Agung Sedayu pun telah mempergunakannya pula.

Karena itu, ketika orang-orang yang menyerang Tanah Perdikan itu bersorak-sorak, maka orang-orang Tanah Perdikan Menoreh tidak lagi berkecil hati. Bahkan ketika Wreksa Gora itu terdorong selangkah surut. maka para pengawal Tanah Perdikan itulah yang kemudian bersorak gemuruh.

Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua pasukan itu telah diwarnai oleh sengitnya pertempuran antara Agung Sedayu dan Wreksa Gora. Namun beberapa saat kemudian, maka kedua pasukan itu pun telah tenggelam lagi kedalam pertempuran yang keras. Mereka tidak lagi terlalu banyak memperhatikan pertempuran antara Agung Sedayu dan Wreksa Gora yang mereka nilai seimbang itu, sehingga nampaknya keduanya memerlukan waktu yang lama untuk menentukan, siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah.

Namun dalam pada itu, kedua orang itu telah mulai meningkatkan ilmu mereka selapis demi selapis. Wreksa Gora telah melepaskan ilmunya yang lain pula. Ia memang mampu menyadap kekuatan api yang kemudian disalurkannya pada ujung senjatanya. Selain kekuatan ayunan yang sangat besar, maka ujung tongkat bajanya yang bergerigi itu telah menjadi merah membara.

Tetapi ternyata ilmu kebal Agung Sedayu yang hanya selapis itu tidak mudah ditembusnya. Ayunan kekuatan dan panas di ujung tongkat itu ternyata masih belum mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu merasa lapisan ilmu kebalnya itu tergetar, tetapi kekuatan dan kemampuan ilmu lawannya itu belum sampai menggoyahkan ilmu kebalnya itu.

Dalam keadaan yang demikian, maka Agung Sedayu pun merasa perlu untuk meningkatkan ilmunya pula. Ia tidak ingin mengalami kesulitan lebih dahulu karena kelambatannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu mulai meningkatkan kekuatan hentakkan cambuknya. Tetapi karena itu, maka ledakan-ledakannya justru menjadi susut. Suara ledakan itu tidak lagi bagaikan memecahkan selaput telinga.

Para pengikut Panembahan Cahya Warastra menganggap hal itu sebagai satu pertanda bahwa Agung Sedayu mulai kehilangan sebagian dari kekuatan dan kemampuannya. Hentakkan cambuknya mulai susut, sehingga saat orang itu dilumpuhkan, menjadi semakin dekat.

Tetapi Wreksa Gora sendiri terkejut. Ia sudah berada pada puncak kemampuan ilmu kebalnya, sehingga ia tidak akan mungkin meningkatkan lagi. Pancingan Agung Sedayu memang telah berhasil untuk memaksa Wreksa Gora memasang tirai rangkap dari ilmu kebalnya. Sementara itu, Wreksa Gora yang berilmu tinggi itu menyadari, bahwa ledakan Agung Sedayu yang terdengar susut itu justru sejalan dengan meningkatkan kekuatan dan kemampuan yang terlontar lewat juntainya itu.

Karena itu, maka Wreksa Gora pun harus mengerahkan segenap ilmunya pula. Tongkat bajanya sama sekali tidak berarti lagi baginya, karena tidak mampu menggoyahkan ilmu kebal Agung Sedayu.

“Anak itu memang luar biasa.”  desis Wreksa Gora, “ternyata ilmu kebalnya yang selapis itu mempunyai kekuatan yang tidak kalah dari ilmuku yang rangkap.”

Karena itulah, maka Wreksa Gora telah memindahkan tongkat bajanya ke tangan kirinya, sementara itu tangan kanannya telah mencabut kerisnya yang terselip dibawah bajunya.

Agung Sedayu bergeser surut. Ia melihat sesuatu yang dapat mendebarkan jantungnya pada ujung keris itu. Tajamnya seakan-akan memancarkan kilatan-kilatan cahaya yang kemerah-merahan. Perpaduan kemampuan ilmu Wreksa Gora dan dasar kerisnya yang baik itu telah mendebarkan hati Agung Sedayu. Ketajaman panggraitanya menangkap kemungkinan yang sangat tinggi yang dapat digapai oleh kemampuan ujung kerisnya itu.

Tetapi Agung Sedayu mempunyai kelebihan. Senjatanya pun merupakan senjata yang jarang ada bandingnya. Bahkan jauh lebih jauh jangkauannya dari ujung keris lawannya.

Dengan demikian. maka sejenak kemudian keduanya telah terlibat pula dalam pertempuran yang semakin sengit. Wreksa Gora menyadari sepenuhnya bahwa tingkat kekuatan dan kemampuan Agung Sedayu yang meningkat itu tentu akan mampu menembus ilmu kebalnya meskipun rangkap. Tetapi Agung Sedayu pun merasa bahwa ujung keris yang berkilat-kilat kemerahan itu tentu akan mampu pula mengoyak ilmu kebalnya.

Dengan demikian maka keduanya pun telah bertempur dengan sangat berhati-hati. Namun demikian, keduanya justru telah bergerak lebih cepat. Keduanya saling menyerang dan menghindar dengan tangkasnya. Namun bayangan maut telah berterbangan diantara juntai cambuk Agung Sedayu dan ujung keris Wreksa Gora.

Di sekitar keduanya, yang bertempur dengan dahsyatnya itu, kedua pasukan yang berhadapan itu pun telah bertempur semakin sengit pula. Satu-satu korban telah jatuh. Beberapa orang telah diusung keluar dari arena pertempuran.

Sementara itu Wreksa Gora pun bergerak semakin cepat. Seakan akan tubuhnya berterbangan disela-sela putaran cambuk Agung Sedayu. Kerisnya berputar-putar menggapai kulit lawannya. Namun Agung Sedayu pun mampu bergerak cepat. Ia mampu membuat tubuhnya seakan-akan melayang. Karena itu, maka kemampuan Wreksa Gora tidak dapat melampaui kemampuan dan kecepatan gerak Agung Sedayu.

Wreksa Gora itu mengumpat. Dalam beberapa hal ternyata bahwa ia tidak dapat menyamai kemampuan murid Orang Bercambuk itu. Beberapa macam ilmunya telah diungkapkannya. Namun ternyata bahwa setiap kali Agung Sedayu mampu mengatasinya.

Karena itu, maka meskipun dengan ilmu kebal rangkap, senjata rangkap pula, kemampuan bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, namun Agung Sedayu mampu melakukannya pula. Justru lebih baik.

Tetapi Wreksa Gora yang sudah bertekad untuk membunuh murid Orang Bercambuk itu tidak cepat menjadi kehilangan akal. Ia adalah orang yang mempunyai pengalaman yang sangat luas. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk mengamati keadaan dengan cermat serta mencoba untuk melihat kelemahan Agung Sedayu. Namun demikian untuk beberapa saat ia memang telah terdesak.

Sementara itu di sayap sebelah kiri, Glagah Putih tengah bertempur dengan seorang Putut muda pula. Hanya beberapa tahun lebih tua dari Glagah Putih. Namun dalam usianya yang muda itu, ia pun telah memiliki ilmu yang tinggi. Namun Glagah Putih pun memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Apalagi senjatanya yang aneh itu ternyata merupakan senjata yang sangat berbahaya.

Lawannya, Putut Kaskaya adalah seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi mempergunakan senjata trisulanya. Dalam pertempuran yang pernah dialaminya, setiap senjata yang tersentuh oleh trisulanya, seakan-akan bagaikan terhisap oleh putarannya dan melenting dari tangan lawannya. Jika lawannya memiliki kekuatan yang tinggi, maka senjata yang terselip diantara mata trisulanya yang dengan cepat berputar, akan patah di tengah-tengah.

Tetapi berbeda dengan senjata yang aneh itu. Senjata itu tidak dapat direnggutnya dari tangan lawannya. Tetapi senjata itu tidak juga dapat dipatahkan. Ketika ia berhasil menjebak senjata Glagah Putih diantara dua mata trisulanya yang berjumlah tiga buah itu dan kemudian memutarnya, maka senjata lawannya itu memang menjadi lembut sebagaimana ikat pinggang yang terbuat dari kulit. Namun ketika Glagah Putih menghentakkan ikat pinggangnya yang melilit trisula itu, justru trisulanyalah yang hampir saja terlepas dari tangannya. Ketika ia memaksa mempertahankannya, maka ikat pinggang itu terlepas dari trisulanya. Namun kulit telapak tangannya rasa-rasanya bagaikan terkelupas.

Putut Kaskaya telah meloncat mengambil jarak untuk memperbaiki kedudukannya. Ia telah memegang trisulanya pada tangan kirinya. Tanpa disengaja ia telah menghembus telapak tangan kanannya yang terasa pedih.

“Kenapa tanganmu Ki Sanak?“ bertanya Glagah Putih.

“Gila.”  geram Putut Kaskaya, “kau terlalu sombong anak muda. Kau kira dengan permainanmu itu, aku menjadi ngeri memandangmu?”

“Tidak. Aku tidak mengira begitu. Aku mengira, bahwa tanganmu menjadi pedih. Aku tidak tahu, apakah perkiraanku itu benar atau tidak.”  sahut Glagah Putih.

“Tetapi kau akan menyesal atas kesombonganmu itu.”  geram Putut Kaskaya.

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan pernah menyesal melihat kau berjongkok dihadapanku sambil menunduk dan mohon ampun.”

“Gila.”  Putut Kaskaya itu segera meloncat sambil mengayunkan senjatanya. Ternyata tangan kirinya pun memiliki kemampuan yang sama dengan tangan kanannya. Karena itu, maka sejenak kemudian trisulanya pun telah berputaran dengan cepatnya menyambar-nyambar.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Agaknya lawannya telah mulai mengetrapkan ilmunya. Ayunan trisula itu nampak bukan saja cepat dan kuat, tetapi desing ayunannya telah menghentak-hentak di dada Glagah Putih.

“Apapula nama kekuatan yang dipergunakan orang ini.”  desis Glagah Putih. Namun Glagah Putih mempunyai daya tahan yang sangat kuat, sehingga karena itu, maka ia pun mampu mengatasi getar didadanya itu.

Demikianlah, pertempuran pun menjadi semakin meningkat. Namun Putut Kaskaya menjadi semakin gelisah ketika benturan-benturan yang terjadi kemudian telah menunjukkan kemampuan lawannya yang sangat tinggi. Ketika trisulanya itu membentur ikat pinggang Glagah Putih, maka yang terdengar adalah dentang yang keras, seperti beradunya dua potong besi baja yang terayun dengan kekuatan yang tinggi. Bahkan bunga-bunga api pun telah memercik pula berloncatan di udara.

Putut Kaskaya itu pun telah meloncat surut. Wajahnya menjadi sangat tegang. Dengan mata yang menyala ia berkata, “Senjata itu tentu kau dapat dari anak iblis.”

“Jangan berkata begitu Ki Sanak.”  jawab Glagah Putih yang melangkah maju perlahan-lahan, “Sebaiknya kita selesaikan persoalan kita.”

Putut itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun telah meloncat pula dengan garangnya. Tetapi yang terjadi itu pun telah terulang lagi. Trisulanya sama sekali tidak mampu menembus pertahanan lawannya.

Namun kekuatan Putut Kaskaya itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin besar. Angin yang ditimbulkan oleh ayunan senjatanya menampar kulit Glagah Putih. Rasa-rasanya tidak lagi sebagai sentuhan angin yang bergerak dengan cepat, tetapi semakin lama semakin terasa tajamnya tusukan getaran udara itu di lubang-lubang kulitnya, sementara itu suara desingnya semakin mengganggu isi dada anak muda itu.

Namun selama daya tahan Glagah Putih masih mampu mengatasinya, maka Glagah Putih masih belum beranjak dari tataran ilmunya itu.

Tetapi agaknya serangan-serangan Putut Kaskaya dengan segala macam kekuatan disamping ayunan trisula itu sendiri, telah sekali-sekali mendesak Glagah Putih. Namun Glagah Putih sama sekali tidak menjadi cemas. Ia masih mempunyai cadangan ilmu untuk memberikan pukulan terakhir, jika ia tidak mampu menundukkan lawannya dengan ikat pinggangnya.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya saling menyerang dan saling mendesak. Kekuatan ilmu Putut Kaskaya memang terasa semakin mapan.

“Jangan menyesal.”  berkata Putut itu, “meskipun kau lebih muda dari aku, tetapi ternyata umurmu memang terlalu pendek. Saat-saat kematianmu tentu sudah mulai membayang.”

Glagah Putih tertawa pendek. Ketika trisula itu hampir saja menyambar hidungnya, maka ia pun telah meloncat selangkah surut. Namun ketika trisula itu berputar dan terayun kembali menyambar kearah keningnya, maka Glagah Putih telah menangkis serangan itu.

Benturan yang keras telah terjadi. Sekali lagi Putut itu merasa heran, bahwa yang terdengar adalah dentangan baja yang beradu, meskipun ikat pinggang lawannya itu terbuat dari kulit. Bahkan bunga api pun telah berloncatan pula.

Tetapi Putut itu tidak menyia-nyiakan waktu. Ia pun segera memburunya lagi dengan serangan-serangan berikutnya. Tetapi Glagah Putih tidak membiarkan dirinya sekedar menjadi sasaran yang harus meloncat menghindar, menangkis dan bergeser surut. Ketika ayunan serangan senjata lawannya sempat dihindarinya, maka Glagah Putih pun telah menyerang pula dengan derasnya.

Namun Glagah Putih ternyata harus mengakui kemampuan ilmu lawannya itu. Sambaran angin ayunan trisula itu terasa semakin tajam menusuk lubang-lubang kulitnya, sementara suara desingnya terasa semakin pedih didalam dadanya.

Glagah Putih memang mulai mengalami kesulitan untuk mengatasinya dengan hanya meningkatkan daya tahannya. Karena itu, maka Glagah Putih harus mulai dengan mengetrapkan ilmunya.

Tetapi Glagah Putih tidak ingin menghancurkan lawannya sekaligus. Ia ingin menundukkannya jika mungkin tanpa membunuhnya. Mungkin Putut itu akan dapat menjadi salah satu sumber keterangan. Apalagi jika gurunya yang disangkanya bertempur melawan Kiai Gringsing itu terbunuh.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak mengerahkan ilmu yang diwarisinya dari perguruan Ki Sadewa sampai tuntas. Ia pun tidak menyerang lawannya dengan lontaran ilmunya itu sehingga akan dapat melumatkannya jika ia tidak mempunyai ilmu kebal yang mapan.

Dengan demikian Glagah Putih telah mengetrapkan ilmunya meskipun di tataran tertinggi, tetapi tidak sampai pada puncak ilmu yang diwarisinya dari perguruan Ki Sadewa lewat Agung Sedayu. Namun demikian, ketika ia mulai mengayunkan senjatanya, ternyata akibatnya sudah terasa oleh lawannya.

Putut Kaskaya itu memang terkejut melihat sikap Glagah Putih yang berubah. Sesaat Glagah Putih itu berdiri tegak dengan kedua kakinya merapat. Namun kemudian dengan loncatan kecil, kakinya itu merenggang. Perlahan-lahan Glagah Putih mulai menggerakkan ikat pinggangnya sambil merendah pada lututnya. Namun sesaat kemudian, maka ia pun telah meloncat menyerang lawannya.

Dengan demikian, maka pertempuran menjadi semakin sengit. Namun semakin ternyata pula, bahwa Putut Kaskaya mengalami kesulitan untuk menghadapi Glagah Putih yang masih belum sampai ke puncak ilmunya itu. Benturan-benturan menjadi semakin sering terjadi. Namun Putut Kaskaya lah yang kemudian berusaha untuk menguranginya. Telapak tangan kirinya pun mulai terasa pedih. Karena itu, maka ia harus menggenggam senjata berganti-ganti dengan tangan kanan dan kirinya.

Tetapi ternyata Glagah Putih menjadi semakin mendesak. Ia bergerak semakin cepat, sedangkan ikat pinggangnya berputaran semakin mendebarkan.

Ketika Putut Kaskaya harus berloncatan surut beberapa kali, maka sikapnya itu ternyata telah mempengaruhi seluruh medan. Pasukan sayap kanan dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu memang mulai terguncang.

Di induk pasukan, maka keadaannya hampir sama pula. Ki Tumenggung Tambakyuda ternyata tidak mampu memancing Ki Gede Menoreh untuk bertempur dengan jarak panjang. Betapa pun Ki Tambakyuda itu memancing, namun Ki Gede tetap mampu menguasai dirinya. Bahkan sekali-sekali Ki Gede itu telah menyerang dengan loncatan panjang yang tidak diduga-duga sama sekali oleh lawannya. Namun kemudian Ki Gede telah bertempur bagaikan melekat di tempatnya berdiri.

“Setan kau Argapati.”  geram Ki Tumenggung, “kau bertempur seenakmu sendiri.”

Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu justru tertawa mendengar kata-kata lawannya. Sambil bergeser surut selangkah ia berkata, “Jadi apakah maksudmu agar aku bertempur sesuai dengan keinginanmu?”

Ki Tumenggung tidak menjawab. Namun dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Kita akan segera menentukan akhir dari pertempuran di seluruh Tanah Perdikan.”

“Kenapa?“ bertanya Ki Gede.

“Panembahan Cahya Warastra telah menemukan orang yang dicarinya. Ia akan segera mengakhiri tugas berat kami. Karena setelah Ki Mandaraka, maka akan datang giliran para pemimpin Tanah Perdikan yang lain. Tidak seorang pun akan dapat melawan Panembahan Cahya Warastra.”  berkata Ki Tumenggung.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Apakah kau kira Tanah Perdikan sebesar itu dapat membunuh Ki Patih Mandaraka, yang saat ini menjadi tamuku, maka kami sama sekali tidak akan menyerah. Kami akan menumpas habis semua pengikut Cahya Warastra dan kemudian menangkap Panembahan itu hidup-hidup. Panembahan Kecruk Putih itu harus menghadap Panembahan Senapati.”

“Gila. Kau telah menghina pimpinan tertinggi dari kesatuan yang bertugas di Tanah Perdikanmu ini.”  geram Ki Tumenggung.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak bermaksud menghina. Tetapi sudah tentu ungkapan dari perasaan kecewaku, bahwa kalian telah mengganggu Tanah Perdikan ku. Bahkan telah menimbulkan kematian dan korban-korban yang lain. Mungkin kau tidak menghiraukan orang-orang di semua medan. Tetapi aku lain. Mereka adalah keluargaku. Mereka adalah anak-anakku.”

“Persetan.”  geram Ki Tumenggung Tambakyuda, “kau adalah seorang pemimpin Tanah Perdikan yang cengeng. Perajuk dan bahkan pengecut.”

Ki Gede tidak menjawab lagi. Tetapi tombaknya mulai bergerak dengan cepat. Sementara itu, ia masih juga sempat melihat di bagian lain dari medan itu. Panembahan Cahya Warastra memang sudah berhadapan dengan Ki Patih Mandaraka.

Tetapi keduanya masih belum bertempur. Sementara itu Panembahan Cahya Warastra masih sempat berteriak, “He, Ki Ajar. Kenapa kau tidak melakukan sesuai dengan rencana?”

“Orang ini ternyata memerlukan penanganan khusus.”  jawab Ki Ajar Cangkring yang kebetulan bertemu dengan Ki Waskita sebelum berhasil mencari Kiai Gringsing yang justru bertempur melawan Putut Sendawa. Kemudian katanya pula, “Aku akan segera membunuhnya. Mudah-mudahan Putut Sendawa itu belum mati.”

“Ia mempunyai sipat kandel.”  desis Panembahan Cahya Warastra.

Sementara itu, meskipun tidak begitu jelas, namun Ki Ajar Cangkring mengetahui bahwa Putut Sendawa yang bertempur melawan Kiai Gringsing masih meloncat-loncat dengan garangnya sambil mengayunkan senjatanya yang mendebarkan.

“Kau cemas atas orang-orangmu?“ bertanya Ki Patih Mandaraka yang sudah berdiri berhadapan dengan Panembahan Cahya Warastra.

Tetapi Panembahan itu tersenyum. Katanya, “Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Namun mereka tidak terbiasa bertempur dalam satu kesatuan yang utuh. Biasanya mereka bertempur menurut kehendak mereka sendiri-sendiri.”

“Dan kau sendiri?“ bertanya Ki Patih.

Panembahan itu masih tersenyum. Katanya, “Saat seperti ini sangat aku tunggu Ki Patih. Kapan aku dapat bertemu orang terpenting di Mataram. Orang yang lidahnya bagaikan api. Apa yang dikatakan tentu terjadi. Panembahan Senapati sendiri sama sekali tidak berdaya untuk menghindarkan diri dari kata-kata yang diucapkannya. Karena itu, jika kau mati, maka Panembahan Senapati akan mengalami dua hal yang berlawanan. Ia gembira karena ia akan benar-benar menjadi orang pertama di Mataram tanpa bayangan pengaruhmu. Tetapi ia juga menjadi cemas karena ia tidak terbiasa untuk berbuat sesuatu dengan sikap dewasa. Ia masih saja menjadi bayi yang selalu kau susui.”

Ki Patih Mandaraka itu pun tersenyum juga. Katanya, “Menarik sekali. Jika demikian alangkah besar pengaruhku. Karena itu aku harus mempertahankannya. Aku harus tetap hidup untuk menikmati kuasaku yang melampaui kuasa Panembahan Senapati itu. Dengan demikian, maka sayang sekali, bahwa kau, orang yang bergelar Panembahan Cahya Warastra akan mati di pertempuran ini.”

“Jangan seperti kanak-kanak Ki Mandaraka.”  berkata Panembahan Cahya Warastra, “kau tahu siapa aku. Dan aku tahu siapa kau. Karena itu, maka kematianmu telah diambang pintu.”

“Mula-mula aku memang agak lupa melihat tampangmu meskipun aku tahu bahwa kau adalah Kecruk Putih. Namun ketika aku sekarang bertemu langsung, maka aku ingat. Kau memang Kecruk Putih yang gelisah itu.”  berkata Ki Patih Mandaraka.

“Ya. Kita memang pernah bertemu. Waktu kau belum mengenakan gelarmu sekarang, kau seorang petani miskin yang disebut Ki Juru Martani, ternyata mampu memanjat tangga jabatan tertinggi di Mataram, bahkan bayangan pengaruhmu telah mencekik dan membunuh Panembahan Senapati perlahan-lahan. Kau benturkan Panembahan Senapati melawan pamandanya, Panembahan Mas di Madiun yang mendapat dukungan dari banyak Adipati dan para pemimpin padepokan termasuk kami.”  berkata Kecruk Putih.

“Kalau bukan kau yang berbicara seperti itu, aku tentu akan berpikir.”  Sahut Ki Mandaraka.

Panembahan Cahya Warastra mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Apa maksudmu?”

“Kalau orang lain yang berbicara, maka bobot bicaranya tentu jauh lebih tinggi dari kata-kata yang terlontar dari mulutmu. Meskipun demikian aku juga akan memikirkannya, apakah aku memang sudah melangkah terlalu jauh sehingga sebenarnya akulah penguasa di Mataram itu. Seperti yang kau katakan, maka aku akan mempertahankannya. Bahkan jika ternyata pengaruhku belum mutlak, aku harus berjuang lagi untuk mencapainya.”  sahut Ki Mandaraka sambil tertawa kecil.

“Setan kau Juru Martani. Kau memang harus mati. Dengan demikian maka gelora perjuangan Panembahan Senapati akan segera pudar.”  geram Panembahan Cahya Warastra.

“Kita sudah berhadapan, Kecruk Putih. Aku tahu bahwa selama ini ilmumu tentu sudah meningkat semakin tinggi. Tetapi itu tentu akan sangat menarik.”  berkata Ki Patih Mandaraka.

Kecruk Putih yang bergelar Panembahan Cahya Warastra itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita sudah tidak mempunyai waktu lagi. Bersiaplah untuk menghadapi saat terakhir. Aku tidak mempunyai cara lain daripada membunuhmu untuk menyelamatkan Madiun dan kehancuran.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk kecil. Katanya, “Hanya Panembahan Senapati lah yang dapat menjelaskan persoalannya dengan tepat. Tetapi itu tidak mungkin dilakukannya. Aku tahu, bahwa pertempuran diantara kita akan menentukan.”

“Ya Ki Patih.”  jawab Panembahan Cahya Warastra, “kau atau aku.”

Ki Patih Mandaraka tidak berniat untuk berbicara lagi. Ia tahu bahwa apa pun yang dikatakannya tidak akan didengar oleh Kecruk Putih itu, apalagi dipercayainya. Karena itu, maka Ki Mandaraka itu pun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Memang tidak ada pilihan lain daripada beradu ilmu sampai tuntas.

Panembahan Cahya Warastra pun kemudian telah mempersiapkan diri pula. Nampaknya keduanya sama sekali tidak memerlukan senjata apa pun juga. Keduanya hanya berbekal ilmu mereka masing-masing yang sudah tentu melampaui batas kemampuan kebanyakan orang.

Mula-mula mereka masih berusaha untuk saling menjajagi meskipun mereka yakin akan ilmu masing-masing. Namun dengan cepat ilmu mereka pun meningkat semakin tinggi, sehingga kemudian pertempuran antara Keduanya pun menjadi semakin sengit. Keduanya memiliki ilmu yang sulit dicari duanya. Sehingga dengan demikian, maka para pengikut Panembahan Cahya Warastra dan para prajurit pengawal Ki Mandaraka harus menyibak. Bahkan kadang-kadang sentuhan angin di sekitar arena kedua orang itu telah mendorong para pengawal beberapa langkah menjauh.

Ki Patih Mandaraka yang memiliki pengalaman dan ilmu yang mendekati sempurna itu pun harus mengakui bahwa Panembahan Cahya Warastra memang telah mengasah ilmunya pula. Agaknya ia merasa memiliki bekal yang cukup untuk menyatakan dirinya sebagai seorang Panembahan. Sehingga dengan demikian, maka Ki Mandaraka harus berhati-hati menghadapinya.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu telah mulai memasuki ilmu mereka masing-masing. Bukan saja udara yang berputar di sekitar arena itu mulai terasa panas, tetapi rasa-rasanya getaran-getaran khusus telah berterbangan menyambar-nyambar. Sentuhannya seakan-akan telah menggoyahkan daya tahan tubuh masing-masing, sehingga getaran itu terasa bagaikan sentuhan-sentuhan ujung duri tajam.

Namun daya tahan kedua orang itu jauh melampaui kekuatan daya tahan orang kebanyakan. Karena itu, maka udara yang panas, getaran-getaran yang bagaikan ujung duri menyentuh kulit mereka akhirnya dapat teratasi juga.

Dengan demikian maka pertempuran antara Keduanya pun menjadi semakin lama semakin sengit.

Ternyata bahwa pertempuran diantara kedua pasukan yang tidak begitu besar itu telah menjadi puncak dari semua medan yang timbul di Tanak Perdikan. Ketika pertempuran di medan yang lain menjadi semakin seru namun meskipun perlahan-lahan tetapi mendekati batas keseimbangannya, maka pertempuran di dekat padukuhan induk itu pun telah memanjat ke puncaknya pula, sementara matahari justru mulai condong ke Barat.

Namun agaknya kedua belah pihak bertekad untuk menyelesaikan pertempuran itu tanpa menunggu hari berikutnya. Bahkan seandainya matahari turun dan tenggelam dibalik punggung bukit, agaknya mereka tidak ingin menghentikan pertempuran itu sampai salah satu pihak tidak mampu lagi mengadakan perlawanan. Demikian juga para pemimpin dari kedua belah pihak. Nampaknya hanya maut sajalah yang dapat menghentikan pertempuran diantara mereka.

Para pengawal di padukuhan-padukuhan yang tidak disentuh oleh peperangan, telah mengalir ke medan. Hanya sejumlah kecil sajalah diantara mereka yang tinggal bersama orang-orang yang sudah mulai surut tenaganya, sehingga tidak lagi pantas turun ke medan. Namun mereka masih bersedia untuk berjaga-jaga di padukuhan masing-masing dengan senjata di tangan. Dalam keadaan memaksa, maka mereka pun tidak akan segan untuk bertempur. Namun di setiap gardu telah dipasang kentongan untuk memberikan isyarat apabila diperlukan.

Dengan demikian maka rasa-rasanya kekuatan para pengawal Tanah Perdikan itu di medan kian bertambah-tambah, sehingga keseimbangan pun menjadi semakin nampak bergeser.

Di medan pertempuran di sisi Utara, yang diwarnai dengan kekerasan yang kasar, para pengawal Tanah Perdikan perlahan-lahan telah berhasil mendesak mereka yang dibekali dengan niat untuk merampok Tanah Perdikan itu habis-habisan. Tetapi mereka telah membentur orang-orang yang berbuat sama di Tanah Perdikan yang berhasil dihimpun sesuai dengan petunjuk para petugas sandi dari Mataram. Bahkan meskipun pada umumnya orang-orang yang dikumpulkan oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu adalah orang-orang yang sudah menyadari kesesatan jalan hidupnya, namun dalam keadaan yang sulit dikendalikan itu ada juga diantara mereka yang sempat memungut pendok-pendok emas diantara korban mereka. Para pengawal Tanah Perdikan beberapa kali terpaksa memperingatkan dengan keras. Seorang pemimpin kelompok terpaksa membentak seorang yang melepas pendok emas dari korbannya, “Lepaskan pendok itu. Atau kau tidak akan pernah menikmati kemenangan kita.”

Orang itu termangu-mangu. Tetapi nampaknya pemimpin kelompok itu bersungguh-sungguh sehingga ia harus melepaskannya meskipun ia masih juga bergumam, “Tetapi pendok itu tentu hasil rampokannya pula.”

“Itu adalah persoalannya. Bukan persoalanmu dan bukan pula persoalan kita.”  geram pemimpin kelompok itu.

Orang itu memang terpaksa harus meninggalkan pendok itu betapa pun kecewanya. Namun ternyata di pertempuran berikutnya ia berhasil juga memungut sebuah bandul emas yang nampaknya satu ciri perguruan.

Dengan demikian maka pertempuran di sisi Utara itu diwarnai dengan sikap yang kadang-kadang sulit dikendalikan oleh para pemimpin dari kedua belah pihak. Para perwira dari Madiun yang bertugas diantara orang-orang kasar itu pun kadang-kadang harus membentak-bentak dan mengancam. Orang-orangnya sering kehilangan berharga. Tetapi ternyata sebagian dari mereka harus meninggalkan barang-barang berharga itu justru bersama dengan nyawanya.

Pertempuran yang tidak kalah sengitnya adalah di sisi Selatan. Pertempuran dalam gelar yang utuh dan lengkap. Namun ternyata jumlah pasukan Tanah Perdikan Menoreh menjadi lebih banyak dari pasukan lawan. Gelar rangkap pasukan Tanah Perdikan tidak dipertahankan seterusnya. Dalam satu kesempatan keduanya telah menyatu meskipun dalam lapisan rangkap.

Ketika para pemimpin Mataram siap mengisi gelarnya dengan gelar Jurang Grawah, maka pasukan Tanah Perdikan telah bersiap pula sepenuhnya. Namun Mataram ternyata telah merubah gelarnya menjadi gelar yang melebar pula. Gelar yang sama dengan gelar pasukan Tanah Perdikan Menoreh, Wulan Tumanggal. Kedua gelar itu hampir berhimpitan rapat. Keduanya telah siap melaksanakan anak gelar, Jurang Grawah.

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka sekelompok pasukan lawan ternyata telah berhasil menerobos kekuatan para prajurit Mataram terdesak ke samping, sehingga pasukan Madiun telah mengambil kesempatan itu untuk menembus gelar pasukan Mataram. Sekelompok prajurit telah memasuki gelar yang koyak itu, sementara kelompok yang lain berusaha membuka luka pada gelar itu lebih lebar lagi.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika dua kelompok pasukan Madiun memasuki celah-celah itu, maka tiba-tiba tekanan yang kuat telah mendorong prajurit Madiun yang sedang berusaha untuk memperlebar celah-celah itu sehingga celah-celah itu telah mengatup.

Para prajurit Madiun yang sudah terlanjur memasuki celah-celah itu pun ternyata telah terjebak. Mereka memang telah berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Namun kedua gelar itu pun rasa-rasanya memang telah menghimpit mereka sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri dari kesulitan.

Dalam keadaan yang tidak ada pilihan, maka para prajurit yang terjebak itu harus menyerahkan diri atau membunuh diri dalam pertempuran itu, dengan melawan tanpa perhitungan.

Tetapi jebakan itu tidak mampu dilakukan untuk kedua kalinya. Prajurit Madiun pun segera mengetahui bahwa pasukan Mataram telah mempergunakan anak gelar yang garang itu. Namun prajurit Madiun telah berusaha untuk melepaskan orang-orang yang terjebak itu. Kekuatan yang sangat besar telah dipergunakan untuk sekali lagi mengoyak gelar pasukan Mataram. Namun dengan perhitungan yang lebih mapan dalam jumlah yang memadai.

Namun Mataram tidak mau membuka lagi celah-celah yang serupa. Karena itu, maka Mataram pun telah menempatkan kekuatan yang besar untuk menutup celah-celah yang pernah dibukanya dan menelan beberapa kelompok pasukan lawan itu.

Meskipun pertempuran masih terjadi di belakang gelar pasukan Mataram, namun kekuatan pasukan pengawal Tanah Perdikan agaknya akan mampu mengatasinya. Dengan demikian, maka kekuatan Tanah Perdikan menjadi semakin mendesak lawan mereka. Semakin lama semakin jauh susut. Bukan saja garis pertempurannya, tetapi juga jumlah prajuritnya. Hanya ketabahan, keberanian dan kebesaran tekad sajalah yang agaknya masih mampu memaksa pasukan Madiun untuk bertahan dan bertempur terus.

Ketika pasukan Tanah Perdikan Menoreh di segala medan sempat mendesak lawan-lawannya, maka pada pertempuran di dekat padukuhan induk itu pun tidak jauh berbeda. Namun nampaknya para pemimpinnya masih harus mempertaruhkan ilmu mereka agar mereka tidak kehilangan kesempatan untuk keluar dari pertempuran itu.

Para pemimpin dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra telah berusaha untuk dengan cepat menghabisi lawan-lawan mereka, agar mereka dapat menyelamatkan pasukan mereka yang terdesak. Tetapi para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh pun memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Mereka bukan didesak oleh waktu karena kekuatan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh nampaknya akan dapat mengatasi lawan-lawan mereka. Namun mereka pun menyadari. bahwa lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi pula.

Dalam riuhnya pertempuran, masih juga terdengar suara tertawa Ki Jayaraga, disela-sela sorak kedua belah pihak dalam kemenangan-kemenangan kecil, maka Ki Jayaraga sempat berkata, “Inikah pengganti pimpinan padepokan yang agung itu. He, Karpa Tole, kenapa kau masih juga tidak menyadari keadaanmu.”

“Persetan.”  geram Karpa Tole. Dengan garang ia berteriak, “Jika kau ingin menyerah, menyerahlah. Jangan banyak bicara lagi. Kau dapat menundukkan kepalamu sambil berlutut. Aku berjanji untuk menebas kepalamu sekali putus.”

Ki Jayaraga masih saja tertawa. Katanya, “Pulang sajalah dahulu. Kau harus berguru lagi lima sampai sepuluh tahun. Baru kau hadir lagi dalam pertempuran ini.”

“Setan kau.”  geram Karpa Tole sambil menyerang sejadi-jadinya. Langkah-langkahnya yang berputaran sekali-sekali mampu juga membuat Ki Jayaraga harus mengambil jarak. Namun dengan kemampuannya yang tinggi, maka Karpa Tole itu seakan-akan tidak lagi berjarak diatas tanah.

Tetapi Ki Jayaraga tidak menjadi bingung. Ketajaman panggraitanya seakan-akan selalu dapat mengikuti dengan tepat dimana lawannya berada tanpa mempergunakan indra penglihatannya. Dengan demikian, maka Ki Jayaraga selalu dapat menghadapi serangan lawannya dari manapun datangnya.

“He, apakah ada mata di tengkukmu?“ teriak Karpa Tole.

“Kenapa?“ bertanya Ki Jayaraga.

“Kau selalu tahu darimana aku menyerangmu.”  sahut Karpa Tole berterus terang.

“Jangan menjadi bingung.”  desis Ki Jayaraga.

Karpa Tole menggeram. Tetapi ia bergerak lebih cepat. Bahkan seakan-akan ia seperti melayang tanpa menyentuh tanah. Berputaran. Kemudian menyerang dengan cepat.

Ki Jayaraga yang memiliki kemampuan yang tinggi itu, ternyata sulit untuk mengikuti gerak Karpa Tole. Salah satu jenis ilmu yang mendebarkan.

“Bagi Agung Sedayu, kecepatan gerak itu bukan soal.”  berkata Ki Jayaraga didalam hatinya, “Ia mampu memperingan tubuhnya. Agaknya orang ini juga memiliki kemampuan seperti itu.”

Karena itu, maka Ki Jayaraga pun harus berbuat sesuatu. Ia berhubungan akrab dengan inti kekuatan angin, bumi, api dan air. Karena itu, maka Ki Jayaraga mulai melindungi dirinya dengan panasnya api yang dapat dilepaskan oleh getaran ilmunya, sehingga udara di sekitarnya pun seakan-akan telah menjadi panas.

Karpa Tole mengumpat. Ia mengalami kesulitan. Ia tidak lagi merasa bebas menyerang, karena setiap kali ia justru harus meloncat menjauh, karena ia tidak tahan lama diganggu oleh api kekuatan ilmu Ki Jayaraga yang menggetarkan udara.

Dengan demikian maka Ki Jayaraga merasa bahwa kekuatan ilmunya sempat mengurangi tekanan serangan-serangan Karpa Tole yang bukan saja cepat, tetapi juga mengandung tenaga yang sangat besar.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga sempat berkata, “Ternyata kau memang memiliki bekal untuk memimpin sebuah padepokan. Tetapi sayang, jika pemimpin tertinggi dari sebuah padepokan itu hanya memiliki kemampuan pada tataran kemampuanmu, lalu apa yang dapat dilakukan oleh murid-muridmu.”

“Kau gila.”  geram Karpa Tole, “pada saatnya kau akan menyesal. Atau barangkali kau justru tidak sempat menyesali kesombonganmu itu.”

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya. Ia tidak tertawa lagi ketika ia melihat Karpa Tole itu mengambil jarak. Ki Jayaraga pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia sadar, bahwa orang yang menyebut dirinya Karpa Tole itu akan sampai pada puncak ilmunya.

Sebenarnyalah bahwa Karpa Tole telah mengambil keputusan untuk mengakhiri pertempuran. Ia pun menyadari bahwa lawannya adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, maka ia pun bertekad untuk sekali melepaskan ilmunya. Lawannya harus dapat dihancurkannya. Jika ia gagal, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melakukannya selanjutnya.

Beberapa orang yang bertempur di sekitarnya, apalagi orang-orang yang datang bersamanya dari padepokannya, segera mengetahui pula, bahwa Karpa Tole telah siap untuk melepaskan ilmunya yang sangat diagungkannya. Ilmu yang disebutnya sebagaimana disebut dalam dunia pewayangan, Aji Brajamusti.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu pun dengan ketajaman panggraitanya, dapat meraba apa yang akan dilakukan oleh Karpa Tole. Agaknya Karpa Tole benar-benar akan melepaskan satu kekuatan yang sangat tinggi, sehingga karena itu maka Ki Jayaraga yang tidak ingin mengalami kesulitan dan tidak pula ingin terlambat telah mempersiapkan diri pula.

Beberapa saat kemudian, maka terdengar Karpa Tole itu berteriak nyaring, “Jayaraga. Panggil nama orang tuamu, tengadahkan hatimu ke langit, tundukkan wajahmu ke bumi. Kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi setelah kau tersentuh kekuatan Aji Brajamusti.”

Ki Jayaraga menyadari, bahwa lawannya tidak sedang bergurau. Karena itu, maka Ki Jayaraga pun tidak bergurau pula. Dihimpunnya kekuatan yang diakrabinya selama ini. Dikerahkannya ilmunya sampai ke puncak.

Sejenak kemudian, maka Karpa Tole itu pun telah meloncat dengan garangnya. Tangannya terangkat dalam ayunan lontaran kekuatan ilmunya yang disebutnya Aji Brajamusti.

Ki Jayaraga ternyata masih juga terkejut. Demikian Karpa Tole meluncur, maka getaran udara yang mendahuluinya telah memberikan isyarat kepadanya, betapa besar kekuatan ilmu orang itu. Sebelum terjadi sentuhan wadag, maka rasa-rasanya tubuh Ki Jayaraga sudah terguncang.

Karena itu, maka Ki Jayaraga tidak ingin dibinasakan bahkan lebur sampai lumat karena ilmu lawannya. Ia memang masih mungkin untuk menghindar. Tetapi ia pun menyadari bahwa lawannya mampu bergerak sangat cepat, sehingga kemungkinan buruk dapat terjadi atasnya. Sentuhan tubuh lawannya akan benar-benar dapat menghancurkannya.

Dengan demikian maka Ki Jayaraga pun telah menghentakkan ilmu yang telah dihimpunnya dan disiapkannya dengan matang. Sehingga karena itu, ketika ia mengangkat kedua telapak tangannya, maka seakan-akan dari telapak tangannya itu telah meluncur kilatan cahaya yang memancar langsung mengarah ke tubuh Karpa Tole yang sedang melayang itu.

Satu benturan yang dahsyat telah terjadi. Karpa Tole yang bagaikan melayang itu telah dibentur oleh kekuatan ilmu Ki Jayaraga yang nggegirisi. Demikian ilmu Ki Jayaraga membentur tubuh Karpa Tole, maka seakan-akan telah terjadi ledakan yang keras. Cahaya yang menyilaukan memancar dari tubuh itu.

Tetapi ilmu Ki Jayaraga tidak sempat menghentikan tubuh Karpa Tole yang melayang, meskipun telah menghantamnya. Karena itu, maka tubuh itu pun akhirnya telah menimpa Ki Jayaraga sehingga keduanya jatuh terguling di tanah.

Untuk beberapa saat kedua tubuh yang terbaring itu diam. Meskipun Karpa Tole telah membentur kekuatan ilmu Ki Jayaraga, namun tubuhnya yang terlontar dengan derasnya itu masih menyimpan kekuatan ilmunya, meskipun sudah menjadi susut. Namun sisa ilmu itu masih membuat Ki Jayaraga menjadi pening. Pandangannya memang menjadi berkunang-kunang serta nafasnya menjadi sesak. sehingga Ki Jayaraga harus memusatkan perhatiannya pada keadaannya.

Dengan susah payah Ki Jayaraga berusaha untuk bangkit. Ia mempercayakan dirinya kepada perlindungan para pengawal Tanah Perdikan dari serangan pasukan lawannya, sementara itu ia memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasannya untuk mencapai daya tahan tubuh yang tertinggi.

Perlahan-lahan pandangannya menjadi terang kembali. Pendengarannya menjadi semakin jelas. Sesak nafasnya sedikit demi sedikit telah teratasi.

Suara sorak yang meledak di sekitarnya menjadi semakin jelas didengarnya. Bagaikan suara gelombang yang mendera batu-batu karang di pantai yang curam.

Sementara itu, penglihatannya yang menjadi semakin jelas, sempat melihat tubuh yang terbaring hanya dua langkah dari dirinya. Karpa Tole.

Tidak seorang pun sempat mendekat. Kedua belah pihak berusaha untuk melindungi pemimpinnya masing-masing. Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh berusaha untuk menghalau setiap orang yang akan memanfaatkan keadaan Ki Jayaraga yang lemah. Namun orang-orang dari Madiun pun dengan keras selalu mendesak orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang ingin mendekati tubuh Karpa Tole yang terbaring diam.

Ki Jayaraga memerlukan waktu beberapa saat untuk mengatasi kesulitan didalam dirinya. Baru kemudian Ki Jayaraga melepaskan pemusatan nalar budinya setelah jalan pernafasannya mampu mengatasi kesulitannya. Namun ternyata tubuhnya masih terasa sakit dan menjadi sangat letih meskipun kulitnya tidak nampak terluka.

Dengan susah payah Ki Jayaraga itu pun bangkit berdiri. Diamatinya keadaan di sekelilingnya. Pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Namun Ki Jayaraga mengalami keadaan yang tidak memungkinkannya untuk segera memasuki arena pertempuran itu. Tubuhnya masih saja terasa sakit di segala sendinya. Bahkan meskipun ia telah mampu mengatasi pernafasannya, namun dadanya pun masih terasa sakit.

Untuk beberapa saat Ki Jayaraga berdiri termangu-mangu. Namun perhatiannya kemudian tertuju pada tubuh yang terbaring diam. Selangkah demi selangkah Ki Jayaraga mendekatinya, sementara para pengawal Tanah Perdikan masih saja melindunginya.

Ternyata tubuh Karpa Tole terbaring menelungkup. Nampak beberapa noda hitam pada pakaian dan tubuhnya. Apalagi ketika tubuh itu diputar oleh Ki Jayaraga, sehingga menengadah.

Ternyata sebagian tubuh dan pakaian Karpa Tole telah menjadi hangus. Sedangkan nafasnya sama sekali sudah tidak mengalir lagi di lubang hidungnya.

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berjongkok disebelah tubuh yang bagaikan membeku itu meskipun membekas luka-luka bakar. Sementara itu tubuhnya sendiri merasakan betapa kuatnya kemampuan ilmu Karpa Tole. Jika saja ilmunya tidak mampu menghambatnya, maka yang akan terkapar mati adalah Ki Jayaraga sendiri.

“Aku tidak mempunyai pilihan lain.”  desis Ki Jayaraga sambil menyentuh tubuh yang membeku itu.

Perlahan-lahan pula Ki Jayaraga bangkit berdiri. Tetapi ia tidak lagi dapat berbuat banyak karena keadaan tubuhnya. Karena itu maka ia pun telah berdiri saja di tempatnya. Sambil menunggu keadaannya membaik, maka ia hanya memperhatikan saja para pengawal Tanah Perdikan yang bertempur dengan gigihnya untuk mempertahankan kehormatan wilayahnya. Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah pengawal yang baik, justru saat Ki Patih Mandaraka ada di Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi kematian Karpa Tole telah mempengaruhi medan. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra menjadi cemas. Mereka yang telah mengenal kemampuan Karpa Tole menyadari, betapa tinggi ilmu lawannya yang telah mampu membunuhnya. Jika ilmunya itu ditrapkan kepada orang lain, maka orang itu tentu akan menjadi lumat, sehingga arena pertempuran itu akan segera menjadi ajang pembantaian yang sangat mengerikan.

Namun nampaknya Ki Jayaraga tidak segera melakukannya. Ia masih menunggu keadaan tubuhnya menjadi lebih baik. Tetapi memang tidak terlintas sama sekali di angan-angannya untuk menghancurkan para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang dihadapinya sehingga menjadi abu.

Dalam pada itu, selagi Ki Jayaraga merenungi pertempuran di sekitarnya sepeninggal Karpa Tole, maka Agung Sedayu pun telah meningkatkan kemampuannya sampai ke tataran tertinggi. Lawannya pun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Senjata didalam genggamannya adalah senjata yang bukan saja menggetarkan jantung menurut ujudnya, tetapi juga merupakan senjata yang sangat berbahaya ditangan Wreksa Gora yang memang berilmu tinggi, serta memiliki ilmu kebal rangkap. Namun sayang sekali bahwa Wreksa Gora masih belum memiliki ilmu kebalnya pada batas tataran yang memungkinkannya terlindung dari ujung juntai cambuk Agung Sedayu. Bahkan Agung Sedayu yang tidak memiliki ilmu kebal rangkap, ternyata mampu mengimbanginya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara keduanya semakin lama menjadi semakin keras. Keduanya bergerak semakin cepat, sementara pancaran ilmu mereka telah menggetarkan udara di sekitarnya.

Cambuk Agung Sedayu tidak lagi meledak-ledak memekakkan telinga. Namun dengan demikian, maka getaran kekuatan ilmunya justru telah menjadi semakin tajam. Ujung cambuk itu pun menjadi sangat berbahaya. Sentuhannya bukan saja mampu mengoyak ilmu kebal rangkap sekalipun. Tetapi tentu juga akan dapat mengoyakkan kulit.

Wreksa Gora yang memiliki ilmu dan pengalaman yang sangat luas itu akhirnya menyadari, bahwa ia harus melepaskan ilmu simpanannya. Ia tidak akan mungkin dapat mengalahkan Agung Sedayu meskipun ia menggenggam kerisnya yang dianggapnya bertuah itu.

Tetapi Agung Sedayu pun menyadari, bahwa keris itu tidak akan banyak berarti ditangan orang lain. Ditangan Wreksa Gora nampaknya ada persesuaian antara ilmunya dan kekuatannya serta dasar kelebihan keris yang terbuat dari baja pilihan itu. Pamornya yang bagaikan bercahaya itu benar-benar serbuk batu dan logam yang jarang ada duanya. Karena itulah, maka ditangan Wreksa Gora keris itu mampu menyala dan bahkan pada hentakkan kemampuan ilmunya, maka keris itu siap untuk melontarkan yang lebih berbahaya lagi.

Dalam pertempuran yang semakin cepat, serta keseimbangan yang semakin berat sebelah, karena Agung Sedayu selalu mendesak lawannya, maka Wreksa Gora telah menghentakkan ilmu pamungkasnya. Ilmu yang dipergunakannya hanya pada saat-saat yang paling gawat sehingga telah mengancam nyawanya.

Agung Sedayu yang telah bertempur dengan sengitnya itu, sekilas melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat Wreksa Gora mengambil jarak. Kemudian melemparkan tongkat bajanya. Mengangkat kerisnya diatas kepalanya, kemudian turun sedikit tepat didepan wajahnya.

Agung Sedayu yang siap meloncat memburunya telah tertegun sejenak. Namun beruntunglah ia, bahwa ia masih sempat melihat Wreksa Gora itu telah meniup ujung kerisnya.

Ternyata udara yang keluar dari mulutnya dan menyentuh ujung kerisnya itu telah memancarkan ilmunya yang dahsyat. Dari ujung keris itu seakan-akan telah memancar lidah api yang sangat panas menjilat kearah Agung Sedayu berdiri.

Untunglah Agung Sedayu telah bersiaga sepenuhnya. Demikian lidah api itu terjulur dan menjilatnya, maka Agung Sedayu telah meloncat ke samping.

Namun ternyata ilmu Wreksa Gora itu memang dahsyat sekali. Panas yang masih juga sempat menyentuh Agung Sedayu disaat ia menghindar, ternyata mampu pula menembus ilmu kebalnya, sehingga kulitnya merasakan betapa panasnya lidah api yang terjulur ke arahnya itu.

Seandainya ia tidak mempergunakan ilmu kebalnya, maka agaknya ia pun telah menjadi hangus karenanya, terutama tubuhnya yang telah tersentuh ilmu Wreksa Gora itu.

Wreksa Gora yang melihat Agung Sedayu sempat menyelamatkan diri itu mengumpat kasar. Ia sudah yakin, bahwa ilmunya yang dahsyat itu akan dapat menusuk menembus ilmu kebal Agung Sedayu dan menghanguskan kulitnya. Namun ternyata Agung Sedayu sempat menghindar, meskipun tubuhnya masih tersentuh pula.

Tetapi Wreksa Gora tidak mau melepaskan lawannya. Demikian Agung Sedayu melenting berdiri, maka Wreksa Gora pun telah bersiap pula untuk menyerangnya. Sekali lagi Agung Sedayu harus bergeser dengan cepat. Namun ia telah mengetrapkan ilmunya yang seakan-akan dapat memperingan tubuhnya. Sehingga karena itu, maka ia dapat bergerak lebih cepat dan meloncat lebih tinggi.

Untunglah bahwa pertempuran antara kedua pasukan di sekitar Agung Sedayu dan Wreksa Gora telah bergeser menjauhi keduanya sejak sebelumnya, sehingga lidah api itu tidak menjilat mereka. Jika hal itu terjadi, baik pengawal Tanah Perdikan maupun para mengikut Panembahan Cahya Warastra tentu akan terbakar menjadi abu.

Namun serangan-serangan Wreksa Gora itu pun tidak segera berhenti. Lidah api itu bagaikan mengejar kemana Agung Sedayu pergi. Meskipun kadang-kadang Wreksa Gora bagaikan kehilangan lawannya yang seakan-akan melayang di udara.

Agung Sedayu yang selalu diburu oleh lidah api itu pun akhirnya memutuskan untuk menyerang dari jarak tertentu pula. Ia tidak perlu harus mempergunakan juntai cambuknya untuk melumpuhkan lawannya. Apalagi ia kemudian merasa sulit untuk dapat menembus lidah api yang panasnya dapat menusuk ilmu kebalnya itu.

Karena itulah, maka ketika Agung Sedayu mendapat serangan sekali lagi, maka ia pun telah melenting tinggi. Kemudian menggeliat, sehingga tubuhnya seakan-akan begitu saja hilang dari arah yang diperhitungkan oleh Wreksa Gora. Namun akhirnya Wreksa Gora pun telah menemukannya. Agung Sedayu berdiri beberapa langkah justru di belakangnya.

Ketika Wreksa Gora siap menghembuskan ujung kerisnya untuk menyerang Agung Sedayu, maka Agung Sedayu pun telah siap pula melepaskan ilmunya yang jarang ada duanya.

Tiba-tiba saja dari kedua matanya telah memancar cahaya yang berkilat menyambar Wreksa Gora yang sudah siap menyerang.

Terdengar teriakan yang menggetarkan udara. Kemarahan dan keterkejutan yang sangat. Wreksa Gora ternyata menjadi lengah ketika ia merasa mampu mendesak Agung Sedayu dengan ilmunya, sehingga ia tidak sempat menghindari serangan Agung Sedayu itu.

Serangan Agung Sedayu ternyata telah menembus dan memecahkan lapisan-lapisan ilmu kebalnya yang rangkap, kemudian langsung menusuk dadanya dan seolah-olah mencengkam jantungnya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 245)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-44/

Terima kasih kepada Ki Mahesa yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s