ADBM3-293

<<kembali | lanjut >>

GLAGAH Putih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Nampaknya Kanthi telah menjadi benar-benar berputus-asa. Karena itu, kedatangan Rara Wulan merupakan sebuah harapan baru baginya, karena Kanthi merasa pernah mendapat perlindungan daripadanya. Sehingga dengan demikian, dekat dengan Rara Wulan dapat memberikan ketenangan baginya.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Kanthi. Namun kemudian Sekar Mirah itu pun berdesis, “Tetapi justru disini Kanthi akan menjadi dekat dengan Prastawa. Anak muda yang pernah diangan-angankannya. Namun yang kemudian seakan-akan telah menghempaskannya kedalam keputus-asaan.”

“Aku pernah memperbincangkannya dengan Ki Jayaraga. Kami juga mencemaskan bahwa tiba-tiba tanpa disengaja Kanthi bertemu dengan Prastawa, sehingga membuat luka di hatinya menjadi parah kembali,” sahut Glagah Putih. Lalu katanya selanjutnya, “Tetapi waktu itu kami berpendapat, bahwa untuk sementara kita harus menyelamatkan Kanthi lebih dahulu. Mungkin kita dapat menemui Prastawa dan memberitahukan tentang keadaan Kanthi, sehingga Prastawa jangan melintas lewat jalan didepan.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk, tetapi sebelum ia menjawab, terdengar langkah mendekati pintu dapur. Sejenak kemudian Rara Wulan bersama Kanthi telah masuk ke dapur.

“O,” Sekar Mirah pun bangkit. Demikian pula Glagah Putih. Sementara Rara Wulan berkata, “Kanthi ingin ke pakiwan. Jika ia mandi, agaknya tubuhnya akan menjadi segar.”

“Silahkan Kanthi,” sahut Sekar Mirah, “mandilah. Nanti kau akan dapat beristirahat dengan baik.”

Diantar Rara Wulan, maka Kanthi pun telah pergi ke pakiwan untuk mandi.

Demikian Rara Wulan dan Kanthi keluar dari dapur untuk pergi ke pakiwan, maka Wacana telah masuk kedalam dapur. Dengan kerut di kening Wacana itu bertanya, “Siapakah perempuan yang bersama Rara Wulan itu?”

“Kanthi,” jawab Glagah Putih yang masih berada di dapur.

“Jadi itukah Kanthi yang sering kalian bicarakan?” bertanya Wacana.

“Ya,” Sekar Mirah mengangguk.

“Kanthi yang menjadi putus-asa dan kehilangan kendali itu?” desak Wacana.

“Ya,” Sekar Mirah mengangguk lagi.

Wacana menarik nafas dalam-dalam Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Kenapa ia justru ikut kemari?”

“Pikirannya sedang kalut,” jawab Sekar Mirah, “Ia telah mencoba membunuh diri sebelum Rara Wulan Glagah Putih kemarin sampai di Kleringan.”

Wacana ternyata juga terkejut. Dahinya berkerut dalam. Namun kemudian sambil menunduk ia berdesis, “Kasihan. Ia memerlukan pertolongan yang dapat mengembalikannya bergairah memandang masa depannya.”

“Ya,” jawab Sekar Mirah sambil mengangguk-angguk.

Wacana tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan dapur itu.

Glagah Putih dan Sekar Mirah saling berpandangan sejenak. Tetapi keduanya tidak berbicara lagi. Glagah Putih pun kemudian juga meninggalkan Sekar Mirah sendiri di dapur.

Sekar Mirah yang kemudian tinggal di dapur seorang diri, termenung sambil menunggui api yang memanasi periuk. Namun angan-angannya telah menerawang mengamati jalan kehidupan Kanthi.

Ketika kemudian Glagah Putih pergi ke serambi samping, maka dilihatnya Wacana termenung sendiri. Demikian Glagah Putih duduk di sebelahnya, maka Wacana itu pun berdesis, “Agung Sedayu menjadi cemas, bahwa kalian tidak pulang kemarin.”

“Kami pulang lewat senja dari Kleringan,” jawab Glagah Putih.

“Kalian tempuh perjalanan dari Kleringan semalam suntuk?” bertanya Wacana pula.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan Kanthi. Ia tidak dapat berjalan cepat. Apalagi jalan yang turun naik lewat pegunungan. Bahkan di malam hari. Setiap kali kami harus beristirahat. Kadang-kadang untuk waktu yang agak lama. Tetapi cara itulah yang terbaik yang dapat kita tempuh waktu itu.”

Wacana mengangguk-angguk. Ia memang dapat membayangkan perjalanan yang lambat, dan sering berhenti beristirahat. Apalagi berjalan di malam hari dalam kegelapan.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mendengar derap kaki kuda memasuki halaman. Agung Sedayu yang telah berjanji untuk segera pulang, benar-benar telah memenuhi janjinya.

Tetapi dahinya berkerut, ketika ia melihat Glagah Putih dan Wacana menyongsongnya. Keduanya telah keluar lewat pintu seketheng turun ke halaman depan.

“Kau sudah kembali Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya, kakang,” jawab Glagah Putih.

“Kau membuat kami gelisah. Tetapi bukankah tidak terjadi sesuatu atas kalian?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Syukurlah. Dimana Ki Jayaraga sekarang?” bertanya Agung Sedayu lebih lanjut.

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menjawab, “Mungkin ia sudah berada didalam biliknya. Nampaknya Ki Jayaraga baru membenahi diri.”

“Baiklah. Aku sudah berjanji kepada mbokayumu untuk segera pulang dan menyusulmu ke Kleringan. Tetapi karena kalian sudah kembali, maka nanti aku akan kembali ke barak.” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Kami pulang sambil membawa Kanthi.”

“Kanthi? Kenapa dengan Kanthi?” bertanya Agung Sedayu.

Tetapi ketika Glagah Putih akan menjawabnya, maka Agung Sedayu pun berkata, “Baiklah. Nanti kita berbicara bersama-sama dengan semuanya. Aku akan menemui mbokayumu. Dimana mbokayumu?”

“Tetapi kakang,” berkata Glagah Putih, “sebelum kakang bertemu dengan Kanthi sebaiknya aku memberitahukan, bahwa di rumahnya Kanthi telah mencoba untuk membunuh diri.”

“O,” Agung Sedayu pun terkejut pula. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Itukah agaknya, maka Kanthi ikut kemari.”

“Antara lain kakang,” jawab Glagah Putih.

“Baiklah. Aku akan berbicara dengan mbokayumu.” berkata kudanya untuk diikat di sebelah pendapa.

Agung Sedayu pun kemudian telah pergi ke dapur dan berbicara dengan Sekar Mirah, sementara Rara Wulan telah mengajak Kanthi ke biliknya.

“Kita dapat berdua disini,” berkata Kara Wulan.

Kanthi mengangguk sambil berdesis, “Terima Kasih atas kebaikanmu dan kebaikan kalian disini.”

Dalam pada itu, di dapur, Sekar Mirah telah menjelaskan kepada Agung Sedayu sebagaimana diceriterakan oleh Glagah Putih tentang Kanthi. Sekar Mirah pun telah mengatakan pula bahwa Glagah Putih harus menemui Prastawa dan minta untuk sementara tidak melintas lewat didepan rumah mereka.

Agung Sedayu mendengarkan pemberitahuan itu dengan saksama. Kemudian Agung Sedayu itu pun berkata, “Nanti sore kita dapat duduk bersama dan berbicara bersama-sama.”

“Kau akan berbicara tentang Kanthi dan niatnya membunuh diri?” bertanya Sekar Mirah.

“Ah, Tentu tidak,” jawab Agung Sedayu, “kita berbicara tentang rumah kita yang terasa menjadi semakin sempit.”

Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Bagaimana jika semakin sempit? Apakah kita akan membangun lagi untuk memperbesar rumah ini?”

Agung Sedayu pun tertawa. Katanya, “Jika panen kita berlimpah selama sepuluh musim, maka tabungan kita akan dapat kita pergunakan untuk memperbesar rumah ini satu wuwung lagi.”

Sekar Mirah pun tertawa pula.

Namun Agung Sedayu itu pun kemudian berkata pula, “Tetapi bukankah kita tidak jadi pergi ke Kademangan Kleringan?”

“Untuk apa?” bertanya Sekar Mirah.

“Barangkali kau sudah terlanjur berniat pergi,” jawab Agung Sedayu.

“Ah, kau,” desis Sekar Mirah.

“Jika kita tidak jadi pergi, maka aku akan kembali ke barak lagi,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Kenapa? Bukankah kakang sudah memberitahukan bahwa kakang akan pulang dan memberikan pesan-pesan?”

“Ya. Tetapi agaknya ada berita penting datang dari Mataram,” jawab Agung Sedayu.

“Berita tentang apa?” bertanya Sekar Mirah.

“Kangjeng Adipati Pati meningkatkan kesiagaan prajuritnya,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Persoalan apa sebenarnya yang merenggangkan hubungan antara Mataram dan Pati?”

“Sebab yang langsung dapat diketahui orang lain adalah peristiwa yang terjadi di Madiun itu,” jawab Agung Sedayu.

“Apakah kakang percaya bahwa itu adalah sebab satu-satunya sehingga Kangjeng Adipati Pati tidak lagi mau menyentuhkan kakinya di paseban mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Sulit untuk dapat mengatakannya sekarang. Tetapi mungkin sekali ada sebab-sebab lain yang selapis demi selapis bertimbun menjadi beban yang tidak tertanggungkan lagi bagi Kangjeng Adipati di Pati.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi Sekar Mirah merasa bahwa persoalan itu adalah persoalan para pejabat tinggi di Mataram dan Pati.

“Jika kakang akan kembali ke barak, sebaiknya kakang temui meskipun hanya sebentar, Rara Wulan dan Kanthi,” berkata Sekar Mirah kemudian.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Bersama Sekar Mirah maka Agung Sedayu pun telah menemui Rara Wulan dan Kanthi.

“Sudahlah,” berkata Agung Sedayu ketika Kanthi menangis lagi, “anggaplah rumah ini rumahmu sendiri. Kau akan merasa tenang disini.”

Kanthi mengangguk-angguk. Sambil mengusap air matanya ia berkata, “Terima kasih. Aku akan menjadi beban disini.”

Tetapi Agung Sedayu menggeleng sambil tersenyum, “Tidak Kanthi. Kau justru akan dapat menemani Rara Wulan yang selama ini sering melakukan kerja sendiri.”

“Kerjaku lebih banyak mengurusi diriku sendiri Kanthi” potong Rara Wulan.

“Jika demikian, kau akan banyak membantu mengurusi Rara Wulan,” Sekar Mirah lah yang menyahut.

“Ah,” desah Rara Wulan, sementara Kanthi yang maunya masih basah sempat juga tersenyum.

“Sudahlah,” berkata Agung Sedayu, “aku masih harus kembali ke barak.”

Sekar Mirah kemudian mengantar Agung Sedayu sampai ke tangga pendapa. Demikian pula Glagah Putih dan Wacana juga berdiri tidak jauh dari Rara Wulan.

“Sampai hari ini adi Swandaru masih berada di Tanah Perdikan ini. Tetapi berita penting itu tentu juga akan sampai ke Jati Anom dan kademangan Sangkal Putung,” berkata Agung Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun hampir diluar sadarnya Glagah Putih berkata, “Mudah-mudahan Sabungsari mendapat kesempatan untuk menyelesaikan persoalannya dengan Raras sebelum ia ditarik ke medan perang jika perang itu benar-benar pecah.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu. Namun katanya kemudian, “Juga Prastawa.”

“Bukankah kakang Swandaru sengaja menunggu sampai persoalan Prastawa itu selesai?” bertanya Sekar Mirah.

“Orang tua Angraeni akan memberitahukan keputusan mereka apakah lamaran Prastawa diterima atau tidak, meskipun tidak sekedar pernyataan resmi saja,” berkata Agung Sedayu.

“Tentu tidak akan terlalu lama lagi,” desis Glagah Putih.

“Kita akan menjadi sibuk,” berkata Sekar Mirah, “bagaimana pun juga kita akan terlibat langsung atau tidak langsung saat Prastawa menikah. Demikian pula Sabungsari.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk Katanya, “Ya. Aku berharap semuanya segera terjadi.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Agung Sedayu itu pun telah berpacu di punggung kudanya kembali ke barak.

Sepeninggal Agung Sedayu, maka seisi rumahnya telah kembali kedalam kerja masing-masing. Glagah Putih setelah sibuk membelah kayu bakar dibelakang rumah, telah berada di sanggar. Wacana yang telah menjadi semakin baik, telah berada di sanggar pula. Sementara Ki Jayaraga agaknya benar-benar ingin beristirahat. Meskipun demikian, Ki Jayaraga itu telah berada di dalam sanggar pula meskipun hanya sekedar duduk di atas amben sambil memperhatikan Glagah Putih yang berlatih. Bahkan sekali-sekali Ki Jayaraga telah menguap dan terkantuk-kantuk. Orang tua itu benar-benar tidak terlibat latihan yang dilakukan oleh Glagah Putih, salah seorang murid Ki Jayaraga yang diharapkan akan menjadi muridnya yang tidak terjerumus kedalam laku kejahatan sebagaimana murid-muridnya yang terdahulu, yang sama sekali tidak dikehendakinya.

Glagah Putih memang sekali-sekali memperhatikan gurunya. Namun ia pun hanya tersenyum saja. Ia tahu bahwa Ki Jayaraga benar-benar merasa letih. Bukan karena perjalanan itu sendiri. Tetapi justru karena dalam perjalanan itu, mereka terlalu banyak berhenti dan beristirahat. Kelelahan Ki Jayaraga bukan pada wadagnya, justru karena ia harus bersabar mengikuti dan mempertimbangkan Kanthi.

Demikianlah, maka Glagah Putih itu berlatih sendiri. Namun kemudian Wacana pun telah mulai dengan latihan-latihan pula meskipun masih harus mengingat perkembangan keadaan tubuhnya.

Ketika keduanya kemudian beristirahat, maka Wacana yang duduk di amben bambu di sebelah Glagah Putih itu pun bertanya, “Apakah kau pernah melihat gadis yang bernama Angraeni yang telah dilamar oleh Prastawa?”

“Pernah,” jawab Glagah Putih, “bukankah ia juga gadis Tanah Perdikan, meskipun semula mereka tinggal di Mangu.”

“Apakah gadis itu cantik sekali?” bertanya Wacana.

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Ia tidak segera menangkap maksud pertanyaan Wacana. Namun Glagah Putih itu pun kemudian menjawab, “Aku tidak mengenal gadis itu terlalu banyak. Hanya karena kami tinggal di lingkungan yang sama, maka kami saling mengenal. Tetapi hanya sepintas. Bahkan aku mulai memperhatikannya justru setelah aku tahu, bahwa gadis itulah yang akan menjadi isteri Prastawa. Dan ternyata kemarin lusa keluarga Prastawa telah mengirim utusan untuk menemui keluarga Angraeni.”

Wacana mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih lah yang kemudian bertanya, “Kenapa kau tanyakan kecantikan Angraeni itu?”

Wacana termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia pun berkata, “Aku memang mengira bahwa Angraeni adalah gadis yang sangat cantik. Bahkan seperti bidadari.”

“Kenapa kau sebenarnya?” Glagah Putih menjadi heran.

“Jika tidak demikian, maka Prastawa tentu tidak akan menolak Kanthi,” desis Wacana.

“Kenapa?” desak Glagah Putih.

“Bukankah kau lihat bahwa Kanthi seorang gadis yang cantik,” jawab Wacana.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Baru ia mengerti maksud Wacana. Jika Angraeni bukan seorang gadis secantik bidadari, maka Prastawa tentu tidak akan mengesampingkan Kanthi.

Sambil mengangguk-angguk Glagah Putih itu pun kemudian menjawab, “Ya. Menurut Prastawa tentu ada yang lebih menarik pada Angraeni daripada Kanthi. Tetapi pemilihan seseorang terhadap calon kawan hidupnya tidak semata-mata tergantung dari kecantikannya saja. Meskipun seseorang mendapat kesempatan untuk memilih yang lebih cantik, tetapi dapat saja ia memilih yang kurang cantik karena terdapat beberapa persesuaian dengan dirinya.”

“Ya. Ya. Kau benar,” sahut Wacana dengan serta merta. Lalu katanya, “Jodoh memang tidak dapat diburu.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa Wacana pun pernah mengalami kekecewaan yang sangat karena seorang gadis sama sekali tidak menyadari, bahwa gadis itu telah dicintai oleh Wacana.

Untuk beberapa saat mereka pun kemudian terdiam. Glagah Putih mengusap keringatnya. Dilihatnya, Ki Jayaraga bersandar dinding sambil memejamkan matanya. Namun ketika pembicaraan Glagah Putih dan Wacana yang tidak terlalu keras itu terdiam, maka Ki Jayaraga telah membuka matanya.

“Aku memang merasa sangat letih,” desis Ki Jayaraga.

“Kenapa guru tidak beristirahat didalam bilik dan barangkali dapat tidur lebih nyenyak?” bertanya Glagah Putih.

“Disini aku dapat tidur. Justru karena aku mendengar derap kaki kalian berlatih atau pembicaraan kalian yang lamat-lamat. Tetapi justru tidak di bilikku yang sepi,” jawab Ki Jayaraga dengan suara yang mengambang.

Namun Ki Jayaraga pun kemudian telah bangkit dan berkata kepada Glagah Putih, “Glagah Putih. Cepat bersiap. Kita akan berlatih bersama.”

Glagah Putih tidak dapat menolak perintah gurunya. Ia segera bangkit dan bersiap untuk berlatih langsung bersama gurunya. Mula-mula gerakan mereka lamban saja. Namun semakin lama semakin cepat. Ketika tubuh Ki Jayaraga sudah menjadi panas, maka latihan itu pun menjadi semakin keras.

Namun Glagah Putih memang bukan lagi pemula. Bahkan Glagah Putih telah mendapat kepercayaan dari gurunya untuk mewarisi ilmu Sigar Bumi. Karena itu, maka latihan itu pun kemudian rasa-rasanya telah mengguncang sanggar itu sendiri.

Wacana telah sering melihat Glagah Putih berlatih. Ia pun pernah melihat Ki Jayaraga berada di sanggar. Namun latihan itu telah membuat Wacana menjadi bingung.

Dengan saksama ia mengikuti gerak keduanya. Namun Kadang-kadang Wacana seakan-akan telah kehilangan satu dua unsur gerak yang terlampaui oleh pengamatannya.

“Luar biasa,” desis Wacana, “aku ingin dapat berbuat setidak-tidaknya ketrampilan dan kemampuan mengungkap tenaga dalam.”

Sebenarnyalah bahwa Wacana juga memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi dengan menyaksikan Glagah Putih berlatih bersama gurunya, maka Wacana merasa dirinya menjadi kecil.

Tetapi Wacana pun merasa bahwa ia mendapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya. Glagah Putih telah mengatakan kepadanya, bahwa anak muda itu sama sekali tidak berkeberatan untuk berlatih bersamanya sehingga memungkinkannya mengenali berapa unsur baru yang berarti bagi ilmunya.

Demikian latihan yang dilakukan oleh Ki Jayaraga dan Glagah Putih justru telah mengungkapkan segala tenaga dan kemampuan mereka, namun tidak sampai merambah memasuki batas ilmu-ilmu puncak mereka.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Jayaraga telah memberi isyarat untuk menghentikan latihan. Dengan demikian maka keduanya pun telah mengambil jarak, meletakkan tenaga mereka dengan gerakan-gerakan khusus. Baru kemudian mereka melangkah menepi.

Keduanya nampak berkeringat. Glagah Putih bahkan seperti orang yang baru saja membenamkan diri di belumbang dengan seluruh pakaiannya.

Namun dengan nada ringan Ki Jayaraga berkata, “Nah, aku sudah tidak merasa letih dan tidak kantuk lagi.”

Glagah Putih tersenyum sambil menjawab, “Yang terjadi padaku justru sebaliknya guru. Aku menjadi sangat letih sekarang.”

“Beristirahatlah,” berkata gurunya, “aku akan pergi ke pakiwan.”

“Guru masih basah oleh keringat,” berkata Glagah Putih.

“Aku tidak akan segera mandi,” jawab Ki Jayaraga. Demikian Ki Jayaraga keluar, maka Wacana pun berdesis, “Aku ingin berlatih bersamamu.”

“Baik. Kapan saja kita mempunyai waktu. Tentu saja jika keadaanmu sudah pulih kembali,” jawab Glagah Putih.

“Aku sudah merasa bahwa tenaga dan kekuatan serta daya tahanku telah pulih kembali.”

“Kita dapat mulai sedikit demi sedikit,” jawab Glagah Putih yang kemudian telah duduk disamping Wacana untuk mengeringkan keringatnya.

Ketika kemudian mereka keluar dari sanggar, maka mereka memang melihat Ki Jayaraga sedang menarik senggot timba untuk mengisi jambangan di pakiwan.

“Biarlah nanti aku isi, guru,” berkata Glagah Putih yang mendekatinya.

“Biar saja. Nanti aku kantuk lagi,” jawab Ki Jayaraga. Glagah Putih pun kemudian meninggalkan gurunya di pakiwan.

Berdua mereka pergi ke serambi gandok. Namun Wacana telah mulai berbicara lagi tentang Kanthi.

Demikianlah, maka sejak saat itu penghuni di rumah Agung Sedayu telah bertambah lagi. Di sore hari, seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka seisi rumah itu pun telah terkumpul. Tidak ada persoalan yang penting yang mereka bicarakan, namun pertemuan seperti itu dimaksudkan oleh Agung Sedayu untuk meningkatkan saling pengertian diantara seisi rumah itu. Agar masing-masing merasa bahwa mereka adalah satu keluarga. Saling mengerti dan saling mempedulikan yang satu dengan yang lain.

Dalam pertemuan itulah Wacana menjadi semakin mengenal Kanthi. Demikian pula Kanthi mulai mengenalnya.

Dihari-hari berikutnya, perkenalan Wacana dan Kanthi pun menjadi cepat akrab. Mereka berusaha untuk saling mengerti dan saling mempedulikan.

Namun setiap kali perasaan Kanthi masih saja selalu dihambat oleh keadaannya. Bagaimana pun juga Kanthi itu sedang mengandung yang tentu saja semakin hari menjadi semakin bertambah besar.

Tetapi dengan sengaja Wacana memang sering menyinggungnya. Ia ingin mengatakan kepada Kanthi, bahwa ia sudah mengetahui keadaan Kanthi seutuhnya. Wacana ingin mengatakan kepada Kanthi, bahwa sikapnya itu adalah sikap wajarnya dan tidak akan dikejutkan lagi oleh kenyataan tentang diri Kanthi.

Nampaknya hubungan Wacana dan Kanthi itu justru membuat Rara Wulan gembira. Gadis itulah yang paling banyak menaruh perhatian terhadap Kanthi yang menderita.

Sementara itu, Glagah Putih memang sudah menemui Prastawa di rumah Ki Gede. Glagah Putih telah menceriterakan apa yang telah terjadi di Kademangan Kleringan. Ia pun telah menceriterakan pula, bahwa Kanthi sekarang berada di rumah Agung Sedayu.

Prastawa mendengarkan keterangan Glagah Putih itu sambil mengangguk-angguk kecil. Bagaimana pun juga hatinya telah diketuk oleh kenyataan pahit yang dialami oleh Kanthi.

“Tetapi itu memang bukan salahmu,” berkata Glagah Putih. Lalu katanya selanjutnya, “yang kami minta sekarang adalah pengertianmu untuk tidak lewat didepan rumah kakang Agung Sedayu untuk beberapa hari ini.”

Prastawa mengangguk-angguk. Pandan Wangi yang ikut mendengarkannya berkata, “Kau harus mencoba untuk mengerti Prastawa. Meskipun Tanah Perdikan ini bebas kau jelajahi, apalagi mengingat tugas-tugasmu. Namun kau sebaiknya membiarkan Kanthi mendapat ketenangan di Tanah Perdikan ini sampai goncangan-goncangan jiwanya itu dapat terkendali.”

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti mbokayu. Tetapi kenapa Kanthi justru berada di Tanah Perdikan ini.”

“Ia tidak memilih. Hatinya yang gelap itu seakan-akan mendapat seberkas sinar terang ketika Rara Wulan datang, sehingga langsung telah mengambil keputusan untuk mengikutinya,” sahut Glagah Putih.

Prastawa memang dapat membayangkan gejolak perasaan Kanthi waktu itu, sehingga hampir saja Kanthi mengakhiri hidupnya dengan cara yang seharusnya tidak dilakukannya.

Namun dalam pada itu Swandaru pun berdesis, “Tetapi besok sore, paman Argajaya akan menerima utusan keluarga Angraeni yang akan menjawab lamarannya beberapa hari yang lalu. Jika kemudian ditentukan hari pernikahannya, apakah keramaian yang bakal diselenggarakan di Tanah Perdikan ini tidak terdengar oleh Kanthi sehingga akan dapat membuat luka di hatinya terasa pedih lagi?”

“Kanthi tidak pernah keluar dari halaman rumah, ia tidak pernah ikut mbokayu Sekar Mirah ke pasar dan bahkan tidak ke warung terdekat sekalipun,” jawab Glagah Putih.

“Tetapi suatu saat kakang Agung Sedayu dan Sekar Mirah akan ikut menjadi sibuk,” berkata Swandaru, “tentu Kanthi bertanya-tanya, diucapkan atau tidak, kenapa kakang Agung Sedayu dan Sekar Mirah harus mengenakan pakaian yang tidak dikenakannya sehari-hari. Bahkan Sekar Mirah tentu ikut membantu kesibukan di rumah paman Argajaya.”

“Tetapi bukankah yang menjadi lebih sibuk adalah keluarga Angraeni?” bertanya Glagah Putih.

“Tetapi tentu juga paman Argajaya,” jawab Swandaru.

“Katakan saja, Sekar Mirah mendapat tugas menyelenggarakan keramaian Merti Desa,” desis Pandan Wangi.

Swandaru tersenyum. Katanya, “Memang bukan sesuatu hal yang sangat sulit. Tetapi aku kira, sebaiknya Kanthi justru mengetahui, sehingga ia tidak merasa selalu dibayangi oleh kebohongan.”

Tetapi Pandan Wangi menjawab, “Tetapi harus dicari saat yang paling tepat untuk mengatakannya.”

Swandaru mengangguk-angguk, sementara Prastawa berkata, “Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak mengganggu ketenangan Kanthi. Ia datang kemari untuk melupakan pedih hatinya. Kita memang harus membantunya.”

Namun Glagah Putih ternyata juga mendapat pesan, agar Agung Sedayu besok sore berada di rumah Ki Argajaya, karena utusan keluarga Angraeni akan datang memberikan jawaban atas lamaran Ki Argajaya, meskipun sebenarnya jawaban itu sudah diketahuinya.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa pesan itu harus disampaikannya tanpa didengar oleh Kanthi.

Namun perkenalan dan kemudian hubungan sehari-hari antara Kanthi dan Wacana nampak menjadi semakin akrab. Setiap kali Wacana berusaha untuk membantu apa saja yang dilakukan oleh Kanthi.

Kanthi sendiri merasakan satu sikap yang lain dari Wacana. Anak muda itu sangat memperhatikannya. Ia banyak membantunya dan sekali-sekali memberinya beberapa petunjuk tentang hidup dan kehidupan.

Sebelumnya Kanthi sudah lama mengenal Prastawa. Bahkan ia pernah merasa betapa hatinya telah terjerat oleh anak muda itu. Tetapi Prastawa tidak memperhatikannya sebagaimana Wacana. Prastawa pun tidak memberinya petunjuk-petunjuk yang mendalam tentang hidup dan kehidupan.

Jika Prastawa menemuinya di rumahnya, wajahnya memang nampak cerah. Senyumnya selalu menghiasi bibirnya. Tetapi ia lebih banyak berbicara tentang keadaan sehari-hari di Tanah Perdikan dan di Kademangan Kleringan. Pembicaraan yang tidak membekas karena hanya sekedar menyentuh permukaan.

Yang membekas di hati Kanthi adalah justru wajah dan senyum Prastawa yang ceria.

Tetapi tidak demikian dengan Wacana. Anak muda ini lebih bersungguh-sungguh menanggapi hidup dan kehidupan. Menurut pendapat Kanthi, maka Wacana adalah salah satu sosok seorang laki-laki yang dapat menjadi pelindung bagi keluarganya.

Namun setiap kali Kanthi terdampar pada kenyataan tentang dirinya. Setiap ia menyadari keadaan dirinya, maka ia segera merasa rendah diri dan bahkan sekali-sekali melemparkannya kedalam satu keadaan tiada berpengharapan.

Namun Kanthi masih juga dibayangi oleh satu kebimbangan. Wacana telah mengetahui dengan pasti akan keadaannya. Tetapi sikapnya memberikan kehangatan atas satu pengharapan.

Sementara itu, ketika tiba saatnya Ki Argajaya menerima utusan dari keluarga Angraeni maka Agung Sedayu dan Sekar Mirah telah pergi ke rumah Ki Gede. Tetapi mereka berniat untuk berbenah diri di rumah Ki Gede. Bahwa Swandaru dan Pandan Wangi ada di rumah Ki Gede akan dapat mengurangi keseganan Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

Ketika Agung Sedayu dan Sekar Mirah pergi, maka Kanthi memang bertanya tentang mereka. Tetapi Rara Wulan yang sudah mendapat pesan dari Sekar Mirah menjawab, “Mereka dipanggil oleh Ki Gede, sehubungan dengan peningkatan kesiapan Mataram menghadapi kemelut dengan Pati.”

Kanthi hanya mengangguk-angguk saja. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi justru timbul kecemasan bahwa akan timbul keadaan yang kurang baik oleh akibat peperangan, jika perang itu benar-benar terjadi kelak. Karena sedikit-sedikit Kanthi pernah mendengar hubungan antara Mataram dan Pati menjadi gelap.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Sekar Mirah pun seperti direncanakan telah berbenah diri di rumah Ki Gede. Mereka berterus terang bahwa mereka sengaja menghindari pertanyaan Kanthi.

“Jika kau perlakukan Kanthi seperti itu, maka ia tentu akan menjadi sangat manja,” berkata Swandaru.

“Tentu tidak seterusnya. Kakang,” Pandan Wangi lah yang justru menyahut, “Kanthi baru saja tergoncang jiwanya, bahkan setelah ia mencoba membunuh diri. Sekarang ia sedang berusaha mencapai keseimbangan perasaan dan penalarannya kembali.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku akan berusaha untuk mengerti.”

Tetapi Pandan Wangi justru bertanya, “Apakah kira-kira usaha kakang itu berhasil?”

Swandaru terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil menjawab, “Aku akan berhasil.”

Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Agung Sedayu pun tersenyum pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, mereka pun telah pergi ke rumah Ki Argajaya. Bahkan Ki Gede pun berkenan pergi pula, karena Prastawa kecuali kemenakannya, maka ia adalah pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Sore itu, beberapa orang tamu telah datang ke rumah Ki Argajaya. Mereka adalah orang-orang yang dituakan oleh keluarga Angraeni dengan beberapa orang pengiringnya.

Sebenarnya memang tidak ada masalah apa-apa. Segalanya sudah dapat diketahui, bahwa keluarga Angraeni datang untuk menerima lamaran Ki Argajaya, bahwa Angraeni akan diperisteri oleh Prastawa.

Tetapi ketika Ki Argajaya bertanya, apakah keluarga Angraeni sudah mempunyai ancer-ancer waktu, maka utusan keluarga Angraeni itu menjawab, “Sama sekali belum Ki Argajaya. Segala sesuatunya kami serahkan kepada Ki Argajaya.”

“Tetapi bukankah ajang peralatan itu nanti berada di rumah calon penganten perempuan?” bertanya Ki Gede.

“Benar Ki Gede, tetapi segala sesuatunya kami menunggu perintah dari sini.”

“Tentu bukan perintah,” sahut Ki Argajaya, “kita akan membicarakan bersama.”

“Bagaimana kalau sepekan lagi,” tiba-tiba Swandaru memotong, “jika hanya sepekan, aku akan menunggu.”

“Ah,” Pandan Wangi berdesah. Tetapi ia pun segera terdiam. Ia sadar, bahwa ia tidak berwenang untuk menjawab.

Ternyata utusan keluarga Angraeni yang dituakan itulah yang menjawab, “Maafkan ngger. Jika sepekan lagi, maka kami akan menjadi sangat tergesa-gesa.”

Ki Jayaraga yang mendahului Agung Sedayu, dan langsung pergi ke rumah Ki Argajaya itu pun tertawa pula. Katanya, “Tentu tidak mungkin. Jika pernikahan itu harus diselenggarakan sepekan lagi, maka mulai besok, keluarga calon penganten itu harus sudah berbelanja, mulai memasak dan jika Prastawa harus memakai upacara ngenger, malam nanti Prastawa harus berangkat.”

Swandaru pun tertawa. Katanya, “Nampaknya aku terlalu memikirkan diri sendiri.”

Ki Argajaya lah yang kemudian berkata, “Sebaiknya, kami serahkan rencana saat pernikahan itu kepada keluarga calon pengantin perempuan. Hari, pasaran, tanggal bulan dan baik dan waktunya, apakah pagi, siang atau sore hari. Kami akan menyesuaikan diri, karena kesibukan itu akan berlangsung di rumah calon penganten perempuan. Untuk itu kami cukup diberitahukan saja.”

Utusan keluarga calon penganten perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Nanti, kami akan membicarakannya dengan seluruh keluarga. Dalam sepekan ini kami akan memberitahukan hasilnya.”

“Sebelum akhir pekan,” sahut Swandaru, “aku hanya tinggal sepekan berada di Tanah Perdikan ini. Sebelum kami pulang, hendaknya kami sudah tahu, kapan kami harus datang kembali kemari. Mudah-mudahan kami tidak sedang berada di medan perang.”

“Tentu tidak,” jawab Ki Gede, “jika perang terjadi sebelum hari pernikahan, maka pernikahan itu tentu dengan sendirinya akan tertunda.”

Demikianlah, maka pembicaraan itu pun segera berakhir. Tetapi untuk beberapa saat, maka para tamu itu masih duduk berbincang-bincang tentang banyak hal yang menyangkut padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan.

Namun akhirnya para tamu itu pun telah mohon diri meninggalkan rumah Ki Argajaya.

Sepeninggal para tamu utusan keluarga calon penganten perempuan, maka Ki Gede pun telah minta diri pula. Agung Sedayu dan Sekar Mirah akan singgah di rumah Ki Gede untuk berganti pakaian sebagaimana mereka berangkat dari rumah. Ki Jayaraga yang keluar dari rumah tidak bersama mereka dan langsung pergi ke rumah Ki Argajaya, akan langsung pulang.

Swandaru memang masih mentertawakan mereka, seakan-akan seisi rumah itu telah dikendalikan oleh kehadiran Kanthi.

Tetapi Pandan Wangi pula yang berkata, “Apa salahnya menjaga perasaan seseorang? Jika Ki Jayaraga berangkat dan pulang bersama-sama dengan kakang Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka Kanthi akan dapat bertanya-tanya. Jika saja pertanyaan itu terucapkan, maka akan dapat diberikan penjelasan, meskipun harus berbohong. Tetapi jika pertanyaan itu disimpan didalam hatinya, maka pertanyaan itu akan dapat mengganggu keseimbangan jiwanya yang sudah mulai membaik.”

Swandaru masih tertawa sambil mengangguk-angguk, “Ya. Ya. Aku mengerti.”

Sementara itu, maka di rumah, Glagah Putih masih sedang berada di kandang kuda. Sementara Rara Wulan berada di dapur untuk menjerang air. Kanthi ternyata juga berada di dapur membantu Rara Wulan.

“Sudahlah Kanthi,” berkata Rara Wulan, “kau tidak boleh terlalu banyak melakukan sesuatu.”

“Bukankah aku tidak berbuat apa-apa kecuali menunggui api agar tetap menyala?” sahut Kanthi.

“Tetapi tidak baik bagimu untuk duduk terlalu lama diatas dingklik yang rendah itu,” berkata Rara Wulan kemudian.

Kanthi memang bangkit. Tetapi ketika ia melihat air di gentong yang sudah tinggal sedikit, maka ia pun telah mengambil klenting untuk mengisi gentong.

Untunglah Rara Wulan melihatnya, sehingga cepat-cepat ia mencegahnya, “Jangan. Biarlah nanti orang lain yang mengisinya. Biasanya kakang Glagah Putih atau anak itu.”

“Aku tidak melihat kakang Glagah Putih,” sahut Kanthi, “Sukra agaknya juga sedang pergi.”

Rara Wulan mengerutkan dahinya, ia justru bertanya, “Siapa yang kau maksud dengan Sukra?”

“Anak itu,” jawab Kanthi.

“Anak yang mana?” desak Glagah Putih.

“Anak yang disini. Tentu anak yang kau maksudkan untuk mengisi gentong itu.”

“O,” Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa?” bertanya Kanthi.

“Namanya bukan Sukra,” jawab Rara Wulan.

“Siapa? Aku dengar kakang Glagah Putih pernah memanggilnya Sukra.”

Rara Wulan Tersenyum. Katanya, “Aku juga pernah bingung memanggil anak itu. Sehingga aku pernah menanyakannya. Menurut kakang Agung Sedayu, nama sebenarnya adalah Gatra Bumi. Tetapi anak itu malu setiap kali ia mendengar namanya sendiri. Nama itu merupakan beban yang terlalu berat. Karena itu, ia lebih senang dipanggil dengan nama apa saja. Bahkan jarang sekali anak itu di panggil dengan sebuah nama.”

“Jadi?” bertanya Kanthi.

“Karena anak itu senang sekali ikan Tambra, maka kakang Glagah Putih sering memanggilnya Tambra. Sering pula dipanggilnya Kampret atau nama apa pun. Tetapi lebih sering dipanggil dengan Tole,” jawab Rara Wulan.

Kanthi mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Tetapi nampaknya anak itu tidak berkeberatan aku panggil Sukra. Biarlah aku memanggilnya Sukra untuk seterusnya.”

Rara Wulan tertawa. Katanya, “Yang lain tentu tidak berkeberatan. Kakang Glagah Putih, kakang Agung Sedayu dan yang lain tentu tidak berkeberatan pula.”

Ternyata ketika Glagah Putih kemudian masuk ke dapur, Rara Wulan pun telah mengatakannya kepadanya, bahwa anak yang ada di ramah itu sebaiknya dipanggil dengan sebuah nama.

Glagah Putih pun tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada anak itu. Jika ia tidak berkeberatan, maka jadilah namanya Sukra.”

Ketika senja kemudian menjadi gelap, maka Ki Jayaraga pun telah pulang lebih dahulu. Tetapi baik Glagah Putih mau pun Rara Wulan tidak bertanya sama sekali kepada Ki Jayaraga tentang kepergiannya.

Baru beberapa saat kemudian, maka Agung sedayu dan Sekar Mirah pun kembali pula.

Kanthi memang tidak melihat sesuatu yang perlu dipertanyakan kepada Ki Jayaraga atau kepada Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Sementara itu Ki Jayaraga, Agung Sedayu dan Sekar Mirah sama sekali tidak membicarakan rencana pernikahan Prastawa.

Malam itu, maka Glagah Putih telah mengajak anak yang tinggal di rumah itu untuk berlatih. Setelah beberapa saat anak itu beristirahat setelah makan malam, maka Glagah Putih membawanya untuk melakukan latihan-latihan ringan di kebun belakang.

Namun sebelum mereka mulai berlatih, Glagah Putih pun berkata, “He, Kampret, kau sekarang mempunyai sebuah nama.”

“Jangan panggil namaku,” jawab anak itu, “menurut orang tua-tua, nama yang menjadi beban terlalu berat, akan dapat membuat seseorang menjadi sakit-sakitan.”

“Tidak. Kau mempunyai nama baru. Kanthi yang memberikannya,” berkata Glagah Putih.

“Kanthi orang baru itu?” bertanya anak itu.

“Ya. Nampaknya kau sangat menarik perhatiannya. Baginya kau adalah anak yang rajin dan mengerti tugas-tugas yang harus kau lakukan. Karena itu ia ingin memberimu nama agar ia dapat memanggilmu dengan mudah,” berkata Glagah Putih.

“Kenapa tiba-tiba namaku menjadi persoalan? Bukankah selama ini tidak ada masalah apapun dengan namaku?” bertanya anak itu.

“Kau akan selalu dipanggil Sukra. Ceriterakan kepada kawan-kawanmu yang memanggilmu Kampret. Bahwa namamu adalah Sukra,” berkata Glagah Putih kemudian.

Anak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Nama itu memang lebih baik.”

Glagah Putih tersenyum. Namun kemudian katanya, “Nah, marilah. Kita akan mulai berlatih. Kita akan berlatih di udara terbuka kali ini. Kita lihat, apakah nanti kita perlu pindah ke sanggar atau tidak. Latihan ini memang memerlukan tempat yang agak luas.”

Anak itu mengangguk kecil. Ia tidak lagi berani bersikap seenaknya lagi kepada Glagah Putih.

Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah mulai dengan latihan-latihan dasar olah bela diri. Glagah Putih telah memperkenalkan anak itu dengan langkah-langkah panjang. Langkah-langkah yang akan dapat memberikan arti bagi ketahanan tubuh dan pernafasannya.

Dengan sungguh-sungguh anak itu mengikuti segala petunjuk Glagah Putih. Anak itu benar-benar ingin dapat menguasai dasar-dasar ilmu bela diri.

Dengan demikian, maka anak itu mampu menguasai beberapa unsur gerak dalam waktu yang terhitung cepat.

Menjelang tengah malam, maka anak itu pun telah nampak mulai menjadi letih. Karena itu, maka Glagah Putih pun kemudian telah mengakhiri latihan-latihan itu.

“Kau tidak usah terlalu memaksa diri, karena justru dengan demikian akan dapat mengganggu perkembangan kewadaganmu.”

Anak itu tidak berani lagi membantah. Ketika Glagah Putih minta ia meletakkan ungkapan tenaganya dengan mengatur pernafasannya dengan cara yang telah diajarkannya, maka anak itu pun segera melakukannya.

Setelah beristirahat dan setelah membersihkan dirinya dan berganti dengan pakaian yang tidak basah oleh keringat, maka Glagah Putih pun telah pergi ke serambi gandok. Ternyata Wacana juga belum tidur. Ia pun duduk di amben bambu di serambi gandok pula.

“Kau belum tidur,” bertanya Glagah Putih yang kemudian duduk di sebelahnya.

“Kau juga belum,” sahut Wacana.

“Aku baru saja berlatih bersama anak itu,” jawab Glagah Putih, “nampaknya ia bersungguh-sungguh ingin menguasai kemampuan bela diri.”

Wacana mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ia tidak begitu tertarik mendengarnya.

Namun tiba-tiba saja diluar dugaan Glagah Putih, Wacana itu bertanya, “Setelah beberapa hari berada disini, bagaimana pendapatmu tentang Kanthi?”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Dengan agak ragu ia bertanya, “Maksudmu?”

Wacana menarik nafas dalam-dalam. Untuk beberapa saat anak muda itu merenung. Namun kemudian betapapun ia ragu-ragu, namun ia pun berkata, “Glagah Putih. Kanthi membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi sisihannya. Dengan demikian ia akan dapat dibebaskan dari penderitaan batin saat anaknya lahir.”

Diluar sadarnya Glagah Putih memandangi wajah Wacana dengan dahi yang berkerut. Dengan nada rendah ia berkata, “Benar Wacana. Tetapi tentu dibutuhkan seseorang yang mau menerimanya secara utuh.”

“Tentu Glagah Putih. Orang yang bersedia menjadi suaminya harus orang yang sudah mengetahui keadaannya, menerima tanpa syarat,” jawab Glagah Putih.

“Ya. Jika tidak, maka pada saat bayinya akan lahir, maka perasaan dan penalarannya yang kini mulai menjadi seimbang akan terguncang lagi. Bahkan mungkin lebih keras. Anak itu baginya akan menjadi beban yang tidak akan dapat diletakkannya.”

“Aku sependapat, Wacana,” berkata Glagah Putih, “tetapi tentu diperlukan seseorang yang bersedia melakukannya dengan penuh kesadaran.”

“Glagah Putih,” suara Wacana merendah, “aku sudah mengetahui keadaan Kanthi. Tetapi aku juga mengetahui bahwa ia memerlukan seseorang yang membantunya mengatasi goncangan-goncangan perasaannya di saat bayi lahir.”

“Maksudmu?” bertanya Glagah Putih.

“Aku bersedia menjadi orang yang dapat membantunya itu.” berkata Wacana sambil memandang kekejauhan.

Glagah Putih menarik nafas panjang. Ia tidak terkejut karena ia sudah menduganya. Meskipun demikian, Glagah Putih itu pun kemudian berkata, “Wacana. Apakah tegasnya kau bersedia menikah dengan Kanthi? Begitu maksudmu?”

“Ya,” jawab Wacana.

“Aku kagum akan kebesaran jiwamu. Meskipun demikian, maka kau sebaiknya memikirkannya lagi. Jika sebuah perkawinan hanya didasari karena rasa belas kasihan, maka perkawinan itu tidak berdiri atas alas yang kokoh. Pada suatu saat, keadaan yang menimbulkan rasa belas kasihan itu tidak nampak lagi. Jika hidup menjadi tegar kembali serta harapan semakin cerah dimasa datang, masa rasa kasihan itu akan berangsur hilang. Apakah pada saat yang demikian perkawinan itu akan menjadi goncang.”

“Glagah Putih,” berkata Wacana dengan nada berat, “Jika aku bersedia menjadi suaminya, dasarnya bukan semata-mata belas kasihan. Setelah aku mengenalnya dari dekat, maka aku yakin bahwa Kanthi adalah seorang perempuan yang baik. Ia akan menjadi seorang yang setia dan mengerti akan tugasnya. Terus terang Glagah Putih, aku seakan-akan telah menemukan apa yang pernah hilang dari padaku beberapa waktu yang lalu.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kau harus ingat, bahwa didalam diri Kanthi terdapat seorang yang kelak akan dapat mengingatkanmu tentang keadaan Kanthi sekarang ini.”

“Aku sudah memikirkannya berulang kali Glagah Putih. Aku tentu akan dapat melupakannya. Aku akan dapat menganggap sebagai anakku sendiri, justru karena aku sudah mengetahui sebelumnya. Aku akan merasa tersiksa kelak jika aku sebelumnya tidak mengetahuinya,” jawab Wacana.

Glagah Putih kemudian bergumam, “Aku sangat menghargai sikapmu Wacana. Apakah kau pernah berbicara dengan Kanthi, langsung atau tidak langsung?”

“Belum Glagah Putih. Aku takut,” jawab Wacana.

“Kenapa takut?” bertanya Glagah Putih.

“Kanthi akan dapat menjadi salah paham. Seperti katamu, ia dapat mengira aku hanya sekedar mengasihaninya,” jawab Wacana.

“Jadi, bagaimana mungkin Kanthi mengetahuinya, jika kau tidak mengatakannya?” bertanya Glagah Putih.

Wacana tidak menjawab. Tetapi wajahnya justru tertunduk lesu.

Sekali-kali diusapnya keringat yang membasah di kening.

“Wacana” berkata Glagah Putih kemudian, “jika aku boleh bertanya, bukankah kau sudah menjadi semakin akrab dengan Kanthi dalam waktu yang singkat? Dengan demikian agaknya sudah dapat menjajaginya, bagaimana sikap dan perasaan Kanthi terhadapmu.”

Wacana termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Glagah Putih. Nampaknya Kanthi sangat dekat dengan Rara Wulan. Seakan-akan ada ikatan dan bahkan ketergantungan perempuan itu kepada Rara Wulan. Karena itu, aku minta tolong kepadamu Glagah Putih. Katakan kepada Rara Wulan persoalanku ini. Jika yang menyampaikan hal itu kepada Kanthi adalah Rara Wulan sendiri, maka tanggapan Kanthi tentu akan berbeda.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia menyahut, “Aku mengerti Wacana. Biarlah Rara Wulan mengatakannya.”

“Terima kasih, Glagah Putih. Tetapi aku mohon Rara Wulan berhati-hati agar Kanthi tidak menjadi salah paham,” desis Wacana.

“Baiklah. Mudah-mudahan niat baik yang memancar dari kebesaran jiwamu itu dapat terlaksana. Semuanya akan ikut bergembira. Tentu saja kakang Agung Sedayu, mbokayu Sekar Mirah akan menyambut dengan gembira. Demikian juga Ki Jayaraga. Menurut pendapatku, yang juga akan menyambut dengan sepenuh hati adalah Prastawa. Ia akan merasa terlepas dari satu himpitan perasaan bersalah, meskipun sebenarnya ia tidak bersalah.”

“Ya. Prastawa memang tidak bersalah,” desis Wacana.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat jalan keluar yang baik bagi Kanthi. Namun demikian, Glagah Putih berniat untuk berbicara dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah lebih dahulu sebelum ia minta kepada Rara Wulan untuk menyampaikannya kepada Kanthi.

Malam itu, Wacana dapat tidur nyenyak. Ia merasa bahwa sebagian bebannya telah diletakkannya. Ia berharap bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan benar-benar bersedia membantunya.

Pagi berikutnya, Glagah Putih benar-benar telah menyampaikannya kepada Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Ketika Sekar Mirah meletakkan minuman hangat di ruang dalam, maka Glagah Putih telah minta untuk berbicara sejenak.

“Apa yang akan kau bicarakan?” bertanya Sekar Mirah.

Glagah Putih berdesis, “Penting. Tentang Wacana. Dimana kita dapat berbicara bersama kakang Agung Sedayu?”

Sekar Mirah pun kemudian menyampaikannya kepada Agung Sedayu yang sedang berbenah diri dan mengenakan pakaian keprajuritan didalam biliknya.

“Panggil Glagah Putih Kemari,” desis Agung Sedayu.

Didalam bilik Agung Sedayu, maka Glagah Putih telah menyampaikan persoalan Wacana dalam hubungannya dengan Kanthi.

“Bukan sekedar karena belas kasihan,” berkata Glagah Putih kemudian.

“Aku percaya kepada Wacana,” desis Agung Sedayu, “ia merasa menemukan kembali apa yang pernah hilang dari padanya, meskipun sudah tentu bobotnya yang tidak sama. Tetapi aku pun melihat bahwa Kanthi akan dapat menjadi seorang isteri yang baik. Pengalaman pahit yang pernah terjadi atas dirinya akan membantu membuatnya lebih berhati-hati melintas langkah-langkah kehidupan.”

“Menurut pendapatku, pada dasarnya Kanthi adalah anak yang baik,” sahut Sekar Mirah, “tetapi bagaimana dengan anak yang dikandungnya?”

“Wacana menyadari sepenuhnya akan kehadiran, seorang anak segera setelah pernikahannya. Tetapi menurut Wacana, justru karena hal itu sudah diketahuinya, maka tidak akan menjadi beban yang berkelebihan baginya kelak.”

“Baiklah,” berkata Agung Sedayu, “aku tidak berkeberatan.”

“Apakah mbokayu juga tidak berkeberatan?” bertanya Glagah Putih.

“Aku juga tidak berkeberatan,” jawab Sekar Mirah.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian aku akan berbicara dengan Rara Wulan nanti.”

“Katakanlah. Mudah-mudahan Kanthi tidak menjadi salah paham, atau justru karena ia merasa rendah diri dan bersalah, sehingga ia merasa tidak berhak untuk menerima uluran tangan itu,” berkata Sekar Mirah selanjutnya.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak, ia sadar, bahwa apa yang harus dilakukan oleh Rara Wulan bukan satu hal yang mudah. Justru karena persoalannya langsung menyentuh dasar hatinya yang paling dalam.

Ketika kemudian sesudah makan pagi Agung Sedayu berangkat ke barak, maka Glagah Putih telah berbicara pula dengan Ki Jayaraga tentang maksud Wacana dan pertimbangan Agung Sedayu serta Sekar Mirah.

Tetapi Ki Jayaraga kemudian berkata, “Sebaiknya Rara Wulan menyampaikan pesan Wacana itu bersama angger Sekar Mirah. Angger Sekar Mirah yang sudah lebih luas pengalaman hidupnya akan dapat memberikan beberapa pertimbangan jika Kanthi menjadi salah paham terhadap niat baik Wacana.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan minta kedua-duanya.”

Demikianlah, diluar pengetahuan Kanthi Glagah Putih telah berbicara dengan Rara Wulan dan Sekar Mirah.

Ketika Glagah Putih menyampaikan hal itu kepada Rara Wulan, maka Rara Wulan pun tidak terkejut lagi. Seperti Glagah Putih ia pun telah menduga, bahwa pada suatu saat Wacana akan sampai pada sikapnya itu.

Meskipun demikian, titik-titik air telah mengembun di pelupuk mata Rara Wulan. Dengan nada sendat ia berkata, “Aku berdoa dengan sungguh-sungguh, agar niat itu dapat terlaksana. Wacana dan Kanthi yang hatinya telah pernah terluka itu, akan dapat saling mengisi untuk menemukan hari depan yang ceria.”

Ternyata Sekar Mirah pun tidak berkeberatan pula. Keduanya telah sepakat untuk berbicara dengan Kanthi sesudah makan malam.

Hari itu juga Glagah Putih telah berbicara dengan Wacana. Glagah Putih memberitahukan, bahwa Rara Wulan tidak berkeberatan untuk menyampaikan pesan Wacana. Bahkan bersama dengan Sekar Mirah.

“Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih,” desis Wacana.

“Mudah-mudahan niat baikmu itu dapat berakhir dengan baik pula,” sahut Glagah Putih.

Wacana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku benar-benar berharap agar aku tidak akan merasa kehilangan untuk kedua kalinya.”

“Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan, Wacana,” desis Glagah Putih kemudian.

Namun dengan demikian Glagah Putih pun menjadi cemas. Jika terjadi salah paham, maka hati kedua-duanya akan menjadi semakin terluka.

Hari itu tiba-tiba saja menjadi hari yang gelisah bagi seisi rumah Agung Sedayu kecuali Kanthi yang masih belum tahu, apa yang sedang direncanakan oleh seisi rumah itu. Mereka dibayangi oleh berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin Kanthi akan merasa berbahagia. Tetapi mungkin justru terjadi salah paham.

Tetapi baik Sekar Mirah, mau pun Rara Wulan berusaha untuk tidak menampakkan kegelisahannya kepada Kanthi yang sudah terbiasa membantu mereka di dapur.

Menjelang matahari sepenggalah, Ki Jayaraga sudah siap untuk pergi ke sawah. Sambil menjinjing cangkul ia berkata kepada anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu, “He, Sukra. Nanti jangan terlambat mengirim makan ke sawah.”

Anak itu memandang Ki Jayaraga dengan kerut di kening. Dengan senyum kecil Ki Jayaraga berkata, “Bukankah kau sekarang bernama Sukra? Nama yang sangat baik bagimu.”

Anak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku bernama Sukra. Aku senang pada nama itu.”

“Yang penting, jangan terlambat,” berkata Ki Jayaraga kemudian.

Demikian Ki Jayaraga pergi ke sawah, maka Wacana yang agaknya juga menjadi gelisah, berkata kepada Glagah Putih, “Aku akan ikut Ki Jayaraga ke sawah.”

Glagah Putih tersenyum. Ia melihat kegelisahan yang terbayang di wajah Wacana.

“Baiklah,” berkata Glagah Putih, “sebentar lagi aku juga akan pergi menemui para pengawal di rumah Ki Gede.”

Melihat Glagah Putih tersenyum, maka Wacana pun tersenyum pula, meskipun agak tertahan. Sementara Glagah Putih pun berkata, “Jangan gelisah Wacana. Seisi rumah ini akan berusaha membantu kalian berdua.”

“Terimakasih,” desis Wacana yang segera menyusul Ki Jayaraga. Seperti Ki Jayaraga Wacana pun membawa cangkul pula di pundaknya.

Sementara itu, Glagah Putih pun telah bersiap pula untuk pergi ke rumah Ki Gede menemui para pemimpin pengawal Tanah Perdikan yang merupakan bagian dari tugas-tugasnya di Tanah Perdikan.

“Aku tidak terlalu lama mbokayu,” berkata Glagah Putih ketika ia minta diri.

Ketika Glagah Putih sampai di rumah Ki Gede, maka ia melihat di pendapa beberapa orang telah berkumpul. Ki Gede nampaknya sedang memimpin sebuah pertemuan para bebahu Tanah Perdikan termasuk Prastawa dan beberapa orang pemimpin pengawal.

Ketika Ki Gede melihat Glagah Putih, maka ia pun berkata, “Nah, kebetulan kau datang ngger. Tadi pagi hampir saja Prastawa lupa akan datang memanggilmu ke rumah. Untunglah ia segera teringat dan membatalkannya. Tetapi kemudian ia terlupa untuk tidak menyuruh orang lain datang memanggilmu. Baru saja seorang pengawal aku perintahkan pergi ke rumahmu. Tetapi agaknya ia tentu bertemu dengan kau di jalan.”

“O,” Glagah Putih mengangguk, ia memang bertemu seorang pengawal di luar regol. Tetapi Glagah Putih tidak begitu menghiraukannya ketika pengawal itu berbalik dan berkata kepadanya, “Kebetulan, kau sudah datang.”

Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah ikut duduk pula bersama para bebahu dan pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Bahkan Swandaru pun ada diantara mereka.

“Kami sedang membicarakan perintah dari Mataram,” berkata Ki Gede.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Gede berkata selanjutnya, “Mataram memerintahkan agar kita meningkatkan kewaspadaan. Nampaknya hubungan Mataram dan Pati menjadi semakin buram. Segala upaya telah ditempuh. Namun belum ada tanda-tanda bahwa keadaan akan mereka. Kedua belah pihak berpegang kepada sikapnya masing-masing, karena masing-masing merasa berpijak kepada kebenaran.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Perintah serupa telah diterima pula oleh Agung Sedayu sebagai Lurah Prajurit dari Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh.

Namun Swandaru pun kemudian berdesis, “Agaknya perintah seperti ini juga disampaikan kepada Panglima Pasukan Mataram di Jati Anom dan tentu juga kepada Pasukan Pengawal Sangkal Putung.”

“Kakang Agung Sedayu juga sudah menerima perintah itu,” berkata Glagah Putih.

“Jika demikian, nampaknya sulit untuk mempertemukan lagi kedua orang yang semula diharapkan dapat membina keutuhan wilayah Pajang. Bayangan perang agaknya telah benar-benar menghantui rakyat Mataram dan Pati,” desis Ki Gede.

Tetapi Swandaru berkata, “Jika sudah tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan, maka perang itulah yang akan menentukan.”

“Perang selalu membawa akibat buruk kedua belah pihak” desis Ki Gede.

“Tetapi sebagai rakyat Mataram, maka kita tidak dapat berbuat lain. Apabila Panembahan Senopati memerintahkan maka perang itu akan terjadi dengan segala macam akibatnya.”

“Benar ngger. Tetapi penglihatan wajar kita dapat mengatakan, bahwa perang akan mengkesampingkan peradaban yang sudah terbina berbilang abad.”

Swandaru mengangguk-angguk. Namun ia berkata, “Aku mengerti. Tetapi sikap ini akan dapat membuat rakyat Mataram dan bahkan para prajurit menjadi ragu-ragu. Sementara itu prajurit Pati dengan tekad yang tinggi siap bertempur melawan Mataram. Tekad bagi para prajurit mempunyai pengaruh yang sangat besar didalam pertempuran. Prajurit yang ragu-ragu, bimbang dan memikirkan terlalu banyak pertimbangan tidak akan mencapai hasil yang setinggi-tingginya. Akibatnya, justru senjata lawan akan menikam jantungnya sendiri.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti pula jalan pikiran Swandaru.

“Baiklah,” berkata Ki Gede kemudian, “yang penting bagi kita sekarang adalah melaksanakan perintah Panembahan Senapati. Kita harus meningkatkan segala persiapan menghadapi segala kemungkinan. Meskipun tidak mengurangi tekad kita untuk melaksanakan perintah Panembahan, namun sudah tentu bahwa segala upaya untuk memecahkan persoalan tanpa mempergunakan kekerasan masih harus tetap dilaksanakan.”

Swandaru tidak menjawab lagi. Tetapi dihadapan para pengawal Sangkal Putung, Swandaru tentu akan bersikap lain!

Demikianlah, menghadapi perkembangan keadaan, maka Prastawa yang menunggu saat-saat pernikahannya itu, telah mendapat perintah untuk mempersiapkan para pengawal Tanah Perdikan dalam kesiagaan tertinggi. Sedangkan Glagah Putih telah mendapat tugas untuk sejauh dapat dilakukan dalam kesempatan yang sempit, meningkatkan kemampuan para pemimpin kelompok para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Gede pun memerintahkan kepada para bebahu untuk mempersiapkan persediaan kebutuhan yang mungkin harus disediakan Tanah Perdikan Menoreh untuk mendukung pertempuran yang mungkin terjadi. Persediaan bahan makanan, kelengkapan-kelengkapan lain yang diperlukan, termasuk mempersiapkan mereka yang memiliki kemampuan di bidang pengobatan.

Setiap pemimpin kelompok harus memeriksa kelengkapan para pengawal. Terutama senjata mereka, apakah cukup memadai. Mereka tidak hanya akan sekedar menghadapi segerombolan penjahat, tetapi mereka akan menghadapi sepasukan prajurit Pati yang mempunyai kemampuan yang tinggi apabila perang benar-benar pecah.

Demikianlah, maka ketika pertemuan itu berakhir, serta setelah para bebahu dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan meninggalkan pendapa rumah Ki Gede, Prastawa dan Glagah Putih masih tinggal dan duduk bersama Ki Gede dan Swandaru.

“Nah, kau harus cepat menyelesaikan persoalanmu sendiri, Prastawa,” berkata Swandaru sambil tersenyum.

Tetapi Prastawa itu pun menjawab, “Tidak terlalu mendesak kakang. Jika perlu persoalan pribadi itu akar dapat ditunda sampai keadaan menjadi tenang.”

“Tidak. Jika keadaan menjadi semakin suram, kau justru harus mempercepat dari pernikahanmu itu. Apapun yang terjadi kemudian, tetapi segala-galanya sudah jelas.”

Tetapi Prastawa tersenyum. Katanya, “Kami tidak tergesa-gesa kakang.”

“Mungkin kalian tidak tergesa-gesa. Tetapi semisal bisul, hendaknya sudah pecah dan tidak lagi terasa menyengat-nyengat.”

Prastawa justru tertawa. Ki Gede pun tertawa pula. Katanya, “Tetapi menurut perhitunganku, perang tidak akan segera pecah. Maksudmu tidak dalam beberapa pekan ini. Tetapi tentu masih berbilang bulan.”

Swandaru pun tersenyum pula. Katanya, “Mudah-mudahan kau tidak memiliki hari pernikahanmu di saat perang sudah meletus dan menyelenggarakan upacara pernikahan itu di medan, dengan minta agar para prajurit Pati beristirahat selama upacara berlangsung.”

Ki Gede dan Glagah Putih pun tertawa pula. Sementara Prastawa sendiri tertawa berkepanjangan.

Namun yang kemudian ditanyakan oleh Ki Gede kepada Glagah Putih, langkah-langkah apa yang telah diambil oleh Agung Sedayu menanggapi perintah dari Mataram.

Agaknya kakang Agung Sedayu sudah meningkatkan kesiagaan para prajuritnya. Menurut pendengaranku, ijin para prajurit yang ingin meninggalkan barak menengok keluarganya, semakin dibatasi.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita semuanya akan meningkatkan kesiagaan. Tetapi aku masih berharap bahwa persoalan Prastawa dapat diselesaikan lebih dahulu daripada perang.”

“Aku akan menepati rencanaku. Tetapi setelah sepekan aku tentu tidak akan dapat menundanya lagi. Namun setidak-tidaknya aku sudah tahu, kapan aku harus datang lagi kemari. Tentu dengan keterangan, jika keadaan masih memungkinkan.”

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Dalam dua tiga hari ini, keluarga Angraeni akan mengirimkan utusan mereka untuk memberitahukan beberapa kemungkinan yang dapat dipilih untuk menentukan hari-hari perkawinan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih pun berkata, “Kau akan berpacu dengan Kanthi. Kami seisi rumah, juga berharap agar Kanthi pun segera mendapat jalan keluar.”

Prastawa mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia berkata, “Semoga. Aku juga berdoa, agar Kanthi menemukan jalan keluar yang terbaik bagi dirinya.”

Dengan demikian, maka sejak hari itu, tugas Glagah Putih memang bertambah. Latihan-latihan khusus bagi para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan telah ditingkatkan, disesuaikan dengan meningkatnya kesiagaan Mataram menghadapi Pati yang nampaknya sulit untuk mendapatkan penyelesaian yang lebih lunak dari perang.

Prastawa dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan telah menentukan waktu latihan bagi para pemimpin kelompok di setiap padukuhan. Sementara Glagah Putih berjanji, agar latihan-latihan itu berjalan lebih baik, untuk minta agar Agung Sedayu bersedia mengirimkan beberapa orang prajurit dari Pasukan Khusus membantu memberikan latihan-latihan kepada para pemimpin kelompok dan kelompok-kelompok terpilih pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, disamping latihan-latihan yang akan diberikan oleh Glagah Putih serta para pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu.

Ketika Glagah Putih kemudian kembali dari rumah Ki Gede, maka yang tinggal di rumah hanyalah Sekar Mirah, Rara Wulan dan Kanthi. Ki Jayaraga dan Wacana ternyata masih berada di sawah, sementara anak yang kemudian dipanggil Sukra itu sedang pergi ke sawah pula untuk mengirim minuman dan makanan bagi Ki Jayaraga dan Wacana.

Kepada Sekar Mirah, Rara Wulan dan Kanthi. Glagah Putih menceriterakan peningkatan kesiagaan sebagaimana dilakukan oleh Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh.

“Bagaimana jika mbokayu juga diminta untuk memberikan latihan khusus bagi para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan atau kelompok-kelompok khusus?” bertanya Glagah Putih.

“Ah, bukankah kerjaku hanya di dapur?” sahut Sekar Mirah.

“Tetapi mbokayu pernah menjadi pelatih pula justru di barak pasukan khusus itu?” berkata Glagah Putih kemudian.

“Kita akan melihat keadaan dan sudah tentu kita harus berbicara dengan kakang Agung Sedayu. Aku kira, juga kakang Agung Sedayu dapat mengirim ampat atau lima orang prajurit pilihan, jumlah pelatih itu sudah akan mencukupi. Dengan latihan-latihan yang tertib dan teratur, maka kemampuan para pemimpin kelompok dan kelompok-kelompok khusus pengawal itu akan meningkat.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Meskipun ia tidak menjawab lagi, namun menurut pendapat Glagah Putih, dalam keadaan yang mendesak, diperlukan pelatih yang baik sebanyak-banyaknya, untuk meningkatkan latihan-latihan yang sudah diadakan sebelumnya, yang dianggap kurang memadai untuk menghadapi suasana yang menjadi semakin panas.

Ketika kemudian Ki Jayaraga dan Wacana kembali dari sawah, Glagah Putih telah menceriterakan pula pertemuan di rumah Ki Gede serta usaha meningkatkan kesiagaan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Ki Jayaraga berkata, “Banyak orang berilmu tinggi yang nampaknya mendukung atau bahkan memanfaatkan sikap Kangjeng Adipati Pati dengan pamrih pribadi. Itulah yang justru lebih berbahaya dari sikap Kangjeng Adipati sendiri.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Jayaraga pun berkata. “Aku kira angger Swandaru, maksudku Sangkal Putung, juga menerima perintah yang sama. Demikian pula angger Untara sebagai Panglima pasukan Mataram di Jati Anom.”

“Agaknya memang demikian,” sahut Glagah Putih, “kakang Swandaru juga berpendapat demikian. Sebenarnya kakang Swandaru juga ingin segera kembali ke Jati Anom. Tetapi nampaknya mbokayu Pandan Wangi masih ingin tinggal untuk tiga ampat hari lagi.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih berkata, “Semua orang yang dianggap mampu memberikan latihan-latihan keprajuritan atau latihan-latihan olah kanuragan, akan dimohon untuk membantu.”

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Tentu masih banyak tenaga-tenaga muda yang dapat melakukannya. Tetapi jika perlu, maka ampat atau lima orang pemimpin kelompok dapat datang ke rumah ini di sore hari untuk sekedar bermain-main.”

Glagah Putih pun tersenyum pula. Katanya, “Itu sudah cukup. Semakin banyak orang yang memberikan latihan, maka semakin luaslah wawasan dan pengalaman para pemimpin kelompok itu. Tetapi seandainya para pemimpin kelompok itu berlatih pada orang-orang tertentu, maka berbagai macam kemampuan dasar para pemimpin kelompok itu akan memberikan warna yang lain bagi para pengawal Tanah Perdikan.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya, “Warna yang berbeda-beda itu memang dapat membuat lawan mereka bertanya-tanya, karena bagi para prajurit, terutama yang tidak bersumber dari anak-anak padepokan, memiliki kesatuan sifat dan watak kemampuan dasar mereka, karena mereka mendapat tempaan dengan garis kemampuan dasar yang sama.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun menurut perhitungannya, di Tanah Perdikan itu terdapat cukup banyak orang yang berkemampuan untuk memberikan latihan-latihan dasar pada tataran yang lebih tinggi kepada para pemimpin kelompok.

Demikianlah hal yang sama telah diberitahukannya pula ketika Agung Sedayu kembali ke barak. Dengan nada dalam Agung Sedayu berkata, “Tentu semua pihak yang dianggap berkepentingan sudah mendapat perintah yang sama pula.”

“Apakah perang itu benar-benar akan meletus?” bertanya Glagah Putih.

“Agaknya memang sulit dihindarkan. Tetapi masih juga usaha-usaha dari kedua belah pihak untuk menemukan jalan keluar tanpa peperangan,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi kalau masing-masing tetap berdiri tegak pada pendiriannya, maka jarak diantara keduanya tentu tidak akan dapat dipertautkan. Apalagi masing-masing merasa berdiri diatas kebenaran,” desis Glagah Putih.

“Peristiwa itu akan dapat memperkaya pengertian kita tentang satu keyakinan terhadap kebenaran serta kebenaran itu sendiri,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia merenungi kata-kata Agung Sedayu itu. Tentang sudut pandang atas kebenaran.

Namun kemudian Glagah Putih telah menggeser pembicaraannya. Hampir bergumam Glagah Putih berkata, “Nanti malam, mbokayu Sekar Mirah dan Rara Wulan akan berbicara dengan Kanthi.”

“Keduanya memang harus segera dipertautkan. Aku yakin bahwa perasaan yang sama telah tumbuh pada keduanya,” desis Agung Sedayu.

Seperti yang direncanakan, maka ketika malam turun, setelah mereka makan malam, maka Sekar Mirah dan Rara Wulan masih duduk di ruang dalam bersama Kanthi. Sementara itu, Agung Sedayu, Ki Jayaraga duduk di pendapa, sedangkan Glagah Putih dan Wacana berada di serambi gandok.

Sekar Mirah dan Rara Wulan memang tidak langsung menyampaikan pesan Wacana kepada Kanthi. Tetapi mereka berbicara tentang banyak hal yang menyangkut perkembangan keadaan yang menjadi semakin hangat.

Sebagai istri prajurit, maka kemungkinan perang itu juga membayangi ketenangan Sekar Mirah. Tetapi karena Sekar Mirah sendiri memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri, maka agaknya ia dapat sedikit meredam kegelisahannya itu.

Namun akhirnya, Sekar Mirah mulai mengarahkan pembicaraan mereka kepada persoalan yang menyangkut Wacana dan Kanthi. Dengan hati-hati Sekar Mirah kemudian berkata, “Kanthi. Sebenarnya ada hal yang penting yang ingin disampaikan oleh Rara Wulan kepadamu. Sejak semula Rara Wulan selalu berusaha untuk menolongmu, melindungimu dan bahkan kemudian berusaha untuk dapat membantu mencarikan jalan keluar bagimu.”

Kanthi mengerutkan keningnya. Ia belum tahu maksud Sekar Mirah. Namun sebenarnya Kanthi tidak ingin berbicara tentang keadaannya. Ia ingin melupakannya. Setelah ia berada di rumah Sekar Mirah itu beberapa lama, ia merasakan bahwa hatinya mulai menjadi tenang. Meskipun demikian ia tidak dapat ingkar, bahwa di saat-saat ia teringat akan kandungannya, maka kegelisahan itu rasa-rasanya telah mengguncang perasaannya lagi.

Namun kehadiran Rara Wulan dan Sekar Mirah di dekatnya, rasa-rasanya dapat membuat hatinya tentang kembali.

Namun tiba-tiba kini ia dihadapkan pada satu pembicaraan tentang dirinya itu.

Kanthi memang menjadi gelisah. Ada beberapa hal yang membayang di angan-angannya. Kanthi memang merasa bahwa kehadirannya dapat menjadi beban bagi keluarga Agung Sedayu. Dengan demikian, setelah beberapa saat ini tinggal di rumah itu serta gejolak jiwanya mulai mereda, maka mungkin sekali Sekar Mirah akan mengirimkannya pula kembali ke Kleringan.

Rara Wulan yang melihat kegelisahan di wajah Kanthi itu pun kemudian berkata, “Kanthi. Aku melihat bahwa setelah kau berada di rumah ini beberapa saat, hatimu mulai menjadi tenang. Tetapi sudah tentu hal ini belum merupakan penyelesaian yang tuntas bagimu. Aku masih sering melihat kau merenung. Dan aku pun mengerti, apa yang sedang kau pikirkan.”

Kanthi menjadi semakin gelisah. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Kanthi,” berkata Rara Wulan Kemudian, “aku minta maaf, bahwa aku terlalu dalam mencampuri persoalan pribadimu. Tetapi hal itu aku lakukan, karena aku ingin membantumu memecahkan kesulitanmu sampai tuntas.”

Kanthi masih tetap berdiam diri. Meskipun sekali-sekali ia mengangkat wajahnya memandang sepasang mata Rara Wulan yang redup, namun kemudian ia pun segera menunduk kembali. Titik-titik air bahkan mulai menetes dari sepasang matanya yang basah.

“Kanthi,” berkata Rara Wulan dengan nada lembut, “bukankah seumur kita ini, menurut gelar lahiriah, masih akan menempuh jalan yang panjang?”

Kanthi masih belum tahu arah pembicaraan Ran Wulan, tetapi ia mengangguk kecil.

“Karena itu, Kanthi,” berkata Rara Wulan kemudian, “kita tidak boleh terpancang pada keadaan kita sekarang ini.”

Kanthi masih saja menunduk dalam-dalam.

“Sebaiknya kau lupakan keadaanmu Kanthi. Kau lihat kedalaman perasaanmu. Perasaanmu sebagai seorang perempuan dalam hubungannya dengan seorang laki-laki sesuai dengan kewajaran tingkah laku kita dalam kehidupan ini.”

Kanthi mengerutkan dahinya. Sejenak ia mengangkat wajahnya. Dipandanginya Rara Wulan dan Sekar Mirah sekilas mengucapkan sepatah kata pun.

Rara Wulan memang menjadi berdebar-debar. Namun didorongnya lidahnya untuk berkata, “Kanthi. Aku membawa pesan bagimu. Kau telah mendapat lamaran dari seseorang.”

Kanthi terkejut. Ketika ia mengangkat wajah sekali lagi, maka wajah itu nampak kemerah-merahan. Sejenak Kanthi justru bagaikan membeku.

“Kanthi,” Sekar Mirah pun berdesis dengan nada dalam, “aku harap kau menanggapinya dengan hati yang bening. Kau timbang dengan saksama dan kau tinjau dari segala sisi.”

Kanthi tidak segera menyahut. Namun tiba-tiba terdengar Kanthi itu terisak.

“Kenapa kau menangis Kanthi?” bertanya Rara Wulan yang matanya juga mulai menjadi basah.

“Rara,” desis Kanthi disela-sela isaknya, “kau tahu tentang keadaanku. Kau tahu apa yang telah terjadi atasku. Jika ada seseorang yang melamarku, bukankah itu hanya satu bayangan mimpi yang akan segera lenyap jika aku mulai terbangun? Atau justru sebuah ejekan yang sangat menyakitkan hati di saat luka didalam dadaku mulai sembuh atau sebuah lelucon yang kasar tanpa menghiraukan bahwa akibatnya akan sangat parah bagiku?”

“Tidak. Tidak Kanthi,” Rara Wulan mulai memeluk Kanthi yang isaknya semakin mengeras, “kau percaya kepadaku bukan?”

Kanthi mengangguk kecil.

“Jika kau percaya kepadaku, Kanthi. Dengarlah kata-kataku,” berkata Rara Wulan.

Kanthi mengangguk pula.

“Kanthi,” berkata Rara Wulan dengan sangat berhati-hati, “Apakah kau tidak merasa bahwa selama ini seseorang sangat memperhatikanmu. Seseorang yang menganggap bahwa kau adalah seorang perempuan yang akan dapat mengisi kekosongan hatinya.”

“Tetapi setelah orang itu mengetahui keadaanku, maka ia akan menganggap bahwa aku adalah sampah yang tidak pantas untuk dijamah,” desis Kanthi sambil terisak.

“Tidak, Kanthi,” jawab Rara Wulan, “orang itu tahu pasti, siapakah kau dan apa yang sedang kau sandang.”

“Tentu hanya didasari oleh perasaan belas kasihan. Rara, aku memang pantas untuk dikasihani. Tetapi aku tidak menginginkannya sama sekali,” jawab Kanthi.

“Bukan Kanthi, bukan karena belas kasihan. Tetapi ia memang berharap bahwa kau akan dapat menjadi seorang yang akan bersama-sama membina sebuah keluarga,” berkata Rara Wulan.

“Tidak. Itu tidak benar. Mungkin ia mengasihaniku. Tetapi mungkin ia justru ingin memanfaatkan keadaanku, sehingga pada suatu saat kelak akan dapat selalu menjadi landasan mengungkat keadaanku dalam setiap kesempatan agar ia dapat memaksakan kehendaknya kepadaku.”

“Kanthi,” berkata Sekar Mirah dengan suara yang sareh, “kau jangan terlalu curiga kepada semua orang. Mungkin hal semacam itu dapat dilakukan oleh orang-orang sejenis Wiradadi. Tetapi menurut pendapatku, tidak bagi orang yang melamarmu. Ia memang bukan seorang yang mempunyai banyak kelebihan dari orang lain. Ia dapat khilaf. Dapat kecewa, marah dan perasaan-perasaan lain sebagaimana kita. Ia bukannya orang yang tidak mempunyai cacat. Tetapi sikapnya terhadapmu Kanthi, aku tahu dan yakin, bahwa ia menyatakannya dengan tulus hati.”

“Bagaimana aku dapat meyakininya mbokayu. Aku adalah orang yang tidak berharga sama sekali. Dalam kewajaran, semua orang akan memalingkan wajahnya jika melihat aku. Jika ada orang yang berniat melamarku, itu justru tentu ada niat-niat yang tersembunyi didalam hatinya.”

“Kanthi,” Rara Wulan yang juga mulai terisak, “apa kau juga tidak percaya bahwa sikapku terhadapmu, sikap mbokayu Sekar Mirah, kakang Agung Sedayu, Kakang Glagah Putih, Ki Jayaraga sebagai sikap yang wajar?”

“Aku percaya Rara. Aku percaya,” jawab Kanthi dengan serta merta.

“Nah, Kanthi. Bagaimana perasaanmu terhadap Wacana?” bertanya Rara Wulan kemudian.

Jantung Kanthi berdesir. Ia mempunyai penilaian tersendiri terhadap anak muda itu. Anak muda yang sikapnya menunjukkan kedewasaannya berpikir dan berbuat.

Ketika nama itu disebut, Kanthi menundukkan kepalanya. Isaknya masih saja mengguncang tubuhnya, sementara Rara Wulan memeluknya semakin erat.

“Kanthi,” desis Rara Wulan, “Wacana minta kepada kakang Glagah Putih, agar aku bersedia menyampaikan perasaannya itu kepadamu. Jika kau tidak berkeberatan, tentu Wacana akan datang menemui orang tuamu.”

“Tidak,” suara Kanthi bagaikan meledak disela-sela isaknya, “ia akan tersiksa di sepanjang hidupnya. Ia orang yang baik. Karena itu, aku tidak pantas menyakiti hatinya untuk waktu yang panjang tanpa batas.”

“Tidak Kanthi,” jawab Rara Wulan, “ia sudah mengetahui keadaanmu seluruhnya.”

Kanthi justru menangis. Pada dasar hatinya yang paling dalam, ia merasa bahagia mendengar pengakuan Wacana itu. Bahkan Kanthi justru sangat mengharapkannya. Tetapi di sisi yang lain, ia merasa tidak berhak lagi menanggapi perasaan Wacana itu, karena ia sudah ternoda. Bahkan Kanthi merasa dirinya tidak lebih dari sampah yang tidak berharga.

Namun Sekar Mirah pun berkata, “Kanthi. Aku mengerti perasaanmu. Rara Wulan juga mengerti sepenuhnya. Bahkan Wacana pun mengerti pula. Itulah sebabnya, ia minta tolong kepada Rara Wulan untuk menyampaikannya kepadamu, karena kau percaya kepada Rara Wulan.” Sekar Mirah berhenti sejenak. Sementara itu isak Kanthi menjadi semakin keras. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Kepada Glagah Putih Wacana telah mengatakannya, bahwa ia akan menerimamu seutuhnya. Justru karena ia tahu akan keadaanmu, maka ia tidak akan merasa kecewa, apalagi tersiksa di kemudian hari. Ia tahu bahwa kau akan melahirkan pada saatnya. Tetapi Wacana berjanji akan menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri.”

“Sekarang ia dapat berkata seperti itu, mbokayu. Tetapi apakah ia dapat berkata demikian pula nanti jika seorang bayi yang bukan anaknya itu lahir?”

“Tentu,” jawab Sekar Mirah, “Wacana sudah lama berada di sini. Ia bukan seorang yang palsu dan berpura-pura. Namun yang barang kali perlu kau ketahui, ia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.”

Sejenak Kanthi mengangkat wajahnya. Dengan suara sendat ia berkata, “Maksud mbokayu?”

“Wacana juga pernah mengalami kekecewaan yang hampir saja membuatnya gila. Bahkan ia seakan-akan dengan sengaja membunuh dirinya dalam sebuah perang tanding. Tetapi ia ternyata tetap hidup. Lawannya memang bukan seorang pembunuh.”

“Apakah ia pernah ditinggalkan oleh seorang gadis yang kemudian memilih laki-laki lain?” bertanya Kanthi.

“Gadis itu tidak pernah merasa meninggalkannya. Gadis itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Wacana mencintainya. Ketika ia menjatuhkan pilihannya, maka Wacana kehilangan keseimbangannya, sehingga ia telah mengambil langkah yang tidak sewajarnya.”

Kanthi menunduk lagi. Ia merenung dalam-dalam. Merenungi dirinya sendiri dan ia mencoba membayangkan apa yang telah terjadi dengan Wacana.

“Kanthi,” berkata Rara Wulan kemudian, “menurut Wacana, ia menemukan yang hilang itu ketika kau datang ke rumah ini. Yang hilang itu diketemukannya pada dirimu. Apa yang terjadi atasmu, dapat dimengertinya, karena Wacana juga pernah menjadi kehilangan akal. Tetapi karena ia seorang laki-laki, maka ia tidak akan dapat mengalami sebagaimana kau alami.”

Kanthi tidak menjawab. Tetapi ia mulai merenung.

“Kanthi,” berkata Sekar Mirah, “sebagaimana kau tidak ingin dikasihani, maka Wacana pun juga tidak ingin dikasihani. Yang dimintanya adalah hubungan yang wajar antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan segala yang ada didalam dirinya. Keduanya hendaknya dapat menerima dengan ikhlas dengan harapan dimasa datang yang cerah. Bagi Wacana dan kau Kanthi, yang terpenting adalah hari depan kalian. Kalian tidak boleh selalu digayuti beban persoalan-persoalan di masa yang telah lewat.”

Kanthi masih belum menjawab. Tetapi Rara Wulan merasakan, bahwa tangisnya justru mereda.

“Kanthi,” berkata Rara Wulan, “jika kau tidak dapat menjawab hari ini, maka aku akan minta Wacana menunggu satu dua hari ini. Tetapi kau tahu bahwa menunggu adalah satu kerja yang sangat menggelisahkan. Meskipun demikian, aku yakin bahwa Wacana akan bersedia menunggu satu dua hari lagi.”

Yang tidak diduga oleh dan Sekar Mirah adalah bahwa Kanthi itu justru telah menangis. Tetapi tangisnya tidak tertahan-tahan lagi. Ia menangis seakan-akan menuangkan segenap beban di jantungnya.

Rara Wulan yang memeluknya merasa, bahwa tangisnya berbeda dengan tangis Kanthi sebelumnya. Meskipun demikian Rara Wulan berusaha untuk menenangkannya meskipun matanya sendiri juga menjadi basah.

“Sudahlah Kanthi. Beristirahatlah. Kau sempat memikirkannya. Kau dapat berpikir dengan bening. Melihat bukan saja ke masa lalu. Tetapi justru ke masa depan yang masih panjang. Mudah-mudahan kau mendapat terang di hatimu dari Yang Maha Agung,” berkata Rara Wulan kemudian.

Kanthi mengangguk. Bukan karena terpaksa. Tetapi nampaknya Kanthi telah menemukan jawaban didalam dirinya meskipun masih sempat membuatnya ragu.

“Besok sore aku ingin mendengar jawabanmu. Dengan demikian, maka Wacana tidak akan terlalu lama menunggu. Hatinya tentu masih saja dibayangi oleh saat-saat yang pahit, ketika ia sadar, bahwa ia telah kehilangan.”

Kanthi mengangguk.

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Kanthi belum menjawab, tetapi Rara Wulan dan Sekar Mirah dapat berpengharapan bahwa permintaan Wacana itu akan diterima oleh Kanthi. Meskipun keduanya sadar, bahwa hati Kanthi masih belum benar-benar mapan, sehingga setiap saat masih dapat berubah. Bahkan mungkin perubahan itu sangat mengejutkan.

Tetapi keduanya berharap, bahwa hati Kanthi sudah tidak terguncang-guncang lagi.

Malam itu, Sekar Mirah dan Rara Wulan memang tidak memaksa Kanthi untuk memberikan jawaban, meskipun mereka tahu bahwa Wacana tentu menunggu.

Bahkan Rara Wulan pun kemudian berkata, “Baiklah Kanthi. marilah kita beristirahat. Mungkin setelah kau tidur, besok kau menemukan jawab yang paling baik atas pernyataan Wacana itu. Tentu saja bahwa kami semuanya, maksudku, kakang Agung Sedayu, mbokayu Sekar Mirah, kakang Glagah Putih, Ki Jayaraga dan aku sendiri berharap, agar Wacana tidak menjadi kecewa karenanya.”

Kanthi tidak menjawab. Tetapi tangisnya telah mereda. Bahkan isaknya tinggal satu-satu. Namun sekali-sekali Kanthi masih mengusap matanya yang basah dengan lengan bajunya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka Kanthi pun telah berada didalam bilik bersama Rara Wulan. Ketika mereka kemudian berbaring, maka Kanthi tiba-tiba saja bertanya diluar sadarnya, “Rara, bagaimana anggapanmu tentang kejujuran Wacana?”

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku percaya kepadanya, Kanthi. Ia sendiri pernah mengalami sebagaimana kau alami. Karena itu, maka ia tentu dapat merasakan, sebagaimana kau rasakan. Dalam keadaan yang demikian, ia tentu tidak akan memikirkan untuk memanfaatkan keadaanmu atau sikap-sikap licik yang lain.”

Kanthi tidak menjawab. Tetapi Rara Wulan merasakan, bahwa perasaan Kanthi menjadi lebih tenang. Nafasnya mulai teratur dan tubuh yang terbaring diam terasa bahwa Kanthi benar-benar telah menjadi tenang.

Rara Wulan hanya dapat berdoa didalam hati, mudah-mudahan niat baik Wacana itu dapat diterimanya.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Ki Jayaraga masih duduk di pendapa. Sementara Glagah Putih dan Wacana sudah tidak ada lagi di serambi gandok. Ternyata mereka lelah berada di dalam sanggar. Anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu, yang kemudian disebut Sukra, telah berada di dalam sanggar pula.

Bersama Glagah Putih ia berlatih dasar-dasar ilmu bela diri. Setiap kali ia mengulangi unsur-unsur gerak yang telah dipelajarinya. Namun kemudian sedikit demi sedikit Glagah Putih telah menambah unsur yang baru pula.

Wacana yang sedikit demi sedikit sudah mulai berlatih pula, malam itu hanya menunggui dan melihat, bagaimana Sukra meningkatkan kemampuannya setapak demi setapak.

Namun ternyata anak itu telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Bahkan rasa-rasanya tidak mengenal lelah. Meskipun ia telah pernah dibuat jera oleh Glagah Putih, namun kadang-kadang ia masih tampak kecewa jika latihan diakhiri, meskipun ia tidak lagi berani membantah.

Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih merasa puas pula melihat perkembangan kemampuan Sukra. Namun Glagah Putih juga merasa bertanggung jawab atas tingkah laku Sukra selanjutnya setelah ia merasa memiliki dasar-dasar kemampuan bela diri.

“Anak itu tidak boleh kehilangan kekang diri,” berkata Glagah Putih didalam hatinya.

Karena itu, setiap kali Sukra akan berlatih, maka Glagah Putih selalu memberinya beberapa petunjuk agar Sukra menjadi orang yang berguna bagi sesamanya. Bukan sebaliknya. Lebih dari itu Sukra sama sekali tidak boleh melupakan Sumber Hidupnya.

Dengan berpegangan pada Sumber Hidupnya, maka seseorang akan selalu mawas diri dalam segala tingkah lakunya.

Malam itu, Glagah Putih mengakhiri latihannya menjelang tengah malam. Tubuh anak itu seluruhnya telah basah oleh keringat. Dadanya yang terbuka nampak menjadi basah kuyup, seolah-olah Sukra baru saja berendam didalam belumbang.

Wacana yang menyaksikan latihan itu, sejenak telah melupakan persoalan dirinya sendiri. Ia juga merasa kagum terhadap Sukra yang masih sangat muda itu. Tetapi kemauannya agaknya telah membakar gairahnya untuk segera menguasai dasar-dasar kemampuan bela diri.

Namun, meskipun gairahnya untuk berlatih tidak menyusut, tetapi tujuannya menguasai dasar-dasar kemampuan ilmu bela diri, perlahan-lahan telah bergeser. Karena pengaruh petunjuk dan nasehat-nasehat Glagah Putih yang terus menerus diberikan setiap Sukra akan berlatih, telah membuat Sukra semakin mengerti arti dari kemampuan yang sedikit demi sedikit telah dimilikinya.

Dengan demikian, maka sikap Sukra kepada kawan-kawannya. Sukra menjadi lebih sabar dan penalarannya pun menjadi semakin terang.

Malam itu, setelah berlatih serta setelah membersihkan dirinya di pakiwan, rasa-rasanya Sukra masih juga ingin melihat pliridannya yang telah dibuka sejak menjelang senja.

Sementara Glagah Putih dan Wacana lelah pergi ke serambi gandok, maka Sukra justru mengemasi alat-alatnya untuk dibawa ke sungai.

Wacana dan Glagah Putih tidak terlalu lama duduk di serambi Glagah Putih pun kemudian telah pergi ke pakiwan pula untuk membenahi dirinya. Ketika tubuhnya terasa menjadi segar, maka ia pun telah pergi ke biliknya pula.

Wacana memang tidak segera dapat tidur, ia harus menanti jawaban Kanthi. Namun Wacana pun sadar, bahwa bagaimana pun juga, agaknya Kanthi memerlukan waktu untuk berpikir.

Dalam pada itu, ketika Sukra turun ke sungai, ia terkejut melihat beberapa orang anak berkerumun di tepian. Demikian Sukra turun, maka serentak anak-anak itu segera menyesuaikan diri dengan memanggilnya Sukra pula.

Sukra yang tertegun itu pun kemudian bertanya, “Kenapa kalian berkumpul disini? Bukankah ini bukan waktunya. Saat menutup Pliridan yang pertama sudah lewat, sementara masih ada beberapa waktu lagi untuk menutup pliridan yang kedua.”

“Baru saja aku akan pergi memanggilmu,” berkata seorang anak yang bertubuh gemuk.

“Apa yang terjadi?” bertanya Sukra.

“Anak-anak dari Kademangan Wadas Ireng,” jawab anak itu.

“Kenapa?” bertanya Sukra.

“Mereka telah datang mengganggu kami. Mereka lewat menelusuri sungai ini berusaha merusak beberapa pliridan tanpa sebab.”

“Kenapa tiba-tiba mereka menjadi liar seperti itu?” bertanya Sukra.

“Kami tidak tahu. Ketika mereka lewat, hanya ada dua orang kawan kita yang sedang bersiap-siap menutup pliridannya.”

“Siapa?” bertanya Sukra.

“Aku dan Beja,” jawab seorang anak yang kekurus-kurusan. Sementara itu anak yang rambutnya dicukur gundul dan bernama Beja menyahut, “Mereka memukuli aku dan Siwar.”

“Sekarang mereka pergi kemana?” bertanya Sukra.

“Mereka justru pergi ke arah Selatan,” jawab Siwar.

“Bukankah Wadas Ireng terletak di sebelah Utara Tanah Perdikan ini?”

“Ya.” jawab Beja, “Tetapi mereka pergi ke Selatan. Karena itu, kami kumpulkan kawan-kawan. Mungkin mereka akan kembali lagi menyusuri sungai ini.”

“Tetapi tidak terbiasa mereka berbuat seperti itu. Bukankah kita kenal beberapa orang anak dari Wadas Ireng?” desis Sukra.

“Ya. Tetapi agaknya anak-anak Wadas Ireng ada yang baru dan ada yang tidak baik seperti anak-anak Tanah Perdikan ini pula,” sahut anak yang agak gemuk itu.

“Tetapi bukankah mereka atau orang tua mereka, pernah mendengar tentang Tanah Perdikan ini?” bertanya Sukra.

“Ya. Anak-anak itu justru menantang. Mereka mengatakan agar kita melaporkan kepada orang-orang tua kami yang katanya berilmu tinggi,” berkata Siwar.

“Ini tentu tidak biasa,” berkata Sukra, “tentu ada sesuatu, yang telah terjadi di Kademangan Wadas Ireng.”

“Maksudmu?” bertanya anak yang agak gemuk itu.

“Seperti yang terjadi di Kademangan Kleringan. Sekelompok anak muda telah terjerumus kedalam kebiasaan minum tuak. Mereka menjadi mabuk di kedai-kedai yang menyediakan tuak dan bahkan di jalan-jalan. Mereka mengganggu orang-orang lewat dan bahkan sama sekali tidak terkendali. Aku mendengar dari Glagah Putih yang meskipun tidak langsung berbicara kepadaku.”

“Apakah anak-anak Wadas Ireng juga mulai minum tuak?” bertanya Beja, “mereka masih anak-anak seperti kita.”

“Kalau mereka masih kanak-kanak seperti kita sudah mulai bergerombol-gerombol dan bertindak tidak wajar, apa jadinya nanti jika mereka sudah menjadi lebih besar?” desis Siwar.

“Karena itu, tentu sesuatu sudah terjadi,” berkata Sukra sambil mengangguk-angguk. Gayanya menirukan gaya orang-orang dewasa yang sedang membicarakan satu persoalan bersungguh-sungguh.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” bertanya anak yang agak gemuk.

“Kita tunggu sejenak, jika kita lewat kita tidak usah mengganggunya. Kecuali jika mereka mengganggu kita.”

Kawan-kawan Sukra mengangguk-angguk. Namun ketika Sukra mengatakan bahwa ia akan menutup pliridannya, maka Siwar itu pun berkata, “Pliridanmu dibuka tidak saja bagian atasnya, tetapi juga bagian bawahnya.”

“Jadi mereka juga merusak pliridanku?” bertanya Sukra.

“Ya. Semua pliridan telah dibuka,” jawab Siwar.

Sukra memang menjadi marah. Tetapi perasaannya justru sudah mulai terkendali. Ia tidak segera menghentak sambil mengepalkan tinjunya. Namun Sukra hanya berkata dengan nada geram “Kita akan menunggu mereka. Tetapi ingat, kita tidak akan mulai.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Meskipun Sukra bukan anak yang terbesar diantara mereka, tetapi tiba-tiba saja Sukra dengan diam-diam telah mereka anggap sebagai pemimpin mereka.

Sementara sambil menunggu, maka anak-anak itu telah memperbaiki pliridan yang telah rusak. Pliridan Sukra, pliridan Beja dan Siwar dan satu pliridan lagi milik anak yang agak gemuk itu. Ketika pliridan itu berjarak masing-masing beberapa puluh langkah, sehingga anak-anak itu pun kemudian telah tersebar. Sedangkan berjarak beberapa puluh langkah kearah udik, terdapat pula pliridan. Tetapi karena tempatnya yang agak jauh, maka mereka tidak melihat apakah pliridan itu juga dirusak.

Sebenarnyalah sekelompok anak-anak dari Kademangan Wadas Ireng telah berjalan menelusuri sungai itu. Mereka adalah anak-anak yang meningkat remaja. Seorang diantara mereka yang berpengaruh, ternyata telah berbuat hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh anak-anak remaja.

Pergaulannya dengan anak-anak muda yang lebih besar daripadanya, telah membuatnya melangkah lebih jauh dari umurnya. Remaja itu telah mengenal minuman yang disebut tuak. Bahkan tingkah laku yang kurang pantas dan sikap yang tidak terpuji.

Orang-orang tua di Kademangan Wadas Ireng telah dibuat pening oleh tingkah laku beberapa orang anak muda. Mereka bahkan dibayangi oleh pertanyaan, kenapa tingkah laku yang tidak wajar itu menghinggapi anak-anak muda di beberapa Kademangan hampir merupakan satu ledakan yang bersamaan?

Bahkan kemudian, anak-anak remaja pun telah dihinggapi pula cacad yang menular dari tataran usia yang lebih tua.

Malam itu, anak-anak Wadas Ireng dipimpin oleh seorang remaja yang mulai terpengaruh oleh kebiasaan buruk sekelompok kecil anak-anak muda di Kademangan Wadas Ireng telah menelusuri sungai yang melewati padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Nampaknya anak-anak itu belum mampu membuat penilaian tentang Tanah Perdikan Menoreh. Mereka hanya sekedar menuruti kesenangan mereka dan gejolak jiwa petualangan yang tidak terarah.

Seperti yang diduga anak-anak Tanah Perdikan Menoreh, maka anak-anak dari Wadas Ireng itu benar-benar kembali lewat sungai itu pula. Bahkan mereka masih saja bertingkah laku tidak sewajarnya. Mereka melemparkan batu-batu sebesar telur ayam dan bahkan mereka berbicara yang satu dengan yang lain dengan keras tanpa menghiraukan suasana malam di sebelah menyebelah sungai itu.

Ketika anak-anak Tanah Perdikan mendengar sekelompok anak-anak Wadas Ireng itu kembali, maka mereka pun segera berkumpul. Anak-anak Tanah Perdikan itu pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Beja dan Siwar yang telah mengalami perlakuan buruk, telah bersiap untuk membalas.

“Kau tidak boleh mendendam,” desis Sukra.

“He?” Beja dan Siwar heran mendengar kata-kata itu, “maksudmu?”

“Jika mereka nanti tidak berbuat apa-apa, kita juga tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika mereka mendahului mengganggu kita, kita akan mempertahankan diri.”

Beja dan Siwar mengerutkan dahinya. Sementara Beja berkata, “Ketika mereka lewat, kami hanya berdua saja. Mereka telah memukul kami. Kepalaku yang gundul telah ditamparnya.”

“Kita harus berjiwa besar,” Sukra menirukan nasehat Glagah Putih, “tetapi seperti yang aku katakan, jika mereka mendahului, maka kita akan mempertahankan diri. Kita tidak mau dipukuli apapun alasannya.”

“Jika mereka tidak memukul kita lagi?” bertanya Siwar.

“Biarlah mereka lewat,” jawab Sukra.

“Tetapi mereka sudah memukuli aku dan Beja,” desak Siwar.

“Lupakan itu. Bukankah kita orang baik yang berjiwa besar?” jawab Sukra.

Anak-anak Tanah Perdikan itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berdesis, “Ya. Kita orang baik dan berjiwa besar.”

Demikianlah, sejenak kemudian, dalam keremangan malam mereka melihat sekelompok anak-anak yang menyusuri sungai. Mereka sudah mendengar gemerecik air yang didera oleh laki-laki kecil. Sekali-sekali mereka mendengar gemerasak pohon-pohon perdu yang terkena lemparan bebatuan di tepi sungai itu. Bahkan suara tertawa riang dan kemudian percakapan yang simpang siur.

Anak-anak Tanah Perdikan berdiri berjajar di tepian. Nampaknya mereka tidak ingin melanggar pesan Sukra, agar mereka menjadi anak yang baik dan berjiwa besar.

Ternyata anak-anak Wadas Ireng itu menyadari, bahwa di hadapan mereka, berdiri sekelompok anak-anak Tanah Perdikan yang rata-rata sebaya dengan mereka dan jumlahnya pun tidak terpaut banyak.

Tiba-tiba seorang yang paling berpengaruh diantara mereka tertawa. Katanya, “Bagus. Kita akan mendapat kawan bermain.”

Anak-anak itu memang menjadi gembira. Berlari-lari mereka mendekati anak-anak Tanah Perdikan yang sudah bersiap.

Untuk beberapa saat mereka berdiri dalam dua kelompok yang saling berhadapan. Tetapi untuk beberapa saat, keduanya masih saling berdiam diri.

Namun kemudian anak yang terbesar diantara anak-anak Wadas Ireng itu bertanya, “He, apakah kalian sengaja mencegat kami?”

Yang menjawab adalah Sukra, “Tidak.”

“Kenapa kalian berkumpul disini?” bertanya anak itu.

“Kami ingin melindungi kawan-kawan kami dari kenakalan anak-anak dari padukuhan yang lain. Kami tidak mau ada kawan-kawan kami yang menjadi sasaran pemukulan,” jawab Sukra.

Anak itu tertawa. Katanya, “Kami sudah memukuli dua anak disini tadi. Seorang diantaranya anak gundul.”

“Sekarang tidak lagi,” jawab Sukra, “tidak ada yang boleh dipukuli.”

“Menarik sekali memukuli anak yang kepala gundul. He, berikan anak itu. Aku ingin memukulinya lagi.”

“Itu namanya menantang,” jawab Sukra, “kau memang mencari persoalan.”

“Kepala gundul itu menyenangkan,” jawab anak itu.

“Kami sebenarnya tidak ingin berkelahi. Kami berusaha melupakan apakah kau sudah memukuli kawan kami, karena kami adalah anak-anak yang baik dan berjiwa besar. Tetapi jika kalian akan mulai lagi, maka justru aku akan menantang berkelahi seorang lawan seorang,” berkata Sukra, “aku akan mewakili kawan-kawanku.”

Sejenak anak-anak Kademangan Wadas Ireng itu terdiam. Namun tiba-tiba anak yang terbesar diantara mereka itu pun tertawa. Katanya disela-sela suara tertawanya, “Agaknya kau memang suka bergurau. Aku senang mendengarnya. Tetapi itu tidak akan mengurungkan niat kami menampar kepala gundul itu.”

“Aku tidak bergurau,” berkata Sukra, “aku menantangmu. Itu pun belum menjamin bahwa kau akan dapat menampar kepala gundul itu. Jika kalah, maka kawan-kawanku akan melindunginya, sehingga kalian harus berkelahi dahulu. Jika kami semua sudah kalian kalahkan, maka barulah kalian dapat memukuli kepala gundul itu.”

Anak itu mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata, “Aku setuju. Seorang diantara kita masing-masing akan berkelahi seorang melawan seorang. Aku akan mewakili kawan-kawanku. Tetapi kalian harus diwakili oleh anak yang terbesar diantara kalian.”

“Tidak,” jawab Sukra, “aku yang akan mewakili kawan-kawanku. Kalian tidak berhak menentukan!. Siapapun yang akan mewakili kami, itu adalah urusan kami.”

“Kau akan menyesal,” berkata anak yang terbesar diantara anak-anak Wadas Ireng itu. Anak yang terbiasa bergaul dengan sekelompok kecil anak-anak muda yang mulai menempuh jalan sesat.

Tetapi Sukra menjawab, “Tidak. Aku tidak akan menyesal. Apapun yang terjadi, itu sudah aku kehendaki.”

“Bagus,” sahut anak itu, “bersiaplah.”

Sukra memberi isyarat kawan-kawannya untuk mundur. Demikian pula anak Wadas Ireng yang akan mewakili kawan-kawannya itu. Kedua kelompok anak-anak itu membentuk lingkaran di tepian. Sementara Sukra dan anak yang terbesar diantara anak-anak Wadas Ireng itu berada di tengah.

“Siapa namamu?” tiba-tiba anak Wadas Ireng itu bertanya.

“Namaku Sukra. Siapa namamu?” Sukra ganti bertanya.

“Namaku lugu. Anak-anak sebayaku bahkan anak yang lebih besar dari aku, takut kepadaku. Apalagi anak seperti kau. Kau tentu akan segera berjongkok minta ampun dihadapanku.”

“Bagus,” jawab Sukra, “kita akan berkelahi. Jika ada seorang diantara kelompok kita masing-masing yang membantu, maka ia dianggap kalah. Jika paugeran ini dilanggar, maka kita akan berkelahi bersama-sama meskipun sebenarnya tidak kami kehendaki, karena sebenarnyalah bahwa kami adalah anak-anak yang baik dan berjiwa besar.”

“Cukup. Bersiaplah,” anak itu tiba-tiba membentak.

Sukra tidak menjawab. Tetapi itu pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian keduanya bergeser beberapa langkah. Namun Lugu itu pun segera meloncat menyerang dengan ayunan tangannya.

Sukra yang sudah bersiap itu pun segera mengelak. Tangan itu terayun deras. Tetapi tidak menyentuh sasarannya.

Tetapi Lugu tidak membiarkan Sukra luput dari jangkauan serangannya. Ia pun segera meloncat menerkam dengan kedua tangannya yang langsung mengarah ke leher.

Sukra terkejut melihat serangan itu. Serangan itu baginya tidak terlalu berbahaya. Tetapi bahwa anak itu langsung berusaha mencengkam leher adalah pertanda betapa garangnya, bahkan akibatnya akan dapat menjadi sangat mengerikan.

Sukra berkisar kesamping. namun ia sempat berkata, “Kenapa kau berkelahi dengan kasar? Jika kau berhasil mencengkam leherku, apa yang akan kau lakukan?”

“Mencekikmu,” jawab Lugu.

“Aku dapat mati karenanya,” berkata Sukra kemudian.

“Aku tidak peduli. Dalam satu perkelahian yang disepakati seorang lawan seorang, mati adalah akibat wajar, yang membunuh tidak dapat dianggap bersalah. Bahkan ia pantas mendapat kehormatan sebagai seorang pahlawan.”

“Gila,” geram Sukra, “siapa yang telah meracuni otakmu dengan sikap seperti itu?”

Lugu berhenti menyerang. Sambil bertolak pinggang ia berkata, “kau menjadi ketakutan?”

“Tidak. Kau tidak berbahaya bagiku. Tetapi kau adalah menjadi berbahaya bagi anak yang lain. Kau benar-benar dapat membunuh dengan caramu berkelahi itu. Apakah membunuh bagimu dapat menjadi satu kebanggaan, sementara seseorang yang telah membunuh sesamanya, akan selalu dikejar oleh penyesalan?”

“Para prajurit membunuh di medan perang,” jawab Lugu.

“Membunuh dan membunuh itu tidak sama,” jawab Sukra.

“Lidahmu yang agaknya bercabang seperti lidah ular. Tetapi aku tidak perduli. mungkin kau memang akan mati dalam perkelahian ini. Tetapi sekali lagi aku katakan, mati adalah akibat yang sangat wajar.”

“Bagaimana jika kau yang mati?” bertanya Sukra.

Anak itu tertawa, katanya, “Hanya anak bintang yang turun dari langit yang dapat mengalahkan apalagi membunuh aku.”

Namun jawab Sukra, “Bagus. Aku adalah anak bintang.”

Lugu itu mengerutkan dahinya. Namun Sukra pun berkata, “Bersiaplah kau anak bayangan kegelapan. Sudah saatnya anak bintang turun dari langit.”

Sikap hati Lugu membuat Sukra menjadi marah. Meskipun demikian, ia tidak pernah melupakan pesan Glagah Putih agar tidak kehilangan kendali diri.

Demikianlah maka sejenak kemudian Lugu sudah mulai menyerang lagi. Ia mengira bahwa Sukra menjadi takut melihat kedua tangannya yang terjulur mengarah ke lehernya. Karena itu, maka ketika serangan kakinya tidak mengenai sasaran karena Sukra menghindar, maka Lugu itu pun telah mengulangi serangannya dengan kedua tangannya terjulur ke arah leher Sukra.

Namun Sukra benar-benar menjadi marah melihat serangan yang berbahaya itu. Bahkan menurut pendapat Sukra, serangan itu sangat berlebihan bagi perselisihan anak-anak.

Apabila sikap Lugu bahwa ia sama sekali tidak menghargai nyawa orang lain dalam persoalan yang sebenarnya tidak berarti itu.

Karena itu, ketika Sukra melihat tangan yang terjulur itu, maka ia pun menggeram marah. Dengan cepat ia meloncat kesamping. Namun kemudian, kakinya terayun mendatar dengan derasnya mengenai lambung.

Lugu terdorong beberapa langkah kesamping. Bahkan kemudian anak itu terjatuh diatas pasir tepian. Namun anak itu segera bangkit kembali. Lugu memang menyeringai menahan sakit pada lambungnya. Namun tidak lama. Sejenak kemudian ia pun telah bersiap untuk berkelahi lagi.

Bahkan dengan lantang ia pun berkata, “He, kau telah menyakiti aku. Akibatnya akan sangat buruk bagimu.”

Sukra tidak menghiraukannya. Ia pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi lawannya yang lebih besar daripadanya itu.

Demikianlah, maka Lugu itu telah menyerang dengan garangnya. Tangan dan kakinya terayun-ayun dengan kerasnya.

Tetapi dengan tangkas Sukra menghindar. Namun sekali-sekali Sukra terpaksa menangkis serangan-serangan itu.

Dalam benturan-benturan yang terjadi, maka Sukra harus mengakui bahwa kekuatan Lugu lebih besar dari kekuatannya, sehingga kadang-kadang Sukra terdorong surut. Namun Sukra yang telah mempelajari dasar-dasar kemampuan bela diri dengan tekun, memiliki kesempatan lebih baik. Lugu kadang-kadang merasa kehilangan lawannya yang berloncatan. Namun tiba-tiba Sukra telah menyerang dengan derasnya, sehingga Lugu lah yang terdorong surut.

Lugu menjadi semakin marah ketika serangan-serangan Sukra semakin lama semakin sering mengenai tubuhnya. Sekali dua kali, Lugu yang memiliki tubuh dan daya yang sangat kuat itu, tidak menghiraukannya. Tetapi semakin sering Sukra mengenainya, maka perasaan sakit itu menjadi semakin terasa menyengat tubuhnya dimana-mana.

Dalam pada itu, anak-anak dari Kademangan Wadas Ireng dan anak-anak padukuhan induk Tanah Perdikan itu menyaksikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran. Sekali-sekali anak-anak Tanah Perdikan yang bersorak, namun di kesempatan lain, anak-anak Wadas Ireng lah yang bersorak-sorak.

Orang-orang yang sedang meronda di padukuhan induk, mendengar suara-suara ramai di tepian meskipun tidak terlalu jelas. Tetapi mereka menyangka bahwa anak-anak sedang bermain sambil menutup pliridan mereka di sungai. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa anak-anak di tepian itu sedang menonton Sukra dan Lugu yang sedang berkelahi.

Sementara itu Lugu masih mampu berkelahi dengan garangnya. Ia benar-benar menjadi keras dan bahkan kasar. Namun Sukra dengan tangkasnya mengimbanginya. Latihan-latihan yang berat membuatnya mampu bergerak cepat untuk mengatasi kekuatan Lugu yang sangat besar bagi anak-anak. Apalagi Lugu memang lebih tua dan lebih besar dibandingkan dengan Sukra.

Meskipun demikian, ternyata semakin lama Lugu semakin mengalami kesulitan. Hanya karena daya lahannya yang tinggi serta kekuatannya yang besar sajalah yang membuatnya masih dapat bertahan terus.

Sementara itu, meskipun Sukra lebih kecil dan lebih muda, tetapi tenaganya sudah terlatih. Sukra itu mampu memperhitungkan, agar ia tidak kehabisan tenaganya.

Dalam pada itu, semakin lama Sukra menjadi semakin sering mengenai tubuh Lugu dengan serangan-serangannya yang cepat.

Tetapi perlawanan Lugu masih belum menjadi susut. Meskipun beberapa kali Lugu terdorong dan jatuh diatas pasir tepian, namun ia segera bangkit dan siap untuk berkelahi lagi.

Sukra lah yang justru mulai merasa bahwa tenaganya seakan-akan telah terlepas untuk mengimbangi kekuatan dan daya tahan lawannya yang tinggi. Karena itu, maka Sukra mulai merasa bahwa tenaganya telah menyusut.

Karena itu, maka Sukra harus mulai mempertimbangkan benar-benar tata geraknya agar ia tidak menjadi kelelahan dan kehabisan tenaga sebelum Lugu dapat ditundukkannya.

Itulah sebabnya, maka Sukra mulai memperhitungkan benar-benar sasaran serangannya. Sukra mulai mengarahkan serangan-serangannya pada bagian tubuh lawannya yang lemah. Tetapi tidak membahayakannya.

Dengan demikian, maka Sukra semakin sering berusaha menyerang dan mengenai lambung lawannya. Tidak saja dengan tumit kakinya, tetapi dengan jari-jarinya yang terbuka dan merapat.

Pada kesempatan itu, sisi telapak tangan Sukra telah menghantam pundak Lugu sehingga sebelah tangan anak itu rasa-rasanya untuk beberapa saat, telah melemah.

Pada kesempatan itu, Sukra telah mengarahkan serangannya pada sisi yang lemah itu. Beberapa kali kakinya terjulur mengenai lengan dan bahu yang rasa-rasanya menjadi semakin kesakitan.

Lugu mengumpat dengan kasar. Namun serangan-serangan Sukra datang beruntun seperti banjir yang mengalir tidak putus-putusnya. Serangan disusul dengan serangan, sehingga Lugu tidak sempat menangkis dan menghindar.

Karena itu, maka Lugu itu pun telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian kawan-kawannya yang melingkarinya harus menyibak ketika Lugu terhuyung-huyung beberapa langkah mundur.

Sukra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebelum Lugu sempat memperbaiki kedudukannya, Sukra itu melenting menyerang dada Lugu dengan kakinya yang terjulur menyimpang.

Serangan Sukra cukup keras meskipun sebenarnya tenaganya sudah mulai menyusut. Apalagi pada saat-saat terakhir, Sukra harus mengerahkan kemampuannya untuk mengakhiri perlawanan Lugu sebelum ia sendiri kehabisan tenaga.

Sukra memang menyadari, jika usahanya terakhir itu gagal, sementara ia sudah kehabisan tenaga, maka Lugu lah yang akan menguasainya dan ia akan mengalami perlakuan yang sangat buruk.

Tetapi dengan perhitungan yang baik, Sukra yakin akan dapat menundukkan lawannya itu sebelum tenaganya habis.

Serangan kaki Sukra itu ternyata telah melemparkan Lugu beberapa langkah. Serangan yang cukup keras itu membuat Lugu kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka tubuh Lugu itu telah terdorong dan jatuh menggelepar di dalam air.

Lugu memang berusaha untuk bangkit agar air sungai itu tidak terlalu banyak masuk kedalam mulut dan hidungnya. Meskipun kemudian Lugu itu berhasil untuk berdiri, tetapi hanya sesaat. Tubuhnya yang merasa sakit dimana-mana, nafasnya yang menjadi sesak demikian dadanya terkena serangan kaki Sukra, serta tenaganya yang juga terkuras, membuat Lugu benar-benar tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya. Ketika ia mencoba melangkah ke tepian, ia pun telah terjatuh lagi. Tetapi Lugu telah berhasil keluar dari air sungai yang mengalir tidak terlalu deras itu.

Sukra berdiri termangu-mangu. Kawan-kawannya lelah bersorak meneriakkan kemenangan.

Beberapa orang kawan Lugu telah berlari memburunya. Mereka berusaha untuk menolong Lugu dengan mengangkat tubuhnya dan membantunya berdiri.

Lugu kemudian memang dapat berdiri. Tetapi dua orang kawannya harus membantunya.

Namun Lugu masih belum mengakui kekalahannya. Dengan lantang ia berkata kepada kawan-kawannya, “Kita tidak kalah. Kita akan membuat anak-anak yang licik itu menjadi jera. Kita akan berkelahi bersama-sama.”

Sukra yang nafasnya masih terengah-engah itu menjadi berdebar-debar. Meskipun menurut perhitungannya, anak-anak Padukuhan induk Tanah Perdikan itu tidak kalah, namun ia sendiri memerlukan untuk beristirahat barang beberapa saat. Karena itu, maka Sukra itu pun kemudian berdiri bertolak pinggang sambil berkata, “He, apakah kalian akan berkelahi beramai-ramai?”

“Kalian akan dihancurkan,” geram Lugu yang masih belum dapat berdiri tegak.

“Kalau tanpa Lugu tidak akan berarti apa-apa bagi kami. Sementara itu, kalian lihat, bahwa Lugu sudah tidak berdaya. Jika aku mempunyai landasan pikiran seperti Lugu, maka aku sudah mencekiknya. Menurut Lugu, jika dalam perkelahian seseorang terlanjur mati, maka yang membunuh tidak dapat dipersalahkan.”

Anak-anak Wadas Ireng itu terdiam. Ternyata ketika ancaman itu ditujukan kepada mereka, maka mereka pun menjadi sangat ngeri. Bahkan Lugu sendiri merasa ngeri mendengarnya.

Namun ternyata Lugu itu masih belum juga mengakui kenyataan yang dihadapinya. Karena itu, maka ia pun berkata, “Kau tidak perlu menakut-nakuti kami. Kau kira aku tidak dapat berkelahi lagi? Sebentar lagi tenagaku akan pulih. Aku akan memilin leher anak-anak padukuhan ini. Seorang demi seorang. Dan kau adalah anak yang pertama akan kuhancurkan.”

Tetapi Sukra tertawa. Beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam, pernafasannya sangat membantu memulihkan kekuatannya.

“Kau masih juga mengigau, Lugu. Berdiri pun kau sudah tidak mampu lagi. Apalagi memilin leher kami.”

“Persetan kau,” geram Lugu. Tetapi ketika ia melangkahkan kakinya, maka ia masih saja terhuyung-huyung. Kawan-kawannya yang membantunya berdiri dengan cepat menahannya agar Lugu itu tidak terjatuh.

Meskipun demikian, ia masih berteriak, “Ayo kawan-kawan, kita hancurkan anak-anak yang licik itu.”

Tetapi sekali lagi Sukra tertawa keras-keras. Katanya, “Sebenarnya kau mau apa, Lugu? Melangkah pun kau sudah tidak mampu lagi.”

“Anak-anak Wadas Ireng bukan anak-anak cengeng,” bentak Lugu. Lalu katanya sekali lagi kepada kawan-kawannya, “Cepat. Selesaikan mereka.”

Namun tiba-tiba Sukra itu pun menggeram, “Mari. Siapa yang ingin aku patahkan lengannya? Kau lihat, aku berkata sebenarnya. Dan aku pun mampu melakukannya. Berbeda dengan Lugu. Ia hanya dapat berteriak-teriak dan membentak-bentak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.”

Anak-anak Wadas Ireng itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi Lugu itu membentak lagi, “Cepat. Siapa yang tidak mau melakukannya, aku besok akan menghukumnya. Hukuman yang belum pernah aku berikan kepada kalian sebelumnya.”

Anak-anak Wadas Ireng itu menjadi bingung. Mereka merasa ngeri untuk berkelahi, apalagi melawan Sukra. Tetapi mereka pun menjadi ketakutan mendengar ancaman Lugu.

Jika mereka menolak untuk melakukan perintah Lugu, maka nasib mereka akan menjadi buruk untuk waktu yang lama. Kemarahan Lugu tidak hanya akan terbatas dalam satu dua hari. Tetapi ia adalah pendendam yang berkepanjangan.

Sukra yang melihat anak-anak Wadas Ireng itu ragu-ragu berkata lantang, “He, apakah kalian merasa sulit untuk memilih? Berkelahi melawan kami, atau dimusuhi Lugu dan bahkan menerima hukumannya?”

“Cukup. Aku koyak mulutmu,” teriak Lugu.

Tiba-tiba saja darah Sukra naik sampai kekepala. Dengan kecepatan yang tinggi ia meloncat kearah Lugu. Satu ayunan tangannya telah menampar mulut yang baru saja terkatub itu.

Lugu berteriak kesakitan. Bibirnya menjadi pecah dan darah mulai mengalir duri luka dibibirnya itu.

“Ayo, berteriaklah sekali lagi,” bentak Sukra.

Lugu memang bergeser mundur. Dua orang yang membantunya berdiri ikut bergeser pula. Tetapi keduanya menjadi gemetar melihat sikap Sukra. Bahkan Sukra itu berkata selanjutnya dengan nada marah, “Aku dapat mencekikmu, Lugu. Mengerti. Mulutmu jangan kau buka sekali lagi. Aku akan memukulmu sampai kau terdiam.”

Namun ternyata harga diri Lugu itu cukup tinggi. Meskipun mulutnya terasa sakit dan bibirnya rasa-rasanya-menjadi semakin tebal bergayut di mulutnya, namun ia masih menjawab, “Kau tidak berhak memerintah aku.”

Ternyata Sukra tidak hanya menggertak. Karena anak itu membuka mulutnya lagi, maka Sukra pun benar-benar memukul mulut Lugu.

Sekali lagi Lugu berteriak kesakitan. Bibirnya yang berdarah menjadi semakin berdarah. Bahkan hampir saja Lugu tidak dapat menahan tangisnya.

Kedua kawannya yang membantunya berdiri menjadi semakin gemetar. Tetapi Lugu benar-benar terdiam.

“Jika kau tidak mau diam, maka kedua anak yang membantumu berdiri itu pun akan aku pukuli, supaya melepaskanmu. Aku akan membenamkan kepalamu kedalam air sehingga perutmu menjadi kembung. Aku tidak peduli apakah kau akan mati atau tidak.”

Lugu benar-benar terdiam. Sementara Sukra berkata sambil melangkah hilir mudik. Tangannya bergerak-gerak mengikuti irama kata-katanya yang meluncur dari mulutnya. Sukra memang sengaja menirukan sikap Agung Sedayu, yang dianggapnya lebih tua dari Glagah Putih, “Aku bersungguh-sungguh sekarang.”

Tidak seorang pun yang menyahut.

Namun tiba-tiba Sukra itu berhasil melangkah. Dipandanginya anak-anak Wadas Ireng yang masih berkerumun disekitar Lugu yang kesakitan. Dipandanginya anak-anak itu dengan tatapan mata yang tajam. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa kalian menjadi demikian takut kepada Lugu?”

Anak-anak itu masih tetap berdiam diri.

“Seharusnya kalian tidak takut. Mungkin kalian seorang-seorang tidak berani melawan Lugu. Tidak seorang pun diantara kalian yang dapat mengalahkannya. Tetapi jika kalian bersepakat untuk melawannya, betapapun kuatnya anak itu, tetapi kekuatannya tidak akan melebihi ampat orang anak diantara kalian. Atau barangkali lima orang. Jika jumlah kalian sepuluh atau lebih, maka Lugu bukan apa-apa bagi kalian,” berkata Sukra.

Anak-anak itu saling berpandangan. Namun mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Yang kemudian bertanya adalah justru anak padukuhan induk itu, “Bagaimana kalau Lugu mengancam anak-anak Wadas Ireng seorang demi seorang?”

“Anak-anak Wadas Ireng itu bersama-sama mengancam Lugu. Jika ada satu saja diantara kawan-kawannya yang disakiti Lugu, maka Lugu akan dihajar beramai-ramai tanpa ampun. Nah, dengan demikian, Lugu tidak akan pernah mengancam siapapun di Kademangan Wadas Ireng.”

Anak-anak Wadas Ireng itu saling berpandangan. Kata-kata Sukra itu nampaknya dapat mereka pahami. Namun seorang anak padukuhan induk yang lain bertanya, “bagaimana jika ada yang berkhianat? Mungkin karena keuntungan yang didapatinya, mungkin Lugu memberinya uang atau makanan atau apa saja, sehingga beberapa orang justru membantunya?”

“Jumlah anak-anak yang baik tentu berlipat,” jawab Sukra.

Seorang anak padukuhan induk yang lain berteriak, “yang berkhianat akan dihukum lebih berat dari Lugu sendiri.”

Wajah Lugu menjadi merah padam. Hampir saja ia berteriak oleh kemarahan yang menyesakkan dadanya. Namun baru saja ia bergeser, maka Sukra berkata, “Ingat Lugu. Jika sepatah kata saja keluar dari mulutmu, maka kedua bibirmu akan rontok.”

Lugu benar-benar menjadi ketakutan oleh ancaman Sukra yang nampaknya memang tidak main-main.

Namun tiba-tiba seorang anak padukuhan induk yang lain bertanya, “Bagaimana jika Lugu minta bantuan anak-anak yang lebih besar yang agaknya menjadi latar belakang pengaruh Lugu?”

“Di Kademangan Wadas Ireng terdapat banyak sekali anak-anak muda yang baik. Jauh lebih banyak dari mereka yang bertabiat buruk. Jika mereka segan turut campur, maka ada Ki Bekel di setiap padukuhan. Ada Ki Demang, para bebahu, terutama Ki Jagabaya.”

Anak-anak Wadas Ireng itu mulai mengangguk-angguk. Sukra yang merasa bahwa kata-katanya mulai mengusik perasaan anak-anak Wadas Ireng itu pun kemudian berkata, “Pulanglah. Bawa Lugu pulang. Tetapi jangan dipukuli sepanjang jalan. Tetapi jika pada suatu saat ia mulai melakukan perbuatan yang buruk lagi, kalian dapat mencegahnya. Jangan takut. Ia bukan anak yang tidak terkalahkan. Kau lihat, ia tidak berdaya sekarang.”

Anak-anak Wadas Ireng itu berpaling kepada Lugu yang masih sangat lemah. Pandangan mata mereka telah berubah. Anak-anak itu tidak lagi menganggap Lugu sebagai panutan yang harus diikuti segala perbuatan dan tingkah lakunya.”

“Pulang,” tiba-tiba Sukra membentak, “ingat kata-kataku. Dalam keadaan yang paling sulit bagi kalian, datanglah mengadu kepada Ki Jagabaya. Lugu dan kawan-kawannya tentu akan mendapat peringatan dan bahkan jika perlu hukuman.”

Anak-anak Wadas Ireng itu mulai beranjak. Dua orang anak yang membantu Lugu hampir saja melepaskannya. Tetapi Sukra berkata, “Bantu ia berjalan. Hati-hati.”

Sejenak kemudian, maka anak-anak Wadas Ireng itu pun beringsut meninggalkan tepian. Dua orang anak masih membantu Lugu berjalan di tepian berpasir.

Namun Sukra yakin bahwa kata-katanya berpengaruh terhadap anak-anak Wadas Ireng, sehingga mereka akan berani menentang setiap niat buruk Lugu yang sebelumnya sangat berpengaruh atas anak-anak Wadas Ireng itu.

Demikian anak-anak Wadas Ireng itu meninggalkan tepian, maka anak-anak padukuhan induk itu menarik nafas panjang. Mereka tidak perlu berkelahi untuk mengusir anak-anak nakal itu.

Dada Sukra pun menjadi lapang. Sebenarnya ia masih merasa letih. Lugu ternyata seorang anak yang memiliki kekuatan dan daya tahan yang sangat besar. Apalagi Lugu memang lebih tua dan lebih besar dari Sukra.

Namun dalam pada itu, Sukra itu pun berkata kepada kawan-kawannya, “Kita tidak perlu berkelahi. Bukankah kita orang baik dan berjiwa besar?”

Tetapi seorang anak bertanya, “Tetapi kau sendiri berkelahi, Sukra.”

Sukra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Jika aku tidak berkelahi, maka kalian semua akan berkelahi. Maka menurut pendapatku, lebih baik aku berkelahi seorang diri daripada kalian semuanya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara Sukra berkata, “Apakah pekerjaan kita memperbaiki pliridan sudah selesai?”

“Hampir,” jawab seseorang.

“Kita akan menyelesaikannya sebentar. Kemudian kita akan pulang. Kita tentu tidak akan dapat menutup pliridan di dini hari ini.” berkata Sukra.

Anak-anak itu pun kemudian melakukan sebagaimana dikatakan oleh Sukra. Baru setelah pekerjaan itu selesai, maka anak-anak itu pun meninggalkan tepian naik memanjat tebing dan melintasi tanggul, pulang ke rumah masing-masing.

Beberapa diantara orang tua mereka bertanya, kenapa mereka terlalu lama bermain-main di sungai.

Seorang ayah dengan marah bertanya, “Apa yang kalian lakukan sampai dini hari? Bagi mereka yang mempunyai pliridan, masih dapat dimengerti seandainya mereka menunggui pliridannya atau sengaja menutup pliridannya sekali lagi. Tetapi kau tidak mempunyai pliridan lagi.”

“Kami membantu memperbaiki pliridan kawan-kawan, ayah,” jawab anak-anak itu. Tetapi ia sama sekali tidak mengatakan bahwa mereka hampir saja terlibat dalam perkelahian melawan anak-anak Wadas Ireng.

Sukra yang kemudian dengan diam-diam masuk lewat pintu butulan yang langsung menuju ke biliknya, memang tidak perlu membangunkan siapapun juga. Justru karena anak itu sering pergi ke sungai, maka Agung Sedayu sengaja membuat bilik baginya dengan pintu butulan tersendiri.

Ketika kemudian fajar menyingsing, anak itu sudah sibuk sebagaimana biasanya. Ia pun tidak mengatakan kepada Glagah Putih, apa yang telah terjadi di tepian.

Namun ternyata kemudian, peristiwa itu tersebar juga diantara anak-anak dan bahkan akhirnya terdengar juga oleh orang-orang tua.

Satu dua orang pengawal yang meronda, yang mendengar suara riuh di tepian, mengira bahwa suara itu sekedar suara anak-anak yang bermain dengan pliridan di sungai. Namun baru kemudian mereka ketahui, bahwa hampir saja terjadi perkelahian antara anak-anak padukuhan induk itu dengan anak-anak Kademangan Wadas Ireng.

Glagah Putih yang kemudian juga mendengarnya ketika ia berada diantara para pengawal, telah memanggil Sukra demikian ia pulang dari banjar.

“Kau berkelahi?” bertanya Glagah Putih.

Jawab anak itu tegas, “Ya. Tetapi jika aku tidak berkelahi, maka anak-anak yang berkumpul di tepian itu akan berkelahi semuanya.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi jika kau masih melihat kemungkinan yang lain, maka kau tidak boleh berkelahi.”

Sukra mengangguk. Tetapi sikapnya terhadap Glagah Putih memang sudah berubah.

Dengan urut Sukra kemudian bercerita tentang apa yang telah terjadi di tepian. Menurut pendapatnya, jika Lugu telah dikalahkan, maka yang masih akan mungkin dicegah.

Glagah Putih menepuk bahunya sambil berkata, “Baiklah. Kau memang mempunyai alasan yang kuat, kenapa kau harus berkelahi.”

Sukra mengangguk kecil. Sukra memang merasa lega bahwa ia tidak dianggap bersalah.

Ternyata peristiwa itu telah mendorong Sukra untuk berlatih lebih bersungguh-sungguh. Ia merasa bahwa ilmunya akan berarti justru untuk mencegah kekerasan yang lebih luas.

Sementara itu, pada hari itu Kanthi nampak lebih banyak merenung. Ia memang sedang mengangkat beban baru didalam hatinya. Ia harus menjawab pernyataan Wacana yang disampaikan lewat Rara Wulan.

Meskipun Kanthi berusaha untuk tetap bersikap wajar sebagaimana sikapnya sehari-hari, namun orang lain masih dapat menangkap betapa Kanthi sedang mencari-cari jawab.

Wacana sendiri juga merasa tegang. Hari itu Wacana berusaha untuk tidak bertemu dengan Kanthi. Dilakukannya pekerjaan apa saja di kebun belakang. Kemudian ikut Ki Jayaraga ke sawah dan demikian ia pulang, maka ia telah menenggelamkan dirinya didalam sanggar.

Namun Kanthi sempat juga melihat kegelisahan dan ketegangan yang mencengkam perasaan anak muda itu. Karena itu, ia sadar, bahwa ia tidak boleh terlalu lama memberikan jawaban.

Dimalam hari, setelah makan malam, sementara Agung Sedayu dan Ki Jayaraga duduk-duduk di pendapa dan Wacana bersama Glagah Putih berada di serambi gandok, Sekar Mirah dan Rara Wulan setelah membenahi mangkuk-mangkuk yang kotor serta membersihkan ruang dalam, telah duduk pula sambil berbincang.

Dengan hati-hati Rara Wulan memang mencoba memancing apakah Kanthi sudah mempunyai jawaban atas pernyataan Wacana.

“Tentu Wacana tidak tergesa-gesa, Kanthi, karena ia tidak akan pergi kemana-mana. Tetapi nampaknya Wacana selalu dibayangi oleh kegelisahannya menunggu jawabmu,” berkata Rara Wulan kemudian meskipun dengan agak ragu.

Sementara itu Sekar Mirah bertanya pula, “Apakah masih ada yang harus dipikirkan? Kanthi. Jika kau sudah mengiakannya, maka sudah tentu Wacana akan melamarmu kepada orang tuamu. Bukan harus Wacana sendiri yang datang, tetapi bukankah ada kakang Agung Sedayu. Ada pula Ki Jayaraga yang agaknya mempunyai pekerjaan baru, melibatkan diri dalam persoalan anak-anak muda dalam hubungannya dengan gadis-gadis.”

Rara Wulan tersenyum, sementara Kanthi pun berusaha menyembunyikan senyumnya itu.

Namun desakan-desakan Rara Wulan dan Sekar Mirah itu memang mempercepat perenungan Kanthi menanggapi pesan Wacana itu. Karena itu, maka Kanthi tidak merasa perlu lagi menunda-nunda jawabannya, karena ia pun kemudian sadar, bahwa semakin cepat persoalan itu selesai dengan tuntas, akan semakin baik baginya.

Karena itu, sambil menundukkan wajahnya, Kanthi akhirnya mengangguk kecil sambil berdesis, “Aku akan menganggap baik mana yang mbokayu Sekar Mirah dan Rara Wulan menganggap baik.”

Wajah Rara Wulan lah yang tiba-tiba menjadi ceria. Namun Sekar Mirah masih mendesaknya, “Aku ingin mendengar jawabmu Kanthi. Bukankah kau menerima Wacana untuk kelak bersama-sama memasuki dunia kekeluargaan?”

Kanthi masih saja menunduk dalam-dalam. Sambil mengangguk pula ia menjawab, “Ya, mbokayu.”

Tiba-tiba saja Rara Wulan memeluknya. Ternyata gadis itulah yang lebih dahulu menitikkan air mata. Namun titik-titik air mata itu telah memancing air mata Kanthi pula.

Sekar Mirah lah yang kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau telah menapak maju menjelang hari depanmu yang lebih baik, Kanthi.”

Kanthi masih menunduk, sementara Rara Wulan mengguncangnya, “Tersenyumlah Kanthi. Kau akan menjadi semakin cantik.”

Kanthi memang mencoba tersenyum. Tetapi justru titik air di mata Rara Wulan menjadi semakin deras, sehingga Kanthi pun tidak dapat menahan isaknya lagi.

“Sudahlah,” berkata Sekar Mirah, “kita memang harus memandang hari depan dengan tengadah.”

“Nanti aku akan menyampaikannya kepada kakang Glagah Putih. Wacana harus segera mendengar jawaban ini. Aku sendiri yang akan mengatakannya kepada Wacana,” berkata Rara Wulan.

Kanthi mengangguk kecil. Sementara Sekar Mirah berkata, “Katakanlah dengan hati-hati Rara.”

Rara Wulan yang kemudian melepaskan Kanthi pun telah mengusap matanya. Kemudian ia pun bangkit sambil berkata, “Aku akan menemui kakang Glagah Putih. Ia tentu berada di serambi gandok.”

“Atau di sanggar,” desis Sekar Mirah.

“Agaknya belum, mbokayu. Bukankah kakang Glagah Putih baru saja selesai makan bersama kita?” sahut Rara Wulan.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang belum.”

Rara Wulan pun kemudian segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak keluar lewat pringgitan, karena ia tahu, Agung Sedayu dan Ki Jayaraga sedang duduk-duduk di pendapa untuk mendapatkan udara yang sejuk.

Lewat pintu seketheng Rara Wulan langsung menuju ke serambi gandok.

Ketika Rara Wulan melihat Glagah Putih sedang duduk bersama Wacana, maka tiba-tiba saja timbul niatnya untuk langsung menyampaikan jawaban Kanthi saat itu juga.

Tetapi lebih dahulu, Rara Wulan ingin berbicara dengan Glagah Putih. Karena itu, maka ketika ia turun dari pintu seketheng, maka ia pun kemudian mendekati kedua orang itu sambil berkata, “Kakang Glagah Putih, mBokayu Sekar Mirah ingin berbicara sebentar. Hanya sebentar.”

Glagah Putih pun kemudian bangkit berdiri. Namun Rara Wulan kemudian berkata kepada Wacana, “Kakang Wacana. Jangan pergi.”

Wacana mengerutkan dahinya. Namun ia pun mengangguk sambil menjawab, “Aku akan menunggu.”

Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan hilang dibalik seketheng, maka Wacana pun menjadi gelisah, ia sudah menduga, bahwa Rara Wulan akan memberikan pesan-pesan Kanthi kepada Glagah Putih.

Di dalam seketheng, Rara Wulan tidak mengajak Glagah Putih menemui Sekar Mirah. Tetapi ia langsung mengatakannya, bahwa Kanthi telah memberikan jawaban.

“Apakah kau sependapat, jika aku sekarang menyampaikan jawaban Kanthi itu langsung kepada Wacana?” bertanya Rara Wulan.

Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia kemudian berdesis, “apakah tidak ada keseganan pada Wacana jika kau langsung mengatakan kepadanya.”

“Bukankah itu lebih baik daripada harus lewat orang lain. Aku dapat menjelaskan pancaran perasaan Kanthi pada saat ia mengatakan jawabannya. Jika Wacana bertanya tentang Kanthi, maka aku akan dapat menyampaikannya langsung kepadanya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk lagi. Katanya, “Baiklah. Tetapi hati-hatilah. Kau harus menjaga perasaannya.”

“Perasaan Wacana tentu lebih mapan dari perasaan Kanthi,” sahut Rara Wulan.

“Agaknya memang demikian,” desis Glagah Putih. Demikianlah, maka keduanya telah kembali keluar lewat seketheng. Rara Wulan memang berniat langsung bertemu dan berbicara dengan Wacana.

Di pendapa Agung Sedayu dan Ki Jayaraga masih duduk menghirup udara segar di ujung malam. Lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin mengguncang bayangan tiang-tiang yang berdiri membeku.

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga melihat Rara Wulan kemudian duduk bertiga bersama Glagah Putih lah Wacana. Mereka pun melihat Rara Wulan berbicara dengan bersungguh-sungguh. Sementara Wacana yang mendengarkannya nampak menjadi tegang.

Sementara itu, Rara Wulan, atas persetujuan Glagah Putih telah menyampaikan langsung jawaban Kanthi atas pesan Wacana. Ternyata Kanthi dapat menerima Wacana untuk kelak mengarungi gelombang kehidupan keluarga bersama-sama.”

Namun Rara Wulan itu pun berkata, “Tetapi kau harus menerimanya dengan ikhlas seperti apa adanya, kakang Wacana. Kau sudah mengetahui sejak semula bahwa Kanthi sudah mengandung. Hendaknya hal ini tidak menjadi persoalan kelak jika pada suatu saat sedang terjadi sedikit singgungan pada hati kalian berdua.”

“Aku mengerti, Rara. Ketika tumbuh niatku untuk melamarnya, aku memang sudah mengetahuinya. Sehingga persoalan ini tidak akan menjadi sebab pertengkaran sehingga akan selalu diungkit-ungkit kembali jika sedikit terjadi masalah diantara kami.”

“Syukurlah,” Rara Wulan mengangguk-angguk, “jika kedua belah pihak sudah mengetahui latar belakang kehidupan masing-masing, maka masing-masing akan dapat mengendalikan dirinya.”

Wacana mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putih berkata, “Aku mengucapkan selamat Wacana. Tetapi kesempatan ini bukan merupakan bagian akhir dari kehidupan masa depanmu, sehingga jalan yang akan kalian lalui berdua selanjutnya, tidak selalu jalan datar yang halus dan rata. Tempo kau dan Kanthi akan memasuki gejolak gelombang yang mengguncang hari-harimu.”

“Ah, kau,” desis Rara Wulan, “darimana kau ketahui hal itu, kakang?”

Glagah Putih terkejut mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba saja ia tersenyum sambil berdesis, “Aku pernah menghadiri upacara pernikahan. Seorang yang berambut dan berjanggut putih telah memberikan nasehat kepada sepasang pengantin. Nah, sebagian aku tirukan nasehat itu.”

Rara Wulan tertawa. Wacana yang tegang itu pun sempat tersenyum pula.

“Jika hanya menirukan saja, semua orang dapat juga mengucapkannya,” desis Rara Wulan kemudian.

Wacana yang sudah tersenyum itu justru berkata, “Baiklah Glagah Putih. Aku akan mengingat nasehat itu baik-baik. Pada saatnya, aku akan menasehatkannya kepadamu kelak.”

Ketiga orang itu tertawa hampir tidak tertahankan.

Agung Sedayu dan Ki Jayaraga yang duduk di pendapa melihat ketiga orang yang tertawa di serambi itu. Sambil tersenyum Agung Sedayu berdesis, “Apa saja yang mereka bicarakan itu?”

Ki Jayaraga tersenyum pula. Katanya, “Tentu persoalan yang menyangkut Wacana dan Kanthi. Agaknya mereka telah mendapatkan kesepakatan.”

“Mudah-mudahan,” sahut Agung Sedayu, “jika benar-benar keduanya sepakat, maka jalan itu adalah jalan yang terbaik bagi Wacana dan Kanthi.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita ikut mengucapkan syukur. Dua hati yang terluka, semoga dapat sembuh bersama-sama.”

Agung Sedayu pun mengangguk-angguk pula. Nampaknya keduanya ikut merasa berbahagia menyertai Wacana dan Kanthi yang hampir saja kehilangan jalan ke masa depannya.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga itu pun kemudian berkata, “Tetapi dalam waktu yang dekat ini, angger Agung Sedayu akan disibukkan oleh pernikahan beberapa orang. Angger Prastawa, angger Sabungsari dan kemudian angger Wacana.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan tidak bersamaan waktunya dengan waktu yang diperlukan oleh Pati.”

Ki Jayaraga tertawa pendek. Katanya, “Semuanya harus dilakukan segera. Jika tidak, maka waktunya memang akan diambil Kanjeng Adipati Pati.”

Sementara itu, maka Wacana yang sudah mendapat jawaban dari Kanthi itu hatinya mulai mekar. Sekali-sekali memang terlintas wajah Raras yang menganggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Betapa ia merasa hatinya yang sesat karena ia telah menginginkan Raras untuk menjadi sisihannya.

Tetapi semuanya itu sudah lewat. Kini hatinya telah hinggap pada seorang gadis yang pernah mengalami nasib yang buruk.

Namun dalam pada itu, Wacana yang masih duduk di serambi bersama Glagah Putih dan Rara Wulan itu berkata, “Tetapi siapakah yang akan pergi melamar kepada orang tua Kanthi? Keluargaku tinggal di tempat yang jauh. Ada pamanku di Mataram. Tetapi bukankah bagi keluarga Kanthi akan sama saja artinya, jika yang datang melamar itu bukan orang tuaku dan bukan pula pamanku. Tetapi Ki Lurah Agung Sedayu dan Ki Jayaraga, misalnya?”

“Aku kira sama saja, apalagi bagi Kanthi yang memerlukan waktu yang tidak terlalu panjang karena keadaannya,” jawab Glagah Putih.

“Ya,” sahut Rara Wulan, “semakin cepat, semakin baik.”

“Apakah kalian tahu, kapan Prastawa akan menikah?” bertanya Wacana.

“Belum,” jawab Glagah Putih, “keluarga Angraeni lah yang akan menentukannya. Kakang Swandaru juga menunggu sampai kabar itu datang. Agaknya dalam dua tiga hari ini keluarga Angraeni akan memberikan ketentuan waktu itu.”

“Apakah kau akan mengambil ancar-ancar dari hari pernikahan Prastawa?” bertanya Rara Wulan.

“Tentunya jangan sampai terjadi pada hari yang bersamaan meskipun dalam suasana yang jauh berbeda,” jawab Wacana.

“Maksudmu?” bertanya Rara Wulan.

“Prastawa adalah kemanakan Kepala Tanah Perdikan Menoreh, sedangkan aku adalah orang kabur kanginan. Mungkin pernikahan Prastawa akan dilaksanakan dengan upacara adat selengkapnya serta keramaian yang meriah. Tetapi sudah tentu aku tidak akan demikian. Aku akan datang ke rumah Kanthi hanya dengan membawa tubuhku saja. Seperti kau lihat, disini aku tidak mempunyai apa-apa.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Memang ada hal yang dapat dipertentangkan pada Wacana, ia harus dengan cepat menyelesaikan ikatan pernikahannya dengan Kanthi. Tetapi sesudah itu, apa yang akan dilakukannya? Bagaimana Wacana akan dapat hidup dan menghidupi keluarganya, meskipun keluarga baru.

Agaknya Wacana dapat membaca persoalan yang tumbuh di hati Glagah Putih itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Glagah Putih. Sudah tentu setelah pernikahan aku tidak dapat berada disini sebagaimana sekarang ini tanpa mempunyai landasan penghidupan sama sekali. Tetapi orang tuaku mempunyai beberapa kotak sawah yang dapat aku kerjakan untuk alas sebuah keluarga kecil yang sederhana.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun sebuah pertanyaan lain justru timbul didalam hatinya, “Lalu aku sendiri bagaimana? Apakah aku juga harus menyebut beberapa kotak sawah ayah di Banyu Asri jika saatnya aku berkeluarga sementara ayah sendiri berada di padepokan yang ditinggalkan oleh Kiai Gringsing?

Namun pertanyaan yang timbul itu segera diredamnya didalam hati.

Demikianlah, maka Glagah Putih itu pun kemudian berkata pada Rara Wulan,” Rara. Temuilah Kanthi, katakan apa yang telah kita bicarakan disini.”

Rara Wulan mengangguk. Sementara itu Wacana berkata, “Segala sesuatunya akan aku serahkan kepada Ki Lurah Agung Sedayu. Setelah semuanya selesai, aku akan segera pergi menemui keluargaku. Aku yakin bahwa tidak akan timbul masalah.”

“Apakah aku juga harus menyampaikan kepada kakang Agung Sedayu?” bertanya Glagah Putih.

“Bagaimana menurut pertimbanganmu?” Wacana justru bertanya pula.

“Sebaiknya besok kita bersama-sama menemuinya,” berkata Glagah Putih kemudian.

Wacana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Besok kita temui Ki Lurah Agung Sedayu. Aku memang tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan segala-galanya kepada Ki Lurah.”

Demikianlah, maka Rara Wulan pun kemudian telah meninggalkan serambi gandok masuk ke ruang dalam tidak lewat pringgitan, tetapi masuk seketheng melewati longkangan dan masuk melalui pintu butulan untuk menemui Kanthi.

Ternyata Kanthi masih duduk di ruang dalam bersama Sekar Mirah. Wajah Kanthi tidak lagi nampak muram. Sekali-sekali sebuah senyuman telah menghiasi bibirnya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 294)

diedit dari:

http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-93/

Terima kasih kepada Ki Raharga yang telah me-retype jilid ini

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s