ADBM3-278

<<kembali | lanjut >>

NAMPAKNYA memang tidak ada jalan lain kecuali menyerahkan Rara Wulan jika mereka tidak ingin Raras hilang untuk selamanya dari lingkungan keluarganya.

Bagi mereka yang tersangkut dalam persoalan hilangnya Raras, maka setiap tarikan nafas rasa-rasanya merupakan ketegangan yang semakin mencengkam sejalan dengan beredarnya waktu. Ketika malam lewat, maka pagi-pagi benar Agung Sedayu telah bersiap bersama Glagah Putih. Ia tidak mengatakan kepada siapa pun juga, apa yang akan dilakukan.

Namun ia sempat berpesan kepada Ki Jayaraga dan Ki Tumenggung Purbarumeksa, agar mereka berhati-hati.

“Jangan seorang pun meninggalkan rumah ini,” berkata Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh.

“Apa yang akan Ki Lurah lakukan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Aku akan mengatakannya jika aku berhasil,” jawab Agung Sedayu.

Tidak seorang pun yang bertanya lagi. Bahkan Sekar Mirah juga tidak. Ia tahu bahwa dalam keadaan demikian, maka suaminya benar-benar tidak akan mengatakan apa-apa.

Setelah minum dan makan beberapa potong makanan, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah meninggalkan rumah Ki Tumenggung. Mereka sempat singgah di rumah Ki Wirayuda sejenak untuk membicarakan beberapa langkah terpenting yang akan diambil oleh Agung Sedayu.

“Satu langkah yang berbahaya Ki Lurah,” desis Ki Wirayuda.

“Aku tidak mempunyai cara lain,” jawab Agung Sedayu, “aku berharap bahwa kita akan berhasil. Setidak-tidaknya menunda batas waktu yang diberikan oleh Raden Antal.”

Ki Wirayuda menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mencegah niat Agung Sedayu, karena ia sendiri belum menemukan cara yang paling baik untuk membebaskan Raras, sementara batas waktu yang diberikan tinggal hari itu.

Karena itu, maka katanya, “Tetapi Ki Lurah harus menjaga, agar Ki Tumenggung Wreda tidak mempunyai bukti-bukti dari langkah yang Ki Lurah lakukan itu.”

“Aku akan berusaha ki Wirayuda,” jawab Agung Sedayu, “tetapi seandainya aku tidak mampu berbuat demikian, maka aku siap mempertanggung jawabkannya.”

Ki Wirayuda mengangguk kecil. Katanya, “Memang tidak ada pilihan. Orang-orangku belum menemukan tempat Raras disembunyikan. Sedangkan orang kerdil itu seakan-akan telah lenyap pula. Sementara itu, tentu sulit diterima akal untuk mengorbankan Rara Wulan.”

“Baiklah Ki Wirayuda, aku minta diri. Untuk sementara aku tidak mempunyai jalan lain.”

Demikianlah Agung Sedayu pun telah meninggalkan rumah Ki Wirayuda. Keduanya sempat bersetuju untuk menjawab pertanyaan tentang kehadiran Agung Sedayu di rumah Ki Wirayuda, bahwa Agung Sedayu menuntut Ki Wirayuda untuk berusaha membebaskan Raras.

Sebenarnyalah bahwa pengikut Ki Manuhara atas permintaan Bajang Bertangan Baja selalu mengawasi Agung Sedayu dan Glagah Putih. Keduanya memang dengan sengaja tidak berusaha menghindari dari pengamatan mereka.

Ketika Ki Wirayuda kemudian pergi ke tempat tugasnya, maka dikelok jalan ia terkejut. Tiba-tiba saja ia bertemu dengan seseorang yang bertubuh pendek dan kecil.

“Orang kerdil itu,” desis Ki Wirayuda.

Sambil tersenyum orang kerdil itu pun telah mempersilahkan Ki Wirayuda untuk berhenti sejenak. Dengan sopan orang itu mengangguk hormat sambil berkata, “Maaf Ki Wirayuda, barangkali aku telah mengganggu.”

Namun Ki Wirayuda pun segera tanggap bahwa ia berhadapan dengan orang yang sangat berbahaya. Karena itu, maka ia pun menjadi sangat berhati-hati.

“Ki Wirayuda,” berkata orang itu kemudian, “apakah aku diperkenankan untuk bertanya tentang sesuatu?”

“Kau siapa?” bertanya Ki Wirayuda.

Orang kerdil itu tersenyum. Katanya, “Aku tahu bahwa Ki Wirayuda dapat menduga siapa aku. Tetapi baiklah. Aku akan menyebut namaku, Bajang Bertangan Baja atau barangkali Ki Wirayuda lebih senang menyebut namaku Bajang Bertangan Embun.”

Ki Wirayuda mengangguk-angguk kecil. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Untuk apa kau menghentikan aku?”

“Maaf Ki Wirayuda, aku hanya ingin mengetahui, untuk apa orang Tanah Perdikan Menoreh itu sering datang ke rumah Ki Wirayuda? Apa saja yang akan mereka lakukan? Bukankah kedatangannya ada hubungannya dengan hilangnya Raras, anak Ki Rangga Wibawa yang akan dipertukarkan dengan Rara Wulan?”

“Ya,” jawab Ki Wirayuda, “mereka menuntut agar aku dapat membebaskan Raras, sehingga mereka tidak usah menyerahkan Rara Wulan. Tetapi ternyata aku tidak berhasil.”

“Dan Ki Wirayuda telah memerintahkan prajurit sandi untuk pergi menemui dan menanyakan hubungan antara hilangnya Raras dengan Raden Antal?” bertanya orang kerdil itu.

“Ya,” jawab Ki Wirayuda.

“Ternyata Ki Wirayuda telah mengambil langkah yang salah. Ki Tumenggung Wreda Sela Putih tentu tidak tahu menahu tentang hilangnya Raras. Demikian pula Raden Antal. Seandainya mereka tahu dan bahkan mengupah aku untuk melakukannya, tidak ada seorang pun yang dapat membuktikannya. Kecuali jika Ki Wirayuda sempat menangkap aku dan memeras keteranganku. Itu pun aku akan dapat dituduh memfitnah Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.”

“Sekarang apa maumu?” bertanya Ki Wirayuda.

Orang itu tertawa kecil. Katanya, “Aku hanya akan bertanya tentang orang-orang Tanah Perdikan itu. Apa yang akan mereka lakukan untuk mencari Raras,” jawab orang kerdil itu.

“Mereka tidak mengatakan akan berbuat apa saja. Tetapi mereka minta aku bertanggung jawab atas hilangnya Raras agar Rara Wulan tidak usah diserahkan. Tetapi sejauh mana tanggung jawabku atas hilangnya seseorang?”

“Tetapi orang-orang Tanah Perdikan itu tentu tidak akan tinggal diam,” desis orang kerdil itu.

“Itu urusan mereka. Tetapi kami mempunyai keterbatasan. Kecuali jika kau bersedia mengembalikan Raras,” berkata Ki Wirayuda.

Bajang Bertangan Baja itu tertawa. Katanya, “Ki Wirayuda tidak akan mempunyai kesempatan lagi. Malam nanti adalah batas terakhir yang aku berikan kepada keluarga Rara Wulan.”

Ki Wirayuda termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat menangkap Bajang itu, karena kemampuan Bajang itu sangat tinggi. Sementara itu, ia tidak melihat kemungkinan untuk mendapat bantuan dari siapa pun juga.

Namun Ki Wirayuda kemudian bertanya, “Berapa kau diupah oleh Ki Tumenggung Wreda Sela Putih untuk mendapatkan Rara Wulan? Bukankah Raras hanya sekedar sasaran sementara?”

Bajang itu tertawa. Katanya, “Ki Wirayuda tentu akan mencoba mencarikan upah yang lebih besar bagiku agar aku menyerahkan kembali Raras dan mengurungkan niatku mengambil Rara Wulan.”

“Ya,” jawab Ki Wirayuda.

“Itu tidak mungkin Ki Wirayuda,” jawab Bajang Bertangan Baja, “Ki Tumenggung Wreda memberikan upah tidak terbatas. Semua kekayaan Ki Wirayuda tidak akan cukup untuk menebus niatku mengambil Rara Wulan.”

“Tentu bukan aku yang akan memberikan uang itu. Tetapi Ki Tumenggung Purbarumeksa dan barangkali bersama-sama dengan Ki Rangga Wibawa,” berkata Ki Wirayuda kemudian.

“Mereka bukan orang-orang kaya. Aku tidak mau membicarakannya,” jawab Bajang Bertangan Baja itu sambil tertawa. Namun katanya kemudian, “Sudahlah Ki Wirayuda. Sebaiknya Ki Wirayuda menganjurkan kepada Ki Rangga Wibawa agar mendesak dan memaksa Ki Tumenggung Purbarumeksa untuk menyerahkan Rara Wulan. Karena jika tidak demikian, maka Raras lah yang akan menjadi korban. Itu juga berarti bahwa Tumenggung Purbarumeksa harus berhadapan dengan anak laki-lakinya sendiri, Raden Teja Prabawa, karena Raras adalah gadis pilihan Teja Prabawa itu.”

Ki Wirayuda tidak menjawab. Keningnya sajalah yang berkerut. Sementara Bajang itu berkata, “Baiklah. Aku minta diri Ki Wirayuda. Tetapi jangan mencoba mencampuri persoalan kami malam nanti, karena hal itu akan membahayakan jiwa Raras.”

Ki Wirayuda hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi penalarannya telah mencegahnya untuk melakukan tindakan yang hanya akan dapat merugikan dirinya sendiri.

Karena itu, ia tidak berbuat apa-apa ketika Bajang Bertangan Embun itu mengangguk-angguk hormat. Kemudian melangkah meninggalkannya berdiri termangu-mangu.

“Iblis kerdil,” geram Ki Wirayuda.

Ketika kemudian orang kerdil itu tidak dilihatnya lagi, hilang ditikungan, maka Ki Wirayuda itu pun melanjutkan langkahnya menuju ke tempat tugasnya. Namun hatinya menjadi semakin gelisah. Selain memikirkan Raras yang hilang, Ki Wirayuda juga merasa dihina oleh Bajang Bertangan Baja itu.

Rasa-rasanya ia ingin menemui Agung Sedayu seketika itu juga untuk memberitahukan bahwa ia baru saja justru ditemui oleh Bajang Bertangan Baja itu.

Namun ia telah mengurungkan niatnya. Jika hal itu dilakukan, mungkin akan dapat mempengaruhi sikap orang kerdil itu terhadap Raras. Atau sikap-sikap lain yang justru merugikan usaha Agung Sedayu untuk membebaskan Raras.

Karena itu, maka Ki Wirayuda pun meneruskan langkahnya menuju ke tempat tugasnya.

Sampai saat terakhir, maka para prajurit sandi tidak dapat menemukan jejak hilangnya Raras. Sementara Ki Tumenggung Wreda dan Raden Antal nampaknya seperti orang yang tidak bersalah dan bahkan tidak bersangkut paut dengan hilangnya Raras.

Mereka melakukan tugas-tugas mereka sehari-hari tanpa ada kesan apa pun juga. Sementara para petugas sandi juga tidak pernah lagi melihat orang kerdil datang ke rumah Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

Dalam pada itu, hari merambat juga setapak demi setapak. Di-siang hari seperti yang dipesankan oleh Agung Sedayu, Ki Ajar Gurawa telah datang ke rumah Tumenggung Wreda.

“Aku belum dapat berbuat sesuatu,” berkata Agung Sedayu. Namun ia pun kemudian minta kepada Ki Ajar Gurawa untuk menyiapkan anak-anak Gajah Liwung tidak terlalu jauh dari padang rumput Tegal Wuru.

“Aku mohon Ki Ajar bersiap-siap. Jika diperlukan, kami akan memberikan isyarat dengan panah sendaren,” pesan Agung Sedayu.

“Bukankah isyarat itu merupakan isyarat terbuka, karena suara panah sendaren itu akan didengar pula oleh mereka,” sahut Ki Ajar Gurawa.

“Isyarat itu akan kami berikan pada kesempatan terakhir saja,” jawab Agung Sedayu.

Ki Ajar Gurawa mengangguk-angguk. Ia mengerti apa yang dimaksud Agung Sedayu. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Aku akan berada di sisi Utara dari padang rumput Tegal Wuru. Anak-anak akan tersebar di sekitar tempat itu. Jika kau memberikan isyarat kepada kami, lontarkan panah sendaren kearah Utara.”

Demikian, setelah Agung Sedayu memberikan beberapa pesan, maka Ki Ajar Gurawa pun segera minta diri.

Suasana pun semakin lama menjadi semakin tegang sejalan dengan beredarnya waktu. Namun menjelang sore hari, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun minta diri untuk meninggalkan rumah itu.

“Kalian akan kemana?” bertanya Ki Tumenggung Purbarumeksa.

“Kami harus berbuat sesuatu. Malam nanti kita harus pergi ke tanggul Kali Opak, dipadang rumput Tegal Wuru. Sebelum tengah malam maka akan terjadi tukar menukar antara Raras dan Rara Wulan.” berkata Agung Sedayu.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?” desak Ki Tumenggung Purbarumeksa.

“Nanti aku akan kembali, setelah aku yakin akan langkah yang akan aku ambil,” jawab Agung Sedayu.

Seisi rumah itu memang menjadi gelisah. Ki Lurah Branjangan pun bagaikan berdiri diatas bara. Namun ia membentak ketika ia melihat Raden Teja Prabawa merengek kepada ayahnya, “Ayah. Kita harus menyelamatkan Raras.”

“Masuk ke bilikmu anak cengeng. Menangislah sambil menelungkup diatas bantal seperti perempuan,” bentak Ki Lurah.

Tetapi Teja Prabawa masih akan berbicara lagi.

“Diamlah kau. Kau hanya dapat membuat hati kami semakin bingung,” bentak ayahnya pula.

Ibunya memandangnya sambil mengusap air matanya. Kegelisahannya pun telah memuncak. Sementara Rara Wulan sendiri duduk sambil merenung disamping Sekar Mirah.

Demikianlah Agung Sedayu dan Glagah Putih telah pergi lagi. Yang ada di rumah saja menunggu dengan gelisah. Namun tidak seorang pun yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu.

Ternyata Agung Sedayu sempat singgah di rumah Ki Wirayuda untuk berbicara tentang rencananya. Ki Wirayuda yang sudah kembali dari tempat tugasnya hanya dapat mengangguk-angguk saja, karena ia merasa bahwa ia tidak dapat memecahkan persoalan itu.

“Baiklah,” berkata Ki Wirayuda, “aku siapkan semuanya. Aku pun akan menghadap Ki Patih Mandaraka untuk melaporkan langkah-langkah yang kau ambil agar jika datang laporan kepada Ki Patih dari pihak Ki Tumenggung Wreda, Ki Patih dapat mengatur pemecahannya.”

Agung Sedayu ternyata sependapat dengan Ki Wirayuda. Karena itu maka katanya, “Terima kasih Ki Wirayuda. Kita akan dapat membagi tugas. Mudah-mudahan kita bukan sekedar bulan-bulanan Bajang Bertangan Baja itu.”

Demikianlah waktu pun merambat semakin jauh, sehingga waktu itu pun menjadi semakin sempit.

Ketika matahari menjadi semakin rendah di ujung langit sebelah Barat, maka ketegangan pun telah memuncak. Ki Rangga Wibawa rasa-rasanya telah berputus asa. Ia merasa bahwa ia akan kehilangan anak gadisnya. Nyi Rangga hanya dapat menangis dan bahkan kadang-kadang menjadi pingsan.

Wacana yang juga merasa tegang itu memang pernah berkata kepada Ki Rangga Wibawa, “Apakah kita benar-benar tidak berhak mendesak agar Rara Wulan diserahkan? Kemudian persoalannya adalah terbatas antara keluarga Ki Tumenggung Purbarumeksa dengan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.”

Namun Ki Rangga Wibawa dengan nada rendah menjawab, “Aku tidak dapat melakukannya, Wacana.”

“Dan paman justru mengorbankan Raras?” bertanya Wacana.

Ki Rangga Wibawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis, “Apakah aku sudah mengorbankan anakku?”

Wacana terdiam. Ia tidak bertanya lebih jauh, karena setiap pertanyaannya hanya akan menanamkan kekecewaan Ki Rangga Wibawa.

Namun Ki Rangga Wibawa itu terkejut, ketika senja turun, sekelompok prajurit sandi telah datang. Atas perintah Ki Wirayuda mereka akan berada di rumah Ki Rangga malam itu.

“Apa yang akan terjadi?” bertanya Ki Rangga Wibawa. “Kami mendapat perintah untuk melindungi tempat ini, Ki Rangga,” jawab pemimpin kelompok prajurit itu.

“Ya, tetapi kenapa?” desak Ki Rangga.

“Kami tidak mendapat penjelasan lebih jauh Ki Rangga. Tetapi kami harus melindungi rumah ini jika terjadi sesuatu,” jawab pemimpin sekelompok petugas sandi itu.

“Tetapi yang penting adalah membebaskan anak gadisku. Bukan menjaga rumahku,” berkata Ki Rangga kemudian.

“Aku tidak tahu Ki Rangga. Mungkin tugas itu telah dilakukan oleh orang lain. Tugasku adalah menjaga kemungkinan buruk yang dapat terjadi disini,” jawab pemimpin kelompok itu.

Kedatangan sekelompok prajurit itu tidak dapat menghapus kegelisahan Ki Rangga Wibawa. Namun ia tidak menolak kehadiran sekelompok petugas sandi yang sedang menjalankan tugas itu.

Pada waktu yang sama, Ki Tumenggung Purbarumeksa pun terkejut pula. Bahkan juga orang-orang yang sedang ada di rumah itu. Sekelompok prajurit telah datang dan menyatakan bahwa mereka mendapat tugas untuk melindungi rumah itu jika terjadi sesuatu.

Teja Prabawa yang kegelisahannya sudah sampai ke ubun-ubun tiba-tiba saja membentak, “Kenapa kalian tidak pergi ke padang rumput Tegal Wuru di dekat tanggul Kali Opak? Kenapa kalian justru datang kemari? Mereka tidak akan mengambil Wulan disini malam ini. Tetapi mereka membawa Raras ke Tegal Wuru. Kalian harus membebaskannya. Ditukar atau tidak ditukar dengan Wulan.”

Tetapi ayahnya membentak, “Kau tidak dapat berkata begitu. Mereka sedang menjalankan tugas yang diperintahkan kepada mereka.”

Pemimpin sekelompok prajurit yang berada di rumah Ki Tumenggung itu pun berdesis, “Kami tidak tahu apa hubungannya perintah yang kami jalankan ini dengan padang rumput Tegal Wuru.”

“Ya, ya. Aku mengerti,” berkata Ki Tumenggung Purbarumeksa pula. Yang kemudian telah mempersilahkan sekelompok prajurit itu untuk berada di gandok. Namun sebagian dari mereka justru telah mulai berjaga-jaga di halaman belakang rumah yang terhitung agak besar itu.

Namun dalam pada itu, dengan tidak diduga-duga yang datang meloncat lewat dinding bagian belakang adalah justru Glagah Putih. Hampir saja terjadi salah paham dengan dua orang prajurit yang bertugas. Namun Glagah Putih meskipun tergesa-gesa sempat menjelaskan bahwa ia berkepentingan dengan Ki Tumenggung Purbarumeksa. Ia memang tidak mempunyai cara lain untuk memasuki rumah itu selain meloncati dinding bagian belakang rumah itu.

“Aku sekarang harus melepaskan diri dari pengawasan setiap orang,” berkata Glagah Putih.

Glagah Putih datang untuk mengajak Sabungsari pergi sambil membawa panah sendaren.

“Untuk apa?” bertanya Sabungsari.

“Marilah,” jawab Glagah Putih, “nanti kau akan mengetahuinya. Aku tidak mempunyai waktu sekarang.”

Sabungsari tidak bertanya lebih jauh. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Purbarumeksa mempunyai beberapa panah sendaren yang dapat dibawa oleh Sabungsari.

“Apa yang akan terjadi?” bertanya Rara Wulan.

“Perang kecil-kecilan,” jawab Glagah Putih.

“Ah kau,” desis Rara Wulan.

Namun Glagah Putih telah berpesan agar seisi rumah berhati-hati. Kepada Ki Jayaraga dan Ki Tumenggung Purbarumeksa ia berkata, “Kami titipkan Rara Wulan kepada guru dan Ki Tumenggung. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu disini.”

“Dimana Ki Lurah Agung Sedayu sekarang?” bertanya Ki Tumenggung Purbarumeksa.

“Kami telah siap pergi ke Tegal Wuru,” jawab Glagah Putih. Tetapi katanya kemudian, “Namun kami tidak akan membawa Rara Wulan.”

Yang tidak disangka-sangka adalah pertanyaan Raden Teja Prabawa, “Kenapa Rara Wulan tidak kalian bawa?”

“Apa maksudmu?” bentak ayahnya, “kau ingin Rara Wulan diserahkan kepada Raden Antal?”

“Tetapi bagaimana dengan Raras?” bertanya Teja Prabawa.

“Pergilah, cari dan selamatkan gadis itu,” bentak ayahnya pula dengan marah.

Teja Prabawa tidak berani bertanya lagi meskipun jantungnya bagaikan akan pecah.

Glagah Putih pun kemudian telah minta diri kepada orang-orang yang tinggal di rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Kami mohon agar kalian berdoa. Semoga usaha kami berhasil.”

“Hati-hatilah ngger,” desis Ki Lurah Branjangan.

Glagah Putih dan Sabungsari pun kemudian telah melangkah ke halaman belakang. Mereka tidak melewati regol depan karena mereka sedang menghindari pengamatan orang-orang yang barangkali masih berkeliaran di sekitar rumah itu.

Ketika mereka akan meloncati dinding Glagah Putih masih sempat berpesan kepada Ki Jayaraga seandainya terjadi sesuatu di rumah ini.

Demikianlah, sejenak kemudian maka Glagah Putih pun telah meninggalkan halaman belakang rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa yang juga mendapat perlindungan dari sekelompok prajurit.

Dalam pada itu, maka malam pun mulai turun. Teja Prabawa benar-benar menjadi sangat gelisah. Setiap kali ia memandang adiknya dengan wajah yang geram. Bahkan tiba-tiba saja dia berkata, “Kau telah membuat Raras menderita.”

“Kau kira aku sengaja melakukannya?” jawab adiknya yang semakin jengkel melihat sikap kakaknya.

“Seharusnyalah kau tahu diri,” bentak Teja Prabawa.

“Bagaimana aku harus tahu diri? Menyerahkan diriku sendiri kepada iblis itu?” bertanya Rara Wulan.

 “Tetapi kaulah yang dikehendakinya, bukan Raras. Seharusnya Raras tidak bersangkut paut dengan persoalanmu,” jawab Teja Prabawa.

“Kau membuat aku jengkel,” jawab Rara Wulan, “sebenarnya aku kasihan kepada Raras dan kepadamu. Tetapi sikapmu membuat aku justru kehilangan perasaan itu.”

“Kau hanya mementingkan dirimu sendiri,” geram Teja Prabawa.

“Kau yang mementingkan dirimu sendiri, tetapi kau hanya dapat merengek seperti perempuan. Kenapa kau tidak berusaha menolongnya? Kenapa harus kakang Agung Sedayu, kakang Glagah Putih dan kakang Sabungsari? Sementara kau hanya bingung dan kehabisan akal, putus asa dan menangis.”

“Diam,” Teja Prabawa membentaknya, “jika kau tidak mau diam aku tampar mulutmu.”

“Kau? Kau berani menampar aku? Lakukan. Tetapi jika wajahmu menjadi biru bengkak, bukan salahku,” jawab Rara Wulan.

Raden Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Ia tahu bahwa Rara Wulan memiliki ilmu kanuragan meskipun ia seorang gadis. Namun sementara itu ayahnya telah mendekati mereka sambil membentak, “Apa pula yang kalian lakukan? Selagi kita dicengkam oleh kebingungan, kalian justru bertengkar?”

Keduanya terdiam. Teja Prabawa menundukkan kepalanya, sementara Rara Wulan pun beranjak pergi. Sekar Mirah yang melihatnya segera membimbingnya untuk menyingkir sambil berkata, “Sudahlah Rara. Kakakmu benar-benar sedang gelisah. Bahkan putus asa.”

“Tetapi ia membebankan kesalahannya kepadaku. Seolah-olah akulah sumber malapetaka bagi Raras,” jawab Rara Wulan.

“Sudahlah,” desis Sekar Mirah, “kita berdoa, semoga Yang Maha Agung menolong menyelamatkan Raras. Bukankah kakang Agung Sedayu, Glagah Putih dan kakang Sabungsari sedang berusaha?”

Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, malam pun bertambah malam. Sementara itu, yang tidak diketahui oleh mereka yang ada di rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa adalah kegelisahan yang ternyata juga terjadi di rumah Ki Tumenggung Wreda Sela Putih. Menjelang malam, bahkan sampai gelap turun, ternyata Raden Antal masih belum pulang. Kepada seorang pengikut Ki Manuhara yang ada di rumah itu, Ki Tumenggung Wreda telah menanyakannya, dimana Raden Antal.

“Bukankah kau harus mengantarnya ke tanggul Kali Opak?” bertanya Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

“Ya,” jawab pengikut Ki Manuhara itu, “seharusnya kami sudah berangkat sekarang.”

“Apakah mungkin ia langsung ke tanggul Kali Opak dari tempat tugasnya?” bertanya Ki Tumenggung.

“Seharusnya tidak. Aku dan kawanku itu akan membawanya ke tanggul Kali Opak untuk menerima Rara Wulan atau membawa Raras,” jawab orang itu. Katanya selanjutnya, “Jika Rara Wulan tidak diserahkan, maka Raras lah yang akan menjadi gantinya.”

Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah bergegas masuk. Ditangannya digenggamnya sebatang panah.

“Ada apa?” bertanya Ki Tumenggung.

“Aku berada di pendapa ketika tiba-tiba saja anak panah ini hampir saja mengenai kepalaku, langsung hinggap di sebuah tiang.” jawab orang itu.

Ternyata pada anak panah itu terikat sehelai surat. Sehingga dengan tergesa-gesa Ki Tumenggung membukanya. Ada pun bunyi surat itu seakan-akan telah membuat jantungnya meledak.

Orang yang membawa anak panah itu dan menyerahkannya kepada Ki Tumenggung Wreda serta pengikut Ki Manuhara yang ada di rumah itu memandang wajah Ki Tumenggung dengan cemas. Seorang diantara mereka bertanya, “Ada apa Ki Tumenggung?”

“Anak iblis,” geramnya.

“Siapa dan kenapa?” bertanya pengikut Ki Manuhara.

“Antal telah diculiknya,” geram Ki Tumenggung Wreda.

“Siapa yang melakukannya?” wajah pengikut Ki Manuhara menjadi merah.

“Tentu orang-orang Purbarumeksa. Surat ini mengatakan, bahwa nanti di tanggul Kali Opak, Raras akan ditukarkan dengan Antal. Mereka sama sekali tidak berbicara tentang Rara Wulan. Jika Raras tidak diserahkan, maka untuk selamanya Antal tidak akan pulang.”

Wajah orang-orang yang mendengar keterangan itu menjadi tegang. Mereka tidak menyangka bahwa orang-orang Tumenggung Purbarumeksa akan bertindak kasar pula.

Namun seorang di antara mereka berkata, “Tidak. Mereka tidak akan berani melakukannya. Raras akan hilang dan mereka dapat membayangkan apa yang akan terjadi atas gadis itu. Yang mereka lakukan itu tentu hanya sekedar mengancam.”

“Tetapi aku pun dapat membayangkan apa yang dapat terjadi dengan Antal ditangan mereka. Semua yang aku lakukan adalah untuk Antal. Jika ia hilang dari lingkungan keluarga kami, untuk apa semua itu kami lakukan?”

“Jadi bagaimana menurut Ki Tumenggung Wreda?” bertanya orang itu.

“Antal harus kembali,” jawab Ki Tumenggung.

“Maksud Ki Tumenggung, kita tukar Raras dengan Raden Antal di tanggul Kali Opak?” bertanya pengikut Ki Manuhara.

“Lalu apa artinya kerja yang selama ini kami lakukan? Jika kami mengambil Raras itu maksud kami untuk memancing Rara Wulan karena Ki Tumenggung akan memberikan upah kepada kami jika Rara Wulan sudah ada ditangan Ki Tumenggung,” berkata orang yang lain.

“Tetapi tidak dengan mengorbankan Antal. Buat apa aku mendapatkan Rara Wulan jika Antal tidak ada? Yang ingin memiliki Wulan dan sekaligus membalas sakit hatinya adalah Antal.”

“Tetapi kita tidak pernah berbicara tentang Raden Antal. Raden Antal adalah urusan Ki Tumenggung sendiri,” berkata orang itu dengan wajah yang tegang.

“Tidak. Aku akan berbicara dengan Bajang dan Ki Manuhara. Aku akan pergi ke tanggul Kali Opak. Antal harus kembali. Kita dapat mencari jalan lain untuk mengambil Rara Wulan kemudian,” jawab Ki Tumenggung yang kebingungan

Orang-orang yang ada di rumah Ki Tumenggung memang tidak dapat mengambil keputusan. Ki Tumenggung Wreda Sela Putih memang harus bertemu dengan Bajang Bertangan Baja atau Ki Manuhara sendiri. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain, bahwa Ki Tumenggung Wreda memang harus pergi ke Tegal Wuru di tanggul Kali Opak untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara.

Dengan demikian, maka mereka pun segera bersiap, sementara malam menjadi semakin malam.

Kedatangan Ki Tumenggung tanpa Raden Antal memang mengejutkan Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara. Apalagi setelah Ki Tumenggung mengatakan bahwa Raden Antal telah hilang.

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?” desis Bajang Bertangan Baja yang menjadi tegang.

“Tidak seorang pun tahu. Antal pergi ke tempat tugasnya seperti biasa. Namun ia tidak kembali.” sahut Ki Tumenggung Wreda.

Ki Manuhara mengumpat kasar. Sementara Bajang Bertangan Baja itu menggeram, “Kita memang menjadi lengah. Kita sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu.”

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” bertanya Ki Tumenggung.

“Selama ini kita tidak berbicara tentang Raden Antal,” berkata Bajang Bertangan Embun, “tetapi ternyata mereka tidak akan menyerahkan Rara Wulan.”

“Aku memerlukan Antal,” jawab Ki Tumenggung, “segala-galanya tidak akan berarti apa-apa tanpa Antal.”

“Tetapi kami tidak dapat melepaskan Raras. Raras adalah umpan yang paling baik. Bahkan Rara Wulan pun telah dibawa ke Mataram dari Tanah Perdikan. Kami tidak mau permainan yang sudah kami atur sebaik-baiknya ini gagal karena Raden Antal,” geram Bajang Bertangan Baja.

“Aku tidak peduli. Aku minta Antal kembali,” berkata Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

“Ini merupakan persoalan tersendiri,” jawab Ki Manuhara.

“Ambil Antal. Persoalan Rara Wulan akan kami bicarakan lagi,” berkata Ki Tumenggung.

“Lalu apa artinya kerja kami sampai saat ini jika Rara Wulan tidak kami dapatkan?” bertanya Bajang Bertangan Baja.

“Aku akan menepati semua perjanjian yang telah kami buat,” jawab Ki Tumenggung Wreda.

Bajang dan Ki Manuhara mengumpat-umpat. Mereka memang tetap akan menerima upah. Tetapi harga diri mereka ternyata telah tersinggung. Sekali lagi mereka dikalahkan bukan di medan pertempuran, tetapi dalam permainan yang mendebarkan itu.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara tidak dapat menerima kekalahan itu begitu saja. Meskipun Ki Tumenggung Wreda sudah mengatakan bahwa upahnya akan tetap diterima jika Raden Antal kembali kepadanya meskipun tanpa Rara Wulan, namun bahwa mereka telah gagal merupakan persoalan tersendiri. Dendam di jantung Ki Manuhara telah bertumpuk sejak kekalahannya di alun-alun. Lembu jantan yang dilepasnya tidak sempat mengacaukan dan membunuh sebanyak-banyaknya disaat orang-orang Mataram berkumpul di alun-alun karena dua orang anak muda yang telah berhasil membunuhnya. Kemudian kekalahan Ki Manuhara di rumah Ki Lurah Branjangan. Kekalahan yang menyakitkan, karena orang-orang terbaiknyalah yang diserahi tugas saat itu. Dan kekalahan yang paling pahit adalah kekalahan Ki Manuhara di Tanah Perdikan Menoreh. Hampir saja ia kehilangan nyawanya jika Bajang Bertangan Embun tidak sempat menolongnya.

Tetapi Ki Manuhara itu masih harus mengalami kegagalan lagi, justru saat ia bekerja bersama Bajang Bertangan Embun itu sendiri. Mereka telah gagal untuk mendapatkan Rara Wulan.

Untuk sementara Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara itu terpaksa menerima permintaan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih untuk menukarkan Raras dengan Raden Antal, karena mereka memang tidak mempunyai pilihan lain.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Bajang Bertangan Baja, Ki Manuhara, Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan beberapa orang pengikut Ki Manuhara yang tersembunyi telah menyiapkan Raras di Tegal Wuru, dekat tanggul susukan Kali Opak. Ditempat yang terhitung agak jauh dan sepi itu, tukar-menukar akan dilaksanakan sebelum tengah malam.

Pada saat mereka hampir tidak sabar menunggu menjelang tengah malam, maka mereka telah mendengar derap kaki kuda. Tiga orang dan besar, telah memasuki padang rumput Tegal Wuru.

Tetapi semakin dekat, mereka yang sudah ada di Tegal Wuru itu melihat, bahwa seekor kuda diantaranya, seekor kuda yang tegar dan besar, telah membawa dua orang di punggungnya.

Tiga ekor kuda itu berhenti di tengah-tengah padang rumput Tegal Wuru itu. Empat orang penunggangnya pun segera meloncat turun. Namun seorang di antara mereka ternyata tidak memiliki kebebasan sebagaimana tiga orang yang lain.

Jantung Ki Tumenggung Wreda berdenyut semakin cepat. Ia dapat menduga bahwa orang yang nampaknya dikuasai oleh ketiga orang yang lain itu adalah anaknya. Raden Antal.

Demikianlah, Ki Tumenggung Wreda yang tidak sabar lagi itu telah mengajak Bajang Bertangan Baja membawa Raras ke tengah-tengah padang rumput Tegal Wuru itu.

Suasana di dekat tanggul susukan Kali Opak itu menjadi tegang. Seakan-akan Tegal Wuru itu terbagi menjadi dua ujung. Yang satu sekelompok anak-anak muda yang membawa Raden Antal, sedangkan yang lain orang-orang tua yang berilmu sangat tinggi berdiri tegang sambil membawa seorang gadis yang hampir tidak lagi dapat menyadari apa yang terjadi. Raras yang menangis terus-menerus itu airmatanya rasa-rasanya telah menjadi kering dalam keputus-asaan. Ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi atas dirinya.

Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu lah yang memulai memecahkan keheningan malam yang tegang didekat tanggul susukan Kali Opak itu. Katanya, “Aku telah membawa Raden Antal.”

“Licik kau,” geram Bajang Bertangan Baja.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau masih juga bertanya?” geram Bajang Bertangan Baja dengan suara bergetar menahan kemarahan.

“Serahkan Raras. Aku akan menyerahkan Raden Antal,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Bajang Bertangan Baja menggeram. Tetapi Ki Tumenggung Wreda itu pun berdesis, “Serahkan perempuan itu.”

“Aku tidak mau menerima penghinaan ini,” berkata Ki Manuhara. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongannya.

Namun Ki Tumenggung berkata, “Kita akan membuat perhitungan kemudian. Tetapi selamatkan dahulu anakku,” berkata Ki Tumenggung itu pula.

Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara memang tidak mempunyai pilihan lain saat itu. Betapa mereka menyesal, bahwa mereka sama sekali tidak mengawasi keselamatan Raden Antal. Namun segalanya telah terjadi. Mereka memang harus mengalah malam itu.

Demikianlah Bajang Bertangan Baja itu telah mendorong Raras maju selangkah. Kemudian, katanya, “Biarlah gadis ini berjalan menuju kearah kalian. Lepaskan Raden Antal. Biarlah ia berjalan kemari.”

Agung Sedayu ternyata setuju. Namun ia berpesan kepada Glagah Putih dan Sabungsari yang menyertainya, “Berhati-hatilah.”

Agung Sedayu pun kemudian mendorong Raden Antal pula sambil berkata, “Jangan berjalan terlalu cepat. Kami membawa busur dan anak panah. Jika kau berjalan terlalu cepat, maka punggungmu akan berlubang. Kau tahu, bahwa aku mampu membidik burung yang sedang terbang atau seekor tikus yang berlari di pematang. Apalagi punggungmu.”

Raden Antal tidak menjawab. Tetapi ia memang melihat Sabungsari membawa busur dan anak panah.

Demikianlah, maka Bajang pun telah mendorong Raras sambil berkata, “Pergi ke orang-orang yang menyelamatkanmu itu. Tetapi ingat, bahwa kemungkinan buruk masih akan dapat terjadi atasmu. Mungkin besok, mungkin lusa atau kapan saja.”

Perasaan Raras rasa-rasanya sudah tidak mampu lagi menanggapi kata-kata itu. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun ia masih merasa dorongan tangan yang kuat, sehingga hampir saja ia jatuh terjerembab.

“Cepat. Pergi kepada mereka, atau kau akan aku cekik sampai mati disini,” bentak Bajang Bertangan Baja.

Raras memang berjalan kearah yang ditunjuk oleh Bajang Bertangan Embun itu. Dalam keremangan malam ia melihat beberapa orang berdiri pada jarak beberapa puluh langkah. Tetapi ketika kakinya terayun, maka ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi atas dirinya. Apakah nasibnya akan bertambah baik atau justru sebaliknya.

Namun setelah beberapa langkah Raras berjalan, serta merasa semakin jauh dari orang-orang yang telah membuatnya seakan-akan kehilangan dirinya sendiri, maka nalarnya mulai bergetar di kepalanya.

Ia mulai mempertanyakan didalam hatinya, apa yang sedang dihadapinya. Dan apa pula yang akan terjadi pada dirinya.

Namun ternyata bahwa Raras tetap tidak mengerti apa yang sedang terjadi itu. Kenapa ia harus berjalan menuju ke bayang-bayang yang nampak dalam kegelapan malam dihadapannya. Siapa pula mereka dan apa pula yang akan diperlakukan atas dirinya.

Sementara itu dari arah lain Raden Antal berjalan perlahan-lahan. Berbeda dari Raras, maka Raden Antal sadar sepenuhnya apa yang terjadi pada dirinya. Ia pun sadar penuh bahwa orang yang berjalan berlawanan arah dengan dirinya itu adalah Raras. Dan ia pun tahu bahwa orang-orang yang berdiri di ujung yang lain itu tentu Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara, orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Meskipun ia tidak tahu siapakah yang seorang lagi, namun Raden Antal memperhitungkan bahwa orang itu tentu juga orang yang berilmu tinggi pula.

Sambil berjalan, tiba-tiba timbul satu pikiran di kepalanya. Ia tidak mau menyerah begitu saja atas peristiwa yang terjadi pada dirinya. Ia pun tidak mau gagal sama sekali tanpa mendapatkan orang-orang yang berilmu tinggi itu, maka Raden Antal ingin berbuat sesuatu.

Selangkah demi selangkah Raden Antal berjalan maju berlawanan arah dengan Raras. Sekali-sekali Raden Antal memang berpaling kepada orang-orang yang melepaskannya. Selangkah demi selangkah ia menjadi semakin jauh sementara malam terasa cukup gelap meskipun mereka berada ditempat terbuka.

Semakin lama Raden Antal itu menjadi semakin dekat dengan Raras. Sementara itu, Raras yang getaran kesadarannya menjadi semakin menguasai penalarannya, tiba-tiba saja merasa perlu untuk mengambil jarak dari orang yang berjalan berlawanan arah itu, meskipun Raras tidak begitu mengerti artinya.

Tetapi Raras telah terlambat Raden Antal itu sudah begitu dekat berdiri beberapa langkah saja dihadapannya.

Karena itu, ketika ia melihat Raras melangkah menjauhi arah langkahnya, maka tiba-tiba saja Raden Antal itu meloncat menerkam Raras yang tidak mampu berbuat apa-apa. Yang terjadi itu begitu tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya. Apalagi Raras adalah seorang gadis biasa yang tidak memiliki kemampuan sebagaimana Rara Wulan.

Karena itu, maka keduanya telah jatuh bergulingan. Sementara Raden Antal berteriak, “Aku telah mendapatkannya. Tahanlah anak-anak yang telah berbuat licik itu.”

Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sabungsari terkejut. Bahkan Bajang Bertangan Baja, Ki Manuhara dan Ki Tumenggung Wreda pun terkejut pula. Namun teriakan Raden Antal itu telah menyadarkan mereka. Dengan cepat mereka tanggap, bahwa dengan demikian masih ada kemungkinan untuk mendapatkan Raras Kembali. Dan bahkan apabila mungkin menghancurkan anak-anak muda yang sombong dari Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun mereka tahu bahwa di antara mereka terdapat Agung Sedayu.

Karena itu, maka dengan cepat Bajang Bertangan Baja itu berkata, “Kita selamatkan Raden Antal. Kita pun akan merebut Raras kembali.”

“Ya, sekarang,” geram Ki Manuhara sambil bergerak.

Namun Bajang Bertangan Baja sempat berkata sambil berlari, “Panggil orang-orangmu.”

Sambil berlari pula Ki Manuhara telah bersuit nyaring. Ia telah memberikan isyarat untuk memanggil orang-orangnya yang tersembunyi. Dengan mereka, maka ia berharap akan dapat mengatasi orang-orang yang telah menculik Raden Antal itu betapapun tinggi ilmu mereka, karena Ki Manuhara sendiri dan Bajang Bertangan Baja juga merasa memiliki ilmu yang tinggi. Ki Tumenggung Wreda yang pernah memimpin sepasukan prajurit pun tentu akan mampu terjun di gelanggang pertempuran untuk membantu anaknya itu.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sabungsari pun segera menyadari pula apa yang terjadi. Karena itu, maka mereka pun segera meloncat pula menyusul Raden Antal.

Namun dalam pada itu Sabungsari yang mendengar seseorang bersuit nyaring, segera tanggap. Tentu satu isyarat. Karena itu, maka ia pun telah mempersiapkan panah sendarennya.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, ia mendengar aba-aba, “Kepung tempat ini. Jangan biarkan gadis itu terlepas.”

Dalam sekejap beberapa orang telah berlari-larian dari dalam kegelapan bayangan pepohonan di pinggir padang rumput Tegal Wuru didekat tanggul susukan Kali Opak itu. Beberapa orang meloncat dari balik gerumbul-gerumbul perdu. Dengan sigapnya mereka berlari-larian berusaha mengepung ketiga orang yang telah membawa Raden Antal. Namun mereka pun harus mengepung dan menahan agar Raras tidak lepas dari tangan mereka.

Karena itulah, maka Sabungsari tidak berpikir terlalu panjang serta merasa tidak perlu minta pendapat Agung Sedayu dan Glagah Putih lagi. Dengan cepat ia pun memasang panah sendaren dan melepaskannya kearah Utara. Bukan hanya satu kali, tetapi tiga anak panah sendaren yang dibawanya telah dilepaskannya semuanya.

Suara anak panah sendaren itu memang mengejutkan. Bahkan hampir diluar sadar, Bajang Bertangan Baja berteriak, “Licik. Kalian telah berbuat curang.”

“Siapa yang curang?” teriak Sabungsari, “lihat, siapa yang lebih dahulu memanggil orang-orangnya.”

Bajang Bertangan Baja memang tidak menjawab lagi. Ia meloncat untuk membantu Raden Antal yang masih berguling-guling bersama Raras yang berusaha meronta dan melawan.

Tetapi Glagah Putih telah menghampirinya. Dengan serta merta Glagah Putih telah menyerang Bajang Bertangan Baja.

Sementara itu, ketika Ki Manuhara sampai ke tempat pergumulan antara Raden Antal dan Raras, Agung Sedayu pun telah sampai pula ke tempat itu, sehingga dengan demikian, maka Ki Manuhara pun telah langsung bertempur melawan Agung Sedayu.

Dalam pada itu, ternyata bahwa tenaga Raras memang tidak seimbang dengan tenaga Raden Antal. Karena itu, maka Raras pun tidak lagi mampu melawan Raden Antal yang berusaha menangkapnya dan mempergunakan sebagai jaminan agar orang-orang yang telah menculiknya tidak lagi berusaha melawan. Jika ia mengancam Raras untuk membunuhnya, maka orang-orang yang menculiknya itu tentu akan menghentikan perlawanan mereka.

Namun sebelum Raden Antal berhasil sepenuhnya, maka ia terkejut. Jari-jari yang kuat telah mencengkam pundaknya. Dengan satu hentakan yang kuat tubuhnya justru terangkat. Namun kemudian sebuah pukulan yang dahsyat telah menghantam dagunya.

Raden Antal seakan-akan telah terputar dan berguling beberapa langkah. Ketika ia berdiri dengan tertatih-tatih, maka dilihatnya seseorang telah berdiri dihadapan Raras.

Namun Raden Antal tidak mempunyai banyak kesempatan. Ternyata orang yang dihadapinya adalah Sabungsari, yang dengan cepat telah menyerangnya.

Raden Antal sama sekali tidak mengira bahwa serangan itu akan datang demikian cepatnya dan demikian derasnya. Karena itu, maka ia tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Apalagi Raden Antal masih sedang berusaha untuk berdiri tegak.

Ternyata sebuah pukulan yang keras telah menghantam sisi kening Raden Antal, sehingga kepalanya terangkat. Demikian kerasnya pukulan tangan Sabungsari itu sehingga sekali lagi Raden Antal terlempar. Malam yang gelap itu menjadi semakin gelap, sehingga akhirnya Raden Antal itu kehilangan kesadarannya. Pingsan.

Ki Tumenggung Wreda yang sudah ada diantara mereka itu pun dengan cepat berusaha membantu. Namun terlambat, sehingga hampir saja tubuh Raden Antal itu menimpanya. Tetapi Ki Tumenggung gagal mencoba menangkap tubuh anaknya yang terlempar oleh serangan Sabungsari.

Ki Tumenggung itu menggeram. Ia masih sempat memperhatikan tubuh anaknya yang terguling. Namun kemarahannya justru mendorongnya untuk menyerang Sabungsari.

Namun Sabungsari telah bersiap untuk menghadapinya. Dengan tangkasnya ia berusaha untuk menghindar.

Ki Tumenggung yang pernah menjadi seorang Senapati perang itu tidak membiarkan lawannya. Dengan cepat ia memburunya dengan serangan-serangan yang datang beruntun.

Tetapi Sabungsari tidak segera mengalami kesulitan. Ia memang berusaha untuk agak menjauhi Raras yang masih kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan sehingga untuk beberapa saat ia masih saja terbaring di rerumputan.

Dalam pada itu, Ki Manuhara yang licik itu masih sempat meneriakkan perintah, “He, Rana Sampar. Tinggalkan tempat ini. Ambil orang-orangmu dimana saja dapat kau temui. Ambil Rara Wulan dirumahnya. Orang-orang berilmu tinggi yang melindunginya ada disini. Tetapi hati-hati. Ajak Resi Belahan yang baru datang kemarin dari Pati bersamamu.”

Orang yang disebut Rana Sampar menyahut, “Baik Ki Lurah.”

Agung Sedayu melihat orang itu berlari dan menghilang dalam gelap. Kemudian terdengar seekor kuda yang meringkik dan berlari kencang meninggalkan tempat itu, menyusup dibelakang pepohonan dan gerumbul-gerumbul liar ditanggul susukan Kali Opak.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak memberikan perintah apa pun juga. Ia tahu bahwa Ki Manuhara sengaja berteriak-teriak untuk mempengaruhi ketahanan jiwani Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang datang di padang rumput Tegal Wuru itu.

Tetapi Ki Manuhara tidak tahu bahwa rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa telah dijaga oleh sekelompok prajurit Mataram yang disiapkan oleh Ki Wirayuda.

Namun, sejenak kemudian, maka para pengikut Ki Manuhara telah mengepung semakin rapat dan semakin sempit.

Beberapa saat lagi mereka tentu akan ikut memasuki arena pertempuran itu.

Sementara itu Agung Sedayu, Glagah dan Sabungsari, masing-masing telah mendapat lawan.

Yang masih membuat ketiganya gelisah adalah Raras. Ia sudah berusaha untuk bangkit dan duduk di rerumputan. Tetapi jika orang-orang yang mengepung lingkaran pertempuran itu mendekat, dan memasuki gelanggang, maka mereka memang akan dapat menangkap kembali Raras dan melarikannya atau dipergunakannya untuk memaksa Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sabungsari menghentikan perlawanan.

Namun dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja mereka sempat menarik nafas panjang. Dari arah Utara mereka melihat beberapa orang berlari-larian menuju ke arena pertempuran itu.

“Anak-anak Gajah Liwung,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Sebenarnyalah yang datang itu adalah sekelompok anak-anak muda dari kelompok Gajah Liwung. Seorang diantaranya memang sudah nampak jauh lebih tua. Ki Ajar Gurawa. Namun dalam olah kanuragan, Ki Ajar adalah orang terbaik diantara mereka.

Orang-orang yang mengepung arena pertempuran itu terkejut. Mereka melihat sekelompok orang berlari-larian. Bahkan ada diantara mereka yang berteriak-teriak seperti kanak-kanak yang mendapatkan mainan.

Perhatian orang-orang yang mengepung gelanggang itu memang terpecah. Mereka tidak sempat mengambil sikap terhadap Raras yang tidak berdaya.

Namun orang-orang yang mengepung arena pertempuran itu tidak menjadi gelisah karena yang datang itu jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah mereka.

Beberapa orang diantara mereka yang mengepung itu telah memisahkan diri untuk menghadapi beberapa orang yang baru saja datang memasuki padang rumput didekat tanggul susukan Kali Opak itu. Mereka berharap bahwa orang-orang itu akan dapat ditahan sebelum mendekati arena dan jika mungkin untuk dihalau menjauh. Tetapi anak-anak dari kelompok Gajah Liwung itu justru berpencar. Mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil dan menyerang dari berbagai arah.

Dengan demikian, maka kepungan itu pun mulai bergetar. Pertempuran tidak hanya terjadi di satu sisi. Tetapi di semua sisi dari lingkaran itu.

Ternyata orang-orang Ki Manuhara yang rata-rata telah memiliki pengalaman yang luas itu terkejut. Orang-orang yang datang itu meskipun jumlahnya tidak sebanyak mereka, namun ternyata mereka telah mengguncang kepungan yang melingkari arena pertempuran antara para pemimpin dari kelompok-kelompok yang sedang berkelahi itu.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka pertempuran pun menjadi semakin lama semakin sengit. Raras yang kebingungan tidak segera dapat mengambil sikap. Sementara itu Raden Antal yang pingsan mulai membuka matanya.

Namun Raden Antal masih memerlukan beberapa saat untuk menyadari sepenuhnya apa yang sedang terjadi disekitarnya.

Ketika ia bangkit dan duduk di rerumputan, maka ia melihat dalam keremangan malam pertempuran yang sengit telah terjadi di sekitamya. Diluar sadarnya, tiba-tiba saja ia telah melihat Raras yang juga telah duduk beberapa langkah dan padanya.

Tiba-tiba saja Raden Antal itu menemukan kesadarannya sepenuhnya. Kenapa ia berada di padang rumput itu dan kenapa Raras juga berada ditempat itu.

Karena itu, maka Raden Antal itu pun berusaha untuk mulai bergerak mendekati Raras.

Namun Raden Antal itu terkejut bukan buatan. Sabungsari yang bertempur melawan ayahnya sempat meloncat sambil menjulurkan kakinya. Sekali lagi Raden Antal yang tidak bersiap menghadapi kemungkinan itu telah terlempar beberapa langkah. Tumit Sabungsari telah mendorong punggungnya dengan kerasnya.

Nafas Raden Antal pun terasa menjadi sesak. Sekali lagi matanya menjadi berkunang-kunang. Ia masih mendengar ayahnya berteriak mengumpat. Namun kemudian Raden Antal itu telah menjadi pingsan kembali.

Demikianlah pertempuran antara Sabungsari dan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih itu berlangsung semakin sengit. Meskipun usianya sudah merambat ke hari-hari tuanya, tetapi Ki Tumenggung pernah memegang pimpinan sepasukan prajurit Mataram sebagai seorang Senapati perang. Karena itu, maka kemampuannya pun masih harus diperhitungkan oleh Sabungsari yang juga seorang prajurit Mataram yang tugasnya bahwa prajurit muda itu memiliki kemampuan yang tidak kalah dari Ki Tumenggung Wreda Sela Putih. Apalagi Sabungsari telah memiliki ilmu yang tinggi sejak ia belum menjadi seorang prajurit.

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu tidak dengan mudah dapat menguasai lawannya. Bahkan beberapa kali Ki Tumenggung sempat terdesak mundur.

Sementara itu, anak-anak Gajah Liwung yang dipimpin oleh Ki Ajar Gurawa telah semakin mengacaukan kepungan para pengikut Ki Manuhara. Meskipun setiap orang diantara anak-anak Gajah Liwung itu harus menghadapi lebih dari satu orang, tetapi ternyata bahwa mereka semakin menguasai keadaan.

Namun jumlah yang banyak itu pun mempunyai pengaruh pula. Apalagi orang-orang yang mengepung arena itu adalah orang-orang yang hidupnya memang selalu dibayangi oleh kekerasan.

Yang mencemaskan memang keselamatan Raras. Pada suatu saat Raden Antal itu tentu akan sadar lagi. Ia akan dapat menguasai Raras sehingga akan dapat menjadi taruhan dalam pertempuran itu. Sementara itu Sabungsari masih saja bertempur melawan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

Dalam pada itu, maka kecemasan Sabungsari pun meningkat ketika tiba-tiba saja ia mendengar Bajang Bertangan Baja itu berteriak, “Kuasai perempuan celaka itu.”

Teriakan itu memang menggerakkan hati para pengikut Ki Manuhara. Apalagi jumlah mereka memang lebih banyak, sehingga memungkinkan satu dua orang untuk memisahkan diri dari benturan kekerasan itu dan menguasai Raras.

Namun teriakan Bajang Bertangan Baja itu juga didengar oleh Sabungsari. Karena itu, maka ia memutuskan untuk menghentikan perlawanan Ki Tumenggung. Meskipun Ki Tumenggung pernah menjadi seorang Senapati, namun ternyata bahwa kelebihan Sabungsari kecuali kemudaannya yang mendukung kekuatan wadagnya, juga kemampuan ilmunya yang tinggi. Setelah ia mampu membuka hambatan didalam dirinya atas petunjuk dan tuntunan Agung Sedayu, maka tenaga didalam tubuh Sabungsari yang tersimpan rapat itu mampu mengalir dengan derasnya.

Karena itulah ketika Sabungsari menghentakkan tenaga dalamnya maka ia pun dengan serta merta mampu mendesak Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

Namun rasa-rasanya keadaan menjadi semakin mendesak. Ia memang mulai melihat satu dua orang mencoba untuk melepaskan diri dari pertempuran. Sekali dua kali anak-anak Gajah Liwung masih mampu menahan mereka. Namun Sabungsari memperhitungkan bahwa pada suatu saat, tentu akan ada satu atau dua orang yang dapat lolos dan mempunyai kesempatan untuk menguasai Raras.

Memang terbersit di hatinya untuk menghentikan perlawanan Ki Tumenggung dengan kemampuan ilmu puncaknya. Sabungsari pun yakin, jika ia mengetrapkan ilmunya lewat sorot matanya, maka Ki Tumenggung tidak akan mampu bertahan. Tetapi Sabungsari masih mempunyai beberapa pertimbangan. Ia tidak ingin membunuh Ki Tumenggung agar persoalannya tidak menjadi berkepanjangan karena bagaimanapun juga Ki Tumenggung adalah salah seorang pemimpin di Mataram. Selain itu ia masih mempunyai pertimbangan bahwa Ki Tumenggung akan dapat melihat kenyataan tentang tingkah laku anak laki-lakinya itu.

Namun Sabungsari tidak dapat memberikan kesempatan lebih lama lagi kepada Ki Tumenggung sehubungan dengan keselamatan Raras karena beberapa orang semakin menaruh perhatian atasnya.

Dengan demikian, maka Sabungsari itu telah mengerahkan segenap kemampuannya dengan dukungan tenaga cadangan didalam dirinya yang telah mampu ditumpahkannya tanpa hambatan.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Wreda Sela Putih pun semakin mengalami kesulitan menghadapi Sabungsari yang terasa menjadi semakin garang. Meskipun demikian Ki Tumenggung itu tidak segera dapat dikuasainya. Bahkan sekali-sekali Ki Tumenggung yang memiliki pengalaman yang luas itu, sempat juga membuat Sabungsari terkejut.

Sementara itu, Glagah Putih yang bertempur melawan Bajang Bertangan Baja itu pun semakin lama menjadi semakin sengit pula. Sedangkan Ki Manuhara yang mengetahui betapa tinggi ilmu Agung Sedayu harus bertempur dengan sangat berhati-hati.

Ki Manuhara tahu pasti, bahwa Agung Sedayu telah mampu membunuh Ki Samepa yang memiliki landasan ilmu sebagaimana Ki Manuhara sendiri. Namun Ki Manuhara masih merasa memiliki landasan yang lebih kuat dari Ki Samepa itu.

Dalam pada itu, maka Sabungsari ternyata tidak mempunyai pilihan lain. Ketika keadaan Raras menjadi semakin gawat, sementara anak-anak dari kelompok Gajah Liwung masih sibuk melayani lawan yang jumlahnya lebih banyak, maka Sabungsari pun telah mengambil keputusan.

Dengan berat hati Sabungsari harus menghentikan perlawanan Ki Tumenggung yang tidak dapat dikalahkannya dengan kemampuannya saja. Karena itu, maka Sabungsari pun mulai merambah ke ilmu andalannya. Tetapi Sabungsari masih sempat berpikir, bahwa ia tidak ingin membunuh Ki Tumenggung.

Karena itu oleh keadaan yang sangat mendesak, maka Sabungsari telah menyerang Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dengan ilmu yang dipancarkannya lewat sorot matanya. Tetapi Sabungsari tidak langsung menyerang ke arah dada. Dengan mengendalikan dirinya sendiri Sabungsari telah menghantam sasaran sejengkal dihadapan Ki Tumenggung Wreda.

Serangan Sabungsari itu memang sangat mengejutkan. Ki Tumenggung memang tidak mengira bahwa ia dengan tiba-tiba telah mendapat serangan yang demikian dahsyatnya.

Karena itu, maka Ki Tumenggung tidak sempat menghindarkan dirinya. Meskipun serangan itu tidak langsung ke tubuhnya, namun tanah berpasir dan kerikil sejengkal dihadapannya itu bagaikan diledakkan. Tanah berbatu kerikil dan berpasir didekat tanggul Kali Opak itu bagaikan dilontarkan menyembur ke arah tubuh Ki Tumenggung.

Sebenarnyalah serangan itu memang telah mengguncangkan pertahanan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

Hamburan pasir dan batu-batu kerikil itu telah menyakiti tubuhnya. Bahkan melukai kulitnya. Untunglah bahwa dengan cepat Ki Tumenggung masih sempat memalingkan wajahnya sehingga pasir dan kerikil itu tidak mengenai matanya.

Namun dengan demikian, maka pertahanannya yang terguncang itu telah memberikan kesempatan kepada Sabungsari untuk menyerangnya. Tidak dengan kekuatan ilmunya yang dapat dilontarkannya lewat sorot matanya. Tetapi dengan cepat dan sepenuh tenaganya Sabungsari telah menyerang dengan kakinya menghantam dada Ki Tumenggung. Didorong oleh tenaga dalamnya yang besar, maka serangan Sabungsari itu mampu mengoyak daya tahan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih, sehingga Ki Tumenggung itu telah terlempar beberapa langkah surut dan jatuh berguling di tanah. Nafasnya tiba-tiba terasa sesak, sehingga gelap malam itu pun seakan-akan menjadi semakin pekat. Ternyata seperti Raden Antal yang masih terbaring diam, maka Ki Tumenggung pun menjadi pingsan, sehingga tubuhnya diam terbujur di tanah.

Pada saat yang demikian, Sabungsari sempat melihat seseorang yang berlari langsung menuju ke tempat Raras duduk, sambil mengacukan sebilah tombak pendek. Orang itu hampir berhasil menguasai Raras sementara Sabungsari berdiri agak jauh setelah bertempur melawan Ki Tumenggung Wreda.

Karena itu, maka Sabungsari pun tidak mempunyai cara lain. Ia terpaksa melontarkan serangannya pada jarak yang agak jauh itu lewat sorot matanya.

Serangan yang tergesa-gesa itu telah menyambar tubuh Orang yang membawa tombak pendek itu. Diluar perhitungan orang itu, maka serangan itu telah menghantam dadanya sehingga rasa-rasanya dadanya telah meledak.

Orang itu sama sekali tidak tahu lagi apa yang terjadi. Ia telah ditelan oleh maut pertama kali di arena pertempuran yang semakin keras itu.

Tetapi disaat-saat berikutnya kematian telah menyusul pula. Anak-anak dari kelompok Gajah Liwung memang tidak mempunyai pilihan lain. Senjata mereka pun telah menembus kulit daging lawan-lawannya yang jumlahnya terlalu banyak. Ki Ajar Gurawa pun telah melumpuhkan beberapa orang lawan-lawannya, betapapun ia tidak ingin asal saja melakukan pembunuhan. Anak-anak Gajah Liwung yang selalu mendapatkan bimbingan kajiwan itu memang bukan pembunuh yang sewenang-wenang. Namun mereka memang merasa berhak untuk mempertahankan hidup mereka di pertempuran itu. Namun akibatnya mereka telah membunuh pula.

Demikianlah pertempuran di Tegal Wuru itu menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak yang telah terpercik keringat dan darah itu menjadi semakin keras dan kasar.

Dalam pada itu, maka Bajang Bertangan Baja dan Ki Manuhara yang telah mengetahui kemampuan lawannya tidak merasa perlu untuk menjajagi lagi kemampuan lawannya. Karena itu, maka mereka agaknya telah langsung meningkatkan kemampuan mereka sampai lapisan tertinggi.

Dengan demikian maka pertempuran diantara Bajang Bertangan Baja melawan Glagah Putih dan Ki Manuhara melawan Agung Sedayu merupakan pertempuran yang sangat seru. Benturan-benturan kekuatan dan kemampuan diantara mereka seakan-akan telah mengguncang Tegal Wuru yang jarang dirambah orang itu.

Sementara itu, Sabungsari pun telah mengerahkan kemampuannya. Ternyata tidak hanya seorang yang bersenjata tombak itu sajalah yang berusaha untuk menguasai Raras. Karena itu maka ia pun harus bertempur melawan beberapa orang yang berusaha untuk menguasai Raras yang tidak tahu apa yang harus diperbuat itu.

Bagi para pengikut Ki Manuhara, maka Raras akan dapat dijadikan alat untuk menyelesaikan pertempuran itu.

Tetapi Sabungsari adalah orang yang berilmu tinggi. Tidak seorang pun diantara para pengikut Ki Manuhara yang mampu menembus pertahanannya. Setiap kali ada yang berusaha untuk menggapai Raras yang masih terduduk kebingungan itu, maka Sabungsari selalu berhasil menggagalkannya.

Bajang Bertangan Baja yang merasa dirinya memiliki ilmu yang mumpuni berusaha dengan cepat untuk mengakhiri perlawanan Glagah Putih. Perlahan-lahan Bajang Bertangan Baja itu pun telah menekan Glagah Putih dengan puncak ilmunya. Sentuhan-sentuhan yang terjadi memang membuat Glagah Putih terkejut. Tangan orang kerdil itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

Namun tenaga Bajang Bertangan Baja yang sangat besar itu tidak membuat Glagah Putih tergetar. Ternyata bahwa Glagah Putih pun telah meningkatkan tenaga dalamnya pula, sehingga kekuatannya justru tetap mengimbangi kekuatan lawannya yang semakin besar.

Bajang Bertangan Baja memang sudah menduga bahwa Glagah Putih akan mampu mengimbangi kekuatan tenaganya. Tetapi satu hal yang harus diperhitungkan kemudian oleh Glagah Putih adalah bahwa tangan Bajang itu rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin keras. Sentuhan-sentuhan yang terjadi kemudian membuat tubuh Glagah Putih merasa nyeri.

Namun Glagah Putih segera menyadari, agaknya karena itulah maka Bajang itu menyebut dirinya Bajang Bertangan Baja.

Tetapi Glagah Putih masih mampu mengatasinya dengan kecepatan geraknya. Dengan loncatan-loncatan yang cepat, maka Glagah Putih berusaha menghindari sentuhan tangan orang kerdil yang garang itu.

Bahkan sekali-sekali Glagah Putih justru mampu menembus pertahanan orang kerdil itu.

Namun ternyata semakin lama orang kerdil itu pun mampu mempercepat geraknya. Bahkan tatanan gerak itu justru menjadi semakin rumit. Kakinya yang pendek bergerak-gerak dengan cekatan melontarkan tubuhnya yang kecil melingkar-lingkar.

Namun Glagah Putih yang masih muda itu ternyata memiliki pengalaman yang cukup. Pengamatannya yang tajam, serta landasan ilmunya yang tinggi. Masa-masa pengembaraannya bersama Raden Rangga memberikan banyak pengalaman kepadanya serta memperluas sudut pandangnya tentang olah kanuragan. Sedangkan Raden Rangga sendiri yang sering berbuat yang aneh-aneh, serta unsur dan tatanan gerak yang dikuasai kadang-kadang diluar kewajaran, membuat Glagah Putih tidak mudah terkejut dan heran melihat unsur dan tatanan gerak yang belum pernah dilihat sebelumnya. Apalagi Raden Rangga pernah mengangkat alas kemampuannya sehingga apa yang ada padanya, segala-galanya seakan-akan telah meningkat dengan sendirinya.

Bajang Bertangan Baja itulah yang kemudian justru menjadi heran menghadapi anak muda itu. Ia memang pernah melihat sepintas di Tanah Perdikan Menoreh apa yang mampu dilakukan oleh anak-anak muda yang diburu oleh Ki Manuhara itu. Namun ternyata yang sekilas itu tidak memberikan gambaran yang lengkap tentang kemampuan Glagah Putih. Di Tanah Perdikan Menoreh, Glagah Putih masih dapat dilukai dengan sejenis ilmu yang disebut Aji Pacar Wutah meskipun anak muda itu berhasil membunuh lawannya. Namun ketika Bajang Bertangan Embun itu sendiri menghadapinya, maka terasa betapa ilmu anak muda itu memang sangat tinggi.

Bajang Bertangan Baja itu memang masih mampu meningkatkan ilmunya lebih tinggi lagi. Namun lawannya yang muda itu ternyata masih saja mengimbanginya. Jika Bajang itu bergerak dengan kecepatan yang tidak kasat mata, maka Glagah Putih justru mengekang diri untuk tidak terlalu banyak bergerak. Glagah Putih seakan-akan justru berdiri tegak sambil bergeser berputar berporos pada kakinya yang seakan-akan terhunjam dalam-dalam ke pusat bumi.

Namun demikian, jika serangan-serangan Bajang itu datang bergulung-gulung seperti ombak di lautan, maka Glagah Putih pun seakan-akan telah hilang dari tempatnya dan justru serangan-serangan balasannya datang seperti badai.

Di sisi lain, Ki Manuhara bertempur dengan sengitnya melawan Agung Sedayu. Dua kekuatan raksasa yang bertemu itu rasa-rasanya telah mengguncang seluruh Tegal Wuru. Bahkan tanggul susukan Kali Opak itu pun bagaikan diterpa gempa yang menggetarkan bumi.

Kedua orang yang bertempur itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Keduanya saling mendesak dan saling bertahan. Sambaran-sambaran serangan Ki Manuhara seakan-akan datang dari segala arah. Namun Agung Sedayu itu mampu menghindar dengan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan oleh Ki Manuhara. Seakan-akan tubuh Agung Sedayu itu menjadi sama sekali tidak berbobot. Tubuh itu melenting, melingkar, bahkan seakan-akan terbang diatas kepalanya sambil berputaran di udara.

“Ilmu iblis manakah yang ada didalam dirinya,” geram Ki Manuhara yang mulai gelisah.

Namun sambaran-sambaran angin Ki Manuhara itu ternyata berpengaruh juga atas pertahanan Agung Sedayu. Semakin lama terasa menjadi semakin deras menerpa tubuh Agung Sedayu meskipun serangan itu sendiri tidak mengenainya.

Tetapi pengaruh sentuhan getar udara itu sendiri tidak banyak mengganggu Agung Sedayu yang memang memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Karena itu, maka Ki Manuhara sama sekali masih belum mampu mengatasi lawannya yang masih jauh lebih muda dari Ki Manuhara itu.

Karena itu, maka Ki Manuhara yang tidak ingin kehilangan banyak kesempatan dan waktu itu pun segera menyerang Agung Sedayu dengan ilmunya Sapta Prahara. Dengan kencangnya angin telah menyambar Agung Sedayu bagaikan tiupan tujuh kali kekuatan angin prahara. Pada saat-saat Agung Sedayu seakan-akan terbang tanpa bobot, Ki Manuhara berniat menghembus dan melemparkan Agung Sedayu sehingga tubuhnya akan membentur tanggul susukan Kali Opak.

Tetapi niat itu tidak pernah dapat terjadi. Dalam keadaan apa pun Agung Sedayu mampu menghindari hembusan angin prahara itu. Sambil menggeliat, berputar di udara dan bergeser ke samping dengan cepatnya, maka angin itu bagaikan berhembus lewat tanpa menyentuhnya. Jika sekali-sekali angin itu dapat mengenainya ternyata tubuh Agung Sedayu bukan hanyut bagaikan kapuk yang tidak mempunyai berat sama sekali. Tetapi tubuh yang mampu melayang-layang dan bagaikan terbang itu, justru tiba-tiba menjadi bagaikan sebongkah batu hitam yang beratnya tidak mampu diguncang oleh prahara yang betapapun dahsyatnya.

Ki Manuhara yang merasa bahwa Sapta Praharanya tidak banyak berpengaruh bagi lawannya, tiba-tiba telah menyerang Agung Sedayu dengan ilmunya yang lain. Tidak banyak ancang-ancang yang diperlukan.

Karena itu, Agung Sedayu benar-benar terkejut ketika ia merasakan dadanya bagaikan dihentak-hentak oleh kekuatan raksasa yang tidak disadari sebelumnya.

Hampir diluar sadarnya, Agung Sedayu telah terdorong surut. Namun getaran yang menghentak-hentaknya itu seakan-akan telah memburunya kemana ia pergi.

Baru kemudian Agung Sedayu menyadari, bahwa serangan itu adalah serangan ilmu yang jarang ada tandingnya, yang dilepaskan oleh Ki Manuhara. Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang olah kanuragan serta memiliki ilmu yang tinggi, maka Agung Sedayu pun segera mengenalnya, bahwa ilmu yang dilontarkan oleh Ki Manuhara itu adalah Aji Rog-rog Asem.

Agung Sedayu yang menyadari tingkat kemampuan ilmu lawannya yang sangat tinggi itu pun segera mengetrapkan perisai yang sulit untuk ditembus. Dalam waktu yang sekejap, Agung Sedayu telah melindungi dirinya dengan ilmu kebalnya. Ilmu yang hanya dapat ditembus oleh ilmu yang sangat tinggi.

Dalam pada itu, ilmu Rog-rog Asem yang dilontarkan oleh Ki Manuhara memang masih terasa menyentuh jantung Agung Sedayu. Namun perlindungan ilmu kebalnya membuatnya tidak mengalami kesulitan dengan sentuhan kekuatan ilmu Rog-rog Asem itu. Sehingga dasar daya tahan Agung Sedayu dapat mengatasinya.

Karena itu, maka kemudian. Agung Sedayu pun telah bertempur dengan serunya. Ilmu Rog-rog Asem itu seakan-akan tidak terlalu banyak berpengaruh banyak atasnya.

Sementara Ki Manuhara menjadi gelisah karena tingkat kemampuan lawannya, maka Sabungsari pun telah bertempur melawan tiga orang pengikut Ki Manuhara. Ki Tumenggung Wreda Sela Putih masih terbaring diam. Silirnya angin dan sejuknya udara malam belum berhasil membuatnya sadar kembali.

Raden Antal lah yang kemudian menggeliat. Perlahan-lahan ia bangkit. Sekali lagi ia melihat Raras yang ketakutan dan duduk bagaikan membeku.

Namun demikian Raden Antal mulai beringsut, Sabungsari yang bertempur melawan tiga orang itu pun berkata, “Raden Antal, kenapa kau tidak melihat keadaan ayahmu? Apakah ia masih hidup atau sudah mati?”

Pertanyaan itu sangat mengejutkan Raden Antal. Ketika ia memandang berkeliling, maka dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring diam. Tubuh Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

Karena itu, maka perhatiannya pun segera bergeser dari Raras kepada sosok tubuh Ki Tumenggung Wreda Sela Putih.

Raden Antal pun seakan-akan telah melupakan Raras serta keadaan sekelilingnya. Dengan serta merta ia pun telah berlari kearah tubuh yang terbaring diam itu.

“Ayah, ayah,” Raden Antal mengguncang tubuh ayahnya.

Untuk sementara Sabungsari dapat melepaskan Raden Antal. Anak muda itu tentu masih lebih memperhatikan ayahnya daripada Raras. Karena itu, maka Sabungsari masih sempat mengusir lawan-lawannya. Dua orang diantara ketika lawannya ternyata telah terluka di bagian dalam tubuhnya. Sementara itu, yang seorang lagi berusaha untuk melawan Sabungsari dengan sebilah pedang. Namun ternyata Sabungsari memiliki ilmu pedang yang jauh lebih baik dari lawannya, sehingga lawannya itu justru kehilangan kesempatan untuk mempertahankan dirinya. Dadanya telah terkoyak oleh ujung pedang Sabungsari.

Dua orang yang lain telah datang pula membantu. Tetapi kedua-duanya juga tidak mampu bertahan terhadap ilmu pedang Sabungsari sehingga mereka sama sekali tidak berhasil menyentuh Raras. Meskipun seorang diantaranya hampir, saja sempat menyeret Raras. Tetapi pedang Sabungsari demikian cepat menyambarnya, sehingga luka yang kemudian menganga di lambungnya, telah membatalkan niatnya itu.

Di sisi lain dari medan yang keras itu, Ki Ajar Gurawa telah membuka lingkaran para pengikut Ki Manuhara. Sulit bagi para pengikut Ki Manuhara itu untuk menahan Ki Ajar Gurawa. Meskipun beberapa orang bersama-sama melawannya, namun usaha mereka tidak berhasil. Apalagi anak-anak Gajah Liwung yang lain pun ternyata sulit untuk ditahan. Mereka bergerak semakin dekat dengan arena pertempuran para pemimpin dari kedua belah pihak.

Sementara itu, Sabungsari yang telah mengusir orang-orang yang berusaha untuk menguasai Raras dengan cepat meloncat mendekatinya ketika Raden Antal mulai memperhatikan Raras lagi, setelah Ki Tumenggung Wreda Sela Putih sadar.

Tetapi ketika Raden Antal beringsut, maka Ki Tumenggung telah menarik lengannya sambil berdesis, “Biarkan saja gadis itu. Kau harus memikirkan keselamatanmu.”

“Tetapi aku perlukan gadis itu jika Rara Wulan tidak dapat kita ambil.”

“Kau tidak akan mendapatkannya sekarang,” berkata ayahnya, “tetapi bukankah kau masih mempunyai hari-hari yang lain?” sahut ayahnya.

Raden Antal memang menjadi termangu-mangu. Ia melihat pertempuran yang sengit di keremangan malam. Apalagi ketika ia melihat Sabungsari yang kemudian menarik lengan gadis itu untuk berdiri dan beringsut menjauhi pertempuran antara para pemimpin dari kedua belah pihak yang berilmu tinggi.

Raden Antal menggeretakkan giginya. Ia sudah mulai membayangkan bahwa ia akan gagal menguasai Raras kembali untuk memancing Rara Wulan atau jika tidak, Raras itu sendiri yang akan dimilikinya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Ilmunya tidak cukup tinggi untuk memecahkan perlindungan Sabungsari atas Raras. Bahkan ayahnya pun tidak mampu mengalahkan anak muda itu.

Namun dalam pada itu, Sabungsari yang sedang bergeser menjauhi pertempuran antara para pemimpin kelompok-kelompok yang bermusuhan itu sempat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa ia tidak membunuh Ki Tumenggung yang kemudian telah menjadi sadar kembali.

Raras yang merasa dirinya berada di bawah perlindungan seseorang yang dapat dipercayainya, mulai dapat menilai apa yang telah terjadi. Tetapi bahwa pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya, membuat jantungnya masih tetap berdegup keras.

Dalam pada itu, selagi di sebelah tanggul susukan Kali Opak itu masih terjadi pertempuran yang sengit, maka salah seorang pengikut Ki Manuhara tengah berpacu dengan kudanya. Orang itu, Rana Sampar, telah mendapat perintah untuk mengambil Rara Wulan dirumahnya. Namun sebelum ia melakukannya, maka Rana Sampar itu harus menemui orang yang bernama Resi Belahan. Seorang berilmu tinggi yang baru saja datang dari Pati. Seorang sahabat baik dari Ki Manuhara. Bukan sekedar sahabat, tetapi dalam banyak hal mereka mempunyai pandangan dan sikap yang sama.

Ketika Rana Sampar berhasil bertemu dengan Resi Belahan, maka ia pun segera menyampaikan maksudnya.

Resi Belahan memang tidak dengan serta menerima pesan Ki Manuhara. Dengan keningnya yang berkerut, ia berkata, “Aku datang menemui Ki Manuhara sama sekali tidak ada hubungannya dengan usahanya untuk menculik seorang gadis. Aku juga tidak berhubungan sama sekali dengan Bajang Bertangan Baja.”

“Tetapi Ki Manuhara berada dalam kesulitan sekarang,” sahut Rana Sampar.

“Aku justru harus menegurnya. Kenapa ia telah melakukan satu tindakan yang bodoh sebelum ia berhasil melakukan niatnya datang ke Mataram,” jawab Resi Belahan.

“Ceritanya panjang,” jawab Rana Sampar, “tetapi yang terpenting bahwa Ki Manuhara jiwanya telah diselamatkan oleh Bajang Bertangan Baja ketika Ki Manuhara hampir terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Tetapi itu bukan berarti bahwa ia dapat mengorbankan diri dan orang-orangnya untuk kepentingan Bajang Bertangan Baja,” jawab Resi Belahan.

“Bukan sekedar itu,” jawab Rana Sampar, “tetapi Ki Manuhara juga memerlukan dukungan beaya untuk melakukan rencananya. Dengan membantu Bajang Bertangan Baja, selain membalas budi, Ki Manuhara pun mendapatkan uang yang meskipun tidak terlalu banyak tetapi cukup memadai untuk menambah beaya yang tinggal sedikit yang ada padanya sehingga kekuatannya dapat tegak kembali di Mataram ini.”

“Sayang, Rana Sampar,” jawab Resi Belahan, “aku tidak mau menjual diri seperti Ki Manuhara.”

“Tetapi yang dilakukan Ki Manuhara sama sekali tidak bertentangan dengan niat dan rencananya datang ke Mataram, karena Bajang Bertangan Baja itu kemudian akan dapat membantu kewajiban-kewajiban yang harus dilakukannya di Mataram.”

Tetapi Resi Belahan itu menggeleng. Katanya, “Sayang, aku tidak dapat membantu Rana Sampar. Katakan kepada Ki Manuhara bahwa aku datang dengan niat yang satu. Bukan yang lain-lain. Jika aku terluka atau bahkan mati, maka aku akan menyesal sepanjang jaman.”

“Jika kau mati, maka kau tidak akan dapat menyesal lagi,” jawab Rana Sampar.

“Nah, jika aku menjadi cacat, maka hidupku yang tersisa akan menjadi siksa yang tidak berkeputusan. Bukankah di Mataram banyak terdapat orang berilmu tinggi?”

“Ki Manuhara akan merasa kecewa atas sikap Resi,” desis Rana Sampar kemudian.

Rana Sampar tidak ingin berbantah lebih lama lagi. Ia harus segera melakukan tugas yang diperintahkan oleh Ki Manuhara kepadanya. Rara Wulan harus segera diambilnya justru selagi pertempuran ditanggul susukan Kali Opak itu belum selesai. Apalagi jika orang-orang yang melindungi Raras itu sempat kembali ke rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa.

Demikianlah dengan sekelompok orang seadanya yang mampu dihimpunnya, maka Rana Sampar telah berusaha untuk pergi dengan diam-diam ke rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa. Mereka berpencar dan merunduk melalui lorong-lorong sempit. Baru kemudian mereka telah berkumpul di luar dinding halaman rumah Ki Tumenggung di arah belakang.

Namun tidak ada diantara orang-orang itu yang memiliki kelebihan. Ki Manuhara yang mengharapkan Resi Belahan untuk memimpin mereka, ternyata telah menolaknya. Sehingga karena itu, maka orang-orang yang datang ke rumah Ki Tumenggung adalah orang-orang yang mengandalkan kekerasan, kekasaran dan pengalaman mereka yang sebenarnya tidak terlalu banyak.

Dengan hati-hati Rana Sampar mengatur orang-orang yang dibawanya itu. Mereka harus memasuki halaman rumah Ki Tumenggung dari belakang. Mereka akan meloncati dinding dan meloncat turun ke-dalam kebun yang gelap.

Demikianlah, ketika semuanya sudah siap, maka Rana Samparpun segera memberikan isyarat. Orang-orang yang dibawanya itu pun dengan tangkasnya segera berloncatan memasuki kebun rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa.

Ternyata kebun di bagian belakang rumah Ki Tumenggung itu sangat lengang. Mereka tidak melihat sesuatu yang bergerak. Namun mereka melihat lampu minyak di serambi belakang dan agaknya di dapur pun lampu masih menyala.

Rana Sampar segera memberikan isyarat agar orang-orang memencar. Mereka akan mengepung rumah itu. Rana Sampar sendiri akan mengetuk pintu dari depan bersama dengan ampat orang. Sedangkan yang lain harus siap memasuki rumah itu darimana pun juga jika terjadi perlawanan.

Demikianlah, maka semua pun telah menempatkan diri dengan baik sebagaimana diperintahkan oleh Rana Sampar. Sementara itu, Rana Sampar sendiri bersama ampat orang telah naik ke pendapa dan langsung menuju ke pintu pringgitan.

Beberapa saat kemudian, maka Rana Sampar itu pun telah mengetuk pintu rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa yang nampaknya sudah tidur lelap itu.

“Buka pintu,” bentak Rana Sampar. Bahkan kemudian ia pun hampir berteriak mengulanginya, “Buka pintu.”

“Siapa diluar?” terdengar sebuah pertanyaan dari ruang dalam.

“Aku. Buka pintu. Cepat sebelum aku memecahkan pintu ini.” jawab Rana Sampar.

“Kau siapa dan apa niatmu malam-malam datang kemari?” bertanya suara itu.

“Nanti aku jelaskan. Sekarang buka pintunya,” suara Rana Sampar menjadi semakin keras.

Tetapi suara di dalam itu menjawab, “Jika kau tak mau menyebut namamu dan keperluanmu, aku tidak akan membuka pintu rumah ini.”

“Jika kau tidak mau membuka, maka pintu ini akan aku pecahkan. Rumah ini sudah dikepung. Tidak seorang pun dapat meloloskan diri. Karena itu, kalian tidak dapat berbuat lain kecuali melakukan semua perintahku.”

Suara di dalam rumah itu terdiam. Namun pintu masih belum dibuka, sehingga Rana Sampar terpaksa sekali lagi mengancam, “Aku akan menghitung sampai lima. Jika pintu ini masih belum dibuka, maka pintu ini akan aku pecahkan atau rumah ini akan aku bakar sampai habis.”

Karena tidak ada jawaban, maka Rana Sampar itu pun mulai menghitung, “Satu, dua, tiga.”

Tetapi Rana Sampar lah yang terkejut ketika mendengar suara di seketheng, “Jangan rusakkan pintu itu Ki Sanak.”

Rana Sampar berpaling. Dilihatnya dua orang perempuan berjalan menuju ke pendapa. Hanya dua orang perempuan berjalan menuju ke pendapa.

Untuk sesaat Rana Sampar itu termangu-mangu. Demikian pula keempat orang kawannya. Sementara itu kedua orang perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasan dan apalagi ketakutan.

“Siapa yang kau cari Ki Sanak?” bertanya salah seorang perempuan itu.

Rana Sampar yang masih keheranan melihat kedua orang perempuan dengan tatag menemuinya itu seakan-akan diluar sadarnya menjawab, “Kami mencari Rara Wulan.”

Perempuan itu justru tersenyum sambil bertanya, “Apakah kau sudah mengenal Rara Wulan?”

Pertanyaan itu memang membingungkan. Rana Sampar memang belum mengenal Rara Wulan. Karena itu, maka jawabnya, “Aku memerlukan Rara Wulan. Jika tidak, maka Raras akan menjadi korban. Kau tahu, ia berada diantara orang-orang yang keras, sehingga nasibnya akan menjadi sangat buruk.”

“Bagaimana jika Rara Wulan yang ada diantara mereka?” bertanya perempuan itu.

“Keadaannya akan lain. Rara Wulan akan kami serahkan kepada Raden Antal. Nasibnya akan jauh lebih baik dari Raras.”

Tetapi perempuan itu tertawa. Katanya, “Sama saja. Raras atau Rara Wulan akan berada di tangan Raden Antal. Tetapi apakah kau tahu, dimana Raden Antal sekarang?”

Sekali lagi Rana Sampar kebingungan menjawab pertanyaan itu. Apalagi ketika perempuan itu berkata, “Bukankah Raden Antal tidak pulang hari ini?”

Tetapi Rana Sampar itu menjawab, “Aku tidak peduli. Sekarang serahkan Rara Wulan itu.”

“Salah seorang diantara kami adalah Rara Wulan,” jawab perempuan itu.

Wajah Rana Sampar menegang. Dipandanginya kedua orang perempuan itu. Kedua-duanya cantik dan sikapnya hampir sama. Berani menantang wajah-wajah mereka. Namun akhirnya Rana Sampar menunjuk salah seorang dari mereka sambil berkata, “Yang ini Rara Wulan.”

“Atas dasar apa kau menunjuk aku?” bertanya perempuan yang ditunjuk itu.

“Kau lebih muda dari perempuan yang satu lagi,” jawab Rana Sampar dengan sungguh-sungguh.

Tetapi adalah diluar dugaannya bahwa kedua perempuan itu justru tertawa. Perempuan yang seorang lagi berkata, “Kau memang pintar. Tetapi apakah aku sudah terlalu tua?”

Rana Sampar menggeram. Ada kesan kedua perempuan itu telah merendahkan dirinya, sehingga keduanya justru mentertawakannya. Karena itu, maka Rana Sampar itu tiba-tiba saja membentak, “Cukup. Sekali lagi aku katakan, aku akan membawa Rawa Wulan.”

Tetapi perempuan yang seorang lagi berkata, “Tanyakan kepadanya apakah ia bersedia kau bawa atau tidak. Rara Wulan bukan sekedar sebuah golek kayu atau golek kencana sekalipun.”

“Mau tidak mau. Aku dapat memaksanya,” Rana Sampar hampir berteriak.

“Jangan berteriak-teriak begitu Ki Sanak. Kau kira orang lewat di jalan didepan rumah ini tidak mendengarnya? Jika mereka mendengar dan mereka memberitahukan kepada prajurit yang meronda, maka kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

“Cukup,” potong Rana Sampar, “sekarang, marilah Kita pergi menemui Raden Antal.”

“Nanti dulu Ki Sanak,” jawab Rara Wulan, “dimana Raden Antal sekarang?”

“Jangan terlalu banyak bertanya. Ikut aku. Nanti kau akan mengetahuinya,” bentak Rana Sampar.

“Tetapi aku ingin mengetahuinya sekarang,” jawab Rara Wulan.

“Tidak,” bentak Rana Sampar, “cepat, ikut kami. Aku tidak mempunyai waktu lagi.”

Ketika Rara Wulan yang berdiri disebelah Sekar Mirah itu akan menjawab lagi, tiba-tiba salah seorang kawan Rana Sampar berkata, “Jangan layani pembicaraannya. Agaknya keduanya sengaja mengulur waktu.”

Rana Sampar baru menyadari bahwa nampaknya kedua orang perempuan itu memang sedang mengulur waktu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Rana Sampar menarik pedangnya sambil membentak, “Cepat Kalian berdua ikut kami. Bukan hanya Rara Wulan. Tetapi juga yang seorang!”

“Tetapi bukankah hanya Rara Wulan yang kau perlukan?” sahut Sekar Mirah.

“Diam,” bentak Rana Sampar. Katanya kemudian kepada orang-orangnya, “Bawa keduanya. Jika keduanya berkeberatan, seret mereka dan kita bawa mereka kepada Raden Antal.”

“Kenapa kedua-duanya?” seorang diantara kawan Rana Sampar itu bertanya.

“Akhirnya yang satu pun tentu diperlukan.”

Namun orang-orang itu terkejut melihat kedua perempuan itu tertawa. Sama sekali tidak terbayang ketakutan di wajah mereka. Apa yang mereka hadapi seakan-akan tidak lebih dari sebuah permainan yang menarik.

“Cepat,” bentak Rana Sampar, “kita tinggalkan tempat ini.”

Namun Sekar Mirah kemudian menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Sanak. Kita tidak akan meninggalkan tempat ini. Kami tidak dan Ki Sanak pun tidak.”

“Cepat, jangan membuat kami kehilangan kesabaran,” bentak Rana Sampar.

“Sayang. Hilang atau tidak hilang kesabaranmu, namun kau dan semua kawan-kawanmu yang memasuki halaman ini tidak akan sempat keluar lagi. Kami memang telah mengulur waktu untuk memberi kesempatan para prajurit yang ada di rumah ini menawan kawan-kawanmu yang memasuki kebun belakang rumah ini.”

Wajah Rana Sampar dan kawan-kawannya menjadi tegang. Sementara itu Sekar Mirah sempat memberikan isyarat dengan tepuk tangannya.

Sejenak kemudian, maka dari seketheng sebelah kiri dan kanan kawan-kawan Rana Sampar telah digiring oleh para prajurit Mataram yang memang telah bersiaga ditempat itu. Ketika seorang pengamat melihat kehadiran beberapa orang, maka mereka pun telah berusaha menjebaknya. Tanpa seorang pemimpin yang memiliki ilmu yang tinggi, maka Rana Sampar dan kawan-kawannya dengan mudahnya terjebak di halaman belakang rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa, sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika tiba-tiba ujung-ujung senjata telah melekat di tubuh mereka. Prajurit Mataram itu tiba-tiba saja telah bermunculan dari balik pohon-pohon perdu di halaman belakang dan dengan cepat menguasai orang-orang yang tengah mengepung rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa demikian Rana Sampar dan empat orang kawannya naik ke pendapa rumah Ki Tumenggung itu.

Rana Sampar yang sesaat menjadi kebingungan itu, mulai sempat melihat keadaan. Karena itu, dengan cepat ia berusaha menguasai kedua orang perempuan itu dengan senjatanya.

Tetapi sekali lagi Rana Sampar terkejut. Kedua orang perempuan itu dengan sigapnya telah berloncatan mengambil jarak.

Keempat kawan Rana Sampar pun dengan cepat tanggap akan keadaan mereka pun segera menarik senjata mereka. Namun beberapa orang prajurit pun telah berloncatan naik ke pendapa pula, sedang dari pintu pringgitan telah muncul Ki Tumenggung Purbarumeksa, Ki Jayaraga, Ki Lurah Branjangan dan Teja Prabawa.

Rana Sampar memang tidak melihat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Karena itu maka ketika Ki Tumenggung Purbarumeksa memerintahkannya untuk meletakkan senjata, maka Rana Sampar pun telah meletakkan senjatanya pula.

Dengan demikian maka orang-orang yang memasuki kebun belakang Ki Tumenggung Purbarumeksa itu seluruhnya benar-benar telah dikuasai oleh para prajurit. Namun para prajurit tidak berhenti sampai sekian. Pemimpin sekelompok prajurit itu kemudian telah membawa Rana Sampar ke sebuah bilik di gandok untuk diminta keterangannya tentang kawan-kawannya yang ada di Mataram.

Tugas para prajurit di gandok itu ternyata tidak terlalu sulit, Rana Sampar yang mendendam kepada Resi Belahan karena Resi itu tidak mau membantu tugasnya, dengan terus terang menceriterakan dimana Resi Belahan itu berada.

Ki Jayaraga yang ikut mendengar pengakuan Rana Sampar itu terkejut. Dengan kerut di kening, Ki Jayaraga bertanya, “Jadi Resi Belahan itu ada disini sekarang?”

“Ya,” jawab prajurit itu.

“Dan bergabung dengan Ki Manuhara dan Bajang Bertangan Baja yang sedang berusaha menguasai Rara Wulan itu?” bertanya Ki Jayaraga pula.

“Ya,” jawab Rana Sampar.

Ki Jayaraga memang tidak mempunyai pilihan lain. Dengan cepat ia mengajak beberapa orang prajurit untuk menemukan Resi Belahan.

“Orang itu sama berbahayanya dengan Ki Manuhara dan Bajang Engkrek itu,” berkata Ki Jayaraga.

“Hati-hatilah Ki Jayaraga,” pesan Ki Lurah Branjangan.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali datang kepadanya. Tetapi aku tentu akan sangat berhati-hati. Jika perlu para prajurit akan memberikan isyarat untuk memanggil para prajurit yang bertugas malam ini di Kotaraja.”

Ki Tumenggung Purbarumeksa pun berdesis, “Mudah-mudahan Ki Jayaraga berhasil.”

Demikianlah Ki Jayaraga diikuti beberapa orang prajurit sambil membawa Rana Sampar mencari Resi Belahan di tempat ia menginap selama berada di Mataram.

Namun ternyata Resi Belahan memang seorang yang memiliki ketajaman perhitungan. Ia sudah mengira bahwa Rana Sampar tidak akan menyelesaikan tugasnya dengan baik, sehingga kemungkinan terbesar bahwa Rana Sampar itu akan tertangkap. Dengan demikian maka Resi Belahan itu telah mendahului meninggalkan tempatnya.

Karena itu, ketika Ki Jayaraga bersama sekelompok prajurit dan Rana Sampar sampai di rumah tempat tinggal Resi Belahan, rumah itu nampak sepi.

Pemilik rumah itu terkejut ketika Ki Jayaraga mengetuk pintu rumah itu. Demikian pemilik rumah itu keluar, maka orang itu pun segera menggigil ketakutan.

“Apa yang terjadi?” desis orang itu dengan suara gemetar.

Rana Sampar lah yang bertanya dengan nada keras, “Dimana Resi Belahan?”

“Resi Belahan? Siapakah yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya pemilik rumah itu.

“Jangan berpura-pura,” bentak Rana Sampar, “Resi Belahan yang tinggal disini. Bukankah tadi aku telah datang kemari? Kau juga ikut menemui aku bersama Resi Belahan.”

“Ki Sanak,” suara orang itu menjadi semakin gemetar, “siapakah Ki Sanak itu?”

“Jangan menjadi gila. Bukankah baru tadi aku datang kemari dan bukankah kita sudah berbicara panjang lebar?” jawab Rana Sampar.

Orang itu menjadi semakin bingung. Dengan gagap ia bertanya, “Apakah yang sebenarnya terjadi atas diriku. Aku tidak pergi kemana-mana sejak sore tadi. Tetapi aku tidak mengetahui bahwa Ki Sanak telah datang. Aku pun tidak mengenal orang yang bernama Resi Belahan.”

“Orang ini berpura-pura,” teriak Rana Sampar yang mulai kebingungan.

“Untuk apa aku berpura-pura,” jawab orang itu, “marilah. Silahkan masuk. Aku persilahkan kalian melihat-lihat, apakah ada orang lain di rumahku ini. Aku hanya tinggal berdua saja dengan isteriku. Tetapi tolong, jangan ditakut-takuti isteriku, karena isteriku sedang sakit.”

Rana Sampar memang menjadi bingung. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Aku mengatakan sebenarnya. Resi Belahan itu tinggal disini selama berada di Mataram. Aku tahu pasti. Orang ini adalah orang yang telah membantu langkah-langkah yang diambil oleh Ki Manuhara dan Resi Belahan.”

“Ki Sanak,” suara pemilik rumah itu menjadi semakin memelas, “untuk apa sebenarnya Ki Sanak memfitnah aku. Aku orang miskin yang sudah tua dan sakit-sakitan. Demikian pula isteriku. Apa pula yang Ki Sanak kehendaki dari diri kami?”

Rana Sampar menggeretakkan giginya. Namun, Ki Jayaraga itu”pun berkata, “Apakah Ki Sanak memperbolehkan aku masuk?”

“Silahkan, silahkan. Mungkin dengan demikian kalian akan yakin bahwa aku tidak berbohong. Tetapi sekali lagi aku mohon, jangan takut-takuti isteriku yang sedang sakit,” jawab orang itu dengan suara yang bergetar.

Ki Jayaraga, seorang diantara para prajurit dan Rana Sampar telah memasuki rumah itu. Mereka melihat-lihat seluruh ruangan yang ada. Bahkan di ruang isteri pemilik rumah yang sedang sakit itu. Namun seperti pesan pemilik rumah itu, mereka sama sekali tidak menakut-nakuti orang sakit. Bahkan Ki Jayaraga mengaku sahabat suaminya yang sedang menengoknya.

Karena mereka tidak menemukan sesuatu di rumah itu, maka Ki Jayaraga dan para prajurit pun telah minta diri. Rana Sampar masih sempat mengumpat-umpat diluar rumah. Namun pemilik rumah itu tidak berbuat sesuatu kecuali ketakutan.

Demikianlah, ketika mereka sampai di rumah Ki Tumenggung kembali, maka Rana Sampar dan orang-orang yang telah tertangkap itu pun telah berada ditangan para prajurit. Tetapi para prajurit itu masih belum meninggalkan rumah Ki Tumenggung. Mereka agaknya masih akan menunggu sampai pagi hari.

Namun dalam pada itu, di ruang dalam Ki Jayaraga sempat berbicara dengan Ki Tumenggung Purbarumeksa.

“Resi Belahan memang ada di rumah itu,” berkata Ki Jayaraga, “tetapi ia sempat meninggalkan rumah itu setidak-tidaknya untuk sementara.”

“Tetapi bukankah Ki Jayaraga tidak menemukan Resi Belahan di rumah itu? Bagaimana Ki Jayaraga dapat mengatakan bahwa Resi Belahan ada atau pernah ada di rumah itu?”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya menduga. Di rumah itu terdapat beberapa mangkuk minuman yang masih terisi. Padahal rumah itu hanya berisi dua orang suami isteri. Sementara itu isterinya yang dikatakan sakit itu sama sekali tidak terkejut, atau bertanya atau semacamnya ketika aku mengaku sahabat suaminya yang menengoknya. Padahal perempuan itu belum pernah melihat aku sebelumnya. Bukankah dengan demikian aku dan perempuan itu sama-sama sudah siap untuk berpura-pura?”

Ki tumenggung Purbarumeksa pun mengangguk-angguk, sementara Ki Jayaraga berkata, “Tetapi Resi Belahan itu tentu sudah memperhitungkan bahwa Rana Sampar itu akan gagal dan akan membuka rahasia tentang dirinya. Sehingga karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia telah meninggalkan tempatnya.”

“Tetapi penghuni rumah itu tetap dibiarkan bebas,” desis Teja Prabawa.

“Tentu ada maksudnya,” jawab ayahnya, “rumah itu akan menjadi sumber pengamatan selanjutnya.”

Teja Prabawa tidak menjawab lagi. Sementara itu Ki Tumenggung berkata, “Kita dapat beristirahat sekarang.”

“Kita menunggu berita dari Tegal Wuru disebelah susukan Kali Opak itu.” berkata Ki Lurah Branjangan.

Sebenarnyalah di sebelah susukan Kali Opak itu pertempuran telah mencapai puncaknya. Anak-anak Gajah Liwung semakin menguasai keadaan. Para pengikut Ki Manuhara semakin tidak berdaya. Apalagi untuk mengambil kembali Raras, sementara untuk menyelamatkan diri mereka harus mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Namun tidak seorang pun diantara mereka yang berani meninggalkan medan sebelum ada perintah. Seandainya mereka berhasil dan selamat, namun mereka masih tetap dalam ancaman pemimpin mereka yang tentu akan membunuhnya kemudian. Bahkan mungkin dengan cara yang lebih buruk dari lawan-lawannya di medan pertempuran yang sedang berlangsung itu.

Sementara itu, Sabungsari masih tetap melindungi Raras. Bagaimanapun juga kemungkinan buruk masih dapat terjadi pada gadis itu. Jika satu dua orang pengikut Ki Manuhara sempat melepaskan diri dari pertempuran, maka mereka akan sangat berbahaya bagi Raras.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Wreda Sela Putih pun sudah sadar sepenuhnya. Demikian pula Raden Antal yang ingin memaksa diri untuk mengambil Raras. Namun ayahnya tetap melarangnya, karena ia sadar sepenuhnya bahwa orang yang melindungi Raras itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga anaknya tidak mungkin akan dapat mengatasinya. Bahkan lebih dari itu, Ki Tumenggung Wreda itu justru menjadi ragu-ragu setelah ia sempat menilai apa yang terjadi. Orang yang melindungi Raras itu sudah dapat membunuhnya seandainya ia mau melakukannya. Lontaran kekuatan ilmunya yang dahsyat tentu dengan sengaja tidak dibenturkan pada dirinya yang akan dapat menimbulkan akibat sangat buruk dan bahkan mungkin ia tidak lagi dapat bertahan hidup. Tetapi orang itu seakan-akan sekedar memberinya peringatan dengan menyerang sejengkal tanah didepan kakinya. Sedangkan serangan berikutnya tidak dilakukannya lagi dengan ilmunya yang jarang ada duanya itu, sehingga serangan itu hanya membuatnya pingsan.

Sementara itu Ki Tumenggung Wreda itu sempat melihat apa yang terjadi di Tegal Wuru itu. Pertempuran yang keras dan garang. Beberapa sosok tubuh telah terbaring diam. Ada yang masih dapat mengerang kesakitan, tetapi ada yang sudah diam membeku.

Dalam pada itu, maka Ki Manuhara yang bertempur melawan Agung Sedayu tidak mau lagi membuang banyak kesempatan. Siapapun yang dihadapinya, maka ia telah mempersiapkan untuk memanjatkan ilmunya sampai ke tataran puncaknya.

Glagah Putih lah yang sedikit menemui kesulitan melawan Bajang Bertangan Baja. Bukan karena ia tidak mampu mengimbangi ilmu Bajang Bertangan Baja itu. Meskipun tangan orang kerdil itu benar-benar mengeras seperti baja, namun Glagah Putih dengan ilmu dan kemampuannya masih mampu mengimbanginya. Kecepatan geraknya, daya tahan tubuhnya serta tenaga dalamnya yang sangat besar.

Tetapi Bajang itu telah bergeser dan memasuki lingkaran pertempuran yang kisruh diantara para pengikut Ki Manuhara dan anak-anak Gajah Liwung. Beberapa kali, Glagah Putih hampir kehilangan lawannya. Namun disaat-saat ia mampu mendekatinya lagi, Bajang itu telah menyerangnya dengan garangnya. Tangannya tidak saja menjadi sekeras baja, tetapi ayunan tangannya itu seolah-olah telah menaburkan getar udara yang dingin. Lebih dingin dari embun dini hari di musim bediding.

Dengan demikian maka Glagah Putih menyadari, bahwa lawannya memang berilmu sangat tinggi. Namun Glagah Putih sama sekali tidak menjadi gentar. Ia pun semakin meningkatkan ilmunya pula, sehingga Bajang Bertangan Embun itu menjadi semakin heran. Anak muda itu seakan-akan tidak terpengaruh sama sekali oleh ilmunya itu. Kekerasan tangannya yang bagaikan baja, namun juga getaran angin yang timbul bagaikan embun yang membeku.

Bajang Bertangan Embun itu benar-benar menjadi heran dengan tingkat ilmu lawannya. Ketika Glagah Putih itu mampu membunuh lawannya di Tanah Perdikan Menoreh, anak itu dianggapnya wajar karena ilmu lawannya yang kurang memadai. Itu pun pundak anak itu telah dilukai dengan ilmu Pacar Wutah.

Namun ketika ia berhadapan langsung dengan Glagah Putih, maka ternyata bahwa ilmu anak muda itu memang sangat tinggi.

Karena itu meskipun Bajang Bertangan Embun itu telah berusaha menyelinap diantara Keributan pertempuran dan dengan tiba-tiba menyerang, namun ia tidak segera berhasil menundukkan lawannya itu. Bahkan semakin lama Glagah Putih yang telah sampai pada puncak ilmu yang diwarisinya dari Ki Jayaraga itu seakan-akan justru menjadi semakin tegar.

Di sisi lain Ki Manuhara yang berhadapan dengan Agung Sedayu ternyata juga tidak mampu mengatasinya. Meskipun Agung Sedayu itu lebih muda dari Ki Jayaraga yang pernah dihadapinya di Tanah Perdikan Menoreh, namun ilmunya sudah terlalu mapan. Bahkan serangan-serangan Ki Manuhara tidak banyak mengguncang kedudukan Agung Sedayu. Rog-rog Asem yang meskipun mampu menembus perisai ilmu kebal Agung Sedayu, tetapi seakan-akan larut ditelan oleh daya tahan Agung Sedayu yang memang tinggi sekali.

Namun Ki Manuhara yang licik itu masih juga berteriak, “Kami disini mampu menahan beberapa puluh langkah. Tetapi saat ini Rara Wulan yang kau pertahanan itu tentu sudah jatuh ke tangan Resi Belahan. Seorang yang berilmu sangat tinggi yang tentu tidak akan dapat dikalahkan oleh siapa pun juga.”

Tetapi Agung Sedayu menjawab, “Orang yang pernah bertempur melawanmu di Tanah Perdikan Menoreh ada disana.”

“Persetan dengan orang itu. Ia tentu akan digilas oleh ilmu Resi Belahan yang tidak terlawan,” geram Ki Manuhara.

“Kau sendiri pernah hampir mati dibuatnya,” jawab Agung Sedayu pula.

“Omong kosong,” geram Ki Manuhara, “ia dengan licik menyerang aku dengan puncak ilmunya tanpa syarat.”

“Jangan membual. Kau kira aku tidak melihat apa yang terjadi di Tanah Perdikan itu?” desis Agung Sedayu sambil mengelak dengan loncatan ke samping.

Ki Manuhara memburunya. Dilepaskannya Aji Rog-rog Asem langsung mengarah ke jantung Agung Sedayu. Demikian cepatnya sehingga Agung Sedayu tidak sempat mengelak lagi. Namun Agung Sedayu masih mengetrapkan perisai ilmu kebalnya, sehingga karena itu, maka serangan itu tidak menghancurkannya. Meskipun Agung Sedayu tergetar selangkah surut, namun dengan cepat ia segera bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Ki Manuhara mengumpat. Ia sadar bahwa salah satu ilmunya yang dibanggakannya itu tidak akan mampu mengalahkan lawannya itu. Sebagaimana ilmunya Sapta Prahara, maka Rog-rog Asem tidak dapat membelah perisai ilmu kebal Agung Sedayu yang memiliki daya tahan yang sangat tinggi.

Kekesalan Ki Manuhara ternyata kemudian tidak hanya tertuju kepada Agung Sedayu yang telah menggagalkan usahanya bersama Bajang Bertangan Baja karena Agung Sedayu justru telah mengambil Raden Antal untuk membebaskan Raras. Tetapi kekesalan Ki Manuhara juga tertuju kepada Bajang kerdil itu sendiri. Atas permintaan Bajang itu, maka ia dan bahkan orang-orangnya telah terlibat dalam penculikan Raras untuk mendapatkan Rara Wulan sehingga ia telah meninggalkan kepentingannya sendiri untuk membantu Bajang Bertangan Baja meskipun ia pun berharap bahwa Bajang itu pun kemudian akan membantunya. Bahkan Bajang itu telah menyelamatkan nyawanya adalah dorongan yang paling kuat baginya untuk bersedia bekerja bersama Bajang kerdil itu.

Namun kemudian ternyata bahwa ia telah menghadapi kesulitan. Di Tegal Wuru itu ia mendapat lawan seorang yang ilmunya jarang ada duanya.

Tetapi ia sudah berada di pusaran pertempuran itu sehingga ia tidak dapat lagi bergerak keluar.

Sementara itu, para pengikutnya pun semakin lama menjadi semakin susut Anak-anak muda dari kelompok Gajah Liwung itu ternyata memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka meskipun jumlah pengikut Ki Manuhara itu lebih banyak.

Dalam pada itu, pertempuran itu pun semakin lama semakin bergeser dari tempatnya. Orang-orang Ki Manuhara terdesak semakin jauh, sehingga Bajang Bertangan Baja berusaha untuk hanyut dalam arus mundur para pengikut Ki Manuhara. Bahkan agaknya demikian pula Ki Manuhara sendiri. Sehingga dengan demikian yang kemudian berdiri di arena pertempuran itu tinggal Sabungsari yang melindungi Raras dan beberapa langkah dari padanya, Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan Raden Antal yang sudah bangkit berdiri. Namun mereka ternyata tidak berbuat apa-apa. Dengan cemas mereka menyaksikan pertempuran yang semakin berat sebelah karena para pengikut Ki Manuhara semakin tidak berdaya.

Namun dalam pada itu, agaknya Ki Manuhara sudah tidak mempunyai kesempatan lagi selain mempergunakan ilmu pamungkasnya.

Karena itu, maka ia pun telah mempersiapkan diri mengetrapkan ilmunya bukan saja Sapta Prahara atau Rog-rog Asem, tetapi Aji Guntur Manunggal sebagai puncak kemampuan Ki Manuhara.

Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung Wreda yang ada di Tegal Wuru bersama Raden Antal yang gelisah terkejut ketika mereka melihat dua orang yang berjalan menuju ke arahnya diiringi oleh beberapa orang bersenjata. Sabungsari yang melindungi Raras dan masih berdiri di tempatnya pun segera mempersiapkan diri pula. Jika mereka pengikut Ki Manuhara, maka ia harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Namun agaknya bukan saja Sabungsari yang menjadi gelisah. Tetapi para anggauta kelompok Gajah Liwung pun melihat kedatangan orang-orang itu. Karena itu, maka dengan cepat Ki Ajar Gurawa melangkah dengan cepat mendekati Sabungsari dan Raras.

“Siapakah mereka,” desis Ki Ajar Gurawa dengan ragu-ragu.

Sabungsari menggeleng sambil menjawab, “Aku belum tahu Ki Ajar. Mudah-mudahan bukan pengikut Ki Manuhara atau Bajang kerdil itu.”

Ki Ajar Gurawa pun menjadi tegang. Namun menurut penglihatannya sekelompok orang itu melangkah menuju kearah Ki Tumenggung Wreda berdiri dengan anaknya, Raden Antal.

Meskipun demikian Ki Ajar Gurawa masih saja mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Apalagi Ki Ajar Gurawa menganggap bahwa para pengikut Ki Manuhara yang terdahulu tentu akan segera dapat diselesaikan oleh anak-anak Gajah Liwung yang lain, sementara Bajang Bertangan Baja berhadapan dengan Glagah Putih dan Ki Manuhara sendiri berhadapan dengan Agung Sedayu.

Ki Ajar Gurawa dan Sabungsari itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat Ki Tumenggung Wreda dan Raden Antal mengangguk dalam-dalam. Dengan sangat hormat mereka menerima orang yang baru saja datang itu.

Sabungsari dan Ki Ajar Gurawa yang berdiri beberapa puluh langkah dari mereka, didalam gelapnya malam masih belum dapat melihat dengan jelas, siapakah orang-orang yang telah datang itu. Tetapi mereka sudah pasti, bahwa orang-orang itu tentu bukan para pengikut Ki Manuhara.

Karena itu, maka diluar sadarnya, Sabungsari telah membimbing Raras melangkah mendekat, karena Sabungsari masih belum berani melepaskan Raras yang dilindunginya.

Namun Sabungsari dan Ki Ajar Gurawa itu terkejut ketika mereka mendengar salah seorang diantara orang-orang yang datang itu menyapa mereka.

“Marilah, mendekatlah.”

Sabungsari masih ragu-ragu. Namun bersama Ki Ajar Gurawa yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, mereka mendekat pula.

Ketika seorang diantara orang-orang yang datang itu melangkah menyongsong mereka, Sabungsari dan Ki Ajar Gurawa terkejut Orang itu adalah Ki Wirayuda.

“Ki Wirayuda,” desis Sabungsari.

“Ya. Aku datang mengantar Ki Patih Mandaraka pribadi yang ingin menyaksikan apa yang terjadi disini,” jawab Ki Wirayuda.

Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka yang mengiringi Ki Patih itu berlari sambil berteriak. “Raras.”

Raras pun tanggap. Ia pun segera berlari kearah orang yang menyebut namanya itu sambil berteriak, “Ayah.”

Raras pun memeluk ayahnya erat-erat sambil menangis. Air matanya yang serasa telah kering itu tiba-tiba telah mengalir lagi dengan derasnya. Tangisnya yang tertahan beberapa saat seakan-akan telah mendesak dengan dahsyatnya.

Untuk sesaat Ki Rangga Wibawa terbungkam. Matanya pun menjadi panas. Namun kemudian ia mulai menguasai dirinya dan berkata, “Sudahlah Raras. Kau sudah selamat Kau telah berada ditangan ayahmu lagi.”

Sementara itu Ki Patih Mandaraka yang masih berdiam diri tiba-tiba berkata kepada Ki Tumenggung Wreda, “Ki Tumenggung. Lihatlah apa yang telah terjadi di Tegal Wuru ini. Semuanya ini akibat dari sikap Ki Tumenggung terhadap anak Ki Tumenggung. Ki Tumenggung terlalu memanjakan-nya. Apa yang diinginkannya harus dipenuhi. Sementara itu, Raden Antal telah memanfaatkan kedudukan ayahnya dengan sebaik-baiknya.”

“Ampun Ki Patih,” desis Ki Tumenggung Wreda Sela Putih, “hatiku telah tertutup oleh keinginanku memanjakan anakku.”

“Kau lihat, berapa korban yang jatuh karena pokal Raden Antal,” berkata Ki Patih Mandaraka kemudian.

Ki Tumenggung Wreda Sela Putih hanya dapat menundukkan kepalanya. Demikian pula Raden Antal. Mereka tidak mengira bahwa persoalan itu telah mengungkit Ki Patih sehingga keluar dari istananya di malam yang kelam itu menuju ke Tegal Wuru.

“Marilah, kita lihat dari dekat, apa yang terjadi,” berkata Ki Patih.

Ki Tumenggung Wreda tidak menjawab lagi. Ketika Ki Patih melangkah mendekati arena pertempuran, maka Ki Wirayuda telah mengikutinya pula sambil berkata, “Maaf Ki Tumenggung. Kami terpaksa membawa pengawal bersenjata.”

Ki Tumenggung Wreda Sela Putih menarik nafas dalam-dalam. Meskipun tidak berterus-terang, tetapi Ki Tumenggung mengerti sepenuhnya maksud Ki Wirayuda.

Karena itu, maka Ki Tumenggung dan Raden Antal itu pun berjalan sambil menunduk diiringi oleh beberapa orang prajurit bersenjata. Mereka berjalan menuju ke lingkaran pertempuran yang sudah bergeser agak menjauh. Sabungsari dan Ki Ajar Gurawa pun telah mengikuti mereka pula bersama Ki Rangga Wibawa yang membimbing Raras.

Dalam pada itu, para pengikut Ki Manuhara sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Jumlah mereka pun telah jauh menyusut, sehingga perlawanan mereka sudah tidak berarti lagi.

Dalam pada itu Ki Manuhara benar-benar tidak dapat berbuat lain kecuali mengerahkan kemampuan puncaknya. Apalagi ketika ia melihat sekelompok orang yang datang kemudian, yang nampaknya akan berpihak kepada lawannya. Karena itu, maka Ki Manuhara itu pun telah siap untuk melepaskan Aji Guntur Manunggal.

Agung Sedayu telah mengenali ancang-ancang pelepasan ilmu Guntur Manunggal itu, karena lawannya di Tanah Perdikan Menoreh juga memiliki ilmu yang sama. Karena itu, maka Agung Sedayu pun berusaha mengambil jarak dan dengan cepatnya telah mengurai senjata khusus dari perguruan Orang Bercambuk. Seperti ketika ia melawan Ki Samepa, maka Ki Manuhara pun akan dihadapinya dengan ilmu pamungkasnya dari perguruan Orang Bercambuk itu.

Ki Manuhara tidak mempunyai kesempatan berpikir lagi. Ia memang tinggal menghadapi dua kenyataan dengan ilmunya. Membunuh atau dibunuh. Ki Manuhara tidak akan dapat lagi berusaha melarikan diri sebagaimana dilakukan di Tanah Perdikan, apalagi dengan kedatangan sekelompok orang baru itu.

Demikianlah, ketika Ki Manuhara bersiap untuk melepaskan Aji Guntur Manunggal nya, maka Agung Sedayu mulai memutar cambuknya sambil mengerahkan segenap ilmu dan kemampuan puncak dari perguruan Orang Bercambuk.

Ki Patih Mandaraka yang datang mendekat tidak dapat berbuat banyak. Ia tidak dapat mencegah benturan ilmu yang sangat tinggi itu terjadi. Karena itu, maka Ki Patih Mandaraka dan orang-orang yang datang bersamanya hanya sempat menyaksikan Ki Manuhara itu meloncat mengayunkan tangannya untuk melepaskan kemampuan puncaknya, Aji Guntur Manunggal. Namun bersamaan dengan itu, maka cambuk Agung Sedayu pun telah terayun pula. Dalam ayunan ujung cambuknya itu terkandung kemampuan tertinggi dari perguruan Orang Bercambuk.

Satu benturan yang dahsyat telah terjadi. Dua kekuatan raksasa telah beradu bagaikan benturan antara petir dan lidah api yang menyambar di langit.

Arena pertempuran itu pun telah bergetar. Tegal Wuru itu pun telah terguncang.

Akibat dari benturan itu memang menggetarkan. Agung Sedayu terlempar beberapa langkah surut. Sebagaimana pernah terjadi benturan antara Ki Manuhara dan Ki Jayaraga di Tanah Perdikan Menoreh. Namun Agung Sedayu memiliki kelebihan dari Ki Jayaraga. Selain kewadagannya yang lebih kokoh sehingga mampu mendukung daya tahannya yang sangat tinggi, Agung Sedayu pun telah mempergunakan perisai ilmu kebalnya. Meskipun kemampuan ilmu Ki Manuhara itu memiliki tenaga lebih besar dari kemampuan ilmu kebal Agung Sedayu, namun sebagian kekuatan ilmu Ki Manuhara telah membentur kekuatan puncak ilmu perguruan Orang Bercambuk. Dengan demikian meskipun Agung Sedayu terlempar beberapa langkah surut dan kehilangan keseimbangannya, namun sejenak kemudian ia pun telah mampu untuk berdiri tegak kembali dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu akibat yang dialami oleh Ki Manuhara ternyata lebih parah lagi. Bahkan lebih parah dari benturan yang pernah dialaminya melawan kekuatan ilmu Ki Jayaraga.

Seperti Agung Sedayu, maka Ki Manuhara pun telah terlempar beberapa langkah surut. Namun Ki Manuhara tidak mampu bertahan untuk tetap berdiri tegak. Ia pun terpelanting jatuh dan berguling beberapa kali di tanah. Sesaat Ki Manuhara memang sempat untuk berusaha bangkit kembali. Namun ia pun kemudian terhuyung-huyung dan jatuh kembali terlentang didekat tanggul susukan Kali Opak.

Terdengar Ki Manuhara itu mengerang. Namun hanya untuk beberapa tarikan nafas.

Agung Sedayu yang berdiri termangu-mangu melihat bagaimana Ki Manuhara itu berusaha menggeliat. Namun yang terdengar justru suara erangnya.

Semua perhatian seakan-akan memang terampas pada benturan kekuatan raksasa yang dilepaskan oleh Ki Manuhara dan Agung Sedayu. Saat itulah yang kemudian dipergunakan sebaik-baiknya oleh Bajang Bertangan Embun. Saat yang sekejap itu dipergunakannya untuk meloncat keatas tanggul.

Glagah Putih terkejut melihat lawannya menghindar dari arena pertempuran. Karena ia tidak mau kehilangan, maka dengan cepat Glagah Putih menyiapkan ilmunya. Dilontarkannya serangan untuk memburu Bajang Bertangan Embun itu. Namun serangan Glagah Putih ternyata hanya memecahkan tanggul susukan Kali Opak itu. Batu dan kerikil berhamburan diantara pasir dan debu. Namun Bajang Bertangan Embun itu sempat meloncat masuk kedalam air.

Glagah Putih yang marah itu pun segera meloncat memburu. Namun demikian ia meloncat keatas tanggul, maka tubuhnya telah dihempas oleh siraman air susukan Kali Opak.

Siraman itu sendiri tidak menyakiti tubuh Glagah Putih selain sedikit mengganggu pernafasannya. Namun air itu pun kemudian menjadi bagaikan membuat tubuhnya membeku kedinginan.

Sejenak Glagah Putih terhenyak kedalam keadaan yang tiba-tiba. Tetapi ia pun segera bangkit dan berusaha untuk memecahkan kesulitannya. Dalam keremangan malam ia melihat bayangan yang bergerak didalam air. Bajang kerdil yang telah menyemburkan air sekaligus melontarkan ilmu embunnya, sehingga Glagah Putih rasa-rasanya menjadi beku karenanya.

Namun Glagah Putih tidak menyerah begitu saja dalam kebekuannya. Dengan serta-merta ia pun telah membangunkan ilmu yang diwarisinya dari Ki Jayaraga. Tetapi Glagah Putih masih belum mempergunakan ilmunya yang baru saja disadapnya, Sigar Bumi. Yang dipergunakan oleh Glagah Putih adalah kemampuannya untuk menangkap getar panas yang diungkapkannya dengan ilmunya. Karena itulah, maka dalam kebekuannya Glagah Putih masih mampu menggerakkan telapak tangannya mengarah pada bayangan yang nampak didalam air dalam keremangan malam.

Satu hentakan ilmu yang memancarkan panasnya api telah meluncur dengan cepatnya menyambar Bajang Bertangan Embun. Namun ternyata Bajang kerdil itu telah sempat menggeliat dan meluncur menghindari serangan Glagah Putih. Bahkan kemudian seakan-akan menghilang ditelan beriak air di susukan Kali Opak itu.

Yang terjadi kemudian adalah gemuruhnya air yang dihantam oleh kekuatan ilmu Glagah Putih. Ketika seleret cahaya kuning meluncur menghantam riak air susukan, maka terdengar ledakan yang disusul oleh desah yang keras seakan-akan sebongkah bara besi baja yang dicelupkan kedalam air. Bahkan permukaan air pun rasa-rasanya telah mendidih serta menghembuskan asap putih yang naik ke udara.

Bersamaan dengan itu, maka rasa-rasanya tubuh Glagah Putih yang bagaikan membeku itu telah menjadi bebas. Tetapi betapa anak muda itu menjadi kecewa bahwa Bajang Bertangan Embun itu sempat melepaskan diri daripadanya. Meskipun untuk beberapa saat lamanya Glagah Putih berusaha menyusuri tanggul, tetapi ia tidak melihat Bajang kerdil itu muncul dari permukaan air.

Sementara itu, pertempuran di Tegal Wuru itu telah padam. Para pengikut Ki Manuhara yang melihat pemimpinnya terbaring diam, tidak lagi berani berbuat sesuatu. Apalagi Bajang Bertangan Baja itu pun telah sempat melarikan diri dari arena.

Yang kemudian terkejut adalah Agung Sedayu ketika ia melihat Ki Patih Mandaraka hadir di arena pertempuran itu.

Sambil mengangguk dalam-dalam ia berkata, “Selamat malam Ki Patih Mandaraka, yang pada malam-malam seperti ini menyempatkan diri hadir di tepi susukan Kali Opak ini.”

Ki Patih Mandaraka tersenyum sambil menjawab, “Aku ingin melihat, apakah yang terjadi disini akibat tingkah laku Ki Tumenggung Wreda Sela Putih yang sangat memanjakan anaknya, seakan-akan apa saja yang dikehendaki anaknya harus terjadi. Yang aku cemaskan bahwa pada suatu saat anaknya, Raden Antal minta agar ia dapat menjadi raja di Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Tumenggung Wreda berkata sambil membungkuk hormat, “Ampun Ki Patih. Kami sekeluarga mohon ampun atas kekhilafan ini.”

“Sudah tentu aku tidak dapat menanggapi permohonan ampunmu itu. Karena kau seorang Tumenggung Wreda, maka persoalanmu tentu akan sampai kepada Panembahan Senapati di Mataram.” jawab Ki Patih Mandaraka.

Wajah Ki Tumenggung menjadi pucat, sementara Ki Patih berkata, “Sebenarnyalah bahwa kedudukanmu sebagai seorang Tumenggung Wreda tidak akan dapat melepaskanmu dari jerat paugeran yang ada. Karena kesalahan, siapa pun yang melakukan harus dihukum.”

Ki Tumenggung Wreda Sela Putih hanya menunduk saja. Sementara Raden Antal telah menjadi gemetar. Ia sadar, apa yang kira-kira akan terjadi atas dirinya. Ki Patih Mandaraka sendiri menyaksikan, apa yang telah terjadi di tepi tanggul susukan Kali Opak itu.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian maka orang-orang yang ada di Tegal Wuru itu pun telah berkumpul. Para pengikut Ki Manuhara yang masih tersisa menjadi tawanan. Dibawah pengawalan anak-anak dari kelompok Gajah Liwung mereka harus mengumpulkan kawan-kawannya yang menjadi korban. Ada yang terluka parah, tetapi ada juga yang justru terbunuh.

Sekali lagi Ki Patih Mandaraka yang masih menunggui kerja itu berkata kepada Ki Tumenggung Wreda Sela Putih, “Lihat Ki Tumenggung, betapa mahalnya harga kemanjaan anakmu itu.”

Ki Tumenggung hanya menunduk saja. Sementara Ki Patih berkata, “Seorang yang berilmu sangat tinggi telah terbunuh. Untungnya bahwa Agung Sedayu memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga mampu mengatasinya. Jika tidak, maka apa yang terjadi? Seorang yang sangat berarti bagi Mataram akan terbunuh hanya karena seorang yang bernama Raden Antal, anak Ki Tumenggung Wreda Sela Putih menginginkan seorang gadis yang sama sekali tidak mencintainya.”

Ki Tumenggung yang menunduk itu menjadi semakin tunduk. Sedang Raden Antal menjadi semakin gemetar. Tubuhnya basah oleh keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.

Sambil berpaling kepada Raras, Ki Patih bertanya, “Bagaimana dengan anak gadismu Ki Rangga Wibawa?”

Ki Rangga Wibawa mengangguk hormat. Dengan nada dalam ia menjawab, “Raras ternyata selamat.”

“Bagus,” desis Ki Patih Mandaraka, “kau wajib mengucapkan terima kasih kepada Agung Sedayu, Glagah Putih, Sabungsari dan kelompok yang menyebut dirinya Gajah Liwung.”

“Ya Ki Patih. Aku memang merasa wajib untuk menyatakannya,” jawab Ki Rangga Wibawa. Lalu katanya kepada Agung Sedayu, “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Pada kesempatan lain, kami akan menyatakan lagi bersama dengan seluruh keluarga kami. Karena mereka pun tentu merasa sangat berterima kasih bahwa Raras ternyata selamat.”

“Baiklah,” berkata Ki Patih kemudian, “sebaiknya aku segera kembali. Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sabungsari dapat kembali bersamaku. Demikian pula Ki Rangga Wibawa dan Raras. Biarlah Ki Wirayuda menyelesaikan segala-galanya bersama para prajurit.”

Tetapi Agung Sedayu masih menjawab, “Ki Patih. Satu diantara kedua orang pemimpin dari kelompok yang mengambil Raras belum kami ketemukan. Karena itu, biarlah kami tinggal disini bersama Ki Wirayuda dan kelompok Gajah Liwung. Sementara itu sebagian prajurit akan dapat mengiringi Ki Patih kembali ke Kepatihan.”

Ki Patih tertawa pendek. Katanya, “Aku sudah mengira bahwa kalian tidak akan bersedia meninggalkan Ki Wirayuda disini. Aku hanya berbasa-basi. Sebenarnyalah bahwa aku sendiri yang ingin beristirahat. Namun aku ingin menitipkan Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan anaknya kepada kalian. Awasi mereka dan besok pagi bawa mereka menghadap aku.”

“Baik Ki Patih,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi bagi Ki Rangga Wibawa dan anaknya, aku tidak sekedar berbasa-basi. Aku benar-benar mengajak mereka pulang.”

Demikianlah, Ki Patih Mandaraka bersama sekelompok kecil prajurit bersama Ki Rangga Wibawa dan anak gadisnya Raras segera meninggalkan tempat itu. Mereka mengambil kuda-kuda mereka yang mereka tinggalkan beberapa ratus patok dari tempat itu, agar kedatangan mereka tidak lebih dahulu diketahui. Raras yang tidak dapat berkuda sendiri akan berkuda bersama ayahnya meskipun kudanya akan membawa beban yang sangat berat.

Sepeninggal Ki Patih Mandaraka, maka orang-orang yang tinggal di tepi tanggul Kali Opak itu meneruskan tugas mereka. Mengumpulkan korban-korban pertempuran itu. Ternyata meskipun anak-anak kelompok Gajah Liwung tetap utuh, namun beberapa orang diantaranya telah terluka. Karena itu, untuk segera mengatasi arus darah yang mengalir serta kemungkinan buruk yang lain, maka Agung Sedayu telah berusaha mengobati mereka dengan obat-obatan yang dibawanya untuk sekedar mengatasi keadaan agar luka itu tidak menjadi semakin buruk.

Sementara itu Glagah Putih justru berharap agar Bajang Bertangan Embun itu datang lagi ke tempat itu. Jika ia mengira bahwa orang-orang yang mampu melawannya tidak ada lagi di tanggul Kali Opak ini, maka ia akan datang lagi untuk melihat apa yang telah terjadi.

Tetapi ternyata bahwa orang itu tidak datang. Ternyata bahwa Bajang Bertangan Embun itu tidak lagi memikirkan kemungkinan yang terjadi atas Ki Manuhara dan orang-orangnya.

Menjelang pagi, sebelum salah seorang diantara mereka yang ada di Tegal Wuru itu menghubungi para prajurit sebagaimana direncanakan oleh Ki Wirayuda untuk menyelesaikan pekerjaan mereka atas para korban, terutama yang terbunuh dan terluka parah, ternyata telah datang sepasukan prajurit atas perintah langsung dari Ki Patih Mandaraka. Mereka mendapat tugas untuk menghubungi Ki Wirayuda dan menerima perintah-perintahnya.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu, Glagah Putih, Sabungsari serta Ki Wirayuda dan para prajurit yang datang bersama Ki Wirayuda dapat meninggalkan tempat itu. Namun mereka harus membawa Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan Raden Antal yang sengaja ditinggalkan oleh Ki Patih untuk menunggui akibat dari ketamakan Raden Antal dan sikap Ki Tumenggung yang terlalu memanjakan anaknya.

Ternyata bahwa tugas untuk mengawal Ki Tumenggung itu telah diserahkan kepada kelompok Gajah Liwung yang juga akan meninggalkan tempat itu bersama Agung Sedayu.

Berita tentang peristiwa yang terjadi ditempat yang jarang disentuh kaki selain kaki para gembala yang menggembalakan kambing mereka di siang hari itu, ternyata cepat sekali tersebar. Tanpa mengetahui siapakah yang pertama kali menceritakan peristiwa itu, namun di hari itu juga rasa-rasanya penghuni Kotaraja semuanya telah mendengar apa yang terjadi. Dengan demikian maka hampir setiap mulut telah menyebut nama Raden Antal serta Raras. Bahkan mereka juga menyebut-nyebut nama Rara Wulan yang menjadi sasaran utama dari ketamakan Raden Antal.

Banyak orang yang tidak mengira bahwa Raden Antal telah melakukan hal itu. Tetapi seorang perempuan yang pernah menjadi isterinya dan kemudian dicampakkannya, tahu benar, bahwa hal itu memang mungkin sekali terjadi pada Raden Antal.

Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sabungsari yang kemudian berada di rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa telah mendengar pula apa yang telah terjadi di rumah itu. Namun dengan demikian mereka mengetahui pula bahwa masih ada seorang lagi yang berilmu tinggi yang luput dari tangan mereka kecuali Bajang Bertangan Baja. Orang itu adalah Resi Belahan yang mempunyai kepentingan berbeda dengan Bajang Bertangan Baja itu.

Sementara itu, Ki Wirayuda bersama-sama dengan anggauta Gajah Liwung telah membawa Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan Raden Antal menghadap ke Kepatihan.

Tetapi Ki Patih Mandaraka tidak ingin membuat keputusan apa pun tentang mereka. Ki Patih memang berniat untuk membawa persoalan itu kepada Panembahan Senapati.

Kepada kelompok Gajah Liwung yang dipimpin oleh Ki Ajar Gurawa, Ki Patih Mandaraka mengucapkan terima kasih, bahwa mereka telah membantu mengatasi persoalan yang akan dapat menggetarkan Mataram.

“Nampaknya persoalannya adalah persoalan yang hanya menyangkut beberapa keluarga. Tetapi jika hal ini tidak teratasi, maka persoalannya akan dapat menjadi luas. Kepercayaan rakyat Mataram terhadap perlindungan mereka menjadi susut, seakan-akan para prajurit Mataram tidak mampu melawan kejahatan. Jika Raras tidak berhasil diselamatkan, maka rakyat akan menjadi resah, karena cara yang licik itu akan dapat dilakukan terhadap orang-orang lain dalam persoalan yang lain pula. Sementara para prajurit Mataram menghadapi jalan buntu. Namun untunglah bahwa seorang Lurah prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh mampu memecahkan persoalan ini dan menemukan kembali Raras, meskipun harus ada korban yang jatuh,” berkata Ki Patih Mandaraka.

Ki Tumenggung Wreda Sela Putih menjadi semakin gelisah. Perasaan bersalah telah mencengkam jantungnya. Namun semuanya telah terjadi. Sebagai seorang laki-laki maka Ki Tumenggung tidak dapat berbuat lain kecuali harus mempertanggung-jawabkannya. Apa pun hukuman yang akan ditimpakan kepadanya.

Dengan demikian, setelah Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan anaknya berada di Kepatihan, maka para anggauta Gajah Liwung pun diperkenankan untuk meninggalkan rumah itu.

“Sebaiknya kalian pergi ke rumahku,” berkata Ki Wirayuda, “kalian memerlukan pengobatan dan mungkin beberapa pesan. Aku akan tinggal disini untuk beberapa saat. Tetapi aku pun akan segera pulang,” berkata Ki Wirayuda.

Ki Ajar Gurawa yang mewakili anak-anak Gajah Liwung itu pun kemudian minta diri untuk meninggalkan Kepatihan. Mereka akan pergi ke rumah Ki Wirayuda untuk beristirahat dan mungkin diantara mereka masih membutuhkan pengobatan.

“Aku akan memberitahukan kepada Ki Lurah Agung Sedayu, bahwa kalian berada di rumahku,” berkata Ki Wirayuda. Namun katanya kemudian, “Tetapi tolong, jangan berjalan bersama-sama, karena hal itu akan dapat menarik perhatian banyak orang.”

Ki Ajar Gurawa tersenyum. Katanya, “Baiklah Ki Wirayuda. Kami akan membagi diri. Jika kami terpaksa singgah di kedai maka kami pun akan memasuki beberapa buah kedai yang tidak sama-sama.”

Ki Wirayuda dan Ki Patih Mandaraka sempat tersenyum. Bahkan Ki Wirayuda kemudian berkata, “Apakah kau harus minta uang bekal dari Ki Patih.”

Ki Ajar Gurawa tertawa. Namun bersama anggauta kelompok Gajah Liwung ia pun segera minta diri. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Ki Wirayuda, maka mereka tidak berjalan bersama-sama. Tetapi mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil.

Ki Wirayuda sendiri untuk beberapa saat masih berada di Kepatihan. Tetapi kemudian ia pun telah minta diri, sementara Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan anaknya masih tetap berada di Kepatihan. Sebagai seorang yang berkedudukan tinggi, maka Ki Tumenggung tidak ditahan di sembarang tempat.

Demikianlah, maka Ki Wirayuda telah menemui Agung Sedayu di rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa. Diberitahukannya bahwa Ki Tumenggung Wreda Sela Putih berada di Kepatihan bersama Raden Antal. Sedangkan para anggauta Gajah Liwung berada di rumahnya.

“Bukankah diantara mereka ada yang terluka?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya,” jawab Ki Wirayuda, “mereka memerlukan obat-obatan. Karena itu, aku minta mereka untuk berada di rumahku, terutama yang terluka.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun agaknya Ki Wirayuda sudah mempunyai obat yang baik untuk luka-luka itu. Meskipun demikian Agung Sedayu berkata, “Aku akan segera pergi ke rumah Ki Wirayuda.”

“Silahkan. Tetapi aku akan singgah sebentar di rumah Ki Rangga Wibawa. Aku akan melihat keadaan Raras. Bukankah kau juga ingin melihatnya?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita pergi bersama-sama.”

Agung Sedayu pun kemudian telah mengajak Glagah Putih dan Sabungsari untuk menemui para anggota Gajah Liwung. Tetapi mereka akan singgah sebentar di rumah Ki Rangga Wibawa.

“Jadi kalian akan menemui Raras?” bertanya Teja Prabawa yang mendengar pembicaraan itu.

“Kami akan menemui Ki Rangga Wibawa,” jawab Agung Sedayu.

“Bohong,” sahut Teja Prabawa, “kalian tentu akan menemui Raras. Jika demikian aku akan ikut bersama kalian.”

“Kalau kau akan pergi menemuinya, pergilah. Tetapi kau tidak dapat bersikap seperti itu kepada Ki Lurah Agung Sedayu,” bentak ayahnya. Lalu katanya, “Tanpa mereka Raras telah hilang dibawa oleh Raden Antal ke tempat yang tentu tidak mudah kita temukan.”

Raden Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab.

Agung Sedayu lah yang kemudian menjawab, “Baiklah. Aku kira tidak ada salahnya jika Raden Teja Prabawa ingin pergi bersama kami untuk melihat Raras. Tetapi yang jelas gadis itu sudah selamat dan dibawa oleh ayahnya pulang kerumahnya. Mereka meninggalkan Tegal Wuru bersama Ki Patih Mandaraka.”

Ki Tumenggung Purbarumeksa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian, pergilah. Tetapi ingat, kau tidak boleh berbuat sesuka hatimu. Kau harus bercermin kepada Raden Antal. Seorang yang manja yang semua keinginannya harus dipenuhi. Apa jadinya sekarang? Kau harus belajar melihat kenyataan, bahwa kau pun seorang anak yang terhitung manja. Yang pada saat-saat gawat tidak dapat menyelesaikan persoalannya sendiri.”

Raden Teja Prabawa hanya menundukkan kepalanya saja, sementara Ki Lurah Branjangan menepuk bahunya sambil berkata, “Sudahlah, pergilah. Tetapi renungkan kata-kata ayahmu itu agar kau tidak semakin tenggelam dalam sifat dan sikapmu itu. Kau harus bangkit dan bersikap seperti seorang laki-laki. Ketika kau dengan tegar membela adik perempuanmu, aku sudah merasa bahwa kau sudah menemukan dirimu sebagai seorang laki-laki. Namun ternyata pada saat-saat yang rumit, kau kembali kuncup dan merengek seperti seorang gadis cengeng.”

Raden Teja Prabawa tidak menjawab. Tetapi kepalanyalah yang semakin tunduk.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih pun telah minta diri pula kepada Sekar Mirah dan Rara Wulan. Mereka pun telah menitipkan keluarga itu kepada Ki Jayaraga karena masih ada orang-orang berilmu tinggi yang terlepas. Bahkan seorang lagi telah hadir di Mataram dengan tujuan yang belum diketahui dengan jelas.

Berempat bersama Ki Wirayuda mereka berkuda meninggalkan rumah Ki Tumenggung Purbarumeksa. Raden Teja Prabawa yang mulai merasa dirinya kecil, berkuda di paling belakang. Sekali-sekali Sabungsari minta agar Raden Teja Prabawa berkuda didepan. Tetapi anak muda itu selalu menggelengkan kepalanya.

Orang-orang yang melihat iring-iringan itu memang tertarik untuk memperhatikannya. Namun mereka selalu menghubungkan orang-orang yang menarik perhatian mereka dengan peristiwa yang telah mereka dengar di Tegal Wuru, disebelah tanggul susukan Kali Opak.

Apalagi hari itu, orang-orang yang tinggal di Kotaraja melihat prajurit yang meronda agak lebih sering dari hari-hari sebelumnya. Bahkan ada diantara mereka yang melihat Ki Tumenggung Wreda Sela Putih dan Raden Antal berkuda diiringi oleh sekelompok prajurit dan anak-anak muda menuju ke Kepatihan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang berkuda itu, telah memasuki regol halaman rumah Ki Rangga Wibawa.

Di rumah itu ternyata masih ada beberapa prajurit yang bertugas untuk membantu menjaga keselamatan Raras yang masih terancam karena Bajang Bertangan Baja telah luput dari tangan Glagah Putih.

Meskipun di rumah itu ada Ki Rangga Wibawa dan Wacana, anak muda yang dianggap memiliki ilmu yang tinggi, namun beberapa orang prajurit masih diperlukan.

Kedatangan mereka disambut dengan akrab oleh Ki Rangga Wibawa yang merasa berhutang budi kepada mereka yang datang itu.

Demikian mereka dipersilahkan duduk dipendapa, maka Nyi Rangga pun telah dipanggilnya pula.

Dengan air mata yang mengalir dari pelupuknya betapapun tangannya sibuk mengusapnya, Nyi Rangga mengucapkan terima kasih pula dengan kata-kata yang tersendat-sendat.

“Dimana Raras sekarang?” bertanya Ki Wirayuda.

“Ia berada dibiliknya ditemani oleh Wacana,” jawab Nyi Rangga sambil mengusap air matanya pula.

“Jiwanya telah terguncang,” berkata Ki Rangga, “tampaknya ia memerlukan waktu untuk menyembuhkannya. Ia selalu merasa ketakutan, gelisah dan ketika ia sempat tidur sejenak, maka tiba-tiba ia terbangun sambil berteriak-teriak ketakutan.”

“Anak itu belum dapat ditinggalkan sendiri. Ia harus ditunggui didalam biliknya,” berkata Nyi Rangga pula.

“Ya, “Ki Rangga Wibawa menyambung, “meskipun ia sudah tahu bahwa di rumah ini ada sekelompok prajurit yang dapat membantu melindunginya. Tetapi ia masih tetap ketakutan.”

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah aku diijinkan menemuinya?”

“Marilah,” jawab Ki Rangga, “aku antar Ki Wirayuda ke biliknya. Anak itu sulit untuk dapat tidur.”

Ketika Ki Wirayuda bangkit bersama Ki Rangga Wibawa. Teja Prabawa pun bangkit pula sambil berkata, “Aku juga ingin bertemu dengan Raras.”

Ki Rangga Wibawa menarik nafas dalam-dalam. Namun Agung Sedayu lah yang berkata, “Nanti saja Raden. Biarlah Ki Rangga lebih dahulu menemuinya.”

Raden Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih berkata, “Tetapi aku adalah orang terdekat bagi Raras.”

“Biarlah ia tenang lebih dahulu,” jawab Ki Rangga Wibawa, “nanti aku persilahkan angger menemuinya.”

“Paman,” desis Teja Prabawa.

“Bukankah Raden ingat akan pesan Ki Tumenggung Purbarumeksa sebelum angger berangkat?”

Wajah Teja Prabawa menegang sejenak. Tetapi kemudian ia pun telah duduk kembali di tempatnya.

Demikianlah, maka Ki Wirayuda diantar oleh Ki Rangga Wibawa telah masuk kedalam bilik Raras yang ditunggui oleh Wacana. Demikian pintu bilik itu terbuka, maka Raras pun telah menjerit ketakutan, sehingga Wacana telah bergeser mendekati pembaringannya sambil berkata, “Lihat Raras. Paman Rangga Wibawa.”

“O,” Raras mengusap keringat dikeningnya, “ayah.”

“Ya Raras,” jawab ayahnya, “aku datang dengan Ki Wirayuda.”

“Siapa?” bertanya Raras curiga.

“Salah seorang diantara mereka yang telah menolongmu,” jawab Ki Rangga. Lalu katanya pula, “Bukankah kau ingat, bahwa Ki Wirayuda pernah datang kemari sebelum peristiwa itu terjadi?”

Raras termangu-mangu sejenak. Tetapi ingatannya terasa agak kurang baik sejak ia mengalami goncangan jiwa itu.

Namun ia pun mengangguk sambil berkata, “Ya ayah. Rasa-rasanya aku ingat.”

“Ia datang untuk menengok keadaanmu,” berkata Ki Rangga kemudian.

Ki Wirayuda pun kemudian mendekat. Namun nampak bahwa Raras masih saja merasa ketakutan. Meskipun demikian, Raras sudah mulai dapat mengekang perasaannya, sehingga ia tidak meloncat meninggalkan pembaringannya dan berlari ke-sudut ruangan.

“Bagaimana keadaanmu ngger?” bertanya Ki Wirayuda.

“Aku sudah menjadi berangsur baik, Ki Wirayuda,” jawab Raras agak ragu.

“Baiklah,” berkata Ki Wirayuda, “kau tidak boleh selalu merasa ketakutan. Kau sudah berada di rumahmu lagi. Di rumah ini kau harus merasa aman.”

“Tetapi bukankah aku diambil oleh orang itu dari rumah ini pula,” desis Raras yang tiba-tiba saja bulu-bulunya mulai meremang lagi.

Tetapi Ki Wirayuda menjawab, “Tetapi waktu itu rumah belum dijaga oleh beberapa orang prajurit. Angger Wacana belum juga berada di rumah ini.”

Raras mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam ia berdesis, “Ya Ki Wirayuda.”

“Jika demikian, maka kau dapat beristirahat dengan tenang. Kau dapat tidur nyenyak karena setiap orang yang akan datang mengganggumu akan berhadapan dengan sekelompok prajurit dan tentu saja akan berhadapan dengan ayahmu dan angger Wacana.”

Raras mengangguk lagi.

Sambil menepuk bahu Raras yang terbaring di pembaringannya itu Ki Wirayuda berkata. “Tidurlah. Nanti tubuhmu akan segera pulih kembali. Kau tidak akan merasa sangat letih dan pening seperti sekarang ini.”

Raras mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba untuk dapat tidur Ki Wirayuda.”

“Bagus. Jika kau tidur dengan tenang, maka kau tidak akan selalu dibayangi oleh mimpi buruk. Jika kau tidur dengan tenang maka kau akan dapat tidur dengan nyenyak. Bukan saja baik buatmu tetapi juga buat ayah dan ibumu. Angger Wacana juga tidak selalu gelisah menungguimu disini.”

“Tetapi aku tidak mau ditinggal sendiri.” minta Raras.

“Ya. Ya. Tentu. Kau tidak akan ditinggal sendiri,” sahut Ki Wirayuda.

Dengan demikian Ki Wirayuda telah mendapat kesimpulan bahwa keadaan Raras memang sudah berangsur baik. Karena itu, maka ia pun berdesis kepada Ki Rangga Wibawa, “Bagaimana jika angger Teja Prabawa menengoknya? Mungkin akan membuatnya semakin tenang, karena menurut pendengaranku, keduanya nampaknya mulai saling terikat.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya memang demikian meskipun Ki Tumenggung Purbarumeksa masih belum mengatakan hal itu kepada kami.”

“Jadi bagaimana menurut Ki Rangga?” bertanya Ki Wirayuda.

“Baiklah. Tetapi lebih dahulu aku akan minta persetujuan Raras,” jawab Ki Rangga Wibawa.

Ki Rangga Wibawa itu pun kemudian telah duduk di bibir pembaringan Raras sambil berkata, “Raras. Yang datang bersama Ki Wirayuda adalah beberapa orang yang telah menolongmu. Selain mereka juga datang menengokmu Raden Teja Prabawa. Apakah kau dapat menerimanya?”

Raras memandang ayahnya sesaat. Katanya kemudian, “Terserah kepada ayah.”

Ki Rangga Wibawa memang menjadi agak heran. Sikap Raras terhadap Raden Teja Prabawa nampaknya memang agak berubah. Tetapi Ki Rangga menganggap bahwa hal itu disebabkan karena goncangan jiwa Raras yang masih belum sembuh sepenuhnya.

Namun Ki Rangga Wibawa memang tidak merasa berkeberatan bahwa Raden Teja Prabawa yang sudah akrab dengan Raras itu akan menengoknya barang sebentar.

Karena itu. maka ketika kemudian Ki Rangga Wibawa dan Ki Wirayuda keluar dari bilik itu dan kembali ke pendapa, maka Ki Rangga pun telah mempersilahkan Raden Teja Prabawa untuk melihat Raras diantar oleh Nyi Rangga.

Ketika Teja Prabawa berdiri dengan ragu didepan pintu bilik, maka Wacana pun telah mempersilahkannya.

“Raras masih belum tidur,” desis Wacana. Sementara itu Nyi Rangga pun berkata, “Silahkan ngger.”

Raden Teja Prabawa telah melangkah masuk dan berdiri termangu-mangu di sisi pembaringan Raras.

Raras yang masih berbaring dipembaringannya itu memandang Teja Prabawa sejenak. Namun kemudian kembali ia menatap atap.

“Raras,” desis Wacana, “yang datang adalah Raden Teja Prabawa. Bukankah kau dapat mengenalinya?”

“Ya, aku tahu,” jawab Raras.

“Kenapa kau tidak mempersilahkannya?” bertanya Wacana.

“Kepalaku masih sangat pening,” berkata Raras, “apakah aku harus bangkit dan mempersilahkan duduk.”

“Kau dapat mempersilahkannya sambil berbaring,” berkata Wacana kemudian.

Raras menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Raden Teja Prabawa yang masih berdiri termangu-mangu. Sementara ibunya sudah duduk di bibir pembaringan Raras.

“Raras,” berkata ibunya sambil mengusap dahinya, “Raden Teja Prabawa ingin menengokmu, setelah kau lepas dari bahaya yang hampir saja menelanmu itu.”

“Biarlah ia duduk ibu,” jawab Raras.

“Raras,” desis ibunya lembut, “ia datang untukmu.”

Raras mengangguk kecil. Katanya, “Ya ibu. Aku berterima kasih atas kebaikannya. Bahwa Raden Teja Prabawa sudah datang menengokku.”

“Karena itu, persilahkan ia duduk,” berkata ibunya.

Raras mengangguk kecil. Katanya kemudian, “Marilah Raden, silahkan duduk.”

Raden Teja Prabawa sendiri heran melihat sikap Raras. Tetapi ia masih menahan diri untuk tidak bertanya. Yang kemudian justru bertanya adalah Raras, “Kakangmas Teja Prabawa. Kenapa kakangmas tidak ada diantara mereka yang menolong aku? Yang membebaskan aku?”

Pertanyaan itu memang mengejutkan Teja Prabawa. Untuk sesaat ia tidak dapat menjawab. Baru kemudian ia berkata, “Raras. Aku sudah berusaha untuk ikut membebaskanmu. Tetapi orang-orang itu dengan sengaja meninggalkan aku. Aku tidak tahu kenapa mereka berbuat seperti itu.”

“Tetapi yang berhasil membebaskan aku bukan kau kakangmas,” desis Raras.

“Sudahlah Raras,” berkata Nyi Rangga Wibawa, “siapa pun yang melakukan, ternyata kau sudah terlepas dari bahaya itu. Karena segala usaha dilakukan, maka secara kebetulan justru orang lain yang langsung dapat membebaskanmu. Tetapi bukan berarti bahwa Raden Teja Prabawa tidak ikut berbuat apa-apa, karena hasil yang didapat itu juga dipengaruhi oleh usaha-usaha lain termasuk usaha Raden Teja Prabawa.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 279)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-78/

Terima kasih kepada Ki Raharga yang telah me-retype jilid ini

 

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s