ADBM3-283

<<kembali | lanjut >>

TANGAN GLAGAH PUTIH memang tergetar. Tetapi dengan cepat ia sudah menguasai pedangnya sepenuhnya. Sementara itu, lawannya telah meloncat jauh surut. Meskipun goloknya masih di tangannya, namun hampir saja goloknya itu terlepas. Telapak tangannya terasa panas bagaikan tersengat api. Benturan yang terjadi itu memang terlalu keras.

Untuk beberapa saat golok yang besar itu tertunduk di sisi tubuh lawan Glagah Putih. Sambil menyeringai menahan pedih ia menggeram, “Kau memang anak iblis.”

Glagah Putih mulai menggerakan pedangnya pula. Sementara itu lawannya masih bergeser surut ketika Glagah Putih mulai melangkah maju.

Bahkan lawannya itu telah memindahkan goloknya di tangan kirinya sementara ia meniup telapak tangan kanannya yang bagaikan tersentuh bara.

“Kekuatan iblis dari manakah yang kau warisi itu?” geram lawan Glagah Putih itu.

“Kau kira aku kenal dengan iblis? Atau barang kali iblis bagimu adalah kekuatan tertinggi yang pantas diwarisi?” bertanya Glagah Putih.

“Tetapi itu bukan pertanda kemenanganmu. Aku tenyata telah lengah, karena aku tidak memperhitungkan kekuatan yang kau warisi dari iblis itu.”

Glagah Putih tidak menghiraukan lagi. Tetapi pedangnya mulai merunduk dan bergetar. Katanya, “Sekali lagi aku peringatkan. Menyerahlah. Orang terakhir dari pasar masih akan lewat jalan ini. Apapun yang akan kau lakukan, maka kau akan dapat kami tangkap dan kami bawa menghadap Ki Gede Menoreh.”

“Meskipun kau digerakkan oleh tangan seribu iblis, kau tidak akan dapat menangkap aku.”

“Jangan terlalu sombong. Tetapi ingat, bahwa aku memang akan menangkapmu hidup-hidup. Kecuali jika kau membunuh dirimu sendiri. Sudah tentu bahwa itu sama sekali bukan tanggung jawabku. Aku pun tidak akan merasa kehilangan jika kau mati disini,” berkata Glagah Putih.

Orang itu telah menggenggam goloknya di tangan kanannya lagi. Ia pun segera bersiap-siap untuk bertempur antara hidup dan mati.

Sementara itu, Sabungsari dan lawannya pun bertempur semakin sengit pula. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi. Ilmu pedang lawan Sabungsari itu ternyata cukup mapan.

Tetapi menghadapi Sabungsari, dalam waktu yang terhitung singkat orang itu mulai terdesak. Ilmu pedangnya yang mapan sama sekali tidak mampu menggoyahkan ilmu Sabungsari. Bahkan rasa-rasanya pedang Sabungsari mampu memotong setiap ayunan pedang lawannya, sehingga lawannya merasa kehilangan kesempatan sama sekali.

Semakin lama maka lawannya pun menjadi semakin terdesak. Tetapi ia tidak segera ingin menyerah. Dengan segenap kemampuannya ia masih berusaha untuk menghentakkan ilmunya.

Tetapi apapun yang dilakukannya, ia tidak mampu mengatasi ilmu pedang Sabungsari. Ketika ia memaksakan diri untuk menembus pertahanan Sabungsari, maka yang terjadi justru sebaliknya. Ujung pedang orang itu sama sekali tidak mampu menggapai tubuh Sabungsari. Ketika ujung pedang itu mematuk lurus, Sabungsari telah meloncat kesamping. Demikian kakinya melontarkan tubuhnya, maka pedangnya telah terayun pula.

Orang itu berteriak marah sekali. Ia merasakan sengatan ujung pedang Sabungsari di lambungnya. Meskipun tidak terlalu dalam, namun ujung pedang itu telah mengoyak kulitnya. Darah telah mengalir sehingga pertempuran itu pun akan menjadi semakin garang.

Tetapi Sabungsari masih berkata, “Masih ada kesempatan untuk menyerah. Jika kau menyerah maka kau akan tetap hidup.”

“Persetan kau,” geram orang itu, “aku tidak akan membunuhmu.

Sabungsari tidak sempat menjawab. Orang itu pun segera meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun bagaimana pun juga kemampuannya tidak berada di atas kemampuan Sabungsari. Karena itu, semakin lama justru menjadi semakin terdesak. Ujung pedang Sabungsari sekali lagi menyentuh kulitnya pundaknya telah terluka pula.

“Kau tidak akan dapat melarikan diri,” kata Sabungsari. “hanya ada dua pilihan. Menyerah atau mati.”

Orang itu menjawab. Memang terbersit penyesalan di hatinya. Sebenarnya berdua mereka hanya ditugaskan untuk mengamati keadaan. Tetapi atas kehendak mereka sendiri, mereka ingin membawa dua orang yang dianggapnya akan dapat memberikan beberapa keterangan. Namun ternyata dua orang yang dijumpainya itu adalah dua orang yang berilmu tinggi, sehingga mereka telah terjebak dalam kesulitan.

Sebenarnya mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Ketika lawan Sabungsari itu masih berusaha untuk mengerahkan sisa-sisa kemampuannya, maka lawan Glagah Putih telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian ia pun telah jatuh terguling masuk ke dalam parit yang airnya gemercik tidak lebih dalam dari mata kaki.

Orang itu mengaduh tertahan. Meskipun agak mengalami kesulitan, namun itu mencoba untuk mencoba bangkit. Tetapi demikian ia berdiri, maka kakinya yang goyah telah tergelincir dan sekali lagi terjatuh ke dalam parit.

Ketika kemudian ia bangkit lagi, maka air parit itu telah menjadi kemerah-merahan. Ternyata orang itu telah terluka pula, sehingga darah pun telah mewarnai air di parit itu.

Dengan demikian maka luka itu pun menjadi sangat pedih sekali-kali ia harus berdesis. Meskipun demikian, orang itu masih berniat untuk bertempur. Goloknya yang besar masih berada di tangannya.

Sejenak orang itu sudah memanjat tanggul parit yang rendah.

Sambil memutar goloknya ia berkata masih lantang, “Kau memang tidak tahu diri. Kau memang harus mati.”

Tetapi Glagah Putih tidak menyahut. Selangkah ia maju dengan pedang yang bergetar di tangannya.

Orang yang basah kuyup itu bergerak maju. Ia sudah tidak berada di tanggul lagi. Goloknya yang besar sudah mulai berputar.

Tetapi tenaganya yang sudah terkuras serta darahnya yang mengalir semakin deras semakin banyak dari tubuhnya, membuat tenaganya menjadi surut. Sementara itu Glagah Putih masih tetap segar.

Kedua orang dari perkemahan itu pun kemudian menyadari, bahwa mereka benar-benar telah terjebak. Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerah atau mati.

Sementara itu, Glagah Putih dan Sabungsari telah menekan lawan-lawannya semakin keras. Keduanya sama sekali sudah tidak mempunyai kesempatan. Luka di tubuh mereka justru telah bertambah lagi. Goresan-goresan ujung pedang meskipun tidak terlalu dalam tetapi semakin lama semakin menjadi semakin banyak.

Ternyata bagaimana pun juga, kedua orang itu masih belum ingin mati. Karena itu, ketika mereka benar-benar sudah kehabisan tenaga, maka mereka tidak mempunyai pilihan. Yang dapat mereka lakukan satu-satunya adalah menyerah.

Karena itu, ketika Glagah Putih sekali lagi meneriakkan tawaran untuk menyerah, maka kedua orang dari perkemahan itu pun telah meloncat mengambil jarak. Dengan serta merta mereka pun telah melepaskan senjata mereka.

“Kami menyerah,” berkata salah seorang dari mereka.

Glagah Putih dan Sabungsari tidak memburu. Apalagi ketika mereka sudah meletakkan senjata mereka. Bahkan keduanya sempat memperhatikan sekitar mereka. Ternyata jalan itu masih tetap sepi. Namun sebenarnyalah dari kejauhan ada satu dua orang yang memperhatikan pertempuran itu. Orang yang pulang dari pasar dan melihat pertempuran itu, tidak berani meneruskan perjalanan mereka. Mereka hanya berani memperhatikannya dari kejauhan saja.

Ketika dua orang pengawal yang meronda melihat pertempuran itu, maka untuk beberapa saat mereka memperhatikan dengan seksama. Baru kemudian mereka yakin, bahwa yang sedang bertempur itu adalah Glagah Putih dan Sabungsari.

Namun demikian mereka berlari ke arena pertempuran itu, ke dua orang lawan Glagah Putih dan Sabungsari itu sudah menyerah dan meletakkan senjata mereka.

Bahkan orang-orang yang semula hanya melihat dari kejahuan telah berani mendekat pula. Dua orang laki-laki tua yang kemudian mendekati Glagah Putih berkata, “Serahkan mereka kepada kami. Kamilah yang akan menghukum mereka.”

Glagah Putih justru tersenyum. Katanya, “Biarlah mereka dibawa menghadap Ki Gede, kek.”

“Buat apa mereka harus dibawa menghadap Ki Gede? Serahkan orang-orang itu kepada kami,” berkata seorang yang lain.

Tetapi Glagah Putih menggeleng. Dengan nada berat ia berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Tinggalkan orang-orang ini. Bukankah kalian sudah kesiangan.”

Kepada kedua orang pengawal yang mendekat itu Glagah Putih berkata, “marilah. Kita bawa mereka menghadap Ki Gede. Tetapi apakah kalian tidak melihat Prastawa?”

“Ya. Tadi Prastawa dan dua orang kawan ada di pasar. Ketika kami menyusuri jalan ini, mereka masih ada di padukuhan itu.” jawab salah seorang pengawal itu..

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya ia diberi tahu tentang hal itu.”

Kedua orang pengawal yang meronda itu pun segera membagi diri. Seorang akan kembali untuk memberikan laporan kepada Prastawa, sementara yang seorang lagi akan mengikuti Glagah Putih dan Sabungsari membawa kedua orang itu untuk sementara ke banjar padukuhan terdekat Sambil menunggu Prastawa.

Kepada orang-orang yang kemudian berkerumun, Glagah Putih berkata, “Sudahlah. Tinggalkan kami. Biarlah kami menyelesaikan tugas kami.”

Beberapa orang memang meninggalkan tawanan itu. Tetapi masih ada saja yang melihat dengan wajah geram. Mereka pernah mendengar sebuah padukuhan di dekat kaki bukit telah mendapat serangan dari para penjahat. Padukuhan-padukuhan mereka pun selalu bersiap-siap siang dan malam. Kedua orang itu tentu bagian dari penjahat-penjahat yang mengganggu ketenangan Tanah Perdikan Menoreh itu.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Glagah Putih, Sabungsari dan seorang pengawal telah membawa kedua orang itu ke padukuhan terdekat. Di padukuhan itu mereka akan menunggu Prastawa untuk bersama-sama menghadap Ki Gede sambil membawa kedua orang tawanan itu.

Prastawa yang kemudian mendapatkan laporan itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa akan menjadi pertempuran. Ia menyangka bahwa Glagah Putih dan Sabungsari hanya akan sekedar mengamati mereka.

“Tentu mereka telah berbuat sesuatu yang memaksa Glagah Putih dan Sabungsari mengambil tindakan,” berkata Prastawa.

“Mungkin,” jawab pengawal yang memberikan laporan itu, “tetapi waktu kami datang, kami sudah melihat pertempuran itu. Sementara kami belum sempat bertanya, apakah sebabnya pertempuran itu terjadi.”

Dengan cepat Prastawa dan dua orang pengawal yang menyertainya telah mengikuti pengawal yang memberikan laporan itu ke padukuhan terdekat dari arena pertempuran itu.

Prastawa mendapatkan kedua orang itu sudah berada di banjar padukuhan, ditunggu oleh beberapa pengawal padukuhan itu yang sedang berada di banjar. Dalam kesiagaan tertinggi, maka banjar padukuhan itu merupakan landasan pengendalian tugas para pengawal. Ki Bekel juga setiap hari berada meskipun hanya sebentar di samping tugas-tugasnya. Para pengawal dam anak-anak muda pun telah mengatur diri bergantian bertugas di banjar di samping tugas mereka masing-masing. Di sawah, di pasar atau pekerjaan mereka sehari-hari yang lain, agar tumpuan hidup mereka tidak goyah karenanya.

Setelah berbicara beberapa lama dengan Glagah Putih dan Sabungsari, maka Prastawa memutuskan untuk saat itu juga membawa kedua orang tawanan itu ke padukuhan induk.

“Namun padukuhan ini nanti malam harus mendapat pengamanan khusus,” berkata Sabungsari.

“Ya,” jawab Prastawa, “mungkin berita ini sempat didengar oleh orang-orang yang ada di perkemahan itu sehingga mereka berusaha untuk mengambil kedua orang yang tertawan itu jika mereka mengira bahwa keduanya masih berada disini.”

Demikianlah, maka Prastawa telah memerintahkan kedua orang pengawalnya untuk menyiapkan sebuah pedati yang dipinjam dari salah seorang penghuni padukuhan itu.

“Biarlah tidak menjadi tontonan,” berkata Prastawa, “karena hal itu akan dapat mengundang perhatian orang banyak. Mungkin diantara mereka terdapat orang-orang dari perkemahan. Sehingga mereka akan semakin mendendam kepada orang-orang Tanah Perdikan ini tanpa pandang bulu.”

Glagah Putih dan Sabungsari ternyata sependapat. Karena itu, maka beberapa saat kemudian kedua orang itu telah dinaikkan keatas sebuah pedati.

“Terserah kepadamu, apakah kau ingin menjadi tontonan atau tidak,” berkata Prastawa.

Kedua orang itu memang merasa lebih senang bersembunyi di dalam pedati. Tetapi semula mereka menolak untuk diikat tangannya di belakang tubuhnya. Tetapi Prastawa kemudian berkata, “Jika kalian menolak, maka kami akan mengikat leher kalian. Kalian tidak akan dibawa di dalam pedati, tetapi dengan tali di leher kalian akan dipaksa berjalan mengikuti pedati itu.”

“Apakah orang-orang Tanah Perdikan ini memang demikian biadabnya?” desis salah seorang dari mereka.

“Kami sudah mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya dengan membawa kalian di dalam pedati. Tetapi kalian menolak.” jawab Prastawa.

“Kami tidak menolak naik keatas pedati. Tetapi kami menolak diikat tangan kami. Kami bukan pencuri ayam atau orang-orang yang sering menyambar jemuran. Tatapi kami adalah orang-orang yang sedang berjuang untuk satu cita-cita.” sahut salah seorang dari mereka.

“Kalian adalah tawanan kami. Kami memperlakukan kalian sesuai dengan kebijaksanaan kami. Kami tidak ingin mengalami kesulitan di perjalanan ke padukuhan induk. Karena itu kalian tinggal memilih. Naik pedati dengan tangan terikat, atau berjalan di belakang pedati dengan tali yang dikalungkan di leher kalian. Atau jika tidak kedua-duanya, kalian dapat kami bunuh disini tanpa perkara,”

Kedua orang itu tidak dapat membantah lagi. Apalagi Prastawa nampaknya bersungguh-sungguh. Demikian pula kedua orang pengawal yang menyertainya, sementara itu Glagah Putih dan Sabungsari seakan-akan justru tidak turut campur.

Dengan demikian, maka kedua orang itu pun kemudian telah naik ke atas pedati dengan kedua tangan masing-masing terikat di belakang tubuh mereka. Keduanya telah duduk bersandar pada dinding pedati, sehingga kedua tangan mereka yang terikat tidak begitu jelas nampak dari luar.

Meskipun demikian dendam kedua orang itu telah menyala sampai ke ubun-ubun.

Ketika kedua orang itu kemudian dibawa ke padukuhan induk, maka Glagah Putih dan Sabungsari telah ikut pula mengawalnya meskipun agak jauh dari pedati itu. Prastawa sendiri ikut berada di dalam pedati, sementara tiga orang pengawal berjalan beberapa langkah di belakang, sehingga pedati itu benar-benar tidak menarik perhatian.

Meskipun demikian Glagah Putih dan Sabungsari tetap berhati-hati. Jika ada orang lain dari perkemahan yang mengetahui keadaan kedua orang itu, maka mungkin ada langkah-langkah yang akan diambil untuk membebaskan kedua orang itu

“Kita tidak tahu, apakah diantara kerumunan orang-orang yang kembali dari pasar itu terdapat orang-orang perkemahan,” berkata Glagah Putih.

“Memang mungkin sekali. Mereka menyelinap diantara orang-orang itu. Kemudian dengan tergesa-gesa memberitahukan kepada kawan-kawannya sehingga kawan-kawannya akan berusaha untuk membebaskannya,” sahut Sabungsari.

“Jika saja mereka melihat penangkapan itu, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa keduanya telah dibawa ke padukuhan induk, maka padukuhan itu memang terancam,” berkata Glagah Putih kemudian.

Sabungsari mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya pedati yang berjalan di depan. Tiga orang pengawal dan mereka berdua.

Namun ternyata perjalanan mereka tidak terganggu. Kedua orang itu meskipun lambat, akhirnya sampai juga di padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Gede yang ada di rumahnya, telah menerima kedua orang itu. Semula kedua orang itu ingin menunjukkan harga diri mereka. Namun wibawa Ki Gede telah memaksa mereka menundukkan kepala mereka.

Sapa Ki Gede ternyata telah mengejutkan kedua orang yang tangannya masih saja terikat itu. Dengan nada rendah Ki Gede Menoreh berkata, “Selamat datang di Tanah Perdikan ini Ki Sanak berdua.”

Kedua orang itu justru saling berpandangan sejenak. Mereka menyangka bahwa orang yang disebut Ki Gede Menoreh itu serta merta akan membentak, mengancam dan bahkan mungkin memukulnya. Tetapi ucapan selamat datang itu justru begitu mengejutkannya mereka.

Kedua orang itu sama sekali tidak menjawab.

Karena kedua orang itu tidak menjawab, maka Ki Gede pun kemudian bertanya, “Siapakah nama kalian Ki Sanak?”

Kedua orang itu ragu-ragu. Namun sikap Ki Gede itu justru memaksa mereka untuk menjawab.

Seorang diantara mereka berkata, “Namaku Wilasa, Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya pula, “Yang seorang lagi Ki Sanak?”

“Gupuh, Ki Gede.”

“Wilasa dan Gupuh,” Ki Gede mengulang. Kemudian Ki Gede bertanya, “Bukankah Resi Belahan telah datang?”

Pertanyaan itu memang membingungkan mereka. Nada pertanyaan itu seakan-akan sekedar ingin penjelasan karena berita kedatangan Resi Belahan telah terdengar di Tanah Perdikan.

Kedua orang itu memang tidak sempat terlalu banyak berpikir dalam keadaan seperti itu. Pertanyaan itu mendesak mereka untuk segera menjawab sebelum mereka sempat menyusun jawaban yang terbaik. Karena itu, maka Wilasa itu pun menjawab, “Ya Ki Gede. Semalam Resi Belahan telah datang.”

“Tepatnya kapan Resi Belahan itu datang?” desak Ki Gede.

“Sedikit lewat tengah malam,” jawab Wilasa.

“Kemudian memerintahkanmu berdua untuk turun ke Tanah Perdikan ini melihat-lihat keadaan?” bertanya Ki Gede pula.

“Kami tidak langsung mendapat perintah dari Resi Belahan. Tetapi kami mendapat perintah dari Ki Tempuyung Putih.”

“Tetapi bukankah kau bertemu dengan Resi Belahan dan mendengarkan perintahnya?”

“Tidak Ki Gede. Kami tidak langsung bertemu dengan Resi Belahan. Tidak semua orang dapat bertemu dengan Resi Belahan.”

“Jadi darimana kau tahu bahwa Resi Belahan sudah datang?”

“Ki Tempuyung Putih yang mengatakannya,” jawab orang itu.

Ki Gede mengangguk-angguk. Ia percaya kepada keterangan itu. Agaknya tidak semua orang di perkemahan itu dapat bertemu dan langsung berbicara dengan Resi Belahan. Namun berita tentang kedatangan Resi Belahan itu memberikan isyarat agar Tanah Perdikan itu menjadi semakin berhati-hati. Resi Belahan akan dapat memberikan perintah untuk berbuat apa saja kepada orang-orang di perkemahan itu setiap saat.

Ki Gede pun kemudian tidak banyak bertanya lagi. Prastawa memang mengajukan pula beberapa pertanyaan. Namun yang terpenting bagi mereka adalah keterangan tentang kehadiran Resi Belahan itu.

Beberapa saat kemudian, maka Prastawa telah membawa kedua orang itu ke tempat tahanan yang khusus. Tidak di banjar padukuhan, tetapi di lingkungan rumah Ki Gede Menoreh di bawah pengawalan yang cukup ketat.

Pada saat itu juga, Prastawa telah mengirimkan beberapa orang pengawal untuk menghubungi setiap padukuhan. Beberapa orang pengawal berkuda itu telah memberikan keterangan tentang kehadiran Resi Belahan. Mereka pun membawa perintah dari Prastawa agar setiap padukuhan berada dalam kesiagaan tertinggi. Semua pengawal, anak-anak muda bahkan setiap laki-laki kemana pun juga harus bersiap dengan senjata mereka. Setiap saat ada isyarat, maka mereka harus segera berkumpul. Baik mereka yang ada di rumah, di sawah, di sungai, di kebun dan sedang melakukan pekerjaan apa saja. Semua kuda yang ada di padukuhan telah diberitahukan kepada pemimpin pengawal dan siap dipergunakan jika diperlukan. Bahkan kuda yang paling kecil sekali pun termasuk kuda-kuda yang bukan kuda tunggangan, tetapi kuda kereta dan pedati.

Namun demikian para pengawal itu meninggalkan padukuhan induk, maka telah datang dua orang pengawal berkuda dari padukuhan yang semula dipergunakan untuk menahan kedua orang yang telah ditangkap Glagah Putih dan Sabungsari.

“Ada apa?” bertanya Prastawa.

“Sepeninggal kakang Prastawa, ada beberapa orang yang mencurigakan memasuki padukuhan kami,” jawab pengawal itu.

“Apa yang kalian lakukan disana?” bertanya Prastawa.

“Kami memang berusaha untuk mengawasi mereka agaknya mereka memang sedang melihat-lihat keadaan,” jawab pengawal itu. “Namun kami tidak membiarkan mereka. Beberapa orang telah siap di regol. Kami ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan.”

“Berapa orang?” bertanya Prastawa.

“Ampat orang,” jawab pengawal itu.

“Apa kata mereka ketika kalian bertanya kepada mereka?” bertanya Prastawa pula.

“Mereka sama sekali tidak bersedia menjawab pertanyaan kami. Ketika kami memaksa, maka mereka telah melawan,” jawab pengawal itu.

“Kalian berhasil menangkap mereka?” desak Prastawa yang tidak sabar.

“Tidak kakang,” jawab keduanya hampir berbareng.

“Tidak? Kalian sepadukuhan tidak dapat menangkap mereka seorang pun?” desak Prastawa.

“Kami memang tidak dapat menangkap mereka. Seorang pun tidak. Bahkan ada tiga orang pengawal terluka,” jawab pengawal itu.

“Jadi bagaimana? Kaliankah yang melarikan diri?” Prastawa menjadi marah.

“Tidak. Kami bertempur sejauh dapat kami lakukan. Namun mereka berhasil melarikan diri. Mereka telah berpencar sambil memberikan perlawanan. Kemudian mereka berlari seperti angin. Tidak seorang pun pengawal yang akan mampu mengejar mereka atau salah seorang dari mereka.”

Prastawa menggeram. Namun ia pun menyadari, keempat orang itu tentu orang pilihan. Mereka tentu ingin mendapat keterangan tentang dua orang kawan mereka yang tertangkap.

Glagah Putih dan Sabungsari yang mendengar pula laporan itu menganggap bahwa keadaaan Tanah Perdikan itu memang menjadi semakin gawat.

“Mereka mempunyai orang-orang yang dapat diandalkan,” berkata Glagah Putih.

“Kita harus lebih berhati-hati,” jawab Sabungsari.

Dalam pada itu, Prastawa dengan beberapa orang pengawal dengan cepat menuju padukuhan yang baru saja didatangi oleh empat orang dari perkemahan itu. Prastawa ingin mendapat keterangan lebih lengkap dari orang-orang padukuhan itu.

Dalam pada itu, di sore hari, maka di rumah Ki Gede telah berkumpul para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang memang dipanggil oleh Ki Gede untuk membicarakan kemungkinan terbaik yang dapat dilakukan menghadapi orang-orang yang ada di perkemahan itu.

“Kesimpulanku setelah mengamati perkembangan keadaan, maka orang-orang perkemahan itu memang ingin menguasai Tanah Perdikan ini. Mereka ingin membuat landasan yang kuat untuk meloncat ke Mataram,” berkata Ki Gede.

Agung Sedayu yang juga hadir mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Agaknya memang demikian Ki Gede. Tetapi juga dapat sekedar mereka pergunakan untuk menjajagi kekuatan Mataram, karena mereka menganggap bahwa pada dasarnya Tanah Perdikan ini memiliki kekuatan yang tinggi yang merupakan perisai bagi Mataram di sisi Barat. Jika mereka dapat menghancurkan Tanah Perdikan, maka langkah berikutnya adalah menyerang Mataram dari sisi Barat. Tentu saja ada kekuatan lain yang akan datang dari arah yang lain pula.”

“Ya,” desis Ki Gede, “dengan demikian adalah kewajiban kita untuk mempertahankan Tanah Perdikan ini. Bukan saja sekedar mempertahankan kampung halaman, tetapi juga membendung kekuatan yang akan dapat merembes ke Timur.”

Dengan demikian maka kita yakin, bahwa kekuatan yang ada di perkemahan itu adalah bagian dari kekuatan yang besar. Disadari atau tidak. Bahkan mungkin orang-orang yang ada di perkemahan itu justru ingin memancing di air keruh.”

Malam itu Agung Sedayu masih minta agar para pengawal di Tanah Perdikan masih bersabar. Prastawa dan beberapa orang pemimpin pengawal telah berniat untuk menyerang orang-orang di Perkemahan itu.

“Mereka memiliki orang-orang berilmu sangat tinggi,” berkata Agung Sedayu, “sebagaimana pernah terjadi, pengawal sepadukuhan tidak berhasil menangkap ampat orang yang turun dari perkemahan itu. Bukankah itu berarti bahwa rata-rata memiliki kemampuan jauh lebih baik dari para pengawal.”

“Tetapi tentu tidak semua orang di perkemahan. Ternyata kita mampu menangkap beberapa diantara mereka. Ketika aku dan beberapa orang pengawal bertemu dengan sekelompok diantara mereka, maka aku dapat mengusir mereka.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Meskipun demikian , Prastawa. Kita tidak dapat tergesa-gesa mengambil langkah. Kita harus tahu pasti, apakah kita akan dapat mengatasi mereka atau tidak. Jika kita sudah terlanjur turun ke kancah pertempuran, maka kita harus benar-benar meyakini.”

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. aku akan menahan diri bersama-sama para pengawal. Namun tentu ada batasnya.”

“Dalam waktu dekat, kami akan berusaha untuk dapat mengambil kesimpulan. Orang-orang yang tertawan tidak dapat memberikan keterangan yang memuaskan. Mereka masing-masing tidak dapat mengenal kekuatan diantara mereka. Kelompok yang satu dengan kelompok yang lain agaknya memang tidak begitu akrab. Bahkan orang-orang yang dipungutnya dari lingkungan yang berpindah-pindah itu sama sekali tidak diketahui seberapa besar kekuatan mereka,” berkata Agung Sedayu. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Meskipun demikian kami masih harus memberikan keterangan tentang waktu yang singkat itu. Singkat tentu saja dalam perhitungan yang tidak mati.”

Orang-orang yang mendengar keterangan Agung Sedayu itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang sulit untuk dapat mengukur kekuatan lawan jika mereka tidak lebih seksama lagi menilai keadaan.

Malam itu, Agung Sedayu hanya dapat berjanji untuk memberikan keterangan secepatnya. Tetapi ia tidak tahu pasti seberapa panjang pengertian secepatnya itu.

Ketika kemudian pertemuan itu selesai, serta para pemimpin itu pulang ke rumah masing-masing, maka Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan seisi rumahnya telah berbincang tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil. Ternyata mereka mengambil kesimpulan untuk datang ke perkemahan.

“Kita harus memilih orang yang benar-benar dapat melakukan kewajiban ini,” berkata Agung Sedayu.

“Jadi siapa yang harus berangkat?” bertanya Glagah Putih.

“Biarlah malam ini aku dan Ki Jayaraga. Kami akan mengajak Bajang Bertangan Baja untuk pergi bersama kami ke perkemahan itu. Memang suatu kesempatan bagi Bajang Bertangan Baja. Kesempatan untuk menunjukan pemenuhan janji membantu kami menghadapi orang-orang perkemahan yang telah menangkap dan menyiksanya atau kesempatan untuk melarikan diri.”

Bajang Bertangan Baja itu dengan suara bergetar berkata, “Aku akan menunjukkan kepada kalian, bahwa hatiku masih belum ditumbuhi bulu serigala. Betapa jahatnya pekertiku di masa lewat, tetapi sekarang aku melihat bahwa sebuah pintu lain telah terbuka. Pintu untuk memasuki dunia yang lain dari duniaku sebelumnya. Dunia yang lebih baik.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku masih mempunyai kepercayaan kepadamu, Bajang. Selanjutnya terserah kepadamu apakah kau akan menghargai kepercayaanku atau tidak.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku mempunyai niat yang baik,” jawab Bajang.

“Atau karena dendammu kepada orang-orang perkemahan?” bertanya Ki Jayaraga.

Bajang Bertangan Baja itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pertanyaanmu tidak memberiku kesempatan menjawab. Jika aku mengatakan tidak, kau tentu tidak percaya. Tetapi jika aku katakan ya, maka kau tentu kecewa bahwa apa yang aku lakukan dilandasi oleh perasaan dendamku.”

Ki Jayaraga justru tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku cabut pertanyaanku.”

Yang lain pun ikut tertawa juga, sementara Bajang Bertangan Baja mengerutkan dahinya sambil memandangi beberapa orang disekitarnya. Namun akhirnya ia pun turut tertawa pula.

Malam itu ketiga orang berilmu tinggi itu pun telah meninggalkan padukuhan induk menuju ke perkemahan. Bahwa Agung Sedayu mengajak Bajang Bertangan Baja itu karena Bajang yang pernah ditahan ditempat itu, tentu serba sedikit mengetahui lingkungan perkemahan di lereng bukit itu.

Demikian , maka ketiganya telah berjalan menembus kegelapan menuju ke perbukitan. Mereka sengaja tidak melintasi sebuah padukuhan pun. Mereka memilih jalan di tengah sawah dan pategalan, menghindari pertemuan dengan siapapun juga, agar tidak seorang pun yang melihat mereka. Karena jika ada seorang saja yang melihatnya, maka ceritera tentang kepergian mereka akan dapat tersebar, sementara itu orang-orang perkemahan itu tentu mempunyai beribu telinga dan mata.

Karena ketiganya orang-orang berilmu tinggi, maka ketiganya pun dapat dengan cepat mendekati perbukitan. Beberapa buah padukuhan telah dihindarinya. Namun sekali-sekali mereka lewat juga di dekat sebuah padukuhan meskipun tanpa diketahui oleh orang-orang padukuhan itu, termasuk para pengawal yang meronda dan mengamati lingkungan mereka di luar padukuhan. Meskipun demikian, ketiga orang itu justru sempat melihat kegiatan para pengawal itu meskipun dari jarak yang agak jauh.

Beberapa saat kemudian, maka mereka telah mendekati perbukitan. Di hadapan mereka nampak dalam keremangan malam di dinding bukit yang menjulang ditumbuhi oleh hutan lereng pegunungan.

Dalam kesiagaan tertinggi Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu Sapta Pandulu sehingga pandangan matanya menjadi jauh lebih tajam.

Dengan seksama ia memperhatikan keadaan di sekitarnya. Jalan yang langsung menuju ke perbukitan. Kemudian jalan simpang ke padukuhan terdekat. Agaknya para pengawal memusatkan pengamatan mereka sekitar padukuhan-padukuhan saja. Mereka tidak meronda berkeliling antara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Agaknya para pengawal menyadari, betapa bahayanya jalan yang menghubungkan padukuhan-padukuhan itu, karena mereka akan dapat bertemu dengan orang-orang berilmu dari perkemahan.

Dengan sangat berhati-hati ketiga orang itu mendekati kaki bukit. Kemudian mereka mulai memanjat memasuki hutan lereng pegunungan.

Malam terasa semakin sepi. Bunyi cengkerik dan bilalang saling bersautan. Angin semilir lembut mengusap dedaunan.

Langit yang bersih digayut oleh bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya.

Bajang Bertangan Baja berusaha untuk mengenali kembali tempat itu. Dalam kegelapan malam ia mencoba untuk mengingat, apakah ia pernah melewati jalan itu.

Ternyata ketajaman pengenalannya sebagai seorang petualang telah mengingatkannya beberapa ciri yang mudah dikenali. Tiba-tiba saja Bajang Bertangan Baja itu berhenti. Diamatinya sebuah batu padas yang menjorok di bawah sebatang pohon yang besar bersulur lebat seluruh tubuh batangnya.

Bajang Bertangan Baja itu menarik nafas dalam-dalam. Ingatannya seakan-akan telah terbuka kembali. Pohon yang aneh, batu padas yang menjorok itu telah dikenalinya, sehingga ia yakin, bahwa ia pernah diseret lewat jalan itu menuju ke puncak bukit dan kemudian menurun di sisi seberang.

Ada beberapa jenis tumbuhan dan batu-batuan serta bentuk lingkungan yang dapat dikenal kembali oleh Bajang Bertangan Baja. Justru waktu itu ia diseret di jalan setapak itu juga waktu malam, maka agaknya lebih mudah baginya untuk dapat mengenali kembali. Apalagi Bajang Bertangan Baja itu memang memiliki pengenalan yang tajam sebagai seorang pengembara yang sangat berpengalaman.

Dengan pengenalan itu, maka mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Ketika mereka mulai menuruni bukit, maka Bajang mengisyaratkan agar mereka menjadi lebih berhati-hati.

“Resi Belahan telah ada di perkemahan,” desis Bajang Bertangan Baja itu.

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Mereka memang menjadi semakin berhati-hati. Mereka tidak tahu dimana Resi Belahan itu berada.

Agung Sedayu yang juga pernah memasuki perkemahan itu telah mengambil jalan yang lain. Sementara jalan yang ditunjukkan oleh Bajang Bertangan Baja adalah jalan yang nampaknya lebih baik. Tetapi dengan kemungkinan lebih besar bertemu dengan orang-orang perkemahan yang mengamati keadaan.

Tetapi sampai sekian jauh, mereka tidak mengalami hambatan. Meskipun demikian ketika mereka menjadi semakin dekat, maka mereka harus menyusup ke dalam semak-semak.

Ketiga orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka mereka segera mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mereka hadapi. Apalagi Agung Sedayu dan Ki Jayaraga yang mengenal lingkungan Tanah Perdikan itu dengan baik. Meskipun mereka belum pernah menyusup langsung ke tempat itu, namun secara umum mereka dapat mengenali watak dan sifat hutan di lereng pegunungan Menoreh itu.

Bajang berjalan di paling depan telah membawa mereka mendekati perkemahan dari sisi utara. Dengan cermat mereka memperhatikan gubug demi gubug. Ada yang besar, sedang, tetapi juga ada yang kecil.

Dengan isyarat maka keduanya bergeser semakin ke selatan. Ketika mereka melewati tempat Bajang Bertangan Baja itu diikat, maka Bajang itu pun berbisik, “Aku tidak tahu apa yang ada di sisi yang lain. Aku hanya sampai di tempat ini. Gubug itu adalah tempat tinggal Ki Tempuyung Putih.”

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga tidak menjawab. Namun mereka bergeser terus. Sehingga dengan demikian mereka mengetahui bahwa jumlah orang yang berada di perkemahan itu cukup banyak.

Sekali-sekali mereka juga sempat melihat beberapa orang yang sedang berjaga-jaga. Mereka berjalan hilir mudik diantara gubug-gubug yang menebar.

Ketika mereka sampai di sisi Selatan, mereka melihat gubug-gubug yang agak lain. Kasar dan lebih berkesan seadanya.

Ketiga orang itu pun segera mengetahui bahwa gubug-gubug itu tentu tempat orang-orang yang dari ujud lahiriahnya nampak lebih kasar dan lebih sederhana dari orang-orang yang ada di sebelah yang lain. Orang-orang yang kebanyakan bersenjata bindi, meskipun banyak pula yang bersenjata lembing.

Meskipun tiga orang itu memerlukan waktu yang lama, maka mereka dapat melihat cukup banyak. Mereka sempat melihat tempat-tempat yang tentu dianggap penting karena penjagaan yang lebih baik dari tempat-tempat yang lain.

Ketiga orang itu kemudian harus bersembunyi di balik semak-semak ketika mereka melihat ampat orang yang meronda diluar lingkungan perkemahan itu.

Demikian keempat orang itu lewat, maka bertiga mereka duduk-duduk di atas seonggok batu padas sambil mengamati perkemahan itu. Dengan berbisik Agung Sedayu berkata, “Perkemahan ini menebar cukup luas. Lereng pegunungan yang panjang bahkan menjorok masuk ke dalam hutan di sebelah dan daerah Kademangan Kleringan.”

“Kita memerlukan perhitungan yang cermat untuk berbuat sesuatu atas perkemahan itu. Jika kita ingin menyerangnya, maka jalan yang terbaik adalah melingkari perkemahan ini dan justru menyerang dari Kademangan Kleringan,” desis Ki Jayaraga.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lereng bukit di sebagian lingkungan perkemahan itu terlalu terjal, sehingga sulit untuk dipergunakan sebagai tempat pijakan pasukan. Karena itu, maka meskipun ada kelompok-kelompok yang sebaiknya menuruni bukit, maka induk pasukan sebaiknya memang datang dari arah yang datar.

Namun tiba-tiba saja Bajang itu berkata, “Apakah disini ada air terjun? Aku pernah mendengar suara air yang terjun dari lingkungan perbukitan ini. Ketika angin bertiup dari utara pada saat aku dibawa oleh Ki Tempuyung Putih. Lamat-lamat aku telah mendengar suara air terjun, namun segera hilang lagi.”

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Ya. Memang ada. Tetapi agak jauh.”

“Apakah tidak mungkin dibuat saluran sampai ke ujung perkemahan itu?” bertanya Bajang Bertangan Baja.

Agung Sedayu merenung sejenak. Dengan nada rendah ia berdesis, “Pikiran yang bagus. Tetapi pelaksanaannya memang agak sulit. Bagaimana dapat dibuat saluran yang panjang itu tanpa diketahui oleh orang-orang perkemahan yang hilir mudik itu.”

Bajang Bertangan Baja itu mengangguk-angguk. Tetapi ia dapat mengerti keberatan Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu Ki Jayaraga pun bertanya kepada Bajang Bertangan Baja, “Apakah kau tahu dimana letak lumbung penyimpanan bahan makanan?”

Bajang itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Selama aku berada di tangan mereka, aku terikat di pohon itu tanpa dapat bergerak. Tetapi aku sempat melihat orang membawa padi melewati tempat aku terikat dari Utara ke Selatan. Padi itu tentu akan dibawa ke lumbung. Bukan dari lumbung, karena jumlahnya cukup banyak.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk, sementara Agung Sedayu bertanya, “Apakah kita akan mengganggu persediaan makan mereka?”

“Jika mungkin,” jawab Ki Jayaraga.

“Kita juga harus memikirkan akibatnya. Jika mereka kehabisan bahan makanan, maka mereka akan turun ke padukuhan.”

“Bukankah kita sudah siap?” bertanya Ki Jayaraga.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia berkata, “Bagaimana jika mereka mengarahkan sasaran mereka ke Kademangan Kleringan dan Kademangan yang lain?”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Mereka akan dapat menjadi Korban.”

“Jika demikian, apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Ki Jayaraga, “bukankah kita juga tidak dapat dengan serta merta menyerang perkemahan itu?”

“Ya. Sementara itu, mereka mempunyai kesempatan lebih banyak untuk melihat Tanah Perdikan Menoreh daripada kesempatan kita melihat keadaan mereka,” jawab Agung Sedayu.

“Memang bukan persoalan yang mudah dipecahkan,” berkata Bajang Bertangan Baja, “menurut penglihatanku sekilas ketika aku berada di tangan mereka, nampaknya mereka juga mempunyai orang-orang berilmu cukup tinggi banyak. Bahkan menurut penglihatanku, mereka bukan orang yang hatinya mudah luluh. Mereka bukan orang-orang lembut hati. Hidup mereka agaknya sudah ditempa dengan cara seperti itu. Sebagaimana aku memilih jalan hidupku, namun yang ternyata telah mencampakkan aku ke tangan Ki Tempuyung Putih dan pengikut-pengikutnya. Satu peristiwa yang memang sangat menyakitkan hati, karena aku tidak mengira sama sekali, bahwa aku akan mengalaminya.”

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga mengangguk-angguk kecil. Mereka pun menyadari, bahwa persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang gawat.

“Tetapi bagaimana pun juga, kita harus menunjukkan bahwa kita pun dapat berbuat sesuatu di lingkungan mereka. Kita tidak sedang berjaga-jaga sambil ketakutan di halaman sendiri. Ampat orang yang datang dari perkemahan ini luput dari tangan orang sepadukuhan.” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Ya. Kita harus menghapus kesan kelemahan itu,” desis Ki Jayaraga.

Ketika Bajang Bertangan Baja akan berbicara, maka niatnya itu diurungkannya. Mereka mendengar langkah kaki mendekat, sehingga mereka segera bergeser kembali ke balik gerumbul perdu.

Namun tiba-tiba Ki Jayaraga berkata sambil berbisik, “Kesempatan bagi kita untuk menghilangkan kesan betapa lemahnya Tanah Perdikan. Meskipun beberapa kali kita dapat mengalahkan dan menangkap orang-orang perkemahan, tetapi kesannya adalah karena kita berada di kampung halaman dengan dukungan orang yang tidak terhitung jumlahnya. Itu pun kita telah gagal menangkap ampat orang yang datang dari perkemahan.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Langkah itu sudah begitu dekat. Tetapi lebih dari lima orang.

Karena itu, ia hanya memberikan isyarat saja kepada Ki Jayaraga dan Bajang Bertangan Baja.

Sebenarnyalah sekelompok orang telah berjalan lewat jalan setapak menuju ke perkemahan. Namun nampaknya mereka termasuk orang-orang yang meronda mengamati keadaan. Dengan senjata di tangan, mereka berjalan berurutan sambil berbincang.

“Sayang kita tidak bebas keluar masuk padukuhan,” desis seseorang.

“Ada beberapa orang pemimpin kita yang ternyata penakut,” sahut yang lain.

“Bukan penakut,” berkata yang lain lagi, “mereka harus berhati-hati. Bukankah orang-orang Tanah Perdikan telah menunjukkan keberanian mereka?”

“Ampat orang diantara kita dapat berbuat sekehendak hati di sebelah padukuhan. Orang-orang sepadukuhan yang keluar dan berusaha menangkap mereka sama sekali tidak berhasil,” jawab orang yang pertama.

“Kita memerlukan apa saja dari padukuhan-padukuhan itu,” berkata seorang yang bersuara serak, “pada saatnya maka kekangan ini tidak akan berarti bagi kita. Kita menjadi jemu berada di perkemahan tanpa berbuat apa-apa. Jika kita masih saja harus berhati-hati sekali, maka sampai tua kita tidak akan mendapatkan apa-apa disini.”

“Ya, sementara kita mampu berbuat sesuatu. Contohnya keempat orang itu,” sahut orang yang pertama.

Namun kata-kata mereka terputus ketika Agung Sedayu tiba-tiba saja menjawab, “Tetapi keempat orang itu tidak berhasil mendapatkan keterangan apa-apa dari padukuhan. Mereka memang tidak tertangkap. Tetapi bukan karena kemampuan mereka yang tinggi. Tetapi justru karena mereka melarikan diri. Yang pantas dipuji adalah kemampuan mereka melarikan diri.”

Orang-orang itu terkejut. Tiba-tiba saja mereka melihat dua orang berdiri di hadapan mereka. Sementara itu Bajang Bertangan Baja masih diisyaratkan untuk bersembunyi.

Orang-orang yang terkejut itu bergeser surut. Orang yang memimpin sekelompok peronda dari perkemahan itu melangkah maju. Dengan lantang ia bertanya, “He, siapa kalian berdua?”

“Kami adalah pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Agung Sedayu.

“Untuk apa kalian datang ke tempat kami?” bertanya orang itu pula.

“Tempat siapa? Pegunungan ini adalah Tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Kami berada di bumi kami sendiri,” jawab Agung Sedayu, “justru akulah yang harus bertanya kepada kalian, kenapa kalian berada di bumi kami ini tanpa memberitahukan lebih dahulu, apalagi minta ijin kepada Ki Gede Menoreh.”

Tetapi ternyata pemimpin sekelompok orang itu agaknya bukan seorang yang dapat menahan diri. Tanpa banyak pertimbangan ia berkata, “Aku tidak peduli tanah ini milik siapa. Sekarang kau ada di sini. Karena itu, maka kami akan menangkapmu dan membawamu menghadap pemimpin kami. Adalah kebetulan bahwa kau begitu saja menemui kami karena kami memang memerlukan satu dua orang Tanah Perdikan.”

“Tunggu, Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “sebaiknya kami tidak saling menangkap. Aku bahkan ingin memperingatkanmu, bahwa sebaiknya orang-orang yang berada di perkemahan itu pergi saja.”

“Kau jangan mengigau. Sekarang menyerahlah. Pemimpin kami memerlukan kalian.”

“Maksudmu Resi Belahan?” bertanya Agung Sedayu.

Diluar sadarnya orang itu menjawab, “Ya.”

“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “katakan kepada Resi Belahan, bahwa sebaiknya ia datang menemui Ki Gede Menoreh. Resi Belahan tidak perlu berusaha mengambil satu dua orang dari Tanah Perdikan ini. Jika ia bertemu dengan Ki Gede, maka apa yang akan diketahuinya dapat ditanyakan kepada Ki Gede yang tentu tahu jauh lebih banyak dari orang-orang Tanah Perdikan yang lain. Apalagi cara itu tentu cara yang lebih baik dan sedikit mengenal unggah-ungguh.”

“Cukup,” orang yang membentak, “sebaiknya kau katakan kepada Ki Gede mu itu. Sebaiknya untuk menghindari akibat buruk atas tanah Perdikan ini, maka biarlah ia datang menghadap Resi Belahan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.”

Jawaban Agung Sedayu memang mengejutkan. Bahkan tidak diduga sama sekali oleh orang-orang itu. Katanya, “Baiklah Ki Sanak. Kami akan menemui Ki Gede dan minta agar Ki Gede bersedia datang menemui Resi Belahan.”

Ternyata orang-orang perkemahan itu memerlukan waktu untuk merenungi jawaban Agung Sedayu itu. Namun kemudian pemimpin kelompok itu menjawab, “Tidak. Kau tidak boleh meninggalkan tempat ini. Kau berdua akan menjadi tawanan kami.”

“Jika demikian, bagaimana mungkin kami memberitahukan hal ini kepada Ki Gede jika kami tidak boleh meninggalkan tempat ini?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku akan mengirim orang menemui Ki Gede itu. Bukan kalian berdua,” jawab pemimpin kelompok itu.

Agung Sedayu justru tertawa. Bahkan Ki Jayaraga pun tertawa pula. Bajang Bertangan Baja harus menutup mulutnya untuk menahan agar suaranya tidak menarik perhatian orang-orang perkemahan itu.

Orang-orang perkemahan itu menjadi marah. Kedua orang yang berdiri di hadapan mereka itu sama sekali tidak menghormatinya. Mereka justru mentertawakannya.

Karena itu dengan lantang ia berkata, “He, orang-orang Tanah Perdikan. Apakah kalian sudah gila? Sadari, dengan siapa kalian berhadapan.”

“Kami sadar sepenuhnya bahwa kami berdiri berhadapan dengan anak buah Resi Belahan. Atau adakah diantara kalian Resi Belahan itu sendiri?” jawab Agung Sedayu

“Setan kau, Kau berani dengan ringan menyebut nama Resi Belahan. Hukumannya, mulutmu harus dikoyakkan.” geram orang itu.

“Kau juga sudah menyebut namanya. Apakah mulutmu juga harus dikoyakkan?” bertanya Ki Jayaraga tiba-tiba.

“Cukup setan-setan yang sombong. Kau akan menyesali sikapmu itu.” orang itu pun kemudian memberikan isyarat kepada orang-orangnya sambil berkata, “Tangkap mereka hidup-hidup. Kita akan menyerahkan mereka kepada Ki Tempuyung Putih. Mungkin Ki Tempuyung Putih memerlukannya. Bahkan mungkin juga Resi Belahan.”

Orang-orangnya tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka pun segera bergerak menyergap Agung Sedayu dan Ki Jayaraga.

Sementara itu. Bajang Bertangan Baja sempat menghitung jumlah orang-orang perkemahan itu.

“Tujuh orang,” katanya di dalam hati.

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga memang tidak sempat berkata apa-apa lagi. Orang-orang itu dengan serta merta telah menyerang dengan garangnya.

Namun Agung Sedayu dan Ki Jayaraga sudah siap sepenuhnya menghadapi serangan itu. Karena itu, maka mereka pun segera berloncatan menghindar. Keduanya pun segera berpencar mengambil jarak di sela-sela pepohonan hutan lereng pegunungan.

Dengan demikian maka Bajang Bertangan Baja justru harus bergeser menjauh. Ia menyadari bahwa sebaiknya ia memang tidak menampakkan diri. Jika orang-orang perkemahan itu sempat mengenalinya, maka mereka akan menjadi semakin berusaha untuk menangkap orang-orang Tanah Perdikan untuk mendapat keterangan tentang Bajang Bertangan Baja itu.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Ki Jayaraga harus bertempur melawan ketujuh orang itu.

Namun Agung Sedayu tidak ingin bertempur terlalu lama. Jika orang-orang itu sempat memberi isyarat kepada kawan-kawannya, maka persoalannya akan berkepanjangan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Agung Sedayu dan Ki Jayaraga pun telah meningkatkan ilmunya untuk mengatasi ketujuh orang lawannya. Sementara itu Bajang Bertangan Baja sempat mengikuti pertempuran yang kemudian terjadi sambil bersembunyi. Meskipun malam gelap, tetapi ketajaman penglihatan Bajang itu memungkinkan melihat apa yang terjadi meskipun tidak terlalu jelas.

Ketika Agung Sedayu dan Ki Jayaraga meningkatkan ilmunya maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Ternyata ada diantara ketujuh orang itu memiliki ilmu yang lebih baik dari kawan-kawannya, sehingga bersama-sama mereka mampu memberikan perlawanan yang keras terhadap Agung Sedayu dan Ki Jayaraga.

Tetapi Agung Sedayu dan Ki Jayaraga memang bukan lawan mereka. Dalam beberapa saat saja mereka sudah mengalami kesulitan. Serangan-serangan Agung Sedayu dan Ki Jayaraga sulit untuk dapat mereka elakkan, sementara tenaga keduanya sangat besar dan keras.

Karena itu maka ketujuh orang itu pun segera terdesak. Diantara mereka justru hanya berloncatan melingkar-lingkar dan selalu menjauhi kedua orang Tanah Perdikan itu. Mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang dari arah yang mana pun juga.

Karena itu, maka telah timbul niat diantara mereka untuk memberikan isyarat kepada kawan-kawan mereka di perkemahan. Jika seorang saja diantara mereka berhasil meninggalkan arena pertempuran itu dan mencapai perkemahan, maka mereka akan dapat segera datang kembali sambil membawa kawan-kawan lebih banyak lagi.

Karena itu, maka seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan berusaha untuk meloncat menjauhi kedua orang Tanah Perdikan yang bertempur seperti harimau terluka itu.

Namun, demikian orang itu meloncat meninggalkan arena, maka tiba-tiba saja sebuah bayangan terbang menyergapnya . Ia tidak sempat berbuat apa-apa. Ia hanya melihat ayunan tangan orang itu mengarah ke dadanya. Kemudian segalanya menjadi gelap. Orang itu pun kemudian telah jatuh dan pingsan.

Dengan demikian maka kawan-kawannya telah menjadi semakin terdesak tanpa bantuan yang diharapkannya. Seorang diantara mereka telah terlempar jatuh. Kepalanya membentur sebatang pohon sehingga orang itu kehilangan ingatannya.

Sedangkan ketika tangan Ki Jayaraga terayun mengenai dagu orang yang lain, maka kepalanya pun telah terangkat. Lehernya serasa akan patah. Ketika ia sedang terhuyung-huyung, maka sentuhan tangan Ki Jayaraga memburunya mengenai pundaknya.

Orang itu mengaduh kesakitan. Tetapi ia masih berusaha menyingkir dari arena. Ia berusaha untuk melepaskan diri dan berlari ke perkemahan. Tetapi yang terjadi sebagaimana yang pernah terjadi atas orang yang terdahulu yang ingin memberikan laporan ke perkemahan. Sebuah bayangan bagaikan terbang dan menghantam tengkuknya. Orang itu pun kemudian tidak sempat mengeluh. Tubuhnya segera terjatuh dan pingsan.

Dalam waktu yang singkat orang-orang dari perkemahan itu sudah tidak berdaya. Mereka pun tidak sempat melarikan diri. Yang dapat mereka lakukan adalah membiarkan diri mereka diperlakukan sekehendak lawan-lawannya.

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga kemudian telah menghentikan serangan-serangan mereka ketika lawan-lawannya sudah tidak mampu berbuat apapun lagi.

“Nah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “katakan sekarang, bahwa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh tidak berdaya sama sekali. Katakan bahwa kalian akan dapat berbuat apa saja di Tanah Perdikan.”

Orang-orang itu hanya berdiam. Mereka sama sekali tidak menjawab. Mereka merasa bahwa mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi kedua orang itu.

“Sekarang katakan kepada kami, bahwa orang sepadukuhan tidak mampu menangkap ampat orang dari perkemahanmu,” berkata Ki Jayaraga kemudian.

Orang-orang itu masih tetap berdiam diri.

Karena mereka tidak menjawab, maka Ki Jayaraga berkata selanjutnya, “Nah, bukankah kau percaya bahwa keempat kawanmu itu hanya pantas dipuji kemampuannya melarikan diri?”

Orang-orang itu masih berdiam diri. Justru mereka menjadi semakin menunduk.

Tetapi mereka terkejut ketika Agung Sedayu berkata, “Sekarang, kembalilah ke perkemahanmu. Katakan kepada Resi Belahan, bahwa ia harus datang menghadap Ki Gede untuk memberikan keterangan tentang kehadirannya di Tanah Perdikan Menoreh bersama dengan banyak orang. Atau jika kau juga tidak berani mengatakannya, maka katakan saja kepada Ki Tempuyung Putih atau kepada siapapun juga atau jika kau tidak juga berani berpesan tentang Resi Belahan, katakan saja apa yang kau alami disini.”

Orang-orang itu pun termangu-mangu sejenak. Mereka tidak segera tahu maksud Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Namun kemudian Agung Sedayu berkata, “Kami tidak akan membunuh kalian. Kami juga tidak akan menangkap seorang diantara kalian karena kalian tentu tidak akan dapat memberikan keterangan yang memuaskan selain memberitahukan bahwa Resi Belahan telah datang. Karena itu kembalilah ke perkemahan. Aku juga akan kembali ke Tanah Perdikan.”

Orang-orang itu seakan-akan tidak percaya kepada pendengarannya. Ternyata mereka begitu saja dilepaskan dan dibiarkan kembali ke perkemahan.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Agung Sedayu berkata lantang agar juga didengar oleh Bajang Bertangan Baja, “Marilah. Kita kembali turun ke padukuhan.”

Agung Sedayu itu pun tidak menunggu lebih lama lagi. Bersama Ki Jayaraga mereka telah melangkah meninggalkan orang-orang yang sudah tidak berdaya itu.

Baru beberapa saat kemudian, Bajang Bertangan Baja pun telah bergabung bersama mereka pula.

“Seharusnya kita berbuat sesuatu untuk menarik perhatian mereka,” berkata Bajang Bertangan Baja.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita bawa satu atau dua orang diantara mereka.” jawab Bajang Bertangan Baja itu.

“Kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari mereka,” jawab Agung Sedayu.

“Ya,” sambung ki Jayaraga, “mereka adalah orang yang tidak tahu apa-apa. Bahkan mereka merasa kecewa bahwa mereka tidak melakukan sesuatu dengan bebas. Gambaran mereka sebelum mereka datang ke Tanah Perdikan ini dengan apa yang mereka dapat lakukan kemudian adalah berbeda. Mereka mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja berbuat sekehendak hati mereka. Mereka dapat merusak padukuhan, merampok isinya dan barangkali menculik dan melakukan orang-orang yang diculik itu tanpa pertimbangan kemanusiaan. Tetapi ternyata hal itu tidak dapat mereka lakukan karena kekangan-kekangan para pemimpin mereka. Tentu bukan karena pertimbangan kewajaran sikap orang-orang beradab, tetapi pertimbangan itu tentu diberatkan pada keberhasilan rencana mereka.”

Bajang Bertangan Baja pun mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kau benar. Aku harus berusaha untuk menemukan alas berpikir seperti kalian. Otakku sudah terlalu lama aku pergunakan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dengan landasan berpijak yang lain dan barangkali termasuk tidak wajar.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Kau tinggal bergulir satu putaran lagi Bajang.”

“Ya. Mudah-mudahan aku tidak bergulir kearah yang salah.” desis Bajang Bertangan Baja itu.

Sementara itu mereka sudah menjadi semakin jauh dari perkemahan. Mereka sudah berada di puncak perbukitan, sehingga mereka akan segera menuruni tebing menuju ke padukuhan-padukuhan di bawah kaki perbukitan itu.

“Apa yang akan kita katakan kepada Ki Gede?” bertanya Ki Jayaraga kemudian.

“Kita berharap bahwa Ki Gede dan Prastawa tidak tergesa-gesa mengambil langkah. Perkemahan itu ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar. Kita harus menyusun kekuatan dan mempertimbangkan segala sesuatunya secermat-cermatnya. Tetapi kita pun tidak membiarkan mereka terlalu lama berada di tempat itu. Orang-orang yang menjadi jemu akan dapat mengambil langkah-langkah yang akibatnya sangat buruk bagi penghuni Tanah Perdikan,” berkata Agung Sedayu.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Besok malam kita akan melihat perkemahan itu dari arah yang lain. Kita tidak akan turun dari lereng perbukitan. Tetapi kita akan berjalan melingkar dan kita akan mendekati perkemahan itu dari arah Barat.”

“Ya.” Bajang itu menyahut, “mereka besok malam tentu akan memperkuat penjagaan di lereng bukit ini setelah mendapat laporan dari orang-orang mereka itu. Sementara itu kita akan datang dari arah yang tidak mereka pertimbangkan.”

“Mudah-mudahan bukan mereka yang turun ke padukuhan di lereng bukit. Meskipun para pengawal berjaga-jaga dengan baik, jika yang kemudian datang adalah mereka yang berilmu tinggi, maka persoalannya akan menjadi lain,” berkata Agung Sedayu.

“Itu memang mungkin. Mereka berniat membalas sakit hati dari orang-orangnya yang kita perlakukan dengan kasar malam ini.” berkata Ki Jayaraga.

Ketiganya kemudian terdiam. Mereka berjalan menuruni tebing. Seperti saat mereka berangkat, maka ketika mereka kembali, mereka telah menghindari padukuhan-padukuhan yang akan dapat menimbulkan perbincangan yang panjang tentang perjalanan mereka.

Malam itu Agung Sedayu hanya sempat tidur beberapa saat. Pagi-pagi ia harus sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke barak sementara bersama Ki Jayaraga ia masih harus singgah di rumah Ki Gede.

Kepada Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu masih menganjurkan untuk tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Mereka masih harus menunggu perhitungan yang lebih cermat.

“Malam nanti, kami akan melihat perkemahan itu dari sisi yang lain. Kami akan melihat apa yang terbaik yang dapat-kami lakukan terhadap perkemahan itu,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Ki Gede Mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baiklah. Kami memang tidak boleh tergesa-gesa. Seandainya kita melakukannya, harus dipikirkan agar tidak terlalu banyak korban yang jatuh karena salah kita sendiri.”

Prastawa sebenarnya sudah tidak sabar lagi. Beberapa kejadian yang menggetarkan hati rakyat Tanah Perdikan sudah terjadi. Namun Ki Gede masih menasehatinya, “Kita tidak boleh kehilangan penalaran Prastawa. Kita memang harus berhati-hati.”

Prastawa memang tidak menjawab. Namun dalam hati ia berkata, “Agung Sedayu memang terlalu banyak membuat pertimbangan-pertimbangan di setiap langkahnya. Mungkin hal itu baik, tetapi kadang-kadang kita akan terlambat.”

Namun bagaimana pun juga Ki Gede masih harus mengekang diri. Mereka memang ingin tahu hasil pengamatan Agung Sedayu dari sisi lain atas perkemahan para pengikut Resi Belahan di Tanah Perdikan itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Agung Sedayu pun telah minta diri. Ia harus segera pergi ke barak Pasukan Khusus, sementara Ki Jayaraga juga minta diri kembali ke rumah Agung Sedayu.

Dalam pada itu, maka di perkemahan telah terjadi sedikit keributan. Agaknya orang-orang yang dikalahkan oleh Agung Sedayu dan Ki Jayaraga baru menjelang terang dapat kembali sampai ke perkemahan mereka. Ada diantara mereka yang pingsan menunggu sampai sadar, termasuk yang diserang oleh Bajang Bertangan Baja selagi mereka akan melarikan diri kembali melapor ke perkemahan. Sedangkan yang lain bagaikan menjadi lumpuh dan tidak mampu beringsut. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar berguling-guling dan menyelusur turun.

Para pemimpin perkemahan itu menjadi sangat marah mengalami perlakuan yang demikian. Dengan wajah menyala seorang diantara pemimpin perkemahan yang berkumis dan berjambang lebat tiba-tiba saja lelah menendang pelipis salah seorang yang masih belum berdiri tegak setelah perkelahiannya melawan Agung Sedayu. Dengan garangnya orang yang berkumis tebal itu berteriak, “Jadi kalian sama sekali tidak berdaya hanya melawan dua orang dari Tanah Perdikan itu?”

Orang yang ditendang keningnya itu telah terlempar dan terbanting jatuh. Dengan suara bergetar karena kemarahannya yang mengguncang jantungnya, orang berkumis dan berjambang lebat itu bertanya selanjutnya, “Kenapa kau tidak mati saja?”

Orang itu tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia bangkit berdiri meskipun keseimbangannya belum utuh kembali. Tetapi ketakutan dan kecemasannya telah memaksanya untuk berdiri menghadap kearah orang yang berkumis lebat itu.

“Seharusnya kalian semua mati saja. Buat apa kalian dipelihara disini tanpa mampu berbuat sesuatu? Dengar, ampat orang diantara kita yang memasuki padepokan sudah mengalahkan seisi padukuhan itu. Meskipun semua anak muda dan bahkan semua laki-laki keluar rumah mereka, namun ampat orang itu mampu mengalahkan semuanya.”

Laki-laki yang keningnya masih terasa sakit sekali itu tidak menjawab. Tetapi dalam hatinya ia berkata, “Keempat orang itu hanya mampu melepaskan diri. Bukan mengalahkan orang sepadukuhan itu.”

Namun orang itu masih saja berdiri dengan kakí bergetar. Orang berkumis dan berjambang itu akan dapat berbuat apa saja atas mereka yang memang tidak mampu melawan dua orang saja dari Tanah Perdikan yang datang mendekati perkemahan.

Namun orang yang berkumis lebat itu pun kemudian telah meninggalkan orang yang ketakutan itu, tanpa mengatakan sesuatu lagi.

Orang yang ditendang itu menarik nafas dalam-dalam. Demikian kawan-kawannya yang bersamanya meronda semalam. Rasa-rasanya mereka lelah terlepas dari mulut seekor buaya yang garang.

Namun sebenarnya, kenyataan yang terjadi itu merupakan peringatan bagi orang-orang di perkemahan itu. Bukan untuk pertama kalinya orang-orang mereka dikalahkan bahkan ditangkap. Karena itu, maka para pemimpin di perkemahan itu pun telah memperhitungkan kemungkinan secermat-cermatnya. Seperti orang-orang Tanah Perdikan, maka orang-orang di perkemahan itu tidak berani bertindak tergesa-gesa. Apalagi setelah Resi Belahan datang dan mendengarkan laporan-laporan tentang Tanah Perdikan Menoreh.

Resi Belahan yang mendengar laporan tentang beberapa orang yang tertawan berkata, “Mereka tidak akan dapat memberikan banyak keterangan. Mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya kita lakukan disini.”

Ki Tempuyung Putih yang mewakili Resi Belahan selama Resi Belahan tidak ada mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun melaporkan pula bahwa memang ada beberapa orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan.

“Ya. Aku sudah memperhitungkannya. Bukankah Ki Manuhara juga hampir mati disini. Namun kemudian ia benar-benar mati di pinggir susukan Kali Opak,” sahut Resi Belahan.

“Ya,” jawab Ki Tempuyung Putih, “karena itu, maka kita memang memerlukan banyak keterangan tentang kekuatan yang sebenarnya ada di Tanah Perdikan ini.”

“Kita tidak mempunyai terlalu banyak waktu. Tetapi aku sependapat bahwa kita memang tidak boleh tergesa-gesa. Karena itu, maka kita harus bekerja dengan cepat. Kita harus menyebar lebih banyak orang. Kita tidak perlu menangkap atau menculik orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi dengan cara yang lebih lembut kita akan mendapat keterangan yang kita perlukan.” berkata Resi Belahan.

“Maksud Resi?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

“Kita dapat mempergunakan uang. Dengan demikian kita akan mendapat keterangan tanpa membakar kemarahan orang-orang Tanah Perdikan. Karena jika mereka menjadi marah dan kehilangan kesabaran, mungkin mereka akan bertindak lebih cepat, sebelum kita tahu pasti siapa dan seberapa yang akan kita hadapi.”

Ki Tempuyung Putih mengangguk-angguk. Nampaknya dengan mempergunakan uang maka sayap mereka akan menjadi lebih lebar. Jaring-jaring yang digelar menjadi lebih luas.

Karena itu, maka Ki Tempuyung Putih itu pun berkata, “Mulai besok, orang-orang kita yang memiliki ketrampilan berbicara biarlah mulai memasuki pasar-pasar yang ada di Tanah Perdikan. Agaknya dengan uang itu kita memang lebih mudah untuk mendapatkan keterangan.”

“Bukankah kita untuk sementara tidak akan kekurangan uang bagaimana pun juga cara mendapatkannya?” desis Resi Belahan, “kita sudah menugaskan beberapa orang yang harus menyiapkan dukungan uang dan bahan makanan bagi rencana besar kita. Aku tidak mau bekerja tanggung-tanggung sebagaimana dilakukan oleh Ki Manuhara. Yang akhirnya malah mati dibunuh oleh orang-orang Mataram.”

“Bajang Bertangan Baja telah menyeretnya ke dalam jebakan yang akhirnya membunuhnya,” berkata Ki Tempuyung Putih.

“Ia meninggalkan tugas pokoknya. Kematian adalah imbalan yang paling memadai baginya betapapun tinggi ilmunya.” geram Resi Belahan.

“Ia merasa berhutang budi kepada Bajang itu,” berkata Ki Tempuyung Putih.

“Bajang itu harus kita bunuh. Sayang Bajang itu terlepas dari tangan Ki Tempuyung Putih,” berkata Resi Belahan yang telah mendapat laporan pula tentang hilangnya Bajang Bertangan Baja.

“Kita akan mencarinya sampai kita akan mendapatkannya dimana pun ia bersembunyi,” berkata Ki Tempuyung putih, “kami memang mencurigai orang-orang tanah perdikan. Orang-orang Tanah Perdikan yang berilmu tinggi itu akan dapat mengambil Bajang Bertangan Baja. Kita memang lengah waktu itu.”

Resi Belahan mengangguk-angguk. Ternyata Resi Belahan tidak terlalu marah ketika ia mendapat laporan tentang hilangnya Bajang Bertangan Baja meskipun ia menjadi kecewa. Jika semula orang-orang di padepokan itu mengira bahwa Resi Belahan akan membunuh orang yang bersalah di saat hilangnya Bajang Bertangan Baja, ternyata tidak. Resi Belahan memang membentak-bentak kedua orang itu. Tetapi kedua orang itu dilepaskannya pergi.

Namun dengan uang Ki Tempuyung Putih pun berharap ia akan berhasil mendapat keterangan tentang Bajang Bertangan Baja dan letak kekuatan Tanah Perdikan Menoreh.

Sejak Resi Belahan mengisyaratkan untuk mempergunakan uang bagi orang-orangnya untuk mendapatkan keterangan tentang tanah Perdikan itu, maka Ki Tempuyung Putih telah memanggil kedua orang pembantunya yang dianggapnya memiliki ketrampilan berbicara. Mereka pandai berbohong, membujuk dan berpura-pura, sehingga untuk tugas sebagaimana dikehendaki Resi Belahan, mereka akan dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya.

“Hati-hati,” pesan Ki Tempuyung Putih, “orang-orang Tanah Perdikan bukannya orang-orang dungu. Usahakan untuk berhubungan dengan orang-orang yang memang memiliki keinginan tinggi, tamak dan dengki. Orang-orang yang demikian akan menjadi sasaran yang terbaik yang dapat kalian manfaatkan. Lebih baik jika kalian dapat berhubungan dengan bebahu padukuhan atau lebih baik bebahu Tanah Perdikan. Biarlah mereka menjadi kepanjangan mata dan telinga kita. Semua rencana mereka akan dapat kita sadap sehingga kita akan dapat berjaga-jaga sebaik-baiknya.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka kemudian berkata, “Tetapi aku minta waktu.”

“Aku tahu,” jawab Ki Tempuyung Putih, “pekerjaan yang kalian emban memang tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Jika kau salah memilih orang, maka bukannya kita mendapatkan keterangan tentang Tanah Perdikan dan rencana-rencananya, tetapi kau justru akan menjadi sumber keterangan bagi mereka. Kau akan dapat diperas sampai darahmu kering.”

Kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata, “Kita bukan anak-anak lagi Ki Tempuyung Putih. Betapa tingginya ilmu orang-orang Tanah perdikan, mereka tidak akan mampu menangkap kami berdua.”

“Kau jangan sombong,” potong Ki Tempuyung Putih, “kau tahu, bahwa Ki Manuhara tidak dapat mengalahkan orang terbaik di Tanah Perdikan ini. Mereka pun dapat melepaskan Bajang Bertangan Baja. Nah, kau harus melihat dirimu sendiri dibandingkan dengan Ki Manuhara.”

“Ki Manuhara memang berilmu tinggi. Tetapi ia tidak mempunyai otak,” jawab orang itu.

“Jangan omong kosong. Kau dapat berkata begitu setelah Ki Manuhara tidak ada. Siapa yang mengatakan bahwa Ki Manuhara tidak mempunyai otak? Siapa?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang yang lain. menjawab, “Yang mengatakan bukankah Resi Belahan ketika ia baru saja datang dari Mataram?”

“Kau dungu,” sahut Ki Tempuyung Putih, “jika Resi Belahan mengatakan bahwa Ki Manuhara tidak berotak, bukannya ia tidak mampu mempergunakan ilmunya dengan baik. Jika ia tidak berotak, maka ia tidak akan mencapai tataran yang demikian tinggi dalam ilmunya.”

“Jadi kenapa tidak berotak?” bertanya orang itu.

“Ia, telah terjebak ke dalam perasaan berhutang budi kepada Bajang Bertangan Baja sehingga ia justru terbunuh karenanya. Jika ia tidak merasa berhutang budi, maka ia tidak akan bersedia membantu Bajang Bertangan Baja, karena persoalannya sama sekali berbeda dengan tugas yang diembannya.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Tempuyung Putih berkata, “Sudahlah. Jangan kau perbandingkan tugas kalian dengan tugas Ki Manuhara. Lakukan saja tugasmu dengan baik. Tetapi yang perlu kalian ingat, jangan melakukan pekerjaan lain yang bukan tugasmu.”

“Baik Ki Tempuyung Putih,” jawab yang tertua antara kedua orang itu, “Kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Kami tahu bahwa tugas kami adalah tugas yang memerlukan kecerdikan. Bukan sekedar kemampuan ulah-kanuragan.”

“Bukan hanya kecerdikan,” jawab Ki Tempuyung Putih, “Kalian harus dapat menempatkan diri kalian. Tugas kalian adalah tugas rahasia.”

Keduanya mengangguk-angguk. Sementara Ki Tempuyung Putih berkata, “Pada dasarnya, tugas kalian dibiayai dengan persediaan dana yang tidak terbatas itu. Jika kalian menggunakan dana itu untuk kalian sendiri, maka kalian tahu akibatnya. Kami aku dan terutama Resi Belahan akan menilai hasil kerjamu dan dana yang kau keluarkan. Jika ternyata tidak terjadi keseimbangan, maka kau tahu apa yang harus kau pergunakan untuk menutup keseimbangan itu.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk, sementara Ki Tempuyung Putih merendah. Tetapi tegas, “Nyawa kalian.”

Baru terasa di tengkuk kedua orang itu, bulu-bulunya meremang. Ketika mereka menerima tugas itu, mereka membayangkan kelulusan tugas mereka dengan dukungan keuangan yang memadai. Bahkan kemudian ternyata tidak terbatas. Tetapi dalam ketidak terbatasan itu, telah ikut dipertaruhkan pula nyawa mereka.

Tetapi kedua orang itu kemudian berjanji untuk menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya. Seorang diantara mereka berkata, “Kami akan berbuat sejauh kemampuan kami. Sudah tentu kami akan memperhitungkan setiap keping uang dengan hasil yang kami capai. Mudah-mudahan kami dapat memberi kepuasan bagi Ki Tempuyung Putih dan Resi Belahan.”

“Lakukanlah dan berhati-hatilah,” pesan Ki Tempuyung Putih.

Seperti yang diperintahkan oleh Ki Tempuyung Putih, maka keduanya pun mulai dengan tugas mereka dari pasar. Di pasar, uang berputar dengan cepat.

Kedua petugas itu mulai mengamati para petugas di pasar itu yang mempunyai sifat-sifat sebagaimana dikatakan oleh Ki Tempuyung Putih. Mereka juga mengamati jika ada orang-orang yang nampaknya cukup penting yang hadir di pasar yang mereka anggap pasar yang paling ramai di Tanah Perdikan Menoreh.

Dari pasar keduanya mulai mendapat hubungan dengan lingkungan perdagangan. Kemudian merambat kepada orang-orang yang berhubungan dengan putaran uang di Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan uang yang cukup, maka kedua orang itu semakin banyak membuka jaringan dalam banyak bidang. Keduanya mulai memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan. Tidak sekedar jumlah yang kecil. Tetapi juga dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga pinjaman itu akan dapat menjangkau lingkungan yang bertingkat tinggi di Tanah Perdikan Menoreh.

Namun kedua orang itu cukup cerdik. Mereka tidak langsung berhubungan dengan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Mula-mula mereka berusaha mendapatkan seseorang yang dapat mereka percaya sepenuhnya dengan ikatan uang. Kemudian untuk tidak menarik perhatian serta menimbulkan jejak orang Tanah Perdikan itulah yang melebarkan usaha menyebarkan pinjaman uang itu.

Ternyata kedua orang itu juga licik. Semula mereka memang merasa bimbang untuk mengambil kebijaksanaan sendiri. Namun akhirnya mereka menemukan alasan yang kuat untuk melaksanakan kebijaksanaan mereka itu.

Seorang diantara mereka mula-mula memang merasa keberatan, bahwa keduanya itu justru akan membungakan uang mereka.

“Jika Ki Tempuyung Putih mengetahuinya, mungkin lewat mata orang lain, kita akan dianggap menyalah gunakan uang yang ada di tangan kita,” berkata yang muda diantara keduanya.

“Kita tentu dapat memberikan alasan. Jika kita meminjamkan uang tanpa bunga, kita justru akan dicurigai. Tetapi jika Ki Tempuyung Putih tidak mengetahui bahwa kita telah membungakan uang itu, maka bunga uang itu adalah milik kita. Ingat setiap keping uang yang kita bungakan harus kita pertanggung jawabkan dengan hasil usaha kita. Tetapi uang yang pinjamkan dengan bunga itu, berarti uangnya masih ada. Uang itu akan kembali ke tangan kita, sementara pengaruh kita lewat orang dungu dari Tanah Perdikan itu semakin luas. Nah, pada saat tertentu, kita akan melepaskan uang itu tanpa mengharap kembali. Uang yang akan kita bebankan sebagai bea atas tugas-tugas kita,” jawab orang yang lebih tua.

Kawannya yang lebih muda itu mengangguk-angguk. Namun bagaimana pun juga ia masih tetap mencemaskan langkah-langkah yang diambil oleh kawannya itu. Uang yang dipercayakan kepada mereka untuk kepentingan tugas-tugas mereka telah dibungakan. Tetapi alasan kawannya itu memang masuk akal. Bahkan usaha itu memang sejalan dengan tugas yang mereka lakukan. Karena mereka memang harus dapat menyusupkan pengaruh mereka ke dalam lingkungan yang lebih tinggi di Tanah Perdikan itu.

Karena itulah, maka kedua orang itu setiap hari memang berada di pasar mengawasi orang Tanah Perdikan Menoreh yang sedang diperalatnya memungut uang yang dibungakannya. Para pedagang kecil-kecilan bahkan yang usahanya cukup besar telah meminjam uang tambahan modal yang diperhitungkan dengan cicilan setiap hari. Bunganya memang terhitung tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan orang-orang lain yang pekerjaannya memang membungakan uang.

Dalam pada itu, untuk beberapa lama, Tanah Perdikan Menoreh memang merasa tenang. Tidak ada kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di padukuhan-padukuhan. Baik yang berada dekat pegunungan mau pun padukuhan-padukuhan yang jauh.

Sementara itu, Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan Bajang Bertangan Baja yang mengamati perkemahan itu dari arah yang lain, tidak melihat hal-hal yang perlu mendapat perhatian secara khusus. Ketika mereka mendekati padukuhan itu dari arah Barat, maka mereka menjumpai perkemahan itu sebagaimana melihat dari sisi sebelah lereng perbukitan.

Karena itu, maka untuk sementara Agung Sedayu masih minta Ki Gede untuk bersabar.

Namun justru karena untuk waktu yang terhitung lama tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan Menoreh, maka Agung Sedayu harus membuat pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Sementara itu menurut pengamatannya, maka perkemahan yang ada di sebelah bukit itu masih saja dalam keadaan sebagaimana sebelumnya. Dan malam hari masih nampak satu dua buah berkas cahaya lampu yang meluncur lewat dari lubang-lubang dinding.

“Tidak ada perkemahan apapun yang dapat kita lihat,” berkata Agung Sedayu ketika ia berada di sisi sebelah Barat perkemahan itu.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk, Katanya, “Masih seperti beberapa hari yang lalu.”

“Aku menjadi tidak sabar,” berkata Bajang Bertangan Baja, “Rasa-rasanya aku ingin menyusup masuk ke dalam perkemahan itu.”

“Aku justru sedang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tidak ada pergolakan sama sekali. Kenapa tidak terjadi kerusuhan atau perilaku dari orang-orang perkemahan yang menarik perhatian.”

Ki Jayaraga dan Bajang Bertangan Baja hanya dapat mengangguk-angguk kecil. Mereka mengerti perhitungan Agung Sedayu yang cermat itu. Tetapi mereka pun mengerti kenapa Prastawa menjadi hampir kehilangan kesabarannya.

Karena itu, maka Ki Jayaraga itu pun berkata, “Ngger, Tidak semua orang mempunyai kecermatan dan kesabaran seperti angger. Aku kadang-kadang menjadi cemas atas sikap angger Prastawa. Darah mudanya masih cepat mendidih sehingga rasa-rasanya ia akan lebih cepat kehabisan kesabaran dari orang-orang tua ini.”

“Aku akan mohon Ki Gede untuk mengendalikannya,” berkata Agung Sedayu, “Jika kita kehilangan perhitungan, maka kita akan dapat terjebak dalam kesulitan.”

“Apakah kau tidak mencemaskan kemungkinan bahwa orang-orang di perkemahan itu justru sedang menunggu bantuan sehingga kekuatan mereka akan menjadi semakin besar?”

“Memang ada kemungkinan,” jawab Agung Sedayu, “tetapi seberapa kekuatan mereka sebenarnya ini pun belum kita ketahui dengan pasti.”

“Jika mereka merasa kuat sekarang ini, maka mereka tentu akan dengan segera menyerang Tanah Perdikan ini,” berkata Bajang Bertangan Baja itu pula.

“Tetapi jangan lupa. Mereka pun belum mengetahui, seberapa besar kekuatan kita di Tanah Perdikan ini. Aku kira mereka pun sedang berusaha untuk mengetahui seberapa besar kekuatan Tanah Perdikan ini,” berkata Agung Sedayu pula.

Ki Jayaraga dan Bajang Bertangan Baja mengangguk-angguk. Sementara itu Agung Sedayu berkata, “kita memang harus mengamati sisi lain dari kelemahan Tanah Perdikan selain dari sisi kekuatan para pengawalnya. Di hari-hari terakhir kita tidak melihat kegiatan apa pun. Namun justru karena itu kita harus menjadi curiga.”

Sebenarnyalah bahwa Prastawa memang sudah hampir kehilangan kesabaran. Jika saja Ki Gede tidak selalu mencegahnya, maka Prastawa sudah mengerahkan kekuatan di Tanah Perdikan Menoreh untuk menyerang Perkemahan itu. Namun setiap kali Ki Gede memperingatkan berdasarkan laporan dari Agung Sedayu bahwa para pengawal Tanah Perdikan akan dapat disapu bersih oleh orang-orang berilmu tinggi di perkemahan yang jumlahnya belum dapat diketahui. Jangankan diketahui diperkirakan pun tidak.”

Dalam pada itu, dua orang yang dikirim oleh Ki Tempuyung Putih ternyata mampu melakukan tugas mereka dengan baik. Bukan saja bagi kepentingan tugasnya, tetapi juga bagi kepentingan diri sendiri. Orang Tanah Perdikan Menoreh yang sempat dibujuknya untuk bekerja sama, pada dasarnya memang seorang yang sering meminjamkan uang kepada para pedagang. Namun modalnya sangat terbatas dan bunganya cukup tinggi. Ketika kemudian ia mendapatkan modal yang cukup banyak serta tingkat bunga yang terhitung rendah, maka langganannya pun menjadi semakin banyak.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh kedua orang pengikut Ki Tempuyung Putih itu. Keduanya pun menjadi semakin banyak mengenali orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan satu dua orang bebahu telah dikenalnya pula.

Apalagi kedua orang itu menjadi semakin baik hati dan semakin nampak murah hati. Orang-orang yang memerlukan bantuan mereka, telah mereka bantu. Ketika anak seorang bebahu menderita sakit, maka orang Tanah Perdikan Menoreh yang menjalankan uang kedua orang pengikut Ki Tempuyung Putih itu telah datang kepadanya, bersama kedua orang perkemahan itu.

Istri bebahu itu adalah seorang pedagang kain yang tumbuh semakin besar. Ia termasuk salah seorang yang mendapat pinjaman dari orang Tanah Perdikan Menoreh yang sering meminjamkan uang itu.

Dengan ramah istri bebahu itu telah mempersilahkan ketiga orang itu masuk. Mereka duduk di ruang tengah, ditemui oleh bebahu Tanah Perdikan yang anaknya sakit itu.

“Terima kasih atas kunjungan Ki Makerti dan kedua orang yang aku agaknya belum mengenalnya,” berkata bebahu itu.

“Bukankah itu sudah menjadi kewajiban kita saling mengunjungi, apalagi jika salah seorang dari kita mengalami kesusahan seperti Ki Marbudi sekarang ini,” jawab Ki Makerti. Lalu kemudian ia telah memperkenalkan kedua orang yang datang bersamanya.

“Keduanya adalah masih sanak kadangku sendiri. Yang seorang adalah Ki Prasanta dan Ki Saramuka.”

“Kami datang untuk sekedar untuk memperingan keprihatinan Ki Marbudi. Hanya kunjungan seperti itulah yang dapat kami lakukan.” berkata Ki Makerti kemudian.

“Tetapi dari mana Ki Makerti tahu bahwa anakku sedang sakit sekarang ini?” bertanya Ki Marbudi.

“Nyi Marbudi mengatakan bahwa anaknya sedang sakit. Apalagi kemudian Nyi Marbudi tidak nampak di pasar. Aku mengira anaknya yang sakit tidak dapat ditinggalkan. Kerena itu, kami yang sering berhubungan jual beli di pasar, datang menengok anak Nyi Marbudi.”

“Bukankah aku pernah menceritakan serba sedikit tentang bantuan Ki Makerti?” berkata Nyi, Marbudi.

“Tentu bukan bantuan. Kita saling mendapatkan keuntungan,” jawab Ki Makerti, “Nyi Marbudi dapat memutar uang itu, sementara aku dapat menitipkan uang untuk ikut berputar dan mendapat sedikit keuntungan pula.”

“Ya. Ya.” desis Ki Marbudi, “istriku juga pernah menceritakannya. Memang satu kerja sama yang saling menguntungkan. Tetapi kami wajib mengucapkan terima kasih.”

Demikianlah, untuk beberapa saat mereka saling berbincang. Mereka mula-mula membicarakan anak Ki Marbudi yang sakit. Namun kemudian merambat memasuki pembicaraan tentang Tanah Perdikan mereka.

Namun akhirnya Ki Makerti kembali lagi ke soal uang yang dipinjamkan kepada Ki Marbudi. Ia masih menawarkan tambahan modal jika dikehendakinya.

“Kami akan memikirkannya Ki Makerti,” jawab Nyi Marbudi, “meskipun sebenarnya semakin banyak tersedia modal, maka usahaku akan semakin besar. Tetapi bukankah pinjaman itu harus dikembalikan? Jika aku tidak berhasil memutar uang yang aku pinjam, maka aku justru akan mengalami kesulitan. Bukankah selain harus mengembalikan, aku juga harus membayar bunga?”

“Apakah bunga itu terlalu tinggi?” bertanya Ki Makerti

“Tidak. Memang tidak. Bunga yang diminta Ki Makerti terhitung kecil dibandingkan dengan bunga dari peminjam uang yang lain.”

“Nyi Marbudi. Jika bunganya dianggap terlalu tinggi. Aku masih dapat menurunkan bunga itu meskipun hanya sedikit. Bagiku bunga itu tidak terlalu penting. Asal saja sedikit-sedikit aku mendapat uang untuk makan keluargaku.”

“Ah, apa begitu?” bertanya Ki Marbudi, “Ki Makerti tentu tidak usah memikirkan, apakah akan makan hari ini. Tetapi yang Ki Makerti pikirkan adalah makan apa sebaiknya hari ini.”

“Tentu tidak. Nampaknya saja begitu, sebagaimana kami melihat Ki Marbudi. Seorang bebahu Tanah Perdikan yang mempunyai sawah pelungguh yang luas, kebun kelapa yang juga luas dan Nyi Marbudi yang masih juga pandai mencari uang di pasar.”

Orang-orang yang sedang berbicara itu tertawa. Tetapi Nyi Marbudi harus bangkit dan meninggalkan pertemuan itu karena anaknya yang sakit merengek memanggilnya.

Justru ketika Nyi Marbudi tidak ada, maka Ki Makerti telah mulai berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan untuk memperluas pinjamannya. Dengan nada lembut Ki Makerti berkata, “Tidak hanya untuk berdagang. Jika Ki Marbudi ingin memperbaiki rumah atau kepentingan-kepentingan yang demikian aku dapat meminjami dengan bunga yang lebih kecil lagi.”

Ki Marbudi termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Makerti berkata, “Sudah tentu tidak kepada banyak orang. Jika hal itu dapat aku lakukan terhadap Ki Marbudi, sebenarnyalah bahwa Nyi Marbudi telah banyak memberikan bunga kepadaku. Aku sendiri tidak mampu memutar uang sebagaimana dilakukan oleh Nyi Marbudi. Karena itu, maka jika Ki Marbudi memerlukan uang tidak untuk kepentingan dagang, maka sudah tentu aku tidak akan menentukan bunga sebesar pinjaman yang dipergunakan untuk berdagang.”

Ki Marbudi mengangguk-angguk. Ia sempat merenungi tawaran Ki Makerti. Namun kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya Ki Makerti.”

“Jangan segan kepada kedua orang kadangku ini. Mereka adalah orang-orang yang membantuku menyediakan modal. Karena itu, maka akan lebih baik jika pembicaraan kita langsung ditungguinya.”

Tetapi Ki Marbudi tetap saja berkata sambil tersenyum, “Aku akan memikirkannya Ki Sanak. Rumahku memang harus dibenahi. Tetapi aku pun harus memperhitungkan seberapa besar aku sanggup meminjam uang dan kemudian mengembalikan dengan bunga meskipun bunganya kecil.”

“Baiklah,” berkata Ki Makerti, “tetapi kapan saja Ki Marbudi membutuhkan, panggil aku.”

“Baik,” jawab Ki Marbudi, “kapan saja aku memerlukan, aku akan menghubungi Ki Makerti.”

Demikianlah, maka Ki Makerti dan kedua orang yang bersamanya itu pun minta diri. Namun sebelum ia meninggalkan rumah Ki Marbudi, ia sempat melihat anak yang sakit itu dan menyisipkan uang beberapa keping di sela-sela jari anak yang sakit itu.”

Sepeninggal Ki Makerti, Ki Marbudi dan istrinya sempat berbincang tentang kebaikan hati Ki Makerti. Berbeda dengan peminjam uang yang lain, Ki Makerti terhitung orang yang paling baik.

Yang kemudian menganggapnya demikian bukan saja Ki Marbudi. Tetapi juga beberapa orang yang lain. Dan bahkan juga beberapa orang bebahu.

Namun sedemikian jauh, Ki Makerti dan kedua orang pengikut Ki Tempuyung Putih itu masih belum mendapat beberapa keterangan penting. Mereka masih belum mendapat keterangan tentang Bajang Bertangan Baja. Para bebahu juga tidak tahu apapun tentang Bajang Bertangan Baja. Seisi rumah Agung Sedayu berusaha untuk tetap merahasiakan kehadiran Bajang Bertangan Baja itu di rumah mereka. Demikian pula Ki Gede dan orang-orang terpenting di Tanah Perdikan yang pernah mendapat laporan dari Agung Sedayu, tidak pernah membicarakan Bajang Bertangan Baja itu secara terbuka. Apalagi dengan orang-orang yang tidak terlalu dekat dengan Ki Gede.

Dalam pada itu, Ki Tempuyung Putih mulai menjadi gelisah. Orang-orang di perkemahan itu pun menjadi jemu menunggu. Apalagi selama menunggu mereka merasa tidak lebih baik dari orang-orang yang tertawan. Mereka sama sekali tidak mempunyai kebebasan untuk bertindak.

Untuk berburu pun mereka diberi batasan-batasan agar tidak berbenturan dengan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.

Ketidak sabaran orang-orang perkemahan itu sejalan dengan kejemuan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh untuk menunggu. Ketika pada suatu kali terjadi kegemparan di sebuah pedukuhan, maka para pengawal Perdikan Menoreh mulai mencari sasaran untuk mencari kesalahan.

Ki Gede Sendiri datang di sebuah padukuhan yang baru saja dilanda kesusahan. Seseorang gadis yang sedang berada di pategalan memetik daun kacang panjang telah disergap oleh kedua orang laki-laki yang tak dikenal. Gadis itu memang sempat berteriak. Namun dua orang telah menyeretnya ke kaki perbukitan. Agaknya tidak seorang pun berada di pategalan dan mendengar teriakannya. Apalagi ketika mulut gadis itu kemudian telah disumbat dengan dedaunan yang dihentakkannya dari pepohonan.

Namun nasib gadis itu ternyata masih cukup baik. Yang Maha Agung masih melindungi keselamatannya serta harga dirinya. Ketika kedua orang itu menyeretnya melintasi jalan di kaki bukit, beberapa orang pengawal yang meronda telah melihatnya. Dengan cepat mereka berlari menyusul kedua orang itu. Kedua orang itu memang tidak mengira bahwa mereka akan berpapasan dengan para peronda. Apalagi jalan mulai menanjak. Karena itu, maka gadis itu telah dilepaskannya. Keduanya berusaha untuk melarikan diri naik ke lereng perbukitan.

Tetapi pada pengawal yang meronda itu tidak mau melepaskan mereka. Kedua orang itu dikejarnya hampir sampai ke puncak.

Keduanya yang merasa tidak mendapat lagi untuk terus berlari, telah memilih jalan untuk melawan para pengawal yang mengejar mereka. Dengan demikian maka telah terjadi pertempuran yang sengit antara dua orang yang bertubuh keras dan kasar dari perkemahan melawan ampat orang pengawal Tanah Perdikan yang sedang meronda.

“Anak-anak dungu,” geram seorang dari kedua orang itu, “kalian kira kalian berempat dapat mengalahkan kami berdua.”

“Kalian memang iblis yang tidak beradab. Di siang hari begini kalian berani menculik penghuni Tanah Perdikan Menoreh.” salah seorang pengawal itu berteriak.

“Persetan. Sesudah kami membunuh kalian, gadis itu akan kami bawa ke perkemahan kami, apapun yang akan terjadi dengan gadis itu kemudian. Adalah salah kalian jika kami berbuat demikian. Sebenarnya kami tidak akan menyeret gadis itu ke perkemahan. Tetapi kalian telah berusaha untuk mengganggu kami.”

“Tidak ada hukuman yang paling pantas bagi kalian berdua kecuali dihukum mati.” pengawal yang lain berteriak.

“Kalianlah yang akan mati disini,” orang yang besar itu menjawab.

Para pengawal itu tidak menunggu lagi. Mereka segera berpencar dan bertempur lagi melawan dua orang itu dengan sengitnya.

Orang-orang perkemahan itu ternyata bukan saja ujudnya yang keras dan kasar. Tapi tingkah laku mereka pun juga keras dan kasar. Mereka segera mencabut golok mereka dan mangayun-ayunkan dengan kasarnya. Sedangkan keempat orang pengawal itu telah menarik pedang mereka pula. Pedang para pengawal itu pun kemudian telah berputar dengan cepatnya. Menyambar-nyambar dari segala arah.

Pertempuran itu memang menjadi sengit. Kedua orang yang keras dan kasar itu memang mempunyai kekuatan yang sangat besar di setiap benturan, maka terasa di telapak tangan para pengawal bagaikan tersentuh panasnya api.

Namun para pengawal Tanah Perdikan yang terlatih itu memiliki kemampuan bergerak lebih cepat dari kedua orang yang keras dan kasar itu. Karena itu, berempat mereka mampu membuat kedua orang itu kadang-kadang kebingungan.

Dengan demikian maka keempat orang itu setiap kali harus bergeser semakin naik, sehingga akhirnya mereka bertempur di pundak perbukitan.

Meskipun demikian, para pengawal itu masih saja mengalami kesulitan. Pengawal yang termuda, yang dengan garangnya menyerang salah seorang dari kedua orang yang datang dari perkemahan itu telah kehilangan sasaran yang sempat mengelak. Bahkan kemudian orang itu telah mengayunkan goloknya dengan cepat dan kuat sekali. Terdengar angin bersiul oleh getaran ayunan golok itu mengarah kekepala pengawal muda itu.

Pengawal itu tidak sempat mengelak. Yang dilakukan kemudian adalah menangkis serangan itu. Ia mencoba untuk menepis golok yang besar yang terayun dengan kuatnya.

Namun ketika terjadi benturan yang keras, maka tangan pengawal itu bagaikan tertusuk ujung pisau belati. Panas dan pedih. Sehingga karena itu, maka telapak tangannya tidak sanggup lagi mempertahankan pedangnya, sehingga pedangnya itu meloncat lepas dari tangannya. Sementara itu, meskipun golok lawannya berubah arah, namun ujungnya masih juga sempat menggores pundak pengawal itu, sehingga terluka. Darah pun kemudian telah mengalir dari lukanya.

Pengawal yang masih muda itu memang terdorong surut. Tetapi ketika lawannya itu mengejarnya, maka seorang pengawal yang lain dengan kecepatan yang tinggi telah memburunya. Ujung pedangnya terjulur lurus menggapai lambung orang itu.

Orang itu terkejut. Perhatiannya memang tertuju kepada pengawal yang kehilangan pedangnya itu. Satu kesempatan baginya untuk membelah kepala pengawal itu dengan goloknya yang besar.

Tetapi sebelum ia sempat mengayunkan goloknya, lambungnya telah disengat oleh ujung pedang pengawal yang lain.

Orang itu menggeram marah. Sambil berteriak ia meloncat menyerang pengawal yang melukai lambungnya itu. Namun pengawal itu dengan cepat mengambil jarak.

Sementara pengawal yang kehilangan pedangnya telah berhasil memungut pedangnya kembali. Meskipun tangannya masih terasa pedih, tetapi ia lelah menggenggam pedangnya dengan erat-erat. Ketika ia melihat kawannya yang membantunya diburu oleh lawannya itu, maka ia pun segera meloncat sambil berteriak pula.

Orang itu memang berhenti. Wajahnya menjadi merah oleh kemarahan yang tertimbun di jantungnya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Dua orang lawannya telah hampir menyerang hampir bersamaan. Kerena itu, maka ia pun harus berloncatan menghindar dan menangkis serangan-serangan itu.

Dalam pada itu, kawannya yang seorang lagi ternyata juga mengalami kesulitan. Kedua pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu bertempur semakin cepat. Pedang mereka pun berputaran, menebas, terayun dan mematuk dari segala arah. Dua ujung pedang yang berterbangan di sekitarnya itu seakan-akan berpuluh ekor lebah yang mengerubunginya.

Dengan demikian maka orang itu pun mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri, sehingga ujung pedang lawannya itu sekali-kali sempat menyentuh kulitnya pula. Betapa luka-luka kecil mulai nampak di tubuhnya. Semakin lama semakin banyak, darah pun mulai mewarnai kulit orang yang bertubuh keras dan kasar itu.

Beberapa kali orang itu mengumpat-umpat. Namun ia tidak mampu menghindari serangan-serangan yang semakin deras menghujaninya.

Kedua orang itu memang tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Keempat pengawal dari Tanah Perdikan itu pun sangat marah pula sebagaimana kedua orang itu. Tindakan kedua orang itu sama sekali tidak mencerminkan tingkah laku seseorang yang hidup dalam pergaulan manusia beradab.

Demikianlah maka serangan keempat pengawal itu semakin lama menjadi semakin garang. Kedua orang perkemahan itu menjadi semakin kesulitan. Betapapun kemarahan membakar hati mereka, namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa tubuh mereka telah terluka semakin lama semakin parah.

Pada saat yang paling sulit, maka seorang diantara kedua orang itu merasa tidak tahan lagi mengalami tekanan serangan-serangan lawannya. Karena itu, maka tanpa memberikan isyarat apapun kepada kawannya, maka ia pun telah berlari meninggalkan arena meluncur turun lewat sela-sela pepohonan menuju perkemahan mereka.

Kedua orang pengawal yang bertempur melawannya telah pula memburunya

Tetapi keduanya masih harus memikirkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas mereka jika mereka sampai terperosok ke perkemahan.

Karena itu, ketika orang yang mereka kejar itu seperti menggelinding saja di lereng perbukitan, maka keduanya terpaksa menghentikan kejaran mereka.

Namun pada saat itu, orang-orang dari perkemahan yang seorang lagi, telah kehilangan harapan pula untuk bertahan. Apalagi setelah kawannya berlari meninggalkan arena.

Karena itu, maka ia pun telah memilih melarikan diri meninggalkan lawan-lawannya.

Tetapi nasibnya tidak sebaik kawannya. Para pengawal yang marah itu mengejarnya. Bahkan tiba-tiba saja orang itu melihat dua orang pengawal yang lain, yang gagal mengejar lawan mereka yang seorang lagi, telah melihat orang yang melarikan diri itu. Karena itu, maka keduanya dengan serta merta telah menghadang orang yang telah melarikan diri itu.

Orang itu benar-benar menjadi putus asa. Para pengawal pun tidak lagi mengekang diri. Kemarahan mereka telah menyala sampai ke ubun-ubun.

“Orang yang memperlakukan gadis-gadis seperti itu, tidak pantas berada di lingkungan orang-orang beradab.”

Karena itu, maka para pengawal telah beramai-ramai menyerang orang yang kebingungan itu.

Orang itu sebenarnya memang telah terluka. Serangan-serangan berikutnya telah membuat lukanya menjadi semakin parah; Meskipun dengan putus asa ia mencoba melawan, namun sama sekali tidak ada artinya.

Para pengawal yang seakan-akan telah kehilangan kesadarannya itu baru berhenti ketika orang itu telah terjatuh di tanah liat di lereng pegunungan. Orang itu tidak sempat lagi mengaduh.

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Seorang diantara mereka berkata, “Apa yang akan kita lakukan atas tubuh itu?”

“Seorang dari mereka telah melarikan diri. Orang itu tentu akan kembali mengambil kawannya. Kita tidak dapat berbuat banyak karena mungkin orang itu akan dalang membawa kawan yang tidak akan dapat kami lawan,” jawab yang lain.

Keempat orang itu sepakat untuk meninggalkan tempat itu. Dua diantara mereka ternyata sudah terluka meskipun tidak terlalu parah.

Ketika keduanya turun dari bukit, mereka menemukan gadis yang telah diseret oleh kedua orang itu masih terbaring di tempatnya. Agaknya gadis itu menjadi pingsan dan baru saja ia menjadi sadar.

Ketika ia melihat keempat orang datang menghampirinya, gadis itu lelah menjerit ketakutan. Namun seorang diantara pengawal itu dengan cepat berkata, “He, bukankah kau kenal kami?”

Kata-kata itu seakan-akan tidak didengar oleh gadis yang ketakutan itu. Bahkan gadis yang baru saja sadar dari pingsannya itu berusaha untuk bangkit dan berlari.

Tetapi pengawal itu berkata sekali lagi lebih keras, “He kau kenal kami. Kami telah menyelamatkanmu.”

Teriakan itu begitu kerasnya sehingga mampu mengatasi gejolak perasaan gadis itu. Seakan-akan di luar sadarnya ia memandang keempat orang yang mendekatinya itu. Diantara yakin dan ragu ia memang telah melihat ampat orang anak muda yang sudah dikenalnya meskipun tidak terlalu akrab.

“Pandangilah kami,” berkata peronda yang lain, “kami telah menolongmu. Aku telah terluka pundakku tetapi tidak apa-apa. Aku tidak akan mati karena luka kecil ini.”

Gadis itu mulai meyakini penglihatannya. Namun tiba-tiba saja ia telah terjatuh pada lututnya. Kedua tangannya menutupi wajahnya sambil menangis.

“Sudah,” berkata yang tertua diantara ampat orang pengawal itu, “jangan menangis. Orang akan dapat menjadi salah paham. Mereka akan dapat menuduh justru kamilah yang membuatmu menangis di tempat seperti ini.”

Gadis itu memang berusaha untuk mengatasi tangisnya. Meskipun tangisnya mereda, namun gadis itu terisak-isak sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Baru beberapa saat kemudian gadis itu terdiam.

“Marilah aku antar kau pulang,” berkata salah seorang pengawal yang sedang meronda itu.

Demikianlah, meskipun keempat pengawal itu mula-mula berusaha menyembunyikan persoalan yang dihadapi oleh gadis itu sebelum mereka menyerahkannya kepada orang tuannya, ternyata tidak dapat mereka lakukan. Ketika keempat anak muda itu berjalan bersama seorang gadis yang kusut, matanya merah bahkan tubuhnya kotor oleh debu dan tanah, maka persoalan telah timbul. Beberapa pasang mata yang curiga memandangi mereka dengan tajamnya. Bahkan seseorang telah menghentikan mereka dan bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

“Biarlah aku serahkan ia kepada orang tuanya, nanti kalian akan mendengar,” jawab salah seorang pengawal itu.

Tetapi beberapa orang menjadi tidak sabar. Mereka mendesak untuk mendengar jawaban para peronda itu, apa yang telah terjadi atas gadis itu.

“Kasihanilah sedikit pada gadis itu. Ia akan menjadi semakin ketakutan, malu dan barangkali perasaan-perasaan lainnya yang dapat menyiksanya. Biarlah ia bertemu dengan orang tuanya lebih dahulu.”

Orang-orang itu masih saja mendesaknya. Seorang yang sudah separo baya bertanya dengan keras, “He, apa yang telah kalian lakukan terhadap gadis itu?”

Keempat orang pengawal itu justru tersinggung mendengar pertanyaan itu. Seorang diantara mereka menjawab, “Apa yang kau bayangkan? Katakan, apa yang sudah kami lakukan? Lihat, aku telah terluka. Seharusnya kalian berpikir dua kali untuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan tentang gadis itu.”

Orang-orang itu memang terdiam. Mereka melihat para pengawal yang bertugas di padukuhan itu segera mendorong beberapa orang mundur dan berkata, “Biarlah gadis itu dibawa kepada orang tuanya.”

Meskipun orang-orang tidak berebut mengerubungi gadis itu lagi, tetapi mereka mengikuti gadis itu yang di antar oleh para pengawal pulang ke rumahnya.

Betapa terkejutnya orang tua gadis itu melihat keadaan anaknya. Belum lagi gadis itu mengatakan sesuatu, ibunya telah berteriak menangis sambil memeluk anak gadisnya.

“Apa yang terjadi ngger, apa yang terjadi?” tangis ibunya.

Wajah ayah gadis itu menjadi merah. Namun ia masih sempat menahan diri. Ia melihat beberapa pengawal yang mengantar anaknya itu. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Ada apa dengan anakku?“

Pengawal yang terluka telah merasa bahwa ia tidak dapat menunda jawabannya. Orang-orang itu akan kehilangan kesabaran dan dapat berbuat hal-hal yang tidak sewajarnya.

Karena itu, maka dengan singkat pengawal yang terluka itu menceriterakan apa yang telah diketahuinya sejak ia dan kawan-kawannya yang meronda melihat gadis yang diseret oleh dua orang yang tidak dikenal yang ternyata dua orang yang datang dari perkemahan.

Peristiwa itu ternyata telah membakar padukuhan itu. Semua orang yang laki-laki di padukuhan itu telah bergejolak. Mereka bersiap untuk menyerang untuk menyerang perkemahan di seberang perbukitan.

Laporan tentang peristiwa itu sampai pula kepada Ki Gede Menoreh dan Prastawa. Karena itu dengan cepat mereka pergi ke padukuhan itu. Dua orang pengawal telah memerintahkan untuk pergi ke rumah Agung Sedayu, untuk memberikan laporan tentang keributan yang terjadi di padukuhan itu.

Kedatangan Ki Gede disambut dengan acungan berbagai macam senjata. Peristiwa itu merupakan peristiwa yang besar bagi seisi padukuhan itu. Orang-orang tua yang mempunyai anak-anak gadis, anak-anak muda yang mempunyai adik atau kakak perempuan, laki-laki yang mempunyai istri terhitung muda dan semua orang di padukuhan itu menjadi marah.

Demikian Ki Gede dan Prastawa memasuki halaman banjar, maka orang-orang yang mencabut senjatanya itu telah berteriak-teriak, “Kita hancurkan perkemahan itu. Sekarang juga.”

“Apa yang kalian lakukan?” bertanya Ki Gede.

“Kita menyerang ke perkemahan. Kita tidak menunggu lebih lama lagi. Kita tidak mau membiarkan gadis-gadis kami dan perempuan-perempuan kami ternoda.” teriak seorang.

Namun yang lain pun menyambut pula dengan teriakan-teriakan serupa.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia menjadi gelisah, tetapi ia masih merasa bersyukur, bahwa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh tetap menghargai nilai-nilai kehidupan yang tinggi. Mereka menganggap bahwa tingkah laku sebagaimana dilakukan oleh kedua orang itu adalah tingkah laku yang tidak pantas tidak sewajarnya dilakukan oleh mahluk yang mempunyai nalar dan budi.

“Untunglah bahwa belum terjadi peristiwa yang lebih buruk. Tetapi jika kita biarkan saja mereka berada di seberang bukit, maka hal seperti itu akan terjadi kelak.” teriak seseorang diantara mereka yang membawa senjata telanjang di halaman banjar.

Sebenarnyalah bahwa jantung Prastawa juga terbakar. Tetapi ia tidak berkata sesuatu karena di tempat itu ada Ki Gede Menoreh sendiri.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Tenanglah saudara-saudara. Aku ikut merasa prihatin akan peristiwa yang telah dilaporkan kepadaku.”

“Sekarang kita hancurkan sarang iblis itu.” teriak seorang anak muda. Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang telah mempunyai ikatan batin dengan gadis yang hampir saja hilang ditelan iblis di perkemahan.

Namun Ki Gede itu pun kemudian berkata, “Tetapi kita harus ingat bahwa kita tidak berhadapan dengan raksasa yang sedang berbaring diam di seberang bukit.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan?” bertanya beberapa orang berbareng.

“Kita sedang bersiap diri,” jawab Ki Gede.

“Lalu berapa lama kita mempersiapkan diri itu?” bertanya yang lain.

“Tidak akan terlalu lama. Kita mulai mengetahui kelemahan-kelemahan orang-orang perkemahan itu. Kita mulai melihat lubang-lubang yang dapat kita susupi. Tetapi kita tidak dapat dengan serta merta seperti ini menyerang perkemahan itu. Itu akan sama artinya dengan membunuh diri.”

Tetapi kemarahan orang-orang padukuhan itu sudah sampai ke ubun-ubun. Karena itu, maka seorang diantara mereka berteriak, “Kami sudah terlalu lama menunggu. Apakah kita harus menunggu sampai gadis-gadis kita diterkam satu demi satu oleh orang-orang perkemahan itu? Atau barangkali rumah kita dirampok satu demi satu pula? Atau pedagang-pedagang kami dicegat di bulak-bulak panjang dan dirampas harta-bendanya atau nyawanya? Atau apa sebenarnya keberatan kita untuk segera mengusir mereka atau bahkan menghancurkan mereka sama sekali?”

“Memang tujuan kita adalah menghancurkan mereka. Tetapi jangan kita sendiri yang hancur,” jawab Ki Gede.

Prastawa tidak berani menyatakan pendapatnya karena sebenarnya ia sendiri sudah kehabisan kesabaran. Tetapi ia masih sadar, jika ia mengatakan hal itu di hadapan banyak orang yang hatinya sedang goncang, maka sama saja dengan membakar hati mereka yang goncang itu sehingga akan dapat menyala tanpa kendali lagi.

Karena itu, maka Prastawa sama sekali tidak berkata sesuatu.

Sementara orang-orang itu masih saja mengacu-acukan senjata mereka. Seorang yang lain berteriak, “Jika demikian, biarlah kami, orang padukuhan ini saja yang datang ke perkemahan. Kami akan membunuh orang-orang yang tinggal di perkemahan itu dan membakar gubug-gubug yang ada disana.”

“Cukup,” bentak Ki Gede, “aku adalah Kepala Tanah Perdikan ini. Selama ini aku kerja keras untuk kepentingan kalian. Aku tidak mementingkan diriku sendiri. Memanjakan keluargaku atau orang-orang yang dekat dengan aku. Jika aku tidak segera melakukan sebagaimana kalian inginkan, itu semata-mata juga aku memikirkan keselamatanmu.”

Orang-orang itu memang terdiam untuk sesaat. Namun kemudian ketika di halaman banjar itu datang Glagah Putih dan Sabungsari, maka orang-orang itu berteriak-teriak lagi.

“Mana Agung Sedayu. Mana Agung Sedayu,” teriakan itu seakan-akan hendak meledakkan banjar padukuhan itu.

Glagah Putih dan Sabungsari yang melihat suasana itu segera menyadari bahwa mereka harus berhati-hati menghadapi orang-orang yang agaknya sedang marah karena peristiwa yang mereka rasakan sangat menusuk perasaan.

Dengan nada rendah Glagah Putih menjawab, “Kakang Agung Sedayu tidak ada di rumah. Ketika seorang pengawal datang memberitahukan hal itu kepada kami, kakang Agung Sedayu masih ada di baraknya. Ia belum pulang. Karena itu, maka kami datang untuk melihat suasana padukuhan ini.”

“Jadi kalian datang hanya untuk melihat?” seseorang tiba-tiba berteriak pula, “kau anggap yang terjadi itu sebagai tontonan saja?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tetap sadar, bahwa ia harus mengendalikan diri dan berbuat sebaik-baiknya menghadapi orang-orang yang sedang marah.

“Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka yang menghalangi penyerangan ini. Kami mohon Ki Gede memimpin kami menyerang perkemahan itu. Seandainya kita masih harus menunggu sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu, biarlah Agung Sedayu sendiri yang menunggu.”

Ki Gede terkejut. Glagah Putih dan Sabungsari pun terkejut pula. Orang-orang itu seakan-akan telah melemparkan kesalahan kepada Agung Sedayu yang dianggapnya menghambat penyerangan mereka atas perkemahan itu.

Prastawa lah yang kemudian menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak bermaksud memburukkan nama Agung Sedayu. Tetapi jika hatinya merasa sangat kesal, maka kadang-kadang dengan tidak sengaja meluncur pula keluhannya bahwa Agung Sedayu masih berniat menunda setiap usaha untuk menyerang perkemahan itu.

Namun dalam pada itu Ki Gede pun berkata, “Saudara-saudaraku. Jika Agung Sedayu berniat menunda, itu semata-mata karena perhitungannya yang matang. Selain ia seorang yang memiliki pengalaman yang luas, ia juga seorang Lurah prajurit yang memiliki pandangan yang tajam terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam pertempuran yang bakal terjadi.”

“Tetapi kita tidak sabar lagi,” teriak seorang yang lain. Bahkan yang lain lagi berteriak, “Apa artinya seorang saja diantara seisi Tanah Perdikan? Jika ia tidak mau bersama kami karena takut akan dihancurkan oleh orang-orang perkemahan, maka biarlah ia tidak ikut. Atau katakanlah, biarlah seisi rumahnya tidak ikut serta bersama kami. Kami tidak berkeberatan.”

Suara itu ternyata disahut oleh banyak orang, “Kita tinggalkan saja satu dua orang yang memang tidak berani ikut bersama kita. Jumlah kita masih terlalu banyak.”

“Cukup. Cukup,” Ki Gede menjadi marah, “kau ingin tahu artinya seseorang? Jika seseorang itu aku, atau kau, atau kau, atau kau, maka itu tidak berarti apa-apa. Tetapi jika yang seorang itu Agung Sedayu, maka artinya akan besar sekali. Aku yakin kalian tentu mengenal Agung Sedayu, Glagah Putih adik sepupunya dan angger Sabungsari serta orang lain yang ada di rumahnya, Ki Jayaraga, Sekar Mirah dan Rara Wulan. Kalian tentu tahu apa yang mereka dapat lakukan. Dengan ilmu mereka, mereka akan dapat berbuat jauh lebih baik daripada kalian sepadukuhan ini. Jika tidak percaya, biarlah Glagah Putih, yang sekarang ada, melontarkan ilmunya kearah kalian. Maka kalian yang berkumpul ini tidak akan sempat menghitung berapa sosok mayat yang akan terbaring disini.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Mereka terpengaruh oleh kata-kata Ki Gede itu. Namun tiba-tiba diluar dugaan seseorang berkata, “Jika demikian. Marilah bersama Agung Sedayu, Glagah Putih dan yang lain-lain itu kita pergi ke seberang bukit. Mereka akan dapat membunuh orang-orang yang tinggal di lereng bukit itu. Kenapa dengan demikian kita masih harus menunggu lagi? Dengan sapuan ilmu mereka, maka dalam sekejap pekerjaan itu akan selesai.”

Kemarahan Ki Gede manjadi semakin membakar jantungnya. Tetapi sebagai seorang pemimpin, maka ia harus mengekang diri. Meskipun demikian maka dengan lantang Ki Gede itu menjawab, “Nah, sekarang dengar penjelasanku. Kita memang mempunyai beberapa orang yang berilmu sangat tinggi. Yang kalian tidak mampu membayangkannya. Tetapi dengar, bahwa di perkemahan itu juga ada orang-orang yang berilmu sangat tinggi sebagaimana Agung Sedayu, Glagah Putih dan yang lainnya lagi. Karena itulah maka Agung Sedayu menjadi sangat berhati-hati. Jika kita bertempur melawan orang-orang di seberang bukit, mungkin Agung Sedayu sendiri, Glagah Putih dan orang-orang yang berilmu tinggi itu akan dapat luput dari ilmu orang-orang yang berilmu tinggi di seberang bukit. Tetapi bagaimana dengan kalian? Bagaimana dengan para pengawal yang masih muda? Bagaimana dengan orang-orang lain yang dengan marah sambil mengacu-acukan senjatanya menyerang perkemahan itu? Agung Sedayu sudah membayangkan jika demikian yang terjadi, maka korban akan bertebaran sebagaimana menyabit batang ilalang. Nah, dengarkan baik-baik. Jika agung Sedayu mengusulkan beberapa kali agar kita berhati-hati menghadap orang itu, maka landasan berpikirnya adalah menyelamatkan kalian. Bukan Agung Sedayu mencemaskan dirinya sendiri.”

Orang-orang yang mendengar suara Ki Gede yang keras itu benar-benar terdiam. Mereka mulai sempat memikirkan apa sebabnya Ki Gede masih merasa belum waktunya menyerang perkemahan itu.

Ketika orang-orang yang berada di halaman banjar itu mulai merenung, maka Ki Gede pun berkata, “Sekarang sebaiknya kalian kembali ke rumah masing-masing. Biarlah para pengawal melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Namun pada saatnya, jika diperlukan maka kalian harus hadir di halaman banjar dengan senjata di tangan sebagaimana kalian lakukan hari ini. Karena hal itu tentu akan terjadi. Kita hanya menunggu waktu yang menurut penilaian kami waktu yang terbaik.”

Orang-orang yang berada di halaman itu termangu-mangu. Sementara Ki Gede berkata lagi, “Apa yang kalian tunggu? Pulanglah dan bersiap-siaplah. Aku merasa bangga atas sikap kalian yang serta merta. Ternyata kalian adalah orang-orang yang menjunjung tinggi derajad kemanusiaan kalian. Sikap orang-orang perkemahan itu atau siapapun juga yang melakukannya adalah bukan sikap orang beradab. Karena itu wajar jika kalian berniat menghukum mereka, karena orang-orang yang melakukan perbuatan yang demikian memang harus dihukum berat.”

Orang-orang itu tidak menjawab. Sementara itu, satu demi satu orang-orang itu pun meningggalkan halaman banjar pulang ke rumah masing-masing.

Namun setelah mereka sempat merenungi sikap mereka, maka mereka memang menjadi berdebar-debar. Mereka baru menyadari, bahwa jantung mereka telah terbakar oleh peristiwa yang sangat menyakitkan itu.

Bahkan beberapa orang sempat bergumam di dalam hati, “Untunglah Ki Gede sempat mencegah kami.”

Ketika banjar itu sudah menjadi lengang, sehingga hanya ada beberapa pengawal saja, maka Ki Gede telah berbicara dengan Glagah Putih, Sabungsari dan Prastawa. Dengan nada dalam Ki Gede berkata, “Persoalannya memang sudah sangat mendesak.”

Glagah Putih dan Sabungsari mengangguk-angguk. Meskipun agak ragu namun Glagah Putih mencoba untuk memberikan penjelasan, “Ki Gede. Saat ini orang yang bernama Resi Belahan telah berada di perkemahan itu. Kita tidak tahu seberapa tinggi tataran ilmu Resi Belahan itu. Selain Resi Belahan masih ada Ki Tempuyung Putih dan sudah tentu beberapa orang lain yang berilmu tinggi. Karena itu, maka kakang Agung Sedayu agaknya menjadi sangat berhati-hati.”

“Kami mengerti ngger. Tetapi jika api sudah menyala di dada orang-orang padukuhan seperti ini, maka pada suatu saat kita tentu akan benar-benar tidak mampu mengendalikan lagi. Jika mereka dengan liar menyerang perkemahan itu, maka dapat dibayangkan, bahwa mereka akan disapu habis oleh orang-orang perkemahan yang garang itu.”

Glagah Putih dan Sabungsari mengangguk-angguk. Sementara itu Prastawa pun berkata, “Para pengawal pun rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Mereka menganggap perkemahan itu seperti duri dalam daging. Setiap ada gerak, maka terasa betapa pedihnya.”

“Baiklah,” berkata Glagah Putih, “aku akan menyampaikannya kepada kakang Agung Sedayu.”

“Ya ngger,” berkata Ki Gede kemudian, “kita akan segera membicarakan lagi persoalan ini. Secepatnya, sebelum Tanah Perdikan ini meledak.”

Demikianlah, maka Ki Gede pun kemudian telah kembali ke padukuhan induk bersama dengan Prastawa, Glagah Putih dan Sabungsari. Sementara itu, Ki Gede minta agar para pengawal semakin waspada. Mungkin ada orang yang ingin membalas dendam atas kematian kawan mereka.

Tetapi orang yang melarikan diri dan sudah terluka ketika bertempur melawan para pengawal setelah ia gagal menyeret seorang gadis dari padukuhan, ternyata sama sekali tidak melaporkan kepada pemimpinnya di perkemahan. Ketika ia dikalahkan oleh para pengawal dan melarikan diri, ia langsung bersembunyi di baraknya. Seorang kawannya memang bertanya kepadanya, apa yang terjadi, namun orang itu menggeleng sambil berkata, “Tidak ada apa-apa.”

“Tetapi aku melihat darah di tubuhmu,” berkata kawannya.

“O,” orang itu mengusap tubuhnya yang bukan saja berdarah, tetapi juga kotor, “aku terjatuh dari sebatang pohon manggis. Bukan terjatuh, tergelincir.”

Kawannya tidak bertanya lagi. Sementara orang itu kemudian merasa perlu untuk mandi dan membersihkan diri, menghilangkan jejak dari tubuhnya.”

Namun ternyata, dua orang petugas perkemahan di Tanah Perdikan Menoreh sempat melihat tentang keributan yang terjadi itu. Ketika mereka melaporkan hal itu kepada Ki Tempuyung Putih maka Ki Tempuyung Putih telah memerintahkan orang itu menghubungi dua orang petugas yang lain, yang lebih bersungguh-sungguh dan bahkan telah menyebarkan uang di Tanah Perdikan.

“Aku akan melaporkannya kepada Ki Tempuyung Putih,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

Malam itu juga keduanya minta diri kepada Ki Makerti untuk pergi ke perkemahan.

“Besok aku sudah kembali,” berkata orang itu yang pada saat-saat terakhir berada di rumah Ki Makerti untuk dapat melihat perkembangan Tanah Perdikan dari dekat.

Kedua orang itulah yang telah memberikan laporan terperinci dari apa yang didengarnya telah terjadi di pedukuhan di dekat lereng perbukitan itu.

Kemarahan Ki Tempuyung Putih telah menjalar sampai ke ubun-ubunnya. Bukan karena ia menjunjung tinggi nilai-nilai tata kehidupan. Tetapi tindakan kedua orang itu akan membakar kemarahan orang-orang Tanah Perdikan.

Karena itu, maka Ki Tempuyung Putih itu segera memerintahkan mencari orang yang telah melakukan hal itu.

Memang tidak terlalu sulit untuk menemukan orang itu. Kawan-kawannya yang pernah melihat orang itu terluka telah memberikan laporan tentang keadaannya.

Ternyata Ki Tempuyung Putih tidak tanggung-tanggung memberikan hukuman kepada orang itu. Ketika orang itu dipanggil dan diminta keterangan apa yang telah dilakukannya, maka ia tidak dapat mengelak lagi. Dua orang petugas di Tanah Perdikan serta dua orang lainnya yang memang berada di Tanah Perdikan telah memberikan kesaksian tentang perbuatannya itu.

“Padukuhan itu menjadi gempar. Hampir saja mereka beramai-ramai menyerang perkemahan ini. Tetapi Ki Gede sempat mencegahnya.” berkata salah seorang yang bertugas untuk mengamati Tanah Perdikan itu. Bahkan ia pun berkata, “Aku sudah berusaha memanasi orang-orang yang sempat berbicara dengan aku di halaman banjar. Tetapi Ki Gede mempunyai wibawa yang sangat tinggi. Jika saja mereka, sekelompok orang dari pedukuhan itu tidak terkendali dan menyerang, maka mereka akan dapat kita binasakan. Tetapi justru karena wibawa Ki Gede, maka pada saatnya akan datang serangan yang besar sambil memanfaatkan kemarahan orang-orang Tanah Perdikan karena tingkah laku satu dua orang kita.”

Sementara itu salah seorang yang untuk sementara tinggal di rumah Ki Makerti berkata, “Tingkah laku itu sangat merugikan kita, justru pada saat aku sedang berusaha mencari bahan untuk melengkapi laporan yang sudah hampir siap. Aku sudah mempunyai hubungan dengan beberapa orang penting di Tanah Perdikan. Aku pun dalam waktu dekat tentu dapat berbicara tentang kekuatan Tanah Perdikan dan bahkan tentang Bajang Bertangan Baja.”

Tempuyung Putih tidak berpikir terlalu panjang. Dengan lantang ia berteriak, “Orang itu harus dihukum mati.”

Orang itu terkejut. Namun apa yang dilakukan kemudian tidak berarti apa-apa bagi Ki Tempuyung Putih. Orang itu pun kemudian diseret keluar dan hukuman mati pun dilakukan saat itu juga.

Ternyata Resi Belahan sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi. Ketika ia mengetahui persoalan itu, maka ia tidak memberikan tanggapan apa pun. Yang kemudian menjadi perhatiannya adalah dua orang yang ditugaskan untuk mencari hubungan di Tanah Perdikan dan yang untuk sementara di rumah Ki Makerti.

“Waktu kita sudah hampir habis. Dalam waktu sepekan jika kau belum memberikan laporan terperinci tentang kekuatan Tanah Perdikan dan Bajang Bertangan Baja, maka tugasku akan ditinjau lagi,” berkata Resi Belahan.

Kedua orang itu mengerti, apa artinya peninjauan kembali atas tugas mereka. Resi Belahan pun tidak pernah ragu-ragu menjatuhkan hukuman mati. Bahkan mungkin Ki Tempuyung Putih lah yang bertindak lebih dahulu.

Karena itu, maka mereka berusaha untuk dengan segenap kemampuan mereka mencari beberapa keterangan tentang kekuatan yang ada di Tanah Perdikan.

Orang-orang itu sudah mengetahui nama-nama Agung Sedayu, Glagah Putih, Sabungsari, Ki Jayaraga dan Ki Gede Menoreh sendiri. Mereka pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang berilmu tinggi sehingga Ki Manuhara dan beberapa orang berilmu tinggi yang lain, justru telah dihancurkan ketika mereka menyerang rumah Agung Sedayu.

Mereka merasa seakan-akan mereka mendapat satu anugerah ketika ternyata Ki Marbudi telah minta Ki Makerti datang kepadanya untuk membicarakan kemungkinan untuk meminjam uang lebih banyak lagi.

Dengan serta-merta maka Ki Makerti dan kedua orang yang diaku sebagai saudaranya itu pun segera datang. Mereka telah mempersiapkan uang berapapun yang diinginkan oleh Ki Marbudi dalam batas kewajaran.

“Kita tidak dapat memberikan uang sepedati,” berkata salah seorang dari kedua orang petugas dari perkemahan itu. “Jika kita melakukan hal itu, maka Ki Marbudi justru akan menjadi curiga, sehingga ia akan membatalkan niatnya,” berkata orang yang disebut Ki Suramuka itu lebih lanjut.

Ki Makerti termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Tetapi bukankah ia memperlakukan uang. Semakin banyak kita menyediakan uang, maka tentu semakin mudah pula ia membuka rahasia.”

“Kita akan mencoba untuk menjajaginya,” berkata Ki Prasanta.

Kedatangan mereka memang disambut oleh Ki Marbudi dengan gembira. Demikian pula isterinya. Ketika mereka sudah duduk di pendapa, maka Ki Marbudi itu berkata, “Ki Sanak bertiga, ternyata anakku sudah sembuh. Aku ingin mengadakan semacam pernyataan syukur dengan mengundang beberapa orang sanak kadang terdekat.”

“Syukurlah,” berkata Ki Makerti, “kami ikut bergembira. Nah, jika Ki Marbudi menyelenggarakan syukuran, jangan lupa, aku dan kedua saudaraku ini diberitahu. Kami dengan senang hati akan datang untuk ikut meramaikan syukuran itu.”

“Tentu. Tentu,” jawab Ki Marbudi dengan serta merta. “namun untuk itu aku masih belum mempunyai beaya.”

Ki Makerti dan kedua orang yang datang bersama itu serentak tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ah, mana mungkin Ki Marbudi tidak mempunyai beaya untuk menyelenggarakan syukuran. Ki Marbudi termasuk seorang bebahu yang berpengaruh. Pelungguhnya tentu cukup luas. Sementara itu Nyi Marbudi yang berdagang di pasar, semakin lama semakin berkembang.”

“Tetapi aku berkata sebenarnya Ki Makerti,” berkata Ki Marbudi kemudian, “itulah sebabnya, aku berharap Ki Makerti datang kemari.”

“Ah, hanya untuk itu? Baiklah Ki Marbudi, jika hanya untuk itu, Ki Marbudi tidak usah meminjam uang kami. Kami akan menyumbang seberapa besar yang dibutuhkan Ki Marbudi. Selama ini Nyi Marbudi telah memberikan banyak bunga kepada kami. Tentu tidak akan berkurang nilainya jika sebagian dari bunga yang telah kami terima itu kami kembalikan untuk mensyukuri anak Ki Marbudi yang sudah sembuh itu.”

“Ah, tentu aku tidak mengharapkan demikian,” berkata Ki Marbudi, “aku tidak ingin mengganggu orang lain. Aku benar-benar ingin mendapat pinjaman.”

“Jangan segan Ki Marbudi. Kami berkata sebenarnya. Kedua saudaraku ini tentu juga sependapat,” berkata Ki Makerti.

“Terima kasih Ki Makerti. Tetapi kebutuhanku tidak hanya sekedar untuk mensyukuri anakku yang sembuh. Tetapi juga seperti yang Ki Makerti tawarkan, memperbaiki rumahku yang hampir menjadi condong ini,” berkata Ki Marbudi.

“Ah,” desah Ki Makerti, “rumah ini adalah rumah yang paling kokoh di Tanah Perdikan. Tetapi kami memang sanggup menyediakan uang untuk memugar rumah ini. Mungkin Ki Marbudi ingin tiang pendapa rumah ini diganti dengan tiang ukir-ukiran dan disungging sekali.”

“Ah, tentu tidak. Aku tidak berani membuat rumah lebih baik dari rumah Ki Gede,” jawab Ki Marbudi.

Ki Makerti tertawa. Namun kemudian mereka pun telah membicarakan rencana Ki Marbudi untuk meminjam uang. Untuk syukuran, memperbaiki rumah dan memperluas usaha dagang Nyi Marbudi.

“Nanti malam aku datang mengantarkan uang yang Ki Marbudi butuhkan,” berkata Ki Makerti, “Meskipun kadang-kadang terjadi kekisruhan di Tanah Perdikan ini, tetapi nampaknya para pengawal berjaga-jaga dengan ketat, sehingga aku tidak perlu cemas bahwa akan ada bahaya di perjalanan.”

“Tetapi bagaimana pun juga Ki Makerti harus berhati-hati,” pesan Ki Marbudi.

“Untuk apa pengawal yang sekian banyaknya?” bertanya Ki Makerti.

“Nampaknya saja terlalu banyak. Tetapi sebenarnya pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak terlalu banyak,” jawab Ki Marbudi, “Soalnya angger Prastawa yang dibantu oleh beberapa orang muda berilmu tinggi itu memiliki kemampuan untuk mengatur, sehingga nampaknya seakan-akan pengawal di Tanah Perdikan ini cukup kuat. Tetapi sebenarnya banyak lubang-lubang kelemahan yang terdapat dalam pertahanan para pengawal Tanah Perdikan.”

“Ah, tidak Ki Marbudi. Pengalaman mengatakan kepadaku, juga kepada rakyat Tanah Perdikan, bahwa Tanah Perdikan ini cukup kuat untuk menghadapi kekuatan dari luar. Ternyata orang-orang yang berkemah di sebelah bukit juga tidak berani berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini.”

“Beberapa kali mereka telah melakukan penyerangan dan pengacauan,” jawab ki Marbudi.

“Tetapi usaha mereka tidak pernah berhasil,” jawab Ki Makerti bersungguh-sungguh.

“Itu karena mereka tidak tahu letak kelemahan Tanah Perdikan ini. Dan itu merupakan satu keberuntungan bagi kita.”

Kedua orang perkemahan itu termangu-mangu sejenak. Mereka saling berpandangan. Nampaknya mereka mendapat kesempatan untuk memenuhi perintah Resi Belahan. Meskipun mereka sadar bahwa mereka tidak boleh tergesa-gesa dan serta merta.

Namun Ki Makerti masih berkata, “Aku masih percaya kepada Ki Gede Menoreh. Ia seorang yang berilmu tinggi dan berwibawa.”

Ki Makerti termangu-mangu sejenak. Dengan nada heran ia bertanya, “Ki Marbudi. Nampaknya Ki Marbudi tidak begitu yakin. Bukankah selama ini kita melihat dan mengalami, bahwa Tanah Perdikan ini menjadi besar dibawah kepemimpinan Ki Gede.”

“Aku percaya. Aku tidak pernah menolak pendapat itu. Aku adalah salah seorang pembantunya. Tetapi justru karena itu aku tahu bahwa tanpa orang-orang seperti Agung Sedayu maka Tanah Perdikan ini tidak berarti apa-apa,” jawab Ki Marbudi.

Kedua orang yang mengaku saudara Ki Makerti itu mengangguk-angguk diluar sadar mereka. Sementara itu Ki Marbudi pun berkata, “Sudahlah. Aku adalah salah seorang bebahu. Jika aku terlepas kata, maka persoalannya akan menjadi lain. Apalagi jika didengar oleh orang-orang perkemahan. He, dengan mudah kalian dapat mengukur kekuatan sebenarnya dari Tanah Perdikan ini. Seandainya kekuatan Tanah Perdikan ini cukup tangguh, kenapa Ki Gede tidak berani menyerang perkemahan itu?”

Ki Makerti mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu tidak akan didengar orang-orang perkemahan. Bagaimana mungkin keterangan Ki Marbudi dapat merambat sampai kesana. Seandainya sampai juga, maka Ki Marbudi tentu pernah berbicara dengan orang lain pula.”

“Tidak,” jawab Ki Marbudi, “Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapapun juga. Kecuali ada bebahu lain yang mempunyai wawasan sama seperti aku.”

Ki Makerti mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, “Sudahlah Ki Marbudi. Aku mohon diri. Nanti malam aku akan datang lagi dengan membawa uang yang Ki Marbudi butuhkan. Juga bagi Nyi Marbudi untuk memperluas perdagangan.”

“Terima kasih,” jawab Ki Marbudi, “sebenarnya aku tidak terlalu tergesa-gesa. Apalagi keadaan nampaknya masih belum menentu sekarang ini.”

“Tidak apa-apa Ki Marbudi, nanti malam aku benar-benar kembali. Bukan saja untuk menyerahkan uang. Tetapi ceritera Ki Marbudi tentang Tanah Perdikan ini sangat menarik. Sebagai orang Tanah Perdikan ini, aku juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya digelar diatas Tanah Perdikan ini? Main-main, kepura-puraan atau aku yang tertinggal tanpa dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya,” berkata Ki Makerti.

“Sudahlah,” berkata Ki Marbudi, “aku tidak dapat berbicara panjang tentang para pengawal di Tanah Perdikan ini serta celah-celah kekuatan yang hanya terpampang di permukaan.”

Ki Makerti tertawa. Katanya, “Baiklah. Kami minta diri.” Demikian Ki Makerti dan kedua orang kawannya meninggalkan rumah Ki Marbudi, maka Nyi Marbudi dengan wajah tegang bertanya, “Kakang, kenapa kau menyinggung tentang kelemahan di Tanah Perdikan ini? Untunglah kakang belum terlanjur membuka rahasia. Siapa tahu, apa yang kakang katakan diceriterakan oleh Ki Makerti kepada orang lain sehingga menjalar sampai ke telinga orang-orang yang berada di seberang bukit.”

“Aku tidak peduli,” jawab Ki Marbudi, “aku memang sudah jemu dengan keadaan yang berlarut-larut seperti ini. Meskipun nampaknya Ki Gede yang memegang kendali kepemimpinan di Tanah Perdikan ini, namun sebenarnyalah bahwa Ki Gede tidak, berkuasa apa-apa. Segala sesuatunya berada di tangan Agung Sedayu. Seolah-olah ia adalah penguasa tertinggi di Tanah Perdikan ini. Sebenarnya seandainya Ki Gede tidak melaksanakan tugasnya, bukankah ada angger Swandaru, menantu Ki Gede itu yang dapat berkuasa dan memerintah Tanah Perdikan ini. Coba, kau lihat, apa kuasaku di Tanah Perdikan ini meskipun aku seorang bebahu yang dekat dengan Ki Gede. Duduk, mendengarkan Agung Sedayu sesorah dan bahkan mengambil keputusan.”

“Tetapi kakang tidak perlu mengatakan kepada orang yang tidak begitu kakang kenal,” berkata Nyai Marbudi.

“Tetapi ia orang baik. Nanti malam ia akan datang membawa uang. Nah, apalagi yang aku inginkan sekarang selain uang setelah aku yakin bahwa aku tidak mempunyai kekuasaan sama sekali di Tanah Perdikan ini?” desis Ki Marbudi. Lalu katanya, “Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan Tanah Perdikan ini. Aku akan membangun rumah yang baik. Kau akan menjadi seorang pedagang yang besar. Aku tidak peduli apakah aku punya kuasa atau tidak. Namun aku mempunyai pelungguh sawah yang luas.”

“Kakang, bukankah uang pinjaman itu pada suatu saat harus dikembalikan,” bertanya isterinya.

“Tentu. Tetapi bukankah Ki Makerti tidak mensyaratkan kapan aku harus mengembalikan? Ia orang baik. Aku dapat mengangsur beberapapun yang dapat aku sisihkan setiap pekan. Ia tidak akan banyak menuntut. Dan aku tidak ingin menggelapkan uang itu. Nah, hubungan kita dengan mereka akan dapat berlangsung dengan baik. Agaknya kita dan mereka memang saling membutuhkan,” berkata Ki Marbudi.

Nyi Marbudi hanya termangu-mangu saja. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian setelah Ki Marbudi membenahi pakaiannya, ia pun berkata kepada isterinya, “Aku akan pergi ke rumah Ki Gede. Meskipun aku tidak tahu untuk apa aku ke sana, tetapi meskipun hanya sebentar aku akan menampakkan diri. Orang-orang Tanah Perdikan ini tentu akan terkejut kelak, jika rumahku menjadi bertambah megah meskipun tidak melampaui rumah Ki Gede.”

“Tetapi apakah hal itu tidak akan menimbulkan persoalan, kakang,” bertanya Nyi Marbudi.

“Bukankah orang-orang Tanah Perdikan tahu bahwa usahamu berhasil? Daganganmu menjadi semakin banyak dan kau tentu mendapat uang lebih banyak pula. Pelungguh sawahku pun luas. Sedangkan sawah dan pategalan peninggalan orang tuaku pun luas pula. Nah, apalagi. Lebih dari itu, aku tidak peduli apa kata orang tentang keluarga kita.”

Nyi Marbudi hanya dapat berdiri termangu-mangu. Sementara itu Ki Marbudi pun kemudian meninggalkan rumahnya untuk pergi ke rumah Ki Gede.

Di rumah Ki Gede, Ki Marbudi mendengar bahwa persiapan untuk mengambil langkah-langkah tertentu telah ditingkatkan. Namun Ki Marbudi pun mendengar dari antara para pemimpin pengawal bahwa apa yang mereka lakukan itu sama sekali tidak berarti. Perintah meningkatkan persiapan telah dilakukan sejak beberapa pekan sebelumnya. Namun yang mereka lakukan tidak lebih dari persiapan dan persiapan saja.

Ki Marbudi memang tidak ikut mencampuri kegiatan para pengawal. Tetapi ia sempat mendengar betapa para pengawal hampir kehabisan kesabaran. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi di padukuhan dekat perbukitan. Hampir saja seorang gadis telah diperlakukan dekat perbukitan. Hampir saja seorang gadis telah diperlakukan dengan biadab oleh orang-orang dari perkemahan itu.

Ketika Ki Marbudi kemudian pulang, serta isterinya menanyakan apakah ada persoalan penting di rumah Ki Gede, maka dengan acuh Ki Marbudi berkata, “Masih seperti biasa. Bersiap-siap. Meningkatkan persiapan. Kewaspadaan tertinggi dan kata-kata yang sejenis dengan itu.”

Nyi Marbudi menarik nafas panjang. Ia mendapat kesan betapa kecewanya suaminya terhadap sikap Ki Gede yang menurut suaminya dikendalikan oleh Agung Sedayu.

Hari itu Ki Marbudi tidak berbuat apa-apa selain mengamati rumahnya. Pendapa, pringgitan, ruang dalam dan bagian-bagian rumahnya lain. Nampaknya ia sedang merencanakan bagian yang manakah yang akan dirubah, diganti atau dipugar. Sekali-sekali tangannya mengusap tiang-tiang yang berdiri tegak dengan kokohnya di ruang dalam. Ditepuknya saka guru di sudut tenggara sambil berdesis, “Kau tidak akan diganti.”

Ketika malam mulai turun, maka Ki Marbudi itu pun berkata kepada isterinya, “Nyi. Sebentar lagi Ki Makerti dan saudara-saudaranya akan datang kemari. Kita akan segera mempunyai banyak uang. Kau akan menjadi pedagang besar dan rumah kita akan menjadi rumah yang dikagumi oleh banyak orang di Tanah Perdikan ini.”

“Ya, kakang,” jawab Nyi Marbudi. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku minta kau berhati-hati berbicara dengan Ki Makerti dan kedua orang saudaranya itu. Kita sudah mengenal Ki Makerti dengan baik. Tetapi kita belum mengenal kedua orang saudaranya itu.”

Ki Marbudi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku akan berhati-hati.”

Seperti yang mereka harapkan, maka malam itu Ki Makerti telah benar-benar datang bersama kedua orang saudaranya. Seperti yang mereka janjikan, maka Ki Makerti memang membawa uang cukup banyak untuk mengadakan syukuran, memperbaiki rumah dan memperbesar perdagangan Nyi Marbudi. Apalagi bagi Ki Makerti dan kedua orang yang diaku saudaranya itu, Nyi Marbudi memang telah memberikan bunga yang terhitung cukup banyak dari pinjaman yang telah diterimanya.

Namun ternyata kedatangan Ki Makerti dan kedua orang itu tidak sekedar menyerahkan uang. Tetapi mereka telah memancing agar Ki Marbudi berceritera serba sedikit tentang keadaan Tanah Perdikan Menoreh.

“Ternyata seperti yang aku katakan siang tadi, aku merasa aman berjalan di Tanah Perdikan meskipun malam hari. Jalan-jalan padukuhan nampak ramai. Gardu-gardu terisi para pengawal yang siap menghadapi segala kemungkinan,” berkata Ki Makerti.

Ki Marbudi yang akan menerima uang cukup banyak itu tertawa. Katanya, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini tidak lebih dari seorang gadis yang memulas wajahnya dengan bedak yang tebal.”

“Maksud Ki Marbudi,” desak Prasanta.

“Kekuatan yang sebenarnya dari Tanah Perdikan ini hanya sekedar yang nampak itu saja. Lebih dari itu tidak. Jika ada kekuatan cadangan, maka mereka telah tersebar di padukuhan-padukuhan terutama yang berhadapan dengan perbukitan itu. Untunglah bahwa padukuhan induk ini terletak agak jauh dari perbukitan.”

“Tetapi itu sangat berbahaya bagi padukuhan induk ini,” berkata Ki Makerti, “bukankah orang-orang di perkemahan itu jika mau akan dapat langsung menyerang ke padukuhan induk?”

“Mereka juga tidak akan melakukan itu,” berkata Ki Marbudi, “jika mereka kuat, mereka tentu sudah melakukannya.”

“Mungkin mereka juga berhati-hati seperti Agung Sedayu,” berkata Ki Makerti.

“Mungkin,” jawab Ki Marbudi, “mungkin mereka tidak memiliki orang-orang seperti Agung Sedayu, Glagah Putih dan yang lain selain mereka mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini padat.”

Ki Makerti mengangguk-angguk. Sementara itu Saramuka pun menyahut, “Mungkin mereka memang mengira bahwa kekuatan yang tersimpan di setiap padukuhan di Tanah Perdikan Menoreh ini terlalu besar sebagaimana yang mereka lihat di gardu-gardu peronda di sepanjang jalan.”

“Seperti aku katakan, para pemimpin pengawal Tanah Perdikan ini memiliki kepandaian mengatur, sehingga seakan-akan Tanah Perdikan ini penuh dengan pengawal. Tetapi coba lihat dengan baik. Orangnya tentu hanya itu-itu saja. Orang-orang laki-laki yang bukan pengawal lebih senang berada di balik pintu rumahnya setelah pulang dari sawah. Bahkan anak-anak muda yang tidak terhitung sebagai pengawal, lebih senang berkumpul di tempat-tempat tertentu bermain dadu. Nah, lihat, tidak semua kelompok-kelompok anak muda bersiaga. Mungkin mereka sedang bermain dadu atau permainan lain. Bukan sekedar permainan, tetapi mereka berjudi. Bahkan kelompok-kelompok pengawal di gardu-gardu sering juga melakukan perjudian dengan alasan untuk mencegah kantuk.”

Ki Makerti dan kedua orang yang datang bersamanya mengangguk-angguk. Sementara Ki Marbudi berkata, “Untunglah di perkemahan itu juga tidak ada orang berilmu tinggi. Menurut pendengaranku yang ada disana tidak lebih dari Resi Belahan saja.”

“Tidak Ki Marbudi,” berkata Prasanta, “selain Resi Belahan, menurut para pengawal di perkemahan itu ada Ki Tempuyung Putih, Ki Sembada, Putut Permati dan Ki Carang Ampel.”

“Tetapi mereka tidak memiliki kemampuan sebagaimana Resi Belahan.”

“Tentu,” jawab Prasanta, “Ki Tempuyung Putih adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Demikian pula yang lain-lain. Bahkan tataran ilmu mereka hampir bersamaan. Putut Permati meskipun masih muda, tetapi ia disebut juga Pembunuh Raksasa. Ia dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan orang lain. Hanya karena umurnya yang masih muda, maka ia tidak memiliki kedudukan yang menentukan sebagaimana Ki Tempuyung Putih.”

Ki Marbudi tidak begitu menghiraukan keterangan itu. Tetapi ia berkata, “Mungkin Resi Belahan masih belum yakin, bahwa orang-orangnya itu akan mampu menghadapi Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang memang berilmu sangat tinggi.”

Prasanta masih akan menjawab. Tetapi niatnya diurungkan. Yang dikatakan kemudian adalah, “Tetapi agaknya orang-orang perkemahan itu memang mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini sangat padat.”

“Itu omong-kosong. Kau dapat melihat sendiri di padukuhan induk. Selain di gardu-gardu, apakah ada kekuatan lain yang siap untuk berbuat sesuatu justru saat para pemimpinnya berteriak-teriak untuk meningkatkan kesiagaan, untuk kewaspadaan tertinggi dan untuk apa saja. Nah, jika pertahanan di padukuhan induk itu saja lapuk, apalagi di padukuhan-padukuhan yang lain kecuali di beberapa padukuhan di dekat lereng perbukitan yang di seberangnya terdapat perkemahan orang-orang biadab itu.”

“Orang-orang biadab?” Saramuka itu bertanya dengan nada tinggi.

“Ya. Coba gambarkan apa yang telah mereka lakukan. Menculik gadis, merampok dan apa lagi?”

Saramuka mengangguk-angguk. Namun ia pun bergumam, “Sayang. Tanah Perdikan sebesar ini, namun pertahanannya rapuh.”

“Tetapi masih ada yang diandalkan. Beberapa orang berilmu sangat tinggi,” berkata Ki Marbudi, “mereka adalah inti kekuatan Tanah Perdikan ini.”

Ki Makerti menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua orang yang diakuinya sebagai saudaranya. Namun keduanya tidak berkata apapun juga.

“Baiklah,” berkata Ki Makerti kemudian, “ternyata kita terlalu banyak berbincang tentang hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan kita. Sebaiknya kita berbicara saja tentang keperluan kita sendiri.”

“Bagus,” berkata Ki Marbudi, “aku sependapat.” Pembicaraan mereka selanjutnya berkisar pada kepentingan Ki Marbudi. Kebutuhannya akan uang untuk memperbaiki rumah, syukuran dan memperluas perdagangan Nyi Marbudi.

Nyi Marbudi menarik nafas dalam-dalam. Sejak pembicaraan berkisar dari persoalan pertahanan Tanah Perdikan, dadanya terasa sedikit lapang. Tetapi keringat dingin telah terlanjur membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar cemas mendengar keterangan suaminya tentang kerapuhan pertahanan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Jika hal itu didengar oleh orang-orang perkemahan, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan.

Tetapi kemudian yang dibicarakan oleh Ki Marbudi tidak lagi bergeser dari rencananya membangun rumahnya. Wajah Ki Marbudi menjadi cerah ketika ia benar-benar menerima uang dari Ki Makerti sebagaimana diminta.

“Terima kasih, terima kasih,” berkata Ki Marbudi berulang kali, “Aku akan segera mulai membangun rumahku. Besok aku akan mencari tukang yang paling baik di Tanah Perdikan ini.”

Namun tiba-tiba Prasanta berkata, “Jangan tergesa-gesa Ki Marbudi. Jika Ki Marbudi percaya kepadaku, maka aku akan membuat hitungan tentang saat yang paling baik untuk membangun rumah.”

“Ki Prasanta dapat melakukannya?” berkata Ki Marbudi.

“Tentu. Ayahku adalah seorang yang memiliki kemampuan tembus pandang atas waktu, ruang dan bahkan batin seseorang. Meskipun aku tidak mewarisinya, tetapi ada sebagian kecil yang dapat aku lakukan.”

Ki Marbudi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Prasanta. Aku menunggu keterangan Ki Prasanta. Hitungan hari itu tentu akan berakibat baik bagi kerja yang akan aku lakukan.”

“Terima kasih atas kepercayaan Ki Marbudi. Besok lusa aku akan datang memberitahukan hari yang terbaik bagi Ki Marbudi. Tetapi maaf, apakah Ki Marbudi tidak berkeberatan jika aku mengetahui hari lahir Ki Marbudi?”

Ki Marbudi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Tentu. Apa salahnya? Aku lahir pada hari Selasa dan hari pasaran Pon. Selasa Pon.”

Ki Prasanta mengangguk-angguk. Katanya, “Lusa aku datang lagi dengan membawa hari terbaik bagi kerja besar Ki Marbudi.”

“Terima kasih. Kalian terlalu baik kepada keluarga kami. Aku tidak tahu bagaimana aku dapat membalas budi,” berkata Ki Marbudi kemudian.

“Ah, bukan apa-apa,” jawab Ki Prasanta.

Demikianlah, maka Ki Makerti dan kedua orang yang diakunya sebagai saudaranya itu minta diri. Dalam perjalanan Ki Makerti sempat bertanya, “Apakah kau bersungguh-sungguh dengan hari yang baik itu?”

“Jadi untuk apa kau minta kerja Ki Marbudi itu harus ditunda sampai kau menetapkan hari terbaik?” bertanya Ki Makerti.

Ki Prasanta tertawa. Katanya, “Baiklah. Kau sudah menjadi bagian dari kerja kami. Aku malam ini juga akan menemui para pemimpin di perkemahan. Aku akan memberikan laporan sesuai dengan keterangan Ki Marbudi. Aku akan berusaha untuk mengetahui kapan Resi Belahan akan menghancurkan Tanah Perdikan ini.. Aku harap bahwa uang itu masih utuh sampai Tanah Perdikan ini jatuh ke tangan kami. Aku akan datang ke rumah itu untuk mengambil uang itu kembali.”

“Tetapi bukankah uang yang sudah terlepas dari tanganmu tidak akan diharapkan kembali?” bertanya Ki Makerti.

“Resi Belahan dan Ki Tempuyung Putih tidak akan mempertanyakan lagi jika laporanku memberikan kepuasan kepada mereka. Namun jika uang itu akan kami ambil kembali, maka uang itu akan menjadi milik kami pribadi. Berdua. Atau bertiga dengan Ki Makerti. Demikian pula uang yang lain yang aku pinjamkan. Sebagian akan menjadi milik kita dan sebagian yang lain akan aku kembalikan agar aku mendapat pujian dan penghargaan.”

Ki Makerti mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia bergumam, “Kau memang cerdik. Seperti ular berkepala dua. Kau menggigit dua sasaran.”

“Kau akan ikut beruntung karenanya,” desis Ki Prasanta. Sementara itu Suramuka pun berkata, “Otakmu memang otak iblis. Aku tidak akan pernah berpikir sampai sejauh itu.”

“Bukankah dengan demikian, kelak, setelah perang selesai, kita akan menjadi orang yang kaya raya? Jika kita kemudian tinggal di Tanah ini, maka kita akan menjadi orang yang sangat berpengaruh,” berkata Prasanta.

“Kau benar. Sementara itu aku hanya berpikir, apakah tidak sebaiknya jika Resi Belahan menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan,” berkata Saramuka.

“Itu dapat saja terjadi. Tetapi semuanya tergantung Resi Belahan dan Ki Tempuyung Putih. Tugas kita nampaknya berhasil. Memadai dengan uang yang kita keluarkan. Dari mulut Ki Marbudi, seorang bebahu yang berpengaruh di Tanah Perdikan Menoreh, kita mendengar betapa rapuhnya pertahanan di padukuhan induk. Sementara itu para pemimpin yang berilmu tinggi berkumpul dalam satu rumah. Nah, bukankah mudah sekali? Para pemimpin kita dan kelompok-kelompok terpilih akan mengepung dan menghancurkan rumah Agung Sedayu seisinya. Nah, bukankah yang lain sama lunaknya dengan memijit buah ranti masak?” desis Ki Prasanta.

Saramuka dan Ki Makerti mengangguk-angguk. Prasanta memang berotak setajam duri kemarung.

Dalam pada itu di rumah Ki Marbudi, isterinya berkali-kali berkata, “Kau kadang-kadang berkata tanpa kendali kakang.”

“Kau dengar jawabku, aku tidak peduli. Berapa kali sudah jawaban seperti itu aku ucapkan. Bahkan aku pun berdoa agar padukuhan induk Tanah Perdikan ini dihancurkan Ki Makerti dan kedua orang saudaranya itu mati terbunuh. Mereka tidak akan dapat menagih hutang mereka lagi.”

“Jangan begitu kakang. Bukankah kita berniat mengembalikan uang yang kita pinjam?”

“Jika orang-orang yang meminjamkan uang itu mati dalam perang, bukankah itu bukan salahku,” jawab Ki Marbudi.

Isterinya tidak menyahut lagi. Ia tahu suaminya agaknya memang sedang dicengkam oleh kekecewaan yang sangat. Tetapi sebenarnya ia tidak perlu mengatakan beberapa hal yang sifatnya rahasia.

Sebenarnyalah, malam itu juga, orang yang mengaku bernama Saramuka dan Prasanta itu telah memanjat lereng perbukitan dengan sangat berhati-hati. Waktu sepekan yang diberikan oleh Resi Belahan masih tersisa.

Malam itu juga keduanya berhasil menghadap Ki Tempuyung Putih. Bahkan Ki Tempuyung Putih pun telah membawa kedua orang itu langsung menghadap Resi Belahan yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat.

Dengan kening yang berkerut Resi Belahan yang memang sudah mengantuk itu menerima orang yang mengaku bernama Prasanta dan Saramuka itu.

“Cepat katakan, sebelum aku tertidur disini,” berkata Resi Belahan.

Prasanta pun kemudian telah melaporkan hasil pengamatannya atas Tanah Perdikan Menoreh yang antara lain berdasarkan keterangan salah seorang yang termasuk berpengaruh di Tanah Perdikan Menoreh.

“Kau percaya begitu saja seandainya ia sedang mengigau?” bertanya Resi Belahan.

“Orang itu tidak mengenal kami berdua. Kami berhubungan dengan orang itu dengan perantara Ki Makerti seorang penghuni Tanah Perdikan itu yang pekerjaannya semula meminjamkan uang dengan bunga.”

“Kau pernah mengatakannya. Yang aku tanyakan, apakah kau yakin bahwa yang kau dengar itu benar?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

“Aku juga melakukan pengamatan sendiri meskipun juga berdasarkan atas keterangan Ki Marbudi, bebahu itu. Aku yakin bahwa keterangannya benar. Tanah Perdikan Menoreh memang rapuh di dalam meskipun ujud luarnya nampak garang. Sebagian kekuatannya justru berada di padukuhan-padukuhan terdekat,” berkata Prasanta.

“Dan kau yakin bahwa orang-orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan itu tinggal dalam satu rumah?” bertanya Resi Belahan.

“Aku yakin. Semua orang Tanah Perdikan mengetahui hal itu. Agung Sedayu, adik sepupunya yang bernama Glagah Putih, Ki Jayaraga dan seorang tamu yang sebenarnya bukan keluarga mereka. Namanya Sabungsari. Sedangkan Sekar Mirah, isteri Agung Sedayu dan seorang gadis yang bernama Rara Wulan memiliki kemampuan pula. Tetapi mereka bukan termasuk orang-orang yang berilmu tinggi,” berkata Prasanta pula.

“Bagaimana pun dengan Ki Gede Menoreh sendiri dan kemenakannya yang bernama Prastawa?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

Prasanta mengerutkan dahinya. Ternyata Ki Tempuyung Putih telah mendapat laporan pula dari orang lain. Karena itu, maka Prasanta menjadi semakin berhati-hati. Katanya, “Ki Gede memang berilmu tinggi. Tetapi tidak setinggi Agung Sedayu, Glagah Putih dan Ki Jayaraga. Mereka bertiga adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Menurut keterangan, Sabungsari juga berilmu sangat tinggi dan harus diperhitungkan.”

Resi Belahan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan membuat perhitungan. Aku akan mencocokkan laporanmu dengan laporan lain. Jika sesuai, maka aku terima laporanmu.”

“Sampai kapan kami harus menunggu?” bertanya Prasanta, “menurut pengamatan kami sekaranglah saatnya untuk menghancurkan Tanah Perdikan Menoreh. Sekelompok orang berilmu tinggi akan menyerang rumah Agung Sedayu, sedangkan kekuatan yang dikerahkan dari perkemahan ini akan menyerang padukuhan induk, menduduki dan menghancurkannya sejalan dengan hancurnya orang-orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Apakah orang-orang berilmu tinggi itu tidak pernah keluar dari rumahnya dan berada, diantara para pengawal?” bertanya Resi Belahan.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 284)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-83/

Terima kasih kepada Ki Raharga yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s