ADBM3-248

<<kembali | lanjut >>

KEDATANGAN mereka di padepokan kecil itu telah disambut dengan gembira oleh para cantrik yang jumlahnya memang hanya sedikit. Ki Widura yang berada di padepokan itu telah menyambut Kiai Gringsing pula di halaman. Dengan ramah Ki Widura telah mempersilahkan Swandaru untuk naik dan duduk di pendapa.

“Marilah. Silahkan”  berkata Ki Widura, “kami persilahkan pula para pengawal.”

“Biarlah mereka di serambi gandok itu saja Ki Widura.”  berkata Swandaru.

“Apa salahnya mereka naik juga ke pendapa?”  bertanya Ki Widura.

“Mereka tentu lebih senang duduk di serambi gandok. Jika mereka harus dipendapa, maka rasa-rasanya mereka telah menjadi tamu yang sangat resmi. Tetapi di serambi gandok mereka dapat duduk seenaknya. Bahkan mungkin berbaring di amben besar itu.”  berkata Swandaru.

“O”  Ki Widura mengangguk-angguk, “jika demikian, silahkanlah.”

Sementara Swandaru duduk di pendapa bersama Kiai Gringsing dan Ki Widura, para cantrik telah dengan cepat merebus air dan menanak nasi. Tamu mereka cukup banyak. Tidak hanya seorang saja.

Meskipun belum terlalu malam, namun Kiai Gringsing minta Swandaru untuk bermalam saja di padepokan kecil itu. Besok pagi-pagi ia dapat kembali ke Sangkal Putung.

“Tetapi jaraknya tinggal selangkah lagi.”  berkata Swandaru.

“Bermalam saja disini.”  desis Kiai Gringsing.

Swandaru tidak mau mengecewakan gurunya. Ia pun telah bermalam di padepokan kecil itu meskipun jarak Jati Anom dan Sangkal Putung sudah dekat.

Namun malam itu ternyata berarti juga bagi Swandaru. Kiai Gringsing ternyata tidak langsung beristirahat setelah berbenah diri dan makan malam. Ia masih memberikan sedikit waktu untuk bersama-sama dengan Swandaru melihat-lihat isi kitab yang dibawa oleh muridnya itu.

Dengan kesabaran seorang guru, Kiai Gringsing memberikan beberapa petunjuk kepada Swandaru, apa yang harus dilakukan meskipun kadang-kadang Swandaru merasa dirinya telah cukup dewasa dalam penguasaan ilmunya. Namun setiap kali Swandaru harus mengangguk-angguk saat gurunya mampu langsung menuding kekurangannya. Bahkan beberapa pertanyaan Kiai Gringsing tentang beberapa hal yang berhubungan dengan ilmu cambuknya tidak dapat dijawab oleh Swandaru.

“Nah.”  berkata Kiai Gringsing, “bukankah kau masih harus membaca ulang berkali-kali untuk mengetahui apa yang harus kau lakukan? Kau tidak dapat dengan serta merta turun ke sanggar tanpa mengerti apa yang harus kau lakukan. Bahkan laku itu harus kau tempuh tidak hanya di sanggar saja. Tetapi juga ditempat-tempat terbuka.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Guru. Sudah agak lama aku memang tidak membuka kitab ini, karena kitab ini berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Seandainya kitab ini ada padamu, apakah kau juga akan membaca bagian-bagian yang tadi aku tunjukkan sebelum aku minta kepadamu untuk meningkatkan tataran ilmu cambukmu?”  bertanya Kiai Gringsing.

Swandaru menundukkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan aku dapat melakukan petunjuk Guru.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa Swandaru sengaja menghindari pertanyaannya. Namun Kiai Gringsing tidak ingin menyudutkannya, sehingga karena itu orang tua itu pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Swandaru. Aku sudah terlalu tua. Karena itu, maka kau masih mendapat sedikit kesempatan untuk berbicara tentang ilmu cambuk itu jika kau mengalami kesulitan.”

“Tetapi keadaan guru masih sangat baik.”  berkata Swandaru.

“Nampaknya memang demikian. Namun aku akan selalu mohon kepada Yang Maha Agung agar aku selalu mendapat kurnia kesehatan daripada-Nya. Meskipun demikian, maka seperti berkali-kali aku katakan, maka jalanku sudah hampir sampai.”  sahut Kiai Gringsing.

Swandaru mengangguk-angguk kecil. Namun didalam hati ia berkata, “Tidak ada jalan lain yang dapat aku tempuh selain melaksanakan perintah Guru selagi Guru masih dapat berbuat sesuatu bagi murid-muridnya. Tetapi seharusnya Guru berbuat lebih banyak bagi kakang Agung Sedayu.”

Namun Swandaru tidak mengatakannya. Agaknya gurunya itu telah mengatakannya sendiri langsung kepada Agung Sedayu, apa yang harus dilakukannya sebagaimana gurunya memberi petunjuk kepadanya.

“Aku mempunyai keuntungan yang tidak ada pada kakang Agung Sedayu.”  berkata Swandaru, “jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom cukup pendek, sehingga kapan aku memerlukan, aku dapat datang kemari untuk mendapat tuntunan langsung dari Guru. Agaknya hal seperti itu tidak dapat dilakukan oleh kakang Agung Sedayu.”

Demikianlah malam itu Swandaru mendapat banyak sekali petunjuk dari gurunya, apa yang harus dilakukannya. Bagaimana sebaiknya ia membagi waktu antara kepentingannya sendiri dalam olah kanuragan serta kepentingan Kademangannya.

“Kau memang tidak boleh meninggalkan kepentingan Kademanganmu begitu saja. Namun jika kau merasa letih setelah bekerja keras bagi peningkatan ilmumu, maka kau dapat memberikan perintah-perintah saja kepada para pengawal serta anak-anak muda yang sebelumnya telah mendapat latihan-latihan khusus, baik dalam mengolah tanah pertanian, mengatur air dan terlebih-lebih lagi mengatur ketertiban. Selain dari itu, maka peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan dapat kau tarik sebagai satu pengalaman yang berharga bagi Kademanganmu.”  pesan Kiai Gringsing. Lalu katanya pula, “Dengan demikian maka kau memang akan menghadapi tugas yang sangat berat. Baik bagi dirimu sendiri, maupun bagi kademanganmu. Namun hal itu akan menjadi pelengkap dari masa-masa pembajaan dirimu yang belum tuntas.”

Swandaru mengangguk kecil. Katanya, “Ya Guru. Aku sudah dapat membayangkan tugas-tugas berat yang akan aku hadapi itu. Tetapi aku tidak akan ingkar.”

“Bagus Swandaru.”  berkata Kiai Gringsing, “sejak semula aku memang yakin bahwa kau tidak akan segan melakukan tugas yang betapa pun beratnya.”

Swandaru mengangguk pula. Ia sudah membayangkan kerja keras yang harus dilakukannya. Tetapi ia sudah bertekad untuk menempuhnya, karena Swandaru benar-benar ingin meningkatkan ilmu cambuknya setelah gurunya memberikan banyak penjelasan. Demikianlah, maka malam itu Swandaru telah mendapat banyak sekali bahan yang sangat berarti baginya. Ketika ia kemudian memasuki biliknya, maka rasa-rasanya bekalnya sudah menjadi lengkap.

Pagi-pagi benar Swandaru telah bangun. Ia ingin berangkat sebelum panas matahari terasa gatal di kulit. Ketika ia dan para pengawalnya telah siap, maka ia sekali lagi mohon restu gurunya untuk menempuh dan memulai dengan kerja besarnya itu.

“Berangkatlah. Kau masih cukup muda untuk melakukan langkah-langkah besar. Mudah-mudahan kau berhasil.”  berkata gurunya.

Disaat matahari terbit, maka Swandaru dan para pengawalnya telah meninggalkan padepokan kecil itu kembali ke Sangkal Putung.

Kedatangan Swandaru memang agak mengejutkan. Matahari baru mulai naik ketika kudanya memasuki regol halaman.

Keluarganya di Sangkal Putung kemudian hanya dapat mengangguk-angguk ketika mereka tahu, bahwa Swandaru telah bermalam di padepokan Kiai Gringsing.

“Ki Gede sangat bergembira mendengar keadaanmu.”  berkata Swandaru kepada isterinya, “ia berharap bahwa segalanya akan dapat berlangsung dengan selamat. Ki Gede berharap agar kau menjaga bakal anakmu dengan sebaik-baiknya.”

Pandan Wangi tersenyum. Sebenarnyalah ia merasa sangat rindu kepada ayahnya di Tanah Perdikan. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat menempuh perjalanan yang demikian jauhnya. Namun sebenarnyalah ia sangat berharap ayahnya dapat datang pada saatnya.

Tetapi Pandan Wangi pun menyadari apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan. Swandaru kemudian sempat bercerita kepada keluarganya di Sangkal Putung tentang Tanah Perdikan.

“Tetapi semuanya ternyata selamat.”  berkata Swandaru, “bahkan Sekar Mirah pun sempat berhadapan dengan salah seorang diantara orang-orang yang menyerang Tanah Perdikan itu, karena orang itu berniat membakar rumah Ki Gede.”

“Syukurlah.”  berkata Ki Demang, “tetapi apakah Sekar Mirah tidak berniat untuk sekali-sekali datang kemari? Apalagi menjelang kelahiran kemenakannya?”

“Ia akan berusaha ayah. Tetapi sebagaimana telah aku ceritakan, keadaan di Tanah Perdikan itu belum tenang benar. Sementara itu kakang Agung Sedayu nampaknya mempunyai peranan yang besar di Tanah Perdikan itu. Tetapi jika ada kesempatan, mereka sudah berjanji akan datang. Namun agaknya harus bergantian antara Ki Gede dan Kakang Agung Sedayu.”  jawab Swandaru.

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia memang dapat membayangkan ancaman yang masih saja berbahaya bagi Tanah Perdikan.

Sebenarnyalah saat itu Tanah Perdikan telah mulai sibuk berbenah diri. Ki Gede telah berusaha untuk menghapuskan semua bekas luka yang terjadi atas Tanah Perdikan. Sementara para pengawal masih saja bekerja keras untuk mengamati keadaan. Banyak kemungkinan dapat terjadi atas Tanah Perdikan itu dengan alasan yang bermacam-macam pula.

Dalam pada itu, Agung Sedayu telah menyempatkan diri untuk berbicara secara khusus dengan Ki Waskita dan Ki Jayaraga tentang perintah gurunya untuk meningkatkan ilmunya tanpa menyebut alasannya. Agung Sedayu hanya mengatakan bahwa Kiai Gringsing masih menganggap jangkauan kemampuannya masih belum mencukupi.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Gurumu memang orang luar biasa Agung Sedayu. Aku kira kau patut melakukan perintah gurumu itu. Sudah barang tentu aku bersedia membantumu jika diperlukan. Bukan membantumu meningkatkan ilmumu, karena aku kira, aku sudah tidak akan mampu lagi, karena ilmumu sudah ada pada tataran yang lebih baik dari ilmuku, tetapi aku dapat membantumu dalam tugas-tugasmu di Tanah Perdikan ini, karena sebenarnyalah aku juga tidak banyak mempunyai pekerjaan di rumah.”

“Ah.”  desah Agung Sedayu, “Ki Waskita terlalu memujiku. Sebenarnyalah ilmuku bukan apa-apa dibandingkan dengan ilmu Ki Waskita.”

Tetapi Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Agung Sedayu. Kau tentu tahu, bahwa diantara kita, kita telah saling mengenali takaran ilmu kita masing-masing. Bagiku kau adalah cermin dari gurumu. Agaknya Kiai Gringsing berpegang pada satu pendirian, bahwa seorang murid harus lebih baik dari gurunya. Baru dengan demikian tataran dari satu perguruan akan meningkat.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Jayaraga berkata, “Aku sependapat Agung Sedayu. Aku yang setiap hari berkumpul denganmu, sudah barang tentu mengetahui dengan pasti tataran kemampuanmu. Seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita, kau adalah cermin dari gurumu. Maksud kami, kau telah berada pada tataran gurumu dalam olah kanuragan. Bahkan dalam olah kajiwan.”

“Tentu belum Ki Jayaraga.”  jawab Agung Sedayu dengan serta merta.

“Jika terpaut, maka selisih itu sudah dapat diabaikan. Aku berkata sejujurnya tanpa maksud apa-apa sebagaimana Ki Waskita.”  berkata Ki Jayaraga, “kau pun harus menyadari Agung Sedayu, bahwa aku pun memiliki sedikit pengetahuan tentang olah kanuragan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. sementara Ki Waskita berkata, “Kau memang wajib melakukannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku memang harus melakukannya. Tetapi aku benar-benar mohon bantuan karena sebagian waktuku akan aku pergunakan untuk kepentinganku sendiri. Justru pada saat-saat seperti ini.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Aku akan berada di sini untuk beberapa lama. Tetapi karena rumahku tidak terlalu jauh, maka aku akan dapat hilir mudik tanpa kesulitan. Sementara itu Ki Jayaraga tentu akan selalu siap bersama Glagah Putih untuk berbuat apa saja di Tanah Perdikan ini.”

Agung Sedayu mengangguk sambil berkata, “Terima kasih Ki Waskita. Namun dengan demikian aku berpikir juga tentang Glagah Putih, meskipun anak itu juga sudah mempunyai pegangan ilmu yang cukup. Selain aku dan Ki Jayaraga yang menuntunnya, anak itu telah berkenalan dan berkawan akrab dengan Raden Rangga yang sangat berpengaruh bagi kemampuannya. Raden Rangga tidak memberikan terlalu banyak pengetahuan kepada Glagah Putih, juga dalam olah kanuragan. Tetapi ia mampu meningkatkan ilmu Glagah Putih jauh lebih cepat dari yang sewajarnya tanpa merugikan keadaan wadagnya.”

“Tetapi kau memerlukan waktu bagi dirimu sendiri Agung Sedayu.”  berkata Ki Jayaraga, “selama ini seakan-akan kau tidak pernah memikirkan dirimu karena hampir seluruh waktumu kau serahkan kepada Tanah Perdikan ini. Namun selagi kesempatan itu ada, serta gurumu telah memberimu peringatan, maka sebaiknya kau menyempatkan diri untuk menjalani laku itu. Bukankah kau tidak akan pergi ke mana-mana? Kau akan tetap berada di rumah. Setiap saat kau masih selalu dapat berhubungan dengan Tanah Perdikan ini seperti biasanya.”

Agung sedayu mengangguk-angguk. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Aku berterima kasih kepada Ki Waskita dan Ki Jayaraga. Semoga aku berhasil memenuhi keinginan guruku dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena sebagaimana kita ketahui keadaan guru yang sudah sangat tua itu dapat berubah-ubah setiap saat. Kadang-kadang Guru nampak sehat dan segar. Namun di saat lain nampak lemah dan sakit-sakitan.”

“Tetapi kita berdoa, mudah-mudahan Kiai Gringsing mendapat umur yang panjang.”  desis Ki Jayaraga.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia tahu bahwa segala-galanya memang tergantung kepada kemurahan Yang Maha Agung. Hanya kepada-Nya lah ia dapat memohon, apa pun usaha yang wajib dilakukan oleh seseorang.

Dengan bekal kesediaan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu untuk mengambil alih sebagian dari tugas-tugasnya, maka Agung Sedayu telah mempersiapkan diri untuk menjalani laku terakhir ilmu cambuk, ciri dari perguruan Orang Bercambuk. Namun seperti yang dikatakan oleh gurunya, maka ia memerlukan waktu, tenaga, pikiran dan niat untuk melakukannya.

Karena itu, maka ia merasa wajib untuk berbicara lebih dahulu kepada Ki Gede Menoreh, agar tidak menimbulkan dugaan yang salah terhadap dirinya, seakan-akan ia telah menarik diri dengan diam-diam dari kegiatan di Tanah Perdikan itu.

Ketika ia menyatakan hal itu, maka hampir berbarengan Ki Waskita dan Ki Jayaraga menyahut, “Tentu.”

“Itu kewajibanmu.”  sambung Ki Jayaraga kemudian. Lalu, “Selama ini kau telah bekerja keras di Tanah Perdikan ini, sehingga bagi Ki Gede, kau merupakan bagian dari isi hidupnya sehari-hari.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Rasa-rasanya jalan yang terentang dihadapannya menjadi semakin terang. Meskipun ia tahu jalan itu licin, berbatu tajam dan menanjak. Tetapi sejak semula ia tahu, itulah jalan yang harus ditempuh bagi siapa pun yang ingin menuntut ilmu apa pun juga. Ilmu itu tidak akan datang sendiri disaat kita bermalas-malas. Bahkan ilmu itu tidak akan dapat dibeli berapa harganya tanpa menjalani laku.

Demikianlah, pada kesempatan lain, Agung Sedayu dan Sekar Mirah memang sudah menghadap Ki Gede untuk menyampaikan maksudnya. Ternyata Ki Gede pun sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan ia telah mendorong agar Agung Sedayu melakukan perintah itu dengan sebaik-baiknya.

“Meskipun kita dalam keadaan gawat, namun bukankah kau setiap saat dapat turun untuk melakukan tugas-tugasmu jika diperlukan? Bahkan peningkatan ilmumu akan berarti juga bagi Tanah Perdikan ini.”  berkata Ki Gede.

Tetapi Agung Sedayu berkata di dalam hatinya, “Guru berpesan, agar aku mempelajari ilmu cambuk itu sampai tuntas tanpa harus dipergunakan. Namun dalam keadaan yang tidak terelakkan, maka Guru cukup bijaksana, khususnya dalam tugasku sebagai saudara tua Swandaru.”

Namun kepada siapa pun juga Agung Sedayu tidak pernah mengatakan tugas khususnya itu, karena agaknya hal itu sifatnya sangat pribadi baginya, yang akan langsung menyangkut citra perguruan dari Orang Bercambuk, yang pada hakekatnya hanya berisi tiga orang itu. Gurunya, dirinya sendiri dan Swandaru. Orang-orang yang berada di padepokan kecil di Jati Anom, bukanlah murid yang sebenarnya dari perguruan Orang Bercambuk. Namun para cantrik itu telah mendapat banyak sekali pengetahuan tentang hidup dan kehidupan secara umum, meskipun serba sedikit mereka juga mendapat tuntunan olah kanuragan.

Karena itu, Agung Sedayu memang mulai tertarik kepada pendapat Kiai Gringsing tentang adik sepupunya.

Tetapi semuanya itu masih disimpulkan didalam hati. Ia masih harus berpikir berulang kali untuk menurunkan ilmu ciri dari perguruan Orang Bercambuk kepada Glagah Putih yang mewarisi ilmu dari padanya tetapi dari jalur ilmu Ki Sadewa, yang dipelajarinya dari dinding goa yang diketemukannya tanpa sengaja. Namun sudah barang tentu bahwa perguruan Orang Bercambuk itu tidak boleh terputus hanya sampai pada batas dirinya dan Swandaru. Mungkin Swandaru telah menemukan tempat untuk menuangkan ilmunya jika anaknya lahir kelak dan menjadi semakin besar.

Agung Sedayu tiba-tiba saja melihat kepada dirinya dan keluarganya. Isterinya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan seorang anak seperti Pandan Wangi. Namun segala-galanya telah dikembalikannya kepada Yang Maha Agung dengan ikhlas.

Demikianlah, maka kesempatan memang telah terbuka bagi Agung Sedayu. Ijin Ki Gede telah menguatkan tekadnya. Sebenarnyalah ia tidak akan meninggalkan Tanah Perdikan, sehingga dalam keadaan yang gawat ia masih akan dapat berbuat sebagaimana biasa.

Dalam pada itu Agung Sedayu pun telah berbicara pula dengan Glagah Putih dan Prastawa. Mereka akan mendapat beban yang lebih berat dari sebelumnya, karena Agung Sedayu mendapat tugas dari perguruannya.

“Tetapi aku masih akan dapat memberikan sebagian waktuku bagi Tanah Perdikan ini. Tetapi tidak sebanyak hari-hari yang lalu. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan tugasku dalam setengah tahun ini, sehingga untuk selanjutnya aku tinggal menyempurnakannya dan tidak akan makan waktu terlalu banyak, meskipun akan memerlukan pemusatan nalar budi.”  berkata Agung Sedayu.

“Kami akan berbuat sebaik-baiknya kakang.”  berkata Glagah Putih, “mudah-mudahan tugas kakang dari perguruan kakang itu tidak akan terganggu.”

 “Terima kasih.”  jawab Agung Sedayu, “dengan demikian kalian telah membantuku dalam tugas-tugasku bukan saja bagi Tanah Perdikan ini, tetapi juga bagi tugas-tugasku pribadi.”

“Kau sudah memberikan banyak sekali bagi Tanah Perdikan ini Agung Sedayu.”  berkata Prastawa, “peningkatan ilmumu akan sangat berarti pula bagi Tanah Perdikan ini.”

Dengan demikian, maka hati Agung Sedayu terasa menjadi ringan. Ia pun kemudian telah mempersiapkan dirinya baik-baik lahir dan batin, dengan dorongan Sekar Mirah yang ikut berbangga atas kemungkinan yang bakal di capai oleh suaminya, maka niat Agung Sedayu menjadi semakin mantap.

Menjelang saat Agung Sedayu menjalani laku, maka di setiap malam ia telah mengadakan persiapan khusus didalam sanggarnya. Tiga malam berturut-turut Agung Sedayu telah memusatkan nalar budi, bersamadi untuk mohon tuntunan kepada Yang Maha Agung, langkah-langkah yang manakah yang sebaiknya dijalani.

Dihari keempat Agung Sedayu telah mandi keramas dengan landa merang, sebagai satu pernyataan kesiagaannya menempuh laku untuk meningkatkan ilmunya sebagaimana yang diharapkan oleh gurunya.

Namun seperti gurunya, Agung Sedayu pun berdoa, semoga ia tidak perlu mempergunakan ilmu yang nggegirisi itu.

Dalam pada itu, di Sangkal Putung, Swandaru pun telah mempersiapkan diri. Ia memang sendiri di Sangkal Putung. Berbeda dengan Agung Sedayu yang mempunyai beberapa kawan yang dapat mengambil alih tugasnya. Satu-satunya orang yang memiliki kemampuan yang tinggi disamping Swandaru adalah Pandan Wangi. Namun Pandan Wangi masih menunggu kelahiran bayinya yang pertama.

Namun seperti juga Sekar Mirah, maka Pandan Wangi pun merasa gembira bahwa suaminya telah bertekad untuk meningkatkan ilmunya bukan saja perkembangan menurut pengalamannya yang memang panjang, tetapi sesuai dengan tuntunan ilmu dari perguruannya. Dengan demikian maka landasan ilmunya itu akan menjadi semakin mapan, sehingga perkembangannya tentu akan jauh lebih baik dari saat-saat sebelumnya.

Sebenarnya Pandan Wangi sendiri telah lama menyimpan keinginan yang demikian. Ketika ia sendiri mulai merambah kemampuan ilmu Tanah Perdikan Menoreh yang diturunkan oleh ayahnya Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh ke intinya, sehingga mampu menyadap kekuatan alam langsung menyusup kedalam getaran ilmunya, sehingga ia mampu meraba dan bahkan menyerang tanpa sentuhan wadagnya, ia sudah ingin minta suaminya melakukannya. Tetapi nampaknya Swandaru saat itu belum tertarik. Bahkan suaminya sama sekali tidak menghiraukan ketika Pandan Wangi menyampaikan gejala peningkatan ilmunya itu, sehingga karena itu maka Pandan Wangi sendiri menjadi lamban maju. Ia kurang bersungguh-sungguh sambil menunggu suaminya menyadari pentingnya meningkatkan ilmunya. Tetapi pada saat Swandaru berniat untuk mulai, Pandan Wangi sedang mengandung.

Tetapi hal itu tidak mengurangi kebanggaan Pandan Wangi terhadap suaminya serta terima kasihnya kepada Kiai Gringsing, guru suaminya itu karena telah berhasil menggelitik Swandaru untuk meningkatkan ilmunya. Meskipun Swandaru menyebutnya sebagai satu perintah.

Seperti Agung Sedayu, maka Swandaru pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dirinya sendiri serta tugas-tugasnya di Kademangan Sangkal Putung.

Ia telah memanggil dan memberikan pesan-pesan tertentu kepada para pemimpin pengawal di setiap padukuhan. Ia pun telah memerintahkan beberapa orang terpilih untuk melakukan bagian dari tugas-tugas yang pernah dilakukannya.

“Semua harus berjalan baik, wajar dan tidak berubah.”  berkata Swandaru kepada mereka, “kehidupan harus meningkat lebih baik meskipun perlahan-lahan seperti yang telah kita bina selama ini.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara Swandaru berkata selanjutnya, “Waktuku bagi Kademangan ini akan berkurang. Di pagi hari aku dapat melakukan tugas-tugasku bagi Kademangan ini seperti biasa. Tetapi hanya sampai tengah hari. Kalianlah yang harus melanjutkan tugas-tugas itu. Jika aku memanggil kalian sekarang, maka agar kalian bersiap-siap untuk bekerja lebih keras. Namun kalian dapat membagi tugas itu dengan kawan-kawan kalian, sehingga kehidupan di Kademangan ini tidak mengalami kemunduran karena aku tidak dapat melakukan tugas-tugasku seperti biasanya.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Kami akan mencoba melakukan dengan sebaik-baiknya.”

“Kalian harus menjadi dewasa. Tidak selamanya tergantung kepadaku.”  berkata Swandaru. Lalu katanya, “Ayah sudah menjadi semakin tua. Tetapi ia akan mengawasi tugas-tugas kalian.”

Kesediaan anak-anak muda itu membuat Swandaru merasa lebih mantap. Ia pun yakin bahwa anak-anak muda itu dibawah pengawasan dan pengarahan ayahnya akan dapat menjalankan sebagian dari tugas-tugasnya, karena di pagi hari, Swandaru masih dapat melakukan tugasnya seperti biasa. Namun ia harus lebih banyak menghemat tenaga bagi latihan-latihannya yang tentu akan terasa berat di hari-hari pertama.

Sebelum anak-anak muda itu meninggalkannya, Swandaru masih sempat berkata, “Penjagaan di malam hari harus lebih di tingkatkan. Peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan harus menjadi pelajaran bagi kita. Madiun akan mulai mengurangi sedikit demi sedikit dukungan atas Mataram, serta sumber kekuatan Mataram yang dianggap penting.”

Dengan demikian, maka Swandaru telah melakukan persiapan sebaik-baiknya. Bagi dirinya sendiri pun Swandaru telah melakukan persiapan lahir dan batin.

Atas pesan ayahnya, maka Swandaru akan mulai dengan latihan-latihannya yang berat itu tepat pada hari kelahirannya yang memang selalu diperingatinya betapa pun sederhananya setiap selapan hari sekali.

Namun dalam pada itu, Swandaru sama sekali tidak menduga bahwa di Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu juga melakukan persiapan untuk meningkatkan ilmunya. Swandaru mengira bahwa karena kitab dari gurunya ada padanya, maka Agung Sedayu harus menunggunya. Karena itu, kepada Pandan Wangi pun ia berkata bahwa ia telah mendapat kesempatan pertama untuk meningkatkan ilmunya.

“Bukan maksudku untuk terlalu mementingkan diri sendiri.”  berkata Swandaru, “aku hanya memikirkan waktu. Jika kitab ini masih ada pada kakang Agung Sedayu, berapa tahun ia akan sampai pada tataran yang sama dengan tataran yang pernah aku capai. Tetapi jika aku mempergunakannya lebih dahulu, maka aku kira dalam waktu setengah tahun, aku sudah dapat menyerahkan kitab ini kepada kakang Agung Sedayu, sementara aku hanya tinggal menyempurnakannya. Baru kelak aku masih harus mengambil tingkatan terakhir dari ilmu cambuk itu. Tetapi tentu tidak terlalu tergesa-gesa. Umurku belum terlalu tua. Sementara itu mudah-mudahan ilmu kakang Agung Sedayu pun sudah meningkat pula. Agaknya ia sekarang tidak akan dapat mengelak setelah Guru langsung mencambuk kami dengan perintah untuk meningkatkan ilmu. Menurut Guru, kakang Agung Sedayu terlalu ingin ilmunya melebar. Ia mengenal beberapa jenis ilmu, tetapi semuanya mengambang, sehingga Guru langsung memerintahkannya untuk memperdalam ilmu cambuknya.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Tetapi ia ragu-ragu mendengar keterangan suaminya, karena menurut pendengarannya dari orang lain, bahkan dari Sekar Mirah, ilmu Agung Sedayu sudah jauh meningkat. Bahkan beberapa jenis ilmu telah dikuasainya dengan baik.

Tetapi Pandan Wangi tidak mau mengecewakan suaminya. Ia berharap bahwa pada suatu saat suaminya akan dapat mengetahuinya. Bahkan Pandan Wangi agak menyesali Kiai Gringsing yang tidak berterus terang kepada murid-muridnya, meskipun Pandan Wangi mengetahui, bahwa Kiai Gringsing yang hatinya terlalu lembut itu tidak sampai hati melakukannya dengan serta merta sebagaimana hati Agung Sedayu yang tertutup.

Namun bahwa Swandaru telah berniat meningkatkan ilmunya itu, hati Pandan Wangi telah menjadi berkembang dengan harapan-harapan.

Karena Swandaru menunggu hari kelahirannya yang masih akan datang hampir dua pekan lagi, maka ternyata bahwa Agung Sedayu telah mulai lebih dahulu. Setelah ia menyelesaikan samadinya yang dilakukan tiga malam dan kemudian mandi keramas dengan landa merang, maka ia pun telah memulainya dengan menyentuh ilmu cambuknya. Ia tidak langsung memasuki tataran berikutnya.

Tetapi ia mulai dengan tataran yang telah dikuasainya untuk memanaskan darahnya. Ia memang telah menyediakan waktu sepekan untuk memanasi bukan saja darahnya, tetapi niatnya, kemauannya dan tekadnya.

Agung Sedayu tidak melakukan latihan-latihannya didalam sanggarnya yang akan dapat mengganggu ketenangan tetangga-tetangganya jika ia mempergunakan tenaga wadagnya sehingga cambuknya meledak-ledak sebelum ia memasuki tingkat kemampuan yang lebih tinggi. Karena itu, maka hari-hari pertama ia memanasi tubuhnya, maka Agung Sedayu telah memanjat lereng bukit dan mencari tempat dibalik sebuah puncak kecil di pegunungan Menoreh.

Agung Sedayu telah memilih tempat yang tidak pernah dikunjungi orang, dibatasi oleh tebing-tebing yang terjal meskipun tidak terlalu tinggi. Kemudian hutan yang mengelilinginya bagaikan dinding batas sebuah sanggar alam raksasa. Hutan pegunungan.

Dihari-hari pertama Glagah Putih sempat mengikuti dan menunggui latihan-latihan yang dilakukan oleh Agung Sedayu. Sengaja Agung Sedayu membawanya untuk menggelitik perhatian Glagah Putih pada ilmu cambuk dari perguruan Orang Bercambuk. Meskipun Glagah Putih telah memiliki beberapa jenis ilmu yang tinggi, yang sudah dapat diandalkan bahkan sudah melampaui takaran bagi anak-anak muda seumurnya, namun bagi masa depan Agung Sedayu berharap bahwa ilmu cambuknya tidak akan hilang begitu saja.

Dengan penuh perhatian, Glagah Putih melihat, bagaimana Agung Sedayu mulai dengan latihan-latihannya yang berat. Ia mulai dari unsur-unsur gerak pertama dari ilmu cambuknya. Karena itu, maka di balik puncak sebuah bukit kecil di pegunungan Menoreh, diantara tebing-tebing batu padas serta dikelilingi oleh hutan pegunungan, bergema ledakan-ledakan cambuk yang menggetarkan telinga. Beberapa kali suara ledakan itu bagaikan mengguncang batu-batu padas. Namun yang nampak dan yang terdengar itu sebenarnya baru kulit dari ilmu cambuk yang nggegirisi itu.

Ketika Agung Sedayu kemudian meloncat ke tebing bukit dan mengayunkan ujung tombaknya mengenai tebing berbatu padas, maka batu-batu padas itu pun telah berguguran. Kedahsyatan ilmu cambuk Agung Sedayu ternyata membuat Glagah Putih tercengang. Ia memang mengagumi Agung Sedayu. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu lebih dahsyat dari yang diduganya. Pada tataran pertama ilmu cambuknya, kekuatan ledakannya telah mampu memecahkan batu-batu padas.

Setingkat demi setingkat, Agung Sedayu telah memanjat ke tataran ilmu yang lebih tinggi. Semakin lama semakin tinggi, sehingga pada suatu batas tertentu, suara ledakan cambuknya memang mulai susut.

Pada saat-saat yang demikian Agung Sedayu telah menghentikan latihan-latihannya di hari-hari pertama. Ia pun kemudian duduk di atas sebuah batu. Dengan gerakan-gerakan khusus ia telah mengatur pernafasannya sehingga ketika kedua telapak tangannya terkatup didepan dadanya, maka rasa-rasanya tubuhnya telah menjadi segar kembali. Demikian kedua telapak tangannya itu turun dan akhirnya terurai, maka Agung Sedayu pun telah bangkit berdiri dan melangkah mendekati Glagah Putih.

“Luar biasa.”  desis Glagah Putih, “itu baru alas dari ilmu cambuk itu kakang.”

“Kau pun memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kau telah dihempaskan ke tingkat yang lebih tinggi oleh getar kekuatan didalam diri Raden Rangga, sehingga apa yang telah kau kuasai seakan-akan menjadi meningkat pada tataran yang lebih tinggi. Karena itu, jika kau pelajari ilmu cambuk ini, maka pada tataran yang pertama ini, ilmumu tentu sulit untuk dicari bandingnya. Maksudku ilmu cambuk itu.”  berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana dengan ilmuku yang lain? Maksudku hubungannya serta lontaran kekuatan yang saling berkait.”

“Itulah yang harus dipecahkan.”  berkata Agung Sedayu, “tetapi sejak sekarang, didalam dirimu telah tersimpan beberapa jenis ilmu yang bersumber dari perguruan yang berbeda. Dan ternyata semuanya menjadi mapan di dalam dirimu.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti kakang.”

“Sudah tentu segala sesuatunya harus dijalani dengan laku. Dengan merenungi batasan-batasannya, mengasah nalar budi, mencari dan menelurusi kemungkinan-kemungkinan baru lagi. Dengan bekerja keras maka segalanya akan dapat dipecahkan.”  berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia memang berpengharap-an untuk lebih maju lagi. Ia ingin mendapatkan ilmu yang setinggi-tingginya. Meskipun ia sadar, akan keterbatasannya sebagaimana selalu diperingatkan oleh kakaknya, Agung Sedayu. Namun dengan ilmu yang lebih tinggi, maka ia akan dapat memberikan pengabdian yang lebih besar bagi sesamanya. Bukan sebaliknya. Karena selama masih ada nafsu ketamakan, dimana orang-orang yang merasa dirinya lebih kuat, lebih pandai dan menguasai ilmu lebih banyak, menindas, menakut-nakuti dan dengan licik memeras sesamanya yang tidak berdaya, maka perlindungan bagi mereka masih diperlukan.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun berkata, “Namun demikian Glagah Putih, pada suatu saat kita masih harus menghadap Kiai Gringsing. Bagaimanapun juga, kita masih harus berbicara dengan menunggu restunya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa semuanya tidak akan berjalan dengan tergesa-gesa. Agung Sedayu masih memerlukan waktu untuk memasuki tataran tertinggi dari ilmu cambuknya yang diperkirakan akan memerlukan waktu pemusatan perhatian untuk itu sekitar enam bulan. Kemudian tahap pemantapan dan pematangan memerlukan waktu yang sama pula, meskipun tidak lagi akan menyita waktunya dan pemusatan perhatian seperti tengah tahun sebelumnya. Kemudian penyempurnaannya akan berjalan sepanjang waktu yang dengan sadar dimengerti, bahwa kemampuan itu tidak akan sampai pada titik sempurna.

Dalam waktu sepekan, selama Agung Sedayu seakan-akan mengulangi lagi tahap demi tahap tingkat kemampuannya, Glagah Putih telah menyaksikan dengan sungguh-sungguh. Bahkan kemudian ia telah memutuskan, seandainya Kiai Gringsing merestuinya, maka ia benar-benar akan mempelajari ilmu yang merupakan ciri khusus dari perguruan Orang Bercambuk, disamping ciri-ciri yang lain, namun tidak setajam ilmu cambuk itu.

Namun setelah sepekan, maka Agung Sedayu telah berangkat sendiri ke tempat yang jarang didatangi orang itu. Dengan hati-hati ia mulai memasuki laku pewarisan ilmu cambuk pada tataran tertinggi yang dilakukannya di sanggar alam yang luas, dibalik bukit kecil di pegunungan Menoreh, dibatasi oleh lebatnya hutan pegunungan.

Agung Sedayu memang hanya mempergunakan waktu setelah lewat tengah hari sampai matahari terbenam. Tetapi hal itu dilakukannya hampir setiap hari, meskipun kadang-kadang, pada saat-saat tertentu Agung Sedayu tidak pergi ke tempat itu, tetapi ia berada didalam sanggarnya untuk mengadakan latihan-latihan khusus.

Dengan demikian, meskipun Agung Sedayu masih sempat bekerja bagi Tanah Perdikannya, tetapi waktu yang dapat diberikan telah susut cukup banyak. Namun para pemimpin Tanah Perdikan telah mengetahui alasannya, sehingga tidak terjadi salah paham.

Glagah Putih dan Prastawa lah yang mengambil alih sebagian besar dari tugas-tugas Agung Sedayu. Sementara Ki Waskita dan Ki Jayaraga mengamati kerja anak-anak muda itu bersama Ki Gede sendiri. Orang-orang tua itu memang tidak lagi mampu bekerja keras seperti Glagah Putih dan Prastawa disamping anak-anak muda yang lain.

Ternyata Agung Sedayu dan Swandaru telah mulai menekuni ilmunya dalam waktu yang hampir bersamaan, namun dalam tataran yang berbeda. Dengan menghadapi kitab gurunya hampir di setiap hari, Swandaru pun telah menjalani laku yang berat sebagaimana dilakukan oleh Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu tidak harus setiap kali menghadapi kitab gurunya, karena isinya telah terpahat dalam ingatannya, sehingga yang dilakukan memang agak lebih lancar dari yang dilakukan oleh Swandaru.

Namun dalam satu kesempatan Swandaru ternyata telah menghadap gurunya di Jati Anom. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk melihat kemungkinan kemajuan ilmu cambuknya.

Kiai Gringsing memang agak terkejut karena kehadiran Swandaru yang tiba-tiba saja. Namun ketika Swandaru telah menyatakan kepentingannya, maka Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Jadi kau ingin melihat, sejauh manakah kemampuan pada tataran yang kini sedang kau pelajari?”

“Ya Guru.”  jawab Swandaru, “rasa-rasanya aku tidak sabar menunggu sampai aku mencapai tataran yang aku tekuni itu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Bagus. Dengan demikian aku mengerti, bahwa kau benar-benar bertekad untuk menguasainya. Aku sama sekali tidak berkeberatan menunjukkan kepadamu.”

Dengan senang hati Kiai Gringsing telah membawa Swandaru kedalam sanggarnya. Kiai Gringsing memang merasa bangga atas kesungguhan Swandaru, sehingga ia tidak sabar menunggu untuk menyaksikan tingkat kemampuan yang akan dapat dicapainya setelah ia menjalani laku.

“Tetapi aku sudah terlalu tua.”  berkata Kiai Gringsing, “mungkin wadagku telah tidak mampu mendukung sepenuhnya lontaran kekuatan ilmu itu. Tetapi setidak-tidaknya kau dapat membayangkan apa yang dapat kau capai dengan laku yang sedang kau jalani sekarang.”

“Ya Guru.”  jawab Swandaru, “dengan mengetahui lebih banyak tataran yang bakal dapat aku capai, maka niat dan kemauanku akan menjadi semakin tebal didalam dadaku.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan kau akan dapat mencapainya dalam waktu yang singkat.”

Swandaru tidak menjawab lagi. Ia melihat Kiai Gringsing mulai mempersiapkan diri didalam sanggar. Ia telah menyediakan dua bongkah batu padas yang memang ada didalam sanggar itu.

Beberapa saat kemudian maka Kiai Gringsing telah memutar cambuknya dan menempatkan diri pada tataran kemampuannya Swandaru saat itu. Dengan hentakan yang sangat kuat, maka cambuk telah meledak menghantam batu padas yang memang telah disediakan. Satu hentakan sendal pancing telah mampu memecahkan batu padas itu sebagaimana dapat dilakukan oleh Swandaru.

“Kau ada pada tataran ini sekarang Swandaru.”  berkata Kiai Gringsing setelah batu itu pecah.

“Ya Guru.”  jawab Swandaru.

“Sekarang akan aku tunjukkan kepadamu, tataran yang lebih tinggi dari tataranmu sekarang.”  berkata Kiai Gringsing.

Ternyata Kiai Gringsing juga tidak dapat mengatakan, bahwa tataran yang lebih tinggi itu sudah dicapai oleh Agung Sedayu. Namun sesaat kemudian Kiai Gringsing pun telah bersiap. Sekali lagi ia memutar cambuknya dan menempatkan diri pada tataran yang lebih tinggi. Dengan satu hentakan, maka cambuk itu telah pula menghantam sebongkah batu padas.

Dengan segera Swandaru melihat, betapa besar kekuatan dan kemampuan ilmu cambuk pada tataran itu. Meskipun mula-mula Swandaru agak terkejut, karena ia sama sekali tidak lagi mendengar cambuk itu meledak. Bahkan hentakan cambuk itu hampir tidak bersuara. Namun akibatnya ternyata jauh lebih besar dari ledakan cambuk yang memekakkan telinga.

Kiai Gringsing yang telah menghentakkan ilmu cambuknya pada tataran yang sedang ditekuni oleh Swandaru itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya yang tua memang kelihatan menjadi letih. Namun ia masih tersenyum sambil berkata, “Marilah, duduklah.”

Keduanya pun kemudian duduk di sebuah amben kecil di dalam sanggar. Dengan nada lunak Kiai Gringsing bertanya, “Bagaimana pendapatmu Swandaru?”

“Dahsyat sekali Guru. Aku menjadi semakin mantap untuk menjalani laku. Mudah-mudahan aku akan dapat mencapai tataran yang sudah Guru tunjukkan itu.”  jawab Swandaru.

“Kau akan dapat mencapainya jika kau bersungguh-sungguh.”  berkata Kiai Gringsing.

Namun Kiai Gringsing menjadi agak kecewa ketika Swandaru bertanya, “Apakah Guru dapat menunjukkan kepadaku jalan pintas. Jalan yang lebih dekat sampai ke tataran itu, sehingga aku tidak akan mempergunakan waktu terlalu banyak.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia menjawab, “Swandaru. Semakin tinggi tingkat satu ilmu, maka laku yang harus ditempuh pun menjadi semakin berat. Kau dapat saja mencari jalan pintas. Kau dalam ujud kewadagan memang akan dapat melakukan sebagaimana aku lakukan yang terakhir. Tetapi kau akan memaksa diri. Setiap hentakan kekuatan akan dapat mengganggu bagian dalam tubuhmu, sehingga semakin sering kau lakukan, maka keadaan bagian dalam tubuhmu menjadi semakin buruk. Karena itu, yang paling baik kau harus menjalani laku sebagaimana seharusnya. Pada saatnya kau akan dapat sampai ketujuan dengan aman dan sama sekali tidak menyakiti bagian dalam tubuhmu sendiri, apalagi jika keadaannya menjadi parah. Jantungmu akan dapat terbakar sehingga kau akan dapat kehilangan segala-galanya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sambil membungkuk hormat ia berkata, “Ampun Guru. Aku tidak bersungguh-sungguh ingin mengurangi laku yang harus aku jalani. Aku hanya ingin mempercepat, karena rasa-rasanya aku sudah tidak sabar lagi. Maksudku, apa ada laku yang waktunya saja lebih cepat, meskipun laku itu menjadi lebih berat.”

“Sudahlah.”  berkata Kiai Gringsing, “lakukan saja apa yang harus kau lakukan. Itu adalah jalan yang paling aman dan paling baik bagimu.”

Swandaru tidak mempunyai pilihan lain. Sambil mengangguk-angguk ia menjawab, “Ya Guru. Aku akan melakukan yang terbaik.”

“Bagus. Kitab itu tidak disusun dalam satu dua hari. Atau sambil menerawang melihat awan yang lewat di wajah langit. Tetapi kitab itu disusun berdasarkan pengalaman yang panjang serta pengetahuan yang luas. Karena itu, maka sampai saat ini, cara yang tertulis dalam kitab itulah yang terbaik. Bukan berarti bahwa isi kitab itu sebagai satu pernyataan mati. Jika pada suatu saat ditemukan cara yang lebih baik, sudah barang tentu, akan ada kitab yang lebih baik dari kitab yang sekarang ini ada padamu.”  berkata Kiai Gringsing.

Swandaru mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku mengerti Guru.”

“Nah, jika demikian kau tahu pasti, apa yang harus kau lakukan untuk mencapai satu sasaran yang sudah kau ketahui pula.”  berkata Kiai Gringsing.

“Ya Guru. Aku akan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya sehingga dalam waktu yang paling cepat dapat aku lakukan, aku dapat menyerahkan kitab itu kembali kepada kakang Agung Sedayu, agar kakang Agung Sedayu berkesempatan untuk mempelajarinya pula. Tetapi jika kakang Agung Sedayu tetap tidak begitu berminat dan seperti yang Guru katakan belajar terlalu melebar tetapi tanpa ada satu pun yang dikuasainya dengan baik, maka ia akan menjadi semakin ketinggalan.”  berkata Swandaru.

“Jangan cemaskan kakangmu itu. Aku sudah menyerahkannya kepada Ki Waskita dan Ki Jayaraga untuk mencambuknya jika ia masih saja terlalu malas.”  berkata gurunya, “dengan demikian, maka ia akan berbuat lebih banyak dari yang sudah-sudah.”

“Tetapi apa yang dapat dilakukannya? Kitab itu ada padaku sekarang.”  sahut Swandaru.

“Ia sudah memiliki dasar ilmu itu. Ia akan dapat mengembangkannya dan mematangkannya pada satu tataran.”  berkata Kiai Gringsing.

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Guru. Mungkin pada saat-saat lain, jika aku menemui kesukaran dalam menjalani laku, aku akan lari kemari. Mudah-mudahan dengan demikian usahaku akan dapat berjalan lancar.”

“Baiklah Swandaru.”  jawab Kiai Gringsing, “sampai sekarang aku tetap gurumu. Aku tidak akan ingkar akan kewajibanku. Hanya karena aku sudah terlalu tua, maka aku tidak dapat melakukannya seperti saat-saat aku masih lebih banyak menyimpan tenaga kewadagan dari sekarang.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Swandaru pun telah minta diri. Karena jarak antara Jati Anom dan Sangkal Putung tidak terlalu jauh, maka Swandaru memang akan dapat hilir mudik jika ia memerlukannya.

Namun Kiai Gringsing masih juga sempat berpesan, “Tetapi bagaimanapun juga kau tenggelam dalam pendalaman ilmu, namun kau tidak boleh lengah. Persoalan antara Mataram dan Madiun nampaknya menjadi semakin tajam.”

“Ya Guru.”  jawab Swandaru, “para pengawal Kademangan telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Nampaknya kakang Untara pun telah memasuki kademangan-kademangan yang sampai sekarang sulit untuk menapak maju.”

“Aku memang sudah mendengar.”  jawab Kiai Gringsing, “Yang dilakukan Untara itu adalah bayangan dari keadaan yang sesungguhnya yang terjadi di Mataram.”

Swandaru dapat mengerti pesan gurunya. Dan ia pun memang sudah bersiap-siap sepenuhnya jika terjadi sesuatu. Kegiatannya bagi dirinya sendiri diharapkannya tidak mempengaruhi kesiagaan Kademangan Sangkal Putung menghadapi keadaan.

Sejenak kemudian, maka Swandaru telah berderap meninggalkan Jati Anom kembali ke Kademangannya. Sementara di dalam angan-angannya selalu terbayang tingkat kemampuan yang akan dicapainya jika ia selesai menjalani laku.

Dalam pada itu, selagi murid-murid Kiai Gringsing sibuk dengan pendalaman ilmu mereka, maka Kiai Gringsing yang tua itu telah menyempatkan diri mengunjungi Untara, karena ia masih belum dapat berhubungan langsung dengan Panembahan Senapati untuk mengetahui perkembangan keadaan. Ketika pada satu senja Kiai Gringsing berkunjung ke rumah Untara, maka ia mendapat beberapa keterangan tentang sikap Mataram setelah peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.

“Panembahan Senapati menjadi sangat marah atas usaha pembunuhan terhadap Ki Juru Martani. Bahkan lebih marah dari saat kakak iparnya, Tumenggung Mayang akan dibuang ke Semarang oleh ayahanda angkatnya Sultan di Pajang. Apalagi Panembahan Madiun bukan ayah angkatnya, meskipun Panembahan Mas pernah mengatakan, bahwa Panembahan Senapati telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Meskipun rencana itu tidak disusun oleh Panembahan Mas, tetapi dengan membiarkan prajurit Madiun terlibat kedalamnya, maka Panembahan Senapati menganggap bahwa pamanda Panembahan Mas terlibat pula kedalamnya.”  berkata Untara.

“Apakah Panembahan Senapati sudah siap untuk mengambil langkah-langkah?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Semua prajurit sudah diperintahkan untuk bersiaga dalam persiapan tertinggi. Namun belum ada perintah yang jatuh.”  berkata Untara. Lalu katanya, “Bahkan Ki Mandaraka lah yang menghambat gerakan yang siap dilakukan Panembahan Senapati. Menurut Ki Patih, jika Mataram langsung menyerang Madiun, maka korban akan tidak terhitung jumlahnya. Dan itu tidak menguntungkan segala pihak.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ki Mandaraka yang pernah menjadi sasaran pembunuhan itu ternyata masih berpikir bening. Ia masih memperhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi jika perang pecah. Kematian akan tersebar di mana-mana.

“Apa pun alasannya perang memang selamanya bengis.”  berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Tetapi kadang-kadang dipihak yang berselisih mempertahankan sikap masing-masing tanpa ada pendekatan sama sekali. Bahkan pendekatan-pendekatan yang dilakukan dan diusahakan kadang-kadang sama sekali tidak membawa arti apa-apa, karena memang ada orang-orang yang jantungnya dicekam oleh nafsu untuk perang.

Sementara itu menurut Untara, Pajang yang berhadapan langsung dengan Madiun pun telah mempersiapkan diri pula. Beberapa Kadipaten yang lain, yang telah mengakui kekuasaan Mataram pun telah bersiap-siap. Namun sebaliknya, para Adipati sekitar Madiun dan daerah Timur pun telah bersiap-siap dengan pasukannya.

Tetapi Kiai Gringsing yang pernah berkunjung ke Madiun itu memang sulit membayangkan bahwa ia akan melihat perubahan sikap dari kedua belah pihak. Agaknya keduanya berkeras untuk tetap berpijak pada sikap masing-masing.

Dalam keadaan yang demikian, maka baik Mataram maupun Madiun telah menyebar petugas-petugas sandi untuk saling mengamati agar mereka tidak terperosok ke dalam penilaian yang salah atas pihak masing-masing.

Kegagalan pasukan Panembahan Cahya Warastra telah mewarnai sikap Panembahan Madiun yang menjadi sangat berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan.

Sementara itu Untara pun kemudian berkata, “Untuk menghadapi Madiun kita harus menyusun kekuatan yang sangat besar. Tetapi kita tidak akan mungkin mengumpulkan sejumlah orang yang dapat dikumpulkan oleh Madiun. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan tingkat kemampuan setiap orang yang harus ikut dalam pasukan yang kelak harus berhadapan dengan Madiun.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi hubungan yang semakin lama menjadi semakin buram antara Mataram dan Madiun itu telah membuatnya sangat prihatin. Sebagai seorang yang selalu mengenang kebesaran masa lalu, maka Kiai Gringsing memang bermimpi untuk dapat melihat persatuan dan kesatuan dapat terwujud kembali.

Tetapi ketika Kiai Gringsing kemudian kembali ke padepokannya di malam hari dan beristirahat di biliknya, ternyata mimpinya sangat berbeda. Ia justru melihat dua ekor gajah yang sedang berkelahi. Hutan pun menjadi hancur dan binatang-binatang kecil mati terinjak-injak tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Ketika Kiai Gringsing terbangun, maka ia pun telah bangkit dan melangkah keluar. Malam ternyata masih jauh. Namun rasa-rasanya sulit bagi Kiai Gringsing untuk dapat tidur kembali di biliknya.

Ketika ia turun ke halaman dalam dinginnya malam, seorang cantrik yang sedang bertugas berjaga-jaga mendatanginya sambil bertanya, “Kiai belum tidur?”

“Sudah.”  jawab Kiai Gringsing, “bahkan aku sudah terbangun. Kau seorang diri?”

“Tidak Kiai. Ada dua orang kawanku yang bertugas. Mereka berada di regol.”  jawab cantrik itu.

“Baik-baiklah melakukan kewajibanmu.”  pesan Kiai Gringsing.

“Kiai akan kemana?”  bertanya cantrik itu.

“Aku akan melihat air di sawah.”  jawab Kiai Gringsing.

“Sendiri?”  bertanya cantrik itu.

“Ya.”  jawab Kiai Gringsing.

“Marilah. Biar aku ikut bersama Kiai.”  berkata cantrik itu kemudian.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Marilah ikut aku.”

Ketika mereka sampai ke regol, maka cantrik itu telah memberitahukan kepada temannya, bahwa ia akan mengikuti Kiai Gringsing ke sawah sebentar.

“Kita tidak mendapat giliran air pada malam hari Kiai. Saluran yang kita buat itu telah dikhususkan buat kita, sehingga kita tidak kekurangan air. Kita dapat mengairi sawah kita seluruhnya di siang hari.”  berkata salah seorang cantrik yang ada di regol.

“Aku hanya ingin melihat-lihat saja.”  jawab Kiai Gringsing.

Kedua cantrik yang ada di regol itu tidak bertanya lagi. Sementara Kiai Gringsing dan seorang cantrik telah keluar dari regol, turun ke jalan yang menuju ke daerah persawahan bagi padepokan kecil itu. Di sepanjang jalan Kiai Gringsing hamper tidak berbicara apa pun. Dimalam hari, ia merasakan ketenangan yang mendalam. Rasa-rasanya padukuhan-padukuhan yang Nampak dari kejauhan diselimuti oleh kedamaian yang sejuk.

Namun tiba-tiba saja ketenangan itu telah dipecahkan oleh derap kaki kuda. Sekelompok kecil prajurit yang sedang meronda telah berpapasan di jalan kecil. Ternyata pemimpin kelompok prajurit itu sempat bertanya kepada Kiai Gringsing, “kemana malam-malam Kiai?”

“Ke sawah.”  jawab Kiai Gringsing singkat.

Prajurit-prajurit yang sedang meronda itu tidak berhenti. Mereka meneruskan tugas mereka nganglang bukan saja Kademangan Jati Anom, tetapi juga lingkungan di sekitarnya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat dua wajah yang berbeda pada para prajurit yang meronda itu. Kehadiran para prajurit itu telah menghapuskan kesan kedamaian di malam itu. Sikapnya, pedang yang tergantung di lambung, tombak pendek dan senjata-senjata lainnya telah memberikan kesan kekerasan, sementara padukuhan-padukuhan yang nampak tenang dan damai itu telah terkoyak oleh derap kaki-kaki kuda.

Tetapi dari sisi lain, Kiai Gringsing melihat bahwa padukuhan-padukuhan itu akan terlindungi. Orang-orangnya yang gelisah akan menjadi tenang jika mereka mendengar kaki-kaki kuda prajurit Pajang berderap di jalan-jalan padukuhan mereka, karena dengan demikian mereka merasa bahwa tidak akan ada orang lain yang akan berani mengganggu, sehingga mereka akan dapat tidur dengan nyenyak. Para peronda pun akan merasa mempunyai sandaran kekuatan jika mereka memerlukannya.

Demikian pula ia melihat wajah Panembahan Senapati menghadapi Madiun. Namun tidak seorang pun yang akan dapat mengatakan kebenaran mutlak diantara mereka yang berselisih.

Malam itu, Kiai Gringsing dan seorang cantriknya telah melihat-lihat sawah yang terbentang luas. Tanah garapan para cantrik yang mencukupi untuk makan mereka hari demi hari. Di musim panen orang-orang padukuhan datang membantu memetik padi dengan mendapat bawon yang lebih baik daripada jika mereka memetik padi di padukuhan.

“Tidak lama lagi padi akan bunting.”  berkata cantrik itu, “sementara padi di lumbung masih cukup banyak.”

“Apakah padi itu akan tersisa?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Agaknya demikian Kiai.”  jawab cantrik itu.

“Kau dapat membagikan kepada orang-orang yang kekurangan di sekitar padepokan kita. Mungkin orang-orang padukuhan yang tidak mempunyai tanah cukup luas.”  berkata Kiai Gringsing.

“Tanah cukup luas Kiai. Tetapi ternyata ada diantara mereka yang malas dan tidak mau bekerja keras.”  Jawab cantrik itu.

“Itu salahnya sendiri.”  jawab Kiai Gringsing. Namun kemudian katanya, “Tetapi tanah yang sudah terbagi kepada waris tentu akan menjadi semakin sempit. Seorang yang beranak delapan akan membagi tanahnya menjadi delapan bagian.”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Namun ia menjawab, “Ada diantara mereka yang diijinkan oleh Ki Demang untuk membuka hutan.”

“Tetapi luas hutan itu pun terbatas. Tidak semua hutan boleh ditebang. Pada suatu saat, kita harus berhenti menebang hutan dan mensisakannya sesuai dengan kepentingan kita. Terutama hutan-hutan pegunungan.”  berkata Kiai Gringsing.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Sementara mereka berjalan menyusuri jalan bulak menuju ke pategalan yang mulai menjadi rimbun. Para cantrik telah menanam pula pohon buah-buahan di pategalan karena rasa-rasanya halaman dan kebun padepokan mereka telah menjadi terlalu sempit.

Di malam hari, pategalan itu bagaikan sedang tertidur lelap. Daun-daunan menunduk dibasahi embun yang mulai turun.

Di sela-sela pohon buah-buahan terdapat tanaman ketela pohon dan jagung. Di bagian lain telah dicoba ditanami padi gaga yang berasnya berwarna kemerah-merahan.

“Kalian tidak akan kelaparan.”  berkata Kiai Gringsing.

“Ya Kiai. Kita mempunyai banyak kelebihan bahan makanan dan buah-buahan. Bahkan ikan yang kita ternakkan di belumbang pun merupakan penghasilan yang cukup banyak.”  Jawab cantrik itu.

“Untuk apa kelebihan-kelebihan bahan makanan dan buah-buahan itu?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Kita memerlukan pakaian Kiai.”  jawab cantrik itu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia pun bertanya, “Bukankah ada alat tenun di padepokan?”

“Tetapi tidak mencukupi kebutuhan Kiai. Berbeda dengan bahan makan dan buah-buahan. Hasil tenun kita hanya sedikit. Demikian pula hasil pande besi kita. Kita masih harus membeli alat-alat pertanian.”  Jawab cantrik itu, “namun Ki Widura telah berbuat sebaik-baiknya sehingga segalanya sudah dapat dicukupi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mengetahui bahwa Ki Widura telah berhasil memimpin padepokan kecil itu. Bukan saja ketertiban di dalam lingkungan padepokan, tetapi juga lingkaran kebutuhan serta penghasilan dalam keseluruhan di padepokan itu dapat diaturnya dengan baik.

Namun tiba-tiba saja Kiai Gringsing berkata kepada cantriknya, “Sudah agak lama aku tidak melihat sampai dimana kalian mempelajari ilmu dasar dari olah kanuragan.”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Gringsing berkata, “Lakukanlah. Aku ingin melihat kau berlatih.”

Meskipun agak ragu-ragu, namun Kiai Gringsing telah membawa cantrik itu ke tempat yang agak luas. Kemudian diperintahkannya cantrik itu untuk melakukan latihan sebagaimana dilakukan di padepokan.

Sejenak kemudian maka cantrik itu pun telah melakukan latihan-latihan sesuai dengan kemampuan yang ada didalam dirinya. Namun yang terungkap hanyalah pengetahuan dasar dari olah kanuragan secara umum. Masih belum nampak sama sekali ciri-ciri sebuah perguruan yang khusus. Bahkan samar-samar kadang-kadang terbayang unsur gerak justru dari perguruan Ki Widura, karena para cantrik itu lebih banyak ditangani oleh Ki Widura sejak keadaan Kiai Gringsing menjadi semakin menurun.

Tetapi selama ini Kiai Gringsing seakan-akan baru menyadari, bahwa ilmu yang dikuasai para cantrik adalah ilmu yang masih mendasar dan umum sekali.

Karena itu, maka timbul niat di hati Kiai Gringsing untuk meningkatkan kemampuan para cantrik itu. Memang kedudukan para cantrik agak lain dengan kedudukan kedua murid Kiai Gringsing yang memang diharapkan dapat mewarisi ilmunya sejauh dapat dicapai. Namun bagaimanapun juga, para cantrik adalah orang-orang yang akan mampu melanjutkan kehidupan sebuah padepokan. Meskipun Kiai Gringsing tahu, bahwa pada saatnya para cantrik itu akan meninggalkan padepokan apabila mereka merasa cukup mempunyai pengetahuan dan kembali kepada keluarga masing-masing. Tetapi mereka tidak akan melupakan padepokan dimana mereka pernah tinggal dan mempelajari berbagai macam ilmu meskipun tidak sampai tataran yang tinggi. Tetapi di lingkungan keluarga masing-masing mereka akan dapat menjadi pembimbing di bidang pertanian, sedikit tentang obat-obatan, tentang unggah-ungguh dan mudah-mudahan akan dapat menjadi pelindung bukan saja bagi keluarganya, tetapi juga tetangga-tetangganya dan padukuhannya.

Dengan demikian maka kesan terhadap padepokan Orang Bercambuk akan menjadi baik tersebar sejauh dan seluas tebaran para cantrik dari padepokan itu.

Untuk beberapa saat Kiai Gringsing menyaksikan cantrik itu masih saja berloncatan untuk menunjukkan kemampuannya sejauh dapat dilakukannya. Namun kemudian Kiai Gringsing itu pun berkata, “Sudah cukup.”

Gerak cantrik itu pun perlahan-lahan telah menurun. Akhirnya ia berhenti sama sekali. Kedua telapak tangannya menelakup didepan dadanya, kemudian menurun dan terurai.

“Bagus.”  berkata Kiai Gringsing, “secara umum kau sudah menguasai unsur-unsur gerak dasar. Kau akan segera dapat memasuki unsur-unsur gerak dengan ciri-ciri khusus dari padepokan kita. Sehingga dengan demikian, maka kau akan selalu disebut cantrik dari padepokan kecil itu.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk hormat sambil berkata, “Terima kasih Kiai.”

“Marilah. Kau dapat beristirahat sambil berjalan perlahan-lahan kembali ke padepokan.”  Berkata Kiai Gringsing.

“Marilah Kiai.”  desis cantrik itu.

Keduanya pun kemudian telah melangkah menyusuri tanaman di Pategalan. Diantara pohon buah-buahan yang tumbuh dengan suburnya. Disela-sela tanaman jagung yang sudah setinggi tubuh.

Ketika mereka keluar dari pategalan, maka mereka telah mendengar suara pedati di kejauhan. Mereka melihat beberapa obor di sepanjang jalan menuju ke Jati Anom. Lamat-lamat mereka mendengar suara tembang dari orang-orang yang ingin melupakan lelah setelah berjalan agak jauh sambil membawa hasil kebun mereka. Sementara beberapa buah pedati berjalan berurutan. Ada yang membawa gula kelapa, ada yang membawa berbakul-bakul beras, kelapa dan bahkan telur itik dan telur ayam.

“Hampir fajar.”  berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Orang-orang sudah berangkat ke pasar.”  jawab cantrik itu.

Kiai Gringsing dan cantrik itu pun kemudian telah menyusuri pematang, memasuki jalan yang mulai ramai itu. Beberapa orang pedagang memang menjadi curiga melihat kedua orang yang menyusuri pematang, seakan-akan akan memotong jalan mereka. Tetapi ketika kemudian mereka melihat seorang diantaranya adalah orang yang sudah terlalu tua, maka mereka tidak menghiraukannya lagi.

“Mereka bekerja sambil menghibur diri.”  desis Kiai Gringsing.

“Ya.”  jawab cantrik itu, “mereka memang pedagang-pedagang hasil kebun. Tetapi disaat-saat mereka mempunyai waktu, serta ada tetangga mereka yang mempunyai keperluan, mereka adalah penari-penari reog. Bahkan ada yang dapat menari topeng.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia pun tahu, bahwa diantara orang-orang yang berjualan di pasar, bahkan para petani dan pedagang, kadang-kadang mempunyai kegemaran tersendiri. Disaat-saat senggang mereka berlatih untuk menyelenggarakan pertunjukan yang cukup menarik.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing telah berjalan bersama orang-orang yang akan pergi ke pasar, yang berkelompok menempuh perjalanan yang agak panjang melewati bulak-bulak persawahan. Jika mereka berjalan beriringan, maka mereka akan merasa lebih aman, karena orang-orang yang berniat jahat akan menjadi ragu-ragu untuk mengganggu mereka.

Ketika Kiai Gringsing sampai ke regol padepokannya, maka langit telah diwarnai oleh cahaya fajar. Para cantrik yang ada di regol melihat pakaian cantrik yang berjalan di belakang Kiai Gringsing itu basah oleh keringat.

Ketika Kiai Gringsing melintasi regol seorang diantara para cantrik itu bertanya, “Sampai pagi Kiai?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Udara di padepokan terasa sangat nyaman.”

Namun kawannya yang lain bertanya kepada cantrik yang mengikuti Kiai Gringsing, “Bajumu basah kuyup.”

“Aku terperosok kedalam parit.”  jawab cantrik itu.

Kiai Gringsing yang mendengar jawaban itu tertawa. Tetapi ia melangkah terus ke pendapa.

Ketika Kiai Gringsing menjadi agak jauh, maka cantrik itu mulai bercerita kepada kawan-kawannya. Apalagi setelah Kiai Gringsing naik sendirian ke pendapa.

Tetapi cantrik itu berhenti sejenak dan berkata kepada kawan-kawannya, “Aku akan menanyakan kepada Kiai, apakah ia menghendaki sesuatu.”

Cantrik itu pun kemudian berlari menyusul Kiai Gringsing yang sudah duduk dan bertanya, “Apakah Kiai menghendaki sesuatu? Minuman panas barangkali atau apa?”

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Tidak begitu tergesa-gesa. Nanti saja pada saatnya minuman itu dibuat. Aku akan duduk disini saja.”

Cantrik itu kemudian meninggalkan Kiai Gringsing duduk sendiri, sementara ia meneruskan ceriteranya kepada kawan-kawannya bagaimana ia harus menunjukkan dasar-dasar kemampuannya, kemudian janji Kiai Gringsing untuk meningkatkan ilmu mereka.

Sementara itu ternyata Ki Widura pun telah terbangun dan setelah mencuci muka duduk pula bersama Kiai Gringsing di pendapa. Sementara para cantrik pun telah bangun pula. Ada yang menyapu halaman, ada yang mulai menjerang air di dapur dan ada yang mulai menarik senggot untuk menimba air mengisi jambangan pakiwan.

Sejenak kemudian, seorang cantrik telah menghidangkan minuman panas kepada Kiai Gringsing dan Ki Widura yang duduk dipendapa. Sementara itu Kiai Gringsing dan Ki Widura telah mulai berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan di hari mendatang bagi padepokan kecil itu.

“Kesediaan Ki Widura untuk menguasai dasar ilmu dari perguruan Orang Bercambuk sangat aku hargai. Dalam usia Ki Widura yang memasuki hari-hari tuanya, Ki Widura masih berpandangan jauh ke depan bagi padepokan ini.”  berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi ternyata aku sudah sangat lamban.”  berkata Ki Widura, “sampai sekarang, baru beberapa langkah yang dapat aku kuasai. Bahkan aku masih belum dapat memasuki tataran penguasaan ilmu cambuk pada bagian permulaan sekalipun.”

“Tidak.”  jawab Kiai Gringsing, “Ki Widura sudah maju dengan cepat. Hal itu sudah barang tentu akan berlangsung demikian karena Ki Widura sudah memiliki bekal ilmu yang tinggi. Namun justru untuk tetap memilahkan ciri-ciri kedua perguruan itulah yang agaknya sedikit sulit bagi Ki Widura. Namun bahwa keduanya dapat sejalan agaknya sudah merupakan satu pertanda yang sangat baik.”

“Itu karena keterbelakanganku.”  berkata Ki Widura, “di dalam diri Agung Sedayu juga terdapat ilmu dari aliran perguruan Ki Sadewa dan dari aliran Orang Bercambuk. Bahkan lebih dari itu. Ia menguasai ilmu tanpa berguru dan beberapa jenis yang ditangkapnya langsung karena kemampuannya yang sangat tinggi dari alam dan pengenalannya atas kehidupan bahkan kehidupan binatang.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agung Sedayu memang orang luar biasa. Pada umurnya sekarang, aku belum sampai ke tataran itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “tetapi ternyata bukan hanya Agung Sedayu yang memiliki dasar yang luar biasa, agaknya Glagah Putih pun memilikinya pula. Apalagi setelah ia mendapat warisan kelebihan Raden Rangga. Maka Glagah Putih pun ternyata melampaui tataran kebanyakan orang yang menekuni ilmu di perguruan manapun juga. Ternyata dasar yang diletakkan oleh Agung Sedayu dan kemudian ditambah dengan ilmu yang diturunkan oleh Ki Jayaraga serta kesempatannya berhubungan dengan Raden Rangga merupakan kesempatan yang mampu dipergunakan sebaik-baiknya. Namun demikian, jika ia tidak memiliki dasar yang lebih baik dari orang lain, maka ia tidak akan mampu menampung semuanya itu.”

“Ah, ia sekedar anak Bengal.”  desis Ki Widura.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku sudah minta Agung Sedayu untuk secara khusus memberikan warisan ilmu dari perguruan Orang Bercambuk. Dengan demikian maka ilmu ini tidak akan punah. Seperti Ki Widura, dengan landasan yang telah dimilikinya, maka Glagah Putih tentu akan dengan cepat menangkap dan menyatukan segala macam ilmu didalam dirinya jika diperlukan. Namun akan dapat mengurainya kembali, selembar demi selembar sehingga ciri-ciri perguruan masing-masing masih akan nampak.”

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Ia memang ikut merasa berbangga tentang anaknya, bahwa orang yang disebut Orang Bercambuk itu telah mengakui kelebihan anaknya itu.

Sementara itu, Kiai Gringsing pun telah mulai berbicara tentang kemungkinan untuk meningkatkan ilmu para cantrik dalam olah kanuragan. Dengan ciri-ciri dasar perguruan Orang Bercambuk mereka dapat memberi bekal kepada para cantrik yang akan meninggalkan padepokan itu dan kembali kepada keluarganya.

“Mereka akan dapat menjadi pembantu Ki Demang dan Ki Jagabaya di tempat tinggal mereka masing-masing.”  berkata Kiai Gringsing.

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya, “Satu gagasan yang seharusnya sudah kita lakukan Kiai.”

“Ya. Kita memang agak terlambat. Tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”  jawab Kiai Gringsing, “peristiwa di Tanah Perdikan telah mendorong kita untuk melakukannya.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Dalam keadaan yang gawat, kesiagaan memang perlu ditingkatkan.

Dengan demikian maka Kiai Gringsing dan Ki Widura sepakat, bahwa mereka akan meningkatkan kemampuan para cantrik yang tertua dan kemudian berurutan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing serta kedatangan mereka di padepokan itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing telah menyatakan kesediaannya untuk membantu Ki Widura memperdalam ilmunya menurut aliran padepokan Orang Bercambuk itu.

“Meskipun barangkali aku sudah menjadi lemah serta tidak lagi dapat membimbing sepenuhnya.”  berkata Kiai Gringsing, lalu, “Namun yang diperlukan Ki Widura tentu hanya petunjuk-petunjuk.”

“Ya Kiai.”  jawab Ki Widura, “yang penting bahwa Kiai dapat meluruskan jika aku melakukan kesalahan. Aba-aba serta watak dari unsur-unsur gerak yang aku pelajari sehingga aku akan dapat mengenalinya bukan saja wajahnya, tetapi ke kedalaman serta makna gerak itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan membantu sejauh dapat aku lakukan, karena tugas itu sebenarnya adalah tugasku atau murid-muridku. Sebenarnya Ki Widura lah yang membantu aku dalam hal ini. Dan bantuan Ki Widura cukup banyak bagi padepokan ini.”

Dengan demikian maka padepokan kecil itu rasa-rasanya menjadi semakin hidup. Para cantrik yang tertua, yang sebelumnya dinyatakan telah cukup mempunyai pengetahuan dasar olah kanuragan sehingga mereka tinggal melakukan latihan-latihan untuk mengembangkannya, sesuai dengan bekal yang ada, kemudian akan mendapat tuntunan yang lebih dalam lagi tentang olah kanuragan. Mereka akan mulai diperkenalkan dengan ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk.

Pada kesempatan pertama, tujuh orang cantrik diperkenankan mengikuti latihan-latihan lebih lanjut serta mulai memasuki ciri perguruan dari padepokan kecil itu. Tetapi ciri yang pertama-tama diberikan adalah unsur-unsur gerak dasar. Mereka sama sekali masih belum memasuki ciri yang paling tajam, yaitu ilmu cambuk, karena agaknya khususnya ilmu cambuk adalah ciri ilmu yang menjadi sesengkeran dari padepokan itu. Menjadi semacam pengetahuan yang dikhususkan, sehingga tidak semua orang dapat mengenalinya apalagi sampai ke intinya, meskipun bagi para cantrik padepokan itu. Dengan demikian, pada saatnya ketujuh orang cantrik itu akan memiliki ilmu kanuragan melampaui para pengawal dan bahkan para prajurit dalam kemampuan pribadinya.

Sementara di padepokan, para cantrik meningkatkan ilmunya dengan bersungguh-sungguh, maka di Sangkal Putung dan di Tanah Perdikan Menoreh, kedua murid pilihan Kiai Gringsing juga telah menempa diri dalam latihan-latihan yang berat serta menjalani laku yang rumit. Bukan saja kemudian dari segi kewadagan, tetapi juga dari segi kejiwaan. Apalagi bagi Swandaru yang sebelumnya tidak begitu tertarik untuk mendalami dan mengenali sifat-sifat yang lebih dalam dari ilmu cambuknya.

Namun untuk tingkat berikutnya, maka ia harus mulai melakukannya. Karena itu, maka yang dilakukan tidak selancar yang dilakukan oleh Agung Sedayu. Apalagi Agung Sedayu tidak perlu lagi menghadapi kitab yang diberikan oleh gurunya. karena isinya sudah terpahat di dinding ingatannya. Sehingga dengan demikian Agung Sedayu dapat langsung menjalani laku.

Bahkan beberapa kali Swandaru gagal melakukan samadi dalam menjalani laku, sehingga ia setiap kali harus mengulanginya. Ia tidak begitu mudah memusatkan nalar budinya, untuk melihat kedalaman dari unsur-unsur gerak itu sesuai dengan petunjuk yang termuat dalam kitab dari gurunya. Dalam pemusatan nalar budi ia harus melihat setiap gerak yang dilakukan sesuai dengan petunjuk dan latihan-latihan yang tidak dilakukan secara wadag. Mengenalinya dengan baik, mengerti watak dan sifatnya serta menyadari maknanya.

Namun setiap kali, Pandan Wangi selain mendorongnya. Bahkan Swandaru kadang-kadang merasa heran, bahwa Pandan Wangi justru mampu memberikan petunjuk kepadanya.

“Selama ini perhatianmu memancar keluar kakang. Kau perhatikan Kademangan ini, kau perhatikan aku dan kau perhatikan Ki Demang serta seisi Kademangan. Kau melihat dunia dari dalam dirimu dan mencakupnya serta mencernanya dengan sepenuh penalaran dan perasaanmu. Kau jadikan kademangan Sangkal Putung menjadi sebuah Kademangan yang jauh lebih baik dari Kademangan yang lain. Namun dengan demikian kau tidak pernah sempat melihat kedalam dirimu sendiri.”  berkata Pandan Wangi.

“Apakah itu salah?”  bertanya Swandaru.

 “Tidak. Sama sekali tidak kakang.”  jawab Pandan Wangi, “justru kau adalah orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Kau adalah gambaran dari seorang pemimpin betapa kecilnya, yang sangat memperhatikan tugas dan kewajibanmu. Namun jika kakang tidak berkeberatan, aku ingin mengatakan bahwa perhatian kakang terutama ditujukan bagi unsur kewadagan. Bukannya hal itu bagi kehidupan di Kademangan ini. Cukup sandang, cukup pangan. Namun kemudian juga unsur jiwani dari kehidupan. Pengetahuan dan peradaban. Lebih dari itu adalah hubungan antara kita, sesama, alam dan Yang Maha Pencipta.”

“Jadi bagaimana dengan pendalaman ilmuku?”  bertanya Swandaru.

“Kakang harus mulai memusatkan perhatian kakang bagi diri sendiri. Setidak-tidaknya untuk sementara, karena yang bagi diri sendiri itu pada hakekatnya adalah meningkatkan kemampuan pengabdian kakang bagi Kademangan ini dimasa mendatang.”  jawab Pandan Wangi, lalu, “Karena itu kakang harus dapat memusatkan perhatian kakang sekarang ini agar kakang berhasil mencapai tataran berikutnya dari ilmu yang selama ini menopang pengabdian kakang bagi kampung halaman ini. Dengan demikian maka kakang tidak akan mudah kehilangan pemusatan nalar budi dalam samadi yang kakang lakukan dalam rangkaian menjalani laku. Karena kakang telah dapat membersihkan diri dari persoalan-persoalan lain yang akan dapat memecahkan perhatian kakang.”

Swandaru mengangguk-angguk. Bagi Swandaru, Pandan Wangi memang seorang yang mampu memberikan beberapa pemecahan persoalan dalam dirinya bahkan persoalan-persoalan yang timbul bagi Kademangannya. Sikapnya yang lembut dan pengamatan persoalan sampai ke bagian-bagian terkecil memang kadang-kadang dapat meyakinkannya untuk menentukan satu sikap, meskipun kadang-kadang Swandaru kurang memperhatikannya karena sifatnya yang keras dan kadang-kadang terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan atas satu persoalan. Jika kesimpulan yang diambil dengan tergesa-gesa itu salah, maka langkah yang diambilnya pun salah pula.

Beberapa kali pendapat Pandan Wangi sama sekali tidak dihiraukan. Tetapi sebagai seorang isteri, Pandan Wangi tidak menjadi patah dan acuh terhadap suaminya. Ia selain memperhatikannya, memberikan pendapatnya didengar atau tidak didengar dengan alasan-alasan yang masuk akal.

Dengan demikian, maka Swandaru telah berusaha untuk mengkesampingkan semua persoalan selain peningkatan ilmunya. Pandan Wangi memang mampu mengambil alih beberapa hal tentang tugasnya. Namun karena ia sedang mengandung, maka ia sangat dibatasi oleh keadaannya itu.

Tetapi ternyata Ki Demang yang semakin tua itu pun telah ikut berusaha untuk mendorong anaknya mencapai satu tataran ilmu yang lebih tinggi, karena dengan demikian maka ilmu akan sangat berarti bukan saja bagi Swandaru sendiri. Karena itu, maka Ki Demang yang sudah menjadi semakin banyak mempercayakan tugas-tugasnya kepada Swandaru. telah turun lagi ke dalam tugas-tugasnya sebagai Demang.

“Hanya sebentar.”  berkata Ki Demang kepada Ki Jagabaya, “tidak lebih dari satu tahun. Namun selama ini, kitalah yang harus bekerja keras bersama anak-anak muda.”

Ki Jagabaya tertawa. Katanya, “Sebenarnya aku pun masih ingin disebut orang muda.”

Ki Demang pun tertawa pula. Katanya, “Bagaimana kau sembunyikan rambutmu yang memutih itu?”

Ki Jagabaya yang tertawa itu tidak dapat menjawab.

Demikianlah, perlahan-lahan, dengan dorongan dari Pandan Wangi, maka Swandaru berhasil memasuki masa penempaan dirinya semakin dalam dan memanfaatkan waktu semakin baik. Ia mulai tekun dengan laku jiwani yang harus dijalani.

Dari hari ke hari, Pandan Wangi melihat kemajuan yang dicapai oleh Swandaru. Memang agak berbeda dengan Agung Sedayu, maka Swandaru lebih banyak berlatih di dalam sanggar tertutupnya. Sementara itu ia tidak pernah merasa berkeberatan jika Pandan Wangi sekali-sekali menyaksikannya.

“Tetapi kau harus menjaga diri, bahwa kehadiranmu di sanggar tidak akan mengganggu kandunganmu.”  pesan Swandaru.

“Tidak kakang.”  jawab Pandan Wangi, “aku tidak akan melibatkan diri dengan cara apa pun juga, sehingga karena itu, maka aku tidak akan terpengaruh sama sekali.”

Swandaru sendiri memang merasa lebih mantap jika Pandan Wangi sempat menyaksikan kemajuan latihan-latihannya. Setapak demi setapak memasuki dan meniti tataran yang lebih tinggi dari yang sudah dikuasainya.

Namun demikian kadang-kadang Swandaru juga mengambil tempat yang lain, yang tidak dibatasi dinding-dinding yang terasa sempit. Dalam saat-saat tertentu. Swandaru juga berada di tempat terbuka, sehingga ia dapat bergerak leluasa. Latihan-latihan yang keras dan menguji kemampuan pada tataran tertentu.

Di Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu memang lebih banyak berada di lereng bukit di belakang sebuah puncak kecil yang dibatasi oleh hutan yang lebat. Ia tidak saja berlatih untuk mencapai tataran ilmu yang lebih tinggi. Tetapi sekaligus Agung Sedayu telah membentuk tubuhnya dan meningkatkan daya tahannya. Ia tidak saja berlatih dengan wadagnya yang bebas, tetapi ia telah memberikan beban pada tangan dan kakinya, di saat-saat ia sedang melepaskan cambuknya. Sekaligus Agung Sedayu sempat meningkatkan kemampuannya meringankan tubuh serta kelengkapan-kelengkapan ilmunya yang lain.

Dengan dukungan berbagai macam ilmu yang sempat dilebur di dalam dirinya, maka usahanya untuk meningkatkan tataran ilmu cambuknya rasa-rasanya menjadi semakin cepat dapat dilakukan.

Agung Sedayu tidak saja berpegang pada tuntunan kitab Kiai Gringsing, namun sekaligus ia telah memadukan beberapa unsur yang sejalan. Ia yakin bahwa Kiai Gringsing tidak akan berkeberatan sama sekali, asal ia mampu mengurai ilmunya itu di saat yang diperlukan.

Namun akibatnya pun ternyata sangat mengagumkan. Pada tahap pertama dari usahanya meningkatkan tataran ilmunya, Agung Sedayu telah mencapai satu kemajuan yang sangat pesat. Meskipun ia belum mencapai tataran sebagaimana telah ditunjukkan oleh gurunya, namun waktu yang diperlukan untuk mencapai tahap demi tahap terhitung lebih cepat dari yang direncanakan. Bahkan bukan saja ilmu cambuknya yang menjadi semakin meningkat, tetapi juga beberapa jenis ilmu dan kemampuannya yang lain pun telah meningkat pula, seakan-akan dengan sendirinya.

Demikianlah, kedua murid Kiai Gringsing telah menempa diri dengan mengerahkan segenap kekuatan, kemampuan dan bahkan waktu mereka. Sementara itu, di padepokan, para cantrik pun telah berlatih pula untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Dalam pada itu, hubungan antara Mataram dan Madiun memang menjadi semakin keruh. Para petugas sandi dari kedua belah pihak telah melihat kesiagaan yang tertinggi di kedua- belah pihak.

Tetapi Panembahan Senapati dan Panembahan Madiun masih saja berusaha menahan diri. Mereka masih mengharap untuk dapat menemukan satu keajaiban sehingga mereka tidak perlu berperang.

Namun di kedua belah pihak ternyata memang terdapat orang-orang yang agaknya terlalu bernafsu membasuh tangan dan kakinya dengan darah. Orang-orang itu telah membakar kebencian diantara para pemimpin, para perwira dan para prajurit di kedua belah pihak.

Karena itulah maka di Madiun telah berkumpul beberapa orang Adipati dan pemimpin dari berbagai daerah dan padepokan yang berada di bawah pengaruh Adipati Madiun di Madiun. Mereka telah menyiapkan prajurit dalam jumlah yang besar, yang tidak akan mungkin diimbangi dengan jumlah yang sama oleh Mataram.

Tetapi beberapa orang Adipati yang telah mengakui Mataram sebagai pusat pemerintahan telah bersiap pula. Mereka tinggal menunggu perintah, kapan mereka harus bergerak dan menyerang ke Timur. Menyerang daerah yang mereka anggap ingin memisahkan diri dari kesatuan pemerintahan Mataram.

Sementara itu Ki Patih Mandaraka pun telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencegah agar Panembahan Senapati tidak dengan serta merta menyerang Madiun. Jika hal itu dilakukannya, maka kedua belah pihak tentu akan hancur. Korban akan jatuh tanpa hitungan dari kedua belah pihak.

Ki Patih Mandaraka masih berpendapat, bahwa Madiun pun tidak akan menyerang dalam waktu dekat. Para petugas sandi memang melihat kesiagaan tertinggi di Madiun. Pasukan dari beberapa daerah telah terkumpul. Namun nampaknya mereka mempersiapkan diri untuk bertahan. Mereka belum nampak bersiap-siap untuk menyerang ke Barat. Sementara itu, Pajang pun akan dapat menjadi penghalang jika Madiun bergerak ke Mataram, meskipun Pajang tidak akan dapat menahan banjir bandang itu. Tetapi setidak-tidaknya menghambat derasnya arus sementara Mataram akan datang membantu.

Tetapi ketika Mataram mengirimkan seorang Tumenggung ke Madiun untuk mencari kemungkinan agar Panembahan Madiun dapat bertemu dengan Panembahan Senapati, maka Panembahan Senapati justru semakin yakin, bahwa perang antara Mataram dan Madiun tidak akan dapat dihindarkan lagi.

Karena itu, maka Mataram tidak mau kehilangan kesempatan. Seperti yang dilakukan oleh Madiun, maka Mataram pun telah bersiap sepenuhnya. Bukan saja sekedar untuk bertahan, tetapi Mataram siap untuk menyerang.

Atas pendapat Ki Patih Mandaraka, maka Mataram tidak sebaiknya langsung menyerang tanpa hadirnya kekuatan yang dapat mendukungnya. Bukan saja dari Pajang dan daerah di sekitar Mataram, tetapi Ki Patih Mandaraka akan berhubungan dengan kekuatan di belakang Gunung Kendeng. Kekuatan dari pesisir Utara yang tentu akan bersedia membantu Mataram, disamping sudah barang tentu Pajang dan Grobogan.

“Kita tidak akan dapat menghadapi Panembahan Madiun yang didukung oleh beberapa orang Adipati di daerah Timur.”  berkata Ki Mandaraka, “sebagaimana diberitahukan oleh para petugas sandi, bahwa pasukan masih saja mengalir ke Madiun. Mereka adalah orang-orang yang merasa perlu untuk mencegah kehadiran Mataram di daerah Timur yang ingin melepaskan diri dari ikatan persatuan dengan Mataram. Perang memang akan menjadi besar, dan kekejaman pun akan menjadi semakin memuncak. Kematian dan penderitaan. Tetapi sudah barang tentu bahwa kita tidak akan membiarkan orang-orang Mataram yang jumlah terlalu sedikit akan ditumpas habis di Madiun.”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Perang antara Pajang dan Mataram telah membuatnya bersedih. Tetapi ia tidak mampu menghindari perang antara Mataram dan Madiun, yang sudah barang tentu tidak dikehendaki pula oleh Panembahan Madiun. Namun meskipun kedua belah pihak tidak menghendaki perang, namun perang itu bakal terjadi.

Namun Panembahan Senapati tidak menolak. Ki Patih Mandaraka akan mempersiapkan beberapa orang utusan untuk menyeberang perbukitan menuju ke pesisir Utara, untuk melibatkan mereka sekali lagi dalam peperangan bersama Mataram.

Kesiagaan Mataram memang telah didengar oleh para pemimpin di sekitar Mataram sendiri. Untara telah menyampaikannya pula kepada Kiai Gringsing persiapan-persiapan terakhir dari para prajurit Mataram.

“Nampaknya waktunya sudah tidak lama lagi. Kita tinggal menunggu para utusan yang dikirim ke pesisir utara itu kembali.”  Berkata Untara ketika ia mengunjungi Kiai Gringsing yang menjadi semakin lemah di padepokannya.

“Menyedihkan sekali.”  desis Kiai Gringsing.

“Apaboleh buat.”  berkata Untara, “sudah cukup banyak usaha dilakukan untuk meredakan kemelut yang terjadi. Tetapi nampaknya perang memang harus terjadi. Dengan demikian maka akan terdapat satu kepastian, siapakah yang akan memerintah tanah ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia sudah tidak dapat berbuat terlalu banyak. Kecuali ia sudah menjadi semakin tua, agaknya persoalannya memang sudah menjadi semakin matang seperti bisul yang siap untuk pecah.

Namun dalam pada itu, telah terbersit niatnya untuk memanggil kedua muridnya. Ia ingin bertemu dengan mereka sebelum ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Sementara itu, bulan demi bulan telah berlalu sehingga ia berharap bahwa ia sudah dapat melihat hasil dari usaha kedua orang muridnya itu, sebelum pecah perang antara Mataram dan Madiun. Karena Kiai Gringsing pun yakin bahwa Mataram dan Madiun yang tidak akan dapat dilerai itu akan menyeret kedua muridnya pula. Baik Agung Sedayu maupun Swandaru meskipun keduanya akan hadir dengan pasukan yang berbeda. Tetapi Kiai Gringsing masih memikirkan satu cara yang paling baik untuk melihat kemampuan murid-muridnya itu.

Kepada Untara Kiai Gringsing minta, agar ia selalu diberi tahu setiap perkembangan yang terjadi.

“Aku berkepentingan sekali.”  berkata Kiai Gringsing.

“Aku mengerti Kiai.”  jawab Untara.

“Juga pamanmu, Ki Widura.”  Kiai Gringsing menambahkan.

“Ya. Glagah Putih pun tentu akan terlibat disamping Agung Sedayu dan Swandaru.”  sahut Untara.

“Disaat para utusan itu datang, maka segalanya tentu akan segera dimulai.”  berkata Kiai Gringsing.

“Nampaknya memang begitu Kiai.”  jawab Untara.

“Baiklah ngger. Aku selalu menunggu. Aku yang sudah menjadi semakin tua, tidak akan berarti apa-apa lagi. Mudah-mudahan murid-muridku akan dapat mewakili aku.”  berkata Kiai Gringsing.

“Apa yang Kiai lakukan telah cukup. Aku pun yakin bahwa Agung Sedayu dan Swandaru akan dapat mewakili Kiai dalam persoalan yang besar ini.”  berkata Untara kemudian.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “mudah-mudahan mereka dapat memenuhi keinginan sebagai seorang guru. Mereka dapat melanjutkan gagasan dan cita-citaku untuk mengabdikan ilmu ini kepada sesama.”

“Apakah Kiai ragu-ragu terhadap kedua orang murid Kiai itu?”  berkata Untara.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kepada orang diluar perguruannya ia berkata, “Tidak. Aku tidak ragu-ragu.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya dengan mantap, “Ya. Aku pun tidak ragu-ragu. Agung Sedayu akan sangat patuh kepada Kiai. Ia adalah orang yang berusaha membatasi dirinya dengan ketat, sehingga justru karena itu, ia seakan-akan tidak dapat bertindak sendiri. Ia perlu pertimbangan orang lain untuk mengambil keputusan.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Dibalik jawaban Untara itu memang terasa bahwa Senapati besar Mataram itu masih saja merasa kecewa terhadap adiknya.

Dengan hati-hati Kiai Gringsing menjawab, “Telah terjadi perkembangan dalam jiwanya ngger. Kita tentu ingat, bahwa Agung Sedayu sejak remajanya adalah seorang yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri. Ia memiliki kemampuan dasar pada dirinya. Ia adalah seorang yang memiliki kemampuan bidik tidak ada duanya diantara orang-orang yang pernah aku kenal. Namun ia merasa dirinya sangat kecil. Ia cepat merasa ketakutan menghadapi sesuatu. Ia bukan seorang pengecut. Karena seorang pengecut kadang-kadang memiliki keberanian yang sangat tinggi dalam kelicikannya. Tetapi ia adalah seorang penakut. Ia tidak berani menempuh jarak dari Jati Anom ke Sangkal Putung hanya karena orang-orang mengatakan bahwa ada gendruwo bermata satu di pohon randu alas. Betapa pula takutnya Agung Sedayu terhadap Sidanti.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kiai Gringsing berkata selanjutnya, “Tetapi sekarang ia sudah tidak lagi dalam keadaan yang demikian. Ia seorang yang berilmu tinggi, mempunyai kepercayaan yang tebal terhadap diri sendiri. Namun dengan penuh kesadaran akan kekecilannya dihadapan Yang Maha Agung.”

Untara mengangguk-angguk sambil menjawab, “Aku mengerti Kiai. Sebagai saudara tuanya aku mengucapkan terima kasih kepada Kiai yang berhasil membangkitkan harga dirinya serta kepercayaan kepada diri sendiri. Tetapi sisa-sisa kekerdilan jiwanya masih saja mencekam jiwanya. Apa artinya ilmu yang tinggi itu bagi dirinya. Ia telah terbelenggu oleh perasaannya seakan-akan pengabdian yang diberikannya kepada Tanah Perdikan itu sudah cukup. Sudah beberapa kali aku minta ia memperluas cakrawala pandangan hidupnya. Jika ia berbicara tentang pengabdian, bukankah ia dapat memberikan pengabdiannya di kalangan yang lebih luas dari Tanah Perdikan itu?”

“Maksud angger?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Ia dapat menjadi seorang prajurit yang baik. Jika ia tidak ingin menjadi seorang prajurit, karena kesannya yang sudah terlanjur terpahat di hatinya bahwa prajurit harus hanya patuh saja tanpa mempunyai wewenang untuk menentukan sikap atas dasar keyakinannya sendiri, maka ia dapat mengabdikan dirinya di Mataram tanpa menjadi seorang prajurit. Biarlah aku saja yang tetap dalam kedudukanku sekarang sebagai seorang prajurit karena aku tidak beranggapan sebagaimana Agung Sedayu.”  berkata Untara dengan nada yang berat.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Aku mengerti jalan pikiran angger.”

“Bukankah tumbuh-tumbuhan saja selalu ingin tumbuh semakin tinggi, Kiai? Jika terubusnya terhalang, maka batang itu akan berbelok menyamping untuk kemudian tumbuh tegak lagi seakan-akan berusaha menggapai langit, “berkata Untara. Lalu katanya kemudian, “Nah, apa yang ingin dicapainya dengan mengabdikan diri bagi Tanah Perdikan Menoreh? Apakah ia memang tidak mempunyai cita-cita sama sekali, sehingga ia tidak ingin mengisi hidupnya dengan arti yang lebih besar?”

“Angger benar. Tetapi pengabdiannya di Tanah Perdikan bukannya tidak berarti. Tanah Perdikan memang menjadi lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya, sebagaimana Kademangan Sangkal Putung.”  jawab Kiai Gringsing.

“Dan Kiai sudah cukup berbangga dengan itu? Mungkin Kiai sendiri pernah mengalami kekecewaan yang sangat besar atas perkembangan Demak, sehingga Kiai seakan-akan telah mengasingkan diri. Tetapi tentu Kiai tidak akan menganjurkan murid-murid Kiai juga memagari diri sehingga seakan-akan hidup dalam keterasingan. Maksudku, mengorbankan dirinya untuk tidak tumbuh dalam kalangan yang lebih luas dari satu lingkaran kecil yang dibuatnya sendiri.”  berkata, Untara.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menyalahkan Untara. Sebagai seorang kakak maka ia ingin melihat adiknya tumbuh dan mekar di taman yang lebih luas dari sebuah sudut kecil dari seluruh Tanah Mataram ini.

Karena itu, dengan hati berat ia berkata, “Angger Untara. Sebenarnya aku sependapat dengan angger. Tetapi Tanah Perdikan Menoreh nampaknya telah mengikat Agung Sedayu sehingga seakan-akan ia telah menyatu.”

“Agung Sedayu harus menyadari, bahwa ia tidak akan mendapat apa pun di Tanah Perdikan itu. Seperti yang pernah aku katakan kepada Kiai dan juga kepada Agung Sedayu sendiri, bahwa anak Ki Gede Menoreh adalah Pandan Wangi. Karena Pandan Wangi seorang perempuan, maka yang akan memangku jabatan ayahnya kelak adalah menantunya, Swandaru. Tetapi Swandaru terikat pada kedudukannya sebagai anak Demang di Sangkal Putung, sehingga ia mewakilkan kepada adiknya, Sekar Mirah. Dan Agung Sedayu adalah suami Sekar Mirah itu. Disamping itu, di Tanah Perdikan ada Ki Argajaya, adik Ki Gede yang mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Prastawa. Katakan, bahwa Ki Argajaya telah pernah bersalah karena memberontak terhadap kakaknya. Namun Argajaya dapat menyebut anaknya laki-laki itu.”  berkata Untara.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sementara Untara berkata, “Kiai. Sebenarnyalah aku ingin minta tolong kepada Kiai. Mungkin Kiai dapat merubah jalan pikiran Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing menarik napas panjang. Ia mengerti sepenuhnya landasan berpikir Untara dan menurut penalaran, seharusnya memang demikian, bahwa seseorang akan menggapai pegangan yang lebih tinggi dalam memanjat cita-cita. Namun hubungan antara Agung Sedayu dan Tanah Perdikan rasa-rasanya agak berbeda. Namun Kiai Gringsing pun mengakui, bahwa Agung Sedayu tidak memiliki kesempatan pertama untuk meniti ke jabatan tertinggi di Tanah Perdikan itu, meskipun ia telah memberi paling banyak.

 “Angger Untara.”  berkata Kiai Gringsing kemudian, “Aku tidak dapat menjanjikan apa-apa. Tetapi aku akan mencobanya.”

“Terima kasih, Kiai. Mudah-mudahan Agung Sedayu berubah. Sebenarnya ada unsur kemalasan didalam sikapnya itu. Ia segan menempuh satu perjuangan tersendiri bagi masa depannya. Atau barangkali satu sikap untuk menyatakan bahwa dirinya bukan orang yang sekedar mementingkan diri sendiri. Namun dalam hal ini Agung Sedayu dapat menempuh kedua-duanya bersama-sama. Berjuang dalam pengabdian sekaligus berusaha menempatkan diri untuk melakukan pengabdian yang lebih luas.”  berkata Untara dengan agak ragu.

Namun kemudian ia pun berkata selanjutnya.” Terus terang Kiai. Aku tidak dapat melihat masa depan Agung Sedayu jika ia tetap berada di Tanah Perdikan. Mungkin Agung Sedayu puas dengan sekedar makan tiga kali, pakaian beberapa lembar dan kebanggaan atas hasil pengabdiannya. Tetapi jika kemudian ia mempunyai anak, apakah ia membiarkan anaknya tidak lebih dari anak-anak tetangga-tetangganya yang hanya mengenal lereng-lereng pegunungan dan barangkali tepian Kali Praga. Anak yang juga tidak mempunyai masa depan seperti ayahnya itu?”

“Aku akan berbicara dengan Agung Sedayu, ngger.”  berkata Kiai Gringsing, “namun saat ini, Agung Sedayu sedang menjalani laku. Beberapa bulan masih harus dilalui. Namun bukan berarti bahwa aku tidak dapat berbicara dengan anak itu.”

“Kiai tidak boleh menunda-nunda lagi.”  berkata Untara, “nampaknya persoalan Mataram dan Madiun akan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan ini. Pasukan dari seberang Gunung Kendeng akan segera datang dan Mataram pun akan berangkat menuju ke Madiun.”

“Atau Madiun justru sudah berada di pintu gerbang Mataram.”  sahut Kiai Gringsing.

“Tidak Kiai. Menurut para petugas sandi. Madiun baru mengumpulkan prajurit dari beberapa Kadipaten di daerah timur. Tentu juga memerlukan waktu. Apalagi menurut para petugas sandi tidak ada tanda-tanda persiapan untuk menyerang.”  berkata Untara.

“Mataram tentu juga merahasiakan persiapan penyerangan seandainya itu akan dilakukan oleh Panembahan Senapati.”  berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi petugas sandi kita di Madiun nampaknya cukup baik. Disini kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memasang perisai bagi para petugas sandi dari Madiun. Kita sudah dapat menangkap empat atau lima orang. Kemudian menemukan beberapa sarangnya dan perlengkapannya. Hal itu tidak pernah terjadi atas petugas-petugas sandi kita di Madiun.”  berkata Untara.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia memang memperhitungkan waktu sebagaimana dikatakan oleh Untara, karena mengumpulkan pasukan dan kemudian mempersiapkan-nya memang diperlukan waktu.

Namun Untara ternyata telah mengakhiri pembicaraannya. Dengan nada datar ia berkata, “Baiklah Kiai. Aku mohon diri. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan Kiai berbicara dengan Agung Sedayu tentang hari depannya. Aku sendiri rasa-rasanya sudah kehabisan akal. Aku tidak dapat mengerti jalan pikirannya. Mungkin langkah kita memang berbeda. Tetapi aku kira aku berpikir sebagaimana kebanyakan orang berpikir. Aku berpijak pada pendirian yang sangat umum.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ya ngger. Aku akan berusaha.”

“Jika perlu, Kiai dapat memanggil aku setiap saat. Bukan saja nampaknya Kiai Gringsing sudah menjadi semakin lemah, tetapi juga jika terjadi sesuatu atas padepokan ini, Kecuali kepentingan padepokan ini, jika Kiai memerlukan tenaga kami, maka kami akan membantu. Misalnya Kiai memerlukan dua tiga orang prajurit untuk memanggil Agung Sedayu atau Swandaru. Atau kepentingan-kepentingan yang lain yang sulit dilakukan oleh para cantrik yang ada di padepokan ini.”  berkata Untara.

“Terima kasih ngger. Aku akan selalu berhubungan dengan angger dalam setiap keadaan.”  jawab Kiai Gringsing.

“Di padukuhan sebelah aku telah memasang gardu bagi para prajurit.”  berkata Untara.

“Ya. Beberapa orang diantara mereka sering berkunjung ke padepokan ini sekedar untuk berbincang-bincang.”  berkata Kiai Gringsing.

“Syukurlah.”  jawab Untara, “dalam keadaan seperti sekarang, Kiai tidak perlu segan-segan jika Kiai memerlukan kami, para prajurit.”

Demikianlah, maka Untara pun telah minta diri. Sementara Kiai Gringsing masih harus merenungi keadaannya. Ternyata bahwa Agung Sedayu memerlukan perhatian khusus atas permintaan kakaknya yang mencemaskan masa depannya. Bahkan Kiai Gringsing pun kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Agung Sedayu akan dapat mengabdikan ilmunya bagi kepentingan yang lebih luas?”

Sementara itu persiapan pun telah berjalan terus di kedua belah pihak. Sebelum pasukan dari seberang Gunung Kendeng datang, maka Panembahan Senapati telah memerintahkan Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Singasari untuk bersiap-siap. Mereka adalah adik Panembahan Senapati yang terpercaya di medan perang.

Namun, nampaknya Pangeran Mangkubumi memiliki sifat yang lebih tenang dari Pangeran Singasari yang garang.

Disamping keduanya, Panembahan Senapati sangat menunggu kedatangan Adipati Pati. Putera dari Ki Panjawi, seorang yang bijaksana sebagaimana ayahanda Panembahan Senapati itu sendiri. Ki Panjawi adalah saudara seperguruan Ki Gede Pemanahan. Berdua mereka dibawah petunjuk-petunjuk Ki Juru Mertani mengatur siasat perang untuk mengalahkan Arya Penangsang sehingga keduanya telah mendapat hadiah dari Sultan Pajang. Tanah yang kemudian telah berkembang. Bumi Pati dan Bumi Mentaok, yang telah dibuka menjadi Tanah Mataram yang semakin besar.

Bagi Panembahan Senapati, Adipati Pati adalah seorang yang akan dapat membantunya bukan saja dengan pasukan, tetapi juga dengan ilmu dan kemampuannya yang tinggi, serta ketajamannya memandang medan. Ia adalah seorang Senapati yang tangguh.

Demikianlah, maka berangsur-angsur pasukan pun telah berdatangan di Mataram. Mereka adalah prajurit-prajurit pilihan dilingkungan mereka masing-masing.

Namun kedatangan para prajurit pilihan di Mataram itu memang telah menimbulkan persoalan tersendiri. Mereka memang merasa sebagai prajurit yang memiliki kemampuan diatas prajurit kebanyakan. Sehingga mereka menganggap diri mereka memiliki kelebihan dari para prajurit di Mataram.

Tetapi para prajurit Mataram pun beranggapan demikian pula. Mereka menganggap para prajurit dari Kadipaten itu sebagai prajurit-prajurit kecil yang berada dibawah tataran prajurit Mataram.

Dengan demikian maka tidak jarang terjadi perselisihan antara para prajurit itu. Mereka kadang-kadang menganggap diri mereka masing-masing lebih baik dari yang lain. Bukan saja para prajurit dari Kadipaten-kadipaten dengan prajurit Mataram, tetapi prajurit-prajurit dari kadipaten yang satu dengan yang lain.

Para pemimpin dari Mataram dan dari Kadipaten-kadipaten itu telah berusaha untuk mencegahnya. Namun mereka bersepakat, jika mereka terlalu lama berada di Mataram, maka persoalan-persoalan kecil diantara mereka akan dapat menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Karena itu, maka rencana keberangkatan para prajurit itu pun telah dibicarakannya dengan sungguh-sungguh sambil mempertimbangkan setiap keterangan yang mereka dengar dari para petugas sandi agar mereka tidak salah langkah.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Swandaru telah memasuki bulan kelima dari latihan-latihan yang dilakukannya. Betapa pun mereka tenggelam didalam laku yang mereka jalani, namun mereka pun mengetahui bahwa Mataram sudah bersiap. Ampat bulan lamanya Mataram menyusun pasukan sambil menghubungi dan kemudian menunggu hadirnya pasukan dari seberang Gunung Kendeng. Hanya pasukan Pajang sajalah yang tidak dianggap perlu berkumpul di Mataram. Mereka bersama prajurit dari Grobogan justru harus bersiaga di Pajang. Jika pasukan Madiun bergerak ke barat, maka mereka harus berusaha untuk menghalanginya, sementara prajurit dari Mataram akan segera datang. Tetapi pasukan yang lain memang diperintahkan untuk berkumpul di Mataram. Mereka akan mendapat penjelasan langsung dari para pemimpin di Mataram, sementara para Adipati akan mendapat keterangan dan kemudian membicarakan bersama-sama dengan Panembahan Senapati.

Dalam pada itu, ketika para prajurit dari Kadipaten-kadipaten sudah berkumpul, maka Panembahan Senapati pun telah memerintahkan dalam waktu sepuluh hari, harus sudah dapat menyusun pasukannya pula disamping pasukan yang terdiri dari prajurit Mataram sendiri. Perintah itu telah disampaikan kepada beberapa Kademangan yang dianggap mempunyai kekuatan dan kepada Tanah Perdikan Menoreh, serta orang-orang di Pegunungan Sewu. Orang-orang yang terkenal mempunyai keuletan yang sangat tinggi, karena mereka sudah terbiasa berjuang menghadapi alam yang keras.

Sepuluh hari adalah waktu yang cukup bagi daerah-daerah itu untuk mengumpulkan pasukannya. Namun ternyata Agung Sedayu dan Swandaru merasa perlu untuk menghubungi guru mereka. Sebelum Kiai Gringsing memanggil mereka, maka kedua orang muridnya itu sudah berniat untuk datang menghadap.

Tetapi mereka ternyata tidak datang bersama-sama. Swandaru yang tidak terlalu jauh tempat tinggalnya dari Padepokan kecil Kiai Gringsing telah datang lebih dahulu untuk memberitahukan perintah yang telah diterimanya.

Kiai Gringsing sambil mengangguk-angguk berkata, “Angger Untara juga sudah memberitahukan bahwa perintah itu telah disebar luaskan.”

“Kami, aku dan seluruh pengawal Kademangan Sangkal Putung mohon diri Kiai. Semoga kami dapat melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Namun sayang, bahwa laku yang aku jalani masih belum selesai. Masih ada selangkah lagi untuk mencapai tahap akhir dari tataran ini.”  berkata Swandaru.

“Apaboleh buat.”  berkata Kiai Gringsing. Namun katanya kemudian, “tetapi bukankah kau telah mengerti semua laku yang harus kau jalani, sehingga kau merasa tidak perlu untuk membawa kitab itu?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ia pun bertanya, “Apakah maksud Guru?”

“Maksudku, bahwa karena kau belum selesai menjalani laku, maka laku itu dapat kau jalani sambil menempuh perjalanan serta tugasmu. Kau setiap kali dapat mencari tempat yang terasing, untuk sekedar melakukan latihan-latihan pada tahap terakhir. Menurut perhitunganku, kau tentu sudah berhasil meredam bunyi cambukmu justru pada saat-saat yang paling gawat, sehingga suara cambukmu tidak akan banyak didengar orang lain jika kau menyingkir dari mereka. Untuk menyelesaikan laku itu, bukankah urutan yang harus kau jalani telah kau pahami, sehingga kau telah mampu melakukannya tanpa harus setiap kali membaca kitab itu? Karena menurut pertimbanganku, tidak sebaiknya kitab itu kau bawa dalam perjalanan menuju ke peperangan.”  Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Namun jika kau memang tidak sempat menjalani sisa laku yang belum terselesaikan, lebih baik kau tunda sama sekali sampai persoalan antara Mataram dan Madiun yang sangat menyakitkan itu dapat diselesaikan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti maksud Guru. Yang penting aku tidak perlu membawa kitab itu meskipun aku berniat sambil melakukan tugas, melanjutkan laku yang masih belum aku tempuh.”

“Ya. Aku memang bermaksud demikian.”  berkata Kiai Gringsing.

“Aku mengerti, Guru. Aku memang tidak akan membawa kitab itu. Aku pun tidak terlalu bernafsu menyelesaikan ilmu cambukku pada tataran ini dengan cepat, sehingga aku harus memaksa diri berlatih selama aku berada didalam pasukan Mataram yang bersiap-siap untuk menempuh pertahanan Madiun. Aku kira sulit bagiku untuk mendapatkan waktu luang sehingga aku dapat memusatkan nalar budi dalam menjalani laku itu. Jika aku tidak dapat memusatkan nalar budiku, maka aku kira laku yang aku jalani itu akan sia-sia, sehingga aku harus menjalaninya kembali.”

“Ya. Kau benar.”  berkata Kiai Gringsing, “namun maksudku, jika kalian telah berada di medan, namun perang itu belum juga terjadi, maka kalian, serta barangkali para pengawal dan para prajurit akan cepat menjadi jemu. Dalam keadaan yang demikian kau akan dapat mengisi waktumu. Tetapi jika kesempatan itu tidak ada, jangan memaksa diri, karena hal itu akan dapat mengganggu keseimbangan tugasmu di medan.”

“Aku mengerti Guru.”  jawab Swandaru.

“Nah, Swandaru. Sebenarnya aku memang menunggumu. Aku juga menunggu Agung Sedayu. Aku kira ia pun akan datang sebelum berangkat ke Madiun bersama Glagah Putih karena Glagah Putih tentu akan minta diri kepada ayahnya pula. Sebenarnya aku ingin melihat, sampai dimana kemampuan kalian menguasai tataran yang sedang kalian masuki sekarang ini. Apalagi kalian akan segera berada di medan perang. Kalian akan berhadapan dengan kekuatan yang belum dapat kalian ketahui tingkatnya.”

“Ya Guru.”  jawab Swandaru, “alangkah baiknya jika pada saat ini hadir juga kakang Agung Sedayu, sehingga dengan demikian kita akan dapat melakukan perbandingan ilmu.”

“Sudah aku katakan, bahwa hal itu tidak terlalu penting untuk dilakukan bersama-sama. Aku dapat melakukannya meskipun kalian melakukan bergantian.”  jawab Kiai Gringsing.

Swandaru tidak menjawab lagi, meskipun ia merasa kecewa bahwa ia tidak dapat menunjukkan kelebihannya atas saudara seperguruannya. Justru saudara tuanya. Namun ia berharap dengan demikian Gurunya akan mengetahuinya dan melakukan langkah-langkah yang perlu bagi mereka berdua. Sementara Agung Sedayu pun akan melihat satu kenyataan yang mungkin memang sudah diketahui atau dirasakannya sebelumnya, apabila gurunya bersedia berterus terang kepada Agung Sedayu.

Demikian, maka sejenak kemudian Swandaru telah berada didalam sanggar bersama gurunya. Dengan kesungguhan hati, Swandaru telah mempersiapkan dirinya untuk menunjukkan kepada gurunya apa yang telah dicapainya selama itu.

Dengan saksama Kiai Gringsing memperhatikan Swandaru, mempersiapkan dirinya. Kemudian melakukan langkah-langkah awal untuk menghangatkan darahnya. Baru sejenak kemudian Swandaru telah memutar cambuknya diatas kepalanya.

Sejenak kemudian cambuk itu sudah terayun dengan derasnya. Ketika cambuk itu kemudian menyentuh sasaran, maka akibatnya memang dahsyat sekali. Swandaru telah menambahkan beberapa buah karah pada juntai cambuknya, sehingga dengan demikian maka sentuhannya pada batu-batu padas yang memang dipersiapkan sebagai sasaran memang menggetarkan sehingga batu padas itu bukan saja pecah berserakan, tetapi bagaikan menjadi debu yang berhamburan. Sementara itu, ledakan cambuk itu tidak lagi menggetarkan daun telinga orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia melihat ilmu Swandaru memang sudah meningkat. Meskipun bagi Kiai Gringsing karah besi yang ditambahkan pada juntai cambuknya tidak perlu sama sekali. Bahkan dapat mengurangi keseimbangan ilmunya meskipun belum sampai pada tahap mengganggunya. Namun tanpa karah-karah besi tambahan itu, hentakkan cambuk itu pada sasaran akan terasa lebih tajam dan menghentakkan tenaga serta inti kekuatannya lebih besar.

Namun pada sasaran lunak, karah-karah besi itu memang mempunyai akibat yang lebih gawat. Jika juntai cambuk Swandaru mengenai seseorang tanpa perisai ilmu yang kuat, maka juntai cambuk itu dapat mengoyak kulit daging jauh lebih tajam dari juntai cambuk Agung Sedayu yang tidak mengalami perubahan sama sekali sejak ia menerimanya dari gurunya.

Dengan nada rendah Kiai Gringsing berkata, “Kau sudah menguasai pokok-pokok ilmu pada tataran ini Swandaru. Ternyata kau mampu mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Ada beberapa kemungkinan yang dapat kau kembangkan sehingga kau benar-benar menguasai tataran ini. Namun kau sudah mampu mengembangkan ilmumu dari tataran sebelumnya dalam tataran berikutnya. Dengan melengkapi laku, maka kau benar-benar akan menguasainya sepenuhnya.”

“Aku mohon petunjuk guru.”  berkata Swandaru.

“Yang terang bekalmu sudah meningkat. Kau sudah merambah ke inti kekuatan ilmu cambukmu. Bukan saja mengandalkan kekuatan wadagmu. Bukankah kau merasakan, bahwa dengan mampu mengungkapkan inti kekuatan, kau tidak terlalu banyak menghambur-hamburkan tenaga seperti jika kau sekedar mempercayakan pada kekuatan wadagmu.”  berkata Kiai Gringsing.

“Ya Guru.”  jawab Swandaru.

“Nah, dengan landasan kekuatan yang sangat besar dari kekuatan wadagmu, maka ungkapan ilmumu pun menjadi lebih dahsyat lagi.”  berkata gurunya. Lalu Kiai Gringsing itu pun berkata pula, “Dengan demikian kau akan dapat memperhitungkan kemungkinan jika kau sudah berangkat. Apakah kau sempat mengisi kekosongan waktumu selama kau menunggu diluar sasaran atau tidak. Jika kau mempunyai kesempatan, ada juga baiknya kau pergunakan tanpa mengganggu orang lain dan mengganggu tugasmu. Tetapi jika tidak, maka bekalmu sudah cukup dengan tataran kemampuanmu sekarang ini asal kau pergunakan dengan hati-hati.”

“Terimakasih guru. Waktu yang diberikan oleh Panglima Pasukan Mataram adalah sepuluh hari sejak dikeluarkan perintah kemarin.”  berkata Swandaru.

“Bukankah kau mempunyai cukup waktu?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Ya guru. Masih cukup waktu untuk mempersiapkan para pengawal. Kami akan bergabung dengan para prajurit yang berada di Jati Anom. Kami akan berada dibawah pimpinan kakang Untara.”  berkata Swandaru.

Kiai. Gringsing mengangguk-angguk. Ia tidak tahu, apakah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan bergabung dengan pasukan Khusus yang ada di Tanah Perdikan. Namun biasanya pasukan khusus itu tidak berada bersama dengan para prajurit dari pasukan yang lain, karena pasukan khusus akan mendapat tugas yang khusus pula, serta biasanya berada di garis terdepan, mendahului gerak seluruh pasukan.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing masih memberikan beberapa petunjuk secara khusus bagi Swandaru. Sebagai seorang tua maka Kiai Gringsing memperingatkan bahwa isteri Swandaru, Pandan Wangi sedang mengandung hampir tua. Karena itu, maka Swandaru harus berhati-hati. Swandaru harus selalu ingat bahwa hidupnya, hidup isteri dan bakal anaknya itu ada ditangan Yang Maha Agung. Namun Swandaru tidak dibenarkan menyia-nyiakan hidupnya.

Swandaru tidak merasa perlu untuk bermalam di padepokan itu. Ketika keperluannya telah selesai, serta gurunya telah memberikan banyak petunjuk, maka Swandaru pun telah mohon diri.

“Mungkin aku tidak sempat menghadap Guru lagi menjelang keberangkatanku bersama pasukan Mataram di Jati Anom.”  berkata Swandaru.

“Semoga kau selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”  berkata Gurunya dengan nada rendah.

“Semoga Guru.”  sahut Swandaru. Lalu katanya pula, “Kitab Guru akan disimpan dengan baik oleh Pandan Wangi. Aku telah berpesan kepadanya, jika ia sangat ingin melihat isinya, ia harus membatasi diri sekedar ingin tahu, karena dasar ilmu yang ada didalam kitab itu berbeda dengan dasar ilmu yang dimiliki olah Pandan Wangi. Apalagi ia sedang mengandung sehingga ia tidak boleh tergelitik untuk melakukan sesuatu.”

“Kau benar Swandaru.”  berkata Kiai Gringsing, “sebaiknya Pandan Wangi menahan diri untuk tidak usah membuka kitab itu, justru karena ia memiliki kemampuan olah kanuragan dari aliran perguruan yang berbeda. Jika ia tidak sedang mengandung, serta jika ia berada dibawah pengawasan, maka hal itu tidak sangat berbahaya baginya. Tetapi justru ia sedang mengandung dan tidak seorang pun yang sempat mengawasinya.”

“Ya Guru. Aku akan berpesan dengan sungguh-sungguh. Jika keadaan Guru masih seperti setahun yang lalu, aku berani mohon Guru untuk sekali-sekali datang ke Sangkal Putung. Namun sekarang nampaknya Guru harus banyak beristirahat.”  berkata Swandaru.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku memang sudah menjadi semakin lemah. Namun jika satu saat keadaan mengijinkan, aku akan mengajak Ki Widura untuk pergi ke Sangkal Putung. Tetapi sudah tentu tidak dapat diharap benar bahwa aku akan dapat melakukannya.”

“Ya Guru.”  sahut Swandaru yang mengerti sepenuhnya keadaan gurunya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, maka Swandaru pun telah meninggalkan padepokan kecil itu.

Sepeninggal Swandaru maka ternyata bahwa Kiai Gringsing telah mengharap pula kehadiran Agung Sedayu. Ia yakin bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih tentu akan datang sebelum sampai saatnya yang sepuluh hari itu. Seperti Swandaru, maka Kiai Gringsing pun ingin melihat perkembangan ilmu muridnya yang tua itu meskipun pada dasarnya ia lebih yakin akan keberhasilannya.

“Besok atau lusa, mereka tentu akan dating.”  berkata Ki Widura yang sebenarnya juga mengharapkan kedatangan anaknya, karena menurut pendapatnya, anaknya tentu akan ikut pula bersama para pengawal Tanah Perdikan.

“Waktunya telah menjadi semakin sempit.”  berkata Kiai Gringsing.

“Agaknya Agung Sedayu menempuh cara yang berbeda dari Swandaru. Swandaru datang lebih dahulu menemui Kiai Gringsing, sedangkan Agung Sedayu agaknya lebih dahulu telah menyusun barisannya, baru akan datang menemui Kiai Gringsing.”  berkata Ki Widura.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan ia tidak melupakan padepokan ini sebelum berangkat.”

“Sudah barang tentu tidak, Kiai.”  jawab Widura.

Sebenarnyalah, menjelang senja di hari berikutnya, dua orang berkuda telah memasuki regol halaman padepokan kecil itu. Mereka adalah Agung Sedayu dan Glagah Putih.

Seorang cantrik yang menyambut berkata, “Kiai sudah sangat mengharap kedatanganmu. Kakang Swandaru sudah datang beberapa hari yang lalu.”

“O”  Agung Sedayu mengangguk-angguk, “Jadi adi Swandaru telah menemui Guru.”

“Ya”  jawab cantrik itu.

“Apakah ayah ada disini sekarang?”  bertanya Glagah Putih.

“Ya. Ki Widura sedang berada disini. Bahkan Ki Widura lebih banyak berada disini daripada pulang ke Banyu Asri.”  jawab cantrik itu.

Glagah Putih mengangguk-angguk, sementara cantrik itu mempersilahkannya naik ke pendapa.

“Aku akan menyampaikan kedatangan kalian kepada Kiai.”  berkata cantrik itu.

Kiai Gringsing dan Ki Widura menyambut keduanya dengan gembira. Setelah kedua orang tua itu mempertanyakan keselamatan mereka dan yang mereka tinggalkan di Tanah Perdikan maka Kiai Gringsing berkata, “Kami menunggu kedatangan kalian. Swandaru telah datang di hari-hari pertama ia menerima perintah untuk mengumpulkan pasukannya dan bergabung dengan pasukan angger Untara.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata, “Maaf Guru. Aku harus menyusun pasukan pengawal Tanah Perdikan lebih dahulu. Aku harus membaginya, yang mana yang dapat dikirim ke Mataram dan yang mana yang harus tetap tinggal di Tanah Perdikan Menoreh untuk menjaga ketenteraman Tanah Perdikan itu.”

“Aku sudah mengira.”  sahut Ki Widura, “nampaknya Swandaru telah datang menghadap gurunya lebih dahulu, baru menyusun pasukannya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau berbuat sebaliknya.”

“Ya Guru.”  jawab Agung Sedayu, “baru setelah selesai, aku datang untuk mohon restu sekaligus mohon diri. Juga kepada paman Widura. Agaknya demikian pula Glagah Putih.”

“Ya Kiai.”  sambung Glagah Putih, “aku mohon doa restu kepada Kiai dan kepada ayah. Ternyata aku juga akan ikut dalam pasukan yang akan berkumpul di Mataram.”

“Jadi pasukan pengawal Tanah Perdikan tidak disatukan dengan pasukan khusus yang ada di Tanah Perdikan itu?”  bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak Guru.”  jawab Agung Sedayu, “agaknya tataran kemampuan kedua pasukan itu dianggap berbeda. Pasukan khusus itu akan berada di paling depan, mendahului barisan.”

“Lalu bagaimana dengan pasukan pengawal Tanah Perdikan?”  bertanya Ki Widura.

“Kami harus berkumpul di Mataram dan akan berada dibawah pimpinan Ki Tumenggung Dananjaya dan akan berada dibawah Panglima Besar Pangeran Singasari.”  jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “kau sudah mengenal sikap dan watak Pangeran Singasari?”

“Ya.”  jawab Agung Sedayu, “Seorang Panglima yang tegas.”

“Tegas dan garang.”  desis Kiai Gringsing sambil tersenyum. Namun kemudian tanyanya, “Tetapi agaknya memang diperlukan Panglima seperti Pangeran Singasari.”

“Seorang Panglima yang lain akan bersama dengan Pangeran Singasari.”  berkata Agung Sedayu.

“Siapa?”  bertanya Ki Widura.

“Pangeran Mangkubumi.”  jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang yang mumpuni dalam berbagai ilmu. Namun agaknya Pangeran Mangkubumi lebih tenang daripada Pangeran Singasari. Namun kedua-duanya adalah Panglima pilihan.”

“Kemudian panglima yang lain yang akan bersama Panembahan Senapati adalah Adipati Pati dan Pajang. Nampaknya keduanya akan menjadi Panglima pasukan pengapit. Sementara Pangeran Singasari dan Pangeran Mangkubumi akan berada di sayap.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Wajahnya yang keriput oleh garis-garis umurnya itu nampak semakin berkerut. Dengan nada rendah ia berkata, “Satu pasukan segelar sepapan yang sangat kuat. Tetapi Madiun pun akan memasang Senapati-senapati yang berilmu dan berkemampuan sangat tinggi. Para Adipati dari daerah Timur adalah orang-orang yang pilih tanding.”

“Ya Guru.”  jawab Agung Sedayu, “nampaknya Mataram juga menyadari akan hal itu. Karena itu Mataram telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada.”

“Tetapi Mataram tidak akan dapat mengumpulkan pasukan sebesar para Adipati di daerah Timur. Nampaknya hal itu sudah disadari. Angger Untara juga sudah memperhitungkannya sebagaimana para pemimpin yang lain berdasarkan laporan para petugas sandi. Namun kedua kekuatan itu benar-benar sangat mendebarkan jantung. Benturan kekuatan antara Mataram dan Madiun akan berakibat sangat buruk bagi kedua belah pihak.”  desis Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Demikian pula Glagah Putih. Namun pernyataan gurunya itu telah memberikan gambaran kepada keduanya, bahwa pertempuran akan merupakan pertempuran yang sangat garang dan sangat keras.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Sudahlah. Aku tidak bermaksud membuat kalian menjadi cemas menghadapi tugas-tugas kalian di medan pertempuran nanti. Tetapi setidak-tidaknya dengan demikian kalian akan menjadi semakin berhati-hati.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Gringsing pun berkata, “Baiklah. Kalian tentu masih letih. Malam ini kalian dapat beristirahat.”

“Kami tidak terlalu letih guru. Kami tidak tergesa-gesa beristirahat.”  jawab Agung Sedayu.

“Nah, jika kalian akan pergi ke pakiwan, pergilah. Agaknya para cantrik sedang menyiapkan minuman buat kalian, kalian dapat beristirahat nanti di bilik yang biasa kalian pergunakan.”  berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu dan Glagah Putih pun kemudian telah membenahi diri setelah keduanya mandi. Perjalanan mereka memang tidak terlalu melelahkan. Tetapi tubuh mereka memang basah oleh keringat.

Baru setelah mandi, keduanya telah berada kembali di pendapa menikmati minuman hangat dan beberapa potong makanan. Sementara para cantrik telah menyiapkan makan malam bagi mereka.

Kiai Gringsing memang tidak tergesa-gesa ingin melihat tataran ilmu Agung Sedayu meskipun ingin. Dihari berikutnya ia masih mempunyai kesempatan. Malam itu Kiai Gringsing membiarkan kedua orang yang baru datang dari Tanah Perdikan itu untuk beristirahat.

Setelah makan malam, maka yang mereka bicarakan bukannya tentang padepokan kecil serta kemungkinan-kemungkinan di hari depan, tetapi mereka telah berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam perselisihan antara Mataram dan Madiun. Dua ujung dari antara mereka yang merasa mempunyai hak untuk memegang kendali kekuasaan sepeninggal Sultan Pajang, apalagi sepeninggal Pangeran Benawa.

“Sebenarnya aku tidak sampai hati menyaksikan permusuhan antara Madiun dan Mataram.”  berkata Kiai Gringsing, “tetapi aku tidak berdaya untuk mencegahnya. Aku sudah terlalu lama kehilangan pengaruhku karena salahku sendiri. Baik Madiun maupun Mataram sekarang telah menganggapku tidak lebih dari seorang pengembara yang mencoba menetap dengan membangun sebuah padepokan kecil seperti ini.”

“Jika Guru ingin melakukan sesuatu, maka perintah Guru tentu akan aku lakukan. Apa pun yang terjadi.”  berkata Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya.” Tidak perlu. Jika aku melangkah sekarang ini, maka akibatnya akan sangat buruk. Karena itu, maka biarlah terjadi apa yang akan terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah terlanjur berpihak. Demikian pula murid Kiai Gringsing yang seorang lagi, sehingga dengan demikian maka bagaimanapun juga perguruan Orang Bercambuk itu telah berpihak.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 249)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-48/

Terima kasih kepada Ki Mahesa yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

2 Responses

  1. Kapan nich 249nya dilanjut???

    he he he …..
    sabar njih, kecepatan editing hanya seminggu 2-3 rontal, sehingga kecepatan apload hanya 3 hari sekali.
    248 baru beberapa jam yang lalu, upload selanjutnya 21 agustus

  2. 343 nya jg Donk…

    maksudnya?
    kalau 343 masih lama, karena sekarang baru sampai 309.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s