ADBM3-291

<<kembali | lanjut >>

KETIKA pertempuran menjadi semakin sengit, maka lawan Swandaru itu semakin merasakan betapa kekuatan dan kemampuan orang yang terhitung agak gemuk itu semakin menekannya. Sekali-sekali Swandaru telah berhasil menembus pertahanan lawannya. Serangan-serangannya mulai menyentuh tubuhnya.

Karena itu, maka lawan Swandaru itu telah meningkatkan ilmunya sampai batas kemampuannya yang tertinggi.

Seperti Ki Wreksadana, maka saudara seperguruannya itu mampu pula mengetrapkan ilmunya sehingga perlahan-lahan tangannya pun telah membara. Meskipun masih berada dibawah tataran Ki Wreksadana namun telapak tangannya yang menjadi merah itu telah membuat Swandaru menjadi berdebar-debar.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran itu menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka. Swandaru harus berloncatan semakin cepat untuk menghindari sentuhan tangan lawannya, karena Swandaru segera dapat mengenali kekuatan ilmu yang nampak pada telapak tangan lawannya itu.

Namun betapapun cepatnya Swandaru bergerak, tetapi dalam pertempuran yang sengit itu, ternyata bahwa telapak tangan lawannya itu sekali telah menyentuh lengan Swandaru.

Terasa betapa panasnya bara telah membakar pakaian dan bahkan kulitnya pada lengannya itu. Karena itu, sambil menyeringai kesakitan, maka Swandaru meloncat mundur mengambil jarak.

Terdengar orang itu tertawa. Katanya, “Kau tidak akan dapat lari Ki Sanak. Nasibmu memang buruk. Jika tanganku ini menyentuh dadamu, maka kau tidak akan dapat berharap untuk tetap hidup. Bukan hanya kulitmu yang terbakar tetapi kekuatan hentakan tanganku akan merontokkan isi dadamu.”

Swandaru pun menggeram marah. Ia sadar, bahwa sulit baginya untuk melawan orang yang berilmu tinggi dengan telapak tangan yang membara itu. Jika sekali-sekali ia sempat menyerang, maka lawannya tidak akan mengelak. Tetapi ia akan membentur serangan itu, kemudian berusaha menyerang dengan telapak tangannya.

Meskipun demikian, Swandaru masih mencoba beberapa saat. Ia telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya.

Ternyata sekali dua kali Swandaru memang mampu menembus penahanan lawannya. Serangannya yang cepat dengan kaki terayun pada putaran tubuhnya sempat mengenai pundak lawannya, sehingga keseimbangan lawannya terguncang. Namun dengan cepat pula lawannya itu telah menggapai kaki Swandaru meskipun kemudian orang itu harus terhuyung-huyung beberapa saat.

Sekali lagi panas yang sangat telah menyengat pergelangan kakinya. Betapa sakitnya, sehingga kakinya itu telah terganggu oleh perasaan pedih dan nyeri.

Dengan demikian kemarahan Swandaru tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka Swandaru pun telah meloncat surut untuk mengambil jarak.

Sekali lagi terdengar orang itu tertawa, justru berkepanjangan. Bahkan sejenak kemudian orang itu meloncat memburu Swandaru.

Tetapi orang itu terkejut. Bahkan orang itu terpaksa surut selangkah. Di tangan lawannya yang masih terhitung muda itu kemudian telah tergenggam sebuah cambuk yang berjuntai panjang.

“Kau juga bersenjata cambuk?” bertanya orang itu.

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia menghentakkan cambuknya. Tiba-tiba saja Swandaru tertarik oleh permainan Agung Sedayu. Ledakan cambuknya yang pertama itu terdengar bagaikan meledaknya seisi halaman.

Lawannya mengerutkan dahinya. Tetapi kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Buat apa kau pamerkan cambukmu itu jika kau tidak lebih dari penari cambuk jalanan?”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi sekali lagi cambuknya menggelepar memekakkan telinga.

“Cukup,” bentak orang itu, “suara cambukmu menyakitkan telinga. Tetapi tidak berarti apa-apa.”

Swandaru masih tetap berdiam diri. Namun agaknya lawannya pada ledakan-ledakan itu ia tidak merasakan ungkapan ilmu yang tinggi. Tetapi sejak ia mulai bertempur, maka orang itu sudah mengetahui bahwa lawannya yang agak gemuk itu mempunyai ilmu yang tinggi.

Karena itu, maka orang itu pun kemudian telah menarik senjatanya pula. Sebilah pedang yang tidak terlalu panjang. Namun daun pedang itu bagaikan berkeredip disentuh cahaya lampu minyak yang lemah.

Swandaru pun menyadari, bahwa pedang itu adalah pedang yang sangat baik. Namun Swandaru memang sangat yakin akan senjatanya itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian lawan Swandaru itu mulai menjulurkan pedang di tangan kanannya. Namun telapak tangan kirinya yang terbuka masih juga mendebarkan jantungnya, karena telapak tangan itu masih berwarna bara.

Demikianlah, sejenak kemudian orang itu telah meloncat menyerang Swandaru. Pedangnya bergetar terjulur menggapai dada Swandaru. Namun dengan tangkasnya Swandaru mengelakkan serangan itu sambil menghentakkan cambuknya yang menggelepar memekakkan telinga. Tetapi ujung cambuk itu rasa-rasanya bergerak sangat lamban. Sehingga dengan satu loncatan menyamping, ujung cambuk itu tidak mampu mengejarnya. Bahkan dengan tangkasnya orang itu meloncat sambil mengayunkan pedangnya mendatar. Hampir saja menyambar dada Swandaru. Namun Swandaru cepat mengelak. Dengan tangkas ia bergeser sambil memiringkan tubuhnya. Namun ia tidak menduga bahwa demikian cepatnya tangan kiri lawannya terjulur dan berhasil menyentuh pundaknya.

Sekali lagi Swandaru harus menyeringai menahan sakit. Karena itu maka sekali lagi Swandaru mengambil jarak. Namun ia tidak lagi mau bermain-main. Justru setelah pakaiannya terkoyak oleh sentuhan telapak tangan lawannya yang membara itu.

Tetapi lawannya tidak ingin memberinya kesempatan. Dengan cepat pula ia telah memburu Swandaru sambil mengayunkan pedangnya untuk menyambar kening.

Tetapi Swandaru yang menyadari bahaya yang datang itu sudah tidak ingin bermain-main lagi. Luka-luka bakar di tubuhnya sudah cukup membuat darahnya mendidih. Bahkan ia telah menyesal, memberi kesempatan lawannya dengan permainan cambuknya.

Karena itu, demikian lawannya meloncat, maka Swandaru dengan tangkasnya meloncat pula menghindar tanpa menghiraukan pergelangan kakinya yang masih terasa nyeri. Tenaga dalamnya yang besar telah mendukungnya, sehingga Swandaru terlepas dari jangkauan serangan lawannya.

Dengan perhitungan yang mapan, maka ketika lawannya berusaha memburunya, cambuk Swandaru telah menggelepar lagi. Tetapi juntai cambuknya tidak lagi melontarkan ledakan yang menyakitkan telinga. Justru suara cambuk itu tidak terdengar lagi.

Lawan Swandaru itu terkejut. Dengan cepat ia menggeliat untuk mengurungkan serangannya. Tetapi ujung cambuk itu tidak lagi bergerak terlalu lamban sebagaimana sebelumnya. Demikian ia bergeser, ujung cambuk itu seakan-akan telah memburunya.

Ternyata lawan Swandaru itu tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari ujung cambuk Swandaru. Jika sentuhan sebelumnya hanya mampu membuat seleret garis merah kebiru-biruan dikulitnya, maka ujung cambuk yang justru tidak meledak itu benar-benar telah mengoyak kulit di dalamnya.

Orang itulah yang kemudian meloncat mundur. Namun demikian ia berdiri tegak, maka pedangnya pun mulai bergetar lagi. Karena Swandaru tidak memburunya, maka orang itulah yang selangkah maju sambil mengacukan pedangnya yang berkeredipan itu.

“Setan kau,” geram orang itu, “kau telah menghina aku dengan permainan cambukmu. Kau mengira bahwa ledakan-ledakan cambukmu dapat menggetarkan jantungku sehingga kau merasa tidak perlu bertempur pada tataran puncakmu.”

Swandaru tidak menyahut. Tetapi ia sudah memutar cambuknya. Ketika ia menghentakkannya, maka hampir tidak terdengar suaranya sama sekali. Tetapi terasa getarannya menerpa dada lawannya itu.

Dengan demikian, maka lawannya itu segera menyadari, bahwa orang yang agak gemuk itu memang mempunyai ilmu yang tinggi.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah berkobar lagi, ketika orang itu meloncat menyerang sambil menjulurkan pedangnya. Namun ia harus cepat menghindar ketika cambuk Swandaru bergetar menyambarnya.

Lawan Swandaru itu pun kemudian harus mengerahkan segenap kekuatan, kemampuan dan daya tahannya untuk mengatasi serangan-serangan cambuk Swandaru. Pedangnya yang dibanggakannya itu ternyata tidak mampu memutuskan juntai cambuk lawannya. Bahkan juntai cambuk itu sekali-sekali telah membelit daun pedangnya. Dengan hentakkan yang sangat kuat, hampir saja pedang itu justru terlepas dari tangannya.

Namun orang itu pun memiliki bekal ilmu yang mapan. Sebagai mana Ki Wreksadana orang itu adalah orang yang sangat garang.

Sementara itu, seorang demi seorang lawan Agung Sedayu telah menyusut. Prastawa yang sekali-sekali terdesak oleh lawannya yang berilmu tinggi, tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa beberapa kali Agung Sedayu sempat menyelamatkannya. Sementara itu, Sekar Mirah memang agak kecewa bahwa ia tidak membawa tongkat baja putihnya. Namun demikian pula Pandan Wangi. Pisaunya yang rangkap benar-benar merupakan senjata yang sangat berbahaya bagi lawan-lawannya meskipun tidak seberbahaya jika ia memang sepasang pedang.

Di sisi lain Ki Argajaya yang sudah mulai lamban bukan saja karena umurnya, tetapi karena ia sudah terlalu lama tidak berlatih, masih tetap mampu membingungkan lawannya. Ujung tombaknya lelah berhasil menyentuh seorang lawannya yang tidak berhasil menghindari serangannya. Meskipun luka itu tidak menghentikan perlawanannya, tetapi tenaganya semakin lama telah menjadi semakin menyusut karena darahnya yang justru semakin banyak mengalir karena orang itu masih saja terlalu banyak bergerak.

Tetapi Agung Sedayu telah menghentikan perlawanan lawan-lawannya seorang demi seorang. Orang-orang yang merasa berilmu tinggi itu, ternyata sulit untuk melawan ledakan cambuk Agung Sedayu meskipun Agung Sedayu belum mengerahkan kemampuannya sampai ke puncak. Apalagi disamping Agung Sedayu terdapat orang-orang yang berilmu tinggi pula, meskipun sebagian dari mereka adalah perempuan.

Dalam pada itu, ketika jumlah lawannya sudah jauh menyusut, maka tiba-tiba saja Sekar Mirah teringat kepada Rara Wulan. Karena itu, maka Sekar Mirah itu pun berkata, “Aku akan melihat Rara yang ada didalam rumah.”

“Pergilah,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah tidak menunggu lebih lama. Ia pun segera berlari ke pendapa. Disebelah pendapa itu masih melihat Ki Suracala bertempur melawan saudara sepupunya, Ki Suratapa. Dalam sekilas Sekar Mirah menyaksikan, bahwa kemampuan Ki Suracala ternyata tidak berada dibawah kemampuan Ki Suratapa.

Tetapi Sekar Mirah tidak dapat terlalu lama memperhatikan pertempuran itu. Karena menurut perhitungannya, Ki Suracala masih akan dapat bertahan lebih lama lagi, atau bahkan mampu mengatasi saudara sepupunya, maka Sekar Mirah pun segera berlari ke ruang dalam.

Namun ternyata pertempuran telah terjadi di longkangan. Berlari-lari Sekar Mirah memasuki serambi samping dan langsung keluar dan turun di longkangan.

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Ia melihat Rara Wulan harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya bertempur melawan Ki Suradipa. Sebenarnya menurut penilaian Sekar Mirah, Rara Wulan mampu mengimbangi ilmu Ki Suradipa. Namun nampaknya Rara Wulan sudah menjadi terlalu letih. Sebelumnya ia sudah mengerahkan segenap kemampuannya melawan tiga orang sekaligus. Kemudian ia harus menghadapi Suradipa yang garang.

Bahkan Sekar Mirah itu melihat, Wiradadi justru mulai berusaha untuk bangkit. Ketika ia mengetahui pamannya ada di longkangan itu pula dan bahkan sedang bertempur melawan perempuan yang menurut pendapatnya berilmu iblis itu, keberaniannya mulai tumbuh lagi. Keberaniannya telah mendorongnya untuk mengerahkan sisa tenaganya.

Tetapi Wiradadi tidak sempat bangkit berdiri. Demikian ia berusaha berdiri, maka pundaknya telah ditekan oleh kekuatan yang sangat besar, namun terasa sentuhannya adalah sentuhan jari-jari yang lentik.

Ketika Wiradadi berpaling, maka dilihatnya disisinya berdiri seorang diantara tiga orang perempuan yang ikut datang sebagai utusan Ki Argajaya.

“Duduklah,” berkata Sekar Mirah, “kau perlu beristirahat. Keadaanmu agaknya menjadi sangat buruk.”

Wiradadi tidak menjawab. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu. Ia sadar, bahwa perempuan itu tentu juga berilmu iblis seperti perempuan muda yang sedang bertempur itu. Apalagi menilik pakaian perempuan itu mirip dengan pakaian perempuan muda yang sedang bertempur melawan pamannya itu.

Untuk beberapa saat Sekar Mirah tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih ingin melihat tataran kemampuan Rara Wulan jika ia benar-benar di medan.

Namun Rara Wulan memang memiliki dasar ilmu yang cukup. Sekali-sekali ia justru membuat lawannya harus berloncatan surut.

Tetapi Rara Wulan nampaknya memang sudah mulai letih.

Dengan demikian, maka Suradipa berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu. Ia berusaha untuk memaksa Rara Wulan bergerak terlalu banyak. Serangan-serangannya datang beruntun dengan langkah-langkah panjang. Demikian pula jika Suradipa itu harus menghindari serangan-serangan Rara Wulan.

Ternyata Rara Wulan yang belum memiliki pengalaman yang cukup itu telah terpancing. Rara Wulan justru berusaha untuk selalu memburu lawannya. Namun kemudian menghindari serangan-serangan panjang lawannya dengan loncatan-loncatan panjang pula.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih membiarkan Rara Wulan bertempur terus.

Namun Rara Wulan yang melihat kedatangan Sekar Mirah, tenaganya yang menyusut itu seakan-akan telah mekar kembali. Apalagi karena lawannya menjadi gelisah karenanya.

Meskipun demikian, namun Suradipa masih tetap berusaha untuk mengalahkan Rara Wulan dan jika kemudian perempuan yang baru datang itu melibatkan diri, maka ia pun harus dilumpuhkannya pula, agar selanjutnya ia dapat membawa Kanthi ke pendapa.

Namun dalam pada itu, ketika Ki Suradipa itu berusaha untuk menghentakkan ilmunya sampai ke tataran tinggi, sehingga Rara Wulan justru mulai terdesak, maka Sekar Mirah pun berkata, “Ki Sanak. Semua yang kau lakukan akan sia-sia. Kawan-kawanmu dan bahkan Ki Wreksadana dan pengawal-pengawalnya akan dihancurkan. Apakah aku masih akan bertempur terus.”

Ki Suradipa memang menjadi berdebar-debar. Tetapi ia masih menjawab ketika ia mendapat kesempatan, “Omong kosong. Kawan-kawanmu akan mati terbunuh di halaman ini. Juga perempuan ini dan kau sendiri.”

“Jika aku berbohong, maka aku tidak akan berada disini,” berkata Sekar Mirah, “aku sudah kehabisan lawan di halaman depan.”

“Jika kau akan bertempur bersama-sama, lakukanlah aku sudah mengira bahwa kelicikan kalian tidak seimbang dengan kesombongan kalian. Meskipun kalian perempuan, namun dengan sombong kalian sudah berani turun ke medan pertempuran. Namun dalam kesulitan kalian hanya dapat bertempur bersama-sama dan bahkan berkelompok.”

Sekar Mirah tertawa. Ia melihat Rara Wulan menyerang lawannya. Masih dengan loncatan-loncatan panjang, sehingga nafas Rara Wulan mengalir semakin deras.

“Cara yang tidak menarik untuk membuat perisai,” berkata Sekar Mirah, “dengan menyinggung harga diri kami, maka kalian berusaha untuk mencegah aku memasuki arena pertempuran.”

Suradipa tidak segera menjawab karena Rara Wulan tengah meloncat menyerangnya. Bahkan Suradipa itu meloncat untuk menghindari serangan itu sekaligus memancing Rara Wulan untuk bergerak lebih banyak.

Rara Wulan memang masih saja terpancing. Namun kehadiran Sekar Mirah benar-benar mempengaruhi daya tahannya.

Karena itu, maka rasa-rasanya tenaga Rara Wulan justru menjadi semakin segar.

Sekar Mirah masih membiarkan Rara Wulan bertempur sendiri. Gadis itu memang memerlukan pengalaman. Selagi keadaannya tidak sangat berbahaya baginya.

Selendang Rara Wulan masih berputaran. Sementara itu pedang Suradipa bergetar di tangannya yang terjulur. Dengan tangkasnya Suradipa kemudian meloncat menyerang. Pedangnya terayun mendatar menyambar ke arah dada lawannya. Tetapi dengan tangkas pula Rara Wulan menghindar. Selendangnya dengan cepat menyambar. Tetapi Suradipa sempat meloncat mengambil jarak.

Sekar Mirah menarik nafas panjang. Ia menganggap bahwa kemampuan Rara Wulan cukup memadai dibandingkan dengan waktu yang dijalani selama menempa diri. Bahkan Sekar Mirah sendiri sekali-kali mengerutkan dahinya. Ia sempat melihat bagaimana gadis itu dengan cerdik mengetrapkan unsur-unsur gerak yang sudah dikembangkannya.

Namun sebenarnyalah bahwa Rara Wulan telah menjadi letih. Tenaganya mulai menyusut kembali meskipun saat kedatangan Sekar Mirah tenaga itu nampak menjadi segar.

Suradipa yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak dari Rara Wulan telah memaksa gadis itu untuk lebih banyak mengerahkan tenaganya. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat. Pedangnya berputar menggapai-gapai. Namun kemudian menebas dan menyambar-nyambar.

Rara Wulan masih berusaha untuk menggetarkan pertahanan lawannya dengan putaran selendangnya. Sekali-sekali Suradipa memang terkejut. Ujung selendang itu nyaring menyambar wajahnya. Namun Rara Wulan harus berloncatan memburu Suradipa yang menghindar dengan loncatan-loncatan panjang.

Rara Wulan yang menjadi semakin letih itu harus mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Namun justru karena itu, maka serangan-serangan lawannya menjadi semakin berbahaya baginya.

Agaknya hal itu disadari sepenuhnya oleh Ki Suradipa. Karena itu, maka ia pun telah bertempur semakin garang.

Sekar Mirah yang semula menyaksikan pertempuran itu dengan tegang, kemudian justru tertawa. Sambil melangkah mendekati arena ia berkata, “Ki Suradipa memang cerdik. Ia tidak mempunyai kelebihan apa-apa darimu Rara, selain pengalaman dan kelicikan. Ia tahu bahwa kau sudah menjadi lelah sebelumnya karena agaknya kau sudah bertempur melawan ketiga orang yang sudah tidak berdaya itu. Kemudian ia memanfaatkannya untuk menundukkanmu.”

Rara Wulan mendengar kata-kata Sekar Mirah itu sebagaimana Ki Suradipa. Gadis itu memang tidak dapat ingkar, bahwa ia memang sudah menjadi letih. Tenaganya sudah menyusut dan nafasnya mengalir semakin cepat. Keringatnya sudah membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya.

Sementara itu Suradipa itu pun menggeram, “Setan kau. Kau tidak usah banyak bicara. Jika kau akan ikut campur, lakukanlah. Aku tidak takut menghadapi kalian berdua.”

“Jika saja Rara Wulan sejak pertama turun di pertempuran langsung harus melawanmu, maka kau tidak akan dapat bertahan terlalu lama Ki Suradipa,” berkata Sekar Mirah, “tetapi pengalamanmu dan kelicikanmu telah kau pergunakan untuk memeras tenaganya. Loncatan-loncatan panjang dan bahkan caramu menghindari serangan Rara Wulan dengan berlari-lari kecil telah membuat Rara Wulan menjadi semakin letih.”

“Itu adalah karena kebodohannya,” teriak Suradipa, “itu sama sekali bukan kelicikan.”

“Ya. Justru karena Rara Wulan kurang pengalaman,” jawab Sekar Mirah.

“Aku tidak peduli. Apakah dalam setiap pertempuran aku harus bertanya, apakah lawanku sudah berpengalaman atau belum? Jika perempuan itu sudah berani turun ke medan, maka segala akibat kebodohannya harus ditanggungnya.”

“Baik. Baik. Kau benar,” berkata Sekar Mirah yang melangkah semakin dekat. Lalu katanya kepada Rara Wulan, “Beristirahatlah. Atur pernafasanmu dengan baik. Nanti kau akan meneruskan pertempuran ini.”

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Sementara itu Sekar Mirah berkata kepada Ki Suradipa, “Beri kesempatan anak itu beristirahat. Ia belum kalah. Tetapi ia akan kehabisan tenaga.”

“Jangan banyak berbicara. Jika kau mau membantunya lakukanlah. Tetapi hanya orang-orang gila yang memberi kesempatan lawannya beristirahat. Kecuali jika ia tidak menghalangi aku membawa dan menyelamatkan Kanthi.”

“Tidak. Kau tidak perlu menyelamatkan Kanthi. Ia sudah berada di tangan yang paling tepat. Orang tuanya akan melindunginya.”

“Aku tidak peduli. Aku akan membunuh anak ini. Aku tidak akan memberinya kesempatan untuk beristirahat.”

Tetapi Sekar Mirah yang sudah berada beberapa langkah dari Rara Wulan itu berkata, “Minggirlah. Atur pernafasanmu dengan baik. Biarlah aku melayaninya sebentar agar ia tidak harus menunggu sambil termangu-mangu.”

“Tetapi aku belum kalah,” sahut Rara Wulan.

“Kau memang belum kalah. Tetapi kau kehabisan tenaga,” berkata Sekar Mirah selanjutnya.

Rara Wulan tidak dapat membantah lagi. Sekar Mirah itu juga dianggap sebagai gurunya. Karena itu, maka Rara Wulan pun segera meloncat menjauhi lawannya. Tetapi lawannya tidak sempat memburunya karena Sekar Mirah pun telah bergeser semakin dekat. Bahkan seperti Rara Wulan, maka Sekar Mirah pun telah memutar selendangnya pula.

Suradipa mengumpat kasar. Tetapi ia pun segera memusatkan perhatiannya kepada Sekar Mirah yang juga seorang perempuan, namun yang nampaknya lebih matang dari perempuan yang menjadi lawannya sebelumnya.

Suradipa yang marah itu maksudnya memang tidak ingin memberi kesempatan kepada Sekar Mirah. Dengan ujung pedangnya yang terjulur lurus ia berusaha untuk menggapai tubuh Sekar Mirah. Tetapi dengan tangkasnya Sekar Mirah meloncat menghindar.

Suradipa tidak membiarkannya. Dengan garangnya Suradipa berusaha memburu lawannya dengan senjata yang berputaran, terayun-ayun dan bahkan menebas dengan derasnya.

Namun Sekar Mirah sama sekali tidak terguncang oleh serangan-serangan yang semakin garang itu. Dengan tenaganya ia menghindar bahkan hanya dengan loncatan-loncatan kecil. Namun Suradipa tidak mampu menyentuhnya.

Namun Sekar Mirah sendiri tidak terlalu banyak menyerang lawannya. Sekali-sekali saja menghentakkan selendangnya yang bagaikan ular mematuk sasarannya.

Sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah memang tidak ingin menundukkan lawannya. Ia tidak mengecewakan Rara Wulan. Ia hanya ingin membuat Suradipa itu memeras tenaga dan kemampuannya sehingga ia juga menjadi letih seperti Rara Wulan. Sementara Rara Wulan itu mampu beristirahat, berusaha membangunkan tenaga dan kemampuannya dengan mengatur pernafasannya.

Sekar Mirah memang tidak lagi merasa diburu oleh waktu. Ia yakin bahwa orang-orang yang ada di halaman depan rumah itu akan dapat menyelesaikan pertempuran pula.

Sebenarnyalah, Agung Sedayu, Pandan Wangi yang kemudian bersama-sama dengan Ki Argajaya dan Prastawa sudah hampir sampai pada akhir dari pertempuran. Satu demi satu lawan-lawan mereka yang semula jauh lebih banyak itu telah terlempar keluar dari arena. Mereka tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bertempur lagi. Rasa-rasanya tulang-tulang mereka telah berpatahan dan isi dada mereka seakan-akan telah terlepas dari tangkainya.

Sementara itu, orang yang berkumis lebat yang merasa dirinya berilmu tinggi, serta yang sejak semula menaruh perhatian terhadap perempuan-perempuan cantik utusan Ki Argajaya itu, masih bertempur melawan Pandan Wangi. Baginya Pandan Wangi adalah seorang yang sangat cantik. Namun ternyata di balik kecantikannya itu, Pandan Wangi juga seorang yang berilmu tinggi.

Dalam pertempuran yang terjadi orang berkumis lebat itu telah mencoba memancing agar Pandan Wangi bergeser menjauhi arena pertempuran yang dibayangi oleh getar cambuk Agung Sedayu itu. Orang itu ingin berusaha untuk menangkap perempuan itu dan menjadikannya perisai untuk melarikan diri. Bukan itu saja, jika ia berhasil membawa Pandan Wangi bersamanya, maka ia akan mendapatkan seorang perempuan yang sangat cantik meskipun agak garang. Namun orang itu akan dapat menundukkannya dengan caranya sendiri.

Ketika Pandan Wangi kemudian selalu memburunya ketika ia berloncatan menjauh, maka orang itu menjadi berpengharapan. Meskipun kawan-kawannya menjadi tidak berdaya, tetapi jika saja ia berhasil menangkapnya, maka ia akan selamat dan bahkan akan memiliki seorang perempuan yang cantik.

Tetapi orang itu mulai menjadi gelisah. Perempuan itu dapat bertahan bukan karena perlindungan juntai cambuk Agung Sedayu. Tetapi perempuan itu sendiri memang memiliki kelebihan.

Sebenarnyalah Pandan Wangi menyadari, bahwa lawannya telah memancingnya untuk bergeser keluar dari lingkaran pertempuran yang seakan-akan telah dipenuhi getar cambuk Agung Sedayu. Pandan Wangi memang ingin menunjukkan kepada laki-laki berkumis lebat itu, bahwa ia akan dapat melindungi dirinya sendiri.

Dengan sepasang pisau belatinya Pandan Wangi bertempur melawan laki-laki berkumis lebat yang bersenjata pedang permata rangkap. Tajamnya ada di kedua belah sisinya, sehingga kemana pun pedang itu terayun, maka tajam mata pedangnya akan dapat mengoyak kulit dan daging.

Tetapi sepasang pisau belati Pandan Wangi yang jauh lebih pendek dari pedang itu ternyata mampu mengimbangi pedang lawannya. Bahkan sekali-kali Pandan Wangi mampu mengejutkan lawannya itu. Dengan pisau di tangan kanannya Pandan Wangi menepis pedang lawannya, namun kemudian dengan tangan kirinya Pandan Wangi menyerang kearah jantung.

Orang berkumis itu memang harus berloncatan menghindari ujung-ujung pisau belati yang ternyata mampu menyusup di celah-celah putaran pedangnya.

Namun karena itu, maka orang berkumis lebat yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tinggi itu tidak mau berlama-lama. Ia pun segera mengerahkan ilmu puncaknya untuk menundukkan lawannya yang seorang perempuan itu. Bahkan kemudian ia berketetapan had, jika ia tidak dapat menangkapnya hidup-hidup, maka perempuan itu akan dibunuhnya saja.

Karena itu, maka orang itu pun menjadi semakin garang. Apalagi ketika ia sadar, bahwa tidak ada harapan lagi bagi kawan-kawannya untuk dapat mempertahankan diri.

Dengan demikian maka kemungkinan satu-satunya untuk tetap hidup adalah melarikan diri. Perempuan yang akan dipergunakannya untuk menjadi perisai itu ternyata tidak segera dapat ditundukkannya.

“Aku akan membunuhnya sebelum aku melarikan diri,” berkata orang berkumis tebal itu, meskipun sebenarnya ia merasa sangat sayang untuk melukainya. Tetapi perempuan itu semakin lama justru menjadi semakin garang terhadapnya.

Ketika orang berkumis itu kemudian menghentakkan ilmunya, maka Pandan Wangi memang harus meloncat surut. Pedang orang itu, tiba-tiba saja seakan-akan telah berubah menjadi beberapa helai. Gerak putaran pedang itu telah meninggalkan bayangan lembaran-lembaran pedang yang membingungkannya. Seakan-akan pedang itu sendirilah yang telah mekar menjadi beberapa lembar pedang.

Untuk beberapa saat Pandan Wangi memang agak menjadi bingung, sehingga berloncatan mundur. Dengan ketajaman penglihatan mata batinnya, Pandan Wangi kemudian melihat dan mengetahui, bahwa kemampuan ilmu lawannyalah yang telah membuatnya menjadi bingung.

Namun kemudian ia dapat melihat kenyataan tentang pedang itu sehingga pedang yang sebenarnya adalah ujud yang terakhir dari serentetan ujud pedang di tangan lawannya itu.

Meskipun demikian, sekali-kali Pandan Wangi masih juga menjadi ragu-ragu. Ketika pedang itu berputaran dan terayun mendatar, Pandan Wangi masih juga terkecoh oleh bayangan pedang lawannya yang seolah-olah digelar dihadapannya.

Pandan Wangi terlambat menangkis serangan itu, meskipun ia masih sempat memiringkan tubuhnya. Namun ujung pedang itu sempat menggapai lengannya dan bukan saja mengoyakkan bajunya, tetapi lelah menggores kulitnya pula. Meskipun hanya goresan tipis, tetapi darah sudah mengembun sepanjang jalur merah di lengannya itu.

Luka dilengan Pandan Wangi itu telah membuatnya sangat marah. Karena itu, maka Pandan Wangi pun telah memanjat pada kemampuan puncaknya pula.

Dengan demikian, maka lawannyalah yang kemudian menjadi bingung. Pandan Wangi yang mulai memahami kelebihan ilmu lawannya itu telah mengetrapkan kemampuannya, untuk menggapai sasaran melampaui ujung gapaian kewadagan yang kasat mata.

Karena itu, maka lawannya terkejut ketika tiba-tiba saja terasa pedangnya membentur senjata perempuan itu, sementara ia menganggap bahwa masih ada jarak antara senjatanya dan senjata lawannya itu.

Namun sebelum orang berkumis tebal itu memecahkan letak kekuatan ilmu perempuan itu, maka serangan Pandan Wangi lah yang kemudian datang dengan cepat dan beruntun.

Orang berkumis tebal itu memang menjadi bingung. Pedangnya telah membentur senjata lawannya sebelum kedua senjata itu bersentuhan menurut penglihatan matanya.

Bahkan kemudian, orang berkumis tebal itu tidak lagi dapat memperhitungkan dengan tepat, kapan ujung senjata lawannya itu menyentuh tubuhnya.

Namun sebenarnyalah, bahwa orang itu harus mengumpat sambil meloncat menjauhi lawannya ketika ia merasa lambung tergores ujung pisau belati Pandan Wangi meskipun menurut penglihatan matanya ujung pisau itu masih berjarak lebih dari sejengkal dari kulitnya.

Pandan Wangi memang tidak segera memburu lawannya. Sementara itu lawannya masih saja dicengkam oleh perasaan heran dan bahkan gelisah. Luka di lambungnya itu bukan sekedar perasaannya saja. Tetapi ia meraba dengan telapak tangannya, maka terasa cairan yang hangat melekat di telapak tangannya.

Tanpa disadarinya, orang itu memandang lampu minyak dikejauhan. Ia masih merasa memiliki penglihatan yang tajam. Dalam keremangan cahaya lampu minyak yang berkeredipan itu ia masih merasa mampu melihat helai-helai pisau belati di tangan perempuan itu.

Selangkah demi selangkah Pandan Wangi mendekati orang itu. Pandan Wangi sendiri juga sudah terluka di lengannya. Karena itu, maka jantung Pandan Wangi juga sudah menjadi panas.

Tetapi lawannya itu masih belum yakin apa yang terjadi atas dirinya. Kepada dirinya sendiri ia berkata, “Mungkin tangan perempuan itu bergerak sangat cepat, sehingga mataku terlambat menangkap gerak tangannya.”

Dengan demikian, maka orang itu segera mempersiapkan dirinya. Ketika ia menggerakkan pedangnya, maka lembaran-lembaran pedang nampak berjajar, bahkan seperti kipas. Jika ayunan pedang itu pun berbalik, maka seakan-akan lembaran-lembaran pedang itu pun menjadi berlapis. Apalagi jika pedang itu kemudian diputar disekitar.

Namun Pandan Wangi semakin memahami dan kemudian memilahkannya untuk mengetahui letak pedang lawannya itu yang sebenarnya.

Dengan demikian, maka Pandan Wangi mampu memperhitungkan kerapatan pertahanan lawannya itu, sehingga dengan cermat ia dapat memperhitungkan celah-celah pertahanan lawannya itu.

Dengan demikian, maka orang berkumis tebal itu menjadi semakin bingung ketika ujung pisau belati perempuan itu sekali lagi menyambar tubuhnya. Seleret luka telah membujur di pundaknya

Orang yang berkumis tebal yang merasa berilmu tinggi itu benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Karena itu, maka ia berusaha untuk dengan sungguh-sungguh menilai kemampuan perempuan yang di matanya sangat cantik itu.

Namun kemudian orang itu pun mengerti, bahwa perempuan itu memiliki ilmu yang jarang ada duanya. Ia baru sadar kemudian, bahwa sentuhan senjata Pandan Wangi dan unsur kewadagannya, ternyata dapat mendahului sentuhan kewadagan itu sendiri.

Dengan demikian, maka orang itu benar-benar menjadi cemas. Apalagi ketika ia menyadari bahwa kawan-kawannya sudah tidak mampu lagi melakukan perlawanan yang berarti.

Karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain. Orang itu merasa lebih baik menghindar dari medan.

Demikianlah, maka yang dilakukan oleh orang itu kemudian, bukan lagi berusaha untuk dapat mengatasi ilmu dan kemampuan lawannya, tetapi justru satu kesempatan untuk melarikan diri.

Karena itulah, maka ketika Pandan Wangi harus melompat mundur menghindari ujung senjatanya yang tajam di kedua sisi itu, maka orang berkumis tebal itu telah meloncat dan bahkan kemudian melarikan diri menuju ke regol halaman.

Pandan Wangi tidak mengira bahwa lawannya akan melarikan diri. Karena itu, maka ia telah terlambat sekejap. Ketika ia menyadari bahwa lawannya melarikan diri maka ia pun berusaha untuk mengejar.

Namun demikian ia keluar dari regol halaman, maka ia merasa kehilangan jejak. Yang dilihatnya hanyalah malam yang gelap. Dinding halaman dan beberapa pohon yang besar yang tumbuh di halaman-halaman dibelakang dinding di seberang jalan.

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak berusaha menyusulnya. Penalarannya masih berjalan dengan wajar, sehingga ia masih dapat mengekang dirinya untuk tidak berlari kedalam kegelapan dibalik dinding halaman itu, karena ia tidak tahu kearah mana lawannya melarikan diri, serta ia tidak mengetahui pula medan yang dihadapinya.

Ketika Pandan Wangi melangkah memasuki kembali halaman rumah Ki Suracala, maka ia pun sempat melihat orang lain lagi melarikan diri dengan meloncati dinding di sisi yang lain.

Ia melihat Prastawa berusaha untuk mengejarnya. Tetapi Agung Sedayu berteriak memanggil, “Jangan kau kejar orang itu.”

Prastawa memang berhenti. Sementara yang lain memang tidak mempunyai peluang untuk melakukannya karena mereka masih bertempur tidak lagi mendapat perlawanan yang berarti.

Pandan Wangi mengangguk-angguk kecil. Sebaliknya Prastawa memang tidak mengejarnya, karena lawannya itu memiliki ilmu yang lebih tinggi. Namun karena bayangan cambuk Agung Sedayu sajalah, maka orang itu menjadi berputus-asa sehingga merasa lebih baik melarikan diri, meskipun sebenarnya ia yakin akan dapat mengalahkan Prastawa. Sementara itu lawan Ki Argajaya pun merasa bahwa kawan-kawannya telah tidak mampu bertahan atau melarikan diri, sehingga perlawanannya tidak akan berarti apa-apa lagi.

Dengan demikian, maka ketika terbuka kesempatan, maka ia pun telah melarikan dirinya pula.

Karena itu, maka lingkaran pertempuran di satu sisi itu pun telah berhenti. Lawan Agung Sedayu sendiri sudah tidak berbahaya, sementara ia merasa bahwa tidak akan dapat melarikan diri lagi. Sehingga karena itu, maka ia pun telah memilih untuk menyerah.

Sementara itu, Swandaru juga telah semakin mendesak lawannya. Luka-luka di tubuhnya telah menderanya untuk mengerahkan kemampuannya.

Ledakan-ledakan cambuk Swandaru memang tidak lagi menggelepar memekakkan telinga. Tetapi sentuhan ujung cambuknya benar-benar telah mengoyak kulitnya.

Pedang orang itu kemudian seakan-akan sudah tidak berarti lagi. Telapak tangannya yang membara justru telah terluka. Namun panas bara api telapak tangannya itu ternyata tidak mampu membakar ujung juntai cambuk Swandaru yang hanya sekejap menyentuh telapak tangannya itu.

Tetapi saudara seperguruan Ki Wreksadana itu sama sekali tidak berpikir untuk menyerah atau melarikan diri. Sementara Ki Wreksadana masih bertempur, maka ia pun masih merasa terikat oleh pertempuran itu. Apapun yang akan terjadi atas dirinya.

Sementara itu, Swandaru masih juga memikirkan Glagah Putih yang bertempur di sudut halaman yang gelap. Jika lawannya itu juga saudara seperguruan Ki Wreksadana yang memiliki ilmu yang setingkat dengan lawan Swandaru, maka keadaan anak itu tentu dalam keadaan bahaya.

Sementara itu, Swandaru sendiri masih harus juga berpikir tentang Pandan Wangi dan bahkan Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Apalagi Swandaru mengetahui bahwa bekal Prastawa masih kurang untuk menghadapi pertempuran melawan orang-orang berilmu tinggi.

Karena itulah, maka Swandaru tidak menunggu terlalu lama, Ia pun telah mengerahkan kemampuannya dengan hentakan-hentakan ujung cambuknya.

Lawannya benar-benar mengalami kesulitan. Seleret luka, kemudian seleret luka berikutnya dan berikutnya telah tergores dikulitnya. Bahkan kemudian luka-luka yang lebih besar telah menganga pula.

Sehingga akhirnya, betapapun besar gejolak didadanya untuk memberikan perlawanan, namun keadaan wadagnya sudah tidak mendukung lagi.

Sementara itu, juntai cambuk Swandaru masih saja terayun-ayun dan menghentak-hentak.

Akhirnya saudara seperguruan Ki Wreksadana yang memiliki ilmu yang tinggi itu, tidak mampu lagi meneruskan perlawanannya. Keadaan wadagnya sama sekali sudah tidak mampu mendukung gejolak kemarahannya, sehingga orang itu pun kemudian tidak berdaya lagi. Apalagi ketika juntai cambuk Swandaru sempat membelit senjata orang itu. Dengan satu hentakkan, maka senjata itu telah tercerabut dari tangan orang itu.

Satu lecutan yang dahsyat telah menghentakkan sekali lagi. Orang itu benar-benar tidak berdaya untuk menghindar atau melawan. Sehingga lecutan ujung cambuk itu telah menyambar dan setajam ujung pedang mengoyak dada saudara seperguruan Ki Wreksadana itu.

Terdengar teriakan tertahan. Orang itu menggeliat kesakitan. Namun kemudian orang itu terhuyung-huyung jatuh terhempas di tanah sambil mengerang.

Swandaru berdiri termangu-mangu. Tangannya yang memegang cambuk masih bergetar. Tetapi ketika ia melihat lawannya sudah tidak berdaya, maka Swandaru telah menahan diri untuk tidak mengangkat cambuknya lagi.

Yang teringat olehnya kemudian adalah Glagah Putih. Ketika ia sempat berpaling dan melihat Ki Jayaraga masih bertahan melawan Ki Wreksadana, maka perhatian Swandaru pun kemudian tertuju kepada Glagah Putih.

Dengan cepat Swandaru meloncat ke sudut halaman. Pada saat-saat terakhir ia tidak sempat melihat bayangan pertempuran antara Glagah Putih dengan lawannya di sudut kegelapan.

Swandaru menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang berdiri termangu-mangu dalam kegelapan, sementara samar-samar ia melihat lawannya terbaring di tanah.

Kecemasan segera mencengkam jantungnya. Agaknya ia datang terlambat untuk menolong Glagah Putih.

“Kakang Agung Sedayu telah melepaskan anak itu bertempur dengan orang yang memiliki ilmu jauh lebih tinggi daripadanya.” gumam Swandaru sambil meloncat mendekati bayangan itu. Cambuk yang di tangannya telah berputar pula dengan cepatnya sehingga anginnya telah menggetarkan sudut halaman itu.

Tetapi Swandaru justru terkejut. Yang berdiri termangu-mangu itu adalah Glagah Putih, sementara lawannya menggeliat kesakitan di hadapannya.

“Kau kalahkan lawanmu?” bertanya Swandaru diluar sadarnya.

Glagah Putih yang sudah mengetahui sifat dan watak Swandaru itu pun menjawab, “Nampaknya orang itu hanya ikut-ikutan saja kakang.”

“Apakah ia bukan saudara seperguruan Ki Wreksadana?” bertanya Swandaru.

“Tentu bukan kakang. Ia tidak tahu bagaimana ia harus mempertahankan dirinya,” jawab Glagah Putih.

“Syukurlah. Aku sudah mencemaskanmu. Jika lawanmu juga saudara seperguruan Ki Wreksadana sebagaimana lawanku.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ternyata aku masih beruntung. Jika lawan kita tertukar saat kita akan mulai, maka aku kira, aku tidak akan dapat pulang kembali ke Tanah Perdikan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Ia sempat mendekati orang yang terbaring diam itu. Namun orang itu memang masih bernafas.

“Agaknya ia tidak mati. Aku memang tidak ingin membunuhnya,” berkata Glagah Putih kemudian.

Swandaru mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Aku ingin melihat kakang Agung Sedayu.”

Tanpa menunggu jawaban, maka Swandaru itu pun segera meninggalkan Glagah Putih menuju ke sisi lain dari halaman itu. Namun ternyata Glagah Putih telah mengikutinya.

Tetapi ternyata pertempuran itu pun sudah selesai. Orang-orang yang merasa berilmu tinggi itu sudah tidak melakukan perlawanan lagi. Sebagian dari mereka telah terluka. Yang lain menyerah sedang beberapa orang melarikan diri.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah jika semuanya telah selesai, selain Ki Jayaraga.”

“Ya. Nampaknya memang demikian,” jawab Agung Sedayu.

Tetapi Glagah Putih yang tidak melihat Sekar Mirah dan Rara Wulan itu pun bertanya, “Dimana mbokayu Sekar Mirah?”

“Ia menyusul Rara Wulan didalam,” jawab Agung Sedayu, “pergilah ke ruang dalam untuk melihat mereka.”

Glagah Putih tidak menunggu lagi. Ia pun segera berlari untuk mencari Rara Wulan.

Namun disebelah pendapa ia tertegun sejenak. Ia melihat Ki Suratapa yang sedang merangkak menepi sementara Ki Suracala dengan lemahnya duduk bersandar tangga pendapa. Agaknya mereka telah bertempur habis-habisan. Sehingga kedua-duanya telah kehabisan tenaga.

Sementara itu. Ki Jayaraga masih bertempur melawan Ki Wreksadana. Ketika Ki Wreksadana terlihat ke sekitarnya, Ki Jayaraga berkata, “Sebaiknya kau menyempatkan diri untuk memperhatikan keseluruhan dari pertempuran ini. Kau tinggal seorang diri. Sementara itu persoalan yang sebenarnya bukan persoalan yang sangat mendasar.”

Wajah Ki Wreksadana menjadi merah. Bukan karena ilmunya merambat dari telapak tangannya sampai ke wajahnya. Tetapi karena kemarahan yang membakar kepalanya.

Dengan geram ia menjawab, “Jayaraga. Mungkin bagimu persoalan ini bukan persoalan yang mendasar, karena kau tidak lebih dari orang upahan. Tetapi bagiku persoalan ini adalah persoalan yang langsung menyangkut harga diriku.”

“Aku bukan orang upahan Premana. Ki Argajaya sekarang ada disini. Bertanyalah kepadanya, apakah aku datang sebagai orang upahan untuk membebaskan Prastawa dari sebuah fitnah. Tetapi ketika aku berangkat, aku sama sekali tidak akan menduga bahwa aku akan bertemu dengan kau disini.”

“Cukup. Sebaiknya kau tidak usah turut campur. Aku memerlukan Kanthi. Ia harus menghadap anak perempuanku, isteri Wiradadi. Ia harus minta maaf karena ia sudah merampok kesetiaan Wiradadi kepada isterinya.”

“Apapun alasanmu, maka kau tidak akan dapat melakukannya. Kau tahu bahwa disini ada beberapa orang yang berilmu tinggi. Mereka akan dapat dengan mudah menangkapmu.”

“Aku tidak peduli. Jika kau dan mereka akan bekerja bersama melawan aku, maka aku sama sekali tidak berkeberatan.”

“Dua orang pengawalmu sudah tidak berdaya. Bahkan mungkin mereka telah mati.”

“Aku tidak peduli,” Ki Wreksadana berteriak.

“Kau harus perduli, karena hal itu akan menyangkut nasibmu sendiri,” berkata Ki Jayaraga.

Namun Ki Wreksadana tidak menghiraukannya sama sekali. Bahkan Ki Wreksadana itu telah menghentakkan ilmu puncaknya. Bukan sekedar bara di telapak tangannya. Tetapi Ki Wreksadana telah memusatkan nalar budaya untuk mengerahkan ilmu tertinggi yang dimilikinya.

“Sudah bertahun-tahun aku mematangkan ilmuku. Tanganku bukan sekedar mampu mengungkapkan panasnya bara api dari perut gunung berapi, tetapi tanganku akan mampu menghancurkan ujud kewadaganmu menjadi debu. Jangankan tubuh tuanmu yang rapuh, tetapi dengan ilmuku Lebur Seketi, maka Gunung pun akan runtuh dan lautan akan menjadi kering.”

Ki Jayaraga mengerutkan dahinya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Darimana kau sadap ilmu Lebur Seketi yang nggegirisi itu? Ilmu yang jarang ada duanya. Tetapi untuk menguasai ilmu itu sepenuhnya kau memerlukan waktu puluhan tahun, kecuali orang-orang aneh seperti angger Agung Sedayu jika saja ia mempelajarinya. Tetapi tanpa ilmu Lebur Seketi, maka kemampuannya hampir tidak terjajagi lagi.”

Ki Wreksadana tertawa. Katanya, “Kau mulai menjadi ketakutan. Nah, bawa kawan-kawanmu kemari. Aku akan menghancurkan mereka dengan ilmu Lebur Seketi.”

“Premana,” berkata Ki Jayaraga, “ilmu Lebur Seketi mempunyai watak, ilmu yang mengacu kepada kebenaran. Tanpa dasar kebenaran, maka ilmu Lebur Seketi tidak akan dapat memancar dengan dorongan kekuatannya yang utuh.”

“Persetan,” geram Ki Wreksadana, “kau tahu apa tentang kebenaran? Juga dalam persoalan yang sedang aku hadapi sekarang dalam hubungannya dengan Kanthi?”

“Aku sudah tahu sepenuhnya. Tetapi justru karena itu, maka aku minta kau tidak perlu sampai pada puncak kemampuanmu. Persoalan yang sebenarnya tidak seimbang dengan ledakan kemarahanmu sehingga merambah pada ilmu puncakmu yang justru berwatak putih. Ilmu itu akan dapat berpaling dan mencelakai dirimu sendiri.”

“Aku tidak perlu sesorahmu. Sekarang, bersiaplah untuk mati. Meskipun sekarang aku sendiri, tetapi aku akan membunuh orang-orang yang berusaha mencegah aku mengambil Kanthi.”

“Premana. Apakah kau menganggap bahwa persoalan yang kau hadapi sekarang ini pantas diperjuangkan sampai mempertahankan nyawa? Persoalan itu dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik dari mempertaruhkan nyawa.”

“Persoalannya tidak lagi sekedar Kanthi dan Wiradadi. Tetapi persoalannya sudah merambah ke harga diri dan kehormatan keluargaku dan namaku. Bagiku hal itu memang pantas di pertahankan dengan mempertaruhkan nyawa.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Swandaru, Agung Sedayu, Ki Argajaya dan yang lain telah mengerumuninya pula. Bahkan kemudian dari ruang dalam lewat pintu pringgitan telan muncul Glagah Putih dan Sekar Mirah. Sementara Rara Wulan masih berada didalam untuk menunggui Kanthi yang masih ketakutan. Bahkan ibu dan saudara perempuannya masih juga dibayangi oleh ketakutan itu. Sedangkan Suradipa masih berada di longkangan. Nafasnya hampir putus saat ia harus menghadapi Sekar Mirah yang lebih banyak memancingnya berloncatan daripada bertempur. Pada saat nafasnya hampir putus, maka Rara Wulan yang sudah beristirahat bangkit untuk menghadapinya.

Pada saat yang demikian, Ki Wreksadana benar-benar telah sampai pada keputusannya untuk menghancurkan lawannya dengan ilmunya yang tertinggi, Lebur Seketi.

Ki Jayaraga memang menjadi heran, bahwa Ki Wreksadana mampu mendapat kesempatan untuk mewarisi ilmu Lebur Seketi. Salah satunya kemungkinan adalah, bahwa orang itu telah menipu gurunya.

Ki Wreksadana dapat saja bersikap seperti seorang yang berhati bersih saat ia menyadap ilmu itu. Atau pada saat Ki Wreksadana memang masih belum terlibat kedalam tingkah laku yang meskipun bukan tindak kejahatan, tetapi perbuatan-perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan.

Meskipun demikian Ki Jayaraga tidak mau terjebak karena perhitungannya yang keliru. Jika ia menganggap Premana itu tidak mewarisi ilmu Lebur Seketi dengan tuntas, maka mungkin ia akan menyesal.

Karena itu, Ki Jayaraga telah mempersiapkan dirinya. Ia sadar, bahwa ilmunya Sigar Bumi masih harus diuji, apakah akan mampu mengimbangi ilmu Lebur Seketi. Jika keduanya telah berada di tataran puncak, maka Ki Jayaraga hanya dapat berdoa, semoga tubuhnya tidak dihancurkan oleh kekuatan ilmu Lebur Seketi itu.

Dengan demikian, maka Ki Jayaraga telah memusatkan nalar budinya. Disiapkannya puncak ilmunya. Diterapkannya daya tahan tubuhnya pada tataran tertinggi, sedangkan tenaga dalamnya telah diangkatnya ke permukaan.

Pada saat itu, Ki Wreksadana pun telah benar-benar bersiap. Lambaran tenaga dalamnya serta segala macam kekuatan yang ada didalam dirinya, diterapkannya untuk mengatasi ilmu Lebur Seketi yang memang nggegirisi.

Ketika Ki Wreksadana sudah sampai ke puncak kekuatan dan kemampuannya, sehingga kedua tangannya telah bergetar, maka ia pun tiba-tiba saja telah meloncat. Tangannya terayun dengan derasnya mengarah ke dahi Ki Jayaraga.

Tetapi Ki Jayaraga pun telah bersiap dengan ilmunya Sigar Bumi. Ilmu yang lelah ditekuni dan diyakininya. Lebih dari itu, Ki Jayaraga merasa, bahwa ia tidak sedang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan tatanan kehidupan dalam pergaulan hidup sesamanya.

Sekejap kemudian Ki Wreksadana itu meloncat sambil mengayunkan tangannya. Demikian yakin ia akan kekuatan ilmunya, maka Ki Wreksadana itu sama sekali tidak menghiraukan perlawanan Ki Jayaraga.

Meskipun Ki Wreksadana itu melihat Ki Jayaraga menyilangkan tangannya untuk melindungi dahinya dan sekaligus untuk melontarkan kekuatan Aji Sigar Bumi, Ki Wreksadana sama sekali tidak merubah arah serangannya.

Sejenak kemudian telah terjadi satu benturan ilmu yang sangat dahsyat. Meskipun tidak kasat mata dan tidak terdengar oleh telinga, namun benturan yang terjadi benar-benar merupakan benturan yang seakan-akan telah menggetarkan seisi halaman dan bahkan seisi padukuhan.

Akibat dari benturan itu memang dahsyat sekali. Ki Jayaraga terlempar beberapa langkah surut. Bahkan kemudian keseimbangannya benar-benar telah goyah. Orang tua itu tidak mampu tetap berdiri tegak. Sehingga karena itu maka Ki Jayaraga pun menjadi terhuyung-huyung. Namun ketika ia terjatuh dan hampir saja menimpa tangga pendapa, sehingga tulang-tulangnya akan dapat menjadi patah karenanya, Glagah Putih dengan cepat meloncat dan menahan tubuhnya. Meskipun daya dorongnya yang besar masih juga menggoyahkan keseimbangan Glagah Putih, tetapi Glagah Putih masih sempat menempatkan dirinya ketika ia jatuh menimpa tangga pendapa, sehingga Glagah Putih sendiri tidak mengalami sesuatu.

Namun agaknya Ki Jayaraga yang belum lama sembuh dari luka-luka dalamnya ketika ia melawan Resi Belahan, maka bagian dalam tubuhnya ternyata telah terluka lagi.

Namun Ki Wreksadana pun terlempar pula dan terbanting jatuh di tanah. Dadanya serasa telah hangus terbakar oleh benturan yang telah terjadi. Aji Lebur Seketi telah membentur Aji Sigar Bumi yang mapan dan tanggon.

Tetapi ternyata bahwa tataran Aji Lebur Seketi Ki Wreksadana masih belum tuntas. Apalagi seperti yang dikatakan oleh Ki Jayaraga, bahwa Aji Lebur Seketi adalah kekuatan yang terungkap dari tenaga dasar yang mengacu kepada kebenaran.

Karena itu, maka benturan itu seakan-akan telah menghancurkan isi dada Ki Wreksadana.

Karena itu, demikian ia terhempas jatuh, maka Ki Wreksadana itu hanya dapat menggeliat. Selanjutnya, rasa-rasanya malam menjadi semakin pekat. Bahkan cahaya lampu dipendapa dan di regol pun seolah-olah telah menjadi padam.

Namun ternyata bahwa daya tahan Ki Wreksadana demikian kuatnya, sehingga bagian dalam tubuh Ki Wreksadana tidak menjadi hancur karenanya.

Tetapi benturan yang dahsyat itu telah membuatnya pingsan.

Serentak beberapa orang pun telah mengerumuni Ki Jayaraga. Namun ada pula yang memperhatikan keadaan Ki Wreksadana. Dalam keadaan terluka dalam, Ki Jayaraga masih sempat minta Glagah Putih mengambil obat didalam kantong ikat pinggangnya yang besar.

“Ambil juga sebutir. Berikan kepada Ki Wreksadana jika ia masih bertahan hidup.”

Glagah Putih mengangguk. Ia pun kemudian minta Prastawa mengambil air.

Setelah sebutir obat ditelannya, maka keadaan Ki Jayaraga menjadi lebih baik. Sementara itu, ki Wreksadana pun mulai menjadi sadar. Namun ternyata bahwa ia masih saja mengerang, karena bagian dalam dadanya menjadi sangat kesakitan.

Namun dalam pada itu, selagi beberapa orang masih-mengerumuni Ki Jayaraga dan Ki Wreksadana, serta kemudian mengangkat mereka berdua naik ke pendapa, maka beberapa orang telah memasuki regol halaman rumah itu pula.

Agung Sedayu lah yang kemudian berdiri di tangga pendapa bersama Ki Argajaya untuk menyongsong orang-orang yang berdatangan. Tidak hanya satu dua, tetapi sekelompok orang bersenjata.

Agung Sedayu memang menjadi tegang sejenak. Bahkan Ki Argajaya dan kemudian Prastawa telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun Agung Sedayu itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Yang datang itu adalah Ki Demang Kleringan, beberapa orang bebahu serta anak-anak muda Kleringan.

Ki Demang pun terkejut melihat Agung Sedayu yang berdiri di tangga. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kau ngger?”

“Ya, Ki Demang,” jawab Agung Sedayu.

“Apa yang telah terjadi disini?” bertanya Ki Demang, “aku telah mendapat laporan, bahwa terjadi pertempuran di halaman rumah ini. Tidak seorang pun yang tahu sebabnya. Tetangga-tetangga disebelah menyebelah hanya mendengar keributan. Mereka yang memberanikan diri mengintip dari sela-sela pintu regol melihat orang-orang bersenjata bertempur dengan sengitnya. Kerena itu maka mereka pun segera melaporkan hal itu kepadaku.”

“Ceriteranya panjang Ki Demang. Tetapi sebelumnya apakah aku dapat minta tolong kepada Ki Demang?”

“Minta tolong apa?” bertanya Ki Demang.

“Mengumpulkan orang-orang yang terluka untuk ditempatkan di pendapa ini.”

Ki Demang termangu-mangu. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baik, baik. Aku akan minta anak-anak melakukannya.”

Sejenak kemudian, maka sekelompok orang yang mengikuti Ki Demang itu telah membantu mengumpulkan orang-orang yang telah terluka ke pendapa. Sementara itu, Agung Sedayu sendirilah yang membimbing Ki Suracala yang kehabisan tenaga itu naik, sementara Glagah Putih memapah Ki Suratapa yang rasa-rasanya sudah tidak lagi dapat bangkit berdiri.

Dari ruang dalam, Sekar Mirah telah memaksa Ki Suradipa untuk pergi ke pendapa pula meskipun ia harus berjalan bergayut dinding.

Beberapa saat kemudian, maka semua orang yang ada di halaman rumah itu telah berkumpul di pringgitan dan pendapa. Kepada Ki Demang Kleringan, Agung Sedayu telah memperkenalkan beberapa orang yang berada di pendapa itu dan masih belum dikenalnya.

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Sambil berpaling kepada Ki Suracala, maka ia pun berkata, “Kita akan berbicara dengan Ki Suracala pula. Sementara itu, kita menunggu sampai Ki Wreksadana dapat kita ajak berbicara.”

“Maaf Ki Demang,” berkata Swandaru yang termasuk salah seorang yang diperkenalkan itu, “mungkin Ki Demang menganggap bahwa aku tidak tahu diri karena pakaianku. Tetapi ini bukan salahku. Orang itulah yang telah mengoyak dengan tangan apinya. Bahkan kulitku pun telah terluka bakar pula.”

“O, tentu itu bukan salah angger,” jawab Ki Demang Kleringan.

Swandaru tertawa. Katanya, “Tetapi kelak aku akan menuntut agar dibelikan baju dan kain panjang yang baru.”

Ki Demang pun tertawa. Orang yang agak gemuk itu agaknya tidak merasakan sengatan luka-luka bakar pada kulitnya itu.

Sementara itu, Ki Jayaraga yang terluka dalam, masih merasa sangat lemah. Seperti saat ia membenturkan ilmunya melawan Resi Belahan, maka Ki Jayaraga tentu akan memerlukan beberapa hari untuk menyembuhkannya.

Ternyata Ki Wreksadana yang dikenalnya bernama Premana itu telah mencapai tataran yang sangat tinggi pula. Apalagi dasar ilmunya adalah Aji Lebur Seketi.

Beruntunglah bahwa orang itu masih belum mampu mengatasi ketahanan ilmu Ki Jayaraga. Jika saja Premana itu sudah sampai pada tataran tertinggi penguasaan Aji Lebur Seketi serta mengetrapkannya dengan lambaran kebenaran dan kejernihan hati, maka keadaan Ki Jayaraga tentu akan menjadi lebih parah.

Untuk beberapa saat orang-orang dari Tanah Perdikan itu masih berada di rumah Ki Suracala. Agung Sedayu lah yang kemudian menyampaikan kepada Ki Demang Kleringan, apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah itu. Perselisihan antara keluarga, namun yang kemudian justru telah menyangkut nama Prastawa, anak laki-laki Ki Argajaya.

Ki Demang Kleringan mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bergumam, “Bagi kami, bahwa persoalannya menyangkut Tanah Perdikan Menoreh, ternyata telah memberikan keberuntungan.

“Kenapa?” Ki Argajaya terkejut.

“Maaf Ki Argajaya. Barangkali aku terlalu mementingkan diri sendiri. Tetapi maksudku, tanpa Ki Argajaya dan yang lain-lain yang datang dari Tanah Perdikan Menoreh, maka sudah tentu aku tidak akan dapat mengatasi persoalan seandainya persoalan ini harus dipecahkan oleh para bebahu Kademangan Kleringan. Apalagi bahwa Ki Wreksadana adalah orang yang berilmu sangat tinggi.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menjawab, “Aku pun ternyata harus menggantungkan penyelesaian persoalan ini kepada Ki Jayaraga.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun sementara itu, persoalan yang sebenarnya masih harus diselesaikan dengan tuntas.

Kepada salah seorang bebahu, Ki Demang kemudian minta untuk memanggil orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan untuk merawat dan mengobati orang-orang yang terluka.

Sementara itu Ki Wreksadana yang terluka dalam itu pun mulai menjadi tenang, nampaknya pengaruh obat Ki Jayaraga yang diberikan kepadanya dapat mengurangi rasa sakit yang menghentak-hentak didadanya.

Meskipun demikian, rasa-rasanya tubuh Ki Wreksadana itu masih saja tidak berdaya. Bahkan ketika ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, maka ia masih saja menyeringai menahan sakit.

“Ki Demang,” berkata Swandaru kemudian, “bagaimana pun juga Ki Demang akan dimohon untuk dapat melindungi Ki Suracala. Saudara-saudara sepupunya sama sekali tidak berusaha membantunya memecahkan persoalan yang dihadapi oleh Ki Suracala karena keadaan anaknya itu. Tetapi bahkan mereka telah mencoba memerasnya untuk kepentingan diri sendiri. Betapa Ki Suratapa menjadi ketakutan terhadap Ki Wreksadana karena tingkah laku anaknya yang juga menantu Ki Wreksadana itu, sehingga ia sampai hati untuk mengorbankan Ki Suracala dan memfitnah Prastawa.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Itu memang menjadi kewajiban angger. Tetapi kemampuan kami di Kademangan ini sangat terbatas. Jika seseorang berilmu sangat tinggi memaksakan kehendaknya, maka kami akan berada dalam kesulitan.”

“Ki Demang tidak usah merasa segan untuk menghubungi Tanah Perdikan Menoreh. Disana ada beberapa orang yang mungkin dapat membantu Ki Demang. Sebagaimana Ki Demang lihat sekarang, Ki Wreksadana tidak mampu memaksakan kehendaknya meskipun ia berilmu tinggi. Juga beberapa orang lain yang diupah Ki Suratapa dan Ki Suradipa.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi bagi Kademangan Kleringan persoalan itu adalah persoalan yang berat. Bahkan kenyataan yang dihadapinya, Ki Jayaraga yang berilmu sangat tinggi itu pun telah terluka pula.

Dalam pada itu, masih nampak pada Ki Demang dan para bebahu Kademangan Kleringan, kecemasan bahwa di hari-hari mendatang, Ki Wreksadana masih akan membuat perhitungan lagi, sehingga akan menimbulkan masalah yang gawat di Kademangan Kleringan.

Namun agaknya Agung Sedayu tanggap akan hal itu. Karena itu, maka ia pun berkata kepada Ki Demang, “Aku akan mencoba berhubungan dengan Ki Jayaraga.”

Ki Demang mengangguk-angguk, sementara yang lain pun termangu-mangu. Ki Jayaraga masih nampak sangat lemah. Namun Ki Jayaraga tidak mau membaringkan dirinya. Ia duduk bersila sambil mengatur pernafasannya. Sementara itu obat yang ditelannya telah membantunya meningkatkan daya tahannya.

Ketika Ki Jayaraga itu melihat Agung Sedayu beringsut mendekatinya, maka Ki Jayaraga itu pun menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Jayaraga,” desis Agung Sedayu, “kami ingin mendapatkan pertimbangan Ki Jayaraga. Apakah sebaiknya kami memastikan diri dengan minta agar Ki Wreksadana untuk berjanji tidak akan memaksakan kehendaknya lagi atas keluarga Ki Suracala atau kita menunggu sampai saatnya Ki Wreksadana dapat diajak berbincang kelak.”

Ki Jayaraga memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun katanya kemudian dengan suara yang lemah, “Cobalah. Ajaklah ia berbicara. Tetapi jangan terlalu banyak.”

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Ki Jayaraga. Aku akan berbicara dengan Ki Wreksadana.”

Namun Agung Sedayu pun tidak berbicara lebih banyak lagi dengan Ki Jayaraga yang nampaknya sedang berusaha mengatasi keadaannya.

Ketika kemudian Agung Sedayu beringsut dan duduk disebelah Ki Wreksadana berbaring, maka Agung Sedayu pun menyadari, bahwa keadaan Ki Wreksadana itu cukup parah. Lebih parah dari Ki Jayaraga. Namun ternyata bahwa Ki Wreksadana itu benar-benar memiliki daya tahan yang tinggi. Ia tidak terbunuh sebagaimana Ki Carang Ampel, meskipun ia telah membentur ilmu tertinggi Ki Jayaraga.

Namun Agung Sedayu terkejut, justru sebelum ia bertanya sesuatu, Ki Wreksadana yang terluka itu berdesis, “Apakah kau angger yang datang dari Tanah Perdikan Menoreh?”

“Ya, Ki Wreksadana,” jawab Agung Sedayu.

“Bagaimana keadaan Jayaraga?” bertanya Ki Wreksadana pula.

“Ki Jayaraga sudah menjadi berangsur baik,” jawab Agung Sedayu.

“Kenapa ia tidak membunuhku, tetapi justru memberikan obat itu kepadaku?”

“Sudahlah, Ki Wreksadana. Jangan dipikirkan lagi. Kami memang tidak bermaksud membunuh siapa pun.” jawab Agung Sedayu.

Ki Wreksadana menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Angger. Sampaikan kepada semua orang, aku mohon maaf. Aku telah melakukan satu kesalahan yang besar Apakah yang dikatakan Jayaraga tentang diriku yang disebutnya Premana adalah benar. Tetapi apa yang terjadi sekarang, ternyata telah memaksa aku untuk menilai kembali tingkah lakuku. Juga dalam hubungannya dengan anak dan menantuku.”

Pengakuan yang tiba-tiba itu memang mengejutkan. Ternyata hati Ki Wreksadana tidak sekelam yang diduganya. Hampir diluar sadarnya Agung Sedayu pun berkata, “Masih ada kesempatan untuk menilai sikap dan tingkah laku Ki Wreksadana kemudian. Kami memang berharap bahwa setelah kejadian ini, tidak akan ada lagi kejadian-kejadian yang tidak diharapkan karena persoalan yang sebenarnya dapat dibatasi ini.”

Ki Wreksadana menarik nafas dalam-dalam. Namun bagian dalam dadanya masih terasa nyeri.

“Aku mengerti ngger. Persoalan ini adalah persoalan keluarga kami. Tetapi bukan maksudku menyeret angger dan apalagi Ki Gede Menoreh untuk ikut terlibat dalam persoalan ini. Suratapa harus melibatkan orang lain kedalam persoalan ini untuk mengurangi kesalahan anak laki-lakinya.”

“Ki Wreksadana mengetahui hal itu?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Wreksadana itu mengangguk. Wajahnya yang pucat itu berkeringat seperti orang yang baru saja mandi.

Agung Sedayu tidak bertanya lebih banyak. Tetapi ia sudah mengetahui bahwa Ki Wreksadana akan membatasi persoalannya di lingkungan keluarganya. Yang sebenarnya menyeret Prastawa dalam persoalan ini memang Ki Suratapa dan Ki Suradipa.

Agung Sedayu yang kemudian duduk kembali bersama-sama dengan yang lain termasuk Ki Demang Kleringan dan Ki Suracala yang masih sangat lemah karena kehabisan tenaga itu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Syukurlah jika Ki Wreksadana dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini.”

“Ia hanya ingin menyelamatkan perasaan anak perempuannya,” berkata Ki Suracala selanjutnya dengan nafas yang masih terengah-engah, “tetapi saudara-saudara sepupuku sendirilah yang sebenarnya telah memancing persoalan sehingga merembet sampai ke Tanah Perdikan Menoreh!”

“Kami memang merasa sangat tersinggung,” sahut Ki Argajaya, “hampir saja aku memaksa anakku untuk memenuhi permintaan Ki Suracala.”

“Aku sudah berusaha mencegah fitnah itu, Ki Argajaya,” berkata Ki Suracala yang hubungannya memang sudah sangat akrab dengan Ki Argajaya, “tetapi aku tidak berdaya.”

“Biarlah Ki Suratapa dan Ki Suradipa memikul tanggung jawab atas peristiwa ini. Ki Demang akan membuat penilaian kemudian. Juga berdasarkan atas pernyataan Ki Wreksadana sendiri,” sahut Agung Sedayu.

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun bahwa Ki Wreksadana bersedia membuat penilaian kembali atas persoalan yang terjadi itu, telah membuat Ki Demang menjadi agak tenang.

Demikianlah, maka persoalan yang terjadi di rumah Ki Suracala itu telah diambil alih oleh Ki Demang dan para bebahu Kademangan Kleringan. Orang-orang upahan yang terluka itu pun akan berada dibawah pengawasan Ki Demang. Ki Wreksadana dan kedua orang saudara seperguruannya akan dirawat di rumah Ki Suracala itu sampai keadaan mereka membaik dan dapat kembali ke rumah mereka masing-masing. Jika perlu beritahukan kami di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Baiklah ngger,” jawab Ki Demang, “kami akan mengawasi mereka sebaik-baiknya. Namun yang akan bertanggung jawab adalah Ki Suratapa. Jika ada diantara orang-orang upahannya yang tertangkap dan menyerah itu membuat ulah maka segala sesuatunya akan kami kembalikan kepada Ki Suratapa. Sementara itu, bersedia atau tidak bersedia, Ki Suratapa dan Ki Suradipa akan kami bawa ke kademangan.”

“Bagus,” sahut Ki Suracala, “mereka harus berada dibawah pengawasan yang langsung.”

Dengan demikian, maka orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu pun kemudian telah minta diri, Ki Demang telah memerintahkan untuk menyiapkan sebuah pedati untuk membawa ki Jayaraga yang terluka. Ki Jayaraga tidak bersedia untuk diantar kembali dikeesokan harinya karena keadaannya.

“Biarlah aku kembali bersama-sama dengan orang-orang yang bersama-sama berangkat dari Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Jayaraga.

Namun Swandaru pun sempat pula berkata sambil tertawa, “Aku akan dapat ikut naik pedati itu. Pergelangan kakiku masih terasa sakit oleh tangan api saudara seperguruan Ki Wreksadana itu.”

Sekar Mirah lah yang menyahut, “Perempuan-perempuan sajalah yang akan naik pedati bersama Ki Jayaraga.”

Ki Demang pun kemudian bertanya, “Apakah aku harus menyiapkan dua atau tiga pedati?”

“Ah, tidak,” Ki Argajaya lah yang menyahut. Namun agaknya ia masih akan memperingatkan, “Ki Demang masih juga harus menangani Wiradadi. Sumber dari persoalan ini.”

Ki Demang mengerutkan keningnya, “Ya. Agaknya orang itu justru dilupakan. Tetapi aku akan menyelesaikannya sampai tuntas.”

Dengan nada dalam Ki Argajaya masih berkata, “tolong bantu Kanthi menemukan kembali dirinya sendiri.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ia memang memerlukan bantuan. Baiklah Nyi Demang akan ikut menanganinya. Namun kedudukan Kanthi memang akan menjadi sulit di mata orang-orang padukuhan ini. Apapun sebabnya, tetapi ia akan tetap menjadi bahan pembicaraan orang. Aku tidak akan dapat membendung sikap kawan-kawan sebayanya jika mereka menjauhinya. Apalagi jika Wiradadi karena sikap isteri dan mertuanya tidak akan dapat mengawini Kanthi yang sudah terlanjur mengandung itu.”

Argajaya mengangguk-angguk. Ia mengerti kesulitan Kanthi. Tetapi bagaimana mungkin ia dapat mengorbankan Prastawa. Apalagi Prastawa sudah mempunyai pilihan sendiri.

Sejenak kemudian, maka utusan Ki Argajaya yang justru telah disusul oleh Ki Argajaya itu sendiri meninggalkan rumah Ki Suracala. Ki Jayaraga yang terluka itu telah naik pedati yang disediakan oleh Ki Demang.

Rara Wulan yang belum lama mengenal Kanthi itu merasa berat juga untuk meninggalkannya. Apalagi karena Kanthi untuk beberapa lama berpegangan tangannya dan seolah-olah mau melepaskannya. Rara Wulan bagi Kanthi adalah seseorang yang telah menyelamatkannya. Apalagi Rara Wulan itu masih sebaya dengan Kanthi sendiri. Dalam keterlanjurannya. Kanthi sempat juga membayangkan seandainya ia dapat menjadi seorang gadis seperti Rara Wulan yang mampu melindungi dirinya sendiri.

Tetapi setiap kali Kanthi itu telah terlempar kembali ke dunianya. Ia tidak dapat lari dari kenyataan, bahwa ia memang sudah mengandung.

Namun akhirnya Kanthi memang harus melepaskan Rara Wulan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Namun Rara Wulan yang matanya juga menjadi basah itu berkata, “Aku akan sering berkunjung kemari, Kanthi.”

“Benar Rara? Jangan berbohong,” desis Kanthi yang menangis.

“Tentu,” jawab Rara Wulan, “Tanah Perdikan Menoreh tidak terlalu jauh dari Kademangan ini.”

Kanthi hanya dapat mengangguk-angguk. Ia memang harus melepaskan Rara Wulan meninggalkan rumahnya.

Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu pun kemudian menyusuri jalan kembali. Malam rasa-rasanya menjadi sangat gelap meskipun di langit nampak bintang gemintang yang bergayutan.

Swandaru yang ternyata memang agak timpang karena kakinya yang sakit, sambil tertawa berkata kepada sais pedati itu, “He, beristirahatlah. Biarlah aku yang mengendalikannya. Sejak kanak-kanak aku sudah belajar mengendalikan lembu-lembu penarik pedati. Itulah sebabnya aku membawa cambuk ke mana-mana.”

Sais pedati itu pun tidak berkeberatan. Bahkan ia pun telah meloncat turun dan membiarkan Swandaru naik serta memegang kendali pedati itu.

Sekar Mirah dan Pandan Wangi tertawa serentak. Bahkan Sekar Mirah itu pun berkata, “Berbaringlah anak manis. Biarlah dicarikan selimut untuk menahan dingin.”

Swandaru sendiri tertawa. Tetapi ia tetap saja duduk dibelakang sepasang lembu yang menarik pedati itu. Bahkan Ki Jayaraga pun telah ikut tertawa pula, betapa dadanya masih terasa nyeri.

Dalam pada itu, sepeninggal orang-orang yang kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka Ki Demang dan para bebahu Kademangan Kleringan telah mengambil alih persoalan yang menyangkut persoalan Kanthi. Kepada beberapa orang bebahu dan anak-anak muda yang menyertainya, maka Ki Demang telah memerintahkan membawa Ki Suratapa dan Ki Suradipa ke Kademangan.

“Awasi dan jaga mereka dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan lebih dari itu, mungkin orang-orang upahannya akan berusaha membebaskannya.”

“Baiklah Ki Demang,” jawab Ki Jagabaya yang menyertai Ki Demang ke rumah Ki Suracala itu.

Sementara itu, tabib yang paling baik di Kademangan Kleringan itu pun masih saja sibuk dibantu oleh beberapa orang yang juga memiliki kemampuan pengobatan.

Dalam pada itu, Ki Wreksadana dan kedua orang saudara seperguruannya telah ditempatkan di sebuah bilik yang agak luas di gandok sebelah kanan. Ternyata dalam keadaan yang gawat itu, Ki Wreksadana sempat membuat penilaian tentang dirinya sendiri serta tindakannya yang diambil untuk menjaga perasaan anak gadisnya yang terluka karena suaminya telah berhubungan dengan perempuan lain yang justru saudara misan suaminya itu sendiri.

Pertemuannya dengan Ki Jayaraga serta sikap orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang mampu menahan diri itu telah mengguncang perasaannya.

“Ki Jayaraga benar,” berkata Ki Wreksadana didalam hatinya, “Aku tidak dapat mempergunakan kekuatan Aji Lebur Seketi dengan semena-mena. Ternyata aku tidak mampu mengatasi kemampuan ilmu Jayaraga.”

Kesadaran yang datang itu telah membuat Ki Wreksadana menilai kembali dirinya sendiri.

Ketika ia sempat memperhatikan kedua saudara seperguruannya yang terluka sangat parah, membuatnya semakin menyesal. Ia telah menyeret kedua orang itu kedalam suatu bencana. Mungkin kedua orang itu tidak mampu untuk menerima kenyataan akan kekalahannya itu sehingga mereka justru mendendam.

“Aku harus berbicara kepada mereka, bahwa memang akulah yang harus bertanggung-jawab,” berkata Ki Wreksadana kepada diri sendiri.

Sementara itu, menjelang fajar, maka iring-iringan orang Tanah Perdikan Menoreh itu telah sampai ke padukuhan induk. Anak-anak muda yang meronda di padukuhan-padukuhan yang dilewati menjadi heran melihat iring-iringan yang berjalan di dini hari itu. Beberapa orang bahkan telah bertanya kepada mereka. Namun setiap kali Glagah Putih lah yang menjawab, “Sekali-kali kami ingin meronda memutari Tanah Perdikan ini.”

Seorang anak muda yang sempat bertanya saat iring-iringan itu berangkat justru bertanya pula, “Apakah tidak ada persoalan lagi tentang perkemahan yang ditinggal para penghuninya itu?”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Tidak. Tidak ada persoalan lagi.”

Anak-anak muda itu tidak bertanya lagi. Juga tidak tentang pedati yang ikut serta dalam iring-iringan itu.

Di sisa malam itu, Argajaya dan Prastawa langsung pulang ke rumah mereka, sementara yang lain akan singgah di rumah Agung Sedayu. Baru esok pagi mereka akan bertemu di rumah Ki Gede untuk memberikan laporan tentang persoalan yang mereka hadapi di Kademangan Kleringan.

“Kami akan pulang ke rumah Ki Gede esok pagi saja,” berkata Swandaru kepada Ki Argajaya. “Malam ini aku akan beristirahat di rumah kakang Agung Sedayu.”

“Baiklah. Besok, saat matahari sepenggalah, kita bertemu di rumah Ki Gede,” berkata Argajaya.

Demikianlah, menjelang fajar, orang-orang yang datang dari Kleringan itu telah beristirahat di rumah Agung Sedayu. Dipendapa, dibawah cahaya lampu minyak, Swandaru mengerutkan dahinya melihat luka bakar dilengan Glagah Putih. Melihat luka, itu sama dengan luka di tubuhnya.

“Apakah lawan anak itu juga saudara seperguruan Ki Wreksadana? “pertanyaan itu timbul di hati Swandaru. Ia pun berkata pula di dalam hatinya, “Tetapi apakah mungkin anak itu mampu melawan saudara seperguruan Ki Wreksadana?”

Tetapi Swandaru merasa ragu untuk bertanya.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang kemudian berbaring dipembaringannya sempat memberikan beberapa petunjuk untuk mengobati luka bakar di tubuh Swandaru.

Agung Sedayu juga memiliki pengetahuan obat-obatan segera mengerti pesan itu.

“Aku akan mencobanya, Ki Jayaraga. Mudah-mudahan luka adi Swandaru segera sembuh,” desis Agung Sedayu.

Setelah masing-masing membersihkan diri dan berganti pakaian, maka mereka pun tidak pergi ke pembaringan. Tetapi mereka duduk-duduk di ruang dalam. Sekar Mirah dan Rara Wulan telah menyiapkan minuman hangat bagi mereka.

Sementara itu, Agung Sedayu pun telah sempat pula mengobati luka Swandaru sebagaimana dipesankan oleh Ki Jayaraga.

Nyeri dan pedih pada luka-luka di tubuh Swandaru itu memang terasa berkurang setelah luka itu diolesi dengan obat yang telah dicairkan dengan air hangat.

“Untunglah, bahwa Ki Jayaraga mampu mengimbangi kemampuan Ki Wreksadana,” berkata Swandaru kemudian. Lalu katanya pula, “Sebenarnya aku memang agak mencemaskannya. Tetapi aku merasa segan untuk mengambil alih, karena agaknya Ki Wreksadana dan Ki Jayaraga sudah saling mengenal sebelumnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Jayaraga memang seorang yang berilmu sangat tinggi,” Pandan Wangi lah yang menyahut.

“Tetapi sesaat sebelum pertempuran berakhir, aku sudah mencemaskannya,” sahut Swandaru. Lalu katanya, “beruntung pulalah kakang Agung Sedayu yang mendapat lawan meskipun jumlahnya banyak, tetapi tidak lebih dari orang-orang upahan yang tidak tahu diri. Ketika aku mendengar ledakan cambuk kakang Agung Sedayu mula-mula, aku terkejut dan menjadi cemas. Namun ternyata kakang Agung Sedayu sekedar bermain-main. Ledakan berikutnya telah menunjukkan bahwa kemampuan kakang Agung Sedayu telah memanjat lebih tinggi. Tetapi dalam pertempuran yang berada pada tataran yang lebih tinggi, kakang Agung Sedayu masih juga terluka parah, sebagaimana terjadi beberapa waktu yang lalu.”

Glagah Putih mulai menjadi gelisah. Meskipun ia sudah sering mendengar pendapat Swandaru seperti yang diucapkannya itu, namun telinganya masih juga terasa gatal.

Namun Pandan Wangi lah yang kemudian berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, “Apapun yang terjadi, aku merasa kasihan terhadap Kanthi.”

“Ya,” sahut Sekar Mirah yang nampaknya tanggap akan maksud Pandan Wangi, “mungkin hari ini ia masih terhibur oleh sikap beberapa orang yang melindunginya. Tetapi esok ia akan menjadi sendiri lagi. Mungkin tidak ada lagi orang yang menakut-nakutinya. Namun ia tidak dapat menghindari tatapan mata orang-orang disekitarnya. Dan ia pun akan terlempar lagi kedalam kesendiriannya untuk mengatasi keadaannya.”

“Mudah-mudahan tidak mbokayu,” sahut Rara Wulan, “harus ada orang yang bersedia membantu mengangkat bebannya, ia sudah cukup menderita. Apalagi sikap Wiradadi yang sangat menyakitkan itu, bahkan dibantu oleh Ki Suratapa dan Ki Suradipa.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menyahut, “Ya. Ia sudah cukup menderita.”

Rara Wulan lah yang kemudian berkata, “Rasa-rasanya aku ingin menjenguknya.”

“Memang ada baiknya kita menjenguk Kanthi, Rara,” sahut Sekar Mirah, “dua atau tiga hari lagi, kita pergi ke Kademangan Kleringan.”

“Tetapi kita masih harus tetap berhati-hati,” berkata Pandan Wangi, “orang-orang upahan yang terlepas dari medan pada waktu itu, mungkin saja masih akan tetap mendendam. Bahkan mungkin pula saudara-saudara seperguruan Ki Wreksadana. Dapat saja mereka masih belum tahu perkembangan jiwa Ki Wreksadana, atau bahkan mereka tidak sependapat dengan Ki Wreksadana, sehingga mereka akan mengambil langkah tersendiri tanpa menghiraukan sikap Ki Wreksadana karena mereka merasa dijerumuskan kedalam satu keadaan yang sangat menyakitkan hati.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Kita tentu tidak akan pergi sendiri.”

Demikianlah mereka masih saja berbincang-bincang sampai matahari memancarkan berkas-berkas sinarnya menembus dedaunan di halaman. Semalam suntuk mereka tidak tidur. Karena itu, maka mereka memang merasa letih.

Ketika matahari naik semakin tinggi, maka Sekar Mirah, Rara Wulan dan Pandan Wangi telah menyiapkan makan pagi mereka. Sementara Swandaru telah membersihkan lagi dan mengobati luka-luka bakarnya, dibantu oleh Agung Sedayu.

Ditempat lain, Glagah Putih juga sedang sibuk mengobati luka bakarnya. Sampai bersungut-sungut pembantu rumah itu membantu Glagah Putih menggoreskan obat di lukanya.

“Kau terlalu banyak berkelahi,” berkata anak itu.

“Aku tidak pernah berkelahi,” jawab Glagah Putih, “yang aku lakukan adalah membela diri atau membantu orang yang mengalami kesulitan karena perbuatan orang lain yang menyinggung rasa keadilanku.”

“Apapun alasannya, kau telah berkelahi dan terluka,” berkata anak itu.

“Yang penting justru alasannya kenapa perkelahian itu terjadi,” jawab Glagah Putih.

Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tangannya telah bergerak lagi mengoleskan obat yang sudah dicairkan pada luka-luka bakar di tubuh Glagah Putih.

Namun kemudian, setelah Glagah Putih selain mengobati luka-lukanya, maka ia pun telah membersihkan ikat pinggangnya yang ternyata ternoda oleh percikan darah lawannya. Dalam pertempuran yang terjadi di halaman rumah Ki Suracala, maka Glagah Putih memang telah mempergunakan ikat pinggangnya untuk menghentikan perlawanan saudara seperguruan Ki Wreksadana. Ternyata tanpa mempergunakan kemampuan puncaknya, Glagah Putih mampu mengatasi permainan api saudara seperguruan Ki Wreksadana.

Ketika matahari naik semakin tinggi, maka Agung Sedayu, dan Swandaru suami isteri telah siap untuk pergi menghadap Ki Gede. Mereka akan bertemu dengan Ki Argajaya dan Prastawa di rumah Ki Gede itu untuk bersama-sama melaporkan kunjungan mereka ke Kademangan Kleringan.

Namun Agung Sedayu telah minta agar Glagah Putih dan Rara Wulan tinggal di rumah untuk menemani Ki Jayaraga yang terluka lagi dan Wacana yang sudah menjadi semakin baik.

Demikianlah seperti direncanakan, maka menjelang matahari sepenggalah, Agung Sedayu dan Swandaru suami isteri telah berangkat ke rumah Ki Gede.

Ketika mereka sampai di rumah Ki Gede, maka ternyata Ki Gede sudah duduk dipendapa bersama Ki Argajaya dan Prastawa.

Dalam pada itu, Wacana yang tinggal di rumah Agung Sedayu sudah dapat berjalan-jalan di halaman. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Wacana itu pun duduk di serambi ditemani oleh Glagah Putih yang masih saja merasa sedih semalaman tidak tidur sama sekali dan bahkan telah bertempur melawan saudara seperguruan Ki Wreksadana.

Selama mereka berbincang tentang berbagai macam hal, maka akhirnya Wacana bertanya, apa yang telah terjadi di kademangan Kleringan.

Glagah Putih yang menganggap bahwa persoalannya telah selesai, telah menceriterakan segala persoalan yang menyangkut Prastawa yang namanya telah dicemarkan. Sementara itu, Kanthi menjadi semakin menderita karena persoalan yang menyangkut dirinya telah menjadi persoalan yang justru membengkak menyangkut nama orang yang tidak bersalah sama sekali.”

“Kenapa justru Prastawa yang dilibatkan dalam persoalan itu?” bertanya Wacana.

“Prastawa memang sudah saling mengenal dengan Kanthi. Hubungan mereka cukup akrab sebagaimana hubungan Ki Argajaya dengan Ki Suracala, ayah Kanthi. Bahkan kedua orang tua itu pernah membicarakan kemungkinan untuk mempertemukan anak-anak mereka. Tetapi ternyata Prastawa telah mempunyai pilihan sendiri, sehingga niat itu tidak dapat diujudkan. Sementara itu Kanthi telah benar-benar terpikat oleh Prastawa.”

Wacana mendengarkan ceritera Glagah Putih itu dengan sungguh-sungguh. Sementara Glagah Putih telah menceriterakan pula hadirnya Wiradadi disaat hati Kanthi menjadi kosong setelah ia mengetahui bahwa Prastawa tidak mencintainya.

“Wiradadi telah memanfaatkan saat-saat hati Kanthi terbanting hancur menghadapi kenyataan sikap Prastawa.” desis Glagah Putih.

Wacana menarik nafas panjang. Ceritera tentang Kanthi itu sangat menarik perhatiannya. Dengan nada berat Wacana itu berkata, “Kasihan gadis itu. Ia harus menanggung luka hati yang berkepanjangan. Bahkan tanpa ada seseorang yang membantunya, maka ia akan merasa dirinya tidak berharga sepanjang hidupnya.”

“Bukan hanya Kanthi sendiri,” desis Glagah Putih, “anak yang akan lahir itu pun akan mengalami nasib yang buruk.”

“Harus ada orang yang bersedia menolongnya,” desis Wacana.

“Maksudmu?” bertanya Glagah Putih.

“Harus ada orang yang menariknya dari pusaran kehinaan yang akan membelitnya seumur hidupnya,” berkata Wacana.

Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud Wacana. Tetapi tentu sulit untuk mendapatkan seseorang yang bersedia menolongnya dengan tuntas.

Keduanya pun kemudian terdiam untuk sesaat. Wacana nampak merenungi dedaunan yang bergerak disentuh angin yang lembut. Sehelai-sehelai daun yang kuning terlepas dari pegangan tangkainya yang melemah.

Dalam pada itu, di rumah Ki Gede, Ki Argajaya telah melaporkan peristiwa yang terjadi di Kademangan Kleringan. Ki Argajaya pun telah memberitahukan, bahwa segala sesuatunya telah diambil alih oleh Ki Demang. Namun sudah tentu dalam keadaan yang rumit Ki Demang memerlukan kesediaan Tanah Perdikan Menoreh untuk membantunya.

“Keadaan yang rumit yang bagaimana yang kau maksudkan?” bertanya Ki Gede.

“Jika orang-orang berilmu tinggi itu bergerak,” jawab Ki Argajaya.

Ki Gede mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menjawab, “Ya. Jika terjadi demikian, maka Kademangan Kleringan memang memerlukan bantuan. Tetapi sudah tentu bahwa kita akan membantu sesuai dengan kemampuan yang ada pada kita.”

Demikianlah, maka bagaimana pun juga Tanah Perdikan Menoreh tidak dapat melepaskan persoalan itu sepenuhnya. Meskipun mula-mula Tanah Perdikan itu hanya terseret oleh fitnah orang yang tidak bertanggung jawab atas tingkah lakunya, namun persoalannya benar-benar telah menusuk menikam para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan demikian, maka Ki Gede masih berpesan, agar mereka tetap bersiaga jika setiap saat Kademangan Kleringan memerlukan bantuan mereka.

Namun dalam pada itu, seperti juga pembicaraan antara Glagah Putih dan Wacana, maka Ki Gede pun merasa kasihan kepada Kanthi yang telah menjadi korban dari kekecewaannya sendiri yang sangat mendalam karena sikap Prastawa, sehingga gadis itu telah terlempar kedalam dunia yang tidak dikenalnya. Kanthi kemudian telah terlepas dari pribadinya dan jatuh kedalam mulut seekor buaya yang sangat rakus.

Lewat tengah hari, maka Ki Argajaya pun telah minta diri, sementara Prastawa akan tetap berada di rumah Ki Gede.

“Ia sudah dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan tenang,” berkata Ki Argajaya.

Ketika kemudian Agung sedayu dan Sekar Mirah juga minta diri, maka Ki Gede masih juga menahan mereka untuk makan siang lebih dahulu.

Demikianlah, maka persoalan yang menyangkut Prastawa itu pada dasarnya sudah dapat dianggap selesai, sehingga Prastawa tidak lagi merasa selalu dibayangi oleh keinginan ayahnya. Prastawa telah merasa bebas untuk menentukan pilihannya sendiri atas seorang gadis yang akan menjadi sisihannya kelak. Jalan yang sudah dirintisnya agaknya sudah menjadi semakin datar.

Meskipun demikian, Prastawa juga sulit untuk begitu saja melupakan Kanthi. Justru karena Prastawa merasa kasihan pula kepadanya. Prastawa memang merasa bersalah, bahwa ia telah mematahkan kuncup yang mulai bersemi di hati gadis itu. Tetapi keterbatasan sifat manusianya yang masih selalu memanjakan kepentingan diri sendiri tidak mampu dilawannya.

Diperjalanan pulang, Agung Sedayu dan Sekar Mirah juga menyinggung hubungan antara Glagah Putih dan Rara Wulan. Keduanya menyadari bahwa seandainya ada satu cara, maka lebih baik keduanya tidak tinggal di bawah satu atap.

“Mungkin untuk beberapa lama masih belum ada masalah. Tetapi jika ada satu saja orang yang mempertanyakannya, maka semua tetangga tentu akan mempertanyakan pula. Mereka pula yang akan mereka-reka jawabnya, sehingga persoalannya akan menjadi semakin lama semakin berkembang,” berkata Sekar Mirah.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Memang ada baiknya keduanya tidak berada di satu rumah. Tetapi kita memerlukan waktu untuk mencari jawabnya.”

Sekar Mirah mengangguk. Memang mereka tidak dapat memisahkan keduanya dengan serta-merta sebelum menemukan cara yang paling baik. Meskipun Agung Sedayu dan Sekar Mirah percaya, bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan mampu menempatkan diri, tetapi kadang-kadang orang lain selalu merasa berhak untuk mencampurinya. Sementara itu, dalam hubungan diantara sesama mereka tidak akan dapat menganggap bahwa sikap orang lain itu tidak perlu dihiraukan. Karena bagaimana pun juga mereka berada di satu lingkungan dengan orang lain itu dalam tatanan kehidupan.”

Agung Sedayu dan Sekar Mirah itu pun kemudian sepakat, meskipun tidak terlalu tergesa-gesa, tetapi mereka harus mencari jalan keluar agar Glagah Putih dan Rara Wulan dapat tinggal di rumah yang terpisah.

Bagi Prastawa, maka jalan yang terbentang dihadapannya memang terasa menjadi lapang. Bahkan Ki Argajaya telah minta kepadanya, agar segala sesuatunya segera diselesaikan, karena Prastawa sudah sepantasnya untuk berumah tangga.

Bukan hanya Ki Argajaya, tetapi Ki Gede dan bahkan Pandan Wangi yang masih berada di Tanah Perdikan Menoreh menganjurkan agar Prastawa tidak menunda-nunda lagi niatnya. Bahkan Swandaru itu pun berkata kepadanya, “Mumpung aku masih tinggal beberapa hari disini. Jika kau perlukan, aku dan mbokayumu Pandan Wangi akan bersedia menjadi utusan. Tentu saja dalam suasana yang berbeda dari saat kami pergi ke rumah Ki Suracala.”

Prastawa tersenyum sambil menunduk. Tetapi ia menjawab, “Pada saatnya aku akan mohon kakang Swandaru berdua untuk pergi melamar.”

“Jangan menunggu aku kembali ke Sangkal Putung, Supaya aku tidak usah hilir mudik,” jawab Swandaru.

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kami memerlukan persiapan, kakang.”

Swandaru tertawa. Katanya, “Apa yang harus dipersiapkan? Umurmu sudah cukup. Barangkali gadis itu juga sudah dewasa. Landasan hidup berumah tangga sudah cukup pula. Kedudukan, kau sudah punya. Apalagi?”

Prastawa mengangguk-angguk. Dengan ragu ia berdesis, “Kami harus membuat persiapan jiwani. Perkawinan bukan saja loncatan dalam bentuk lahiriah dari kehidupan seorang anak muda dan seorang gadis yang kemudian menjadi suami isteri. Tetapi, menurut paman Argapati, perkawinan memerlukan kesiapan jiwani yang matang sehingga anak ada keselarasan hidup.”

Swandaru dan Pandan Wangi tertawa. Dengan nada tinggi Pandan Wangi berkata, “Kau sudah pintar Prastawa.”

“Sudah aku katakan, menurut Ki Gede.”

Ki Gede juga tertawa. Katanya, “Benar. Aku pernah mengatakan. Aku harap bahwa kau sekarang telah matang sebagaimana aku maksudkan. Juga bakal isterimu. Bukankah kau sudah saling mengenal untuk waktu yang lama?”

“Ya, paman,” jawab Prastawa, “tetapi kami harus berbicara lebih jauh. Selama ini aku masih saja dibayangi oleh kemauan ayah yang agak lain dari kemauanku.”

“Tetapi bukankah sekarang sudah tidak lagi?” bertanya Swandaru.

“Tetapi kepastian itu baru saja aku dapatkan, kakang. Meskipun demikian, aku akan mencobanya, jika kesempatan itu terbuka, maka aku akan memberitahukan kepada kakang dan paman.”

“Tetapi kau tidak perlu tergesa-gesa, Prastawa, bertindaklah sewajarnya saja agar justru tidak menimbulkan persoalan,” berkata Ki Gede.

“Ya paman. Mudah-mudahan setelah persoalan di Kleringan itu selesai, maka segalanya akan dapat berjalan dengan rancak.”

Namun dorongan-dorongan itu telah mendesak agar Prastawa segera melangkah lebih jauh. Memang sudah waktunya bagi keluarga Prastawa untuk datang melamar gadis itu. Gadis yang justru termasuk penghuni Tanah Perdikan Menoreh, meskipun terhitung masih belum terlalu lama. Baru beberapa tahun gadis itu bersama keluarganya pindah dari Mangir. Tetapi kakek dan nenek gadis itu memang berasal dan tinggal di Tanah Perdikan Menoreh. Karena Kakek dan neneknya sudah menjadi tua, sedangkan tidak ada anak yang lain kecuali orang tua gadis itu, maka keluarga gadis itu diminta untuk pindah ke Tanah Perdikan Menoreh. Sawah dan pategalan yang terhitung luas, memang harus ada yang mengurusnya.

Tetapi hubungan Prastawa dengan gadis yang terhitung pendatang itu telah mengecewakan beberapa orang gadis Tanah Perdikan yang lain. Seperti Kanthi, maka ada beberapa orang gadis yang merasa kehilangan. Bahkan seorang diantaranya, yang merasa bahwa ia mempunyai harapan seperti juga Kanthi, menjadi sakit karenanya. Tetapi gadis itu mampu mengatasi gejolak perasaannya, sehingga ia tidak terjerumus dalam kesulitan sebagaimana Kanthi.

Prastawa memang seorang anak muda yang banyak mendapat perhatian dari gadis-gadis. Mungkin karena ujudnya, tetapi mungkin juga karena sikap dan kedudukannya atau karena ia adalah kemanakan Ki Gede Menoreh.

Karena desakan-desakan itulah, maka di hari berikutnya, Prastawa telah pergi menemui gadis itu. Seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa. Gadis yang memang cantik sebagaimana Kanthi. Tetapi gadis dari Mangir itu nampak lebih ceria. Ia memandang langit dengan senyum dibibirnya. Ketika langit menjadi kelabu dan senja turun, maka warna-warna ungu di bibir mega membuatnya tersenyum pula. Demikian juga jika malam yang gelap turun. Bintang-bintang di langit atau kunang-kunang di sawah telah membuatnya tersenyum juga. Hatinya yang gembira membuat hidupnya menjadi tegar.

Senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya itulah yang telah mendesak Prastawa lebih dekat dengan gadis itu daripada Kanthi. Meskipun Prastawa sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hati Kanthi, namun akhirnya demikianlah yang terjadi.

Berkuda Prastawa menyusuri jalan-jalan padukuhan menuju ke regol rumah gadis itu.

Sudah berpuluh kali ia datang ke rumah itu. Ia selalu disambut dengan senyum ceria oleh Angraeni, gadis yang telah memikat hati Prastawa itu. Bahkan kedua orang tua gadis itu pun selalu menyambutnya dengan ramah. Nampaknya kedua orang tua Angraeni memang tidak berkeberatan sama sekali atas hubungan anaknya dengan Prastawa.

Dimuka pintu regol yang sedikit terbuka Prastawa menghentikan kudanya, kemudian ia pun turun. Sejenak Prastawa termangu-mangu, namun kemudian ia pun menuntun kudanya memasuki halaman rumah yang tidak terlalu luas, namun nampak bersih dan terawat dengan baik.

Seperti biasanya Prastawa mengikat kudanya pada patok yang tersedia di sebelah pendapa. Kemudian melangkah ke pintu seketheng.

Tetapi sebelum Prastawa mengetuk pintu, ia mendengar pintu pringgitan terbuka. Seorang gadis muncul dari pintu pringgitan.

Ketika Prastawa berpaling, dilihatnya seleret senyum di bibir Angraeni.

“Marilah kakang. Naiklah,“ Angraeni mempersilahkan.

Prastawa mengerutkan keningnya. Angraeni memang tersenyum seperti biasanya. Tetapi nampak sesuatu yang lain dari biasanya. Mata Angraeni tidak bersinar seperti yang biasa dilihatnya.

Tetapi Prastawa tidak tergesa-gesa bertanya. Ia pun kemudian naik ke pendapa dan segera duduk di pringgitan.

“Darimana saja kau kakang,” bertanya Angraeni.

“Dari rumah paman Argapati, Angraeni,” jawab Prastawa yang beringsut setapak. Namun Prastawa semakin menangkap satu suasana yang lain pada gadis itu.

Untuk menghilangkan kesan itu, maka Prastawa pun bertanya, “Apakah ayah dan ibumu ada di rumah?.”

Angraeni mengangguk sambil menjawab, “Ya. Keduanya ada di dalam. Apakah kakang akan menemui ayah?”

“Tidak,” jawab Prastawa, “aku hanya merasakan suasana yang lengang di rumah ini.”

“Ibu baru masak. Ayah baru saja pulang dari sawah, membuka pematang, menaikkan air untuk mengairi padi yang baru mulai tumbuh.”

“Apakah tidak ada orang lain yang melakukannya sehingga ayahmu sendiri yang membuka pematang?” bertanya Prastawa.

“Bukankah biasanya juga ayah sendiri yang pergi ke sawah? Hanya untuk pekerjaan yang terlalu berat, ayah minta orang lain membantunya. Itu pun ayah juga ikut mengerjakannya,” jawab Angraeni sambil mengerutkan dahinya.

Prastawa mengangguk-angguk. Ia masih bertanya tentang sawah yang baru saja ditanami. Prastawa tahu bahwa sawah kakek Angraeni memang terhitung luas. Demikian juga pategalannya.

Dan sawah yang luas itu kemudian telah diserahkan kepada orang tua Angraeni, setelah kakek dan neneknya merasa tidak mampu lagi mengurusnya, sementara ayah Angraeni adalah anak tunggal dari kakek dan neneknya itu.

Tetapi perbedaan sikap Angraeni justru semakin terasa. Biasanya Angraeni menjawab pertanyaan-pertanyaan Prastawa dengan cerita yang panjang diselingi suara tertawanya yang tertahan. Tetapi senyumnya memang tidak pernah pudar dari bibirnya.

Tetapi saat itu, meskipun Angraeni masih juga tersenyum namun senyumnya tidak merekah seperti biasanya.

Tetapi Prastawa masih belum menanyakan sebabnya. Prastawa masih berusaha untuk meyakinkan, apakah tanggapannya atas sikap Angraeni itu benar.

Namun nampaknya Angraeni sendiri tidak dapat menahan diri terlalu lama. Sebenarnyalah memang ada sesuatu yang menggelitik perasaannya.

Dengan sedikit ragu, Angraeni itu pun bertanya, “Kakang, dalam beberapa hari ini kakang tidak datang kemari?”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Ya, Angraeni. Tugasku agak banyak. Kakang Swandaru dan mbokayu Pandan Wangi dari Sangkal Putung datang pula mengunjungi paman Argapati, sehingga aku harus ikut menemuinya dan menemani mereka dalam beberapa hal.”

Angraeni mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia pun bertanya, “Apakah kakang sibuk hanya karena ada tamu dari Sangkal Putung?”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah maksudmu Angraeni?”

“Kakang. Aku mendengar kicau burung di semilirnya angin dari Barat. Kakimu terantuk ketika kau berjalan-jalan ke seberang pegunungan.”

Jantung Prastawa berdesir. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak tahu maksudmu, Angraeni. Katakan dengan jelas, apa yang sebenarnya kau maksudkan?”

“Kakang. Aku mendengar ceritera hubunganmu dengan seorang gadis Kleringan yang bernama Kanthi,” berkata Angraeni kemudian.

Jantung Prastawa terasa berdenyut semakin cepat. Namun Prastawa masih berusaha menguasai perasaannya. Bahkan kemudian ia pun bertanya, “Apa yang kau dengar tentang gadis yang bernama Kanthi itu? Siapa pula yang telah menyampaikan kabar itu kepadamu?”

“Kakang, jika hal ini aku sampaikan kepadamu, karena aku ingin mendengar langsung dari kakang. Aku sadar, bahwa aku tidak boleh mempercayai setiap kabar yang aku dengar, sebelum aku mendapat penjelasan serta keterangan yang lebih pasti,” berkata Angraeni.

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Ternyata persoalan yang terjadi di Kleringan itu sudah sampai ke telinga Angraeni. Untunglah bahwa Angraeni cukup dewasa menanggapi berita itu. Meskipun nampak kegelisahan membayang di wajahnya, tetapi gadis itu masih sempat mengendalikan perasaannya dengan penalarannya.

Dengan nada rendah Prastawa kemudian bertanya, “Apa yang telah kau dengar tentang gadis Kleringan itu Angraeni? Aku ingin mengetahui. Sejauh mana berita itu menjalar dari mulut ke mulut. Apakah kau ingat, kapan kau mendengar berita itu dan barangkali dari siapa?”

“Aku sudah mendengar berita ini ampat hari yang lalu. Tetapi sejak berita ini aku dengar, kau baru hari ini datang kakang. Karena itu, aku tidak segera dapat menyampaikannya kepadamu.”

Prastawa mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Dari siapa kau mendengarnya?”

“Dari ibu,” jawab Angraeni.

Prastawa benar-benar terkejut. Diluar sadarnya ia mengulangi, “Dari ibu? Tetapi tentu ada orang yang menyampaikannya kepada ibumu?”

Angraeni mengangguk. Katanya, “Ya. Memang ada orang yang menyampaikannya kepada ibu.”

“Nah, aku sekarang ingin mendengarnya.”

“Seorang perempuan yang tidak ibu kenal menjumpainya di pasar. Seakan-akan dengan tidak sengaja perempuan itu berceritera, bahwa kemanakan Ki Gede Menoreh telah menodai seorang gadis Kleringan. Namun persoalannya menjadi berkepanjangan karena kemanakan Ki Gede tidak mau bertanggung jawab.”

Prastawa mengangguk-angguk. Namun betapa jantung bergejolak, tetapi ia berusaha untuk menguasai perasaannya.

“Angraeni, jika demikian, aku perlu berbicara dengan ibu dan barangkali juga ayahmu. Aku ingin menjelaskan persoalan ini agar tidak terjadi salah paham,” berkata Prastawa kemudian.

Angraeni menarik nafas panjang. Namun ia sependapat, bahwa karena persoalan ini didengarnya dari ibunya, maka ibunya tentu juga perlu mendengar penjelasan Prastawa, karena bagaimana pun juga ayah dan ibunya sudah mengetahui hubungannya dengan kemanakan Ki Gede Menoreh itu.

Karena itu, maka Angraeni itu pun kemudian berkata, “Baiklah, kakang. Aku akan memanggil ayah dan ibu.”

Prastawa menjadi berdebar-debar. Ia berharap bahwa penjelasannya dapat meyakinkan kedua orang tua Angraeni. Jika tidak, maka persoalannya akan dapat menjadi gawat.

Beberapa saat kemudian, ayah dan ibu Angraeni memang keluar dari pintu pringgitan. Namun wajah mereka memang tidak secerah hari-hari sebelumnya. Dengan demikian, maka Prastawa sudah menduga bahwa mereka tentu mendengar ceritera yang buram dari Kleringan dalam hubungannya dengan Kanthi.

Demikian ayah Angraeni itu duduk, maka ia pun langsung berkata, “Kami memang memerlukan penjelasan ngger.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baik paman. Aku memang ingin memberikan penjelasan. Angraeni telah memberitahukan kepadaku, bahwa paman dan bibi telah mendengar ceritera dari Kademangan Kleringan tentang hubunganku dengan seorang gadis Kleringan yang bernama Kanthi.”

“Ya. Bibimu sendiri telah mendengarnya. Seorang yang sedang berbelanja tanpa disengaja telah berceritera tentang tetangganya yang mempunyai seorang anak gadis yang bernama Kanthi. Gadis itu mengandung karena hubungannya dengan angger Prastawa. Tetapi angger Prastawa tidak mau bertanggung jawab karena angger Prastawa sudah menentukan pilihannya. Seorang gadis Tanah Perdikan Menoreh.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman, aku ingin menjelaskan tentang hal ini. Persoalan ini sudah diselesaikan tiga hari yang lalu. Sehari setelah bibi mendengar ceritera itu dari seorang yang seakan-akan tidak sengaja itu.”

“Maksud angger? Bagaimana bentuk penyelesaian itu? Maaf ngger. Kami ingin mengetahuinya, karena angger mempunyai hubungan dengan anakku. Apakah penyelesaian itu berarti bahwa angger harus menikahinya atau dengan syarat meninggalkan gadis itu menjadi layu dan runtuh sendiri dari tangkainya atau angger telah menemukan seseorang yang bersedia menikahinya dengan imbalan tertentu?”

“Tidak, paman. Karena sebenarnya aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kehamilan gadis itu.”

“Angger. Angger adalah kemanakan seseorang pemimpin yang disegani bukan saja di Tanah Perdikan ini, tetapi juga di lingkungan sekitarnya. Apakah Ki Gede yang mengambil keputusan bahwa angger tidak bersalah, kemudian keputusan Ki Gede itu menjadi sah dan berlaku tanpa dapat diganggu-gugat.”

Prastawa memang tersinggung. Tetapi ia berhadapan dengan ayah Angraeni. Karena itu, maka ia harus menahan dirinya.

Dengan dada yang terasa mulai pepat, Prastawa bertanya, “Apakah paman dan bibi mempercayai ceritera orang yang seolah-olah tidak sengaja itu?”

“Kenapa seolah-olah?” bertanya ibu Angraeni.

“Justru karena orang itu tahu bahwa ia berbicara dengan bibi. Dengan ibu Angraeni.”

Dahi ibu Angraeni itu berkerut. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kenapa jika ia mengetahui bahwa berbicara dengan aku, dengan ibu Angraeni?”

“Dengan demikian orang itu yakin, bahwa akan terjadi persoalan disini, di rumah ini. Orang itu tentu berharap bahwa keluarga Angraeni sendiri.”

“Apakah keuntungan orang itu?” bertanya ibu Angraeni.

“Jika orang itu sengaja dikirim dari Kleringan, maka tujuannya tentu jelas,” jawab Prastawa.

“Ibu Angraeni menarik nafas dalam-dalam. Namun ayah Angraeni lah yang bertanya, “Jadi kau menduga bahwa orang itu dikirim oleh keluarga gadis yang dikatakan hamil itu?”

“Menurut penalarannya memang demikian. Tetapi ternyata tidak. Gadis itu sendiri serta orang tuanya tidak pernah berniat memfitnah aku. Tetapi justru orang lain,” jawab Prastawa.

Kedua orang tua Angraeni itu pun nampak manjadi bingung. Demikian pula Angraeni sendiri. Namun dalam pada itu, maka Prastawa pun segera menceriterakan apa yang telah terjadi di Kleringan. Justru sehari setelah berita fitnah itu sampai ke telinga keluarga Angraeni. Dengan demikian maka fitnah yang direncanakan dengan baik itu telah melengkapi fitnah dan ancaman Ki Suratapa dan Ki Suradipa.

“Jadi angger benar-benar tidak ada sangkut pautnya dengan kehamilan gadis itu?”

Prastawa menggeleng. Katanya, “Jika masih ada keragu-raguan, maka biarlah aku mempertemukan Angraeni dan Kanthi atau ayah dan ibunya.”

“Tidak kakang,” Angraeni dengan serta merta menyahut, “jika aku bersedia melakukannya, maka aku telah menambah derita yang sedang dialaminya. Aku akan menambah luka yang menganga di hatinya. Gadis itu sudah cukup menderita.”

Prastawa tidak segera menyahut. Diluar sadarnya, ia membayangkan kembali penderitaan yang dialami oleh Kanthi yang telah salah melangkah. Tetapi Prastawa itu tidak dapat menolongnya jika ia tidak bersedia mengorbankan dirinya sendiri serta mengorbankan pula perasaan Angraeni yang mungkin akan dapat terjerumus seperti Kanthi itu pula.

Sesaat suasana menjadi hening. Ayah, ibu serta Angraeni sendiri tengah merenungi peristiwa yang terjadi di Kademangan Kleringan. Agaknya keluarga Suratapa dan Suradipa itu telah menempuh segala cara untuk menjebak Prastawa.

Dalam keheningan itu kemudian terdengar suara ayah Angraeni dengan nada berat, “Aku minta maaf ngger, bahwa aku sudah berprasangka buruk.”

“Tidak hanya paman dan bibi yang sudah berprasangka buruk terhadapku,” jawab Prastawa, “bahkan ayah dan keluargaku sendiri pun telah berprasangka buruk. Bahkan ayah hampir saja menjatuhkan hukuman atasku karena fitnah itu. Untunglah bahwa Kanthi sendiri bersikap jujur. Jika Kanthi ikut memfitnahku, maka habislah kesempatanku untuk mengharapkan satu masa depan yang cerah.”

Ayah dan Ibu Angraeni itu mengangguk-angguk, sementara Angraeni justru merenung.

“Nah, sudahlah angger,” berkata ayah Angraeni kemudian, “sekali lagi aku minta maaf. Kami sekeluarga hampir saja termakan oleh fitnah itu.”

“Kita akan melupakannya paman. Aku pun berusaha untuk melupakan pengalaman pahit itu,” jawab Prastawa.

Dengan demikian, maka ayah dan ibu Angraeni itu pun mempersilahkan Prastawa untuk duduk bersama Angraeni.

“Aku akan menyelesaikan pekerjaanku, angger,” berkata ayah Angraeni itu.

Sepeninggal ayah dan ibunya, maka Angraeni itu pun berdesis, “Kasihan gadis itu kakang.”

“Ya. Tetapi aku tidak dapat berbuat sesuatu,” jawab Prastawa dengan dahi yang berkerut.

“Aku merasa ikut bersalah,” berkata Angraeni kemudian.

“Kenapa kau merasa ikut bersalah?” bertanya Prastawa.

“Aku merasa seakan-akan aku telah merampasmu dari gadis itu,” jawab Angraeni.

“Kau boleh saja merasa seakan-akan telah melakukannya. Bahkan seakan-akan tidak mengandung arti satu kenyataan,” sahut Prastawa.

Angraeni itu menarik nafas dalam-dalam. Ia juga pernah mendengar tentang seorang gadis yang jatuh sakit ketika ia menyadari bahwa Prastawa tidak mencintainya. Yang lain menjadi gadis perenung untuk beberapa lama. Namun Kanthi benar-benar menjadi berputus asa. Tetapi keputus-asaannya itu telah menyeretnya kedalam kesulitan yang lebih parah.

“Tetapi apakah sudah sewajarnya kita menyalahkan diri sendiri? Jika demikian, setiap langkah kita telah membuat kesalahan. Dengan demikian maka kita akan merasa hidup didalam pengabnya bayangan kesalahan-kesalahan itu sehingga kita akan tenggelam tanpa dapat bangkit lagi,” berkata Prastawa kemudian.

Angraeni mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sikap Prastawa itu. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak akan selalu dibayangi oleh perasaan takut bersalah untuk mengambil keputusan.

Dengan demikian, maka segalanya menjadi jelas bagi Angraeni. Prastawa memang bukan orang yang terlibat langsung dalam persoalan gadis Kleringan itu.

Namun karena pembicaraan itu, Prastawa yang ingin berbicara lebih jauh hubungan mereka terpaksa menunda niatnya. Suasananya agaknya kurang memungkinkan jika ia bertanya kepada Angraeni apakah orang tuanya atau utusannya dapat dalam waktu dekat datang untuk dengan resmi mengajukan lamaran serta membicarakan hari-hari perkawinan mereka.

Tetapi setelah penjelasan yang diberikan Prastawa itu, maka hubungan Angraeni dan Prastawa selanjutnya telah menjadi pulih kembali. Wajah Angraeni kembali selalu nampak ceria oleh senyum yang selalu menghiasi bibirnya.

Namun dalam pada itu, keadaan Kanthi justru sebaliknya. Meskipun Ki Demang Kleringan telah berhasil menyelesaikan persoalan yang menyangkut keluarga Kanthi, keluarga Ki Suratapa dan keluarga Ki Wreksadana, apalagi karena Ki Wreksadana nampaknya menyadari ketelanjuran mereka, namun keadaan Kanthi sendiri masih belum terselesaikan.

Ki Wreksadana dan kedua orang saudara seperguruannya yang sudah menjadi sedikit membaik, telah meninggalkan rumah Ki Suracala. Kedua saudara seperguruan Ki Wreksadana pun ternyata dapat menahan diri setelah Ki Wreksadana memberikan penjelasan kepada mereka. Bahkan Ki Wreksadana itu telah menyatakan kesediaannya untuk menyelesaikan persoalan Wiradadi. Namun bagaimana pun juga, masih tidak terlalu memuaskan bagi keluarga Ki Suracala. Apalagi ketika Kanthi sendiri menyatakan, bahwa ia tidak mau lagi berhubungan dengan Wiradadi, apapun yang akan terjadi atas dirinya.

Dengan demikian, maka yang tinggal di Kleringan adalah keluarga Kanthi yang disaput oleh keprihatinan.

Sementara itu dari hari ke hari, perubahan yang terjadi atas tubuh Kanthi pun menjadi semakin jelas. Keluarga Ki Suracala tidak akan lagi mampu menyembunyikan rahasia tentang anak gadisnya. Sementara Kanthi sendiri sudah tidak pernah lagi keluar dari halaman rumahnya.

Suasana yang suram itu berlangsung dari hari ke hari tanpa melihat secerah sinar pun yang akan dapat menerangi hari-hari yang datang kemudian.

Namun ternyata bahwa Rara Wulan tidak mengingkari janjinya. Ia telah mengajak Glagah Putih untuk melihat keadaan Kanthi.

Ketika hal itu disampaikan kepada Agung Sedayu, maka Agung Sedayu memang menjadi ragu-ragu. Jika masih ada dendam tersangkut di Kademangan Kleringan, maka keduanya akan dapat menemui kesulitan.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun telah menyampaikan hal itu kepada Ki Jayaraga yang telah berangsur baik kembali.

“Jika angger Rara Wulan dan Glagah Putih bersedia menunggu dua tiga hari lagi, aku akan mengantarkan mereka,” jawab Ki Jayaraga.

“Apakah Ki Jayaraga merasa sudah pulih kembali?” bertanya Agung Sedayu.

“Dua tiga hari lagi, aku benar-benar telah pulih. Sejak kemarin aku sudah mulai berada di sanggar. Rasa-rasanya keadaanku sudah menjadi baik kembali. Bahkan rasa-rasanya segala sesuatunya sudah pulih seperti sediakala.”

“Syukurlah,” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “tetapi jika Ki Jayaraga masih ingin beristirahat biarlah orang lain mengantarnya. Keadaan tentu sudah berubah.”

“Dalam dua tiga hari lagi, aku benar-benar sudah baik,” jawab Ki Jayaraga.

Dengan demikian maka Agung Sedayu pun telah minta kepada Glagah Putih dan Rara Wulan untuk menunda kepergian mereka sampai dua atau tiga hari lagi.

Ketika Glagah Putih menyampaikan hal itu kepada Rara Wulan, maka Rara Wulan itu pun berkata, “Rasa-rasanya aku sudah ingin meloncat sekarang juga.”

“Tetapi ada baiknya kita mendengarkan petunjuk orang-orang tua, Rara.”

“Kenapa kita harus menunggu Ki Jayaraga? Bukankah tidak akan ada gangguan diperjalanan?” bertanya Rara Wulan.

“Orang-orang tua biasanya terlalu berhati-hati. Tetapi jika kita tidak mau mendengarkan mereka, maka jika terjadi sesuatu, maka kesalahan kita akan menjadi ganda.”

Rara Wulan tidak dapat memaksakan kehendaknya. Bagaimana pun juga ia memang harus menghormati pendapat Agung Sedayu.

Karena itu maka katanya, “Kita menunda kepergian kita tiga hari. Tetapi tidak akan diperpanjang lagi. Rasa-rasanya aku ingin segera menemui Kanthi. Apalagi aku sudah berjanji. Kanthi akan dapat menganggap aku mengingkari janji itu.”

Yang tiga hari itu rasa-rasanya lama sekali bagi Rara Wulan. Sementara itu dalam waktu tiga hari, Ki Jayaraga meyakinkan dirinya, bahwa ia benar-benar telah menjadi pulih kembali, sehingga ia pun telah siap untuk pergi ke Kademangan Kleringan di keesokan harinya.

Dalam pada itu, malam itu Prastawa telah berbicara dengan Swandaru dan Pandan Wangi. Hari itu ia sudah berbicara dengan Angraeni, bahwa Angraeni sendiri sudah siap untuk menerima lamaran keluarga Prastawa.

“Bagaimana dengan kedua orang tuanya?” bertanya Swandaru.

“Angraeni akan menyampaikannya kepada ayah dan ibunya, bahwa dalam waktu dekat akan datang utusan dari ayah untuk menghadap ayah dan ibunya itu.”

Swandaru dan Pandan Wangi mengangguk-angguk. Dengan senyum dibibirnya Swandaru berkata, “Jika demikian aku akan menunda rencanaku untuk kembali ke Sangkal Putung. Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang mendesak.”

“Aku memang akan minta kakang untuk bersabar,” berkata Prastawa kemudian.

“Tetapi aku minta paman segera mengambil keputusan, kapan aku harus pergi melamar. Jangan terlalu lama. Jika tiba-tiba ada tugas memanggil sehingga aku harus pulang, maka aku dan mbokayumu tentu juga merasa kecewa.”

“Baiklah kakang. Aku akan berbicara dengan ayah nanti. Besok pagi aku akan menghadap paman Argapati dan sudah tentu aku minta kakang dan mbokayu ikut berbicara pula,” jawab Prastawa.

“Kali ini kami akan benar-benar melamar,” berkata Swandaru, “tentu saja dengan harapan tidak terjadi keributan seperti di Kleringan.”

“Tentu tidak kakang,” jawab Prastawa, “segala pihak telah menyetujui. Agaknya juga tidak ada pihak lain yang akan dapat menjadi hambatan setelah persoalan di Kleringan itu diselesaikan, meskipun dengan cara yang tidak diharapkan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, segeralah minta keputusan paman Argajaya. Bagi kami, semakin cepat tentu semakin baik.”

Di rumah Agung Sedayu, Wacana yang sudah menjadi semakin baik itu duduk di serambi. Udara memang agak panas didalam. Glagah Putih duduk menemaninya.

Di serambi memang terasa angin bertiup perlahan menyapu kulit wajah kedua orang anak muda itu. Lampu minyak dipendapa tampak menggeliat mengguncang bayangan tiang-tiang yang berdiri tegak membeku.

Dalam heningnya malam yang semakin dalam, Wacana bertanya, “Apakah kau jadi akan pergi ke Kleringan?”

“Ya,” jawab Glagah Putih, “mengantar Rara Wulan yang sudah berjanji untuk mengunjungi Kanthi.”

“Kapan?” bertanya Wacana.

“Sebenarnya kami sudah akan pergi. Tetapi Ki Jayaraga minta kami menunda sampai tiga hari.”

“Tiga hari sejak kapan?” bertanya Wacana kemudian.

“Sejak kemarin lusa. Jadi besok adalah hari penundaan yang terakhir. Dengan demikian, maka besok lusa kami akan pergi.”

Wacana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Besok lusa keadaanku tentu sudah baik pula.”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Maksudmu?”

Wacana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Sebenarnya aku juga ingin berjalan-jalan agar keadaanku segera menjadi pulih kembali. Jika aku hanya berada di rumah atau di halaman ini saja, maka tenagaku akan lambat sekali dapat tumbuh kembali.”

“Ya. Aku sependapat. Tetapi tentu dari sedikit. Kau tidak dapat dengan serta-merta menempuh perjalanan ke Kleringan.”

“Tetapi bukankah Kleringan tidak terlalu jauh.?”

“Jika kau tidak dalam keadaan seperti sekarang, tentu Kleringan dapat kau tempuh dalam beberapa saat saja. Kita hanya sedikit meloncat bukit. Tetapi kau harus mengingat keadaanmu.”

Wacana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku terlambat bangkit. Jika sejak beberapa hari yang lalu aku mulai berjalan-jalan setiap pagi dan sore, maka sekarang aku tentu sudah sehat kembali. Ki Jayaraga sudah mengalami luka didalam sampai dua kali. Sekarang Ki Jayaraga sudah sembuh pula.”

“Keadaanmu berbeda dengan keadaan Ki Jayaraga, Wacana. Selebihnya, lukamu memang lebih parah dari luka Ki Jayaraga yang memiliki dasar ketahanan tubuh yang luar biasa yang agaknya sudah ditempa berpuluh tahun sejalan dengan umurnya.”

Wacana mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih berkata selanjutnya, “Tetapi kau tidak terlambat, Wacana. Aku lihat kau setiap kali sudah berjalan-jalan di halaman. Wajahmu juga sudah tidak nampak pucat, sementara anggauta tubuhnya mulai bergerak dengan wajar. Kau juga tidak nampak terlalu kurus seperti beberapa hari yang lalu.”

Wacana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku juga sudah merasa jauh lebih baik.”

“Tetapi belum cukup baik untuk berjalan ke Kleringan,” sahut Glagah Putih dengan serta-merta.

Wacana masih mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya dengan nada dalam, “Aku masih juga merasa kasihan kepada Kanthi.”

“O,” Glagah Putih mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Rara Wulan juga tidak pernah dapat melupakannya. Karena itu maka ia berkeras untuk pergi ke Kleringan.”

“Apalagi nampaknya masih belum terbayang satu penyelesaian yang tuntas,” desis Wacana.

“Ya. Tetapi entahlah sekarang. Mudah-mudahan ada cara untuk menyelamatkan hari depannya,” jawab Glagah Putih.

“Sekali ia tergelincir,” desis Wacana, “seharusnya belum berarti pintu masa depannya diselarak tanpa dapat dibuka sama sekali.”

Glagah Putih tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

Untuk beberapa saat keduanya pun terdiam. Masing-masing dengan angan-angannya. Namun keduanya masih saja memikirkan tentang keadaan Kanthi yang diayun-diayunkan oleh nasibnya yang belum menentu.

Namun dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin dalam, maka Glagah Putih pun berkata, “Wacana. Kau masih harus banyak beristirahat. Hari sudah larut malam. Tidurlah. Agaknya angin malam yang terlalu banyak masih harus kau hindari.”

Wacana mengangguk-angguk. Sedang didalam, udara terasa terlalu panas.

“Mungkin sekarang sudah tidak lagi,” jawab Glagah Putih.

Wacana mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bangkit berdiri sambil berkata, “Baiklah. Aku akan tidur.”

Dalam pada itu Glagah Putih pun telah bangkit pula. Ketika Wacana masuk kentang dalam, maka Glagah Putih pun telah melingkar lewat seketheng. Ia sudah mengira bahwa anak yang membantu di rumah itu tentu sudah bersiap-siap pergi ke sungai.

Namun agaknya anak yang baru bangun dari tidurnya itu masih mengantuk. Sambil menggosok matanya, ia pun menguap lebar-lebar.

“He,” sapa Glagah Putih, “jangan pergi ke sungai sambil tidur.”

Anak itu berpaling. Diluar sadarnya ia berkata, “Apakah kau juga akan pergi ke sungai?”

“Baiklah,” jawab Glagah Putih, “kali ini aku ikut pergi ke sungai.”

Anak itu mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Bawa icir itu. Aku membawa cangkul dan kepis.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun menjawab, “Hamba Sang Pangeran.”

Tetapi anak yang sudah mulai melangkah itu pun berhenti. Bahkan kemudian ia memutar tubuhnya menghadap Glagah Putih. Namun sebelum anak itu berkata sesuatu, Glagah Putih telah mendahului, “Ayolah. Jangan terlalu malam.”

Anak yang sudah akan membuka mulutnya itu urung mengatakan sesuatu. Tetapi ia melangkah sambil memanggul cangkul dan menjinjing kepis.”

Glagah Putih tersenyum sambil berjalan mengikutinya.

Ketika mereka hampir sampai di sungai, maka dua anak kawannya pun sedang turun pula sambil membawa cangkul, icir dan kepis.

Glagah Putih berjalan beberapa langkah dibelakang ketiga orang anak itu. Namun ia mendengar anak-anak itu berbincang diantara mereka.

“Anak itu keras kepala,” berkata salah seorang dari kedua orang anak itu.

“Bukankah kita tidak banyak berkepentingan dengan anak itu sehingga kita dapat menjauhinya,” berkata anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu.

“Tetapi anak itu selalu saja mengganggu,” jawab kawannya.

“Kita jauhi saja anak itu,” jawab anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu.

Glagah Putih justru terkejut mendengar jawab anak itu. Selama ini anak yang tinggal bersamanya itu kadang-kadang sulit dikendalikan. Ia termasuk anak yang sering berkelahi. Namun tiba-tiba ia mendengar jawaban yang tidak diduganya.

“Mudah-mudahan pribadinya berkembang semakin baik,” desis Glagah Putih yang kemudian seakan-akan berkata kepada diri sendiri, “Jika kelak ia ternyata mampu menahan dirinya dalam pergaulannya dengan kawan-kawannya, aku akan mengajarinya ilmu bela diri lebih banyak lagi.”

Sementara itu kawannya pun berkata pula, “Jika ia turun ke sungai, maka ia tentu akan menimbulkan persoalan lagi.”

“Kita beritahukan saja kepada Pinang. Bukankah anak itu tamu keluarga Pinang? Biarlah Pinang sedikit mengekangnya,” berkata anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu.

“Agaknya Pinang mengalami kesulitan. Apalagi anak itu nampaknya sudah terbiasa dibiarkan berbuat apa saja. Mungkin ia termasuk anak manja. Kakaknya juga sangat memanjakannya. Menurut Pinang, jika Pinang berusaha mencegah kenakalannya, kakaknya justru membantunya dan menyalahkan Pinang.”

“Maksudmu, kakak Pinang atau kakak anak itu?”

“Kakak anak itu. Bukankah ia sekeluarga menjadi tamu Pinang untuk beberapa hari?”

“Untuk apa ia berada di rumah Pinang sampai beberapa hari?”

“Entahlah,” jawab kawannya, “menurut Pinang, nampaknya saudara-saudara ayahnya sedang sibuk membagi warisan.”

Anak yang tinggal bersama Glagah Putih itu mengangguk-angguk. Namun kemudian mereka tidak memperpanjang pembicaraan mereka karena mereka sudah berada di tepian. Karena itu maka mereka pun telah pergi ke pliridan mereka masing-masing.

Ketika Glagah Putih yang membawa icir itu kemudian memasangnya, sementara anak itu menutup pintu pliridan, maka Glagah Putih sempat bertanya, “Kenapa anak itu dikatakan nakal?”

“Ia sering mengganggu anak-anak yang sedang bermain. Bahkan kadang-kadang menyakiti, sehingga anak-anak yang lebih kecil sering menangis ketakutan.”

“Apakah anak-anak yang lebih besar tidak mencegahnya?” bertanya Glagah Putih.

Anak itu tidak menjawab. Ia sibuk mengayunkan cangkulnya menutup pintu air yang masuk ke dalam pliridannya. Baru kemudian ia menjawab, “Aku tidak pernah bermain bersamanya sejak ia datang ke rumah Pinang. Aku juga belum pernah melihat kakaknya yang selalu membantunya. Agaknya anak-anak yang lebih besar segan mencampurinya justru karena kakaknya.”

“Seberapa besar kakaknya itu?” bertanya Glagah Putih pula.

Anak itu meletakkan cangkulnya. Sambil bertolak pinggang ia menjawab, “Bukankah aku belum pernah melihatnya.”

“O, maaf.” Glagah Putih pun tersenyum melihat anak yang bertolak pinggang itu.

Namun demikian anak itu pun menyelesaikan pekerjaannya, sementara Glagah Putih juga sudah selesai memasang icir. Dengan demikian maka anak itu pun segera menggiring ikan dari mulut pliridannya yang sudah tertutup menuju ke tempat icir dipasang di bagian bawah.

Namun pekerjaan itu ternyata telah terganggu. Mereka mendengar suara ribut di bagian atas tikungan sungai itu. Agaknya suara itu antara lain adalah suara kedua orang kawannya yang turun bersama-samanya tadi.

“Apa yang terjadi?” bertanya Glagah Putih.

“Bagaimana aku tahu. Kita bersama-sama ada disini,” jawab anak itu.

Glagah Putih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, anak itu pun kemudian berkata, “Aku ingin melihat apa yang terjadi di sebelah tikungan.”

Tanpa menunggu lagi, anak itu pun segera berlari meninggalkan pliridannya. Sementara itu, ia masih belum selesai menggiring ikan di pliridannya yang airnya tinggal sedikit itu.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian telah melangkah ke tikungan pula. Glagah Putih menjadi cemas bahwa anak-anak itu terlibat dalam perselisihan.

Demikian Glagah Putih sampai di tikungan, memang melihat beberapa orang yang sedang ribut. Seorang anak yang gemuk sedang mengumpati kedua orang anak yang sedang menutup pliridan.

“Kenapa aku tidak boleh mengambil ikan di sungai? Apa ini sungai milikmu?” bertanya anak yang gemuk itu.

“Tetapi ini pliridanku,” jawab salah seorang dari kedua orang anak yang sedang menutup pliridan itu, “kami membuatnya dengan susah payah. Kami membukanya di sore hari dan sekarang kami yang berhak menutup dan mengambil ikannya.”

“Aku tidak peduli,” jawab anak yang gemuk itu, “aku mengambil ikan di sungai. Semua orang boleh mengambilnya.”

“Tetapi pliridan ini miliknya, Wikan. Disini ada semacam kesepakatan, bahwa ikan yang ada di pliridan seseorang, adalah hak dari mereka yang membuat pliridan itu,” seorang anak yang sedikit lebih besar mencoba menjelaskan. Ternyata anak itu adalah Pinang.

“Omong Kosong,” berkata anak yang gemuk yang disebut Wikan itu, “dimana- mana tentu akan diakui, bahwa ikan di sungai itu milik siapa saja yang dapat menangkapnya.”

“Benar,” jawab Pinang, “pliridan adalah alat untuk menangkap ikan. Karena itu, ikan yang sudah terperangkap di pliridan adalah hak mereka yang mempunyai alat tersebut. Sebagaimana seseorang yang menjala ikan. Maka ikan yang terjerat jalanya hak orang itu.”

“Tidak sama. Pliridan seperti ini justru melanggar hak orang banyak. Kenapa ia membuat pematang di tepian dan kemudian berusaha membendung agar air sungai ini mengalir ke dalamnya?” jawab Wikan.

“Mungkin kesepakatan ini tidak sama dengan kesepakatanmu di tempat tinggalmu. Tetapi karena sungai ini ada di sini, maka yang berlaku disini adalah kesepakatan di Tanah Perdikan Menoreh ini,” berkata Pinang.

“Aku tidak mengakui kesepakatan itu,” jawab Wikan, “aku akan mengambil ikan di sungai ini.”

“Jangan Wikan,” cegah Pinang.

Namun tiba-tiba seorang anak muda yang berdiri di tanggul sungai itu berkata, “Biarkan anak-anak itu menyelesaikan persoalan mereka sendiri, Pinang.”

Pinang berpaling. Dilihatnya anak muda yang berdiri bertolak pinggang itu.

“Tetapi Wikan telah melanggar kesepakatan yang berlaku di sini, Wasis,” jawab Pinang.

“Justru Wikan bukan anak dari Tanah Perdikan ini, ia tidak terkait pada kesepakatan yang berlaku di sini,” berkata Wasis yang berdiri di atas tanggul itu.

“Menurut pendapatku, itu bahkan terbalik. Karena sekarang Wikan berada disini, ia harus menurut kesepakatan yang berlaku di sini,” jawab Pinang.

“Sudahlah Pinang, kau tidak usah berpihak. Biarlah Wikan menyelesaikan persoalannya dengan anak-anak itu. Bukankah kau justru diminta Wikan untuk mengantarnya melihat-lihat sungai ini di malam hari?” berkata Wasis.

“Ya, justru di siang hari Wikan melihat beberapa pliridan dan bertanya tentang pliridan itu,” jawab Pinang.

“Naik sajalah Pinang. Biarkan Wikan berbuat sesuatu dengan kehendaknya.”

“Juga jika sikapnya bertentangan dengan kesepakatan orang banyak?” bertanya Pinang.

Wasis termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Wikan mempunyai sikap sendiri terhadap kesepakatan itu.”

“Jadi aku harus membiarkan saja apa yang akan terjadi?” bertanya Pinang.

“Ya,” jawab Wasis.

“Baiklah. Jika demikian, aku tidak akan ikut campur,” berkata Pinang sambil bergeser menjauh.

“Nah, sekarang kalian mau apa?” tiba-tiba Wikan bertanya kepada anak-anak itu.

Kedua orang anak yang sedang menutup pliridan itu termangu-mangu. Mereka mengetahui bahwa Wasis itu selalu turut campur jika terjadi persoalan antara adiknya dengan anak-anak Tanah Perdikan. Anak-anak itu juga masih merasa segan justru karena Wikan bagi mereka adalah tamu yang pantas mendapat perlakuan yang baik. Anak-anak itu juga segan terhadap Pinang yang bagi anak-anak kawan sepermainannya dianggap anak yang ramah dan suka membantu kawan-kawannya yang sedang dalam kesulitan.

Untuk beberapa saat kedua orang itu masih saja termangu-mangu. Sementara itu Wikan berkata, “Kalian jangan mencoba menghalangi aku lagi. Aku akan mencari ikan di sungai ini. Salah kalian, kenapa kalian membuat pliridan disini, sementara sungai itu adalah milik semua orang.”

Namun tiba-tiba saja anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itulah yang menjawab, “Tidak. Kau tidak boleh mencari ikan didalam sebuah pliridan. Apalagi pliridan yang sedang ditutup. Aku sekarang juga menutup pliridan. Dan kau juga tidak boleh mencari ikan di dalam pliridanku itu.”

Anak yang gemuk itu berpaling. Wajahnya menegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa kau ikut campur?” bertanya anak yang gemuk itu.

“Aku anak padukuhan induk Tanah Perdikan ini. Aku tahu benar kesepakatan yang berlaku disini. Tidak seorang pun boleh melanggarnya. Juga seorang tamu. Karena itu, urungkan niatmu mencari ikan di dalam pliridan yang sudah tertutup itu.”

“Siapa kau?” bentak anak yang gemuk itu.

“Sudah aku katakan. Aku salah seorang anak padukuhan induk ini. Siapapun aku, sikapku akan sama dengan sikap anak-anak yang lain.”

“Kau berani melarang aku?” bertanya anak yang gemuk itu.

Anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu justru melangkah mendekat. Namun Glagah Putih sempat berdesis, “Berbicaralah dengan baik.”

Anak itu berpaling pun tidak. Semakin lama ia menjadi semakin dekat dengan anak yang gemuk itu. Meskipun anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu agak lebih kecil dan lebih muda dari anak yang gemuk itu, namun ia sama sekali tidak merasa ragu untuk mendekatinya sambil berkata, “Tinggalkan pliridan kawanku ini. Jika kau memaksa untuk mengambil ikan dari pliridan yang sudah ditutup ini, maka aku akan memaksamu pergi.”

Wajah Wikan itu menjadi tegang. Dipandanginya anak yang menegornya itu dengan tajamnya. Kemudian ia pun bersikap untuk berkelahi sambil berkata, “Tidak ada orang yang berani melawanku. Jika kau paksa aku berkelahi, maka aku akan mematahkan tanganmu.”

Glagah Putih menjadi tegang. Anak yang dapat menasehati kawan-kawannya itu ternyata tidak dapat mengekang dirinya ketika rasa keadilannya tersinggung. Bahkan kemudian ia tidak menunggu lebih lama lagi. Demikian anak yang gemuk itu bersikap, maka ia pun segera menyerangnya.

Wikan terkejut. Tetapi ia terlambat. Kedua tangan lawannya yang kecil itu telah memukul wajahnya berganti-ganti, sehingga Wikan yang gemuk itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Namun kemudian, kemarahannya telah membakar kepalanya, sehingga sambil berteriak keras-keras ia berlari menyerang dengan tangan yang mengembang.

Glagah Putih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Perkelahian itu sudah terjadi.

Ketika ia melihat serangan anak yang gemuk itu, Glagah Putih pun menahan nafasnya. Anak itu tentu memiliki kekuatan yang sangat besar, sehingga ia lebih senang bergulat daripada berkelahi pada satu jarak tertentu.

Namun anak yang tinggal bersama Glagah Putih itu ternyata tidak membiarkan dirinya dicengkam kedua tangan lawannya. Ia tidak ingin berkelahi tanpa jarak. Anak yang sedikit lebih tua daripadanya itu tentu memiliki kekuatan yang lebih besar. Apalagi tubuhnya yang gemuk itu memberikan kesan bahwa ia akan dapat memilin tubuh lawannya sehingga tidak dapat bergerak lagi.

Karena itu, maka anak itu pun berusaha berkelahi pada jarak tertentu. Ketika Wikan menyerang dengan tangan yang mengembang siap untuk menerkam pinggangnya dan menekannya sehingga tidak dapat bernafas, maka dengan tangkasnya anak itu pun telah meloncat menyerang. Dengan cepat ia melenting menyamping. Kakinya terjulur lurus langsung menghantam dada.

Anak yang gemuk itu terkejut. Sekali lagi ia terdorong surut beberapa langkah. Namun sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, maka sekali lagi lawannya meluncur dengan derasnya. Sekali lagi kakinya terjulur menghantam dadanya.

Ternyata Wikan tidak mampu mempertahankan keseimbangannya lagi. Ia pun kemudian telah terlempar jatuh menelentang.

Dengan agak susah, karena tubuhnya yang gemuk, Wikan berusaha untuk bangkit. Sementara itu lawannya yang lebih kecil itu ternyata masih mampu menahan diri, sehingga ia tidak menyerangnya saat Wikan mempersiapkan dirinya.

Dengan wajah yang merah menyala Wikan itu berkata lantang, “Anak yang tidak tahu diri. Kau telah menyerang aku dengan tiba-tiba sebelum aku bersiap. Tetapi kau jangan bermimpi dapat mengulanginya lagi.”

Namun demikian mulutnya terkatub, anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu telah meloncat menyerang. Ia tidak mempergunakan kakinya. Tetapi ia meloncat mendekati anak yang gemuk itu. Dengan pangkal telapak tangannya ia menyerang dagu Wikan. Dengan cepat dan tiba-tiba sehingga Wikan tidak sempat mengelak dan tidak pula sempat menangkis.

Kepala Wikan terangkat. Kesempatan itu dipergunakan oleh lawannya yang kecil itu untuk menyerang perutnya. Sambil melangkah maju tangannya yang sebelah telah memukul perut anak yang gemuk itu.

Pukulan anak itu terhitung keras. Karena itu, maka Wikan pun mengaduh sambil menunduk. Namun lawannya tidak melepaskan kesempatan itu. Tangannya sekali lagi terayun dengan derasnya. Namun pada saat-saat terakhir tangannya itu telah berubah arah. Ia tidak memukul tengkuk anak yang gemuk itu. Tetapi ia hanya memukul pundaknya saja.

Tetapi pukulan itu sangat kerasnya, sehingga mendorong Wikan jatuh tertelungkup diatas pasir tepian. Wajahnya tersuruk kedalam pasir sehingga butir-butir pasir telah masuk kedalam matanya dan juga kedalam mulutnya.

Lawannya yang melihat Wikan terjerembab tidak menyerangnya lagi. Ia justru telah melangkah surut.

Sekali lagi dengan susah payah anak gemuk itu bangkit. Matanya memang terasa pedih, sementara mulutnya bagaikan disumbat dengan pasir. Karena itu, maka terhuyung-huyung ia justru melangkah ke air. Dengan serta-merta ia menyurukkan kepalanya kedalam aliran air di bagian tepi sungai itu.

Namun ketika wajahnya sudah menjadi bersih lagi, anak itu seakan-akan tidak mengenal jera. Ketika ia kemudian berdiri tegak, maka ia pun kemudian telah melangkah mendekati lawannya sambil menggeram, “Anak iblis kau. Aku patahkan lehermu jika sekali lagi kau berani menyerang.”

Lawannya yang telah menyerangnya dan mengenainya beberapa kali itu mengerutkan dahinya. Beberapa kali ia berhasil mengenai. Tetapi anak yang gemuk itu seakan-akan tidak mengalami apa-apa. Bahkan kakaknya yang berdiri ditanggul berkata, “Jangan ragu-ragu. Buat anak itu menjadi jera.”

Wikan itu berpaling kemudian katanya, “Baik kakang. Aku akan memilin lehernya sampai patah.”

Anak yang tinggal bersama Glagah Putih itu termangu-mangu sejenak. Ia sudah sering berkelahi. Serta sedikit ia pernah belajar dari Glagah Putih, bagaimana ia harus membela dirinya. Karena itu, maka ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sementara anak yang gemuk itu melangkah semakin dekat.

Glagah Putih memang menjadi berdebar-debar. Wikan yang gemuk itu agaknya memiliki kekuatan yang besar ditimbang dengan umurnya. Bahkan juga daya tahannya. Namun justru karena itu, ia ingin melihat apa yang dapat dilakukan anak yang tinggal bersamanya itu.

Anak itu memang menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar, bahwa anak yang gemuk itu sulit dikalahkan. Namun ia yakin, bahwa ia akan dapat melakukannya. Sementara itu, ia masih tetap berusaha untuk tidak dapat ditangkap oleh anak yang gemuk itu.

Ketika Wikan yang gemuk itu menjadi semakin dekat, maka anak itu pun segera bergeser setapak menyamping. Ia sudah bersiap sepenuhnya menghadapinya. Namun Wikan nampaknya juga menjadi semakin berhati-hati.

Ketika Wikan menjadi semakin dekat, maka lawannya yang lebih kecil itu pun telah bersiap untuk meloncat. Namun ketika Wikan itu mengembangkan tangannya, maka lawannya itu justru meloncat ke samping. Demikian Wikan berputar, dengan sikap lawannya itu meloncat menyerang.

Tetapi serangan yang agak tergesa-gesa itu tidak mengguncang keseimbangan Wikan. Bahkan Wikan masih saja melangkah maju.

Dengan tergesa-gesa lawannya yang kecil itu telah mengayunkan tangannya mengarah ke dada. Untuk memberi tekanan pada pukulannya, maka anak itu telah mempergunakan berat badannya pula.

Tetapi ternyata Wikan yang benar-benar sudah bersiap itu tidak melepaskan kesempatan itu. Demikian lawannya mendekat dan memukul dadanya, maka tangannya pun telah ikut terdekap pula.

Ketika Wikan menekan lawannya ke dadanya, maka rasa-rasanya anak itu tidak lagi dapat bernafas.

Glagah Putih yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar bahwa Wikan memiliki kekuatan yang lebih besar dari lawannya yang lebih kecil itu.

Sementara itu Wasis, kakaknya yang berdiri ditanggul berteriak, “Jangan lepaskan lagi. Ia harus menjadi jera. Jika kakaknya atau pamannya membantunya, biarlah aku yang menyelesaikannya.”

Wikan tidak menjawab. Tetapi ia menjadi semakin mantap. Tangannya semakin keras menekan lawannya yang lebih kecil dan lebih muda itu sehingga nafasnya menjadi sesak.

Anak itu berusaha untuk meronta. Tetapi tangan Wikan justru menjadi semakin mencekam. Rasa-rasanya tidak ada jalan lain untuk melepaskan diri.

Namun anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu tidak menyerah. Dengan mengerahkan segenap kekuatannya ia masih tetap berusaha.

Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Ia memang melihat anak itu dalam kesulitan. Tetapi ia tidak dapat langsung membantunya. Anak itu akan dapat menjadi marah kepadanya meskipun ia benar-benar dalam kesulitan. Selain itu, maka persoalannya akan dapat menjadi berkepanjangan. Justru Wasis tentu akan ikut campur.

Karena itu, maka Glagah Putih masih menunggu beberapa saat. Jika anak itu memang tidak dapat mengatasinya, maka apaboleh buat. Mungkin ia harus merebutnya dan membawanya lari. Ia sendiri segan untuk berkelahi karena Glagah Putih tentu merasa tidak sepantasnya.

Namun dalam pada itu, anak itu benar-benar tidak mau menyerah. Dengan lututnya ia justru mencoba menyerang bagian bawah perut lawannya seberapa jauh dapat dilakukan.

Agaknya serangan-serangannya itu memang berpengaruh. Namun Wikan justru menjadi semakin marah. Ia menekan lawannya yang lebih kecil itu semakin keras, sehingga nafas anak itu menjadi semakin sesak.

Tetapi pada saat-saat terakhir, ketika rasa-rasanya nafasnya hampir terputus, maka ia tidak saja menyerang dengan lututnya. Karena tangannya ikut terdekap oleh tangan Wikan yang kuat, namun dengan tidak disangka-sangka, anak itu telah membenturkan dahinya ke wajah Wikan. Beberapa kali dahi anak itu mengenai hidung Wikan. Demikian kerasnya, sehingga Wikan harus menyeringai kesakitan. Justru pada saat yang demikian, maka anak itu telah menekuk kakinya pada lututnya, sehingga lututnya itu menekan perut Wikan yang gemuk itu.

Wikan lah yang kemudian mengalami kesulitan untuk tetap menyekap lawannya yang kecil itu. Beberapa kali dahinya masih tetap membentur wajah Wikan, justru semakin lama rasa-rasanya semakin menyakitkan. Sedangkan anak yang telah berhasil menekuk lututnya dengan tiba-tiba itu rasa-rasanya semakin menekan perutnya.

Dalam keadaan yang demikian, maka sekapan tangan Wikan menjadi sedikit longgar.

Kesempatan itulah yang dipergunakan oleh anak itu. Dengan mengerahkan segenap tenaganya, maka anak itu pun meronta. Demikian tiba-tiba sehingga tangan kanannya dapat menyusup lepas dari dekapan. Dengan sekuat tenaga, maka pangkal telapak tangannya telah menekan dagu Wikan, sementara lututnya berusaha menekan semakin keras.

Hentakan itu mengejutkannya. Dan kesempatan berikutnya telah dipergunakan anak itu sebaik-baiknya. Dengan sekuat tenaga maka ia berhasil melepaskan diri dari tangan Wikan yang kuat itu.

Wikan menggeram marah. Tetapi ternyata hidungnya sudah mulai berdarah. Meskipun lawannya yang kecil itu juga merasa pening karena beberapa kali ia membenturkan dahinya pada wajah lawannya, namun anak itu masih tetap mampu menguasai dan mengendalikan dirinya.

Demikian anak itu lepas dari dekapan Wikan, maka dengan serta-merta anak itu pun siap menyerang.

Wikan yang tidak mau melepaskan lawannya, berusaha untuk menangkapnya lagi. Namun ketika ia berlari memburu lawannya dengan tangannya yang mengembang, maka lawannya itu telah menjatuhkan diri. Wikan justru jatuh terjerembab karena kakinya terantuk kaki lawannya, sedangkan lawannya yang kecil itu berguling menjauhinya. Dengan cepat anak itu bangkit berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kedua orang kawannya yang mempunyai pliridan itu berdiri mematung. Sementara itu Pinang justru berpihak kepadanya. Ia ingin melihat Wikan itu kesakitan dan menjadi jera.

Namun Pinang itu menjadi berdebar-debar ketika ia teringat kepada Wasis yang berdiri diatas tanggul. Wasis itu tentu akan ikut campur jika ia melihat adiknya mengalami kesakitan.

Namun Pinang pun kemudian menarik nafas panjang ketika ia melihat Glagah Putih berdiri di tikungan.

“Bagi Glagah Putih, Wasis tentu tidak lebih berbahaya dari seekor cacing,” berkata Pinang didalam hatinya, karena ia sudah mendengar serba sedikit, tentang Glagah Putih. Meskipun ia tidak tahu pasti, tetapi setiap orang mengatakan bahwa Glagah Putih adalah seorang yang berilmu tinggi. Bahkan ia telah ikut serta dalam pertempuran-pertempuran diantara orang-orang yang memiliki kelebihan dari sesamanya.

Sementara itu anak yang tinggal bersama Agung Sedayu itu telah menjadi sangat marah, bahkan hampir saja nafasnya telah putus karena dekapan lawannya. Karena itu, maka ia pun telah bertekad untuk membuat Wikan benar-benar menjadi jera.

Dalam pada itu, maka Wikan memang bergerak lebih lamban. Ketika ia berusaha bangkit berdiri, lawannya yang bertubuh lebih kecil dan umurnya yang lebih muda itu, telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapinya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 292)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-91/

Terima kasih kepada Ki Raharga yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s